LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEBIDANAN BERKESINAMBUNGAN PADA NY. N USIA
20 TAHUN G1P0AB0 USIA KEHAMILAN 34-35 MINGGU DARI
MASA KEHAMILAN TRIMESTER III SAMPAI DENGAN KB DI
PMB KIS RITA DAMPIT, KABUPATEN MALANG
Diajukan sebagai Tugas Individu Praktik Klinik
Program Studi Pendidikan Profesi Bidan
Oleh:
Ninik Ernawati
238211075
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN
IIK STRADA INDONESIA
KEDIRI
2024
ASUHAN KEBIDANAN BERKESINAMBUNGAN PADA NY. N USIA
20 TAHUN G1P0AB0 USIA KEHAMILAN 34-35 MINGGU DARI
MASA KEHAMILAN TRIMESTER III SAMPAI DENGAN KB DI
PMB KIS RITA DAMPIT, KABUPATEN MALANG
Diajukan sebagai Tugas Individu Praktik Klinik
Program Studi Pendidikan Profesi Bidan
Oleh:
Ninik Ernawati
238211075
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN
IIK STRADA INDONESIA
KEDIRI
2024
LEMBAR PENGESAHAN
Asuhan Kebidanan Berkesinambungan Pada Ny. N Usia 20 Tahun G1P0A0 Usia
Kehamilan 34-35 Minggu Dari Masa Kehamilan Trimester III Sampai Dengan KB Di Pmb
Kis Rita dampit, telah disahkan oleh pembimbing pada :
Hari :
Tanggal :
Malang ………………..2024
Mahasiswa
Ninik Ernawati
238211075
Pembimbing Klinik Pembimbing Akademik
(Kis Rita Str Keb) (Bd. Eri Puji Kumalasari, SST, [Link], [Link])
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Salah satu prioritas dalam peningkatan pelayanan kesehatan adalah kesehatan
ibu dan anak, dimana indikatornya bisa dilihat dari Angka Kematian Ibu (AKI) dan
Angka Kematian Bayi (AKB), sedangkan gerakan Keluarga Berencana (KB)
digunakan sebagai indikator kesejahteraan ibu dan anak. Kematian Ibu merupakan
jumlah kematian yang dialami ibu terkait dengan masa kehamilan, persalinan, dan nifas
maupun pengelolaannya, jadi bukan disebabkan oleh kecelakaan maupun insidental
(Nur Fadjri Nilakesuma, 2020). Sedangkan menurut Homisiatur dan Agustina (dalam
SDKI, 2012) Kematian Bayi merupakan gambaran jumlah kematian bayi yang terjadi
antara saat, setelah, sampai bayi lahir sebelum mencapai usia satu tahun yakni antara
usia 0-11 bulan. Dalam hal ini, bidan memiliki peran yang sangat penting karena
kedudukannya sebagai penentu dalam upaya peningkatan sumber daya terutama
kesehatan ibu dan anak melalui kompetensinya, peran tersebut mencakup asuhan
berkesinambungan (Continuity of Care) yakni asuhan yang diberikan selama masa
kehamilan, persalinan, nifas, dan juga pada saat ibu ingin menentukan mengikuti
program keluarga berencana (Hardiningsih, 2020).
Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) tahun 2016 diketahui
AKI di Indonesia masih tergolong tinggi yakni 305 kematian ibu per 100.000 kelahiran
hidup. Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, pada tahun 2020 AKI di
Provinsi Jawa Timur mencapai 98,39 per 100.000 kelahiran hidup, angka tersebut
meningkat dibandingkan tahun 2019 yang mencapai 89,81 per 100.000 kelahiran
hidup. Sedangkan untuk AKI di Kota Malang pada tahun 2020 mencapai 86 per
100.000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Kota Malang, 2020). Penyebab tingginya
kasus AKI di Jawa Timur pada tahun 2020 adalah hipertensi dalam kehamilan yaitu
sebesar 26,90% atau sebanyak 152 orang, perdarahan 21,59% atau sebanyak 122
orang, dan penyebab lain-lain yaitu 37,17% atau sebanyak 210 orang, serta yang
disebabkan oleh faktor penyakit yang menyertai kehamilan dan COVID-19 sebanyak
56 orang.
Asuhan kebidanan berkesinambungan dan berkualitas selama kehamilan,
persalinan, nifas, neonatus, dan masa antara bisa mendeteksi dini terjadinya berbagai
masalah hingga komplikasi. Beberapa komplikasi pada kehamilan yang dapat terjadi
adalah perdarahan pada kehamilan, hiperemesis gravidarum, preeklampsia, Ketuban
Pecah Dini, dan kematian janin dalam rahim (Martaadisoebrata dkk, 2015). Komplikasi
pada persalinan yang dapat terjadi yaitu atonia uteri, retensio plasenta, robekan jalan
lahir atau laserasi (Sulis Diana dkk, 2019). Sedangkan komplikasi pada bayi baru lahir
terdiri dari Berat Badan Lahir Rendah, persalinan prematur, gawat janin, dan sindrom
aspirasi mekonium (Tarsikah dkk, 2020). Pada masa nifas bidan harus selalu
melakukan pemantauan secara berkala, karena pelaksanaan asuhan kebidanan yang
kurang maksimal pada ibu dapat menyebabkan berbagai masalah. Salah satu peran
bidan yang memiliki posisi strategis untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut
adalah melalui asuhan kebidanan berkesinambungan dalam lingkup kebidanan. Asuhan
tersebut dapat dilakukan oleh bidan dengan melakukan asuhan kebidanan
berkesinambungan (Continuity of Care), yang merupakan asuhan yang diberikan
kepada ibu dan bayi secara berkesinambungan yang dimulai pada saat kehamilan,
persalinan, nifas, neonatus dan masa antara.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk memberikan asuhan
kebidanan berkesinambungan pada ibu hamil, bersalin, nifas, neonatus, dan masa
antara sesuai dengan manajemen asuhan kebidanan yang penulis laksanakan pada Ny.
A di PMB Inawati Turen, Kabupaten Malang. Dengan dilakukannya asuhan
berkesinambungan ini, diharapkan adanya hubungan yang kooperatif, komunikatif
serta sifat keterbukaan pasien kepada bidan terhadap keadaan maupun masalah yang
dialami. Sehingga, bidan dapat memaksimalkan asuhan yang diberikan sesuai dengan
kebutuhan dan kondisi pasien, dengan harapan seluruh proses yang dialami ibu dan
bayi mulai dari masa kehamilan, proses persalinan, masa nifas, neonatus dan juga masa
antara dapat berlangsung secara fisiologis tanpa adanya komplikasi.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif dan berkesinambungan pada ibu
hamil trimester III, proses persalinan dan BBL, masa nifas, neonatus, dan masa
antara dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan Varney di PMB Kis
rita.
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian pada ibu hamil trimester III, proses persalinan dan BBL,
masa nifas, neonatus, dan masa antara.
b. Menyusun diagnosa dan masalah kebidanan sesuai dengan prioritas dalam siklus
asuhan kebidanan.
c. Merencanakan asuhan kebidanan secara komprehensif dan berkesinambungan pada
setiap siklus asuhan kebidanan.
d. Melaksanakan asuhan kebidanan secara komprehensif dan berkesinambungan pada
setiap siklus asuhan kebidanan.
e. Mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah dilakukan berdasarkan tujuan yang
telah ditetapkan
f. Mendokumentasikan asuhan kebidanan yang telah dilakukan menggunakan metode
SOAP
1.3 Metode Pengumpulan Data
1. Anamnesa
Data yang didapatkan dari wawancara atau tanya jawab dengan pasien.
2. Pengamatan
Data diperoleh dari pengamatan langsung petugas pada pasien.
3. Praktik
Data diperoleh dari melakukan pemeriksaan langsung kepada pasien.
4. Studi Pustaka
Data didapatkan dari buku atau data pendukung terlaksananya asuhan kebidanan.
1.4 Sistematika Penulisan
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Metode Penulisan
1.4 Sistematika Penulisan
BAB II Konsep Teori
BAB III Tinjauan Kasus
3.1 Pengkajian
3.2 Identifikasi Diagnosa dan Masalah Aktual
3.3 Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial
3.4 Identifikasi Kebutuhan Segera
3.5 Intervensi
3.6 Implementasi
3.7 Evaluasi
BAB IV Pembahasan
BAB V Penutup
Daftar Pustaka
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 KONSEP DASAR ASUHAN KEBIDANAN
2.1.1. Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Berkesinambungan
Asuhan kebidanan berkesinambungan merupakan asuhan yang memungkinkan
perempuan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan tentang kesehatan
mereka dan perawatan kesehatan. Asuhan ini merupakan asuhan yang diberikan oleh
bidan kepada wanita selama proses kehamilan, persalinan, dan periode pasca persalinan
serta memberikan perawatan pada bayi baru lahir (Sulis Diana, 2017). Asuhan
berkesinambungan ini menitikberatkan pada hubungan satu-satu, yakni antara pasien
dan pemberi asuhan dengan harapan bisa terbangun partnership yang baik dengan
pasien, sehingga terbina hubungan saling percaya. Upaya tersebut bisa dimulai dari
kehamilan sampai dengan masa menyusui, dimana pada masa itu merupakan masa
yang tepat untuk bidan bekerja sama dengan perempuan untuk mendiskusikan
harapannya dan ketakutannya mengenai proses kelahiran dan proses menjadi ibu, serta
membangun kepercayaan dirinya. Melalui asuhan kebidanan berkesinambungan bidan
bisa bekerja sama dengan keluarga dalam mengatasi ketakutan yang dirasakan oleh
perempuan dan mencegah kesalahpahaman, proses pemecahan masalah dapat semakin
mudah karena setiap perempuan dapat mengeksplorasi informasi dengan baik dan
membuat keputusan terbaik untuk dirinya. Asuhan berkesinambungan ini berhubungan
dengan berkurangnya penggunaan teknologi dan intervensi farmakologi dalam
persalinan, sehingga bisa meningkatkan kesehatan ibu dan bayi dengan efek samping
minimal dan meningkatkan persentase persalinan normal, karena pada saat memasuki
fase persalinan dia berkenan dan mempunyai kepercayaan diri untuk membiarkan dan
percaya pada tubuhnya untuk menjalankan proses persalinan.
2.1.2. Konsep Dasar Kehamilan
1. Pengertian Kehamilan
Kehamilan merupakan suatu proses yang fisiologis dan alamiah, dimana
setiap perempuan yang memiliki organ reproduksi sehat, telah mengalami
menstruasi, dan melakukan hubungan seksual dengan pria yang sehat,
kemungkinan besar akan mengalami kehamilan (Nugrawati dan Amriani, 2021).
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya bayi dengan lama 280 hari
atau 40 minggu yang dihitung dari hari pertama haid terakhir (Fatimah dan
Nuryaningsih, 2017).
Kehamilan dibagi dalam tiga trimester, yaitu kehamilan trimester pertama,
trimester kedua, dan trimester ketiga. Trimester pertama adalah dari minggu
pertama sampai minggu ke-12 dan termasuk pembuahan, trimester kedua adalah
dari minggu ke-13 sampai minggu ke-28, dan trimester ketiga dari minggu ke-29
sampai kira-kira 40 minggu dan diakhiri dengan kelahiran bayi (Stephanie dkk,
2016).
2. Tanda-Tanda Kehamilan
a. Tanda Tidak Pasti Hamil
Amenorrhea (kondisi berhentinya menstruasi akibat kenaikan hormon
progesteron dan estrogen yang dihasilkan oleh korpus luteum), mual muntah,
mengidam, payudara membesar, pigmentasi kulit, sering miksi, dan anoreksia.
b. Tanda Mungkin Hamil
Perut membesar, uterus membesar, tanda Hegar yakni melunaknya isthmus
uteri sehingga serviks dan korpus uteri seolah-olah terpisah yang terjadi sekitar 4
sampai 8 minggu setelah pembuahan, tanda Chadwick yakni tanda biru keunguan
pada mukosa vagina karena adanya hiperpigmentasi dan peningkatan hormon
estrogen, tanda Piskacek yakni pembesaran uterus yang tidak merata sehingga
dapat terlihat menonjol pada salah satu sisi terutama pada daerah implantasi, tanda
Goodell yakni pelunakan serviks yang disebabkan vaskularisasi leher rahim akibat
hormon estrogen dan progesteron, teraba ballotement, dan adanya braxton hicks.
c. Tanda Pasti Hamil
Terdengarnya denyut jantung janin, tanda ini timbul setelah kehamilan
lanjut diatas empat bulan. Adanya pergerakan janin yang dirasakan atau dilihat
oleh pemeriksa. Gerakan janin primigravida dapat dirasakan pada kehamilan 18-
20 minggu, sedangkan multigravida pada kehamilan 16 minggu. Pada
pemeriksaan USG, terlihat gambaran janin berupa ukuran kantong janin, panjang
janin, dan diameter biparietal hingga dapat diperkirakan tuanya kehamilan. Pada
pemeriksaan rontgen terlihat adanya rangka janin (>16 minggu) (Catur Leni dkk,
2021).
3. Perubahan Fisik Ibu Hamil
a. Uterus
Pada wanita yang tidak hamil, uterus merupakan suatu struktur yang hampir
solid dengan berat sekitar 70 gram dan rongga berukuran 10 ml. Selama
kehamilan, uterus berubah menjadi organ muskular dengan dinding relatif tipis
yang mampu menampung janin, plasenta, dan cairan amnion. Volume total isi
uterus pada kehamilan aterm sekitar 5 liter, namun bisa juga mencapai 20 liter
atau lebih. Pada akhir kehamilan, uterus akan mencapai kapasitas kapasitas 500-
1000 kali lebih besar daripada keadaan tidak hamil.
b. Ovarium
Terjadinya kehamilan menyebabkan indung telur yang mengandung korpus
luteum gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya plasenta
yang sempurna pada usia kehamilan 16 minggu. Dimana kejadian tersebut tidak
terlepas dari kemampuan vili korialis yang mengeluarkan hormon korionik
gonadotropin yang mirip dengan hormon luteotropik hipofisis anterior.
c. Serviks
Serviks akan bertambah vaskularisasinya dan bertambah lunak yang disebut
tanda goodell, kelenjar endosen atau ikal membesar dan mengeluarkan banyak
cairan mucus. Karena pertambahan dan pelebaran pembuluh darah, warnanya
menjadi lifit yang disebut tanda Chadwick.
d. Vagina dan Perineum
Selama kehamilan, terjadi peningkatan vaskularisasi dan hiperemia di kulit
dan otot perineum dan vulva disertai dengan pelunakan jaringan ikat di bawahnya.
Meningkatnya vaskularisasi mempengaruhi vagina dan menyebabkan warnanya
menjadi keunguan yang disebut tanda Chadwick. Dinding vagina mengalami
perubahan mencolok sebagai persiapan untuk meregang saat proses persalinan.
e. Payudara
Pada awal kehamilan, perempuan akan merasakan payudaranya menjadi
lebih lunak. Setelah bulan kedua, payudara akan bertambah ukurannya dan vena-
vena di bawah kulit akan terlihat, puting payudara akan lebih besar, kehitaman,
dan tegak. Setelah bulan kedua akan keluar suatu cairan berwarna kekuningan
yang disebut kolostrum yang berasal dari sekresi kelenjar asinus, pada bulan yang
sama areola lebih besar dan kehitaman, dimana kelenjar montgomery atau sebasea
pada areola membesar dan menonjol keluar.
f. Sistem Pernapasan
Pada wanita hamil biasanya akan mengeluh sesak nafas dan nafas pendek,
hal tersebut terjadi karena usus tertekan ke arah diafragma akibat pembesaran
rahim. Kapasitas vital paru akan sedikit meningkat selama kehamilan, dimana ibu
cenderung melakukan pernapasan dada.
g. Sistem Pencernaan
Seiring dengan bertambahnya ukuran uterus, maka lambung dan usus akan
bergeser, apendiks akan bergeser ke arah atas dan lateral. Selain itu, akan terjadi
penurunan motilitas otot polos pada traktus digestivus dan penurunan sekresi
asam hidroklorida dan pepsin di lambung, sehingga menimbulkan gejala berupa
pirosis atau heartburn yang disebabkan oleh refluks asam lambung ke esofagus
sebagai akibat dari perubahan posisi lambung dan menurunnya tonus sfingter
esofagus bagian bawah. Mual terjadi karena penurunan asam hidroklorida dan
penurunan motilitas, sedangkan konstipasi terjadi karena penurunan motilitas usus
besar.
h. Sistem Integumen
Pada kulit akan terjadi perubahan deposit pigmen dan hiperpigmentasi
karena pengaruh Melanophore Stimulating Hormon lobus hipofisis anterior dan
pengaruh kelenjar suprarenalis. Hiperpigmentasi ini terjadi pada striae alba,
areola mammae, papilla mammae, linea nigra, dan cloasma gravidarum.
i. Sistem Perkemihan
Ginjal akan membesar, glomerular filtration rate, dan renal plasma flow
juga akan meningkat.
j. Kelenjar Endokrin
Kelenjar tiroid membesar sedikit, kelenjar hipofisis membesar terutama
pada lobus anterior, dan pada kelenjar adrenal tidak akan begitu terpengaruh.
k. Sistem Kardiovaskuler
Peredaran darah ibu akan dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan
sirkulasi darah sehingga dapat memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan
perkembangan janin di dalam rahim, terjadi hubungan langsung antara arteri dan
vena pada sirkulasi retroplasenter, serta peningkatan pengaruh hormon estrogen
dan progesteron. Volume darah semakin meningkat dan jumlah serum darah lebih
besar dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi hemodilusi atau pengenceran
darah. Jumlah sel darah merah semakin meningkat untuk mengimbangi
pertumbuhan janin dalam rahim, namun karena pertambahan sel darah tidak
seimbang dengan peningkatan volume darah maka terjadilah hemodilusi yang
disertai anemia fisiologis.
l. Sistem Muskuloskeletal
Pada kehamilan umumnya ibu akan mengalami lordosis yang progresif,
yang diakibatkan oleh kompensasi dari pembesaran uterus ke posisi anterior,
dimana lordosis akan menggeser pusat daya berat ke belakang ke arah dua
tungkai. Selain itu, ibu hamil juga akan mengalami peningkatan mobilitas yang
disebabkan oleh pengaruh hormonal dimana ibu akan merasa tidak nyaman pada
area bawah punggung (Mochtar, 2012).
4. Perubahan Psikologis Ibu Hamil
a. Perubahan Psikologis pada Trimester I
Ibu merasa tidak sehat dan kadang merasa benci dengan kehamilannya,
kadang muncul penolakan atau kekecewaan bahkan ibu berharap dirinya tidak
hamil, ibu selalu mencari tanda-tanda apakah ia benar-benar hamil atau tidak,
setiap perubahan yang terjadi dalam dirinya akan selalu mendapat perhatian
dengan seksama, ketidakstabilan emosi dan suasana hati, rasa cemas bercampur
bahagia, perubahan emosional, sikap ambivalen, ketidaknyamanan atau
ketidakpastian, perubahan seksual, fokus pada diri sendiri, stress, dan juga
goncangan psikologis.
b. Perubahan Psikologis pada Trimester II
Ibu sudah merasa sehat dan sudah terbiasa dengan kadar hormon yang
tinggi, ibu sudah menerima kehamilannya, ibu sudah dapat merasakan gerakan
bayi, terasa terlepas dari ketidaknyamanan dan kekhawatiran, merasa bahwa bayi
sebagai individu yang merupakan bagian dari dirinya, hubungan sosial meningkat
dengan wanita hamil lainnya maupun orang lain, ketertarikan dan aktivitasnya
terfokus pada kehamilan, perut ibu belum terlalu besar sehingga belum dirasa
beban oleh ibu, rasa khawatir, perubahan emosional, dan ada keinginan
berhubungan seksual.
c. Perubahan Psikologis pada Trimester III
Rasa tidak nyaman timbul kembali, merasa tidak menyenangkan ketika bayi
tidak lahir tepat waktu, takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang akan timbul
pada saat melahirkan, khawatir bayi akan dilahirkan dalam keadaan tidak normal,
ibu tidak sabar menunggu kelahiran bayinya, semakin ingin menyudahi
kehamilannya, aktif mempersiapkan kelahiran bayinya, bermimpi dan berkhayal
tentang bayinya, muncul rasa tidak nyaman, dan terjadi perubahan emosional.
5. Kebutuhan Dasar Ibu Hamil
a. Nutrisi
Nutrisi dan gizi yang baik pada pada masa kehamilan akan sangat
membantu ibu hamil dan janinnya melewati masa kehamilan, pada dasarnya menu
makan yang diperlukan adalah pola makan yang sehat. Dengan kebutuhan nutrisi
yang meningkat seperti kalsium, zat besi, dan asam folat maka ibu hamil perlu
dikontrol kenaikan berat badannya. Pada masa kehamilan ibu hamil membutuhkan
kalori sekitar 300-400 kkal per hari, asam folat dalam jumlah cukup banyak untuk
pembentukan saraf janin pada trimester I, protein sekitar 60 gram per hari,
kalsium dengan jumlah cukup untuk menghindari osteoporosis, serta zat besi
untuk membentuk sel darah merah serta mencegah anemia.
b. Personal Hygiene
Personal hygiene berguna untuk mengurangi infeksi yang bisa dilakukan
dengan perawatan rambut, perawatan gigi, mandi untuk menjaga kebersihan kulit
dan mencegah infeksi, perawatan payudara, serta perawatan vulva dan vagina.
c. Olahraga
Senam hamil merupakan olahraga yang bermanfaat untuk memperkuat dan
mempertahankan kelenturan otot-otot dinding perut dan dasar panggul yang
penting untuk proses persalinan. Selain itu, senam hamil bermanfaat untuk
melatih sikap tubuh selama hamil untuk memperingan keluhan seperti nyeri
pinggang.
d. Istirahat
Selama masa kehamilan, ibu hamil membutuhkan tidur selama 6-8 jam
dalam sehari karena perubahan tubuh membuat ibu merasa mudah lelah dan
mengantuk.
e. Aktivitas
Ibu hamil dianjurkan untuk tetap melakukan aktivitas fisik yang ringan,
dimana hal tersebut akan membuat ibu hamil merasa sehat dan lebih fit. Ibu hamil
juga dianjurkan untuk menghindari bahan kimia dalam rumah tangga seperti
cairan pembersih lantai, pestisida tanaman, dan juga obat serangga.
6. Tanda Bahaya Kehamilan
a. Terjadinya perdarahan melalui jalan lahir, baik sedikit maupun banyak.
b. Keluar cairan ketuban dari jalan lahir sebelum kehamilan cukup umur.
c. Janin tidak bergerak atau pergerakannya jarak selama 12 jam.
d. Timbul pembengkakan, awalnya pada bagian kaki dan tidak hilang setelah
istirahat dan berbaring disertai nyeri kepala, mual, dan juga nyeri ulu hati. Yang
dikatakan eklampsia jika diikuti dengan kaburnya penglihatan dan kejang-kejang.
e. Penurunan berat badan secara terus menerus.
7. Standar Asuhan Kebidanan Kehamilan
a. Penimbangan Berat Badan dan Pengukuran Tinggi Badan
Berat badan diukur dalam kg tanpa sepatu dan memakai pakaian seringan-
ringannya, berat badan yang bertambah terlalu besar atau kurang perlu
mendapatkan perhatian khusus, karena memungkinkan terjadi penyulit kehamilan.
b. Pengukuran Tekanan Darah
Mengukur tekanan darah dengan posisi ibu hamil duduk atau berbaring,
tekanan darah di atas 140/90 mmHg atau peningkatan diastol 15 mmHg/lebih
sebelum kehamilan 20 minggu atau paling sedikit pada pengukuran dua kali
berturut-turut pada selisih waktu 1 jam berarti ada kenaikan dan ibu perlu dirujuk.
c. Penetapan Status Gizi
Dilakukan dengan pengukuran LILA untuk mendeteksi adanya
kemungkinan Kekurangan Energi Kronis.
d. Pengukuran Tinggi Fundus Uteri
Pemeriksaan kehamilan untuk menentukan tuanya kehamilan dan berat
janin dilakukan dengan pengukuran tinggi fundus uteri yang dapat dihitung dari
tanggal haid terakhir yang menggunakan rumus.
e. Tentukan Presentasi Janin dan Hitung DJJ.
Dilakukan untuk mendeteksi secara dini ada tidaknya faktor-faktor risiko
kematian perinatal.
f. Penentuan Status Imunisasi Tetanus Toksoid
Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid pada kehamilan umumnya diberikan
2 kali saja, imunisasi pertama diberikan pada kehamilan 16 minggu dan yang
kedua 4 minggu kemudian.
g. Pemberian Tablet Besi Minimal 90 Tablet Selama Masa Kehamilan
Pada masa kehamilan, kekurangan zat besi bisa mempertinggi resiko
komplikasi saat persalinan dan resiko BBLR sera premature
h. Tes Laboratorium
i. Temu Wicara (Konseling dan Pemecahan Masalah)
Dilakukan pada setiap kunjungan, berupa anamnesa, konsultasi, dan
persiapan rujukan.
j. Tatalaksana Kasus atau Mendapatkan Pengobatan
Dilakukan apabila hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan penyakit,
berarti ibu hamil perlu dilakukan perawatan khusus.
