Model sequenced (atau sequenced model) menurut Robin Fogarty memandang kurikulum sebagai
“kacamata berbingkai”: setiap lensa mewakili mata pelajaran atau unit yang diajarkan secara terpisah,
tetapi bingkai yang sama mengaitkan dan menyusun unit-unit tersebut dalam urutan yang saling
berhubungan sehingga membentuk kerangka yang lebih luas. Dalam praktiknya, topik-topik tetap
diajarkan secara terpisah (mis. sains di satu unit, IPS di unit lain), tetapi penyusunan / pengurutan unit-
unit itu dirancang agar konsep dan keterampilan dari satu unit mempersiapkan atau memperkuat unit
berikutnya sehingga siswa melihat kesinambungan antar-mata pelajaran.
Perbedaan Model Sequenced dengan Model Pembelajaran Terpadu Lainnya
Ringkasan perbedaan utama:
Sequenced vs Webbed (tema): Sequenced mempertahankan unit terpisah yang diatur berurutan;
webbed mengorganisasikan materi di sekitar tema/isu besar yang langsung mengaitkan banyak disiplin
sekaligus.
Sequenced vs Shared: Shared melibatkan dua atau lebih guru yang merencanakan kolaborasi pada satu
tema atau proyek yang sama (mengajar bersama pada waktu yang bersamaan), sedangkan sequenced
tidak selalu memerlukan pengajaran bersama — melainkan sinkronisasi urutan dan fokus antar-unit.
Sequenced vs Nested / Threaded / Connected: Model lain (nested, threaded, connected) cenderung
menyisipkan elemen lintas-disiplin dalam satu unit atau lewat benang-topik berulang; sequenced lebih
menekankan urutan unit yang membangun pengetahuan secara berlapis daripada pencampuran konten
dalam satu unit.
Ciri dan Karakteristik Model Sequenced
Unit tetap disiplin-spesifik (masih ada batas mata pelajaran), tetapi disusun secara intentional sehingga
konsep/keterampilan bersifat progresif dan saling mendukung.
[Link]
Menekankan urutan logis: pra-syarat dari unit A menjadi landasan untuk unit B.
[Link]
Memudahkan guru melakukan penyelarasan tujuan pembelajaran dan standar antar-unit tanpa
memaksa penggabungan penuh (integrasi parsial berupa sinkronisasi).
[Link]
Relatif mudah diterapkan di sekolah yang masih mempertahankan struktur mata pelajaran tetapi ingin
meningkatkan konektivitas antar-unit
Langkah-Langkah Guru Merencanakan Pembelajaran dengan Model Sequenced
Berdasarkan penerapan prinsip Fogarty dan panduan integrasi (serta praktik yang direkomendasikan
Drake & Burns untuk menyelaraskan standar), langkah perencanaan praktisnya meliputi:
Inventarisasi standar dan tujuan tiap mata pelajaran (tentukan kompetensi inti yang harus dicapai).
[Link]
Identifikasi konsep kunci dan pra-syarat untuk tiap unit — apa yang perlu diketahui/ bisa dikuasai
sebelum masuk unit lanjutan.
[Link]
Susun urutan unit berdasar keterkaitan konsep / keterampilan (tentukan kronologi pembelajaran agar
ada progresi logis).
[Link]
Sinkronisasi tujuan penilaian: rancang penilaian formatif dan sumatif yang menangkap perkembangan
antar-unit dan keterkaitan antar-mata pelajaran.
[Link]
Rencanakan titik pertemuan antar-unit (mis. refleksi lintas-unit, tugas akhir yang memerlukan
pengetahuan dari beberapa unit) agar siswa melihat hubungan.
ERIC
Koordinasi antar-guru (jika ada) untuk memastikan jadwal dan fokus unit sejajar sehingga
kesinambungan tercapai.
Strategi Pembelajaran dalam Model Sequenced
Beberapa strategi yang sering digunakan agar urutan unit benar-benar membangun pemahaman:
Scaffolding berlapis: secara bertahap kurangi dukungan saat siswa berpindah dari unit awal ke unit
lanjutan.
[Link]
Checkpoint / pengujian formatif antarpencapaian unit untuk memastikan pra-syarat dikuasai sebelum
melanjutkan.
[Link]
Jembatan konseptual: pada awal unit baru guru secara eksplisit mengaitkan konsep dengan unit
sebelumnya (mis. review terfokus, peta konsep lintas-unit).
[Link]
Tugas terintegrasi di akhir serangkaian unit: proyek akhir yang meminta penerapan pengetahuan dari
urutan unit sehingga siswa melihat keterkaitan praktis
Hasil / Pandangan Drake & Burns (2004) mengenai Sequenced dan integrasi standar
Drake & Burns (2004) menekankan bahwa integrasi kurikulum harus menyelaraskan standar tanpa
mengorbankan kedalaman pembelajaran. Adapun relevansi model sequenced menurut mereka:
Sequenced berguna ketika sekolah perlu memenuhi standar disiplin sambil menciptakan kesinambungan
antar-topik — karena model ini memungkinkan unit disiplin-spesifik tetap mendalam namun disusun
sedemikian rupa agar keterampilan dan konsep matang secara bertahap.
ERIC
+1
Drake & Burns menggarisbawahi perlunya framework KNOW/DO/BE (apa yang siswa harus tahu, apa
yang harus bisa dilakukan, dan sikap/peran yang diharapkan) saat menyusun urutan unit, supaya setiap
unit bukan hanya menambah pengetahuan tetapi juga keterampilan dan karakter yang koheren di
seluruh urutan. Implementasi sequenced sebaiknya memerhatikan dimensi-dimensi ini agar integrasi
tetap bermakna.
[Link]
Mereka juga menyarankan agar integrasi (termasuk sequenced) disertai penilaian autentik yang
mencerminkan standar lintas-disiplin, sehingga urutan unit tidak hanya formal tetapi terukur
dampaknya pada kompetensi siswa.