0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan20 halaman

Konsep Dasar Radioaktivitas dan Peluruhan

Makalah ini membahas tentang radioaktivitas, termasuk konsep dasar, jenis-jenis peluruhan, hukum peluruhan berturutan, kesetimbangan radioaktif, dan deret radioaktif alamiah. Penulis berharap makalah ini dapat memberikan pemahaman yang mendalam mengenai aplikasi radioaktivitas dalam fisika nuklir dan teknologi. Selain itu, makalah ini juga mencakup analisis tentang implikasi radioaktivitas terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Diunggah oleh

dindarahayu917
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan20 halaman

Konsep Dasar Radioaktivitas dan Peluruhan

Makalah ini membahas tentang radioaktivitas, termasuk konsep dasar, jenis-jenis peluruhan, hukum peluruhan berturutan, kesetimbangan radioaktif, dan deret radioaktif alamiah. Penulis berharap makalah ini dapat memberikan pemahaman yang mendalam mengenai aplikasi radioaktivitas dalam fisika nuklir dan teknologi. Selain itu, makalah ini juga mencakup analisis tentang implikasi radioaktivitas terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Diunggah oleh

dindarahayu917
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

RADIOAKTIVITAS

MAKALAH

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Fisika Inti
Dosen Pengampu: Dwi Sulistyaningsih, [Link].

Disusun Oleh:
Kelas : B
Kelompok : 1

Atih Nurul Palah : 222153049


Diansari Kustini : 222153054
Rosida Nurhaliza : 222153055
Dike Dikwatul Hasanah : 222153057
Nopi Nur Pajriyah : 222153062
Dinda Rahayu : 222153063

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SILIWANGI
TASIKMALAYA
2025
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat-
Nya kami dapat menyelesaikan makalah berjudul “Radioaktivitas” dengan baik dan
tepat waktu. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Fisika Inti.
Penulis menyadari bahwa radioaktivitas merupakan topik penting dalam studi
nuklir dan memiliki berbagai aplikasi serta implikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, kami berharap makalah ini dapat memberikan pemahaman yang
lebih mendalam mengenai konsep-konsep dasar radioaktif, seperti peluruhan
radioaktif, hukum peluruhan berurutan, kesetimbangan radioaktif, dan deret
radioaktif alamiah.
Selama penyusunan makalah, kami mendapat banyak dukungan dari
berbagai pihak. Untuk itu kami sampaikan terima kasih kepada dosen pengampu
mata kuliah fisika inti yang telah memberikan bimbingan, rekan-rekan kelompok
atas kerjasama menyusun makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembaca dan dapat menambah wawasan di bidang fisika nuklir. Kritik dan saran
konstruktif sangat kami harapkan untuk perbaikan makalah ke depan.

Tasikmalaya, 27 Oktober 2025

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ....................................................................................... 2
C. Tujuan ......................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 4
A. Peluruhan Radioaktif................................................................................... 4
B. Hukum Peluruhan Berturutan ..................................................................... 7
C. Kesetimbangan Radioaktif .......................................................................... 9
D. Deret Radioaktif Alamiah ......................................................................... 11
BAB III PENUTUP............................................................................................... 14
A. Kesimpulan ............................................................................................... 14
B. Saran.......................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 16

ii
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Radioaktivitas merupakan fenomena alamiah yang berhubungan dengan
ketidakstabilan inti atom, sehingga mengalami peluruhan untuk mencapai
kestabilan energi. Proses ini melibatkan emisi partikel atau radiasi
elektromagnetik dari inti atom yang tidak stabil menuju inti yang lebih stabil.
Fenomena radioaktivitas pertama kali ditemukan oleh Henri Becquerel dan
dikembangkan oleh Marie dan Pierre Curie, yang menemukan bahwa unsur
seperti uranium dan radium dapat memancarkan radiasi secara spontan tanpa
intervensi eksternal. Dalam konteks modern, pemahaman terhadap
radioaktivitas menjadi sangat penting tidak hanya dalam bidang fisika nuklir
tetapi juga dalam aplikasi medis, lingkungan, dan teknologi energi.
Peluruhan radioaktif merupakan konsep dasar dari radioaktivitas yang
menjelaskan bagaimana inti atom yang tidak stabil berubah menjadi inti lain
yang lebih stabil dengan laju tertentu. Proses ini mengikuti hukum
eksponensial, di mana jumlah inti yang tersisa berkurang seiring waktu sesuai
dengan konstanta peluruhan tertentu. Hukum ini pertama kali dirumuskan
secara matematis oleh Rutherford dan Soddy, dan hingga kini menjadi dasar
dalam studi nuklir dan radiometri modern. Pemahaman mendalam tentang
hukum peluruhan ini penting dalam berbagai aplikasi, seperti penentuan umur
fosil dengan metode radiokarbon, serta dalam kontrol dosis pada radioterapi
medis.
Selain itu, peluruhan radioaktif sering kali terjadi secara berturutan, di
mana inti hasil peluruhan dapat kembali meluruh membentuk deret radioaktif.
Fenomena ini disebut hukum peluruhan berturutan, yang menjadi dasar dalam
menjelaskan deret radioaktif alamiah seperti deret uranium, torium, dan
aktinium. Dalam sistem ini, kesetimbangan radioaktif dapat tercapai ketika laju
peluruhan induk dan anak radionuklida menjadi konstan seiring waktu
(Michalik et al., 2018). Kondisi ini disebut kesetimbangan sekuler atau
transient, tergantung pada perbandingan waktu paruh antar radionuklida.

