Pemetaan Risiko Dan Rekomendasi Tindak Lanjut Hasil Analisis Penyakit ( MERS/ Polio / Difteri ) di
Kab. Kerinci Provinsi Jambi Tahun 2022.
1. Pendahuluan
a. Latar Belakang
Polio merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus bernama
polio. Penyakit ini menyerang sistem saraf dan bisa menyebabkan kelumpuhan, kesulitan
bernapas, hingga yang paling fatal adalah kematian. Kementerian Kesehatan (Kemenkes)
menyebut, penyakit polio rentan terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun, terutama anak yang
belum imunisasi polio. Meskipun mayoritas menyerang balita, namun polio dapat menyerang
siapa saja tanpa
batasan usia.
Kasus polio pertama kali pada 1580 – 1350 SM, Inskripsi Mesir kuno
menggambarkan pendeta muda dengan kaki sebelah kiri yang memendek dan mengecil, telapak
kaki pada posisi equinus, yang merupakan gambaran keadaan klinik lumpuh layu. Total kasus
kumulatif tahun 2018 sebanyak 50 kasus, 12 kasus WPV1 di Afganistan, 3 Kasus WPV1 di
Pakistan, 13 kasus cVDPV2 di Republik Demokratik Kongo, 8 Kasus cDVDPV2 di Nigeria, 5
kasus cVDPV di Somalia dan 9
kasus cVDPV1 di Papua New Guinea. Jumlah kumulatif kasus polio tahun 2017 hingga tahun
2018 sebanyak 168 kasus.
Setelah dilaksanakan PIN Polio tiga tahun berturut-turut pada tahun 1995, 1996 dan
1997, virus polio liar asli Indonesia (indigenous) sudah tidak ditemukan lagi sejak tahun 1996.
Namun pada tanggal 13 Maret 2005 ditemukan kasus polio importasi pertama di Kecamatan
Cidahu Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kasus polio tersebut berkembang menjadi KLB yang
menyerang 305 orang dalam kurun waktu 2005 sampai awal 2006. KLB ini tersebar di 47
kabupaten/kota di 10 provinsi. Selain itu juga ditemukan 46 kasus Vaccine Derived Polio Virus
(VDPV) yaitu kasus Polio yang disebabkan oleh virus dari vaksin, yang terjadi apabila banyak
anak yang tidak di imunisasi, dimana 45 kasus di antaranya terjadi di semua kabupaten di Pulau
Madura dan satu kasus terjadi di Probolinggo, Jawa Timur. Setelah dilakukan Outbreak
Response Immunization (ORI), dua kali mop-up, lima kali PIN, dan dua kali Sub-PIN, KLB dapat
ditanggulangi sepenuhnya. Kasus Virus Polio Liar (VPL) terakhir yang mengalami kelumpuhan
ditemukan pada tanggal 20 Februari 2006 di Aceh.
Selama beberapa tahun belakangan, Indonesia dapat dikatakan telah
bebas polio. Namun, pada bulan November, wabah polio merebak di Pidie, Aceh.
Penyebabnya adalah kombinasi berbahaya dari cakupan imunisasi yang rendah dan
kondisi lingkungan yang tidak sehat. Pada tahun 2021 di Aceh, hanya 50,9% balita
yang menerima vaksin polio.
Polio dapat menyerang pada usia berapa pun, tetapi polio terutama menyerang
anak-anak di bawah usia lima tahun. Pada awal abad ke-20, polio adalah salah satu penyakit
yang paling ditakuti di negara-negara industri, melumpuhkan ratusan ribu anak setiap tahun.
Pada tahun 1950an dan 1960an polio telah terkendali dan praktis dihilangkan sebagai masalah
kesehatan masyarakat di negara-negara industry. Hal ini setelah pengenalan vaksin yang efektif.
Pada 1988, sejak Prakarsa Pemberantasan Polio Global dimulai, lebih dari 2,5 miliar
anak telah diimunisasi polio. Sekarang masih terdapat 3 negara endemis yang melaporkan
penularan polio yaitu Afganistan, Pakistan dan Nigeria.
