BAB I
PEDAHULUAN
A. Konteks Penelitian
Pendidikan merupakan sesuatu yang harus diikuti oleh semua orang. Dengan
pendidikan yang memadai seseorang akan mampu menjawab tantangan-tantangan
global dalam kehidupan. Dengan pendidikan ini pula harkat dan martabat seseorang
akan terangkat, semakin rendah tingkat pendidikan seseorang, martabat di
lingkungannya juga rendah. Namun apabila seseorang memiliki pendidikan yang
tinggi, akan semakin tinggi pula martabat orang tersebut. Hal ini juga akan berlaku
pada bangsa dan negara. Harkat dan martabat bangsa Indonesia dimata dunia juga
dipengaruhi oleh pendidikan penduduknya.
Pembangunan di bidang pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan
masyarakat yang maju, serta memungkinkan para warganya untuk mengembangkan
diri baik yang berkenaan dengan aspek jasmani maupun rohani berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Upaya tersebut harus selalu
ditingkatkan antara lain dengan meningkatkan kualitas pendidikan.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No.2 tentang Pendidikan
Nasional bab III pasal 5 yang berbunyi: “Setiap warga negara mempunyai hak yang
sama untuk memperoleh pendidikan”. Pada penyelenggaraan pendidikan berbagai
1
2
masalah yang dihadapi seperti lembaga pendidikan formal salah satunya yang
berkaitan dengan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang berpengaruh
terhadap peningkatan mutu sekolah. Sedangkan pendidikan pada dasarnya adalah
suatu proses untuk mengembangkan dirinya sehingga ia mampu memecahkan segala
persoalan yang dihadapinya. Masalah pendidikan adalah masalah yang sangat penting
bagi manusia karena pendidikan itu menunjang kuat kelangsungan hidup manusia
seperti yang terdapat dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 adalah:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekauatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian
kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah menyiapkan
sumber daya manusia yang berkualitas yakni manusia yang mampu berfikir kritis,
kreatif serta produktif dan mampu mengantisipasi era yang penuh tantangan.
Karena bagaimanapun juga untuk menjadi pemikir yang efektif merupakan
tujuan yang utama dalam pendidikan. Pemerintah memprogramkan wajib belajar 9
tahun dimana setiap warga negara khususnya usia sekolah yaitu 7 sampai 12 tahun
wajib menciptakan kesempatan belajar sampai dengan minimal tamat sekolah
lanjutan tingkat pertama. Seperti dikutip pada UU No. 20 tahun 2003 adalah:
Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi
jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar berbentuk
Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk
lain yang sederajat serta Sekolah Menenga Pertama (SMP)
dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain sederajat.
3
Undang-Undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,
dijelaskan bahwa kompetensi adalah “seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan
perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam
melaksanakan tugasnya sebagai guru yang professional”. Profesionalisme guru adalah
guru yang mampu mengelola dirinya sendiri dalam melaksanakan tugas-tugasnya
sehari-hari. Siti Kusrini, Sutiah, dan Marno (2004, 22):
Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan paling penting
dalam pendidikan untuk mencapai tujuan pembelajaran di sekolah.
Semakin tinggi kemampuan guru dalam pengajaran, maka di
asumsikan semakin tinggi pula hasil belajar yang dicapai oleh anak
didik. Kemampuan guru dalam mengajar sebagai tujuan
pendidikan merupakan indikator keberhasilan proses belajar
mengajar siswa.
Upaya pemerintah guna meningkatkan profesionalisme guru dengan cara
mengeluarkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dimana dalam dana BOS
tersebut telah di realisasikan untuk peningkatan profesionalisme guru, dengan cara
pembinaan professional guru melalui seminar/pelatihan dan jalur kelompok kerja
yang meliputi: Kelompok Kerja Guru (KKG), Kelompok Kerja Kepala Sekolah
(KKKS), sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Tentang
Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Laporan
Keuangan Bantuan Operasional Sekolah Tahun Anggaran 2015.
Menurut pedoman Instrument 8 (delapan) Standar Nasional Tingkat SD
“Biaya operasi sekolah digunakan untuk: (1) Kesejahteraan warga sekolah/madrasah,
(2) pengembangan guru dan tenaga kependidikan, (3) sarana prasarana, (4)
pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran, dan (5) kegiatan
4
ketatausahaan. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) adalah bantuan untuk
membebaskan semua dan sebagian biaya pendidikan yang dikeluarkan orang tua
siswa yang tidak mampu dan meringankan bagi siswa yang lain, agar mereka
memperoleh layanan pendidikan dalam rangka penuntasan wajib belajar Sembilan
tahun. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak hanya diperuntukkan kepada
siswa akan tetapi salah satunya adalah untuk peningkatan profesionalisme guru.
Mereka harus menguasai kemampuan pedagogic, kompetensi sosial dan kompetensi
keperibadian. Sesuai tuntutan UU tentang guru No. 14 tahun 2005.
Guru dituntut selalu meningkatkan kompetensinya dari waktu ke waktu agar
lebih professional. Guru harus mendapatkan pelatihan dan mengikuti kegiatan-
kegiatan lain yang sejenis dan atau yang mendukung peningkatan
profesionalismenya. Kegiatan-kegiatan guru dalam rangka meningkatkan
profesionalismenya tersebut tentunya membutuhkan dana. Pemerintahpun menyadari
akan hal tersebut, sehingga dana “BOS” salah satunya ditetapkan penggunaannya
sebagai dana bantuan peningkatan profesionalisme guru. Dalam rangka
meningkatkan pendidikan, guru memiliki peran yang sangat strategis, namun sering
kali kurang berarti apabila tidak disertai dengan kualitas guru yang memadai.
kebijakan pembangunan pendidikan dalam kurun waktu 2004-2009 mengalami
peningkatan akses rakyat terhadap pendidikan yang lebih berkualitas melalui
peningkatan pelaksanaan wajib belajar Sembilan tahun. Dari pemberian akses yang
lebih besar kepada sekelompok masyarakat yang selama ini kurang dapat menjangkau
layanan pendidikan, seperti masyarakat miskin, masyarakat yang tinggal di daerah
5
yang terpencil, masyarakat di daerah-daerah komplik atau pun masyarakat
penyandang cacat, serta diwujudkan dalam bentuk bantuan berupa Dana BOS
(Bantuan Operasional Sekolah).
Penelitian tentang program BOS (Bantuan Operasional Sekolah) atau
sejenis dengan kompetensi guru nampaknya bukanlah hal yang baru lagi. Dari
penelitian mahasiswa yang berkenaan dengan program BOS diantaranya, yaitu:
Penelitian yang dilakukan oleh Lulu Il Maknun, Jurusan Manajemen
Pendidikan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Tahun 2006 dengan judul
“Efektifitas Operasional (BOS) peningkatan pendidikan di SMP Al-Madzhab
Ciheulang Bogor” . Dari penelitian ini, bantuan operasional sekolah (BOS) dan
peningkatan mutu pendidikan ternyata sangat berpengaruh satu sama lain sehingga
pemberian bantuan dana BOS bisa ditingkatkan dengan tujuan mampu
memberikan kemajuan bagi pendidikan Indonesia agar lebih bermutu atau
berkualitas.
Penelitian yang dilakukan oleh Sinta Dwi Permata , Jurusan
Kependidikan Islam Manajemen Pendidikan , UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
tahun 2011 dengan judul “ Studi pengelolaan dana bantuan operasional
sekolah dalam mensukseskan wajib belajar Sembilan tahun di MTs
Unwaanunnajah Aren Selatan”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bantuan
operasional sekolah telah membantu dalam meringankan biaya pendidikan di
sekolah tersebut, karena penggunaan dana BOS dialokasikan pada pos-pos yang tepat
sesuai dengan RAPBS yang telah ditetapkan sebelumnya.
6
Dari dua penelitian di atas terdapat perbedaan dengan penelitian yang
penulis lakukan salah satu diantaranya adalah dengan mengacu pada indikator
peningkatan kompetensi guru di SD Negeri 24 Macanang Kabupaten Bone.
Berdasarkan hasil observasi awal di SD Negeri 24 Macanang Kabupaten Bone,
Adapun sumber-sumber dana yang diterima sekolah yaitu berasal dari dana BOS,
dana gratis, dan hasil dari lomba-lomba yang diikuti baik oleh guru maupun siswa.
