0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan72 halaman

Tantangan Pernikahan Bulan dan Landon

Bulan Tjandratyo merasa tertekan dengan persiapan pernikahannya yang dikuasai oleh ibunya, Cory, dan kesibukan tunangannya, Landon, yang mengakibatkan keputusan penting diambil tanpa keterlibatannya. Dalam percakapan dengan adiknya, Nadindra, Bulan menyadari bahwa dia harus mengambil kembali kendali atas pernikahannya dan berbicara jujur dengan Landon tentang perasaannya. Malam itu, Bulan bersiap untuk berbicara dengan Landon, bertekad untuk memastikan pernikahan mereka mencerminkan cinta mereka, bukan hanya ekspektasi orang lain.

Diunggah oleh

kontenfixup
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan72 halaman

Tantangan Pernikahan Bulan dan Landon

Bulan Tjandratyo merasa tertekan dengan persiapan pernikahannya yang dikuasai oleh ibunya, Cory, dan kesibukan tunangannya, Landon, yang mengakibatkan keputusan penting diambil tanpa keterlibatannya. Dalam percakapan dengan adiknya, Nadindra, Bulan menyadari bahwa dia harus mengambil kembali kendali atas pernikahannya dan berbicara jujur dengan Landon tentang perasaannya. Malam itu, Bulan bersiap untuk berbicara dengan Landon, bertekad untuk memastikan pernikahan mereka mencerminkan cinta mereka, bukan hanya ekspektasi orang lain.

Diunggah oleh

kontenfixup
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Summer Love

Apartemen Bulan di District 8 terlihat seperti zona


perang.
Puluhan sampel undangan berserakan di meja kaca
ruang tamu, masing-masing dengan font dan kertas yang
berbeda. Dari yang minimalis Scandinavian hingga yang
ornate dengan foil gold yang berlebihan. Katalog venue
wedding tumpah ruah di sofa putih, bersebelahan dengan
folder tebal berisi menu katering dari lima belas restoran
berbeda. Dan di tengah kekacauan itu, Bulan Tjandratyo
duduk dengan laptop terbuka, rambut berantakan karena
terlalu sering diacak-acak karena frustasi, mata menatap
kosong spreadsheet rencana pernikahan yang sudah
mencapai 47 tab.
Enam bulan. Enam bulan sejak Landon melamarnya di
atas rooftop The Dharmawangsa dengan cincin Harry
Winston yang membuatnya tidak bisa berkata-kata dan
setup yang begitu romantis hingga semua tamu restoran
spontan bertepuk tangan. Enam bulan yang seharusnya
diisi dengan antusias dan antisipasi. Tapi yang Bulan
rasakan sekarang hanya satu: overwhelmed.
Ponselnya berdering dengan FaceTime call dari Cory
Harditama. Tentu saja.
"Bulan sayang!" wajah Cory muncul di layar, dengan
setting yang jelas di salon—rambut setengah di-highlight,
dengan aluminium foil di beberapa bagian. "Mama lagi di
salon, tapi mama inget! Kamu udah decide soal
centerpiece-nya belom?"
Bulan melirik ke arah puluhan sample centerpiece yang
memenuhi coffee table. "Masih mikir, Tante. Ada terlalu
banyak pilihan."
"Yang orchid putih aja, sayang. Classic, elegant. Mama
udah bilang ke orist-nya.” Cory melambaikan tangan
dengan acuh tak acuh. "Oh, dan soal menu tasting minggu
depan, mama udah reschedule ke Jumat sore ya. Soalnya
ternyata chef Michelin star-nya cuma available waktu itu."
"Tapi Tante, Jumat sore Bulan ada meeting penting
dengan klien dari Singapore..."
"Ah, pasti bisa digeser dong sayang. Ini kan cuma sekali
seumur hidup. Lagian mama udah kon rmasi sama chef-
nya, dan kamu tau kan susahnya book dia."
Bulan menghela napas dalam-dalam. Ini mungkin
percakapan kesepuluh minggu ini dimana Cory sudah
memutuskan sesuatu untuk pernikahan Bulan tanpa
konsultasi dulu. "Oke, Tante. Nanti Bulan coba reschedule
meeting-nya."
"Good girl! Oh, dan satu lagi, mama ketemu sama
temen mama yang punya koneksi ke fotografer
internasional. Supposedly the best in the business. Mama
udah tentative book dia untuk wedding kalian."
"Wait, what?" Bulan menegakkan tubuhnya. "Tante, kan
kita udah diskusi photographer-nya. Mau pake Iluminen
kan tadinya."
fl
fi
"Iya tapi sayang, ini league yang beda. Fotografer yang
mama book ini pernah foto wedding anak Sultan Brunei,
dan bangsawan Eropa. Mama kirim portfolio-nya nanti ya."
Dan sebelum Bulan bisa protes lebih lanjut, Cory sudah
menutup telepon dengan alasan hairdresser-nya sudah
selesai.
Bulan melempar ponselnya ke sofa, frustrasi. Sejak
kapan pernikahan ini menjadi solo project Cory
Harditama? Sejak kapan semua keputusan dibuat tanpa
input dari pengantinnya sendiri?
Apartemen terasa terlalu sunyi tanpa suara Landon.
Calon suaminya itu sedang di Surabaya untuk dua hari,
performing di pembukaan mal baru milik salah satu klien
label rekamannya. Tur mini untuk promosi album
pertamanya yang akan rilis bulan depan. Dan tentu saja,
waktunya bertepatan dengan tting tuksedo ketiga yang
sudah mereka jadwal ulang dua kali.
Bulan mengambil gelas wine yang sudah setengah
kosong. Sauvignon Blanc yang dibeli Landon minggu lalu
untuk "wedding planning session" yang akhirnya jadi
akti tas yang Bulan lakukan sendirian. Ironic, considering
ini supposed to be collaborative effort.
Pintu apartemen terbuka dengan bunyi khas smart
door. Nadindra masuk dengan paper bag dari Kitchenette
dan dua kopi yang aromatik.
"Gue bawain makan siang," kata adiknya, meletakkan
bags di kitchen counter. “and judging from the chaos in
your living room, looks like you need caffeine more than
carbs."
fi
fi
"Thanks, Din." Bulan menerima kopi dengan senang.
"Lo nggak kerja hari ini?"
"WFH. Meeting baru jam 3." Nadindra duduk di
seberang Bulan, menelusuri kekacuan persiapan
pernikahannya. "Jesus, Mbak. This looks like a Pinterest
board exploded."
"Tell me about it." Bulan menyisipkan kopinya, merasa
sedikit tenang karena asupan kafein. "Dan Tante Cory baru
aja reschedule menu tasting tanpa tanya gue dulu. Terus
dia book fotografer baru yang pernah foto wedding
royalty."
Nadindra raised an eyebrow. “Nggak nanya lo dulu?"
"Welcome to my life for the past six months." Tangan
Bulan memberi arah kepada kertas-kertas yang berserakan.
"I feel like... guest in my own wedding, Din. Semua
keputusan dibuat sama Tante Cory, dan Landon..." dia
pause, choosing words carefully, "Landon lagi sibuk banget
sama album-nya."
“That’s not fair, Mbak."
"Which part? Tante Cory yang mengambil alih semua
keputusan atau Landon yang nggak bantuin gue sama
sekali?"
“Dua-duanya." Nadindra berjalan mendekat. "Look, I get
it that Tante Cory excited. Her youngest son's getting
married, dan dia mau semuanya kelihatan sempurna. Tapi
ini pernikahan lo dan Landon, bukan showcase buat sirkel
sosialita dia."
Bulan mengangguk, merasa perasaannya tervalidasi.
Nadindra selalu tahu cara menyingkirkan segala basa-basi
dan menyuarakan apa yang tak sanggup diucap oleh
Bulan.
"Dan soal Landon," lanjut Nadindra, "musik memang
karir dia, tapi pernikahan juga komitmen yang butuh usaha.
Dia nggak bisa expect lo handle semua wedding planning
sendiri sementara dia fokus ke turnya."
"Gue nggak mau jadi bridezilla yang demanding,"
Bulan mengaku. “Tapi gue akui, kadang gue ngerasa...
kayak ini sih gue nikah sama rencananya bukan sama
Landon.”
Ponsel Bulan berdering lagi. Pesan dari Landon.

Landon Harditama
chubs, really sorry but tting tuxedo harus dicancel lagi
sound check runs longer than expected
back to jakarta tonight tho.
dinner at our usual place?