2.1.3. Konsep Dasar Persalinan
1. Pengertian Persalinan
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks, dari janin turun ke
dalam jalan lahir. Persalinan merupakan proses pengeluaran hasil konsepsi yang
telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui
jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan. Menurut World Health Organization
(WHO), persalinan normal merupakan persalinan yang dimulai secara spontan,
beresiko rendah pada awal persalinan dan tetap demikian selama proses persalinan,
bayi dilahirkan spontan dengan presentasi belakang kepala pada usia kehamilan 37
minggu sampai 42 minggu, dan setelah proses persalinan kondisi ibu dan bayi sehat.
2. Tanda dan Gejala Persalinan
a. Lightening
Dimulai kira-kira dua minggu menjelang persalinan, yakni penurunan
bagian presentasi bayi ke dalam pelvis minor. Lightening akan menimbulkan
perasaan tidak nyaman karena tekanan pada bagian presentasi pada struktur di
area pelvis minor sehingga ibu akan sering berkemih, perasaan tidak nyaman
akibat tekanan panggul yang menyeluruh, kram pada tungkai yang disebabkan
oleh tekanan bagian presentasi pada saraf, peningkatan statis vena yang
menghasilkan edema, karena terhambatnya aliran balik darah ke ekstremitas
bawah.
b. Polakisuria
Pada akhir bulan k-9 didapatkan hasil pemeriksaan epigastrium kendor,
fundus uteri lebih rendah daripada kedudukannya, dan kepala janin sudah mulai
masuk ke dalam pintu atas panggul. Hal tersebut menyebabkan kandung kemih
tertekan, sehingga merangsang ibu untuk sering kencing.
c. False Labor
Kontraksi palsu timbul akibat kontraksi braxton hicks yang tidak nyeri dan
sudah berlangsung sejak kehamilan enam minggu.
d. Perubahan Serviks
Mendekati persalinan serviks semakin matang, dimana hal tersebut
mengindikasikan kesiapan untuk proses persalinan.
e. Bloody Show
Flek lendir disekresi sebagai hasil proliferasi kelenjar lendir serviks pada
awal kehamilan, yang merupakan pelindung dan menutup jalan lahir selama
kehamilan. Pengeluaran plak inilah yang disebut dengan bloody show.
f. Energy Spurt
Umumnya wanita merasa energik beberapa jam, bersemangat melakukan
berbagai aktivitas rumah tangga yang sebelumnya tidak mampu dilaksanakan.
g. Gangguan Saluran Pencernaan
Diare, kesulitan mencerna, mual, dan muntah merupakan gejala menjelang
persalinan.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persalinan
a. Power (Kekuatan)
Power merupakan kekuatan yang mendorong janin keluar yakni his,
kontraksi otot-otot perut, kontraksi diafragma, dan aksi dari ligamen. His adalah
kontraksi uterus disebabkan oleh otot-otot polos rahim bekerja dengan baik dan
sempurna dengan sifat kontraksi simetris, fundus dominan, dan diikuti relaksasi.
b. Passage
Passage atau jalan lahir dibagi menjadi dua yakni bagian keras tulang
panggul (rangka panggul) dan bagian lunak (otot, jaringan, dan ligament).
c. Passenger
Meliputi sikap janin, letak janin, presentasi janin, bagian terbawah, dan
posisi janin. Sikap janin menunjukkan hubungan bagian-bagian janin dengan
sumbu janin, biasanya terhadap tulang punggungnya, janin umumnya dalam sikap
fleksi dimana kepala, tulang punggung, dan kaki dalam keadaan fleksi,lengan
bersilang ke dada. Letak janin adalah bagaimana sumbu janin berada pada sumbu
ibu, misalnya letak lintang dimana sumbu janin tegak lurus pada sumbu ibu, letak
membujur dimana sumbu janin sejajar dengan sumbu ibu dimana bisa letak kepala
atau letak sungsang. Presentasi digunakan untuk menentukan bagian janin yang
ada di bagian bawah rahim, dimana dapat diketahui dengan palpasi maupun
pemeriksaan dalam. Bagian terbawah janin sama dengan presentasi, namun lebih
diperjelas istilahnya. Sedangkan posisi janin merupakan indikator bagian
terbawah janin apakah sebelah kanan, kiri, depan atau belakang terhadap sumbu
ibu.
d. Psikologis Ibu
Tingkat kecemasan selama proses persalinan akan meningkat jika ibu
memahami apa yang terjadi pada dirinya. Dukungan psikologis dari orang-orang
terdekat akan membantu memperlancar proses persalinan.
e. Penolong
Peran dari penolong adalah mengantisipasi dan menangani komplikasi yang
mungkin terjadi pada ibu maupun janin, proses ini tergantung dari kemampuan
atau keterampilan dan kesiapan penolong dalam menghadapi persalinan.
4. Pembagian Kala dalam Persalinan
a. Kala I Persalinan
Dimulai sejak adanya his yang teratur dan meningkat, yang menyebabkan
pembukaan sampai serviks membuka lengkap (10 cm). Kala I terdiri dari dua fase,
yakni fase laten dan fase aktif. Fase laten dimulai sejak awal kontraksi yang
menyebabkan pembukaan sampai pembukaan 3 cm, umumnya berlangsung
selama 8 jam. Sedangkan fase laten dibagi menjadi 3, yakni fase akselerasi yang
berlangsung selama 2 jam dimana pembukaan 3 cm menjadi 4 cm, fase dilatasi
maksimal yang berlangsung selama 2 jam dimana pembukaan berlangsung secara
cepat dari 4 cm menjadi 9 cm, dan fase deselerasi yang berlangsung selama 2 jam
dimana pembukaan berlangsung secara lambat dari 9 cm menjadi 10 cm. Pada
primipara berlangsung selama 12 jam dan pada multipara sekitar 8 jam.
b. Kala II Persalinan
Dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap dan berakhir dengan
lahirnya bayi, ditentukan dengan pemeriksaan dalam yang hasilnya pembukaan
serviks lengkap, dan terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina.
Proses kala II berlangsung selama 2 jsm pada primipara dan 1 jam pada multipara,
dalam kondisi normal kepala janin sudah masuk dalam dasar panggul, sehingga
pada saat his dirasakan tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara reflek
menimbulkan rasa ingin mengejan, dimana ibu akan merasa ada tekanan pada
rektum dan terasa seperti akan buang air besar.
Kemudian perineum mulai menonjol dan melebar dengan membukanya
anus, labia mulai membuka dan tidak lama kemudian kepala janin tampak di
vulva saat ada his. Dengan kekuatan his dan mengejan maksimal kepala
dilahirkan dengan suboksiput di bawah simpisis dan dahi, muka, dan dagu
melewati perineum. Setelah his istirahat sebentar, maka his mulai lagi untuk
mengeluarkan anggota badan bayi.
c. Kala III Persalinan
Dimulai segera setelah bayi lahir dan berakhir dengan lahirnya plasenta
serta selaput ketuban yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit, biasanya
plasenta lepas dalam waktu 6 sampai 15 menit setelah bayi lahir dan keluar
spontan atau dengan tekanan dari fundus uteri.
d. Kala IV Persalinan
Dimulai setelah lahirnya plasenta sampai 2 jam postpartum (Nurasiah,
2012).
5. Komplikasi dalam Persalinan
a. Atonia Uteri
Merupakan uterus tidak berkontraksi selama 15 detik setelah dilakukan
masase fundus uteri yang disebabkan oleh partus lama, pembesaran uterus yang
berlebihan pada waktu hamil, multiparitas, anestesi yang dalam, anastesi lumbal,
umur yang terlalu muda atau terlalu tua, multipara dengan jarak kelahiran pendek,
malnutrisi, dan penanganan salah dalam usaha melahirkan plasenta.
b. Retensio Plasenta
Merupakan plasenta yang belum lepas setelah bayi lahir, melebihi waktu
setengah jam. Disebabkan oleh plasenta belum lepas dari dinding uterus, plasenta
sudah lepas tetapi belum dilahirkan, kontraksi uterus kurang kuat untuk
melahirkan plasenta, sebab fungsional, dan sebab patologi-anatomis.
c. Robekan Jalan Lahir
Merupakan penyebab kedua dari perdarahan postpartum, perdarahan dalam
keadaan dimana plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi rahim baik, dapat
dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan jalan lahir.
6. Standar Asuhan Kebidanan Persalinan
Standar asuhan kebidanan persalinan menggunakan APN 60 langkah:
1) Mengenali gejala dan tanda kala II.
2) Menyiapkan pertolongan persalinan.
3) Memastikan pembukaan lengkap dan keadaan janin.
4) Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses meneran.
5) Persiapan untuk melahirkan bayi.
6) Pertolongan untuk melahirkan bayi (lahirnya kepala).
7) Pertolongan untuk melahirkan bayi (lahirnya bahu).
8) Pertolongan untuk melahirkan bayi (lahirnya badan dan tungkai).
9) Asuhan bayi baru lahir.
10) Manajemen aktif kala III persalinan.
11) Mengeluarkan plasenta.
12) Rangsangan (masase) uterus
13) Asuhan pascapersalinan
14) Evaluasi.
15) Kebersihan dan keamanan.
16) Dokumentasi.
2.1.4. Konsep Dasar Nifas
1. Pengertian Nifas
Masa nifas merupakan masa pulihnya kembali, mulai dari persalinan selesai
sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil, lama nifas sekitar 6
sampai 8 minggu. Nifas adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ
reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa nifas dibagi menjadi tiga
yakni puerperium dini, puerperium intermedial, dan remote puerperium.
2. Perubahan Psikologis Ibu Nifas
a. Fase Taking In
Berlangsung pada hari pertama dan kedua setelah melahirkan,
ketergantungan ibu psda orang lain sangat menonjol. Pada fase ini, ibu
mengharapkan segala kebutuhannya dapat dipenuhi oleh orang lain, ia akan
mengulang-ulang pengalamannya waktu bersalin dan melahirkan. Ibu
memerlukan istirahat yang cukup agar ibu dapat menjalani masa nifas selanjutnya
dengan baik, ibu membutuhkan nutrisi yang lebih karena biasanya nafsu
makannya akan bertambah. Dalam memberikan asuhan, bidan juga harus
memfasilitasi kebutuhan psikologis ibu dengan menjadi pendengar yang baik
ketika ibu menceritakan pengalamannya, serta memberikan apresiasi atas
perjuangan ibu yang berhasil dalam melahirkan bayinya.
b. Fase Taking Hold
Pada fase ini, ibu berusaha keras untuk menguasai tentang keterampilan
perawatan bayi, misalnya menggendong, menyusui, memandikan, dan memasang
popok. Pada fase ini ibu agak sensitif dan merasa tidak mahir dalam melakukan
hal tersebut. Pada fase inilah waktu yang tepat bagi bidan untuk memberikan
bimbingan cara perawatan bayi, namun jangan sampai menyinggung perasaan
atau membuat ibu merasa tidak nyaman
c. Fase Letting Go
Pada fase ini, ibu mengambil tanggung jawab terhadap perawatan bayi dan
beradaptasi dengan segala kebutuhan bayi yang bergantung padanya. Pada fase
ini, bisa terjadi depresi postpartum karena berkurangnya hak ibu, kebebasan, dan
juga hubungan sosial. Namun ibu akan sukses melewati fase ini jika respon dan
dukungan keluarga serta teman itu baik, hubungan dari pengalaman melahirkan
terhadap harapan dan aspirasi juga positif, pengalaman melahirkan dan
membesarkan anak yang lalu, serta pengaruh budaya yang dianut oleh keluarga.
3. Kebutuhan Dasar Ibu Nifas
a. Nutrisi dan Cairan
Nutrisi yang baik dapat mempercepat penyembuhan ibu dan sangat
mempengaruhi susunan air susu, ibu nifas dianjurkan mengkonsumsi tambahan
kalori sebanyak 500 kalori dalam satu hari, diet berimbang antara protein mineral
dan vitamin, minum kurang lebih 8 gelas air, mengkonsumsi tablet tambah darah
sampai 40 hari pasca persalinan, dan mengkonsumsi kapsul Vit A 200.000 unit.
b. Ambulasi
Secepatnya tenaga kesehatan membimbing ibu postpartum bangun dari
tempat tidur dalam 24 sampai 48 jam posppartum yang dilakukan secara bertahap
dimana ibu akan merasa lebih sehat, fungsi usus dan kandung kemih lebih baik,
dan tidak ada pengaruh buruk terhadap proses pasca persalinan maupun
penyembuhan luka.
c. Eliminasi
Setelah 6 jam postpartum diharapkan ibu dapat berkemih, jika kandung
kemih penuh atau belum berkemih setelah lebih dari 8 jam maka dianjurkan untuk
melakukan kateterisasi. Ibu postpartum diharapkan bisa buang air besar setelah
hari kedua postpartum, jika pada hari ketiga belum bisa buang air besar maka
diberikan obat pencahar oral atau rektal.
d. Kebersihan Diri
Ibu postpartum rentan mengalami infeksi, sehingga ibu dianjurkan menjaga
kebersihan seluruh tubuh terutama perineum, mengajarkan ibu cara membersihkan
alat kelamin dengan sabun dan air dari dengan ke belakang, menyarankan ibu
untuk mengganti pembalutnya minimal dua kali sehari, membersihkan tangan
dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan alat kelamin.
e. Istirahat dan Tidur
Menganjurkan ibu istirahat cukup dan dapat melakukan kegiatan rumah
tangga secara bertahap.
4. Komplikasi Masa Nifas
a. Perdarahan Pervaginam
Perdarahan yang melebihi 500 ml setelah persalinan didefinisikan sebagai
perdarahan postpartum, yang disebabkan oleh beberapa hal seperti atonia uteri
yakni gagalnya uterus dalam berkontraksi dengan baik setelah persalinan, robekan
jalan lahir yakni terpotongnya selaput lendir akibat dari tekanan benda tumpul,
retensio plasenta yakni keadaan dimana plasenta belum lahir dalam waktu lebih
dari 30 menit setelah bayi lahir, tertinggalnya sisa plasenta yakni ditemukannya
kotiledon yang tidak lengkap dan masih adanya perdarahan pervaginam padahal
plasenta telah lahir, dan juga inversio uteri yakni keadaan fundus uteri terbalik
sebagian atau seluruhnya ke dalam kavum uteri.
b. Infeksi Masa Nifas
Perlukaan karena persalinan merupakan tempat masuknya kuman ke dalam
tubuh, sehingga menimbulkan infeksi pada masa nifas. Infeksi nifas oleh sebab
apapun dengan ketentuan meningkatnya suhu badan melebihi 39ºC tanpa
menghitung hari pertama dan berturut-turut selama dua hari.
c. Kelainan pada Payudara
Yang terdiri dari bendungan ASI dan juga mastitis. Bendungan ASI yang
disebabkan oleh pembendungan air susu karena penyempitan duktus laktiferi atau
oleh kelenjar-kelenjar yang tidak dikosongkan dengan sempurna maupun karena
kelainan pada puting susu. Ditandai dengan payudara panas, keras, nyeri
perabaan, dan suhu tubuh tidak naik. Mastitis ditandai dengan rasa panas dingin
disertai dengan kenaikan suhu, lesu, tidak nafsu makan, payudara membesar,
nyeri, kulit merah pada bagian payudara, membengkak sedikit, dan nyeri
perabaan.
d. Sakit kepala, nyeri epigastrium, dan penglihatan kabur yang bisa mengindikasikan
terjadinya preeklampsia.
e. Pembengkakan di wajah atau ekstremitas dimana keadaan umum ibu menurun,
nadi cepat, tekanan darah menurun, suhu normal, pernapasan meningkat, serta
terdapat oedema pada wajah dan ekstremitas.
f. Demam, muntah, dan rasa sakit waktu berkemih yang disebabkan oleh rasa tidak
nyaman yang ditimbulkan oleh episiotomi yang lebar, laserasi periuretra atau
hematoma dinding vagina.
g. Kehilangan Nafsu Makan dalam Waktu yang Lama
h. Rasa Sakit, Merah, Lunak, dan Pembengkakan di Kaki
i. Merasa sedih dan tidak mampu merawat bayinya atau dirinya sendiri karena
adanya perubahan hormon, stres, ASI tidak keluar dan bayi sakit, frustasi,
kelelahan pasca persalinan, dan lain-lain.
5. Standar Asuhan Kebidanan Nifas
a. Perawatan Bayi Baru Lahir
Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernafasan
spontan mencegah hipoksia, menemukan kelainan, dan melakukan tindakan atau
merujuk sesuai dengan kebutuhan.
b. Penanganan pada Dua Jam Pertama Setelah Persalinan
Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya komplikasi
dalam dua jam setelah persalinan, serta melakukan tindakan yang diperlukan.
c. Pelayanan Bagi Ibu dan Bayi pada Masa Nifas
Bidan melakukan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan rumah
pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu keena, untuk membantu proses
pemulihan ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat yang benar, penemuan dini
penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta
memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan,
makanan bergizi, perawatan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi, dan KB.
2.1.5. Konsep Dasar Neonatus
1. Pengertian Neonatus
Neonatus merupakan bayi berumur 0 sampai dengan 1 bulan setelah lahir,
dengan umur kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu, berat lahir antara 2500
sampai 4000 gram, lahir langsung menangis, dan tidak ada kelainan kongenital yang
berat.
2. Tanda-Tanda Neonatus Normal
a. Berat lahir 2500-4000 gram.
b. Panjang badan 48-52 cm.
c. Lingkar dada 30-38 cm.
d. Lingkar kepala 33-35 cm.
e. Frekuensi jantung 120-160 x/menit.
f. Pernafasan ± 40-60 x/menit.
g. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup.
h. Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya sudah sempurna.
i. Kuku agak panjang dan lemas.
j. Genetalia : Perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora, Laki-laki testis
sudah turun dan skrotum sudah ada.
k. Refleks hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik.
l. Refleks morrow atau gerak memeluk bila dikagetkan sudah baik.
m. Refleks graps atau menggenggam sudah baik.
n. Refleks rooting mencari puting susu dengan rangsangan taktil pada pipi dan
daerah mulut terbentuk dengan baik.
o. Eliminasi baik, mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama, mekonium
berwarna hitam kecoklatan.
3. Penilaian APGAR
Tanda Nilai : 0 Nilai : 1 Nilai : 2
Appearance (warna Pucat/biru Tubuh merah, Seluruh tubuh
kulit) seluruh tubuh ekstremitas biru kemerahan
Pulse (denyut jantung) Tidak ada < 100 > 100
Ekstremitas sedikit
Grimace (tonus otot) Tidak ada Gerakan aktif
fleksi
Langsung
Activity (aktivitas) Tidak ada Sedikit gerak
menangis
Respiration
Tidak ada Lemah/tidak teratur Menangis
(pernapasan)
Sumber : Dwienda Octa dkk, 2014
Interpretasi
a. Nilai 1-3 : Asfiksia berat
b. Nilai 4-6 : Asfiksia sedang
c. Nilai 7-10 : Asfiksia ringan (normal)
4. Kebutuhan Dasar Neonatus
a. Pencegahan Infeksi
Merupakan bagian terpenting dari setiap komponen perawatan bayi baru
lahir yang sangat rentan terhadap infeksi, karena sistem imunitasnya yang masih
belum sempurna. Sebelum menangani bayi baru lahir pastikan penolong
persalinan telah mencuci tangan dengan seksama sebelum dan sesudah
bersentuhan dengan bayi, memakai sarung tangan bersih pada saat menangani
bayi yang belum dimandikan, memastikan semua peralatan dan bahan yang
digunakan sudahdidesinfeksi tingkat tinggi, memastikan semua pakaian, handuk,
selimut, dan kain yang digunakan untuk bayi dalam keadaan bersih.
b. Melakukan Penilaian Awal
Menilai apakah bayi menangis kuat atau bernafas tanpa kesulitan, apakah
bayi bergerak dengan aktif atau lemas. Jika bayi tidak bernafas atau bernafas
megap-megap atau lemah amak segera lakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir.
c. Pencegahan Kehilangan Panas
Bayi baru lahir harus dibungkus hangat, bayi yang mengalami kehilangan
panas beresiko tinggi untuk jatuh sakit atau meninggal.
d. Membebaskan Jalan Nafas
e. Perawatan Mata
Obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk
pencegahan penyakit mata karena klamidia. Diberikan pada jam pertama setelah
persalinan.
f. Perawatan Tali Pusat
g. Pemberian ASI
Pada ibu terdapat refleks oksitosin dan refleks prolaktin yang berperan
dalam produksi ASI dan involusi uterus. Pada bayi terdapat refleks mencari puting
atau rooting reflex, refleks menghisap atau sucking reflex, dan refleks menelan
atau swallowing reflex.
h. Pemberian Imunisasi Hepatitis B
Hepatitis B bermanfaat untuk mencegah infeksi hepatitis B terhadap bayi,
terutama penularan dari ibu ke bayi.
i. Pemberian Vitamin K
Untuk mencegah terjadinya perdarahan karena defisiensi vitamin K pada
bayi baru lahir.
j. Identifikasi Bayi
Untuk memudahkan identifikasi bayi, maka setiap bayi baru lahir harus
diberikan alat pengenal yang efektif.
5. Tanda Bahaya Neonatus
a. Asfiksia
Merupakan keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur,
sehingga dapat menurunkan O2 dan meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat
buruk dalam kehidupan lebih lanjut.
b. Hipotermia dan Hipertermia
Hipotermia merupakan turunnya suhu tubuh bayi hingga mencapai di
bawah 30ºC akibat dari paparan terus menerus terhadap dingin. Hipertermia
merupakan peningkatan suhu tubuh di atas titik pengaturan hipotalamus bila
mekanisme pengeluaran panas terganggu, dimana suhu tubuh bisa mencapai >
40ºC.
c. Bayi Berat Lahir Rendah
BBLR ada dua macam, yakni bayi lahir kecil akibat kurang bulan dan bayi
lahir kecil dengan berat badan yang seharusnya untuk masa gestasi.
d. Dehidrasi
Kadar air dalam lean body mass bayi kurang lebih 82%, apabila bayi
kekurangan cairan 5% atau lebih akan menyebabkan dehidrasi. Ditandai dengan
bayi mengantuk, tampak kehausan, kulit bibir dan lidah kering, saliva menjadi
kental, mata dan ubun-ubun menjadi cekung, warna kulit pucat atau sianosis,
turgor kulit berkurang, ekstremitas dingin, air kemih berkurang, gelisah, dan
kadang-kadang kejang sampai syok.
e. Ikterus Neonatorum
Pewarnaan kuning di kulit, konjungtiva, dan mukosa yang terjadi karena
meningkatnya kadar bilirubin dalam darah. Ikterus disebabkan hemolisis darah
janin dan selanjutnya diganti menjadi darah dewasa.
f. Kejang
Kejang pada neonatus bukanlah suatu penyakit, namun merupakan suatu
gejala penting adanya penyakit lain atau adanya kelainan susunan saraf pusat.
Penyebab utama kejang adalah kelainan bawaaan di otak, sedangkan penyebab
sekundernya adalah gangguan metabolik atau penyakit lain seperti infeksi.
g. Obstipasi
Merupakan penimbunan feses yang keras akibat adanya penyakit atau
adanya obstruksi pada saluran cerna, atau sebagai tidak adanya pengeluaran feses
selama 3 hari atau lebih.
h. Infeksi
Merupakan infeksi pada neonatus yang terjadi pada masa antenatal,
intranatal, dan postnatal.
i. Sindrom Kematian Bayi Mendadak
Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) terjadi pada bayi sehat secara
mendadak, ketika tidur tiba-tiba ditemukan meninggal beberapa jam kemudian.
j. Diare
Bayi dikatakan diare jika terjadi pengeluaran feses yang tidak normal, baik
dalam jumlah atau bentuk, lebih dari 3 kali buang air besar. Sedangkan neonatus
dikatakan diare apabila sudah buang air besar lebih dari 4 kali.
6. Standar Asuhan Kebidanan Neonatus
a. Perawatan Bayi Baru Lahir
Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernafasan
spontan mencegah hipoksia, menemukan kelainan, dan melakukan tindakan atau
merujuk sesuai dengan kebutuhan.
b. Penanganan pada Dua Jam Pertama Setelah Persalinan
Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya komplikasi
dalam dua jam setelah persalinan, serta memulai pemberian ASI dalam dua jam
pertama setelah persalinan.
c. Penanganan Asfiksia Neonatorum
Mengambil tindakan yang tepat dan melakukan penyelamatan jiwa bayi
baru lahir yang mengalami asfiksia neonatorum.
2.1.6. Konsep Dasar Masa Antara (Penentuan Keluarga Berencana)
1. Pengertian Masa Antara (Penentuan Keluarga Berencana)
Masa antara merupakan fase hidup yang dialami seorang perempuan dalam
kurun waktu usia subur antara kehamilan satu dengan kehamilan yang lain, atau
antara melahirkan terakhir sampai sebelum klimakterium (Kementerian Kesehatan
RI, 2014).
2. Tujuan Masa Antara (Penentuan Keluarga Berencana)
a. Menunda Kehamilan/ Fertilisasi
PUS perempuan usia <20 tahun. Ciri kontrasepsi ini reversibilitas tinggi
atau kembalinya kesuburan 100%, efektivitas tinggi atau kegagalan akan
menyebabkan kehamilan. Pilihannya terdiri dari pil, IUD, dan metode sederhana.
b. Menjarangkan Kehamilan/ Fertilisasi
PUS perempuan usia 20-30/35 tahun. Ciri kontrasepsi ini efektivitas dan
reversibilitas cukup tinggi, dapat dipakai 2-4 tahun, dan tidak menghambat ASI.