Tahun ajaran 2014, 2015 masing-masing jenjang kelas yang ada di SD Negeri 24
Macanang sebanyak empat kelas mulai dari kelas II hingga kelas VI, sedangkan
untuk kelas I sebanyak tiga kelas. Adapun jumlah dana BOS yang di terima oleh SD
Negeri 24 Macanang tiap tahunnya sesuai dengan jumlah siswa pada tahun tersebut.
Untuk tahun ajaran 2014 jumlah siswanya sebanyak 700 orang/siswa dengan dana
BOS yang di terima sebesar Rp Rp.406.000.000. Untuk tahun ajaran 2015 jumlah
siswa SD Negeri 24 Macanang sebanyak 641 orang/siswa dengan dan dengan dana
BOS yang di terima sebesar Rp 512.800.000. Karena penyaluran dana BOS yang
rutin dan salah satu komponen pembiayaannya jelas untuk peningkatan kompetensi
guru juga melihat dari jumlah dana BOS yang diterima cukup besar di sekolah ini
serta disadari bahwa guru memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan
tujuan dan cita-cita pendidikan di sekolah maka untuk itu peneliti ingin mengetahui
lebih jauh lagi bgaimana “Alokasi Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
untuk Peningkatan Kompetensi Guru (Studi di SD Negeri 24 Macanang
Kabupaten Bone)”.
7
B. Fokus Masalah
Gambaran pengalokasian dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk
peningkatan kompetensi pedagogic dan profesional guru di SD Negeri 24 Macanang
Kabupaten Bone yang meliputi :
1) Bagaimana kelompok kerja guru (KKG) di SD Negeri 24 Macanang
Kabupaten Bone?
2) Bagaimana kelompok kerja kepala sekolah (KKKS) di SD Negeri 24
Macanang Kabupaten Bone?
3) Bagaimana pelatihan/seminar yang diikuti oleh guru di SD Negeri 24
Macanang Kabupaten Bone?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :
4) Bagaimana kelompok kerja guru (KKG) di SD Negeri 24 Macanang
Kabupaten Bone.
5) Bagaimana kelompok kerja kepala sekolah (KKKS) di SD Negeri 24
Macanang Kabupaten Bone.
6) Bagaimana pelatihan/seminar yang diikuti oleh guru di SD Negeri 24
Macanang Kabupaten Bone.
D. Manfaat Penelitian
Selain memiliki tujuan, penelitian ini juga memiliki manfaat yang dapat
dirasakan oleh penulis pada khususnya dan oleh pembaca pada umumnya. Hasil
8
penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun secara
praktis, yaitu :
1. Manfaat Teoritis
Pengembangan ilmu Administrasi Pendidikan di dalam konteks organisasi,
pengelolaan personil, pengelolaan keuangan atau pengembangan sumber daya
manusia dan menambah wawasan alokasi Dana Bantuan Operasional Sekolah
(BOS) untuk Peningkatan Kompetensi pedagogic dan profesional Guru Di SD
Negeri 24 Macanang. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan
sumbangan pikiran untuk studi perbandingan bagi pihak yang berminat dan
tertarik untuk mengadakan penelitian lebih lanjut di masa yang akan datang.
2. Manfaat Praktis
Dapat dijadikan bahan evaluasi bagi SD Negeri 24 Macanang dalam rangka
meningkatkan mutu pendidikan dan kompetensi guru.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Tinjauan Pustaka
1. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
a. Pengertian Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
BOS adalah program pemerintah yang pada dasarnya adalah untuk
penyediaan pendanaan biaya non personalia bagi satuan pendidikan dasar
sebagai pelaksana program wajib belajar. Namun demikian ada beberapa
jenis pembiayaan investasi dan personalia yang dibiayai oleh dana BOS.
Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Pasal 62 tentang Standar Nasional
Pendidikan:
Biaya investasi adalah biaya penyelenggaraan pendidikan yang
sifatnya lebih permanen dan dapat dimanfaatkan jangka waktu
relatif lama, yang menghasilkan aset dalam bentuk fisik non
fisik berupa kapasitas atau kompetensi sumber daya manusia.
Jadi kegiatan pengembangan kompetensi guru termasuk ke dalam biaya
investasi. Dituliskan dalam Buku Panduan Bantuan Operasional Sekolah
Dalam Rangka Wajib Belajar 9 Tahun:
Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) adalah bantuan
untuk membebaskan semua dan sebagian biaya pendidikan
yang di keluarkan orang tua siswa yang bertujuan untuk
membebaskan biaya pendidikan bagi siswa yang tidak mampu
dan meringankan bagi siswa yang lain, agar mereka
memperoleh layanan pendidikan dalam rangka penuntasan
wajib belajar sembilan tahun.
9
10
Dari pengertian dana BOS di atas dapat di fahami bahwa, adanya
program bantuan operasional merupakan konsekuensi dari Undang-undang
Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), Bab IV Pasal 6 Bahwa, setiap
warga Negara berusia tujuh sampai dengan limabelas tahun wajib mengikuti
pendidikan dasar. Wajib belajar sembilan tahun terdiri dari Sekolah Dasar
(SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama
(SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan sederajat.
b. Komponen Pembiayaan BOS
Berdasarkan Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Bantuan Operasional
Sekolah (BOS) dan Laporan Keuangan Bantuan Operasional Sekolah Tahun
Anggaran 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan
komponen pembiayaan BOS:
1) Pengembangan perpustakaan, Prioritas utama adalah membeli buku teks
pelajaran sesuai kurikulum yang digunakan sekolah, baik pembelian
buku yang baru, mengganti yang rusak, dan membeli kekurangan agar
tercukupi rasio satu siswa satu buku. Buku teks yang dibeli adalah yang
telah dinilai dan ditetapkan HET-nya oleh Kemdikbud. Kemudian
membeli buku pengayaan dan referensi untuk memenuhi SPM; Langganan
koran, majalah/publikasi berkala yang terkait pendidikan (offline/online);
Pemeliharaan buku/koleksi perpustakaan; Peningkatan
kompetensi pustakawan; Pengembangan database perpustaka
Pemeliharaan perabot perpustakaan; Pemeliharaan & pembelian AC
11
perpustakaan; Biaya untuk pengembangan perpustakaan minimal 5% dari
anggaran operasi sekolah.
2) Kegiatan PPDB, Semua jenis pengeluaran dlm rangka PPDB; Semua jenis
pengeluaran dalam rangka pendataan Dapodikdasmen, yaitu: Penggandaan
formulir Dapodikdasmen, biaya pemasukan, validasi, update dan
pengiriman data, biaya transportasi, apabila upload data
secara online tidak dapat dilakukan di sekolah, honor operator
Dapodikdasmen; Dan pembuatan spanduk sekolah bebas pungutan.
3) Pembelajaran dan ekstrakulikuler, Membeli alat peraga IPA yang
diperlukan sekolah untuk memenuhi SPM di tingkat SD; Mendukung
penyelenggaraan PAKEM di SD; Mendukung penyelenggaraan
Pembelajaran Kontekstual di SMP; Pengembangan pendidikan
karakter/ penumbuhan budi pekerti; Pembelajaran remedial dan
pengayaan; Pemantapan persiapan ujian; Olahraga, kesenian, karya ilmiah
remaja, pramuka dan palang merah remaja; Usaha Kesehatan Sekolah
(UKS); Pendidikan dan pengembangan sekolah sehat, aman, ramah anak
dan menyenangkan; Biaya lomba yang tidak dibiayai
pemerintah/ pemda (termasuk untuk biaya pendaftaran,transportasi dan
akomodasi); Honor mengajar tambahan di luar
jam/ kewajiban mengajar dan transportnya.
4) Ulangan dan ujian, Biaya ulangan harian/tengah semester/akhir
semester/kenaikan kelas dan ujian sekolah; Komponen yang dapat
12
dibayarkan adalah: Fotocopy/penggandaan soal, fotocopy laporan hasil
ujian untuk disampaikan kepada Kepala Sekolah, serta ke Dinas
Pendidikan dan orang tua/wali, biaya transport pengawas ujian yang
ditugaskan di luar sekolah tempat mengajar, dantidak dibiayai
Pemerintah/Pemda.
5) Pembelian bahan habis pakai, Buku tulis, kapur tulis, pensil, spidol,
kertas, bahan praktikum, buku induk peserta didik, buku inventaris; Alat
tulis kantor (termasuk tinta printer, CD dan flash disk); Minuman dan
makanan ringan untuk kebutuhan sehari-hari di sekolah; Pengadaan suku
cadang alat kantor; Alat-alat kebersihan dan alat listrik.
