Konsep Dasar Radioaktivitas dan Peluruhan
Konsep Dasar Radioaktivitas dan Peluruhan
MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Fisika Inti
Dosen Pengampu: Dwi Sulistyaningsih, [Link].
Disusun Oleh:
Kelas : B
Kelompok : 1
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat-
Nya kami dapat menyelesaikan makalah berjudul “Radioaktivitas” dengan baik dan
tepat waktu. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Fisika Inti.
Penulis menyadari bahwa radioaktivitas merupakan topik penting dalam studi
nuklir dan memiliki berbagai aplikasi serta implikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, kami berharap makalah ini dapat memberikan pemahaman yang
lebih mendalam mengenai konsep-konsep dasar radioaktif, seperti peluruhan
radioaktif, hukum peluruhan berurutan, kesetimbangan radioaktif, dan deret
radioaktif alamiah.
Selama penyusunan makalah, kami mendapat banyak dukungan dari
berbagai pihak. Untuk itu kami sampaikan terima kasih kepada dosen pengampu
mata kuliah fisika inti yang telah memberikan bimbingan, rekan-rekan kelompok
atas kerjasama menyusun makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembaca dan dapat menambah wawasan di bidang fisika nuklir. Kritik dan saran
konstruktif sangat kami harapkan untuk perbaikan makalah ke depan.
Penulis
i
DAFTAR ISI
ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Radioaktivitas merupakan fenomena alamiah yang berhubungan dengan
ketidakstabilan inti atom, sehingga mengalami peluruhan untuk mencapai
kestabilan energi. Proses ini melibatkan emisi partikel atau radiasi
elektromagnetik dari inti atom yang tidak stabil menuju inti yang lebih stabil.
Fenomena radioaktivitas pertama kali ditemukan oleh Henri Becquerel dan
dikembangkan oleh Marie dan Pierre Curie, yang menemukan bahwa unsur
seperti uranium dan radium dapat memancarkan radiasi secara spontan tanpa
intervensi eksternal. Dalam konteks modern, pemahaman terhadap
radioaktivitas menjadi sangat penting tidak hanya dalam bidang fisika nuklir
tetapi juga dalam aplikasi medis, lingkungan, dan teknologi energi.
Peluruhan radioaktif merupakan konsep dasar dari radioaktivitas yang
menjelaskan bagaimana inti atom yang tidak stabil berubah menjadi inti lain
yang lebih stabil dengan laju tertentu. Proses ini mengikuti hukum
eksponensial, di mana jumlah inti yang tersisa berkurang seiring waktu sesuai
dengan konstanta peluruhan tertentu. Hukum ini pertama kali dirumuskan
secara matematis oleh Rutherford dan Soddy, dan hingga kini menjadi dasar
dalam studi nuklir dan radiometri modern. Pemahaman mendalam tentang
hukum peluruhan ini penting dalam berbagai aplikasi, seperti penentuan umur
fosil dengan metode radiokarbon, serta dalam kontrol dosis pada radioterapi
medis.
Selain itu, peluruhan radioaktif sering kali terjadi secara berturutan, di
mana inti hasil peluruhan dapat kembali meluruh membentuk deret radioaktif.
Fenomena ini disebut hukum peluruhan berturutan, yang menjadi dasar dalam
menjelaskan deret radioaktif alamiah seperti deret uranium, torium, dan
aktinium. Dalam sistem ini, kesetimbangan radioaktif dapat tercapai ketika laju
peluruhan induk dan anak radionuklida menjadi konstan seiring waktu
(Michalik et al., 2018). Kondisi ini disebut kesetimbangan sekuler atau
transient, tergantung pada perbandingan waktu paruh antar radionuklida.
1
Kesetimbangan radioaktif memainkan peranan penting dalam
memahami distribusi isotop di alam dan kestabilan lingkungan nuklir. Dalam
konteks geologi dan lingkungan, kesetimbangan dalam deret radioaktif alamiah
menentukan kadar radioaktivitas pada bahan bangunan dan tanah, yang
memiliki implikasi besar terhadap paparan radiasi bagi manusia (Kovler et al.,
2017). Selain itu, penelitian modern berfokus pada bagaimana gangguan
terhadap kesetimbangan ini, misalnya akibat proses pelapukan atau intervensi
industri, dapat mempengaruhi keselamatan lingkungan dan kesehatan
masyarakat.
