BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Analisa Hidrologi
Hidrologi adalah ilmu yang mempelajari keberadaan air bumi,
kejadiannya,sirkulasinya, distribusi/penyebaran, sifat fisik dan kimiawi,
hubungannya dengan lingkungan dan pengaruhnya terhadap kehidupan. Hidrologi
merupakan ilmu aplikasi yang berkaitan erat dengan matematika, statistika, fisika,
meteorologi, oceanografi, geografi, geomorfologi, geohidrologi, hidrolika,
biologi/vegetasi dan ilmu-ilmu yang berdekatan serta pendukung yang berkaitan.
Hidrologi bukan ilmu yang seluruhnya eksak, tetapi membutuhkan interpretasi,
prediksi dan pendekatan – pendekatan ilmiah.
2.1.1 Curah Hujan
Curah hujan adalah jumlah air hujan yang jatuh selama periode waktu tertentu
yang pengukurannya menggunakan satuan tinggi di atas permukaan tanah
horizontal yang diasumsikan tidak terjadi infiltrasi, run off, maupun evaporasi.
Definisi curah hujan atau yang sering disebut presipitasi dapat diartikan jumlah
air hujan yang turun di daerah tertentu dalam satuan waktu tertentu. Jumlah curah
hujan merupakan volume air yang terkumpul di permukaan bidang datar dalam
suatu periode tertentu (harian, mingguan, bulanan, atau tahunan).
Curah hujan diukur pada tempat dan titik tertentu, sehingga hasil
pengukurannya disebut tinggi curah hujan titik atau hujan setemapt (point rainfall).
Pada suatu DAS dipasang beberapa alat ukur curah hujan dengan jumlah dan
kerapatan yang telah ditentukan.
Terdapat beberapa cara mengukur curah hujan. Curah hujan (mm) merupakan
ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak
meresap, dan tidak mengalir. Curah hujan 1 (satu) millimeter, artinya dalam luasan
satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter
atau tertampung air sebanyak satu liter. Curah hujan kumulatif (mm) merupakan
jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut. Dalam
periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-
masing Daerah Prakiraan Musim (DPM).
Sifat hujan merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang
waktu yang ditetapkan (satu periode musim kemarau) dengan jumlah curah hujan
normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1971- 2000). Sifat hujan dibagi
menjadi 3 (tiga) katagori, yaitu :
• Diatas Normal (AN) : jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-
ratanya.
• Normal (N) : jika nilai curah hujan antara 85%--115% terhadap rata-ratanya.
• Dibawah Normal (BN) : jika nilai curah hujan kurang dari 85% terhadap rata-
ratanya.
2.1.2 Curah Hujan Rancangan
Curah hujan rancangan adalah curah hujan terbesar yang mungkin terjasi di
suatu daerah dengan peluang tertentu.
Metode analisa hujan rancangan tersebut pemilihannya sangaat tergantung dari
kesesuaian parameter statistic dari data yang bersangkutan, atau dipilih
berdasarkan pertimbangan-pertimbangan teknis lainnya.
Menghitung hujan rancangan dengan periode ulang tertentu dilakukan dengan
metode antara lain:
➢ Metode Normal
Memiliki sifat khas yaitu nilai asimetrisnya (skewness) hampir sama dengan
nol (Cs = 0), dengan koefisien kurtosis Ck = 3. Perhitungan curah hujan
rancangan dengan metode Distribusi Normal dapat menggunakan persamaan
distribusi empiris sebagai berikut (Soewarno, 1995 : 116):
X = X + k.S
dengan:
X = Perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan besar peluang tertentu atau
pada periode ulang tertentu.
X = Nilai rata-rata hitung variat
S = Deviasi standar nilai variat
k = Variabel reduksi Gauss
Metode E.J Gumbel Type I
MetodeE.J. Gumbel Type I dengan persamaan sebagai berikut :
• X = Xr + [Link] (1)
1 n
• Xr = Xi
n 1
(2)
n n
Xi 2
− Xr Xii
Sx = 1 1
• n −1 (3)
YT - Yn
K=
Sn (4)
dimana :
X = Variate yang diekstrapolasikan, yaitu besarnya curah hujan
ran¬cangan untuk periode ulang pada T tahun.
Xr = Harga rerata dari data
Sx = Standart deviasi
K = Faktor frekuensi yang merupakan fungsi dari periode ulang (return
period) dan tipe distribusi frekuensi.
YT = Reduced variate sebagai fungsi periode ulang T
= - Ln [ - Ln (T - 1)/T]
Yn = Reduced mean sebagai fungsi dari banyaknya data n
Sn = Reduced standart deviasi sebagai fungsi dari banyaknya data n
T = Kala ulang (tahun)
Dengan mensubstitusikan ketiga persamaan diatas diperoleh :
XT = X +
(YT - Yn ) .Sx
Sn
Jika :
1 Sx
=
a Sn
Sx
b = X - Yn
Sn
Persamaan diatas menjadi :
1
XT = b + ..YT
a
dimana :
XT = Debit banjir dengan kala ulang T tahun
YT = Reduced variate
➢ Metode Log Person III
Metode yang dianjurkan dalam pemakaian distribusi Log Pearson adalah
dengan mengkorvesikan rangkaian datanya menjadi bentuk logaritmis.
