0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan9 halaman

Resiliensi Akademik dan Distres Mahasiswa

Diunggah oleh

sukarmayolanda5
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan9 halaman

Resiliensi Akademik dan Distres Mahasiswa

Diunggah oleh

sukarmayolanda5
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia Vol. 8 No.

3, November 2024
E-ISSN 2715-6303; P-ISSN 2407-4284; DOI. 10.52020/jkwgi.v8i3.9433

HUBUNGAN RESILIENSI AKADEMIK DENGAN DISTRES PSIKOLOGIS PADA


MAHASISWA TINGKAT AKHIR

Gesi Freona Br Saragih1), Arneliwati2), Febriana Sabrian3)


Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Keperawatan1,2,3)
Universitas Riau

ABSTRAK
Menyusun skripsi merupakan tantangan utama bagi mahasiswa tingkat akhir, yang menuntut
resiliensi untuk menghindari distres psikologis. Penelitian kuantitatif deskriptif korelasi dengan
pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa tingkat akhir yang dalam proses
penyusunan skripsi sebanyak 121 orang dengan menggunakan teknik total sampling. Data
dikumpulkan melalui kuesioner Academic Self-Efficacy Scale (ASE-30) untuk menilai resiliensi
akademik dan Kessler Psychological Distress Scale (K10) untuk menilai distres psikologis. Analisis yang
digunakan adalah analisis univariat dengan distribusi frekuensi dan analisis bivariat dengan
menggunakan uji Spearman rank correlation. Hasil analisis univariat menunjukkan responden
terbanyak berada pada rentang usia 17-25 tahun (90,1%), berjenis kelamin perempuan (89,3%),
memiliki resiliensi akademik dengan kategori sedang (56,2%), dan memiliki distres psikologis dengan
kategori sedang (62%). Hasil analisis bivariat menggunakan uji statistik Spearman rank correlation
ditemukan taraf signifikansi sebesar 0,000 dengan koefisien korelasi -515. Hasil penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa resiliensi akademik mempunyai hubungan signifikan yang negatif dengan
distres psikologis pada mahasiswa tingkat akhir, artinya semakin rendah resiliensi akademik maka
semakin tinggi distres psikologis pada mahasiswa tingkat akhir, dan semakin tinggi resiliensi
akademik maka semakin rendah distres psikologis. Penelitian ini menekankan pentingnya
merancang program dan intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan resiliensi akademik, agar
mahasiswa dapat lebih efektif menghadapi tekanan psikologis selama proses penyusunan skripsi.

Kata kunci: distres psikologis, mahasiswa tingkat akhir, menyusun skripsi, resiliensi akademik
ABSTRACT
Writing a thesis is a major challenge for final-year students, requiring resilience to avoid psychological distress.
The research uses a descriptive correlational quantitative approach with a cross-sectional design. The sample
consists of 121 final-year students currently writing their thesis, selected using total sampling technique. Data
were collected through the Academic Self-Efficacy Scale (ASE-30) to assess academic resilience and the Kessler
Psychological Distress Scale (K10) to evaluate psychological distress. The analysis includes univariate analysis
with frequency distribution and bivariate analysis using the Spearman rank correlation test. The univariate
analysis shows that most respondents are aged 17-25 (90.1%), female (89.3%), have moderate academic
resilience (56.2%), and experience moderate psychological distress (62%). The bivariate analysis using the
Spearman rank correlation test found a significance level of 0.000 with a correlation coefficient of -0.515. The
study concludes that academic resilience has a significant negative relationship with psychological distress
among final-year students. This means that lower academic resilience is associated with higher psychological
distress, and higher academic resilience is associated with lower psychological distress. The study emphasizes
the importance of designing programs and interventions aimed at enhancing academic resilience to help
students more effectively manage psychological pressures during the thesis-writing process.

Keywords: psychological distress, final-year students, academic resilience

Alamat Korespondensi: Pekanbaru, Riau


Email Korespondensi: freonagesi1@[Link]

288
Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia Vol. 8 No. 3, November 2024
E-ISSN 2715-6303; P-ISSN 2407-4284; DOI. 10.52020/jkwgi.v8i3.9433

PENDAHULUAN
Skripsi adalah dokumen akademis yang dibuat oleh mahasiswa sarjana sebagai pucak temuan
penelitian mereka, dan merupakan komponen wajib untuk menyelesaikan program universitas
(Hariaty et al., 2023). Skripsi menjadi bukti kemampuan akademik individu yang telah melakukan
penelitian terkait masalah pendidikan sesuai dengan bidangnya masing-masing. Berbeda dengan
tugas-tugas lain, skripsi disusun secara individu. Banyak mahasiswa menganggap bahwa skripsi
adalah tugas yang berat karena harus diselesaikan secara mandiri, mulai dari penentuan topik,
pembahasan, hingga penyelesaian akhir (Musabiq & Karimah, 2018).

