BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR,
DAN HIPOTESIS PENELITIAN
A. Landasan Teori
1. Hakikat Prestasi Belajar Sosiologi
a. Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi merupakan hasil yang telah diperoleh dan dicapai
seseorang setelah melakukan kegiatan tertentu. Gagne (1985:40)
menyatakan bahwa :
“Prestasi belajar dibedakan menjadi lima aspek, yaitu kemampuan
intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap dan keterampilan”.
Sedangkan menurut Bloom dalam Suharsimi Arikunto (2010:110)
meyatakan bahwa :
“Hasil belajar dibedakan menjadi tiga aspek yaitu kognitif, afektif,
dan psikomotor”.
Prestasi merupakan suatu kecakapan yang dapat dicapai pada saat
atau periode tertentu. Berdasarkan pendapat tersebut, prestasi didalam
pendekatan ini adalah hasil yang telah dicapai oleh siswa dalam proses
pembelajaran. Gunarso (2003:77) mengemukakan bahwa :
14
15
“Prestasi belajar adalah usaha maksimal yang dicapai oleh seseorang
setelah melaksanakan usaha-usaha belajar”.
Prestasi belajar di bidang pendidikan merupakan hasil dari suatu
pengukuran terhadap peserta didik atau siswa yang meliputi faktor kognitif,
afektif, dan psikomotor setelah mengikuti serangkaian kegiatan
pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes atau
instrumen yang relevan. Jadi prestasi belajar adalah hasil pengukuran dari
proses pembelajaran yang dinyatakan dalam bentuk simbol, huruf, angka,
maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap
peserta didik pada periode tertentu, yang meliputi faktr kognitif, afektif, dan
psikomotor.
Prestasi belajar dapat diukur melalui tes yang sering dikenal
dengan tes prestasi belajar. Menurut Saifudin Anwar (2005:8-9) menyatakan
tentang tes prestasi belajar bila dilihat dari tujuannya, yaitu:
“mengungkap keberhasilan seseorang dalam belajar. Testing pada
hakikatnya menggali informasi yang dapat digunakan sebagai dasar
pengambilan keputusan. Tes prestasi belajar berupa tes yang disusun secara
terencana untuk mengungkap performasi maksimal subyek dalam
menguasai bahan-bahan atau materi yang sudah diajarkan. Dalam kegiatan
pendidikanformal tes prestasi belajar dapat berbentuk ulangan harian, tes
formatif, tes sumatif, bahkan ebtanas dan ujian-ujian masuk perguruan
tinggi. Pengertian prestasi belajar adalah sesuatu yang dapat dicapai atau
16
tidak dapat dicapai. Untuk mencapai suatu prestasi belajar siswa harus
mengalami proses pembelajaran”.
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, siswa akan menggunakan
pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang dimilikinya sehingga
dapat berkembang secara optimal. Pengetahuan, pengalaman dann
keterampilan yang diperoleh akan membentuk kepribadian, memperluas
wawasan kehidupan, dan meningkatkan kemampuan siswa. Siswa yang
aktif dalam proses pembelajaran akan memiliki banyak pengalaman dan
prestasi belajarnya meningkat. Sebaliknya, siswa yang tidak aktif akan
mempunyai sedikit pengalaman, sehingga dapat dikatakan prestasi
belajarnya tidak [Link] (2001:2) “Prestasi adalah keemampuan
nyata (actual ability) yang dicapai individu dari suatu kegiatan atau usaha”.
Sedangkan menurut Sardian A.M (2001:46) mendefinisikan prestasi sebagai
kemampuan nyata yang merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor
yang mempengaruhi baik dari dalam maupun dari luar individu untuk
belajar.
Selanjutnya menurut Sudjana (2006:3) mengatakan bahwa
“Prestasi merupakan hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria
tertentu”. Syah (2008:141) menambahkan “Prestasi adalah tingkat
keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditentukan dalam sebuah
program”.
17
Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa
prestasi adalah hasil usaha dari pembelajaran yang ditampilkan oleh siswa
berdasarkan kemampuan internal. Kemampuan internal tersebut diperoleh
sesuai dengan tujuan instruksional. Dengan kata lain adalah suatu hasilyang
telah dicapai sebagai bukti usaha dan upaya yang telaha dilakukan setelah
melalui rangkaian proses pembelajaran.
b. Pengertian Belajar
Menurut Syah (2008:63) “Belajar adalah kegiatan yang berproses
dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan
setiap jenis dan jenjang pendidikan”. Sedangkan menurut Dahyono
(2006:49) mengatakan “Belajar adalah suatu usaha perbuatan yang
dilakukan secara bersungguh-sungguh, dengan sistematis, mendayagunakan
semua potensi yang dimiliki baik fisik, mental serta dana, panca indera, otak
dang anggota tubuh lainnya”. Lebih lanjut Sumiati dan Asra (2008:38)
menyatakan bahwa “Belajar adalah suatu proses perubahan perilaku akibat
interaksi individu dengan lingkungan. Berhasil tidaknya pencapaian tujuan
pendidikan itu tergantung pada proses belajar yang dialami siswa.
Dari beberapa pengertian belajar menurut para ahli di atas dapat
diambil suatu kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan
tingkah laku individu yang relatif permanen sebagai hasil dari pengalaman
dan latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi
18
antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika
dia menunjukkan perubahan perilakunya.
c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Menurut Purwanto (2006:107), faktor-faktor yang mempengaruhi
prestasi belajar diantaranya :
1) Faktor dari luar antara lain :
a) Lingkungan yang meliputi alam dan sosial.
b) Instrumental meliputi kurikulum, guru, sarana dan fasilitas, serta
administrasi manajemen.
2) Faktor dari dalam antara lain :
a) Fisiologi meliputi kondisi fisik dan kondisi panca indera.
b) Psikologis meliputi bakat, minat, kecerdasan, motivasi dan
kemampuan kognitif.
Sedangkan menurut Slameto (2010:54) faktor-faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar ada dua macam yaitu faktor internal dan
faktor eksternal, diantaranya :
1) Faktor internal
a) Faktor jasmaniah: (1) Faktor Kesehatan; (2) Cacat tubuh.
b) Faktor psikologis: (1) Intelegensi; (2) Perhatian; (3) Minat; (4) Bakat;
(5) Motif; (6) Kematangan, (7) Kesiapan.
c) Faktor kelelahan
2) Faktor eksternal
a) Faktor keluarga: (1) Cara orang tua mendidik, (2) Relasi antar anggota
keluarga (3) Suasana rumah; (4) Keadaan ekonomi keluarga; (5)
Pengertian orang tua; (6) Latar belakang kebudayaan.
b) Faktor sekolah: (1) Metode mengajar; (2) Kurikulum; (3) Relasi guru
dan siswa: (4) Relasi siswa dengan guru; (5) Disiplin sekolah; (6)alat
pelajaran; (7) Waktu sekolah; (8) Standar pelajaran di atas ukuran; (9)
Keadaan gedung; (10) Metode belajar; (11) Tugas rumah.
c) Faktor masyarakat: (1) Kegiatan siswa dalam masyarakat; (2) Media
masa; (3) Teman bergaul dan (4) Bentuk kehidupan masyarakat.