• Nilai rerata
logx
logXr =
n
• Standar deviasi
(logX − logXr )
Sd =
n −1
• Koefisien kepencengan (Cs)
n (logX − logXr )
3
Cs =
n (n − 1)(n − 2)(logX )
3
Besarnya curah hujan rancangan dengan periode ulang T tahun adalah sebagai
berikut:
Log XT = log Xr + [Link]
K = faktor frekuensi untuk distribusi Log Pearson III yang besarnya
tergantung harga Cs dan Kala ulang T
2.1.3 Hidrograf satuan
Hidrograf adalah kurva yang memberi hubungan antara parameter aliran dan
waktu. Parameter dalam hidrograf dapat berupa kedalaman air (elevasi) dan debit
aliran. Sehingga terdapat dua macam hidrograf yaitu hidrograf muka air dan
hidrograf debit.
Gambar 2.1 Hidrograf Satuan Sumber (Sri Harto, 2000)
Hidrograf satuan digunakan dalam perhitungan debit banjir rancangan pada
suatu DAS apabila tidak terdapat alat pengukur debit pada DAS tersebut. Beberapa
cara menghitung hidrograf satuan telah banyak dikembangkan baik itu
menggunakan data banjir di sungai tersebut atau menggunakan hidrograf satuan
sintetis seperti Snyder, Nakayasu, Gama I dan yang lainnya.
Hidrograf satuan yang menggunakan data banjir di lapangan disebut hidrograf
satuan terukur dimana terdapat dua cara untuk menurunkannya yaitu cara
polynomial dan cara Collin.
2.1.4 Debit Banjir periode Ulang
Kala ulang debit adalah suatu kurun waktu berulang dimana debit yang terjadi
menyamai atau melampaui besarnya debit banjir yang ditetapkan (banjir
rancangan).
Dalam penetapan debit banjir rancangan hendaknya ditetapkan tidak terlalu
kecil, agar jangan senng terjadi bahaya banjir yang dapat merasak bangunan atau
daerah sekitar oleh debit banjir yang lebih besar dan rencana. Akan tetapi juga tidak
boleh terlalu besar sehingga bangunan menjadi mahal. Untuk itu besar debit banjir
rancangan ditetapkan dengan kala ulang tertentu. Pada penelitian ini akan dihitung
banjir rencana kala ulang 10 tahun, 20 tahun, 50 tahun, 100 taliun, 200 tahun, 500
tahun dan 1000 tahun.
2.2 Perencanaan Intake
Bangunan intake adalah suatu bangunan pada bendung yang berfungsi
sebagai penyadap aliran air sungai, mengatur pemasukan air dan sedimen, serta
menghindarkan sedimen dasar sungai dan sampah masuk ke intake. Pintu
pengambilan diletakkan 10 s/d 15 meter di hulu pintu penguras bending.
Pengambilan di sisi kanan sungai, lay out pengambilan direncanakan membentuk
sudut 45o kea rah hulu. Intake terdiri dari bermacam jenis, yaitu :
1. Intake biasa, yang umum direncanakan yaitu intake dengan pintu berlubang satu
atau lebih dan dilengkapi dengan pintu dinding banjir.
2. Intake gorong-gorong, tanpa pintu di bagian udik. Pintu diletakkan di bagian
hilir gorong-gorong.
3. Intake frontal, intake diletakkan di tembok pangkal, jauh dari bangunan
pembilas atau bendung.
• Lantai / Dasar Intake
Lantai intake dirancang datar, tanpa kemiringan. Di hilir pintu lantai dapat
berbentuk kemiringan dan dengan bentuk terjunan sekitar 0,5 m. Lantai intake bila
di awal kantong sedimen bisa berbentuk datar dan dengan kemiringan tertentu.
Ketinggian lantai intake, bila intake ditempatkan pada bangunan pembilas dengan
undersluice :
a. Sama tinggi dengan plat lantai undersluice.
b. Sampai dengan 0,5 m di atas plat undersluice.
c. Tergantung pada keadaan tertentu.
d. 0,5 m jika sungai mengangkut lanau.
e. 1 m jika sungai mengangkut pasir dan kerikil.
f. 1,5 m jika sungai mengangkut kerikil dan bongkah.
2.3 Perencanaan Saluran Primer
Saluran adalah bagian dari bangunan pembawa yang mempunyai fungsi
mernbawa/mengalirkan air dari sumbernya menuju petak [Link]
pembawa meliputi saluran primer, saluran sekunder, saluran tersier, saluran
kuarter, dan saluran pembuang. Termasuk dalam bangunan pembawa adalah
talang, gorong-gorong, siphon, tedunan, dan got miring.
Saluran Primer yaitu saluran yang membawa air dari jaringan utama ke
saluran sekunder dan ke petak-petak tersier yang diairi. Saluran primer bisa juga
disebut saluran induk.
Petak primer terdiri dari beberapa petak sekunder yang mengambil
langsung air dari saluran [Link] primer dilayani oleh satu saluran primer
yang mengambil air langsung dari bangunan penyadap. Daerah di sepanjang
saluran primer sering tidak dapat dilayani dengan mudah dengan cara menyadap
air dari saluran sekunder. Apabila saluran primer melewati sepanjang garis tinggi
daerah saluran primer yang berdekatan harus dilayani langsung dari saluran
primer.
