Reinventing: Jurnal Ilmu Pemerintahan
Vol 6, No. 2, 2024, pp. 213-223
[Link]
©Ilmu Pemerintahan FISIP Untad
KEBIJAKAN PENGEMBANGAN DESA WISATA
NGLANGGERAN DALAM MEWUJUDKAN HAK-HAK
MASYARAKAT LOKAL
Arifka Brilliana 1; Mustabsyirotul Ummah Mustofa 2
1 Program Studi Ilmu Politik FISIP Universitas Padjadjaran , Bandung.
2 Program Studi Ilmu Politik FISIP Universitas Padjajaran, Bandung .
*Correspondence : arifka21001@[Link]
ARTICLE INFO: ABSTRAK
Kata kunci: Desa Wisata Nglanggeran,
Hak Masyarakat Lokal, Kebijakan, Desa Wisata Nglanggeran telah berkembang pesat menjadi salah satu
Kesejahteraan. destinasi wisata ternama di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa
Received. :
Yogyakarta. Perkembangan ini tidak lepas dari kebijakan pengembangan
Revised. : desa wisata yang telah dilaksanakan oleh pemerintah desa dan berbagai pihak
Accepted : terkait. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan pengembangan
Desa Wisata Nglanggeran dalam mewujudkan hak-hak masyarakat lokal
dengan menggunakan teori desentralisasi. Adapun teori desentralisasi yang
digunakan adalah teori desentralisasi asimetris yang menekankan pada
pembagian kewenangan yang tidak sama antara pemerintah pusat dan
daerah, dengan memberikan kewenangan yang lebih besar kepada daerah
dalam mengelola sumber daya dan pengembangan wilayahnya, termasuk
dalam hal pengembangan desa wisata. Hal ini sesuai dengan konteks Desa
Wisata Nglanggeran, di mana masyarakat lokal memiliki peran yang besar
dalam pengelolaan dan pengembangan desanya sebagai destinasi wisata.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan
deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kebijakan pengembangan Desa Wisata Nglanggeran telah memberikan
dampak positif terhadap pemenuhan hak-hak masyarakat lokal, diantaranya
hak atas kesejahteraan dan hak atas partisipasi. Keberhasilannya
menunjukkan bahwa dengan mengedepankan kepentingan masyarakat lokal,
pengembangan desa wisata dapat menjadi lokomotif kemajuan ekonomi
yang berkelanjutan.
ABSTRACT
Nglanggeran Tourism Village has developed rapidly to become one of the
well-known tourist destinations in Gunungkidul Regency, Special Region of
Yogyakarta. This development cannot be separated from the tourism village
development policy that has been implemented by the village government
and various related parties. This research aims to analyze the development
policy of the Nglanggeran Tourism Village in realizing the rights of local
communities using decentralization theory. The decentralization theory used
is the asymmetric decentralization theory which emphasizes the unequal
distribution of authority between the central and regional governments, by
giving greater authority to regions in managing resources and developing
their regions, including in terms of developing tourist villages. This is in
accordance with the context of the Nglanggeran Tourism Village, where
local communities have a large role in managing and developing their village
as a tourist destination. The research method used is a descriptive qualitative
method. Data collection techniques are carried out through observation,
e-mail: [Link]@[Link]
Arifka Brilliana, Mustabsyirotul Ummah Mustofa - 214
interviews and documentation. The research results show that the
Nglanggeran Tourism Village development policy has had a positive impact
on fulfilling the rights of local communities, including the right to welfare
and the right to participation. Its success shows that by prioritizing the
interests of local communities, the development of tourist villages can
become a locomotive for sustainable economic progress.
Pendahuluan
Pengembangan desa wisata yang berkelanjutan bergantung pada partisipasi dan
dukungan masyarakat lokal. Hal ini dikarenakan sumber daya manusia, tradisi, dan
budaya desa merupakan daya tarik utama bagi wisatawan (Wearing, 2001). Menurut
Nuryanti (1993), desa wisata memadukan atraksi berbasis kehidupan masyarakat
pedesaan dengan akomodasi bagi wisatawan. Atraksi ini meliputi tradisi, budaya,
adat istiadat, sistem sosial, kesenian, dan kuliner. Fasilitas pendukung desa wisata
harus sesuai dengan struktur kehidupan masyarakat pedesaan dan tradisi yang
berlaku. Berdasarkan definisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
dampak kebijakan pengembangan Desa Wisata Nglanggeran terhadap pemenuhan
hak-hak masyarakat lokal.
