0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan11 halaman

Teknik Menulis untuk Kelola Emosi Siswa

Diunggah oleh

arindazahraa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan11 halaman

Teknik Menulis untuk Kelola Emosi Siswa

Diunggah oleh

arindazahraa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat

Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022

PENERAPAN TEKNIK EXPRESSIVE WRITING LANGKAH


MEMBANTU SISWA MENGELOLA EMOSI

Al Halik*
Aulia Helwa
Annisa Ramadhani
Institut Agama Islam Negeri Metro

Abstract Emotions are an important part of human life; a person expresses his feelings through
these emotions. The good emotional development of students or adolescents is marked
by how students can control their emotions. Emotional maturity is closely related to
a person's age and is expected to become more mature and able to manage or control
emotions. However, this does not mean they automatically control their emotions as
they age. So that not a few still find teenagers who are wrong in expressing their self-
defeating emotions. The target of the activities for class VIII SMP TMI Roudhatul
Qur'an. Through two approaches to guidance, namely classical and group practice.
The results achieved through this activity can find out and gain a new understanding
of how to achieve emotional management, namely by writing, expressing emotional
experiences through writing, because writing can help individuals reduce stress, clear
thoughts, and stabilize emotions because emotional expressiveness is a natural
expression of emotions that actually.
Keyword Expressive Writing, Managing Emotions

Abstrak Emosi merupakan bagian penting dari kehidupan manusia dan melalui
emosi tersebut seseorang mengungkapkan perasaannya. Perkembangan
emosi siswa atau remaja yang baik ditandai dengan sejauh mana siswa
mampu mengendalikan emosinya. Kematangan emosi berkaitan erat
dengan usia seseorang, Namun, ini tidak berarti bahwa seiring
bertambahnya usia, mereka secara otomatis mampu mengendalikan emosi
mereka. Sehingga tidak sedikit masih ditemukan remaja yang salah dalam
mengekpresikan emosinya kearah yang merugikan diri sendiri. Sasaran
kegiatan siswa kelas VIII SMP TMI Roudhatul Qur’an. Melalui dua
pendekatan bimbingan yaitu secara klasikal dan praktek kelompok. Hasil
yang dicapai melalui kegiatan ini siswa dapat mengetahui dan memperoleh
pemahaman baru mengenai cara untuk mencapai manajemen emosi yaitu
dengan menulis, mengungkapkan pengalaman emosional melalui tulisan,
karena tulisan dapat membantu individu mengurangi stress, menjernihkan
pikiran, menstsabilkan emosi
Kata kunci Teknik Expressive Writing, Mengelola Emosi

Corresponding author: Al Halik, email: alhalik@[Link]


*

[Link]
Received August 23, 2022; Received in revised form September 6, 2022; Accepted September 7, 2022;
Available online October 31, 2022

100
Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022

PENDAHULUAN
Perkembangan zaman dengan berbagai persoalanya berjalan begitu cepat. Individu
dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan semua perubahan, tantangan dan
masalah yang ada. Tak jarang kita mendapatkan informasi yang mengejutkan, seperti
seorang anak yang menganiaya orang tuannya karena tidak dibelikan motor, perkelahian
siswa, penyalahgunaan narkoba hingga sampai kepada pembunuhan. Fenomena perilaku
ini berasal dari kontrol emosi, yang merupakan bagian penting dalam membentuk respons
terhadap perilaku kekerasan. Tuntutan perkembangan zaman yang harus dipenuhi
terkadang membuat individu lupa mengelola emosi mereka, sehingga dengan mudahnya
melakukan kekerasan hanya untuk melampiasakan kekesalan. Sebaliknya individu yang
depresi hingga bunuh diri karena tidak mampu menyalurkan tekanan emosi yang sedang
dihadapi.