Oleh karena itu, pemahaman menyeluruh tentang peluruhan radioaktif,
hukum peluruhan berturutan, kesetimbangan radioaktif, dan deret radioaktif
alamiah menjadi sangat penting dalam konteks ilmiah dan praktis. Pembahasan
mengenai konsep-konsep ini tidak hanya memberikan landasan teoretis dalam
fisika nuklir, tetapi mendukung pengembangan teknologi yang aman dan ramah
lingkungan dalam bidang energi nuklir, radiomedis, dan konservasi lingkungan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan
masalah yang ingin dibahas adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan radioaktivitas dan apa saja jenis-jenis peluruhan
yang terjadi pada zat radioaktif?
2. Bagaimana hukum peluruhan berturutan menjelaskan proses peluruhan
dalam deret radioaktif?
3. Apa yang dimaksud dengan kesetimbangan radioaktif dan bagaimana
kondisi ini dicapai?
4. Bagaimana konsep deret radioaktif alamiah berperan dalam sistem
lingkungan dan teknologi nuklir?
C. Tujuan
Sejalan dengan rumusan di atas, maka makalah ini dapat disusun dengan
tujuan sebagai berikut:
1. Menjelaskan konsep dasar dan mekanisme peluruhan radioaktif.
2
2. Menganalisis hukum peluruhan berturutan dan penerapannya dalam deret
radioaktif.
3. Menguraikan konsep kesetimbangan radioaktif serta faktor-faktor yang
memengaruhinya.
4. Mengkaji peran deret radioaktif alamiah dalam fenomena alam dan
aplikasinya dalam bidang ilmiah dan teknologi.
3
BAB II PEMBAHASAN
A. Peluruhan Radioaktif
1. Pengertian Radioaktivitas
Radioaktivitas disebut sebagai peluruhan radioaktif, yakni peristiwa
terurainya beberapa inti atom tertentu secara spontan yang diikuti dengan
pancaran partikel alfa (inti helium), partikel beta (elektron), radiasi gamma
(gelombang elektromagnetik gelombang pendek), sinar X dan partikel
neutron. Sinar-sinar yang dipancarkan itu disebut sinar radioaktif,
sementara zat yang memancarkan sinar radioaktif dinamakan dengan zat
radioaktif. Istilah keradioaktifan (radioactivity) petama kali dibuat oleh
Marie Curie (1867 − 1934), seorang ahli kimia yang berasal dari Prancis.
Marie dan suaminya, Pierre Curie (1859 − 1906), sukses menemukan
bagian radioaktif baru, yakni polonium dan radium. Ernest Rutherford
(1871 − 1937) mengaku bahwa sinar radioaktif dapat dipisahkan atas
sinar alfa yang bermuatan positif dan sinar beta yang bermuatan negatif.
Paul Ulrich Villard (1869 − 1915), seorang ilmuwan Prancis,
menemukan sinar radioaktif yang tidak bermuatan, yakni sinar gamma.
Radioaktivitas adalah perubahan inti atom tak stabil secara spontan
menjadi inti atom stabil yang disertai dengan pancaran radiasi berupa
partikel maupun gelombang elektromagnetik. Proses ini disebut juga
sebagai peluruhan radioaktif, sedangkan inti atom tak stabil disebut
radionuklida dan materi yang mengandungnya disebut zat radioaktif. Nilai
radioaktivitas suatu radionuklida ditentukan oleh konstanta peluruhan (𝜆)
dan waktu paruh (𝑇1⁄2 ) radionuklida tersebut. Waktu paruh merupakan laju
peluruhan suatu radionuklida. Radioaktivitas tidak dipengaruhi oleh
tekanan, suhu dan bentuk senyawa kimia tetapi hanya dipengaruhi oleh inti
atom yang bersangkutan. Untuk melakukan pengukuran cacah peluruhan
inti suatu radionuklida diperlukan sebuah besaran yang dinamakan
aktivitas. Aktivitas merupakan cacah peluruhan inti per satuan waktu.