Mahasiswa menghadapi kesulitan seperti pencarian referensi, metode, kecemasan bertemu dosen,
dan keterbatasan dana serta waktu, yang sering menurunkan kondisi fisik dan mental serta
menambah stres (Helpiyani et al., 2019). Stres terjadi ketika ada ketidakseimbangan antara tuntutan
dan kemampuan seseorang untuk mengatasinya. Stres dapat berupa eustress, yang positif dan
mendukung kesejahteraan, atau distress, yang neg atif dan menyebabkan emosi buruk serta masalah
fisik. Persepsi individu terhadap situasi menentukan apakah stres akan menjadi eustress atau distress
(Azzahra, 2017).

Distres psikologis adalah kondisi subjektif yang menyebabkan ketidaknyamanan, dengan depresi
dan kecemasan sebagai bentuk utamanya. Mahasiswa sering mengalaminya dalam berbagai situasi
(Maharani, 2021). Menurut WHO, hampir satu miliar orang di dunia mengalami kondisi ini pada
2019. Data Riskesdas 2018 menunjukkan sekitar 6% penduduk usia 15 tahun ke atas mengalami
gangguan mental emosional dengan gejala kecemasan dan depresi. Di kalangan mahasiswa,
prevalensi kecemasan dan depresi global cukup tinggi, mencapai rata-rata 30% (Ramón-Arbués et
al., 2020). Kecemasan saat menyusun skripsi mengganggu konsentrasi, menyebabkan kebingungan
kognitif, dan menghambat proses pembelajaran. Akibatnya, mahasiswa sering menunda penulisan
skripsi, yang berujung pada keterlambatan studi (Susilo & Eldawaty, 2021). Penelitian Kusumastuti
(2020) menemukan hubungan negatif signifikan antara kecemasan dan prestasi akademik
mahasiswa. Temuan ini sejalan dengan penelitian Sabarofek et al. (2021), yang menunjukkan bahwa
kemampuan akademik mempengaruhi proses penyelesaian skripsi.

Depresi adalah salah satu bentuk distres psikologis yang ditandai dengan perasaan melankolis,
kesepian, putus asa, dan rendah diri. Gejalanya meliputi keinginan bunuh diri, insomnia, sering
menangis, dan kesulitan untuk memulai tugas (Hendarto & Ambarwati, 2020). Mahasiswa yang
mengalami hambatan dalam menyusun skripsi sering mengalami kecemasan dan kekhawatiran,
yang dapat menyebabkan keterlambatan. Keterlambatan ini berpotensi menimbulkan tekanan,
perubahan perilaku, dan dalam kasus parah, depresi (Billa & Savira, 2023).

Resiliensi akademik melibatkan dukungan dari berbagai pihak untuk menjaga ketahanan individu
(Mallick & Kaur, 2016). Mahasiswa dengan resiliensi tinggi mampu mengatasi hambatan akademik
dengan sikap positif, sementara yang kesulitan membangun hubungan, terutama dengan dosen
pembimbing, menghadapi tantangan lebih besar (Marettih et al., 2022). Menurut Cassidy (2016),
resiliensi akademik adalah kemampuan untuk bangkit dari kesulitan akademik, meliputi tiga aspek:
kegigihan, pencarian bantuan adaptif, dan respon emosional. Resiliensi ini membantu mahasiswa
tetap optimis dalam menyelesaikan skripsi dengan memanfaatkan kekuatan internal dan eksternal
untuk menghadapi tantangan, menyelesaikan tugas, dan memenuhi persyaratan akademik secara
optimal (Noviana et al., 2023). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa resiliensi akademik secara
signifikan membantu mengurangi distres psikologis. Azzahra (2017) menemukan bahwa mahasiswa
dengan resiliensi tinggi lebih mampu mengelola stres akademik. Begitu pula, Saumi (2023)
menemukan korelasi negatif antara resiliensi akademik dan distres psikologis selama pandemi
COVID-19.