Ketidakmampuan mengelola emosi menjadi dasar dari gangguan psikologis dan


kepribadian seperti depresi dan lainnya. Reaksi dan ekpresi emosi yang masih belum labil
dan terkendali memberikan dampak dalam pribadi dan sosial individu, karena emosi
memiliki peran dalam kehidupan sehari-hari. Mampu mengendalikan emosi dapat
mendatangkan kebahagiaan. Garrison mengatakan dalam hidup kebahagiaan bukan karena
tidak adanya bentuk emosi, melainkan kebiasaan dalam menguasai dan memahami emosi
(Mappiare, 2003). Emosi menjadi salah satu faktor pendorong serta mempengaruhi individu
memberikan respon terhadap stimulus yang ada. Emosi menjadi sumber energi bagi
perilaku individu, seperti kemampuan untuk menghibur diri, kemampuan untuk
menghilangkan kecemasan, kemurungan dan konsekuensi yang ditimbulkannya, dan
kemampuan untuk bangkit kembali dari emosi yang menekan. Individu yang mampu
mengelola emosi maka mampu menyeimbangkan perikau sehingga memunculkan perilaku
yang adaftif.

Emosi merupakan bagian penting dari kehidupan manusia dan melalui emosi
tersebut seseorang mengungkapkan perasaannya. Sepanjang perkembangn manusia, emosi
menjadi bagian yang juga ikut terus berkembang. Sejalan dengan bertambahnya usia,
perbendaharaan emosi manusia juga akan ikut berkembang. Banyak ahli psikologi
menyebutkan perkembangan emosional menjadi aspek yang cukup sulit diklasifikasikan.
Bahkan orang dewasa sering kali mengalami kesulitan dalam mengeskpresikan emosi yang
dialaminya. Hal ini bisa difaktori oleh perkembangan pada masa remaja, karena dianggap
sebagai periode “badai dan tekanan” suatu fase ketegangan emosi meningkat sebagai akibat
dari pertumbuhan dan perubahan fisik serta kelenjar (Hurlock, 2004). Semasa proses
perkembangannya, lingkungan sosial di tempat anak tumbuh berkembang mengajarkan ia
cara mengendalikan emosi sehingga dapat mengekspresikan sesuai dengan tuntutan
lingkungan.

Faktanya masih banyak ditemukan ganggaun emosi yang dialami individu dalam
menjalankan aktivitas sehari-hari seperti stres, kecemasan dan depresi. Selama pandemi
khususnya banyak temui individu yang mengalami masalah tersebut. Pembatasan aktivitas

101
Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022

menyebabkan siswa mudah mengalami gangguan psikologis dan depresi (Rahma dkk.,
2021). Proses pembelajaran dari tatap muka menjadi daring, bertemu dengan teman-teman
yang biasanya menjadi coping stress (Lee, 2020) akhirnya terbatasi akibat dari pandemi
covid. Siswa yang masih berumur remaja rentang mengalami gangguan psikologis emosi
ini, karena emosi remaja yang belum stabil dan proses menuju stabil. Sehingga dalam proses
perkembangannya dapat menyebabkan pertentangan dengan lingkungan sosial sekitar dan
memicu sebab masalah baginya.

Siswa yang berada pada fase remaja cenderung mempunyai emosi yang kuat dan
sulit dikendalikan, tidak rasional, mudah marah, mudah tersinggung, mudah putus asa, dan
rentan meledak-ledak jika diganggu. Ketika mendapatkan masalah siswa sulit untuk
mengendalikan dan mengatasi emosi yang sedang dihadapinya, sehingga kebanyakan siswa
akan berlarut-larut tenggelam dalam emosi yang dia miliki dari masalah tersebut. Perilaku
yang muncul bisa mempengaruhi proses pembelajarannya. Akibatnya, banyak siswa yang
bersikap agresif, seperti melanggar aturan yang ada disekolah, sering datang terlambat. Dari
hal tersebut, akan muncul presepsi dan predikat nakal dari guru ke siswa.

Individu yang tidak dapat mengatasi perasaan emosional yang sedang dia hadapi
cenderung tidak bisa memotivasi dirinya sendiri untuk lepas dan terbebas dari permasalah
yang dia hadapi (Goleman, 2009). Siswa akan lebih memiliki pemikiran yang emosional
dari pada rasional yang ada didirinya. Siswa akan lebih cenderung bersikap agresif karena
tidak bisa mengatasi dan memberikan dorongan pada dirinya untuk tetap tahan terhadap
rasa frustasi yang dia rasakan. Sehingga apabila dia mengalami gangguan emosional yang
tidak stabil seperti sedang marah atau kesal maka akan cenderung melampiaskannya
melalui tindakan seperti melanggar aturan, datang terlambat, bolos, tidak mengerjakan PR,
melawan guru, dan melakukan segala tindakan yang lebih cenderung ke hal negatif.
Tindakan-tindakan tersebut akhirnya akan cenderung membuat siswa malas dan
mempengaruhi banyak aspek di keseharian lainnya yang dijalani oleh siswa.