Pilihannya terdiri dari IUD, suntik, pil, implan, dan metode sederhana.
c. Mengakhiri Kehamilan/ Fertilisasi
PUS perempuan usia 30 atau > 35 tahun. Ciri kontrasepsi ini efektivitas
sangat tinggi, dapat dipakai untuk jangka panjang, dan tidak menambah kelainan
yang ada. Pilihannya terdiri dari kontrasepsi mantap, IUD, implan, suntikan,
metode sederhana, dan pil.
3. Macam-Macam Alat Kontrasepsi untuk Ibu Menyusui
a. Metode Amenorea Laktasi (MAL)
Merupakan metode kontrasepsi yang mengandalkan pemberian ASI dimana
ibu harus menyusui secara penuh, belum haid, dan umur bayi kurang dari 6 bulan.
Cara kerjanya dengan menunda atau menekan ovulasi. Keuntungannya efektivitas
tinggi dimana keberhasilannya 98% pada 6 bulan postpartum, segera efektif, tidak
mengganggu senggama, tidak ada efek samping secara sistemik, tidak perlu
pengawasan medis, tidak perlu obat atau alat, dan tanpa biaya,
b. Implan
Kontrasepsi ini dapat digunakan oleh semua perempuan dalam usia
reproduksi, cara kerjanya dengan mengentalkan lendir serviks, mengganggu
proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi implantasi, mengganggu
transportasi sperma, dan menekan ovulasi. Keuntungannya daya guna tinggi,
pengembalian tingkat kesuburan cepat, tidak memerlukan pemeriksaan dalam,
bebas dari pengaruh estrogen, tidak mengganggu kegiatan senggama, tidak
mengganggu produksi ASI, dan dapat dicabut setiap saat sesuai dengan
kebutuhan. Kekurangannya menyebabkan perubahan pola haid berupa perdarahan
bercak, hipermenorea atau meningkatnya jumlah darah haid, serta amenorea,
timbul keluhan seperti nyeri kepala, nyeri dada, perasaan mual atau pusing,
peningkatan atau penurunan berat badan, serta membutuhkan tindakan
pembedahan minor.
c. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
Metode ini sangat efektif, reversibel, dan berjangka panjang. AKDR bisa
dipakai oleh semua perempuan usia reproduksi, namun tidak boleh dipakai oleh
perempuan yang menderita infeksi menular seksual. Keuntungannya efektivitas
tinggi, metode jangka panjang, tidak mempengaruhi hubungan seksual
meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil, tidak
mempengaruhi produksi dan kualitas ASI, dapat dipasang segera setelah
melahirkan dan sesudah abortus apabila tidak terjadi infeksi, dapat digunakan
sampai menopause, dan tidak ada interaksi dengan obat-obatan. Kekurangannya
meliputi perubahan siklus haid, haid lebih lama dan banyak, perdarahan spotting
di antara menstruasi, dan saat haid lebih sakit serta tidak dapat mencegah infeksi
menular seksual seperti HIV/AIDS. Ibu bisa mengalami sakit dan kejang selama 3
sampai 5 hari setelah pemasangan, perforasi dinding uterus, perdarahan berat
waktu haid yang memungkinkan penyebab anemia.
2.2 KONSEP MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN
2.2.1 Kehamilan Trimester III
1. Pengkajian Data
Pengkajian dilakukan untuk mengumpulkan informasi yang tepat dan lengkap
dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien, dimana hal tersebut
dilakukan melalui proses anamnesa. Anamnesa tersebut dibagi menjadi 2, yaitu
auto-anamnesa (anamnesa yang dilakukan secara langsung kepada pasien) dan
allo-anamnesa (anamnesa yang dilakukan kepada keluarga pasien atau melalui
catatan rekam medik pasien) (Sulistyawati, 2014).
Pengkajian data meliputi nomor registrasi, kapan, dimana, dan oleh siapa
pengkajian dilakukan. Adapun pengkajian data meliputi pengkajian data subyektif
dan obyektif yang akan dijelaskan sebagai berikut.
a. Data Subyektif
1) Biodata
a) Nama suami/istri
Digunakan untuk mengetahui dan lebih mengenal ibu dan suami, lebih
baik menggunakan nama panggilan.
b) Umur
Digunakan untuk mengetahui usia ibu dan kemungkinan adanya
komplikasi karena faktor predisposisi usia. Wanita dengan usia 20-35
tahun merupakan usia dimana wanita dianjurkan untuk hamil. Karena
kehamilan pada usia di bawah 20 tahun dan di atas 35 tahun, bisa
meningkatkan risiko wanita terhadap sejumlah komplikasi. Kehamilan
dengan usia di bawah 20 tahun meningkatkan insiden pre-eklampsia dan
usia di atas 35 tahun meningkatkan insiden diabetes mellitus tipe II,
hipertensi kronis, persalinan yang lama pada ibu yang belum pernah
melahirkan, seksio sesarea, persalinan preterm, IUGR, anomali
kromosom dan kematian janin.
c) Suku atau bangsa
Asal daerah atau bangsa seseorang akan mempengaruhi pola pikir
mengenai tenaga kesehatan, pola nutrisi, dan adat istiadat yang dianut.
d) Agama
Digunakan untuk mengetahui keyakinan ibu, sehingga dapat
membimbing dan mengarahkan ibu untuk berdoa sesuai keyakinannya.
e) Pendidikan
Digunakan untuk mengetahui tingkat intelektual ibu, sehingga tenaga
kesehatan dapat melakukan komunikasi termasuk dalam hal pemberian
konseling sesuai dengan pendidikan terakhirnya.
f) Pekerjaan
Digunakan untuk mengetahui status ekonomi seseorang karena dapat
mempengaruhi pencapaian status gizinya. Status ekonomi dapat
dikaitkan antara asupan nutrisi ibu dengan tumbuh kembang janin
g) Alamat
Digunakan untuk mempermudah tenaga kesehatan dalam melakukan
follow up terhadap perkembangan ibu serta mengetahui jarak antara
rumah ibu dengan fasilitas kesehatan (Sih Rini, 2017).
2) Keluhan Utama
Menurut Sulis Diana (2017), keluhan yang muncul pada kehamilan trimester
III meliputi suhu badan meningkat, sering kencing, sulit tidur, kram pada kaki,
sesak napas, pusing atau sakit kepala, dan juga varises pada kaki.
3) Riwayat Kesehatan
a) Penyakit yang pernah dialami
Dijadikan sebagai penanda terhadap kemungkinan penyulit yang akan
terjadi pada masa kehamilan. Anemia dapat menyebabkan kematian
janin dalam kandungan, persalinan prematur, persalinan lama, dan
perdarahan pasca persalinan. Malaria dapat menyebabkan keguguran,
kematian janin dalam kandungan, dan persalinan prematur. Tuberkulosis
paru dapat menyebabkan keguguran, kematian janin dalam kandungan,
dan persalinan prematur. Diabetes mellitus dapat menyebabkan
persalinan prematur, hydramnion, kelahiran bayi dengan berat badan
lahir lebih dari 4000 gram, dan kematian perinatal. HIV/AIDS dapat
menyebabkan gangguan pada sistem kekebalan tubuh.
b) Riwayat Kesehatan Keluarga
Digunakan untuk membantu mengidentifikasi gangguan genetik dan
familial atau kondisi yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin.
c) Riwayat Kebidanan
(1) Menstruasi
Digunakan untuk mengkaji menarche atau hari pertama menstruasi
yang biasanya pada usia 12-16 tahun, siklus atau jarak antar
menstruasi biasanya 23-32 hari, volume yakni banyaknya darah
mentrsuasi yang dikeluarkan, dan keluhan yang mengarah pada
diagnosis kelainan tertentu.
(2) Riwayat Obstetri yang Lalu
Kehamilan, persalinan, dan nifas yang bertujuan untuk mengetahui
kejadian lalu yang terjadi pada masa-masa tersebut yang dapat
mempengaruhi kondisi kehamilan sekarang dan proses persalinan
yang akan dilalui
(3) Riwayat Kehamilan Sekarang
Digunakan untuk mengetahui beberapa kejadian maupun
komplikasi yang terjadi pada kehamilan sekarang. Hari pertama
haid terakhir digunakan untuk menentukan taksiran tanggal
persalinan dan usia kehamilan. Gerakan janin yang dirasakan ibu
bertujuan untuk mengkaji kesejahteraan janin. Gerakan janin dapat
dirasakan pada minggu ke-16 sampai minggu ke-20 kehamilan.
(4) Riwayat Kontrasepsi
Digunakan untuk mengetahui penggunaan metode kontrasepsi ibu
secara lengkap dan untuk merencanakan penggunaan metode
kontrasepsi setelah masa nifas (Sih Rini, 2017).
4) Pola Kebiasaan Sehari-hari
a) Nutrisi
Digunakan untuk mengetahui apakah ibu hamil telah mendapat nutrisi
yang sesuai dengan Pedoman Gizi Seimbang, sehingga bidan dapat
memberikan anjuran yang tepat pada perencanaan asuhan. Ditanyakan
mengenai menu (nasi, sayur, lauk, buah, makanan selingan), frekuensi,
jumlah per hari, dan juga pantangan makanan. Pola minum ditanyakan
mengenai frekuensi, jumlah per hari, dan jenis minuman.
b) Eliminasi
Digunakan untuk mengetahui adanya ketidaknyamanan yang dialami ibu
hamil, sehingga bidan dapat memberikan upaya penanggulangannya.
c) Istirahat
Digunakan untuk mengkaji apakah ibu dapat beristirahat dengan cukup
atau tidak, sehingga dapat diberikan asuhan sesuai. Normalnya 6-8 jam.
d) Personal Hygiene
Digunakan untuk mengkaji pengaruhnya terhadap kesehatan pasien dan
janin. Ditanyakan berapa kali mandi, keramas, ganti baju serta celana
dalam, dan juga kebersihan kuku (Sih Rini, 2017).
5) Riwayat Psikososial
Digunakan untuk mengetahui hubungan ibu hamil dengan keluarga, pemegang
keputusan utama yang berhubungan dengan tindakan yang akan diberikan
selama asuhan, serta kesiapan dana persc)alinan (Sih Rini, 2017).
b. Data Obyektif
1) Pemeriksaan Umum
a) Keadaan Umum
Meliputi baik, cukup atau lemah. Baik jika memperlihatkan respon baik
terhadap lingkungan dan orang lain.
b) Kesadaran
Composmentis jika pasien sadar sepenuhnya dan dapat menjawab
pertanyaan dengan baik. Apatis jika pasien sadar tetapi abai terhadap
keadaan sekitarnya. Somnolen pasien selalu ingin tidur atau terbangun
saat terasa nyeri saja. Delirium jika pasien mengalami gangguan motorik
sehingga memberontak. Sopor jika pasien hampir tidak sadar secara
penuh. Koma jika pasien hilang sadar sepenuhnya (Sih Rini, 2017).
2) Tanda-tanda Vital
a) Tekanan Darah
Rentang tekanan darah normal pada orang dewasa sehat adalah 100/60-
140/90 mmHg, tetapi bervariasi tergantung usia dan variabel lainnya.
WHO menetapkan hipertensi jika tekanan sistolik ≥ 160 mmHg dan
tekanan diastolic ≥ 95 mmHg.
b) Nadi
Wanita dewasa sehat tidak hamil memiliki kisaran denyut jantung 70
denyut per menit, dengan rentang normal 60-100 per menit. Namun
selama kehamilan mengalami peningkatan 15-20 denyut per menit.
c) Suhu
Nilai normal untuk suhu aksila pada orang dewasa yaitu 35,8-37,3° C.
d) Nafas
Pernapasan orang dewasa normal adalah antara 16-20 x/menit (Sih Rini,
2017).
3) Pengukuran Antropometri
a) Berat Badan
Digunakan untuk mengukur pertambahan berat badan ideal selama
hamil.
Tabel 2.2 Penambahan Berat Badan Normal Ibu Hamil
Klasifikasi Berat Badan BMI Penambahan Berat Badan
Berat badan Kurang 18,5 12—15 kg
Berat badan Normal 18,5—24,99 9—2 kg
Berat badan Lebih 25 6—9 kg
Preobes 25—29 6 kg
Obesitas 30 6 kg
Sumber: Sutanto dan Fitriana, 2019
b) Tinggi Badan
Digunakan untuk mengetahui apakah ibu dapat bersalin dengan normal.
Batas tinggi badan minimal bagi ibu hamil untuk dapat bersalin secara
normal adalah 145 cm.
c) LILA
Digunakan untuk mengetahui status gizi ibu sebelum dan selama hamil.
Batas minimal LILA bagi ibu hamil adalah 23,5 cm (Sih Rini, 2017).
4) Pemeriksaan Fisik
a) Muka
Muncul bintik-bintik dengan ukuran yang bervariasi pada wajah dan
leher (Cloasma gravidarum) akibat Melanocyte Stimulating Hormone.
Selain itu, penilaian pada muka juga ditujukan melihat ada tidaknya
pembengkakan daerah wajah serta mengkaji kesimetrisan bentuk wajah.
b) Mata
Pemeriksaan sklera untuk menilai warna dalam keadaan normal
berwarna putih. Sedangkan pemeriksaan konjungtiva dilakukan untuk
mengkaji munculnya anemia, konjungtiva normal berwarna merah
muda. Selain itu, perlu dilakukan pengkajian terhadap pandangan mata
yang kabur terhadap suatu benda untuk mendeteksi kemungkinan pre-
eklampsia.
c) Mulut
Untuk mengkaji kelembaban mulut dan mengecek stomatitis.
d) Gigi/gusi
Gigi merupakan bagian penting yang harus diperhatikan kebersihannya,
sebab berbagai kuman dapat masuk melalui organ ini. Karena pengaruh
hormon kehamilan, gusi menjadi mudah berdarah pada awal kehamilan
e) Leher
Untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran kelenjar tiroid, kelenjar
limfe, dan ada tidaknya bendungan pada vena jugularis (Sih Rini, 2017).
f) Payudara
Payudara menjadi lunak, membesar, vena-vena di bawah kulit lebih
terlihat, puting susu membesar, kehitaman dan tegak, areola meluas dan
kehitaman serta muncul strechmark pada permukaan kulit payudara.
Untuk mendeteksi adanya benjolan atau tidak, karena kelenjar susu ibu
hamil mempersiapkan untuk menghasilkan air susu (Sulis Diana, 2017).
g) Abdomen
Muncul Striae Gravidarum dan Linea Gravidarum pada permukaan kulit
perut akibat Melanocyte Stimulating Hormon serta adanya bekas
operasi.
h) Genetalia
Pengaruh hormon estrogen dan progesteron adalah pelebaran pembuluh
darah, sehingga dapat terjadi varises pada sekitar genetalia. Namun tidak
semua ibu hamil mengalami varises pada daerah tersebut.
i) Anus
Pada keadaan normal, tidak terdapat hemoroid pada anus.
j) Ekstremitas
Tidak ada edema, tidak ada varises, dan refleks patella menunjukkan
respons positif (Sih Rini, 2017).
5) Pemeriksaan Khusus
a) Leopold I
Pemeriksa menghadap ke arah muka ibu hamil, menentukan tinggi
fundus uteri dan bagian janin yang terdapat pada fundus.
b) Leopold II
Menentukan batas samping rahim kanan dan kiri, menentukan letak
punggung janin dan pada letak lintang, menentukan letak kepala janin.
Pada akhir trimester III menjelang persalinan, presentasi normal janin
adalah presentasi kepala dengan letak memanjang dan sikap janin fleksi.
c) Leopold III
Menentukan bagian terbawah janin dan menentukan bagian terbawah
tersebut sudah masuk ke pintu atas panggul atau masih dapat
digerakkan.
d) Leopold IV
Pemeriksa menghadap ke arah kaki ibu hamil dan menentukan
konvergen (kedua jari-jari pemeriksa menyatu yang berarti bagian
terendah janin belum masuk panggul) atau divergen (kedua jari-jari
pemeriksa tidak menyatu yang berarti bagian terendah janin sudah
masuk panggul) serta seberapa jauh bagian terbawah janin masuk ke
pintu atas panggul.
e) DJJ
Denyut jantung janin dihitung selama 1 menit, yang hasil normalnya
adalah antara 120-160 x/menit (Sih Rini, 2017).
f) TFU
Mengukur TFU dengan menggunakan jari tangan dari awal kehamilan
sampai usia kehamilan 22 minggu, dan menggunakan pita ukur setelah
usia kehamilan lebih dari 22 minggu (Indrayani, 2011). Ukuran TFU
biasanya sesuai dengan umur kehamilan dalam minggu setelah umur
kehamilan 24 minggu, namun bisa terjadi variasi kurang lebih 1-2 cm.
g) TBJ
Menurut Sih Rini (2017), berat janin dapat ditentukan dengan rumus
Johnson, yaitu.
Jika kepala janin belum masuk ke pintu atas panggul :
Berat janin = (TFU-12) x 155 gram
Jika kepala janin telah masuk ke pintu atas panggul :
Berat janin = (TFU-11) x 155 gram
6) Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan Darah
(1) Haemoglobin
Wanita hamil dikatakan anemia, kadar hemoglobinnya <10
gram/dL.
(2) Golongan Darah
Untuk mempersiapkan calon pendonor darah jika sewaktu-waktu
diperlukan, karena adanya situasi kegawatdaruratan (Sih Rini,
2017).
b) Pemeriksaan Urine dan Glukosa Urine
Urine negatif untuk protein dan glukosa.
c) Ultrasonografi untuk memastikan presentasi janin, kecukupan air ketuban,
taksiran berat janin, dan mendeteksi adanya komplikasi.
2. Interpretasi Data
Dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosis atau masalah dan kebutuhan
klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan
(Rita & Surachmindari, 2013).
a. Diagnosa Kebidanan
1) Paritas
Paritas adalah riwayat reproduksi wanita yang berhubungan dengan jumlah
kehamilannya. Dibedakan dengan primigravida (hamil pertama kali) dan
multigravida (hamil yang kedua atau lebih). Contoh: G1P0Ab0 artinya G1
(gravida 1 atau hamil yang pertama kali), PO (partus 0 berarti belum pernah
melahirkan), dan Ab0 (Abortus 0 berarti belum pernah mengalami abortus).
2) Usia kehamilan dalam minggu
3) Keadaan janin
4) Normal atau tidak normal
b. Masalah
Istilah masalah dan diagnosis dipakai karena beberapa masalah tidak dapat
didefinisikan sebagai diagnosis. Contoh: G1P0Ab0 UK 12 minggu dengan
anemia ringan, berarti masalahnya terkadang merasa tidak ingin hamil dan
khawatir dengan perkembangan bayinya karena tidak nafsu makan.
c. Kebutuhan Pasien
Dapat menentukan kebutuhan klien berdasarkan keadaan dan masalahnya.
Contoh: kebutuhan KIE dan bimbingan tentang nutrisi dalam kehamilannya.
3. Identifikasi Diagnosa/ Masalah Potensial
Tujuan penegakan masalah potensial adalah untuk mengantisipasi semua
kemungkinan yang dapat muncul. Pada langkah ini, bidan juga merumuskan
tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosa potensial tidak terjadi (Rita &
Surachmindari, 2013). Contoh :
Dx : G1P0Ab0 UK 36 minggu, perdarahan antepartum, kondisi ibu dan janin baik.
Tindakan antisipasi
Pasangkan infus untuk mengantisipasi syok hipovolemik, tidak melakukan
pemeriksaan dalam untuk menghindari perdarahan hebat, dan mengkaji ulang
apakah tindakan antisipasi sudah tepat.
4. Identifikasi Kebutuhan Segera
Kebutuhan merupakan hal-hal yang dibutuhkan klien dan belum teridentifikasi
dalam diagnosis dan masalah yang didapatkan dengan melakukan analisis data.
Bidan menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, melakukan konsultasi,
kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi klien. Pada langkah
ini diperlukan data baru yang lebih spesifik agar dapat mengetahui penyebab
langsung diagnosis dan masalah yang ada, jadi bisa berupa observasi atau
pemeriksaan (Rita & Surachmindari, 2013).
Contoh:
Dari kasus perdarahan antepartum tindakan segera yang harus dilakukan adalah
observasi perdarahan dan tanda-tanda vital, periksa kadar Hb, dan rujuk ke RS atau
kolaborasi dengan dokter.
5. Perencanaan Tindakan
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah
teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan, namun
juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita. Semua keputusan yang
dikembangkan dalam asuhan menyeluruh ini harus rasional dan benar-benar valid
berdasarkan pengetahuan dan teori yang terbaru, serta sesuai dengan asumsi tentang
apa yang dilakukan klien (Rita & Surachmindari, 2013).
Menurut Sulis Diana (2017), rencana asuhan pada ibu hamil meliputi.
a. Jelaskan pada ibu mengenai kondisi kehamilannya
R/agar ibu dapat mengetahui kondisi dirinya beserta janinnya
b. Jelaskan KIE pada ibu tentang:
1) Jelaskan tentang asupan nutrisi pada ibu hamil
R/untuk menjaga kebutuhan nutrisi seimbang bagi ibu dan janinnya.
2) Jelaskan tentang P4K yakni tempat, penolong, pendamping, transportasi,
biaya, pendonor, dan pengambil keputusan
R/mempersiapkan sedini mungkin kebutuhan persalinan ibu dan dapat
mencegah bila terjadi komplikasi.
3) Anjurkan ibu untuk istirahat cukup
R/istirahat yang cukup sangat penting bagi ibu hamil trimester III.
4) Anjurkan ibu untuk menjaga kebersihan dirinya
R/menjaga kebersihan diri dilakukan agar ibu merasa nyaman.
5) Jelaskan pada ibu untuk aktivitas fisik yang ringan
R/mencegah terjadinya risiko berbahaya pada ibu.
6) Berikan vitamin zat besi
R/memenuhi kebutuhan zat besi pada tubuh ibu hamil.
c. Jelaskan pada ibu tentang tanda-tanda persalinan yakni his semakin kuat dan
teratur atau mules semakin kuat, keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir,
keluar cairan yang banyak dengan tiba-tiba dari jalan lahir
R/agar ibu dapat berhati-hati dan selalu waspada setiap ada tanda-tanda
persalinan dan segera mencari bantuan.
d. Jadwalkan kunjungan ulang 1 minggu lagi atau sewaktu-waktu bila ada
keluhan
6. Implementasi
Pada langkah ini, dilakukan pelaksanaan asuhan secara efisien dan aman (Rita &
Surachmindari, 2013). Pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu hamil disesuaikan
dengan rencana asuhan yang telah disusun dan dilakukan secara komprehensif,
efektif, efisien, dan aman berdasarkan evidence based kepada ibu dalam bentuk
upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
7. Evaluasi
Pada langkah ini, dilakukan evaluasi keefektifan asuhan yang telah diberikan,
meliputi apakah kebutuhan telah terpenuhi dan mengatasi diagnosis serta masalah
yang telah diidentifikasi (Rita & Surachmindari, 2013).
2.2.2 Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan Persalinan
1. Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan Persalinan Kala I
Tanggal Pengkajian :
Waktu Pengkajian :
Tempat Pengkajian :
Oleh :
a. Data Subyektif
1) Keluhan Utama
Bertujuan untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan
kesehatan. Biasanya ibu akan mengalami perut terasa kencang-kencang,
intensitas dan frekuensi kontraksi, pengeluaran cairan dari vagina yang
berbeda dari air kemih, pengeluaran lendir yang disertai darah, serta
pergerakan janin untuk memastikan janin dalam kondisi baik.
2) Pola Nutrisi
Bertujuan untuk mengkaji cadangan energi dan status cairan ibu.
Memberikan makan dan cairan selama proses persalinan bisa memberikan
lebih banyak energi dan bisa mencegah dehidrasi.
3) Pola Eliminasi
Saat persalinan akan berlangsung, menganjurkan ibu untuk buang air kecil
secara rutin dan mandiri, paling sedikit setiap 2 jam untuk mengosongkan
kandung kemih. Karena kandung kemih yang penuh akan menghambat
penurunan bagian terbawah janin.
4) Pola Istirahat
Kebutuhan istirahat Ibu selama proses persalinan sangat diperlukan untuk
mempersiapkan energi dalam menghadapi proses persalinan.
5) Personal Hygiene
Data ini sangat berkaitan dengan kenyamanan pasien dalam menjalani
proses persalinannya (Sulis Diana, 2017).
6) Pola Pasikososial
Bertujuan untuk mengkaji dukungan pasangan selama proses persalinan,
dukungan saudara dekat selama persalinan, dan dukungan saudara kandung
bayi selama persalinan.
b. Data Obyektif
1) Pemeriksaan Umum
a) Keadaan Umum
Baik, jika pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan
dan orang lain, serta fisik pasien tidak memiliki ketergantungan dalam
berjalan. Lemah, jika pasien kurang atau tidak memberikan respon yang
baik terhadap lingkungan dan orang lain, dan pasien sudah tidak mampu
berjalan sendiri.
b) Kesadaran
Bertujuan untuk menilai kesadaran ibu. Composmentis adalah sadar
sepenuhnya, apatis disaat pasien tampak segan dan acuh tak acuh (Sulis
Diana, 2017).
c) Berat Badan
Bertujuan untuk menghitung penambahan berat badan ibu.
d) Tanda-Tanda Vital
Secara garis besar, pada saat persalinan tanda-tanda vital ibu mengalami
peningkatan, karena terjadi peningkatan metabolisme selama persalinan.