Gambar 2.10 Jaringan Irigasi (sumber: KP 01 halaman 11)
Saluran irigasi primer sebaiknya diberi nama sesuai dengan daerah irigasi
yang dilayani, contoh: Saluran Primer Makawa. Saluran sekunder sering diberi
nama sesuai dengan nama desa yang terletak di petak sekunder. Petak sekunder
akan diberi nama sesuai dengan nama saluran sekundernya. Sebagai contoh
saluran sekunder Sambak mengambil nama desa Sambak yang terletak di petak
sekunder Sambak.
2.4 Perencanaan Bendung
Bendung adalah suatu bangunan air dengan kelengkapan yang dibangun
melintang pada sungai atau sudetan yang sengaja dibuat untuk meninggikan taraf
muka air atau untuk mendapatkan tinggi terjun, sehingga air dapat disadap dan
dialirkan secara gravitasi ke tempat yang membutuhkan dan untuk mengendalikan
aliran, angkutan sedimen, dan geometri sungai sehingga air dapat dimanfaatkan
secara aman, efektif, efisien, dan optimal.
a. Bendung Tetap (Fixed Weir, Uncontrolled Weir)
Bendung tetap atau bendung pelimpah adalah jenis bendung yang tinggi
pembendungannya tidak dapat diubah, sehingga muka air di hulu bendung tidak
dapat diatur sesuai yang dikehendaki.
Bendung tetap terbuat dari pasangan batu, dibangun melintang di sungai,
sehingga akan memberikan tinggi air minimum kepada bangunan intake untuk
keperluan irigasi, dan merupakan penghalang selama terjadi banjir dan dapat
menyebabkan genangan di udik bendung. Bendung tetap terdiri dari tubuh
bendung dan mercu bendung. Tubuh bendung merupakan ambang tetap yang
berfungsi untuk meninggikan taraf muka air sungai. Mercu bendung berfungsi
untuk mengatur tinggi air minimum, melewatkan debit banjir, dan untuk
membatasi tinggi genangan yang akan terjadi di hulu bendung. Bendung tetap
biasanya dibangun pada hulu sungai dengan karakteristik tebing-tebing sungai
yang lebih curam dari pada bagian hilir
b. Bendung Gerak (Gated weir, Barrage)
Bendung gerak adalah jenis bendung yang tinggi pembendungannya dapat
diubah sesuai dengan yang dikehendaki. Pada bendung gerak, elevasi muka air di
hulu bendung dapat dikendalikan naik atau turun sesuai yang dikehendaki dengan
membuka atau menutup pintu air (gate). Bendung gerak biasanya dibangun pada
daerah hilir sungai atau muara. Pada daerah hilir sungai atau muara sungai
kebanyakan tebing-tebing sungai relative lebih landai atau datar dari pada di daerah
hulu. Pada saat kondisi banjir, maka elevasi muka air sisi hulu bendung gerak yang
dibangun di daerah hilir bisa diturunkan dengan membuka pintu-pintu air (gate)
sehingga air tidak meluber kemana-mana (tidak membanjiri daerah yang luas)
karena air akan mengalir lewat pintu yang telah terbuka kea rah hilir (downstream).
c. Penentuan Lokasi Bendung
Penentuan lokasi bendung diambil dari berbagai pertimbangan - pertimbangan
yang optimum dengan memperhatikan hal-hal berikut :
1. Bagian sungai yang lurus dengan bentang terpendek (jarak antara tebing kiri-
tebing kanan).
2. Terdapat alur yang stabil di dekat lokasi bangunan pengambilan (intake
structure).
3. Air sungai yang akan disadap mencukupi meskipun pada saat musim kemarau.
4. Sedikit sedimen yang masuk pada saat penyadapan.
5. Dampak pembangunan bendung adalah kecil baik ke arah hulu dan hilir.
6. Stabilitas bendung bisa tercapai seiring dengan biaya yang ekonomis.
d. Data perencanaan
1. Peta topografi, untuk menentukan tata letak bendung.
2. Data geologi teknik lokasi tapak bendung, untuk menentukan karakteristik
pondasi bendung.
3. Data hidrologi, untuk menentukan besaran debit banjir rencana.
4. Data morfologi sungai, untuk menentukan besaran angkutan sedimen.
5. Data karakteristik sungai, untuk menentukan hubungan antara besaran debit
sungai dengan elevasi muka air banjir.
6. Keadaan batas pada jaringan irigasi, untuk menentukan dimensi bendung dan
bangunan intake.
2.4.1 Mercu Bendung
Mercu bendung yaitu bagian atas tubuh bendung dimana aliran dari hulu
dapat melimpah ke hilir. Fungsinya sebagai penentu tinggi muka air minimum di
sungai bagian hulu bendung, Sebagai pengempang sungai dan sebagai pelimpah
aliran sungai, letak mercu bendung bersama-sama tubuh bendung diusahakan
tegak lurus arah aliran yang menuju bendung terbagi rata.
