0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan10 halaman

Terapi Bermain Action Figure untuk Anak

Diunggah oleh

Nurasyah Basri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan10 halaman

Terapi Bermain Action Figure untuk Anak

Diunggah oleh

Nurasyah Basri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Rumah sakit merupakan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan

masyarakat dimana salah satu pelayanan yang diberikan adalah memberikan

pelayanan keperawatan kepada anak. Tahap perkembangan anak dibagi

menjadi masa prenatal, natal dan post natal. Salah satu tahap perkembangan

anak adalah anak usia pra sekolah yaitu usia 3 hingga 6 tahun (Lutfianti et al,

2022). Perawatan anak di rumah sakit menyebabkan anak harus terpisah

dengan lingkungan yang dirasa aman, penuh kasih sayang, menyenangkan

serta anak harus berpisah dengan teman sepermainannya (Listiana et al.,

2021).

Seorang anak mencerminkan individu yang berbeda, unik dan

memiliki karakteristik tersendiri sesuai dengan tahapan usianya. Masa usia

dini (0-6 tahun) merupakan masa keemasan (golden age) dimana stimulasi

seluruh aspek perkembangan berperan penting untuk tugas perkembangan

selanjutnya (Rozana & Bantali, 2020).

Menurut WHO pada tahun 2018 didapatkan sebanyak hampir 80%

anak mengalami perawatan di Rumah Sakit. Data terbaru dari WHO (2020)

menyatakan bahwa 4% sampai 12% anak di Amerika serikat, Sekitar 3

sampai 6% anak usia pra sekolah di Jerman, 4 sampai 10% di Kanada

mengalami stress hospitalisasi. Data anak usia pra sekolah di Indonesia

1
2

menurut profil kesehatan Indonesia adalah sejumlah 8.806.068 jiwa

(Kemenkes RI, 2022) diperkirakan dari 35 per 100 anak menjalani

hospitalisasi dan 45% mengalami kecemasan (Pratiwi et al., 2023).

Dampak atau reaksi anak terhadap sakit juga berbeda-beda tergantung

tingkat usia anak. Kecemasan pada anak pra sekolah yang sakit dan dirawat di

rumah sakit merupakan salah satu bentuk gangguan karena anak merasa tidak

nyaman (Pratiwi et al., 2023). Anak usia pra sekolah memiliki imajinasi yang

aktif sehingga menyebabkan rasa takut dan merasa terancam (Vanny et al.,

2020). Perawatan di Rumah Sakit dapat menimbulkan kecemasan pada anak

karena anak kehilangan lingkungannya yang aman, menyenangkan dan penuh

kasih sayang (Apriani & Putri, 2021).

Rasa cemas atau emosi merupakan salah satu hal paling umum

dirasakan pada anak-anak yang dirawat di rumah sakit. Anak-anak sering

mengalami rasa cemas seperti menangis dan takut pada orang baru. Stressor

yang dialami anak selama dirawat di rumah sakit banyak yang memberikan

dampak negatif sehingga mengganggu tumbuh kembang anak. Lingkungan

rumah sakit dapat menimbulkan stres dan kecemasan pada anak (Marni,

2018). Perawatan yang dijalani anak selama di rumah sakit diekspresikan

sebagai suatu hukuman sehingga anak usia prasekolah merasa takut, malu dan

bersalah. Ketakutan terhadap tindakan yang menimbulkan perlukaan muncul

karena anak mengganggap tindakan dari prosedur yang dilakukan akan

mengancam integritas tubuhnya (Oktiawati, 2017).


3

Terjadinya kecemasan hospitalisasi pada anak prasekolah dapat

berpengaruh terhadap perawatan anak selama di rumah sakit dan dapat

berpengaruh pada proses perawatan dan penyembuhan apabila masalah tidak

teratasi. Dalam mengurangi dampak dari kecemasan hospitalisasi maka

beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan pendekatan kepada

orang tua dan anak, memberikan lingkungan yang aman dan nyaman, serta

memberikan permainan atau bermain (Vianti, 2020). Oleh karena itu, agar

anak lebih kooperatif dan menyenangkan dengan tenaga medis, perlu

dilakukan langkah cepat untuk mengatasinya agar proses pengobatan tidak

terganggu. Salah satu intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi

permasalahan tersebut adalah terapi bermain.

Anak prasekolah mempunyai kemampuan motorik kasar dan halus

yang lebih matang dibandingkan balita. Dengan tumbuh kembangnya, anak

prasekolah menjadi lebih aktif, kreatif dan imajinatif. Bermain menjadi salah

satu bagian terpenting dalam kehidupan anak, dan merupakan salah satu cara

paling efektif untuk menghadapi dan mengatasi kecemasan. Berdasarkan hal

tersebut, meskipun anak sakit dan dirawat di rumah sakit, permainan harus

dilakukan sedemikian rupa sehingga anak tidak merasa cemas. Oleh karena

itu ada baiknya memperhatikan permainan yang sesuai dengan situasi dan

keadaan yang ada.