Tekanan darah meningkat selama kontraksi, yaitu peningkatan tekanan
sistolik 10-20 mmHg dan sistolik 5-10 mmHg, dan saat di antara waktu
kontraksi tekanan darah akan kembali ke tingkat sebelum persalinan.
2) Pemeriksaan Fisik
a) Wajah
Dilakukan pemeriksaan ada tidaknya pembengkakan pada area wajah
serta kesimetrisan bentuk wajah, pembengkakan pada wajah
menandakan ibu sedang mengalami odem yang menjadi salah satu tanda
preeklampsia.
b) Mata
Dilakukan pemeriksaan konjungtiva untuk mengkaji munculnya anemia.
Konjungtiva yang normal berwarna merah muda. Selain itu, perlu
dilakukan pengkajian terhadap pandangan mata yang kabur terhadap
suatu benda, untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya pre-eklampsia
(Sih Rini, 2017).
3) Pemeriksaan Khusus
a) Obstetri
Abdomen
(1) Inspeksi
Terdapat Linea nigra atau garis vertikal berwarna gelap yang muncul di
perut ibu selama kehamilan.
(2) Palpasi
(a) Leopold I
Pemeriksa menghadap ke arah muka ibu hamil, menentukan
tinggi fundus uteri dan bagian janin yang terdapat pada fundus.
(b) Leopold II
Menentukan batas samping rahim nan dan kiri, menentukan
letak punggung janin dan pada letak lintang, menentukan letak
kepala janin. Pada akhir trimester III menjelang persalinan,
presentasi normal janin adalah presentasi kepala dengan letak
memanjang dan sikap janin fleksi.
(c) Leopold III
Menentukan bagian terbawah janin dan menentukan apakah
bagian terbawah tersebut sudah masuk ke pintu atas panggul
atau masih dapat digerakkan.
(d) Leopold IV
Pemeriksa menghadap ke arah kaki ibu hamil dan menentukan
konvergen (kedua jari-jari pemeriksa menyatu yang berarti
bagian terendah janin belum masuk panggul) atau divergen
(kedua jari-jari pemeriksa tidak menyatu yang berarti bagian
terendah janin sudah masuk panggul) serta seberapa jauh bagian
terbawah janin masuk ke pintu atas panggul.
(3) Auskultasi
(a) DJJ
Dilakukan untuk mendeteksi adanya fetal distress pada janin,
normalnya antara 120-160 x/menit.
(b) Kontraksi
Durasi kontraksi uterus sangat bervariasi tergantung pada kala
persalinan ibu, bisa sering, teratur, maupun tidak teratur.
Kontraksi pada awal persalinan mungkin hanya berlangsung 15
sampai 20 detik, sedangkan pada persalinan kala I fase aktif
berlangsung dari 45 sampai 90 detik dengan durasi rata-rata 60
detik. Kontraksi ini bisa untuk membedakkan antara kontraksi
persalinan sejati dan persalinan palsu (Sih Rini, 2017).
b) Ginekologi
Ano- Genetalia
(1) Inspeksi
Dilakukan pengkajian adanya pengeluaran pervaginam seperti adanya
lendir darah atau tidak dan juga air ketuban, untuk memastikan adanya
tanda dan gejala persalinan. Selain itu, juga dilakukan pemeriksaan
apakah ada kondiloma atau tidak.
(2) Pemeriksaan Dalam :
(a) Pembukaan, Pada fase laten 1-3 cm, fase aktif deselerasi maksimal 6-
9 cm, dan fase deselerasi 9-10 cm
(b) Pendataran (effacement) berapa persen (Sulis Diana, 2017).
(c) Presentasi dan Posisi Janin
Menurut Sulis Diana (dalam Sondakh, 2013), pemeriksaan ini
dilakukan untuk mengetahui bagian janin yang masuk di bagian
bawah rahim. Jika pada pemeriksaan didapatkan presentasi kepala
maka bagian yang menjadi presentasi umumnya adalah oksiput, jika
didapatkan presentasi bokong yang menjadi presentasi adalah
sacrum, dan pada letak lintang presentasi adalah scapula bahu.
(d) Bagian terendah janin dan posisinya, ubun-ubun kecil (UUK) sudah
teraba atau belum.
(e) Penurunan bagian terbawah janin
Menurut Sulis Diana (dalam Sondakh, 2012), pemeriksaan ini
menentukan sampai dimana bagian terendah janin turun ke dalam
panggul menggunakan bidang Hodge. 5/5 jika bagian terbawah janin
seluruhnya teraba di atas simfisis pubis, 4/5 jika satu per lima bagian
terbawah janin telah memasuki rongga panggul, 3/5 jika dua per lima
bagian terbawah janin telah memasuki rongga panggul, 2/5 jika
hanya sebagian dari bagian terbawah janin masih berada di atas
simfisis dan tiga per lima bagian telah turun melewati bidang rongga
panggul (tidak dapat digerakkan), 1/5 jika hanya , 1/5 jika hanya 1
dari 5 jari masih dapat meraba bagian terbawah janin yang berada di
atas simfisis dan empat per lima bagian telah masuk ke dalam rongga
panggul, dan 0/5 jika bagian terbawah janin sudah tidak dapat diraba
dari pemeriksaan luar dan seluruh bagian terbawah janin sudah
masuk dalam panggul.
(f) Air Ketuban utuh atau pecah, serta mengetahui ketegangan ketuban.
(g) Penyusupan kepala janin/ molase.
c) Pemeriksaan Penunjang
(a) Haemoglobin
Selama persalinan, kadar haemoglobin mengalami peningkatan 1,2
gram/100 ml dan akan kembali ke kadar sebelum persalinan dan hari
pertama pasca partum jika tidak kehilangan darah yang abnormal.
(b) Lakmus
Berwarna biru, pH air ketuban antara 7-7,5.
(c) USG
Pada akhir trimester III menjelang persalinan, pemeriksaan USG
dimaksudkan memastikan presentasi janin, kecukupan air ketuban,
tafsiran berat janin, denyut jantung janin dan mendeteksi adanya
komplikasi.
(d) Protein dan Glukosa Urine
Urine negatif untuk protein dan glukosa (Sih Rini, 2017).
c. Analisis Data
Dilakukan identifikasi terhadap rumusan diagnosa, masalah, dan kebutuhan pasien
berdasarkan interpretasi yang terkumpul kemudian dibuat kesimpulan meliputi
diagnosis, antisipasi, masalah potensial, dan perlu tidaknya tindakan segera dalam
batas diagnosis kebidanan intranatal.
Contoh : G1P0AbO UK 39 minggu, Inpartu kala I fase aktif.
Masalah : merasa cemas menghadapi persalinan.
d. Penatalaksanaan
1. Informasikan perkembangan dan kemajuan persalinan pada ibu dan keluarga.
R/Ibu mengetahui tentang kondisinya dan juga janinnya
2. Melakukan pengawasan menggunakan partograf, meliputi ukur tanda-tanda
vital ibu, hitung denyut jantung janin, hitung kontraksi uterus, lakukan
pemeriksaan dalam, serta catat produksi urine
R/Dengan selalu mengobservasi pasien menggunakan partograf dapat dipantau
kemajuan persalinan dan segera menentukan keputusan bila terjadi masalah.
3. Memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi ibu
R/Dengan pemenuhan nutrisi yang cukup dapat menambah tenaga ibu pada
proses persalinan dan mencegah dehidrasi.
4. Mengatur aktivitas dan posisi ibu yang nyaman
R/Membantu ibu tetap rileks dan nyaman.
5. Memfasilitasi ibu untuk buang air kecil
R/Mengosongkan kandung kemih dilakukan agar kontraksi uterus berjalan
dengan baik.
6. Menghadirkan pendamping ibu seperti suami dan anggota keluarga selama
proses persalinan
R/Membantu ibu untuk tetap semangat selama proses persalinan
7. Mengajarkan ibu tentang teknik relaksasi yang benar
R/Membantu ibu untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan akibat adanya
kontraksi.
8. Memberikan sentuhan, pijatan, kompres hangat dingin pada pinggang,
berendam dalam air hangat maupun wangi-wangian serta ajari ibu tentang
teknik relaksasi dengan cara menarik napas panjang secara berkesinambungan
untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan ibu.
R/Membantu ibu untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan akibat adanya
kontraksi (Sih Rini, 2017).
2. Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan Persalinan Kala II
Tanggal :
Jam :
a. Data Subyektif
Data yang mendukung bahwa pasien dalam persalinan kala II adalah pasien
mengatakan ingin meneran dan kontraksi semakin kuat.
b. Data Obyektif
1) Vulva dan anus membuka, perineum menonjol
2) Hasil pemantauan kontraksi (durasi lebih dari 40 detik,frekuensi lebih dari 3
kali dalam 10 menit, dan intensitas kuat)
3) Hasil pemeriksaan dalam menunjukkan bahwa pembukaan serviks sudah
lengkap (Sih Rini, 2017).
c. Analisis Data
Gravida, para, abortus, umur kehamilan (antara 37—42 minggu), jumlah janin
tunggal/ganda, keadaan janin hidup/mati, intrauterine/ekstrauterine, letak janin
membujur/melintang, presentasi belakang kepala/muka/dahi, inpartu kala II
dengan keadaan ibu dan janin baik.
Contoh: G1P0Ab0 UK 37—34 minggu janin T/H/I, letak kepala, presentasi
belakang kepala, inpartu kala II dengan keadaan ibu dan janin baik.
d. Penatalaksanaan
1) Mengamati dan melihat adanya tanda persalinan kala II :
a) Ibu merasa ada dorongan kuat dan meneran
b) Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan vagina
c) Perineum tampak menonjol
d) Vulva dan sfinger ani membuka
2) Memastikan perlengkapan, bahan, dan obat-obatan esensial siap digunakan.
Mematahkan ampul oksitosin 10 unit dan menempatkan tabung suntik sekali
pakai/pribadi yang bersih.
3) Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih.
4) Melepaskan semua perhiasan yang dipakai di bawah siku, mencuci kedua tangan
dengan sabun dan air bersih yang mengalir dan mengeringkan tangan dengan
handuk satu kali pakai/ pribadi yang bersih.
5) Memakai satu sarung tangan DTT atau steril untuk semua pemeriksaan dalam.
6) Mengisap oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik (dengan memakai sarung
tangan DTT atau steril), dan meletakkan kembali di partus set/wadah DTT atau
steril tanpa mengontaminasi tabung suntik.
7) Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari depan ke
belakang dengan menggunakan kapas atau kasa yang sudah dibasahi air DTT.
8) Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan dalam untuk
memastikan bahwa pembukaan serviks sudah lengkap. Bila selaput ketuban
belum pecah, sedangkan pembukaan sudah lengkap, lakukan amniotomi.
9) Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang masih
memakai sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5 % selama 10 menit.
Mencuci kedua tangan (seperti di atas).
10) Memeriksa Denyut Jantung Janin (DJJ) setelah kontraksi berakhir untuk
memastikan bahwa DJJ dalam batas normal (100-180 x/menit).
(a) Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal.
(b) Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ, dan semua hasil-
hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf.
11) Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin bayi.
Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman sesuai dengan keinginannya.
(a) Menunggu hingga ibu mempunyai keinginan untuk meneran. Melanjutkan
pemantauan kesehatan dan kenyamanan ibu serta janin sesuai dengan
pedoman persalinan aktif dan pendokumentasikan temuan-temuan.
(b) Menjelaskan kepada anggota keluarga bagaimana mereka dapat
mendukung dan member semangat kepada ibu saat ibu mulai meneran.
12) Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisiibu untuk meneran (pada
saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ibu merasa
nyaman.
13) Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk
meneran :
a) Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai keinginan untuk
meneran.
b) Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk meneran.
c) Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai dengan pilihannya
(tidak meminta ibu berbaring terlentang)
d) Menganjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi.
e) Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu.
f) Menganjurkan asupan per oral.
g) Menilai DJJ setiap 5 menit.
h) Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera dalam
waktu 120 menit (2 jam) meneran untuk ibu primipara atau 60 menit (1 jam)
untuk ibu multipara, merujuk segera. Jika ibu tidak mempunyai keinginan
untuk meneran.
i) Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok, atau mengambil posisi yang
aman. Jika ibu belum ingin meneran dalam 60 menit, anjurkan ibu untuk
mulai meneran pada puncak kontraksi-kontraksi tersebut dan beristirahat di
antara kontraksi.
j) Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi segera setelah
60 menit meneran, merujuk ibu dengan segera.
14) Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, letakkan
handuk bersih di atas perutibu untuk mengeringkan bayi.
15) Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian di bawah bokong ibu.
16) Membuka partus set.
17) Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.
18) Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi perineum
dengan satu tangan yang dilapasi dengan kain tadi, letakkan tangan yang lain di
kepala bayi dan lakukan tekanan yang lembut dan tidak menghambat pada
kepala bayi, membiarkan kepala keluar perlahan-lahan. Menganjurkan ibu
meneran perlahan-lahan atau bernapas cepat saat kepala lahir.
19) Dengan lembut menyeka muka, mulut, dan hidung bayi dengan kain atau kassa
yang bersih.
20) Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai jika hal itu
terjadi, dan kemudian meneruskan segera proses kelahiran bayi:
(a) Jika tali pusat melilit leher janin dengan longgar, lepaskan lewat bagian
atas kepala bayi.
(b) Jika tali pusat melilit leher dengan erat, mengklemnya di dua tempat dan
memotongnya.
21) Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan.
22) Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkan kedua tangan di
masing-masing sisi muka bayi. Menganjurkan ibu untuk meneran saat
kontraksi berikutnya, dengan lembut menariknya ke arah bawah dan ke arah
luar hingga bahu anterior muncul di bawah arkus pubis dan kemudian dengan
lembut menarik ke arah atas dan ke arah luar untuk melahirkan bahu posterior.
23) Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang
berada di bagian bawah ke arah perineum, membiarkan bahu dan lengan
posterior lahir ke tangan tersebut. Mengendalikan kelahiran siku dan tangan
bayi saat melewati perineum, gunakan lengan bagian bawah untuk menyangga
tubuh bayi saat dilahirkan menggunakan tangan anterior (bagian atas) untuk
mengendalikan siku dan tangan anterior bayi saat keduanya lahir.
24) Setelah tubuh dari lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada di atas
(anterior) dari punggung ke arah kaki bayi untuk menyangga saat punggung
dan kaki lahir. Memegang kedua mata kaki dengan hati-hati membantu
kelahiran kaki.
25) Menilai bayi dengan cepat (dalam 30 detik), kemudian meletakkan bayi di atas
perut ibu dengan posisi kepala bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya (bila tali
pusat terlalu pendek, meletakkan bayi di tempat yang memungkinkan). Bila
bayi mengalami asfiksia, lakukan resusitasi.
26) Segera membungkus kepala dan badan bayi dengan handuk dan biarkan kontak
kulit ibu-bayi. Lakukan penyuntikan oksitoksin/IM.
27) Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi.
Melakukan urutan pada tali pusat mulai dari klem ke arah ibu dan memasang
klem kedua 2 cm dari klem pertama (ke arah ibu).
28) Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari gunting dan
memotong tali pusat di anatara dua klem tersebut.
29) Mengeringkan bayi, mengganti handuk yang basah dan menyelimuti bayi
dengan kain atau selimut yang bersih dan kering, menutupi bagian kepala bayi
membiarkan tali pusat terbuka. Jika bayi mengalami kesulitan bernapas. Jika
bayi mengalami kesulitan bernapas, ambil tindakan yang sesuai.
30) Membiarkan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk
bayinya dan memulai pemberian ASI jika ibu menghendakinya.
31) Meletakkan kain yang bersih dan kering. Melakukan palpasi abdomen untuk
menghilangkan kemungkinan adanya bayi kedua.
32) Memberitahu kepada ibu bahwa ia akan disuntik.
3. Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan Persalinan Kala III
Tanggal :
Jam :
a. Data Subyektif
Data yang mendukung bahwa pasien dalam persalinan kala III adalah pasien
mengatakan merasa lega karena bayinya telah lahir dan pasien mengatakan perut
bagian bawah terasa mulas, hal tersebut terjadi karena adanya kontraksi uterus.
b. Data Obyektif
1) Perubahan tinggi fundus uteri
2) Tali pusat memanjang
3) Semburan darah meningkat dan mendadak
c. Analisis Data
Para, abortus, inpartu kala III persalinan dengan keadaan ibu dan bayi baik.
Contoh : P1Ab0 inpartu kala III persalinan dengan keadaan ibu dan bayi baik.
d. Penatalaksanaan
1) Dalam waktu 2 menit setelah kelahiran bayi, berikan suntikan oksitoksin 10
unit IM di gluteus atau 1/3 atas paha kanan ibu bagian luar, setelah
mengaspirasinya terlebih dahulu.
2) Memindahkan klem pada tali pusat.
3) Meletakkan satu tangan di atas kain yang ada di perut ibu, tepat di atas tulang
pubis, dan menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi kontraksi dan
menstabilkan uterus. Memegang tali pusat dan klem dengan tangan yang lain.
4) Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan penegangan ke arah
bawah pada tali pusat dengan lembut. Lakukan tekanan yang berlawanan arah
pada bagian.
5) Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambil menarik tali
pusat ke arah bawah dan kemudian ke arah atas, mengikuti kurva jalan lahir
sambil meneruskan tekanan berlawanan arah pada uterus.
6) Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak sekitar 5-10
cm dari vulva.
7) Jika tali pusat tidak lepas setelah melakukan penegangan tali pusat selama 15
menit :
a) Mengulangi pemberian oksitoksin 10 unit IM.
b) Menilai kandung kemih dan dilakukan katerisasi kandung kemih dengan
menggunakan teknik aseptik jika perlu.
c) Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan
d) Mengulangi penegangan tali pusat selama 15 menit berikutnya.
e) Merujuk ibu jika plasenta tidak lahir dalam waktu 30 menit sejak kelahiran
bayi.
8) Jika plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan kelahiran plasenta dengan
menggunakan kedua tangan. Memegang plasenta dengan dua tangan dengan
hati-hati memutar plasenta hingga selaput ketuban terpilin. Dengan lembut
perlahan melahirkan selaput ketuban tersebut. Jika selaput ketuban robek,
memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril dan memeriksa
vagina dan serviks ibu dengan seksama. Menggunakan jari-jari tangan atau
klem atau forseps disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk melepaskan bagian
selaput yang tertinggal.
4. Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan Persalinan Kala IV
Tanggal :
Jam :
a. Data Subyektif
Data yang mendukung bahwa pasien dalam persalinan kala IV adalah pasien
mengatakan perutnya mulas.
b. Data Obyektif
1) TFU 2 jari di bawah pusat
2) Kontraksi uterus : Baik/tidak
3) Perdarahan
c. Analisis Data
Para, abortus, inpartu kala IV persalinan dengan keadaan ibu dan bayi baik.
Contoh : P1Ab0 inpartu kala IV persalinan dengan keadaan ibu dan bayi baik
d. Penatalaksanaan
1) Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan masase uterus,
meletakkan telapak tangan di fundus dan melakukan masase dengan gerakan
melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi (fundus menjadi keras).
2) Memeriksa kedua plasenta baik yang menempel ke ibu maupun janin dan
selaput ketuban untuk memastikan bahwa plasenta dan selaput ketuban
lengkap dan utuh . Meletakkan plasenta di dalam kantung plastik atau tempat
khusus. Jika uterus tidak berkontraksi setelah melakukan masase selam 15
detik mengambil tindakan yang sesuai.
3) Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan segera menjahit
laserasi yang mengalami perdarahan aktif.
4) Menilai ulang uterus dan memastikannya berkontraksi dengan baik.
5) Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan ke dalam larutan
klorin 0,5%; membilas kedua tangan yang masih bersarung tangan tersebut
dengan air disinfeksi tingkat tinggi odan mengeringkannya dengan kain yang
bersih dan kering.
6) Menempatkan klem tali pusat disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau
mengikatkan tali disinfeksi tingkat tinggi dengan simpul mati sekeliling tali
pusat sekitar 1 cm dari pusat.
7) Mengikat satu lagi simpul mati di bagian pusat yang berseberangan dengan
simpul mati yang pertama.
8) Melepaskan klem bedah dan meletakkannya ke dalam larutan klorin 0,5%.
9) Menyelimuti kembali bayi atau menutupi bagian kepalanya. Memastikan
handuk atau kainnya bersih atau kering.
10) Menganjurkan ibu untuk melakukan pemberian ASI.
11) Melanjutkan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan vagina.
12) Mengajarkan pada ibu/keluarga bagaimana melakukan masase uterus dan
memeriksa kontraksi uterus.
13) Mengevaluasi kehilangan darah.
14) Memeriksa tekanan darah, nadi, dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit
selama satu jam pertama dan setiap 30 menit selama jam kedua
pascapersalinan.
15) Menempatkan semua peralatan dalam larutan klorin 0,5% untuk
dekontaminasi (10 menit). Mencuci dan membilas pakaian setelah
dekontaminasi.
16) Membuang bahan-bahan terkontaminasi ke dalam tempat sampah yang sesuai.
17) Membersihkan ibu dengan menggunakan air disenfeksi tingkat tinggi.
Membersihkan cairan ketuban, lendir dan darah . Membantu ibu memakai
pakaian yang bersih dan kering.
18) Memastikan bahwa ibu nyaman. Membantu ibu memberikan ASI.
Menganjurkan keluarga untuk memberikan ibu minuman dan makanan yang
diinginkan.
19) Mendekontaminasi daerah yang digunakan dengan larutan klorin 0,5% dan
membilas dengan air bersih.
20) Mencelupkan sarung tangan kotor ke larutan klorin 0,5%, membalikkan
bagian dalam ke luar untuk merendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10
menit.
21) Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.
22) Melengkapi partograf (halaman depan dan belakang).
2.2.3 Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan Nifas
Tanggal Pengkajian :
Waktu Pengkajian :
Tempat Pengkajian :
Oleh :
a. Data Subyektif
1. Keluhan Utama
1) After Pain
After pain atau kram perut disebabkan karena kontraksi dan relaksasi yang
terus menerus pada uterus, sering terjadi pada multipara
2) Nyeri Perineum
Nyeri perineum disebabkan oleh episiotomi, laserasi, ataupun jahitan.
3) Payudara Terasa Penuh
Pembengkakan payudara terjadi karena adanya gangguan antara akumulasi
air susu dan meningkatnya vaskularisasi dan juga kongesti.
4) Konstipasi
Disebabkan karena pada saat melahirkan alat pencernaan mendapat tekanan
yang menyebabkan kolon menjadi kosong, pengeluaran cairan yang
berlebih pada saat persalinan, kurang makan, dan juga laserasi jalan lahir.
5) Diuresis
Disebabkan karena terjadinya peningkatan jumlah urine pada postpartum,
hal tersebut terjadi karena adanya penurunan hormon estrogen yang
sifatnya menahan air mengalami penurunan yang mencolok (Sulis Diana,
2017).
2. Pola Kebutuhan Sehari-hari
1) Pola Nutrisi
Ibu nifas harus mengkonsumsi makanan yang bermutu tinggi, bergizi, dan
cukup kalori untuk mendapatkan protein, mineral serta vitamin yang cukup
dan minum sedikitnya 2 sampai 3 liter dalam satu hari. Ibu nifas juga harus
mengkonsumsi tablet tambah darah minimal 40 hari dan vitamin A.
2) Pola Eliminasi
Ibu nifas berkemih dalam 4-8 jam pertama dan minimal sebanyak 200 cc,
sedangkan buang air besar diharapkan sekitar 3-4 hari setelah melahirkan.
3) Personal Hygiene
Bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi, dilakukan dengan menjaga
kebersihan tubuh termasuk pada daerah kewanitaan, payudara, pakaian,
tempat tidur, dan juga lingkungannya.
4) Pola Istirahat
Ibu nifas harus memperoleh istirahat yang cukup, hal tersebut bermanfaat
untuk pemulihan kondisi fisik, psikologis, dan kebutuhan menyusui
bayinya dengan menyesuaikan jadwal istirahat bayinya.
5) Pola Aktivitas
Jika ibu nifas tidak mengalami kontraindikasi, maka mobilisasi sebaiknya
dilakukan sedini mungkin. Dimulai dengan latihan tungkai di tempat tidur,
miring di tempat tidur, duduk, dan juga berjalan. Selain itu, ibu nifas juga
dianjurkan untuk melakukan senam nifas dengan gerakan sederhana dan
bertahap sesuai dengan kondisi ibu nifas.
6) Pola Seksual
Biasanya tenaga kesehatan memberi batasan rutin 6 minggu pasca
persalinan untuk melakukan hubungan seksual (Sih Rini, 2017).
3. Data Psikologis
1) Fase taking in
Fase periode ketergantungan yang berlangsung pada hari pertama sampai
hari kedua setelah melahirkan. Pada fase ini, ibu merasa kecewa dengan
bayinya, mengalami ketidaknyamanan sebagai akibat dari perubahan fisik,
rasa bersalah karena belum bisa menyusui bayinya, dan juga kritikan suami
atau keluarga tentang perawatan bayinya.
2) Fase taking hold
Berlangsung pada hari ketiga sampai kesepuluh setelah melahirkan, pada
fase ini ibu merasa khawatir tidak mampu merawat bayinya, ibu sangat
sensitif, dan mudah tersinggung. Pada fase ini, komunikasi yang baik dan
pemberian penyuluhan tentang diri dan bayinya sangat diperlukan.
