0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan48 halaman

Alokasi Dana BOS untuk Kompetensi Guru

Diunggah oleh

syakibmuhammad40
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan48 halaman

Alokasi Dana BOS untuk Kompetensi Guru

Diunggah oleh

syakibmuhammad40
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PEDAHULUAN

A. Konteks Penelitian

Pendidikan merupakan sesuatu yang harus diikuti oleh semua orang. Dengan

pendidikan yang memadai seseorang akan mampu menjawab tantangan-tantangan

global dalam kehidupan. Dengan pendidikan ini pula harkat dan martabat seseorang

akan terangkat, semakin rendah tingkat pendidikan seseorang, martabat di

lingkungannya juga rendah. Namun apabila seseorang memiliki pendidikan yang

tinggi, akan semakin tinggi pula martabat orang tersebut. Hal ini juga akan berlaku

pada bangsa dan negara. Harkat dan martabat bangsa Indonesia dimata dunia juga

dipengaruhi oleh pendidikan penduduknya.

Pembangunan di bidang pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan

kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan

masyarakat yang maju, serta memungkinkan para warganya untuk mengembangkan

diri baik yang berkenaan dengan aspek jasmani maupun rohani berdasarkan

Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Upaya tersebut harus selalu

ditingkatkan antara lain dengan meningkatkan kualitas pendidikan.

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No.2 tentang Pendidikan

Nasional bab III pasal 5 yang berbunyi: “Setiap warga negara mempunyai hak yang

sama untuk memperoleh pendidikan”. Pada penyelenggaraan pendidikan berbagai

1
2

masalah yang dihadapi seperti lembaga pendidikan formal salah satunya yang

berkaitan dengan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang berpengaruh

terhadap peningkatan mutu sekolah. Sedangkan pendidikan pada dasarnya adalah

suatu proses untuk mengembangkan dirinya sehingga ia mampu memecahkan segala

persoalan yang dihadapinya. Masalah pendidikan adalah masalah yang sangat penting

bagi manusia karena pendidikan itu menunjang kuat kelangsungan hidup manusia

seperti yang terdapat dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 adalah:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan


suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekauatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian
kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah menyiapkan

sumber daya manusia yang berkualitas yakni manusia yang mampu berfikir kritis,

kreatif serta produktif dan mampu mengantisipasi era yang penuh tantangan.

Karena bagaimanapun juga untuk menjadi pemikir yang efektif merupakan

tujuan yang utama dalam pendidikan. Pemerintah memprogramkan wajib belajar 9

tahun dimana setiap warga negara khususnya usia sekolah yaitu 7 sampai 12 tahun

wajib menciptakan kesempatan belajar sampai dengan minimal tamat sekolah

lanjutan tingkat pertama. Seperti dikutip pada UU No. 20 tahun 2003 adalah:

Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi


jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar berbentuk
Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk
lain yang sederajat serta Sekolah Menenga Pertama (SMP)
dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain sederajat.
3

Undang-Undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,

dijelaskan bahwa kompetensi adalah “seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan

perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam

melaksanakan tugasnya sebagai guru yang professional”. Profesionalisme guru adalah

guru yang mampu mengelola dirinya sendiri dalam melaksanakan tugas-tugasnya

sehari-hari. Siti Kusrini, Sutiah, dan Marno (2004, 22):

Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan paling penting


dalam pendidikan untuk mencapai tujuan pembelajaran di sekolah.
Semakin tinggi kemampuan guru dalam pengajaran, maka di
asumsikan semakin tinggi pula hasil belajar yang dicapai oleh anak
didik. Kemampuan guru dalam mengajar sebagai tujuan
pendidikan merupakan indikator keberhasilan proses belajar
mengajar siswa.

Upaya pemerintah guna meningkatkan profesionalisme guru dengan cara

mengeluarkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dimana dalam dana BOS

tersebut telah di realisasikan untuk peningkatan profesionalisme guru, dengan cara

pembinaan professional guru melalui seminar/pelatihan dan jalur kelompok kerja

yang meliputi: Kelompok Kerja Guru (KKG), Kelompok Kerja Kepala Sekolah

(KKKS), sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Tentang

Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Laporan

Keuangan Bantuan Operasional Sekolah Tahun Anggaran 2015.

Menurut pedoman Instrument 8 (delapan) Standar Nasional Tingkat SD

“Biaya operasi sekolah digunakan untuk: (1) Kesejahteraan warga sekolah/madrasah,

(2) pengembangan guru dan tenaga kependidikan, (3) sarana prasarana, (4)

pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran, dan (5) kegiatan


4

ketatausahaan. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) adalah bantuan untuk

membebaskan semua dan sebagian biaya pendidikan yang dikeluarkan orang tua

siswa yang tidak mampu dan meringankan bagi siswa yang lain, agar mereka

memperoleh layanan pendidikan dalam rangka penuntasan wajib belajar Sembilan

tahun. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak hanya diperuntukkan kepada

siswa akan tetapi salah satunya adalah untuk peningkatan profesionalisme guru.

Mereka harus menguasai kemampuan pedagogic, kompetensi sosial dan kompetensi

keperibadian. Sesuai tuntutan UU tentang guru No. 14 tahun 2005.

Guru dituntut selalu meningkatkan kompetensinya dari waktu ke waktu agar

lebih professional. Guru harus mendapatkan pelatihan dan mengikuti kegiatan-

kegiatan lain yang sejenis dan atau yang mendukung peningkatan

profesionalismenya. Kegiatan-kegiatan guru dalam rangka meningkatkan

profesionalismenya tersebut tentunya membutuhkan dana. Pemerintahpun menyadari

akan hal tersebut, sehingga dana “BOS” salah satunya ditetapkan penggunaannya

sebagai dana bantuan peningkatan profesionalisme guru. Dalam rangka

meningkatkan pendidikan, guru memiliki peran yang sangat strategis, namun sering

kali kurang berarti apabila tidak disertai dengan kualitas guru yang memadai.

kebijakan pembangunan pendidikan dalam kurun waktu 2004-2009 mengalami

peningkatan akses rakyat terhadap pendidikan yang lebih berkualitas melalui

peningkatan pelaksanaan wajib belajar Sembilan tahun. Dari pemberian akses yang

lebih besar kepada sekelompok masyarakat yang selama ini kurang dapat menjangkau

layanan pendidikan, seperti masyarakat miskin, masyarakat yang tinggal di daerah


5

yang terpencil, masyarakat di daerah-daerah komplik atau pun masyarakat

penyandang cacat, serta diwujudkan dalam bentuk bantuan berupa Dana BOS

(Bantuan Operasional Sekolah).

Penelitian tentang program BOS (Bantuan Operasional Sekolah) atau

sejenis dengan kompetensi guru nampaknya bukanlah hal yang baru lagi. Dari

penelitian mahasiswa yang berkenaan dengan program BOS diantaranya, yaitu:

Penelitian yang dilakukan oleh Lulu Il Maknun, Jurusan Manajemen

Pendidikan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Tahun 2006 dengan judul

“Efektifitas Operasional (BOS) peningkatan pendidikan di SMP Al-Madzhab

Ciheulang Bogor” . Dari penelitian ini, bantuan operasional sekolah (BOS) dan

peningkatan mutu pendidikan ternyata sangat berpengaruh satu sama lain sehingga

pemberian bantuan dana BOS bisa ditingkatkan dengan tujuan mampu

memberikan kemajuan bagi pendidikan Indonesia agar lebih bermutu atau

berkualitas.

Penelitian yang dilakukan oleh Sinta Dwi Permata , Jurusan

Kependidikan Islam Manajemen Pendidikan , UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,

tahun 2011 dengan judul “ Studi pengelolaan dana bantuan operasional

sekolah dalam mensukseskan wajib belajar Sembilan tahun di MTs

Unwaanunnajah Aren Selatan”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bantuan

operasional sekolah telah membantu dalam meringankan biaya pendidikan di

sekolah tersebut, karena penggunaan dana BOS dialokasikan pada pos-pos yang tepat

sesuai dengan RAPBS yang telah ditetapkan sebelumnya.


6

Dari dua penelitian di atas terdapat perbedaan dengan penelitian yang

penulis lakukan salah satu diantaranya adalah dengan mengacu pada indikator

peningkatan kompetensi guru di SD Negeri 24 Macanang Kabupaten Bone.

