0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan11 halaman

Tinjauan Struktur Rumah Sakit Kelas D

Dokumen ini membahas tinjauan struktur Rumah Sakit Umum Kelas D di Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang awalnya merupakan Puskesmas dan Rumah Sakit Bersalin. Penelitian ini mencakup analisis kekuatan dan keamanan struktur kolom, balok, dan pelat lantai beton bertulang dengan menggunakan program SAP 2000 v.15 dan Pca Coloumn. Desain baru yang diusulkan melibatkan berbagai dimensi dan tulangan untuk meningkatkan kemampuan struktur dalam menahan beban.

Diunggah oleh

devi setiawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan11 halaman

Tinjauan Struktur Rumah Sakit Kelas D

Dokumen ini membahas tinjauan struktur Rumah Sakit Umum Kelas D di Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang awalnya merupakan Puskesmas dan Rumah Sakit Bersalin. Penelitian ini mencakup analisis kekuatan dan keamanan struktur kolom, balok, dan pelat lantai beton bertulang dengan menggunakan program SAP 2000 v.15 dan Pca Coloumn. Desain baru yang diusulkan melibatkan berbagai dimensi dan tulangan untuk meningkatkan kemampuan struktur dalam menahan beban.

Diunggah oleh

devi setiawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TINJAUAN STRUKTUR RUMAH SAKIT UMUM KELAS D KECAMATAN

PASAR MINGGU JAKARTA SELATAN

M. Indra Nurseha
Program Studi Teknik Sipil Universitas Suryakancana

Wiratna Tri Nugraha


Dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Suryakancana

ABSTRAK:
Rumah Sakit Umum Kelas D Kecamatan Pasar Minggu Jakarta Selatan pada awalnya adalah
Puskesmas dan Rumah Sakit Bersalin, tapi dengan bertambahnya jumlah penduduk dan
kebutuhan akan kesehatan, maka muncul alternatif untuk merehab puskesmas tersebut menjadi
Rumah Sakit Umum Kelas D Kecamatan Pasar Minggu Jakarta Selatan. Desain-desain struktur
yang digunakan pada bangunan ini memiliki banyak jenis ukuran atau dimensi, misalkan balok
menggunakan 7 jenis dimensi, kolom menggunakan 2 jenis dimensi, dan pelat dengan tebal 12 cm
dengan desain-desain tulangan yang telah terpasang. Tinjauan ini dilakukan untuk melihat
bagaimana jika jenis-jenis balok, kolom, maupun pelat yang digunakan sebelumnya diganti
dengan jenis-jenis yang baru, baik dalam segi dimensi maupun tulangan yang digunakan.
Desain baru yang direncanakan berdasarkan hasil analisis adalah kolom pada lantai 1-7
menggunakan dimensi 750 mm x 750 mm dengan tulangan 16 D22 mm, kolom pada atap
menggunakan dimensi 300 mm x 300 mm dengan tulangan 6 D22 mm, balok arah X menggunakan
dimensi 400 mm x 700 mm dengan tulangan pada daerah tumpuan 13 D22 mm dan daerah
lapangan 6 D22 mm, balok arah Y menggunakan dimensi 300 mm x 600 mm dengan tulangan
pada daerah tumpuan 7 D22 mm dan daerah lapangan 5 D22 mm, balok anak menggunakan
dimensi 250 mm x 500 mm dengan tulangan pada daerah tumpuan 5 D19 mm dan daerah
lapangan 6 D19 mm, pelat lantai dengan tebal 12 cm menggunakan tulangan rangkap pada lantai
2,4,5,6,7, dan dak menggunakan tulangan D10 – 200 mm pada arah X, D10 – 200 mm pada arah
Y daerah lapangan dan D10 – 50 mm pada daerah tumpuan, pelat lantai 3 menggunakan tulangan
D10 – 200 mm pada arah X daerah lapangan dan D10 – 150 mm pada daerah tumpuan, D10 –
200 mm pada arah Y daerah lapangan dan D10 – 50 mm pada daerah tumpuan, pelat atap
menggunakan tulangan D10 – 200 mm pada arah X dan arah Y.

Kata kunci: Struktur gedung, tinjauan struktur, beton bertulang, SRPMM, SAP 2000 v.15,
tulangan.

A. PENDAHULUAN
Kecamatan Pasar Minggu Jakarta Selatan secara menyeluruh, sehingga muncul
merupakan daerah yang tingkat alternatif untuk merehab total puskesmas
pertumbuhan ekonomi dan pertambahan tersebut menjadi Rumah Sakit Umum Kelas
jumlah penduduk sangat pesat. Pihak D Kecamatan Pasar Minggu Jakarta Selatan.
pemerintah, dalam hal ini Dinas Kesehatan Desain-desain struktur yang digunakan
DKI Jakarta bekerja sama membangun memiliki banyak jenis ukuran atau dimensi,
sarana dan prasarana kesehatan seperti misalkan balok menggunakan 7 jenis
rumah sakit unutuk memberikan pelayanan dimensi, kolom menggunakan 2 jenis
kesehatan bagi masyarakat khususnya dimensi, dan pelat dengan tebal 12 cm
daerah Kecamatan Pasar Minggu Jakarta dengan desain-desain tulangan yang telah
Selatan. terpasang.
Tercatat di daerah Kecamatan Pasar Minggu Tinjauan ini dilakukan untuk melihat
telah berdiri dan beroperasi sebuah bagaimana jika jenis-jenis balok, kolom,
Puskesmas dan Rumah Sakit Bersalin guna maupun pelat yang digunakan sebelumnya
memberikan pelayanan kesehatan kepada diganti dengan jenis-jenis yang baru, baik
masyarakat, akan tetapi bangunan ini dirasa dalam segi dimensi maupun tulangan yang
masih kurang untuk melayani masyarakat digunakan.