289
Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia Vol. 8 No. 3, November 2024
E-ISSN 2715-6303; P-ISSN 2407-4284; DOI. 10.52020/jkwgi.v8i3.9433

Studi pendahuluan pada tujuh mahasiswa akhir S1 Keperawatan Universitas Riau, Mei 2024,
menunjukkan bahwa sebagian besar mengalami kecemasan dan depresi selama pengerjaan skripsi.
Enam dari tujuh mahasiswa kesulitan tidur karena revisi, dan semua merasa cemas tidak bisa
menyelesaikan skripsi tepat waktu. Lima mahasiswa pernah menangis, dan mereka menganggap
skripsi sebagai tantangan besar. Penulis juga menemukan bahwa mahasiswa yang mengalami stres
sering menunda pengerjaan skripsi dengan mengalihkan perhatian, namun merasa tidak nyaman
dan sulit berkonsentrasi saat kembali mengerjakannya. Dua mahasiswa, yang tidak merasakan
kecemasan, mengatasi tantangan dengan mengorbankan waktu bersantai. Hal ini menunjukkan
bahwa mahasiswa dengan stres cenderung memiliki resiliensi akademik rendah.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif korelasi
menggunakan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di Fakultas Keperawatan pada
tanggal 27 Juni-30 Agustus 2024. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa tingkat akhir
fakultas keperawatan yang sedang menyusun skripsi dengan jumlah sampel 121 responden. Teknik
pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik total sampling. Instrumen
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuesioner Academic Self-Efficacy Scale (ASE-30)
untuk mengukur resiliensi akademik dan kuesioner Kessler Psychological Distress Scale (K10) untuk
mengukur distres psikologis. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis
univariat untuk mendeskripsikan distribusi frekuensi karakteristik responden dan analisis bivariate
untuk mengetahui hubungan antara variabel resiliensi akademik dengan variabel distres psikologis.
uji yang digunakan dalam analisis bivariat penelitian ini adalah uji Spearman rank correlations
dengan nilai =0,05. Penelitian dilakukan setelah mendapatkan surat pembebasan etik dari Komite
Etik Penelitian Keperawatan dan Kesehatan Fakultas Keperawatan Universitas Riau dengan nomor
968/UN19.5.1.8/[Link]/2024.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Analisis univariat dan bivariat yang digunakan untuk menganalisis hasil penelitian disajikan dan
dibahas bersama table-tabel dibawah ini.

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Karakteristik Responden


No Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%)
1. Usia
17 – 25 Tahun 109 90,1
26 – 35 Tahun 4 3,3
36 – 45 Tahun 8 6,6
2. Jenis Kelamin
Laki-laki 13 10,7
Perempuan 108 89,3
3. Angkatan
A 2018 11 9,1
A 2019 10 8,2
A 2020 88 72,7
RPL 2023 12 10
Total 121 100

Usia responden yang terbanyak pada penelitian ini berada pada rentang usia 17-25 tahun yaitu
sebanyak 109 responden (90,1%). Usia ini merupakan bagian dari fase perkembangan dewasa awal,
yaitu masa transisi dari remaja menuju dewasa. Menurut Hayani dan Wulandari (2017), pada usia

290
Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia Vol. 8 No. 3, November 2024
E-ISSN 2715-6303; P-ISSN 2407-4284; DOI. 10.52020/jkwgi.v8i3.9433

18-25 tahun, individu umumnya terlibat dalam berbagai aktivitas eksploratif dan eksperimental,
seperti yang dijelaskan oleh Santrock (2018). Tahap ini ditandai dengan usaha untuk mencapai
kemandirian, baik secara finansial maupun dalam pengambilan keputusan, serta adaptasi terhadap
tanggung jawab sosial dan gaya hidup baru. Bagi mahasiswa tingkat akhir, yang sedang menyusun
skripsi, periode dewasa awal ini sering kali menjadi masa yang penuh tantangan. Mereka harus
menghadapi tekanan akademis yang besar, sambil bersiap memasuki dunia kerja. Dalam hal ini,
resiliensi akademik memiliki peran penting. Seperti yang diungkapkan oleh Riza (2023), resiliensi
membantu individu mengatasi berbagai rintangan, termasuk peralihan dari dunia pendidikan ke
dunia profesional, serta usaha mencapai kemandirian. Mahasiswa yang memiliki tingkat resiliensi
tinggi diharapkan lebih mampu menghadapi tekanan psikologis dan beradaptasi dengan tantangan
yang muncul selama masa dewasa awal (Efendi et al., 2023).