Bulan menatap pesan itu, merasakan frustrasi yang


familiar mulai muncul ke permukaan. Tempat biasa mereka
adalah CORK&SCREW di Senopati, tempat mereka
melakukan rst of cial date sebagai pasangan yang
akhirnya berkomitmen. Biasanya, usulan itu akan
membuatnya senang. Tapi sekarang, setelah tting
dibatalkan untuk ketiga kalinya, semuanya terasa seperti
hadiah hiburan.
"Landon?" tanya Nadindra, memperhatikan ekspresi
wajah Bulan.
"Fitting-nya dibatalin lagi." Bulan menunjukkan
pesannya. "Udah tiga kali, Din."
fi
fi
fi
fi
"Okay, that's actually not cool." Nadindra mengernyit.
"Wedding tinggal empat bulan lagi, dan dia belum nalin
tuxedo? Gimana kalau nanti masih butuh penyesuaian dari
tailor-nya?"
"Exactly!" Bulan merasa lega, akhirnya ada yang
membenarkan kekesalannya. "Terus minggu depan
harusnya nal walk-through venue, tapi dia mungkin nggak
bisa datang juga gara-gara ada studio session sama
produser dari LA."
Nadindra memperhatikan kakaknya dengan saksama.
"Mbak, gue boleh nanya sesuatu? Tapi jawab yang jujur
ya."
Bulan mengangguk pelan. "Boleh."
"Lo masih excited nggak sih soal pernikahan ini?
Maksud gue, beneran excited. Bukan karena lo ngerasa
harus excited aja."
Pertanyaan itu menghantam Bulan lebih keras dari yang
dia duga. Dia terdiam, benar-benar mempertimbangkan
jawabannya. Enam bulan lalu, waktu Landon melamar, rasa
bahagianya tulus dan menggebu-gebu. Tapi sekarang,
semuanya terkubur di bawah gunungan keputusan,
logistik, dan ekspektasi orang lain.
"Gue nggak tahu," jawabnya pelan. "Gue excited buat
nikah sama Landon. Tapi pernikahannya sendiri...
semuanya terasa rumit dan di luar kendali."
“Mungkin itu masalahnya,” kata Nadindra pelan. “Lo
fokus ke pernikahannya, bukan ke pernikahan itu sendiri.
Dan semua orang—Tante Cory, para vendor, bahkan
Landon—ngeliat ini kayak acara yang harus direncanain,
bukan perayaan cinta kalian.”
fi
fi
Bulan merasa air mata mulai menggenang.
“Gue cuma pengen upacara yang sederhana, intim.
Keluarga dekat, sahabat dekat. Sesuatu yang benar-benar
mencerminkan kami.”
“Terus kenapa nggak kayak gitu aja?”
“Karena...” Bulan terdiam, mencoba mengungkapkan
hal yang selama ini dia hindari untuk dipikirkan. “Karena
Tante Cory udah investasi banyak waktu dan uang, dan dia
bener-bener excited. Karena karier Landon lagi di puncak,
dan ini publikasi yang bagus buat brand dia. Karena semua
orang berekspektasi kalau pernikahan keluarga Harditama
itu harus megah dan spektakuler.”
“Tapi yang lo pengen apa, Mbak?”
“Gue pengen...” Bulan berhenti, menyadari bahwa dia
sendiri nggak tahu jawabannya. Hampir semua keputusan
dibuat oleh komite, atau oleh Tante Cory, sampai-sampai
dia kehilangan jejak preferensinya sendiri. “Gue cuma
pengen nikah sama Landon aja. Selebihnya... gue jujur
nggak yakin lagi.”
Nadindra meraih tangan Bulan dan menggenggamnya
dengan lembut. “Kalau gitu, lo harus ngobrol sama dia.
Malam ini. Jujur soal apa yang lo rasain.”
“Gimana kalau dia mikir gue lebay? Launch album-nya
penting banget buat karier dia.”
“Mbak, kalau Landon sayang sama lo dan gue tahu jelas
dia sayang sama lo, dia pasti pengen tahu kalau lo lagi
kesulitan. Pernikahan itu kerja sama. Lo nggak harus
nanggung semua stres pernikahan ini sendirian.”
Bulan mengangguk pelan, tahu Nadindra benar. Tapi di
dalam hatinya, ada ketakutan yang lebih dalam. Ketakutan
bahwa percakapan itu akan mengungkap prioritas Landon
yang sebenarnya. Bagaimana kalau Landon sekali lagi
menomorsatukan kariernya di atas hubungan mereka?
Bagaimana kalau ini adalah bayangan masa depan
mereka: Bulan yang harus mengurus semua urusan rumah
tangga, sementara Landon terus mengejar kesuksesan
profesional?
“Ditambah lagi,” tambah Nadindra dengan senyum
menyeringai, “kalau dia bolos tting tuxedo lagi, gue
pribadi yang bakal seret dia ke tukang jahit sambil dijewer.”
Bulan tertawa, meskipun masih dibayangi stres. “Deal.”
Ponselnya bergetar dengan noti kasi pesan baru—kali
ini dari wedding planner yang disewa oleh Tante Cory.

Melissa - Wedding Planner


Hi Bulan! Quick update - Mrs. Harditama requested
changes to seating chart.
Need your approval by EOD.
Also, oral designer wants to con rm: orchid
centerpieces or hydrangea mix? Mrs. H mentioned orchids
but wanted to double-check with you.

Bulan menatap layar ponselnya. Bahkan wedding


planner pun lebih nurut ke Cory daripada ke dirinya.
Padahal dialah pengantinnya, tapi diperlakukan seperti
asisten dalam rencana pernikahannya sendiri.
“Din,” katanya tiba-tiba. “Gimana kalau gue panggil
semua vendor minggu depan? Meeting bareng. Terus gue
ambil lagi kendali soal pernikahan ini.”
fl
fi
fi
fi
“Now that sounds like kakak gue,” kata Nadindra sambil
menyeringai. “Lo butuh bantuan apa?”
“Bantu gue bikin daftar. Apa aja yang sebenarnya Bulan
dan Landon mau. Bukan yang Tante Cory mau, bukan yang
bagus buat sosmed, bukan yang diharapkan keluarga
Harditama. Tapi apa yang kita berdua mau.”
“I’m in.” Nadindra langsung membuka laptopnya. “Tapi
pertama, lo harus ngobrol sama Landon malam ini. Biar dia
juga ada di jalur yang sama.”
Bulan mengangguk, untuk pertama kalinya dalam
beberapa minggu, dia merasakan gelombang semangat
yang sebenarnya tentang pernikahan ini. Bukan karena
bunga, venue, atau fotografer—tapi karena dia akhirnya
siap memperjuangkan pernikahan yang benar-benar
mewakili kisah cintanya dengan Landon.
Dia mulai mengetik pesan untuk Landon.

Bulan Tjandratyo
dinner sounds perfect
but we need to talk about wedding planning
and i need you to really be present for this conversation
love you

Responsnya datang dengan cepat.

Landon Harditama
of course chubs. everything okay?
i'll pick you up at 7
love you too
Bulan menunjukkan pesan dari Landon ke Nadindra.
“Doain gue ya.”
“Lo nggak butuh doa dari gue, Mbak. Lo butuh
kejujuran. Dan Landon cukup sayang sama lo untuk mau
dengerin lo kok. Tenang aja.”
Malam itu, saat Bulan bersiap untuk makan malam, dia
menatap bayangannya di cermin kamar mandi. Sosok yang
menatap balik adalah seorang calon pengantin yang
kelelahan, kewalahan, dan tidak terlihat seperti seseorang
yang sedang menantikan hari terbesarnya. Tapi di balik
mata yang letih, ada sesuatu yang mulai tumbuh kembali—
tekad.
Malam ini, dia akan merebut kembali pernikahannya.
Dan tunangannya.
Lalu lintas malam Jakarta mengalir di bawah jendela
apartemennya, lampu-lampu kota mulai berkelap-kelip di
antara langit senja. Di suatu tempat di luar sana, Landon
sedang mengemudi kembali dari Surabaya, mungkin sama
lelahnya setelah hari panjang yang dipenuhi tekanan
pekerjaan. Tapi malam ini, mereka harus memprioritaskan
hubungan mereka, masa depan mereka, pernikahan
mereka yang seharusnya merayakan cinta, bukan
menciptakan stres.
Bulan mengenakan gaun hitam sederhana—favorit
Landon, memoles makeup tipis, dan mengambil clutch
kecil berisi catatan perencanaan pernikahan. Malam ini,
mereka akan menjalani percakapan yang seharusnya
terjadi sejak berbulan-bulan lalu.
Tonight, she's taking back control.
Summer Love