Hal yang menarik dari Desa Wisata Nglanggeran ini karena ada lembaga lokal
yang bertugas mengelolanya. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Nglanggeran
merupakan organisasi lokal. Berbagai penghargaan yang telah diraih Desa
Nglanggeran, seperti Desa Wisata Terbaik di Indonesia tahun 2017, Penghargaan
ASEAN Community Based Tourism (CBT), Sertifikat Desa Wisata Berkelanjutan dari
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2017, dan Desa Wisata Terbaik
tahun 2021 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. United Nations World
Tourism Organization (UNWTO), menunjukkan Pokdarwis Nglanggeran berhasil
memanfaatkan potensi desanya hingga meraih penghargaan internasional.
Penghargaan ini diberikan sebagai pengakuan atas prestasi Desa Nglanggeran dalam
membina praktik wisata berkelanjutan dan memaksimalkan potensi pariwisata. Desa-
desa lain yang ingin mengembangkan industri pariwisatanya kini bisa mencontohkan
Desa Nglanggeran.
Pemerintah Kabupaten, Pokdarwis, dan masyarakat luas semuanya harus
terlibat dalam pengelolaan Desa Wisata Nglanggeran. Ini adalah hubungan yang
berkembang antara dua orang yang mengambil bagian dalam aktivitas tertentu.
Menurut Gary Yukl (1991), hubungan yang harmonis adalah hubungan di mana pihak
pertama dan kedua berada pada posisi yang sama, seimbang dan menunjukkan saling
menghormati, kerjasama, dan kepercayaan (Yukl & Falbe, 1991). Ketika semua pihak
yang terlibat dalam proses bekerja sama dan mengambil bagian dalam mencapai
tujuan yang diinginkan, suatu hubungan dianggap berhasil. Sehingga dengan
keterlibatan semua pihak, penelitian ini akan meninjau sejauh mana peran kebijakan
dalam pengelolaan
Desa Nglanggeran yang melibatkan masyarakat dapat mewujudkan hak-hak
masyarakat setempat. Dalam menyikapi permasalahan ini, teori desentralisasi
memberikan sudut pandang yang relevan dan signifikan. Tujuan desentralisasi, yaitu
Copyright © 2024, Reinventing: Jurnal Ilmu Pemerintahan
2337-4468 (ISSN Print)
Arifka Brilliana, Mustabsyirotul Ummah Mustofa - 215
pengalihan kekuasaan dari pemerintah federal ke pemerintah lokal, regional, atau
negara bagian, adalah untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat, efisiensi, dan
daya tanggap dalam pemerintahan (Rondinelli, 1983). Teori ini didasarkan pada
gagasan bahwa pemerintah daerah lebih siap untuk mengelola sumber daya secara
efisien dan membuat kebijakan yang sesuai dengan lingkungan setempat karena
mereka memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang kebutuhan dan tujuan
masyarakatnya (Smoke, 2003).
Desa wisata merupakan kawasan pedesaan yang menyajikan daya tarik wisata
yang terintegrasi, meliputi keaslian budaya, tradisi, keseharian masyarakat, arsitektur
tradisional, dan tata ruang desa. Daya tarik ini dikemas dalam suatu kesatuan dengan
komponen pariwisata seperti atraksi, akomodasi, dan fasilitas pendukung.
(wikipedia). Pengembangan desa wisata dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk
produk wisata, di antaranya pariwisata budaya (cultural tourism), ekowisata (ecotourism),
pariwisata bahari (marine tourism), pariwisata petualangan (adventure tourism), pariwisata agro
(agro tourism), wisata gastronomi (culinary tourism), dan pariwisata spiritual (spiritual tourism).
Daya tarik wisata pedesaan ini sengaja dirancang dan dikembangkan oleh para
pemangku kepentingan untuk menarik wisatawan agar berkunjung. Komponen
terpenting dalam desa wisata, sebagaimana ditegaskan oleh Nuryanti, adalah
akomodasi dan atraksi. Akomodasi di desa wisata umumnya memanfaatkan sebagian
dari tempat tinggal penduduk setempat, atau bisa juga berupa unit-unit khusus yang
dibangun dengan mengikuti gaya arsitektur lokal. Sedangkan atraksi wisata utama
desa wisata adalah seluruh kehidupan keseharian penduduk desa itu sendiri, beserta
latar belakang lokasi desa yang memungkinkan wisatawan untuk terlibat aktif dalam
berbagai aktivitas.
