Teknik Menulis untuk Kelola Emosi Siswa
Teknik Menulis untuk Kelola Emosi Siswa
Al Halik*
Aulia Helwa
Annisa Ramadhani
Institut Agama Islam Negeri Metro
Abstract Emotions are an important part of human life; a person expresses his feelings through
these emotions. The good emotional development of students or adolescents is marked
by how students can control their emotions. Emotional maturity is closely related to
a person's age and is expected to become more mature and able to manage or control
emotions. However, this does not mean they automatically control their emotions as
they age. So that not a few still find teenagers who are wrong in expressing their self-
defeating emotions. The target of the activities for class VIII SMP TMI Roudhatul
Qur'an. Through two approaches to guidance, namely classical and group practice.
The results achieved through this activity can find out and gain a new understanding
of how to achieve emotional management, namely by writing, expressing emotional
experiences through writing, because writing can help individuals reduce stress, clear
thoughts, and stabilize emotions because emotional expressiveness is a natural
expression of emotions that actually.
Keyword Expressive Writing, Managing Emotions
Abstrak Emosi merupakan bagian penting dari kehidupan manusia dan melalui
emosi tersebut seseorang mengungkapkan perasaannya. Perkembangan
emosi siswa atau remaja yang baik ditandai dengan sejauh mana siswa
mampu mengendalikan emosinya. Kematangan emosi berkaitan erat
dengan usia seseorang, Namun, ini tidak berarti bahwa seiring
bertambahnya usia, mereka secara otomatis mampu mengendalikan emosi
mereka. Sehingga tidak sedikit masih ditemukan remaja yang salah dalam
mengekpresikan emosinya kearah yang merugikan diri sendiri. Sasaran
kegiatan siswa kelas VIII SMP TMI Roudhatul Qur’an. Melalui dua
pendekatan bimbingan yaitu secara klasikal dan praktek kelompok. Hasil
yang dicapai melalui kegiatan ini siswa dapat mengetahui dan memperoleh
pemahaman baru mengenai cara untuk mencapai manajemen emosi yaitu
dengan menulis, mengungkapkan pengalaman emosional melalui tulisan,
karena tulisan dapat membantu individu mengurangi stress, menjernihkan
pikiran, menstsabilkan emosi
Kata kunci Teknik Expressive Writing, Mengelola Emosi
[Link]
Received August 23, 2022; Received in revised form September 6, 2022; Accepted September 7, 2022;
Available online October 31, 2022
100
Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022
PENDAHULUAN
Perkembangan zaman dengan berbagai persoalanya berjalan begitu cepat. Individu
dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan semua perubahan, tantangan dan
masalah yang ada. Tak jarang kita mendapatkan informasi yang mengejutkan, seperti
seorang anak yang menganiaya orang tuannya karena tidak dibelikan motor, perkelahian
siswa, penyalahgunaan narkoba hingga sampai kepada pembunuhan. Fenomena perilaku
ini berasal dari kontrol emosi, yang merupakan bagian penting dalam membentuk respons
terhadap perilaku kekerasan. Tuntutan perkembangan zaman yang harus dipenuhi
terkadang membuat individu lupa mengelola emosi mereka, sehingga dengan mudahnya
melakukan kekerasan hanya untuk melampiasakan kekesalan. Sebaliknya individu yang
depresi hingga bunuh diri karena tidak mampu menyalurkan tekanan emosi yang sedang
dihadapi.
Emosi merupakan bagian penting dari kehidupan manusia dan melalui emosi
tersebut seseorang mengungkapkan perasaannya. Sepanjang perkembangn manusia, emosi
menjadi bagian yang juga ikut terus berkembang. Sejalan dengan bertambahnya usia,
perbendaharaan emosi manusia juga akan ikut berkembang. Banyak ahli psikologi
menyebutkan perkembangan emosional menjadi aspek yang cukup sulit diklasifikasikan.