Berdasarkan dua pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar seseorang,
19
yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Kedua faktor tersebut mempunyai
konstribusi yang sama pentingnya, namun komposisinya dapat berbeda
tergantung pada diri individu itu sendiri.
d. Pengertian Sosiologi
Sosiologi berasal dari bahasa latin yunani yaitu socius yang
memiliki arti teman atau masyarakat dan logos yang berarti ilmu. Sehingga
dari kedua kata tersebut sosiologi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang
mempelajari atau mengkaji tentang hubungan sosial yang terjadi dalam
hubungan sosial masyarakat serta tersusun secara ilmiah dan berdasarkan
pola pikir yang kritis. Dalam tingkat sekolah, Ilmu Sosiologi sangat penting
dan erat kaitannya dengan bimbingan konseling, Ilmu Sosiologi akan
mengarahkan kita menuju pribadi yang lebi baik. Menurut Selo Soemardjan
dan soelaeman soemardi (dalam Soerjono Soekanto, 2015:17) menyatakan
bahwa :
“Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-
proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.”
Sedangkan Pitirim Sorokin (dalam Soerjono Soekanto, 2015:17)
bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari:
1) Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-
gejala sosial (misalnya antara gejala ekonomi dengan agama; keluarga
dengan moral, hukum dengan ekonomi, gerak masyarakat dengan
politik, dan sebagainya);
2) Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan
gejala-gejala nonsosial (misalnya gejala geografis, biologis, dan
sebagainya);
3) Ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial.
20
Dari dua pendapat di atas, peneliti menyimpulkan bahwa ilmu
sosiologi selalu mengarahkan manusia untuk berpikir dan melaksanakan
perannya dalam kehidupan bermasyarakat ( das sollen). Selain itu sosiologi
juga selalu, menginmplementasikan, mengkaji, dan mempelajari suatu
peristiwa atau fakta sosial yang terjadi dalam lingkungan masyarakat.
Singkatnya Ilmu sosiologi adalah ilmu yang membahas dan mendalami
tentang pengetahuan, tata cara hidup bermasyarakat.
2. Hakikat Minat Belajar
a. Pengertian Minat
Kemampuan bisa berasal dari diri sendiri ataupun orang lain, ada
yang menyebutnya bakat atau kemampuan dari lahir. Misalnya saja ayahnya
adalah seorang pelukis dan ibunya seorang perancang busana, tak jarang
anak mereka tentu menjadi anak dengan kemampuan menggambar yang luar
biasa yang didapat dari gen orang tuanya. Namun ada juga bakat atau
kemampuan yang berasal dari orang lain, dimana mereka memiliki
kemampuan tersebut karena bersekolah atau belajar. Misalnya mereka yang
tidak bisa menjahit memiliki kemampuan menjahit setelah belajar dan
lainnya. Bagaimana dengan kemauan ? kemauan dalam dunia Psikologi
biasa disebut Minat.
Kemauan bukan datang dari lahir ataupun dari orang lain, dimana
kemauan atau minat merupakan mereka yang memiliki kesadaran diri tinggi
yang berasal dari pikiran atau hati mereka masing-masing. Minat atau
21
kemauan mungkin hal yang paling mudah ataupun paling sulit dipengaruhi.
Untuk itu, ada beberapa definisi menurut para ahli terkait apa itu pengertian
minat, karakter serta faktor pengaruhnya. Winkel (2006:212) menyatakan
bahwa :
“minat merupakan kecenderungan subyek yang menetap untuk merasa
tertarik pada bidang studi atau pokok bahasan tertentu dan merasa
senang mempelajari materi pelajaran. Dalam hubungannya dalam
belajar antara senang dan berperasaan terdapat hubungan timbal balik.
Jika siswa merasa senang untuk mempelajari sesuatu maka akan dapat
dengan mudah untuk membantu apa yang telah dipelajarinya,
sehingga dapat memperoleh prestasi belajar yang menyenangkan”.
Sedangkan minat menurut Witherington (2008:124) yaitu :
“kesadaran seseorang terhadap suatu objek seseorang, suatu soal atau
situasi yang mengandung sangkut paut dengan dirinya. Pengetahuan
atau informasi tentang seseorang atau suatu obyek pasti harus ada
terlebih dahulu dapat minat obyek tadi”.
Batasan ini lebih memperjelas pngertian minat tersebut dalam
kaitannya dengan perhatian seseorang. Perhatian adalah pemilihan suatu
perangsang dari sekian banyak perangsang yang dapat menimpa mekanisme
penerimaan seseorang. Orang, masalah atau situasi tertentu adalah
perangsang yang datang pada mekanisme penerima seseorang, karena pada
waktu tertentu hanya satu perangsang yang dapat disadari. Maka dari sekian
banyak perangsang tersebut harus dipilih salah satu, perangsang ini dipilih
karena disadari karena mempunyai kaitan dengan seseorang itu. Kesadaran
yang menyebabkan timbulnya perhatian itulah yang disebut minat.
Sedangkan Slameto (2010:2) berpendapat bahwa :
22
“Minat merupakan rasa suka yang berlebih serta adanya rasa
keterikatan terhadap sesuatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang
menyuruh”.
Jika dilihat, menurut Slameto minat merupakan hal yang dilihat
dalam diri sendiri dan memiliki hubungan dengan hal yang ada di luar diri.
Semakin kuat atau dekat hubungan maka semakin besar minat.
Dari pendapat yang telah ahli kemukaan, mengambil kesimpulan
bahwa timbulnya minat seseorang itu disebabkan oleh beberapa faktor
penting yakni faktor yang mempengaruhi minat baik dari sisi intern yang
meliputi emosional ataupun faktor ekstern yang melingkupi dorongan dan
juga sosial.
b. Pengertian Minat Belajar
Minat belajar adalah berasal dari dua kata yaitu ”Minat ” dan
”Belajar ”. Kedua kata ini memiliki arti yang berbeda namun saling
mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Minat merupakan salah satu
faktor pokok untuk meraih sukses dalam studi. Sedangkan menurut
beberapa ahli pengertian minat sebagai berikut:
Menurut Hastari (2006:19) minat belajar siswa merupakan rasa
suka dan ketertarikan pada aktifitas belajar antara lain membaca, menulis,
serta tugas praktik, tanpa ada yang menyuruh. Siswa yang memiliki minat
belajar yang tinggi akan memperhatikan partisipasinya pada suatu aktifitas
yang dia minati khusus di kelas.