Masyarakat lokal memegang peranan fundamental dalam pengembangan desa
wisata. Keberadaan komunitas lokal yang hidup berdampingan dengan objek wisata
menciptakan sebuah sistem ekologi yang saling terkait dan berinteraksi. Timothy
(1999) mengidentifikasi dua perspektif utama dalam memahami partisipasi masyarakat
dalam pariwisata. Pertama, partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan masyarakat
lokal dalam proses pengambilan keputusan terkait pengembangan pariwisata di
daerah mereka. Hal ini mencakup pertimbangan aspirasi, keinginan, dan tujuan
masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek pariwisata. Perspektif
kedua berfokus pada manfaat yang diperoleh masyarakat dari pembangunan
pariwisata. Secara umum, partisipasi masyarakat dimaknai sebagai hak fundamental
bagi warga negara untuk terlibat aktif dalam proses pengambilan keputusan di setiap
tahap pembangunan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga
pelestarian. Masyarakat bukan hanya objek atau penerima manfaat pasif, melainkan
subjek aktif dalam proses pembangunan. Dengan kata lain, partisipasi masyarakat
berarti memberikan suara dan pengaruh kepada masyarakat lokal dalam menentukan
masa depan daerah mereka yang terkait dengan pariwisata.
Pengembangan potensi desa wisata membutuhkan suatu kerangka kebijakan
yang menyeluruh dan terarah. Kebijakan ini mencakup aspek perencanaan,
Copyright © 2024, Reinventing: Jurnal Ilmu Pemerintahan
2337-4468 (ISSN Print)
Arifka Brilliana, Mustabsyirotul Ummah Mustofa - 216
pelaksanaan, dan pengawasan, dengan berlandaskan pada empat asas fundamental:
kemanfaatan dan keberlanjutan, kreativitas dan partisipasi, efisiensi dan efektivitas,
serta keadilan sosial dan wawasan lingkungan. Pengembangan desa wisata yang
terencana dan berkelanjutan diharapkan mampu memberikan manfaat bagi
masyarakat desa, baik secara ekonomi, sosial, maupun budaya. Hal ini sejalan dengan
tujuan pembangunan desa wisata yang ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat
dan melestarikan nilai-nilai budaya lokal. (Noor Rochman, 2016: 64)
Metode
Penelitian ini berfokus pada pengelolaan Desa Wisata Nglanggeran di Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemilihan metode kualitatif bertujuan untuk
mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai fenomena pengelolaan desa
wisata, yang tidak dapat diukur secara kuantitatif. Metode ini memungkinkan peneliti
untuk menggali informasi lebih dalam dan detail tentang berbagai aspek yang ada di
desa wisata tersebut.
Data penelitian dikumpulkan melalui kunjungan langsung ke Desa Wisata
Nglanggeran pada bulan April-Juni 2024. Kunjungan ini dilakukan untuk mengamati
secara langsung kondisi dan dinamika yang terjadi di lapangan. Teknik pengumpulan
data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam.
Wawancara dilakukan dengan para pengurus atau pengelola Desa Wisata
Nglanggeran, dengan tujuan untuk mendapatkan informasi yang kaya dan
komprehensif mengenai pengelolaan desa wisata tersebut.
Wawancara mendalam ini dirancang untuk menggali informasi secara rinci
mengenai berbagai aspek pengelolaan desa wisata. Aspek-aspek tersebut meliputi
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dari setiap kegiatan atau program yang
dilakukan di desa wisata. Dengan demikian, wawancara mendalam ini diharapkan
dapat memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana desa wisata ini dikelola
dari tahap awal hingga evaluasi.
Selain wawancara, metode observasi juga digunakan untuk melengkapi data
penelitian. Observasi dilakukan untuk mengamati langsung aktivitas dan kondisi di
Desa Wisata Nglanggeran, sehingga dapat memberikan data yang lebih akurat dan
mendalam. Metode observasi ini penting untuk memastikan bahwa data yang
diperoleh melalui wawancara dapat diverifikasi dan dilengkapi dengan data lapangan
yang nyata.
Hasil dan Pembahasan
1. Kebijakan Pengelolaan Desa Wisata Nglanggeran
Desa Wisata Nglanggeran menjadi contoh cemerlang pengembangan pariwisata
berbasis masyarakat (bottom-up) yang sukses. Keberhasilan ini tidak lepas dari peran
kelembagaan yang kuat dan sinergis antara berbagai pemangku kepentingan.