1
Kesetimbangan radioaktif memainkan peranan penting dalam
memahami distribusi isotop di alam dan kestabilan lingkungan nuklir. Dalam
konteks geologi dan lingkungan, kesetimbangan dalam deret radioaktif alamiah
menentukan kadar radioaktivitas pada bahan bangunan dan tanah, yang
memiliki implikasi besar terhadap paparan radiasi bagi manusia (Kovler et al.,
2017). Selain itu, penelitian modern berfokus pada bagaimana gangguan
terhadap kesetimbangan ini, misalnya akibat proses pelapukan atau intervensi
industri, dapat mempengaruhi keselamatan lingkungan dan kesehatan
masyarakat.
Oleh karena itu, pemahaman menyeluruh tentang peluruhan radioaktif,
hukum peluruhan berturutan, kesetimbangan radioaktif, dan deret radioaktif
alamiah menjadi sangat penting dalam konteks ilmiah dan praktis. Pembahasan
mengenai konsep-konsep ini tidak hanya memberikan landasan teoretis dalam
fisika nuklir, tetapi mendukung pengembangan teknologi yang aman dan ramah
lingkungan dalam bidang energi nuklir, radiomedis, dan konservasi lingkungan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan
masalah yang ingin dibahas adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan radioaktivitas dan apa saja jenis-jenis peluruhan
yang terjadi pada zat radioaktif?
2. Bagaimana hukum peluruhan berturutan menjelaskan proses peluruhan
dalam deret radioaktif?
3. Apa yang dimaksud dengan kesetimbangan radioaktif dan bagaimana
kondisi ini dicapai?
4. Bagaimana konsep deret radioaktif alamiah berperan dalam sistem
lingkungan dan teknologi nuklir?

C. Tujuan
Sejalan dengan rumusan di atas, maka makalah ini dapat disusun dengan
tujuan sebagai berikut:
1. Menjelaskan konsep dasar dan mekanisme peluruhan radioaktif.

2
2. Menganalisis hukum peluruhan berturutan dan penerapannya dalam deret
radioaktif.
3. Menguraikan konsep kesetimbangan radioaktif serta faktor-faktor yang
memengaruhinya.
4. Mengkaji peran deret radioaktif alamiah dalam fenomena alam dan
aplikasinya dalam bidang ilmiah dan teknologi.