Berdasarkan hasil observasi awal di SD Negeri 24 Macanang Kabupaten Bone,

Adapun sumber-sumber dana yang diterima sekolah yaitu berasal dari dana BOS,

dana gratis, dan hasil dari lomba-lomba yang diikuti baik oleh guru maupun siswa.

Tahun ajaran 2014, 2015 masing-masing jenjang kelas yang ada di SD Negeri 24

Macanang sebanyak empat kelas mulai dari kelas II hingga kelas VI, sedangkan

untuk kelas I sebanyak tiga kelas. Adapun jumlah dana BOS yang di terima oleh SD

Negeri 24 Macanang tiap tahunnya sesuai dengan jumlah siswa pada tahun tersebut.

Untuk tahun ajaran 2014 jumlah siswanya sebanyak 700 orang/siswa dengan dana

BOS yang di terima sebesar Rp Rp.406.000.000. Untuk tahun ajaran 2015 jumlah

siswa SD Negeri 24 Macanang sebanyak 641 orang/siswa dengan dan dengan dana

BOS yang di terima sebesar Rp 512.800.000. Karena penyaluran dana BOS yang

rutin dan salah satu komponen pembiayaannya jelas untuk peningkatan kompetensi

guru juga melihat dari jumlah dana BOS yang diterima cukup besar di sekolah ini

serta disadari bahwa guru memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan

tujuan dan cita-cita pendidikan di sekolah maka untuk itu peneliti ingin mengetahui

lebih jauh lagi bgaimana “Alokasi Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

untuk Peningkatan Kompetensi Guru (Studi di SD Negeri 24 Macanang

Kabupaten Bone)”.
7

B. Fokus Masalah

Gambaran pengalokasian dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk

peningkatan kompetensi pedagogic dan profesional guru di SD Negeri 24 Macanang

Kabupaten Bone yang meliputi :

1) Bagaimana kelompok kerja guru (KKG) di SD Negeri 24 Macanang

Kabupaten Bone?

2) Bagaimana kelompok kerja kepala sekolah (KKKS) di SD Negeri 24

Macanang Kabupaten Bone?

3) Bagaimana pelatihan/seminar yang diikuti oleh guru di SD Negeri 24

Macanang Kabupaten Bone?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :

4) Bagaimana kelompok kerja guru (KKG) di SD Negeri 24 Macanang

Kabupaten Bone.

5) Bagaimana kelompok kerja kepala sekolah (KKKS) di SD Negeri 24

Macanang Kabupaten Bone.

6) Bagaimana pelatihan/seminar yang diikuti oleh guru di SD Negeri 24

Macanang Kabupaten Bone.

D. Manfaat Penelitian

Selain memiliki tujuan, penelitian ini juga memiliki manfaat yang dapat

dirasakan oleh penulis pada khususnya dan oleh pembaca pada umumnya. Hasil
8

penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun secara

praktis, yaitu :

1. Manfaat Teoritis

Pengembangan ilmu Administrasi Pendidikan di dalam konteks organisasi,

pengelolaan personil, pengelolaan keuangan atau pengembangan sumber daya

manusia dan menambah wawasan alokasi Dana Bantuan Operasional Sekolah

(BOS) untuk Peningkatan Kompetensi pedagogic dan profesional Guru Di SD

Negeri 24 Macanang. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan

sumbangan pikiran untuk studi perbandingan bagi pihak yang berminat dan

tertarik untuk mengadakan penelitian lebih lanjut di masa yang akan datang.

2. Manfaat Praktis

Dapat dijadikan bahan evaluasi bagi SD Negeri 24 Macanang dalam rangka

meningkatkan mutu pendidikan dan kompetensi guru.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Tinjauan Pustaka

1. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

a. Pengertian Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

BOS adalah program pemerintah yang pada dasarnya adalah untuk

penyediaan pendanaan biaya non personalia bagi satuan pendidikan dasar

sebagai pelaksana program wajib belajar. Namun demikian ada beberapa

jenis pembiayaan investasi dan personalia yang dibiayai oleh dana BOS.

Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Pasal 62 tentang Standar Nasional

Pendidikan:

Biaya investasi adalah biaya penyelenggaraan pendidikan yang


sifatnya lebih permanen dan dapat dimanfaatkan jangka waktu
relatif lama, yang menghasilkan aset dalam bentuk fisik non
fisik berupa kapasitas atau kompetensi sumber daya manusia.

Jadi kegiatan pengembangan kompetensi guru termasuk ke dalam biaya

investasi. Dituliskan dalam Buku Panduan Bantuan Operasional Sekolah

Dalam Rangka Wajib Belajar 9 Tahun:

Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) adalah bantuan


untuk membebaskan semua dan sebagian biaya pendidikan
yang di keluarkan orang tua siswa yang bertujuan untuk
membebaskan biaya pendidikan bagi siswa yang tidak mampu
dan meringankan bagi siswa yang lain, agar mereka
memperoleh layanan pendidikan dalam rangka penuntasan
wajib belajar sembilan tahun.

9
10

Dari pengertian dana BOS di atas dapat di fahami bahwa, adanya

program bantuan operasional merupakan konsekuensi dari Undang-undang

Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), Bab IV Pasal 6 Bahwa, setiap

warga Negara berusia tujuh sampai dengan limabelas tahun wajib mengikuti

pendidikan dasar. Wajib belajar sembilan tahun terdiri dari Sekolah Dasar

(SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama

(SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan sederajat.

b. Komponen Pembiayaan BOS

Berdasarkan Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Bantuan Operasional

Sekolah (BOS) dan Laporan Keuangan Bantuan Operasional Sekolah Tahun

Anggaran 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan

komponen pembiayaan BOS:

1) Pengembangan perpustakaan, Prioritas utama adalah membeli buku teks

pelajaran sesuai kurikulum yang digunakan sekolah, baik pembelian

buku yang baru, mengganti yang rusak, dan membeli kekurangan agar

tercukupi rasio satu siswa satu buku. Buku teks yang dibeli adalah yang

telah dinilai dan ditetapkan HET-nya oleh Kemdikbud. Kemudian

membeli buku pengayaan dan referensi untuk memenuhi SPM; Langganan

koran, majalah/publikasi berkala yang terkait pendidikan (offline/online);

Pemeliharaan buku/koleksi perpustakaan; Peningkatan

kompetensi pustakawan; Pengembangan database perpustaka

Pemeliharaan perabot perpustakaan; Pemeliharaan & pembelian AC


11

perpustakaan; Biaya untuk pengembangan perpustakaan minimal 5% dari

anggaran operasi sekolah.

2) Kegiatan PPDB, Semua jenis pengeluaran dlm rangka PPDB; Semua jenis

pengeluaran dalam rangka pendataan Dapodikdasmen, yaitu: Penggandaan

formulir Dapodikdasmen, biaya pemasukan, validasi, update dan

pengiriman data, biaya transportasi, apabila upload data

secara online tidak dapat dilakukan di sekolah, honor operator

Dapodikdasmen; Dan pembuatan spanduk sekolah bebas pungutan.

3) Pembelajaran dan ekstrakulikuler, Membeli alat peraga IPA yang

diperlukan sekolah untuk memenuhi SPM di tingkat SD; Mendukung

penyelenggaraan PAKEM di SD; Mendukung penyelenggaraan

Pembelajaran Kontekstual di SMP; Pengembangan pendidikan

karakter/ penumbuhan budi pekerti; Pembelajaran remedial dan

pengayaan; Pemantapan persiapan ujian; Olahraga, kesenian, karya ilmiah

remaja, pramuka dan palang merah remaja; Usaha Kesehatan Sekolah

(UKS); Pendidikan dan pengembangan sekolah sehat, aman, ramah anak

dan menyenangkan; Biaya lomba yang tidak dibiayai

pemerintah/ pemda (termasuk untuk biaya pendaftaran,transportasi dan

akomodasi); Honor mengajar tambahan di luar

jam/ kewajiban mengajar dan transportnya.

4) Ulangan dan ujian, Biaya ulangan harian/tengah semester/akhir

semester/kenaikan kelas dan ujian sekolah; Komponen yang dapat


12

dibayarkan adalah: Fotocopy/penggandaan soal, fotocopy laporan hasil

ujian untuk disampaikan kepada Kepala Sekolah, serta ke Dinas

Pendidikan dan orang tua/wali, biaya transport pengawas ujian yang

ditugaskan di luar sekolah tempat mengajar, dantidak dibiayai

Pemerintah/Pemda.