Pada Juni 2018, dilaporkan adanya kasus polio di negara tetangga Papua New Guinea,
sehingga diperlukan adanya peningkatan kewaspadaan dini terhadap masuknya virus polio ke
Indonesia.
Masa inkubasi virus polio biasanya memakan waktu 3-6 hari, dan kelumpuhan terjadi
dalam waktu 7-21 hari. Kebanyakan orang terinfeksi (90%) tidak memiliki gejala atau gejala yang
sangat ringan dan biasanya tidak dikenali. Pada kondisi lain, gejala awal yaitu demam,
kelelahan, sakit kepala, muntah, kekakuan di leher dan nyeri di tungkai.
Adapun gejala Penderita polio dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :
1. Polio non-paralisis dapat mnyebabkan muntah, lemah otot, demam, meningitis, letih, sakit
tenggorokan, sakit kepala serta kaki, tangan, leher dan punggung terasa kaku dan sakit
2. Polio paralisis menyebabkan sakit kepala, demam, lemah otot, kaki dan lengan terasa
lemah, dan kehilangan refleks tubuh.
3. Sindrom pasca-polio menyebabkan sulit bernapas atau menelan, sulit berkonsentrasi, lemah
otot, depresi, gangguan tidur dengan kesulitan bernapas, mudah lelah dan massa otot tubuh
menurun.
Polio menyebar melalui kontak orang ke orang. Ketika seorang anak terinfeksi virus
polio liar, virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut dan berkembang biak di usus. Ini kemudian
dibuang ke lingkungan melalui faeces di mana ia dapat menyebar dengan cepat melalui
komunitas, terutama dalam situasi kebersihan dan sanitasi yang buruk. Virus tidak akan rentan
menginfeksi dan mati bila seorang anak mendapatkan imunisasi lengkap terhadap polio. Polio
dapat menyebar ketika makanan atau minuman terkontaminasi oleh feses. Ada juga bukti bahwa
lalat dapat secara pasif memindahkan virus polio dari feses ke makanan. Kebanyakan orang
yang terinfeksi virus polio tidak memiliki tanda-tanda penyakit dan tidak pernah sadar bahwa
mereka telah terinfeksi. Orang-orang tanpa gejala ini membawa virus dalam usus mereka dan
dapat “diam-diam” menyebarkan infeksi ke ribuan orang lain.
Specimen AFP berupa tinja yang diambil pada kasus AFP yang lama lumpuhnya
belum lebih dari 2 bulan
1. Specimen adekuat adalah 2 spesimen dapat dikumpulkan dengan tenggang waktu
minimal 24 jam
2. Waktu pengumpulan ke 2 spesimen tidak lebih dari 14 hari sejak terjadi kelumpuhan
3. Masing-masing spsimen minimal 8 gram (sebesar satu ruas ibu jari orang dewasa),
atau 1 sendok makan bila penderita diare.
4. Specimen pada saat diterima di laboratorium dalam keadaan :
2 spesimen tidak bocor
2 spesimen volumenya cukup
Suhu dalam speseimen karier 2-8⁰C
2 spesimen tidak rusak (kering,dll)
Tidak ada obat untuk polio, yang ada hanya perawatan untuk meringankan gejala.
terapi fisik digunakan untuk merangsang otot dan obat antispasmodic diberikan untuk
mengendurkan otot-otot dan meningkatkan mobilitas. Meskipun ini dapat meningkatkan
mobilitas, tapi tidak dapat mengobati kelumpuhan polio permanen.
Apabila sudah terkena Polio, tindakan yang dilakukan yaitu tatalaksana kasus lebih
ditekankan pada tindakan suportif dan pencegahan terjadinya cacat, sehingga anggota gerak
diusahakan kembali berfungsi senormal mungkin dan penderita dirawat inap selama minimal
7 hari atau sampai penderita melampaui masa akut.
Penemuan dini dan perawatan dini untuk mempercepat kesembuhan dan mencegah
bertambah beratnya cacat. Kasus polio dengan gejala klinis ringan di rumah, bila gejala klinis
berat diruju ke RS.
