0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan17 halaman

Penyuluhan Risiko Bunuh Diri untuk Pasien

Dokumen ini adalah Satuan Acara Penyuluhan (SAP) mengenai risiko bunuh diri yang ditujukan untuk pasien rawat jalan. Tujuan dari penyuluhan ini adalah untuk memberikan pemahaman tentang pengertian, penyebab, tanda, gejala, pengobatan, dan pencegahan risiko bunuh diri. Metode penyuluhan meliputi ceramah dan penggunaan media seperti laptop, dengan evaluasi untuk memastikan pemahaman peserta.

Diunggah oleh

iramrimba050704
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan17 halaman

Penyuluhan Risiko Bunuh Diri untuk Pasien

Dokumen ini adalah Satuan Acara Penyuluhan (SAP) mengenai risiko bunuh diri yang ditujukan untuk pasien rawat jalan. Tujuan dari penyuluhan ini adalah untuk memberikan pemahaman tentang pengertian, penyebab, tanda, gejala, pengobatan, dan pencegahan risiko bunuh diri. Metode penyuluhan meliputi ceramah dan penggunaan media seperti laptop, dengan evaluasi untuk memastikan pemahaman peserta.

Diunggah oleh

iramrimba050704
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

RBD (RISIKO BUNUH DIRI)

Untuk Memenuhi Tugas Praktik Klinik Keperawatan Jiwa

Dosen Koordinator: Rahmi Imelisa S. Kp., Ners., M. Kep., Ns. Sp. Kep. J

Dosen Pembimbing: [Link].,Ns.,[Link]

Oleh:

Shaqilla Septia Dewi

2550321133

PROGRAM STUDI PROFESI NERS FAKULTAS ILMU DAN

TEKNOLOGI KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI

CIMAHI

2025
SATUAN ACARA PENYULUHAN

(SAP) RESIKO BUNUH DIRI

Pokok Bahasan : Resiko Bunuh Diri

Sasaran : Pasien Rawat Jalan

Hari/Tanggal : Jum’at, 21 November 2025


Waktu : 08.00-10.00 WIB
Tempat :Ruang Merpati

A. ANALISA SITUASI

1. Mahasiswa

Mahasiswa Fitkes Unjani (Program Ners Keperawatan,

sebelumnya mahasiswa telah memperoleh pemahaman tentang

mata ajaran :

a. Masalah Kesehatan

b. Pendidikan Dalam Keperawatan

c. Komunikasi Keperawatan

d. Kesehatan Lingkungan

2. Penyaji : Kartini Ulfianti

[Link] PEMBELAJARAN

a. Tujuan Umum

Pada akhir penyuluhan kesehatan, peserta penyuluhan diharapkan mampu

memahami tentang pengertian resiko bunuh diri, penyebab, tanda dan gejala,

pengobatan serta pencegahannya.


b. Tujuan Khusus

Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan, peserta penyuluhan diharapkan

mampu:

1. Menjelaskan Pengertian Resiko Bunuh Diri

2. Menjelaskan Penyebab Resiko Bunuh Diri

3. Menjelaskan Gejala Klinis Resiko Bunuh Diri

4. Menjelaskan Pencegahan Resiko Bunuh Diri

C. Metode

1. Ceramah

2. Leaflet

D. Media

1. Laptop

E. Isi Materi

1. Pengertian Resiko Bunuh Diri

2. Penyebab Resiko Bunuh Diri

3. Tanda Dan Gejala Resiko Bunuh Diri

4. Pencegahan Resiko Bunuh Diri


F. Proses Pelaksanaan

Kegiatan Peserta
No Waktu Kegiatan Penyuluhan

1. 5 Pembukaan : • Menjawab salam


menit
• Membuka kegiatan dengan
mengucapkan salam.
• Mendengarkan
• Memperkenalkan diri
• Memperhatikan
• Menjelaskan tujuan dari penyuluhan
• Memperhatikan
• Menyebutkan materi yang akan
diberikan

2. 15 Kegiatan Inti • Memperhatikan


menit [Link] materi • Memperhatikan
• Pengertian Resiko bunuh diri • Bertanya dan menjawab
• Penyebab Resiko bunuh diri pertanyaan yang
• Tanda dan Gejala Resiko bunuh diri diajukan
• Pencegahan Resiko bunuh diri • Memperhatikan

3. 10 Evaluasi : • Menjawab pertanyaan


menit • Mendengarkan
• Menanyakan kepada peserta tentang • Menjawab salam
materi yang telah diberikan, dan
reinforcement kepada Papuk yang dapat
menjawab pertanyaan.