Dinner di CORK&SCREW berjalan lebih baik dari yang


Bulan ekspektasi. Landon datang dengan buket mawar
putih kecil dan permintaan maaf yang tulus untuk ketiga
kali batalin tting. Mereka duduk di meja favorit mereka di
sudut yang agak privat dengan pemandangan ke Senopati
yang ramai tapi teredam oleh jendela besar.
"Aku beneran minta maaf, Bul," kata Landon, meraih
tangan Bulan di atas meja. "Tekanan launching album kali
ini emang gila, tapi itu bukan alasan buat ninggalin kamu
sendirian ngurus wedding."
Bulan menghargai kejujurannya. "Aku ngerti kalau karir
kamu lagi puncak-puncaknya. Tapi aku ngerasa... ngerasa
aku ngurus semua ini sendirian. Dan yang lebih parah,
Tante Cory juga ikut ngambil alih semuanya."
"Maksud kamu gimana?"
Bulan menjelaskan tentang reschedule menu tasting,
keputusan centerpiece, dan fotografer baru yang Cory
book tanpa konsultasi. Ekspresi Landon perlahan berubah
dari terkejut ke khawatir ke sedikit merasa bersalah.
"Shit. Aku nggak sadar Mama se-terlibat itu."
“Tante Cory literally bikin semua keputusan. Aku berasa
kayak tamu di wedding aku sendiri."
fi
Landon meremas tangannya. "Oke. Mulai besok, aku
bakal lebih aktif. Kita ambil alih kontrol dari Mama, dan aku
janji, nggak ada lagi tting yang dibatalin."
"Janji?"
"Janji." Dia membawa tangan Bulan ke bibirnya,
mencium lembut buku-buku jarinya, gestur yang familiar
dan menenangkan. "Ini pernikahan kita, bukan acara sosial
Mama."
Lega memenuhi dada Bulan. Ini dia Landon yang jatuh
cinta sama dia. Hadir, berkomitmen, pengertian. Mungkin
mereka bisa navigate ini bareng-bareng.
“Oh dan soal fotografer baru yang Mama book,"
Landon melanjutkan, "kita bisa batalin kalau kamu nggak
nyaman. Aku tau kamu mau pake fotografer siapa.”
"Tante Cory bilang dia katanya yang terbaik soal ini.
Pernah foto wedding bangsawan Eropa."
"Wah, mewah banget mama." Landon nyengir. "Tapi
yang penting apa yang kamu mau."
Bulan mempertimbangkan ini. "Mungkin kita bisa
ketemu dia dulu? Diskusi portfolio, lihat apakah style-nya
cocok sama visi kita?"
"Masuk akal." Landon mengangguk. "Mama pasti udah
atur meeting juga."
Seolah dipanggil oleh percakapan mereka, ponsel
Landon bergetar dengan pesan dari Cory.
Cory Harditama
meeting sama photographer besok jam 2 siang di The
Ritz Carlton
paci c place
jangan telat! ini penting
fi
fi
btw namanya giovanno orang Asli indo
sangat berbakat dan punya koneksi luas
Bulan membaca pesan itu dari atas bahu Landon.
Namanya terdengar familiar, tapi dia nggak bisa ingat dari
mana.
"Giovanno," dia mengulang. “Katanya asli Indonesia?"
"Iya, mungkin campuran." Landon mengetik balasan
singkat kon rmasi kehadiran. "Ya, seenggaknya besok kita
bisa lihat karyanya."
Mereka menghabiskan sisa makan malam dengan
merencanakan untuk merebut kembali pernikahan mereka.
Landon setuju untuk lebih hadir, dan mereka memutuskan
untuk berbicara terus terang sama Cory soal batasan.
Untuk pertama kali dalam berbulan-bulan, Bulan merasa
optimis tentang wedding planning mereka.
***
Keesokan harinya, Bulan tiba di The Ritz Carlton Paci c
Place sedikit lebih awal. Lobby hotel yang elegan dan luas,
dengan keramaian siang hari dari business meeting dan
social lunch. Dia memindai area mencari Cory atau Landon,
tapi mereka belum datang.
"Permisi, apakah Anda Bulan Harditama?"
Bulan menoleh ke arah suara dan membeku. Berdiri di
depannya adalah laki-laki tinggi dengan postur yang
percaya diri tapi santai, rambut hitam sedikit berombak
yang berantakan dengan sempurna, dan mata cokelat yang
intens tapi hangat. Dia mengenakan kemeja putih
sederhana dengan lengan digulung, jeans gelap, dan tas
kulit messenger yang jelas mahal tapi understated.
fi
fi
Butuh beberapa detik bagi Bulan untuk memproses,
tapi ketika recognition-nya muncul, rasanya seperti pukulan
ke perut.
"Gio?"
Giovanno Wiranagara—mantan pacarnya dari kuliah,
yang dia pacari selama empat tahun, yang
meninggalkannya demi beasiswa fotogra di Eropa—
tersenyum dengan nervous yang membuat jantung Bulan
berdebar untuk alasan yang tidak seharusnya.
"Hai, Bul. Lama nggak ketemu."
"Lo... lo ngapain di sini?" Bulan berhasil berkata, masih
memproses apa yang dia baru saja lihat. Melihat dia lagi
setelah... berapa lama? Lima tahun? Enam?
"Gue fotografer yang disewa calon mertua lo." Senyum
Gio getir. "Gue nggak tau kalau ini wedding lo sampai tadi
pagi pas gue liat nama klien. Bulan Tjandratyo nikah sama
Landon Harditama." Dia berhenti sebentar. "Selamat, ya."
"Makasih," kata Bulan otomatis, pikirannya masih kacau.
Dari semua fotografer di Jakarta—hell, di dunia—Cory
nyewa Gio? "Gue... gue nggak nyangka bakal ketemu lo."
"Percaya deh, gue juga sama kagetnya." Gio
menggeser tas messenger-nya. "Harusnya gue telepon
Mrs. Harditama dan jelasin situasinya? Gue bisa
rekomendasiin fotografer lain kalau ini terlalu aneh."
"Nggak, gue..." Bulan berhenti, nggak yakin. Aneh? Iya,
pasti. Tapi juga, dia penasaran sama karya Gio sekarang,
tentang siapa yang dia jadi setelah ninggalin dia demi
mimpi-mimpinya. "Kita liat portfolio lo dulu. Kalau karya lo
bagus, masalah personal nggak seharusnya jadi masalah."
"Lo yakin?"
fi
"Profesional ya profesional," kata Bulan, meskipun
suaranya kedengeran lebih yakin dari yang dia rasakan.
Mereka duduk di area lounge lobi, dan Gio
mengeluarkan tablet untuk menunjukan portofolio. Saat
dia menyapu layar, memperlihatkan foto-fotonya, Bulan tak
bisa menahan rasa kagum. Fotogra Gio telah
berkembang dengan luar biasa—komposisi yang matang,
kepekaan luar biasa terhadap emosi dan momen candid,
penggunaan cahaya alami yang nyaris terasa etereal.
,“This is beautiful Gio,” katanya jujur. Foto-foto
pernikahan dari berbagai negara, pemotretan fashion,
bahkan beberapa sampul majalah untuk publikasi
internasional. “Lo beneran sukses sih.”
“Thanks.” Ada nada bangga dalam suaranya. “Eropa
ngajarin gue banyak hal. Bukan cuma soal teknik, tapi…”
dia melirik ke arah Bulan, “soal apakah fotogra benar-
benar penting dalam hidup gue.”
Sebelum Bulan sempat bertanya maksudnya, suara
yang sangat familiar memotong.
“Bulan, sayang!”
Co r y m e n d e kat , d e n g a n L a n d o n b e r j a l a n d i
belakangnya. Keduanya tampil rapi dan siap seperti akan
menghadiri rapat bisnis. Cory langsung menuju ke arah
Gio tanpa ragu.
“Kamu pasti Giovanno! Aku dengar banyak hal baik soal
karya kamu.” Cory mengulurkan tangan dengan senyum
khasnya—hangat tapi penuh penilaian. “Aku Cory
Harditama.”
“Senang bertemu dengan Anda, Ibu Harditama.” Gio
berdiri dan menjabat tangannya dengan sopan yang
fi
fi
terlatih. “Terima kasih sudah mempercayakan momen
sepenting ini kepada saya.”
Landon akhirnya ikut bergabung dan Bulan bisa melihat
jelas momen saat dia memproses apa yang sedang terjadi
—Bulan duduk cukup dekat dengan seorang fotografer
tampan dan jelas sukses, terlihat ada kedekatan dalam
bahasa tubuh mereka, cara Gio memandang tunangannya.
“ L a n d o n H a r d i t a m a ,” u j a r t u n a n g a n n y a ,
memperkenalkan diri dengan nada sopan, tapi sedikit
dingin.
“Giovanno Wiranagara.” Gio mengulurkan tangan.
“Senang bisa bekerja sama dengan kalian berdua.”
Mereka berjabat tangan, dan Bulan langsung
menyadari bagaimana genggaman Landon terasa sedikit
lebih kuat dari yang seharusnya, bagaimana senyumnya
tidak benar-benar sampai ke matanya.
“Jadi,” kata Cory sambil duduk dengan ekspresi puas,
“ayo kita lihat portofolio luar biasa yang semua orang
bicarakan ini!”
Selama tiga puluh menit berikutnya, Gio
mempresentasikan karyanya dengan percaya diri yang
profesional. Portofolionya memang mengesankan—artistik
tapi tidak berlebihan, penuh emosi dalam momen candid,
dan tetap seimbang dengan potret berpose yang indah.
Bahkan Landon, meskipun enggan, tampak terkesan.
“Gaya lo natural banget,” komentar Landon. “Nggak
terlalu banyak proses digital.”
“Gue emang lebih suka momen yang otentik,” jawab
Gio tenang. “Pernikahan itu tentang kisah cinta pasangan,
bukan ajang pamer teknik fotografer.”
Cory nyaris bersinar karena senang. “Ini persis yang aku
cari! Elegan, sophisticated, tapi tetap emosional. Giovanno,
kamu resmi kami pilih.”
"Actually," sela Bulan, mengejutkan semua orang—
termasuk dirinya sendiri, "Gio and I went to university
together. We should probably disclose that."
Cory mengangkat alis dengan penuh antusias. "Oh!
Small world! Were you friends?"
"We dated," kata Bulan lugas, memutuskan bahwa
kejujuran adalah pilihan terbaik. "For four years in
university."
Hening menyusul pengakuan itu. Cory terlihat senang—
jelas menikmati potensi dramanya, ekspresi wajah Landon
mengencang, sementara Gio tampak ingin menghilang
dari ruangan.
“Wah,” ujar Cory setelah jeda singkat, “itu justru bikin
momen ini makin spesial! Seseorang yang benar-benar
kenal Bulan pasti bisa menangkap kepribadiannya lebih
baik.”
“Bu Harditama,” kata Gio hati-hati, “kalau ini
menimbulkan ketidaknyamanan, saya sangat mengerti dan
bisa merekomendasikan fotografer lain—”
“Ah, omong kosong!” Cory melambaikan tangan
dengan sikap tak peduli. “Itu kan masa lalu. Kalian sudah
dewasa, Bulan akan menikah dengan Landon, semuanya
sudah move on. Lagi pula, hasil kerja kamu luar biasa.”
Bulan melirik ke arah Landon, mencoba membaca
ekspresinya. Jelas dia tidak senang, tapi juga berusaha
bersikap dewasa menghadapi situasi ini.
Bulan melirik ke arah Landon, mencoba membaca
ekspresinya. Jelas dia tidak senang, tapi juga berusaha
bersikap dewasa.
“Kamu gimana?” tanyanya langsung, lembut.
Landon berpikir sejenak, lalu menatap Gio tepat di
mata. “Your work speaks for itself. Dan Bulan benar—
profesional ya profesional. Selama lo bisa tetap objektif
dan fokus untuk mengabadikan hari penting kami, gue
nggak masalah.”
“Pasti,” angguk Gio. “Ini pernikahan kalian, cerita kalian.
Gue hanya di sana untuk mendokumentasikannya.”
“Perfect!” seru Cory sambil bertepuk tangan. “Sekarang,
mari kita bahas timeline dan logistik. Pernikahannya empat
bulan lagi, tanggal 15 September, di Bali…”
Saat Cory mulai menjelaskan jadwal detail acara, Bulan
mendapati dirinya mencuri pandang ke arah Gio dari sudut
matanya. Gio terlihat baik, kesuksesan tampaknya sangat
cocok dengannya. Percaya diri tapi tidak sombong, fokus
pada diskusi profesional tapi sesekali menangkap
tatapannya dengan senyum kecil yang familiar, yang
langsung membanjiri pikirannya dengan kenangan lama.
G i o s a at ku l i a h , y a n g b e g a d a n g s e m a l a m a n
menemaninya belajar saat ujian, membawakan kopi dan
semangat. Gio yang mengajarinya melihat Jakarta lewat
lensa kameranya, memperlihatkan keindahan tersembunyi
dari momen sehari-hari. Gio yang mencintainya sepenuh
hati, dengan tulus, yang pernah dulu dia kira akan jadi
suaminya… sebelum beasiswa impian itu datang dan
memisahkan mereka.
“Sesi foto prewedding harus dilakukan minggu depan,”
lanjut Cory. “Tempatnya harus romantis tapi nggak klise.
Giovanno, aku percaya visi artistik kamu.”
"Of course. I'd love to hear couple's input too—places
yang meaningful to you both."
“Rooftop di The Dharmawangsa,” kata Landon
langsung. “Di situ aku ngelamar Bulan.”
“Perfect,” angguk Gio sambil mencatat. “Suasana urban
romantis dengan latar lampu kota.”
“Gimana kalau tempat yang lebih alami?” usul Bulan.
“Mungkin Taman di GBK? Dulu kita sering…” Dia berhenti,
menyadari bahwa kalimat itu hampir menjadi dulu kita
sering jalan di sana—yang dia maksud adalah dengan Gio,
bukan dengan Landon. “Maksudku, taman itu cantik dan
hijau.”
“Usulan yang bagus,” kata Gio, dan ada pemahaman
dalam tatapannya yang membuat dada Bulan terasa sesak.
“Setting natural sering menghasilkan emosi yang paling
otentik.”
Pertemuan pun berakhir dengan timeline yang
disepakati dan beberapa lokasi pemotretan awal yang
dibahas. Saat mereka bersiap untuk pergi, Cory menarik
Bulan sedikit menjauh.
“Sayang, Tante harap kamu nyaman dengan pengaturan
ini. Tante benar-benar nggak tahu soal masa lalu kalian
waktu booking dia.”
“It's ne, Tante. Seperti yang Tante bilang, itu kan masa
lalu.”
“Bagus kalau begitu. Karena hasil karyanya luar biasa,
dan pernikahan ini pantas dapat yang terbaik.”
fi
Landon muncul di samping mereka. “Siap pulang,
sayang?”
Saat itu juga, Gio menghampiri mereka.
“Maaf,” ucapnya sopan, “boleh minta waktu sebentar
untuk ngopi cepat? Gue ingin lebih tahu tentang visi kalian
untuk pernikahan ini, biar bisa menangkap kepribadian
kalian sebagai pasangan.”
Garis rahang Landon mengencang, nyaris tak terlihat.
“Kita sebenarnya ada janji lain—”
“Menurut gue itu ide yang bagus,” potong Bulan,
menatap Landon dengan pandangan peringatan. Kalau
mereka memang akan bekerja sama dengan Gio, mereka
perlu membangun hubungan profesional yang nyaman.
“Tiga puluh menit?”
“Pas banget. Ada kafe di bawah,” sahut Gio.
Saat mereka berjalan menuju lift, Bulan bisa merasakan
ketegangan memancar dari tubuh Landon. Ini akan jadi
obrolan yang… menarik—dirinya, tunangannya, dan mantan
pacar yang dulu menghancurkan hatinya demi mengejar
mimpi.
Tapi saat pintu lift tertutup dan aroma parfum familiar
dari Gio memenuhi ruang sempit—campuran vanilla dan
bergamot yang dulu jadi favoritnya—Bulan sadar, tantangan
terbesar bukanlah rasa cemburu Landon.
Tantangan sesungguhnya adalah menahan kenangan
tentang hidup yang dulu sempat ia bayangkan… bersama
pria yang kini berdiri hanya dua langkah darinya.
Summer Love