Lembaga kemasyarakatan dan kelompok masyarakat di Desa Nglanggeran
memainkan peran aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan pengembangan
Copyright © 2024, Reinventing: Jurnal Ilmu Pemerintahan
2337-4468 (ISSN Print)
Arifka Brilliana, Mustabsyirotul Ummah Mustofa - 217
pariwisata. Kolaborasi yang erat dengan pemerintah desa ini menjadi kunci utama
dalam mewujudkan berbagai program dan proyek. Sinergitas ini terbukti dalam
keberhasilan pengembangan infrastruktur seperti pembangunan embung, yang tidak
hanya mendukung ekowisata tetapi juga menjadi atraksi wisata baru. Kekuatan
kelembagaan di Desa Nglanggeran ini semakin diperkuat dengan keberadaan
kelompok masyarakat yang inovatif dan bertanggung jawab. Hal ini menumbuhkan
rasa kepercayaan dari pihak pemerintah, sehingga terjalin kerja sama yang efektif dan
saling menguntungkan. Kepercayaan ini membuka peluang kerjasama dengan pihak
swasta melalui program CSR untuk pengembangan wisata desa.
Desa Wisata Nglanggeran telah menunjukkan kemajuan pesat dalam
mengimplementasikan konsep ekowisata dalam pengembangan pariwisatanya.
Dimulai pada tahun 2008, desa ini menjalani proses yang terencana dan berkelanjutan
untuk mentransformasi diri menjadi destinasi wisata yang ramah lingkungan. Konsep
ekowisata ini menjadi landasan bagi Desa Wisata Nglanggeran untuk menawarkan
pengalaman wisata yang tidak hanya menarik bagi pengunjung, tetapi juga
memberikan manfaat bagi kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat lokal.
Penerapan ekowisata di Desa Wisata Nglanggeran membawa dampak positif yang
signifikan, salah satunya adalah tercapainya manfaat ekonomi secara inklusif. Hal ini
berarti bahwa seluruh lapisan masyarakat desa, tanpa terkecuali, mendapatkan
keuntungan dari kegiatan pariwisata. Keuntungan ini berupa peluang kerja,
peningkatan pendapatan, dan akses yang lebih baik terhadap infrastruktur dan
layanan publik.
Pengembangan desa wisata berkonsep ekowisata di Desa Nglanggeran,
mengacu pada empat komponen utama yaitu pengembangan objek wisata,
kelembagaan, pembangunan industri wisata, dan pemasaran. Keunikan desa wisata
ini terletak pada integrasi aspek sosial budaya masyarakat pedesaan, seni budaya
lokal, dan karakteristik masyarakatnya dengan daya tarik alam dan ekonomi desa. Hal
ini menjadikannya daya tarik wisata yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Objek
wisata utama di Desa Nglanggeran adalah Gunung Api Purba Nglanggeran, yang
menjadi daya tarik utama bagi wisatawan lokal dan mancanegara. Seiring
perkembangannya, berbagai atraksi wisata baru berbasis ekowisata telah
dikembangkan, seperti embung, wisata air Kedung Kandang, wisata perkebunan,
wisata pengolahan hasil perkebunan, dan Kampung Hijau.
Desa Nglanggeran juga telah resmi diakui sebagai Desa Keuangan oleh
Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK).
Desa Nglanggeran menjadi desa pertama yang mendapatkan predikat tersebut berkat
tekad tersebut, yang menunjukkan kinerja pembangunan masyarakat yang luar biasa
dan prospek perekonomian yang tinggi. Air Terjun Musiman Kedung Kandang,
Nglanggeran Embung, dan aspek terkait pariwisata lainnya menjadi pertimbangan
dalam memilih Desa Nglanggeran. Pawon Purba, Griya Batik, Griya Spa, homestay,
dan kemungkinan kebun kakao yang diolah di Griya Cokelat Nglanggeran termasuk
di antara UMKM yang ada di desa ini. Selain itu, Desa Nglanggeran mempunyai
Copyright © 2024, Reinventing: Jurnal Ilmu Pemerintahan
2337-4468 (ISSN Print)
Arifka Brilliana, Mustabsyirotul Ummah Mustofa - 218
potensi dalam industri perkebunan, dimana durian dan kakao merupakan produk
unggulannya.
Gambar 1 Pawon Purba Gambar 2 Griya Batik Gambar 3 Griya Coklat
Sumber: visitigjogja
Gambar 4 Griya Spa Gambar 5 Homestay
Sumber : Visitingjogja Sumber : [Link]
Sejak tahun 2015, pemerintah telah mengalokasikan dana desa sebesar Rp 813,47
juta untuk Desa Nglanggeran hingga tahun 2024. (Antara News, 2 Mei 2024). Dana
desa diharapkan dapat membantu kota dalam mewujudkan potensi ekonominya dan
mengatasi keterbatasan keuangan. Penggolongan Desa Nglanggeran sebagai Desa
Keuangan dimaksudkan untuk menjadi percontohan bagi desa-desa lain yang ingin
meningkatkan produktivitas dan memperluas perekonomian lokalnya. Desa
Nglanggeran menunjukkan bagaimana desa dapat memacu pembangunan dan
meningkatkan taraf hidup masyarakat jika dikelola dengan baik. Tujuannya, dengan
terciptanya Desa Keuangan, maka Desa Nglanggeran dapat menjadi contoh bagi desa-
desa lainnya, meskipun manfaatnya tidak akan langsung terasa. Hal ini diperkirakan
akan mengarah pada terciptanya lebih banyak komunitas dengan pengelolaan
keuangan yang kompeten dan pembangunan ekonomi yang maksimal.
