0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan21 halaman

Tes Online: Keunggulan dan Sistem CFT

Diunggah oleh

Rahman Rangkuti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan21 halaman

Tes Online: Keunggulan dan Sistem CFT

Diunggah oleh

Rahman Rangkuti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Kajian Teoritis

2.1.1 Tes Online

Perkembangan dan kemajuan teknologi telah mempengaruhi berbagai

aspek. Dalam aspek pendidikan, teknologi telah mempengaruhi dalam hal

penggunaan media yang dapat memudahkan proses dan administrasi pembelajaran

sehingga meningkatkan efektifitas dan efisiensi. Selain itu penggunaan teknologi

juga turut mempengaruhi dalam proses evaluasi pembelajaran. Jamil, Thariq, &

Shami menjelaskan bahwa dalam perkembangan teknologi informasi dan

komputer dalam pendidikan telah mempengaruhi tes untuk menggunakan media

komputer. Salah satu pengaruh tersebut adalah perubahan model tes secara

konvensional dengan kertas menjadi tes berbasis komputer yang biasa

dikenal dengan istilah Computer Assisted Testing, Computerized Assessment,

Computer Based Testing (CBT), Computer Aided Assessment (CAA), Computer

Based Assessment (CBA), Online Assessment, E- Assessment, dan Web-Based

Assessment.

Tes berbasis komputer merupakan tes yang memanfaatkan komputer untuk

menggantikan kertas atau paper-pencil dalam pengadministrasian tes (Samsul,

2013). Senada dengan hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Republik Indonesia menjelaskan bahwa Computer Based Test (CBT) adalah

sistem pelaksanaan ujian dengan menggunakan komputer sebagai media ujiannya

(Kemdikbud, 2016).

7
8

Samsul Hadi menyebutkan bahwa Computer Based Test (CBT) merupakan

bentuk pengujian yang mempunyai prinsip yang sama dengan PPT. CBT

menyajikan seperangkat butir tes yang sama. Selain itu, Samsul Hadi menjelaskan

bahwa Computerized Adaptive Testing (CAT) merupakan bentuk tes yang lebih

maju dibanding CBT. Penyajian soal dalam CAT disesuaikan dengan kemampuan

peserta (Samsul, 2013).

Thompson & Weiss menjelaskan bahwa tes berbantuan komputer, secara

lebih khusus CFT memiliki berbagai keunggulan. Dalam aspek sumber daya,

CFT memiliki kelebihan dalam penghematan baik pada proses penyetakan,

penyimpanan, dan distribusi tes, serta proses pengumpulan dan pemindaian

lembar jawab yang tidak lagi berlaku. Selain itu tes dapat menggunakan format

butir tes yang lebih beragam seperti rangsangan multimedia. Tes berbantuan

komputer juga mampu merekam data tertentu yang tidak dapat dilakukan oleh

PPT, seperti waktu respon butir. Selain itu, berbeda dengan PPT yang dibatasi

oleh bahan cetak, tes berbantuan komputer dapat tersedia dan digunakan kembali

sesuai kebutuhan. Pada tes berbantuan komputer, urutan item yang dapat

ditampilkan secara acak untuk setiap siswa yang dapat meningkatkan keamanan

tes. Selain itu, salah satu keuntungan yang paling dikenal adalah bahwa hasil yang

segera diketahui, baik untuk siswa atau guru.

Berdasarkan uraian para ahli tersebut, maka sistem tes yang dikembangkan

dalam penelitian ini merupakan jenis Computerized Fixed-Form tests (CFT) atau

dalam istilah lain adalah Computer Based Test (CBT). Sistem yang dikembangkan

diharapkan dapat digunakan secara mandiri oleh sekolah. Sistem yang


9

dikembangkan memiliki kelebihan yakni pihak pengelola sekolah atau guru dapat

dengan mudah dan bebas untuk menyelenggarakan tes, memasukkan soal tes

sesuai kebutuhan guru secara mandiri. Sistem evaluasi tes memberikan informasi

berupa daftar kompetensi siswa yang sudah mencapai kriteria ketentuan minimal.