Bahkan orang dewasa sering kali mengalami kesulitan dalam mengeskpresikan emosi yang
dialaminya. Hal ini bisa difaktori oleh perkembangan pada masa remaja, karena dianggap
sebagai periode “badai dan tekanan” suatu fase ketegangan emosi meningkat sebagai akibat
dari pertumbuhan dan perubahan fisik serta kelenjar (Hurlock, 2004). Semasa proses
perkembangannya, lingkungan sosial di tempat anak tumbuh berkembang mengajarkan ia
cara mengendalikan emosi sehingga dapat mengekspresikan sesuai dengan tuntutan
lingkungan.
Faktanya masih banyak ditemukan ganggaun emosi yang dialami individu dalam
menjalankan aktivitas sehari-hari seperti stres, kecemasan dan depresi. Selama pandemi
khususnya banyak temui individu yang mengalami masalah tersebut. Pembatasan aktivitas
101
Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022
menyebabkan siswa mudah mengalami gangguan psikologis dan depresi (Rahma dkk.,
2021). Proses pembelajaran dari tatap muka menjadi daring, bertemu dengan teman-teman
yang biasanya menjadi coping stress (Lee, 2020) akhirnya terbatasi akibat dari pandemi
covid. Siswa yang masih berumur remaja rentang mengalami gangguan psikologis emosi
ini, karena emosi remaja yang belum stabil dan proses menuju stabil. Sehingga dalam proses
perkembangannya dapat menyebabkan pertentangan dengan lingkungan sosial sekitar dan
memicu sebab masalah baginya.
Siswa yang berada pada fase remaja cenderung mempunyai emosi yang kuat dan
sulit dikendalikan, tidak rasional, mudah marah, mudah tersinggung, mudah putus asa, dan
rentan meledak-ledak jika diganggu. Ketika mendapatkan masalah siswa sulit untuk
mengendalikan dan mengatasi emosi yang sedang dihadapinya, sehingga kebanyakan siswa
akan berlarut-larut tenggelam dalam emosi yang dia miliki dari masalah tersebut. Perilaku
yang muncul bisa mempengaruhi proses pembelajarannya. Akibatnya, banyak siswa yang
bersikap agresif, seperti melanggar aturan yang ada disekolah, sering datang terlambat. Dari
hal tersebut, akan muncul presepsi dan predikat nakal dari guru ke siswa.
Individu yang tidak dapat mengatasi perasaan emosional yang sedang dia hadapi
cenderung tidak bisa memotivasi dirinya sendiri untuk lepas dan terbebas dari permasalah
yang dia hadapi (Goleman, 2009). Siswa akan lebih memiliki pemikiran yang emosional
dari pada rasional yang ada didirinya. Siswa akan lebih cenderung bersikap agresif karena
tidak bisa mengatasi dan memberikan dorongan pada dirinya untuk tetap tahan terhadap
rasa frustasi yang dia rasakan. Sehingga apabila dia mengalami gangguan emosional yang
tidak stabil seperti sedang marah atau kesal maka akan cenderung melampiaskannya
melalui tindakan seperti melanggar aturan, datang terlambat, bolos, tidak mengerjakan PR,
melawan guru, dan melakukan segala tindakan yang lebih cenderung ke hal negatif.
Tindakan-tindakan tersebut akhirnya akan cenderung membuat siswa malas dan
mempengaruhi banyak aspek di keseharian lainnya yang dijalani oleh siswa.
Siswa berpotensi mengalami berbagai gangguan emosional mulai dari ringan sampai
dengan berat. Gangguan yang dialami terkadang terabaikan oleh orang tua, guru maupun
lingkungan sekitar. Hal ini menjadi potensi berlanjutnya gangguan psikologis seperti stress
berat, gangguan kepribadian yang tidak menampakkan integritas karena emosi terganggu.
Maka perlu diberikan tindakan preventif, agar siswa mampu meminimalisir gangguan agar
tidak berlanjut menjadi ganggaun jangka panjang (Huppert, 2009).
102
Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022
oleh Pennebeker pada tahun 1989 dan digunakan sebagai wahana untuk meningkatkan
kemampuan mengekspresikan emosi (Pennebaker, 1997).