2. Peran Kebijakan Pengembangan Desa Wisata Nglanggeran dalam Mewujudkan
Hak-hak Masyarakat Lokal
Bagi masyarakat setempat, pengaruh dari kebijakan Desa Nglanggeran
memberikan dampak sosial yang positif seiring berkembangnya potensi sebagai
Copyright © 2024, Reinventing: Jurnal Ilmu Pemerintahan
2337-4468 (ISSN Print)
Arifka Brilliana, Mustabsyirotul Ummah Mustofa - 219
destinasi pariwisata. Pendapatan masyarakat dari industri pariwisata kini menambah
pendapatan masyarakat yang sebelumnya hanya terbatas pada sektor peternakan dan
pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di Desa Nglanggeran
dapat diturunkan dengan banyaknya prospek lapangan kerja baru. Perkembangan
sektor pertanian terlihat dari kemampuan masyarakat Desa Nglanggeran dalam
membudidayakan buah kelengkeng dan durian karena adanya perairan buatan
berupa waduk Nglanggeran. Selain itu, industri pariwisata sedang berkembang,
dengan semakin banyak orang mulai mendirikan homestay untuk wisatawan dan
toko oleh-oleh.
Keberhasilan desa ini berawal dari inisiatif warga desa yang melihat peluang
dari meningkatnya kunjungan wisatawan ke Gunung Api Purba setiap akhir pekan.
Pada tahun 2007, pemuda desa melalui karang taruna mulai mengelola desa wisata
secara swadaya, meskipun masih terbatas pada penarikan parkir pengunjung.
Kesadaran akan pentingnya pengelolaan yang lebih profesional mendorong
pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di tahun 2008. Terobosan
signifikan terjadi di tahun 2011 dengan diperolehnya bantuan dana melalui program
PNPM pariwisata. Dana ini digunakan untuk perbaikan sarana dan prasarana desa
wisata, yang berakibat pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Upaya
promosi yang gencar, termasuk mengikuti kompetisi desa wisata, turut
melambungkan nama desa wisata Nglanggeran. Inovasi dan pengembangan
pariwisata di desa ini berpusat pada masyarakat, terutama kelompok-kelompok
masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa inisiatif dan partisipasi masyarakat menjadi
kunci utama dalam mencapai kesuksesan desa wisata Nglanggeran.
Pada tahap awal pengembangan, Desa Wisata Nglanggeran bertindak sebagai
fasilitator dan motivator bagi masyarakat non-inisiator untuk berpartisipasi dalam
gotong royong membangun infrastruktur pariwisata. Peran desa kemudian
berkembang dengan membantu desa mendapatkan alokasi dana dari PNPM dan
Dana Desa untuk pengembangan inovasi di desa. Sejak tahun 2012, ketika desa wisata
telah mencapai tahap established dan jumlah wisatawan meningkat pesat, peran desa
menjadi lebih beragam, meliputi pembangunan fasilitas baru dan pemeliharaan aset
wisata. Pemerintah Desa Nglanggeran menyadari pentingnya infrastruktur
pariwisata yang memadai bagi kenyamanan dan daya tarik pengunjung. Oleh karena
itu, fokus utama desa adalah pada perbaikan dan pembangunan fasilitas yang ramah
pengunjung. Selain itu, desa juga menunjukkan komitmen yang patut diapresiasi
dalam hal pemeliharaan aset, yang seringkali diabaikan namun menjadi kunci
keberlangsungan pariwisata. Selain itu juga melalui pendanaan karena dedikasi desa
terhadap pengembangan pariwisata dibuktikan dengan alokasi dana desa untuk
mendukung pengembangan pariwisata. Dana ini tidak hanya digunakan untuk
infrastruktur, tetapi juga untuk aspek teknis pengelolaan pariwisata.
