LAPORAN PENDAHULUAN
RESIKO BUNUH DIRI
Disusun untuk memenuhi tugas praktik klinik keperawatan jiwa
Dosen pembimbing : Alif Nurul Rasyidah, [Link] Ners, [Link]
Disusun oleh :
Lyra Pratama Putri
P27904122018
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANTEN
PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
2025
LAPORAN PENDAHULUAN
RESIKO BUNUH DIRI
I. Masalah Utama
Resiko bunuh diri adalah resiko untuk mencederai diri sendiri yang dapat
mengancam kehidupan. Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena
merupakan perilaku untuk mengakhiri kehidupannya. Perilaku bunuh diri
disebabkan karena stress yang tinggi dan berkepanjangan dimana individu gagal
dalam melakukan mekanisme koping yang digunakan dalam mengatasi masalah.
Beberapa alasan individu mengakhiri kehidupan adalah kegagalan untuk
beradaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stress, perasaan terisolasi, dapat
terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal/gagal melakukan hubungan
yang berarti, perasaan marah/bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman
pada diri sendiri, cara untuk mengakhiri keputusasaan (Stuart, 2016).
Bunuh diri adalah segala perbuatan dengan tujuan untuk membinasakan
dirinya sendiri dan yang dengan sengaja dilakukan oleh seseorang yang tahu
akan akibatnya yang mungkin pada waktu yang singkat. Menciderai diri adalah
tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan.
Bunuh diri mungkin merupakan keputusanterakhir dari individu untuk
memecahkan masalah yang dihadapi (Captain, 2018).
Sehingga dari beberapa pendapat diatas, bunuh diri merupakan tindakan
yang sengaja dilakukan seseorang individu untuk mengakhiri hidupnya dengan
berbagai cara. Dan seseorang dengan gangguan psikologi tertentu atau sedang
depresi dapat pula beresiko melakukan bunuh diri. Banyak faktor yang
menyebabkan seseorang bunuh diri, dapat dari faktor eksternal seperti
lingkungan dan faktor internal seperti gangguan psikologi dalam dirinya.
II. Proses Terjadinya Masalah
a. Faktor predisposisi
1. Diagnosis Psikiatri Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri
hidupnya dengan cara bunuh diri mempunyai riwayat gangguan jiwa.
Tiga gangguan jiwa yang dapat membuat individu berisiko untuk
melakukan tindakan bunuh diri adalah gangguan efektif, penyalagunaan
zat, dan skizofrenia.
2. Sifat kepribadian Tiga tipe keperibadian yang erat hubungannya dengan
besarnya resiko bunuh diri adalah antipati, impulsif, dan depresi
3. Lingkungan psikososial Pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan
sosial, kejadiankejadian negatif dalam hidup, penyakit kronis,
perpisahan dan bahkan perceraian. Kekuatan dukungan sosial sangat
penting dalam menciptakan intervensi yang terapiutik, dengan terlebih
dahulu mengetahui penyebab maslah, respon seorang dalam
menghadapi masalah tersebut, dan lain-lain.
4. Riwayat keluarga Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri
merupakan faktor penting yang dapat menyebabkan seseorang
melakukan tindakan bunuh diri.
5. Faktor Biokimia Data menunjukkan bahwa pada klien dengan resiko
bunuh diri terjadi peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam otak
seperti serotonim, adrenalin, dan dopamine. Peningkatan zat tersebut
dapat dilihat melalui rekaman gelombang otak Electro Encephalo
Graph (EEG).
b. Faktor presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stres yang berlebihan yang
dialami oleh individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang
memalukan. Faktur lain yang dapat menjadi pencetus adalah melihat atau
membaca melalui medaia mengenai orang yang melakukan bunuh diri
ataupun percobaan bunu diri. Bagi individu yang emosinya labil, hal
tersebut menjadi sangat rentan.
c. Jenis-jenis
Sementara menurut Yosep (2010) mengklasifikasikan terdapat 3 jenis bunuh
diri, meliputi :
1. Bunuh diri anomik
Bunuh diri anomik adalah suatu perilaku bunuh diri yang didasari oleh
factor lingkungan yang penuh tekanan (Stressful) sehingga mendorong
seseorang untuk bunuh diri
2. Bunuh diri altruistik
Bunuh diri altruistic adalah tindaka bunuh diri yang berkaitan dengan
kehormatan seseorang ketika gagal dalam melaksakan tugasnya
3. Bunuh diri egoistic
Bunuh diri egoistic adalah tindkaan bunuh diri yang diakibatkan factor
dalam diri seseorang seperti putus cinta atau putus harapan
d. Rentang respon
Menurut Yosep (2009)
Respon Adaptif Respon
Maladaptif
Peningkatan diri Berisiko destruktif Destruktif diri tidak langsung Pencederaan diri Bunuh
diri
Respon Umum Fungsi Adaptif (RUFA) (Mahardika, 2013) yaitu :
Tabel 1. RUFA Resiko Bunuh Diri
e. Mekanisme koping
Perilaku bunuh diri menunjukkan kegagalan mekanisme koping. Ancaman
bunuh diri mungkin menunjukkan upaya terakhir untuk mendapatkan
pertolongan agar dapat mengatasi masalah. Bunuh diri yang terjadi
merupakan kegagalan koping dan mekanisme adaptif pada diri seseorang.