Data cakupan imunisasi polio, di tingkat puskesmas, desa terjangkit dan desa sekitar
beresiko selama 3-5 tahun terakhir, dan tata laksana rantai dingin vaksin
1. Frekuensi pelayanan imunisasi masyarakat setempat
2. Ketenagaan, ketersediaan vaksin dan kualitas vaksin diantaranya penyimpanan vaksin
dan control suhu penyimpanan
3. Daerah kumuh atau padat atau daerah pengungsi
4. Mobilitas penduduk dari dan ke daerah endemis poliomyelitis
5. Kontak adalah anak usia < 5 tahun yang berinteraksi serumah atau sepermainan dengan
kasus sejak terjadi kelumpuhan sampai 3 bulan kemudian.
Tidak ada yang tahu mengapa hanya sebagian kecil infeksi menyebabkan
kelumpuhan. Beberapa faktor risiko utama yang diidentifikasi yang meningkatkan
kemungkinan kelumpuhan pada seseorang yang terinfeksi polio, seperti diantaranya defisiensi
imun, kehamilan, pengangkatan amandel (tonsilektomi), suntikan intramuscular misalnya
obat-obatan, olahraga berat dan cedera.
Setelah dilaksanakan PIN Polio tiga tahun berturut-turut pada tahun 1995, 1996 dan
1997, virus polio liar asli Indonesia (indigenous) sudah tidak ditemukan lagi sejak tahun 1996.
Namun pada tanggal 13 Maret 2005 ditemukan kasus polio importasi pertama di Kecamatan
Cidahu Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kasus polio tersebut berkembang menjadi KLB
yang menyerang 305 orang dalam kurun waktu 2005 sampai awal 2006. KLB ini tersebar di
47 kabupaten/kota di 10 provinsi. Selain itu juga ditemukan 46 kasus Vaccine Derived Polio
Virus (VDPV) yaitu kasus Polio yang disebabkan oleh virus dari vaksin, yang terjadi apabila
banyak anak yang tidak di imunisasi, dimana 45 kasus di antaranya terjadi di semua
kabupaten di Pulau Madura dan satu kasus terjadi di Probolinggo, Jawa Timur. Setelah
dilakukan Outbreak Response Immunization (ORI), dua kali mop-up, lima kali PIN, dan dua
kali Sub-PIN, KLB dapat ditanggulangi sepenuhnya. Kasus Virus Polio Liar (VPL) terakhir
yang mengalami kelumpuhan ditemukan pada tanggal 20 Februari 2006 di Aceh. Sejak saat
itu hingga sekarang tidak pernah lagi ditemukan kasus Polio di Indonesia.
Kasus polio pertama kali pada 1580 – 1350 SM, Inskripsi Mesir kuno
menggambarkan pendeta muda dengan kaki sebelah kiri yang memendek dan mengecil,
telapak kaki pada posisi equinus, yang merupakan gambaran keadaan klinik lumpuh layu.
Total kasus kumulatif tahun 2018 sebanyak 50 kasus, 12 kasus WPV1 di Afganistan,
3 Kasus WPV1 di Pakistan, 13 kasus cVDPV2 di Republik Demokratik Kongo, 8 Kasus
cDVDPV2 di Nigeria, 5 kasus cVDPV di Somalia dan 9 kasus cVDPV1 di Papua New Guinea.
Jumlah kumulatif kasus polio tahun 2017 hingga tahun 2018 sebanyak 168 kasus.
(Sumber: [Link] per tanggal 4
September 2018).
Imunisasi merupakan tindakan yang paling efektif dalam mencegah penyakit polio.
Vaksin polio yang diberikan berkali-kali dapat melindungi seorang anak seumur hidup.
Pencegahan penyakit polio dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat
akan pentingnya pemberian imunisasi polio pada anak-anak. Pencegahan penularan ke orang
lain melalui kontak langsung (droplet) dengan menggunakan masker bagi yang sakit maupun
yang sehat. Selain itu mencegah pencemaran lingkungan (fecal-oral) dan pengendalian
infeksi dengan menerapkan buang air besar di jamban dan mengalirkannya ke septic tank.