Siswa berpotensi mengalami berbagai gangguan emosional mulai dari ringan sampai
dengan berat. Gangguan yang dialami terkadang terabaikan oleh orang tua, guru maupun
lingkungan sekitar. Hal ini menjadi potensi berlanjutnya gangguan psikologis seperti stress
berat, gangguan kepribadian yang tidak menampakkan integritas karena emosi terganggu.
Maka perlu diberikan tindakan preventif, agar siswa mampu meminimalisir gangguan agar
tidak berlanjut menjadi ganggaun jangka panjang (Huppert, 2009).

Perlu dilaksanakan layanan psikoedukasi bagi siswa di sekolah, sebagai bentuk


intervensi untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa agar tercegah dari
masalah psikologis emosional serta mampu meningkatkan penerimaan diri terhadap kondisi
yang dialaminya (Cheng dkk., 2018). Menurut Marchiodi, menulis merupakan salah satu
proses atau metode untuk mencapai pengelolaan emosi, dan terapi menulis merupakan
salah satu teknik yang digunakan dalam terapi ekspresif. Bagian dari terapi ekspresif adalah
terapi menulis, yang digunakan sebagai media untuk menyembuhkan dan meningkatkan
kesehatan mental (Malchiodi, C.A., 2007). Expressive writing pertama kali diperkenalkan

102
Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022

oleh Pennebeker pada tahun 1989 dan digunakan sebagai wahana untuk meningkatkan
kemampuan mengekspresikan emosi (Pennebaker, 1997).

Dalam pelaksanaannya terapi ini memberikan peluang kepada indivdu untuk


merefleksikan perasaannya secara emosional melalui kata-kata, menyampaikan emosi
dalam berinteraksi sosial dan meningkatkan stabilitas hubungan. Qonitatin dkk
menjelaskan dengan mengungkapkan pengalaman emosional melalui tulisan tulisan dapat
membantu individu mengurangi stress, menjernihkan pikiran, menstsabilkan emosi dan
memperbaiki kesehatan fisik, karena ekspresif emosional merupakan ekspresi natural dari
emosi yang sebenarnya (Qonitatin dkk., 2011). Individu mampu menuliskan apa yang
sedang dialami dan dipendamnya secara bebas seperti menuliskan pengalaman yang
menyedihkan, keinginan impian dan lainnya.

Kegiatan layanan psikoedukasi seperti exspresive writing perlu diberikan secara rutin
dan terjadwal kepada siswa. Sebagai upaya memberikan pemahaman dan meningkatkan
keterampilan intervensi masalah bagi siswa, ketika mereka dihadapkan dengan tekanan
dalam kehidupan sehari-harinya. Secara umum tujuan dari ekspresive writing adalah
meningkatkan pemahaman diri sendiri dan orang lain melalui tulisan, meningkatkan
kreatifitas dalam mengekpresikan diri, memperkuat keterampilan komunikasi dan
interpersonal; (4) Menghilangkan ekspresi emosi (katarsis) dan ketegangan yang berlebihan;
(5) Meningkatkan pemecahan masalah dan kemampuan beradaptasi individu (Davis, 1990).
Sehingga siswa mampu menggambarkan isi hati emosinya dengan tepat dan
mengungkapkan perasaan yang dipendamnya melalui tulisan.

METODE
Kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui pelatihan dan pendampingan berupa
pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling dengan pendekatan format klasikal dan
kelompok untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai teknik expressive writing
kepada siswa SMP TMI Roudhatul Qur’an. Kegiatan ini dilakukan sebanyak 2 kali
pertemuan pada tanggal 16-17 Juni 2022. Tahapan dalam pelaksanaan kegiatan untuk
meningkatkan kemampuan dalam pengkungkapan emosi siswa yaitu: 1) Tahap
pembentukan, 2) Tahap Pengalihan, 3) Tahap Kegiatan, 4) Tahap pengakhiran.