Desa memiliki peran strategis dalam pengembangan desa wisata, tidak hanya
sebagai penyedia destinasi wisata, tetapi juga sebagai fasilitator berbagai pelatihan
dan pengembangan kapasitas bagi masyarakat lokal. Pelatihan tersebut mencakup
Copyright © 2024, Reinventing: Jurnal Ilmu Pemerintahan
2337-4468 (ISSN Print)
Arifka Brilliana, Mustabsyirotul Ummah Mustofa - 220
berbagai aspek pengelolaan pariwisata, mulai dari strategi pemasaran, pemeliharaan
fasilitas wisata, hingga pelatihan menjadi pemandu wisata dan membangun interaksi
yang efektif dengan pengunjung. Dalam melaksanakan tugas fasilitasi ini, desa
menjalin koordinasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak eksternal, seperti
pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi (misalnya UGM), dan lembaga lainnya
seperti Bank Indonesia. Dukungan administratif dan regulasi yang memadai menjadi
landasan penting bagi pengelolaan desa wisata yang berkelanjutan.
Desa berperan aktif dalam penunjukan pengelola desa wisata, terutama pada
tahap awal pembentukannya. Selain itu, desa juga terlibat dalam penyusunan regulasi
terkait desa wisata melalui peraturan desa. Perencanaan pembangunan desa wisata
dilakukan secara demokratis dan partisipatif, dengan melibatkan berbagai pihak
terkait, termasuk sektor swasta yang menjadi sektor unggulan desa. Hal ini bertujuan
untuk memastikan perencanaan yang tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan dan
aspirasi masyarakat. Pemerintah Kabupaten turut berperan dalam pengembangan
desa wisata, meskipun tidak secara langsung dalam proses inovasinya. Peran
pemerintah kabupaten meliputi aspek sarana prasarana, pendanaan, dan pelatihan.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemenuhan Hak-hak Masyarakat Lokal
Desa Nglanggeran menjadi contoh nyata bagaimana pariwisata, pertanian, dan
pemberdayaan masyarakat dapat bersinergi untuk memajukan dan mensejahterakan
suatu desa. Keberhasilan desa ini tidak hanya memberikan dampak ekonomi yang
positif bagi masyarakat, tetapi juga menunjukkan bagaimana potensi desa dapat
dioptimalkan dengan tepat. Pemenuhan hak-hak masyarakat lokal dari
pengembangan Desa Wisata Nglanggeran dilandaskan pada beberapa faktor, di
antaranya:
1. Potensi Lokal yang Unik
Pengembangan Desa Wisata Nglanggeran terbukti memberikan dampak
ekonomi yang positif bagi masyarakat desa. Hal ini terlihat dari peningkatan
pendapatan yang signifikan dalam berbagai sektor mata pencaharian, seperti
pedagang, pekerja jasa pariwisata, dan sektor lainnya. Lebih lanjut, pengembangan
desa wisata ini membuka peluang baru bagi masyarakat untuk mendapatkan
penghasilan tambahan di luar sektor pertanian yang selama ini menjadi mata
pencaharian utama.
Secara rinci, manfaat ekonomi pengembangan Desa Wisata Nglanggeran dapat
dikategorikan menjadi dua, yaitu dampak langsung dan tidak langsung. Dampak
langsung dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat, seperti peningkatan omzet
penjualan bagi para pedagang dan penghasilan tambahan bagi pekerja di sektor
pariwisata. Dampak tidak langsung terlihat dari meningkatnya nilai jual tanah di desa,
yang dapat menjadi peluang investasi bagi masyarakat.
Desa Nglanggeran terkenal sebagai penghasil kakao berkualitas tinggi. Dengan
luas perkebunan kakao mencapai 10,2 hektare dan dikelola oleh 96 warga, desa ini
Copyright © 2024, Reinventing: Jurnal Ilmu Pemerintahan
2337-4468 (ISSN Print)
Arifka Brilliana, Mustabsyirotul Ummah Mustofa - 221
mampu memproduksi 1,5 - 2 kuintal biji kakao per bulan. Hal ini menjadikan kakao
sebagai salah satu sumber pendapatan utama bagi masyarakat Desa Nglanggeran.
Pengembangan Desa Nglanggeran sebagai tujuan wisata sama pentingnya dengan
keberhasilan desa tersebut seperti halnya produksi pertanian kakao.
2. Inovasi Masyarakat yang Didukung Pemerintah dan Lembaga Swasta
Penggunaan konsep homestay di desa ini memungkinkan pengunjung tinggal
bersama penduduk setempat dan merasakan kehidupan desa yang sesungguhnya.
Menurut Bonai Subiakto, Direktur Keuangan dan Operasional PT Sarana Multigriya
Finansial (SMF) Persero, sejak tahun 2019, SMF telah mengucurkan pembiayaan
sebesar Rp1,57 miliar untuk pembangunan 24 unit homestay di Desa Nglanggeran.
