TUGAS MATA KULIAH
UNIVERSITAS TERBUKA
Fakultas : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Program Studi : PGSD
Kode/Nama MK : PDGK4401/ Materi dan Pembelajaran PKn di SD
Tugas : 3
Nama : RISKI SINTIA
Nim : 856650615
Pokjar : KERINCI-SUNGAI PENUH
1. Jelaskan pengertian demokrasi berdasarkan etimologi dan bagaimana demokrasi konst
itusional diterapkan dalam sistem pemerintahan Indonesia!
Jawab:
Etimologi
Kata demokrasi berasal dari bahasa Yunani: demos (rakyat) + kratos (kekuasaan/atura
n). Jadi secara etimologi demokrasi berarti kekuasaan/ketatanegaraan yang berasal dar
i rakyat — atau pemerintahan oleh rakyat.
Demokrasi konstitusional
Demokrasi konstitusional adalah bentuk demokrasi di mana kekuasaan rakyat dijalank
an dengan batasan-batasan yang ditetapkan konstitusi. Konstitusi menjadi aturan dasar
yang menjamin pemisahan kekuasaan, perlindungan hak-hak warga, mekanisme peme
rintahan yang jelas, serta mekanisme pengawasan dan penegakan hukum (rule of law).
Penerapan di Indonesia
Indonesia menerapkan demokrasi konstitusional melalui Undang-Undang Dasar 1945
(sebagai konstitusi) dan praktik lembaga-lembaga negara yang diatur oleh konstitusi,
misalnya:
o Pemilihan umum langsung untuk memilih Presiden/Wakil Presiden dan anggot
a DPR/DPRD — representasi rakyat dalam lembaga legislatif dan eksekutif.
o Pemisahan fungsi lembaga: eksekutif (Presiden), legislatif (DPR/DPRD, MP
R), dan yudikatif (peradilan, termasuk Mahkamah Konstitusi) serta mekanism
e checks and balances.
o Mahkamah Konstitusi berfungsi menguji undang-undang terhadap UUD, menj
aga konstitusi dan hak konstitusional warga.
o Adanya perlindungan hak-hak dasar warga (kebebasan berpendapat, berkumpu
l, beragama) yang diatur dan dijamin secara konstitusional.
o Amandemen UUD, pembentukan peraturan perundang-undangan, dan mekani
sme akuntabilitas publik sebagai bagian dari penerapan prinsip konstitusional.
2. Apa saja faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembangunan dan penegakan demo
krasi suatu negara? Berikan contoh penerapannya di Indonesia!
Jawab:
Faktor-faktor utama
1. Budaya politik / nilai sosial — sikap toleransi, partisipasi, dan nilai kebangsaan meme
ngaruhi keberlanjutan demokrasi.
Contoh Indonesia: budaya gotong royong dan nilai Pancasila mendukung persatuan, n
amun segmen masyarakat yang intoleran atau fanatisme sektarian dapat menguji kohe
si demokrasi.
2. Institusi politik dan hukum — kualitas parlemen, partai politik, peradilan, penegak hu
kum menentukan efektivitas demokrasi.
Contoh: pembentukan Mahkamah Konstitusi dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KP
K) sebagai upaya memperkuat institusi penegakan hukum dan akuntabilitas.
3. Penegakan hukum dan anti-korupsi — penegakan hukum yang adil dan konsisten pent
ing untuk kepercayaan publik.
Contoh: upaya pemberantasan korupsi meningkatkan akuntabilitas, meski tantangan k
orupsi masih ada.
4. Tingkat pendidikan dan literasi politik — warga yang teredukasi lebih mampu berpart
isipasi rasional.
Contoh: mata pelajaran PPKn dan program literasi pemilu di sekolah untuk menumbu
hkan warga negara yang kritis.
5. Kondisi ekonomi — kemakmuran relatif dan pemerataan mengurangi ketidakpuasan s
osial; kemiskinan dan ketimpangan dapat mengganggu stabilitas demokrasi.
Contoh: program desentralisasi dan alokasi dana desa bertujuan mengurangi kesenjan
gan lokal.
6. Peran media dan masyarakat sipil — media independen dan organisasi masyarakat sip
il memantau pemerintah dan mengedukasi publik.
Contoh: media investigasi dan LSM yang mendorong transparansi (mis. advokasi pen
gawasan pemilu).
7. Kepemimpinan politik — komitmen pemimpin terhadap aturan hukum dan transparan
si berpengaruh besar.
8. Faktor eksternal — tekanan internasional, kerjasama atau bantuan asing dapat mempe
ngaruhi proses demokratisasi.
3. Bagaimana peran pendidikan demokrasi dalam membentuk kecerdasan dan tanggung
jawab warga negara?
Jawab:
Peran pendidikan demokrasi
Meningkatkan pengetahuan civics: memberi pemahaman tentang hak, kewajiban, lem
baga negara, dan mekanisme politik sehingga warga mengerti bagaimana sistem beker
ja.