Pada sistem yang ada oleh Kemendikbud, guru terbatas untuk melakukan latihan

ataupun tes ketika dilakukan oleh pemerintah. Guru tidak dapat melakukan

ataupun mengembangkan tes secara mandiri

2.1.2 Sistem Tes

Tes berbasis komputer merupakan tes yang memanfaatkan komputer untuk

menggantikan kertas atau paper-pencil dalam pengadministrasian tes. Senada

dengan hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik

Indonesia menjelaskan bahwa Computer Based Test (CBT) adalah sistem

pelaksanaan ujian dengan menggunakan komputer sebagai media ujiannya

(Kemdikbud, 2016). (Arifin, Zainal. 2013) menjelaskan bahwa tes yang baik

adalah tes yang memenuhi persyaratan meliputi validitas, reliabilitas, dan

kepraktisan. Validitas merujuk pada kemampuan dalam menghasilkan data yang

valid, reliabilitas memiliki arti sebagai ketetapan tes dalam menghasilkan data,

dan kepraktisan merujuk pada kemudahan administrasi, waktu yang diberikan,

kemudahan menskor, kemudahan interpretasi dan aplikasi, dan tersedianya

bentuk instrumen evaluasi yang sebanding. Sistem tes yang baik dapat ditinjau

dari berbagai komponen yaitu validitas dan reliabilitas. Sistem tes yang

dikembangkan pada penelitian ini merupakan jenis Computerized Fixed-Form

Tests (CFT) atau dalam istilah Computer Based (CBT). Sistem yang
10

dikembangkan diharapkan dapat digunakan secara mandiri oleh sekolah. Sistem

yang dikembangkan memiliki kelebihan yakni pihak pengelola sekolah atau guru

dapat dengan mudahdan bebas untuk menyelenggarakan tes, memasukkan soal tes

sesuai kebutuhan guru secara mandiri.

Kualitas sistem tes dapat diketahui dari validitas dan reliabilitas tes. Tes

harus memenuhi validitas isi dengan didasarkan pada standar kompetensi lulusan,

standar kompetensi, kompetensi inti atau indikator dari suatu mata pelajaran

sehingga dapat mengukur pencapaian kompetensi secara tepat. Dalam membuat

soal, dilakukan kajian terhadap standar kompetensi, kompetensi inti atau

indikator.

2.1.3 Mata Pelajaran Pemrograman Dasar

Pemrograman menurut Munir & Lidya (2016:16) merupakan kegiatan

mulai dari mendesain hingga menulis program. Sedangkan belajar pemrograman

memiiki arti mempelajari metodologi pemecahan masalah, kemudian menuliskan

algoritma pemecahan masalah dalam notasi tertentu. Sejalan dengan hal tersebut,

Wang (2008:7) mengemukakan bahwa pemrograman komputer tidak lain

hanyalah menuliskan instruksi sesuai dengan aturan komputer, langkah demi

langkah. Akan tetapi yang paling penting dari bagian pemrograman adalah bukan

mengetahui bagaimanan menulis sebuah program atau bagaimana menggunakan

bahasa pemrograman melainkan mengetahui apa yang harus dibuat pertama kali.

2.1.4 Pengembangan Sistem Ujian Online Berbasis Web

Pada urain di bawah ini akan dijelaskan mengenai software ujian

online berbasis web yang mencakup fitur-fitur yang ditampilkan dalam


11

software ujian online:

1) User Interface (tampilan software)

Menurut Wikipedia User Intervace merupakan bentuk tampilan

grafis yang berhubungan langsung dengan pengguna (user).

Antarmuka pemakai (User Interface) dapat menerima informasi dari

pengguna dan memberikan informasi kepada pengguna untuk membantu

mengarahkan alur penelusuran masalah sampai ditemukan suatu solusi

antarmuka pengguna berfungsi untuk menghubungkan pengguna

dengan sistem operasi, sehingga komputer tersebut bisa digunakan.