23
Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2008:132) minat adalah
kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan mengenang
beberapa aktivitas. Seseorang yang berminat terhadap aktivitas akan
memperhatikan aktivitas itu secara konsisten dengan rasa senang.
Slameto (2010:180) menyatakan bahwa minat adalah suatu rasa
lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang
menyuruh
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat peneliti pahami
dan simpulkan bahwa minat adalah suatu perasaan senang atau tertarik pada
sesuatu obyek tertentu sehingga terdorong untuk bisa terlibat di dalamnya
dan memperhatikannya secara terus menerus tanpa ada paksaan dari luar.
Minat yang telah ada dalam diri seseorang bukanlah ada dengan sendirinya,
tetapi karena adanya pengalaman, daya dan upaya untuk
mengembangkannya. Minat dapat timbul karena daya tarik dari luar dan
juga datang dari dalam diri seseorang. Minat yang besar terhadap sesuatu
merupakan modal yang besar, artinya untuk mencapai atau meperoleh benda
atau tujuan yang diminati itu. Minat belajar yang besar cenderung
menghasilkan sesuatu yang memuaskan, akan tetapi sebaliknya apabila
minat yang kurangakan menghasilkan suatu prestasi yang rendah.
Minat belajar pada dasarnya adalah penerimaan akan adanya suatu
hubungan antara diri sendiri dengan faktor dari luar. Siswa yang menaruh
minat belajar yang tinggi, akan menerima materi yang disampaikan oleh
24
gurunya dengan penuh perhatian, sehingga proses pembelajaran yang
dilakukan akan lebih menyenangkan tanpa ada paksaan dari siapapun.
Dalam penelitian ini, yang menjadi pusat perhatian adalah minat belajar
siswa terhadap mata pelajaran sosiologi.
c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar
Menurut Taufani (2008:38) ada tiga faktor yang mendasari
timbulnya minat, adalah:
1) Faktor dorongan dalam, yaitu dorongan dari individu itu
sendiri,sehingga timbul minat untuk melakukan aktifitas atau tindakan
tertentu untuk memenuhinya. Misalnya, dorongan untuk belajar
menimbulkan minat untuk belajar.
2) Faktor motivasi sosial, yaitu faktor untuk melakukan suatu aktifitas
agar dapat diterima dan diakui oleh lingkungannya. Minat ini
merupakan semacam kompromi pihak individu dengan lingkungan
sosialnya. Misalnya, minat pada studi karena ingin mendapatkan
penghargaan dari orangtuanya.
3) Faktor emosional, yaitu minat erat hubungannya dengan emosi karena
faktor emosional selalu menyertai seseoorang dalam berhubungan
dengan obyek minatnya. Kesuksesan seseorang pada aktifitas
disebabkan karena aktifitas tersebut menimbulkan perasaan suka atau
puas, sedangkan kegagalan akan menimbulkan perasaan tidak senang
dan mengurangi minat seseorang terhadap kegiatan yang bersangkutan.
Agar siswa memiliki minat untuk belajar, guru harus berusaha
untuk membangkitkan minat siswa agar proses belajar mengajar yang
efektif tercipta di dalam kelas dan siswa dapat mencapai suatu tujuan
sebagai hasil dari belajarnya. Ketiga faktor tersebut, yaitu faktor dorongan
dalam, faktor motivasi sosial, dan faktor emosional harus menjadi perhatian
khusus dari guru di dalam proses pengelolaan kelas, sehingga mampu
meningkatkan minat belajar siswa pada pelajaran yang diampunya.
25
d. Aspek-Aspek Minat Belajar
Djamurah (2002:132) berpendapat bahwa aspek minat belajar yaitu
rasa suka atau senang, pernyataan lebih menyukai, adanya rasa ketertarikan,
adanya kesadaran untuk belajar tanpa disuruh, berpartisipasi dalam aktifitas
belajar dan memberikan perhatian.
Sedangkan Slameto (2010:180) beberapa aspek minat belajar yaitu
perasaan senang, ketertarikan, penerimaan, dan ketertiban.
1) Perasaan senang. Apabila seorang siswa memiliki perasaan senang
terhadapa pelajaran tertentu, maka tidak adakan ada rasa terpaksa untuk
belajar. Contohnya yaitu senang mengikuti pelajaran, tidak ada peraaan
bosan, dan hadir saat pelajaran.
2) Ketertarikan siswa. Ketertarikan seseorang akan obyek yang
mengakibatkan orang tersebut senang dan tertarik untuk melakukan
atau mengerjakan kegiatan dari obyek tersebut. Contoh: aktif dalam
diskusi, aktif bertanya, dan aktif menjawab pertanyaan dari guru.
3) Keterlibtan siswa. Berhubungan dengan daya dorong siswa terhadap
ketertarikan pada sesuatubenda, orang, kegiatan atau bisa berupa
pengalaman afektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri.
Contohnya: antusias dalam mengikuti pelajaran, tidak menunda tugas
dari guru.
4) Penerimaan siswa. Minat dan perhatian merupakan dua hal yang sama
dalam penggunaan sehari-hari. Perhatian siswa merupakan konsentrasi
siswa terhadap pengamatan dan pengertian, dengan mengesampingkan
yang lain. Siswa memiliki minat pada obyek tertentu maka dengan
sendirinya akan memperhatikan obyek tersebut. Contoh: mendengarkan
penjelasan guru mencatat materi.
Sedangkan Harlock (2002:422) berpendapat bahwa ada beberapa
aspek yang mempengaruhi minat seseorang, yaitu;
26
1) Aspek kognitif. Berdasarkan atau pengalaman pribadi dan apa yang
pernah dipelajari baik di rumah, sekolah dan masyarakat serta dari
berbagai media massa.
2) Aspek afektif. Konsep yang membangun aspek aspek kognitif, minat
dinyatakan dalam sikap terhadap kegiatan yang ditimbulkan minat.
Berkembang dari pengalaman pribadi dari sikap orang yang penting
yaitu orang tua, guru dan teman sebaya terhadap kegiatan yang
berkaitan dengan minat tersebut dan dari sikap yang dinyatakan atau
tersirat dalam berbagai bentuk media massa terhadap kegiatan itu.