Tinggi mercu bendung (p) yaitu beda ketinggian antara elevasi lantai hulu dan
elevasi mercu. Untuk penentuan tinggi mercu bendung, utamanya didasarkan pada
kebutuhan energi (head). Yang harus diperhatikan dalam menentukan tinggi
mercu bending antara lain:
1. Kebutuhan penyadapan untuk memperoleh debit dan tinggi tekan.
2. Kebutuhan tinggi energi untuk pembilasan.
3. Tinggi muka air genangan yang akan terjadi.
4. Kebutuhan pengendalian angkutan sedimen yang terjadi di bendung.
Gambar 2.2 Bentuk-bentuk Mercu bendung (Sumber: KP 02 halaman 50)
a. Mercu Bulat
Untuk bendung dengan mercu bulat memiliki harga koefisien debit yang jauh
lebih tinggi (44%) dibandingkan koefisien bendung ambang lebar. Tipe ini banyak
memberikan keuntungan karena akan mengurangi tinggi muka air hulu selama
banjir. Harga koefisien debit menjadi lebih tinggi karena lengkung stream line dan
tekanan negatif pada mercu. Untuk bendung dengan 2 jari-jari hilir akan digunakan
untuk menemukan harga koefisien debit.
Gambar 2.3 Bendung dengan mercu bulat (sumber: KP 02 halaman 52)
Dari Gambar 2.2 tampak bahwa jari-jari mercu bendung pasangan batu akan
berkisar antara 0,3 sampai 0,7 kali H1maks dan untuk mercu bendung beton dari
0,1 sampai 0,7 kali Hmaks. Persamaan tinggi energi-debit untuk bendung ambang
pendek dengan pengontrol segi empat adalah:
𝟐 𝟐
𝑸 = 𝑪𝒅 𝒙 √ 𝒙 𝒈 𝒙 𝑩𝒆 𝒙 𝑯𝟏 𝟏,𝟓
𝟑 𝟑
Dimana :
Q : Debit Rencana, m³/dt
Be : Lebar Efektif mercu bending, m
Cd : Koefisien Debit
g : Gravitasi (9,81 m/dt²)
H1 : Tinggi energi, m
Koefisien debit Cd adalah hasil dari :
✓ C0 yang merupakan fungsi H1/r. C0 mempunyai harga maksimum 1,49 jika
H1/r lebih dari 5,0 seperti diperlihatkan pada grafik 2.1.
✓ C1 yang merupakan fungsi p/H1 (grafik 2.2)
✓ C2 yang merupakan fungsi p/H1 dan kemiringan muka hulu bendung (grafik
2.3)
Grafik 2.1 Harga koefisien C0 sebagai fungsi perbandingan H1/r
Grafik 2.2 Harga koefisien C1 sebagai fungsi perbandingan P/H1
Grafik 2.3 Harga koefisien C2 sebagai fungsi perbandingan P/H1
b. Mercu Ogee
Bentuk mercu type ogee ini adalah tirai luapan bawah dari bendung ambang
tajam aerasi. Sehingga mercu ini tidak akan memberikan tekanan sub atmosfer
pada permukaan mercu sewaktu bendung mengalirkan air pada debit rencananya.
Untuk bagian hulu mercu bervariasi sesuai dengan kemiringan permukaan hilir.
Salah satu alasan dalam perencanaan digunakan tipe ogee adalah karena tanah
disepanjang kolam olak, tanah berada dalam keadaan baik, maka tipe mercu yang
cocok adalah tipe mercu ogee karena memerlukan lantai muka untuk menahan
penggerusan, digunakan tumpukan batu sepanjang kolam olak sehingga lebih
hemat.
Untuk merencanakan permukaan mercu Ogee bagian hilir, U.S. Army
Corps of Engineers telah mengembangkan persamaan berikut:
𝐘 𝟏 𝐗 𝐧
= 𝐱[ ]
𝐡𝐝 𝐊 𝐡𝐝
Tabel 2.1 Harga – harga K dan n (Sumber: KP 02 halaman 56)
Gambar 2.4 Bentuk-bentuk Bendung mercu Ogee (sumber: KP 02 halaman 57)
Persamaan antara tinggi energy dan debit untuk bending mercu Ogee adalah :
𝟐 𝟐
𝑸 = 𝑪𝒅 𝒙 √ 𝒙 𝒈 𝒙 𝑩𝒆 𝒙 𝑯𝟏 𝟏,𝟓
𝟑 𝟑
Dimana :
Q : Debit Rencana, m³/dt
Be : Lebar Efektif mercu bendung, m
Cd : Koefisien Debit
g : Gravitasi (9,81 m/dt²)
H1 : Tinggi energi, m
c. Ambang Lebar
Bangunan ukur debit ambang lebar dianjurkan karena bangunan ini kokoh
dan mudah dibuat. Karena bisa mempunyai berbagai bentuk mercu, bangunan ini
mudah disesuaikan dengan tipe saluran apa saja. Hubungan antara tinggi muka air
di hulu dan debit mempermudah pembacaan debit secara langsung dari papan duga,
tanpa memerlukan tabel debit.
Alat ukur debit ambang lehar adalah bangunan aliran atas (overflow), untuk
ini tinggi energi hulu lebih kecil dari panjang mercu. Karena pola aliran di atas alat
ukur ambang lebar dapat ditangani dengan teori hidrolika yang sudah ada sekarang,
maka bangunan ini bisa mempunyai bentuk yang berbedabeda, sementara debitnya
tetap.
