0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan27 halaman

Konsep dan Klasifikasi Asma Bronkhial

-

Diunggah oleh

lydw520
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan27 halaman

Konsep dan Klasifikasi Asma Bronkhial

-

Diunggah oleh

lydw520
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Asma Bronkhial

1. Pengertian

Asma bronkhial adalah suatu kelainan berupa inflamasi atau

peradangan kronik saluran napas yang menyebabkan hipereaktifitas

bronkus, sehingga menyebabkan gejala episodik berulang berupa mengi,

sesak napas, rasa berat di dada, dan batuk terutama ,malam atau dini hari.

Gejala epiodik tersebut timbul sangat bervariasi dan bersifat reversible

atau dapat kembali normal baik dengan atau tanpa pengobatan (Kemenkes

RI, 2017).

Asma bronkial adalah penyakit saluran napas kronis yang

menyerang berbagai usia dan biasanya dimulai sejak masa kanak-kanak.

Penyebab penyakit asma ini adalah suatu reaksi alergi yang kompleks dan

menyebabkan respons berlebihan dari saluran pernapasan, utamanya

bronkus (Prasetya, 2021). Menurut Rosfadilla dan Sari (2022) asma

bronkial adalah gangguan inflamasi kronik saluran nafas. Hal ini

menyebabkan peningkatan hiperresponsif jalan nafas yang ditandai

dengan wheezing, sulit bernafas, dada terasa berat dan batuk, terutama

terjadi malam hari atau menjelang pagi hari.

2. Klasifikasi

Prasetya (2021) menjelaskan bahwa asma bronkial diklasifikasikan

menjadi 4 golongan berdasarkan tingkat keparahannya yaitu sebagai

berikut:
7

a. Asma intermiten. Asma ini ditandai dengan gejala kurang dari 1 kali

per minggu dan gejala malam kurang dari 2 kali per bulan, fungsi paru

normal.

b. Asma persisten ringan. Asma ini ditandai dengan gejala lebih dari 1

kali per minggu dan gejala malam kurang dari 1 kali per bulan, fungsi

paru normal

c. Asma persisten sedang. Asma ini ditandai dengan gejala sepanjang

hari dan gejala malam lebih dari 1 kali per minggu, fungsi paru mulai

menurun

d. Asma persisten berat. Asma ini ditandai dengan gejala sepanjang hari

dan lebih parah pada malam hari, fungsi paru menurun cukup drastis.

3. Etiologi

Faktor pencetus yang dapat menimbulkan serangan asma bronkial

menurut Muttaqin (2014) adalah sebagai berikut:

a. Faktor Presipitasi :

1) Allergen. Allergen adalah zat-zat tertentu yang bila dihisap atau

dimakan dapat menimbulkan serangan asma, misalnya debu

rumah, tungai debu rumah (dermatophagoides pteronissynus),

spora jamur, bulu kucing, bulu binatang, beberapa makanan laut,

dan sebagainya.

2) Infeksi saluran pernapasan. Hal ini terutama disebabkan oleh

virus. Virus influenza merupakan salah satu faktor pencetus yang

paling sering menimbulkan asma bronkiale. Diperkirakan, dua


8

pertiga penderita asma dewasa, serangan asmanya ditimbulkan

oleh saluran pernapasan

3) Tekanan jiwa. Tekanan jiwa bukan penyebab asma tetapi

pencetus asma, karena banyak orang yang mendapat tekanan jiwa

tetapi tidak menjadi penderita asma bronkial. Faktor ini berperan

mencetuskan serangan asma terutama pada orang yang agak labil

kepribadiannya. Hal ini lebih menonjol pada wanita dan anak-

anak.

4) Olahraga atau kegiatan jasmani yang berat. Sebagian penderita

asma bronkial akan mendapatkan serangan asma bila melakukan

olahraga atau aktivitas fisik yang berlebih. Lari cepat dan

bersepeda adalah dua jenis kegiatan paling mudah menimbulkan

serangan asma.

5) Obat-obatan. Beberapa klien dengan asma bronkial sensitive atau

alergi terhadap obat tertentu seperti penisillin salisilat, beta

blocker, kodein, dan sebagainya.

6) Polusi udara. Klien asma sangat peka terhadap udara berdebu,

asap pabrik atau kendaraan, asap rokok, asap yang mengandung

basil pembakaran dan aksida foto kemikal, serta bau yang tajam.

7) Lingkungan kerja diperkirakan merupakan faktor pencetus yang

menyumbang 2-15% klien dengan asma bronkhial.

b. Faktor predisposisi (genetik)

Faktor genetik yang dapat diturunkan adalah bakat alerginya,

meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas.