Kegiatan layanan psikoedukasi seperti exspresive writing perlu diberikan secara rutin
dan terjadwal kepada siswa. Sebagai upaya memberikan pemahaman dan meningkatkan
keterampilan intervensi masalah bagi siswa, ketika mereka dihadapkan dengan tekanan
dalam kehidupan sehari-harinya. Secara umum tujuan dari ekspresive writing adalah
meningkatkan pemahaman diri sendiri dan orang lain melalui tulisan, meningkatkan
kreatifitas dalam mengekpresikan diri, memperkuat keterampilan komunikasi dan
interpersonal; (4) Menghilangkan ekspresi emosi (katarsis) dan ketegangan yang berlebihan;
(5) Meningkatkan pemecahan masalah dan kemampuan beradaptasi individu (Davis, 1990).
Sehingga siswa mampu menggambarkan isi hati emosinya dengan tepat dan
mengungkapkan perasaan yang dipendamnya melalui tulisan.
METODE
Kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui pelatihan dan pendampingan berupa
pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling dengan pendekatan format klasikal dan
kelompok untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai teknik expressive writing
kepada siswa SMP TMI Roudhatul Qur’an. Kegiatan ini dilakukan sebanyak 2 kali
pertemuan pada tanggal 16-17 Juni 2022. Tahapan dalam pelaksanaan kegiatan untuk
meningkatkan kemampuan dalam pengkungkapan emosi siswa yaitu: 1) Tahap
pembentukan, 2) Tahap Pengalihan, 3) Tahap Kegiatan, 4) Tahap pengakhiran.
103
Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022
untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang dilakukan. Kegiatan yang akan dilakukan oleh
ketua kelompok selama fase ini antara lain menggambarkan kegiatan yang akan dilakukan
pada fase berikutnya, menyarankan atau mengamati apakah anggota siap untuk memulai
kegiatan pada fase berikutnya, menciptakan suasana diskusi tentang hal-hal yang harus
dilakukan dan membangun kesiapan anggota kelompok untuk berpartisipasi. Setelah ketua
kelompok memastikan bahwa anggota kelompok sudah siap, kegiatan dapat dilanjutkan ke
kegiatan inti.
Tahap kegiatan adalah tahapan inti dari kegiatan bimbingan kelompok. Pada
tahapan ini ketua kelompok memastikan dinamika kelompok terus berjalan. Tujuan yang
hendaknya tercapai dalam tahapan ini yaitu terbahasnya topik secara dalam, luas dan tuntas
sehingga anggota kelompok mampu memahami, berpikirkritis, analitis, sistematis dan logis
topik yang didiskusikan. Harapan lain yang hendak dicapai yaitu berkembangnya
kemampuan berkomunikasi dan kemampuan sosialisasi, sikap saling membantu,
menerima, menguatkan, berusaha untuk memperkuat rasa kebersamaan. Kegiatan dalam
tahap ini adalah mengemukan dan menjelaskan topik, berdiskusi, tanyajawab akan hal yang
belum jelas, anggota membahas masing-masing topik secara mendalam, luas, dan tuntas,
menyimpulkan apa yang sudah diperoleh, serta selingan berupa permainan. Setelah
kegiatan inti selesai dilakukan, maka dilanjutkan ke tahap pengakhiran. Pada tahap ini
pemimpin dan anggota kelompok bersama-sama mencari dan mengemukan perilaku baru
apa yang telah dipelajari dan didapatkan dari kelompok.
Tahap akhir ini dianggap sebagai tahap melatih diri klien untuk melakukan
perubahan. Pemimpin kelompok melakukan peninjau kembali (refleksi) kegiatan diskusi
yang baru saja terjadi dan mengukur pengetahuan serta pemahaman baru yang telah
dimiliki anggota kelompok. Kegiatan penutup merupakan akhir dari keseluruhan rangkaian
kegiatan yang difokuskan pada pelibatan anggota kelompok dalam pelaksanaan
kesepakatan bersama, dan kelompok merencanakan kegiatan selanjutnya.