Gambar 2.5 Alat ukur ambang lebar dengan mulut pemasukan yang dibulatkan
Sumber Pedoman dan Kriteria Perencanaan Irigasi, 1980 : 68
Gambar 2.6 Alat ukur ambang lebar dengan pemasukan bermuka datar, dan peralihan
penyempitan (Sumber : Pedoman dan Kriteria Perencanaan Irigasi, 1980 : 68)
Persamaan debit untuk alat ukur ambaug lebar dengan bagian pengontrol segi
empat adalah:
𝟐 𝟐
𝑸 = 𝑪𝒅 𝒙 𝑪𝒗 𝒙 √ 𝒙 𝒈 𝒙 𝑩𝒆 𝒙 𝑯𝟏 𝟏,𝟓
𝟑 𝟑
Dimana :
Q : Debit Rencana, m³/dt
Cd : Koefisien Debit
Cd : 0,93 +0,10 H1/L (untuk 0,1 < H1/L <1,0)
H1 : Tinggi energi hulu, m
L : Panjang mercu,m
Cv : Koefesien kecepatan datang
Be : Lebar Efektif mercu bendung, m
g : Gravitasi (9,81 m/dt²)
h1 : Kedalaman air hulu terhadap ambang bangunan ukur, m
Gambar 3 . Cv sebagai fungsi perbandingan Cd.A*/A1
(Sumber : Pedoman dan Kriteria Perencanaan Irigasi, 1980 : 74)
d. Lebar Bendung
Lebar mercu bendung yaitu jarak antara dua tembok pangkal bendung
(abutment), termasuk lebar bangunan pembilas dan pilar-pilarnya. Dalam
penentuan lebar mercu bendung, yang harus diperhatikan :
1. Kemampuan melewatkan debit desain dengan tinggi jagaan yang cukup.
2. Batasan tinggi muka air genangan maksimum yang diijinkan pada debit desain.
Oleh karena itu, lebar mercu bendung dapat diperkirakan sebagai berikut :
1. Sama lebar dengan rata-rata sungai stabil atau pada debit penuh alur (bank full
dishcharge).
2. Umumnya diambil sebesar 1,2 kali lebar sungai rata-rata pada ruas sungai yang
stabil.
e. Lebar Efektif Bendung
Karena adanya pintu bilas dan pilar, maka lebar bendung yang dapat mengalirkan
banjir secara efektif jadi berkurang, yang disebut lebar efektif (Beff). Pengurangan
lebar tersebut disebabkan oleh tiga komponen, yaitu :
1. Tebal pilar.
2. Bagian pintu bilas yang bentuk mercunya berbeda dari mercu bending.
3. Kontraksi pada dinding pengarah dan pilar.
Dalam perhitungan lebar efektif, lebar pembilas yang sebenarnya, diambil
80% dari lebar rencana untuk mengompensasi perbedaan koefisien debit dibanding
mercu bendung yang berbentuk bulat.
Untuk model bendung pada Gambar 2.1. Lebar efektif mercu (Be)
dihubungkan dengan lebar mercu yang sebenarnya (B), yakni jarak antar pangkal-
pangkal bendung dan/atau tiang pilar, dengan persamaan sebagai berikut:
Be = B – 2 x (n x Kp+Ka) x H1
Dimana :
Be = lebar effektif bendung
B = Lebar Optimal Bendung
Kp = koefisien kontraksi pada pilar
Ka = koefisien kontraksi pada dinding
n = jumlah pilar
H1 = tinggi energi (m)
Gambar 2.7 Lebar efektif mercu (Sumber : KP 02 halaman 49)
Bentuk Pilar / Pangkal Tembok Kp Ka
✓ Pilar berujung segi empat dan sudut-
sudut yang dibulatkan dengan jari-jari
0,02
yang hampir sama dengan 0,1 kali tebal
pilar.
✓ Pilar berujung bulat 0,01
✓ Pilar berujung runcing 0
✓ Pangkal tembok segi empat dengan
0,20
tembok hulu pada 90O ke arah aliran
✓ Pangkal tembok bulat dengan
tembok hulu pada 90O ke arah aliran di 0,10
mana 0,5 H1> r > 0,15 H1
✓ Pangkal tembok bulat di mana r >
0,5 H1 dan tembok hulu tidak lebih dari 0
O
45 ke arah aliran
Tabel 2.2 Nilai Ka dan Kp (Sumber : KP 02 halaman 49)
f. Tinggi Jagaan Bendung
Tinggi Jagaan berfungsi untuk mencegah gelombang atau kenaikan muka air
yang melimpah ke tepi sungai/bendung. Pada umumnya semakin besar debit yang
diangkut, semakin besar pula tinggi jagaan yang harus disediakan.
Fb = C x V x 1/3 Hd
Atau,
Fb = 0,6 + 0,037 x V x 1/3 Hd
Dimana :
Fb = Tinggi jagaan bendung, m
C = Koefesien debit (0,10)
V= Kecepatan air, m/dt
Hd = Tinggi air diatas bendung, m
2.4.2 Pintu penguras
Pintu penguras merupakan struktur yang berguna untuk menguras bahan-
bahan endapan yang terletak di bagian udik pintu tersebut. Pintu ini berada di antara
dinding tegak sebelah kiri atau kanan bendung dengan pilar atau pilar dengan pilar.
Biasanya pintu penguras dibuat di sebelah kanan atau kiri bendung tergantung pada
letak pintu pengambilan. Jika posisi pintu pengambilan berada di sebelah kanan,
maka pembangunan pintu penguras pun dilakukan pada sisi kanan. Demikian juga
sebaliknya.
Pada tubuh bendung tepat di hilir pengambilan, dibuat bangunan guna
mencegah masuknya bahan sedimen kasar ke dalam jaringan saluran irigasi.