9

Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat

juga menderita penyakit alergi. Adanya bakat alergi ini, penderita

sangat mudah terkena penyakit asma bronkial jika terpapar dengan

faktor pencetus. Selain itu hipersensitifisitas saluran pernapasan juga

bisa diturunkan (Haris et al., 2018).

4. Manifestasi klinis

Setiawan dan Saturti (2018) menjelaskan bahwa gejala klinis asma

klasik terdiri dari trias sesak nafas, batuk, dan mengi. Gejala lainnya dapat

berupa rasa berat di dada, produksi sputum, penurunan toleransi kerja,

nyeri tenggorokan, dan pada asma alergik dapat disertai dengan pilek atau

bersin. Gejala tersebut dapat bervariasi menurut waktu dimana gejala

tersebut timbul musiman atau perenial, beratnya, intensitas, dan juga

variasi diurnal. Timbulnya gejala juga sangat dipengaruhi oleh adanya

faktor pencetus seperti paparan terhadap alergen, udara dingin, infeksi

saluran nafas, obat-obatan, atau aktivitas fisik. Faktor sosial juga

mempengaruhi munculnya serangan pada pasien asma, seperti

karakteristik rumah, merokok atau tidak, karakteristik tempat bekerja atau

sekolah, tingkat pendidikan penderita, atau pekerjaan.

Klasifikasi derajat berat asma berdasarkan gambaran klinis

menurut Setiawan dan Saturti (2018) disajikan dalam Tabel 2.1 di

bawah ini
10

Tabel 2.1.
Klasifikasi Derajat Berat Asma Berdasarkan Gambaran Klinis

Derajat Gejala
Gejala Faal Paru
Asma Malam
Intermiten Bulanan ≤ 2x/bulan APE ≥ 80%
1. Gejala < 1x/minggu a. VEP ≥ 80% nilai
2. Tanpa gejala diluar prediksi
serangan b. APE ≥ 80% nilai
3. Serangan singkat terbaik
c. Variabilitas APE <
20%
Persisten Mingguan > 2x/bulan APE ≥ 80%
Ringan 1. Gejala > 1x/minggu, a. VEP ≥ 80% nilai
tapi < 1x/hari prediksi
2. Serangan dapat b. APE ≥ 80% nilai
mengganggu terbaik
aktivitas dan tidur c. Variabilitas APE 20-
3. Membutuhkan 30%
bronkodilator setiap
hari
Persisten Harian >1x/minggu APE 60-80%
Sedang 1. Gejala setiap hari a. VEP 60-80% nilai
2. Serangan menggangu prediksi
aktivitas dan tidur b. APE 60-80% nilai
3. Membutuhkan terbaik
bronkodilator setiap c. Variabilitas APE >
hari 30%
Persisten Kontinyu Sering APE ≤ 60%
Berat 1. Gejala terus menerus a. VEP ≤ 60% nilai
2. Sering kambuh prediksi
3. Aktivitas fisik b. APE≤ 60% nilai
terbatas terbaik
c. Variabilitas APE >
30%
Sumber: Setiawan dan Saturti (2018)

5. Patofisiologi

Faktor-faktor penyebab seperti virus, bakteri, jamur, parasit, alergi,

iritan, cuaca, kegiatan jasmani dan psikis akan merangsang reaksi

hiperreaktivitas bronkus dalam saluran pernafasan sehingga merangsang

sel plasma menghasilkan imunoglubulin E (IgE). IgE selanjutnya akan

menempel pada reseptor dinding sel mast, kemudian sel mast tersensitasi.

Sel mast tersensitasi akan mengalami degranulasi, sel mast yang

mengalami degranulasi akan mengeluarkan sejumlah mediator seperti


11

histamin dan bradikinin yang menyebabkan peningkatan permeabilitas

kapiler sehingga timbul edema mukosa, peningkatan produksi mukus dan

kontraksi otot polos bronkiolus. Hal ini akan menyebabkan proliferasi

akibat terjadinya sumbatan dan daya konsulidasi pada jalan nafas sehingga

proses pertukaran O2 dan CO2 terhambat akibatnya terjadi ganguan

ventilasi (Nugroho & Putri, 2016).

Rendahnya masukan O2 ke paru-paru terutama pada alveolus

menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan CO2 dalam alveolus atau

yang disebut dengan hiperventilasi, yang akan menyebabkan terjadi

alkalosis respiratorik dan penurunan CO2 dalam kapiler (hipoventilasi)

yang akan menyebabkan terjadi asidosis respiratorik. Hal ini dapat

menyebabkan paru-paru tidak dapat memenuhi fungsi primernya dalam

pertukaran gas yaitu membuang karbondioksida sehingga menyebabkan

konsentrasi O2 dalam alveolus menurun dan terjadilah gangguan difusi,

dan akan berlanjut menjadi gangguan perfusi dimana oksigenasi ke

jaringan tidak memadai sehingga terjadi hipoksemia dan hipoksia yang

akan menimbulkan berbagai manifestasi klinis (Nugroho & Putri, 2016).