3) Fase letting go
Berlangsung pada hari kesepuluh setelah melahirkan, dimana ibu menerima
tanggung jawab akan peran barunya. Ibu sudah bisa menyesuaikan diri,
merawat diri dan bayinya, serta rasa percaya diri mulai meningkat. Pada
fase ini dukungan suami dan keluarga sangat diperlukan.
b. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
1) Keadaan Umum
Baik, jika pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan
dan orang lain, serta fisik pasien tidak memiliki ketergantungan dalam
berjalan. Lemah, jika pasien kurang atau tidak memberikan respon yang
baik terhadap lingkungan dan orang lain, dan pasien sudah tidak mampu
berjalan sendiri.
2) Kesadaran
Bertujuan untuk menilai kesadaran ibu. Composmentis adalah sadar
sepenuhnya, apatis disaat pasien tampak segan dan acuh tak acuh.
3) TTV
Menurut Sulis Diana (dalam Nugroho dkk, 2014), tekanan darah normalnya
adalah 110/70-140/90 mmHg, biasanya akan berubah pada ibu pasca
melahirkan. Suhu tubuh pada ibu inpartu tidak lebih dari 37,2°C dan pada
saat pasca melahirkan suhu tubuh akan naik kurang lebih sebesar 0,5°C dari
keadaan normal. Nadi normalnya 76-100 x/menit, namun adanya kontraksi
pada saat ibu meneran denyut nadi akan meningkat, karena kerja jantung
semakin berat. Respirasi normalnya 16-24 x/menit, namun pada ibu pasca
melahirkan bisa normal maupun lambat, hal tersebut terjadi karena ibu
dalam keadaan pemulihan atau kondisi istirahat.
2. Pemeriksaan Fisik
1) Payudara
Dilakukan pemeriksaan pembesaran payudara, puting payudara apakah
menonjol atau mendatar, adakah nyeri dan lecet pada puting, ASI sudah
keluar atau belum, adakah pembengkakan payudara atau tidak, serta untuk
mengetahui adanya benjolan yang abnormal.
2) Abdomen
Dilakukan pengkajian ada tidaknya nyeri pada perut, dan juga untuk
mengukur tinggi fundus uteri untuk memastikan proses involusi berjalan
dengan lancar. Saat plasenta lahir setinggi pusat, pada hari ketujuh pada
pertengahan pusat dan simpisis, pada hari keempat belas tidak teraba, dan
pada minggu keenam sudah kembali normal.
3) Vulva dan Perineum
1. Pengeluaran Lochea
Lochea rubra, muncul pada hari kesatu sampai tiga masa nifas,
berwarna merah kehitaman, dan mengandung sel desidua, verniks
caseosa, rambut lanugo, sisa mekonium, serta sisa darah. Lochea
sanguilenta, muncul pada hari ketiga sampai tujuh masa nifas, berwarna
putih bercampur merah karena mengandung sisa darah bercampur
lendir. Lochea serosa, muncul pada hari ketujuh sampai keempat belas
masa nifas, berwarna kekuningan atau kecoklatan, mengandung lebih
banyak serum, leukosit, dan tidak mengandung darah lagi. Lochea alba,
muncul pada hari ke > 14 masa nifas, berwarna putih, dan mengandung
leukosit, selaput lendir serviks, dan serabut jaringan yang mati. Apabila
pengeluaran lochea tidak lancar dinamakan Lochiostasis (Sih Rini,
2017).
2. Luka Perineum: Bertujuan untuk mengkaji nyeri, pembengkakan,
kemerahan pada perineum, dan juga kerapatan jahitan apabila terdapat
jahitan (Sih Rini, 2017).
4) Ekstremitas
Dilakukan untuk mengkaji ada tidaknya edema (Sih Rini, 2017).
c. Analisis Data
Penulisan diagnosa masa nifas disesuaikan dengan nomenklatur kebidanan.
Contoh: P1Ab0 usia 25 tahun nifas 2 jam postpartum dengan nyeri perut seperti
kram, keadaan ibu dan bayi baik.
Masalah : nyeri perut seperti kram.
d. Penatalaksanaan
1. Kunjungan Nifas Pertama (KF I) 6—48 jam postpartum
1) Melakukan pencegahan perdarahan masa nifas karena atonia uteri, dengan
cara memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan menilai jumlah
perdarahan.
2) Memberikan konseling kepada ibu dan keluarga tentang pencegahan
perdarahan karena atonia uteri dengan cara melakukan masase fundus uteri
secara mandiri dan pemberian ASI Ekslusif.
3) Memberikan konseling pemberian ASI awal dan cara menyusui yang benar.
4) Melakukan pencegahan hipotermi dengan menjaga bayi tetap hangat.
2. Kunjungan Nifas Kedua (KF 2) 3—7 hari postpartum
1) Memastikan involusi uterus normal, yaitu dengan cara melihat apakah uterus
berkontraksi, fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, dan
tidak ada bau.
2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal.
3) Memastikan ibu dapat beristirahat dengan cukup, yaitu siang minimal
beristirahat selama 1 jam dan malam hari 6—7 jam.
4) Memastikan ibu mendapatkan makanan yang bergizi.
5) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda
penyakit.
6) Memberikan konseling pada ibu mengenai cara perawatan bayi, perawatan tali
pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan perawatan bayi sehari-hari.
3. Kunjungan Nifas Ketiga (KF 3) 8—28 hari postpartum
Asuhan yang diberikan sama dengan KF 2 (3—7 hari postpartum)
4. Kunjungan Nifas Keempat (KF 4) 29—42 hari postpartum
Memberikan konseling KB secara dini.
2.2.4 Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan Neonatus
Tanggal Pengkajian :
Waktu Pengkajian :
Tempat Pengkajian :
Oleh :
a. Data Subyektif
1. Identitas Bayi
1) Nama Bayi
Untuk menghindari kekeliruan (Sulis Diana, 2017).
2) Jenis Kelamin
Untuk memberikan informasi pada ibu dan keluarga, serta memfokuskan
saat pemeriksaan genetalia.
3) Anak ke-
Untuk mengkaji adanya kemungkinan sibling rivalry (Sih Rini, 2017).
2. Data Kesehatan
1) Riwayat Kehamilan
Untuk mengetahui beberapa kejadian atau komplikasi yang terjadi saat
mengandung bayi yang baru saja dilahirkan, sehingga dapat dilakukan
screening test dengan tepat dan segera.
2) Riwayat Persalinan
Untuk menentukan tindakan yang dilakukan pada bayi baru lahir (Sih Rini,
2017).
b. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
1) Keadaan Umum
Baik, jika pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan dan
orang lain, serta fisik pasien tidak memiliki ketergantungan dalam berjalan.
Lemah, jika pasien kurang atau tidak memberi respon baik terhadap lingkungan
dan orang lain.
2) TTV
Pernapasan normal bayi baru lahir adalah di antara 30-60 kali per menit, dihitung
ketika bayi dalam posisi tenang dan tidak ada tanda-tanda distress pernapasan.
Bayi baru lahir memiliki frekuensi denyut jantung 100-160 kali per menit. Angka
normal pada pengukuran suhu bayi aksila adalah 36,5-37,5°C (Sih Rini, 2017).
3) Pemeriksaan Antropometri
Menurut Sih Rini (dalam Sondakh, 2013), normalnya berat badan bayi baru lahir
adalah 2500-4000 gram, panjang badan sekitar 48-52 cm, lingkar kepala sekitar
33-38 cm, dan lingkar lengan atas sekitar 10-11 cm.
4) APGAR Score
Skor Apgar merupakan alat untuk mengkaji kondisi bayi sesaat setelah lahir
meliputi 5 variabel, dilakukan pada menit pertama, menit kelima dan kesepuluh.
Nilai 7-10 pada menit pertama menunjukkan bayi berada dalam keadaan baik.
2. Pemeriksaan Fisik
1) Kulit
Bayi baru lahir aterm terlihat lebih pucat dibandingkan dengan bayi preterm,
karena kulitnya lebih tebal.
2) Kepala
Menurut Sih Rini (dalam Wahyuni, 2011), ubun-ubun bayi baru lahir memiliki
ukuran yang bervariasi dan tidak ada standar, merupakan titik lembek pada
bagian atas kepala bayi di tempat tulang tengkorak yang belum sepenuhnya
bertemu. Sutura, molase merupakan perubahan bentuk kepala janin, 0 untuk
sutura terpisah, 1 untuk sutura (pertemuan dua tulang tengkorak) yang tepat atau
bersesuaian, 2 untuk sutura tumpang tindih tetapi dapat diperbaiki, dan 3 untuk
sutura tumpang tindih dan tidak dapat diperbaiki. Penonjolan tengkorak baru
menyatu pada usia dua tahun, baik karena trauma persalinan (caput succedaneum
dan cephalhematoma) maupun adanya cata kongenital (hidrosefalus). Selain itu,
juga dilakukan pengukuran lingkar kepala untuk mengukur ukuran frontal
oksipitalis kepala bayi.
3) Mata
Dilakukan pemeriksaan kesimetrisan mata,selain itu juga dilakukan pemeriksaan
refleks pupil dengan menggunakan penlight.
4) Telinga
Periksa telinga untuk memastikan jumlah, bentuk, dan posisinya. Telinga bayi
cukup bulan harus memiliki tulang rawan yang cukup, agar dapat kembali ke
posisi semula ketika selesai digerakkanke depan secara perlahan. Daun telinga
harus berbentuk sempurna dengan lengkungan yang jelas pada bagian atas, posisi
telinga diperiksa dengan penarikan khayal dari bagian luar kantung mata secara
horizontal ke belakang ke arah telinga. Lubang telinga juga harus diperiksa
kepatenannya, adanya kulit tambahan atau aurikel juga harus diperiksa.
5) Hidung
Tidak terdapat kelainan bawaan atau cacat lahir.
6) Mulut
Dilakukan pemeriksaan dengan pencahayaan yang cukup, dimana mulut terlihat
bersih, lembab, dan tidak terdapat kelainan seperti palatoskizis dan
labiopalatoskizis atau bibir sumbing.
7) Leher
Melakukan pemeriksaan adanya pembengkakan kelenjar tiroid, kelenjar limfe,
dan pembesaran vena jugularis.
8) Klavikula
Dilakukan untuk memastikan keutuhannya terutama pada presentasi bokong atau
distosia bahu, karena keduanya beresiko menyebabkan fraktur klavikula
9) Dada
Menurut Sih Rini (dalam WHO, 2013), tidak ada retraksi dinding dada bawah
yang dalam. Dda harus naik turun saat inspirasi dan ekspirasi pernapasan
10) Umbilikus
Tali pusat dan umbilikus diperiksa untuk mendeteksi adanya perdarahan tali
pusat, tanda-tanda pelepasan, dan juga infeksi. Tanda infeksi diketahui dengan
adanya tanda kemerahan sekitar umbilikus, tali pusat berbau busuk, dan menjadi
lengket.
11) Ekstremitas
Bertujuan untuk mengkaji kesimetrisan, ukuran, bentuk, dan juga posturnya.
Jumlah jari tangan dan kaki harus lengkap, apabila bayi aktif maka keempat
ekstremitas harus dapat bergerak bebas.
12) Punggung
13) Genitalia
Dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan pada bagian genetalia. Pada
perempuan vagina berlubang, uretra berlubang, dan labia minora telah menutupi
labia mayora. Sedangkan pada laki-laki testis berada dalam skrotum, penis
berlubang pada bagian ujungnya.
14) Anus
Secara perlahan-lahan membuka lipatan bokong, kemudian memastikan tidak ada
lesung atau sinus, dan memiliki sfingter ani.
15) Eliminasi
Keluarnya urine dan mekonium untuk menilai kepatenan ginjal dan saluran
gastrointestinal bagian bawah (Sih Rini, 2017).
3. Pemeriksaan Reflek Neurologis
1) Refleks Glabella
Refleks ini dinilai dengan mengetuk daerah pangkal hidung secara
perlahan menggunakan jari telunjuk pada saat mata terbuka, bayi akan
mengedipkan mata pada 4-5 ketukan pertama.
2) Refleks Sucking
Refleks ini dinilai dengan memberi tekanan pada mulut bayi dilangit
bagian dalam gusi atas yang akan menimbulkan hisapan yang kuat dan
cepat, yang juga dapat dilihat pada waktu bayi menyusu.
3) Refleks Rooting
Bayi menoleh ke arah benda yang menyentuh pipi, dinilai dengan
mengusap pipi bayi dengan lembut, bayi akan menolehkan kepalanya ke
arah jari kita dan membuka mulutnya.
4) Refleks Palmar Grasp
Refleks ini dinilai dengan meletakkan jari telunjuk pemeriksa pada
telapak tangan bayi, tekanan dengan perlahan, normalnya bayi akan
menggenggam dengan kuat. Jika telapak ditekan, maka bayi akan
mengepalkan tinjunya.
5) Refleks Babinski
Pemeriksaan refleks ini dengan memberi goresan telapak kaki dimulai
dari tumit, gores sisi lateral telapak kaki ke arah atas, kemudian gerakkan
jari sepanjang telapak kaki. Bayi akan menunjukkan respons berupa
semua jari hiperekstensi dengan ibu jari dorsofleksi.
6) Refleks Moro
Refleks ini ditunjukkan dengan timbulnya pergerakan tangan yang
simetris apabila kepala tiba-tiba digerakkan atau dikejutkan dengan cara
bertepuk tangan.
7) Refleks Stepping
Bayi menggerakkan tungkainya dalam suatu gerakan berjalan atau
melangkah, jika kita memegang tangannya sedangkan kakinya dibiarkan
menyentuh yang rata dan keras.
8) Refleks Crawling
Bayi akan berusaha untuk merangkak ke depan dengan kedua tangan dan
kaki, apabila diletakkan telungkup di atas permukaan datar.
9) Refleks Tonic Neck
Ekstremitas pada satu sisi ketika kepala ditolehkan akan eksistensi, dan
ekstremitas yang berlawanan akan fleksi apabila kepala bayi ditolehkan
ke satu sisi saat istirahat. Respon ini mungkin tidak ada atau tidak lengkap
segera setelah lahir.
10) Refleks Ekstrusi
Bayi baru lahir menjulurkan lidah ke luar, apabila ujung lidah disentuh
dengan jari atau puting (Sulis Disna, 2017).
c. Analisa Data
Perumusan diagnosa disesuaikan dengan nomenklatur kebidanan, sesuai normal cukup
bulan, sesuai masa kehamilan, serta permasalahan jika ada.
Contoh: Neonatus normal cukup bulan, sesuai masa kehamilan usia 6 jam postpartum.
Permasalahan yang biasanya dialami oleh neonatus adalah muntah, gumoh/regurgitasi,
oral trush, diaper rash, seborrhoe, bisull/furunkel, dan miliarisis/biang keringat.
d. Penatalaksanaan
1. Kunjungan Neonatus Pertama (KN I) 6—28 jam postpartum
1) Menjaga bayi tetap hangat dengan cara mencegah kehilangan panas baik secara
konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi.
2) Melakukan perawatan tali pusat. Setelah 3 menit bayi berada di atas perut ibu,
kemudian lanjutkan prosedur pemotongan tali pusat sebagai berikut.
a) Klem tali pusat menggunakan 2 buah klem, dengan kira-kira 2 atau 3 cm dari
pangkal pusat bayi, dan beri jarak sekitar 1 cm antar klem.
b) Potong tali pusat di antara kedua klem sambil melindungi perut bayi.
c) Pertahankan kebersihan pada saat pemotongan tali pusat dengan menggunakan
sarung tangan dan gunting steril atau DTT.
d) Ikatlah tali pusat dengan kuat atau gunakan penjepit khusus tali pusat.
e) Periksa tali pusat setiap 15 menit, apabila amsih terdapat perdarahan maka
lakukan pengikatan sekali lagi dengan ikatan yang kuat.
f) Pastikan bahwa tidak terjadi perdarahan tali pusat. Perdarahan 30 ml pada BBL
setara dengan 600 ml orang dewasa.
g) Jangan mengoleskan salep ke tali pusat, hindari juga pembungkusan tali pusat
agar lebih cepat kering dan meminimalisir komplikasi.
3) Melakukan pemeriksaan bayi baru lahir.
4) Melakukan perawatan dengan metode kanguru pada BBLR.
5) Melakukan pemeriksaan status vitamin K1 profilaksis dan imunisasi.
6) Melakukan penanganan bayi baru lahir sakit dan kelainan bawaan.
7) Melakukan rujukan pada kasus yang tidak dapat ditangani dalam kondisi stabil, tepat
waktu ke pe;ayanan kesehatan yang lebih lengkap.
2. Kunjungan Neonatus Kedua (KN 2) 3—7 hari postpartum
Asuhan yang diberikan sama dengan kunjungan pertama.
3. Kunjungan Neonatus Ketiga (KN 3) 8—28 hari postpartum
Asuhan yang diberikan sama dengan kunjungan pertama.
2.2.5 Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan Masa Antara
Tanggal Pengkajian :
Waktu Pengkajian :
Tempat Pengkajian :
Oleh :
a. Data Subyektif
a) Keluhan Utama
Klien datang karena ingin menggunakan kontrasepsi.
b) Riwayat Menstruasi
Untuk mengetahui menarche, banyaknya menstruasi, teratur atau tidak.
Pada ibu yang memilih KB pantang berkala harus menghitung masa
subur, sehingga dapat menghindari kehamilan. Sedangkan yang akan
menggunakan KB pil harus mengetahui lamanya menstruasi.
c) Riwayat obstetri yang Lalu
Untuk mengetahui jumlah kehamilan sebelumnya dan hasil akhirnya,
apakah terdapat komplikasi pada kehamilan, persalinan, ataupun nifas
sebelumnya dan apakah ibu mengetahui penyebabnya.
d) Riwayat Keluarga Berencana
Untuk mengkaji apakah ibu pernah menjadi akseptor KB.
e) Riwayat Kesehatan
Untuk mengidentifikasi kondisi kesehatan dan mengetahui penyakit
yang diderita dahulu.
f) Riwayat Kesehatan Keluarga
Untuk mengkaji penyakit yang menurun dan menular yang dapat
mempengaruhi kesehatan akseptor KB.
g) Pola Kebiasaan Sehari-hari
Untuk mengetahui bagaimana kebiasaan pasien sehari-hari dalam
memenuhi kebutuhan nutrisi, istirahat, frekuensi berhubungan seksual,
menjaga kebersihan diri, dan juga aktivitasnya.
h) Data Psikologis
Untuk mengetahui pengetahuan dan respon ibu terhadap alat kontrasepsi
yang akan digunakan, keluhannya, respon suami dengan pemakaian alat
kontrasepsi, dukungan dari keluarga, dan pemilihan tempat dalam
pelayanan KB (Sulis Diana, 2017).
b. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
1) Keadaan Umum
Baik, jika pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan
dan orang lain, serta fisik pasien tidak memiliki ketergantungan dalam
berjalan. Lemah, jika pasien kurang atau tidak memberikan respon yang
baik terhadap lingkungan dan orang lain, dan pasien sudah tidak mampu
berjalan sendiri.
2) Kesadaran
Bertujuan untuk menilai kesadaran ibu. Composmentis adalah sadar
sepenuhnya, apatis disaat pasien tampak segan dan acuh tak acuh (Sulis
Diana, 2017).
3) TTV
Tekanan darah normalnya 100/60-140/90 mmHg. Suhu badan normal 35,8-
37,3°C. Denyut nadi normal 60-100 x/menit. Pernapasan normal 16-20
x/menit (Sih Rini, 2017).
2. Pemeriksaan Fisik
1) Wajah
Pada ibu, penggunaan KB yang lama akan menimbulkan flek-flek jerawat
atau flek hitam pada pipi dan dahi.
2) Mata
Konjungtiva berwarna merah muda atau tidak, dan juga sklera berwarna
putih atau tidak.
3) Leher
Mengkaji pembengkakan kelenjar tiroid, pembengkakan kelenjar limfe, dan
juga bendungan vena jugularis.
4) Abdomen
Mengetahui apakah ada pembesaran uterus, adanya bekas luka operasi,
pembesaran hepar, dan juga nyeri tekan.
5) Genitalia
Untuk mengetahui apakah vulva mengalami infeksi, pembesaran kelenjar
bartholini, dan juga perdarahan.
6) Ekstremitas
Untuk mengetahui apakah terdapat varises maupun odem pada bagian
ekstremitas (Sulis Diana, 2017).
c. Analisis Data
Pada tahap ini dilakukan interpretasi data dasar untuk menentukan diagnosis,
antisipasi, masalah potensial, dan perlu tidaknya tindakan segera dalam batas
diagnosis kebidanan.
Contoh: P1Ab0 akseptor baru suntik KB 3 bulan.
d. Penatalaksanaan
1. Lakukan pendekatan terapeutik pada klien dan keluarga
R/Pendekatan yang baik kepada ibu membangun kepercayaan ibu dengan bidan.
2. Tanyakan pada klien informasi dirinya tentang riwayat KB
R/Informasi yang diberikan ibu membuat petugas mengerti dengan keinginan ibu.
3. Beri penjelasan tentang macam-macam metode KB
R/Dengan informasi atau penjelasan yang diberikan, ibu akan mengerti tentang
macam-macam metode Kb yang sesuai.
4. Lakukan informed consent dan bantu klien menentukan pilihannya
R/Bukti bahwa klien setuju menggunakan metode KB yang tepat.
5. Beri penjelasan secara lengkap tentang metode kontrasepsi yang digunakan
R/Supaya ibu mengerti keinginan dan keuntungan metode kontrasepsi yang
digunakan.
6. Anjurkan ibu kontrol dan tuliskan pada kartu akseptor
R/Agar ibu tahu kapan waktunya datang kepada bidan
BAB III
TINJAUAN KASUS
3.1 ASUHAN KEBIDANAN KEHAMILAN
3.2.1 Kunjungan Kehamilan I
Tanggal : 02 Februari 2024
Jam : 09.00 WIB
Tempat : PMB Kis rita
A. Pengkajian Data
Data Subyektif
1. Biodata
Nama Ibu : Ny. N Nama Suami : Tn. R
Umur : 20 tahun Umur : 25 tahun
Suku : Jawa Suku : Jawa
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMK Pendidikan : SMK
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Swasta
Alamat : Ngelak 2/2, Dampit
2. Alasan Datang
Ibu mengatakan ingin memeriksakan kehamilan pertamanya
3. Keluhan Utama
Ibu mengatakan hamil 8 bulan dan keluar cairan berwarna bening, tidak gatal, dan
tidak berbau dari kemaluannya sejak dua minggu yang lalu.
4. Riwayat Pernikahan
Status pernikahan : Sah
Pernikahan ke- : 1 (Pertama)
Umur ketika menikah : 19 tahun
Lama pernikahan : 1 tahun
5. Riwayat Menstruasi
Menarche : 12 tahun
Siklus haid : 28 hari
Lama haid : 6-7 hari
Banyaknya : 2-3 kali ganti pembalut
Disminorhe : Kadang-kadang
Fluor Albus : Tidak
HPHT : 5 Juni 2023
HPL : 12 Maret 2024
6. Riwayat Obstetri yang Lalu
No Tahun Jenis Penolong UK JK/ Penyulit Kondisi
Persalinan Persalinan BB/PB Saat Ini
1 Hamil ini
7. Riwayat Kehamilan Sekarang
Keluhan Berapa kali Terapi Tempat
TM I Mual 2x Fe, [Link] PMB
TM II Tidak ada 2x Fe, kalk Posyandu
TM III Tidak ada 2x calsium PMB
8. Riwayat Kontrasepsi yang Digunakan
Ibu mengatakan belum pernah menggunakan kontrasepsi apapun.
9. Riwayat Kesehatan Sekarang dan yang Lalu
Ibu mengatakan tidak sedang dan tidak pernah menderita penyakit menular,
menurun, dan menahun seperti diabetes, hipertensi, penyakit kuning, batuk lama,
anemia, sesak nafas, PMS dan HIV.
10. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan bahwa baik keluarga maupun keluarga dari suaminya tidak ada
yang menderita penyakit menular, menurun, dan menahun seperti diabetes,
hipertensi, penyakit kuning, batuk lama, anemia, sesak nafas, PMS dan HIV, serta
tidak mempunyai riwayat keturunan kembar.
11. Pola Pemenuhan Kebutuhan Dasar Selama Kehamilan
a. Pola Nutrisi
Ibu mengatakan sebelum hamil makan 3 kali sehari dengan menu nasi dan lauk
pauk seperti tahu, tempe, ikan maupun daging, telur, sayur-sayuran dalam porsi
sedang, ibu minum 6—7 gelas air putih.
Selama hamil makan 3 kali sehari dengan menu nasi dan lauk pauk seperti tahu,
tempe, ikan maupun daging, telur, sayur-sayuran dalam porsi sedang, ibu minum
7—8 gelas air putih, selain itu ibu juga makan cemilan di siang hari.
b. Pola Aktifitas
Ibu mengatakan sebelum hamil mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan
dibantu suaminya.
Selama hamil masih mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu,
mengepel, mencuci, menjemur, dan memasak dengan dibantu suaminya.
c. Personal Hygiene
Ibu mengatakan sebelum hamil mandi, sikat gigi, ganti baju, dan ganti celana
dalam 2 kali sehari.