Jenis kelamin mayoritas responden penelitian ini adalah perempuan, dengan jumlah 108 orang
(89,3%), sedangkan sisanya adalah laki-laki sebanyak 13 orang (10,7%). Sebagian besar mahasiswa di
Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau juga perempuan. Penelitian Azzahra (2017)
menunjukkan bahwa perempuan (63,5%) cenderung mengalami distres psikologis lebih tinggi
dibandingkan laki-laki (36,5%). Divaris et al. (2013) menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh
kecenderungan perempuan lebih sering mengekspresikan emosi. Jenis kelamin mempengaruhi
distres psikologis, di mana perempuan lebih rentan mengalami kecemasan dan depresi dibandingkan
laki-laki, dengan risiko dua kali lebih tinggi (Macauley et al., 2018). Faktor hormonal dan tekanan
sosial berkontribusi pada tingginya prevalensi ini. Perempuan cenderung mengekspresikan
kecemasan melalui perasaan sedih, sementara laki-laki lebih mungkin menunjukkan iritabilitas.
Dalam mengatasinya, perempuan lebih sering mencari dukungan sosial, sedangkan laki-laki
cenderung menahan diri dan fokus pada solusi (Umadiyan & Kalifia, 2024).

Angkatan mayoritas responden penelitian ini adalah A 2020 yaitu sebanyak 88 orang (72,7%),
sementara kelompok responden yang paling sedikit adalah A 2020, dengan hanya 10 orang (8,2%)
dari total responden. Hal ini terjadi karena mayoritas partisipan dalam penelitian ini berasal dari satu
kelompok tahun ajaran yang sama, sementara jumlah partisipan dari kelompok lainnya jauh lebih
sedikit.

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Resiliensi Akademik


Resiliensi Akademik Frekuensi (n) Persentase (%)
Rendah 35 28,9
Sedang 68 56,2
Tinggi 18 14,9
Total 121 100

Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas responden menunjukkan tingkat resiliensi akademik pada
kategori sedang yaitu dengan jumlah 68 responden (56,2%). Resiliensi akademik merujuk pada
kapasitas individu untuk secara efektif menangani dan mengelola berbagai tanggung jawab
akademik dalam lingkungan pendidikan (Corsini, 2002). Secara umum, mahasiswa tingkat akhir
belum sepenuhnya memiliki kemampuan adaptasi yang optimal selama menyelesaikan skripsi. Hasil
penelitian ini mendukung temuan sebelumnya oleh Sari et al. (2020) yang menyatakan bahwa
mahasiswa dengan resiliensi akademik sedang masih sering merasa gelisah, belum mampu
menyelesaikan masalah secara efektif selama perkuliahan, tetapi tetap memiliki keyakinan untuk
berusaha secara optimal agar memperoleh hasil maksimal.

Menurut Cassidy (2016) mahasiswa dengan resiliensi akademik yang tinggi dapat mengubah
kegagalan akademik menjadi pencapaian yang sukses. Mereka belajar dari kesalahan,

291
Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia Vol. 8 No. 3, November 2024
E-ISSN 2715-6303; P-ISSN 2407-4284; DOI. 10.52020/jkwgi.v8i3.9433

menyempurnakan strategi belajar, dan melihat setiap kegagalan sebagai kesempatan untuk
berkembang. Kemampuan ini memungkinkan mereka untuk terus maju meskipun menghadapi
rintangan, dan akhirnya mencapai tujuan akademik mereka dengan lebih baik. Sementara menurut
Okvellia & Setyandari (2022) mahasiswa dengan tingkat resiliensi akademik rendah tidak mampu
mengubah situasi sulit menjadi kesempatan untuk mengembangkan potensi dan keterampilan
mereka. Mereka cenderung merasa takut, khawatir, dan menghindari tantangan, karena mereka
merasa hal tersebut dapat mengancam keberadaan mereka. Penelitian menunjukkan bahwa tidak ada
perbedaan signifikan dalam resiliensi akademik antara mahasiswa laki-laki dan perempuan dalam
mengerjakan skripsi. Temuan ini didukung oleh penelitian Latif & Amirullah (2020), yang
menyatakan bahwa gender tidak memengaruhi resiliensi akademik. Artinya, baik laki-laki maupun
perempuan memiliki kemampuan yang sama untuk tangguh. Penelitian ini bertujuan untuk
memahami motivasi mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi dan meraih gelar mereka.