6. Pemeriksaan penunjang

Sudoyo et al. (2012 dalam Suartini, 2021) menjelaskan bahwa

pemeriksaan penunjang asma bronkial meliputi:

a) Pemeriksaan spirometri

Pemeriksaan spirometri bertujuan untuk menunjukkan adanya

penyempitan saluran napas. Caranya, setelah pasien menghirup udara

sebanyak-banyaknya lalu diminta meniupkan udara dengan cepat


12

sampai habis ke dalam alat yang disebut spirometri. Spirometri adalah

alat pengukur faal paru, selain penting untuk menegakkan diagnosis

juga untuk menilai beratnya obstruksi dan efek pengobatan. Suatu

tanda yang khas pada asma yaitu penyempitan ini akan kembali ke

arah normal dengan bantuan obat anti asma atau kadang-kadang

spontan tanpa obat. Pada asma kronik, pemeriksaan spirometri

dilakukan berulang untuk mencari komposisi atau kombinasi obat

yang dapat memberikan hasil pengobatan yang terbaik (Sudoyo et al.,

2012)

b) Pemeriksaan Rontgen

Pemeriksaan rontgen paru dilakukan untuk menyingkirkan

penyakit yang bukan disebabkan asma. Pemeriksaan rontgen untuk

asma sebagian besar normal atau hiperinflasi. Pemeriksaan rontgen

paru hanya sedikit membantu karena tidak dapat menunujukkan

adanya penyempitan jalan napas. Tujuan dari rontgen paru adalah

untuk melihat adanya penyakit paru lain yang disebabkan dari asma

itu sendiri seperti tuberculosis atau pneumothoraks. Pemeriksan

rontgen cukup dilakuan sekali dan baru diulang jika dicurigai adanya

komplikasi dari asma (Sudoyo et al., 2012).

c. Pemeriksaan tes kulit

Tes ini membantu diagnosis asma khususnya dalam

menentukan alergen sebagai pencetus serangan asma. Uji tusuk kulit

(skin prick test) untuk menunjukkan antibody IgE spesifik pada kulit.

Uji tersebut untuk mendukung anamesis dan mencari faktor pencetus.


13

d. Pemeriksaan darah

Pemeriksaan darah selain untuk melihat danya infeksi atau

anemi juga melihat adanya tanda-tanda penyakit alergi yang

berhubungan dengan asma seperti pemeriksaan eosinofil (jenis sel

darah putih tertentu), kadar anti IgE dan IgE spesifik. Pemeriksaan

darah yang penting adalah pada saat serangan asma yang berat. Disaat

pasien tidak bisa meniup spirometri, maka dilakukan AGD yang dapat

menunjuka berat ringannya suatu serangan asma. Pada asma yang

berat tekanan oksigen ini menurun, bila lebih berat lagi tekanan

karbondioksida meningkat dan darah menjadi asam. Hasil AGD ini

menentukkan apakah pasien mengalami gagal napas sehingga perlu di

rawat di ruang perawatan intensif. Untuk melihat kemajuan hasil

pengobatan, pemeriksaan AGD dilakukan berulang kali.

e. Petanda inflamasi

Derajat berat asma dan pengobatannya dalam klinik

sebenarnya tidak berdasarkan atas peniliaian obyektif inflamasi

saluran napas. Penilaian semi kuantitatif inflamasi saluran napas dapat

dilakukan melalui biopsy paru, pemeriksaan sel eosinofil dalam

sputum dan kadar oksida nitrat udara yang dikeluarkan dengan napas.

Analisis sputum yang diinduksi menunjukkan hubungan antara

jumlah einisofil dan eosinophil cationic protein dengan inflamasi dan

derajat berat asma. Biopsy endobronkial dan transbronkial dapat

menunjukkan gambaran inflamasi tetapi jarang atau sulit dilakukan di

luar riset.
14

f. Uji Hiperaktivitas bronkus (HRB)

Hiperesponsif bronkus hampir selalu ditemukan pada asma

dan derajat berkorelasi dengan keparahan asma. Tes ini sangat

sensitive sehingga kalau tidak ditemukan hiperesponsif saluran napas

harus memacu untuk mengulangi pemeriksaan awal dan memikirkan

diagnosisi penyakit selain asma.