Selain pendanaan untuk homestay, SMF juga mendukung infrastruktur desa, seperti
pembuatan sumur untuk 87 keluarga. Pembiayaan homestay SMF telah terbukti
meningkatkan taraf hidup dan perekonomian warga Desa Nglanggeran. Hal ini
ditunjukkan dengan peningkatan pesat jumlah kunjungan pengunjung domestik dan
internasional, yaitu sebanyak 379.024 pada tahun 2019 hingga 2023.
3. Penghargaan dan Pengakuan
Berbagai penghargaan yang diterima Desa Nglanggeran dalam skala nasional
dan internasional semakin memperkuat keberhasilannya. Pada tahun 2019, salah satu
homestay Nglanggeran binaan SMF mampu membawa pulang Penghargaan
Homestay Terbaik Provinsi DIY Yogyakarta. Pada puncaknya, Desa Nglanggeran
mampu mengukuhkan diri sebagai destinasi wisata unggulan ketika diakui sebagai
pemenang Desa Wisata Terbaik 2021 (UNWTO) Organisasi Pariwisata Dunia.
Dedikasi BUMN ini dalam membantu inisiatif pemerintah dalam meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dan menumbuhkan industri pariwisata tanah air
ditunjukkan dengan upaya SMF dalam mewujudkan Desa Wisata Nglanggeran. Luky
Alfirman, Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan, memuji
Desa Nglanggeran atas keberhasilannya memadukan pariwisata dan pertanian kakao.
Dirinya mengklaim komunitas ini bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain di
Indonesia yang ingin mewujudkan potensinya. Desa Nglanggeran menunjukkan
bagaimana pariwisata dan pertanian dapat menggerakkan perekonomian desa yang
berkelanjutan dalam kondisi yang tepat. Diharapkan masyarakat lain dapat
termotivasi untuk menggunakan kemampuan kreatif dan inovatifnya untuk
berkembang berkat keberhasilan desa ini. ([Link], 3 Mei 2024).
4. Partisipasi dan Pemberdayaan Masyarakat
Pengaruh kontribusi ibu-ibu terhadap kelompok usaha Griya Coklat juga patut
diapresiasi. Griya Cokelat Nglanggeran (GCN) Desa Nglanggeran merupakan salah
satu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang khusus memproduksi olahan
coklat bubuk. Proses pembuatan coklat melibatkan pengolahan biji kakao menjadi
berbagai macam produk, antara lain coklat batangan, coklat bubuk sachet, pisang
Copyright © 2024, Reinventing: Jurnal Ilmu Pemerintahan
2337-4468 (ISSN Print)
Arifka Brilliana, Mustabsyirotul Ummah Mustofa - 222
berlapis coklat, dodol coklat, dan masih banyak lagi. Diresmikan oleh Gubernur
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada tahun 2016, perusahaan ini telah memiliki
PIRT, izin BPOM, dan Sertifikat Halal dari MUI untuk produknya. Di Kawasan
Ekowisata Gunung Api Nglanggeran, potensi lokal berupa kakao dioptimalkan oleh
lima kelompok tani dan satu gabungan kelompok tani. Pengembangan Gerakan
Cokelat Nusantara (GCN) difokuskan pada penyediaan produk pangan berbasis
cokelat sebagai oleh-oleh unggulan. Hal ini selaras dengan Saputro & Dawud (2021)
yang menyatakan bahwa sektor pariwisata memegang peranan penting dalam
meningkatkan pendapatan masyarakat dan negara.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata memberikan
dampak positif terhadap perkembangan ekonomi masyarakat lokal di Desa
Nglanggeran. Dampak positif tersebut meliputi peningkatan penghasilan masyarakat
Desa Nglanggeran dan peningkatan peluang kerja serta usaha bagi masyarakat lokal
di sektor pariwisata. Selain itu, adanya peraturan lokal yang membatasi investasi
asing turut berkontribusi pada peningkatan kepemilikan dan kontrol masyarakat
lokal atas sektor pariwisata. Hal ini juga meningkatkan rasa bangga masyarakat untuk
bekerja dan berusaha di desanya sendiri.
Tidak hanya itu, pendapatan pemerintah daerah juga mengalami peningkatan
melalui retribusi wisata. Penelitian ini tidak menemukan indikasi dampak negatif
terhadap ekonomi lokal, seperti kenaikan harga barang. Kesimpulannya,
pengembangan desa wisata Nglanggeran cenderung membawa dampak positif bagi
perkembangan ekonomi lokal.
