0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan43 halaman

Pengaruh K3 Terhadap Penggunaan APD

Tugas akhir ini membahas hubungan antara pengetahuan tentang penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) terhadap penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di PT Bukit Asam Tbk, khususnya di site Bangko Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui program pelaksanaan K3 dan dampaknya terhadap penggunaan APD untuk mengurangi kecelakaan kerja. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna bagi perusahaan dan peneliti dalam meningkatkan keselamatan kerja.

Diunggah oleh

arla.arief09
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan43 halaman

Pengaruh K3 Terhadap Penggunaan APD

Tugas akhir ini membahas hubungan antara pengetahuan tentang penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) terhadap penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di PT Bukit Asam Tbk, khususnya di site Bangko Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui program pelaksanaan K3 dan dampaknya terhadap penggunaan APD untuk mengurangi kecelakaan kerja. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna bagi perusahaan dan peneliti dalam meningkatkan keselamatan kerja.

Diunggah oleh

arla.arief09
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS AKHIR

HUBUNGAN PENGETAHUAN PENGARUH


PENERAPAN K3 TERHADAP PENGGUNAAN ALAT
PELINDUNG DIRI (APD) SITE BANGKO BARAT DI
PT BUKIT ASAM TBK

HANDO PRAYUDA
2021310012

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PRABUMULIH
2023
TUGAS AKHIR

HUBUNGAN PENGETAHUAN PENGARUH


PENERAPAN K3 TERHADAP PENGGUNAAN ALAT
PELINDUNG DIRI (APD) SITE BANGKO BARAT DI
PT BUKIT ASAM TBK

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Ahli Madya
Pada Program Studi Teknik Pertambangan
Fakultas Teknik Universitas Prabumulih

HANDO PRAYUDA
2021310012

Dosen Pembimbing:
[Link] Gumanti,S.T., M.T.
[Link] Eka Permatasari, [Link]., [Link].

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PRABUMULIH
2023
ii

HALAMAN PENGESAHAN

HUBUNGAN PENGETAHUAN PENGARUH


PENERAPAN K3 TERHADAP PENGGUNAAN ALAT
PELINDUNG DIRI (APD) SITE BANGKO BARAT DI
PT BUKIT ASAM TBK

TUGAS AKHIR

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Ahli Madya
Pada Program Studi Teknik Pertambangan
Fakultas Teknik Universitas Prabumulih

Oleh:

HANDO PRAYUDA
2021310012

Prabumulih, .........................
Pembimbing I Pembimbing II

Suhardiman Gumanti, S.T., M.T. Syelly Eka Permatasari, [Link]., [Link].


NIY. 197002211999100001 NIY. 2199206142019020065

Ketua Program Studi


Teknik Pertambangan

Ridho Yovanda, S.T., M.T.


NIY. 19930918 202109 0070

ii
iii

HALAMAN PERSETUJUAN

Proposal Tugas Akhir dengan judul “Hubungan Pengetahuan Pengaruh Penerapan


(K3) Terhadap Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Site Bangko Barat di
[Link] Asam Tanjung Enim Sumatera Selatan” telah diseminarkan di hadapan
Tim Penguji Seminar Proposal Tugas Akhir Program Studi Teknik Pertambangan
Fakultas Teknik, Universitas Prabumulih pada hari Selasa Tanggal 5 Desember
2023, dan telah diperbaiki, diperiksa, serta disetujui sesuai dengan masukan Tim
Penguji Sidang Proposal Tugas Akhir.

Prabumulih, 5 Desember 2023

Tim Penguji Sidang Proposal Tugas Akhir


Ketua :
1. Ahmad Husni, S.T., M
NIY. 196910061999100003
Anggota :
2. Dr. Yuniar Pratiwi, [Link]. [Link]
NIY. 199106062016080059
3. Suhardiman Gumanti, S.T.,M.
NIY. 19700221199910000
4. Reni Arisanti, S.T., M.T.
NIY. 197701072014090041

Ketua Program Studi


Teknik Pertambangan

Ridho Yovanda, S.T., M.T.


NIY. 19930918 202109 0070

iii
iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul
“Hubungan Pengetahuan Pengaruh Penerapan K3 Terhadap Penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD)” Tugas akhir ini merupakan salah satu syarat untuk
mendapatkan gelar Ahli Madya di program studi Teknik Pertambangan Fakultas
Teknik Universitas Prabumulih. Penulis banyak menerima bantuan, arahan, dan
bimbingan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima
kasih kepada:
1. Bapak Suhardiman Gumanti, S.T., M.T. sebagai Pembimbing I.
2. Ibu Selly Eka Permatasari, [Link]., [Link]. sebagai pembimbing II.
3. Bapak/Ibu sebagai Tim Penguji I
4. Bapak/Ibu sebagai Tim Penguji II
5. Bapak Ridho Yovanda, S.T.,M.T. selaku Ketua Program Studi Teknik
Pertambangan
6. Ibu Dr. Yuniar Pratiwi, S,Si., [Link] selaku Rektor Universitas Prabumulih
7. Bapak Ahmad Husni, S.T.,M.T. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas
Prabumulih.
8. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Teknik Pertambangan Fakultas Teknik
Universitas Prabumulih.
9. Bapak/Ibu staf administrasi Fakultas Teknik Universitas Prabumulih.
10. Kepala Teknik Tambang, Pimpinan, dan seluruh Staf PT Bukit Asam yang
telah memberikan izin dan membantu untuk melakukan penelitian.
[Link] orang tua serta keluarga penulis yang selalu memberikan semangat dan
doa.
12. Rekan-rekan Mahasiswa Program Studi Teknik Pertambangan Fakultas
Teknik Universitas Prabumulih khususnya angkatan 2021 serta semua pihak yang
telah membantu penulis dalam menyelesaikan proposal tugas akhir ini yang tidak
dapat penulis sebutkan satu persatu.

iv
v

Penulisan proposal tugas akhir ini masih terdapat kekurangan yang belum
penulis sadari. Kritik dan saran yang bersifat membangun penulis harapkan dari
semua pihak untuk kesempurnaan proposal tugas akhir ini. Akhir kata penulis
berharap semoga proposal tugas akhir ini dapat memberikan manfaat bagi penulis
dan pembaca. Aamiin.