JURNAL MOMEN VOL 01 NO.02 HAL - 56


TUJUAN MASALAH Balok adalah bagian dari struktur portal
Adapun tujuan dari penelitian tugas akhir ini yang dirancang untuk menahan dan
adalah: mentransfer beban menuju elemen-elemen
1. Meninjau kekuatan dan keamanan kolom penopang. Balok berfungsi sebagai
struktur kolom, balok, dan pelat lantai pengikat kolom-kolom untuk
beton bertulang gedung Rumah Sakit mempertahankan bentuk dan posisinya.
Umum Kelas D Kecamatan Pasar Tegangan yang timbul pada balok
Minggu Jakarta Selatan dengan tergantung pada besar dan distribusi beban
menggunakan bantuan SNI, program pada penampang balok. Semakin besar
SAP 2000 v.15 3D dan Pca Coloumn. dimensi balok semakin kuat kemampuannya
2. Meninjau rencana anggaran biaya (RAB) untuk memikul beban, tetapi menambah
dan kurva S yang dibutuhkan untuk berat sendiri balok tersebut. Variabel utama
bangunan struktur gedung rumah sakit dalam mendesain balok meliputi bentang,
tersebut. jarak antar kolom penopang, jenis dan besar
BATASAN MASALAH beban, jenis material, ukuran dan bentuk
Penelitian tugas akhir ini memiliki beberapa penampang, serta cara penggabungan atau
batasan masalah, yaitu: fabrikasi. Beberapa faktor yang merupakan
1. Analisis yang dilakukan hanya pada prinsip-prinsip desain umum dalam
struktur atas yaitu bagian kolom, balok, perencanaan balok, yaitu:
dan pelat lantai utama tanpa lift, kolom 1. Kontrol kekuatan dan kekakuan.
lift, dinding geser, dan bangunan ramp. 2. Variasi besaran material.
2. Rencana anggaran biaya (RAB) dan 3. Variasi bentuk balok pada seluruh
kurva S hanya menganalisa struktur atas, panjangnya.
yaitu beton dan besi tulangan dengan 4. Variasi kondisi tumpuan dan kondisi
menggunakan program Microsoft batas.
Spreedsheet Excel. Balok umumnya menjadi kesatuan yang
3. Perhitungan struktur akan dihitung monolit dengan pelat. Pelat berlaku sebagai
dengan menggunakan program aplikasi lapis sayap tekan yaitu sebagai komponen
komputer yaitu program SAP 2000 v. 15 struktur yang bekerja pada dua arah lenturan
3D dan Pca Coloumn. saling tegak lurus, sedangkan balok berlaku
4. Atap pada bangunan ini dijadikan beban sebagai badan.
pada lantai yang ada di bawahnya. 2. PELAT LANTAI
Pelat lantai adalah struktur bangunan yang
B. METODOLOGI PENELITIAN tidak berada di atastanah secara langsung.
1. KOLOM Pelat lantai dibingkai oleh balok yang
Kolom adalah komponen struktur bangunan kemudian ditopang oleh kolom-kolom
yang tugas utamanya menyangga beban bangunan.
aksial tekan vertikal dengan bagian tinggi Pada SNI 03-2847-2002, pelat lantai hanya
yang tidak ditopang paling tidak tiga kali menahan beban tetap (penghuni, perabotan,
dimensi lateral terkecil (SK SNI T-15-1991- berat lapis keramik, berat sendiri pelat) yang
03). bekerja dalam waktu lama. Sedangkan untuk
Kolom adalah struktur utama yang berguna beban tak terduga seperti gempa, angin, dan
untuk meneruskan berat bangunan dan getaran tidak diperhitungkan.
beban lain seperti beban hidup, beban angin, Perencanaan dan hitungan pelat lantai dari
dan beban gempa untuk didistribusikan ke beton bertulang harus mengikuti persyaratan
pondasi dan diteruskan ke dalam tanah. yang tercantum dalam pedoman SK SNI T-
Kolom struktur portal dibuat menerus dari 15-1991-03. Beberapa persyaratan tersebut
lantai bawah sampai lantai atas, letak kolom antara lain:
berada pada titik yang sama dan tidak boleh 1. Pelat lantai harus mempunyai tebal
digeser. Ukuran kolom makin atas dapat sekurang-kurangnya 12 cm, sedang
makin kecil, sesuai dengan beban bangunan untuk pelat atap sekurang-kurangnya 7
yang diterima, karena makin atas beban pun cm.
makin kecil. 2. Pelat lantai menggunakan tulangan
BALOK silang dengan diameter minimum 8 mm.

JURNAL MOMEN VOL 01 NO.02 HAL - 57


3. Pada pelat lantai yang tebalnya lebih dari 5. PERATURAN-PERATURAN
25 cm harus dipasang tulangan rangkap Perhitungan konstruksi gedung ini
atas bawah. memperhatikan ketentuan-ketentuan yang
4. Jarak tulangan pokok yang sejajar tidak berlaku yang terdapat pada buku-buku
kurang dari 2,5 cm dan tidak lebih dari pedoman antara lain:
20 cm atau dua kali tebal pelat. 1. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton
5. Semua tulangan pelat harus terlapisi Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-
beton setebal minimum 1 cm, untuk 2002).
melindungi baja dari karat, korosi, atau 2. Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk
kebakaran. Gedung dan Bangunan Lain (SNI 1727-
3. PEMBEBANAN STRUKTUR 1989).
Beban-beban yang diperhitungkan dalam 3. Standar Perencanaan Ketahanan Gempa
perencanaan gedung ini besarnya ditentukan Untuk Struktur Bangunan Gedung (SNI-
oleh Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk 03-1726-2002).
Gedung (PPIUG-1989). 4. Tata Cara Perencanaan Struktur Baja
Beban-beban yang diperhitungkan dalam Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1729-
perhitungan struktur adalah sebagai berikut: 2002).
1. Beban mati sendiri (DL) dari elemen SAP 2000 v.15 3D
struktur yang meliputi berat balok, SAP 2000 merupakan sebuah program yang
kolom, pelat lantai, dan tangga. dikembangkan oleh perusahaan Computer &
2. Beban mati dari elemen tambahan (DL) Structure, Inc. Program SAP ini memiliki
yang meliputi dinding, keramik, kelebihan dalam perancangan struktur baja
plesteran, plumbing, mechanical dan beton agar dimensi yang digunakan bisa
electrical, plafond dan rangka plafond, optimal dan ekonomis.
waterproofing. Program ini dapat membantu dalam
3. Beban hidup (LL) yang tergantung pada perhitungan analisis struktur dan desain.
fungsi bangunan, yang dalam kasus ini Program ini digunakan untuk merancang,
gedung digunakan sebagai rumah sakit. menganalisa, dan menampilkan geometri
4. Beban gempa (Q), dalam kasus ini hanya struktur, properti, dan hasil analisis. Hasil
ditinjau terhadap beban gempa statik analisis ini berupa nilai-nilai yang
ekuivalen. selanjutnya digunakan untuk perhitungan-
4. KOMBINASI BEBAN perhitungan yang mempengaruhi struktrur,
Kombinasi pembebanan yang digunakan seperti tulangan pokok, tulangan geser, dll.
mengacu pada SNI Beton 03-2847-2002,
kombinasi bebana pada perhitungan struktur 6. PCA COLOUMN
gedung dapat dirangkum sebagai berikut: Pca Coloumn dapat digunakan untuk
1. 1,4DL mendesain atau mengecek struktur kolom.
2. 1,2 DL + 1,6 LL Data-data yang diperlukan dalam analisis
3. 1,2 DL + 1 LL + 1EX + 0,3 EY kolom menggunakan program Pca Coloumn
4. 1,2 DL + 1 LL – 1 EX – 0,3 EY ini adalah momen lentur dan gaya aksial
5. 1,2 DL + 1 LL + 0,3 EX + 1 EY tekan yang dipikul oleh kolom. Dari kedua
6. 1,2 DL + 1 LL – 0,3 EX – 1 EY data ini, Pca Coloumn akan menampilkan
7. 0,9 DL + 1 EX + 0,3 EY diagram interaksi, dimana diagram ini
8. 0,9 DL – 1 EX – 0,3 EY adalah diagram yang menunjukan hubungan
9. 0,9 DL + 0,3 EX + 1 EY momen lentur dan gaya aksial tekan yang
10. 0,9 DL – 0,3 EX – 1 EY dapat dipikul oleh elemen kolom pada
Dimana: kondisi batas. Jika semua beban masih
- DL : Beban mati berada di dalam garis diagram, maka kolom
- LL : Beban hidup tersebut mampu menahan beban tersebut
- E : Beban gempa (aman), jika beban berada di luar garis
Tanda ± menyatakan arah beban yang bolak- diagram dapat disimpulkan bahwa kolom
balik. Beban gempa (E) dianggap bekerja tidak mampu menahan beban. Jika hal ini
100 % pada arah sumbu utama bersamaan terjadi, alternatif yang bisa dilakukan
dengan 30 % pada arah tegak lurus sumbu diantaranya adalah menaikan mutu beton,
utama.