Mengembangkan keterampilan berpikir kritis: mampu mengevaluasi informasi, berdis
kusi, dan membuat keputusan politik rasional.
Menumbuhkan sikap dan nilai demokratis: toleransi, menghormati perbedaan, kejujur
an, rasa keadilan, dan tanggung jawab sosial.
Melatih partisipasi praktis: melalui simulasi, organisasi siswa (OSIS), pemilihan ketua
kelas, debat, dan kegiatan masyarakat—membiasakan proses demokrasi.
Mendorong akuntabilitas: warga terdidik lebih mungkin mengawasi kebijakan publik,
menuntut transparansi, dan memilih pemimpin yang bertanggung jawab.
Contoh di konteks sekolah / Indonesia
Mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) yang mengajarka
n nilai-nilai demokrasi.
Kegiatan ekstrakurikuler (OSIS, kegiatan organisasi) sebagai sarana praktik demokras
i di lingkungan sekolah.
Proyek pembelajaran berbasis partisipasi: misalnya simulasi sidang/rapat, diskusi publ
ik, dan layanan masyarakat.
4. Sebutkan empat macam norma yang mengatur perilaku manusia dalam masyarakat! B
agaimana masing-masing norma tersebut berkontribusi dalam menciptakan kehidupan
sosial yang tertib?
Jawab:
Empat macam norma dan kontribusinya
1. Norma agama (norma religius)
o Berasal dari ajaran agama; mengatur moral dan tata perilaku berdasarkan keya
kinan.
o Kontribusi: memberi landasan moral kuat (contoh: larangan berbohong, anjura
n berbuat baik) sehingga membentuk perilaku etis dan stabilitas sosial.
2. Norma kesusilaan / moral
o Berkaitan dengan rasa malu, hati nurani, dan standar moral masyarakat (bukan
tertulis).
o Kontribusi: mengendalikan perilaku yang dianggap tercela; memperkuat rasa
malu sosial terhadap perbuatan tidak etis.
3. Norma kesopanan / tata krama (sopan santun)
o Aturan tak tertulis tentang perilaku sopan dalam interaksi sehari-hari (mis. me
nghormati orang tua, memberi salam).
o Kontribusi: memfasilitasi interaksi sosial yang harmonis dan mengurangi konf
lik interpersonal.
4. Norma hukum (peraturan/legal)
o Aturan tertulis yang dihasilkan negara (mis. undang-undang, peraturan daerah)
dan sanksinya bersifat formal.
o Kontribusi: memberikan kepastian, mencegah dan menghukum pelanggaran se
rius sehingga menegakkan ketertiban umum secara terstruktur.
Keempat norma ini saling melengkapi: norma agama/moral membentuk hati nurani, n
orma kesopanan menata interaksi, dan norma hukum menjamin kepastian dan sanksi f
ormal — bersama-sama menciptakan kehidupan sosial yang tertib.
5. Uraikan penggolongan hukum berdasarkan sumbernya dan bentuknya!
Jawab:
1. Hukum tertulis (positif)
o Sumber: undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan presiden, peraturan
daerah, peraturan pelaksana.
o Contoh: Undang-Undang, Peraturan Pemerintah (PP).
2. Hukum tidak tertulis (adat/kebiasaan)
o Sumber: kebiasaan masyarakat (customary law) yang hidup dan diakui secara
sosial; sering berlaku di daerah adat.
o Contoh: aturan adat dalam masyarakat adat setempat.
3. Yurisprudensi / putusan pengadilan
o Putusan hakim yang menjadi rujukan dalam praktik peradilan (terutama bila k
onsisten).
4. Doktrin / pendapat para ahli hukum
o Pendapat ahli (doktrin) yang digunakan untuk menafsirkan dan mengembangk
an hukum.
5. Traktat / hukum internasional
o Sumber hukum yang berasal dari perjanjian internasional yang diratifikasi.
Berdasarkan bentuknya
1. Hukum materiil vs hukum formil
o Hukum materiil (substantive law): mengatur hak dan kewajiban substantif (mi
s. KUHP, KUHPerdata).
o Hukum formil (procedural law): mengatur prosedur penegakan hukum dan tata
cara peradilan (mis. KUHAP, HIR/RBg).
2. Hukum tertulis vs tidak tertulis (sudah dijelaskan di sumber)
o Tertulis = peraturan perundang-undangan; tidak tertulis = adat/kebiasaan.
3. Hukum publik vs hukum privat (perdata)
o Hukum publik: mengatur hubungan negara dengan warga dan kepentingan um
um (mis. tata negara, administrasi negara, pidana).
o Hukum privat (perdata): mengatur hubungan hukum antar warga negara (mis.
kontrak, waris, harta).
Contoh penerapan di Indonesia
Hukum tertulis: Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah mengatur banyak aspek k
ehidupan bernegara.
Hukum adat: masih berlaku di beberapa komunitas (mis. adat pernikahan, hukum wari
s adat) sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan nasional.
Pembagian materiil/formil terlihat jelas pada KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM
PIDANA (materiil) dan KUHAP (formil).