3
BAB II PEMBAHASAN

A. Peluruhan Radioaktif
1. Pengertian Radioaktivitas
Radioaktivitas disebut sebagai peluruhan radioaktif, yakni peristiwa
terurainya beberapa inti atom tertentu secara spontan yang diikuti dengan
pancaran partikel alfa (inti helium), partikel beta (elektron), radiasi gamma
(gelombang elektromagnetik gelombang pendek), sinar X dan partikel
neutron. Sinar-sinar yang dipancarkan itu disebut sinar radioaktif,
sementara zat yang memancarkan sinar radioaktif dinamakan dengan zat
radioaktif. Istilah keradioaktifan (radioactivity) petama kali dibuat oleh
Marie Curie (1867 − 1934), seorang ahli kimia yang berasal dari Prancis.
Marie dan suaminya, Pierre Curie (1859 − 1906), sukses menemukan
bagian radioaktif baru, yakni polonium dan radium. Ernest Rutherford
(1871 − 1937) mengaku bahwa sinar radioaktif dapat dipisahkan atas
sinar alfa yang bermuatan positif dan sinar beta yang bermuatan negatif.
Paul Ulrich Villard (1869 − 1915), seorang ilmuwan Prancis,
menemukan sinar radioaktif yang tidak bermuatan, yakni sinar gamma.
Radioaktivitas adalah perubahan inti atom tak stabil secara spontan
menjadi inti atom stabil yang disertai dengan pancaran radiasi berupa
partikel maupun gelombang elektromagnetik. Proses ini disebut juga
sebagai peluruhan radioaktif, sedangkan inti atom tak stabil disebut
radionuklida dan materi yang mengandungnya disebut zat radioaktif. Nilai
radioaktivitas suatu radionuklida ditentukan oleh konstanta peluruhan (𝜆)
dan waktu paruh (𝑇1⁄2 ) radionuklida tersebut. Waktu paruh merupakan laju
peluruhan suatu radionuklida. Radioaktivitas tidak dipengaruhi oleh
tekanan, suhu dan bentuk senyawa kimia tetapi hanya dipengaruhi oleh inti
atom yang bersangkutan. Untuk melakukan pengukuran cacah peluruhan
inti suatu radionuklida diperlukan sebuah besaran yang dinamakan
aktivitas. Aktivitas merupakan cacah peluruhan inti per satuan waktu.
Peluruhan radioaktif terbagi menjadi tiga jenis yaitu, peluruhan alfa,
peluruhan beta dan peluruhan elektromagnetik.

4
2. Jenis-Jenis Peluruhan Radioaktif
Peluruhan radioaktif terbagi menjadi tiga jenis yaitu, peluruhan alfa,
peluruhan beta dan peluruhan gamma (Abubakar, 2019).
a. Peluruhan Alpha (𝜶)
Peluruhan alpha (𝛼) merupakan bentuk radiasi partikel dengan
kemampuan mengionisasi atom sangat tinggi dan daya tembusnya
rendah. Radiasi ini pada umumnya terjadi pada elemen berat, yaitu
atom yang nomor massanya besar dan tenaga ikatnya rendah, yaitu
tenaga ikat antara elektron dan inti atomya rendah. Pertikel alpha terdiri
atas dua buah proton dan dua buah netron yang terikat menjadi suatu
atom dengan inti yang sangat stabil. Partikel alpha diradiasikan oleh inti
atom radioaktif seperti uranium atau radium dalam suatu proses yang
disebut dengan peluruhan alpha. Setelah partikel alpha diradiasikan
maka nomor massanya akan berkurang 4 karena kehilangan 4 partikel
dan nomor atomnya berkurang 2 karena 2 protonnya hilang, sehingga
radiasi Alpha disamakan dengan pembentukan inti Helium yang
bermuatan listrik 2 dan bermassa 4 ( 42𝐻𝑒) dan pada akhirnya akan
terbentuk inti atom baru yang dinamakan inti anak. Sebagai contoh
terjadi pada peluruhan plutonium. Dalam Peluruhan alpha terjadi proses
hubungani dengan berdasarkan hukum kekekalan jumlah muatan
dengan nucleon seperti berikut:
𝐴 𝐴−4
𝑍𝑋 → 𝑍−2𝑌 + 442𝐻𝑒
b. Peluruhan Beta (𝜷)
1) Peluruhan Beta Negatif (𝜷 −)
Radiasi beta negatif merupakan radiasi yang disertai
pemancaran elektron dari suatu atom, meluruh dengan pembebasan
sebuah neutrino. Pada radiasi Beta Negatif nomor atom akan
23
bertambah 1 sedangkan nomor massanya tetap contoh pada 10𝑁𝑒

Bentuk radiasi beta negatif merupakan bentuk radiasi yang disertai


dengan radiasi gamma dan terjadi pada sebuah inti yang keadaan
elektronnya berlebih. Secara umum elektron yang terpancar dari
peluruhan ini adalah elektron yang ditimbulkan oleh inti atomnya