JURNAL MOMEN VOL 01 NO.02 HAL - 58


menambah jumlah tulangan, dan 2. Balok, dimensi balok yang akan
memperbesar ukuran kolom. dianalisa yaitu balok dengan gaya dalam
terbesar dari tiap lantai, yaitu:
C. ANALISA PEMBEBANAN a. Balok 700 mm x 400 mm
Beban yang bekerja pada struktur diambil b. Balok 600 mm x 300 mm
dari berat sendiri struktur, beban mati c. Balok 500 mm x 250 mm
tambahan dari komponen pendukung, dan Kolom, dimensi kolom yang akan dianalisa
beban hidup yang ditentukan pada tabel 1 adalah kolom dengan gaya dalam terbesar,
dan tabel 2, Tata Cara Perencanaan yaitu kolom 750 mm x 750 mm.
Pembebanan untuk Rumah dan Gedung, SNI
03-1727-1989. 2. PENULANGAN PELAT
Beban mati diuraikan menjadi beban mati Tulangan pelat lantai yang digunakan adalah
akibat berat sendiri dan beban mati baja tulangan ulir (deform) dengan mutu fy
tambahan. = 400 Mpa untuk D ≥ 10 mm dan mutu
1. Beban mati pada pelat lantai beton fc = 25 Mpa dengan selimut beton 25
a. Finishing (2,5 cm) 53 Kg/m2 mm. Perhitungan menggunakan sistem pelat
b. Pasangan keramik 24 Kg/m2 dua arah yaitu pelat dengan perbandingan
c. ME 25 Kg/m2 panjang dan lebar kurang dari sama dengan
d. Plafond dan rangka 18 Kg/m2 2,5 (Ly/Lx ≤ 2,5), tulangan dipasang pada
e. Sanitasi/plumbing 30 Kg/m2 dua arah yang saling tegak lurus.
f. Partisi 100 Kg/m2 1. Pelat lantai 2, 4, 5, 6, 7, dan dak
2. Berat mati pada pelat atap Pelat yang dianalisa adalah pelat dengan Lx
a. Waterproofing 105 Kg/m2 = 3 m dan Ly = 8 m.
b. ME 25 Kg/m2 Beban-beban yang diterima oleh pelat yaitu:
c. Plafond dan rangka 18 Kg/m2 a. Beban mati = 438 kg/m2
d. Sanitasi/plumbing 30 Kg/m2 b. Beban hidup = 250 kg/m2
3. Beban tambahan lainnya, yaitu dinding. c. Beban terfaktor = 925,6 kg/m2
Beban ini tergantung pada tinggi dinding Menghitung nilai momen yang bekerja pada
dan panjang balok yang menahan pelat
dinding tersebut. Mlx (+)= 0,[Link].Lx2.x
Beban hidup merupakan beban yang bukan Mly (+)= 0,[Link].Ly2.x
berasal dari berat komponen-komponen Mtx (-) = 0,[Link].Lx2.x
bangunan. Mty (-) = 0,[Link].Ly2.x
1. Beban hidup pada pelat lantai sebesar Menghitung jarak tulangan yang digunakan
250 Kg/m2 pada pelat:
2. Beban hidup pada pelat atap sebesar 100 a. Kontrol tulangan
Kg/m2 , . ⁴
K= = = 0,81 Mpa
Beban gempa menggunakan perhitungan ∅ , . . ²
.
sistem rangka pemikul momen menengah ρ = 0.85 x x [1- 1 – ]
, .
(SRPMM), dikarenakan bangunan terletak di
. ,
wilayah gempa zona 4 dan beban gempa = 0.85x x[1- 1– ]= 0,0021
yang direncanakan adalah beban gempa , .
, ,
statik ekivalen. ρmin = = = 0,0035
Untuk Tiap Portal x Untuk Tiap Portal y
Fix=Fiy (Kg)
1/[Link] (Kg) 1/[Link] (Kg)
25275,85885 5055,17177 6318,96471
ρb = 0,85. β1.
40945,59862 8189,11972 10236,39965
66678,36725 13335,67345 16669,59181 = 0,85.0,85. = 0,0271
80220,80909 16044,16182 20055,20227
89409,71852 17881,94370 22352,42963
ρmax = 0,75.ρb = 0,0203
109392,03598 21878,40720 27348,00899 As perlu = ρ.b.d = 315 mm2
91405,05131 18281,01026 22851,26283
As max = ρmax.b.d = 1827 mm2
/ ! / .
s perlu = =
1. DIMENSIONING STRUKTUR "# $%&'
Dimensi-dimensi pada struktur yang = 249,333 mm
digunakan adalah: s max = 2. ℎ = 2.120 = 240 mm
1. Pelat, dimensi pelat yang digunakan Jarak tulangan (s) yang dipakai yaitu 200
yaitu tebal 12 cm. mm.