3) Aspek psikomotor. Berjalan dengan lanncar tanpa perlu pemikiran
lagi, urutannya tepat. Namun kemajuan tetap memungkinkan sehingga
keluwesan dan keunggulan meningkat meskipun ini semua berjalan
lambat.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, peneliti menyimpulkan
bahwa minat merupakan suber motivasi yang mendorong seseorang untuk
melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih. Kondisi
belajar mengajar yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa
dalam belajar. Minat ini sangat besar sekali pengaruhnya terhadap belajar,
sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya.
Sebaliknya tanpa minat, seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu.
3. Hakikat Motivasi Belajar
a. Pengertian Motivasi
Sukses bertumpu pada dua hal yaitu kemampuan dan kemauan.
Sukses belajar misalnya sangat tergantung pada ketrampilan belajar yang
dimiliki dan seberapa kuat ia mau menggunakannya. Tingkat kemauan
(atau motivasi) orang berbeda-beda. karena alasan (motif) yang berkait
dengan kebutuhan untuk kegiatan yang sama, dapat berbeda-beda. Motivasi
memang berhubungan upaya memenuhi kebutuhan. Makin besar kebutuhan
27
makin besar pula dorongan dalam diri seseorang untuk mau melakukan
sesuatu. Karena itu peran motivasi untuk menunjang keberhasilan sangat
penting. Azwar (2000:15) mengatakan bahwa ;
“Motivasi adalah rangsangan, dorongan ataupun pembangkit tenaga
yang dimiliki seseorang atau sekelompok masyarakat yang mau
berbuat dan bekerjasama secara optimal dalam melakukan sesuatu
yang telah direncanakan untuk mencapai sebuah tujuan yang telah
ditetapkan”.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:80) “Motivasi dipandang
sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku
manusia termasuk perilaku belajar”. Sejalan dengan itu, Ratumanan
(2002:72) mengatakan bahwa; “Motivasi adalah sebagai dorongan dasar
yang menggerakkan seseorang bertingkah laku”. Sedangkan motivasi
belajar adalah “Keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang
menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan
memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan
(Tadjab, 1994:102)”.
Dari beberapa pengertian di atas dapat dikatakan bahwa motivasi
memiliki 3 komponen, yaitu: a) kebutuhan, kebutuhan terjadi bila individu
merasa ada ketidak seimbangan antara apa yang dimiliki dari apa yang ia
harapkan; b) dorongan, merupakan kegiatan mental untuk melakukan suatu.;
dan c) tujuan, tujuan adalah hal yang ingin dicapai oleh individu. Seseorang
yang mempunyai tujuan tertentu dalam melakukan suatu pekerjaan, maka ia
akan melakukan pekerjaan tersebut dengan penuh semangat.
28
Pengaruh motivasi terhadap seseorang tergantung seberapa besar
motivasi itu mampu membangkitkan motivasi seseorang untuk bertingkah
laku. Dengan motivasi yang besar, maka seseorang akan melakukan sesuatu
pekerjaan dengan lebih memusatkan pada tujuan dan akan lebih intensif
pada proses pengerjaannya. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat
dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri seseorang yang
menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegaitan
belajar dan memberikan arah pada kegiatna belajar, sehingga tujuan yang
dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai.
b. Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi belajar adalah dorongan mental yang menggerakkan dan
mengarahkan perilaku manusia ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman
individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif,
afektif, dan psikomotorik.
Motivasi dapat dibedakan menjadi motivasi intrinsik dan motivasi
ekstrinsik (Sardiman, 2005:189). Motivasi instrinsik adalah motif-motif
yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar,
karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan
sesuatu. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan
berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Sejalan dengan itu pula,
Suryabrata (1994:72) juga membagi motivasi menjadi 2 yaitu: a) motivasi
29
ekstrinsik, yaitu motivasi yang berfungsi karena adanya rangsangan dari
luar; dan b) motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang berfungsi meskipun tidak
mendapat rangsangan dari luar.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar pada
dasarnya ada dua yaitu: motivasi yang datang sendiri dan motivasi yang ada
karena adanya rangsangan dari luar. Kedua bentuk motivasi belajar ini
sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar. Setiap motivasi itu bertalian
erat hubungan dengan tujuan atau suatu cita-cita, maka makin tinggi harga
suatu tujuan itu, maka makin kuat motivasi seseorang untuk mencapai
tujuan. Purwanto (1996:70) mengatakan bahwa fungsi motivasi ada 3 yaitu:
a) motivasi itu mendorong manusia untuk berbuat atau bertindak, motivasi
ini berfungsi sebagai penggerak atau sebagai motor yang memberikan
energi kepada seseorang untuk melakukan sesuatu b) motivasi itu
menentukan arah perbuatan ke arah perwujudan suatu tujuan atau cita-cita,
dalam hal ini motivasi mencegah penyelewengan dari jalan yang harus
ditempuh untuk mencapai tujuan itu, sehingga makin jelas tujuan itu, makin
jelas pula terbentang jalan yang harus ditempuh dan c) motivasi itu
menyeleksi perbuatan kita, artinya menentukan perbuatan mana yang
dilakuan dilakukan, yang serasi, guna mencapai tujuan itu dengan
mengenyampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan itu.
Siswa belajar karena didorong oleh kekuatan mentalnya. Kekuatan
mental itu berupa keinginan, perhatian, kemauan, atau cita-cita. Kekuatan
mental tersebut dapat tergolong rendah atau tinggi. Kekuatan mental yang
30
mendorong terjadinya belajar tersebut sebagai motviasi belajar. Motivasi
dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan
perilaku manusia, termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi, terkandung
adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan, dan
mengarahkan sikap dan perilaku individu belajar.
c. Jenis-Jenis Motivasi Belajar
Motivasi tumbuh dan berkembang dalam diri seseorang, motivasi
merupakan usaha yang didasari untuk mengerahkan dan menjaga tingkah
seseorang agar ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga
mencapai hasil atau tujuan tertentu.
Motivasi belajar juga merupakan kebutuhan untuk
mengembangkan kemampuan diri secara optimum, sehingga mampu
berbuat yang lebih baik, berprestasi dan kreatif. Jadi motivasi belajar adalah
kondisi psikologis yang mendorong siswa untuk belajar secara sungguh-
sungguh, yang pada gilirannya akan terbentuk cara belajar siswa yang
sistematis, penuh konsentrasi dan dapat menyeleksi kegiatan-kegiatannya.
Hapsari (2005:74) membagi motivasi menjadi dua jenis yaitu motivasi
instrinsik dan motivasi ekstrinsik dengan mendefinisikan kedua jenis
motivasi itu sebagai berikut, motivasi instrinsik adalah bentuk dorongan
belajar yang datang dari dalam diri seseorang dan tidak perlu rangsangan
dari luar. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah dorongan belajar yang
datangnya dari luar diri seseorang.