Ada 4 jenis vaksin Polio, yaitu :
1. Oral Polio Vaccine (OPV), untuk jenis vaksin ini aman, efektif dan memberikan
perlindungan jangka panjang sehingga sangat efektif dalam menghentikan penularan
virus. Vaksin ini diberikan secara oral. Setelah vaksin ini bereplikasi di usus dan
diekskresikan, dapat menyebar ke orang lain dalam kontak dekat.
2. Monovalent Oral Polio Vaccines (mOPV1 and mOPV3), sebelum pengembangan tOPV,
OPV Monovalen (mopVs) dikembangkan pada awal tahun 1950an. Vaksin polio ini
memberikan kekebalan hanya pada satu jenis dari tiga serotipe OPV, namun tidak
memberikan perlindungan terhadap dua jenis lainnya. OPV Monovalen untuk virus Polio
tipe 1 (mopV1) dan tipe 3 (mOPV3) dilisensikan lagi pada tahun 2005 dan akhirnya
mendapatkan respon imun melawan serotipe yang lain.
3. Bivalent Oral Polio Vaccine (bOPV), setelah April 2016, vaksin virus Polio Oral Trivalen
diganti dengan vaksin virus Polio Oral Bivalen (bOPV). Bivalen OPV hanya mengandung
virus serotipe 1 dan 3 yang dilemahkan, dalam jumlah yang sama seperti pada vaksin
trivalen. Bivalen OPV menghasilkan respons imun yang lebih baik terhadap jenis virus
Polio tipe 1 dan 3 dibandingkan dengan OPV trivalen, namun tidak memberikan
kekebalan terhadap serotipe 2.
4. Inactivated Polio Vaccine (IPV), sebelum bulan April 2016, vaksin virus Polio Oral Trival
(topV) adalah vaksin utama yang digunakan untuk imunisasi rutin terhadap virus Polio.
Dikembangkan pada tahun 1950 oleh Albert Sabin, tOPV terdiri dari campuran virus polio
hidup dan dilemahkan dari ketiga serotipe tersebut. tOPV tidak mahal, efektif dan
memberikan perlindungan jangka panjang untuk ketiga serotipe virus Polio. Vaksin
Trivalen ditarik pada bulan April 2016 dan diganti dengan vaksin virus Polio Oral Bivalen
(bOPV), yang hanya mengandung virus dilemahkan vaksin tipe 1 dan 3.
a. Tujuan
Memberikan panduan dalam melakukan pemetaan risiko penyakit Polio di daerah
khususnya Kab. kerinci.
Sebagai dasar perencanaan pengembangan program pencegahan dan pengendalian
penyakit Polio.
Mengoptimalkan penanggulangan kejadian penyakit Polio di daerah yang difokuskan
pada upaya penanggulangan beberapa parameter risiko utama yang dinilai secara
objektif dan terukur.
untuk memberikan rekomendasi kepada pimpinan tentang hal-hal yang berhubungan
dengan kasus penyakit serta prediksi kebutuhan Anggaran untuk penanggulangannya.
1. Merumuskan Rekomendasi dari hasil analisis risiko penyakit Polio
a. Menetapkan Isu Prioritas
Tabel hasil analisis risiko Polio di Kab. Kerinci untuk kategori Kerentanan yang terlihat di tools
pemetaan risiko sebagai berikut:
Nilai Risiko per
Kategori (N) *)
NILAI A R S T
BOBOT
(B)
INDEKS
(NXB)
NO KATEGORI SUBKATEGORI 1/1000 1/100 1/10 1
1 Karakteristik Penduduk Kepadatan Penduduk --- R --- --- 13.64 0.14
2 Ketahanan Penduduk % cakupan imunisasi polio 4 --- R --- --- 27.99 0.28
3 % perilaku sehat --- --- S --- 8.50 0.85
4 Kunjungan penduduk ke Jumlah Penduduk Berkunjung Ke --- R --- --- 2.80 0.03
daerah berisiko antar negara Daerah Berjangkit Antar Negara