JURNAL MOMEN VOL 01 NO.02 HAL - 59


*
/ ! . lapangan dan perhitungan pelat dilakukan
As = = +.
# secara dua arah.
= 392,5 mm2 > As perlu (315 mm2) Beban-beban yang diterima oleh pelat yaitu:
b. Kontrol momen pada pelat 1. Beban mati = 466 kg/m2
Mlx = 524,832 Kgm 2. Beban hidup = 100 kg/m2
øMn = ø x As terpasang x fy x jd 3. Beban terfaktor = 719,2 kg/m2
= 10,4562 kNm = 1045,62 Kgm Sama seperti sebelumnya perhitungan
øMn (1045,62) > Mlx (524,832) momen-momen yang diterima oleh pelat,
c. Kontrol lendutan jarak tulangan, kontrol momen, dan kontrol
Ec = 23500 Mpa lendutan yang dilakukan rumus-rumus yang
Es = 200000 Mpa digunakan tidak berbeda dengan pelat lantai
qD + qL= 438+250 = 6,88 N/mm sebelumnya.
Lx = 3000 mm
Lendutan ijin = Lx/240 = 12,5 mm 3. PENULANGAN BALOK
Ig = 1/12.b.h3= 144.106 mm4 Balok yang dianalisa merupakan balok
fr = 0,7,-. = 3,5 Mpa dengan nilai gaya dalam terbesar dari setiap
n = Es/Ec = 8,511 lantai. Tulangan yang digunakan adalah baja
"# ulir (deform) dengan mutu fy = 400 Mpa
c = n. = 3,341 mm
untuk D ≥ 10 mm dan beton dengan mutu fc
Icr = (1/3.b.c3) + ([Link].(d-c)2) = 25 Mpa.
= 25099365,68 mm4 1. Balok induk arah X dengan data sebagai
yt = h/2 = 60 mm berikut:
( &.01)
Mcr = = 84.105 Mpa Dimensi balok 0,4 m x 0,7 m
3
Ma = 1/8.q.Lx2 = 1/8. 6,88.30002 Tulangan pokok D22 mm
= 7740000 Nmm Tulangan sengkang D10 mm
& & Selimut beton 50 mm
Ie = ( )³ 6 78+ (1 − : ; ) 6 7.<
4 4 Momen rencana akibat beban terfaktor
= 151984448 mm4 adalah:
Lendutan seketika akibat beban mati dan Mut1 : 733,0148 kNm
beban hidup Mut2 : 106,4687 kNm
=> = ( ).q.Lx4/([Link]) = 2,032 mm Mul : 310,6256 kNm
"# , Vu : 367,474 kN
ρ= = = 0,00436
. . dix = h – sb – s – ½ D = 629 mm
T=2 jdix = 0,875 x dix = 550,375 mm
?
  = 1,642 Luas tulangan yang diperlukan pada
@ . ,
ABC +
tumpuan
=8 =  = 3,336 mm
D .0% As perlu = = 5122,485 mm2
ᴓ. .K
=EFEGH = => + =8 = 2,032 + 3,336 Tulangan yang digunakan, yaitu:
= 5,368 mm < 12,5 mm (aman) "# $%&'
n= = 13,376 ≈ 14 buah
Dengan menggunakan metode yang sama, B 4# 3 '4L14L
dapat dihitung pula momen-momen yang Digunakan tulangan 14 D22 mm (A = 5324
bekerja pada pelat yang lain. mm2)
2. Pelat lantai 3 Luas tulangan yang diperlukan pada
Pelat yang dianalisa adalah pelat dengan Lx lapangan
= 3,85 m dan Ly = 8 m. Dalam perhitungan As perlu = = 2170,727 mm2
ᴓ. .K
beban, momen-momen yang diterima oleh
pelat, jarak tulangan, kontrol momen, dan Tulangan yang digunakan, yaitu:
"# $%&'
n= = 5,7104 ≈ 6 buah
kontrol lendutan yang dilakukan rumus- B 4# 3 '4L14L
rumus yang digunakan tidak berbeda dengan Digunakan tulangan 6 D22 mm (A = 2281,7
pelat lantai sebelumnya. mm2)
3. Pelat lantai atap Nilai a dan cek kondisi tulangan tumpuan
Pelat yang dianalisa adalah pelat dengan Lx "#.
a= = 241,058 mm
= 3,2 m dan Ly = 4 m. Jika dilihat dari segi , . .
4
ukuran, pelat ini tidak masuk dalam kategori Jd baru = d - = 508,471 mm
pelat dua arah, tapi dalam pelaksanaan di As baru = = 5544,638 mm2
ᴓ. .K