31
Dari pendapat Hapsari tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi
terdiri dari dua macam yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik.
Berkenaan dengan kegiatan belajar motivasi instrinsik mempunyai sifat
yang lebih penting karena daya penggerak yang mendorong seseorang
dalam belajar dari pada motivasi ekstrinsik.
Keinginan dan usaha belajar atas dasar inisiatif dirinya sendiri akan
membuahkan hasil belajar yang maksimal, sedang motivasi ekstrinsik yaitu
motivasi yang mendorong belajar itu timbul dari luar dirinya. Apabila
keinginan untuk belajar hanya dilandasi oleh dorongan dari luar dirinya
maka keinginan untuk belajar tersebut akan mudah hilang.
1) Motivasi Instrinsik
Menurut Singgih (2008 : 50), motivasi intrinsik merupakan
dorongan yang kuat berasal dari dalam diri seseorang. Sedangkan John W
Santrock (2003 : 476) mengatakan motivasi intrinsik adalah keinginan dari
dalam diri seseorang untuk menjadi konpeten, dan melakukan sesuatu demi
usaha itu sendiri. Gunarsa (2008:50) motivasi instrinsik merupakan
dorongan yang kuat berasal dari dalam diri seseorang.
Dari beberapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan motivasi
intrinsik adalah motivasi yang kuat berasal dari dalam diri individu tanpa
adanya pengaruh dari luar yang mendorong seseorang untuk melakukan
sesuatu kegiatan.
32
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu
sendiri tanpa ada paksaan dan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan
sendiri, misalnya siswa belajar karena ingin mengetahui seluk beluk suatu
masalah selengkap-lengkapnya, ingin menjadi orang yang terdidik, semua
keinginan itu berpangkal pada penghayatan kebutuhan dari siswa berdaya
upaya, melalui kegiatan belajar untuk memenuhi kebutuhan itu. Namun
sekarang kebutuhan ini hanya dapat dipenuhi dengan belajar giat, tidak ada
cara lain untuk menjadi orang terdidik atau ahli, lain belajar. Biasanya
kegiatan belajar disertai dengan minat dan perasaan senang. Namun
terbentuknya motivasi instrinsik biasanya orang lain juga memegang peran,
misalnya orang tua atau guru menyadarkan anak akan kaitan antara belajar
dan menjadi orang yang berpengetahuan. Biarpun kesadaran itu pada suatu
ketika mulai timbul dari dalam diri sendiri, pengaruh dari pendidik telah
ikut menanamkan kesadaran itu. Kekhususan dari motivasi ekstrinsik ialah
kenyataan, bahwa satu-satunya cara untuk mencapai tujuan yang ditetapkan
ialah belajar.
2) Motivasi Ekstrinsik
Menurut Supandi (2011:61), motivasi ekstrinsik adalah motivasi
yang timbul manakala terdapat rangsangan dari luar individu. Menurut
Thomas (2010:39) motivasi ekstrinsi adalah motivasi penggerak atau
pendorong dari luar yang diberikan dari ketidak mampuan individu sendiri.
Menurut Jhon W Santrock (2003: 476) berpendapat, motivasi ekstrinsik
33
adalah keinginan mencapai sesuatu dengan tujuan untuk mendapatkan
tujuan eksternal atau mendapat hukuman eksternal.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi
ini timbul akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena ajakan, suruhan
atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian
akhirnya ia mau belajar. Aktivitas belajar dimulai dan diteruskan
berdasarkan kebutuhan dan dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan
dengan aktivitas belajar sendiri.
Perlu ditekankan bahwa dorongan atau daya penggerak ialah
belajar, bersumber pada penghayatan atau suatu kebutuhan, tetapi kebutuhan
itu sebenarnya dapat dipengaruhi dengan kegiatan lain, tidak harus melalui
kegiatan belajar. Motivasi belajar selalu berpangkal pada suatu kebutuhan
yang dihayati oleh orangnya sendiri, walaupun orang lain memegang peran
dalam menimbulkan motivasi itu, yang khas dalam motivasi ekstrisik
bukanlah ada atau tidak adanya pengaruh dari luar, melainkan apakah
kebutuhan yang ingin dipenuhi pada dasarnya hanya dapat dipenuhi dengan
cara lain.
Rasa ingin tahu dari dalam diri siswa untuk mempelajari mata
pelajaran dan pengetahuan memberikan dampak positif kepada setiap siswa.
Tingkat keseriusan belajar ini dapat diartikan sebagai motivasi belajar,
semangat yang tumbuh dari dalam diri siswa itu sendiri untuk mencapai
target tertentu yaitu prestasi belajar. Semangat yang tumbuh dari dalam diri
34
siswa itu sendiri diperkuat dengan motivasi dari luar diri seperti nasehat,
pujian nasehat gutu, nasehat orangtua dan orang lain yang dicintainya.
Sehingga dapat diduga bahwa motivasi belajar intrinsik dan ekstrinsik siswa
berpengruh terhadap prestasi belajar siswa.
d. Fungsi Motivasi Belajar
Motivasi merupakan salah satu unsur dalam mencapai prestasi
belajar yang optimal selain kondisi kesehatan, intelegensi, dan bakat.
Seorang anak didik bukan tidak bisa mengerjakan sesuatu, tetapi
ketidakbisaan itu disebabkan oleh kemauan yang tidak terlalu banyak
terhadap pekerjaan itu. Motif yang kurang menyebabkan dorongan dan
kemauan tidak kuat, sehingga hasil kerjanya tidak sesuai dengan kecakapan.
Menurut Purwanto (2006:70-71), berpendapat bahwa setiap motif
itu bertalian erat dengan suatu tujuan dan cita-cita. Makin berharga tujuan
itu sangat berguna bagi tindakan atau perbuatan seseorang.
Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai
keseluruhan daya penggerak dalam diriindividu yang menimbulkan kegiatan
belajar, yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan yang
memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki
akan tercapai. Jika individu mempunyai motivasi belajar yang tinggi maka
individu tersebut akan mencapai prestasi yang baik.
Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non
intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam penumbuh gairah,
35
perasaaan dan semangat untuk belajar. Motivasi belajar adalah dorongan
yang menjadi penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu dan
mencapai suatu tujuan yaitu untuk mencapai prestasi. Dengan demikian
motivasi memiliki peran strategis dalam belajar, baik pada saat akan
memulai pelajaran, saaat sedang belajar, maupun saat berakhirnya belajar.
Motivasi memiliki fungsi bagi seseorang, karena motivasi dapat
menjadikan seseorang mengalami perubahan kearah yang lebih baik.