7. Penatalaksanaan

Prinsip-prinsip penatalaksanaan asma bronkial menurut Soemantri

(2016) adalah sebagai berikut:

a. Saatnya serangan

1) Obat-obatan yang telah diberikan (macam dan dosis)

2) Pemberian obat bronkodilator.

3) Penilaian terhadap perbaikan serangan.

4) Pertimbangan terhadap pemberian kortikosteroid.

5) Penatalaksanaan setelah serangan mereda

b. Cari faktor penyebab

c. Modifikasi pengobatan penunjang selanjutnya.

Nugroho dan Putri (2016) menjelaskan bahwa penatalaksanaan

medis pada pasien asma bronkial adalah sebagai berikut:

a. Oksigen 4-6 liter / menit

b. Pemenuhan hidrasi via infus

c. Terbutalin 0,25 mg / 6 jam secara subkutan (SC)

d. Bronkodilator / antibronkospasme dengan cara :


15

1) Nebulizer (via inhalasi) dengan golongan terbutaline 0,25 mg

(Bricasma), fenoterol HBr 0,1 % solution (berotec), orciprenaline

sulfur 0,75 mg (Allupent).

2) Intravena dengan golongan theophyline ethilenediamine

(Aminophillin) bolus IV 5-6 mg/ kg BB

3) Peroral dengan aminofillin 3x150 mg tablet, agonis B2

(salbutamol 5 mg atau feneterol 2,5 mg atau terbutaline 10 mg)

4) Antiedema mukosa dan dinding bronkus dengan golongan

kortikosteroid, deksamethasone 4 mg IV setiap 8 jam

5) Mukolitik dan ekspektoran :

a) Bronhexime HCL 8 mg per oral 3x1

b) Nebulizer (via inhalsi) dengan golongan bronhexime HCL

8 mg dicampur dengan aquades steril.

7. Komplikasi

Komplikasi adalah akibat asma bronkial yang tidak terkendali

menurut Chasanah (2019) antara lain :

a. Tidur yang terganggu, dengan akibat gangguan konsentrasi pada jam

pelajaran sekolah atau pekerjaan. Seringnya angka absensi, tidak naik

kelas, atau terhambatnya promosi

b. Fungsi paru-paru yang terganggu menghalangi aktivitas fisik atau

olahraga, meningkatknya resiko penyakit jantung

c. Peradangan menahun pada saluran pernapasan bisa mengakibatkan

kerusakan permanen pada paru

d. Peningkatan risiko kematian karena serangan asma yang parah.


16

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pathway

Virus, bakteri, jamur, parasit, alergi, iritan,


cuaca, kegiatan jasmani dan psikis

Hiperreaktivitas bronkus

Sel plasma menghasilkan imunoglubulin E (IgE)

IgE menempel pada reseptor dinding sel mast

Sel mast tersensitasi akan mengalami degranulasi

Sekresi histamin dan bradikinin

Peningkatan Asma Peningkatan kontraksi


produksi mukus Bronkhial otot polos bronkiolus

Bersihan jalan Proses pertukaran O2 dan Pola Nafas tidak


nafas tidak CO2 terhambat efektif
efektif

Hiperventilasi

Asupan Nutrisi
Menurun Asidosis respiratorik

BB Menurun Gangguan
pertukaran gas

Defisit Nutrisi

Bagan 2.1
Pathway
Sumber: Nugroho & Putri (2016).
17

2. Pengkajian

a. Pengkajian mengenai identitas klien dan keluarga mengenai nama,

umur, dan jenis kelamin karena pengkajian umur dan jenis kelamin

diperlukan pada klien dengan asma.

b. Keluhan utama, klien asma akan mengluhkan sesak napas, bernapas

terasa berat pada dada, dan adanya kesulitan untuk bernapas.

c. Riwayat penyakit saat ini, klien dengan riwayat serangan asma datang

mencari pertolongan dengan keluhan sesak nafas yang hebat dan

mendadak, dan berusaha untuk bernapas panjang kemudian diikuti

dengan suara tambahan mengi (wheezing), kelelahan, gangguan

kesadaran, sianosis, dan perubahan tekanan darah.

d. Riwayat penyakit dahulu riwayat, penyakit klien yang diderita pada

masa- masa dahulu meliputi penyakit yang berhubungan dengan

sistem pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan atas, sakit

tenggorokan, sinusitis, amandel, dan polip hidung.

e. Riwayat penyakit keluarga pada klien dengan asma juga dikaji adanya

riwayat penyakit yang sama pada anggota keluarga klien.