Terminasi :

• Mengucapkan terimakasih atas peran


serta peserta.
Mengucapkan salam penutup

G. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur

• SAP sudah siap 1 hari sebelum penyuluhan.

• Media (Laptop, Power point) dan tempat sudah siap

• Moderator dan notulen sudah siap.

• Peserta siap mengikuti penyuluhan.

2. Evaluasi Proses sudah disiapkan sesuai rencana.

• Tempat siap dan disusun sesuai dengan setting tempat

yang telah direncanakan.

• Penyaji, moderator, moderator dan peserta siap mengikuti penyuluhan.

3. Evaluasi Hasil

• Penyuluhan berjalan sesuai rencana dan tepat waktu.

• Masalah yang muncul saat pelaksanaan penyuluhan dapat diatasi

dengan baik.

• Tujuan penyuluhan tercapai yaitu peserta penyuluhan dapat

memahami tentang isi penyuluhan dan diharapkan akan terjadi

perubahan perilaku.

H. Referensi
Gail W. Stuart. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta: EGC.
Isaacs, Ann. 2005. Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikiatri. Edisi 3.
Jakarta: EGC. Kaplan, Harold I, dkk. 1997. Sinopsis Psikiatri. Jakarta:
Binarupa Aksara
Willy F. Maramis. 2010. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 2.
Jakarta: EGC.
Copyright © 2011 Nova Riyanti Yusuf. All Rights
Reserved. Web Master: Pry S Pry
LAMPIRAN

A. PENGERTIAN

Bunuh diri adalah segala perbuatan seseorang dengan sengaja,

yang tahu akan akibatnya dapat mengakhiri hidupnya dalam waktu yang

singkat (Maramis, 2010). Percobaan bunuh diri adalah tindakan klien

mencederai atau melukai diri untuk mengakhiri kehidupannya. Bunuh

diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak dicegah dapat mengarah pada

kematian (Gail w. Stuart, Keperawatan Jiwa,2007). Bunuh diri adalah

pikiran untuk menghilangkan nyawa sendiri (AnnIsaacs, Keperawatan

Jiwa & Psikiatri, 2005). Bunuh diri adalah ide, isyarat dan usaha

bunuhdiri, yang sering menyertai gangguan depresif dan sering terjadi

pada remaja (HaroldKaplan, Sinopsis Psikiatri,1997).

B. PENYEBAB

1 Factor Pendukung

Bunuh diri adalah tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk

membunuh diri sendiri

Faktor-faktor yang mendukung resiko bunuh diri

1. Status atau gejala emosi dan medis

1) Depresi hebat

2) Merasa tidak berdaya/putus asa

3) Penyalahgunaan zat atau gangguan mental

4) Berjudi patologis (compulsive gambling)

5) Waham atau halusinasi pendengaran yang memerintahkan untuk

mebahayakan diri
6) Penyakit kronis, lemah atau penyakit parah

7) Nyeri hebat

8) Ansietas hebat tak tertahankan

9) Kehilangan harga diri

10) Reaksi berlebihan yang berat terhadap stres

11) Kekurangan kontrol terhadap rangsang atau penilaian yang buruk

12) Merasa marah, permusuhan atau ingin balas dendam

13) Rasa marah yang tertahan

14) Konflik internal yang hebat misalnya rasa bersalah yang

berlebih atau ambivalensi

2. Stresor

1) Riwayat teraniaya

2) Disfungsi keluarga

3) Kesulitan hubungan

4) Terlibat masalah hukum atau tindakan kriminal

5) Masalah keuangan yang serius

6) Pengalaman kehilangan yang serius atau kehilangan ganda

7) Isolasi soaial yang ekstrim akibat kurangnya sistem pendukung

sosial

8) Distres spiritual

9) Merasa tidak ada masa depan

10) Anggota kelompok pemujaan

11) Riwayat bunuh diri dalam keluarga

12) Terlebih dahulu berupaya atau mengancam akan bunuh diri


3. Rencana bunuh diri

1) Ide bunuh diri

2) Menyerahkan bisnis pribadi atau menyerahkan barang-barang

pribadinya

3) Memiliki rencana bunuh diri yang sangat mematikan (menentukan

rencana waktu, tempat, dan cara yang akan membuat sesorang

meninggal dengan cepat dengan metode tersebut)