Peluruhan radioaktif terbagi menjadi tiga jenis yaitu, peluruhan alfa,
peluruhan beta dan peluruhan elektromagnetik.
4
2. Jenis-Jenis Peluruhan Radioaktif
Peluruhan radioaktif terbagi menjadi tiga jenis yaitu, peluruhan alfa,
peluruhan beta dan peluruhan gamma (Abubakar, 2019).
a. Peluruhan Alpha (𝜶)
Peluruhan alpha (𝛼) merupakan bentuk radiasi partikel dengan
kemampuan mengionisasi atom sangat tinggi dan daya tembusnya
rendah. Radiasi ini pada umumnya terjadi pada elemen berat, yaitu
atom yang nomor massanya besar dan tenaga ikatnya rendah, yaitu
tenaga ikat antara elektron dan inti atomya rendah. Pertikel alpha terdiri
atas dua buah proton dan dua buah netron yang terikat menjadi suatu
atom dengan inti yang sangat stabil. Partikel alpha diradiasikan oleh inti
atom radioaktif seperti uranium atau radium dalam suatu proses yang
disebut dengan peluruhan alpha. Setelah partikel alpha diradiasikan
maka nomor massanya akan berkurang 4 karena kehilangan 4 partikel
dan nomor atomnya berkurang 2 karena 2 protonnya hilang, sehingga
radiasi Alpha disamakan dengan pembentukan inti Helium yang
bermuatan listrik 2 dan bermassa 4 ( 42𝐻𝑒) dan pada akhirnya akan
terbentuk inti atom baru yang dinamakan inti anak. Sebagai contoh
terjadi pada peluruhan plutonium. Dalam Peluruhan alpha terjadi proses
hubungani dengan berdasarkan hukum kekekalan jumlah muatan
dengan nucleon seperti berikut:
𝐴 𝐴−4
𝑍𝑋 → 𝑍−2𝑌 + 442𝐻𝑒
b. Peluruhan Beta (𝜷)
1) Peluruhan Beta Negatif (𝜷 −)
Radiasi beta negatif merupakan radiasi yang disertai
pemancaran elektron dari suatu atom, meluruh dengan pembebasan
sebuah neutrino. Pada radiasi Beta Negatif nomor atom akan
23
bertambah 1 sedangkan nomor massanya tetap contoh pada 10𝑁𝑒
5
dengan energi yang tersedia didalamnya bukan elektron orbital.
Pada peluruhan radiasi beta negatif berlaku hubungan persamaan
seperti berikut:
𝐴 𝐴
𝑍𝑋 → 𝑍+1𝑌 + −10𝑒 + 𝑣 −
2) Peluruhan Beta Positif (𝜷+)
Radiasi yang dipancarkan oleh zat radioaktif lainnya selain
dari radiasi beta negatif (𝛽−) juga terdapat radiasi beta positif (𝛽+).
Radiasi beta positif dari inti atomnya memancarkan elektron positif
(positron). Adanya pancaran elektron diakibatkan karena perbedaan
energi antara inti perubahan pada reaksi inti dengan inti semulanya.
Pada radiasi beta positif ini akan diikuti dengan peristiwa annihilasi.
peristiwa annihilasi merupakan peristiwa penggabungan.
Penggabungan pada radiasi beta terjadi antara Beta (+) dengan
elektron (−) yang banyak terdapat di alam sehingga menghasilkan
radiasi Gamma yang lemah. Pada radiasi beta positif disertai dengan
pembebasan neutrino (𝑣) contoh 230
91𝑃𝑎 sehingga berlaku hubungan
seperti berikut:
𝐴 𝐴
𝑍𝑋 → 𝑍+1𝑌 + −10𝑒 + 𝑣
3) Peluruhan Gamma (𝜸)
Radiasi gamma merupakan radiasi yang dipancarkan oleh zat
radioaktif yang memiliki karakteristik energi yang sangat tinggi
sehingga memiliki daya tembus yang sangat kuat. Radiasi gamma
bukan elektron atau neutron sehingga tidak memiliki nomor atom
(𝐴 = 0) maka dalam peluruhan sinar-𝛾 tidak dihasilkan inti atom
baru.