6) Langganan daya dan jasa, Langganan listrik, air, dan
telepon (termasuk pasang instalasi baru bila ada jaringan); Langganan
internet pasca/pra bayar, baik dengan fixed modem maupun mobile
modem(termasuk pasang baru bila ada jaringan). Batas maksimal
pembelian paket/vouchermobile modem sebesar Rp. 250.000/bulan,
sedangkan biaya langganan dengan fixed modem sesuai dengan
kebutuhan sekolah; Membeli genset atau jenis lainnya yang lebih cocok di
daerah tertentu jika di sekolahtidak ada jaringan listrik (termasuk
perlengkapan pendukungnya).
7) Perawatan/rehab dan sanitasi, Pengecatan, perbaikan atap bocor,
perbaikan pintu dan jendela; Perbaikan mebeler; Perbaikan sanitasi
sekolah (kamar mandi dan WC) untuk menjamin kamar mandi dan
13
WC siswa berfungsi dengan baik; Perbaikan saluran pembuangan dan
saluran air hujan; Perbaikan lantai ubin/keramik dan perawatan fasilitas
sekolah lainnya.
8) Pembayaran honor bulanan, Guru honorer (hanya untuk memenuhi SPM);
Tenaga administrasi; Pegawai perpustakaan; Penjaga Sekolah; Petugas
satpam; Petugas kebersihan; Batas maksimum pembayar honor bulanan
sekolah negeri adalah 15%; Pengangkatan tenaga honor baru harus dapat
pertimbangan dan persetujuan kab/kota.
9) Pengembangan kompetensi guru, kegiatan KKG/MGMP atau
KKKS/MKKS. Sekolah yang mendapat hibah/block grant pengembangan
KKG/MGMP atau sejenisnya pada tahun anggaran yang sama hanya boleh
menggunakan dana BOS untuk transport kegiatan bila tidak disediakan;
Menghadiri seminar peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan.
Biaya pendaftaran dan akomodasi apabila seminar diadakan di luar satuan
pendidikan; mengadakan workshop peningkatan mutu. Biaya yang dapat
dibayarkan adalah fotocopy serta konsumsi peserta workshop yang
diadakan di sekolah dan biaya narasumber dari luar sekolah dengan
mengikuti standar biaya umum (SBU) daerah; dana BOS tidak boleh
digunakan untuk biaya kegiatan yang sama yang telah dibiayai oleh
pemerintah daerah.
10) Membantu siswa miskin, Hanya bagi siswa miskin yang tidak
mendapatkan bantuan sejenis dari sumber lainnya, misalnya PIP; Membeli
14
alat transportasi sederhana bagi siswa miskin yang mengalami kesulitan
transportasi ke sekolah (misalnya sepeda, perahu penyeberangan), dimana
barang yang dibeli tersebut harus dicatat sebagai inventaris sekolah.
11) Pengelolaan sekolah, Penggandaan laporan dan surat-menyurat; Insentif
bagi tim penyusun laporan BOS; Biaya transportasi dalam rangka
mengambil dana BOS di Bank/Kantor Pos; Transportasi dalam rangka
koordinasi dan pelaporan ke Dinas Pendidikan Kab/Kota; Biaya
pertemuan dalam rangka penyusunan RPS/RKT/RKAS, kecuali untuk
pembayaran honor.
12) Pembelian dan perawatan komputer, Membeli/memperbaiki komputer
desktop/work station maksimum pembelian untuk SD 4 unit/tahun dan
SMP 4 unut/tahun; membeli/memperbaiki printer atau printer plus scanner
maksimum pembelian 1 unit/tahun; membeli/memperbaiki leptop
maksimum pembelian 1 unit/tahun dengan harga maksimum 6 juta;
membeli/memperbaiki proyektor maksimum yang dapat dibeli adalah 1
unit/tahun dengan harga maksimum Rp. 5 juta; Ketentuan pembelian:
Harus dibeli di toko resmi; Proses pengadaan barang mengikuti peraturan
yang berlaku; Peralatan harus dicatat sebagai inventaris sekolah.
13) Biaya lainnya, Peralatan pendidikan yang mendukung kurikulum yang
diberlakukan Pemerintah; Mesin ketik; Peralatan UKS dan obat-obatan;
Pembelian meja dan kursi peserta didik/ guru, jika yang ada sudah tidak
15
berfungsi atau jumlahnya kurang; Penanggulangan dampak darurat
bencana, khusus selama masa tanggap darurat.
c. Sasaran Besaran dan waktu Penyaluran Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
Sesuai dengan informasi petunjuk teknis BOS 2015 Direktorat Jenderal
Dikdas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sasaran program Bantuan
Operasional Sekolah (BOS) adalah semua SD/SDLB/SMP/SMPLB/
Satap/SLB baik negeri maupun swasta di seluruh propinsi di Indonesia yang
sudah terdata dalam sistem Data Pokok Pendidikan Dasar dan Menengah
(Dapodikdasmen). Khusus untuk sekolah swasta juga harus memiliki izin
operasional.
Besar biaya satuan BOS yang diterima oleh sekolah, dihitung
berdasarkan jumlah siswa dengan ketentuan :
1) SD/SDLB sebesar Rp 800.000,-/siswa/tahun.
2) SMP/SMPLB/SMPT/Satap/SLB sebesar Rp 1.000.000,-/siswa/tahun.
Penyaluran dana BOS dilaksanakan tiap 3 bulan (triwulan), triwulan I :
Januari-Maret, triwulan II : April-Juni, triwulan III : Juli-September, triwulan
IV : Oktober-November
d. Mekanisme Pelaksanaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
Setiap sekolah wajib menyusun RKAS sebagaimana yang
diamanatkan dalam pasal 53 pada peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005
tentang standar nasional pendidikan.
16
Penggunaan dana BOS disekolah harus didasarkan pada kesepakatan
dan keputusan bersama antara TIM Manajemen BOS sekolah, Dewan Guru,
dan Komite Sekolah, lampiran I Peraturan Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia No. 76 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan
dan Pertanggungjawaban Keuangan Dana Bantuan Operasional Sekolah
Tahun Anggaran 2014. Asas keterbukaan; semua pihak yang telah ditentukan
oleh pihak terkait dengan sumber pembiayaan sekolah dapat memonitoring
aktivitas yang tertuang dalam penyusunan anggaran maupun dalam
pelaksanaanya (Dirjen PMPTK Depdiknas 2007).
Pemerintah mengeluarkan biaya yang besar untuk pendidikan agar
kualitas pendidikan meningkat sehingga menghasilkan peserta didik yang
juga berkualitas. Hal ini sesuai dengan teori harapan yang dikemukakan oleh
Vroom tahun 1964 yang menyatakan bahwa :
kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dalam
cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu harapan
bahwa tindakan tersebut akan diikuti dengan hasil yang
sesuai dengan kekuatan tersebut.
maksud dari kekuatan dalam teori ini adalah biaya yang dikeluarkan
sementara hasil sesuai dengan kekuatan yang dimaksud dalam teori ini adalah
peningkatan kualitas pendidikan.
1) Mekanisme Alokasi Penerimaan (BOS)
Mekanisme pengalokasian dana Bantuan Operasional Sekolah
(BOS) dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:
17
a) Tim Manajemen BOS pusat mengumpulkan data jumlah siswa tiap
sekolah/madrasah/PPS melalui Tim Manajemen BOS Propinsi dan
Kabupaten/Kota, kemudian menetapkan alokasi dana BOS tiap
Propinsi.
b) Atas dasar data jumlah siswa tiap sekolah/madrasah/PPS, Tim
Manajemen BOS pusat membuat alokasi dana BOS tiap Propinsi yang
dituangkan dalam DIPA (Daftar Isian Penggunaan Anggaran)
Propinsi.
c) Tim Manajemen BOS Propinsi dan Tim Manajemen kabupaten/kota
diharapkan melakukan verifikasi ulang data jumlah siswa tiap
sekolah/madrasah/PPS sebagai dasar dalam menetapkan alokasi di tiap
sekolah/madrasah/PPS.
d) Tim manajemen dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
kabupaten/kota menetapkan sekolah/madrasah/PPS yang bersedia
menerima BOS melalui surat keputusan (SK). SK menetapkan sekolah
umum yang menerima BOS ditandatangani oleh kepala dinas
pendidikan kabupaten/kota dan dewan pendidikan, sedangkan SK
madrasah, PPS dan sekolah keagamaan lainnya ditandatangani oleh
kepala kandepag kabupaten/kota dan dewan pendidikan. SK yang telah
ditandatangani dilampiri daftar nama sekolah/madrasah/PPS dan besar
dana bantuan yang diterima (format BOS-02A dan format BOS-02B).