Sedangkan menurut Yoga Anindito (2010) User Interface

merupakan mekanisme komunikasi antara pengguna dengan sistem.

Aplikasi ujian online berbasis web memiliki tampilan user friendly

dengan kombinasi warna pada website yang terlihat menarik dan tidak

membosankan.

2) Sistem soal ujian online

Pada aplikasi ujian online berbasis web memiliki sistem ujian

multiple choice yang terdiri 4 (empat) pilihan jawaban pengecoh dan 1

(satu) jawaban benar. Total soal yang diujikan pada mata pelajaran

pemorgaman dasar adalah 30 item soal dengan durasi pengerjaan soal

ujian 90 menit. Soal akan ditampilkan secara bergantian dari no.1

sampai dengan no.30.

3) Sistem tampilan skoring soal ujian online


12

Aplikasi ujian online berbasis web memiliki tampilan skoring

yang simple dan mudah dipahami. Setiap jawaban yang benar

mendapatkan skor sesuai dengan bobot skor yang terjawab benar pada

soal ujian dan jawaban yang salah mendapat skor 0 (nol).

4) Sistem pelaporan hasil ujian online

Setiap mengikuti ujian, pasti terdapat hasil ujian. Begitupun

dengan sistem ujian online berbasis web yang memiliki pelaporan hasil

ujian secara real time dan disertakan notifikasi apakah siswa yang

bersangkutan telah lulus dalam mata pelajaran teknik listrik ataubelum

lulus. Jika siswa belum lulus dalam ujian teknik listrik, maka dari itu

akan terdapat tampilan pemberitahuan kepada siswa yang bersangkutan

harap mengikuti ujian remediasi yang akan diadakan pada waktu yang

disepakati oleh guru bersangkutan.

2.1.5 Standar Kualitas ISO 9126

Software dapat dikatakan baik apa bila memenuhi standar kualitas

software. ISO 9126 merupakan standar internasional yang memiliki tujuan

untuk menyediakan sebuah kerangka kerja untuk evaluasi kualitas software

(Chua & Dyson, 2004). ISO 9126 mendefinisikan kualitas produk perangkat

lunak, model, karakteristik, mutu, dan metrik terkait digunakan untuk

mengevaluasi dan menetapkan kualitas sebuah software. ISO 9126

menetapkan enam karakteristik pengujian kualitas software.

ISO 9126 menetapkan 5 (lima) karakteristik pengujian kualitas software.

Karakteristik tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.1


13

Gambar 2.1 Model ISO 9126 (Chua & Dyson, 2004)

Berikut ini adalah penjelasan mengenai aspek functionality, aspek

reliability, aspek usability, aspek efficiency, dan aspek portability berdasarkan

standar ISO:

a) Aspek Functinonality

Functionallity merupakan kemampuan software untuk menyediakan

fungsi sesuai dengan kebutuhan sistem yang telahdianalisa sebelumnya.

Pada aspek functionality berdasarkan 9126 functionality suatu software

dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

X=I/P

Keterangan: X = Functionality
I = Jumlah fitur yang berhasil diimplementasikan
P = Jumlah fitur yang dirancang
0 ≤ x ≤ 1. Functionality dikatakan baik jika mendekati 1.

Berdasarkan rumus diatas nilai functionality dikatakan memenuhi

standar jika nilainya 0.5 dan semakin mendekati 1 maka tingkat

functionality dari software semakin baik. Functionality diklasifikasikan ke

dalam pengujian fungsional black box. Pengujian dilakukan dalam bentuk


14

tertulis untuk memeriksa apakah aplikasi berjalan seperti yang diharapkan

(Janner Simarmata, 2010:316). Pengujian tidak berfokus pada mekanisme

internal sistem tetapi berfokus pada output yang dihasilkan dalam

merespon input yang dipilih (Nidhra, 2012:29).

Aspek functionality juga memperhatikan security sebuah software.