4) Mencari alat yang akan dipakai untuk bunuh diri

2. Factor Pencetus

a. Peristiwa kehidupan yang memalukan

b. Masalah hubungan interpersonal

c. Dipermalukan di depanumum

d. Kehilangan pekerjaan

e. Ancaman penahanan

f. Bisa juga pengaruh media yang mengekspos peristiwa bunuh diri

C. KLASIFIKASI

Jenis prilaku bunuh diri antara lain

1. Ancaman Bunuh Diri

Peringatan verbal atau nonverbal bahwa orang tersebut

mempertimbangkan untuk bunuh diri. Orang tersebut mungkin

menunjukkan secara verbal bahwa ia tidak akan berada di sekitar kita

lebih lama lagi atau mungkin juga mengkomunikasikan secara nonverbal

melalui pemberian hadiah, merevisi wasiatnya dan sebagainya. Pesan-

pesan ini harus dipertimbangkan dalam konteks peristiwa kehidupan


terakhir. Ancaman menunjukkan ambivalensi seseorang tentang

kematian. Kurangnya respon positif dapat ditafsirkan sebagai dukungan

untuk melakukan tindakan bunuh diri.

2. Upaya bunuuh diri

Semua tindakan yang diarahkan pada diri yang dilakukan oleh individu

yang dapat mengarah kematian jika tidak dicegah.

3. Bunuh diri

Bunuh diri mungkin terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan atau

diabaikan. Orang yang melakukan upaya bunuh diri dan yang tidak

benar-benar ingin mati mungkin akan mati jika tanda-tanda tersebut tidak

diketahui tepat pada waktunya.

D. TANDA DAN GEJALA

Terdapat tanda dan gejala umum yang ditemukan pada orang

yang cenderung bunuh diri:

1. Tanda Perilaku Bunuh diri :

1) Kehilangan status pekerjaan dan mata pencaharian.

2) Kehilangan sumber pendapatan secara mendadak karena migrasi,

gagal panen, krisis moneter, kehilangan pekerjaan, bencana alam.

3) Kehilangan keyakinan diri dan harga diri.

4) Merasa bersalah, malu, tak berharga, tak berdaya, dan putus asa.

5) Mendengar suara-suara gaib dari Tuhan untuk bergabung menuju

surga.

6) Mengikuti kegiatan sekte keagamaan tertentu.

7) Menunjukkan penurunan minat dalam hobi, seks dan kegiatan


lain yang sebelumnya dia senangi.

8) Mempunyai riwayat usaha bunuh diri sebelumnya.

9) Sering mengeluh adanya rasa bosan, tak bertenaga, lemah, dan

tidak tahu harus berbuat apa.

10) Mengalami kehilangan anggota keluarga akibat kematian,

tindak kekerasan, berpisah, putus hubungan

11) Pengangguran dan tidak mampu mencari pekerjaan khususnya pada

orang muda.

12) Menjadi korban kekerasan rumah tangga atau bentuk lainnya

khususnya pada perempuan.

13) Mempunyai konflik yang berkepanjangan dengan diri sendiri, atau

anggota keluarga.

14) Baru saja keluar dari RS khususnya mereka dengan gangguan jiwa

(depresi, skizofrenia) atau penyakit terminal lainnya (seperti kanker,

HIV/AIDS, TBC, dan cacat).

15) Tinggal sendirian di rumah dan menderita penyakit terminal tanpa

adanya dukungan keluarga ataupun dukungan ekonomi.

16) Mendapat tekanan dari keluarga untuk mencari nafkah atau mencapai

prestasi tinggi di sekolah.

17) Mendapat tekanan/bujukan dari organisasi/ kelompoknya.