18
Sekolah/madrasah/PPS yang bersedia menerima BOS harus
menandatangani surat perjanjian pemberian bantuan (SPPB).
e) Tim manajemen BOS kabupaten/kota mengirimkan SK alokasi BOS
dengan melampirkan daftar sekolah/madrasah/PPS ke Tim manajemen
BOS Propinsi, tembusan ke pos/Bank penyalur dana dan
sekolah/madrasah/PPS menerima BOS.
2) Mekanisme penyaluran dana
Syarat-syarat penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)
adalah sebagai berikut:
a) Bagi sekolah yang belum memiliki rekening rutin, harus membuka
nomor rekening atas nama lembaga (tidak boleh atas nama pribadi).
b) Sekolah mengirimkan nomer rekening kepada Tim Manajemen BOS
Kabupaten/Kota (Format BOS-03).
c) Tim Manajemen BOS Kabupaten/Kota melakukan verifikasi dan
mengkompilasi nomor rekening sekolah dan selanjutnya dikirim
kepada Tim Manajemen BOS propinsi (Format BOS-04A), disertakan
pula daftar sekolah yang menolak BOS (Format BOS-04B).
Dana disalurkan untuk periode Januari-Desember 2013 dilakukan
secara bertahap yaitu: tahap I, Dana Bantuan Operasional Sekolah
disalurkan tiap periode tiga bulan, tahap II, Dana Bantuan Operasional
Sekolah disalurkan pada awal bulan dari setiap periode tiga bulan.
19
Penyaluran dana dilaksanakan oleh Tim Tingkat propinsi melalui Bank
Pemerintah/Pos, dengan tahap-tahap sebagai berikut:
a) Tim Manajemen BOS propinsi mengajukan surat permohonan
pembayaran langsung (SPP-LS) dana BOS sesuai dengan kebutuhan.
b) Unit terkait di Dinas Pendidikan Propinsi/Kanwil Depag propinsi
melakukan verifikasi atas SPP-LS dimaksud, kemudian menerbitkan
Surat Perintah Membayar Langsung (SPM-LS).
c) Dinas Pendidikan Propinsi/Kanwil Depag propinsi selanjutnya
Mengirimkan SPM-LS dimaksud Kepada KPPN Propinsi.
d) KPPN Propinsi melakukan verifikasi terhadap SPM-LS untuk
selanjutnya menerbitkan SP2D yang dibebankan kepada rekening Kas
Negara.
e) Dana BOS yang telah dicairkan dari KPPN ditampung kerekening
penampung Tim Manajemen BOS Propinsi yang selanjutnya dana
disalurkan ke sekolah penerima BOS melalui Kantor Bank
Pemerintah/Pos yang ditunjuk sesuai dengan Perjanjian Kerjasama
antara Dinas Pendidikan Propinsi/Kanwil Depag Propinsi dan
Lembaga Penyalur (Bank/Pos). Eka Mardiana (2007, 16):
Perjanjian kerjasama yang sudah dilakukan untuk
periode sebelumnya dapat digunakan/ diperpanjang
atau diperbaiki bilamana perlu. Tim Manajemen
BOS Propinsi harus melakukan evaluasi terhadap
kinerja Bank Penyalur.
20
f) Tim Manajemen BOS Kabupaten/Kota dan sekolah harus mengecek
kesesuaian dan yang disalurkan oleh Kantor Pos/Bank dengan alokasi
BOS yang ditetapkan oleh Tim Manajemen BOS Kabupaten/Kota.
Jika terdapat perbedaan dalam jumlah dana yang diterima, maka
perbedaan tersebut harus segera dilaporkan kepada Kantor Bank/Pos
bersangkutan, Tim Manajemen BOS Kab/Kota dan Tim Manajemen
BOS Propinsi untuk diselesaikan lebih lanjut.
g) Jika dana BOS yang diterima oleh sekolah lebih besar dari jumlah
yang seharusnya, misalnya akibat kesalahan data jumlah siswa, maka
sekolah harus segera mengembalikan kelebihan dana BOS tersebut ke
rekening Tim Manajemen BOS Propinsi. Secara teknis, mekanisme
pengembalian dana BOS tersebut diatur oleh Tim Manajemen BOS
Propinsi dan lembaga penyalur.
h) Jika terdapat siswa pindah/mutasi ke sekolah lain setelah semester
berjalan, maka dana BOS siswa tersebut dalam semester yang berjalan
menjadi hak sekolah lama.
i) Jika pada batas tahun anggaran, masih terdapat sisa dana BOS di
rekening penampung Tim Manajemen BOS Propinsi akibat dari
kelebihan pencairan dana dan/pengembalian dari sekolah, selama hak
seluruh sekolah penerima dana BOS telah terpenuhi, maka dana
tersebut harus dikembalikan ke Kas Negara sebelum akhir tahun
anggaran.
21
j) Bunga Bank/ Jasa Giro akibat adanya dana di rekening penampung
Manajemen BOS Propinsi, harus di setor ke Kas Negara.
3) Mekanisme Pengambilan Dana
Pengambilan dana BOS dilakukan oleh bendahara atas persetujuan
Kepala Sekolah dengan diketahui oleh Ketua Komite Sekolah dan dapat
dilakukan sewaktu-waktu sesuai kebutuhan dengan menyisakan saldo
minimum sesuai peraturan yang berlaku. Saldo minimum ini bukan
termasuk pemotongan, pengambilan dana tidak diharuskan melalui sejenis
rekomendasi/persetujuan dari pihak manapun sehingga menghambat
pengambilan dana dan jalannya kegiatan operasional sekolah.
Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) harus diterima secara
utuh sesuai dengan SK Alokasi yang dibuat oleh Tim Manajemen BOS
Kab/Kota, dan tidak diperkenankan adanya pemotongan atau pungutan
biaya apapun dengan alasan apapun dan oleh pihak manapun. Dana Bos
dalam suatu periode tidak harus habis dipergunakan pada periode tersebut.
e. Alokasi Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Untuk Meningkatkan
Kompetensi Guru
Menyadari pentingnya untuk meningkatkan profesionalisme guru
dalam mutu pendidikan suatu sekolah maka pemerintah mengeluarkan dana
Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dimana dalam dana BOS tersebut telah
di realisasikan untuk peningkatan profesionalisme guru, dengan cara
pembinaan professional guru melalui seminar/pelatihan dan jalur kelompok
22
kerja yang meliputi: Kelompok Kerja Guru (KKG), Kelompok Kerja Kepala
Sekolah (KKKS), sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Bantuan Operasional
Sekolah (BOS) dan Laporan Keuangan Bantuan Operasional Sekolah Tahun
Anggaran 2015. Dikemukakan oleh Alif Noor Hidayati sebagai berikut :
Inservice training dilakukan atas dasar kebutuhan guru
terhadap implementasi pelaksanaan tugasnya. Pemberian
training disesuaikan dengan kedudukan kompetensi yang
dimiliki guru. KKG/MGMP dan KKKS merupakan media
bagi guru untuk secara bersama-sama di
gugus/rayon/kelompok kerja mengkaji permasalahan-
permasalahan keseharian di kelas serta Pedididkan atau
pelatihan. Di samping itu dukungan dari stakeholders (dinas
pendidikan, kantor departemen agama, organisasi profesi)
akan sangat bermakna bagi perkembangan profesionalisme
guru.
1) Kelompok Kerja Guru (KKG)
Kelompok Kerja Guru (KKG) adalah wadah pembinaan
professional bagi guru sekolah dasar yang tergabung dalam organisasi
gugus dalam rangka peningkatan mutu layanan pembelajaran dan
pendidikan, Pedoman Pengelolaan Gugus Sekolah Dasar (2009, 8). Alif
Noor Hidayati (2014, 55) menyatakan:
KKG merupakan media bagi guru untuk secara bersama-
sama di gugus/rayon/kelompok kerja mengkaji
permasalahan-permasalahan keseharian di kelas. Di
samping itu dukungan dari stakeholders (dinas
pendidikan, kantor departemen agama, organisasi profesi)
akan sangat bermakna bagi perkembangan
profesionalisme guru.