Suasana di kafe bawah The Ritz Carlton terasa tegang,


seolah-olah udara di antara mereka bisa meledak kapan
saja. Di meja bundar kecil itu, Bulan dan Landon duduk
berdampingan, Gio di seberang mereka, dan Cory—
dengan semangat yang lebih cocok untuk rapat direksi—
mengatur arah pembicaraan seolah dia produser acara
realita.
"Jadi Giovanno," Cory memulai sambil mengaduk
cappuccino-nya dengan sendok perak kecil, "ceritain dong
soal proyek terbaru. Bulan bilang kalian kuliah bareng?"
"Iya, di Binus," jawab Gio sambil membuka tablet
portfolio-nya. "Saya jurusan Visual Communication Design,
Bulan Manajemen. Kebetulan sering ketemu di organisasi
mahasiswa."
Bulan merasakan pandangan Landon dari sudut
matanya. Dia tahu calon suaminya itu sedang menganalisis
setiap kata, setiap ekspresi, mencari tanda-tanda bahwa
ada sesuatu yang lebih dari sekedar kebetulan kuliah
bareng.
"Organisasi apa?" tanya Landon dengan nada yang
berusaha terdengar santai.
"Photography Club" Gio menjawab sambil geser-geser
foto di tabletnya. "Bulan waktu itu koordinator acara, gue
yang handle dokumentasi. Tim yang lumayan solid."
Tim. Bukan couple. Bulan menghargai cara Gio
menuturkan masa lalu mereka tanpa membuat situasi jadi
lebih awkward.
"Wah, pantas aja kalian cocok buat kerjasama,"
komentar Cory dengan antusiasme yang agak terlalu
berlebihan. "Chemistry-nya pasti udah teruji dari dulu."
Bulan hampir tersedak kopinya. "Tante Cory..."
"Apa? Tante cuma bilang kalau fotografer dan klien
yang udah saling kenal itu biasanya hasilnya lebih natural."
Cory melambaikan tangannya innocent. "Landon, kamu
setuju kan?"
Landon tersenyum, tapi senyuman itu nggak sampai ke
matanya. “Of course, Ma. Selama professional."
"Oh, pasti professional," Gio cepat menambahkan
sambil menunjukkan beberapa foto wedding di portfolio-
nya. "Ini beberapa wedding yang gue handle tahun ini.
Couple-nya ada yang temen dekat gue juga, tapi pas hari
H, gue purely photographer. Nggak ada personal bias."
Foto-foto yang dia tunjukkan memang luar biasa. Ada
yang di vineyard Tuscany dengan cahaya golden hour yang
sempurna, wedding di beach Santorini dengan komposisi
yang sangat memanjakan mata, bahkan wedding
tradisional Jawa di Yogyakarta yang diambil dengan detail
budaya yang menakjubkan.
"Ini yang di Yogya bagus banget," komentar Bulan
genuine. "Lo bisa tangkep essence upacara tradisionalnya
tanpa bikin berasa dokumenter kaku."
"Makasih." Mata Gio berbinar saat dia scroll ke foto-foto
yang lain. "Gue selalu research budaya dan tradisi sebelum
shoot. Wedding itu bukan cuma soal dua orang, tapi juga
tentang keluarga, heritage, story yang lebih besar."
Cara Gio berbicara tentang pekerjaannya dengan
passion yang genuine mengingatkan Bulan pada masa
kuliah dulu. Dia selalu seperti ini—antusias, thoughtful,
punya perspektif yang dalam tentang art dan kehidupan.
Berlawanan banget sama Landon yang lebih spontan dan
instinctive dalam berkreasi.
"Konsep apa yang lo pikirin buat wedding kami?" tanya
Landon, pulling Bulan kembali ke percakapan.
"Honestly, gue pengen denger dari kalian dulu. Apa
yang kalian mau orang ingat dari hari itu? Fun and
energetic? Intimate and romantic? Grand and elegant?"
"Intimate," jawab Bulan hampir bersamaan dengan
Landon yang bilang "Elegant."
Mereka saling menatap. Ini pertama kalinya mereka
sadar kalau visi mereka tentang wedding nggak sejalan.
"Interesting," kata Gio sambil catat sesuatu di notes
app-nya. "Maybe we can nd middle ground. Intimate but
with elegant touches. Small guest list but with high-quality
details."
"Exactly!" Cory tepuk tangan senang. "Lihat? Dia udah
ngerti visi kita."
“Visi kita, atau visi Mama?” tanya Landon, dengan nada
tajam yang hampir tidak ia sembunyikan.
Cory tampak sedikit terkejut. “Landon, Mama cuma mau
yang terbaik untuk pernikahan kalian.”
“Kami tahu, Ma. Tapi ini pernikahan kami, bukan acara
sosial Mama.”
fi
Ketegangan di meja langsung meningkat. Bulan bisa
melihat Gio tampak tidak nyaman, jelas-jelas menyesal
karena terjebak dalam drama keluarga.
“Mungkin kita bisa bahas soal ide lokasi?” sela Gio
dengan nada diplomatis. “Bu Harditama sempat sebut
Bali?”
“Ubud,” jawab Cory cepat. “The Chedi atau Four
Seasons. Tempatnya eksklusif, pemandangannya luar biasa,
sempurna untuk fotogra .”
“Atau,” tambah Bulan, nada suaranya sedikit
memberontak, “tempat yang lebih intim. Beach club kecil,
villa privat. Nggak harus di mega resort.”
Landon menatap tunangannya dengan ekspresi
terkejut. “Chubs, Four Seasons itu bagus lho.”
“Aku tahu, tapi…” Bulan kesulitan mengungkapkan
perasaannya. “Aku pengin tempat yang kerasa kayak kita.
Bukan kayak kita lagi tampil buat orang lain.”
Keheningan canggung mengikuti ucapannya. Gio
berdeham pelan, mencoba meredakan suasana.
“Mungkin kita bisa survei beberapa opsi langsung?
Kunjungi beberapa venue, dan lihat mana yang paling
terasa cocok buat kalian sebagai pasangan?”
"Good idea," Landon setuju, walaupun dia masih
terlihat bingung dengan ketidaksukaan Bulan terhadap
grand venues.
Meeting berakhir dengan kesepakatan untuk site visit
ke Bali akhir pekan depan. Cory sudah tampak sangat
bersemangat menyusun itinerary, Landon terlihat berpikir—
tidak sepenuhnya setuju, tapi tidak juga menolak—dan
fi
Bulan merasa sedikit kewalahan oleh preview kon ik yang
mungkin akan datang.
Saat mereka bersiap untuk pulang, Gio mendekati
Bulan, tepat ketika Landon sedang berdiskusi logistik
dengan Cory.
“Bul,” ucapnya pelan, “kalau semua ini jadi terlalu rumit
gara-gara gue, serius... gue bisa mundur. Gue nggak mau
jadi sumber ketegangan buat lo.”
Bulan menatap mata cokelat yang dulu begitu familiar.
“Nggak, Gio. Hasil kerja lo bagus, dan profesional ya
profesional, kan?”
“Ya, tapi…” Dia ragu sejenak. “Gue cuma pengin lo tahu,
ketemu lo lagi tadi itu… nggak terduga. Dalam arti yang
baik. Lo kelihatan bahagia.”
“Gue bahagia,” jawab Bulan, meskipun ada sedikit
keraguan yang mulai merayap di dalam dirinya. “Landon...
dia beda dari siapa pun yang pernah gue kenal. Lebih
baik.”
“Bagus. Lo pantas dapat seseorang yang benar-benar
menghargai lo.”
Ada bobot dalam kalimat itu yang membuat Bulan tak
nyaman. Bukan karena dia merasa tidak dihargai oleh
Landon, tapi karena ucapan Gio secara tidak langsung
mengacu pada masa lalu mereka—masa di mana dia yang
gagal menghargai Bulan, dan memilih pergi.
“Gio…”
“Gue tahu. Itu kan cerita lama.” Dia tersenyum, samar
dan sedikit sendu. “Gue cuma senang lihat lo udah nemu
orangnya.”
fl
Sebelum Bulan sempat merespons, Landon muncul di
samping mereka.
“You ready, chubs?”
“Ya.” Bulan meraih tasnya dari kursi. “Gio, makasih buat
sesi portofolionya. Kita ketemu lagi di Bali, ya.”
“Looking forward to it.”
Di mobil dalam perjalanan pulang, Landon tak seperti
biasanya, lebih banyak diam. Mereka terjebak macet khas
Sudirman, AC mobil berusaha melawan panas sore Jakarta
yang melelahkan, dan playlist favorit mereka mengalun
pelan di latar belakang… tapi entah kenapa, tak bisa
mengisi keheningan.
“You okay?” tanya Bulan akhirnya.
“Yeah, cuma mikir aja.” Landon menabuh jari-jarinya di
setir. “Gio kelihatan… baik.”
“Dia memang baik. Dari dulu juga begitu.”
“Seberapa serius hubungan kalian?”
Pertanyaan langsung yang entah bagaimana sudah
Bulan antisipasi sejak tadi.
“Serius. Empat tahun, Lan. Kami sempat ngerencanain
masa depan bareng.”
“What happened?”
Bulan menatap keluar jendela, menyaksikan Jakarta
berlalu dengan kabur. “Dia dapet beasiswa penuh untuk
program fotogra di Eropa. Akademi bergengsi banget.
Kesempatan yang datangnya cuma sekali seumur hidup.”
“Dan kamu nggak mau ikut dia?”
“Dia nggak pernah minta aku ikut.” Kata-katanya keluar
lebih pahit dari yang ia maksudkan. “Dia bilang long
distance itu nggak realistis, dan dia butuh fokus penuh ke
fi
studinya. Clean break, katanya. Katanya, itu lebih baik buat
kami berdua.”
Landon memproses informasi ini. "That must have been
hard."
"It was." Bulan putar volume musik lebih pelan. "Tapi
sekarang aku ngerti dia mungkin benar. Aku nggak siap
tinggalin Jakarta waktu itu, karir aku baru mulai. We wanted
different things."
"And now?"
"Now what?"
"Do you still... feel anything for him?"
Bulan menoleh dan menatap Landon langsung. “Lan,
aku tunangan kamu. Aku memilih untuk menikah sama
kamu. Gio itu masa lalu.”
“Aku tahu,” kata Landon, pelan. “Tapi lihat kalian tadi…
ada kedekatan. Kenyamanan. Candaan-candaan yang aku
nggak ngerti.”
Bulan menyadari bagaimana semua ini mungkin terlihat
dari sudut pandang Landon. “Kami punya masa lalu, iya.
Tapi itu cuma sebatas itu—masa lalu. Dia bagian dari masa
lalu yang udah selesai.”
“ O k e .” L a n d o n m e r a i h t a n g a n B u l a n d a n
menggenggamnya lembut. “Maaf kalau aku bersikap aneh
soal ini. Cuma… dia jelas masih peduli sama kamu.”
“Mungkin. Tapi Lan, lihat aku.” Bulan menunggu sampai
Landon menatap matanya saat mobil berhenti di lampu
merah. “Aku sama kamu karena aku mau sama kamu.
Bukan karena nggak ada pilihan lain, bukan karena
pelarian. Karena aku sayang kamu, dan aku mau bangun
hidup bareng kamu.”
Rasa lega langsung terlihat di wajah Landon. “Aku juga
sayang kamu, Bul. Maaf ya kalau aku terkesan posesif.
Soalnya… kamu penting banget buat aku.”
"I know. Tapi lo nggak perlu khawatir, Lan.”