Pembilas dapat direncanakan sebagai:
1. pembilas pada tubuh bendung dekat pengambilan
2. pembilas bawah (undersluice)
3. shunt undersluice
4. pembilas bawah tipe boks.
Gambar 2.8 Bangunan Pengambilan dan Pembilas (sumber: KP 02 halaman 113)
a. Pintu Pembilas
Pintu pembilas adalah salah satu perlengkapan pokok bendung yang terletak
di dekat dan menjadi satu kesatuan dengan intake. Berfungsi untuk menghindarkan
angkutan muatan sedimen dasar dan mengurangi angkutan muatan sedimen layang
masuk ke intake.
1. Pembilas undersluice lurus
a. Mulut undersluice diletakkan di hulu mulut intake dengan arah tegak lurus
aliran menuju intake atau menyudut 45º terhadap tembok pangkal. Lebar
mulut harus lebih besar daripada 1,2 kali lebar intake.
b. Lebar pembilas total diambil 1/6-1/10 dari lebar bentang bendung, untuk
sungai-sungai yang lebarnya kurang dari 100 meter. Lebar satu lubang
maksimum 2,5 m untuk kemudahan operasi pintu, dan jumlah lubang tidak
lebih dari tiga buah.
c. Lebar pembilas sebaiknya diambil 60% dari lebar total pengambilan
termasuk pilar-pilarnya
d. Tinggi lubang undersluice diambil 1,5 m, usahakan lebih tinggi dari 1 meter
tetapi tidak lebih tinggi dari 2 meter.
e. Elevasi lantai lubang direncanakan :
✓ Sama tinggi dengan lantai hulu bendung.
✓ Lebih rendah dari lantai hulu bendung.
✓ Lebih tinggi dari lantai hulu bendung.
2. Pintu pembilas bawah
Fungsi pintu bawah adalah untuk pembilasan sedimen yang terdapat di
bawah, di hulu dan disekitar mulut underesluice. Jenis pintu yang dipakai umumnya
yaitu pintu sorong. Untuk satu lubang pintu sorong lebar maksimum 2,5 m
sedangkan untuk pintu yang dioperasikan dengan mesin dibuat antara 2,5-5 m.
3. Pilar pembilas
Pilar pembilas berfungsi untuk penempatan pintu-pintu, undersluice dan
perlengkapan lainnya. Lebar pilar sisi bagian luar dapat diambil sampai dengan 2
m dan sisi bagian dalam antara 1 – 1,5 m.
4. Sponeng dan stang pintu
Sponeng berfungsi untuk menahan tekanan air pada pintu. Ukuran sponeng
bervariasi yaitu 0,25 x 0,25 m atau 0,25 x 0,3 m. Sedangkan stang pintu berfungsi
untuk mengangkat dan menurunkan pintu.
5. Tembok baya-baya
Berfungsi untuk mencegah angkutan sedimen dasar meloncat dari hulu
bendung ke atas plat undersluice. Tinggi mercu tembok baya-baya diambil antara
0,5 m dan 1 m di atas mercu bendung.
6. Pembilas Shunt Undersluice
Shunt undersluice adalah bangunan undersluice yang penempatannya di luar
bentang sungai dan atau di luar pangkal bendung, di bagian samping melengkung
ke dalam dan terlindung di belakang tembok pangkal.
b. Pintu Sorong
Pintu sorong dipakai dengan tinggi maksimum sampai 3 m dan lebar tidak
lebih dari 3 m. Pintu tipe ini hanya digunakan untuk bukaan kecil, karena untuk
bukaan yang lebih besar alat-alat angkatnya akan terlalu berat untuk
menangggulangi gaya gesekan pada sponeng. Untuk bukaan yang lebih besar dapat
dipakai pintu rol, yang mempunyai keuntungan tambahan karena di bagian atas
terdapat lebih sedikit gesekan, dan pintu dapat diangkat dengan kabel baja atau
rantai baja. Ada dua tipe pintu rol yang dapat dipertimbangkan, yaitu pintu Stoney
dengan roda yang tidak dipasang pada pintu, tetapi pada kerangka yang terpisah;dan
pintu rol biasa yang dipasang langsung pada pintu.
2.4.3 Stabilitas tubuh mercu
Kontrol stabilitas tubuh bendung dianalisis terhadap gaya-gaya yang timbul
dengan berpedoman pada standar criteria perencanaan Gaya-gaya yang bekerja
pada bangunan bendung dan mempunyai arti penting dalam perencanaan adalah:
a. Tekanan air
Gaya tekan air dapat dibagi menjadi gaya hidrostatik dan gaya hidrodinamik.
Tekanan hidrostatik adalah fungsi kedalaman di bawah permukaan air. Tekanan air
akan selalu bekerja tegak lurus terhadap muka bangunan.
Oleh sebab itu agar perhitungannya lebih mudah, gaya horisontal dan vertikal
dikerjakan secara terpisah. Tekanan air dinamik jarang diperhitungkan untuk
stabilitas bangunan bendung dengan tinggi energi rendah.
Gaya tekan ke atas untuk bangunan pada permukaan tanah dasar (subgrade)
lebih rumit. Gaya angkat pada pondasi itu dapat ditemukan dengan membuat
jaringan aliran (flownet), atau dengan asumsi-asumsi yang digunakan oleh Lane
untuk teori angka rembesan (weighted creep theory).