23
Menyadari bahwa jumlah sekolah yang ada di Indonesia sangat
banyak (sekitar 148.000 unit) yang berdampak pada semakin beratnya
rentang kendali pembinaan dan pengawasan, maka perlu di bentuk gugus
sekolah di sekolah dasar guna membantu dan meningkatkan efesiensi dan
efektifitas pembinaan dan pengawasan tersebut. Pembentukan gugus
sekolah di harapkan dapat meningkatkan kemampuan professional para
guru SD dalam usaha meningkatkan mutu proses belajar mengajar.
Gugus sekolah dasar merupaka gabungan dari beberapa sekolah
dasar yang memiliki tujuan dan semangat maju bersama dalam
meningkatkan mutu pendidikan. Gugus sekolah merupakankan wadah
tempat penyebaran informasi dan inovasi serta sebagai wahana pembinaan
kemampuan professional guru sekolah dasar. Alif Noor Hidayati (2014,
59) menambahkan:
Gugus sekolah dasar memiliki fungsi yang penting
sebagai tempat kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG)
dan untuk peningkatan Kelompok Kerja Kepala Sekolah
(KKKS), dengan memanfaatkan fungsi Pusat Kegiatan
Gugus (PKG) yang berpusat di SD inti. Selain itu gugus
sekolah dasar juga berfungsi sebagai wahana peningkatan
peran serta masyarakat dan diseminasi berbagai inofasi
pendidikan sekolah dasar. Sesuai dengan namanya KKG
lebih menekankan pada hasil kerja guru. KKG berfungsi
untuk meningkatkan kemampuan para guru berkenaan
dengan proses pembelajaran. Proses pembelajaran
merupakan kegiatan yang kompleks. Kegiatan ini dapat
meliputi: pembuatan RPP, pembutan media atau alat,
penggunaan sumber belajar, pelaksanaan mengajar, dan
penilaian.
24
Sedangkan dalam buku depdikbud dipdasmen pada buku pedoman
pembinaan professional guru yang menyatakan bahwa fungsi KKG yakni:
a). Sebagai wahana pembina profesional guru. b). Wahana
menumbuhkan semangat kerjasama secara kompetitif di
kalangan anggota dalam rangka meningkatkan mutu
pendidikan. c). Wadah penyebaran informasi, inovasi dan
pembinaan guru, dalam rangka meningkatkan mutu
pendidikan. d). Upaya untuk meningkatkan kordinasi,
partisifasi masyarakat dan orang tua siswa dalam
meningkatkan peran serta mereka dalam membentuk
penyelenggraan pendidikan. e). Wadah pencerahan jiwa
persatuan dan kesatuan serta menumbuhkan rasa percaya
diri dalam menyelesaikan tugas bagi. f). Melaksanakan
berbagai pertemuan rutin lainnya.
Adapun tujuan dari KKG menurut Soetjipto, Raflis Kosasi
(86;2008) mengatakan:
KKG merupakan organisasi guru bidang studi yang harus
mampu mengembangkan program strategis, antara lain :
Program penyamaan persepsi dan komitmen yang tinggi
dalam peningkatan mutu pembelajaran; Program
koordinasi dan kolaborasi peningkatan mutu persiapan
pembelajaran; Program pemecahan masalah pembelajaran;
Program pengembangan kurikulum/silabus implementatif
yang sesuai dengan standar kompetensi pada mata
pelajaran terkait; Program pengembangan bahan ajar
berbasis kompetensi pada mata pelajaran terkait; Program
pengembangan metode pembelajaran yang sesuai, menarik
dan menyenangkan; Program pengembangan media
pembelajaran yang sesuai, menarik dan menyenangkan
untuk mata pelajaran terkait; dan Program pengembangan
alat peraga pembelajaran yang bermutu untuk mata
pelajaran terkait.
Trimo (2007: 12) menyatakan, “pembinaan melalui KKG
memberikan kesempatan bagi guru yang lebih luas (dimungkinkan semua
guru terlibat), dibanding bentuk pembinaan yang lain (harus menunggu
25
kesempatan)”. Penetapan anggota KKG berasal dari guru sekolah negeri
atau swasta di beberapa sekolah yang berasal dari 8-10 sekolah atau
disesuaikan dengan kondisi setempat yang merupakan guru kelas atau
guru bidang studi penjasorkes dan pendidikan agama,
[Link]/2013/08.
2) Kelompok Kerja Kepala Kekolah (KKKS)
Pedoman Pengelolaan Gugus Sekolah Dasar (2009, 12) :
Kelompok Kerja Kepala Kekolah (KKKS) adalah wadah
pembinaan professional bagi para kepala sekolah yang
tergabung dalam organisasi gugus sekolah untuk
memecahkan masalah-masalah yang di hadapi oleh guru
dan membahas temuan ide-ide baru yang belum
terpecahkan pada pertemuan di tingkat Kelompok Kerja
Guru (KKG).
Masalah-masalah yang di hadapi guru sangat berpariasi, baik dari
segi intensitas maupun dari segi jenisnya. Masalah yang tidak dapat di
selesaikan di KKG dapat di laporkankan di kepala sekolah. Kepala
sekolah selanjutnya membawa masalah tersebut ke tingkat KKKS.
Kegiatan yang di lakukan oleh KKKS menurut Alif Noor Hidayati (2014,
71) antara lain :
a) mengidentifikasi masalah guru, b) mencari alternative
pemecahan masalah guru, c) menyusun program
pembinaan guru, d) diskusi tukar menukar informasi atau
pengalaman, e) mengidentifikasi masalah yang ada di
sekolah dan f) mencari alternative pemecahan masalah di
sekolah.
3) Pelatihan/seminar
26
Cara dan strategi yang dapat dipergunakan untuk pengembangan
SDM guru dan tenaga kependidikan, adalah: melalui: (1) Pendidikan
Formal; (2) Pendidikan dan pelatihan; (3) Bimbingan atasan; (4)
Bimbingan teman sejawat; (5) Workshop, lokakarya, seminar, dan
sosialisasi program; (6) Magang, tukar menukar tenaga dalam bentuk
kerjasama; dan (7) Studi banding, outbond, dan atau rekreasi. Diantara
cara dan strategi tersebut pendidikan dan pelatihan bagian dari
pengembangan SDM, Atmodiwirio, Soebagio (2002, 44). Menurut
Simamora (1997: 345) :
Diklat atau pelatihan adalah merupakan serangkaian
kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan keahlian,
pengetahuan, pengalaman, ataupun perubahan sikap
seseorang. Program pelatihan sangat berguna bagi
pegawai/karyawan terutama untuk memperbaiki kinerja,
memutakhirkan keahlian sejalan dengan kemajuan
teknologi, meningkatkan kompetensi dalam pekerjaan,
membantu memecahkan permasalahan operasional,
mempersiapkan pegawai/karyawan untuk promosi,
mengarahkan pegawai/karyawan terhadap visi organisasi
dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pribadi.
Organisasi profesi dapat menyelenggarakan pelatihan atau
seminar ilmiah bagi para anggotanya. Topik seminar adalah isu-isu yang
sedang berkembang di masyarakat yang berkaitan erat dengan guru SD.
Nara sumber dalam seminar adalah orang yang benar-benar ahli dalam
bidangnya. Nara sumber dapat di ambil dari anggota profesi,pengurus
profesi maupun dari luar profesi. Junaidi (2015, 23) :
27
Pengembangan SDM guru dan tenaga kependidikan
bertujuan memberikan kesempatan kepada guru dan
tenaga kependidikan untuk mengembangkan dan
mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan
minat setiap individu sesuai dengan kondisi yang
dibutuhkan di sekolah.
Misalnya berkenaan dengan berlakunya KTSP, maka organisai
profesi dapat menyelenggarakan beberapa kegiatan lokakarya antara
lain: menyusun rencana pelajaran/satuan pelajaran, penggunaan media
pembelajaran, mengembangkan penilaian hasil belajar, dll.
Apabila kita mencermati uraian ke 3 bentuk kegiatan diatas ternyata
membutuhkan dana yang cukup besar. Karena itu maka sebagian dari dana
BOS di pergunakan untuk kegiatan tersebut di atas. Akan tetapi dana BOS
yang boleh di pergunakan untuk kegiatan ini tidak boleh lebih dari 20%,
itupun harus berdasarkan atas kesepakatan dan keputusan bersama antara
Kepala Sekolah, Dewan Guru dan Komite Sekolah.