***
Keesokan harinya, setelah Landon berangkat ke
meeting bersama labelnya, Bulan sendirian di apartemen,
memilah-milah dokumen perencanaan pernikahan yang
semakin menumpuk—dan terus terang, mulai membuatnya
muak. Saat ia tenggelam dalam tumpukan kertas dan
spreadsheet, bel pintu berbunyi.
Dengan masih sedikit kesal dari percakapan semalam
dan tidak benar-benar dalam mood menerima tamu, Bulan
tetap berjalan ke pintu dan membukanya.
Dia terkejut melihat Gio berdiri di lorong, membawa
tabung karton yang jelas berisi cetakan atau dokumen
besar.
“Gio? Kok bisa…?”
“Maaf datang tanpa kabar dulu, tapi gue lagi ada di
area untuk ketemu klien dan kepikiran sekalian aja
nganterin materi lokasi scouting.” Dia terdiam sejenak,
memperhatikan ekspresi Bulan. “Lagi nggak tepat waktu
ya?”
“Enggak, nggak apa-apa… masuk aja. Mau kopi?”
“Kalau nggak merepotkan.”
Apartemen Bulan mencerminkan kepribadiannya—
minimalis tapi hangat, dengan karya seni yang dipilih
dengan hati-hati dan tanaman yang terawat rapi. Gio
menyapu ruangan dengan pandangan khas seorang
fotografer, penuh atensi terhadap detail.
“Tempatnya keren. Lo banget.”
“Makasih.” Bulan mulai menyeduh kopi di dapur yang
menyatu dengan area tamu, bersyukur ada distraksi dari
pikirannya tentang meeting Landon. “Materi lokasi yang
mana nih?”
Gio membuka beberapa cetakan besar di atas meja
kopi. “Pilihan venue di Bali. Gue tahu Bu Harditama udah
punya rencana sendiri, tapi gue sempat riset beberapa
alternatif yang mungkin lebih cocok sama vibe yang lo
sempat sebutin kemarin.”
Cetakan-cetakannya indah—tempat pernikahan di
pantai yang intim, vila-vila privat dengan taman tropis yang
rimbun, kapel kecil yang punya karakter kuat. Semua itu
terasa jauh dari kemegahan resort yang selama ini Cory
dorong habis-habisan.
“Ini cantik banget,” ujar Bulan, membungkuk untuk
mempelajari detailnya. “Yang ini terutama.”
Dia menunjuk ke arah vila yang menghadap laut,
dikelilingi taman tropis. Terasa intim, elegan—tepat di
tengah antara visinya dan kompromi yang mungkin masih
bisa diterima Landon. Kalau pernikahannya jadi
dilaksanakan sesuai rencana.
“Gue udah duga lo bakal suka yang itu.” Gio duduk di
tepian sofa, ekspresinya lembut. “Punya seniman Indonesia,
tempatnya sangat eksklusif. Mereka cuma terima beberapa
pernikahan dalam setahun.”
“That’s perfect.” Bulan masih memperhatikan foto, tapi
tiba-tiba merasa dihantam oleh rasa tidak pasti yang
selama ini ia coba tekan. “Tapi kemungkinan besar
harganya jauh di atas budget. Dan Tante Cory udah jatuh
cinta sama Four Seasons. Belum lagi…”
“Belum lagi apa?” tanya Gio pelan.
Bulan ragu. Haruskah dia cerita soal kon ik tur Eropa?
Soal bagaimana pernikahannya tiba-tiba terasa seperti
sesuatu yang… mungkin nggak akan terjadi?
“Lagipula, semuanya lagi... rumit.”
Gio menangkap perubahan nada dan ekspresi Bulan.
“Lo oke? Kelihatan lagi kepikiran banget.”
“Aku baik-baik aja.” Bulan menyodorkan cangkir kopi
dengan senyum yang terlalu dipaksakan. “Cuma stres
mikirin nikahan, you know?”
“Bullshit.”
Ucapan blak-blakan Gio mengejutkannya. “Maaf?”
“Sorry. Tapi gue kenal lo, Bul. Ini bukan stres nikahan. Ini
sesuatu yang lebih besar.” Gio menyeruput kopinya,
matanya masih memperhatikan Bulan dengan tenang. “Lo
mau cerita?”
Sebagian dari Bulan ingin tetap menjaga facade—tetap
profesional. Tapi ada sesuatu dari kehadiran Gio yang
familiar, yang menenangkan, yang entah kenapa, saat ini
terasa seperti satu-satunya hal yang bisa dia andalkan.
“Landon mungkin harus ke Eropa buat tur. Tiga bulan,
mulai September.”
“September?” Alis Gio terangkat. “Bukannya itu waktu
pernikahan kalian?”
“Iya.” Bulan duduk di ujung sofa yang berseberangan,
tiba-tiba merasa lelah sekali. “Label-nya nawarin
fl
international tour. Career breakthrough. Katanya
kesempatan yang nggak datang dua kali.”
“Dan dia masih mempertimbangkannya?”
"Dia bilang dia butuh waktu buat mikir. Yang dalam
bahasa lain artinya, ya dia lagi mempertimbangkan buat
menunda pernikahan kita demi kariernya.”
Gio terdiam sejenak, mencerna informasi itu. “Terus... lo
sendiri gimana? Perasaan lo?”
“Like history repeating itself.” Kata-kata itu meluncur
keluar sebelum Bulan bisa menahannya. “Kayak gue selalu
bakal jadi pilihan kedua setiap kali ada sesuatu yang ‘lebih
baik’ datang.”
“Maksud lo... kayak waktu sama gue?”
“Iya. Kayak waktu kita.” Bulan menatap foto-foto venue
yang tersebar di atas meja. “Lucu ya? Kita nggak pernah
benar-benar ngomongin itu. Tentang kenapa lo pergi.”
Gio meletakkan cangkir kopinya dengan hati-hati. “Lo
pengin tahu apa?”
“Lo pernah kepikiran nggak buat minta gue ikut? Atau
keputusan buat berangkat sendirian itu lo ambil tanpa
mikirin hubungan kita?”
Keheningan mengambang di antara mereka. Gio
menatap tangannya sendiri, lama.
“Jujur? Gue kepikiran. Setiap hari. Selama berminggu-
minggu setelah gue dapet beasiswa.”
“Terus kenapa nggak lo bilang?”
“Karena gue takut.”
“Takut apa?”
“Takut lo bilang nggak. Takut lo bakal nyalahin gue
kalau karier gue nggak berhasil dan lo udah ninggalin
hidup lo buat sesuatu yang sia-sia. Takut harus tanggung
jawab atas kebahagiaan lo di negara asing yang bahkan
buat gue pun masih asing.” Gio akhirnya menatapnya. “Dan
mungkin... secara egois, gue juga takut kalau harus milih
antara lo dan mimpi gue, kalau nantinya jadi berat.”
Kejujurannya menghantam Bulan lebih keras dari yang
ia duga. Ini adalah percakapan yang seharusnya mereka
lakukan enam tahun lalu.
“Jadi lo milih mimpi lo duluan. Tanpa nanya apa gue
bersedia ikut.”
“Iya. Gue milih mimpi gue.” Suara Gio pelan. “Dan gue
nyesel. Setiap hari, selama bertahun-tahun. Bukan karena
karier fotogra gue gagal—itu justru berhasil. Tapi karena
gue nggak pernah kasih kita kesempatan buat coba.
Karena gue nggak pernah percaya kalau cinta kita cukup
kuat buat bertahan.”
“Sekarang gimana? Masih nyesel?”
Gio menatapnya dengan ekspresi yang rumit—
campuran penyesalan dan penerimaan. “Gue nyesel
caranya begitu. Gue nyesel udah nyakitin lo. Tapi…” Ia
terdiam sejenak. “Kalau gue tetap, atau lo ikut, bisa jadi kita
malah saling menyalahkan di akhir. Mungkin... putus waktu
itu adalah hal paling baik yang bisa kita lakuin, walaupun
rasanya nggak begitu.”
“Lo beneran percaya itu?”
“Gue pikir kita berdua memang butuh waktu buat
tumbuh. Buat tahu siapa diri kita masing-masing, sebelum
bisa jadi pasangan yang baik buat siapa pun.”
Bulan merenungkan kalimat itu. “Terus menurut lo... gue
pasangan yang baik buat Landon?”
fi
“Menurut gue, lo pasangan yang luar biasa. Buat siapa
pun yang cukup beruntung punya lo.” Mata Gio
menatapnya dalam. “Pertanyaannya, dia pantas nggak?”
“Gio…”
“Gue serius, Bul. Kemarin waktu gue lihat lo ngurusin
wedding planning, berhadapan sama keluarganya dia, lo
kompromi banyak banget. Sampai... gue nggak lihat lagi
cewek yang dulu selalu berani berdiri buat apa yang dia
percaya.”
" M a y b e I l e a r n e d t h a t re l a t i o n s h i p s re q u i re
compromise."
"There's difference between compromise dan
disappearing." Gio mendekat. "Do you even want big
wedding di Four Seasons? Do you want any of what's being
planned?"
Bulan memikirkan foto-foto venue di meja, tentang
keterlibatan Tante Cory yang makin mendominasi, tentang
betapa asingnya ia merasa terhadap pernikahannya
sendiri.
“Enggak,” ucapnya akhirnya, pelan. “Gue pengin
sesuatu yang intimate. Personal. Sesuatu yang terasa kayak
gue dan dia, bukan kayak pertunjukan buat orang lain.”
“Then, ght for it.”
“Enggak semudah itu—”
“Kenapa enggak? Ini pernikahan lo.”
“Karena keluarganya Landon punya ekspektasi. Karena
ini bagus buat citra dia. Karena…” Suaranya menghilang,
menyadari betapa lemahnya alasan-alasan itu terdengar.
fi
“Karena lo ngelakuin hal yang sama lagi,” potong Gio
dengan lembut. “Lo lagi-lagi nurutin kebutuhan semua
orang, tapi ngelupain diri lo sendiri.”
“Itu nggak adil.”
“Masa sih?” Mata Gio tajam tapi tetap hangat. “Sepuluh
tahun lalu, lo nggak berjuang buat kita karena lo nggak
mau jadi beban buat mimpi gue. Sekarang lo nggak
berjuang buat pernikahan yang lo mau karena lo nggak
mau ‘merepotkan’ Landon dengan kon ik.”
Kata-katanya menusuk, karena Bulan tahu itu benar.
Selama ini, dia selalu jadi penjaga perdamaian. Selalu
menyesuaikan diri, selalu memastikan orang lain nyaman,
meski dirinya sendiri kewalahan.
“Kalau dia akhirnya milih tur Eropa?” tanyanya pelan.
“Kalau itu yang dia pilih… setidaknya lo tahu di mana
posisi lo. Dan mungkin, itu jawaban yang selama ini lo cari.”
Mereka terdiam. Jakarta di luar jendela terus bergerak—
macet, bangunan, hiruk pikuk kehidupan yang tidak peduli
pada drama-drama kecil yang terjadi di apartemen ber-AC
seperti milik Bulan.
“Untuk apa pun nilainya,” ucap Gio akhirnya, suaranya
rendah, tulus, “gue harap dia milih lo. Lo pantas dapet
seseorang yang ngelihat lo sebagai prioritas, bukan opsi.”
“ Thanks, Gio.” Bulan nyaris berbisik. Air mata
menggantung di pelupuk matanya.
“Dan Bul,” lanjut Gio. “Apa pun yang terjadi nanti—sama
wedding ini, sama Landon—jangan hilangin diri lo lagi. Janji
sama gue.”
Bulan mengangguk. Tak percaya suaranya sendiri.
fl
Setelah Gio pergi, Bulan duduk diam, dikelilingi foto-
foto venue yang tersebar di sekelilingnya. Pikirannya
penuh dengan pilihan, penyesalan, dan pola yang
berulang.
Di layar ponselnya, ada satu panggilan tak terjawab dari
Landon. Mungkin update soal meeting tadi.
Tapi untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan
terakhir, Bulan tidak langsung menelpon balik. Sebaliknya,
ia menatap foto vila kecil nan intim itu… dan untuk pertama
kalinya, membiarkan dirinya menginginkan sesuatu hanya
untuk dirinya [Link] sudah saatnya berhenti
terus-menerus menyesuaikan diri.
Summer Love