f. Pengkajian psiko-sosio-kultural, kecemasan dan koping tidak efektif,

status ekonomi yang berdampak pada asuhan kesehatan dan

perubahan mekanisme peran dalam keluarga serta faktor gangguan

emosional yang bisa menjadi pencetus terjadinya serangan asma.

g. Pola resepsi dan tata laksana hidup sehat, gejala asma dapat

membatasi klien dalam berperilaku hidup normal sehingga klien


18

dengan asma harus mengubah gaya hidupnya agar serangan asma

tidak muncul.

h. Pola hubungan dan peran, gejala asma dapat membatasi klien untuk

menjalani kehidupannya secara normal sehingga klien harus

menyesuaikan kondisinya dengan hubungan dan peran klien.

i. Pola persepsi dan konsep diri, persepsi yang salah dapat menghambat

respons kooperatif pada diri klien sehingga dapat meningkatkan

kemungkinan serangan asma yang berulang.

j. Pola penanggulangan dan stress, ketegangan emosional merupakan

faktor instrinsik pencetus serangan asma sehingga diperlukan

pengkajian penyebab dari asma.

k. Pola sensorik dan kognitif, kelainan pada pola persepsi dan kognitif

akan mempengaruhi konsep diri klien yang akan mempengaruhi

jumlah stressor sehingga kemungkinan serangan asma berulang pun

akan semakin tinggi.

l. Pola tata nilai dan kepercayaan kedekatan, klien dengan apa yang

diyakini di dunia ini dipercaya dapat meningkatkan kekuatan jiwa

klien sehingga dapat menjadi penanggulangan stress yang konstruktif.

3. Pemeriksaan fisik head to toe

a. Keadaan umum: tampak lemah

b. Tanda- tanda vital : (tekanan darah menurun, nafas sesak, nadi lemah

dan cepat, suhu meningkat, distress pernafasan sianosis)

c. TB/ BB : Sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan

d. Kulit (Tampak pucat, sianosis, biasanya turgor jelek)


19

e. Kepala (Sakit kepala)

f. Mata (tidak ada yang begitu spesifik)

g. Hidung (Nafas cuping hidung, sianosis)

h. Mulut (Pucat sianosis, membran mukosa kering, bibir kering, bibir

kuning, dan pucat)

i. Telinga (Lihat sekret, kebersihan, biasanya tidak ada spesifik pada

kasus ini)

j. Leher (Tidak terdapat pembesaran KGB dan kelenjar tiroid)

k. Jantung (Pada kasus komplikasi ke endokardititis, terjadi bunyi

tumbuhan)

l. Paru- paru (Infiltrasi pada lobus paru, perkusi pekak (redup),

wheezing (+), sesak istirahat dan bertambah saat beraktivitas)

m. Punggung (Tidak ada spesifik)

n. Abdomen (Bising usus (+), distensi abdomen, nyeri biasanya tidak

ada)

o. Genetalia (Tidak ada gangguan)

p. Ektremitas (Kelemahan, penurunan aktivitas, sianosis ujung jari dan

kaki).

q. Neurologis (Terdapat kelemahan otot, tanda reflex spesifik tidak ada)

4. Pemeriksaan penunjang

a. Spirometri, pengukuran fungsi paru.

b. Tes provokasi bronkhus, dilakukan pada spirometri internal

c. Pemeriksaan laboratorium meliputi analisa gas darah, sputum, sel

eosinofil, pemeriksaan darah rutin dan kimia.


20

d. Pemeriksaan radiologi

5. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien asma

menurut (Mustopa, 2022) yaitu :

a. Bersihan jalan nafas tidak efektif

1) Definisi

Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan

nafas untuk mempertahankan jalan nafas tetap paten (Tim Pokja

SDKI DPP PPNI, 2016)..

2) Etiologi

a) Fisiologis:

(1) Spasme jalan napas.

(2) Hipersekresi jalan napas.

(3) Disfungsi neuromuskuler.

(4) Benda asing dalam jalan napas.

(5) Adanya jalan napas buatan.

(6) Sekresi yang tertahan.

(7) Hiperplasia dinding jalan napas.

(8) Proses infeksi.

(9) Respon alergi.

(10) Efek agen farmakologis (mis. anastesi).

b) Situasional:

(1) Merokok aktif.

(2) Merokok pasif.


21

(3) Terpajan polutan.

3) Manifestasi klinis

a) Gejala dan tanda mayor:

(1) Subjektif: tidak tersedia.

(2) Objektif: batuk tidak efektif, tidak mampu batuk, sputum

berlebih, Mengi, wheezing dan / atau ronkhi kering dan

mekonium di jalan nafas pada Neonatus.

b) Gejala dan Tanda Minor.