Penggunaan dana BOS untuk transportasi dan uang lelah bagi guru PNS
di perbolehkan hanya dalam rangka penyelenggaraan suatu kegiatan sekolah
selain kewajiban jam mengajar. Besar/satuan biaya untuk transportasi dan
uang lelah guru PNS yang bertugas di luar jam mengajar tersebut harus
mengikuti batas kewajaran. Pemerintah daerah wajib mengeluarkan peraturan
tentang penetapan batas kewajaran tersebut di daerah masing-masing dengan
mempertimbangkan faktor sosial ekonomi, faktor geografis dan faktor
lainnya.
28
2. Hakikat Kompetensi Guru
Kompetensi adalah “Karakteristik utama dari individu untuk menghasilkan
kinerja superior dalam melakukan pekerjaan yang mencakup motif, sifat, konsep
diri, pengetahuan, dan keahlian”, Uhar Suharsaputra (2013, 216). Sementara
menurut Muhammad Zaini (2006, 115) kompetensi sebagai “gambaran suatu
kemampuan tertentu yang dimiliki seseorang setelah mengalami proses
pendidikan tertentu”.
Guru merupakan “faktor yang sangat dominan dan paling penting dalam
pendidikan formal pada umumnya karena bagi siswa guru sering dijadikan tokoh
teladan, bahkan menjadi tokoh identifikasi diri”, Cece Wijaya dan A. Tabrani
Rusyan (2002, 1).
a. Pengertian Kompetensi Guru
Dalam Undang-Undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen, dijelaskan bahwa kompetensi adalah “seperangkat pengetahuan,
keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh
guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan”.
Mulyasa (2008, 26) :
Kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan
personal, keilmuan, tekhnologi, sosial, dan spiritual yang
secara kaffah membentuk kompetensi standar profesi guru
yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap
peserta didik, pembelajaran yang mendidik, pengembangan
pribadi dan profesionalisme.
29
Menurut Uzer Usman (2013, 14) “kompetensi guru merupakan
kemampuan dan kewenangan guru dalam melaksanakan profesi keguruannya.
Menurut Djamarah (1991, 55-65) ada beberapa macam kompetensi
guru adalah sebagai berikut:
1) Penguasaan bahan pelajaran;
2) Pengelolaan progran belajar mengajar;
3) Pengelolaan kelas;
4) Penggunaan media atau sumber belajar anak didik;
5) Penilaian prestasi belajar anak didik;
6) Penyelenggaraan administrasi sekolah;
7) Penguasaan metode;
8) Pengelolaan intraksi belajar mengajar;
9) Pengembangan keterampilan pribadi;
10) Mampu menguasai landasan kependidikan.
Mengacu kepada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14
tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 10 badan peraturan pemerintah
tentang standar nasional pendidikan pasal 28, menyebutkan ”kompetensi guru
yang dimaksud adalah kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan
kompetensi sosia”. Selain itu Kompetensi guru dapat dimaknai sebagai
penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang berwujud tindakan
cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas sebagai agen
30
pembelajaran yang meliputi kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional,
dan sosial.
Kompetensi guru yang dibicarakan dapat dikatakan merupakan
ungkapan dari falsafah dan prinsip yang dikemukakan oleh ki Hajar
Dewantoro, yang mencakup: “Tut Wuri Handayani (dibelakang memberi
dorongan), Ing Madya Mangun Karsa (ditengah membangun prakarsa), dan
Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan memberi keteladanan)”.
Dari semua pengertian diatas dapat dipahami bahwa yang dimaksud
dengan kompetensi guru adalah kamampuan dan wawasan seseorang yang
berperan sebagai pemberi ilmu pengetahuan dan keterampilan kepada anak
didik sehingga anak didik dapat memahami suatu hal. Oleh sebab itu, guru
sebagai seorang pendidik dituntut untuk bertindak, berbuat dan menentukan
sesuatu dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan kedudukan, fungsi dan
tanggung jawab sebagai seorang pendidik yang ada pada dirinya.
b. Jenis-Jenis Kompetensi Guru
Kompetensi guru dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi
Akademik Dan Kompetensi Guru :
1) Kompetensi kepribadian
Hamzah (2008, 6):
Kompetensi kepribadian adalah kemampuan dalam
mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa,
arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik,
31
dan berakhlak mulia, mampu melaksanakan kepemimpinan
seperti yang dikemukakakan oleh kihajar dewantara, yaitu
“ Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut
Wuri Handayani ”.
Oleh sebab itu pribadi guru memiliki pengaruh yang sangat besar
terhadap keberhasilan pendidikan, khususnya dalam kegiatan
pembelajaran dimana pribadi guru membentuk kpribadian peserta didik
melalui sikap kpribadian yang mantap sehingga mampu menjadi sumber
teladan bagi subyek (peserta didik).
Dapat disimpulkan guru sebagai sosok yang memiliki kpribadian
ideal. Oleh karna itu, pribadi guru sering dianggap sebagai model atau
panutan (yang harus digugu dan ditiru). Sebagai seorang model guru harus
memiliki kompetensi yang berhubungan dengan penegembangan
kepribadian di antaranya:
a) Kemampuan yang berhubungan dengan pengalaman ajaran agama
sesuai dengan keyakinan agama yang dianutnya.
b) Kemampuan untuk menghormati dan menghargai antar umat
beragama.
c) Kemampuan untuk berprilaku sesuai dengan norma, aturan, dan sistem
nilai yang berlaku di masyarakat.
d) Mengembangkan sifat-sifat terfuji sebagai seorang guru misalnya
sopan santun dan tata karma.
e) Bersikap demokratis dan dan terbuka terhadap pembaruan dan kritik.
2) Kompetensi Pedagogik
32
Kompetensi pedagogik, yaitu “suatu kompetensi yang dapat
mencerminkan kemampuan mengajar seorang guru”, Uus Toharudin
(2005, 115). Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola
pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta
didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evalasi hasil belajar,
dan pengembangan peserta didik untuk mangaktualisasikan berbagai
potensi yang di milikinya.
Menurut Mulyasa (2008,145) kompetensi pedagogik meliputi:
a) Menguasai ilmu pendidikan dan keguruan yang mencakup psikologi
pendidikan, tekhnologi pendidikan, media pendidikan, evaluasi
pendidikan.
b) Menguasai kurikulum yang mencakup mampu melaksanakan
pembelajaran dengan menggunakan metode, kegiatan dan alat bantu
pembelajaran yang sesuai dan mampu menyusun program pengayaan .
c) Menguasai didaktik metodik umum mencakup metode yang bervariasi
secara tepat, mampu mendorong peserta didik bertanya.
d) Menguasai pengelolaan kelas mencakup pengelolaan fisik kelas,
pengelolaan pembelajaran.
e) Mampu melaksanakan monitoring dan evaluasi peserta didik
mencakup mampu menyusun instrumen penilaian, menilai hasil karya
peserta didik baik melalui tes maupun non tes serta mampu
33
menggunakan berbagai cara penilaian baik tertulis, lisan maupun
perbuatan.
f) Mampu mengembangkan aktualisasi diri mencakup mampu bekerja
dan bertindak secara mandiri untuk memecahkakn masalah dan
mengambil keputusan.
Dapat dipahami kompetensi pedagogik merupakan pemahaman
terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran,
evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
3) Kompetensi profesional
Beberapa pendapat para ahli mengenai kompetensi profesional:
Menurut Mulyasa (2008,135)
Kompetensi profesional yaitu penguasaan materi
pembelajaran secara luas dan mendalam, yang
mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran
di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi
materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan
metedologi keilmuannya.
Menurut Uzer Usman (2013, 15)
Kompetensi profesionsl adalah orang yang memiliki
kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang
keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan
fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.
Atau dengan kata lain, guru profesional adalah orang
yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki
pengalaman yang kaya di bidangnya.
Menurut Djam`an Satori (2007, 18)
34
Kompetensi profesional merupakan kompetensi yang harus di
kuasai guru dalam kaitannya dengan pelaksanaan tugas
utamanya mengajar, yang memungkinkan membimbing peserta
didik memenuhi standar kompetensi yang di tetepkan dalam
Standar Nasional Pendidikan.