Prabumulih, 15 November 2023

HANDO PRAYUDA
2021310012

v
vi

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL.......................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN............................................................................ ii
HALAMAN PERSETUJUAN.......................................................................... iii
KATA PENGANTAR........................................................................................ iv
DAFTAR ISI ...................................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... viii
DAFTAR TABEL.............................................................................................. ix
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... x
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
1.2 Batasan Masalah ................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................. 2
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................................ 2
1.5 Tahapan Penelitian ................................................................................
1.6 Alokasi Waktu Kegiatan Penelitian ......................................................
1.7 Bagan Alir Penelitian ............................................................................
BAB II TINJAUAN UMUM ............................................................................
2.1 Sejarah Singkat Perusahaan ..................................................................
2.2 Visi dan Misi PT Bukit Asam Tbk .......................................................
2.3 Lokasi PT Bukit Asam Tbk ..................................................................
2.4 Struktur Organisasi ...............................................................................
2.5 Pembagian Unit Wilayah Penambangan PT Bukit Asam Tbk .............
2.6 Keadaan Geologi ..................................................................................
2.6.1 Topografi Daerah dan Morfologi..................................................
2.6.2 Kondisi Geologi dan Statigrafi ....................................................
2.6.3 Geologi Regional .........................................................................
2.6.4 Stratigarifi Regional .....................................................................
2.7 Iklim dan Curah Hujan ..........................................................................
2.7.1 Iklim .............................................................................................
2.2.2 Curah Hujan..................................................................................

vi
vii

BAB III TINJAUAN PUSTAKA .....................................................................


3.1 Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) ...............................................
3.2 Penyebab dan Pencegahan Kecelakan Kerja ........................................
3.3 Budaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Lingkungan Kerja.........
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................
4.1 Pengaruh Keselamatan Kerja (K3) Terhadap Alat Pelindung Diri .......
4.1.1 Jumlah Pekerja dan Jadwal Kerja ................................................
4.1.2 Indetifikasi Potensi Bahaya .........................................................
4.1.3 Ketersedian Peralatan dan Perlengkapan K3 Perusahaan ............
4.2 Pelaksanaan Progam K3 di [Link] Asam Tbk ..................................
BAB V PENUTUP .............................................................................................
5.1 Kesimpulan ...........................................................................................
5.2 Saran .....................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

vii
viii

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1.1 Bagan Alir Penelitian .....................................................................
Gambar 2.1 Peta Lokasi PT Bukit Asam Tbk ....................................................
Gambar 2.2 Struktur Organisasi PT Bukit Asam Tbk .......................................
Gambar 2.3 Peta Geologi Regional ....................................................................
Gambar 4.1 Pemasangan Rambu-Rambu...........................................................
Gambar 4.2 Pemeriksaan P2H............................................................................
Gambar 4.3 Pelaksanaan Safety Talk..................................................................
Gambar 4.4 Mine Permit Access........................................................................

viii
ix

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1.1 Kegiatan Penelitian.............................................................................
Tabel 4.1 Jumlah Pekerja PT Bukit Asam dan Mitra Kerja ...............................
Tabel 4.2 Jadwal Pekerja PT Bukit Asam dan Mitra Kerja ...............................
Tabel 4.3 Indetifikasi Potensi Budaya ...............................................................
Tabel 4.4 Jumlah Alat Pelindung Diri (APD).....................................................

ix
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran A Peta IUP PT Bukit Asam Tbk.......................................................2
Lampiran B APD dan Keperluannya................................................................3
Lampiran C Pengendalian Resiko...................................................................41

x
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia adalah negara berkembang . Salah satu fokus yang sedang

di lakukan pemerintahan saat ini adalah meningkatkan sektor perekonomian

. Di zaman pertumbuhan perekonomian indonesia terdapat pertumbuhan

industri, pertumbuhan sektor industri memberikan konstribusi besar bagi

perkembangan produk domestik pada sektor industri pengolahan. Sektor

industri juga menyerap banyak tenaga kerja akan tetapi, peningkatan sektor

industri ini harus di ikuti dengan penjaminan keselamatan dan kesehatan

kerja (K3) yang baik, risiko kecelakaan yang mungkin terjadi di sektor

industri membawa dammpak negatif pada perusahaan-perusahaan yang ada

di indonesia.

PT. Bukit Asam merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di

bidang energi dan pertambangan batu bara. PT Bukit Asam termasuk yang

memperhatikan aspek K3 dalam pengelolahan proses bisnis. Perusahaan ini

mempunyai sistem manajemen terintegrasi yang memperhatikan tiga aspek

manajemen yang salah satunya sistem manajemen keselamatan dan

kesehatan kerja. Pengaruh Penerapan budaya Kesehatan dan Keselamatan

Kerja (K3) dengan baik akan membuat angka kecelakaan kerja menurun,

seperti setiap karyawan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai

dengan standar yang telah di tetapkan perusahaan.

Pelaksanaan manajemen k3 berperan penting bagi perusahaan karena

menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja. PT Bukit


2

Asam mengeluarkan golden rules yaitu sebuah peraturan yang mengatur

sanksi terhadap pelanggaran k3 di lingkungan kerja khususnya area

tambang. Kontraktor yang tidak mematuhi peraturan k3 yang berlaku dapat

di beri sanksi langsung kepada pihak yang terkait. Salah satu alasan

penerapan golden rules adalah masih banyak karyawan atau kontraktor

yang tidak mematuhi peraturan k3 di lingkungan perusahaan terutama

penggunaan alat pelindung diri.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk

melakukan penelitian membahas tentang Analisis Penererapan Keselamata

dan Kesehatan Kerja Terhadap Alat Pelindung Diri (APD) di Site Banko

Barat PT Bukit Asam TBK Tanjung Enim Sumatra Selatan.

[Link] Masalah

Batasan masalah dalam penelitian ini membahas Hubungan

pengetahuan pengaruh penerapan (K3) terhadap penggunaan alat pelindung

diri (APD) pada Tambang Banko Barat.

[Link] Penelitian

Adapun tujuan penelitian yang dilakukan di perusahaan Tambang

Banko Barat ,PT Bukit Asam Tbk adalah sebagai berikut:

1. Untuk Mengetahui Progam Pelaksanaan Keselamatan Kerja (K3) di

PTBA Tambang Banko Barat.

2. Mengetahui pengaruh pelaksanaan kerja keselamatan kerja (k3) terhadap

penggunaan alat pelindung diri (APD) di Tambang Banko Barat.


3

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian dimulai ketika ingin mengetahui sesuatu. Penelitian

dilakukan untuk meningkatkan pemahaman kita. Penelitian memberikan

informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah

dan membuat keputusan. Manfaat penelitian adalah kegunaan hasil

penelitian nanti, baik bagi kepentingan pengembangan program maupun

kepentingan ilmu pengetahuan.

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi Perusahaan

Dapat memberikan informasi tentang cara menerapkan Hubungan

pengetahuan pengaruh penerapan K3 terhadap penggunaan alat pelindung

diri (APD) SITE Banko Barat di PT Bukit Asam Tbk sehingga

meminimalisir kecelakaan dan sakit yang diakibatkan kerja.

2. Bagi Peneliti

Informasi tentang penelitian Hubungan pengetahuan pengaruh penerapan

K3 terhadap penggunaan alat pelindung diri (APD) SITE Banko Barat di PT

Bukit Asam Tbk digunakan untuk membantu peneliti mengembangkan

kemampuan dalam upaya mengoptimasi dan menambah wawasan bagi

peneliti maupun pembaca.