(1) Subjektif: Dispnea, sulit bicara, ortopnea.

(2) Objektif: Gelisah, sianosis, bunyi napas menurun,

frekuensi napas berubah, pola napas berubah.

4) Kondisi klinis terkait

Kondisi klinis terkait meliputi: Gullian barre syndrome,

Sklerosis multipel, Myasthenia gravis, Prosedur diagnostik (mis.

bronkoskopi, transesophageal echocardiography (TEE), Depresi

sistem saraf pusat, cedera kepala, stroke, kuadriplegia, sindron

aspirasi mekonium dan infeksi saluran napas.

b. Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan penyempitan bronkus..

1) Definisi

Pola napas tidak efektif adalah adalah inspirasi dan/atau

ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat (Tim Pokja

SDKI DPP PPNI, 2016).

2) Etiologi

Penyebab (etiologi) untuk masalah pola napas tidak efektif

adalah:
22

a) Depresi pusat pernapasan

b) Hambatan upaya napas (mis. nyeri saat bernapas, kelemahan

otot pernapasan)

c) Deformitas dinding dada

d) Deformitas tulang dada

e) Gangguan neuromuskular

f) Gangguan neurologis (mis. elektroensefalogram [EEG]

positif, cidera kepala, gangguan kejang)

g) Imaturitas neurologis

h) Penurunan energi

i) Obesitas

j) Posisi tubuh yang menghambat ekspansi paru

k) Sindrom hipoventilasi

l) Kerusakan inervasi diafragma (kerusakan saraf C5 keatas)

m) Cidera pada medula spinalis

n) Efek agen farmakologis

o) Kecemasan

3) Manifestasi klinis

a) Gejala dan tanda mayor:

(1) Subjektif: Dispnea

(2) Objektif: Penggunaan otot bantu pernapasan, Fase

ekspirasi memanjang, Pola napas abnormal (mis.

takipnea. bradipnea, hiperventilasi kussmaul cheyne-

stokes)
23

b) Gejala dan Tanda Minor:

(1) Subjektif: Ortopnea

(2) Objektif: Pernapasan pursed-lip, Pernapasan cuping

hidung, Diameter thoraks anterior-posterior meningkat,

Ventilasi semenit menurun, Kapasitas vital menurun,

Tekanan ekspirasi menurun, Tekanan inspirasi menurun

dan Ekskursi dada berubah

4) Kondisi klinis terkait: -

6. Rencana asuhan keperawatan

a. Bersihan jalan nafas tidak efektif

1) Manajemen Jalan Napas (I.01011)

Tindakan yang dilakukan meliputi:

a) Observasi:

(1) Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)

(2) Monitor bunyi napas tambahan (mis. gurgling, mengi,

wheezing, ronchi kering)

(3) Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)

b) Terapeutik:

(1) Pertahankan kepatenan jalan napas dengan headtilt dan

chin-lift (jawthrust jika curiga trauma servical)

(2) Posisikan semi-fowler atau fowler

(3) Berikan minum hangat

(4) Lakukan fisioterapi dada, jika perlu

(5) Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik


24

(6) Lakukan hiperoksigenasi sebelum penghisapan

endotrakeal

(7) Keluarkan sumbatan benda dengan forsep McGill

(8) Berikan oksigen, jika perlu

c) Edukasi:

(1) Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak

kontraindikasi

(2) Ajarkan tehnik batuk efektif

d) Kolaborasi:

Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran,

mukolitik, jika perlu.

2) Pemantauan Respirasi (I.01014)

Tindakan yang dilakukan meliputi:

a) Observasi:

(1) Monitor frekuensi, irama, kedalam dan upaya napas

(2) Monitor pola napas

(3) Monitor kemampuan batuk efektif

(4) Monitor adanya produksi sputum

(5) Monitor adanya sumbatan jalan napas

(6) Palpasi kesimetrisan ekspansi paru

(7) Auskultasi bunyi napas

(8) Monitor saturasi oksigen

(9) Monitor AGD

(10) Monitor x-ray thoraks


25

b) Terapeutik:

(1) Atur internal pemantau respirasi sesuai kondisi pasien

(2) Dokumentasikan hasil pemantauan

c) Edukasi:

(1) Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan

(2) Informasikan hasil pemantauan, jika perlu

b. Pola Nafas tidak efektif.

1) Manajemen Jalan Napas (I.01011)

Tindakan yang dilakukan meliputi:

a) Observasi

(1) Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)

(2) Monitor bunyi napas tambahan (misalnya: gurgling,

mengi, wheezing, ronchi kering)

(3) Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)

b) Terapeutik

(1) Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan

chin-lift (jaw thrust jika curiga trauma fraktur servikal)

(2) Posisikan semi-fowler atau fowler.