Selama hamil mandi, sikat gigi, ganti baju, dan ganti celana dalam 2 kali sehari.
d. Pola Eliminasi
Ibu mengatakan sebelum hamil BAB 1 kali sehari di pagi hari dan BAK 5—6
kali sehari.
Selama hamil BAB 1 kali sehari di pagi hari dan BAK 6—7 kali sehari.
e. Pola Istirahat
Ibu mengatakan sebelum hamil tidak tidur siang dan tidur malam 7—8 jam.
Selama hamil terkadang tidur siang selama 1 jam dan tidur malam 6—7 jam.
12. Pola Psikologi, Sosial, Budaya, dan Ekonomi
Ibu mengatakan bahwa ibu dan keluarga senang akan kehamilan ini dan juga
merupakan kehamilan yang ditunggu-tunggu oleh suami dan keluarga. Ibu
mengatakan di keluarganya ada acara 3 bulanan dan 7 bulanan. Ibu dan suami
sudah mempunyai tabungan untuk persalinan dengan pengambil keputusan adalah
suami. Ibu tidak pernah pijat oyok.
Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Suhu : 36,4 ºC
Nadi : 86x/ menit
Pernapasan : 22x/ menit
2. Pemeriksaan Antropometri
Berat badan sebelum hamil : 48 kg
Berat badan setelah hamil : 58 kg
Tinggi badan : 153 cm
LILA : 27 cm
IMT : 48 / 1,53 x 1,53 = 20,5
3. Pemeriksaan Fisik
Muka : Tidak pucat, tidak ada odema
Mata : Konjungtiva berwarna merah muda, sklera putih, dan
pandangan tidak kabur.
Mulut : Bersih, stomatitis (-), lembab.
Leher : Pembesaran kelenjar limfe (-), pembengkakan kelenjar
tiroid (-), dan bendungan vena jugularis (-).
Payudara : Bersih, hyperpigmentasi areola, puting susu menonjol,
tidak ada benjolan abnormal, tidak ada nyeri tekan, dan
tidak terdapat pengeluaran kolostrum.
Abdomen : Tidak ada luka bekas operasi, linea nigra tidak ada.
Leopold I : TFU teraba di pertengahan antara pusat
dan processus xyphoideus (px), fundus
teraba bagian lunak dan tidak melenting,
terkesan bokong. TFU [Link] 30 cm.
Leopold II : Pada sebelah kiri perut ibu teraba bagian
kecil janin terkesan ekstremitas, dan sebelah
kanan perut ibu teraba keras seperti papan
terkesan punggung.
Leopold III : Teraba bagian keras dan bulat (kepala).
Belum masuk PAP
DJJ : 142 x/menit
TBJ : TBJ menurut Johnson yakni ((TFU-
11)x155)= ((30-11)x155)= 19x155= 2945
gram.
Genetalia : Terdapat keputihan berwarna bening dengan tekstur
sedikit lengket, tidak ada varises, dan tidak terdapat
condiloma akuminata.
Anus : Haemorroid (-)
Ekstremitas : Odem (-/-), varises (-/-).
4. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium : (23 September 2023 di Puskesmas Turen)
Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Hematologi
Darah rutin
Hemoglobin 12,3 g/Dl 11.4 – 15.1
Kimia Klinik
Gula Darah Sewaktu 84 mg/dL < 200
B. Protein Urine Non Reaktif Non Reaktif
Imunoserelogi
Rapid HIV Non Reaktif Non Reaktif
HBs Ag (RPHA) Non Reaktif Non Reaktif
Rapid Syphilis Non Reaktif Non Reaktif
Interpretasi Data
Diagnosa
Dx: G1P0Ab0 usia kehamilan 34-35 minggu janin Tunggal/Hidup/Intrauterine dengan
kehamilan letak kepala, punggung kanan keadaan ibu dan janin baik.
C. Identifikasi Diagnosa/ MasalahPotensial
Tidak ada diagnosa potensial
D. Identifikasi Kebutuhan Segera
Tidak ada kebutuhan segera berdasarkan masalah potensial
E. Perencanaan Tindakan
Tanggal : 02 Februari 2024 Jam : 09.30 WIB
1. Jelaskan kepada ibu mengenai hasil pemeriksaan
R/agar ibu dapat mengetahui kondisi dirinya beserta janinnya.
2. Berikan informasi kepada ibu tentang perubahan fisiologis dan ketidaknyamanan
umum yang terjadi pada kehamilan trimester III seperti keputihan
R/agar ibu mengetahui bahwa keputihan yang dialaminya merupakan salah satu
bentuk tubuh beradaptasi terhadap kehamilan yang disebabkan oleh perubahan
hormon
3. Berikan KIE kepada ibu tentang pentingnya personal hygiene untuk mengatasi
keputihan
R/dilakukan untuk meningkatkan personal hygiene pasien dan mengurangi
keputihan.
4. Berikan KIE kepada ibu tentang perawatan payudara untuk persiapan menyusui
R/agar ibu mengetahui cara perawatan payudara.
5. Berikan KIE kepada ibu tentang perubahan fisiologis ibu hamil trimester III,
ketidaknyamanan pada ibu hamil trimester III, dan tanda bahaya pada kehamilan
trimester III
R/dilakukan untuk melakukan pemantauan dan deteksi dini tanda bahaya pada
kehamilan trimester III.
6. Anjurkan ibu untuk kunjungan ulang satu minggu lagi
R/untuk memantau kondisi kehamilan ibu serta mengevaluasi asuhan yang telah
diberikan pada kunjungan sebelumnya.
F. Implementasi
Tanggal : 02 Februari 2024 Jam : 09.50 WIB
1. Menjelaskan kepada ibu mengenai hasil pemeriksaan, yakni tekanan darah 120/80
mmHg, suhu 36.4ºC, nadi 88x/ menit, pernapasan 22x/ menit, DJJ 142x/ menit,
secara umum keadaan ibu baik.
E/ibu memahami kondisinya dan janinnya.
2. Memberikan informasi kepada ibu tentang ketidaknyamanan pada kehamilan
trimester III seperti keputihan, yang disebabkan oleh meningkatnya produksi lender
yang berguna untuk mencegah infeksi pada sistem reproduksi yang disebabkan oleh
perubahan hormone.
E/ibu mengerti bahwa keputihan yang dialaminya normal.
3. Memberikan KIE kepada ibu tentang pentingnya personal hygiene untuk mengatasi
keputihan, dengan rutin mengganti celana dalam jika sudah terasa lembab atau basah,
ibu dianjurkan menggunakan celana dalam yang berbahan katun dan tidak ketat.
E/ibu bersedia melakukannya di rumah.
4. Memberikan KIE kepada ibu tentang perawatan payudara untuk persiapan menyusui,
perawatan payudara dilakukan dengan rutin membersihkan puting payudara dan
areola mammae dengan menggunakan kapas dan baby oil. Serta melakukan kompres
hangat pada payudara.
E/ibu mengerti cara perawatan payudara di rumah dan bersedia melakukannya di
rumah.
5. Memberikan KIE kepada ibu tentang perubahan fisiologis ibu hamil trimester III,
ketidaknyamanan pada ibu hamil trimester III, dan tanda bahaya pada kehamilan
trimester III.
E/ibu memahami KIE yang diberikan.
6. Menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang satu minggu lagi, yakni pada tanggal 09
Oktober 2023.
E/ibu bersedia untuk melakukan kunjungan ulang.
G. Evaluasi
Tanggal : 02 Februari 2024 Jam : 10.40 WIB
Data Subyektif (S) : Ibu mengerti dan memahami mengenai KIE yang
diberikan.
Data Obyektif (O) : TD : 120/80 mmHg
Suhu : 36.4ºC
Nadi : 88 x/menit
Pernapasan : 22 x/menit
BB saat ini 58 kg
Analisa (A) : G1P0Ab0 UK 34-35 minggu janin
Tunggal/Hidup/Intrauterine dengan kehamilan letak
kepala, punggung kanan keadaan ibu dan janin baik.
Penatalaksanaan (P) : 1. KIE mengenai perubahan fisiologis ibu hamil
trimester III, ketidaknyamanan pada ibu hamil
trimester III, tanda bahaya pada kehamilan, personal
hygiene, dan perawatan payudara telah diberikan.
2. Ibu mengerti dan memahami mengenai perubahan
fisiologis ibu hamil trimester III, ketidaknyamanan
pada ibu hamil trimester III, tanda bahaya pada
kehamilan, personal hygiene, dan perawatan
payudara
3. Ibu bersedia untuk melakukan kunjungan ulang pada
tanggal 09 Oktober 2023.
3.2.2 Kunjungan Kehamilan II
Tanggal : 09 Februari 2024
Jam : 12.00 WIB
Tempat : PMB Kis Rita
A. Data Subyektif
Keluhan Utama
Ibu mengatakan masih mengalami keputihan
Pola Pemenuhan Kebutuhan Dasar Selama Kehamilan
1. Pola Nutrisi
Ibu mengatakan makan 3 kali sehari dengan menu nasi dan lauk pauk seperti tahu,
tempe, ikan maupun daging, telur, sayur-sayuran dalam porsi sedang, ibu minum 7
—8 gelas air putih, selain itu ibu juga makan cemilan di siang hari.
2. Pola Aktifitas
Ibu mengatakan masih mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu,
mengepel, mencuci, menjemur, dan memasak dengan dibantu suaminya.
3. Personal Hygiene
Ibu mengatakan mandi, sikat gigi, dan ganti baju 2 kali sehari. Serta mengganti
celana dalam setiap kali terasa basah.
4. Pola Eliminasi
Ibu mengatakan BAB 2 hari sekali dan BAK 6—7 kali sehari.
B. Data Obyektif
Pemeriksaan TTV
Kesadaran : Composmentis
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Suhu : 36,4 ºC
Nadi : 86x/ menit
Pernapasan : 22x/ menit
Pemeriksaan Antropometri
BB saat ini : 58,3 kg
Pemeriksaan Fisik
Muka : Tidak pucat, tidak ada odema
Mata : Konjungtiva berwarna merah muda, sklera putih, dan
pandangan tidak kabur.
Mulut : Bersih, stomatitis (-), lembab.
Leher : Pembesaran kelenjar limfe (-), pembengkakan kelenjar
tiroid (-), dan bendungan vena jugularis (-).
Payudara : Bersih, hyperpigmentasi areola, puting susu menonjol,
tidak ada benjolan abnormal, tidak ada nyeri tekan, tidak
terdapat pengeluaran kolostrum.
Abdomen : Tidak ada luka bekas operasi, linea nigra (-).
Leopold I : TFU teraba di pertengahan antara pusat
dan processus xyphoideus (px), fundus
teraba bagian lunak dan tidak melenting,
terkesan bokong. TFU [Link] 30 cm.
Leopold II : Pada sebelah kiri perut ibu teraba bagian
kecil janin terkesan ekstremitas, dan
sebelah kanan perut ibu teraba keras
seperti papan terkesan punggung.
Leopold III : Teraba bagian keras dan bulat (kepala).
Belum masuk PAP.
DJJ : 142 x/menit.
TBJ : TBJ menurut Johnson yakni ((TFU-
11)x155)= ((30-11)x155)= 19x155= 2945
gram.
Genetalia : Terdapat keputihan berwarna bening dengan tekstur
sedikit lengket, tidak varises, dan tidak terdapat
condiloma akuminata.
Anus : Haemorroid (-)
Ekstremitas : Terdapat odem (-/-), varises (-/-).
Refleks patella (+/+) (Perkusi)
C. Analisa
G1P0Ab0 UK 35-36 minggu janin Tunggal/Hidup/Intrauterine dengan kehamilan
normal.
D. Penatalaksanaan
Tanggal : 09 Februari 2024 Jam : 12.50 WIB
1. Menjelaskan kepada ibu mengenai hasil pemeriksaan, yakni tekanan darah 120/80
mmHg, suhu 36.4ºC, nadi 88x/ menit, pernapasan 22x/ menit, DJJ 142x/ menit, secara
umum keadaan ibu baik.
E/ibu memahami kondisinya dan janinnya.
2. Menganjurkan ibu untuk tetap menerapkan personal hygiene dan melakukabn perawatan
payudara di rumah.
E/ibu bersedia untuk tetap menerapkan personal hygiene dan melakukan perawatan
payudara di rumah.
3. Memberikan asuhan kepada ibu dengan pijat perineum untuk melenturkan otot jalan
lahir, dilakukan dengan peregangan lembut pada dasar panggul yang berfokus pada area
vagina.
E/ibu bersedia untuk dilakukan asuhan.
4. Memberikan KIE kepada ibu dan suami tentang tanda-tanda persalinan serta persiapan
persalinan.
E/ibu dan suami mengerti tentang KIE yang diberikan dan bisa menjawab pertanyaan
yang diberikan.
5. Menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang satu minggu lagi tanggal 18 Oktober 2023.
E/ibu bersedia untuk melakukan kunjungan ulang.
3.2.3 Kunjungan Kehamilan III
Tanggal : 18 Februari 2024
Jam : 17.00 WIB
Tempat : PMB Kis Rita
A. Data Subyektif
Keluhan Utama
Ibu mengatakan tidak ada keluhan
Pola Pemenuhan Kebutuhan Dasar Selama Kehamilan
1. Pola Nutrisi
Ibu mengatakan makan 3 kali sehari dengan menu nasi dan lauk pauk seperti tahu,
tempe, ikan maupun daging, telur, sayur-sayuran dalam porsi sedang, ibu minum 7—
8 gelas air putih, selain itu ibu juga makan cemilan di siang hari.
2. Pola Aktifitas
Ibu mengatakan masih mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu,
mengepel, mencuci, menjemur, dan memasak dengan dibantu suaminya meskipun di
usia kehamilannya ini ibu merasa mudah lelah.
3. Personal Hygiene
Ibu mengatakan mandi, sikat gigi, dan ganti baju 2 kali sehari. Serta mengganti
celana dalam setiap kali terasa basah.
4. Pola Eliminasi
Ibu mengatakan BAB 2 hari sekali dan BAK 7—8 kali sehari.
B. Data Obyektif
Pemeriksaan TTV
Kesadaran : Composmentis
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Suhu : 36,3 ºC
Nadi : 88x/ menit
Pernapasan : 22x/ menit
Pemeriksaan Antropometri
BB saat ini : 58,5 kg
Pemeriksaan Fisik
Muka : Tidak pucat, tidak ada odema
Mata : Konjungtiva berwarna merah muda, sklera putih, dan
pandangan tidak kabur.
Mulut : Bersih, stomatitis (-), lembab.
Leher : Pembesaran kelenjar limfe (-), pembengkakan kelenjar
tiroid (-), dan bendungan vena jugularis (-).
Payudara : Bersih, hyperpigmentasi areola, puting susu menonjol,
tidak ada benjolan abnormal, tidak ada nyeri tekan, terdapat
pengeluaran kolostrum.
Abdomen : Tidak ada luka bekas operasi, linea nigra (-).
Leopold I : TFU teraba dua jari di bawah
procesus xyphoideus (px), pada fundus
teraba bagian lunak dan tidak
melenting, terkesan bokong. TFU
[Link] 31 cm.
Leopold II : Pada sebelah kiri perut ibu teraba
bagian kecil-kecil janin terkesan
ekstremitas, dan sebelah kanan perut
ibu teraba keras memanjang seperti
papan terkesan punggung.
Leopold III : Teraba bagian keras dan bulat (kepala)
dan sulit digoyangkan.
Leopold IV : Bagian terendah dari janin sudah
masuk PAP.
DJJ : 150 x/menit.
TBJ : TBJ menurut Johnson yakni ((TFU-
11)x155)= ((31-11)x155)= 20x155=
3100 gram.
Genetalia : Bersih, tidak varises, tidak terdapat condiloma akuminata.
Anus : Haemorroid (-)
Ekstremitas : Terdapat odem (-/-), varises (-/-).
C. Analisa
G1P0Ab0 UK 36-37 minggu janin Tunggal/Hidup/Intrauterine dengan kehamilan normal.
D. Penatalaksanaan
Tanggal : 18 Februari 2024 Jam : 18.00 WIB
1. Menjelaskan kepada ibu mengenai hasil pemeriksaan, yakni tekanan darah 120/80
mmHg, suhu 36.4ºC, nadi 88x/ menit, pernapasan 22x/ menit, DJJ 142x/ menit, secara
umum keadaan ibu baik.
E/ibu memahami kondisinya dan janinnya.
2. Mendampingi ibu melakukan senam hamil.
E/ibu bersedia untuk melakukan senam hamil.
3. Mengingatkan kembali tentang tanda-tanda persalinan yakni keluar lendir darah dari jalan
lahir, keluar cairan ketuban, dan kontraksi semakin kuat dan sering.
E/ibu mengerti dan dapat menyebutkan tanda-tanda persalinan.
4. Memberikan dukungan kepada ibu dan keluarga untuk persiapan persalinan.
E/Ibu dan suami merasa senang mendapat dukungan persiapan persalinan.
5. Menganjurkan ibu kunjungan ulang 1 minggu lagi atau sewaktu-waktu jika ada keluhan
E/ibu bersedia untuk melakukan kunjungan ulang.
3.2 Asuhan Kebidanan Persalinan
Tanggal : 08 Maret 2024
Jam : 13.20 WIB
Tempat : PMB Kis Rita
3.2.1 KALA I
A. Data Subyektif
1. Keluhan Utama
Ibu mengatakan perutnya terasa kenceng-kenceng mulai pukul 08.00 WIB serta
keluar lendir darah pada pukul 11.30 WIB.
2. Riwayat Kehamilan Sekarang
Hamil ANC Keluhan Terapi Tempat
TM I 2x Mual Fe, [Link] PMB
TM II 2x Tidak ada Fe, kalk Posyandu
TM III 4x Keputihan Omeneuron PMB
3. Pola Pemenuhan Kebutuhan Dasar saat ini
a. Pola Nutrisi
Ibu mengatakan makan terakhir pukul 10.00 WIB dengan menu setengah piring
nasi dan lauk pauk, minum air putih 1 gelas dan juga setengah gelas air teh.
b. Pola Aktifitas
Ibu mengatakan dianjurkan untuk miring kiri.
c. Personal Hygiene
Ibu mengatakan mandi terakhir pukul 07.00 WIB dan ganti pakaian sebelum
berangkat ke PMB.
d. Pola Eliminasi
Ibu mengatakan BAB terakhir kemarin pukul 06.00 WIB dan BAK terakhir
sebelum berangkat ke PMB.
e. Istirahat
Ibu mengatakan bangun pukul 05.00 WIB setelah sebelumnya terbangun pukul
00.00 WIB karena merasakan kenceng-kenceng.
6. Riwayat Psikologi, Sosial, Ekonomi, dan Budaya
a. Psikologi
Ibu mengatakan siap untuk menunggu kelahiran bayinya.
b. Sosial
Ibu mengatakan suami dan keluarganya selalu memberikan dukungan kepada ibu
untuk menunggu kelahiran bayinya.
c. Ekonomi
Ibu mengatakan sudah memiliki tabungan untuk membesarkan bayinya.
d. Budaya
Ibu mengatakan tidak ada budaya yang mempengaruhi proses persalinannya
seperti mengonsumsi rumput fatimah.
B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Kesadaran : Composmentis
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Suhu : 36,5 ºC
Nadi : 88x/ menit
Pernapasan : 22x/ menit
2. Pemeriksaan Fisik
Wajah : Tidak pucat, tidak ada odema.
Mata : Konjungtiva berwarna merah muda, sklera putih, dan
pandangan tidak kabur.
Payudara : Bersih, hyperpigmentasi areola, puting susu menonjol,
tidak ada benjolan abnormal, tidak ada nyeri tekan, dan
terdapat pengeluaran kolostrum.
Leopold I : TFU 3 jari di bawah procesus xyphoideus (px), fundus
teraba bagian lunak dan tidak melenting terkesan bokong.
TFU [Link] 33 cm.
Leopold II : Pada sebelah kiri perut ibu teraba bagian kecil janin
terkesan ekstremitas, dan sebelah kanan perut ibu teraba
keras seperti papan terkesan punggung.
Leopold III : Teraba bagian keras dan bulat (kepala) dan tidak bisa
digerakkan.
Leopold IV : Seluruh bagian kepala sudah masuk PAP.
TBJ : (33-12) X 155 = 21 X 155 = 3255 gram.
DJJ : 145 x/menit.
His : 4x10’40”
Genetalia : Tampak lendir darah, varises tidak ada, candiloma
akuminata tidak ada
3. Pemeriksaan Dalam
Pukul : 13.30 WIB Oleh : Bidan Ninik ernawati
Vulva/vagina lendir (+) darah (+), pembukaan 8 cm, Effacement 50%, ketuban utuh,
bagian terendah kepala, bagian terdahulu UUK, molase 0, Hodge III, serta tidak ada
bagian kecil atau berdenyut di sekitar bagian terdahulu
C. Analisa
G1P0Ab0 UK 39-40 minggu dengan Inpartu kala I fase aktif
D. Penatalaksanaan
Tanggal : 08 Maret 2024 Jam : 13.40 WIB
1. Bidan memberitahu ibu bahwa pembukaan serviks sebesar 8 cm, keadaan ibu dan janin
baik, DJJ 145x/ menit.
2. Melakukan observasi kemajuan persalinan yang meliputi his (frekuensi, lama, dan
kekuatan his) 30 menit sekali, suhu setiap 2 jam sekali, nadi setiap 30 menit sekali, suhu
setiap 2 jam sekali, nadi setiap 30 menit sekali, DJJ setiap 30 menit sekali, urine setiap 2
jam sekali, dan pemeriksaan dalam setiap 4 jam sekali.
3. Memberikan asuhan sayang ibu dan menganjurkan ibu posisi miring kiri.
4. Menganjurkan ibu makan dan minum.
5. Mengajarkan ibu teknik relaksasi.
CATATAN PERKEMBANGAN KALA I
Tanggal : 08 Maret 2024
Jam : 14.30 WIB
S : Ibu mengatakan perutnya mules semakin sering
O : Nadi 86x/menit, Pernapasan 22x/menit, DJJ 140x/menit, His 4x10’40”
A : G1P0Ab0 UK 39-40 minggu dengan Inpartu kala I fase aktif
P : Memberitahu ibu hasil pemeriksaan, tidak menahan BAB dan BAK, melakukan
observasi kemajuan persalinan, dan memeriksa kelengkapan alat persalinan
3.2.2 KALA II
Tanggal : 08 Maret 2024
Jam : 15.30 WIB
Tempat : PMB Kis rita
A. Data Subyektif
Ibu mengatakan perutnya semakin mulas, merasa ingin meneran dan seperti ingin buang
air besar.
B. Data Obyektif
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
DJJ : 150x/ menit
His : 4x10’50”
Pemeriksaan Dalam : Vulva/vagina lendir darah, pembukaan 10 cm,
Effacement 100%, ketuban (-) jernih, bagian
terendah kepala, bagian terdahulu UUK, molase 0,
Hodge IV, serta tidak ada bagian kecil atau
berdenyut di sekitar bagian terdahulu
C. Analisa
G1P0Ab0 UK 39-40 minggu Inpartu kala II
D. Penatalaksanaan
1. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa pembukaan sudah lengkap
2. Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk mematahkan ampul
oksitosin dan memasukkan alat suntik sekali pakai ke dalam wadah partus set.
3. Memakai celemek plastik
4. Memastikan tangan tidak memakai perhiasan, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
5. Memakai satu sarung tangan DTT pada tangan kanan digunakan untuk periksa dalam.
6. Mengambil alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan, isi dengan oksitosin dan
letakkan kembali ke dalam partus set.
7. Membersihkan vulva dan perineum dengan kapas cebok
8. Melakukan pemeriksaan dalam
E/Pembukaan sudah lengkap dan selaput ketuban sudah pecah dengan warna jenih.
9. Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam larutan klorin 0.5 %,
membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendam dalam larutan klorin
0.5%.
10. Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai
E/DJJ 150x/menit.
11. Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, meminta ibu
untuk meneran saat ada his.
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran (pada saat ada
his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ibu merasa nyaman).
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran
14. Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi nyaman jika ibu
belum merasa ada dorongan meneran dalam 60 menit.
15. Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian di bawah bokong ibu.
16. Membuka tutup partus set dan memperhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan.
17. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.
18. Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5-6 cm, memasang handuk bersih
untuk mengeringkan janin pada perut ibu.
19. Memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janin
E/Tidak ditemukan adanya lilitan tali pusat.
20. Menunggu hingga kepala janin melakukan putaran paksi luar secara spontan.
21. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara biparental. Menganjurkan
kepada ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakkan kepala ke arah
bawah dan distal hingga bahu depan muncul di bawah arkus pubis, dan kemudian
gerakkan ke arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang.
22. Setelah bahu lahir, geser tangan bawah ke arah perineum untuk menyanggah kepala,
lengan, dan siku sebelah bawah. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang
tangan dan siku sebelah atas.
23. Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung ke arah bokong dan
tungkai bawah janin untuk memegang tungkai bawah (selipkan jari telunjuk dan tangan
kiri di antara kedua lutut janin.
E/Bayi lahir spontan pada pukul 16.05 WIB
24. Melakukan penilaian selintas.
E/Bayi menangis kuat, bergerak aktif, dan warna kulit kemerahan.
25. Mengeringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh lainnya kecuali
bagian tangan tanpa membersihkan verbiks. Ganti handuk basah dengan handuk kering,
membiarkan bayi di atas perut ibu.
26. Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus.
E/Tidak ada bayi kedua.