5
dengan energi yang tersedia didalamnya bukan elektron orbital.
Pada peluruhan radiasi beta negatif berlaku hubungan persamaan
seperti berikut:
𝐴 𝐴
𝑍𝑋 → 𝑍+1𝑌 + −10𝑒 + 𝑣 −
2) Peluruhan Beta Positif (𝜷+)
Radiasi yang dipancarkan oleh zat radioaktif lainnya selain
dari radiasi beta negatif (𝛽−) juga terdapat radiasi beta positif (𝛽+).
Radiasi beta positif dari inti atomnya memancarkan elektron positif
(positron). Adanya pancaran elektron diakibatkan karena perbedaan
energi antara inti perubahan pada reaksi inti dengan inti semulanya.
Pada radiasi beta positif ini akan diikuti dengan peristiwa annihilasi.
peristiwa annihilasi merupakan peristiwa penggabungan.
Penggabungan pada radiasi beta terjadi antara Beta (+) dengan
elektron (−) yang banyak terdapat di alam sehingga menghasilkan
radiasi Gamma yang lemah. Pada radiasi beta positif disertai dengan
pembebasan neutrino (𝑣) contoh 230
91𝑃𝑎 sehingga berlaku hubungan

seperti berikut:
𝐴 𝐴
𝑍𝑋 → 𝑍+1𝑌 + −10𝑒 + 𝑣
3) Peluruhan Gamma (𝜸)
Radiasi gamma merupakan radiasi yang dipancarkan oleh zat
radioaktif yang memiliki karakteristik energi yang sangat tinggi
sehingga memiliki daya tembus yang sangat kuat. Radiasi gamma
bukan elektron atau neutron sehingga tidak memiliki nomor atom
(𝐴 = 0) maka dalam peluruhan sinar-𝛾 tidak dihasilkan inti atom
baru.

3. Waktu Paruh
Waktu paruh (𝑇1⁄2) menyatakan waktu yang diperlukan oleh
sebuah unsur radioaktif (jumlah atau aktivitasnya) untuk meluruh hingga
menjadi setengah dari nilai semula (Iswadi, 2012). Waktu paruh dapat
ditentukan melalui persamaan:

6
𝑁 1 𝐴 1
= 2 atau =2 dan 𝑡 = 𝑇1⁄2
𝑁𝑜 𝐴0

Sehingga
1 𝑙𝑛2
= 𝑒 −𝜆𝑇1⁄2 atau 𝑇1⁄2 =
2 𝜆

Keterangan:
𝑁 : Banyaknya zat sisa
𝑁𝑜 : Banyaknya zat mula-mula
𝐴 : Aktivitas radioaktif pada waktu t
𝐴𝑜 : Aktivitas radioaktif awal
𝑡 : Waktu peluruhan yang diamati
𝑇1/2 : Waktu paruh
λ : Komstanta peluruhan
𝑒 : Bilangan eksponensial (≈ 2,718)
ln 2 : Logaritma natural dari 2 (≈ 0,693)

B. Hukum Peluruhan Berturutan


Dalam kasus radioaktivitas alamiah maupun buatan, dapat terjadi
secara berturutan. Suatu inti induk meluruh menjadi anak inti. Jika inti anak ini
juga suatu unsur radioaktif, tentu akan menghasilkan inti cucu dan seterusnya.
Dalam banyak kasus yang terjadi adalah inti induk meluruh menjadi inti anak,
inti anak meluruh menjadi inti yang stabil. Suatu pertanyaan yang menarik
adalah jika kita mulai dengan sejumlah isotop induk radioaktif, berapa jumlah
masing-masing inti untuk setiap peluruhan pada waktu tertentu.
Misalkan pada waktu t, jumlah inti induk N1. Meluruh dengan tetapan
peluruhan 𝜆1, menjadi inti anak. Misalkan N2 adalah jumlah inti anak yang
meluruh dengan tetapan peluruhan 𝜆2 menjadi inti yang stabil dengan jumlah
N3. Misalkan pada t = 0, N1 = N10, N2 = N20, dan N3 = N30 = 0. Aktivitas setiap
unsur adalah
𝑑𝑁1
= −𝜆1 𝑁1 (1)
𝑑𝑡
𝑑𝑁1
= 𝜆1 𝑁1 − 𝜆2 𝑁2 (2)
𝑑𝑡
𝑑𝑁3
𝑑𝑡
= 𝜆2 𝑁2 (3)

7
Integrasi dari persamaan pertama menghasilkan
𝑁1 (𝑡) = 𝑁10 𝑒−𝜆1 𝑡 (4)
Jika disubstitusikan ke persamaan berikutnya akan menghasilkan
𝑑𝑁2
= 𝜆1 𝑁10𝑒 𝜆1 𝑡 − 𝜆2 𝑁2 atau
𝑑𝑡
𝑑𝑁2
+ 𝜆2 𝑁2 = 𝜆1 𝑁10 𝑒 −𝜆1𝑡 (5)
𝑑𝑡