(3) Berikan minum hangat

(4) Lakukan fisioterapi dada, jika perlu

(5) Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik

(6) Lakukan hiperoksigenasi sebelum penghisapan

endotrakeal

(7) Keluarkan sumbatan benda padat dengan forsep McGill


26

(8) Berikan oksigen, jika perlu

c) Edukasi

(1) Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak ada

kontraindikasi

(2) Ajarkan teknik ballon blowing.

d) Kolaborasi

Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran,

mukolitik, jika perlu.

2) Pemantauan Respirasi (I.01014)

Tindakan yang dilakukan pada intervensi pemantauan

respirasi berdasarkan SIKI, antara lain:

a) Observasi

(1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya napas

(2) Monitor pola napas (seperti bradypnea, takipnea,

hiperventilasi, kussmaul, Cheyne-stokes, biot, ataksik)

(3) Monitor kemampuan batuk efektif

(4) Monitor adanya produksi sputum

(5) Monitor adanya sumbatan jalan napas

(6) Palpasi kesimetrisan ekspansi paru

(7) Auskultasi bunyi napas

(8) Monitor saturasi oksigen

(9) Monitor nilai analisa gas darah

(10) Monitor hasil x-ray thoraks.


27

b) Terapeutik

(1) Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien

(2) Dokumentasikan hasil pemantauan

c) Edukasi

(1) Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan

(2) Informasikan hasil pemantauan, jika perlu.

7. Implementasi Keperawatan

Pelaksanaan keperawatan adalah pemberian asuhan keperawatan

yang dilakukan secara langsung kepada pasien. Kemampuan yang harus

dimiliki perawat pada tahap implementasi adalah kemampuan komunikasi

yang efektif, kemampuan untuk menciptakan hubungan saling percaya dan

saling membantu, kemampuan teknik psikomotor, kemampuan melakukan

observasi sistematis, kemampuan memberikan pendidikan kesehatan,

kemampuan advokasi dan evaluasi (Nursalam, 2015).

8. Evaluasi

Nursalam (2015) menjelaskan bahwa evaluasi keperawatan adalah

tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan perbandingan

sistematis dan terencana antara hasil akhir yang teramati dan tujuan atau

kiteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi bertujuan untuk

melihat kemamouan keluarga dalam mencapai tujuan. Evaluasi terbagi

atas dua jenis, yaitu:

a. Evaluasi formatif

Evaluasi formatif berfokus pada aktivitas proses keperawatan

dan hasil tindakan keperawatan. Evaluasi ini dilakukan segera setelah


28

perawat mengimplementasikan rencana keperawatan guna menilai

keefektifan tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.

Perumusan evaluasi formatif ini meliputi empat komponen yang

dikenal dengan istilah SOAP, yakni subjektif (data berupa keluhan

klien), objektif (data hasil pemeriksaan), analisa data (perbandingan

data dengan teori), dan Planning (perencanaan).

b. Evaluasi sumatif

Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan setelah

semua aktifitas proses keperawatan selesai dilakukan. Evaluasi

sumatif ini bertujuan menilai dan memonitor kualitas asuhan

keperawatan yang telah diberikan. Metode yang dapat digunakan pada

evaluasi jenis ini adalah melakukan wawancara pada akhir layanan,

menanyakan respon pasien dan keluarga terkait layanan keperawatan,

mengadakan pertemuan pada akhir pelayanan.

C. Evidence Base Practice (EBP)

1. Terapi ballon blowing

a. Definisi

Ballon blowing atau latihan pernapasan dengan meniup balon

merupakan salah satu latihan relaksasi pernapasan dengan menghirup

udara melalui hidung dan mengeluarkan udara melalui mulut ke dalam

balon. Relaksasi ini dapat memperbaiki transport oksigen, membantu

pasien untuk memperpanjang ekshalasi dan untuk pengembangan

paru yang optimal.

b. Tujuan
29

Padila et al. (2020) menjelaskan bahwa tujuan ballon blowing

adalah melatih pernapasan yaitu ekspirasi menjadi lebih panjang dari

pada inspirasi untuk memfasilitasi pengeluaran karbondioksida dari

tubuh yang tertahan karena obstruksi jalan napas. Terapi bermain

meniup super bubbels ditujukan untuk anak-anak yang mengalami

gangguan pada sistem pernapasan khususnya asma dengan tujuan agar

fungsi paru pada anak akan meningkat dan menjadi normal. Menurut

Tunik et al. (2020), Teknik relaksasi dengan meniup balon dapat

membantu otot intercosta mengelevasikan otot diafragma dan costa.