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Distres Psikologis


Distres Psikologis Frekuensi (n) Persentase (%)
Rendah 11 9,1
Sedang 75 62
Tinggi 35 28,9
Total 121 100

Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar responden menunjukkan tingkat distres psikologis pada
kategori sedang yaitu dengan jumlah 75 responden (62%). Mahasiswa tingkat akhir sering mengalami
distres psikologis selama proses penyusunan skripsi karena tuntutan akademik yang tinggi untuk
menyelesaikan skripsi dengan baik dan tepat waktu. Menurut Ahmed & Riaz (2013), mahasiswa
umumnya menghadapi distres psikologis karena beban dan stres dalam menyelesaikan tugas kuliah,
ujian, dan kekhawatiran tentang peluang kerja di masa depan. Persaingan antara mahasiswa juga
berkontribusi pada distres psikologis. Mahasiswa di semester akhir menghadapi tekanan yang lebih
besar dibandingkan mahasiswa di semester awal, karena mereka harus menyelesaikan ujian akhir
seperti skripsi dan mempertimbangkan langkah selanjutnya, baik untuk memasuki dunia kerja atau
melanjutkan pendidikan.

Menurut Matthews (dalam Sekararum, 2012), distres psikologis dipengaruhi oleh dua aspek
tambahan: faktor intrapersonal dan faktor lingkungan. Faktor intrapersonal meliputi sifat psikologis
yang bergantung pada kecenderungan emosional seseorang, sedangkan unsur situasional muncul
dari peristiwa yang dianggap mengancam atau berbahaya. Oleh karena itu, mahasiswa dengan
kecenderungan emosi negatif dan pengalaman situasi yang dianggap berbahaya akan lebih rentan
terhadap distres psikologis.

Tabel 4. Hubungan Resiliensi Akademik dengan Distres Psikologis pada Mahasiswa Akhir
Resiliensi Akademik Distres Psikologis
Resiliensi Akademik Correlation Coefficient 1.000 -.515**
Sig. (2-tailed) . .000
N 121 121
Distres Psikologis Correlation Coefficient -.515** 1.000
Sig. (2-tailed) .000 .
N 121 121

Berdasarkan analisis yang dilakukan menggunakan uji Spearman rank correlation, hasil
menunjukkan adanya hubungan signifikan antara resiliensi akademik dengan distres psikologis,

292
Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia Vol. 8 No. 3, November 2024
E-ISSN 2715-6303; P-ISSN 2407-4284; DOI. 10.52020/jkwgi.v8i3.9433

dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000. Koefisien korelasi sebesar -515 memiliki arti bahwa
terdapat hubungan negative yang kuat antara kedua variabel tersebut.

Temuan penelitian ini konsisten dengan hasil Azzahra (2017), yang menunjukkan adanya korelasi
negatif sebesar 3,6% antara resiliensi dan distres psikologis pada mahasiswa. Artinya, semakin tinggi
resiliensi mahasiswa, semakin rendah distres psikologis yang mereka alami, dan sebaliknya.
Tuntutan peran yang diterima individu, termasuk mahasiswa tingkat akhir yang harus
menyelesaikan skripsi tepat waktu di tengah berbagai tantangan, berkontribusi pada peningkatan
distres psikologis (Mirowsky & Ross, 2003). Resiliensi memiliki peran penting dalam meningkatkan
kesejahteraan dan mendukung kesejahteraan psikologis. Kesejahteraan psikologis mencerminkan
kondisi mental yang sehat, yaitu keadaan di mana seseorang menunjukkan sikap positif terhadap
diri sendiri dan orang lain, mampu membuat keputusan secara mandiri, menyesuaikan lingkungan
sesuai dengan kebutuhannya, memiliki tujuan hidup yang jelas dan bermakna, serta berupaya untuk
mengeksplorasi dan mengembangkan diri (Mulya & Budiman, 2023). Hasil penelitian ini juga
mendukung temuan Saumi (2023) yang menemukan korelasi negatif yang signifikan antara resiliensi
akademik dan distres psikologis pada mahasiswa selama pandemi COVID-19, dengan hasil uji
hipotesis sebesar 0,020 (di bawah 0,05). Rahayu (2022) menemukan bahwa terdapat hubungan negatif
yang signifikan antara resiliensi diri dan distres psikologis pada karyawan. Berdasarkan hasil uji
hipotesis, nilai signifikansi sebesar 0,008 yang lebih kecil dari 0,05 menunjukkan adanya hubungan
yang nyata antara kedua variabel tersebut. Koefisien korelasi sebesar -0,322 memperlihatkan bahwa
peningkatan resiliensi diri dapat berperan sebagai pelindung terhadap distres psikologis. penelitian
ini menekankan pentingnya resiliensi dalam lingkungan kerja, di mana karyawan yang memiliki
resiliensi lebih tinggi cenderung lebih mampu menghadapi tekanan pekerjaan dan menjaga
keseimbangan emosional mereka.