Kalikan kedua ruas suku dengan 𝑒 𝜆2 𝑡


𝑑𝑁2
+ 𝜆2 𝑁2 = 𝜆1 𝑁10 𝑒 −𝜆1𝑡
𝑑𝑡
𝑑𝑁2
𝑒 𝜆2 𝑡 + 𝜆2 𝑁2 𝑒 𝜆2 𝑡 = 𝜆1 𝑁10 𝑒 −𝜆1𝑡 𝑒 𝜆2 𝑡 atau
𝑑𝑡
𝑑
(𝑁2 𝑒 𝜆2 𝑡 ) = 𝜆1 𝑁10𝑒 (𝜆1 −𝜆2 )𝑡 (6)
𝑑𝑡

Integrasi persamaan 6 menghasilkan


𝜆1
𝑁2 𝑒 𝜆2 𝑡 = 𝜆 𝑁2 𝑒 (𝜆2 −𝜆1)𝑡 + 𝑐 (7)
2 −𝜆1

Integrasi nilai dari integral C konstan dapat ditemukan dengan menggunakan


t = 0 N2 = N20 = 0
𝜆1
𝐶=− 𝑁
𝜆2 − 𝜆1 10
Substitusikan C di persamaan 7 dan membagi kedua sisi dengan 𝑒 𝜆2 𝑡
menghasilkan
𝜆1
𝑁2 (𝑡) = 𝑁10 𝜆 (𝑒 −𝜆1 𝑡 −𝑒 −𝜆2 𝑡 ) (8)
2 −𝜆1

Demikian pula, jika persamaan 3 diselesaikan sesuai dengan kondisi berikut,


Dimana t = 0 N3 = N30 = 0
𝜆1 𝜆1
𝑁2 (𝑡) = 𝑁10 (1 + 𝜆 𝑒 −𝜆2 𝑡 − 𝜆 𝑒 −𝜆1 𝑡 ) (9)
2 −𝜆1 2 −𝜆1

Oleh karena itu, jumlah atom yang ada pada setiap waktu t dapat ditentukan
dengan menggunakan persamaan 4, 8, dan 9. Persamaan-persamaan ini
disimpulkan untuk kondisi khusus yang diberikan oleh N1 = N10, N2 = N30 = 0
pada t = 0
Namun, juga dimungkinkan untuk menentukan hubungan untuk N1, N2, dan N3
meskipun N20 dan N30 tidak sama dengan 0 pada t = 0.
Ketika N20 dan N30 = 0 tidak sama dengan 0 pada t = 0, maka persamaan untuk
N1, N2, dan N3 adalah

8
𝑁1 (𝑡) = 𝑁10 𝑒−𝜆1 𝑡 (10)
𝜆1
𝑁2 (𝑡) = 𝑁10 𝜆 (𝑒 −𝜆1 𝑡 −𝑒 −𝜆2 𝑡 )+ 𝑁20 𝑒 −𝜆2 𝑡 (11)
2 −𝜆1

𝜆1 𝜆1
𝑁3 (𝑡) = 𝑁30 + 𝑁20 (1 − 𝑒 −𝜆2 𝑡 ) (1 + 𝜆 𝑒 −𝜆2 𝑡 − 𝜆 𝑒 −𝜆1 𝑡 ) (12)
2 −𝜆1 2 −𝜆1