5) Pembelian bahan habis pakai, Buku tulis, kapur tulis, pensil, spidol,

kertas, bahan praktikum, buku induk peserta didik, buku inventaris; Alat

tulis kantor (termasuk tinta printer, CD dan flash disk); Minuman dan

makanan ringan untuk kebutuhan sehari-hari di sekolah; Pengadaan suku

cadang alat kantor; Alat-alat kebersihan dan alat listrik.

6) Langganan daya dan jasa, Langganan listrik, air, dan

telepon (termasuk pasang instalasi baru bila ada jaringan); Langganan

internet pasca/pra bayar, baik dengan fixed modem maupun mobile

modem(termasuk pasang baru bila ada jaringan). Batas maksimal

pembelian paket/vouchermobile modem sebesar Rp. 250.000/bulan,

sedangkan biaya langganan dengan fixed modem sesuai dengan

kebutuhan sekolah; Membeli genset atau jenis lainnya yang lebih cocok di

daerah tertentu jika di sekolahtidak ada jaringan listrik (termasuk

perlengkapan pendukungnya).

7) Perawatan/rehab dan sanitasi, Pengecatan, perbaikan atap bocor,

perbaikan pintu dan jendela; Perbaikan mebeler; Perbaikan sanitasi

sekolah (kamar mandi dan WC) untuk menjamin kamar mandi dan
13

WC siswa berfungsi dengan baik; Perbaikan saluran pembuangan dan

saluran air hujan; Perbaikan lantai ubin/keramik dan perawatan fasilitas

sekolah lainnya.

8) Pembayaran honor bulanan, Guru honorer (hanya untuk memenuhi SPM);

Tenaga administrasi; Pegawai perpustakaan; Penjaga Sekolah; Petugas

satpam; Petugas kebersihan; Batas maksimum pembayar honor bulanan

sekolah negeri adalah 15%; Pengangkatan tenaga honor baru harus dapat

pertimbangan dan persetujuan kab/kota.

9) Pengembangan kompetensi guru, kegiatan KKG/MGMP atau

KKKS/MKKS. Sekolah yang mendapat hibah/block grant pengembangan

KKG/MGMP atau sejenisnya pada tahun anggaran yang sama hanya boleh

menggunakan dana BOS untuk transport kegiatan bila tidak disediakan;

Menghadiri seminar peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan.

Biaya pendaftaran dan akomodasi apabila seminar diadakan di luar satuan

pendidikan; mengadakan workshop peningkatan mutu. Biaya yang dapat

dibayarkan adalah fotocopy serta konsumsi peserta workshop yang

diadakan di sekolah dan biaya narasumber dari luar sekolah dengan

mengikuti standar biaya umum (SBU) daerah; dana BOS tidak boleh

digunakan untuk biaya kegiatan yang sama yang telah dibiayai oleh

pemerintah daerah.

10) Membantu siswa miskin, Hanya bagi siswa miskin yang tidak

mendapatkan bantuan sejenis dari sumber lainnya, misalnya PIP; Membeli


14

alat transportasi sederhana bagi siswa miskin yang mengalami kesulitan

transportasi ke sekolah (misalnya sepeda, perahu penyeberangan), dimana

barang yang dibeli tersebut harus dicatat sebagai inventaris sekolah.

11) Pengelolaan sekolah, Penggandaan laporan dan surat-menyurat; Insentif

bagi tim penyusun laporan BOS; Biaya transportasi dalam rangka

mengambil dana BOS di Bank/Kantor Pos; Transportasi dalam rangka

koordinasi dan pelaporan ke Dinas Pendidikan Kab/Kota; Biaya

pertemuan dalam rangka penyusunan RPS/RKT/RKAS, kecuali untuk

pembayaran honor.

12) Pembelian dan perawatan komputer, Membeli/memperbaiki komputer

desktop/work station maksimum pembelian untuk SD 4 unit/tahun dan

SMP 4 unut/tahun; membeli/memperbaiki printer atau printer plus scanner

maksimum pembelian 1 unit/tahun; membeli/memperbaiki leptop

maksimum pembelian 1 unit/tahun dengan harga maksimum 6 juta;

membeli/memperbaiki proyektor maksimum yang dapat dibeli adalah 1

unit/tahun dengan harga maksimum Rp. 5 juta; Ketentuan pembelian:

Harus dibeli di toko resmi; Proses pengadaan barang mengikuti peraturan

yang berlaku; Peralatan harus dicatat sebagai inventaris sekolah.

13) Biaya lainnya, Peralatan pendidikan yang mendukung kurikulum yang

diberlakukan Pemerintah; Mesin ketik; Peralatan UKS dan obat-obatan;

Pembelian meja dan kursi peserta didik/ guru, jika yang ada sudah tidak
15

berfungsi atau jumlahnya kurang; Penanggulangan dampak darurat

bencana, khusus selama masa tanggap darurat.

c. Sasaran Besaran dan waktu Penyaluran Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

Sesuai dengan informasi petunjuk teknis BOS 2015 Direktorat Jenderal

Dikdas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sasaran program Bantuan

Operasional Sekolah (BOS) adalah semua SD/SDLB/SMP/SMPLB/

Satap/SLB baik negeri maupun swasta di seluruh propinsi di Indonesia yang

sudah terdata dalam sistem Data Pokok Pendidikan Dasar dan Menengah

(Dapodikdasmen). Khusus untuk sekolah swasta juga harus memiliki izin

operasional.

Besar biaya satuan BOS yang diterima oleh sekolah, dihitung

berdasarkan jumlah siswa dengan ketentuan :

1) SD/SDLB sebesar Rp 800.000,-/siswa/tahun.

2) SMP/SMPLB/SMPT/Satap/SLB sebesar Rp 1.000.000,-/siswa/tahun.

Penyaluran dana BOS dilaksanakan tiap 3 bulan (triwulan), triwulan I :

Januari-Maret, triwulan II : April-Juni, triwulan III : Juli-September, triwulan

IV : Oktober-November

d. Mekanisme Pelaksanaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

Setiap sekolah wajib menyusun RKAS sebagaimana yang

diamanatkan dalam pasal 53 pada peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005

tentang standar nasional pendidikan.


16

Penggunaan dana BOS disekolah harus didasarkan pada kesepakatan

dan keputusan bersama antara TIM Manajemen BOS sekolah, Dewan Guru,

dan Komite Sekolah, lampiran I Peraturan Pendidikan dan Kebudayaan

Republik Indonesia No. 76 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan

dan Pertanggungjawaban Keuangan Dana Bantuan Operasional Sekolah

Tahun Anggaran 2014. Asas keterbukaan; semua pihak yang telah ditentukan

oleh pihak terkait dengan sumber pembiayaan sekolah dapat memonitoring

aktivitas yang tertuang dalam penyusunan anggaran maupun dalam

pelaksanaanya (Dirjen PMPTK Depdiknas 2007).

Pemerintah mengeluarkan biaya yang besar untuk pendidikan agar

kualitas pendidikan meningkat sehingga menghasilkan peserta didik yang

juga berkualitas. Hal ini sesuai dengan teori harapan yang dikemukakan oleh

Vroom tahun 1964 yang menyatakan bahwa :

kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dalam


cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu harapan
bahwa tindakan tersebut akan diikuti dengan hasil yang
sesuai dengan kekuatan tersebut.

maksud dari kekuatan dalam teori ini adalah biaya yang dikeluarkan

sementara hasil sesuai dengan kekuatan yang dimaksud dalam teori ini adalah

peningkatan kualitas pendidikan.

1) Mekanisme Alokasi Penerimaan (BOS)

Mekanisme pengalokasian dana Bantuan Operasional Sekolah

(BOS) dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:


17

a) Tim Manajemen BOS pusat mengumpulkan data jumlah siswa tiap

sekolah/madrasah/PPS melalui Tim Manajemen BOS Propinsi dan

Kabupaten/Kota, kemudian menetapkan alokasi dana BOS tiap

Propinsi.

b) Atas dasar data jumlah siswa tiap sekolah/madrasah/PPS, Tim

Manajemen BOS pusat membuat alokasi dana BOS tiap Propinsi yang

dituangkan dalam DIPA (Daftar Isian Penggunaan Anggaran)

Propinsi.

c) Tim Manajemen BOS Propinsi dan Tim Manajemen kabupaten/kota

diharapkan melakukan verifikasi ulang data jumlah siswa tiap

sekolah/madrasah/PPS sebagai dasar dalam menetapkan alokasi di tiap

sekolah/madrasah/PPS.

d) Tim manajemen dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

kabupaten/kota menetapkan sekolah/madrasah/PPS yang bersedia

menerima BOS melalui surat keputusan (SK). SK menetapkan sekolah

umum yang menerima BOS ditandatangani oleh kepala dinas

pendidikan kabupaten/kota dan dewan pendidikan, sedangkan SK

madrasah, PPS dan sekolah keagamaan lainnya ditandatangani oleh

kepala kandepag kabupaten/kota dan dewan pendidikan. SK yang telah

ditandatangani dilampiri daftar nama sekolah/madrasah/PPS dan besar

dana bantuan yang diterima (format BOS-02A dan format BOS-02B).