Menurut (Ii et al., 2022), bermain merupakan kegiatan anak untuk

mengekspresikan segala bentuk tingkah laku yang menyenangkan dan

bersifat menghibur. Bermain merupakan suatu aktifitas yang tidak dapat


4

terpisah dari kehidupan anak. Dengan bermain anak bisa mengalihkan rasa

sakitnya, sehingga bisa mengurangi ketegangan maupun kecemasan yang di

alami anak saat dirawat (Tumiwa, 2021). Dengan bermain anak dapat merasa

lebih nyaman dan senang. Bermain di rumah sakit membuat sesuatu yang

asing menjadi normal sehingga menurunkan tekanan-tekanan psikis (Selli et

al., 2021).

Terapi bermain dapat membantu menurunkan tingkat kecemasan anak

dan dapat membantu anak untuk menguasai konflik yang dihadapi. Dalam

penelitian yang dilakukan oleh Anggi Nur Hidayat dan Arnika Dwi (2019)

menunjukkan bahwa terapi bermain dengan media boneka tangan dapat

menurunkan gejala kecemasan pada anak dari 95,2% menjadi 42,9%. Boneka

atau mainan tiruan action figure merupakan salah satu permainan yang tidak

terlalu banyak membutuhkan energi karena bisa dimainkan oleh petugas

maupun oleh anak tanpa membutuhkan banyak aktifitas fisik. Menurut

(Sunarti et al., 2021), bermain boneka memiliki banyak keuntungan karena

pada usia anak pada umumnya menyukai boneka dan cerita yang dituturkan

lewat karakter boneka tersebut sehingga anak dapat mengungkapkan perasaan

dan emosinya.

Menurut penelitian (Sunarti et al., 2021) tentang pengaruh permainan

boneka terhadap kecemasan anak usia prasekolah yang dilakukan di RSUD

Labuang Baji Makasar dari 20 anak usia pra sekolah yang dilakukan

penelitian menggunakan lembar observasi terapi bermain boneka dan

kuisioner kecemasan, sebelum dilakukan intervensi 6 anak mengalami


5

kecemasan berat, 14 anak mengalami kecemasan sedang. Setelah dilakukan

intervensi dengan permainan boneka 8 anak mengalami kecemasan ringan

dan 12 anak mengalami kecemasan sedang yang berarti terdapat pengaruh

permainan boneka terhadap kecemasan hospitalisasi pada anak usia pra

sekolah.

Menurut hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada Jum'at tanggal

20 Oktober 2023 di RSUD Wonosari, berdasarkan informasi yang diterima

pada bulan Januari hingga Agustus, rata-rata jumlah anak prasekolah yang

dirawat di Rumah Sakit Daerah Wonosari berjumlah 25 anak setiap bulannya.

Rumah Sakit Daerah Wonosari terdapat dua bangsal khusus anak yaitu

bangsal Dahlia dan Amarilis. Rata-rata jumlah anak prasekolah yang dirawat

di bangsal Dahlia sebanyak 10 anak, sedangkan di bangsal Amarilis rata-rata

sebanyak 7 anak setiap bulannya. Hasil wawancara dengan salah satu perawat

menunjukkan bahwa anak yang dirawat pada umumnya mengalami

kecemasan, terutama anak yang baru pertama kali dirawat. Kecemasan anak

ditandai dengan tangisan, rewel, pemberontakan, kehilangan nafsu makan,

gangguan tidur, dan ketidakmampuan bekerja sama dengan aktivitas tenaga

kesehatan. Kemudian terapi bermain belum diterapkan karena bangsal ini

tidak memiliki ruang atau peralatan terapi bermain.

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian

studi kasus dengan judul “Implementasi Terapi Bermain Action Figure dalam

Mengurangi Tingkat Kecemasan Anak Prasekolah Akibat Hospitalisasi di

Bangsal Dahlia RSUD Wonosari”.


6

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka muncul pertanyaan dari

peneliti yaitu “Bagaimanakah implementasi terapi bermain action figure

dalam mengurangi tingkat kecemasan anak prasekolah akibat hospitalisasi di

bangsal Dahlia RSUD Wonosari?”

C. Tujuan Penelitian

a. Tujuan Umum

Diketahuinya penerapan terapi bermain action figure untuk

mengurangi tingkat kecemasan anak usia pra-sekolah (3-6 tahun) yang

sedang menjalani rawat inap di bangsal Dahlia RSUD Wonosari melalui

proses asuhan keperawatan.

b. Tujuan Khusus

1. Diketahuinya asuhan keperawatan pada anak usia prasekolah (3-6

tahun) yang mengalami kecemasan akibat hospitalisasi mulai dari

pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, evaluasi, dan

dokumentasi keperawatan di Bangsal Dahlia RSUD Wonosari.

2. Diketahuinya respon anak sebelum dan sesudah diberikan terapi

bermain action figure pada anak prasekolah (3-6 tahun) yang

mengalami kecemasan akibat hospitalisasi di bangsal Dahlia RSUD

Wonosari.

3. Diketahuinya faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan

terapi bermain action figure pada anak prasekolah (3-6 tahun) yang
7

mengalami kecemasan akibat hospitalisasi di bangsal Dahlia RSUD

Wonosari.