1.3 Tahapan Penelitian

Metode yang penulis gunakan untuk mengambil data yang dibutuhkan untuk

keperluan penyelesaian proposal tugas akhir ini:

1. Observasi Lapangan

Observasi lapangan adalah kegiatan yang berupa kunjungan dan pengamatan

langsung. Tujuan dari observasi langsung untuk mengumpulkan data yang

terkait dengan penelitian Tugas Akhir. Data dapat berupa data primer dan data

sekunder.

2. Pengambilan Data

Mencatat serta mengumpulkan informasi yang didapatkan di lapangan pada

saat observasi maupun informasi yang didapatkan dari perusahaan langsung.

a. Data Primer

1) Data kelengkapan APD.

2) Data kecelakaan kerja dalam 2 tahun terakhir.

3) Data jumlah pekerja.

4) Data pergantian shift pekerja.

b. Data Sekunder

1) Curah hujan.

2) Jam kerja.

3) Peta topografi.

2. Pengolahan Data

Pengolahan data dapat dilakukan dengan meneliti hasil di lapangan. Untuk

memperjelas tahapan pengolahan data buat diagram alir pengolahan data.

3. Rekomendasi dan Kesimpulan


5

Dilakukan dengan Tujuan agar dapat memperoleh kesimpulan sementara.

Kemudian kesimpulan sementara akan diolah lebih pada bagian pembahasan.

Kesimpulan ini merupakan hasil akhir untuk dijadikan acuan dari semua

masalah yang akan dibahas.

1.4 Alokasi Waktu Kegiatan Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini dilakukan selama 2 bulan, yaitu mulai

Fabruari sampai dengan Mei 2024 pada PT Bukit Asam Tbk:

1.3 Bagan Alir Penelitian


Bagan alir dari kegiatan penelitian yang dilakukan disesuaikan dengan
tahapan dari penelitian (Gambar 1.1)

Studi Literatur

Pengumpulan data

Data yang terkumpul berupa data primer dan sekunder, data


primer diperoleh dari observasi dan wawancara. Data sekunder
berupa data jumlah pekerja berdasarkan umur kerja.

Pengolahan Data

Hasil dan Pembahasan

Kesimpulan

Sumber: Penulis (2024)


Gambar 1.1 Bagan Alir Penelitian

BAB II
6

TINJAUAN UMUM

2.1 Sejarah Singkat Perusahaan

Bukit Asam Tbk (PTBA) didirikan tanggal 02 Maret 1981. Pada tahun

1993, Bukit Asam Tbk di tunjuk oleh Pemerintah Indonesia untuk

mengembangkan Satuan Kerja Perusahaan Briket. Sejarah PT. Bukit Asam,

Tbk di mulai sejak zaman kolonial Belanda pada tahun 1919 dengan

menggunakan metode penambangan terbuka (open pit mining) dan

penambangan bawah tanah (underground mining) di beberapa lokasi

operasi penambangan dengan luas wilayah sekitar 3.000 ha. Pada periode

tahun 1923 hingga 1940, Tambang Air Laya mulai menggunakan metode

penambangan bawah tanah. Pada periode tersebut mulai di lakukan

produksi untuk kepentingan komersial, tepatnya sejak tahun 1938.

Seiring dengan berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda di tanah air,

para karyawan Indonesia kemudian berjuang menuntut perubahan status

tambang menjadi pertambangan nasional. Pada 1950, Pemerintah Republik

Indonesia kemudian mengesahkan pembentukan Perusahaan Negara

Tambang Arang Bukit Asam (PN TABA). Pada tanggal 1 Maret 1981, PN

TABA kemudian berubah status menjadi Perseroan Terbatas dengan nama

PT Bukit Asam (Persero), yang selanjutnya disebut PTBA atau Perseroan.

Dalam rangka meningkatkan pengembangan industri batu bara di Indonesia,

pada 1990 Pemerintah menetapkan penggabungan Perum Tambang

Batubara dengan Perseroan.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan PTBA


7

dan entitas anaknya (grup) adalah bergerak dalam bidang industri tambang

batubara dan aktivitas terkait, meliputi kegiatan penyelidikan umum,

eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, pemurnian, pengangkutan dan

perdagangan, pengelolaan fasilitas dermaga khusus batubara baik untuk

keperluan sendiri maupun pihak lain, pengoperasian pembangkit listrik

tenaga uap baik untuk keperluan sendiri ataupun pihak lain dan memberikan

jasa-jasa konsultasi dan rekayasa dalam bidang yang ada hubungannya

dengan industri pertambangan batubara beserta hasil olahannya, bidang

pengembangan perkebunan, dan bidang pelayanan kesehatan saat ini

kegiatan utama grup PTBA adalah bidang industri tambang batubara,

meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan,

pemurnian, pengangkutan dan perdagangan, pemeliharaan fasilitas dermaga

khusus batubara baik untuk keperluan sendiri maupun pihak lain,

pengoperasian pembangkit listrik tenaga uap baik untuk keperluan sendiri

ataupun pihak lain dan memberikan jasa-jasa konsultasi dan rekayasa dalam

bidang yang ada hubungannya dengan industri pertambangan batubara

beserta hasil olahannya. Selain itu, grup PTBA juga menjalankan kegiatan

lainnya, yaitu jasa kontraktor, pengolahan briket, perkebunan sawit, dan

pengolahan sawit dan jasa kesehatan.

2.2 Lokasi PT Bukit Asam Tbk


Lokasi Kesampaian Daerah PT. Pamapersada Nusantara berjarak ± 200
km dari Palembang ke Tanjung Enim. Waktu tempuh dengan jalur udara
adalah ± 1 jam dari Jakarta ke Palembang, dan dengan jalur darat adalah ± 5
jam dari Palembang ke Tanjung Enim. Dari Tanjung Enim ke kantor PT
Pamapersada Nusantara berjarak ± 20 km dan waktu tempuh ± 30 menit.
8