JURNAL MOMEN VOL 01 NO.02 HAL - 60


Tulangan yang digunakan, yaitu: Dari data mengenai tulangan yang
"# $%&'
n= = 14,586 ≈ 15 buah digunakan, diperlukan cek kuat tulangan
B 4# 3 '4L14L
yang digunakan:
Digunakan tulangan 15 D22 mm (A = Ø.Mn1 = Ø x As terpasang x fy x jd baru
5704,286 mm2) = 0,8.760,266.400. 577,9345
Kontrol kuat momen tulangan tumpuan
Ø Momen rencana ≥ Momen ultimate
= 140,603 kNm
Ø.Mn2 = Ø. As terpasang x fy x jd baru
Ø.Mn = Ø x As perlu baru x fy x jd baru = 0,8.1520,532.400. 577,9345
= 0,8 x 5544,638 x 400 x 508,471 = 281,206 kNm
= 902,172 kNm>Mu = 733,0148 kNm Mr = Ø.Mn1 + Ø.Mn2
Dari data yang didapatkan, nilai Ø.Mn = 140,603 + 281,206
terlalu besar, tulangan yang digunakan = 421,809 kNm
dicoba 13 D22 mm. Mr > Mu1 + Mu2
Ø.Mn = Ø x As perlu baru x fy x jd baru 421,809 kNm>310,6256 kNm (aman)
= 0,8 x 4941,725 x 400 x 508,471 Mengecek kondisi tulangan
= 804,1 kNm > Mu = 733,0148 kNm O terpasang ≤ O max
Jadi tulangan yang digunakan 13 D22 mm, , . .Q .
Ob = . = 0,0271
di bagian atas balok 8 D22 mm, dan di ( )
bagian bawah balok 5 D22 mm. O max = 0,75 x Ob = 0,020325
Mu1 = 488,677 kNm Cek tulangan max pada tulangan tumpuan
Mu2 = 244,338 kNm Balok induk arah “X”
"# $%&' ,
As terpasang atas = n x Luas tulangan O= =
C .
= 0,02203 > O max = 0,020325
= 8.380,133 = 3041,064 mm
As terpasang bawah = n x Luas
Karena dengan tulangan sebanyak 15
D22 mm, nilai O melebihi O RG6 maka
tulangan
= 5.380,133 = 1900,666 mm
Dari data mengenai tulangan yang tulangan bisa diganti dengan 13 D22 mm.
"# $%&' ,S
O= =
digunakan, diperlukan cek kuat tulangan C .
yang digunakan: = 0,0196 < O max = 0,020325
Ø.Mn1 = Ø x As terpasang x fy x jd baru Cek tulangan max pada tulangan lapangan
= 0,8.3041,064.400.508,471 Balok induk arah “X”
"# $%&' S,
= 494,814 kNm O= =
C .
= 0,00822 < O max = 0,020325
Ø.Mn2 = Ø. As terpasang x fy x jd baru
= 0,8.1900,666.400.508,471
= 309,259 kNm 2. Balok induk arah Y dengan data sebagai
Mr = Ø.Mn1 + Ø.Mn2 berikut:
= 494,814 + 309,259 Dimensi balok 0,3 m x 0,6 m
= 804,073 kNm Tulangan pokok D22 mm
Mr > Mu1 + Mu2 Tulangan sengkang D10 mm
804,073 kNm>733,0148 kNm (aman) Selimut beton 50 mm
Kontrol kuat momen tulangan lapangan Momen rencana akibat beban terfaktor
Ø Momen rencana ≥ Momen ultimate adalah:
Balok induk arah “X” tulangan lapangan Mut1 : 191,8254 kNm
Ø.Mn = Ø x As perlu baru x fy x jd baru Mut2 : 302,4283 kNm
= 0,8 x 2067,213 x 400 x 577,9345 Mul : 198,4513 kNm
= 382,308 kNm>Mu = 310,6256 kNm Vu : 245,71 kN
Jadi tulangan yang digunakan 6 D22 mm, di Perhitungan yang dilakukan untuk mencari
bagian atas balok 2 D22 mm, dan di bagian tulangan diawali dengan mencari tinggi
bawah balok 4 D22 mm. efektif penampang, lengan momen, luas
Mu1 = 103,542 kNm tulangan yang diperlukan, tulangan yang
Mu2 = 207,084 kNm digunakan, nilai a dan cek kondisi tulangan,
As terpasang atas = n x Luas tulangan kontrol kuat momen tulangan, cek kondisi
= 2.380,133 = 760,266 mm tulangan, dan cek tulangan max pada
As terpasang bawah = n x Luas tulangan tulangan pada jenis balok ini sama dengan
= 4.380,133 = 1520,532 mm perhitungan yang dilakukan pada balok

JURNAL MOMEN VOL 01 NO.02 HAL - 61


"W. S.
induk arah X baik pada tulangan tumpuan s≤ =
S , . X S √ .
maupun tulangan lapangan.
3. Balok anak dengan data sebagai berikut: = 502,4 mm
Dimensi balok 0,25 m x 0,5 m Jarak antar sengkang yang dibutuhkan
∅."W. . ,S . S. .
Tulangan pokok D19 mm s= =
Y Z ∅Y S, S Z S,
Tulangan sengkang D10 mm = 140,93 mm
Selimut beton 50 mm Digunakan s = 125 mm
Momen rencana akibat beban terfaktor Vu = ∅ [\ + ∅Vc
adalah: ,S . S. .
= + 157,2525
Mut1 : 137,1076 kNm
Mut2 : 106,2457 kNm = 394,26 kN
Mul : 154,7776 kNm Vu = 367,474 kN < Vu = 394,26 kN
Vu : 112,814 kN Dari nilai yang didapatkan, maka tulangan
Perhitungan yang dilakukan untuk mencari sengkang yang digunakan adalah D10 – 125
tulangan diawali dengan mencari tinggi mm.
efektif penampang, lengan momen, luas b. Balok induk arah Y
tulangan yang diperlukan, tulangan yang Dimensi balok : 0,6 m x 0,3 m
digunakan, nilai a dan cek kondisi tulangan, Gaya geser (Vu) : 245,71 kN
kontrol kuat momen tulangan, cek kondisi Perhitungan tulangan geser yang diperlukan
tulangan, dan cek tulangan max pada pada balok ini sama dengan perhitungan
tulangan pada jenis balok ini sama dengan yang dilakukan pada balok induk arah X.
perhitungan yang dilakukan pada balok c. Balok anak
induk arah X baik pada tulangan tumpuan Dimensi balok : 0,5 m x 0,25 m
maupun tulangan lapangan. Gaya geser (Vu) : 112,814 kN
4. Tulangan gesek Perhitungan tulangan geser yang diperlukan
Tulangan geser dianalisa pada balok yang pada balok ini sama dengan perhitungan
telah dianalisa sebelumnya, dan telah yang dilakukan pada balok induk arah X.
ditentukan jumlah tulangan yang 4. PENULANGAN KOLOM
dibutuhkan, baik untuk tulangan tumpuan Tulangan kolom yang digunakan adalah baja
maupun tulangan lapangan. tulangan ulir (deform) dengan mutu fy = 400
a. Balok induk arah X Mpa untuk D ≥ 10 mm dan mutu beton fc =
Dimensi balok : 0,7 m x 0,4 m 25 Mpa.
Gaya geser (Vu) : 367,474 kN 1. Penulangan kolom lantai
Digunakan tulangan geser diameter 10 Data-data yang diperlukan untuk
dengan 2 kaki perencanaan penulangan kolom ini adalah:
Av = 2 (1/4 x T x D2) Dimensi kolom 1 = 0,75 m x 0,75 m
= 2 (1/4 x T x 102) Dimensi kolom 2 = 0,75 m x 0,75 m
= 157,1 mm2 Tinggi kolom bawah = 4,5 m
Kapasitas penampang beton terhadap gaya Tinggi kolom atas = 4 m
geser Dimensi balok kanan = 0,7 m x 0,4 m
Vc = . ,-..b.d = . √25.400.629
Dimensi balok kiri = 0,7 m x 0,4 m
Panjang balok kanan = 8 m
= 209666,6667 N = 209,67 kN Panjang balok kiri = 8 m
Memeriksa perbandingan antara gaya geser Dimensi tulangan (D) = D22 mm
(Vu) dengan kapasitas penampang beton Dimensi sengkang (s) = D10 mm
(Vc) Selimut beton (sb) = 50 mm
Vc = 209,67 kN d = h – sb – D/2 = 750 – 50 – 11
ØVc = 157,2525 = 689 mm
½ ØVc = 78,63 kN Beban-beban rencana:
Vu = 367,474 kN>½ ØVc = 78,63 kN Gaya aksial (Pu) kolom bawah
Dengan melihat perbandingan ini, maka Pu = 5261,162 kN = 5261162 N
diperlukan tulangan geser. Gaya aksial (Pu) kolom atas
Spasi maksimum Pu = 4453,672 kN = 4453672 N
S maks = 0,5.d = 0,5.629 = 314,5 mm Gaya aksial (Pu) balok kanan
."W. . S.
s≤ = = 471 mm, atau Pu = 0,2 kN (akibat beban mati)
Pu = 0,24 kN (akibat kombinasi 2)