Hal ini memungkinkan untuk menyerap oksigen, mengubah bahan

yang masih ada dalam paru dan mengeluarkan karbondioksida dalam

paru. meniup balon sangat efektif untuk membantu ekpansi paru

sehingga mampu mensuplay oksigen dan mengeluarkan

karbondioksida yang terjebak dalam paru.

c. Manfaat terapi ballon blowing

Menurut Padila et al. (2020) manfaat dari terapi ballon blowing

pada anak yaitu :

1) Dapat meningkatkan ventilasi pernapasan

2) Membebaskan udara yang terperangkap dalam paru-paru

3) Menjaga pernapasan agar selalu terbuka

4) Meningkatkan pola nafas yang efektif

5) Menghilangkan sesak nafas yang tidak efektif.


30

d. Metode pelaksanaan terapi ballon blowing

Nawangsih (2020) menjelaskan bahwa metode pelaksanaan

terapi ballon blowing adalah sebagai berikut:

1) Melakukan gerakan pertama yaitu dengan merilexkan tubuh

pasien

2) Siapkan balon/pegang balon dengan kedua tangan

3) Tarik nafas secara melalui hidung selama 3-4 detik lalu di tahan

2-3 detik kemudian lakukan ekhalasi dengan meniup balon

selama 5-8 detik. (balon mengembang)

4) Tutup balon dengan jari-jari

5) Tarik napas sekali lagi dan tiupkan lagi kedalam balon (ulangi

prosedur 4)

6) Lakukan 3 kali dalam 1 set latihan

7) Istirahat selama 1 menit untuk mencegah kelemahan otot

8) Hentikan jika terjadi pusing atau nyeri dada

2. Evidence-Based Practice

Greenberg & Pyle (2006) dalam Wahyuni (2019) menjelaskan

bahwa Evidence-Based Practice adalah penggunaan bukti untuk

mendukung pengambilan keputusan di pelayanan kesehatan. Evidence

Base Practice dalam penulisan KIAN ini disajikan dalam Tabel 2.2 di

bawah ini.
31

Tabel 2.2
Evidence Base Practice (EBP)

Penulis,
Judul Metode Penelitian Hasil Penelitian
Tahun
Pangesti & Pengaruh Ballon Metode penelitian yang Setelah dilakukan terapi
Kurniawan blowing Terhadap digunakan adalah studi ballon blowing pada anak
(2022) Status Oksigenasi kasus dengan sampel dengan asma bronkial
pada Anak sejumlah 2 pastisipan efektif mengurangi sesak
dengan Asma yang berusia 9 dan 5 nafas, menurunkan
Bronkial tahun. Teknik frekuensi pernafasan
pengumpulan menjadi normal,
menggunakan mengatasi suara mengi
wawancara, observasi dan meningkatkan saturasi
dan studi dokumentasi. oksigen. Ada pengaruh
terapi tehnik Balon
bllowing (meniup balon)
pada pasien anak Asma
Bronkial terhadap status
oksigenasi
Munawaroh et Penerapan Terapi Metode pengumpulan Hasil setelah dilakukan
al. (2023) Pursed Lip data menggunakan penerapan terapi pursed
Breating Meniup analisa deskriptif dan lip breathing meniup
Balon Terhadap studi kasus. balon pada anak dengan
Status Oksigenasi asma selama 3 hari
Anak Dengan didapatkan hasil
Asma di RSUD Penurunan Respiratory
Karanganyar Rate (RR) 27-38 x/menit,
Peningkatan Heart Rate
(HR) 110-130 x/menit,
Peningkatan Saturasi
oksigen (SPO2) 98-99%
Asih et al. Terapi Blowing Penelitian ini Terjadi penurunan
(2022) Ballon Untuk menggunakan metode frekuensi pernapasan pada
Mengurangi penelitian studi kasus anak A, yaitu pada hari
Sesak Napas pada (case study). Pada kedua frekuensi napas 44
Pasien Asma penelitian ini subyek x / mnt menjadi 40 x/mnt
Bronkhiale di studi kasus adalah anak dan hari ketiga dari 40
Ruang Parikesit usia 8 tahun dengan x/mnt ke 36 x/mnt.
Rst Wijaya penyakit Asma (satu
Kusuma orang
Purwokerto individu) yang diamati
secara mendalam selama
3 x 24 jam. Fokus studi
kasus adalah kajian
utama dari masalah yang
akan dijadikan titik
acuan studi kasus, dan
dalam penelitian ini
yang menjadi fokus studi
adalah terapi blowing
ballon pada pada anak
Asma dengan masalah
keperawatan pola nafas
tidak efektif.

Anda mungkin juga menyukai