18

Sekolah/madrasah/PPS yang bersedia menerima BOS harus

menandatangani surat perjanjian pemberian bantuan (SPPB).

e) Tim manajemen BOS kabupaten/kota mengirimkan SK alokasi BOS

dengan melampirkan daftar sekolah/madrasah/PPS ke Tim manajemen

BOS Propinsi, tembusan ke pos/Bank penyalur dana dan

sekolah/madrasah/PPS menerima BOS.

2) Mekanisme penyaluran dana

Syarat-syarat penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

adalah sebagai berikut:

a) Bagi sekolah yang belum memiliki rekening rutin, harus membuka

nomor rekening atas nama lembaga (tidak boleh atas nama pribadi).

b) Sekolah mengirimkan nomer rekening kepada Tim Manajemen BOS

Kabupaten/Kota (Format BOS-03).

c) Tim Manajemen BOS Kabupaten/Kota melakukan verifikasi dan

mengkompilasi nomor rekening sekolah dan selanjutnya dikirim

kepada Tim Manajemen BOS propinsi (Format BOS-04A), disertakan

pula daftar sekolah yang menolak BOS (Format BOS-04B).

Dana disalurkan untuk periode Januari-Desember 2013 dilakukan

secara bertahap yaitu: tahap I, Dana Bantuan Operasional Sekolah

disalurkan tiap periode tiga bulan, tahap II, Dana Bantuan Operasional

Sekolah disalurkan pada awal bulan dari setiap periode tiga bulan.
19

Penyaluran dana dilaksanakan oleh Tim Tingkat propinsi melalui Bank

Pemerintah/Pos, dengan tahap-tahap sebagai berikut:

a) Tim Manajemen BOS propinsi mengajukan surat permohonan

pembayaran langsung (SPP-LS) dana BOS sesuai dengan kebutuhan.

b) Unit terkait di Dinas Pendidikan Propinsi/Kanwil Depag propinsi

melakukan verifikasi atas SPP-LS dimaksud, kemudian menerbitkan

Surat Perintah Membayar Langsung (SPM-LS).

c) Dinas Pendidikan Propinsi/Kanwil Depag propinsi selanjutnya

Mengirimkan SPM-LS dimaksud Kepada KPPN Propinsi.

d) KPPN Propinsi melakukan verifikasi terhadap SPM-LS untuk

selanjutnya menerbitkan SP2D yang dibebankan kepada rekening Kas

Negara.

e) Dana BOS yang telah dicairkan dari KPPN ditampung kerekening

penampung Tim Manajemen BOS Propinsi yang selanjutnya dana

disalurkan ke sekolah penerima BOS melalui Kantor Bank

Pemerintah/Pos yang ditunjuk sesuai dengan Perjanjian Kerjasama

antara Dinas Pendidikan Propinsi/Kanwil Depag Propinsi dan

Lembaga Penyalur (Bank/Pos). Eka Mardiana (2007, 16):

Perjanjian kerjasama yang sudah dilakukan untuk


periode sebelumnya dapat digunakan/ diperpanjang
atau diperbaiki bilamana perlu. Tim Manajemen
BOS Propinsi harus melakukan evaluasi terhadap
kinerja Bank Penyalur.
20

f) Tim Manajemen BOS Kabupaten/Kota dan sekolah harus mengecek

kesesuaian dan yang disalurkan oleh Kantor Pos/Bank dengan alokasi

BOS yang ditetapkan oleh Tim Manajemen BOS Kabupaten/Kota.

Jika terdapat perbedaan dalam jumlah dana yang diterima, maka

perbedaan tersebut harus segera dilaporkan kepada Kantor Bank/Pos

bersangkutan, Tim Manajemen BOS Kab/Kota dan Tim Manajemen

BOS Propinsi untuk diselesaikan lebih lanjut.

g) Jika dana BOS yang diterima oleh sekolah lebih besar dari jumlah

yang seharusnya, misalnya akibat kesalahan data jumlah siswa, maka

sekolah harus segera mengembalikan kelebihan dana BOS tersebut ke

rekening Tim Manajemen BOS Propinsi. Secara teknis, mekanisme

pengembalian dana BOS tersebut diatur oleh Tim Manajemen BOS

Propinsi dan lembaga penyalur.

h) Jika terdapat siswa pindah/mutasi ke sekolah lain setelah semester

berjalan, maka dana BOS siswa tersebut dalam semester yang berjalan

menjadi hak sekolah lama.

i) Jika pada batas tahun anggaran, masih terdapat sisa dana BOS di

rekening penampung Tim Manajemen BOS Propinsi akibat dari

kelebihan pencairan dana dan/pengembalian dari sekolah, selama hak

seluruh sekolah penerima dana BOS telah terpenuhi, maka dana

tersebut harus dikembalikan ke Kas Negara sebelum akhir tahun

anggaran.
21

j) Bunga Bank/ Jasa Giro akibat adanya dana di rekening penampung

Manajemen BOS Propinsi, harus di setor ke Kas Negara.

3) Mekanisme Pengambilan Dana

Pengambilan dana BOS dilakukan oleh bendahara atas persetujuan

Kepala Sekolah dengan diketahui oleh Ketua Komite Sekolah dan dapat

dilakukan sewaktu-waktu sesuai kebutuhan dengan menyisakan saldo

minimum sesuai peraturan yang berlaku. Saldo minimum ini bukan

termasuk pemotongan, pengambilan dana tidak diharuskan melalui sejenis

rekomendasi/persetujuan dari pihak manapun sehingga menghambat

pengambilan dana dan jalannya kegiatan operasional sekolah.

Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) harus diterima secara

utuh sesuai dengan SK Alokasi yang dibuat oleh Tim Manajemen BOS

Kab/Kota, dan tidak diperkenankan adanya pemotongan atau pungutan

biaya apapun dengan alasan apapun dan oleh pihak manapun. Dana Bos

dalam suatu periode tidak harus habis dipergunakan pada periode tersebut.

e. Alokasi Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Untuk Meningkatkan

Kompetensi Guru

Menyadari pentingnya untuk meningkatkan profesionalisme guru

dalam mutu pendidikan suatu sekolah maka pemerintah mengeluarkan dana

Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dimana dalam dana BOS tersebut telah

di realisasikan untuk peningkatan profesionalisme guru, dengan cara

pembinaan professional guru melalui seminar/pelatihan dan jalur kelompok


22

kerja yang meliputi: Kelompok Kerja Guru (KKG), Kelompok Kerja Kepala

Sekolah (KKKS), sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan

Kebudayaan Tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Bantuan Operasional

Sekolah (BOS) dan Laporan Keuangan Bantuan Operasional Sekolah Tahun

Anggaran 2015. Dikemukakan oleh Alif Noor Hidayati sebagai berikut :

Inservice training dilakukan atas dasar kebutuhan guru


terhadap implementasi pelaksanaan tugasnya. Pemberian
training disesuaikan dengan kedudukan kompetensi yang
dimiliki guru. KKG/MGMP dan KKKS merupakan media
bagi guru untuk secara bersama-sama di
gugus/rayon/kelompok kerja mengkaji permasalahan-
permasalahan keseharian di kelas serta Pedididkan atau
pelatihan. Di samping itu dukungan dari stakeholders (dinas
pendidikan, kantor departemen agama, organisasi profesi)
akan sangat bermakna bagi perkembangan profesionalisme
guru.