4.2.3 KALA III
Tanggal : 08 Maret 2024
Jam : 16.06 WIB
Tempat : PMB Kis rita
A. Data Subyektif
Ibu merasa lega dan senang bayinya sudah lahir. Ibu mengatakan perutnya masih terasa
mulas.
B. Data Obyektif
Keadaan umum baik, Tekanan darah 110/70 mmHg, Nadi 88x/menit, Pernapasan
22x/menit, Suhu 36.3ºC. Pada abdomen TFU setinggi pusat, Kontraksi uterus keras, dan
Kandung kemih kosong. Pada genetalia terdapat semburan darah tiba-tiba, tali pusat
memanjang, dan perdarahan setengah underpad
C. Analisa
P1Ab0 persalinan kala III.
D. Penatalaksanaan
1. Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar utrus berkontraksi baik.
2. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikkan oksitosin 10 unit IM secara
intramuskuler di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum
menyuntikkan oksitosin).
3. Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat
bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm
distal dari klem pertama.
4. Dengan satu tangan, pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi) dan lakukan
pengguntingan tali pusat di antara 2 klem tersebut.
5. Meletakkan bayi agar ada kontak antara kulit ibu dengan kulit bayi. Letakkan bayi
tengkurap di dada klien, luruskan bahu bayi sehingga bayi menempel di dada ibu,
usahakan kepala bayi berada di antara payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari
putting payudara ibu.
6. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di kepala bayi.
7. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva.
8. Meletakkan satu tangan di atas kain pada perut ibu, di tepi atas simfisis, untuk
mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.
9. Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan kanan, sementara
tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati ke arah dorso kranial.
10. Melakukan penegangan dan dorongan dorso kranial hingga plasenta terlepas.
11. Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta dengan hati-hati.
E/Plasenta lahir pada pukul 16.15 WIB.
12. Memeriksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan kanan untuk
memstikan bahwa seluruh kotiledon dan selaput ketuban sudah lahir lengkap, dan
masukkan ke dalam kantong plastik yang tersedia.
E/Panjang plasenta ±15 cm, ketebalan plasenta ± 2cm, panjang tali pusat ±40 cm,
kotiledon lengkap, selaput lengkap, tidak ada pembuluh darah yang pecah.
13. Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum serta melakukan penjahitan
pada laserasi yang mengalami perdarahan aktif.
E/Terdapat robekan perineum derajat dua pada otot perineum, mukosa vagina, dan
komisura posterior yang mengalami perdarahan aktif. Bidan melakukan tindakan
penjahitan pada laserasi perineum tanpa anastesi dengan teknik jelujur.
4.2.4 KALA IV
Tanggal : 08 Maret 2024
Jam : 16.30 WIB
Tempat : PMB Kis rita
A. Data Subyektif
Ibu merasa lega ari-arinya sudah keluar, dan Ibu mengatakan perutnya masih terasa
mulas dan tidak pusing.
B. Data Obyektif
Tekanan darah 110/80 mmHg, Nadi 82x/menit, Pernapasan 22x/menit, Suhu 36.7ºC.
Pada abdomen TFU 2 jari di bawah pusat, Kontraksi uterus keras, dan Kandung kemih
kosong. Pada genetalia terdapat perdarahan ±50 cc, terdapat robekan perineum derajat
dua.
C. Analisa
P1Ab0 persalinan kala IV.
D. Penatalaksanaan
1. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam.
2. Mencelupkan kedua tangan yang masih memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin
0.5%, membersihkan noda darah dan cairan tubuh, lepaskan secara terbalik dan rendam
sarung tangan dalam larutan klorin 0.5% selama sepuluh menit. Mencuci tangan dengan
sabun dan air mengalir, keringkan tangan dengan handuk, kemudian pakai sarung tangan
untuk melakukan pemeriksaan fisik bayi.
3. Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit di dada ibu selama 1 jam.
4. Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata antibiotic
profilaksis, dan vitamin K1 1 mg intramuskuler di paha kiri anterolateral.
E/Berat badan lahir bayi 3400 gram, Panjang badan 49 cm, lingkar kepala 33 cm, tetes
mata dan vitamin K1 sudah diberikan pukul 17.05 WIB.
5. Setelah satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi Hepatitis B di paha
kanan anterolateral.
E/Imunisasi Hb0 diberikan pukul 18.05 WIB.
6. Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.
7. Mengajarkan ibu dan keluarga cara melakukan massase uterus dan menilai kontraksi.
8. Mengevaluasi kehilangan darah.
9. Memeriksa nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pasca
persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan.
10. Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas dengan baik.
11. Membersihkan ibu dari cairan ketuban, darah dan lendir, serta membantu ibu untuk
mengganti pakaian ibu dengan pakaian yang bersih dan kering agar ibu merasa nyaman.
12. Mendekontaminasi alat-alat dan tempat bersalin yang habis digunakan.
13. Mendekontaminasi sarung tangan dengan larutan klorin 0.5% serta mencuci tangan
dengan sabun dan air mengalir.
14. Melengkapi partograf.
3.3 Asuhan Kebidanan Nifas
Tanggal : 08 Maret 2024
Jam : 22.30 WIB
Tempat : PMB Kis rita
3.2.1 Kunjungan Nifas I (KF I)
A. Data Subyektif
Ibu mengatakan masih merasa lelah.
Riwayat Obstetri
Persalinan : Ibu melahirkan secara spontan pada usia kehamilan 39-40
minggu pada tanggal 08 November 2023 pukul 16.05 WIB.
Bayi lahir pukul 16.05 WIB dengan berat badan lahir bayi
3400 gram, panjang 49 cm, lingkar kepala 33 cm, berjenis
kelamin laki-laki dan bayi menangis kuat, APGAR Score
pada satu menit pertama 9 dan pada lima menit pertama 10.
Nifas : Ibu masih dalam 6 jam Postpartum dan masih merasakan
sedikit nyeri pada luka bekas penjahitan laserasi perineum
Pola Pemenuhan Kebutuhan Dasar saat ini
a. Pola Nutrisi
Ibu mengatakan sudah makan pada pukul 19.00 WIB dengan menu setengah piring
nasi dan lauk pauk, minum air putih 1 gelas dan juga satu gelas air teh.
b. Pola Aktifitas
Ibu mengatakan sudah melakukan mobilisasi dini.
c. Personal Hygiene
Ibu mengatakan sudah ganti pembalut sebanyak 2 kali.
d. Pola Eliminasi
Ibu mengatakan sudah BAK pada pukul 21.30 WIB.
e. Pola Istirahat
Ibu mengatakan setelah melahirkan ibu merasa lelah dan mengantuk, sehingga ibu
tidur sambil sesekali mencoba menyusui bayinya.
f. Pola Psikososial
Ibu mengatakan lega karena bayinya sudah lahir dengan selamat, suami dan mertua
ibu turut berbahagia akan kelahiran anaknya dan ingin segera membawanya pulang
ke rumah. Dalam melakukan perawatan bayi nantinya akan dibantu oleh suami dan
mertua ibu, sehingga ibu dapat melakukan aktifitas secara mandiri. Dalam keluarga
tidak ada keharusan minum jamu tertentu dan ibu juga tidak tarak makan, ibu
mengenakan gurita sedikit longgar agar lebih nyaman, ibu tidak ada pantangan untuk
tidur siang. Di dalam keluarga ibu terdapat tradisi bancakan sebagai bentuk rasa
syukur atas kelahiran bayi.
B. Data Obyektif
Keadaan Umum : Bsik
Kesadaran : Composmentis
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 88x/menit
Pernapasan : 22x/menit
Suhu : 36,7ºC
Kontraksi Uterus : Keras
Kandung Kemih : Kosong
TFU : 2 jari di bawah pusat
Perdarahan : ±100 cc
C. Analisa
P1Ab0 6 jam postpartum.
D. Penatalaksanaan
Tanggal : 08 Maret 2024 Jam : 22.30 WIB
1. Memberitahukan kepada ibu bahwa keadaannya baik dan hasil pemeriksaan dalam batas
normal.
E: ibu memahami penjelasan petugas
2. Menganjurkan ibu untuk mobilisasi dini, mengonsumsi makanan bergizi dan tidak tarak
makan, tidak menahan BAK, serta menjaga kebersihan terutama organ genetalia.
E: ibu bersedia melakukan anjuran petugas
3. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya setiap 2 jam.
E: ibu bersedia menyusui bayinya 2 jam sekali
4. Memberikan konseling cara menyusui yang benar, ASI Ekslusif, perawatan pada bayi
baru lahir, dan tanda bahaya pada masa nifas.
E: ibu memahami penjelasan petugas
5. Menyepakati kunjungan selanjutnya dilakukan pada hari ke 3-7 hari setelah persalinan.
E: ibu bersedia melakukan kunjungan ulang.
3.2.2 Kunjungan Nifas II (KF II)
Tanggal : 14 Maret 2024 Jam : 10.00 WIB
A. Data Subyektif
Ibu mengatakan tidak ada keluhan apapun.
Pola Pemenuhan Kebutuhan Dasar saat ini
a. Pola Nutrisi
Ibu mengatakan selama selama nifas makan 3 kali sehari dengan menu nasi dan lauk
pauk seperti tahu, tempe, ikan maupun daging, telur, sayur-sayuran dalam porsi
sedang, ibu minum 7—8 gelas air putih, selain itu ibu juga makan cemilan seperti
marning jagung di siang hari.
b. Pola Aktifitas
Ibu mengatakan selama nifas tetap melakukan pekerjaan rumah tangga dengan
dibantu suaminya.
c. Personal Hygiene
Ibu mengatakan selama nifas mandi, sikat gigi, dan ganti baju 2 kali sehari. Selain
itu, ibu juga mengganti pembalut setiap 3—4 jam sekali.
d. Pola Eliminasi
Ibu mengatakan selama nifas BAB 1 kali sehari di pagi hari dan BAK 4—5 kali
dalam sehari.
e. Pola Istirahat
Ibu mengatakan selama nifas tidur siang selama 1 jam dan tidur malam selama 6—7
jam, namun sesekali juga menyusui bayinya di malam hari.
f. Pola Psikososial
Ibu mengatakan sudah mulai belajar merawat bayinya secara mandiri. Ibu juga
merasa senang karena suami dan keluarganya mendukung ibu untuk merawat
bayinya.
B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Tekanan darah 110/80 mmHg, Nadi 80x/menit, Pernapasan 22x/menit, Suhu 36.5ºC
2. Pemeriksaan Fisik
Mata : Konjungtiva merah muda, sklera putih
Payudara : Simetris, bersih, hyperpigmentasi (+/+), putting susu
menonjol (+/+), tidak ada benjolan abnormal, dan terdapat
pengeluaran ASI (+/+)
Abdomen : Kandung kemih kosong, TFU pertengahan pusat dan
simfisis, dan diastatis rectus abdominalis teraba 1 jari
Genetalia : Jahitan sudah kering dan tidak ada tanda infeksi, tidak
oedema, dan ada pengeluaran berwarna merah kekuningan
C. Analisa
P1Ab0 postpartum hari ke-6.
D. Penatalaksanaan
1. Mengingatkan ibu untuk tidak pantang makan dan memenuhi kebutuhan nutrisinya
dengan gizi seimbang untuk metabolisme dan proses pembentukan ASI.
2. Mengevaluasi apakah ibu menyusui bayinya dengan baik dan benar
3. Menganjurkan ibu untuk beristirahat saat bayinya tidur.
4. Mengajarkan ibu cara untuk melakukan senam nifas dan mempraktekannya.
5. Memberikan konseling perawatan payudara dan posisi yang baik saat menyusui.
6. Menyepakati kunjungan selanjutnya dilakukan pada hari ke 8-28 hari setelah persalinan.
3.2.3 Kunjungan Nifas III (KF III)
Tanggal : 20 Maret 2024 Jam : 08.00 WIB
A. Data Subyektif
Ibu mengatakan ASI-nya hanya keluar sedikit.
Pola Pemenuhan Kebutuhan Dasar saat ini
a. Pola Nutrisi
Ibu mengatakan makan 3 kali sehari dengan menu nasi dan lauk pauk seperti tahu,
tempe, ikan maupun daging, telur, sayur-sayuran dalam porsi sedang, ibu minum 7—
8 gelas air putih, selain itu ibu juga makan cemilan seperti marning jagung di siang
hari.
b. Pola Aktifitas
Ibu mengatakan tetap melakukan pekerjaan rumah tangga dengan dibantu suaminya.
c. Personal Hygiene
Ibu mengatakan mandi, sikat gigi, dan ganti baju 2 kali sehari. Selain itu, ibu juga
mengganti pembalut setiap 4 jam sekali.
d. Pola Eliminasi
Ibu mengatakan BAB 1 kali sehari di pagi hari dan BAK 4-5 kali dalam sehari.
e. Pola Istirahat
Ibu mengatakan tidur siang selama 1 jam dan tidur malam selama 6-7 jam, namun
sesekali juga menyusui bayinya di malam hari.
f. Pola Psikososial
Ibu mengatakan merasa lega dan senang karena sudah bisa merawat bayinya secara
mandiri.
B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi 82x/menit, Pernapasan 20x/menit, Suhu 36.5ºC
2. Pemeriksaan Fisik
Mata : Konjungtiva merah muda, sklera putih
Payudara : Simetris, bersih, hyperpigmentasi (+/+), putting susu
menonjol (+/+), tidak ada benjolan abnormal, dan terdapat
pengeluaran ASI (+/+)
Abdomen : Kandung kemih kosong, TFU tidak teraba, dan diastatis
rectus abdominalis sudah tertutup.
Genetalia : Jahitan sudah kering dan tidak ada tanda infeksi, tidak
oedema, dan ada pengeluaran berwarna kekuningan
C. Analisa
P1Ab0 postpartum hari ke -12.
D. Penatalaksanaan
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu
2. Memberikan KIE kepada ibu terkait penggunaan kontrasepsi yang sesuai untuk ibu
menyusui.
3. Menjelaskan kepada ibu cara melakukan perawatan payudara dan pijat oksitosin.
4. Mengingatkan ibu untuk tetap menyusui bayinya sesuai kebutuhan agar bayi mendapat
ASI Ekslusif.
5. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang atau jika ada keluhan.
3.2.4 Kunjungan Nifas IV (KF IV)
Tanggal : 17 April 2024 Jam : 12.00 WIB
A. Data Subyektif
Ibu mengatakan tidak ada keluhan apapun.
Pola Pemenuhan Kebutuhan Dasar saat ini
a. Pola Nutrisi
Ibu mengatakan makan 3 kali sehari dengan menu nasi dan lauk pauk seperti tahu,
tempe, ikan maupun daging, telur, sayur-sayuran dalam porsi sedang, ibu minum 7—
8 gelas air putih, selain itu ibu makan cemilan.
b. Pola Aktifitas
Ibu mengatakan tetap melakukan pekerjaan rumah tangga dengan dibantu suaminya.
c. Personal Hygiene
Ibu mengatakan mandi, sikat gigi, ganti baju, dan pakaian dalam 2 kali sehari.
d. Pola Eliminasi
Ibu mengatakan BAB 1 kali sehari di pagi hari dan BAK 4—5 kali dalam sehari.
e. Pola Istirahat
Ibu mengatakan tidur siang selama 1 jam dan tidur malam selama 7 jam, namun
sesekali juga menyusui bayinya di malam hari.
f. Pola Psikososial
Ibu mengatakan merasa lega dan senang karena bisa merawat bayinya secara
mandiri. Ibu mengatakan di keluarganya ada tradisi selapanan untuk ulang weton
saat bayinya berusia 36 hari.
B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi 82x/menit, Pernapasan 20x/menit, Suhu 36.5ºC
2. Pemeriksaan Fisik
Mata : Konjungtiva merah muda, sklera putih
Payudara : Simetris, bersih, hyperpigmentasi (+/+), putting susu
menonjol (+/+), tidak ada benjolan abnormal, dan terdapat
pengeluaran ASI (+/+)
Genetalia : Tidak oedema, dan ada pengeluaran berwarna putih
kekuningan
C. Analisa
P1Ab0 postpartum hari ke-37.
D. Penatalaksanaan
1. Menjelaskan kembali kepada ibu tentang kelebihan dan kekurangan alat kontrasepsi
yang dapat digunakan oleh ibu menyusui
2. Menganjurkan kepada ibu untuk tetap mengonsumsi gizi seimbang karena akan
mempengaruhi produksi ASI.
3. Memberikan apresiasi kepada ibu dan suami atas kerjasama selama pemberian asuhan
kebidanan.
4. Membuat jadwal kunjungan ulang untuk ibu memilih kontrasepsi yang akan digunakan.
3.4 Asuhan Kebidanan Neonatus
Tanggal : 08 Maret 2024
Jam : 22.10 WIB
Tempat : PMB Kis Rita
3.2.1 Kunjungan Neonatus I (KN I)
A. Data Subyektif
Keluhan utama : Tidak ada keluhan
Eliminasi : Bayi sudah BAK terakhir pukul 21.30 WIB, bayi sudah BAB pada pukul
21.00 WIB
B. Data Obyektif
Pemeriksaan Fisik
Kulit : Bersih, sianosis (-), lemak subkutan normal, turgor
kulit kembali cepat.
Kepala : Tidak ada caput succedaneum, tidak ada cephal
hematoma, UUB belum menutup, tidak ada
moulage.
Mulut : Tidak ada labiopalatoschizis (-).
Dada : Tidak terdapat retraksi dinding dada.
Abdomen : Tidak ada pembesaran pada perut, tali pusat bersih
dan masih basah.
Genetalia : Terdapat dua buah skrotum, testis berada di skrotum,
dan ada lubang uretra di ujung penis.
Anus : Lubang anus (+).
Ekstremitas : Ekstremitas atas (simetris, brakidaktili (-), polidaktili
(-), sindaktili (-), ekstremitas bawah (simetris,
brakidaktili (-), polidaktili (-), dan sindaktili (-)).
Tulang punggung : Tidak terdapat tonjolan di punggung dan tidak
terdapat spina bifida.
Pemeriksaan Neuorologis
Gerak bayi :+
Refleks Rooting :+
Refleks Sucking :+
Refleks Moro :+
Refleks Grasping : +
C. Analisa
Neonatus Cukup Bulan (NCB) Sesuai Masa Kehamilan (SMK) usia 6 jam normal.
D. Penatalaksanaan
Tanggal : 08 Maret 2024 Jam : 22.30 WIB
1. Mengajarkan ibu cara menjaga kehangatan bayi, yakni dengan membedong bayi dengan
kain yang kering dan hangat, menutup kepala bayi dengan topi, dan menempatkan bayi
di tempat yang hangat.
2. Mengajari ibu cara perawatan tali pusat dengan cara membungkus menggunakan kassa
kering yang bersih dan steril.
3. Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI Ekslusif dan secara on demand untuk
mengeratkan hubungan antara ibu dan bayi.
4. Menganjurkan ibu untuk menjemur bayi pada saat pagi hari.
5. Memberikan konseling mengenai cara menyusui yang benar dan tanda bahaya pada bayi
baru lahir.
6. Mendiskusikan dengan ibu tentang kunjungan berkelanjutan 1 minggu lagi atau bisa
menghubungi apabila ada yang ingin ditanyakan.
4.4.2 Kunjungan Neonatus II (KN II)
Tanggal : 14 Maret 2024 Jam : 12.00 WIB
A. Data Subyektif
Keluhan utama : Tidak ada keluhan
Nutrisi : Bayi minum ASI setiap 2 jam sekali maupun setiap bayi menginginkan
B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Nadi 132x/menit, Pernapasan 44x/menit, Suhu 36.6ºC
2. Pemeriksan Antropometri
BB 3300 gram
3. Pemeriksaan Fisik
Dada : Tidak ada retraksi dinding dada.
Abdomen : Tidak ada pembesaran pada perut, tali pusat sudah lepas,
dan tidak terdapat tanda infeksi.
Kulit : Tampak kemerahan, ikterus (-), sianosis (-).
4. Refleks keseluruhan bayi baik
C. Analisa
Neonatus Cukup Bulan (NCB) Sesuai Masa Kehamilan (SMK) usia 6 hari.
D. Penatalaksanaan
1. Mengevaluasi hasil kunjungan pertama.
2. Menganjurkan ibu untuk tetap memberikan ASI Ekslusif hingga bayi berusia 6 bulan.
3. Memberikan konseling imunisasi pada bayi dan dapat mengikuti imunisasi di posyandu
atau puskesmas
4. Menganjurkan kunjungan ulang jika ada keluhan
4.4.3 Kunjungan Neonatus III (KN III)
Tanggal : 20 Maret 2024 Jam : 09.00 WIB
A. Data Subyektif
Keluhan utama : Tidak ada keluhan
Nutrisi : Bayi minum ASI setiap 2 jam sekali maupun setiap bayi menginginkan
B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
Nadi 132x/menit, Pernapasan 44x/menit, Suhu 36.6ºC
2. Pemeriksan Antropometri
BB 3550 gram
3. Pemeriksaan Fisik
Dada : Tidak ada retraksi dinding dada.
Kulit : Tampak kemerahan, ikterus (-), sianosis (-).
4. Refleks keseluruhan bayi baik
C. Analisa
Neonatus Cukup Bulan (NCB) Sesuai Masa Kehamilan (SMK) usia 12 hari.
D. Penatalaksanaan
1. Mengevaluasi hasil kunjungan kedua.
2. Menjelaskan kepada ibu tanda bahaya pada neonates sesuai MTBM diantaranya tidak
bisa minum atau menyusu, kejang, hingga tidak sadar.
3. Memberikan informasi tentang imunisasi khususnya imunisasi BCG dan Polio 1 yang
bertujuan untuk mencegah penyakit Tuberculosis dan Polio.
4. Memberitahu ibu bahwa imunisasi dapat dilakukan di posyandu atau di puskesmas
terdekat.
5. Memotivasi ibu untuk tetap memberikan ASI tanpa memberikan makanan tambahan
hingga bayi berusia 6 bulan.
3.5 Asuhan Kebidanan Masa Antara
Tanggal Pengkajian : 24 April 2024
Waktu Pengkajian : 10.00 WIB
Tempat Pengkajian : PMB Kis rita
Oleh : Bidan Ninik ernawati
a. Data Subyektif
a) Keluhan Utama
Pasien datang ingin suntik KB
b) Riwayat Menstruasi
Ibu mengatakan belum haid setelah melahirkan. Nifas bersih tanggal 17
April 2024.
c) Riwayat obstetri yang Lalu
NT J P UJ P K
a e e K e o
h n n / n n
u i o B y d
n s l B u i
P o / l s
P e n P i i
e r g B t
r s S
s a a
a l a
l i t
i n
n a I
a n n
n i
1 2 s B 3L - B
0 p i K a
2 o d i
4 n a / k
t n 3
a 4
n 0
0
g
r
/
4
9
c
m
d) Riwayat Keluarga Berencana
Ibu mengatakan belum pernah menggunakan KB sebelumnya.
e) Riwayat Kesehatan
Ibu mengatakan tidak sedang dan tidak pernah menderita penyakit
menular, menurun, dan menahun seperti diabetes, hipertensi, penyakit
kuning, batuk lama, anemia, sesak nafas, PMS dan HIV.
f) Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan bahwa baik keluarga maupun keluarga dari suaminya
tidak ada yang menderita penyakit menular, menurun, dan menahun
seperti diabetes, hipertensi, penyakit kuning, batuk lama, anemia, sesak
nafas, PMS dan HIV, serta tidak mempunyai riwayat keturunan kembar.
g) Pola Kebiasaan Sehari-hari
a. Pola Nutrisi
Ibu mengatakan makan 3 kali sehari dengan menu nasi dan lauk pauk
seperti tahu, tempe, ikan maupun daging, telur, sayur-sayuran dalam
porsi sedang, ibu minum 7 - 8 gelas air putih, dan makan cemilan
b. Pola Aktifitas
Ibu mengatakan tetap melakukan pekerjaan rumah tangga dengan
dibantu suaminya.
c. Personal Hygiene
Ibu mengatakan mandi, sikat gigi, ganti baju, dan pakaian dalam 2
kali sehari.
d. Pola Eliminasi
Ibu mengatakan BAB 1 kali sehari di pagi hari dan BAK 4—5 kali
dalam sehari.
e. Pola Istirahat
Ibu mengatakan tidur siang selama 1 jam dan tidur malam selama 7
jam, namun sesekali juga menyusui bayinya di malam hari
h) Data Psikologis
Ibu mengatakan suami mendukung ibu untuk menggunakan alat
kontrasepsi karena ingin fokus merawat anak pertamanya dahulu.
b. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
1) Keadaan Umum : Baik
2) Kesadaran : composmentis
3) TTV
Tekanan darah 110/70 mmHg. Suhu 36,3°C. Nadi 79 x/menit. Pernapasan
normal 20 x/menit
2. Pemeriksaan Fisik
Mata : Konjungtiva merah muda, sklera putih
Payudara : Simetris, bersih, hyperpigmentasi (+/+), putting susu
menonjol (+/+), tidak ada benjolan abnormal, dan
terdapat pengeluaran ASI (+/+)
Abdomen : Kandung kemih kosong, TFU tidak teraba, tidak ada
massa abnormal
Genetalia : Jahitan sudah kering dan tidak ada tanda infeksi, tidak
oedema, dan ada pengeluaran cairan pervaginam
c. Analisis Data
P1Ab0 akseptor baru suntik KB 3 bulan.
d. Penatalaksanaan
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan
E: ibu memahami penjelasan petugas
2. Menanyakan pada ibu informasi yang dirinya tau tentang KB
E: ibu mengatakan belum mengetahui informasi mengenai KB
3. Memberi penjelasan tentang macam-macam metode KB
E: ibu memahami penjelasan petugas.