Sedangkan security adalah kemampuan software untuk menjaga dari

akses-akses yang tidak disetujui/akses tidak resmi (Chua & Dyson,

2004:186). Contoh kerentanan berbahaya dalam aplikasi web adalah SQL

Injection. SQL Injection adalah ketentuan yang terjadi ketika suatu

software memberikan kemampuan pada penyerang untuk mempengaruhi

Structured Query Language (SQL) (Clarke, 2009). Dengan memiliki

kemampuan tersebut, penyerang dapat memasukkan kode SQL ke dalam

parameter input pengguna dan kemudian diteruskan ke Back-end SQL

Server untuk dijalankan (Clarke, 2009). Kerentanan tersebut berbahaya,

karena penyerang dapat memasukkan kode SQL yang tidak sesuai,

misalnya kode SQL tersebut menampilkan password dari suatu software.

Jadi, dalam aspek functionality terdapat 2 (dua) macam pengujian yang

dilakukan yaitu menguji fungsi yang ada dalam software dalam bentuk test

case dengan target developer dan menguji keamanan website dengan

software Acunetix Web Vulnerability Scanner. Hasil dari pengujian fungsi

software tersebut dikatakan memenuhi standar jika menghasilkan nilai

functionality lebih dari 0.5 dan hasil dari uji keamanan website dikatakan

memenuhi standar jika menghasilkan tingkat keamanan dibawah Medium


15

(Level 2).

b) Aspek Reliability

Aspek Reliability adalah kemampuan dari sistem untuk dikembangkan

kedalam. level/performa yang tertekan. Sistem tidak mudah down atau

hang karena adanya perlakuan yang keras/besar. Sedangkan definisi lain

menyatakan aspek reliability ini mencakup lama waktu perangkat lunak

dapat digunakan dengan normal. Aspek reliability ini meliputi maturity,

fault tolerance, dan recoverability (Pressman, 2010). Dari beberapa sub-

karakteristik reliability tersebut, sub-karakteristik maturity yang paling

berpengaruh terhadap software berbasis web (Olsina, Sassano, & Mich,

2008:54). Aspek maturity merupakan tingkat kematangan perangkat lunak.

Maksud dari kematangan adalah tingkat frekuensi kegagalan perangkat

lunak jika digunakan dalam periode waktu tertentu.

Pengujian aspek maturity dengan melakukan pengujian tegangan (stress

testing). Dalam klasifikasi pengujian black box, pengujian tegangan adalah untuk

menciptakan sebuah lingkungan yang lebih menuntut aplikasi, tidak seperti saat

aplikasi dijalankan (Janner Simarmata, 2010:316). Kemudian untuk melakukan

stress testing dapat digunakan software Web Application Load, Stress and

Performance Testing (WAPT) (Pradhan, 2013). WAPT adalah alat pengujian

reliability dengan metode stress testing yang mudah digunakan dan hemat biaya

untuk menguji situs web, termasuk aplikasi bisnis, situs mobile, web portal, dll

(Official Website WAPT, 2014). Stress testing bekerja dengan menghitung test

case yang berhasil dilakukan oleh software dan membandingkannya dengan total

test case yang dilakukan. Setelah perhitungan dilakukan kemudian dilakukan


16

interpretasi berdasarkan standar telcordia reliabilitas perangkat lunak. Standar

reliability yang dapat diterima berdasarkan standar telcordia adalah 95% atau

lebih pada software agar dinyatakan lolos (Asthana & Olivieri, 2009:2). Sehingga

nantinya software dikatakan lolos uji pada aspek reliability jika minimal 95%

software dapat berjalan dengan baik ketika diuji stress testing menggunakan

WAPT.

c) Aspek Usability

Aspek usability adalah kemampuan dari produk perangkat lunak untuk

memberian kecepatan, memberikan kemudahan, kepuasan penggunaan dan

menyediakan bantuan mengenai error yang terjadi sesuai dengan kondisi

dan kebutuhan. Usability adalah atribut kualitas yang digunakan untuk

menilai seberapa mudah user interface suatu produk untuk digunakan.