2. Gejala Perilaku Bunuh Diri :

1) Merasa sedih

2) Sering menangis

3) Kecemasan dan gelisah


4) Perubahan mood (senang berlebihan sampai sedih berlebihan)

5) Perokok dan peminum alkohol berat

6) Gangguan tidur yang menetap atau berulang

7) Mudah tersinggung, bingung

8) Menurunnya minat dalam kegiatan sehari-hari

9) Sulit mengambil keputusan

10) Perilaku menyakiti diri

11) Mengalami kesulitan hubungan dengan pasangan hidup atau anggota

keluarga lain

12) Menjadi ”sangat fanatik terhadap agama” atau jadi ”atheis”

13) Membagikan uang atau barangnya dengan cara yang khusus

E. PENCEGAHAN

Bunuh diri dapat dicegah dan semua anggota masyarakat dapat

melakukan tindakan yang akan menyelamatkan kehidupan dan mencegah

bunuh diri

Sangat dibutuhkan kerjasama yang erat antara individu, keluarga,

masyarakat, profesi dan pemerintah untuk bersama mengatasi

masalahnya.

1. Upaya Pencegahan yang Dapat Dilakukan oleh Individu

Bila menemukan orang dengan ciri risiko tinggi bunuh diri:

1) Coba menjalin kontak dan mengenali pelaku tindakan bunuh diri

beserta latar belakangnya.

2) Dengarkan dengan penuh perhatian dan biarkan pelaku

tindakan bunuh diri berbicara mengenai perasaannya.


3) Coba mengenali masalah dan memahami perasaannya.

4) Hargai pemikirannya dan jangan menyalahkan keputusan mereka

untuk bunuh diri.

5) Telusuri situasi yang dialami sekarang dan pengalaman serta

keyakinannya pada masa lalu.

6) Telusuri pilihan alternatif yang positif yang mungkin dan dapat

dilakukan sesuai dengan diri, nilai dan hal yang disenangi oleh orang

tersebut.

7) Identifikasi cara terbaik yang dapat dilakukan untuk menolong

mereka dalam situasi krisis.

8) Beri mereka harapan dan optimisme.

9) Bantu mereka mengurangi beban pikirannya.

10) Libatkan mereka dalam kegiatan sosial dan rekreasi seperti

bertemu orang, berbicara kepada teman, mendengarkan radio,

menonton televisi (bukan yang menayangkan tentang bunuh diri),

menghadiri pertemuan sosial dan lain-lain.

11) Rujuk mereka kepada konselor atau tenaga kesehatan jiwa

(psikiater, psikolog)

12) Ikuti saran dari dokter atau konselor, khususnya kepatuhan

terhadap terapi.

13) Dampingi dan bantu mereka dengan segala cara yang mungkin

dilakukan.

14) Teruskan berinteraksi, mendengarkan dan menawarkan dukungan.

Bila situasi krisis sudah berlalu, penting untuk tetap


memberikan dukungan agar mereka mampu mengatasi tantangan hidup

dengan cara yang positif. Jika pikiran bunuh diri tetap ada, diperlukan

dukungan konselor dan profesional lain, jadi mereka perlu dirujuk ke

tenaga yang tepat. Semua anggota masyarakat sebenarnya dapat bertindak

sebagai konselor yang terbatas yaitu dengan cara berkomunikasi,

berempati, memberi dukungan dan menunjukkan arahan yang positif bagi

orang tersebut.

2. Upaya Pencegahan Yang Dapat Dilakukan Oleh Keluarga

Keluarga merupakan pusat dari semua kegiatan dalam kehidupan

individu. Konflik interpersonal, hubungan yang terganggu dan

kehidupan yang tidak harmonis’merupsksn``

faktor pencetus yang penting dalam tindakan bunuh

diri. Keluarga perlu memberi dukungan dan melakukan upaya untuk

mencegah bunuh diri. Anggota keluarga dapat melakukan upaya yang

efektif dengan berbagai cara, antara lain:

1) Membinahubungan yang erat dengan pelaku, penuh perhatian,

mendengarkan, menghargai perasaan serta memahami emosinya.

2) Tunjukkan bahwa keluarga ingin menolongnya.

3) Lebih baik membangun potensi kekuatan pelaku dari pada

terpaku pada kelemahannya.

4) Jangan tinggalkan seorang diri anggota keluarga yang

mempunyai keinginan bunuh diri.

5) Menjauhkan pelaku dari benda yang membahayakan dirinya seperti:

obat-obatan, racun, benda tajam, tali dan lain-lain.