Dapat disimpulkan kompetensi profesional merupakan kompetensi atau
kemampuan yang berhubungan dengan penyesuain tugas-tugas keguruan,
kompetensi ini merupakan kompetensi yang sangat penting oleh sebab itu
tingkat keprofesionalan seorang guru dapat dilihat dari kompetensi
sebagai berikut:
a) Kemampuan untuk menguasai landasan kependidikan, misalnya
paham akan tujuan pendidikan yang harus dicapai;
b) Pemahaman dalam bidang psikologi pendidikan, misalnya paham
tentang perkembangan siswa, paham-paham tentang teori-teori belajar;
c) Kemampan dalam penguasaan materi pelajaran sesuai dengan bidang
studi yang diajarkannya;
d) Kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi
pembelajaran;
e) Kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan
sumber belajar;
f) Kemampuan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran;
g) Kemampuan dalam menyusun dalam program pembelajaran.
4) Kompetensi sosial
35
Kompetensi sosial menurut Spencer dan Spencer dalam Uhar
Suharsaputra (2013: 225):
Karakter sikap dan perilaku atau kemauan dan
kemampuan untuk membangun simpulsimpul kerja
sama dengan orang lain yang relative bersifat stabil
ketika menghadapi permasalahan di tempat kerja yang
terbentuk melalui sinergi antar watak, konsep diri,
motivasi internal serta kapasitas pengetahuan sosial.
Kompetensi sosial, artinya guru harus menunjukkan atau mampu
berinteraksi sosial, baik dengan murid-muridnya maupun dengan sesame
guru dan kepala sekolah, bahkan dengan masyarakat luas. Kompetensi
sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat yang
sekurang-kurangnya memiliki kompetensi untuk:
a) Berkomunikasi secara lisan, tulisan, dan isyarat.
b) Menggunakan tekhnologi komunikasi dan informasi secara fungsional.
c) Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga
kependidikan, orang tua wali peserta didik.
d) Bergaul secara santun dengan masyarakat.
Dapat disimpulkan kompetensi sosial merupakan kompetensi yang
berhubungan dengan kemampuan guru sebagai anggota masyarakat dan
makhluk sosial yamg meliputi:
a) Kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman
sejawat untuk meningkatkan kemampuan profesional;
36
b) Kemampuan untuk mengenal dan memahami fungsi-fungsi lembaga
kemasyarakatan;
c) Kemampuan untuk menjalin kerja sama baik secara individual maupun
kelompok.
c. Tujuan kompetensi guru
Menurut Mulyasa (2008, 31):
Kompetensi guru diperlukan dalam rangka
mengembangkan dan mendemonstrasikan perilaku
pendidikan, bukan sekedar mempelajari keterampilan-
keterampilan mengajar tertentu, tetapi merupakan
penggabungan dan aplikasi suatu keterampilan dan
pengetahuan yang saling bertautan dalam bentuk prilaku
nyata.
d. Tugas dan Tanggung jawab guru
Uzer Usman (2013, 7) mengelompokkan tiga jenis tugas guru, yakni:
1) Tugas guru sebagai profesi meliputi, mendidik berarti meneruskan dan
mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih
berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.
2) Tugas guru dalam bidang kemanusiaandi sekolah harus dapat menjadikan
dirinya sebagai rang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpati sehingga
ia menjadi idola para siswanya. Pelajaran apapu yang diberikan
hendaknya dapat menjadi motifasi bagi siswanya dalam belajar dan
berpenampilan menarik.
37
3) Tugas guru dalam masyarakat berkewajiban mencerdaskan bangsa menuju
pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berdasarkan pancasila.
Setiap guru harus memenuhi persyaratan sebagai manusia yang
bertanggung jawab dalam bidang pendidikan. Guru sebagai pendidik
brtanggung jawab untuk mewariskan nilai-nilai dan norma-norma kepda
generasi berikutnya sehingga terjadi konservasi nilai, karena melalui proses
pendidikan di usahakan terciptanya nilai-nilai baru.
Tanggung jawab guru dapat di jabarkan ke dalam sejumlah kompetensi
yang lebih khusus,berikut in:
1) Tanggungjawab moral; bahwa setiap guru harus mampu menghayati
perilaku dan etika yang sesui dengan moral Pancasila dan
mengamalkannya dalam pergaula hidup sehari-hari.
2) Tanggungjawab dalam bidang pendidikan di sekolah; bahwa setiap guru
harus menguasai cara belajar- mengajar yang efektif, mampu
mengembangkan kurikulum (KTSP), silabus, dan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP), melaksanakan pembelajara yang efektif, menjadi
model bagi peserta didik, memberikan nasehat, melaksanakan evluasi
hasil belajar, dan mengembangkan peserta didik.
3) Tanggung jawab dalam bidang kemasyarakatan; bahwa setiap guru harus
turut serta dalam mensukseskan pembangunan, yang harus kompeten
dalam membimbing, mengabdi dan melayani masyarakat.
38
4) Tanggungjawab dalam bidang keilmuan; bahwa setiap guru harus turut
serta dalam memajukan ilmu, terutama yang menjadi spesifikasinya,
dengan melaksanakan penelitian dan pengembangan.
B. Kerangka pikir
Adapun Kerangka Pikir yang penulis ajukan dalam hal penelitian ini
adalah sebagai berikut :
Bantuan Opersional Sekolah merupakan salah satu program
kompensasi BBM yang untuk bidang pendidikan. “BOS adalah komponen
untuk biaya operasional non personil bagi sekolah”. (Buku Panduan BOS,
2006 : 8). Dimana dalam dana BOS tersebut telah di realisasikan untuk
peningkatan profesionalisme guru, dengan cara pembinaan professional guru
melalui pelatihan dan jalur kelompok kerja yang meliputi: Kelompok Kerja
Guru (KKG), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), Kelompok Kerja
Penilik Sekolah (KKPS) dan Pusat Kegiatan Guru (PKG). melalui pelatihan
dan kelompok kerja tersebut diharapkan dapat meningkatkan kompetensi guru
yang terdiri dari, kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogic, kompetensi
profesional dan kompetensi sosial. Dikemukakan oleh Alif Noor Hidayati
sebagai berikut :
Inservice training dilakukan atas dasar kebutuhan guru
terhadap implementasi pelaksanaan tugasnya. Pemberian
training disesuaikan dengan kedudukan kompetensi yang
dimiliki guru. KKG/MGMP dan KKKS merupakan media
bagi guru untuk secara bersama-sama di
gugus/rayon/kelompok kerja mengkaji permasalahan-
39
permasalahan keseharian di kelas serta Pedididkan atau
pelatihan. Di samping itu dukungan dari stakeholders (dinas
pendidikan, kantor departemen agama, organisasi profesi)
akan sangat bermakna bagi perkembangan profesionalisme
guru.
Berdasarkan uraian dari kerangka pemikiran di atas dan agar lebih
memperjelas akan digambarkan skema kerangka pemikiran pada gambar sebagai
berikut :
Alokasi Dana BOS untuk Peningkatan
kompetensi guru (pedagogic dan
profesional)
Kegiatan Pelatihan Dan
Kelompok Kerja
(KKG, KKKS)
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Dan Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan menggunakan
pendekatan kualitatif.
Moleong (2004:4) yang mengatakan bahwa:
“Penelitian kualitatif merupakan tradisi tertentu dalam ilmu
pengetahuan sosial yang secara fundamental dan bergantung kepada
pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan
dengan orang tersebut dalam bahasa dan peristilahnya”.
Adapun tujuan dari penggunaan metode deskriptif pada penelitian ini adalah
untuk mengetahui gambaran secara sistematis mengenai alokasi dana bantuan
operasional sekolah (bos) untuk peningkatan kompetensi guru di SD Negeri 24
macanang Kabupaten Bone.
B. Kehadiran Peneliti.
Pada penelitian ini “peneliti bertindak sebagai instrument sekaligus
pengumpul data sehingga kehadiran peneliti di lapangan pada penelitian ini mutlak
diperlukan”, sesuai dengan buku Pedoman Penulisan Skripsi S-1 Fakultas Ilmu
Pendidikan UNM (2012, 57).
40
41
Berdasarkan hal tersebut, kehadiran peneliti dalam penelitian ini tidak dapat
dipisahkan dari pengamatan secara langsung. Dalam penelitian ini, peneliti berperan
sebagai pengamat penuh untuk mendapatkan data yang akurat.