1. Peningkatan diri. Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau
pertahanan diri secara wajar terhadap situasional yang membutuhkan
pertahanan diri.
2. Berisiko destruktif. Seseorang memiliki kecenderungan atau berisiko
mengalami perilaku destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap
situasi yang seharusnya dapat mempertahankan diri, seperti seseorang
patah semangat bekerja ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap
pimpinan padahal sudah melakukan pekerjaan secara optimal.
3. Destruktif diri tidak langsung. Seseorang telah mengambil sikap yang
kurang tepat (maladaptif) terhadap situasi yang membutuhkan dirinya
untuk mempertahankan diri.
4. Pencederaan diri. Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau
pencederaan diri akibat hilangnya harapan terhadap situasi yang ada.
5. Bunuh diri. Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai
dengan nyawanya hilang.
III. Pohon Masalah
a. Pohon masalah
Resiko perilaku kekerasan
↑
Resiko bunuh diri
↑
Isolasi sosial
↑
Harga diri rendah
b. Masalah yang perlu dikaji
Data Masalah
Data objektif : Resiko bunuh diri
klien mengungkapkan tentang:
- Merasa hidupnya tak berguna
- Ingin mati
- Pernah mencoba bunuh diri
- Mengancam bunuh diri
- Merasa bersalah, sedih, marah,
putus asa, tidak berdaya
Data subjektif :
- Ekspresi murung
- Tak bergairah
- Banyak diam
- Ada bekas percobaan bunuh
diri
IV. Diagnosa Keperawatan
Risiko bunuh diri
V. Rencana Tindakan
DX Perencanaan
Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
Risiko Bunuh TUM : Klien tidak
Diri melakukan
1. setelah ….x pertemuan 1. Bina hubungan saling
percobaan bunuh
klien menunjukkan tanda- percaya dengan
diri
tanda percaya kepada menggunakan prinsip
TUK :
perawat : komunikasi terapeutik:
1. Klien dapat
• ekspresi wajah a. Sapa klien dengan
membina
bersahabat ramah baik verbal
hubungan saling
• menunjukkan rasa maupun nonverbal
percaya
senang b. Perkenalkan nama
• ada kontak mata lengkap, nama
panggilan, dan tujuan
• mau berjabat tangan perawat berkenalan
• mau menyebutkan nama c. Tanyakan nama lengkap
• mau menjawab salam dan nama panggilan
• mau duduk berdampingan yang disukai klien
dengan perawat d. Buat kontrak yang jelas
• bersedia
e. Tunjukkan sikap jujur
mengungkapkan masalah
dan menepati janji setiap
yang dihadapi
kali berinteraksi
f. Tunjukkan sikap empati
dan menerima apa
adanya
g. Beri perhatian kepada
klien dan masalah yang
dihadapi klien
h. Dengarkan dengan
penuh perhatian ekspresi
perasaan klien
2. Klien dapat 2. Setelah ….x pertemuan, 2. Bantu klien mengungkapkan
mengenal perasaan yang menyebabkan
klien menceritakan
penyebab risiko klien mempunyai ide serta
perilaku bunuh penyebab perilaku bunuh melakukan percobaan bunuh
diri diri:
diri yang dilakukannya: a. Motivasi klien untuk
• Menceritakan penyebab menceritakan penyebab
klien melakukan klien mempunyai ide
percobaan bunuh diri bunuh diri
b. Dengarkan tanpa
menyela atau memberi
penilaian setiap
ungkapan perasaan klien
3. Klien dapat 3. Setelah ….x pertemuan, 3. Bantu klien mengungkapkan
mengidentifikasi klien menceritakan tanda- tanda- tanda perilaku bunuh
tanda-tanda tanda saat klien diri yang dialaminya:
perilaku bunuh berkeinginan untuk bunuh a. Motivasi klien untuk
diri diri: menceritakan kondisi
emosionalnya
b. Motivasi klien untuk
menceritakan kondisi
sosialnya
• Tanda sosial : klien
mengancam akan
melakukan bunuh diri
dank lien melakukan hal
yang tidak biasa
dilakukan klien
• Tanda fisik : klien
mencederai diri sendiri