Pidgeon et al. (2014) juga meneliti hubungan antara resiliensi dan distres psikologis pada mahasiswa
dari Austria, Amerika, dan Hongkong. Mereka menemukan bahwa mahasiswa dengan resiliensi
rendah cenderung mengalami distres psikologis lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa yang
memiliki resiliensi tinggi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kemampuan untuk mengatasi stres
secara sehat, yang memicu reaksi emosional negatif, atau distres. Temuan ini sesuai dengan teori
Lazarus & Folkman (1987), yang menyatakan bahwa stres dan distres psikologis muncul dari
bagaimana individu menilai situasi dan kemampuan mereka untuk mengatasinya. Resiliensi
mempengaruhi cara seseorang melihat stresor dan sumber daya yang dimiliki, sehingga individu
yang lebih resilien cenderung menilai situasi lebih positif dan merasa lebih mampu menghadapinya,
yang pada akhirnya mengurangi distres psikologis. Resiliensi tidak hanya melibatkan kemampuan
individu dalam mengelola emosi, tetapi juga kemampuan mereka dalam membentuk mekanisme
koping yang efektif saat menghadapi stres. Individu yang resilien cenderung menggunakan strategi
koping yang adaptif, seperti berfokus pada solusi dan mencari dukungan sosial, sehingga mereka
lebih siap menghadapi tantangan psikologis (Nashori & Saputro, 2021). Penelitian ini juga
menunjukkan pentingnya peran lingkungan dalam membangun resiliensi. Dukungan dari teman
sebaya, keluarga, dan lingkungan kampus dapat membantu mahasiswa dalam membangun
ketahanan diri, meningkatkan kemampuan untuk mengelola stres, dan secara keseluruhan dapat
mengurangi risiko distres psikologis .

Penelitian ini mengasumsikan bahwa resiliensi akademik berperan sebagai pelindung yang dapat
mengurangi dampak negatif dari stres akademik pada mahasiswa tingkat akhir. Berdasarkan teori
diathesis-stress, mahasiswa tingkat akhir dengan resiliensi akademik tinggi cenderung lebih tahan
terhadap distres psikologis meskipun menghadapi tekanan akademik, seperti penyusunan skripsi.
Sebaliknya, mahasiswa dengan resiliensi akademik rendah lebih rentan mengalami distres psikologis
saat menghadapi tekanan tersebut.

293
Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia Vol. 8 No. 3, November 2024
E-ISSN 2715-6303; P-ISSN 2407-4284; DOI. 10.52020/jkwgi.v8i3.9433

SIMPULAN
Sebagian besar responden dalam penelitian ini berusia 17-25 tahun, dengan mayoritas berjenis
kelamin perempuan, dan sebagian besar berasal dari mahasiswa tingkat akhir angkatan 2020.
Resiliensi akademik mahasiswa yang sedang menyusun skripsi umumnya berada pada tingkat
sedang, begitu juga dengan tingkat distres psikologis yang mereka rasakan. Hasil uji statistik
menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara resiliensi akademik dan distres
psikologis pada mahasiswa tingkat akhir, dengan kekuatan korelasi yang kuat. Artinya, semakin
tinggi resiliensi akademik, semakin rendah tingkat distres psikologis, dan sebaliknya, semakin
rendah resiliensi akademik, semakin tinggi distres psikologis. Oleh karena itu, dapat disimpulkan
bahwa resiliensi akademik memiliki peran penting dalam memengaruhi distres psikologis pada
mahasiswa tingkat akhir.