Tahap pembentukan merupakan tahapan awal yang sangat berpengaruh pada


tahapan selanjutnya, karena pada tahapan ini usaha pelibatan diri anggota kelompok untuk
memasukkan diri ke dalam struktur kelompok. Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini
adalah menjelaskan pentingnya kegiatan dilakukan seperti penjelasan pengertian dan tujuan
kegiatan kelompok, cara pelaksanaan kegiatan, penjelasan norma dan asas-asas bimbingan
kelompok, pengenalan dan permainan penghangatan keakraban. Selanjutnya tahap
peralihan, biasa disebut juga tahapan transisi dari pemantapan pemahaman kelompok di
tahapan pembentukan ke tahap kegiatan inti yang terarah pada pencapaian tujuan
kelompok. Tahapan peralihan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapan

103
Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022

untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang dilakukan. Kegiatan yang akan dilakukan oleh
ketua kelompok selama fase ini antara lain menggambarkan kegiatan yang akan dilakukan
pada fase berikutnya, menyarankan atau mengamati apakah anggota siap untuk memulai
kegiatan pada fase berikutnya, menciptakan suasana diskusi tentang hal-hal yang harus
dilakukan dan membangun kesiapan anggota kelompok untuk berpartisipasi. Setelah ketua
kelompok memastikan bahwa anggota kelompok sudah siap, kegiatan dapat dilanjutkan ke
kegiatan inti.

Tahap kegiatan adalah tahapan inti dari kegiatan bimbingan kelompok. Pada
tahapan ini ketua kelompok memastikan dinamika kelompok terus berjalan. Tujuan yang
hendaknya tercapai dalam tahapan ini yaitu terbahasnya topik secara dalam, luas dan tuntas
sehingga anggota kelompok mampu memahami, berpikirkritis, analitis, sistematis dan logis
topik yang didiskusikan. Harapan lain yang hendak dicapai yaitu berkembangnya
kemampuan berkomunikasi dan kemampuan sosialisasi, sikap saling membantu,
menerima, menguatkan, berusaha untuk memperkuat rasa kebersamaan. Kegiatan dalam
tahap ini adalah mengemukan dan menjelaskan topik, berdiskusi, tanyajawab akan hal yang
belum jelas, anggota membahas masing-masing topik secara mendalam, luas, dan tuntas,
menyimpulkan apa yang sudah diperoleh, serta selingan berupa permainan. Setelah
kegiatan inti selesai dilakukan, maka dilanjutkan ke tahap pengakhiran. Pada tahap ini
pemimpin dan anggota kelompok bersama-sama mencari dan mengemukan perilaku baru
apa yang telah dipelajari dan didapatkan dari kelompok.

Tahap akhir ini dianggap sebagai tahap melatih diri klien untuk melakukan
perubahan. Pemimpin kelompok melakukan peninjau kembali (refleksi) kegiatan diskusi
yang baru saja terjadi dan mengukur pengetahuan serta pemahaman baru yang telah
dimiliki anggota kelompok. Kegiatan penutup merupakan akhir dari keseluruhan rangkaian
kegiatan yang difokuskan pada pelibatan anggota kelompok dalam pelaksanaan
kesepakatan bersama, dan kelompok merencanakan kegiatan selanjutnya.

TEMUAN DAN PEMBAHASAN


Pelaksanaan pengabdian berbentuk kegiatan pelayanan psikoedukasi, melalui
pemberian layanan bimbingan secara klasikal dan juga kelompok. Sasaran layanan siswa
kelas VIII SMP TMI Roudhatul Qur’an. Untuk lebih jelasnya langkah pelaksanaan sebagai
berikut.

Perencanaan

Sebelum pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, tim terlebih dahulu


merancang tindakan yang akan diberikan. Langkah pertama tim pengabdian menyusun
Rencana Pelaksanaan Layanan (RPL) yang berjudul Pemahaman Emosi, serta meminta
kepada tim pengabdian untuk melengkapi alat yang dibutuhkan sebagai penunjang kegitan
layanan bimbingan ini. Pelaksanaan kegiatan dilakukan SMP TMI Roudlatul Qur’an
dengan jumlah anggota kelompok sebanyak 15 orang siswa. Setelah proses perizinan dan

104
Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022

surat menyurat selesai, kegiatan ini laksanakan pada hari Kamis dan Jum’at, tanggal 16-17
Juni 2022 Pukul 09.00 WIB sampai selesai. Pertemuan pertama dilakukan penyampaian
materi terkait emosi dan teknik expressive writing kepada siswa melalui format klasikal.
Siswa yang berjumlah 15 dikumpulkan dalam satu ruangan kemudian pemimpin kelompok
menyampaikan materi melalui metode ceramah dibantu dengan media powerpoin.