seprti menyayat nadi,
minum obat sampai
overdosis, dsb. Tatapan
mata klien tampak
menerawang seperti
memikirkan sesuatu
• Tanda emosional : klien
menjadi penyendiri,
pemurung dan pemarah
4. Klien dapat 4. Setelah ….x.... [Link] dengan klien
mengidentifikasi pertemuan, percobaan bunuh diri yang
perilaku klien menjelaskan: dilakukannya selama ini:
percobaan bunuh a. Motivasi klien
• Perasaan saat melakukan
diri yang pernah menceritakan tindakan
dilakukan bunuh diri
apa saja yang pernah
• Efektifitas percobaan
dilakukan untuk
yang dilakukan
mengakhiri hidup
• Tindakan yang sudah
b. Motivasi klien
pernah dilakukan untuk
menceritakan perasaan
mengakhiri hidup
setelah tindakan tersebut
c. Diskusikan apakah
dengan tindakan tersebut
masalah yang dialami
klien teratasi
5. Klien dapat 5. Setelah ….x pertemuan 5. diskusikan dengan klien
mengidentifikasi klien menjeleaskan akibat akibat negatif cara yang
akibat tindakan
yang sudah tindakannya bagi: dilakukan pada:
dilakukan untuk • Diri sendiri a. diri sendiri
bunuh diri
• Orang lain b. orang lain
• lingkungan c. lingkungan
6. klien 6. setelah ….x pertemuan, 6. diskusikan dengan klien:
dapat klien: a. apakah klien mau
mengidentifikasi
cara • menjelaskan cara yang mempelajari cara baru
konstruktif sehat untuk untuk menghilangkan
untuk
menghilangkan keinginannya tanpa
menghilangkan
keinginannya keinginan bunuh diri melakukan tindakan
untuk bunuh diri destruktif
terhadap dirinya
b. jelaskan berbagai
alternative yang dapat
dilakukan jika keinginan
bunuh diri muncul
c. jelaskan cara-cara sehat
untuk menghilangkan
keinginan untuk bunuh
diri: menyalurkan hobi
klien , berdoa, minta
bantuan orang lain jika
muncul keinginan bunuh
diri, dan TAK.
7. Klien dapat 7. Setelah ….x pertemuan, 7.1. Diskusikan cara yang akan
mendemonstrasik klien memperagakan cara dipilih dan anjurkan klien
an cara
mengontrol atau mengontrol perilaku memilih cara yang
mengendalikan destruktif terhadap diri mungkin sesuai dengan
keinginan untuk
bunuh diri sendiri: kondisi klien
• Fisik: melakukan hobi 7.2. Bantu klien jika klien
klie, ikut TAK kesulitan untuk
• Verbal: mengungkapkan melakukan apa yang
perasaan yang sudah dipilihya
membuatnya ingin
bunuh diri kepada orang
lain tanpa menyakiti diri
sendiri
• Spiritual: berdoa sesuai
agama
8. Klien 8. 1. Setelah ….x pertemuan, 8.1. Jelaskan kepada klien:
menggunakan klien menjelaskan: • Manfaat minum obat
obat sesuai
program yang • Manfaat minum obat • Kerugian tidak minum
telah ditetapkan
• Kerugian tidak minum obat
obat • Nama obat
• Nama obat • Bentuk dan warna obat
• Bentuk dan warna obat • Dosis yang diberikan
• Dosis yang diberikan • Waktu pemakaian
• Waktu pemakaian • Cara pemakaian
• Cara pemakaian • Efek yang dirasakan
• Efek yang dirasakan
8.2. Setelah ….x pertemuan, 8.2. Anjurkan klien untuk :
klien menggunakan obat a. Meminta dan
sesuai program menggunakan obat tepat
waktu
b. Melapor kepada
perawat/dokter jika
mengalami efek yang
tidak biasa
c. Beri pujian terhadap
kedisiplinan klien
menggunakan obat
DAFTAR PUSTAKA
Damaiyanti dan Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung : Refika
Aditama.
Dalami, dkk. 2014. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Jiwa.
Cetakan Kedua. Jakarta Timur: CV. Trans Info Media
Keliat, Budi Ana. 2014. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta:
EGC
Prabowo, E. 2014. Konsep dan Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta :
Nuha Medika
Trimeilia. 2011. Asuhan Keperawatan Klien Halusinasi. Jakarta Timur: CV.
Trans Info Media