JURNAL MOMEN VOL 01 NO.02 HAL - 62


Gaya aksial (Pu) balok kiri *, dk bgh*d.*e¹³ *, dk bgh*d.*e¹³
+eee +bee
Pu = 0,144 kN (akibat beban mati) ΨA = b,dgdfffffb.*e¹³ b,dgdfffffb.*e¹³
heee heee
Pu = 0,173 kN (akibat kombinasi 2)
= 0,436
Momen terkecil pada ujung kolom yang
ΨB = 0, karena struktur kolom dengan
akan ditinjau,
perletakan jepit-jepit
Mu = -534,4495 kNm
Dari nomogram diperoleh faktor panjang
= -534449500 Nmm
efektif kolom, k = 1,08.
Momen terbesar pada ujung kolom yang
Menentukan angka kelangsingan kolom
akan ditinjau,
R = 0,3 h (0,3 untuk kolom persegi)
Mu = 199,5518 kNm
= 0,3 x 750 = 225
= 199551800 Nmm l.' , C( Z )
( )=( )<34 – 12.
Analisa struktur kolom &
Kolom bawah ,
= 19,68 < 34 – 12.
,
Ig = 1/12.b.h3 = x 750 x 7503 = 19,68 < 29,52
= 2,63671875.1010 mm4 Dari nilai perbandingan tersebut, dapat
Ec = 23500 Mpa disimpulkan bahwa kolom yang ditinjau
‘] = 1 termasuk kolom pendek.
^_.`a dbee. ,fdfg*hgb.*e¹⁰
,b ,b
Menentukan eksentrisitas kolom
EI = = ,
c e= = = 101,6 mm
m ,
= 1,239257813.1013 Nmm2
e min = 0,1.h = 0,1.750 = 75 mm
Kolom atas
Menghitung Pn perlu
Ig = 1/12.b.h3 = x 750 x 7503 Ag = b x h = 750 x 750
= 2,63671875.1010 mm4 = 562500 mm2
Ec = 23500 Mpa 0,[Link] = 0,1.562500.25
‘] = 1 = 1406,25 kN < Pu = 5261,162 kN
^_.`a dbee. ,fdfg*hgb.*e¹⁰ Digunakan faktor reduksi 0,65, maka
,b ,b
EI = =
c didapatkan:
,
= 1,239257813.1013 Nmm2 Pn perlu = = 8094,1 kN
,
Balok kanan op qrstu ,
a= = = 507,87 mm
Ig = 1/12.b.h3 = x 400 x 7003 , . . , . .S
v w
mL $%&' .(% Z )
= 1,143333333.1010 mm4 As =
.( Z x)
Ec = 23500 Mpa gbe beg,hg
.( , Z )
‘] = 1 =
^_.`a dbee.*,*+ddddddd.*e¹⁰ .( ZS )
,b ,b = 1398,1 mm2
EI = =
c
As = As’
= 5,373666665.1013 Nmm2 Kontrol luas tulangan
Balok kiri Ast = As + As’ = 1398,1 + 1398,1
Ig = 1/12.b.h3 = x 400 x 7003 = 2796,2 mm2
= 1,143333333.1010 mm4 As min = 1% Ag = 5625 mm2
Ec = 23500 Mpa As max = 6% Ag = 33750 mm2
‘] = 1 Nilai Ast < As min, maka luas tulangan yang
^_.`a dbee.*,*+ddddddd.*e¹⁰ digunakan harus sama dengan atau lebih
,b ,b
EI = = besar dari luasan tulangan minimum.
c
= 5,373666665.1013 Nmm2 Pola keruntuhan tekan menggunakan
Faktor kekangan ujung pada kolom, struktur pendekatan whitney
merupakan kolom yang dapat bergoyang An = Ag – Ast = 562500 – 5625
(SNI 03-2847-2002 12.11 pasal 6). Struktur = 556875 mm2
kolom termasuk dalam struktur portal Pno = An x 0,85 x fc + Ast x fy
bergoyang, karena ukuran portal dan beban- = 556875 x 0,85 x 25 + 5625 x 400
beban yang diterima oleh struktur tidak = 14083593,75 N = 14083,6 kN
mLy
simetris. Hal ini menyebabkan faktor Pn = z{| ~
: Z ;C
kekangan pada ujung atas kolom harus dicari z{} ~v

terlebih dahulu.

JURNAL MOMEN VOL 01 NO.02 HAL - 63


= *+ehdbkd,gb
,S
*e*,f
ΦPn = 9695,208 kN ≥ Pu terbesar =
: Z ;C
hek+*ee *bf,d* 5261,162 kN (aman)
= 9509634,3 N = 9509,6343 kN Tulangan sengkang kolom
Kontrol keamanan kolom Gaya geser perlu kolom (Vu)
Pu ≥ 0,[Link] Vu =
Z
=
, Z(Z , )
5261,162 kN ≥ 0,[Link] p,• ,