Sesi foto prewedding di The Dharmawangsa berjalan


dengan cukup menegangkan. Bulan berdiri di rooftop
yang sama, tempat Landon melamarnya enam bulan lalu—
tapi rasanya seperti waktu yang berbeda.
Pemandangan Jakarta skyline yang dulu terasa
romantis, kini tampak seperti latar belakang yang
dipaksakan. Terlalu terang, terlalu rapi, terlalu disusun.
Seolah-olah semua ini bukan tentang mereka lagi, tapi
tentang citra yang harus dijaga.
" O ka y, p e r f e c t , " kat a G i o d a r i b a l i k ka m e ra
profesionalnya, dengan suara tenang meskipun situasi jelas
awkward. "Landon, bisa geser sedikit ke kiri? Dan Bulan,
maybe lean into him naturally."
Natural. Kata yang ironis mengingat tidak ada yang
natural tentang siang ini. Landon baru kembali dari
meeting dengan label tadi pagi dengan berita yang Bulan
sudah prediksi. Mereka mau Landon untuk Europe tour
dan deadline untuk keputusannya adalah akhir minggu.
"How's this?" tanya Landon, lengannya melingkari
pinggang Bulan dengan kekakuan yang sangat terasa.
“Good, tapi maybe relax sedikit?” saran Gio dengan
nada diplomatis. “You guys are engaged, not strangers.”
Bulan bisa merasakan ketegangan Landon lewat
sentuhannya. Sejak percakapan semalam, mereka belum
benar-benar membahas soal tur Eropa itu. Pagi ini diisi
dengan obrolan basa-basi dan usaha hati-hati menghindari
topik besar yang menggantung di antara mereka.
“Chubs,” bisik Landon di telinganya saat Gio mengganti
lensa dan menyetel pencahayaan. “We need to talk about
yesterday.”
“Now? Di tengah sesi foto?” desis Bulan, menoleh
sedikit.
“After this. Please.”
Gio kembali dengan lensa berbeda. “Okay, let’s try
some candid shots. Maybe walk around the rooftop, talk
naturally, forget I’m here.”
Mereka mulai berjalan perlahan, tapi percakapannya
terasa kaku dan canggung. Setiap langkah seolah
terhitung, setiap kata seperti berjalan di atas es tipis. Bunyi
shutter kamera terdengar berkali-kali, menangkap apa
yang mungkin terlihat seperti pasangan yang sedang
berdiskusi serius—yang, secara teknis, memang benar.
“About this morning’s meeting,” ucap Landon dengan
hati-hati.
“Don’t.” Suara Bulan rendah, tapi tegas.
“But we need to—”
“Landon, stop.” Bulan menghentikan langkahnya dan
sedikit menarik diri dari pelukannya. “This is supposed to
be a celebration of our engagement. Can we please just…
get through this without discussing your potential tour?”
Gio menurunkan kameranya sedikit. “Everything okay?
We can take a break kalau kalian butuh waktu.”
“We’re ne,” jawab Landon cepat, tapi nada suaranya
mengkhianati isi hatinya.
Bulan menarik napas dalam. Lalu tiba-tiba berkata,
“Actually, mungkin kita bisa ambil beberapa foto yang
lebih terpisah? Kayak highlight individual personalities
kita.”
Gio mengangguk, sedikit terkejut tapi profesional.
“Sure. I can work with that. Mau mulai dari siapa dulu?”
“Landon,” kata Bulan, tersenyum kecil. “He looks ready.”
Saat Landon melangkah ke spot yang ditunjukkan Gio,
Bulan berdiri di sisi, tangannya mengepal pelan di balik
dress elegan yang ia kenakan. Ini bukan tentang foto. Ini
tentang ruang. Tentang mengambil kembali sedikit kendali,
bahkan kalau itu hanya dalam bentuk jarak di antara dua
frame foto.
Dan untuk saat ini, itu cukup.
Gio mengangguk, menangkap subteks dari permintaan
Bulan. “Sure. Let's do some solo portraits rst, then couple
shots dengan different poses.”
Sesi pemotretan berlanjut selama hampir satu jam.
E sien secara profesional, tapi kaku secara emosional. Gio
bekerja dengan tenang dan fokus, lensanya menangkap
momen-momen yang secara teknis indah: Landon berdiri
sendiri di tepi rooftop, memandang skyline Jakarta dengan
ekspresi serius; Bulan tersenyum lembut saat melihat
kerlap-kerlip lampu kota yang mulai menyala menjelang
sore.
Tapi setiap kali mereka berpose bersama, sesuatu
terasa hilang. Ketegangan di antara mereka nyaris tak bisa
disembunyikan—bahkan oleh fotografer seberbakat Gio.
fi
fi
fi
“I think we have enough for today,” ucap Gio akhirnya,
mulai membereskan peralatannya.
“I’ll edit these dan kirim preview dalam beberapa hari.”
“Thanks, Gio,” kata Bulan tulus. “Sorry if we were...
dif cult subjects today.”
“You weren’t. Chemistry just needs some warming up
sometimes.” Tatapannya bergantian menelusuri wajah
Bulan dan Landon. “Pre-wedding stress is normal.”
Setelah Gio pergi, Bulan dan Landon tetap duduk di
area outdoor lounge The Dharmawangsa. Tempat yang
dulu terasa romantis dan penuh kenangan kini lebih mirip
zona netral—tanpa kehangatan, tanpa arah.
“So,” Bulan membuka pembicaraan, suaranya datar.
“Tell me about meeting this morning.”
Landon memesan whisky—pilihan minuman yang terlalu
kuat untuk sore hari, tapi Bulan mengerti dorongan di
baliknya. Ada sesuatu yang ingin ditumpulkan, atau
mungkin, sesuatu yang terlalu sulit untuk dihadapi dengan
kepala jernih.
“They want answer by Friday. Tour starts September
10th, ends early December.”
Bulan menatap lurus ke depannya. Dua minggu
sebelum tanggal pernikahan mereka.
“Yeah,” lanjut Landon, menyesap minumannya. “But Bul,
this isn't just any tour. This is festivals across Europe, major
venues, potential collaboration with international artists.
Label said this could establish me globally.”
“And our wedding?”
“We could postpone. Maybe December atau early next
year. Or…” dia ragu sejenak.
fi
“Or what?”
“You could join me for some dates. Turn it into extended
honeymoon.”
Bulan menoleh perlahan, ekspresinya tidak percaya.
“Extended honeymoon dimana aku ngikutin Kamu saat
kamu kerja? Lan, that’s not a honeymoon, that’s me being
groupie.”
“It doesn’t have to be like that—”
"How else would it be?" Suara Bulan meninggi,
membuat beberapa mata menatap ke arahnya. "You'd be
working every night, traveling constantly, focused on
performance. What would I do? Sit di hotel rooms waiting
untuk you to nish?"
"We'd gure it out—"
"No, Landon. We wouldn't. Because this isn't about us
guring out together. This is about you having already
decided what you want dan trying to convince me to go
along."
Keheningan meregang di antara mereka. Landon
menghabiskan whisky-nya dalam sekali teguk, matanya
menatap kosong ke meja.
“Apa yang kamu mau aku lakuin, Bul?” suaranya
akhirnya pecah. “Nolak kesempatan yang mungkin nggak
bakal datang lagi?”
“Aku mau kamu mempertimbangkan bahwa mungkin...
mungkin ada beberapa kesempatan yang nggak layak
diambil kalau harganya adalah hal lain yang mungkin
segalanya juga buat kamu.”
“Itu gampang buat kamu ngomong. Karier kamu stabil,
predictable. Industri musik itu beda—”
fi
fi
fi
“Karierku stabil karena aku milih untuk bikin hidup yang
stabil. Karena aku ambil keputusan yang nggak selalu
exciting, tapi membangun sesuatu yang nyata. Karena aku
pilih bangun hidup, bukan kejar mimpi yang belum tentu
jadi kenyataan.”
“So I should give up my dreams demi kenyamanan
kamu?” Pertanyaannya menggantung di udara. Bulan
merasa seperti ditampar.
“Jadi itu yang kamu pikir? Kenyamanan aku?” suaranya
turun, pelan tapi tajam. "Lan, this is about commitment.
About promises. About fact that six months ago, you got
down on knee and asked me to marry you, and I said yes
thinking that meant I was priority for you."
"You are—"
"No, I'm not. I'm convenient. I'm comfortable option
yang you choose when nothing better available. But
moment something bigger comes along, I become
negotiable."
Landon terlihat seperti diserang. "That's not fair."
"Isn't it? Because from where I sit, it feels exactly like
what happened with Gio. Exact same pattern."
"Don't compare me to him."
"Why not? He chose his dreams over our relationship