SARAN
Disarankan agar pihak kampus meningkatkan akses layanan konseling dan dukungan psikologis,
baik melalui konseling individu maupun kelompok, terutama bagi mahasiswa tingkat akhir yang
sering menghadapi tekanan akademik tinggi. Selain itu, kampus perlu menyediakan sesi konseling
yang lebih proaktif dan terarah untuk membantu mahasiswa dalam mengelola dan mengurangi
distres psikologis selama proses penyusunan skripsi.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmed, U., & Riaz, A. (2013). Assessment of stress & stressors : A Study on Management Students.
Interdisciplinary Journal of Contemporary Research in Bussiness, 4(9), 687–699.

Azzahra, F. (2017). Pengaruh Resiliensi Terhaadap Distres Psikologis Pada Mahasiswa. Jurnal Ilmiah
Psikologi Terapan, 5(1), 1–9.

Billa, N. K. I., & Savira, S. I. (2023). Analisis Deskriptif Strategi Coping Stress Pada Mahasiswa Tingkat
Akhir Yang Menyusun Skripsi Di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya.
Character : Jurnal Penelitian Psikologi, 10(03), 447–459.

Cassidy, S. (2016). The Academic Resilience Scale (ARS-30): A new multidimensional construct
measure. Frontiers in Psychology, 7(NOV), 1–11. [Link]

Corsini, R. (2002). The Dictionary of Psychology. Brunner/Mazel.

Divaris, K., Mafla, A. C., Villa-Torres, L., Sánchez-Molina, M., Gallego-Gómez, C. L., Vélez-Jaramillo,
L. F., Tamayo-Cardona, J. A., Pérez-Cepeda, D., Vergara-Mercado, M. L., Simancas-Pallares, M.
Á., & Polychronopoulou, A. (2013). Psychological distress and its correlates among dental
students: a survey of 17 Colombian dental schools. BMC Medical Education, 13, 91.
[Link]

Efendi, P. A. N., Anwar, H., & Akmal, N. (2023). The Effect of Social Support on Academic Resilinece
to Student Who Are Working on Thesis. ARRUS Journal of Social Sciences and Humanities, 3(6),
729–740. [Link]

Hariaty, Elita, V., & Dilaluri, A. (2023). Gambaran Stres Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Yang Sedang
Mengerjakan Skripsi. Jurnal Keperawatan Profesional (JKP), 11(1), 1–7.

Helpiyani, H., Jumaini, & Erwin. (2019). Gambaran Tingkat Stress Akademik Mahasiswa
Keperawatan Dalam Menyusun Skripsi. JOM FKp, 6(1), 363–369.

Hendarto, W. T., & Ambarwati, K. D. (2020). Perfeksionisme dan Distres Psikologis pada Mahasiswa.
In Jurnal Ilmiah Bimbingan Konseling Undiksha (Vol. 11, Issue 2).

294
Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia Vol. 8 No. 3, November 2024
E-ISSN 2715-6303; P-ISSN 2407-4284; DOI. 10.52020/jkwgi.v8i3.9433

[Link]

Kusumastuti, D. (2020). Kecemasan dan Prestasi Akademik pada Mahasiswa. Analitika: Jurnal
Magister Psikologi UMA, 12(1), 22–33. [Link]

Latif, S., & Amirullah, M. (2020). Students’ Academic Resilience Profiles based on Gender and Cohort.
Jurnal Kajian Bimbingan Dan Konseling, 5(4), 175–182.
[Link]

Lazarus, R. ., & Folkman, S. (1987). Stress, appraisal, and coping. McGraw-Hill, Inc.

Macauley, K., Plummer, L., Bemis, C., Brock, G., Larson, C., & Spangler, J. (2018). Prevalence and
Predictors of Anxiety in Healthcare Professions Students. Health Professions Education, 4(3), 176–
185. [Link]

Maharani, W. (2021). Gambaran Tingkat Psychological Distress Mahasiswa dan Hubungannya


dengan Aksesibilitas Pelayanan Konseling Mahasiswa. Muqoddima Jurnal Pemikiran Dan Riset
Sosiologi, 2(2), 139–158. [Link]

Mallick, M. K., & Kaur, S. (2016). Academic resilience among senior secondary school students:
Influence of learning environment. Rupkatha Journal on Interdisciplinary Studies in Humanities,
8(2), 20–27. [Link]