5261,162 kN ≥ 1406,25 kN = 163,1114 kN ~ 163111,4 N


ØPn = 0,65 x 9509,6343 Gaya geser yang ditahan oleh beton (Vc)
m ,l , •
= 6181,2923 kN > Pu = 5261,162 kN (aman) Vc = :1 + ; . ‚. ƒ
."1
Diagram PM ratio √
= :1 + ; . 750.689
.S .S
= 718318,6998 N
Gaya geser yang ditahan oleh sengkang (Vs)
dan Vs maks
Y Z .Y , Z ,S .S ,
Vs = =
,S
= -500836,8331 N
Vs maks = . ,-. x . ‚. ƒ
= . √25. 750.689 = 1722500 N
Karena Vs < 0, maka dipakai tulangan
Grafik rasio tulangan kolom sengkang mininal dengan luas per meter
panjang seperti berikut:
Dari diagram yang dihasilkan oleh program Luas tulangan sengkang perlu (Avu) untuk
PcaColoumn, berdasarkan dimensi kolom, setiap panjang kolom
jumlah tulangan, mutu beton, dan mutu baja S = 1000 mm
.ˆ S .
yang digunakan, bisa disimpulkan bahwa Av = = = 625 mm2
. .
kolom yang direncanakan memiliki rasio • . .ˆ
S , S .√ .S .
aksial maksimum dan momen maksimum Av = =
. .
berada pada area grafik yang aman. = 585,9375 mm2
Penulangan kolom Dari kedua Av dipilih yang paling besar,
Tulangan pokok yaitu Avu = 625 mm2
As perlu = 1% x b x h Digunakan tulangan sengkang 2 kaki dengan
= 0,01.750.750 dp = 10 mm dengan jarang sengkang yaitu:
= 5625 mm2 {
. . $ .ˆ . , . .
Jumlah tulangan yang diperlukan adalah: s=+ =+
"# $%&' "W,
n= = = 14,7915 = 251,327 mm
B 4# 3 '4L14L ,
Karena tulangan kolom dipasang pada Kontrol jarak tulangan sengkang
keempat sisi, jadi tulangan yang digunakan s ≤ 16.D = 16. 22 = 352 mm
adalah 16 D22 mm. s ≤ [Link] = 48.10 = 480 mm
Menghitung nilai φ Pn maksimum s ≤ d/2 = 689/2 = 344,5 mm
Luas tulangan yang digunakan (Ast) s ≤ 600 mm
Ast = n x Luas tulangan Dipakai nilai terkecil dan dibulatkan ke
= 16 x 380,286 bawah yaitu:
= 6084,576 mm2 s = 250 mm < 251,327 mm
Pn = 0,80.(0,[Link]'.(ag-ast)+[Link]) Jadi digunakan tulangan sengkang D10 –
= 0,8.(0,85.25.(562500-6084,576) 250 mm.
+ 400. 6084,576 2. Penulangan kolom atap
= 11406126,53 N = 11406,12653 kN Data-data yang diperlukan untuk
ΦPn = 0,85.11406,12653 perencanaan penulangan kolom ini adalah:
= 9695,208 kN Dimensi kolom 1 = 0,3 m x 0,3 m
Dari hasil perhitungan dimensi dengan Tinggi kolom 1 = 2,5 m
dibandingkan dengan perhitungan Pu Dimensi balok 1 = 0,5 m x 0,25 m
terbesar, dengan syarat bahwa ΦPn ≥ Pu Panjang balok 1 = 5,7 m

JURNAL MOMEN VOL 01 NO.02 HAL - 64


Dimensi tulangan (D) = D22 mm Pasar Minggu Jakarta Selatan adalah Rp.
Dimensi sengkang (s) = D10 mm [Link],- dan waktu yang diperlukan
Selimut beton (sb) = 50 mm adalah 21 minggu atau 5 bulan 1 minggu.
d = h – sb – D/2 = 300 – 50 – 11
= 239 mm D. Kesimpulan :
ds = sb + s +D/2 = 50 + 10 + 11 1. Kolom lantai 1-7 menggunakan dimensi
= 71 mm 750 mm x 750 mm direncanakan 16 D22
Beban-beban rencana: mm, pada desain awal digunakan
Gaya aksial (Pu) dimensi 750 mm x 750 mm dengan
Pu = 156,701 kN = 1567010 N tulangan 20 D25 mm.
Gaya aksial (Pu) balok kiri 2. Kolom atap menggunakan dimensi 300
Pu = 0,044 kN (akibat beban mati) mm x 300 mm direncanakan 6 D22 mm,
Pu = 0,063 kN (akibat kombinasi 2) pada desain awal digunakan dimensi 300
Momen terkecil pada ujung kolom, mm x 300 mm dengan tulangan 6 D16
Mu1 = -55,338 kNm mm.
= -55338000 Nmm 3. Balok induk arah “X” menggunakan
Momen terbesar pada ujung kolom, dimensi 400 mm x 700 mm dengan
Mu2 = 62,4596 kNm menggunakan tulangan:
= 62459600 Nmm a. Daerah tumpuan menggunakan
Dengan menggunakan rumus-rumus seperti tulangan 13 D22 mm, 8 D22 mm di
pada perhitungan penulangan kolom lantai, daerah atas dan 5 D22 mm di daerah
maka data-data tulangan pokok, kontrol bawah.
tulangan, dan tulangan gesek dapat dihitung. b. Daerah lapangan menggunakan
tulangan 6 D22 mm, 2 D22 mm di
5. RENCANA ANGGARAN daerah atas dan 4 D22 mm di daerah
BIAYA bawah.
NO. URAIAN SATUAN VOLUME
JUMLAH HARGA 4. Balok induk arah “Y” menggunakan
1. 2. 3. 4.
(Rp.)
6 = (4. X 5.)
dimensi 300 mm x 600 mm dengan
1 PEKERJAAN LANTAI 2 menggunakan tulangan:
1 Pekerjaan Balok 700 mm x 400 mm 62,125,043.75
2 Pekerjaan Balok 600 mm x 300 mm 33,286,433.33 a. Daerah tumpuan menggunakan
3 Pekerjaan Balok Anak 500 mm x 250 mm 45,041,654.76
4 Pekerjaan Kolom 750 mm x 750 mm 104,581,041.68
tulangan 7 D22 mm, 4 D22 mm di
2
5 Pekerjaan Pelat Lantai Tebal 12 cm
PEKERJAAN LANTAI 3
90,627,138.58 daerah atas dan 3 D22 mm di daerah
1 Pekerjaan Balok 700 mm x 400 mm 63,931,043.75 bawah.
2 Pekerjaan Balok 600 mm x 300 mm 33,286,433.33
3 Pekerjaan Balok Anak 500 mm x 250 mm 43,756,492.26 b. Daerah lapangan menggunakan
4 Pekerjaan Kolom 750 mm x 750 mm 91,955,958.32
5 Pekerjaan Pelat Lantai Tebal 12 cm 90,460,264.18 tulangan 5 D22 mm, 2 D22 mm di
3 PEKERJAAN LANTAI 4
1 Pekerjaan Balok 700 mm x 400 mm 62,185,243.75
daerah atas dan 3 D22 mm di daerah
2 Pekerjaan Balok 600 mm x 300 mm 33,286,433.33 bawah.
3 Pekerjaan Balok Anak 500 mm x 250 mm 44,305,279.76
4 Pekerjaan Kolom 750 mm x 750 mm 101,869,041.68 5. Balok anak menggunakan dimensi 250
5 Pekerjaan Pelat Lantai Tebal 12 cm 91,120,047.58
4 PEKERJAAN LANTAI 5 mm x 500 mm dengan menggunakan
1 Pekerjaan Balok 700 mm x 400 mm
2 Pekerjaan Balok 600 mm x 300 mm
62,185,243.75
33,286,433.33
tulangan:
3 Pekerjaan Balok Anak 500 mm x 250 mm 42,859,404.76 a. Daerah tumpuan menggunakan
4 Pekerjaan Kolom 750 mm x 750 mm 91,955,958.32
5 Pekerjaan Pelat Lantai Tebal 12 cm 90,976,444.78 tulangan 5 D19 mm, 3 D19 mm di
5 PEKERJAAN LANTAI 6
1 Pekerjaan Balok 700 mm x 400 mm 62,185,243.75 daerah atas dan 2 D19 mm di daerah
2 Pekerjaan Balok 600 mm x 300 mm
3 Pekerjaan Balok Anak 500 mm x 250 mm
33,286,433.33
41,217,879.76
bawah.
4 Pekerjaan Kolom 750 mm x 750 mm 91,955,958.32 b. Daerah lapangan menggunakan
5 Pekerjaan Pelat Lantai Tebal 12 cm 91,437,155.38
6 PEKERJAAN LANTAI 7 tulangan 6 D19 mm, 2 D19 mm di
1 Pekerjaan Balok 700 mm x 400 mm 62,185,243.75
2 Pekerjaan Balok 600 mm x 300 mm 33,286,433.33 daerah atas dan 4 D19 mm di daerah
3 Pekerjaan Balok Anak 500 mm x 250 mm
4 Pekerjaan Kolom 750 mm x 750 mm
39,873,054.76
91,955,958.32
bawah.
5 Pekerjaan Pelat Lantai Tebal 12 cm 91,500,829.78 6. Pelat lantai untuk lantai 2,4,5,6,7, dan
7 PEKERJAAN LANTAI DAK
1 Pekerjaan Balok 700 mm x 400 mm 60,439,443.75 dak, tulangan yang digunakan adalah
2 Pekerjaan Balok 600 mm x 300 mm 35,600,693.33
3 Pekerjaan Balok Anak 500 mm x 250 mm 33,618,167.26 tulangan rangkap, yaitu:
4 Pekerjaan Kolom 750 mm x 750 mm 91,955,958.32
5 Pekerjaan Pelat Lantai Tebal 12 cm 106,629,314.29
a. Daerah lapangan arah x
Jumlah total 2,226,894,145.3 menggunakan tulangan D10 – 200
Rencana anggaran biaya yang diperlukan mm
untuk membangun struktur atas gedung
Rumah Sakit Umum Kelas D Kecamatan