Perencanaan
104
Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022
surat menyurat selesai, kegiatan ini laksanakan pada hari Kamis dan Jum’at, tanggal 16-17
Juni 2022 Pukul 09.00 WIB sampai selesai. Pertemuan pertama dilakukan penyampaian
materi terkait emosi dan teknik expressive writing kepada siswa melalui format klasikal.
Siswa yang berjumlah 15 dikumpulkan dalam satu ruangan kemudian pemimpin kelompok
menyampaikan materi melalui metode ceramah dibantu dengan media powerpoin.
Gambar 1. Pelaksanaan Layanan Informasi terkait Emosi dan Expressive Writing Secara
Klasikal
Pelaksanaan Kegiatan
a. Tahap Pembentukan
Pemimpin kelompok memberikan salam dan ucapan terimakasih kepada siswa atas
partisipasi dan kesediaan siswa dalam mengikuti kegiatan tersebut. Setelah itu dilanjutkan
dengan kegiatan berdoa bersama yang dipimpin oleh pemimpin kelompok. Agar kegiatan
yang akan dilaksanakan diberikan kelancaran dan keberkahan. Setelah berdoa dilanjutkan
dengan menanyakan kabar dan mereka menjawab kabar sehat dan luar biasa, dan juga tidak
lupa mengucapkan terimakasih atas kesediaan siswa untuk ikut serta mengikuti kegiatan.
105
Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022
dengan sesi perkenalan guna untuk mengenal lebih dekat antara pemimpin kelompok dan
siswa yang lainnya. Untuk lebih mencairkan suasana dan meningkatkan keakraban,
pemimpin kelompok memberikan permainan yang Bernama “rangkaian nama”.
Perkenalan dengan permainan rangkaian nama bertujuan agar peserta mudah mengenal dan
menghafal sesame peserta, sehingga keakraban dan kebersamaan lebih mudah terbangun.
Dalam pelaksanaannya peserta harus meningkatkan perhatian agar lebih mudah mengingat,
serta memberikan suasana yang mengembirakan, sehingga suasana kelompok menjadi lebih
hangat dan menyenangkan. Setiap anggota berusaha saling mengenal dan menyebutkan
dengan benar nama-nama semua anggota, sehingga semua anggota merasa diakui oleh
anggota lainnya, berkembangnya perasaan dalam kelompok.
b. Tahap Peralihan
c. Tahap Kegiatan
106
Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022
Tahap akhir dari kegiatan teknik Expressive writing yaitu siswa didorong untuk
mengaplikasikan pengetahuan baru yang didapatkan dalam kelompok ini ke dalam
kehidupan sehari-hari mereka. Pemimpin kelompok membantu siswa mengkonsolidasikan
apa yang telah mereka pelajari selama sesi menulis dengan merefleksikan apa yang perlu
diubah dan ditingkatkan dan apa yang perlu dipertahankan. Ketua kelompok juga harus
menanyakan apakah siswa merasa tidak nyaman karena proses penulisan atau apakah
mereka merasa ada bantuan ekstra dalam memecahkan masalah.
107
Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022
d. Tahap Pengakhiran
Dari sini, siswa di arahkan untuk menentukan sikap dan Tindakan apa yang patut
diambil dan dilakukan setelah kegiatan ini. Diharapkan jika setelah kegiatan ini siswa
mengalami permasalahn emosi, maka siswa bisa sedikit lebih paham dengan antisipasti
yang harus dilakukan. Selanjutnya pemimpin kelompok meminta siswa untuk
menyampaikan kesan setelah dilakukan kegiatan tersebut. Menurut siswa kegiatan yang
dilakukan sangat seru dan asyik, dimana siswa menjadi paham bahwasannya menyimpan
permasalahan dan emosi sendiri tidak selalu baik, justru bisa berdampak pada hal yang
cukup serius untuk kesehatan psikologis. Setelah semuanya dianggap selesai, maka
pemimpin kelompok menyampaikan bahwa kegiatan akan segera diakhiri, dan dilanjutkan
dengan melakukan foto bersama dan salam berpisah.