1) Kelompok Kerja Guru (KKG)

Kelompok Kerja Guru (KKG) adalah wadah pembinaan

professional bagi guru sekolah dasar yang tergabung dalam organisasi

gugus dalam rangka peningkatan mutu layanan pembelajaran dan

pendidikan, Pedoman Pengelolaan Gugus Sekolah Dasar (2009, 8). Alif

Noor Hidayati (2014, 55) menyatakan:

KKG merupakan media bagi guru untuk secara bersama-


sama di gugus/rayon/kelompok kerja mengkaji
permasalahan-permasalahan keseharian di kelas. Di
samping itu dukungan dari stakeholders (dinas
pendidikan, kantor departemen agama, organisasi profesi)
akan sangat bermakna bagi perkembangan
profesionalisme guru.
23

Menyadari bahwa jumlah sekolah yang ada di Indonesia sangat

banyak (sekitar 148.000 unit) yang berdampak pada semakin beratnya

rentang kendali pembinaan dan pengawasan, maka perlu di bentuk gugus

sekolah di sekolah dasar guna membantu dan meningkatkan efesiensi dan

efektifitas pembinaan dan pengawasan tersebut. Pembentukan gugus

sekolah di harapkan dapat meningkatkan kemampuan professional para

guru SD dalam usaha meningkatkan mutu proses belajar mengajar.

Gugus sekolah dasar merupaka gabungan dari beberapa sekolah

dasar yang memiliki tujuan dan semangat maju bersama dalam

meningkatkan mutu pendidikan. Gugus sekolah merupakankan wadah

tempat penyebaran informasi dan inovasi serta sebagai wahana pembinaan

kemampuan professional guru sekolah dasar. Alif Noor Hidayati (2014,

59) menambahkan:

Gugus sekolah dasar memiliki fungsi yang penting


sebagai tempat kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG)
dan untuk peningkatan Kelompok Kerja Kepala Sekolah
(KKKS), dengan memanfaatkan fungsi Pusat Kegiatan
Gugus (PKG) yang berpusat di SD inti. Selain itu gugus
sekolah dasar juga berfungsi sebagai wahana peningkatan
peran serta masyarakat dan diseminasi berbagai inofasi
pendidikan sekolah dasar. Sesuai dengan namanya KKG
lebih menekankan pada hasil kerja guru. KKG berfungsi
untuk meningkatkan kemampuan para guru berkenaan
dengan proses pembelajaran. Proses pembelajaran
merupakan kegiatan yang kompleks. Kegiatan ini dapat
meliputi: pembuatan RPP, pembutan media atau alat,
penggunaan sumber belajar, pelaksanaan mengajar, dan
penilaian.
24

Sedangkan dalam buku depdikbud dipdasmen pada buku pedoman

pembinaan professional guru yang menyatakan bahwa fungsi KKG yakni:

a). Sebagai wahana pembina profesional guru. b). Wahana


menumbuhkan semangat kerjasama secara kompetitif di
kalangan anggota dalam rangka meningkatkan mutu
pendidikan. c). Wadah penyebaran informasi, inovasi dan
pembinaan guru, dalam rangka meningkatkan mutu
pendidikan. d). Upaya untuk meningkatkan kordinasi,
partisifasi masyarakat dan orang tua siswa dalam
meningkatkan peran serta mereka dalam membentuk
penyelenggraan pendidikan. e). Wadah pencerahan jiwa
persatuan dan kesatuan serta menumbuhkan rasa percaya
diri dalam menyelesaikan tugas bagi. f). Melaksanakan
berbagai pertemuan rutin lainnya.

Adapun tujuan dari KKG menurut Soetjipto, Raflis Kosasi

(86;2008) mengatakan:

KKG merupakan organisasi guru bidang studi yang harus


mampu mengembangkan program strategis, antara lain :
Program penyamaan persepsi dan komitmen yang tinggi
dalam peningkatan mutu pembelajaran; Program
koordinasi dan kolaborasi peningkatan mutu persiapan
pembelajaran; Program pemecahan masalah pembelajaran;
Program pengembangan kurikulum/silabus implementatif
yang sesuai dengan standar kompetensi pada mata
pelajaran terkait; Program pengembangan bahan ajar
berbasis kompetensi pada mata pelajaran terkait; Program
pengembangan metode pembelajaran yang sesuai, menarik
dan menyenangkan; Program pengembangan media
pembelajaran yang sesuai, menarik dan menyenangkan
untuk mata pelajaran terkait; dan Program pengembangan
alat peraga pembelajaran yang bermutu untuk mata
pelajaran terkait.

Trimo (2007: 12) menyatakan, “pembinaan melalui KKG

memberikan kesempatan bagi guru yang lebih luas (dimungkinkan semua

guru terlibat), dibanding bentuk pembinaan yang lain (harus menunggu


25

kesempatan)”. Penetapan anggota KKG berasal dari guru sekolah negeri

atau swasta di beberapa sekolah yang berasal dari 8-10 sekolah atau

disesuaikan dengan kondisi setempat yang merupakan guru kelas atau

guru bidang studi penjasorkes dan pendidikan agama,

[Link]/2013/08.

2) Kelompok Kerja Kepala Kekolah (KKKS)

Pedoman Pengelolaan Gugus Sekolah Dasar (2009, 12) :

Kelompok Kerja Kepala Kekolah (KKKS) adalah wadah


pembinaan professional bagi para kepala sekolah yang
tergabung dalam organisasi gugus sekolah untuk
memecahkan masalah-masalah yang di hadapi oleh guru
dan membahas temuan ide-ide baru yang belum
terpecahkan pada pertemuan di tingkat Kelompok Kerja
Guru (KKG).

Masalah-masalah yang di hadapi guru sangat berpariasi, baik dari

segi intensitas maupun dari segi jenisnya. Masalah yang tidak dapat di

selesaikan di KKG dapat di laporkankan di kepala sekolah. Kepala

sekolah selanjutnya membawa masalah tersebut ke tingkat KKKS.

Kegiatan yang di lakukan oleh KKKS menurut Alif Noor Hidayati (2014,

71) antara lain :

a) mengidentifikasi masalah guru, b) mencari alternative


pemecahan masalah guru, c) menyusun program
pembinaan guru, d) diskusi tukar menukar informasi atau
pengalaman, e) mengidentifikasi masalah yang ada di
sekolah dan f) mencari alternative pemecahan masalah di
sekolah.

3) Pelatihan/seminar
26

Cara dan strategi yang dapat dipergunakan untuk pengembangan

SDM guru dan tenaga kependidikan, adalah: melalui: (1) Pendidikan

Formal; (2) Pendidikan dan pelatihan; (3) Bimbingan atasan; (4)

Bimbingan teman sejawat; (5) Workshop, lokakarya, seminar, dan

sosialisasi program; (6) Magang, tukar menukar tenaga dalam bentuk

kerjasama; dan (7) Studi banding, outbond, dan atau rekreasi. Diantara

cara dan strategi tersebut pendidikan dan pelatihan bagian dari

pengembangan SDM, Atmodiwirio, Soebagio (2002, 44). Menurut

Simamora (1997: 345) :

Diklat atau pelatihan adalah merupakan serangkaian


kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan keahlian,
pengetahuan, pengalaman, ataupun perubahan sikap
seseorang. Program pelatihan sangat berguna bagi
pegawai/karyawan terutama untuk memperbaiki kinerja,
memutakhirkan keahlian sejalan dengan kemajuan
teknologi, meningkatkan kompetensi dalam pekerjaan,
membantu memecahkan permasalahan operasional,
mempersiapkan pegawai/karyawan untuk promosi,
mengarahkan pegawai/karyawan terhadap visi organisasi
dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pribadi.

Organisasi profesi dapat menyelenggarakan pelatihan atau

seminar ilmiah bagi para anggotanya. Topik seminar adalah isu-isu yang

sedang berkembang di masyarakat yang berkaitan erat dengan guru SD.

Nara sumber dalam seminar adalah orang yang benar-benar ahli dalam

bidangnya. Nara sumber dapat di ambil dari anggota profesi,pengurus

profesi maupun dari luar profesi. Junaidi (2015, 23) :


27

Pengembangan SDM guru dan tenaga kependidikan


bertujuan memberikan kesempatan kepada guru dan
tenaga kependidikan untuk mengembangkan dan
mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan
minat setiap individu sesuai dengan kondisi yang
dibutuhkan di sekolah.

Misalnya berkenaan dengan berlakunya KTSP, maka organisai

profesi dapat menyelenggarakan beberapa kegiatan lokakarya antara

lain: menyusun rencana pelajaran/satuan pelajaran, penggunaan media

pembelajaran, mengembangkan penilaian hasil belajar, dll.

Apabila kita mencermati uraian ke 3 bentuk kegiatan diatas ternyata

membutuhkan dana yang cukup besar. Karena itu maka sebagian dari dana

BOS di pergunakan untuk kegiatan tersebut di atas. Akan tetapi dana BOS

yang boleh di pergunakan untuk kegiatan ini tidak boleh lebih dari 20%,

itupun harus berdasarkan atas kesepakatan dan keputusan bersama antara

Kepala Sekolah, Dewan Guru dan Komite Sekolah.