5 Frekuensi Transportasi Massal ke --- R --- --- 2.80 0.03
negara berjangkit
6 Transportasi Antar Transportasi Antar Kab/Kota/Provinsi --- --- --- T 6.53 6.53
Kab/Kota/ Provinsi
7 Karakteristik Lingkungan % akses air bersih --- R --- --- 18.04 0.18
Berisiko
8 % akses jamban keluarga --- --- S --- 19.70 1.97
100
Maka hasil pemilihan 5 sub kategori Kerentanan adalah sebagai berikut:
NO SUB KATEGORI NILAI RISIKO BOBOT
1 Transportasi antar Provinzi & antar T 6,53
kabupaten/kota
2 % Akses jamban keluarga S 19.70
3 % Prilaku sehat S 8.50
4 % Cakupan Imunisasi Polio 4 R 27.99
5 % Akses air bersih R 18.04
Tabel hasil analisis risiko Polio di Kab. Kerinci untuk kategori Kapasitas yang terlihat di tools
pemetaan risiko sebagai berikut:
Nilai Risiko per
Kategori (N) *)
NILAI A R S T
BOBOT
(B)
INDEKS
(NXB)
KATEGORI SUBKATEGORI 1/1000 1/100 1/10 1
1 Kebijakan publik Kebijakan publik --- R --- --- 3.52 0.04
2 Kelembagaan Kelembagaan --- R --- --- 3.52 0.04
3 Program pencegahan dan Vaksinasi (Rutin, rantai dingin, dsb) --- --- --- T 7.75 7.75
pengendalian
4 Pengobatan --- --- --- T 2.37 2.37
5 Pengendalian lingkungan dan --- --- S --- 3.15 0.32
Perilaku
6 Kualitas program pencegahan Kualitas program pencegahan dan A --- --- --- 6.66 0.01
dan pengendalian PIE pengendalian PIE
7 Fasilitas Pelayanan Kesehatan Fasilitas Pelayanan Kesehatan A --- --- --- 3.40 0.00
8 Surveilans 8a. Surveilans (SKD) A --- --- --- 8.89 0.01
9 8b. Sasaran deteksi dini kasus Polio --- R --- --- 9.48 0.09
(human diseases surveillance)
10 8c. Pelaksanaan Deteksi Dini Polio A --- --- --- 9.08 0.01
di Fasyankes (Puskesmas)
11 8d. Pelaksanaan Deteksi Dini Polio A --- --- --- 11.20 0.01
di Fasyankes (RS)
12 8e. Pelaksanaan Deteksi dini Polio --- --- S --- 7.06 0.71
di Lingkungan
13 PE dan penanggulangan KLB PE dan penanggulangan KLB A --- --- --- 12.06 0.01
14 Kapasitas Lab Kapasitas Laboratorium A --- --- --- 1.75 0.00
15 Promosi Promosi --- --- --- T 10.10 10.10
Maka hasil pemilihan 5 sub kategori kapasitas adalah sebagai berikut:
NO SUB KATEGORI NILAI RISIKO BOBOT
1 PE dan Penanggulangan KLB A 12.06
2 8d. Pelaksanaan Deteksi Dini A 11.20
Polio Di Fasyankes ( RS )
3 8c. Pelaksanaan Deteksi Dini A 9.08
Polio di fasyankes ( Puskesmas )
4 Surveilans ( SKD ) A 8.89
5 Kualitas Program Pencegahan A 6.66
dan Pengendalian PIE
b. Menetapkan isu yang dapat ditindaklanjuti
Sub kategori Kerentanan
NO SUB KATEGORI NILAI RISIKO BOBOT
1 % Akses jamban keluarga S 19.70
2 % Cakupan Imunisasi Polio 4 R 27.99
3 % Akses air bersih R 18.04
Sub kategori Kapasitas
NO SUB KATEGORI NILAI RISIKO BOBOT
1 8d. Pelaksanaan Deteksi Dini A 9.89
Polio Di Fasyankes (Puskesmas )
2 Surveilans ( SKD ) A 8.89
3 Kualitas Program Pencegahan A 6.66
dan Pengendalian PIE
c. Inventarisasi penyebab masalah dari setiap sub kategori yang dapat ditindaklanjuti
Tabel inventarisasi penyebab masalah untuk kategori kerentanan
Sub kategori Man Method Machine Material Money
Akses jamban - Masih adanya - Kurangnya - Beberapa -
keluarga 80% keluarga yang sosialisasi keluarga Keterbatasan