Gambar 2.1 Peta Lokasi PT Bukit Asam Tbk

2.3 Pembagian Unit Wilayah Penambangan PT Bukit Asam Tbk

Unit Penambangan Tanjung Enim (UPTE) di bagi dalam beberapa Site


di wilayah Izin Usaha Penambangan (IUP) yaitu sebagai berikut :
1. Tambang Air Laya (TAL)
TAL merupakan Site terbesar pada PT. Bukit Asam, Tbk dengan luas
WIUP 7.621 ha. Pada Lokasi TAL PT. Bukit Asam, Tbk menggunakan
BWE (Bucket Wheel Excavator) dengan metode Shovel – dump truck
(menggunakan Excavator dan Dump truck). Pada BWE sepenuh nya di
laksanakan oleh PT. Bukit Asam, Tbk. Sedangkan pada metode Shovel
– Dump truck di laksanakan oleh pihak ketiga (kontraktor) yaitu PT.
Pama Persada Nusantara.
2. Tambang Banko Barat
Tambang Banko Barat memiliki luas WIUP 4.500 ha. Tambang Banko
Barat saat ini terdiri atas 5 lokasi pertambangan, yaitu Pit -1, Pit -2, Pit -
3, Pit -E, Pit - SJS. Dimana penambangan tersebut dengan menggunakan
jasa kontraktor, dalam hal peminjaman alat berat dengan PT. BKPL, PT.
SBS, dan PT. PPA dengan sistem Contracti Mining yang diawasi oleh
PT. Bukit Asam, Tbk.
3. Tambang Muara Tiga Besar (MTB)
MTB memiliki luas area 3.300 ha. Pada tambang ini, operasi
9

penambangan dilakukan menggunakan metode Shovel – Dump truck


dan BWE sistem. MTB dibagi menjadi dua, yaitu Muara Tiga Besar
Utara (MTBU) dan Muara Tiga Besar Selatan (MTBS), dimana pada
MTBU penambangan di kerjakan dan di kelola oleh PT. Pama Persada
Nusantara yang diawasi oleh PT. Bukit Asam, [Link] BWE
sistem hanya digunakan pada TemporaryStockpile.
2.4 Struktur Organisasi
Struktur organisasi PT. Bukit Asam, Tbk dapat dilihat pada Gambar 2.2

Sumber : PT Bukit Asam Tbk


Gambar 2.2 Struktur Organisasi PT Bukit Asam Tbk
11

2.4 Keadaan Geologi


2.4.1 Topografi Daerah dan Morfologi
Dataran rendah menempati sisi bagian Selatan, yaitu daerah yang
terdapat aliran sungai - sungai kecil yang bermuara di Sungai Lawai dan
Sungai Lematang dengan ketinggian ± 50 m di atas permukaan laut. Elevasi
terendah terletak di Mine Sump Pre Bench utara dengan elevasi -90
dibawah permukaan laut. Daerah perbukitan terdapat di bagian Barat
terletak di puncak bukit asam dengan elevasi tertinggi ± 282 m di atas
permukaan laut. Pada kedua daerah ini banyak di jumpai vegetasi yang
sebagian besar merupakan tumbuhan hutan tropika dan semak belukar. Pada
umum nya kondisi topografi di daerah Banko Barat umum nya
bergelombang dengan ketinggian 60 m sampai 110 m di atas permukaan
laut, terdiri atas sungai, hutan, lembah dan beberapa areal pertanian,
perkebunan karet dan daerah perumahan penduduk.

2.5.2. Kondisi Geologi dan Statigrafi


Daerah penambangan PT. Bukit Asam, Tbk termasuk dalam zona
fisiografis cekungan Sumatra Selatan. Litologi utama yang di jumpai adalah
formasi Muara Enim sebagai pembawa batubara

2.1.1 Kondisi Geologi Regional


Menurut para ahli struktur Geologi Regional pulau Sumatera
terutama Sumatera Selatan merupakan bagian dari pola geologi yang di
kontrol oleh pergerakan lempeng Benua Asia yang bertumbukan dengan
lempeng Samudra Hindia - Australia, salah satu nya yaitu cekungan
Sumatera. Cekungan Sumatera Selatan merupakan salah satu dari cekungan
- cekungan yang terbentuk dimana klasifikasi tektonik di Indonesia
termasuk gerak rotasi yang berlawanan arah jarum jam sebesar 42 º.
Geologi Regional daerah PT. Bukit Asam, Tbk termasuk ke dalam Sub -
Cekungan Palembang yang merupakan bagian dari Cekungan Sumatera
Selatan dan terbentuk pada zaman tersier. Sub - Cekungan Sumatera Selatan
12

yang di endapkan selama zaman Kenozoikum terdapat urutan litologi yang


terdiri dalam 2 kelompok, yaitu Kelompok Telisa dan Kelompok
Palembang. Kelompok Telisa terdiri dari Formasi Lahat, Formasi Talang
Akar, Formasi Baturaja dan Formasi Gumai. Sedangkan kelompok
Palembang terdiri dari Formasi Air Benakat, Formasi Muara Enim dan
Formasi Kasai.

Sumber : PT Bukit Asam Tbk


Gambar 2.3 Peta Geologi Regional
2.1.2 Kondisi Statigrafi Regional
Endapan Tersier pada cekungan Sumatera Selatan dari yang tua
sampai dengan yang muda dapat di pisahkan menjadi beberapa formasi,
yaitu antara lain :
1. Formasi Lahat Formasi ini terdiri dari sedimen klastik yang berasal dari
material vulkanik, tersusun atas tuff, aglomerat, batu pasir kasar, batu
lempung, batu pasir tufaan, dan breksi. Ketebalan formasi ini berkisar
antara 0 – 300 m.
2. Formasi Talang Akar
Formasi ini terdiri dari anggota Gritsand. Anggota Gritsand terdiri dari
batu pasir halus hingga sangat kasar dengan interkalasi serpih dan
lanau. Formasi ini berumur Oligoasen dengan ketebalan 550 m.
3. Formasi Baturaja
Formasi ini berumur Mioesen bawah yang tersusun atas batu lempung
berlapis, dan batu lempung terumbu. Ketebalan formasi berkisar antara
0 – 160 m.
4. Formasi Gumai
Formasi ini di endapkan selaras di atas formasi Baturaja dan anggota
transisi Foramina Fera dengan sisipan batu pasir gampingan pada
bagian bawah. Selain itu ada juga sisipan batu gamping pada bagian
tengah dan atasnya. Ketebalan formasi ini mencapai 200 – 500 m.

5. Formasi Air Benakat


Formasi ini berumur Miosen tengah dan tersusun atas lempung pasiran
dan batu pasir anglau kolitan. Formasi ini memiliki ketebalan kurang
dari 60 m. 6. Formasi Muara Enim Formasi Muara Enim ini berumur
Miosen atas yang tersusun oleh batu pasir lempungan, batu lempung
pasiran, dan batubara. Formasi ini merupakan hasil pengendapan
lingkungan laut neritik sampai rawa dengan ketebalan berkisar antara
150 – 750 m.

Universitas Prabumulih
14

7. Formasi Kasai
Formasi Kasai di endapkan selaras di atas formasi Muara Enim dengan
ketebalan 850 – 1.200 m. Formasi ini tersusun oleh batu pasir tufan
tefrari olitik di bagian bawah. Bagian atas terdiri tuf pumice kaya
kuarsa, batu pasir, konglomerat, tuf pasiran mengandung pumice dan
tuf berwarna abu – abu kekuningan, banyak di jumpai sisa tumbuhan
dan lapisan lignit serta kayu.