too. Difference is, he was honest about it from beginning
instead of pretending I was equal consideration."
"Bulan—"
"I'm going home." Dia berdiri, mengambil tasnya.
"When you decide what's actually important for you, let me
know."
"Don't walk away from this conversation."
"Watch me."
***
Dua hari setelah pertengkaran terakhir itu, Bulan
menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan dengan
intensitas yang hampir seperti orang gila. Dia lembur
setiap malam, pulang hanya untuk tidur beberapa jam
sebelum kembali lagi. Kantor jadi satu-satunya tempat di
mana pikirannya bisa tetap sibuk—cukup sibuk untuk tidak
merasa terlalu kosong.
Dia hari ini bekerja dari rumah dan tenggelam dalam
laporan kuartalan yang mendesak ketika Nadindra muncul
tiba-tiba ke apartemennya, membawa plastik takeout dari
Sushi Hiro dan ekspresi khawatir.
"Lo ngindarin gue," katanya sambil menaruh
bungkusan di mejanya.
"I’ve been busy," jawab Bulan tanpa menoleh dari
laptop.
"Bullshit. Landon nelpon gue. Katanya lo nggak jawab
telepon atau chat dia."
Bulan mengangkat kepala, ekspresinya datar. "Lo bilang
apa ke dia?"
"Kalau dia bego kalau sampai milih tur daripada lo. Tapi
lebih penting dari itu, sebenernya apa yang terjadi, Mbak?
You look terrible."
"Thanks for the con dence boost," ucap Bulan,
menerima makanan itu dengan syukur. Baru dia sadar,
sudah dua hari ini dia nggak makan dengan benar. Semua
terasa kabur. Lapar, capek, dan emosi yang menumpuk.
"Serius, Mbak. Cerita dong."
fi
Akhirnya Bulan buka suara. Dia menceritakan semuanya
—tentang tur Eropa, tentang pertengkaran panas di The
Dharmawangsa, tentang perasaan deja vu yang
menyakitkan karena pola lama dalam hubungan yang dia
kira sudah dia tinggalkan ternyata muncul lagi.
N a d i n d ra d i a m m e n d e n g a r k a n . S e s e k a l i d i a
mengangguk atau memberi suara pendek yang
menunjukkan dia menyimak.
"So what are you gonna do?" tanyanya pelan setelah
Bulan selesai.
"I don't know." Bulan menatap layar laptop yang
sekarang tampak meaningless. "Part of me thinks I should
give him an ultimatum—choose me or choose the tour. Tapi
bagian lain dari gue ngerasa itu nggak fair."
Dia menarik napas panjang, mencoba mengurai
kekusutan di dalam dadanya.
"Kalau gue kasih ultimatum," lanjutnya pelan, "dan dia
tetep pilih tur, at least gue tahu jawabannya jelas. Tapi
kalau dia milih gue cuma karena terpaksa, gue bisa hidup
dengan itu?"
Dia menunduk, menggenggam sumpit tapi belum
punya tenaga buat makan. Apa semua ini worth it? Atau
Bulan cuma bertahan karena takut mengulang luka lama?
Nadindra masih diam, menunggu. Dan Bulan hanya
bisa berbisik dalam hati: Kalau cinta selalu harus
diperjuangkan sepihak, apa itu cinta, atau cuma kebiasaan
untuk mengorbankan diri sendiri?
"And what does your gut say?"
"My gut says I'm tired of being option instead of
priority."
Nadindra mengangguk pelan, ekspresinya serius. “Lo
tahu menurut gue apa?”
“Apa?”
“Mungkin stres soal nikahan ini bukan karena planning-
nya. Tapi karena lo lagi sadar kalau lo mau nikah sama
orang yang nilai-nilainya beda banget dari lo.”
Bulan berhenti mengunyah. “Maksud lo?”
“Lan itu ambisius, driven, dan dia nggak keberatan
mengorbankan hubungan pribadi demi karier. Nggak
salah juga sih, emang itu cara dia jalanin hidup. Tapi lo,
Mbak, lo orang yang menghargai stabilitas, komitmen, dan
membangun kehidupan bareng seseorang. Itu juga nggak
salah. Tapi dua pendekatan hidup itu... nggak selalu
cocok.”
Bulan diam. Dia pelan-pelan mengunyah bulgogi-nya
lagi, memikirkan ucapan Nadindra.
“Jadi lo pikir kita nggak cocok?”
“Gue pikir lo udah terlalu lama nyoba bikin diri lo cocok
sama gaya hidup dia. Padahal mungkin, yang harus lo cari
itu orang yang gaya hidupnya emang secara alami
nyambung sama lo.”
“Kayak Mashka?” Bulan menaikkan alis.
“Gue nggak bilang gitu. Tapi... ya, maybe. Atau kayak
Gio, kalau aja waktu itu dia nggak terlalu fokus sama
kariernya.”
“Gio juga bikin pilihan yang sama kayak Landon
sekarang.”
“Iya,” kata Nadindra sambil menatap Bulan, “tapi at least
dia nggak ngegantung lo. Dia bikin keputusan yang jelas
dan kasih lo ruang buat move on. Dia nggak minta lo
bentuk ulang hidup lo demi ngikutin ambisi dia.”
Kata-kata itu pedas. Tapi benar. Bulan tahu itu.
Sebelum dia bisa menjawab, ponselnya berdering.
Nama “Tante Cory” muncul di layar.
Bulan menghela napas, suaranya mendadak tidak
bersemangat saat dia mengangkat. “Tante Cory.”
"Sayang! Mama udah denger tentang photo session.
Gio bilang kalian pasangan yang bagus, very photogenic!"
"Thanks, Tante."
"Anyway, Mama mau ngobrol tentang pre-wedding
party. Mama rencana mau elegant dinner di Mulia Resort,
maybe 100 guests? Selebrasi sebelum hari H!"
"Tante, mungkin we should hold off on planning pre-
wedding party untuk sekarang..."
"Nonsense! Three months before wedding is perfect
timing. Plus Mama udah discuss dengan event planner,
they have availability next weekend!"
"Next weekend? Tante, that's too soon—"
"Exactly! Spontaneous celebration always more fun. And
Mama invite all important people—family friends, business
associates, media. This will be beautiful coverage for
Landon's career."
Bulan feel familiar surge of helplessness. Even dalam
middle of relationship crisis, Cory steamrolling ahead
dengan plans yang Bulan has no input on.
"Tante, Landon and I are still discussing some things—"
"What things? Cold feet? Normal, sayang. All brides
nervous. That's why pre-wedding party good idea—remind
kalian why you're perfect together!"
Setelah telepon ditutup, Bulan hanya bisa menatap
layar ponselnya dengan ekspresi ngeri yang perlahan
muncul. Pre-wedding party yang bahkan nggak dia
inginkan, untuk pernikahan yang bahkan belum tentu
terjadi, dengan daftar tamu yang Tante Cory susun tanpa
sedikit pun konsultasi.
"Apa lagi sekarang?" tanya Nadindra, melihat wajah
Bulan yang mendadak murung.
"Tante Cory lagi planning pre-wedding party. Minggu
depan. Dia udah undang orang-orang."
"Lo bilang iya?"
"Gue bahkan nggak sempat ngomong. Dia cuma...
mutusin sendiri."
Nadindra menggeleng nggak percaya. "Mbak, serius
deh. Lo harus ambil alih hidup lo. Stop biarin orang lain
terus yang bikin keputusan buat lo."
"Gue tahu, tapi—"
"Nggak ada tapi. Lo umur dua puluh delapan, kerjaan
mapan, mandiri. Kenapa lo terus-terusan bersikap kayak
korban dari pilihan orang lain?"
Kata-kata itu menusuk. Tapi Bulan tahu itu benar.
Selama ini dia memang terlalu pasif—biarin Cory yang
tentukan semua soal pernikahan, biarin Landon kejar
kariernya tanpa banyak tanya, biarin semua orang
mendikte masa depan yang seharusnya jadi miliknya
sendiri.
"Terus gue harus gimana?"
"Perjuangin yang lo mau. Semuanya. Pernikahan yang
sesuai visi lo, pasangan yang benar-benar memprioritaskan
lo, hidup yang bikin lo bahagia. Berhenti ngorbanin diri
sendiri sampai lo nggak kelihatan lagi."
Malam itu, Bulan duduk di apartemennya, di antara
tumpukan foto venue yang Gio bawa. Laptop terbuka di
depannya, menampilkan situs dari private villa yang paling
menarik perhatiannya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian bulan, dia mulai
membuat keputusan berdasarkan satu hal: keinginannya
sendiri.
Dia kirim email ke wedding coordinator villa itu. Dia riset
paket pernikahan kecil dan intim. Dia mulai menyusun
ulang rencana pernikahannya. Bukan versi Cory, bukan
versi yang cocok di media sosial, dan bukan demi citra
publik Landon.
Karena mungkin Nadindra benar. Mungkin ini waktunya
berhenti jadi perempuan yang menyenangkan semua
orang, dan mulai jadi diri sendiri.