Gambar 1. Pelaksanaan Layanan Informasi terkait Emosi dan Expressive Writing Secara
Klasikal

Pelaksanaan Kegiatan

Tahapan ini, melaksanakan rangkaian kegiatan sesuai dengan Rancangan


Pelaksanaan Layanan (RPL) yang sudah disusun sebelumnya. Setelah pertemuan pertama
dengan format klasikal, maka pada pertemuan kedua ini dilakukan dengan format
kelompok yaitu pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dengan langkah-langkah sebagai
berikut.

a. Tahap Pembentukan

Pemimpin kelompok memberikan salam dan ucapan terimakasih kepada siswa atas
partisipasi dan kesediaan siswa dalam mengikuti kegiatan tersebut. Setelah itu dilanjutkan
dengan kegiatan berdoa bersama yang dipimpin oleh pemimpin kelompok. Agar kegiatan
yang akan dilaksanakan diberikan kelancaran dan keberkahan. Setelah berdoa dilanjutkan
dengan menanyakan kabar dan mereka menjawab kabar sehat dan luar biasa, dan juga tidak
lupa mengucapkan terimakasih atas kesediaan siswa untuk ikut serta mengikuti kegiatan.

Setelah suasana dirasa hangat dan akrab, selanjutnya pemimpin kelompok


menjelaskan mengenai maksud dan tujuan dilaksanakannya bimbingan kelompok,
pemimpin kelompok juga menjelaskan mengenai manfaat apa saja yang bisa didapatkan
melalui bimbingan kelompok. Agar terbangunya dinamika kelompok yang baik, tertib dan
terarah, pemimpin kelompok juga menjelaskan tata cara pelaksanaan, dan asas-asas
bimbingan kelompok yaitu asas kesukarelaan, keterbukaan, kegiatan, kenormatifan dan
asas kerahasiaan yang apabila dalam pembahasan topik ada yang menyangkut persoalaan
pribadi maka anggota kelompok harus merahasikannya.

Setelah penjelasan mengenai pengertian, tujuan, manfaat, cara pelaksanaan serta


asas-asar bimbingan kelompok, kemudian pemimpin kelompok menanyakan apakah siswa
(anggota kelompok) sudah paham, mereka pun menjawab paham. Maka dilanjutkan

105
Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022

dengan sesi perkenalan guna untuk mengenal lebih dekat antara pemimpin kelompok dan
siswa yang lainnya. Untuk lebih mencairkan suasana dan meningkatkan keakraban,
pemimpin kelompok memberikan permainan yang Bernama “rangkaian nama”.
Perkenalan dengan permainan rangkaian nama bertujuan agar peserta mudah mengenal dan
menghafal sesame peserta, sehingga keakraban dan kebersamaan lebih mudah terbangun.
Dalam pelaksanaannya peserta harus meningkatkan perhatian agar lebih mudah mengingat,
serta memberikan suasana yang mengembirakan, sehingga suasana kelompok menjadi lebih
hangat dan menyenangkan. Setiap anggota berusaha saling mengenal dan menyebutkan
dengan benar nama-nama semua anggota, sehingga semua anggota merasa diakui oleh
anggota lainnya, berkembangnya perasaan dalam kelompok.

b. Tahap Peralihan

Sebelum masuk kegiatan inti, ketua kelompok menjelaskan secara ringkas


sistematika kegiatan yang akan ditempuh pada tahap selanjutnya. Beberapa siswa masih
ada yang terlihat ragu, maka pemimpin kelompok menjelaskan dan menekankan kembali
asas yang harus dipahami dan dipegang oleh peserta kelompok. ketua kelompok berusaha
meningkatkan keinginan partisipasi anggota kelompok. Kemudian mengamati dan
menanyakan apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya,
semua siswa menjawab sudah siap. Setelah pemimpin kelompok memastikan kesiapan
anggota kelompok, maka bisa kegiatan bisa dilanjutkkan kekegiatan inti.