Penggunaan dana BOS untuk transportasi dan uang lelah bagi guru PNS

di perbolehkan hanya dalam rangka penyelenggaraan suatu kegiatan sekolah

selain kewajiban jam mengajar. Besar/satuan biaya untuk transportasi dan

uang lelah guru PNS yang bertugas di luar jam mengajar tersebut harus

mengikuti batas kewajaran. Pemerintah daerah wajib mengeluarkan peraturan

tentang penetapan batas kewajaran tersebut di daerah masing-masing dengan

mempertimbangkan faktor sosial ekonomi, faktor geografis dan faktor

lainnya.
28

2. Hakikat Kompetensi Guru

Kompetensi adalah “Karakteristik utama dari individu untuk menghasilkan

kinerja superior dalam melakukan pekerjaan yang mencakup motif, sifat, konsep

diri, pengetahuan, dan keahlian”, Uhar Suharsaputra (2013, 216). Sementara

menurut Muhammad Zaini (2006, 115) kompetensi sebagai “gambaran suatu

kemampuan tertentu yang dimiliki seseorang setelah mengalami proses

pendidikan tertentu”.

Guru merupakan “faktor yang sangat dominan dan paling penting dalam

pendidikan formal pada umumnya karena bagi siswa guru sering dijadikan tokoh

teladan, bahkan menjadi tokoh identifikasi diri”, Cece Wijaya dan A. Tabrani

Rusyan (2002, 1).

a. Pengertian Kompetensi Guru

Dalam Undang-Undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan

Dosen, dijelaskan bahwa kompetensi adalah “seperangkat pengetahuan,

keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh

guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan”.

Mulyasa (2008, 26) :

Kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan


personal, keilmuan, tekhnologi, sosial, dan spiritual yang
secara kaffah membentuk kompetensi standar profesi guru
yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap
peserta didik, pembelajaran yang mendidik, pengembangan
pribadi dan profesionalisme.
29

Menurut Uzer Usman (2013, 14) “kompetensi guru merupakan

kemampuan dan kewenangan guru dalam melaksanakan profesi keguruannya.

Menurut Djamarah (1991, 55-65) ada beberapa macam kompetensi

guru adalah sebagai berikut:

1) Penguasaan bahan pelajaran;

2) Pengelolaan progran belajar mengajar;

3) Pengelolaan kelas;

4) Penggunaan media atau sumber belajar anak didik;

5) Penilaian prestasi belajar anak didik;

6) Penyelenggaraan administrasi sekolah;

7) Penguasaan metode;

8) Pengelolaan intraksi belajar mengajar;

9) Pengembangan keterampilan pribadi;

10) Mampu menguasai landasan kependidikan.

Mengacu kepada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14

tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 10 badan peraturan pemerintah

tentang standar nasional pendidikan pasal 28, menyebutkan ”kompetensi guru

yang dimaksud adalah kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan

kompetensi sosia”. Selain itu Kompetensi guru dapat dimaknai sebagai

penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang berwujud tindakan

cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas sebagai agen
30

pembelajaran yang meliputi kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional,

dan sosial.

Kompetensi guru yang dibicarakan dapat dikatakan merupakan

ungkapan dari falsafah dan prinsip yang dikemukakan oleh ki Hajar

Dewantoro, yang mencakup: “Tut Wuri Handayani (dibelakang memberi

dorongan), Ing Madya Mangun Karsa (ditengah membangun prakarsa), dan

Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan memberi keteladanan)”.

Dari semua pengertian diatas dapat dipahami bahwa yang dimaksud

dengan kompetensi guru adalah kamampuan dan wawasan seseorang yang

berperan sebagai pemberi ilmu pengetahuan dan keterampilan kepada anak

didik sehingga anak didik dapat memahami suatu hal. Oleh sebab itu, guru

sebagai seorang pendidik dituntut untuk bertindak, berbuat dan menentukan

sesuatu dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan kedudukan, fungsi dan

tanggung jawab sebagai seorang pendidik yang ada pada dirinya.

b. Jenis-Jenis Kompetensi Guru

Kompetensi guru dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional

Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi

Akademik Dan Kompetensi Guru :

1) Kompetensi kepribadian

Hamzah (2008, 6):

Kompetensi kepribadian adalah kemampuan dalam


mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa,
arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik,
31

dan berakhlak mulia, mampu melaksanakan kepemimpinan


seperti yang dikemukakakan oleh kihajar dewantara, yaitu
“ Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut
Wuri Handayani ”.
Oleh sebab itu pribadi guru memiliki pengaruh yang sangat besar

terhadap keberhasilan pendidikan, khususnya dalam kegiatan

pembelajaran dimana pribadi guru membentuk kpribadian peserta didik

melalui sikap kpribadian yang mantap sehingga mampu menjadi sumber

teladan bagi subyek (peserta didik).

Dapat disimpulkan guru sebagai sosok yang memiliki kpribadian

ideal. Oleh karna itu, pribadi guru sering dianggap sebagai model atau

panutan (yang harus digugu dan ditiru). Sebagai seorang model guru harus

memiliki kompetensi yang berhubungan dengan penegembangan

kepribadian di antaranya:

a) Kemampuan yang berhubungan dengan pengalaman ajaran agama

sesuai dengan keyakinan agama yang dianutnya.

b) Kemampuan untuk menghormati dan menghargai antar umat

beragama.

c) Kemampuan untuk berprilaku sesuai dengan norma, aturan, dan sistem

nilai yang berlaku di masyarakat.

d) Mengembangkan sifat-sifat terfuji sebagai seorang guru misalnya

sopan santun dan tata karma.

e) Bersikap demokratis dan dan terbuka terhadap pembaruan dan kritik.

2) Kompetensi Pedagogik
32

Kompetensi pedagogik, yaitu “suatu kompetensi yang dapat

mencerminkan kemampuan mengajar seorang guru”, Uus Toharudin

(2005, 115). Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola

pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta

didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evalasi hasil belajar,

dan pengembangan peserta didik untuk mangaktualisasikan berbagai

potensi yang di milikinya.

Menurut Mulyasa (2008,145) kompetensi pedagogik meliputi:

a) Menguasai ilmu pendidikan dan keguruan yang mencakup psikologi

pendidikan, tekhnologi pendidikan, media pendidikan, evaluasi

pendidikan.

b) Menguasai kurikulum yang mencakup mampu melaksanakan

pembelajaran dengan menggunakan metode, kegiatan dan alat bantu

pembelajaran yang sesuai dan mampu menyusun program pengayaan .

c) Menguasai didaktik metodik umum mencakup metode yang bervariasi

secara tepat, mampu mendorong peserta didik bertanya.

d) Menguasai pengelolaan kelas mencakup pengelolaan fisik kelas,

pengelolaan pembelajaran.

e) Mampu melaksanakan monitoring dan evaluasi peserta didik

mencakup mampu menyusun instrumen penilaian, menilai hasil karya

peserta didik baik melalui tes maupun non tes serta mampu
33

menggunakan berbagai cara penilaian baik tertulis, lisan maupun

perbuatan.

f) Mampu mengembangkan aktualisasi diri mencakup mampu bekerja

dan bertindak secara mandiri untuk memecahkakn masalah dan

mengambil keputusan.

Dapat dipahami kompetensi pedagogik merupakan pemahaman

terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran,

evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk

mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

3) Kompetensi profesional

Beberapa pendapat para ahli mengenai kompetensi profesional:

Menurut Mulyasa (2008,135)

Kompetensi profesional yaitu penguasaan materi


pembelajaran secara luas dan mendalam, yang
mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran
di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi
materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan
metedologi keilmuannya.

Menurut Uzer Usman (2013, 15)

Kompetensi profesionsl adalah orang yang memiliki


kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang
keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan
fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.
Atau dengan kata lain, guru profesional adalah orang
yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki
pengalaman yang kaya di bidangnya.

Menurut Djam`an Satori (2007, 18)


34

Kompetensi profesional merupakan kompetensi yang harus di


kuasai guru dalam kaitannya dengan pelaksanaan tugas
utamanya mengajar, yang memungkinkan membimbing peserta
didik memenuhi standar kompetensi yang di tetepkan dalam
Standar Nasional Pendidikan.