Persamaan untuk peluruhan berturutan adalah


𝑑𝑁1
= −𝜆1 𝑁1
𝑑𝑡
𝑑𝑁1
= 𝜆1 𝑁1 − 𝜆2 𝑁2
𝑑𝑡

𝑑𝑁3
= 𝜆2 𝑁2 − 𝜆3 𝑁3
𝑑𝑡
𝑑𝑁𝑛
= 𝜆𝑛−1 𝑁𝑛−1 − 𝜆𝑛 𝑁𝑛
𝑑𝑡

C. Kesetimbangan Radioaktif
1. Definisi Kesetimbangan Radioaktif
Kesetimbangan radioaktif menyatakan rasio antara aktivitas
radionuklida yang meluruh dengan aktivitas radionuklida hasil peluruhan
telah konstan. Radionuklida yang meluruh disebut induk (parent) dan
radionuklida hasil peluruhan disebut radionuklida anak (daughter), kedua
radionuklida tersebut bersifat radioakif (Iswadi, 2012). Waktu paruh induk
radionuklida selalu lebih besar dari waktu paruh yang dimiliki anak
radinulida yang bersangkutan. Kesetimbangan biasanya digunakan untuk
mengungkapkan kondisi bahwa turunan dari fungsi terhadap waktu sama
dengan nol. Dimana untuk kondisi kesetimbangannya yaitu:
𝑑𝑁1
= − 𝜆1 𝑁1 = 0
𝑑𝑡
𝜆1 𝑁1 = 𝜆2 𝑁2
𝜆2 𝑁2 = 𝜆3 𝑁3
𝜆𝑛−1 𝑁𝑛−1 = 𝜆𝑛 𝑁𝑛2
Dalam kondisi tersebut aktivitas anak menjadi konstan (atau rasio aktivitas
induk-anak menjadi konstan) selama interval waktu tertentu.

9
2. Jenis-Jenis Kesetimbangan Radioaktif
Terdapat dua kategori utama dalam kesetimbangan, yaitu
kesetimbanagan sekuler/permanen (secular equilibrium) dan
kesetimbangan transien (transient equilibrium).
a. Kesetimbangan Sekuler/Permanen
Kesetimbanagan sekuler terjadi jika umur paruh inti induk jauh
lebih besar dari pada umur paruh inti anak. Perbedaan antara paruh
waktu induk dan paruh waktu anak adalah sekitar 104 kali lebih besar,
karena umur paruh induk jauh lebih bessar dari umur paruh anak, maka
konstanta peluruhan induk akan menjadi jauh lebih kecil (𝜆1 < 𝜆2 ) dan
sebagai akibatnya
𝜆2 − 𝜆1 ≈ 𝜆2 𝑑𝑎𝑛 𝑒 −𝜆2𝑡 ≈ 0
Sehingga
𝜆1 0 𝜆
𝑁2 = 𝑁 𝑒 2𝑡
𝜆2 1
𝑁2 𝜆2 = 𝑁1 𝜆1

b. Kesetimbangan Transien
Kesetimbangan transien terjadi ketika inti induk meluruh
dengan konstanta keseluruhan yang mendekati konstanta peluruhan ini
anak. Perbedaan antara umur paruh induk dan anak sekitar 10 kali lebih
besar. Sehingga konstanta peluruhan induk akan menjadi lebih kecil
dari konstanta peluruhan anak (𝜆1 < 𝜆2 ). Selanjutnya waktu untuk nilai
t sangat besar maka 𝑒 −𝜆2𝑡 diabaikan jika dibandingkan dengan 𝑒 −𝜆1𝑡
sehingga:
𝑁2 (𝜆2 − 𝜆1 ) = 𝑁1 𝜆1
𝑁1 𝜆2 − 𝜆1
=
𝑁2 𝜆1
Radionuklida anak juga meluruh dengan umur Paruh
radionuklida induk, tetapi perbedaanya yaitu aktivitasnya yang lebih
besar dari radionuklida induk (Lestari, 2021). Ilustarsi mengenai
aktivitas radionuklida induk dengan anak diperlihatkan dalam gambar

10
Gambar 1. Aktivitas peluruhan radionuklida induk 99Mo (T1/2=66,7
hari) dan peningkatan aktivitas radionuklida anak 99mTc (T1/2=6,03
hari) sebagai fungsi waktu

Gambar diatas menunjukkan aktivitas radionuklida induk dan


anak yang sedang meluruh, rasio aktivitas keduanya (induk dan anak)
mendekati nilai konstan. Gambar insert menunjukkan data yang sama
ketika radionuklida anak bertambah dari radionuklida induk dalam
setiap hari. Hal ini juga menunjukkan bahwa hanya sekitar 86% inti
99
Mo yang meluruh menjadi 99mTc, sehingga aktivitas 99mTc 14% lebih
kecil dari aktivitas induknya.