Motivasi juga dapat mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Menurut Sardiman (2007: 85) menjelaskan motivasi akan mendorong
seseorang untuk melakukan sesuatu, karena motivasi memiliki fungsi
seperti:
1) mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor
yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor
penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan;
2) menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai.
Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang
harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya;
3) menyeleksi perbuatan yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang
harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan
menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat lagi bagi
tujuan tersebut.
Oemar Hamalik (2004: 175) menjelaskan fungsi motivasi antara
lain : mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Perbuatan
belajar akan terjadi apabila seseorang tersebut memiliki motivasi, sebagai
pengarah, artinya dapat menjadi jalan agar mampu menuju arah yang ingin
dicapai, sebagai penggerak, berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Besar
kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
36
Berdasarkan fungsi motivasi diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi
motivasi adalah memberikan arah dalam meraih apa yang diinginkan atau
dicita-citakan, menentukan sikap atau tingkah laku yang akan dilakukan
untuk mendapatkan apa yang diinginkan dan juga sebagai mendorong
seseorang untuk melakukan suatu perbuatan dan aktivitas.
e. Indikator Motivasi Belajar
Proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa mempunyai
motivasi dalam belajar. Oleh karena itu, guru perlu menumbuhkan motivasi
belajar siswa. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut
kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa. Berikut ini dikemukakan
beberapa petunjuk yang dirangkum dari berbagai sumber untuk
meningkatkan motivasi belajar siswa.
Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan seseorang yang dapat
menggerakkan siswa untuk belajar dan juga sebagai suatu yang
mengarahkan aktivitas siswa kepada tujuan belajar, baik bersumber dari
dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu
(motivasi ekstrinsik)
Seperti yang sudah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, bahwa
terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar. Faktor-faktor
tersebut secara umum adalah faktor instrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor
tersebut dapat menguatkan atau melemahkan motivasi belajar siswa. Faktor-
faktor yang menguatkan merupakan faktor yang mendukung untuk
37
meningkatkan prestasi belajar, sedangkan faktor yang melemahkan
merupakan faktor yang menyebabkan motivasi belajar siswa menjadi
menurun.
Faktor yang melemahkan juga bisa dari dalam diri siswa (instrinsik)
maupun dari lingkungan siswa (ekstrinsik). Rendahnya motivasi belajar
menjadi salah satu penyebab siswa mengalami kesulitan belajar. Menurut
Syah (2008:182) rendahnya motivasi belajar siswa yang menjadi penyebab
kesulitan belajar tercermin pada faktor intern siswa yaitu faktor intern yang
bersifat afektif seperti labilnya emosi dan sikap siswa. Hal ini dipengaruhi
juga oleh lingkungan yang keras dan bisa mempengaruhi kualitas
belajarnya.
Bukan hany faktor instrinsik saja yang perlu diperhatikan pada
rendahnya motivasi belajar, tetapi akibat dari siswa yang mempunyai
motivasi belajar rendah seperti yang diungkapkan Dalyono (2006:228) :
“... mereka yang motivasinya lemah, tampak acuh tak acuh, mudah
putus asa, perhatiannya tidak tertuju pada pelajaran, suka mengganggu
kelas, sering meninggalkan pelajaran, akibatnya banyak mengalami
kesulitan belajar”.
Beberapa hal yang mempengaruhi motivasi belajar siswa tersebut
muncul dari dalam dan dari luar diri siswa. Pengaruh dari dalam diri siswa
sendiri, seperti kondisi fisik yang sedang tidak sehat, kondisi mental dan
intelegensi siswa yang di bawah rata-rata, sikap dan keinginan siswa dalam
38
mengikuti pelajaran, atau lingkungan disekitarnya. Indikator faktor internal
yang mempengaruhi motivasi belajar adalah :
1) Kesehatan fisik dan mental. Keadaan siswa yang sakit menyebabkan
siswa tidak dapat menyerap pelajaran dengan baik, sehingga siswa sulit
untuk mengikuti pembelajaran. Uapaya pemenuhan gizi juga menjadi
pengaruh siswa mempunyai kondisi fisik yang sehat atau kurang
optimal. Kesehatan mental siswa yang dimaksud adalah kondisi emosi
siswa. Siswa yang belaum mampu mengatur emosinya maka akan sulit
menyerap pelajaran dengan baik. Faktor emosional yang kurang stabil
menurut Djamarah (2011:237) misalnya mudah tersinggung, pemurung,
selalu bingung dalam menghadapi masalah, selalu sedih tanpa alasan
yang jelas, dan sebagainya. Keadaan kesehatan fisik yang dimaksud
menurut Djamarah (2011:238) yaitu cacat tubuh yang ringan, seperti
kurang pendengaran, kurang penglihatan, dan gangguan psikomotor.
Dan kondisi pemenuhan gizi seperti mudah sakit kepala, sakit perut,
sakit mata, sakit gigi, sakit flu atau mudah capek dan mengantuk.
2) Bakat. Bakat merupakan keahlian yang dibawa sejak lahir. Siswa yang
tidak memiliki bakat akan sulit untuk mempelajari suatu keahlian yang
tidak sesuai dengan bakatnya, tetapi bagi siswa yang mempunyai bakat
tertentu namun tidak mempunyai motivasi untuk mengembangkan
bakatnya, bakat yang dimiliki siswa tersebut akan menjadi sia-sia.
Menurut Djamarah (2011:198) menyatakan bahwa bakat dipengaruhi
oleh dua faktor, yaitu faktor dari diri sendiri anak dan faktor dari
39
lingkungan anak. Jika anak kurang berminat untuk mengembangkan
bakat yang dimiliki, maka bakatnya akan menjadi sia-sia, dan
sedangkan apabila lingkungan anak kurang mendukung untuk
mengembangkan bakat maka akan mengalami kendala yang serius pada
perkembangannya.
3) Minat untuk belajar. Siswa yang tidak mempunyai minat pada suatu
mata pelajaran di sekolah cenderung untuk tidak memiliki motivasi
untuk belajar. Rendahnya minat untuk belajar menjadikan siswa malas
mengikuti kegiatan pembelajaran. Walaupun kondisi fisik dan
lingkungan siswa yang mendukung untuk belajar, namun apabila tidak
adanya minat dari siswa itu sendiri maka akan sia-sia. Seperti yang
diungkapkan oleh Djamarah (2011:191) “... minat mempengaruhi
proses dan hasil belajar anak didik. Tidak banyak yang diharapkan
untuk menghasilkan prestasi belajar yang baik dari seorang anak yang
tidak berminat untuk mempelajari sesuatu”. Oleh karena itu minat siswa
yang rendah untuk belajar sangat mempengaruhi hasil akhir belajar
siswa.