c. Tahap Kegiatan

Pemimpin kelompok menyampaikan bahwasannya akan ada satu topik yang


dibahas yaitu tentang pemahaman dan teknik pengkungkapan emosi. Kemudian pemimpin
kelompok menjelaskan latar belakang kenapa topik ini perlu diangkat dan dibahas dalam
kegiatan kelompok hari ini. Setelah penjelasan mengenai topik, kemudian memberikan
kesempatan kepada anggota kelompok untuk menanggapi bagaimana pemahamaan mereka
terhadap emosi. Siswa secara aktif memberikan tanggapan mereka terkait topik, karena
pada pertemuan sebelumnya siswa telah mendapatkan materi mengenai emosi. Pemimpin
kelompok mencoba mengulas kembali secara ringkas mengenai topik. Emosi merupakan
bagian yang penting dari manusia, karena dari emosi inilah seseorang mengekspresikan
perasaannya. Emosi meliputi perasaan sedih, marah, bahagia, senang, takut dan lain
sebagainya. Jadi emosi tidak hanya tentang ekspresi negatif (marah, kesal, jengkel, benci)
tapi juga meliputi suatu perasaan yang positif (Bahagia, senang, cinta). Pemimpin kelompok
menjelaskan bahwasannya emosi itu adalah unsur kepribadian dalam diri manusia yang
perlu dipelajari, agar bisa menggelolanya dengan baik. Individu yang tidak dapat mengatasi
perasaan emosional yang sedang dia hadapi cenderung tidak bisa memotivasi dirinya sendiri
untuk lepas dan terbebas dari permasalah yang dia hadapi.

Selanjutnya, pemimpin melaksanakan teknik Expressive writing kepada anggota


kelompok. Sebelum dilakukan praktek, pemimpin kelompok mencoba menjelaskan tujuan
dan manfaat teknik tersebut. Setelah peserta memahami topik, kemudian dilanjutkan

106
Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022

dengan menjelaskan langkah-langkah dalam penerapan teknik expressive writing.


Mekanisme proses menulis ekspresif didasarkan pada pengungkapan pengalaman
emosional. Langkah pertama yaitu Recognation/initial writing yaitu mambangun
kenyamanan dan sekaligus meminta siswa untuk menulis segala pikiran, perasaan ataupun
pengalaman tidak menyenangkan yang pernah dialami di masa lalu yang masih dan sangat
membekas bagi siswa tersebut bahkan sampai sekarang. Hal ini bisa saja meliputi hal yang
mengecewakan, traumatic, patah hati, sedih dan lainnya. Siswa diberikan waktu 6 menit
untuk menuliskan perasaan negatif tersebut. Setelah dirasakan selesai, siswa diinstruksikan
menyiapkan kertas putih dan kemudian siswa diminta menuliskan mimpi, impian, cita-cita,
keinginan yang ingin dicapai baik dalam waktu dekat atau pun masa depan, segala hal yang
menyenangkan dan bahagia atau lainnya. Siswa diberikan waktu 6 menit untuk menuliskan
hal tersebut.

Setelah siswa menulis, langkah berikutnya yaitu mengeksplorasi reaksi siswa


terhadap situasi kondisi tertentu. Fase ini merupakan sarana refleksi yang mendorong siswa
untuk menginspirasi perilaku, sikap dan nilai baru, serta memperoleh persepsi baru yang
mengarah pada pemahaman diri yang lebih dalam. Siswa yang telah menuliskan
perasaannya kemudian dilakukan refleksi, didiskusikan kemudian disempurnakan dalam
suasana dinamika kelompok. Fokus yang dicari dalam fase ini adalah mencari tahu
bagaimana perasaan setelah menyelesaikan tulisannya dan membacakannya kepada peserta
lain. Setelah kegiatan ini diharapkan siswa memperoleh pengetahuan baru dan mampu
menerapkannya, dan berlanjut pada kesepakatan bersama untuk melakukan tingkahlaku
baru dikemudian hari.