JURNAL MOMEN VOL 01 NO.02 HAL - 65


b. Daerah tumpuan arah x menggunakan tersebut mengakibatkan kesalahan padan
tulangan D10 – 200 mm dimensi akhir walaupun perhitungan
c. Daerah lapangan arah y yang telah dilakukan sudah benar.
menggunakan tulangan D10 – 200 6. Menguasai aplikasi atau program
mm hitungan yang digunakan untuk
d. Daerah tumpuan arah y menggunakan memperlancar proses pengerjaan.
tulangan D10–200 mm
e. Daerah tumpuan arah x menggunakan F. DAFTAR PUSTAKA
tulangan D10 – 150 mm
f. Daerah lapangan arah y Asroni, A. 2010. Balok dan Pelat Beton
menggunakan tulangan D10 – 200 Bertulang. Graha Ilmu. Yogyakarta.
mm Asroni Ali. 1998. Balok dan Pelat
g. Daerah tumpuan arah y menggunakan Beton Bertulang. Jakarta: Erlangga
tulangan D10 – 50 mm Imran, Iswandi, Perencanaan Struktur
7. Pelat untuk atap, tulangan yang Gedung Beton Bertulang Tahan Gempa,
digunakan adalah tulangan rangkap, Penerbit ITB, Bandung, 2010.
yaitu: Kusu, Gideon. 1993. Dasar-dasar
a. Daerah lapangan arah x Perencanaan Beton Bertulang, Penerbit
menggunakan tulangan D10 – 200 Erlangga, Jakarta.
mm Manulang, Rio. 2010. Buku Pintar
b. Daerah tumpuan arah x menggunakan Rencana Anggaran Biaya (RAB), Penerbit
tulangan D10 – 200 mm Erlangga, Jakarta.
c. Daerah lapangan arah y SNI 03-1726-2002. Tata Cara
menggunakan tulangan D10 – 200 Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk
mm Bangunan Gedung. Badan Standardisasi
d. Daerah tumpuan arah y menggunakan Nasional
tulangan D10 – 200 mm SNI 03-1729-2002. Tata Cara
Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan
E. SARAN : Gedung. Departemen Pekerjaan Umum
1. Dibutuhkan literatur dan sumber SNI 03-2847-2002. Tata Cara
referensi yang mendukung dalam Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan
penulisan tugas akhir ini supaya Gedung. Badan Standardisasi Nasional
mempermudah sistem analisis yang SNI 1727-1989. Tata Cara
dilakukan. Perencanaan Pembebanan untuk Rumah
2. Dalam merencanakan suatu bangunan dan Gedung. Badan Standardisasi Nasional
harus diketahui fungsi/kegunaan
bangunan tersebut, supaya dalam tahap
perhitungan mampu mendekati
kesempurnaan tanpa kegagalan struktur
3. Dalam perhitungan menggunakan
program harus, selalu dipastikan bahwa
data material, beban-beban yang bekerja
dan faktor reduksi yang diinput kedalam
program SAP 2000 v.15 3D harus
disesuaikan dengan peraturan yang
berlaku di Indonesia (SK-SNI).
4. Suatu struktur bangunan yang kokoh dan
kuat memerlukan suatu perencanaan
struktur yang baik dengan menggunakan
peraturan- peraturan perencanaan secara
tepat dan benar.
5. Pemodelan dan pembebanan sangat
berpengaruh terhadap benar atau
tidaknya hasil perhitungan yang akan
diperoleh. Kesalahan pada kedua hal

JURNAL MOMEN VOL 01 NO.02 HAL - 66

Anda mungkin juga menyukai