4) Konsentrasi. Konsentrasi dalam belajar sangat diperlukan untuk
menerima segala informasi yang dipelajari. Siswa yang motivasi
belajarnya rendah cenderung sulit untuk memusatkan konsentrasi pada
belajarnya, begitu juga dengan siswa yang sulit memusatkan
konsentrasinya maka akan enggan untuk belajar.
40
5) Kepercayaan diri. Siswa yang memiliki kurang rasa percaya diri dalam
belajar akan kesulitan menyerap materi dan mengerjakan tugas yang
diberikan oleh guru.
6) Komitmen pada tugas (task commitment). Pengikatan diri terhadap
tugas, yang biasa disebut komitmen pada tugas merupakan salah satu
faktorinternal pada motivasi belajar. Jadi siswa yang mempunyai
komitmen pada tugas rendah, maka memiliki motivasi yang kurang
dalam belajar.
Faktor eksternal sebagai indikator motivasi belajar yaitu
(Purwanto, 2006 :104-106)
1) Kondisi keluarga. Kondisi keluarga yang terlalu membiarkan atau acuh
tak acuh sangat mempengaruhi motivasi belajar siswa, karena siswa
tidak mendapat dorongan untuk belajar dari lingkungan terdekatnya.
Suasana dan keadaan keluarga yang bermacam-macam mau tidak mau
turut menentukan bagaimana dan sampai dimana belajar dialami dan
dicapai oleh anak-anak. Termasuk dalam keluarga ini, ada tidaknya atau
tersedia tidaknya fasilitas-fasilitas yang diperlukan dalam belajar, turut
memegang peranan penting pula. Pendapat Purwanto tersebut
mengindikasikan bahwa tidak hanya pola asuh saja yang dapat
mempengaruhi motivasi belajar, namun juga suasana belajar dan
fasilitas belajar yang tersedia di rumah. Hubungan orangtua dan anak
juga merupakan hal yang sangat penting bagi perkembangan anak,
seperti yang dijelaskan Djamarah (2011:76) “Hubungan keluarga
dimaknai sebagai proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi
dengan lingkungan keluarga, terutama dengan orangtua yang mengajar,
melatih, dan memberikan contoh berbahasa kepada anak”.
2) Teman sebaya. Pengaruh teman sebaya menjadi faktor ekstrinsik yang
sangat mempengaruhi motivasi belajar siswa, jika siswa bergaul dengan
siswa yang memiliki minat belajar yang tinggi maka siswa tersebut
akan mengikuti teman-temannya. Namun jika siswa bergaul dengan
teman yang kurang mendukung minat belajar, maka akan menyebabkan
siswa enggan untuk belajar. Dijelaskan oleh Eccles, wigfield, &
Schiefel dalam santrock (2003:533) bahwa “teman sebaya dapat
mempengaruhi motivasi anak melalui perbandingan sosial, kompetensi
41
dan motivasi sosial, belajar bersama, dan pengaruh kelompok teman
sebaya”.
3) Lingkungan tempat tinggal. Merupakan kondisi sosial masyarakat di
tempat tinggal siswa. Jika siswa tinggal di lingkungan yang tidak
memungkinkan untuk mendukungnya untuk belajar, maka kecil
kemungkinan siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi. Siswa yang
hidup dalam komunitasmasyarakat yang heterogen yang sering terjadi
kegaduhan, kebisingan, keributan, pertengkaran, perkelahian, dan
sebagainya sudah menjadi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari
kehidupan masyarakat yang heterogen.
4) Lingkungan sekolah. Merupakan keadaan lingkungan sekolah berada.
Lingkungan sekolah termasuk pula kepala sekolah, guru dan staff
pengajar lainnya yang memfasilitasi siswa untuk belajar dengan baik di
sekolah tempatnya belajar. Apabila lingkungan sekolah tidak kondusif
untuk melakukan kegiatan belajar mengajar, maka motivasi belajar
siswa akan semakin memudar. Suasana sekolah yang kurang
menyenangkan. Misalnya suasana bising, karena letak sekolah yang
berdekatan dengan jalan raya, tempat lalu lintas hilir mudik, berdekatan
dengan rumah penduduk, dekat pasar, dan lain-lain sehingga anak sulit
berkonsentrasi belajar.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, maka indikator
motivasi belajar pada penelitian ini meliputi faktor iternal dan faktor
eksternal. Faktor internal meliputi: kesehatan fisik dan mental, bakat, minat
untuk belajar, konsentrasi, kepercayaan diri, dan komitmen pada tugas.
Sedangkan faktor eksternal meliputi: kondisi keluarga, teman sebaya,
lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolah.
B. Kerangka Berpikir
1. Pengaruh minat dan motivasi belajar secara bersama-sama terhadap
prestasi belajar sosiologi
Dengan minat, siswa dapat mengikuti proses pembelajaran yang
sedang berlangsung di kelas dengan penuh perhatian. Karena dengan minat,
siswa akan mudah mempelajari materi yang disampaikan. Berkaitan dengan
42
minat belajar dalam mata pelajaran ilmu sosiologi, siswa yang memiliki
minat belajar yang tinggi akan lebih tekun mengikuti pelajaran
dibandingkan siswa yang memiliki minat belajar yang rendah, apabila
mendapatkan kesulitan dalam belajar, siswa tersebut akan berusaha mencari
solusi dan mengulanginya, atau langsung bertanya kepada guru, begitu pula
prestasi belajar siswa yang memiliki minat belajar yang tinggi akan
mendapatkan nilai yang baik, begitu pula dibandingkan dengan siswa yang
memiliki minat belajar rendah, akan mendapatkan nilai yang kurang
memuaskan.
Motivasi belajar adalah suatu usaha meningkatkan atau
mempertahankan setinggi mungkin kecakapan yang dimiliki untuk
mencapai hasil yang optimal dengan membandingkan beberapa ukuran
keunggulan, yaitu keunggulan yang pernah dicapai sendiri sebelumnya atau
keunggulan yang dicapai oleh orang lain. Seseorang yang telah mempunyai
motivasi belajar, berpotensi tidak akan pernah mersa puas dengan prestasi
belajar yang telah diraihnya dan cenderung untuk meningkatkannya
kembali.
Prestasi belajar adalah suatu kemampuan intelektual siswa yang
mengandung pengetahuan dan keterampilan berkaitan dengan upaya untuk
dapat menyelesaikan suatu program pembelajaran. Sedangkan prestasi
belajar sosiologi adalah tingkat pencapaian kemampuan pengetahuan siswa
pada materi ilmu sosial, serta pencapaian keterampilan dan sikap yang
terkait dengan wawasan tentang ilmu sosial tersebut.