Tahap akhir dari kegiatan teknik Expressive writing yaitu siswa didorong untuk
mengaplikasikan pengetahuan baru yang didapatkan dalam kelompok ini ke dalam
kehidupan sehari-hari mereka. Pemimpin kelompok membantu siswa mengkonsolidasikan
apa yang telah mereka pelajari selama sesi menulis dengan merefleksikan apa yang perlu
diubah dan ditingkatkan dan apa yang perlu dipertahankan. Ketua kelompok juga harus
menanyakan apakah siswa merasa tidak nyaman karena proses penulisan atau apakah
mereka merasa ada bantuan ekstra dalam memecahkan masalah.

Gambar 2. Tahap Kegiatan, Pemimpin Kelompok menginstruksikan siswa untuk


menuliskan ungkapan pada kertas.

107
Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022

d. Tahap Pengakhiran

Setelah tahap kegiatan selesai, pemimpin kelompok mengarahkan siswa untuk


Bersama-sama mengambil kesimpulan dari kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya. Dari
kegiatan ini ada beberapa kesimpulan yang di peroleh secara bersama-sama dengan siswa
diantaranya: Kemarahan, kekecewaan dan segala hal negatif lainnya harus segera dibuang
dan dihindari bagi seseorang agar hidup dan keseharian yang dijalani oleh seseorang itu bisa
berjalan dengan tenang. Ketika seseorang sedang mengalami sesuatu hal tidak
menyenangkan, alangkah lebih baik jika seseorang meiliki tempat atau media untuk
mengungkapkan emosi tersebut. Karena jika sesuatu ditahan dan tidak diungkapkan, maka
akan lebih berbahaya dan tidak baik untuk Kesehatan mental seseorang tersebut. Akan lebih
baik, jika setiap individu focus kepada mimpi dan cita-cita juga hal yang bersifat positif yang
ada didalam hidupnya dari pada terus-terusan memikirkan hal negatif. Memaafkan dan
menyelesaikan masalah adalah jalan keluar paling baik jika seseorang sedang menghadap
permasalahan dengan orang lain.

Dari sini, siswa di arahkan untuk menentukan sikap dan Tindakan apa yang patut
diambil dan dilakukan setelah kegiatan ini. Diharapkan jika setelah kegiatan ini siswa
mengalami permasalahn emosi, maka siswa bisa sedikit lebih paham dengan antisipasti
yang harus dilakukan. Selanjutnya pemimpin kelompok meminta siswa untuk
menyampaikan kesan setelah dilakukan kegiatan tersebut. Menurut siswa kegiatan yang
dilakukan sangat seru dan asyik, dimana siswa menjadi paham bahwasannya menyimpan
permasalahan dan emosi sendiri tidak selalu baik, justru bisa berdampak pada hal yang
cukup serius untuk kesehatan psikologis. Setelah semuanya dianggap selesai, maka
pemimpin kelompok menyampaikan bahwa kegiatan akan segera diakhiri, dan dilanjutkan
dengan melakukan foto bersama dan salam berpisah.

Sekolah menjadi tempat siswa menghabiskan banyak waktu, melakukan interaksi


sosial dan mengembangkan pengetahuan. Selain orang tua, guru juga memiliki peran
penting untuk membantu siswa untuk terus berkembang, membantu siswa yang mengalami
masalah. Guru perlu lebih memahami perkembangan siswanya, walau terkadang siswa
yang berumur remaja sulit dimengerti. Menurut Walgito pada masa remaja emosi menjadi
hal yang sangat menonjol, banyak perbuatan yang terkadang sulit dimengerti dan diterima
dengan pikiran baik (Walgito, 2010).

Kematangan emosi berkaitan erat dengan usia seseorang dan diharapkan menjadi
lebih matang dan mampu mengelola atau mengendalikan emosi. Namun, ini tidak berarti
bahwa seiring bertambahnya usia, mereka secara otomatis mengendalikan emosi mereka.
Betts, Gullone dan Allen menjelaskan salah satu faktor yang mampu mengurangi risiko
gangguan depresi dan memberikan kontribusi pada Kesehatan psikologis pada remaja
adalah kemampuan mengelola emosi yang baik (Betts dkk., 2009) (Putri dkk., 2018).

Kegiatan-kegiatan serupa perlu terus dijadwalkan secara terencana oleh sekolah.