Kematangan emosi berkaitan erat dengan usia seseorang dan diharapkan menjadi
lebih matang dan mampu mengelola atau mengendalikan emosi. Namun, ini tidak berarti
bahwa seiring bertambahnya usia, mereka secara otomatis mengendalikan emosi mereka.
Betts, Gullone dan Allen menjelaskan salah satu faktor yang mampu mengurangi risiko
gangguan depresi dan memberikan kontribusi pada Kesehatan psikologis pada remaja
adalah kemampuan mengelola emosi yang baik (Betts dkk., 2009) (Putri dkk., 2018).
108
Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022
KESIMPULAN
Pelaksanaan kegiatan teknik exspressive writing bagi siswa merupakan suatu
kegiatan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengekpresikan emosinya. Emosi
sebagai unsur kepribadian perlu pelajari agar mengetahui hakikatnya, cara
mengendalikannya dan cara mengarahkannya. Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari
ini berjalan sesuai dengan rencana yang telah disusun dalam Rancangan Pelaksanaan
Layanan (RPL). Hari pertama pemberian materi terkait emosi secara klasikal dan di hari
kedua dilanjut dengan penerapan teknik exspressive writing dengan pendekatan kelompok.
Pendekatan kelompok dilakukan dengan empat tahapan yaitu pembentukan, peralihan,
kegiatan dan pengakhiran. Kegiatan dalam kelompok berupakan Latihan menerapkan
teknik tersebut kemudian merefleksi dan mendiskusikan hasilnya. Dengan adanya kegiatan
ini diharapkan siswa memperoleh pengetahuan dan pemahaman baru yang lebih dalam
tentang dirinya, diaplikasikan, dan berlanjut melakukan tingkahlaku baru dikemudian hari.
REFERENSI
Betts, J., Gullone, E., & Allen, J. S. (2009). An examination of emotion regulation,
temperament, and parenting style as potential predictors of adolescent depression
risk status: A correlational study. British Journal of Developmental Psychology, 27(2),
473–485.
Cheng, V. W. S., Davenport, T. A., Johnson, D., Vella, K., Mitchell, J., & Hickie, I. B.
(2018). An app that incorporates gamification, mini-games, and social connection
to improve men's mental health and well-being (MindMax): Participatory design
process. JMIR mental health, 5(4), e11068.
109
Semanggi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Volume 1 Nomor 02, Oktober 2022
Davis, L. (1990). The Courage to Heal Workbook: A Guide for Women Survivors of Child Sexual
Abuse. Harper Collins.
Goleman, D. (2009). Emotional Intelligence. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Huppert, F. A. (2009). Psychological well‐being: Evidence regarding its causes and
consequences. Applied psychology: health and well‐being, 1(2), 137–164.
Hurlock, E. B. (2004). Psikologi Perkembangan. Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama.
Lee, J. (2020). Mental health effects of school closures during COVID-19. The Lancet Child
& Adolescent Health, 4(6), 421. [Link]
Malchiodi, C.A. (2007). Expressive Therapies. New York: The Guilford Press.
Mappiare, A. (2003). Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.
Pennebaker, J. W. (1997). Writing about emotional experiences as a therapeutic process.
Psychological science, 8(3), 162–166.
Putri, D. W. L., Uyun, Q., & Sulistyarini, I. (2018). Pelatihan Regulasi Emosi Untuk
Meningkatkan Kesejahteraan Subjektif Orang dengan Hipoertensi Esensial.
PHILANTHROPY: Journal of Psychology, 1(1), 1–16.
Qonitatin, N., Widyawati, S., & Asih, G. Y. (2011). Pengaruh katarsis dalam menulis
ekspresif sebagai intervensi depresi ringan pada mahasiswa. Jurnal Psikologi, 9(1).
Rahma, F. N., Wulandari, F., & Husna, D. U. (2021). Pengaruh Pembelajaran Daring di
Masa Pandemi Covid-19 bagi Psikologis Siswa Sekolah Dasar. EDUKATIF : Jurnal
Ilmu Pendidikan, 3(5), 2470–2477. [Link]
Walgito, B. (2010). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset.
110