Dapat disimpulkan kompetensi profesional merupakan kompetensi atau

kemampuan yang berhubungan dengan penyesuain tugas-tugas keguruan,

kompetensi ini merupakan kompetensi yang sangat penting oleh sebab itu

tingkat keprofesionalan seorang guru dapat dilihat dari kompetensi

sebagai berikut:

a) Kemampuan untuk menguasai landasan kependidikan, misalnya

paham akan tujuan pendidikan yang harus dicapai;

b) Pemahaman dalam bidang psikologi pendidikan, misalnya paham

tentang perkembangan siswa, paham-paham tentang teori-teori belajar;

c) Kemampan dalam penguasaan materi pelajaran sesuai dengan bidang

studi yang diajarkannya;

d) Kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi

pembelajaran;

e) Kemampuan merancang dan memanfaatkan berbagai media dan

sumber belajar;

f) Kemampuan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran;

g) Kemampuan dalam menyusun dalam program pembelajaran.

4) Kompetensi sosial
35

Kompetensi sosial menurut Spencer dan Spencer dalam Uhar

Suharsaputra (2013: 225):

Karakter sikap dan perilaku atau kemauan dan


kemampuan untuk membangun simpulsimpul kerja
sama dengan orang lain yang relative bersifat stabil
ketika menghadapi permasalahan di tempat kerja yang
terbentuk melalui sinergi antar watak, konsep diri,
motivasi internal serta kapasitas pengetahuan sosial.

Kompetensi sosial, artinya guru harus menunjukkan atau mampu

berinteraksi sosial, baik dengan murid-muridnya maupun dengan sesame

guru dan kepala sekolah, bahkan dengan masyarakat luas. Kompetensi

sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat yang

sekurang-kurangnya memiliki kompetensi untuk:

a) Berkomunikasi secara lisan, tulisan, dan isyarat.

b) Menggunakan tekhnologi komunikasi dan informasi secara fungsional.

c) Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga

kependidikan, orang tua wali peserta didik.

d) Bergaul secara santun dengan masyarakat.

Dapat disimpulkan kompetensi sosial merupakan kompetensi yang

berhubungan dengan kemampuan guru sebagai anggota masyarakat dan

makhluk sosial yamg meliputi:

a) Kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman

sejawat untuk meningkatkan kemampuan profesional;


36

b) Kemampuan untuk mengenal dan memahami fungsi-fungsi lembaga

kemasyarakatan;

c) Kemampuan untuk menjalin kerja sama baik secara individual maupun

kelompok.

c. Tujuan kompetensi guru

Menurut Mulyasa (2008, 31):

Kompetensi guru diperlukan dalam rangka


mengembangkan dan mendemonstrasikan perilaku
pendidikan, bukan sekedar mempelajari keterampilan-
keterampilan mengajar tertentu, tetapi merupakan
penggabungan dan aplikasi suatu keterampilan dan
pengetahuan yang saling bertautan dalam bentuk prilaku
nyata.

d. Tugas dan Tanggung jawab guru

Uzer Usman (2013, 7) mengelompokkan tiga jenis tugas guru, yakni:

1) Tugas guru sebagai profesi meliputi, mendidik berarti meneruskan dan

mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan

mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih

berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.

2) Tugas guru dalam bidang kemanusiaandi sekolah harus dapat menjadikan

dirinya sebagai rang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpati sehingga

ia menjadi idola para siswanya. Pelajaran apapu yang diberikan

hendaknya dapat menjadi motifasi bagi siswanya dalam belajar dan

berpenampilan menarik.
37

3) Tugas guru dalam masyarakat berkewajiban mencerdaskan bangsa menuju

pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berdasarkan pancasila.

Setiap guru harus memenuhi persyaratan sebagai manusia yang

bertanggung jawab dalam bidang pendidikan. Guru sebagai pendidik

brtanggung jawab untuk mewariskan nilai-nilai dan norma-norma kepda

generasi berikutnya sehingga terjadi konservasi nilai, karena melalui proses

pendidikan di usahakan terciptanya nilai-nilai baru.

Tanggung jawab guru dapat di jabarkan ke dalam sejumlah kompetensi

yang lebih khusus,berikut in:

1) Tanggungjawab moral; bahwa setiap guru harus mampu menghayati

perilaku dan etika yang sesui dengan moral Pancasila dan

mengamalkannya dalam pergaula hidup sehari-hari.

2) Tanggungjawab dalam bidang pendidikan di sekolah; bahwa setiap guru

harus menguasai cara belajar- mengajar yang efektif, mampu

mengembangkan kurikulum (KTSP), silabus, dan rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP), melaksanakan pembelajara yang efektif, menjadi

model bagi peserta didik, memberikan nasehat, melaksanakan evluasi

hasil belajar, dan mengembangkan peserta didik.

3) Tanggung jawab dalam bidang kemasyarakatan; bahwa setiap guru harus

turut serta dalam mensukseskan pembangunan, yang harus kompeten

dalam membimbing, mengabdi dan melayani masyarakat.


38

4) Tanggungjawab dalam bidang keilmuan; bahwa setiap guru harus turut

serta dalam memajukan ilmu, terutama yang menjadi spesifikasinya,

dengan melaksanakan penelitian dan pengembangan.

B. Kerangka pikir

Adapun Kerangka Pikir yang penulis ajukan dalam hal penelitian ini

adalah sebagai berikut :

Bantuan Opersional Sekolah merupakan salah satu program

kompensasi BBM yang untuk bidang pendidikan. “BOS adalah komponen

untuk biaya operasional non personil bagi sekolah”. (Buku Panduan BOS,

2006 : 8). Dimana dalam dana BOS tersebut telah di realisasikan untuk

peningkatan profesionalisme guru, dengan cara pembinaan professional guru

melalui pelatihan dan jalur kelompok kerja yang meliputi: Kelompok Kerja

Guru (KKG), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), Kelompok Kerja

Penilik Sekolah (KKPS) dan Pusat Kegiatan Guru (PKG). melalui pelatihan

dan kelompok kerja tersebut diharapkan dapat meningkatkan kompetensi guru

yang terdiri dari, kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogic, kompetensi

profesional dan kompetensi sosial. Dikemukakan oleh Alif Noor Hidayati

sebagai berikut :

Inservice training dilakukan atas dasar kebutuhan guru


terhadap implementasi pelaksanaan tugasnya. Pemberian
training disesuaikan dengan kedudukan kompetensi yang
dimiliki guru. KKG/MGMP dan KKKS merupakan media
bagi guru untuk secara bersama-sama di
gugus/rayon/kelompok kerja mengkaji permasalahan-
39

permasalahan keseharian di kelas serta Pedididkan atau


pelatihan. Di samping itu dukungan dari stakeholders (dinas
pendidikan, kantor departemen agama, organisasi profesi)
akan sangat bermakna bagi perkembangan profesionalisme
guru.

Berdasarkan uraian dari kerangka pemikiran di atas dan agar lebih

memperjelas akan digambarkan skema kerangka pemikiran pada gambar sebagai

berikut :

Alokasi Dana BOS untuk Peningkatan


kompetensi guru (pedagogic dan
profesional)

Kegiatan Pelatihan Dan


Kelompok Kerja
(KKG, KKKS)
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Dan Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan menggunakan

pendekatan kualitatif.

Moleong (2004:4) yang mengatakan bahwa:

“Penelitian kualitatif merupakan tradisi tertentu dalam ilmu


pengetahuan sosial yang secara fundamental dan bergantung kepada
pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan
dengan orang tersebut dalam bahasa dan peristilahnya”.

Adapun tujuan dari penggunaan metode deskriptif pada penelitian ini adalah

untuk mengetahui gambaran secara sistematis mengenai alokasi dana bantuan

operasional sekolah (bos) untuk peningkatan kompetensi guru di SD Negeri 24

macanang Kabupaten Bone.

B. Kehadiran Peneliti.

Pada penelitian ini “peneliti bertindak sebagai instrument sekaligus

pengumpul data sehingga kehadiran peneliti di lapangan pada penelitian ini mutlak

diperlukan”, sesuai dengan buku Pedoman Penulisan Skripsi S-1 Fakultas Ilmu

Pendidikan UNM (2012, 57).

40
41

Berdasarkan hal tersebut, kehadiran peneliti dalam penelitian ini tidak dapat

dipisahkan dari pengamatan secara langsung. Dalam penelitian ini, peneliti berperan

sebagai pengamat penuh untuk mendapatkan data yang akurat.