43
Siswa dengan minat belajar yang tinggi akan mampu memperoleh
prestasi belajar yang baik, daripada siswa dengan minat belajar yang rendah.
Ini dapat dimungkinkan karena minat merupakan salah satu faktor penentu
keberhasilan siswa dalam belajar. Dengan minat belajar yang baik, maka
siswa akan terdorong untuk aktif mengikuti pelajaran, untuk mencapai
prestasi belajar yang optimal. Terlebih lagi jika minat tersebut didukung
oleh motivasi belajar yang baik, maka dapat dipastikan siswa tersebut akan
mampu menghadapi kesulitan dalam belajar.
Seseorang yang telah memiliki motivassi belajar yang baik, tidak
akan pernah merasa puas dan cukup dengan prestasi belajar yang telah
diraihnya. Ia akan selalu membandingkan dengan prestasi belajar yang
diperoleh oleh teman sekelasnya, dengan membandingkan nilai yang telah
diperolehnya.
Dari pemikiran tersebut maka peneliti mempunyai dugaan bahwa
minat dan motivasi belajar akan secara bersama-sama mempengaruhi
prestasi belajar siswa pada mata pelajaran sosiologi.
2. Pengaruh Minat Belajar terhadap Prestasi Belajar Sosiologi
Usaha belajar yang dilakukan oleh peserta didik secara disengaja
dan rasa senang terhadap mata pelajaran, khususnya mata pelajaran
sosiologi akan membuat peserta didik tersebut membuat perubahan perilaku
positif dalam mengikuti perlajaran tersebut. Perubahan perilaku positif
berarti jika peserta didik mempunyai minat belajar yang tinggi akan meraih
44
prestasi belajar yang optimal pula. Demikian sebaliknya, apabila peserta
didik tidak mempunyai minat belajar terhadap mata pelajaran khususnya
sosiologi, maka peserta didik itu tidak akan mampu meraih prestasi belajar
yang optimal. Namun minat belajar pun tidak lepas dari faktor internal,
yakni faktor yang datang dari dalam diri siswa itu sendiri dan faktor
eksternal yang datang dari keluarga, teman, dan lingkungan. Hal ini sangat
berkonstribusi besar terhadap prestasi belajar peserta didik.
Prestasi belajar siswa pada mata pelajaran sosiologi akan terlihat
dalam partisipasi siswa pada proses belajar, siswa yang lebih banyak
bertanya, menyampaiakan pendapat dan tekun mengerjakan soal, akan
terlihat kesiapannya dalam menghadapi ujian atau tes yang diberikan oleh
guru. Nilai tinggi yang didapat oleh siswa dalam hasil tes tersebut adalah
prestasi belajar siswa yang merupakan indikator kualitas dan kuantitas
pengetahuan siswa dalam mata pelajaran yang telah dipelajarinya,
khususnya pada mata pelajaran sosiologi. Dan hal ini merupakan suatu
kepuasan dan kebanggaan bagi siswa, orangtua dan sekolah.
Sekolah adalah suatu lembaga yang dirancang untuk belajar dan
mengajar. Belajar mengenai berbagai mata pelajaran, belajar mengenai
kehidupan sosial, dan belajar mengenai hidup. Sekolah adalah tempat untuk
memperoleh ilmu dan pengetahuan baru. Di sekolah ini, kita dapat melihat
prestasi atau tidaknya seorang siswa terhadap mata pelajaran tertentu,
khususnya mata pelajaran sosiologi. Dengan demikian minat belajar siswa
diduga erat hubungannya dengan prestasi belajar sosiologi.
45
3. Pengaruh Motivasi Belajar terhadap Prestasi Belajar Sosiologi
Motivasi belajar merupakan penggerak dan pendorong yang
dinamik dalam usaha meraih prestasi setinggi mungkin. Dorongan
berprestasi pada diri siswa membuat siswa semakin serius dalam
mempelajari sesuatu yang di pelajari, dan dari dorongan belajar tersebut
tentunya akan meningkatkan hasil belajar.
Prestasi Belajar tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar,
karena belajar merupakan suatu proses, sedangkan prestasi belajar
adalah hasil dari proses pembelajaran tersebut. Bagi seorang anak
belajar merupakan suatu kewajiban. Berhasil atau tidaknya seorang
anak dalam pendidikan tergantung pada proses belajar yang dialami
oleh anak tersebut.
Konsep motivasi belajar adalah suatu usaha meningkatkan atau
mempertahankan setinggi mungkin kecakapan yanng dimiliki untuk
mencapai hasil dengan membandingkan setinggi mungkin kecakapan yang
dimiliki untuk mencapai hasil dengan membandingkan beberapa ukuran
keunggulan. Keunggulan disini merupakan perbandingan antara prestasi
yang dicapai sendiri atau prestasi yang sudah dicapai sebelumnya.
Seseorang yang telah memiliki motivasi berprestasi tidak akan pernah
merasa puas dengan prestasi belajar yang sudah diraihnya. Ia akan selalu
membandingkan dengan hasil belajar siswa lain dalam satu kelas.
46
Untuk memperoleh hasil yang baik dalam pendidikan, maka siswa
yang ingin mempunyai prestasi belajar yang baik, dia akan berusaha untuk
meningkatkan kemampuan dengan sungguh-sungguh sebagai rasa
tanggungjawabnya. Tetapi apabila dia menemukan kesulitan dalam belajar,
maka ia akan berusaha dengan segala kemampuan yang dimilikinya untuk
mengatasi kesulitan belajar tersebut, atau dengan kata lain bahwa prestasi
belajar yang tinggi bisa diraih dengan motivasi belajar yang tinggi pula.
Dari uraian teoritis tersebut peneliti menyimpulkan bahwa motivasi belajar
sangat mempengaruhi prestasi belajar ilmu sosiologi.
C. Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan dugaan sementara terhadap rumusan masalah
penelitian, oleh karena itu rumusan masalah penelitian biasanya disusun
didalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatan sementara, karena jawaban
yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan
pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi
hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan
masalah penelitian, belum jawaban yang empirik (Sugiyono, 2007:93).
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas, maka
diajukan hipotesis sebagai berikut.
1. Terdapat pengaruh yang signifikan minat dan motivasi belajar secara
bersama-sama terhadap prestasi prestasi belajar sosiologi.
47
2. Terdapat pengaruh yang signifikan minat belajar terhadap prestasi
prestasi belajar sosiologi.
3. Terdapat pengaruh yang signifikan motivasi belajar secara terhadap
prestasi prestasi belajar sosiologi.