SAFETY RIDING
Safety riding merupakan suatu bentuk perilaku berkendara yang aman dan nyaman, yang
artinya aman bagi diri sendiri maupun bagi pengendara lain.
1. Helm Standar / SNI
2. Sarung Tangan
3. Jaket
4. Sepatu
5. Masker Wajah
6. Taat Peraturan Lalu Lintas
7. Cek Kondisi Kendaraan
8. Selalu Fokus Dan Waspada
9. Tidak Mengantuk/ Minum Minuman Beralkohol
10. Jas Hujan Bagi Pengendara Motor
11. Body Protector
Kelengkapan berkendara adalah kelengkapan keamanan dalam berkendara, baik
kelengkapan pada kendaraan ataupun kelengkapan pada pengendara itu sendiri.
Pengendara kendaraan bermotor wajib memiliki kelengkapan sbb :
1. KTP/KITAS
2. SIM
3. STNK
4. TNKB
Peraturan yang menunjukkan bahwa pengendara wajib memiliki SIM tercantum dalam Pasal
77 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas
dan Angkutan Jalan berbunyi, ”Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor
di Jalan wajib memiliki Surat Izin Mengemudi sesuai dengan jenis Kendaraan
Bermotor yang dikemudikan.”
Apabila pengedara tidak memiliki SIM maka akan dikenakan pasal 281 ayat (1) UU Nomor
22 tahun 2009 yang berbunyi, “Setiap pengendara kendaraan bermotor yang tidak
memiliki SIM dipidana dengan pidana kurungan paling lama 4 bulan atau denda paling
banyak Rp 1 juta.”
Apabila kendaraan tidak memasang TNKB (Tanda Nomor Kendaraan Bermotor) maka akan
dikenakan Pasal 280 ayat (3) UU nomor 22 tahun 2009 yang berbunyi, “Setiap pengendara
kendaraan bermotor yang tak dipasangi Tanda Nomor Kendaraan dipidana dengan
pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu.”
Selain itu, Pasal 106 ayat (8) UU No. 22 tahun 2009 mengatur bahwa: “Setiap orang yang
mengemudikan Sepeda Motor dan Penumpang Sepeda Motor wajib mengenakan helm
yang memenuhi standar nasional Indonesia.”
Pasal (1) UU no. 22 tahun 2009 menjelaskan, “Setiap orang yang mengemudikan sepeda
motor tidak menggunakan helm standar nasional Indonesia sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 106 ayat (8) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda
paling banyak Rp 250.000 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).”