Gambar 2.9 Jaringan aliran dibawah DAM pasangan batu pada pasir
(sumber: KP 02 halaman 139)
Dalam teori angka rembesan Lane, diandaikan bahwa bidang horisontal
memiliki daya tahan terhadap aliran (rembesan) 3 kali lebih lemah dibandingkan
dengan bidang vertikal. Ini dapat dipakai untuk menghitung gaya tekan ke atas di
bawah bendung dengan cara membagi beda tinggi energi pada bendung sesuai
dengan panjang relatif di sepanjang pondasi. Dalam bentuk rumus, ini berarti bahwa
gaya angkat pada titik x di sepanjang dasar bendung dapat dirumuskan sebagai
berikut:
𝐋𝐱
𝐏𝐱 = 𝐇𝐱 − 𝐱𝐇
𝐋
Dimana :
Px : Gaya angkat pada x, kg/m²
L : Panjang total bidang kontak bending dan bawah tanah, m
Lx : Jarak sepanjang bidang kontak dari hulu sama x, m
ΔH : Beda tinggi energi, m
Hx : Tinggi energi di hulu bending, m
b. Tekanan lumpur (sediment pressure)
Tekanan lumpur dapat bekerja terhadap muka hulu bendung ataupun
terhadap pintu. Untuk sudut gesekan dalam, yang bisa diandaikan 30o untuk
kebanyakan hal, menghasilkan persamaan berikut :
𝑷𝒔 = 𝟏, 𝟔𝟕 𝒙 𝒉𝟐
Dimana :
Ps : Tekanan lumpur pada 2/3 kedalaman atas lumpur yang bekerja secara
horizontal
H : tinggi lumpur setinggi mercu bending, m
c. Gaya gempa
Koefisien gempa dapat dihitung dengan rumus :
𝑨𝒅 = 𝒏 𝒙 [𝒂𝒄 𝒙 𝒛]𝒎
𝑨𝒅
𝑬=
𝒈
Dimana :
Ad : Percepatan gempa rencana, cm/dt²
n : Koefisien jenis tanah
m : Koefisien jenis tanah
ac : Percepatan kejut dasar, cm/dt²
z : Faktor yang bergantung pada letak geografis
g : Percepatan gravitasi, 9,81 m/dt²
E : Koefisien gempa
Tabel 2.3 Koefisien jenis tanah (Sumber: KP 06 halaman 28
d. Berat bangunan
Berat bangunan bergantung kepada bahan yang dipakai untuk membuat
bangunan itu. Untuk tujuan-tujuan perencanaan pendahuluan, boleh dipakai harga-
harga berat volume di bawah ini.
• Pasangan batu 22 kN/ m³ (≈ 2.200 kgf/m³)
• Beton tumbuk 23 kN/ m³ (≈ 2.300 kgf/ m³)
• Beton bertulang 24 kN/m³ (≈ 2.400 kgf/ m³)
Berat volume beton tumbuk bergantung kepada berat volume agregat serta
ukuran maksimum kerikil yang digunakan. Untuk ukuran maksimum agregat 150
mm dengan berat volume 2,65, berat volumenya lebih dari 24 kN/m3 (≈ 2.400
kgf/m3).
e. Reaksi pondasi
Reaksi pondasi boleh diandaikan berbentuk trapesium dan tersebar secara
linier. Tekanan vertikal pondasi pada ujung bangunan ditentukan dengan rumus:
𝑳 ∑ 𝑴𝑻 − ∑ 𝑴𝑮
𝒆= −
𝟐 ∑𝑽
∑𝑽 𝟔𝒙𝒆
𝑷= 𝒙(𝟏± )
𝑳 𝑳
Dimana :
P : Reaksi pondasi/ tegangan , t/m²
e : Eksentrisitas, m
L : Panjang pondasi, m
V : Total gaya/ reaksi vertical, ton
MG : Momen guling, t.m
MT : Momen Tahan , t.m
2.5 Peredam Energi
Bangunan peredam energi bendung adalah struktur dari bangunan di hilir
tubuh bendung yang terdiri dari beberapa tipe, bentuk dan di kanan kirinya dibatasi
oleh tembok pangkal bendung dilanjutkan dengan tembok sayap hilir dengan
bentuk tertentu. Fungsi bangunan ini adalah untuk meredam energi air akibat
pembendungan, agar air di hilir bendung tidak menimbulkan penggerusan setempat
yang membahayakan struktur.
Bangunan peredam energi bendung terdiri atas berbagai macam tipe antara lain
yaitu :
1. Vlughter
2. USBR
3. SAF
4. Schooklitch
5. MDO, MDS dan MDL, dll
Prinsip pemecahan energi pada bangunan peredam energi adalah dengan cara
menimbulkan gesekan air dengan lantai dan dinding struktur, gesekan air dengan
air, membentuk pusaran air berbalik vertikal ke atas dan ke bawah serta pusaran
arah horizontal dan menciptakan benturan aliran ke struktur serta membuat loncatan
air di dalam ruang olakan. Sementara itu, dalam memilih tipe bangunan peredam
energi sangat bergantung kepada berbagai factor, antara lain :
1. Tinggi pembendungan.
2. Besarnya nilai bilangan Froude.
3. Keadaan geoteknik tanah dasar misalnya jenis batuan, lapisan, kekerasan
tekan, diameter butir.