3. Waktu Paruh
Waktu paruh (𝑇1⁄2) menyatakan waktu yang diperlukan oleh
sebuah unsur radioaktif (jumlah atau aktivitasnya) untuk meluruh hingga
menjadi setengah dari nilai semula (Iswadi, 2012). Waktu paruh dapat
ditentukan melalui persamaan:
6
𝑁 1 𝐴 1
= 2 atau =2 dan 𝑡 = 𝑇1⁄2
𝑁𝑜 𝐴0
Sehingga
1 𝑙𝑛2
= 𝑒 −𝜆𝑇1⁄2 atau 𝑇1⁄2 =
2 𝜆
Keterangan:
𝑁 : Banyaknya zat sisa
𝑁𝑜 : Banyaknya zat mula-mula
𝐴 : Aktivitas radioaktif pada waktu t
𝐴𝑜 : Aktivitas radioaktif awal
𝑡 : Waktu peluruhan yang diamati
𝑇1/2 : Waktu paruh
λ : Komstanta peluruhan
𝑒 : Bilangan eksponensial (≈ 2,718)
ln 2 : Logaritma natural dari 2 (≈ 0,693)
7
Integrasi dari persamaan pertama menghasilkan
𝑁1 (𝑡) = 𝑁10 𝑒−𝜆1 𝑡 (4)
Jika disubstitusikan ke persamaan berikutnya akan menghasilkan
𝑑𝑁2
= 𝜆1 𝑁10𝑒 𝜆1 𝑡 − 𝜆2 𝑁2 atau
𝑑𝑡
𝑑𝑁2
+ 𝜆2 𝑁2 = 𝜆1 𝑁10 𝑒 −𝜆1𝑡 (5)
𝑑𝑡
Oleh karena itu, jumlah atom yang ada pada setiap waktu t dapat ditentukan
dengan menggunakan persamaan 4, 8, dan 9. Persamaan-persamaan ini
disimpulkan untuk kondisi khusus yang diberikan oleh N1 = N10, N2 = N30 = 0
pada t = 0
Namun, juga dimungkinkan untuk menentukan hubungan untuk N1, N2, dan N3
meskipun N20 dan N30 tidak sama dengan 0 pada t = 0.
Ketika N20 dan N30 = 0 tidak sama dengan 0 pada t = 0, maka persamaan untuk
N1, N2, dan N3 adalah
8
𝑁1 (𝑡) = 𝑁10 𝑒−𝜆1 𝑡 (10)
𝜆1
𝑁2 (𝑡) = 𝑁10 𝜆 (𝑒 −𝜆1 𝑡 −𝑒 −𝜆2 𝑡 )+ 𝑁20 𝑒 −𝜆2 𝑡 (11)
2 −𝜆1
𝜆1 𝜆1
𝑁3 (𝑡) = 𝑁30 + 𝑁20 (1 − 𝑒 −𝜆2 𝑡 ) (1 + 𝜆 𝑒 −𝜆2 𝑡 − 𝜆 𝑒 −𝜆1 𝑡 ) (12)
2 −𝜆1 2 −𝜆1
𝑑𝑁3
= 𝜆2 𝑁2 − 𝜆3 𝑁3
𝑑𝑡
𝑑𝑁𝑛
= 𝜆𝑛−1 𝑁𝑛−1 − 𝜆𝑛 𝑁𝑛
𝑑𝑡
C. Kesetimbangan Radioaktif
1. Definisi Kesetimbangan Radioaktif
Kesetimbangan radioaktif menyatakan rasio antara aktivitas
radionuklida yang meluruh dengan aktivitas radionuklida hasil peluruhan
telah konstan. Radionuklida yang meluruh disebut induk (parent) dan
radionuklida hasil peluruhan disebut radionuklida anak (daughter), kedua
radionuklida tersebut bersifat radioakif (Iswadi, 2012). Waktu paruh induk
radionuklida selalu lebih besar dari waktu paruh yang dimiliki anak
radinulida yang bersangkutan. Kesetimbangan biasanya digunakan untuk
mengungkapkan kondisi bahwa turunan dari fungsi terhadap waktu sama
dengan nol. Dimana untuk kondisi kesetimbangannya yaitu:
𝑑𝑁1
= − 𝜆1 𝑁1 = 0
𝑑𝑡
𝜆1 𝑁1 = 𝜆2 𝑁2
𝜆2 𝑁2 = 𝜆3 𝑁3
𝜆𝑛−1 𝑁𝑛−1 = 𝜆𝑛 𝑁𝑛2
Dalam kondisi tersebut aktivitas anak menjadi konstan (atau rasio aktivitas
induk-anak menjadi konstan) selama interval waktu tertentu.