menolak untuk tentang susah untuk anggaran
membuat mamfaat mendapatkan
jamban jamban alat / bahan
keluarga keluarga untuk
-Beberapa membuat
keluarga jamban
memilih buang keluarga
air besar ke
sungai
Cakupan - Masih ada - Kurangnya - Rusaknya - Vaksin -
Imunisasi Polio 4 sebagian Orang sosialisasi alat sering kosong keterbatasan
92 % tua menolak tentang pemantau anggaran
anaknya utk di mamfaat suhu vaksin untuk
beri imunisasi jamban di beberapa penjemputan
Polio 4 keluarga Puskesmas vaksin
- cold chain
berebun di
beberapa
puskesmas
Akses air bersih - Masih ada - Kurangnya - Jangkauan /
90 % kelurga tidak sosialisasi jarak air
mau untuk tentang bersih jauh
memasang atau mamfaat Air
mengambil air bersih untuk
bersih ( air kesehatan
PDAM )
Tabel inventarisasi penyebab masalah untuk kategori Kapasitas
Sub Kategori Man Method Machine Material Money
8d. Pelaksanaan Ada beberapa - kurangnya Alat untuk Alat atau Tidak ada
Deteksi Dini Polio puskesmasTidak sosialisasi sosialisasi bahan untuk anggaran
Di Fasyankes melaksanakan penyebab penyakit sosialisasi
(Puskesmas ) deteksi dini polio penyakit polio kurang
polio dipuskesmas tersedia di
kurang puskesmas.
dimamfaatka
n
Surveilans (SKD) - Kurangnya -Belum ada - Tidak ada
petugas pelatihan Anggaran
surveilans di petugas
Puskesmas dan Surveilans
Dinkes Kab. yang
Kerinci bersertifikat
- petugas di thn 2022
surveilans yg diikuti oleh
puskesmas surveilans
sering diganti- Puskesmas
ganti dan Dinkes
Kualitas Program -Petugas Belum ada SOP Keterbatasan
Pencegahan dan surveilan di pelatihan penatalaksan Anggaran
Pengendalian PIE Fasyankes surveilans aan deteksi
kurang gencar bagi dini polio di
untuk surveilans Fasyankes
melaksanakan fasyankes kurang
PE lengkap
Rangkuman poin-poin permasalahan:
a. Beberapa keluarga memilih buang air besar ke sungai
b. Masih ada sebagian Orang tua menolak anaknya utk di beri imunisasi Polio 4
c. Masih ditemui keluarga tidak mau untuk memasang atau mengambil air bersih ( air PDAM )
d. Ada beberapa PuskesmasTidak melaksanakan deteksi dini polio 4
e. Kurangnya jumlah Petugas Surveilans dan Petugas sering dimutasikan ke program lain di
Puskesmas dalam tenggang waktu yang singkat.
f. Petugas surveilans di Fasyankes kurang gencar untuk melaksanakan PE
g. Anggaran penanggulangan khusus untuk kasus Polio belum tersedia.
h. Legalisasi Petugas Surveilans
Tabel Rekomendasi
No Rekomendasi Pelaksana/PIC Timeline Keterangan
1 Melakukan sosialisasi rutin Dinkes Jan – Des
tentang Manfa’at Imunisasi Polio Puskesmas 2023
4, perilaku bersih dan sehat, Dinas
perlunya penigkatan akses Pendidikan
jamban keluarga yang sehat di 21
Puskesmas
2 Peningkatan pengetahuan dan Dinkes Jan, April,
Alokasi anggaran untuk Juli, Oktober
pengelolaan vaksin Polio 2023
3 Membuat tela’ah tentang perlunya Petugas Oktober 2023
anggaran kesiapsiagaan dan surveilans
penanggulangan Polio /petugas
/KLB/wabah imunisasi
Dinkes
4 Diperlukan SK tim Surveilans /
TGC Dinas Kesehatan Kab.
Kerinci
KEPALA DINAS KESEHATAN
KABUPATEN KERINCI
H. HERMENDIZAL,SE,SKM,MM
NIP.19690116 198803 1 001