Universitas Prabumulih
15

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

3.1.1. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Budaya K3 merupakan kombinasi dari sikap-sikap, nilai-nilai,

keyakinan- keyakinan, norma-norma dan persepsi dari para pekerja dalam

sebuah organisasi yang memiliki keterkaitan secara bersama terhadap K3,

perilaku selamat dan penerapannya secara praktis dalam proses produksi

(Clarke, 2000).

Berikut definisi K3 menurut para ahli:

1. Menurut Simanjuntak (1994), Keselamatan kerja adalah kondisi

keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan dimana

kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin,

peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja.

2. Menurut Jackson (1999), menjelaskan bahwa Kesehatan dan

Keselamatan Kerja menunjukkan kepada kondisi-kondisi fisiologis-

fisikal dan psikologis tenaga kerja yang diakibatkan oleh lingkungan

kerja yang disediakan oleh perusahaan.

3. Menurut Suma’mur (2001), keselamatan kerja merupakan rangkaian

usaha untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi

para karyawan yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan.

4. Menurut Mathis dan Jackson (2002), menyatakan bahwa Keselamatan


adalah merujuk pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik
seseorang terhadap cedera yang terkait dengan pekerjaan. Kesehatan

Universitas Prabumulih
16

adalah merujuk pada kondisi umum fisik, mental dan stabilitas emosi
secara umum.
5. Menurut Mangkunegara (2002), Keselamatan dan kesehatan kerja
adalahsuatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan
kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada
khususnya manusia.
Menurut para ahli tentang pengertian budaya Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3) penulis dapat menyimpulkan bahwa keselamatan
kerja adalah kondisi keselamatan yang bebas dari risiko kecelakaan dan
kerusakan yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin,
peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja. Budaya Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3) tidak hanya menjadi tugas dan tanggung jawab
pihak manajemen atau perusahaan, namun menjadi tugas dan tanggung
jawab bersama seluruh elemen didalam perusahaan untuk memupuk nilai
K3, sehingga setiap individu di perusahaan nantinya dapat menjaga sikap
dan perilaku agar seuai dengan norma K3.

3.1.2. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Dalam Bidang


Pertambangan
Keselamatan Kerja sangat penting dalam sebuah perusahaan karena
bertujuan untuk mengurangi tingkat kecelakaan kerja. Menurut Bangun
(2012) keselamatan kerja yaitu perlindungan atas keamanan kerja yang
dialami karyawan, baik fisik maupun mental dalam lingkungan
pekerjaannya. Mangkunegara (2009) dalam Anjani, et al. (2014)
keselamatan kerja menunjukan kondisi yang aman atau selamat dari
penderitaan, kerusakan atau kerugian di tempat kerja
Definisi – definisi diatas dapat disimpulkan bahwa keselamatan
kerja adalah suatu upaya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja
sehingga karyawan dapat merasakan kondisi yang aman dan selamat dari
kerusakan atau kerugian ditempat kerja. Usaha pencegahan tersebut dapat
ditinjau dari dua faktor yaitu, faktor lingkungan secara fisik dan faktor lingkungan
secara psikologis

Universitas Prabumulih
17

3.1.3. Penyebab dan Pencegahan Kecelakaan Kerja


Kejadian – kejadian yang telah terjadi pada berbagai peristiwa yang
dapat menimbulkan kecelakaan kerja, menurut Bangun (2012) terdapat tiga
penyebab timbulnya kecelakaan kerja, antara lain:
a. Perilaku karyawan itu sendiri Sering terjadi perlakuan karyawan, seperti
mengerjakan pekerjaan dengan ceroboh, tidak mematuhi peraturan kerja,
tidak mematuhi standard operation procedure (SOP), dan tidak
menggunakan alat pelindung diri, yang kebanyakan sebagai penyebab
timbulnya kecelakaan kerja.
b. Kondisi yang tidak aman
Kondisi yang tidak aman merupakan penyebab terjadinya kecelakaan
kerja yang bersumber dari lingkungan pekerjaan. Faktor-faktor tersebut
antara lain peralatan yang rusak, peralatan yang tidak diamankan dengan
baik, penerangan yang tidak baik, tempat penyimpanan barang atau
peralatan yang tidak aman, dan penempatan letak barang atau peralatan
yang tidak aman. Kebanyakan pekerja yang mengalami kecelakaan kerja
adalah tidak menggunakan alat pelindung dan peralatan yang semestinya
digunakan, kecerobohan, bekerja tidak sesuai prosedur kerja, dan
kurangnya pengetahuan dan pengalaman kerja. Supervisor dituntut agar
dapat mengawasi pekerja untuk melakukan seluruh petunjuk kerja dalam
mengurangi risiko kecelakaan kerja.
c. Tindakan tidak aman
Faktor ini merupakan tindakan manusia sebagai penyebab kecelakaan
kerja. Kebanyakan karyawan mengalami kecelakaan kerja diakibatkan
oleh tindakan manusia atau karyawan itu sendiri, seperti dalam
melaksanakan pekerjaan tidak mengikuti petunjuk penggunaan alat atau
material, tidak menggunakan pelindung diri, membuang benda
sembarangan, tidak mengamankan peralatan dengan baik, bekerja pada
posisi dan kecepatan tidak aman, dan bekerja dengan ceroboh. Menurut
uraian penyebab timbulnya kecelakaan kerja di atas, suatu keharusan
bagi setiap perusahaan untuk melakukan pencegahan atas kecelakaan kerja
dalam menjamin keamanan dan kenyamanan kerja.