9
2. Jenis-Jenis Kesetimbangan Radioaktif
Terdapat dua kategori utama dalam kesetimbangan, yaitu
kesetimbanagan sekuler/permanen (secular equilibrium) dan
kesetimbangan transien (transient equilibrium).
a. Kesetimbangan Sekuler/Permanen
Kesetimbanagan sekuler terjadi jika umur paruh inti induk jauh
lebih besar dari pada umur paruh inti anak. Perbedaan antara paruh
waktu induk dan paruh waktu anak adalah sekitar 104 kali lebih besar,
karena umur paruh induk jauh lebih bessar dari umur paruh anak, maka
konstanta peluruhan induk akan menjadi jauh lebih kecil (𝜆1 < 𝜆2 ) dan
sebagai akibatnya
𝜆2 − 𝜆1 ≈ 𝜆2 𝑑𝑎𝑛 𝑒 −𝜆2𝑡 ≈ 0
Sehingga
𝜆1 0 𝜆
𝑁2 = 𝑁 𝑒 2𝑡
𝜆2 1
𝑁2 𝜆2 = 𝑁1 𝜆1
b. Kesetimbangan Transien
Kesetimbangan transien terjadi ketika inti induk meluruh
dengan konstanta keseluruhan yang mendekati konstanta peluruhan ini
anak. Perbedaan antara umur paruh induk dan anak sekitar 10 kali lebih
besar. Sehingga konstanta peluruhan induk akan menjadi lebih kecil
dari konstanta peluruhan anak (𝜆1 < 𝜆2 ). Selanjutnya waktu untuk nilai
t sangat besar maka 𝑒 −𝜆2𝑡 diabaikan jika dibandingkan dengan 𝑒 −𝜆1𝑡
sehingga:
𝑁2 (𝜆2 − 𝜆1 ) = 𝑁1 𝜆1
𝑁1 𝜆2 − 𝜆1
=
𝑁2 𝜆1
Radionuklida anak juga meluruh dengan umur Paruh
radionuklida induk, tetapi perbedaanya yaitu aktivitasnya yang lebih
besar dari radionuklida induk (Lestari, 2021). Ilustarsi mengenai
aktivitas radionuklida induk dengan anak diperlihatkan dalam gambar
10
Gambar 1. Aktivitas peluruhan radionuklida induk 99Mo (T1/2=66,7
hari) dan peningkatan aktivitas radionuklida anak 99mTc (T1/2=6,03
hari) sebagai fungsi waktu
11
dan pelapukan batuan (Vengosh et al., 2022, Science of the Total
Environment).
b. Pelacak Geokimia dan Hidrologi
234
Rasio isotop seperti 𝑈/238𝑈 dan 226
𝑅𝑎/228𝑅𝑎 digunakan
untuk menelusuri pergerakan air tanah, umur sedimen, serta interaksi
antara batuan dan air. Ketidakseimbangan aktivitas dalam deret
menjadi indikator proses geokimia (Ivanovich & Harmon, 1992;
Uranium-Series Disequilibrium: Applications to Earth, Marine, and
Environmental Sciences).
c. Dapak Lingkungan dan Kesehatan
Gas radon (²²²Rn) dari peluruhan Ra-226 dapat terakumulasi di
ruang tertutup dan berisiko pada sistem pernapasan manusia. Oleh
karena itu, pemetaan radon berbasis deret uranium digunakan untuk
mitigasi risiko lingkungan (WHO, 2021; Guidelines for Indoor Air
Quality: Radon).