C. Fokus Penelitian
Gambaran pengalokasian dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk
peningkatan kompetensi pedagogic dan profesional guru di SD Negeri 24 Macanang
Kabupaten Bone yang meliputi :
1. Kelompok kerja guru (KKG) di SD Negeri 24 Macanang Kabupaten
Bone.
2. Kelompok kerja kepala sekolah (KKKS) di SD Negeri 24 Macanang
Kabupaten Bone.
3. Pelatihan/seminar yang diikuti oleh guru di SD Negeri 24 Macanang
Kabupaten Bone.
D. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 24 Macanang Sekolah ini beralamat
di Jalan Jend. Ahmad Yani No. 30 Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten
Bone Propinsi Sulawasi Selatan. Alasan peneliti memilih tempat tersebut, selain
lokasi sekolah yang strategis sekolah ini juga merupakan salah satu sekolah yang
mempunyai jumlah siswa yang banyak sehingga mempengaruhi jumlah dana BOS
yang diteri sekolah ini. Jadi selaku peneliti saya tertarik untuk melihat bagaimana
42
alokasi dana bantuan operasional sekolah (BOS) untuk peningkatan kompetensi guru
di SD Negeri 24 Macanang Kabupaten Bone.
E. Sumber Data
Menurut Suharsimi Arikunto (1989, 102) “yang dimaksud sumber data
dalam penelitina adalah subjek dimana data diperoleh” yang menjadi sumber data
utama dalam penelitian ini antara lain;
a. Kepala Sekolah yaitu Hj. Sitti Nurhayati Malik, [Link].
b. Bendahara Sekolah yaitu Hj. Murni, [Link]
c. Tenaga Pendidik/Guru tiga orang yaitu Suariani, [Link]., Hj. Murni,
[Link]., dan Darmawati, [Link].
Sedangkan sumber dari bahan bacaan disebut sumber sekunder seperti yang
dikemukakan oleh Nasution (2004) “Adapun beberapa sumber sekunder terdiri dari
notula rapat perkumpulan, dokumen – dokumen resmi dari berbagai instalasi, dan
lain-lain.
F. Prosedur Pengumpulan Data
Dari beberapa sumber data yang ada dalam penelitian ini maka metode yang
digunakan dalam pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Wawancara
43
Suharsimi (2010, 198) “wawancara adalah sebuah dialog yang
dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari
terwawancara”. Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini untuk
mengetahui tentang bagaimana alokasi dana bantuan operasional sekolah
(BOS) untuk peningkatan kompetensi guru di SD Negeri 24 Macanang.
Teknik wawancara dalam penelitian awal ini berupa interview terhadap
informan. Alat yang digunakan dalam melakukan wawancara meliputi kertas,
perekam suara dan kamera.
2. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu
(Sugiyono, 2011:240) studi dokumentasi merupakan pelengkap/penunjang
hasil wawancara dan observasi, digunakan untuk memperoleh data atau
informasi yang bersangkutan dengan SD Negeri 24 Macanang Kabupaten
Bone. Teknik dokumentasi pada penelitian ini dilakukan dengan pengambilan
data dan gambar atau foto mengenai kegiatan yang berlangsung dengan
alokasi dana bantuan opersional sekolah (BOS) untuk peningkatan
kompetensi guru di SD Negeri 24 Macanang Kabupaten Bone.
G. Metode Analisis Data
Menurut Sugiyono (2011,244) menyatakan bahwa:
Analisi data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis
data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan
44
dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam
kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa,
meyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan
dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh
diri sendiri maupun orang lain.
Menurut Miles dan Huberman (1984) dalam Sugiyono (2011:246) Aktivitas
dalam analisi data, yaitu data reduction, data display, dan conclusion
drawing/verifikasi.
1. Data Reduction (Reduksi Data)
Sugiyono (2011:247) mengemukakan bahwa:
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok,
menfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan
polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan
memberikan gambaran yanglebih jelas, dan mempermudah
peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan
mencarinya bila diperlukan.
Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis menonjolkan,
menggolongkan, dan mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan
mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa sehingga kesimpulan
finalnya dapat ditarik dan diverifikasi. Data yang diperoleh di lapangan
jumlahnya cukup banyak, peneliti mencatat secara teliti dan rinci. Setiap
mendapatkan data, peneliti sesegera mungkin untuk menganalisis dan
mereduksi data-data yang tidak diperlukan. Mereduksi data dalam penelitian
ini harus disesuaikan dengan fokus dan rumusan masalah, sehingga data yang
berkaitan hanya mengenai alokasi dana BOS untuk peningkatan kompetensi
45
guru. Jika ada data yang diperoleh tidak sesuai dengan fokus penelitian, maka
akan dihilangkan atau direduksi.
2. Data Display (Penyajian Data)
Setelah data direduksi, langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data.
Display data dalam penelitian ini adalah berupa hasil wawancara yang
berkenaan dengan alokasi dana BOS untuk peningkatan kompetensi guru.
Indikator yang akan dikaji tersebut dibuatkan transkrip yang telah diberi kode
pada masingmasing hasil wawancara dan catatan lapangan.
3. Conclusion Drawing/ Verifikasi
Kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Secara
sederhana, makna-makna yang muncul dari data yang muncul harus diuji
kebenaran, kekuatan, dan kecocokannya, yakni yang merupakan validitasnya.
Kesimpulan ini harus sesuai dengan beberapa data tentang alokasi dana BOS
untuk peningkatan kompetensi guru. Semua data yang telah direduksi dan
disajikan, maka dibuat verifikasi. Jika tidak ada tambahan dan perubahan
pengelolaan selama penelitian, berarti verifikasi tersebut tidak berubah.
Reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi sebagai
sesuatu elemen yang saling menjalin dan mempunyai keterkaitan pada saat, sebelum,
selama dan sesudah pengumpulan data diwujudkan dalam bentuk sejajar, untuk
membangun wawasan umum yang disebut analisis. Ketiga komponen langkah-
langkah analisis data di atas saling berkait dan mempengaruhi.
46
Langkah-langkah analisis data dapat digambarkan secara sederhana sebagai
berikut :
Pengumpulan Data
Penyajian Data
Reduksi Data
Verifikasi
data/Penarikan
Sumber: Sugiyono (2011:252) kesimpulan
H. Pengecekan Keabsahan Data.
Teknik yang digunakan untuk pemeriksaan keabsahan data yang
memamfaatkan sesuatau yang lain adalah tehnik trianggulasi, baik trianggulasi
sumber maupun metode. Patton dalam Moleong (2015, 330):
Trianggulasi sumber berarti membandingkan dan mengecek balik
derajaat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh dari melalui
waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif.
Trianggulasi metode yaitu pengecekan derajat kepercayaan
penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data dan
pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan
metode yang sama.
Dalam trianggulasi ini dilakukan perbandingan antara hasil observasi
kegiatan, hasil dokumentasi, dan hasil wawancara.
47
I. Tahap-Tahap Penelitian.
Tahapan-tahapan penelitian ini terbagi atas tiga tahapan dan ditambah dengan
tahap terakhir penelitian yaitu tahap penulisan laporan hasil penelitian. Tahap-tahap
penelitian tersebut antara lain:
1. Tahap pra lapangan, yang meliputi penyusunan rancangan penelitian,
memilih lapangan penelitian, mengurus perizinan, menjajagi dan menilai
keadaan lapangan, memilih dan memanfaatkan informan, menyiapkan
perlengkapan penelitian dan menyangkut persoalan etika penelitian. Pada
tahap beberapa hal yang perlu disiapkan oleh peneliti yaitu, mengurus surat
izin untuk melakukan observasi awal di SD Negeri 24 Macanang Kabupaten
Bone di pihak jurusan.
2. tahap pekerjaan lapangan, yang meliputi memahami latar penelitian dan
persiapan diri, memasuki lapangan dan mengumpulkan data. Dengan cara
mewawancarai informan primer dan sekunder untuk memperoleh data yang
lengkap dan falid dari hasil observasi dan dokumentasi di SD Negeri 24
Macanang Kabupaten Bone.
3. Tahap analisis data, yang meliputi analisis selama dan setelah pengumpulan
data. Peneliti menganalisi data yang diperoleh di SD Negeri 24 Macanang
Kabupaten Bone dari informan maupun dokumentasi kemudian
dikonfirmasi ulang. Setelah dilakukan analisi untuk mengetahui hasilnya
48
kemudian disusun dan ditulis sesuai dengan pedoman yang telah
ditentukan.