6) Secara bertahap bangkitkan kembali keinginan untuk hidup

(untuk beberapa situasi dapat terjadi dengan cepat).

7) Ajari dan praktekkan metode penyelesaian masalah dan timbulkan

rasa optimis.

8) Mencoba untuk meminimalkan konflik di rumah dan

mengembangkan latihan pemecahan masalah bersama dengan

anggota keluarga yang lain.

9) Mendorong anggota keluarga tersebut untuk mencari pertolongan

profesional, rumah sakit atau LSM (lihat lampiran) yang tepat.

Mereka yang mempunyai masalah kesehatan jiwa tidak mau dilabel

dengan ”gangguan jiwa”. Oleh karena itu persuasi merupakan faktor

kunci untuk membawanya ke dokter. Konsultasi dengan dokter tidak

cukup hanya satu kali. Untuk mendapatkan perubahan yang bermakna

diperlukan konsultasi yang teratur dan perlu mengikuti saran yang

diberikan oleh dokter.

10) Membantu anggota keluarga tersebut untuk mengatasi krisis dengan

berbagai cara yang realistik dan cocok dengan yang bersangkutan.

11) Tetap mengobservasi dan mewaspadai tindakan, reaksi dan

perilakunya.

12) Perhatian khusus diberikan pada usia lanjut, penyakit terminal,

gangguan jiwa (depresi, alkoholisme, tindak kekerasan dan lain-lain)

dan penderita cacat.

13) Identifikasi lembaga atau tokoh dalam masyarakat untuk membantu

kasus spesifik
14) Dengan memberikan perhatian yang penuh kasih sayang, pengertian

dan dukungan (selain dari memberi pengobatan yang diperlukan

secara teratur), dapat mencegah terjadinya tindakan bunuh diri.

F. Teknik Komunikasi Keluarga Dengan Pasien Resiko Bunuh Diri

Tahap Orientasi

Ibu : “Bagaimana kabarnya nak? apakah baik-baik saja?

Kenapa keliatan murung?”

Anak : “Baik bu, hanya saja saya merasa bersalah”

Ibu : “Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang apa yang

kamu rasakan selama ini?”

Anak : “Baiklah bu”

Ibu : “Berapa lama kita bercakap-cakap? 20 menit bagaimana? Mau

ditempat ini atau ditaman yang membuatmu nyaman?”

Anak : “Disini saja bu”

Tahap Kerja

Ibu : “Bagaimana perasaannya setelah

kejadian itu terjadi?” Anak : “Saya merasa

kehilangan dan saya merasa bersalah”

Ibu : “Berhentilah untuk menyalahkan diri sendiri, itu semua musibah

bukan kesalahanmu nak, apakah pernah terlintas dipikiranmu untuk

menyakiti diri sendiri atau bahkan ada dorongan untuk mencoba bunuh

diri?”

Anak : “Iya bu saya sempat berpikir untuk mengakhiri hidup karena saya

merasa tidak berguna”


(Jika telah menyampaikan ide bunuh diri, segera lanjutkan dengan

tindakan untuk melindunginya dari keinginan untuk melakukan

bunuh diri).

Ibu : “Baiklah, sepertinya kamu membutuhkan pertolongan untuk

mengendalikan dorongan bunuh diri, ibu akan memeriksa seluruh

isi kamarmu untuk memastikan tidak ada benda-benda yang

membahayakanmu”

(Jangan membiarkannya sendiri dikamar)

Ibu :”Kalau boleh ibu tahu apa yang kamu lakukan jika dorongan bunuh

diri itu muncul?”

Anak :”Saya berteriak menyalahkan diri sendiri,dan membuang barang

yang ada disekitar saya bu”

Ibu :”Ada cara lain untuk mengatasi jika dorongan bunuh diri itu

muncul, yaitu kamu bisa memanggil ibu atau siapapun yang ada

disekitarmu untuk meminta bantuan , beritahukan jika dorongan bunuh

diri itu muncul”

Terminasi

Ibu :”Bagaimana perasaanmu setelah melakukan latihan ini, apakah

kamu sudah mengerti nak?”

(Anjurkan untuk mengulangi apa yang telah diajarkan).

(Pertemuan selanjutnya latih mengendalikan dorongan bunuh

diri dengan membuat daftar aspek positif yang dimiliki).

Anda mungkin juga menyukai