4. Memberikan informed consent dan bantu klien menentukan pilihannya
E: ibu memilih untuk menggunakan suntik 3 bulan
5. Memberi penjelasan secara lengkap tentang metode kontrasepsi suntik 3 bulan yang
akan digunakan
E: ibu memahami penjelasan petugas
6. Anjurkan ibu kontrol atau suntik kembali sesuai jadwal dan tuliskan pada kartu
akseptor
E: ibu memahami dan bersedia suntik kembali sesuai jadwal.
BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Kehamilan
Kehamilan merupakan suatu proses pembentukan janin yang dimulai dari masa
konsepsi sampai lahirnya janin,. lama masa kehamilan yang aterm adalah 280 hari (40
minggu atau 9 bulan 7 hari) yang dihituung mulai dari hari pertama haid terakhir ibu.
kehamilan dibagi menjadi tiga trimster yang masing-masing dibagi dalam tiga belas
minggu atau tiga bulan kalander (Munthe, 2019). Antenatal Care adalah kunjungan
ibu hamil ke bidan atau ke dokter sedini mungkin semenjak merasa hamil untuk
mendapatkan pelayanan atau asuhan antenatal. pelayanan antenatal merupakan
pelayanan untuk mencegah adanya komplikasi obstetri dan memastikan bahwa adanya
komplikasi bisa dideteksi sedini mungkin serta ditangani secara memadai.
Pemeriksaan Antenatal Care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan untuk
mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil sehingga mampu menghadapi
persalinan, maaa nifas, persiapan pemberian ASI dan kembalinya kesehatan
reproduksi secara wajar (Munte, 2019).
Pada Ny.N telah dilakukan pengkajian, dimana dari pengkajian tersebut didapatkan
data subyektif dan data obyektif. dari data subyktif didapatkan data bahwa Ny.N
mengeluhkan mengalami keputihan yang cukup banyak. Pada riwayat menstruasi
didapatkan data bahwa HPHT ibu pada tanggal 05 Juni 2023. Pengkajian psikososial
didapatkan data bahwa ibu tidak pernah melakukan pijat oyok. Berdasarkan teori,
keluhan yang dialami oleh Ny.N merupakan ketidaknyamanan pada kehamilan
trimester III. Menurut Rika (2020) keputihan pada kehamilan trimester III merupakan
ketidaknyamanan yang sering dikeluhkan, keadaan ini terjadi karena adanya pengaruh
dari peningkatan stimulus hormon estrogen dan progesteron, sehingga dapat
menghasilkan cairan mukoid yang berlebih dan berwarna keputihan karena
mengandung sel epitel vagina.
Data obyektif adalah informassi yang dikumpulkan berdasarkan pemeriksaan dan
pengamatan melalui serangkaian upaya sistematik dan terfokus (Damayanti, 2014).
Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan pada Ny. N, pada pengukuran tinggi
badan didapatkan tinggi badan ibu 153 cm, berat badan sebelum hamil 48 kg, berat
badan bulan lalu 56 kg, berat badan sekarang 58 kg, LILA 27 cm, Tafsiran Persalinan
ibu tanggal 12 Maret 2024. Menurut, kenaikan berat badan ibu 10 kg sedangkan usia
kehamilan ibu 34 minggu kemungkinan kenaikan akan terjadi pada minggu
berikutnya. kenaikan berat badan normal ibu selama hail dihitung dari trimester II
sampai trimester III yang berkisar antara 9—13.5 kg dan kenaikan berat badan setiap
minggu tergolong normal adalah 0.4—0.5 kg dimulai dari trimester III (Munthe,
2019). Menurut penulis kenaikan berat badan pada Ny. N tergolong normal, karena
sudah sesuai dengan rekomendasi kenaikan berat badan yang dikemukakan oleh
Munthe. Menurut Konar (2015) masuknya kepala janin pada pintu atas panggul terjadi
pada usia kehamilan 38 minggu, sedangkan Ny. N pada usia kehamilan 35-36 minggu
saat dilakukan pemeriksaan leopold III, bagian terendah janin belum masuk ke pintu
atas panggul. Rini dan Widya (2021:59), mengatakan “faktor penyebab belum
masuknya bagian terendah janin ke pintu atas panggul dapat dipengaruhi oleh
beberapa factor yaitu tali pusat pendek, lilitan tali pusat, posisi janin, plasenta letak
rendah, dan bayi besar”. Menurut penulis, pada Ny. N bagian terendah janin belum
masuk ke pintu atas panggul di usia kehamilan 35-36 minggu termasuk normal,
dikarenakan TBJ lebih besar daripada berat bayi yang dilahirkan pada persalinan
sebelumnya. Dari perencanaan yang telah disusun telah sesuai dengan standar
pelayanan kehamilan di antaranya pengukuran tekanan darah, pemeriksaan TFU, serta
pemberian konseling mengenai pentingnya personal hygiene untuk mengatasi
keputihan, dengan rutin mengganti celana dalam jika sudah terasa lembab atau basah,
ibu dianjurkan menggunakan celana dalam yang berbahan katun dan tidak ketat.
Menurut Sunyoto (2016) cara mengatasi keputihan pada ibu hamil trimester III adalah
dengan melakukan personal hygiene dengan cara mencuci tangan sebelum dan
sesudah menyentuh alat kelamin, cebok dengan cara yang benar, membersihkan alat
kelamin sebelum dan sesudah berhubungan seksual, celana dalam harus diganti setiap
hari minimal dua kali sehari, dan memastikan organ intim tidak lembab. Keberhasilan
asuhan ini juga didukung dengan kecukupan waktu untuk melakukan pemeriksaan
sampai dengan penatalaksanaan dan pasien yang koopratif.
5.2 Persalinan
Pada tanggal 08 Maret 2024 ibu periksa ke bidan pada pukul 13.20 WIB dengan
keluhan perutnya terasa kenceng-kenceng mulai pukul 08.00 WIB yang semakin kuat
dan sering serta didapatkan hasil keadaan ibu baik, sudah ada pembukaan 8 cm cm,
DJJ 145 kali/menit. Pada pukul 15.30 WIB pemeriksaan dan didapatkan hasil His 5
kali 50 detik dalam 10 menit. Pada tanggal 08 Maret 2024 ibu melahirkan secara
normal pada pukul 15.35 WIB dan bayi lahir pukul 16.05 WIB jenis kelamin laki-laki
dengan berat badan lahir 3400 gram dan panjang badan 49 cm. Pada kasus Ny. N
ditemukan kesenjangan antara teori dan praktik berdasarkan teori tanda persalinan
pada kala I multigravida, menurut JNPK (2014) tanda persalinan dimulai dari kala I
yaitu pada fase laten dimulai dari sejak awal berkontraksi yang menyebabkan adanya
penipisan dan pembukaan serviks, berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4
cm, pada umumnya fase laten berlangsung hingga 8 jam. Fase aktif frekuensi dan lama
kontraksi uterus akan meningkat secara bertahap (adekuat jika 3 kali atau lebih dalam
waktu 10 menit dan berlangsung selama 40 detik, dari pembukaan 4 cm hingga
pembukaan lengkap atau 10 cm akan terjadi dengan kecepatan rata-rata 1 cm per jam
(nulipara atau primigravida) atau lebih dari 1 cm hingga 2 cm (multipara). Pada kasus
Ny. N yang multigravida fase aktif deselerasinya berlangsung lebih cepat yakni selama
satu jam. Riwayat obstetri Ny. N melahirkan anak pertama secara normal di bidan
pada tahun 2014 dengan usia kehamilan 9 bulan, jenis kelamin perempuan, berat
badan lahir 3200 gram saat ini anak pertama ibu usia hampir 4 tahun. Dilihat dari
riwayat obstetri yang lalu ibu melahirkan secara normal dengan berat badan lahir 3200
gram tanpa robekan perineum sedangkan pada kehamilan kedua ini ibu mengalami
robekan perineum derajat dua yang kemugkinan terjadi karena janin yang dilahirkan
beratnya lebih besar dari kehamilan yang pertama. Menurut Eighty (2022) ruptur
perineum disebabkan oleh paritas, berat lahir bayi, cara mengejan, elastisitas
perineum, umur ibu <20 tahun dan >35 tahun.
5.3 Nifas
Pemantauan nifas pertama dilakukan pada tanggal 08 Maret 2024 secara langsung.
Ibu mengeluhkan perutnya masih sedikit mulas dan merasakan nyeri pada bekas
jahitan, nyeri merupakan sensasi subyektif dari rasa tidak nyaman yang biasanya
berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial (Padila, 2014). Pola
kebiasaan sehari-hari ibu yaitu pemenuhan nutrisi ibu dilakukan pada pukul 19.00
WIB berupa nasi dan lauk pauk serta air putih dan juga teh, aktivitas ibu sudah mulai
melakukan mobilisasi dini. Menurut Ningsih (2019) mobilisasi dini pada ibu
postpartum dilakukan secara bertahap mulai dari 2 jam postpartum. Gerkan-gerakan
dalam mobilisasi dini tersebut dapat membantu mempercepat pemulihan ibu pasca
persalinan, hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Dube (2014) bahwa ambulasi
dini merupakan strategi yang efektif untuk manajemen pada pasien. Ambulasi dini
dapat membantu pasien dalam menghindari morbiditas dan dapat meningkatkan
pemulihan awal pasien. Asuhan awal pada ibu postpartum meliputi memeriksa
tekanan darah, perdarahan pervaginam, kondisi perineum, tanda infeksi, kontraksi
uterus, tinggi fundus, menilai fungsi berkemih, memastikan kondisi psikologis ibu
baik, serta memberikan edukasi mengenai tanda bahaya pada postpartum. Dari teori
tersebut penulis melakukan asuhan pada Ny. N sebatas memastikan uterus
berkontraksi dengan baik untuk mencegah perdarahan postpartum dan menilai jumlah
perdarahan, memberikan konseling kepada ibu dan keluarga tentang cara melakukan
masase fundus uteri secara mandiri, memberikan tablet vitamin A dan zat besi,
memberikan dukungan psikologis kepada ibu dan suami untuk mendukung
keberhasilan adaptasi peran dan proses menyusui, memberikan konseling pemberian
ASI Ekslusif dan cara menyusui yang benar, memberikan konseling tanda bahaya
postparum.
Pemantauan nifas kedua dilakukan pada tanggal 14 Maret 2024 secara langsung.
Pada ibu nifas hari ke-6 ibu tidak ada keluhan, penatalaksanaan yang dilakukan
memastikan involusi uteri berjalan normal, menilai adanya tanda-tanda demam,
infeksi atau perdarahan abnormal, menganjurkan ibu untuk beristirahat dengan cukup
yaitu siang minimal beristirahat selama 1 jam dan malam hari 6—7 jam,
menganjurkan ibu untuk tetap mengonsumsi makanan yang bergizi, mengevaluasi
apakah ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda bahaya,
mengajari ibu melakukan senam nifas yang berguna untuk mempercepat proses
pemulihan.
Pada nifas hari ke-12 ibu mengeluhkan ASI-nya hanya keluar sedikit,
penatalaksanaan yang dilakukan di bidan adalah ibu ditimbang berat badan serta
ditensi, lalu ibu diperiksa luka bekas jahitan perineum. Ibu dijelaskan bahwa hasil
pemeriksaan normal, Ibu mendapat penjelasan mengenai cara perawatan payudara
yakni dengan rutin membersihkan puting payudara setiap kali mandi dengan
memnggunakan kapas dan baby oil, menganjurkan ibu untuk beristirahat dengan
cukup yaitu siang minimal beristirahat selama 1 jam dan malam hari 6—7 jam,
menganjurkan ibu untuk tetap mengonsumsi makanan yang bergizi, serta mengenai
macam-macam alat kontrasepsi yang akan dipilih nantinya. Selain itu ibu juga
dianjurkan vulva hygiene untuk menjaga kebersihan organ kewanitaan, dengan rutin
mengganti celana dalam jika sudah terasa lembab atau basah, ibu dianjurkan
menggunakan celana dalam yang berbahan katun dan tidak ketat. Dalam teori Personal
hygiene mempengaruhi penyembuhan luka karena kuman setiap saat dapat masuk
melalui luka bila kebersihan diri kurang (sumarsih, 2011).
Pemantauan nifas keempat pada tanggal 17 Maret 2024 secara langsung. Pada
nifas hari ke- 37 ibu tidak ada keluhan, pemberian ASI setiap dua jam sekali, pada saat
bayi tidur apabila waktunya menyusui ibu akan membangunkan untuk memberikan
ASI, serta ibu tidak ada keluhan pada saat menyusui. Menyusui setiap 2 jam sekali
dapat meningkatkan produksi ASI ibu, sebagai alat kontrasepsi alami, membantu
memepercepat proses involusi uterus, sedangkan keuntungan pada bayi dapat
meningkatkan berat badan pada bayi. Kondisi jahitan ibu sudah kering dan sudah tidak
terasa sakit. Penyembuhan luka adalah proses penggantian dan perbaikan fungsi
jaringan yang rusak. Penyembuhan luka melibatkan integrasi proses fisiologis
(Sjamsuhidajat, 2013). Faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka seperti
oksigenisasi, hematoma, usia, nutrisi, sepsis, obat-obatan, gaya hidup dan mobilisasi
(Maryunani, 2014). Dari kasus Ny. N penyembuhan luka bekas penjahitan perineum
dapat berjalan dengan lancar dan tidak terdapat infeksi dapat dilihat dari pemenuhan
nutrisi yang baik serta tidak ada tarak makan sesuai teori yang ada pemenuhan nutrisi
yang baik dapat mempercepat penyembuhan luka terutama protein dapat merangsang
perbaikan jaringan yang rusak akibat luka bekas penjahitan perineum serta Ny. N
menjaga kebersihan diri melalui vulva hygiene. Darah nifas sudah berhenti sejak 1
bulan setelah melahirkan, perubahan fisiologis masa nifas pada sistem reproduksi
wanita terjadi pada uterus yakni uterus mengalami involusi, involusi uterus meliputi
reorganisasi dan pengeluaran desidua dan ekfoliasi tempat perlekatan plasenta yang
ditandai dengan penurunan ukuran dan berat serta perubahan pada lokasi uterus yang
ditandai dengan warna dan jumlah lokhea, ada beberapa jenis lokhea diantaranya
lokhea rubra pada hari ke 1 -2 terdiri dari darah segar bercampur sisa-sisa ketuban, sel-
sel desidua, sisa-sisa vernix kaseosa, lanugo dan mekonium. Lokhea sanguinolenta
pada hari 3-7, terdiri dari darah bercampur lendir yang berwarna kecoklatan. Lokhea
serosa pada hari ke 7- 14 berwarna kekuningan. Lokhea alba pada hari ke 14 setelah
masa nifas, hanya merupakan cairan putih. Lokhea purulenta terjadi karena infeksi,
keluar cairan seperti nanah busuk. Lochitosis merupakan lokhea tidak lancar keluarnya
(Suherni dkk, 2009). Pada kasus Ny. N pengeluaran lokhea berjalan lancar serta tidak
ditemukannya masalah dalam masa nifas.
5.4 Neonatus
Pada kasus Ny. N didapatkan data dari pengkajian bayi lahir secara normal pada
pukul 17.30 WIB, jenis kelamin laki-laki dengan berat badan lahir 3400 gram dan
panjang badan 49 cm. Menurut Sondakh (2013) Panjang badan normal yaitu 48-52 cm
dan berat badan normal bayi baru lahir yaitu 2500-4000 gram, apabila berat badan
bayi 1500-2500 menandakan berat badan lahir rendah (BBLR), panjang badan bayi
normal dalam teori 48-52 cm dari praktik didapatkan panjang badan bayi 49 cm.
Pemantauan neonatus pertama usia 6 jam dilakukan pada tanggal 08 Maret 2024,
didapatkan data subjektif bahwa bayi sudah menyusu serta sudah BAB dan BAK.
Pada kasus Ny. N bayi sudah bisa menyusu dikarenakan rawat gabung dengan ibu.
Keterlambatan untuk melakukan inisisasi dapat menurunkan sekresi prolaktin yang
memicu pembentukan air susu dan oksitosin yang berperan dalam sekresi air susu
(Nasihah, 2010). Kolostrum merupakan zat antibodi yang dapat melindungi bayi dari
bakteri dan virus. Menurut penulis apabila bayi tidak segera mendapatkan ASI
pertama atau kolostrum dampak yang dapat ditimbukan adalah bayi bisa mengalami
ikterus.
Pemantauan kedua neonatus pada usia 6 hari dilakukan pada tanggal 14 Maret 2024
di PMB Kis Rita secara langsung. Dari data subjektif didapatkan hasil pengkajian ibu
melakukan kontrol bayi di bidan Inawati, bayi tidak ada keluhan dan sudah bisa
menyusu, serta tali pusat sudah puput, berat badan bayi 3500 gram. Mengalami
kenaikan dari berat lahir sebesar 100 gram merupaan tanda kecukupan ASI yaitu berat
badannya naik lebih dari 10% pada minggu pertama. Berat badan bayi akan
mengalami peningkatan 200-250 gram per minggu. Kenaikan pada [Link]. N
tergolong normal dikarenakan ada teori yang menyatakan bahwa neonatus yang berat
badannya tidak naik cukup banyak, hal ini dikarenakan perubahan berat badan pada
neonatus terjadi karena perpindahan cairan ekstrasel, pengeluaran ekstrasel berlebihan
mengakibatkan berat badan turun pada minggu pertama.
Pemantauan ketiga neonatus usia 12 hari dilakukan pada tanggal 20 Maret 2024 di
PMB Kis rita secara langsung. Data subjektif ibu melakukan kontrol nifas bersamaan
untuk memeriksakan keadaan bayinya, bayi tidak ada keluhan serta bayi sudah bisa
menyusu, tali pusat telah puput pada usia neonatus 6 hari. Kurang sesuai dengan teori
bahwa tali pusat biasanya lepas dalam 14 hari setelah lahir, paling sering disekitar hari
ke 10. Ujung tali pusat akan mengering dan puput , biasanya dalam waktu 10 hari
(Baston dan Hall, 2013). Berat badan bayi 3550 gram mengalami kenaikan sebesar
150 gram. Serta menjelaskan pada ibu bahwa untuk melakukan imunisasi BCG dan
polio di posyandu atau puskesmas.
5.5 Masa Antara
Pemantauan masa interval dilakukan pada 24 April 2024 di PMB Kis rita secara
langsung. Data subjekif ibu tidak ada keluhan apapun, ibu telah menentukan
pilihannya yaitu menggunakan KB suntik 3 bulan karena ibu menginginkan untuk
tetap menyusui eksklusif dan tetap ber-KB. Perempuan lebih banyak menggunaan
kontasepsi KB suntik dikarenakan berbagai faktor diantaranya keikutsertaan seseorang
ber-KB dipengaruhi oleh adanya pelayanan kontrasepsi dapat diperoleh secara mudah,
murah dan terjangkau dalam artian alat kontrasepsi tersedia dalam berbagai metode
sesuai keinginannya, harganya murah dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.
Menurut (Hartanto, 2014) efektivitas, biaya dan kesinambungan pemakaian
berpengaruh pada pemilihan metode kontrasepsi yang sesuai. Berdasarkan data
tersebut KB suntik dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan seperti bidan yang mudah
dijangkau serta harga KB suntik sendiri yang cukup murah dengan pemakain yang
tidak repot sehingga pada umumnya perempuan lebih suka menggunakan KB suntik
tersebut. Sebagai calon akseptor suntik 3 bulan syarat yang harus dipenuhi adalah
tidak hamil ataupun dicurigai hamil, tidak ada perdarahan pervaginam yang belum
jelas penyebabnya, tidak ada penyakit kanker payudara ataupun riwayat kanker
payudara, tidak ada penyakit dibetes mellitus yang disertai komplikasi.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan asuhan secara berkesinambungan pada Ny. N masa hamil sampai
dengan masa antara di di PMB Kis rita Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang didapatkan
hasil:
1. Kehamilan
Dari hasil pengkajian data subyektif maupun obyektif dan penatalaksanaan secara
keseluruhan, didapatkan hasil bahwa ibu dan janin dalam keadaan sehat.
2. Persalinan
Setelah penulis melakukan asuhan kebidanan persalinan persalinan normal secara
langsung pada tanggal 08 Maret 2024 di PMB Inawati, persalinan berjalan normal dan
bayi lahir spontan pada pukul 16.05 WIB berjenis kelamin laki-laki dan berat 3400
gram.
3. Nifas
Masa Nifas pada Ny. N berjalan fisiologis dan tidak mengalami keluhan yang
berbahaya. Pengeluaran lochea dan involusi uterus berjalan dengan baik, hal tersebut
sesuai dengan teori yang ada.
4. Neonatus
Bayi Ny. N lahir dengan spontan dan langsung menangis kuat , warna kulit kemerahan,
dan berat badan lahir normal. Selama dilakukan asuhan neonatus mulai 6 jam sampai
dengan 12 hari tidak terdapat komplikasi dan bayi dalam keadaan sehat.
5. KB
Ibu telah memilih alat kontrasepsi yaitu KB suntik 3 bulan yang dilakukan pada tanggal
24 April 2024.
5.2 Saran
5.2.1 Bagi Ibu Hamil, Ibu Bersalin, dan Ibu Nifas
Diharapkan dapat membantu pasien dalam menjalani masa kehamilan dengan
ketidaknyamanan pada trimester III berupa keputihan, yang merupakan keadaan
fisiologis yang terjadi karena adanya peningkatan hormon estrogen yang
menyebabkan peningkatan produksi lendir pada sistem reproduksi, dimana penulis
menganjurkan pasien untuk menerapkan personal hygiene yang dilakukan dengan
mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh organ kewanitaan, cebok dengan
cara yang benar yakni dari arah depan ke belakang untuk menghindari kuman di anus
berpindah ke vagina, mengganti celana dalam setiap kali terasa basah atau lembab,
menggunakan celana dalam berbahan katun atau menyerap keringat, menghindari
penggunaan pantyliner, dan menghindari membersihkan organ kewanitaan dengan
sabun yang mengandung parfum untuk mengurangi ketidaknyamanan yang
diakibatkan oleh keputihan pada kehamilan trimester III. Pada persiapan persalinan
penulis juga menganjurkan kepada pasien untuk melakukan pijat perineum bersama
suami yang berguna untuk merilekskan otot jalan lahir, melancarkan aliran darah
sehingga memudahkan proses persalinan, dan mempercepat pemulihan setelah
bersalin. Selain itu, penulis juga membantu pasien agar proses involusi uterus
berjalan dengan normal yakni dengan mengajarkan ibu senam nifas.
5.2.2 Bagi Lahan Praktik
Pelayanan yang diberikan oleh bidan sudah sangat baik, dikarenakan pelayanan
maupun KIE yang dilakukan oleh bidan sudah sesuai dengan standart asuhan dan
juga disesuaikan dengan keluhan yang dialami oleh pasien, sehingga hal tersebut bisa
dijadikan sebagai bahan masukan untuk senantiasa meningkatkan mutu pelayanan
pada masa kehamilan, persalinan, dan nifas sehingga semakin meningkatkan
kesehatan ibu dan anak.
5.2.3 Bagi Mahasiswa Kebidanan
Diharapkan penulis dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta mendapat
pengalaman langsung dalam melakukan asuhan berkesinambungan terhadap klien.
5.2.4 Bagi Institusi Kebidanan
Dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi institusi untuk meningkatkan
kemampuan mahasiswanya baik dari segi teori ataupun praktik, serta dapat
digunakan sebagai gambaran laporan tugas akhir bagi mahasiswa.
DAFTAR PUSTAKA
Astuti dkk. 2017. Asuhan Ibu dalam Masa Kehamilan. Penerbit Erlangga
Badan Pusat Statistik. 2021. Laporan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia. Jakarta:
Badan Pusat Statistik
Diana, Sulis. 2017. Model Asuhan Kebidanan Continuity of Care. Surakarta: CV Kekata
Group
Diana, S. Dkk. 2019. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir.
Surakarta: CV Oase Group
Handayani dan Triwik. 2017. Bahan Ajar Kebidanan: Dokumentasi Kebidanan.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
handayani dkk. 2022. Dasar Kesehatan Reproduksi. Yayasan Kita Menulis
Indrayani. 2011. Buku Ajar Asuhan Kehamilan. Jakarta Timur: CV Trans Info Media.
Kurniawati dkk. 2022. Ruptur Perineum. Surabaya: Airlangga University Press.
Mandang dkk. 2016. Asuhan Kebidanan Kehamilan. Bogor: In Media
Nilakesuma, N.F. 2020. Pengambilan Keputusan Terhadap Rujukan Ibu Bersalin.
Bandung: Media Sains Indonesia
Sulistyawati, A dkk. 2014. Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin. Jakarta: Salemba
Medika
Sutanto, AV. & Fitriana. 2018. Asuhan pada Kehamilan. Yogyakarta: Pustaka Baru Press
Suarayasa, K. 2020. Strategi Menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) Di Indonesia.
Yogyakarta: Deepublish Publisher
Yulifah, R. & Surachmindari. 2013. Konsep Kebidanan untuk Pendidikan Kebidanan.
Jakarta: Salemba Medika