Universitas Prabumulih
18

Menurut Bangun (2012) terdapat enam tindakan mencegah kecelakaan kerja,


yaitu:
a. Pendidikan Karyawan Tujuan utama bidang keselamatan kerja adalah
mencegah timbulnya kecelakaan kerja yang dialami karyawan. Karyawan
perlu diberikan pendidikan untuk mengetahui prosedur kerja yang benar dan
memahami peraturan – peraturan tentang keselamatan kerja. Kebanyakan
karyawan di Indonesia mengalami kecelakaan kerja disebabkan kurangnya
pengetahuan tentang pekerjaan, sehingga kurang memahami prosedur kerja
dan penggunaan peralatan dengan baik.
b. Mengurangi kondisi yang tidak aman Kebanyakan timbulnya kecelakaan
kerja diakibatkan situasi di lingkungan kerja, seperti menggunakan peralatan
yang tidak layak pakai, kondisi gudang yang tidak aman, kurangnya
penerangan, dan lain sebagainya. Kondisi seperti ini berkaitan dengan kondisi
fisik, merupakan tanggung jawab supervisor dan manajer memperbaiki untuk
memperkecil tingkat kecelakaan.
c. Seleksi dan penempatan karyawan Seleksi karyawan merupakan proses untuk
mencari karyawan yang sesuai dengan sifat – sifat pekerjaan. Karyawan akan
berhasil mengerjakan pekerjaannya jika memiliki pengetahuan, keterampilan
dan kemampuan yang sesuai dengan persyaratan pekerjaan. Kesalahan dalam
memilih karyawan pada suatu pekerjaan dapat menimbulkan kecelakaan kerja
yang dapat menyebabkan kerugian bukan hanya sepihak.
d. Pelatihan karyawan Pelatihan sebagai pengganti pengalaman kerja.
Kurangnya keterampilan karyawan merupakan salah satu penyebab timbulnya
kecelakaan kerja. Karyawan baru dalam sebuah perusahaan perlu diberikan
pelatihan agar dapat memahami pekerjaannya dengan baik. Karyawan lama
perlu diberikan pelatihan untuk tujuan peningkatan pekerjaan atau
perpindahan pekerjaan lain.
e. Kualitas supervisor Pengawasan atas pekerjaan karyawan dalam perusahaan
sangat menentukan hasil kerja dan keamanan kerja karyawan. Tidak sedikit
bahwa kurangnya kualitas supervisor dapat menyebabkan timbulnya
kecelakaan kerja. Karyawan sangat membutuhkan bimbingan dan arahan dari
supervisor untuk dapat memahami pekerjaan mereka.

Universitas Prabumulih
19

f. Ergonomik Berbagai jenis peralatan yang digunakan untuk memperoleh hasil


kerja yang diinginkan, kesalahan dalam menggunakan peralatan dan
lingkungan lain yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut dapat
menyebabkan kecelakaan kerja. Suatu tindakan untuk mengatasi
permasalahan itu melalui ergonomik, yaitu menyesuaikan mesin dan
lingkungan dengan keahlian yang dimiliki karyawan..
3.2 Budaya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di Lingkungan Kerja
Budaya K3 di lingkungan kerja adalah suatu sikap, nilai, dan norma yang
mendorong keamanan dan kesehatan kerja. Budaya K3 pada dasar nya adalah
strategi dalam upaya perlindungan pekerja dan keberlangsungan usaha. Budaya
K3 yang baik akan menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi
semua pekerja.
Budaya K3 terdiri dari beberapa ciri, yaitu:
1. Kepemimpinan yang proaktif dalam K3. Pimpinan perusahaan harus memiliki
komitmen yang kuat terhadap K3 dan menunjukkannya melalui tindakannyata.
2. Karyawan yang sadar K3. Karyawan harus memahami pentingnya K3 dan
menerapkannya dalam pekerjaan sehari-hari.
3. Sistem K3 yang efektif. Perusahaan harus memiliki sistem K3 yang efektif
untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
4. Lingkungan kerja yang aman dan sehat. Perusahaan harus menyediakan
lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi karyawan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi budaya K3, antara lain:
1. Meningkatnya keselamatan dan kesehatan kerja. Budaya K3 yang baik
akan mencegah terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
2. Meningkatkan produktivitas. Lingkungan kerja yang aman dan sehat akan
meningkatkan produktivitas karyawan.
3. Meningkatkan citra perusahaan. Perusahaan yang memiliki budaya K3 yang
baik akan memiliki citra yang positif di mata masyarakat.
Beberapa contoh penerapan budaya K3 di tempat kerja, antara lain:

1. Pimpinan perusahaan memberikan pengarahan K3 kepada karyawan secara


rutin.
2. Karyawan menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai dengan standar.
3. Perusahaan menyediakan fasilitas K3 yang memadai, seperti tempat ibadah,
Universitas Prabumulih
20

ruang makan, dan tempat parkir.


4. Perusahaan mengadakan pelatihan K3 bagi karyawan secara berkala.
5. Perusahaan memberikan penghargaan kepada karyawan yang berprestasi dalam
penerapan K3. Penerapan budaya K3 harus dilakukan secara berkelanjutan
untuk menciptakanlingkungan kerja yang aman dan sehat bagi semua pekerja.

3.2 Alat Pelindung Diri (APD)


Alat pelindung diri (APD) adalah kelengkapan yang wajib digunakan saat
bekerja sesuai bahaya dan risiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu
sendiri dan orang di sekelilingnya.

3.2.1 Alat-Alat Pelindung Diri (APD) Dalam Aktifitas Pertambangan


Alat pelindung diri adalah kelengkapan yang wajib di gunakan saat bekerja
sesuai bahaya dan risiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan
orang lain di sekelilingnya.T ambang merupakan aktivitas yang sangat berisiko.
Oleh karena itu keselamatan kerja harus menjadi prioritas utama. Pemerintah
melalui Kementerian Ketenagakerjaan juga telah mengeluarkan Peraturan Menteri
Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indonesia No. Per.08/Men/VII/2010. Peraturan ini
menyebutkan bahwa alat pelindung diri (APD) harus disediakan oleh setiap
pemberi kerja. Alat pelindung ini terbagi dalam beberapa kategori. Untuk lebih
jelasnya, silahkan pahami setiap alat pelindung diri untuk aktivitas
pertambanganan.
Alat pelindung diri (APD) merupakan kelengkapan yang wajib digunakan
saat bekerja sesuai bahaya dan resiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja
dan orang disekelilingnya. Kewajiban ini sudah disepakati oleh pemerintah
melalui Departemen Tenaka Kerja republic Indonesia. Alat pelindung diri (APD)
merupakan alat yang sangat penting untuk menunjang kesehatan dan keselamatan
kerja bagi pekerja terutama untuk yang bekerja dibagian lapangan atau industry.
Dampak dari mengabaikan pemakaian APD biasanya akan terasa dalam waktu
jangka panjang, dimana akumulasi dampak tersebut ketika karyawan atau pekerja
telah non produktif, untuk itu sangat penting utuk memakai APD sedini mungkin.
Dasar hokum penggunaan alat pelindung diri (APD) induk dari peraturan
perundang-undangan K3 adalah Undang-Undang No.1 Tahun 1970 tentang
Universitas Prabumulih
21

Keselamatan Kerja.
1. Helm Keselamatan
Alat satu ini bisa melindungi kepala dari benturan dan jatuhnya benda berat.
Apalagi, kepala menjadi bagian tubuh yang rentan terhadap luka. Dengan
helm, para pekerja bisa mengurangi risiko luka parah atau cedera otak jikalau
terjatuh atau terbentur sesuatu.
2. Sabuk Pengaman
Kalau alat satu ini sering digunakan oleh para pekerja konstruksi saat bekerja
di bangunan tinggi. Fungsi sabuk pengaman adalah mempertahankan
keseimbangan tubuh dan menjaga keamanan saat bergerak.
3. Sepatu Boots
Sepatu boots juga termasuk alat pelindung diri yang penting untuk pekerja
industri dan konstruksi. Soalnya, sepatu ini bisa melindungi kaki dari benda
tajam, beban berat, bahan kimia, dan benda jatuh. Apalagi, sepatu boots sudah
dilengkapi sol yang kokoh dan tahan gesekan.
4. Kacamata Pengaman
Lain halnya dengan kacamata fashion, alat pengaman satu ini memiliki tekstur
yang lebih tebal. Fungsi dari kacamata pengaman adalah menjaga mata dari
serpihan debu, pecahan barang, dan bahan kimia berbahaya.
5. Pelindung Wajah
Jenis alat pelindung diri lainnya yang harus dipakai adalah face shield.
Tujuannya biar wajah kamu aman dari serpihan kayu, logam, dan radiasi yang bisa
menyebabkan luka.
6. Alat Pelindung Telinga
Jenis alat pelindung diri atau APD lain yang bisa kamu gunakan adalah alat
pelindung telinga. Contohnya seperti sumbat telinga (ear plug) atau penutup
telinga (ear muff). Fungsinya untuk melindungi telinga dari kebisingan atau
tekanan karena dentuman keras.