Usability menekankan pada tampilan antar muka (user interface) sistem

yang konsep dasarnya terletak pada kemudahan dan juga sesuai dengan

keinginan pengguna (Nielsen, 2012). Dalam klasifikasi pengujian black

box, usability testing (pengujian usabilitas) adalah proses yang bekerja

dengan pengguna akhir secara langsung maupun tidak langsung untuk

menilai bagaimana pengguna merasakan paket perangkat lunak dan

bagaimana mereka berinteraksi dengannya (Janner Simarmata, 2010:317).

Pengujian sub-karakteristik understandability, learnability, dan

operability memiliki metode pengujian yaitu dengan user test. Pengujian

ini dapat dilakukan dengan menggunakan likert survey (Walace & Cheng

Yu, 2009:139). Salah satu kuesioner yang menggunakan skala likert

adalah kuesioner dari Arnold M. Lund. Arnold M. Lund (2001) membuat


17

kuesioner yang bernama USE Questionnaire. USE merupakan

kepanjangan dari Usefulness, Satisfaction, and Ease of use. Usability

didefinisikan oleh empat kualitas komponen: usefulness, ease of use, easy

of learning, dan satisfaction.

d) Aspek Efficiency

Menurut ISO 9126, efficiency adalah kemampuan produk software

untuk memberikan kinerja yang sesuai, relatif terhadap jumlah sumber

daya yang digunakan, dalam kondisi yang telah ditetapkan. Menurut

Padayachee, Kotze, & Marwe (2010), efficiency mencakup beberapa

waktu yang diperlukan sistem untuk melakukan respon dan bagaimana

resources dimanfaatkan secara efisien. Artinya adalah dalam software

berbasis web dapat diketahui beberapa waktu untuk load halaman web dan

bagaimana sorce code diprogram secara efisien.

Singh (2014), menjelaskan bahwa untuk mengetahui beberapa waktu

untuk load halaman web dapat menggunakan GTMetrix. Selain itu dapat

digunakan untuk mengukur waktu load halaman web, GTMetrix dapat

memberikan rekomendasi agar sorce code diperoleh lebih efisien. Semakin

cepat waktu website dapat diakses oleh pengguna maka akan semakin

baik. Nielsen (2006), menjelaskan ada 3 (tiga) batasan waktu yang perlu

diingat ketika mengoptimalkan web berdasarkan persepsi manusia.

Batasan ketiga adalah 10 detik. Pada batasan ini pengguna mulai

memperhatikan jeda yang ada. Pengguna mulai berharap agar respon dapat

berjalan lebih cepat. Jika lebih dari batasan tersebut atau lebih dari 10
18

detik pengguna akan meninggalkan web. Bila pengguna sedang

mengoprasikan web tersebut, maka pekerjaan mereka akan terhambat

dengan adanya jeda tersebut.

Berdasarkan penjelasan para ahli di atas dapat disimpulkan

bahwa, aspek efisiensi suatu sistem sangat berpengaruh dangan kinerja

personal user atau pengguna software tersebut.

e) Aspek Portability

Aspek Portability merupakan kemampuan produk software untuk

ditransfer dari satu lingkungan yang lain. Software berbasis web

dijalankan menggunakan web browser sehingga dapat digunakan. Agar

dapat memenuhi portability perlu dicoba pada berbagai macam web

browser. Salonen (2012), mengungkapkan bahwa pengembang harus

mencoba software untuk diakses dengan tujuan browser dengan versi

berbeda dari tiga mayoritas browser yang digunakan untuk perangkat

desktop dan lima browser untuk perangkat mobile.

2.1.6 Model Waterfall

Model pengembangan perangkat lunak atau software dibutuhkanagar

menghasilkan perangkat lunak yang berkualitas (Rosa & Shalahuddin 2016).