Walaupun belum memiliki tenaga ahli seperti guru bimbingan dan konseling, sekolah bisa

108
Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022

menjalin Kerjasama dengan pihak-pihak lain yang memiliki keahlian. Memberikan


kesempatan kepada siswa untuk ikutserta dalam kegiatan-kegiatan yang menuntut tanggung
jawab seperti ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk terus mengembangkan
pengendalian emosinya. Perkembangan emosi siswa atau remaja yang baik ditandai dengan
sejauh mana siswa mampu mengendalikan emosinya, sehingga memberikan dampak yang
positif bagi dirinya sendiri, orangtua, dan lingkungan sosialnya.

KESIMPULAN
Pelaksanaan kegiatan teknik exspressive writing bagi siswa merupakan suatu
kegiatan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengekpresikan emosinya. Emosi
sebagai unsur kepribadian perlu pelajari agar mengetahui hakikatnya, cara
mengendalikannya dan cara mengarahkannya. Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari
ini berjalan sesuai dengan rencana yang telah disusun dalam Rancangan Pelaksanaan
Layanan (RPL). Hari pertama pemberian materi terkait emosi secara klasikal dan di hari
kedua dilanjut dengan penerapan teknik exspressive writing dengan pendekatan kelompok.
Pendekatan kelompok dilakukan dengan empat tahapan yaitu pembentukan, peralihan,
kegiatan dan pengakhiran. Kegiatan dalam kelompok berupakan Latihan menerapkan
teknik tersebut kemudian merefleksi dan mendiskusikan hasilnya. Dengan adanya kegiatan
ini diharapkan siswa memperoleh pengetahuan dan pemahaman baru yang lebih dalam
tentang dirinya, diaplikasikan, dan berlanjut melakukan tingkahlaku baru dikemudian hari.

UCAPAN TERIMA KASIH


Ucapan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut serta dalam
kegiatan ini, sehingga bisa berjalan dengan lancar.

PERNYATAAN BEBAS KONFLIK KEPENTINGAN


Penulis menyatakan bahwa penulisan artikel ini bebas dari konflik kepentingan dan
dilakukan dengan sebenarnya.

REFERENSI
Betts, J., Gullone, E., & Allen, J. S. (2009). An examination of emotion regulation,
temperament, and parenting style as potential predictors of adolescent depression
risk status: A correlational study. British Journal of Developmental Psychology, 27(2),
473–485.
Cheng, V. W. S., Davenport, T. A., Johnson, D., Vella, K., Mitchell, J., & Hickie, I. B.
(2018). An app that incorporates gamification, mini-games, and social connection
to improve men's mental health and well-being (MindMax): Participatory design
process. JMIR mental health, 5(4), e11068.

109
Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022

Davis, L. (1990). The Courage to Heal Workbook: A Guide for Women Survivors of Child Sexual
Abuse. Harper Collins.
Goleman, D. (2009). Emotional Intelligence. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Huppert, F. A. (2009). Psychological well‐being: Evidence regarding its causes and
consequences. Applied psychology: health and well‐being, 1(2), 137–164.
Hurlock, E. B. (2004). Psikologi Perkembangan. Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama.
Lee, J. (2020). Mental health effects of school closures during COVID-19. The Lancet Child
& Adolescent Health, 4(6), 421. [Link]
Malchiodi, C.A. (2007). Expressive Therapies. New York: The Guilford Press.
Mappiare, A. (2003). Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.
Pennebaker, J. W. (1997). Writing about emotional experiences as a therapeutic process.
Psychological science, 8(3), 162–166.
Putri, D. W. L., Uyun, Q., & Sulistyarini, I. (2018). Pelatihan Regulasi Emosi Untuk
Meningkatkan Kesejahteraan Subjektif Orang dengan Hipoertensi Esensial.
PHILANTHROPY: Journal of Psychology, 1(1), 1–16.
Qonitatin, N., Widyawati, S., & Asih, G. Y. (2011). Pengaruh katarsis dalam menulis
ekspresif sebagai intervensi depresi ringan pada mahasiswa. Jurnal Psikologi, 9(1).
Rahma, F. N., Wulandari, F., & Husna, D. U. (2021). Pengaruh Pembelajaran Daring di
Masa Pandemi Covid-19 bagi Psikologis Siswa Sekolah Dasar. EDUKATIF : Jurnal
Ilmu Pendidikan, 3(5), 2470–2477. [Link]
Walgito, B. (2010). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset.

110

Anda mungkin juga menyukai