7. Sabuk dan Tali Keselamatan


Sabuk dan tali keselamatan adalah APD yang umum digunakan untuk
membatasi gerakan pekerja supaya tidak jatuh atau terlepas dari posisi aman.
Universitas Prabumulih
22

Alat ini digunakan untuk pekerja yang aktivitasnya di ketinggian atau dalam
ruangan yang sempat di bawah tanah.

Universitas Prabumulih
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengaruh Keselamatan Kerja (K3) Terhadap Alat Pelindung Diri (APD)
4.1.1 Jumlah Pekerja dan Jadwal Pekerja
PT. Bukit Asam dan Mitra Kerja Site Banko Barat Merupakan perusahaan
yang bergerak pada bidang pertambangan dengan sistem penambangan sistem
tambang terbuka menggunakan metode open pit mining. yang memiliki jumlah
karyawan di PIT 1 Timur sebanyak 166 orang dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Sumber : [Link] Asam Tbk dan Mitra Kerja

Tabel 4.1 Jumlah Pekerja PT Bukit Asam dan Mitra Kerja

29
30

PT. Bukit Asam dan Mitra kerja saat ini sedang melakukan kegiatan
penambangan yang dilakukan dalam satu shift kerja bisa dilihat pada Tabel 4.2

Sumber : [Link] Asam Tbk dan Mitra Kerja

Tabel 4.2 Jadwal Kerja [Link] Asam Tbk dan Mitra Kerja

4.1.2 Indetifikasi Potensi Bahaya


Sebelum melakukan penyelesaian terhadap suatu masalah maka akan
dilakukan penyelidikan kecelakaan behaya dan penyakit kerja dapat dilakukan
dengan mengidentifikasi potensi bahaya yang memungkinkan terjadi pada suatu
lokasi kerja, serta upaya-upaya yang dapat di lakukan demi tercapainya proses

Universitas Prabumulih
31

kerja yang baik dan aman kemudian dilanjutkan dengan proses lainnya hingga
ditemukan penyelesaian dari masalah yang diteliti. Identifikasi bahaya ditujukan
kepada problematika yang ada pada kegiatan yang dilakukan di PT. Bukit Asam
tbk. Hal ini berkaitan dengan langkah pencegahan agar tidak terjadi kecelakaan
kerja kedepannya. Karena identifikasi bahaya menggabungkan antara kegiatan
yang dilakukan dikondisi tertentu dengan hal-hal yang berpotensi menimbulkan
cidera, kecelakaan, dan penyakit akibat kerja, serta kematian. Selengkapnya
catatan yang diperoleh selama kegiatan identifikasi berlangsung dapat dilihat pada
tabel 4.3 berikut.

Tanggal Urutan Pekerjaan Potensi


4. Bahaya
Kondisi Resiko
4.1 Gangguan
1. Material pada 1.1 Material yang jatuh
area belt pernafasan
belt conveyor pada belt conveyor dan
conveyor
yang jatuh dan kesehatan
mengenai pekerja/unit
12-03- kurangnya yang melintas pada
2024
12-03-2024 perawatan
bagian bawah belt
dan
conveyor dapat
pemeriksaan mengakibatkan
kecelakaan kerja.
2. Arus listrik 2.1 Dapat terjadi
4.1.3. Ketersediaan Peralatan dan Perlengkapan K3 Perusahaan
pada belt kebakaran pada jalur
Sebagai
12-03- langkah preventif perusahaan telah
conveyor menyediakan beberapa
belt conveyor yang
peralatan2024
dan perlengkapan K3 untuk seluruh karyawan sesuai dengan bidang
dapat menyebabkan
pekerjaannya masing-masing. Demi menunjang keamanan dan kelancaran
kerugian.
jalannya kegiatan penambangan pekerja di wajibkan menggunakan
3. Kurangnya APD tidak
3.1 Pekerja pada
setiap kegiatan, akan tetapi dari hasil penelitian masihpada
kontrol ada pekerja lalai sehingga
memastikan
safety
tidak menggunakan APD yang sudah di berikan olehbriefing penggunaan
perusahaan. APD
Berikut jumlah
ketersediaan APD PT. Bukit Asam. Tbk. sesuai standar
perusahaan saat berada
12-03- di dekat belt conveyor
2024
dapat mengakibatkan
kecelakaan kerja.

Universitas Prabumulih
32

Tabel 4.4 Jumlah APD

4.2. Pelaksanaan Progam K3 PT. Bukit Asam Tbk


PT. Bukit Asam adalah perusahaan yang sadar akan pentingnya
keselamatan kesehatan kerja, demi terciptanya kondisi kerja yang aman dan
efektif perusahaan menjalankan beberapa program dan menerapkan sistem K3 yang
diberlakukan untuk seluruh pekerjanya guna menjamin keselamatan, menghindari
kecelakaan, dan penyakit lainnya. Supaya tercipta kondisi tempat kerja yang aman
pihak perusahaan. Berikut adalah program Keselamatan kerja yang di lakukan
oleh perusahaan :
1. Inspection Program
Inspeksi keselamatan dan kesehatan kerja dilakukan oleh safety officer.
Inspeksi merukan salah satu usaha pencegahan kecelakaan diaman peraturan
Tindakan mencegah bahaya.
2. Top Management Inspection
Inspeksi yang dilaksanakan oleh Senior Manajer, General Manajer dan atau
Direksi dalam rangka “Menunjukan Komitmen Manajemen” tentang k3 dan
lingkungan.
3. middle Manajemen Inspection
a) Inspeksi Area Tambang Inspeksi yang dilaksanakan secara terpadu oleh
Manajer dan atau Asisten Manajer bersama dengan Mitra Kerja terkait