Model pengembangan perangkat lunak sering disebut dengan model SDLC atau

Software Development Life Cycle. Salah satu model SDLC ini adalah model

air terjun (waterfall). Menurut Rosa & Shalahuddin (201), model waterfall adalah

model SDLC yang cocok untuk pengembangan dengan spesifikasi yang tidak

berubah-ubah.
19

Berikut ini adalah penjelasan model pengembangan perangkat lunak

waterfall oleh di bawah ini:

a) Analisis Kebutuhan

Proses pengumpulan kebutuhan dilakukan secara intensif untuk

menspesifikasikan kebutuhan perangkat lunak agar dapat dipahami

perangkat lunak seperti apa yang dibutuhkan oleh user. Spesifikasi

kebutuhan perangkat lunak pada tahap ini perlu untuk

didokumentasikan.

b) Desain

Desain perangkat lunak adalah proses multi langkah yang fokus pada

desain pembuatan program perangkat lunak termasuk struktur data,

arsitektur perangkat lunak, representasi antarmuka, dan prosedur

pengodean.

c) Pengkodean

Desain harus ditranslasikan ke dalam program perangkat lunak. Hasil

dari tahap ini adalah program komputer sesuai dengan desain yang

telah di buat pada tahap desain.

d) Pengujian

Pengujian fokus pada perangkat lunak secara dari segi lojik dan

fungsional dan memastikan bahwa semua bagian sudah diuji. Hal ini

dilakukan untuk meminimalisir kesalahan (error) dan memastikan

keluaran yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan.


20

Berdasarkan uraian di atas, model pengembangan perangkat lunak

SDLC waterfall memiliki siklus pengembangan yang panjang, tetapi model

ini sangat cocok untuk pengembangan software karena aspek pengamatan

penelitian yang cukup kompleks dan tingkat keakuratan yang cukup tinggi.

2.2 Penelitian Yang Relevan

Pada uraian di bawah ini akan membahas 5 (lima) hasil penelitian yang

telah dipublikasi, oleh karena itu terdapat berbagai macam kelebihan dan

kekurangan dari sistem yang dibuat.

1) Penelitian pengembangan yang dilakukan oleh Husnah Tutdianah, pada

tahun 2012, di Universitas Pembengunan Nasional “Veteran” Jawa

Timur. Dengan judul “Aplikasi Tes Potensi Akademik Online Sebagai

Alat Bantu Proses Pembelajaran Bagi Calon Peserta Ujian”. Penelitian

ini bertujuan untuk menciptakan aplikasi yang dapat mengukur

kemampuan seorang dibidang akademik umum atau diidentifikasi

dengan tes kecerdasan seseorang. Aplikasi ini merupakan aplikasi web

yang bekerja sehingga dapat menyajikan informasi tentang tes potensi

akademik. Program dirancang dengan menggunakan konsep structural.

Hasil pengembangan tersebut adalah aplikasi yang dapat memudahkan

user belajar tes potensi akademik dengan cepat dan mudah karena

memanfaatkan internet.

Berdasarkan uraian di atas, aplikasi berbasis web multiplatform,

karena digunakan pada setiap komputer dengan tipe sistem operasi


21

berbeda-beda. Aplikasi ini memanfaatkan internet sebagai jalur

komunikasi data yang cepet dan handal, tetapi dalam internet tidak

lepas dari kejahatan sayber atau hacker. Oleh karena itu, sebuah

aplikasi yang ter publish di-internet harus diperkuat dari segi

keamanannya.

2) Penelitian pengembangan yang dilakukan oleh Imam Ahfas, pada tahun

2012, di Universitas Maria Kudus. Dengan judul “Rancangan Bangun

Simulasi Tes Online Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS)”. Hasil

pengembangan tersebut adalah simulasi tes online CPNS berbasis web

bersifat free yang dapat digunakan oleh user untuk melakukan latihan

soal tentang ujian tes CPNS. Pengembangan aplikasi menggunakan

pemodelan UML dengan software Dreamwaver 8.0 dan XAMPP.

Berdasarkan uraian di atas, aplikasi rancang bangun simulasi

tes online calon pegawai negeri sipil bersifat free yang dapat di-

download secara gratis. Tetapi pada aplikasi ini tidak sepenuhnya

online, karena bersifat localhost yang diakses secara intra koneksi. Dan

menggunakan sistem pengembangan mengunakan Dreamwaver 8.0

yang merupakan software pembuat aplikasi secara modul, jadi tampilan

user interface yang dihasilkan oleh aplikasi Dreamwaver 8.0 kurang

maksimal.