D. Deret Radioaktif Alamiah


1. Definisi Deret Radioatif Alamiah
Deret radioaktif alamiah adalah rangkaian peluruhan inti dari isotop
tidak stabil menuju isotop stabil melalui emisi partikel alfa (α) dan beta (β).
Tiga seri utama di alam yaitu deret Uranium-238, Thorium-232, dan
Uranium-235, masing-masing berakhir pada isotop timbal stabil (²⁰⁶Pb,
²⁰⁷Pb, dan ²⁰⁸Pb) (Fiveable, 2023; WNTI, 2021).
2. Peran Deret Radioaktif Alamiah dalam Sistem Lingkngan
a. Sumber Radiasi Alami
238 232
Deret 𝑈 dan 𝑇ℎ menyumbang radiasi alami terbesar di
bumi. Radiasi ini menjadi faktor penting dalam pemanasan kerak bumi

11
dan pelapukan batuan (Vengosh et al., 2022, Science of the Total
Environment).
b. Pelacak Geokimia dan Hidrologi
234
Rasio isotop seperti 𝑈/238𝑈 dan 226
𝑅𝑎/228𝑅𝑎 digunakan
untuk menelusuri pergerakan air tanah, umur sedimen, serta interaksi
antara batuan dan air. Ketidakseimbangan aktivitas dalam deret
menjadi indikator proses geokimia (Ivanovich & Harmon, 1992;
Uranium-Series Disequilibrium: Applications to Earth, Marine, and
Environmental Sciences).
c. Dapak Lingkungan dan Kesehatan
Gas radon (²²²Rn) dari peluruhan Ra-226 dapat terakumulasi di
ruang tertutup dan berisiko pada sistem pernapasan manusia. Oleh
karena itu, pemetaan radon berbasis deret uranium digunakan untuk
mitigasi risiko lingkungan (WHO, 2021; Guidelines for Indoor Air
Quality: Radon).

3. Peran Deret Radioaktif Alamiah dalam Teknologi Nuklir


a. Dasar Bahan Bakar dan Reaksi Nuklir
Isotop dalam deret seperti ²³²Th dan ²³⁸U digunakan sebagai
bahan bakar dalam reaktor breeder untuk menghasilkan isotop fisil
( 233𝑈 dan 239𝑃𝑈) (Khan & Ahmad, 2020; Annals of Nuclear Energy).
b. Pengendalian Limnah Radioaktif
Pemahaman terhadap urutan dan waktu paruh dalam deret
peluruhan digunakan untuk menentukan masa peluruhan limbah
hingga stabil (IAEA, 2020; Management of Radioactive Waste).
c. Penanggalan dan forensik Nuklir
Rasio isotop anak-induk seperti 230𝑇ℎ/^ 234𝑈 digunakan dalam
metode uranium-series dating untuk menentukan umur karbonat dan
fosil, serta dalam analisis forensik sumber bahan nuklir (Edwards et
al., 2003; Reviews in Mineralogy and Geochemistry).

12
4. Konsep Aktivitas dan Keseimbangan Radioaktifitas Alamiah
Dalam sistem tertutup dan waktu cukup lama, aktivitas induk dan
anak dalam deret dapat mencapai keseimbangan sekuler, di mana laju
peluruhan sama. Gangguan terhadap sistem (misalnya keluarnya radon)
menyebabkan disequilibrium, yang justru bermanfaat untuk penelusuran
proses lingkungan (Fiveable, 2023; Vengosh et al., 2022).

13
BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Radioaktivitas adalah proses alami di mana inti atom yang tidak stabil
meluruh dengan memancarkan partikel atau energi untuk mencapai
kestabilan. Fenomena ini ditemukan melalui penelitian ilmuwan seperti
Henri Becquerel, Marie Curie, dan Ernest Rutherford, yang
mengidentifikasi berbagai jenis sinar radioaktif—alfa, beta, dan gamma.
Radioaktivitas memainkan peran penting dalam berbagai bidang, salah
satunya pembangkit listrik tenaga nuklir. Meskipun bermanfaat,
radioaktivitas juga membawa risiko kesehatan dan lingkungan, sehingga
pemanfaatannya memerlukan pengawasan dan teknologi yang aman.
2. Hukum peluruhan berurutan menjelaskan proses dimana inti induk
radioaktif meluruh menjadi inti anak secara bertahap hingga mencapai inti
yang stabil. Jumlah inti pada setiap tahapan peluruhan dapat dihitung
dengan persamaan diferensial yang melibatkan tetapan peluruhan masing-
masing inti. Dengan asumsi kondisi awal jumlah inti tertentu, persamaan
tersebut dapat diintegrasikan untuk mendapatkan rumus jumlah inti pada
waktu tertentu. Hasil ini memungkinkan perhitungan aktivitas dan jumlah
tiap inti radioaktif secara berurutan dalam rantai peluruhan, baik untuk
sistem sederhana maupun kompleks dengan kondisi awal berbeda.
3. Istilah kesetimbangan biasanya digunakan untuk mengungkapkan kondisi
bahwa turunan dari fungsi dimana waktu sama dengan nol. Kesetimbangan
radioaktif adalah keadaan ketika nuklida radioaktif meluruh pada laju yang
sama dengan laju pembentukannya. Berdasarkan perbandingan waktu
paruhnya, terdapat dua jenis kesetimbangan, yaitu kesetimbangan sekuler,
ketika umur paruh inti induk jauh lebih besar dari pada umur paruh inti anak,
dan kesetimbangan transien ketika inti induk meluruh dengan konstanta
keseluruhan yang mendekati konstanta peluruhan ini anak.
4. Konsep deret radioaktif alamiah memainkan peran ganda, dalam
lingkungan, ia menjadi alat ilmiah untuk memahami dinamika bumi, siklus
air tanah, serta potensi bahaya radiasi alami, sedangkan dalam teknologi