4. Jenis angkutan sedimen yang terbawa aliran sungai.
5. Kemungkinan degradasi dasar sungai yang akan terjadi di hilir bendung.
6. Keadaan aliran yang terjadi di bangunan peredam energi seperti aliran tidak
sempurna/tenggelam, loncatan aliran yang lebih rendah atau lebih tinggi dan
sama dengan kedalaman muka air hilir (tail water).
Gambar 2.6 Peredam Energi (sumber: KP 02 halaman 64)
a. Kolam Olak
Tipe kolam olak yang akan direncana di sebelah hilir bangunan bergantung
pada energi air yang masuk, yang dinyatakan dengan bilangan Froude, dan pada
bahan konstruksi kolam olak. Berdasarkan bilangan Froude, dapat dibuat
pengelompokan-pengelompokan berikut dalam perencanaan kolam :
1. Untuk Fru ≤ 1,7 tidak diperlukan kolam olak; pada saluran tanah, bagian hilir
harus dilindungi dari bahaya erosi; saluran pasangan batu atau beton tidak
memerlukan lindungan khusus.
2. Bila 1,7 < Fru ≤ 2,5 maka kolam olak diperlukan untuk meredam energi secara
efektif. Pada umumnya kolam olak dengan ambang ujung mampu bekerja
dengan baik. Untuk penurunan muka air ΔZ < 1,5 m dapat dipakai bangunan
terjun tegak.
3. Jika 2,5 < Fru ≤ 4,5 maka akan timbul situasi yang paling sulit dalam memilih
kolam olak yang tepat. Loncatan air tidak terbentuk dengan baik dan
menimbulkan gelombang sampai jarak yang jauh di saluran. Cara
mengatasinya adalah mengusahakan agar kolam olak untuk bilangan Froude
ini mampu menimbulkan olakan (turbulensi) yang tinggi dengan blok
halangnya atau menambah intensitas pusaran dengan pemasangan blok depan
kolam. Blok ini harus berukuran besar (USBR tipe IV). Tetapi pada
prakteknya akan lebih baik untuk tidak merencanakan kolam olak jika 2,5 <
Fru < 4,5. Sebaiknya geometrinya diubah untuk memperbesar atau
memperkecil bilangan Froude dan memakai kolam dari kategori lain.
4. Jika Fru ≥ 4,5 ini akan merupakan kolam yang paling ekonomis. karena kolam
ini pendek. Tipe ini, termasuk kolam olak USBR tipe III yang dilengkapi
dengan blok depan dan blok halang. Kolam loncat air yang sarna dengan
tangga di bagian ujungnya akan jauh lebih panjang dan mungkin harus
digunakan dengan pasangan batu.
b. Kolam Loncat Air
Gambar 2.11 Metode perencanaan kolom loncat air (sumber: KP 02 halaman 65)
Gambar 2.11 memberikan penjelasan mengenai metode perencanaan. Dari
grafik q versus H1 dan tinggi jatuh 2, kecepatan (v1) awal loncatan dapat ditemukan
dari :
𝐕𝟏 = √𝟐 𝐱 𝐠 𝐱 (𝟎, 𝟓 𝐱 𝐡𝟏 𝐱 𝐳)
𝐐
𝐕𝟏 =
𝐘𝟏 𝐱 𝐁𝐞
Dimana :
Q : Debit Rencana, m³/dt
Be : Lebar Efektif mercu bending, m
Y1 : Kedalaman air awal loncatan, m
V1 : Kecepetan awal loncatan , m/dt
g : Percepatan gravitasi (9,81 m/dt²)
h1 : Tinggi energi diatas ambang, m
z : tinggi jatuh, m
Dengan q = v1 x y1, dan rumus untuk kedalaman konjugasi dalam loncat air
adalah :
𝐘𝟐 𝟏
= 𝐱 √𝟏 + 𝟖 𝐱 𝐅𝐫 𝟐 − 𝟏
𝐘𝟏 𝟐
𝑽𝟏
𝑭𝒓 =
√𝒈 𝒙 𝒀𝟏
Dimana :
Y2 : Kedalaman air diatas ambang ujung, m
Y1 : Kedalaman air awal loncatan, m
V1 : Kecepetan awal loncatan , m/dt
g : Percepatan gravitasi (9,81 m/dt²)
Fr : Bilangan Froude
Panjang kolam loncat air di belakang Potongan U (Gambar 2.5) biasanya
kurang dari panjang bebas loncatan tersebut adanya ambang ujung (end sill).
Ambang yang berfungsi untuk memantapkan aliran ini umumnya ditempatkan
pada jarak.
𝑳𝒋 = 𝟓 𝒙 (𝐧 + 𝐘𝟐 )
Dimana :
Lj : Panjang loncatan air, m
Y2 : Kedalaman air diatas ambang ujung, m
n : tinggi ambang ujung,m
Syarat panjang kolam loncat adalah harus lebih panjang dari pada panjang
loncatan air sehingga loncatan masih atau tetap berada pada kolam loncat.
Persamaan yang digunakan untuk menentukan panjang loncatan adalah sebagai
berikut:
𝑳𝒋 = 𝟓 𝒙 (𝐘𝟐 − 𝐘𝟏 )
Dimana :
Lj : Panjang loncatan air, m
Y2 : Kedalaman air diatas ambang ujung, m
Y1 : Kedalaman air awal loncatan, m