LAPORAN PENDAHULUAN
HARGA DIRI RENDAH DAN STRATEGI PELAKSANAAN
TINDAKAN KEPERAWATAN RESIKO BUNUH DIRI
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktik Klinik Keperawatan Jiwa
Disusun Oleh :
Dina Yuningsih
P27905125095
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES
BANTEN JURUSAN KEPERAWATAN
TANGERANG TAHUN AKADEMIK 2025
I. KASUS (MASALAH UTAMA)
Resiko bunuh diri
II. PROSES TERJADINYA MASALAH
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat
mengakhiri kehidupan. Perilaku bunuh diri yang tampak pada seseorang
disebabkan karena stress yang tinggi dan kegagalan mekanisme koping
yang digunakan dalam mengatasi masalah (Damaiyanti & Iskandar, 2014)
Bunuh diri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami resiko untuk
menyakiti diri sendiri untuk melakukan tindakan yang dapat mengancam
nyawa. Dalam sumber lain dikatakan bahwa bunuh diri sebagai perilaku
destruktif terhadap diri sendiri yang jika tidak dicegah dapat mengarah
kepada kematian. Perilaku destruktif diri yang mencakup setiap bentuk
aktivitas bunuh diri, niatnya adalah kematian dan individu menyadari hal
ini sebagai sesuatu yang diinginkan. (Damaiyanti & Iskandar, 2014)
Bunuh diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak dicegah dapat mengarah
pada kematian. Risiko bunuh diri adalah rentan terhadap menyakiti diri
sendiri dan cedera yang mengancam jiwa. (Keliat & dkk, 2015)
A. Faktor Predisposisi
Lima faktor predisposisi yang menunjang pada pemahaman perilaku
destruktif diri sepanjang siklus kehidupan adalah sebagai berikut:
1. Diagnosi psikiatrik
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya
dengan cara bunuh diri mempunyai riwayat gangguan jiwa. Tiga
gangguan jiwa yang dapat membuat individu berisiko untuk
melakukan tindakan bunuh diri adalah gangguan efektif,
penyalagunaan zat, dan skizofrenia.
2. Sifat kepribadian
Tiga tipe kepribadiaan yang erat hubungannya dengan besarnya
resiko bunuh diri adalah antipati, implusif, dan depresi.
3. Lingkungan psikososial
Faktor predisposisi terjadinya perilaku bunuh diri, antaranya adalah
pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan sosial, kejadian
kejadian negatif dalam hidup, penyakit kronis, perpisahan, atau
bahkan perceraian. Kekuatan dukungan social sangan penting
dalam menciptakan intervensi yang terapeutik, dengan terlebih
dahulu mengetahui penyebab masalah, respon seseorang dalam
menghadapi masalah tersebut, dan lai-lain.
4. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan
faktor penting yang dapat menyebabkan seseorang melakukan
tindakan bunuh diri.
5. Faktor biokimia
Data menunjukkan bahwa klien dengan resiko bunuh diri terjadi
peningkatan zat-zat kimia yang terdapat dalam otak seperti
serotonin, adrenalin, dan dopamine. Peningkatan zat tersebut
dapat diliham melalui rekaman gelombang otak electro
enchepola graph (EEG)
B. Faktor Presipitasi
Perilaku destriktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yang
dialami oleh individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup
yang memalukan. Faktor lain yang dapat menjadi pencetus adalah
melihat atau membaca melalui media mengenai orang yang
melakukan bunuh diri atau percobaan bunuh diri. Bagi individu yang
emosinya labil, hal tersebut menjadi sangat rentan
C. Rentang Respon
D. Mekanisme Koping
Seseorang klien mungkin memakai beberapa variasi mekanisme
koping yang berhubungan dengan perilaku bunuh diri. Termasuk
denial, rasionalization, regrassion, dan magical thingking.
Mekanisme pertahanan diri yang ada seharusnya tidak ditentang
tanpa memberikan koping alternatif. (Damaiyanti & Iskandar, 2014)
III. POHON MASALAH
Pohon masalah pada kasus harga diri rendah adalah sebagai berikut:
Resiko bunuh diri
Perilaku kekerasan
Halusinasi
IV. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI
Masalah keperawatan : Resiko bunuh diri
Data yang perlu dikaji :
a. Mempunyai ide untuk bunuh diri
b. Mengungkapkan keinginan untuk mati
c. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan
d. Implusif
e. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat
patuh).
f. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri
g. Verbal terselubung (berbicara tentang kematian, menanyakan tentang
obat dosis mematikan).
h. Status penolakan, meningkat,panik, marah mengasingkan diri).
i. Kesehatan mental (secara klinis, klien terlihat sebagai orang yang
depresi, psikosis dan menyalagunakan alkohol).
j. Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronik atau
terminal).
k. Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau mengalami
kegagalan dalam karier).
l. Umur 15-19 tahun atau diatas 45 tahun.
m. Status perawinan (mengalami kegagalan dalam perkawinan).
n. Pekerjaan
o. Konflik interpersonal
p. Latar belakang keluarga
q. Orientasi seksual
r. Sumber-sumber persona
V. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Resiko bunuh diri
VI. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Rencana tindakan keperawatan terdiri atas empat komponen, yaitu tujuan
umum, tujuan khusus, rencana tindakan keperawatan, dan rasional. Tujuan
umum berfokus pada penyelesaian masalah (P). Tujuan ini dapat dicapai
jika tujuan khusus yang ditetapkan telah tercapai. Tujuan khusus berfokus
pada penyelesaian etiologi (E). Tujuan ini merupakan rumusan
kemampuan pasien yang harus dicapai. Pada umumnya kemampuan ini
terdiri atas tiga aspek, yaitu sebagai berikut (Damaiyanti & Iskandar,
2014) Kemampuan kognitif diperlukan untuk menyelesaikan etiologi dari
diagnosis keperawatan.
1. Kemampuan psikomotor diperlukan agar etiologi dapat selesai.
2. Kemampuan afektif perlu dimiliki agar pasien percaya akan
kemampuan menyelesaikan masalah.
Implementasi Keperawatan
Tindakan keperawatan harus menggambarkan tindakan keperawatan yang
mandiri, serta kerja sama dengan pasien, keluarga, kelompok, dan
kolaborasi dengan tim kesehatan jiwa yang lain. Sebelum tindakan
keperawatan diimplementasikan perawat perlu memvalidasi apakah
rencana tindakan yang ditetapkan masih sesuai dengan kondisi pasien saat
ini (here and now). Perawat juga perlu mengevaluasi diri sendiri apakah
mempunyai kemampuan interpersonal, intelektual, dan teknikal sesuai
dengan tindakan yang akan [Link] tidak ada hambatan lagi,
maka tindakan keperawatan bisa diimplementasikan. Saat memulai untuk
implementasi tindakan keperawatan, perawat harus membuat kontrak
dengan pasien dengan menjelaskan apa yang akan dikerjakan dan peran
serta pasien yang diharapkan. Kemudian penting untuk diperhatikan terkait
dengan standar tindakan yang telah ditentukan dan aspek legal yaitu
mendokumentasikan apa yang telah dilaksanakan.
Tindakan Keperawatan Untuk Pasien
1. Tujuan Pasien tetap aman dan selamat.
2. Tindakan Untuk melindungi pasien yang mengancam atau mencoba
bunuh diri, maka Anda dapat melakukan tindakan berikut.
Menemani pasien terus-menerus sampai dia dapat dipindahkan ke
tempat yang aman.
Menjauhkan semua benda yang berbahaya, misalnya pisau, silet,
gelas, tali pinggang.
Memeriksa apakah pasien benar-benar telah meminum obatnya,
jika pasien mendapatkan obat.
Menjelaskan dengan lembut pada pasien bahwa Anda
akan melindungi pasien sampai tidak ada
keinginan bunuh diri.
Tindakan Keperawatan untuk Keluarga
1. Tujuan Keluarga berperan serta melindungi anggota keluarga yang
mengancam atau mencoba bunuh diri.
2. Tindakan
Menganjurkan keluarga untuk ikut mengawasi pasien serta jangan
pernah meninggalkan pasien sendirian.
Menganjurkan keluarga untuk membantu perawat menjauhi barang
barang berbahaya di sekitar pasien.
Mendiskusikan dengan keluarga ja untuk tidak sering melamun
sendiri.
Menjelaskan kepada keluarga pentingnya pasien minum obat
secara teratur. (Yusuf, Fitryasari & Nihayati, 2015)
VII. SUMBER
Azizah, L. M., & Zainuri, I. (2016). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa.
Teori dan Aplikasi Praktik. Yogyakarta: Indonesia Pustaka.
Damaiyanti, M., & Iskandar. (2014). Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT.
Refika Aditama.
Keliat, B. A., & Akemat. (2019). Model Praktik Keperawatan Profesional
Jiwa. Jakarta: EGC.
Keliat, B. A., & dkk. (2015). Diagnosis Keperawatan: Defenisi dan
Klasifikasi. Jakarta: EGC.
Yosep, I., & Sutini, T. (2014). Buku AJar Keperawatan Jiwa dan Advance
Mental Healt Nursing. Bandung: PT Refika Aditama.
Yusuf, A. H., Firyasari, R., & Nihayati, H. (2015). Buku Ajar Keperawatan
Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.