Marettih, A. K. E., Ikhwanisifa, I., Susanti, R., & Ramadhani, L. (2022). Gambaran Resilensi Akademik
Mahasiswa Tingkat Akhir yang Sedang Mengerjakan Skripsi Di Masa Pandemi Covid-19.
Psikobuletin:Buletin Ilmiah Psikologi, 3(3), 140. [Link]

Mirowsky, J., & Ross, C. E. (2003). Social causes of psychological distress. Aldine de Gruyter.
[Link]

Mulya, S., & Budiman, A. (2023). Pengaruh Resiliensi terhadap Psychological Well Being pada
Mahasiswa Kedokteran Universitas Islam Bandung. Bandung Conference Series: Psychology
Science, 3(2), 998–1004. [Link]

Musabiq, S. A., & Karimah, I. (2018). Gambaran Stress Dan Dampaknya Pada Mahasiswa Description
of Stress and Its Impact on Students. InSight, 20(2), 74–80.

Nashori, F., & Saputro, I. (2021). Psikologi Resiliensi. In Universitas Islam Indonesia (Issue 1).
[Link]

Noviana, R., Suzanna, E., & Muna, Z. (2023). Gambaran Resiliensi Akademik Pada Mahasiswa
Psikologi Universitas Malikussaleh Yang Sedang Menyusun Skripsi. INSIGHT: Jurnal Penelitian
Psikologi, 1(3), 446–467. [Link]

Okvellia, C. T. H., & Setyandari, A. (2022). Resiliensi Akademik Mahasiswa Tingkat Akhir Program
Studi Bimbingan dan Konseling Tahun Ajaran 2021/2022. Jurnal of Counseling and Personal
Development, 4(2), 18–24.

Pidgeon, A. M., Rowe, N. F., Stapleton, P., Magyar, H. B., & Lo, B. C. Y. (2014). Examining
Characteristics of Resilience among University Students: An International Study. Open Journal
of Social Sciences, 02(11), 14–22. [Link]

Rahayu, T. S. (2022). Hubungan Resiliensi Diri dengan Distres Psikologis Pada Karyawan PT. Sumber
Alfaria Trijaya, Tbk (Alfamart) Wilayah Kartasura. Universitas Islam Negeri Raden Massaid
Surakarta.

295
Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia Vol. 8 No. 3, November 2024
E-ISSN 2715-6303; P-ISSN 2407-4284; DOI. 10.52020/jkwgi.v8i3.9433

Ramón-Arbués, E., Gea-Caballero, V., Granada-López, J. M., Juárez-Vela, R., Pellicer-García, B., &
Antón-Solanas, I. (2020). The prevalence of depression, anxiety and stress and their associated
factors in college students. International Journal of Environmental Research and Public Health,
17(19), 1–15. [Link]

Sabarofek, M. S., Sudarwadi, D., & Raru, M. (2021). Pengaruh Kemampuan Akademik Dan Semangat
Kerja Terhadap Proses Penyelesaian Skripsi Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Di Feb Unipa.
Cakrawala Management Business Journal, 4(1).

Sari, S. purnama, Aryansah, J. E., & Sari, K. (2020). Resiliensi mahasiswa dalam menghadapi pandemi
covid-19 dan implikasinya terhadap proses pembelajaran. Indonesian Journal of Guidance and
Counseling: Theory and Application, 9(1), 17–22. [Link]
ijgc.v9i1.38674

Saumi, A. (2023). Hubungan Antara Resiliensi Akademik dengan Psychological Distress Pada Mahasiswa Di
Masa Pandemi COVID-19. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

Sekararum, A. (2012). Interpersonal Psychotherapy (IPT) untuk Meningkatkan Keterampilan Sosial


Mahasiswa Universitas Indonesia yang Mengalami Distres Psikologis. Universitas Indonesia.

Susilo, T. E. P., & Eldawaty. (2021). Tingkat Kecemasan Mahasiswa Dalam Penyusunan Skripsi di
Prodi Penjaskesrek Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang. Jurnal Consilia,
4(2), 105–113. [Link]

Umadiyan, S., & Kalifia, A. D. (2024). Perbedaan Respon Emosional Antara Remaja Perempuan Dan
Laki- Laki Terhadap Faktor-Faktor Penyebab Depresi. Gudang Jurnal Multidisiplin Ilmu, 2(1),
293–296. [Link]

296

Anda mungkin juga menyukai