12
4. Konsep Aktivitas dan Keseimbangan Radioaktifitas Alamiah
Dalam sistem tertutup dan waktu cukup lama, aktivitas induk dan
anak dalam deret dapat mencapai keseimbangan sekuler, di mana laju
peluruhan sama. Gangguan terhadap sistem (misalnya keluarnya radon)
menyebabkan disequilibrium, yang justru bermanfaat untuk penelusuran
proses lingkungan (Fiveable, 2023; Vengosh et al., 2022).
13
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Radioaktivitas adalah proses alami di mana inti atom yang tidak stabil
meluruh dengan memancarkan partikel atau energi untuk mencapai
kestabilan. Fenomena ini ditemukan melalui penelitian ilmuwan seperti
Henri Becquerel, Marie Curie, dan Ernest Rutherford, yang
mengidentifikasi berbagai jenis sinar radioaktif—alfa, beta, dan gamma.
Radioaktivitas memainkan peran penting dalam berbagai bidang, salah
satunya pembangkit listrik tenaga nuklir. Meskipun bermanfaat,
radioaktivitas juga membawa risiko kesehatan dan lingkungan, sehingga
pemanfaatannya memerlukan pengawasan dan teknologi yang aman.
2. Hukum peluruhan berurutan menjelaskan proses dimana inti induk
radioaktif meluruh menjadi inti anak secara bertahap hingga mencapai inti
yang stabil. Jumlah inti pada setiap tahapan peluruhan dapat dihitung
dengan persamaan diferensial yang melibatkan tetapan peluruhan masing-
masing inti. Dengan asumsi kondisi awal jumlah inti tertentu, persamaan
tersebut dapat diintegrasikan untuk mendapatkan rumus jumlah inti pada
waktu tertentu. Hasil ini memungkinkan perhitungan aktivitas dan jumlah
tiap inti radioaktif secara berurutan dalam rantai peluruhan, baik untuk
sistem sederhana maupun kompleks dengan kondisi awal berbeda.
3. Istilah kesetimbangan biasanya digunakan untuk mengungkapkan kondisi
bahwa turunan dari fungsi dimana waktu sama dengan nol. Kesetimbangan
radioaktif adalah keadaan ketika nuklida radioaktif meluruh pada laju yang
sama dengan laju pembentukannya. Berdasarkan perbandingan waktu
paruhnya, terdapat dua jenis kesetimbangan, yaitu kesetimbangan sekuler,
ketika umur paruh inti induk jauh lebih besar dari pada umur paruh inti anak,
dan kesetimbangan transien ketika inti induk meluruh dengan konstanta
keseluruhan yang mendekati konstanta peluruhan ini anak.
4. Konsep deret radioaktif alamiah memainkan peran ganda, dalam
lingkungan, ia menjadi alat ilmiah untuk memahami dinamika bumi, siklus
air tanah, serta potensi bahaya radiasi alami, sedangkan dalam teknologi
14
nuklir, deret ini menjadi dasar teori dan praktis bagi pembangkitan energi,
manajemen limbah, dan penentuan umur material. Pemahaman terhadap
keseimbangan dan peluruhan deret-deret ini menjembatani dua dunia, fisika
inti dan keberlanjutan lingkungan, menjadikannya salah satu konsep paling
penting dalam fisika modern.
B. Saran
Diharapkan bagi para peneliti dan praktisi untuk memperluas
pemahamannya tentang prinsip-prinsip dasar radioaktivitas, seperti peluruhan
radioaktif, hukum peluruhan berturutan, kesetimbangan radioaktif, dan deret
radioaktif alamiah, untuk menghadapi perkembangan teknologi nuklir dan
meningkatnya permintaan energi bersih. Selanjutnya, untuk ke depannya harus
difokuskan pada penerapan ide-ide ini dalam konteks kontemporer, seperti
pemantauan lingkungan, pengelolaan limbah radioaktif, dan optimalisasi
penggunaan isotop dalam industri dan bidang medis. Selain itu, edukasi publik
tentang manfaat dan risiko radioaktivitas juga harus ditingkatkan. Hal ini
diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya
menjaga keselamatan radioaktivitas dan keberlanjutan ekosistem yang berada
di sekitar sumber radiasi buatan dan alam.
15
DAFTAR PUSTAKA
16
World Nuclear Transport Institute (2021). Information Paper on Calculating
Activity for Natural Uranium. [Sinta/Scopus Supporting Reference]
17