3) Penelitian pengembangan yang dilakukan oleh Ahmad Nur Setyo

Candra, pada tahun 2012, di Universitas Pembengunan Nasional

“Veteran” Jawa Timur. Dengan judul “Aplikasi Ujian Online di RSBI


22

SMAN 2 Mojokerto”.Hasil pengembangan tersebut adalah penelitian

yang bertujuan untuk aplikasi ujian online yang mengukur kemampuan

seorang siswa dalam akademik. Aplikasi ini berbasis web yang bekerja

menyajikan informasi tentang kemampuan akademik siswa. Program

dirancang dengan menggunakan database MySQL, web server Apache

dengan bahasa pemrograman PHP serta dipandu dengan beberapa

aplikasi desain untuk memperindah tampilan web halaman depan atau

CMS.

Berdasarkan uraian di atas, aplikasi ujian online di RSBI SMAN 2

Mojokerto merupakan aplikasi berbasis web yang menggunakan sistem

CMS. CMS adalah Conten Managemen System, jadi aplikasi yang

dibuat menggunakan sistem CMS akan menghasilkan tampilan user

interface yang optimal dari segi tampilan web dan konten-konten yang

disediakan oleh aplikasi ujian online tersebut.

4) Penelitian pengembangan yang dilakukan oleh Toni Purwanto, pada

tahun 2011, di Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullan Jakarta.

Dengan judul “Perancangan Aplikasi Simulasi TOEFL (Test of English

as Foreign Language)”. Hasil pengembangan tersebut adalah simulasi

TOEFEL berbasis web yang dapat menguji kemampuan listening,

structure dan reading untuk mengukur kemampuan bahasa inggris

seseorang. Dalam pengembangan aplikasi ini menggunakan bahasa

pemrograman PHP dan database MySQL.

Berdasarkan uraian diatas, aplikasi simulasi TOEFL berbasis web


23

yang bertujuan mengukur kemampuan bahasa Inggris menggunakan

sistim database MySQL aplikasi ini free open source dan dapat

dikembangkan oleh semuah kalangan. Kelemahan dari database

MySQL adalah dari segi keamanan datanya, karena terdapat sebuah

aplikasi yang bernama SQL injection yang berfungsi sebagai perusak

kode pengaman pada database. Jadi sistem database yang berada pada

aplikasi tersebut dapat dirusak dengan mudah, tetapi pada penelitian ini

sistem yang digunakan tidak online terkoneksi dengan internet hanya

digunakan secara intranet didalam 1 (satu) ruang lingkup koneksi

internet di dalam 1 (satu) jaringan.

5) Penelitian pengembangan yang dilakukan oleh Muhammad Luqman

Adha, pada tahun 2011, di Universitas Indonesia. Dengan judul

“Aplikasi Ujian Online Pada Training Kariawan Menggunakan Metode

Computerized Classification Test Dengan Adaptive Feedback”. Hasil

pengembangan tersebut adalah penelitian ini akan dibuat suatu sistem

pengajaran adaptive yang difokuskan pada ujian online berupa multiple

choice yang jawaban dari ujian tersebut akan dievaluasi sistem sehingga

hasil akhir dari ujian online ini dilengkapi dengan rekomendasi-

rekomendasi atau saran-saran tertentu dari sistem terhadap peserta

berdasarkan evaluasi hasil ujian yang sudah dilakukan.

Berdasarkan uraian di atas, aplikasi ujian Online pada training

karyawan menggunakan metode computerized classification test

dengan adaptive feedback. Metode yang digunakan pada aplikasi ini


24

adalah metode yang baik, karena terdapat notivikasi dari sistem jika

setiap user mengetahui hasil ujian dan mendapatkan saran yang

ditujukan pada setiap user untuk mempelajari bagian-bagian tertentu

dari soal yang belum dijawab secara benar oleh user.