Oleh karena itu, pengembangan desa wisata yang mengutamakan kepentingan
masyarakat lokal sebaiknya dilanjutkan secara berkelanjutan. Pendekatan ini
diharapkan dapat terus memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi
masyarakat Desa Nglanggeran dan memastikan bahwa keuntungan dari pariwisata
dapat dinikmati oleh komunitas lokal secara adil dan berkelanjutan.
Referensi
Agrawal, A. (1999). Accountability in decentralization: A framework with South Asian
and West African cases. The journal of developing areas, 33(4), 473-502.
Aristiawan, D., & Mustika, R. A. (2021). Dampak Pengembangan Desa Wisata
Nglanggeran Terhadap Ekonomi Masyarakat Lokal. Jurnal Pariwisata, 10(2),
315-324.
Cheema, G. S., & Rondinelli, D. A. (2007). From government decentralization to
decentralized governance. Decentralizing governance: Emerging concepts and
practices, 326, 326
Crook, RC, & Manor, J. (1998). Demokrasi dan desentralisasi di Asia Selatan dan Afrika
Barat: Partisipasi, akuntabilitas, dan kinerja . Cambridge University Press.
Damyanti, A., & Ermanto, D. (2019). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Copyright © 2024, Reinventing: Jurnal Ilmu Pemerintahan
2337-4468 (ISSN Print)
Arifka Brilliana, Mustabsyirotul Ummah Mustofa - 223
Keputusan Kunjungan Wisatawan di Desa Wisata Nglanggeran Kabupaten
Gunungkidul. Jurnal Ilmu Pariwisata, 23(2), 221-234.
Filantropi, B., & Bella, P. A. (2022). Studi Keberhasilan Pengelolaan Desa Wisata
Berbasis Community Based Tourism (Studi Kasus: Desa Nglanggeran,
Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta). Jurnal Sains,
Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa), 4(1), 571-584.
Handayani, T. D., & Latifah, E. (2020). Strategi Pengembangan Desa Wisata
Nglanggeran Berbasis Community Based Tourism (CBT). Jurnal Sosiologi
UNY, 8(1), 1-12.
Hermawan, H. (2016). Dampak pengembangan Desa Wisata Nglanggeran terhadap
ekonomi masyarakat lokal. Jurnal pariwisata, 3(2), 105-117.
Jamalina, I. A., & Wardani, D. T. K. (2017). Strategi Pengembangan ekowisata melalui
konsep Community Based Tourism (Cbt) dan manfaat sosial dan ekonomi bagi
masyarakat di desa wisata Nglanggeran, Patuk, Gunung Kidul. Jurnal Ekonomi
& Studi Pembangunan, 18(1), 71-85.
Perdana, A., & Mudjaningrum, P. (2017). Desa Wisata Nglanggeran: Menuju Desa
Wisata Berkelanjutan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Permana, S., & Sutrisno, H. D. (2021). Implementasi Pentahelik dalam Pengembangan
Desa Wisata di Kabupaten Gunungkidul. Paradigma, 42(2), 307-320.
Pawl, S. (2003). Decentralization in Africa: goals, dimensions, myths and challenges.
In Public Administration and Development: Some Lessons of Experience and
Policy Implications at the Woreda Level: Paper Presented to the Workshop
Decentralization on and Democracy.
Rahmawati, E., & Mutari, A. (2018). Pengembangan Desa Wisata Nglanggeran: Sebuah
Kajian Partisipasi Masyarakat dan Dampak Ekonomi Lokal. Jurnal Ilmu Sosial
dan Politik, 23(1), 1-18.
Ribot, J. (2002). Democratic decentralization of natural resources: Institutionalizing
popular participation. Washington DC: World Resources Institute.
Riyanto, E., & Amin, S. (2018). Peran Organisasi Tata Kelola Dalam Pengembangan
Desa Wisata Nglanggeran, Yogyakarta. Neliti, 17(2), 239-254.
Rondinelli, D. A., & Nellis, J. R. (1986). Assessing decentralization policies in
developing countries: The case for cautious optimism. Shah, A., & Thompson,
T. (2004). Menerapkan tata kelola lokal yang terdesentralisasi: jalan dengan
lubang, jalan memutar, dan penutupan jalan (Vol. 3353). Publikasi Bank Dunia.
Sutrisno, S., & Rahmawati, E. (2019). Desa Wisata Nglanggeran: Model Pengembangan
Desa Wisata Berbasis Masyarakat. Yogyakarta: UNY Press
Copyright © 2024, Reinventing: Jurnal Ilmu Pemerintahan
2337-4468 (ISSN Print)