D. Ruang Lingkup

Penelitian dengan judul “Implementasi Terapi Bermain Action

Figure dalam Mengurangi Tingkat Kecemasan Anak Prasekolah Akibat

Hospitalisasi di Bangsal Dahlia RSUD Wonosari” ini masuk ke dalam

ruang lingkup Keperawatan Anak. Penelitian ini dilakukan di Bangsal

Dahlia Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari.

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat untuk:

a. Bagi Perawat di bangsal Dahlia RSUD Wonosari

Menambah pengetahuan untuk profesi keperawatan secara mandiri

dalam penanganan anak yang mengalami kecemasan hospitalisasi

menggunakan terapi bermain action figure.

b. Bagi Mahasiswa Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes

Yogyakarta

Menambah pengetahuan dan menambah literatur bagi mahasiswa

jurusan keperawatan manfaat terapi bermain action figure untuk

menurunkan tingkat kecemasan pada anak.

c. Bagi penulis selanjutnya

Menambah literatur dalam mengimplementasikan prosedur terapi

bermain action figure pada anak yang mengalami kecemasan

hosptalisasi.
8

F. Keaslian Penelitian

Penelitian yang berjudul “Implementasi Terapi Bermain Action

Figure dalam Mengurangi Tingkat Kecemasan Anak Prasekolah Akibat

Hospitalisasi di Bangsal Dahlia RSUD Wonosari” sudah pernah dilakukan

sebelumnya namun terdapat beberapa hal yang berbeda. Adapun penelitian

lain yang berkaitan dengan implementasi terapi bermain terhadap tingkat

kecemasan anak, yaitu:

a. Penurunan Tingkat Kecemasan Anak Akibat Hospitalisasi dengan

Penerapan Terapi Bermain (Saputro, H., & Fazrin, I., 2017). Hasil dari

penelitian ini adalah menyebutkan bahwa usia terbanyak yang

mengalami kecemasan adalah anak berusia 4 tahun, dan merupakan

anak kedua. Anak perempuan lebih banyak mengalami kecemasan

daripada anak laki-laki. Paling banyak mengalami kecemasan adalah

anak yang tidak pernah masuk rumah sakit sebelumnya dan anak yang

tidak memiliki saudara kandung. Persamaan pada penelitian ini dengan

penelitian peneliti terletak pada subjek penelitian yaitu anak usia

prasekolah dengan usia 3 sampai 6 tahun. Sedangkan perbedaannya

yaitu pada penelitian ini dilakukan di ruang Dahlia RSUD dr. Soedomo

Trenggalek pada tahun 2017, menggunakan 51 anak sebagai sample,

dan menggunakan teknik consecutive sampling. Dalam penelitian

peneliti dilakukan di ruang Dahlia RSUD Wonosari pada tahun 2024,

menggunakan 2 anak sebagai responden.


9

b. Pengaruh Terapi Bermain Mewarnai Gambar terhadap Kecemasan

Hospitalisasi pada Anak Prasekolah (Aryani, D., & Zaly, N. W., 2021).

Hasil pada penelitian ini yaitu menunjukkan bahwa ada pengaruh terapi

aktivitas bermain mewarnai gambar terhadap penurunan kecemasan

akibat hospitalisasi pada anak usia prasekolah di Paviliun RSPAD Gatot

Soebroto tahun 2019. Perbedaan penelitian peneliti dengan penelitian

ini terletak pada waktu dan tempat penelitian, jumlah sample, dan

teknik pengambilan sample. Dalam penelitian ini dilakukan di Paviliun

RSPAD Gatot Soebroto tahun 2019 sedangkan pada penelitian peneliti

dilakukan di bangsal Dahlia RSUD Wonosari pada tahun 2024. Jumlah

sample pada penelitian ini sebanyak 35 responden sedangkan pada

penelitian peneliti hanya menggunakan 2 pasien anak sebagai

responden. Sedangkan persamaannya terletak pada subjek penelitian

yaitu anak usia prasekolah.

c. Penerapan Terapi Bermain Boneka Tangan Terhadap Kecemasan Anak

Usia Prasekolah di RSUD dr. Soeratno Gemolong (Dewi, P. S.,

Nurrohmah, A., & Purnamawati, F., 2023). Penelitian ini

mengemukakan hasil bahwa terapi bermain boneka tangan pada anak

usia prasekolah (3-6 tahun) mampu menurunkan tingkat kecemasan

pada anak. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan

peneliti yaitu terletak pada jumlah sample yang digunakan yaitu

sebanyak 2 anak. Sedangkan perbedaannya terletak pada waktu dan

tempat dilakukannya penelitian dan media terapi bermain yang


10

digunakan. Penelitian ini dilakukan di bangsal Anggrek RSUD dr.

Soeratno Gemolong tahun 2023 dengan menggunakan media boneka

tangan sebagai alat terapi bermain. Dalam penelitian peneliti, penelitian

dilakukan di bangsal Dahlia RSUD Wonosari tahun 2024 dengan

menggunakan mainan action figure sebagai media terapi bermain.

Anda mungkin juga menyukai