Universitas Prabumulih
33

terhadap objekobjek di area tambang yang mempunyai risiko tinggi


b) Inspeksi Area CHF & BWE System Inspeksi yang dilakukan secara
terpadu oleh Manajer atau Asisten Manajer terhadap tingkat kehandalan
& kelaikan peralatan Coal Handling Facility dan Bucket Wheel Excavator.
c) Inspeksi Silang Inspeksi silang yang dilaksanakan secara terpadu oleh
Manajer dan atau Asisten Manajer bersama dengan Mitra Kerja terkait
terhadap kondisi area workshop owner, kontraktor dan subkontraktor
d) General Inspection
Inspeksi yang dilakukan secara umum oleh pengawas K3 atau pengawas
lingkungan satuan kerja Keselamatan Pertambangan
e) Self Inspection
Inspeksi yang dilakukan secara terencana dan dilakukan mandiri oleh
masing-masing supervisor, asisten manajer, manajer satuan kerja dan
penanggung jawab operasional mitra kerja

f). Agent SHE Inspection


Inspeksi yang dilakukan secara umum oleh Agent SHE di setiap satuan kerja
dan mitra kerja terhadap lingkungan kerja diarea kerjanya dengan
menggunakan checklist yang telah ditentukan oleh satuan kerja KP & K3L dan
dilaporkan setiap bulannya
3. Behavior Observation Program
Dalam program kerja ini terdapat 3 program yang dilaksanakan oleh K3L PT.

Bukit Asam yaitu

a) Sweeping Golden Rules

Inspeksi berupa ketaatan golden rules yang dilakukan oleh satuan kerja

KP & K3L dan Mitra Kerja terkait sesuai jadwal yang telah ditentukan

sebelumnya. Kegitan ini biasanya dapat dilakukan di pintu masuk tambang

atau area lain yang telah [Link] bertujuan untuk menilai

ketertibaan dan kepatuhan para pekerja terhadap golden rule.

Universitas Prabumulih
34

b) Sidak Golden Rules

Inspeksi berupa Razia ketaatan golden rule yang dilakukan oleh satuan

kerja KP & K3L – K3 Pertambangan secara mendadak pada waktu yang

tidak ditentukan dan dilakukan setiap shift selama 24 jam.

c) Pengukur Kecepatan Kendaraan

Inspeksi yang dilakukan kepada pelanggar batas kecepatan maksimal di

area tambang

4. Pelaksanaan Induksi K3L

Pengenalan K3L (Induksi K3L) bertujuan untuk menginformasikan dan


memberikan pemahaman kepada karyawan baru, karyawan promosi/ rotasi/
mutasi dan tamu perusahaan, perihal potensi bahaya, risiko dan pengendaliannya,
peralatan pengaman, alat pelindung diri, cara kerja aman dan penanganan kondisi
darurat di area kerja. Induksi K3 terdiri dari ;
1. Induksi K3L Umum
2. Induksi K3L Khusus
3. Induksi K3L
4. Safety Talk
5. General Safety Talk
6. Pembekalan Agent SHE
Agent SHE merupakan perpanjangan tangan Satuan Kerja K3
Pertambangan yang berasal dari Satuan Kerja atau Mitra Kerja PTBA. Agent SHE
memilki kewajiban untuk menjadi role model di area kerjanya dalam mentaati
aturan K3 selain itu Agent SHE juga memiliki kewajiban untuk melakukan
Inspeksi K3 di area kerjanya dan melaporkan sumber bahaya ke Satuan Kerja K3
Pertambangan melalui call center.
5. Pelatihan K3 & Pembinaan K3
Pemberian bekal terhdapat para karyawan untuk dapat mengenali dan
mengetahui pengendalian bahya dan risiko di tempat kerja secara mandiri.
Berikut Bentuk Pembinaan K3 Pertambangan :
6. Safety Patrol Safety Patrol dilakukan di area tambang, pemantauan yang

Universitas Prabumulih
35

dilakukan memerikasa rambu, monitoring semua unit, mengawas karyawan


dan mengingatkan potensi bahaya pada pekerja. Safety Patrol dilakukan setiap
hari menggunakan kendaraan mobil Toyota Triton. Safety Patrol di lakukan
bersama dengan pemasangan dan perawatan rambu.

Sumber : [Link]
Gambar 4.1 Pemasangan Rambu-Rambu

8. Pengecekan Peralatan Harian


P2H (Pengcekan Peralatan Harian) di lakukan setiap pagi sebelum melakukan
kegiatan penambangan, kegiatan ini dilakukan oleh operator/driver dan diawasi
oleh pengawas lapangan.

Sumber : [Link]
Gambar 4.2 Pemeriksaan P2H

Universitas Prabumulih
36

9. Safety Talk dan P5M


Safety Talk dilakukan setiap 4 kali dalam satu bulan yang di lakukan pada hari
jum’at dan dihadiri oleh seluruh pekerja dilapangan sedangkan P5M
(Pembicaraan 5 Menit) dilakukan setiap pagi sebelum pekerjaan dimulai.

Sumber : [Link]
Gambar 4.3 Pelaksanaan Safety Talk

Universitas Prabumulih
37

10. Safety Forum Discussion


Forum ini dilakukan untuk membahas kendala dan kejadian yang terjadi
selama sebulan yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja di
lapangan untuk selanjutnya dibahas mengenai solusi yang dapat di lakukan.
11. Safety induction
Safety induction bertujuan agar semua karyawan, visitor/tamu yang akan
memasuki area pertambangan PT. Bukit Asam Tbk memahami tentang
pentingnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan melaksanakannya
sesuai dengan ketentuan-ketentuan K3 perusahaan. Perusahaan juga membuat
ID Card Visitor sebagai bukti tanda bahwa visitor/tamu telah mengikuti
safety induction dan Mine Permit Access sebagai izin memasuki area
pertambangan bagi para karyawan lihat pada gambar 4.4.

Sumber : [Link] Asam Tbk


Gambar 4.4 Mine Permit Access

Universitas Prabumulih
38

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Berdasarkan laporan pada bab IV dapat di simpulkan bahwa
Penggunaan APD (Alat pelindung diri) merupakan kewajiban yang
harus dilaksanakan oleh para pekerja di PT Bukit Asam Tbk.
2. Dari data yang diperoleh keselamatan kerja K3 terhadap alat
pelindung diri terdapat 4 indetifikasi masalah serta pengendalian
resikonya.
5.2 Saran
1. Melakukan pemantaun untuk memastikan pengendalian yang
sudah ada ataupun pengendalian tambahan dipelihara dan
dilaksanakan dengan baik.
2. Memfasilitasi alat pelindung diri yang masih kurang seperti safety
belt
3. Menyediakan APD cadangan untuk para pekerja/visitor.
4. Untuk perawatan alat sebaiknya selalu di lakukan pencucian
terhadap unit yang akan di gunakan maupun setelah di gunakan
agar lebih efisien .

Universitas Prabumulih

Anda mungkin juga menyukai