14
nuklir, deret ini menjadi dasar teori dan praktis bagi pembangkitan energi,
manajemen limbah, dan penentuan umur material. Pemahaman terhadap
keseimbangan dan peluruhan deret-deret ini menjembatani dua dunia, fisika
inti dan keberlanjutan lingkungan, menjadikannya salah satu konsep paling
penting dalam fisika modern.
B. Saran
Diharapkan bagi para peneliti dan praktisi untuk memperluas
pemahamannya tentang prinsip-prinsip dasar radioaktivitas, seperti peluruhan
radioaktif, hukum peluruhan berturutan, kesetimbangan radioaktif, dan deret
radioaktif alamiah, untuk menghadapi perkembangan teknologi nuklir dan
meningkatnya permintaan energi bersih. Selanjutnya, untuk ke depannya harus
difokuskan pada penerapan ide-ide ini dalam konteks kontemporer, seperti
pemantauan lingkungan, pengelolaan limbah radioaktif, dan optimalisasi
penggunaan isotop dalam industri dan bidang medis. Selain itu, edukasi publik
tentang manfaat dan risiko radioaktivitas juga harus ditingkatkan. Hal ini
diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya
menjaga keselamatan radioaktivitas dan keberlanjutan ekosistem yang berada
di sekitar sumber radiasi buatan dan alam.

15
DAFTAR PUSTAKA

Abubakar, M. S. (2019). An Introduction to the concept of Radioactive Decay and


Radioactivity in Nuclear Chemistry. ResearchGate, December.
[Link]
Edwards, R. L., et al. (2003). Uranium-series Dating of Marine and Lacustrine
Carbonates. Reviews in Mineralogy and Geochemistry.
Iswadi. (2012). Pendahuluan Fisika Inti. Alauddin University Press.
Ivanovich, M., & Harmon, R. S. (1992). Uranium-Series Disequilibrium:
Applications to Earth, Marine, and Environmental Sciences. Clarendon
Press, Oxford.
Khan, M., & Ahmad, S. (2020). Thorium-based fuels for nuclear power generation:
A review. Annals of Nuclear Energy. [Scopus Indexed]
Kovler, K., Friedmann, H., Michalik, B., Schroeyers, W., Tsapalov, A., Antropov,
S., Bituh, T., & Nicolaides, D. (2017). Basic aspects of natural radioactivity.
In Naturally Occurring Radioactive Materials in Construction: Integrating
Radiation Protection in Reuse (COST Action Tu1301 NORM4BUILDING)
(1st ed.). Elsevier Ltd. [Link]
Lestari, Y. (2021). Handout Digital Fisika Inti. PMsG. Retrieved from
[Link]
Michalik, B., de With, G., & Schroeyers, W. (2018). Measurement of radioactivity
in building materials – Problems encountered caused by possible
disequilibrium in natural decay series. Construction and Building Materials,
168, 995–1002. [Link]
P Arya, A. (1966). Fundamentals of Nuclear Physics. West Virginia University.
Boston
Vengosh, A., et al. (2022). A critical review on the occurrence and distribution of
the uranium- and thorium-decay nuclides and their effect on groundwater
quality. Science of the Total Environment. [Scopus Indexed]
World Health Organization (2021). Guidelines for Indoor Air Quality: Radon.
Geneva: WHO Press.

16
World Nuclear Transport Institute (2021). Information Paper on Calculating
Activity for Natural Uranium. [Sinta/Scopus Supporting Reference]

17

Anda mungkin juga menyukai