2.3 Kerangka Berpikir

Sekolah Menengah Kejuruan sebagai salah satu lembaga pendidikan

yang berintiskan nasional, dimana siswa-siswi melakukan ujian dengan

metode konvensional salah satunya di SMK Swasta Dwiwarna Medan

khususnya pada mata pelajaran pemrograman dasar. tes dilakukan secara

manual dengan menggunakan media kertas, dan alat tulis. Tipe soal yang

digunakan berupa soal uraian. Kemudian, penilaian ujian siswa diperiksa

manual oleh guru sehingga membutuhkan waktu lama dan siswa tidak bisa

langsung mengetahui hasil ujiannya, terjadi kesalahan dalam penginputan

nilai ujian oleh guru dikarenakan banyaknya peserta ujian, proses ujian yang

kurang efektif dan efesien dikarenakan kurangnya personil atau pengawas

pada saat ujian dilaksanakan.

Sistem ujian online berbasis web ini bertujuan untuk mempermudah

pelaksanaan ujian di SMK Swasta Dwiwarna Medan. Pembuatan sistem informasi

ini menggunakan Framework Codeigneter agar mudah untuk dikembangkan di

waktu mendatang karena sudah menerapkan teknologi PHP versi terbaru.

Pembuatan sistem informasi ujian ini melalui beberapa tahapan berdasarkan

model proses perangkat lunak yaitu waterfall yang menyediakan pendekatan alur

hidup perangkat lunak secara sekuensial atau terurut dimulai dari analisis, desain,
25

pengkodean, dan tahap pengujian.

Analisis kebutuhan antara lain menentukan fitur perangkat lunak sesuai

kebutuhan pengguna dan perangkat lunak yang akan digunakan dalam pembuatan

sistem informasi. Tahapan desain sistem dibagi menjadi tiga, yaitu pemodelan

sistem menggunakan UML (Unifed Modeling Language), desain basis data, dan

desain user interface. Implementasi adalah tahap menterjemahkan desain menjadi

bentuk akhir sistem yang berupa aplikasi web. Tahapan terakhir adalah pengujian

sistem dengan mengunakan standar ISO 9126 yaitu aspek functionality,

reliability, portability dan usability. Kerangka pikir dalam penelitian ini

ditunjukkan dalam gambar 2.2 sebagai berikut:


26

Gambar 2.2 Bagan Kerangka Berpikir


2.4 Konsep/Desain Produk

Sistem ujian online yang akan dikembangkan berbasis website bertujuan

untuk memberikan solusi terhadap permasalahan yang ditemukan pada saat

melaksanakan ujian di sekolah yaitu dengan pelaksanaan ujian konvensional.

Konsep sistem ujian online yang dikembangkan website mengggunakan

framework codeigneter yang mudah digunakan dan dengan Bahasa Pemrograman

PHP.
27

Pada sistem ujian online berbasis website ini akan digunakan oleh tiga user

(pengguna) yaitu admin, guru, dan siswa di SMK Swasta Dwiwarna Medan.

Ketiga user tersebut memiliki akses halaman yang berbeda. Admin sebagai

pengolahan data master baik itu master siswa, guru, kelas, jurusan, mata pelajaran,

bank soal, hasil ujian, cetak kartu dan bahkan mengolah akun guru dan siswa.

Kemudian guru mengolah bank soal, ujian, hasil ujian yang telah disiapkan oleh

admin. Selanjutnya untuk siswa akan melaksanakan ujian yang telah disediakan

oleh guru. Dengan sistem ujian online berbasis website ini, guru dan siswa akan

lebih praktis dalam pelaksanaan ujian sekarang ini. Sistem ujian online berbasis

website ini akan menjadi penggunaan teknologi informasi pada sekolah SMK

Swasta Dwiwarna Medan, artinya dengan adanya pengembangan sistem ujian

online berbasis website sebagai alat/media ujian untuk menjadi langkah awal

dengan melibatkan pemanfaatan teknologi dalam memajukan sistem evaluasi

belajar siswa dari pihak sekolah.

Anda mungkin juga menyukai