C. Fokus Penelitian

Gambaran pengalokasian dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk

peningkatan kompetensi pedagogic dan profesional guru di SD Negeri 24 Macanang

Kabupaten Bone yang meliputi :

1. Kelompok kerja guru (KKG) di SD Negeri 24 Macanang Kabupaten

Bone.

2. Kelompok kerja kepala sekolah (KKKS) di SD Negeri 24 Macanang

Kabupaten Bone.

3. Pelatihan/seminar yang diikuti oleh guru di SD Negeri 24 Macanang

Kabupaten Bone.

D. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 24 Macanang Sekolah ini beralamat

di Jalan Jend. Ahmad Yani No. 30 Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten

Bone Propinsi Sulawasi Selatan. Alasan peneliti memilih tempat tersebut, selain

lokasi sekolah yang strategis sekolah ini juga merupakan salah satu sekolah yang

mempunyai jumlah siswa yang banyak sehingga mempengaruhi jumlah dana BOS

yang diteri sekolah ini. Jadi selaku peneliti saya tertarik untuk melihat bagaimana
42

alokasi dana bantuan operasional sekolah (BOS) untuk peningkatan kompetensi guru

di SD Negeri 24 Macanang Kabupaten Bone.

E. Sumber Data

Menurut Suharsimi Arikunto (1989, 102) “yang dimaksud sumber data

dalam penelitina adalah subjek dimana data diperoleh” yang menjadi sumber data

utama dalam penelitian ini antara lain;

a. Kepala Sekolah yaitu Hj. Sitti Nurhayati Malik, [Link].

b. Bendahara Sekolah yaitu Hj. Murni, [Link]

c. Tenaga Pendidik/Guru tiga orang yaitu Suariani, [Link]., Hj. Murni,

[Link]., dan Darmawati, [Link].

Sedangkan sumber dari bahan bacaan disebut sumber sekunder seperti yang

dikemukakan oleh Nasution (2004) “Adapun beberapa sumber sekunder terdiri dari

notula rapat perkumpulan, dokumen – dokumen resmi dari berbagai instalasi, dan

lain-lain.

F. Prosedur Pengumpulan Data

Dari beberapa sumber data yang ada dalam penelitian ini maka metode yang

digunakan dalam pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Wawancara
43

Suharsimi (2010, 198) “wawancara adalah sebuah dialog yang

dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari

terwawancara”. Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini untuk

mengetahui tentang bagaimana alokasi dana bantuan operasional sekolah

(BOS) untuk peningkatan kompetensi guru di SD Negeri 24 Macanang.

Teknik wawancara dalam penelitian awal ini berupa interview terhadap

informan. Alat yang digunakan dalam melakukan wawancara meliputi kertas,

perekam suara dan kamera.

2. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu

(Sugiyono, 2011:240) studi dokumentasi merupakan pelengkap/penunjang

hasil wawancara dan observasi, digunakan untuk memperoleh data atau

informasi yang bersangkutan dengan SD Negeri 24 Macanang Kabupaten

Bone. Teknik dokumentasi pada penelitian ini dilakukan dengan pengambilan

data dan gambar atau foto mengenai kegiatan yang berlangsung dengan

alokasi dana bantuan opersional sekolah (BOS) untuk peningkatan

kompetensi guru di SD Negeri 24 Macanang Kabupaten Bone.

G. Metode Analisis Data

Menurut Sugiyono (2011,244) menyatakan bahwa:

Analisi data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis


data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan
44

dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam


kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa,
meyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan
dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh
diri sendiri maupun orang lain.
Menurut Miles dan Huberman (1984) dalam Sugiyono (2011:246) Aktivitas

dalam analisi data, yaitu data reduction, data display, dan conclusion

drawing/verifikasi.

1. Data Reduction (Reduksi Data)

Sugiyono (2011:247) mengemukakan bahwa:

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok,


menfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan
polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan
memberikan gambaran yanglebih jelas, dan mempermudah
peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan
mencarinya bila diperlukan.

Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis menonjolkan,

menggolongkan, dan mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan

mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa sehingga kesimpulan

finalnya dapat ditarik dan diverifikasi. Data yang diperoleh di lapangan

jumlahnya cukup banyak, peneliti mencatat secara teliti dan rinci. Setiap

mendapatkan data, peneliti sesegera mungkin untuk menganalisis dan

mereduksi data-data yang tidak diperlukan. Mereduksi data dalam penelitian

ini harus disesuaikan dengan fokus dan rumusan masalah, sehingga data yang

berkaitan hanya mengenai alokasi dana BOS untuk peningkatan kompetensi


45

guru. Jika ada data yang diperoleh tidak sesuai dengan fokus penelitian, maka

akan dihilangkan atau direduksi.

2. Data Display (Penyajian Data)

Setelah data direduksi, langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data.

Display data dalam penelitian ini adalah berupa hasil wawancara yang

berkenaan dengan alokasi dana BOS untuk peningkatan kompetensi guru.

Indikator yang akan dikaji tersebut dibuatkan transkrip yang telah diberi kode

pada masingmasing hasil wawancara dan catatan lapangan.

3. Conclusion Drawing/ Verifikasi

Kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Secara

sederhana, makna-makna yang muncul dari data yang muncul harus diuji

kebenaran, kekuatan, dan kecocokannya, yakni yang merupakan validitasnya.

Kesimpulan ini harus sesuai dengan beberapa data tentang alokasi dana BOS

untuk peningkatan kompetensi guru. Semua data yang telah direduksi dan

disajikan, maka dibuat verifikasi. Jika tidak ada tambahan dan perubahan

pengelolaan selama penelitian, berarti verifikasi tersebut tidak berubah.

Reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi sebagai

sesuatu elemen yang saling menjalin dan mempunyai keterkaitan pada saat, sebelum,

selama dan sesudah pengumpulan data diwujudkan dalam bentuk sejajar, untuk

membangun wawasan umum yang disebut analisis. Ketiga komponen langkah-

langkah analisis data di atas saling berkait dan mempengaruhi.


46

Langkah-langkah analisis data dapat digambarkan secara sederhana sebagai

berikut :

Pengumpulan Data

Penyajian Data

Reduksi Data

Verifikasi
data/Penarikan
Sumber: Sugiyono (2011:252) kesimpulan

H. Pengecekan Keabsahan Data.

Teknik yang digunakan untuk pemeriksaan keabsahan data yang

memamfaatkan sesuatau yang lain adalah tehnik trianggulasi, baik trianggulasi

sumber maupun metode. Patton dalam Moleong (2015, 330):

Trianggulasi sumber berarti membandingkan dan mengecek balik


derajaat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh dari melalui
waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif.
Trianggulasi metode yaitu pengecekan derajat kepercayaan
penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data dan
pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan
metode yang sama.
Dalam trianggulasi ini dilakukan perbandingan antara hasil observasi

kegiatan, hasil dokumentasi, dan hasil wawancara.


47

I. Tahap-Tahap Penelitian.

Tahapan-tahapan penelitian ini terbagi atas tiga tahapan dan ditambah dengan

tahap terakhir penelitian yaitu tahap penulisan laporan hasil penelitian. Tahap-tahap

penelitian tersebut antara lain:

1. Tahap pra lapangan, yang meliputi penyusunan rancangan penelitian,

memilih lapangan penelitian, mengurus perizinan, menjajagi dan menilai

keadaan lapangan, memilih dan memanfaatkan informan, menyiapkan

perlengkapan penelitian dan menyangkut persoalan etika penelitian. Pada

tahap beberapa hal yang perlu disiapkan oleh peneliti yaitu, mengurus surat

izin untuk melakukan observasi awal di SD Negeri 24 Macanang Kabupaten

Bone di pihak jurusan.

2. tahap pekerjaan lapangan, yang meliputi memahami latar penelitian dan

persiapan diri, memasuki lapangan dan mengumpulkan data. Dengan cara

mewawancarai informan primer dan sekunder untuk memperoleh data yang

lengkap dan falid dari hasil observasi dan dokumentasi di SD Negeri 24

Macanang Kabupaten Bone.

3. Tahap analisis data, yang meliputi analisis selama dan setelah pengumpulan

data. Peneliti menganalisi data yang diperoleh di SD Negeri 24 Macanang

Kabupaten Bone dari informan maupun dokumentasi kemudian

dikonfirmasi ulang. Setelah dilakukan analisi untuk mengetahui hasilnya


48

kemudian disusun dan ditulis sesuai dengan pedoman yang telah

ditentukan.

Anda mungkin juga menyukai