Landon Harditama
chubs, can we please talk?
i miss you
this tour thing is complicated but we can gure it out

Bulan Tjandratyo
we can talk after you decide what you actually want
and after you tell your mother to cancel pre-wedding
party she planned without asking us
i'm done with other people making decisions about my
life
fi
Landon Harditama
what pre-wedding party?
mama didn't mention anything to me

Bulan Tjandratyo
exactly
that's the problem
nobody tells you anything because they know you won’t
prioritize it anyway

.
Summer Love

Pre - w e d d i n g p a r t y y a n g d i re n c a n a k a n C o r y
berlangsung dengan kemewahan yang berlebihan di
ballroom Mulia Resort. Kristal chandelier berkilauan di
langit-langit, rangkaian bunga mawar putih dan peony pink
menghiasi setiap sudut ruangan, dan catering bintang
lima menyajikan hidangan fusion yang terlihat cantik ketika
difoto untuk sosial media. Sekitar seratus tamu hadir—
campuran sosialita Jakarta, rekan bisnis keluarga
Harditama, beberapa selebriti lokal, dan wartawan lifestyle
yang diundang khusus untuk coverage.
Bulan berdiri di samping Landon, mengenakan dress
nude yang dia beli last minute karena Cory "lupa"
memberitahu tentang dress code formal. Dia tersenyum
untuk foto dan menjawab ucapan selamat dari para tamu,
tapi hatinya terasa kosong. Ini bukan celebration yang dia
inginkan. Ini adalah pameran publik untuk hubungan yang
sedang retak.
"Bulan sayang, kamu cantik sekali malam ini," puji salah
satu teman Cory sambil mengecup pipinya. "Landon
beruntung banget ya."
"Makasih, Tante Vera," jawab Bulan dengan senyum
yang dipaksakan.
"Kapan rencana honeymoon-nya? Dengar-dengar
Landon ada tour ke Eropa?"
Pertanyaan itu seperti pisau yang menusuk tepat di luka
terbuka. Bulan melirik Landon yang sedang berbincang
dengan produser musik di seberang ruangan. Sejak
kemarin, mereka masih belum berbicara lebih dari
necessary pleasantries.
"Masih direncanakan, Tante," jawab Bulan diplomatis.
"Wah, pasti romantis ya, honeymoon sambil tour. Kayak
Beyoncé dan Jay-Z!"
Sebelum Bulan bisa menjawab, Cory muncul dengan
antusiasme yang berlebihan.
"Sayang! Fotografer dari Tatler mau foto bareng
keluarga. Come on!"
Bulan mengikuti Cory ke area yang sudah disiapkan
untuk foto keluarga. Landon bergabung dengan ekspresi
yang sulit dibaca. Mereka berdiri berdampingan, lengan
saling merangkul, tersenyum untuk kamera seolah-olah
mereka adalah pasangan bahagia yang sedang merayakan
cinta mereka.
Realitanya? Mereka hampir tidak bicara selama tiga hari.
"Perfect!" seru fotografer setelah mengambil beberapa
shot. "Couple goals banget!"
Couple goals. Bulan ingin tertawa getir mendengarnya.
Setelah sesi foto, Emillio dan Felixia menghampiri
mereka. Kakak ipar Bulan terlihat elegan dalam balutan
dress hijau emerald, sementara Emillio mengenakan
tuxedo yang dirancang secara khusus.
"Pesta yang meriah," komentar Felixia sambil menyesap
champagne. "Mama Cory memang always go all out."
"Terlalu meriah," gumam Bulan tanpa sadar.
Emillio menangkap nada ketidakpuasan dalam
suaranya. "Kamu nggak suka?"
"Bukan nggak suka," Bulan mencari kata yang tepat.
"Cuma... ini bukan yang aku bayangkan untuk pre-wedding
celebration."
"Memangnya kamu maunya seperti apa?" tanya Felixia,
tertarik dengan keinginan Bulan.
"Something more intimate. Temen deket dan keluarga
aja. Nggak perlu media coverage atau networking session."
Emillio dan Felixia bertukar pandang yang meaningful.
"Sudah bicara sama Landon tentang ini?" tanya Emillio.
Bulan melirik ke arah Landon yang masih sibuk
berbincang dengan industry people. "Kita lagi...
complicated."
"Europe tour?" tebak Felixia.
"Kalian tahu?"
"Label musiknya bilang ke aku kemarin. Mereka minta
referensi untuk Landon," jelas Emillio. "Opportunity yang
besar memang."
"Dan kalian setuju dia harus ambil?" Bulan bertanya
dengan nada yang sedikit defensif.
"Bukan soal setuju atau nggak," kata Emillio hati-hati.
"Tapi Bulan, menikah itu tentang mendukung mimpi
masing-masing, bukan saling menahan."
"Mendukung, bukan mengorbankan," koreksi Bulan.
"Ada bedanya antara support dan diminta untuk
mengubah seluruh hidup demi ambisi partner."
Sebelum percakapan bisa berlanjut, MC
mengumumkan bahwa akan ada surprise performance dari
Landon. Tentu saja. Bahkan di pre-wedding party yang
seharusnya tentang mereka berdua, somehow jadi
showcase untuk karit Landon.
Landon naik ke small stage yang disiapkan, duduk di
depan piano. Spotlights menyorotnya, membuat
atmosphere yang labih intim di ballrom yang besar.
"Thank you semua yang sudah datang malam ini," kata
Landon ke microphone. "Saya mau dedicate lagu ini untuk
Bulan. My ancée, yang udah sabar sama semua craziness
dalam hidup saya."
Dia mulai memainkan piano dengan melody yang
familiar—lagu yang sama yang dia nyanyikan beberapa
waktu lalu. Tapi kali ini, ada verses tambahan.

I know I've made mistakes before


Put my dreams before your heart
But I'm learning what love means
And I promise this is just the start
Every stage, every song, every light
Nothing matters if you're not here
You're my home, you're my truth, you're my life

Lirik yang indah, performance yang menyentuh. Para


tamu bertepuk tangan meriah, beberapa wanita terlihat
terharu, dan Cory tampak bangga dengan putranya.
Tapi Bulan merasa... kosong.
Bukan karena lagunya tidak bagus atau tidak tulus. Tapi
karena ini pola yang terlalu dikenalnya—Landon selalu
mengekspresikan perasaan lewat musik, bukan lewat
p e rc a k a p a n n y a t a . G e s t u r b e s a r d a n ro m a n t i s
menggantikan komunikasi yang jujur dan terbuka.
fi
Setelah penampilannya selesai, Landon turun dari
panggung dan berjalan ke arah Bulan, senyumnya penuh
harap, seolah-olah lagu barusan cukup untuk memperbaiki
segalany
"Gimana?" tanyanya. "I meant every word."
"Lagunya bagus, Lan," jawab Bulan dengan at tone.
"Tapi lagu nggak nyelesaiin masalah kita.”
"Bulan, please. Jangan kayak gini di depan orang-
orang."
"Jangan kayak gimana? Jujur tentang perasaan aku?"
"Kita bisa bicara nanti—"
"Kapan nanti? Setelah kamu memutuskan untuk tur
Eropa? Setelah pernikahan yang sudah terlanjur
direncanakan semua orang kecuali kita? Setelah aku capek
nunggu jadi prioritas di hidup kamu?"
Percakapan mereka mulai menarik perhatian tamu-tamu
terdekat. Emillio dengan halus mengantarkan mereka ke
area yang lebih tertutup di balcony.
"Okay, enough," kata Emillio dengan rm tone. "Kalian
berdua butuh bicara dengan benar. Now."
"Mas, this is not the time—" Landon mulai protes.
"Exactly the time," potong Emillio. "Kalian pura-pura jadi
pasangan bahagia di depan seratus orang while your
relationship falling apart. That's not healthy."
Felixia mendampingi Bulan dengan kehadiran yang
menenangkan dan penuh dukungan. "What's really going
on?"
Bulan menarik napas dalam, akhirnya memutuskan
untuk benar-benar jujur.
fi
fl
"Landon ditawari tur tiga bulan ke Eropa, mulai
September. Bulan pernikahan kita. Dia minta aku untuk
postpone wedding atau ikut dia sebagai... entah apa.
Roadie? Groupie?"
"That's not what I said—" Landon membela dirinya,
defensif.
"Then what did you say? Karena yang aku denger
adalah kamu sudah buat keputusan apa yang kamu mau,
and now I’m trying to convince me untuk go along with it."
"This is career-de ning opportunity, Bul. Once in lifetime
chance to breakthrough internationally."
"Dan pernikahan kita? Komitmen yang udah kita buat?
Itu apa?"
"Tentu saja itu penting—"
"Important enough to turn down tour?"
Silence. Landon tidak langsung menjawab, dan
ketiadaan "yes" yang langsung itu sudah cukup berbicara
banyak.
"Sudah kuduga," kata Bulan dengan senyum pahit.
Emillio menggelengkan kepala dengan kekecewaan.
"Landon, gue nggak percaya ini. Setelah semua yang lo
pelajari dari hubungan lo yang dulu, lo masih prioritasin
karir daripada cinta?"
"It's not that simple, Mas—"
"It is that simple," potong Felixia. "Bulan, what do you
want? Really, honestly, what do you want?"
Pertanyaan yang lugas, tapi jawabannya rumit.
"I want to marry someone who sees me as a priority, not
an option. I want a wedding that re ects our love, not social
status or career opportunities. I want a partner who ghts
fi
fl
fi
for our relationship, not constantly looking for escape
routes."
"And what about supporting each other's dreams?"
tanya Landon. "Marriage is partnership—"
"Partnership berarti mengambil keputusan bersama,
bukan satu orang memutuskan terus yang lain harus
ngikut," jawab Bulan. "Partnership berarti kadang bilang
tidak sama kesempatan kalau tidak sesuai dengan
partnernya."
"So you want me to give up my dreams?"
"Aku mau kamu pertimbangkan bahwa mungkin
b e b e ra p a m i m p i n g g a k w o rt h i t k a l a u s a m p a i
menghancurkan semua hal lain yang penting buat kamu."
Landon tampak frustrasi. "Bul, music is my life—"
"Kalau begitu mungkin kamu belum siap untuk
kehidupan berumah tangga," Bulan memotong dengan
nalitas yang sunyi.
Kata-kata itu menggantung di udara. Emillio dan Felixia
saling bertukar pandangan yang penuh kekhawatiran.
"Bulan," kata Felixia dengan lembut, "are you saying you
want to call off the wedding?"
"Aku mau kejujuran. Kejujuran yang utuh tentang apa
yang kita berdua mau dari hidup ini."
Dia berbalik untuk menghadap Landon langsung. "Lan,
do you want to marry me? Really, genuinely want to build a
life together? Atau kamu mau menikah sambil tetap hidup
kayak orang single yang kejar kesempatan tanpa mikirin
orang lain?"
"Of course I want to marry you—"
fi
"Kalau begitu buktikan. Pilih aku. Pilih kita. Pilih
komitmen daripada kesempatan untuk sekali aja dalam
hidup kamu."
"It's not fair untuk ask me to choose—"
"It is fair. Because that's what commitment means.
Making choices yang prioritize relationship even when it's
dif cult."
Mereka saling menatap, bertahun-tahun masalah yang
tak terselesaikan dan prioritas yang berbeda akhirnya
muncul ke permukaan.
“I need air," kata Bulan tiba-tiba, merasa kewalahan.
"Aku nggak bisa lakuin ini di sini, dikelilingi semua orang
yang pikir kita pasangan sempurna."
Dia berjalan cepat ke arah pintu keluar, meninggalkan
ballroom yang penuh dengan tamu yang mungkin
bertanya-tanya kenapa calon pengantin tiba-tiba
menghilang.
Di parkiran Mulia Resort, Bulan duduk di kap mobil,
menghirup udara malam Jakarta yang lembap tapi entah
kenapa lebih jujur daripada kepalsuan ber-AC di dalam.
Langkah kaki mendekat. Bukan Landon, tapi Gio.
“Rough night?" tanyanya, berdiri di samping mobil
dengan jarak yang sopan.
"Lo nggak tau."
"Sebenarnya, mungkin gue sedikit tau. Tadi liat lo keluar
dengan terburu-buru, gue kira ada sesuatu yang terjadi."
"Lo kerja malam ini?"
"Liputan acara buat majalah. Artikel lifestyle tentang
perayaan pre-wedding kalangan elite." Dia berhenti
sejenak. "Mau cerita?"
fi
Bulan mempertimbangkan untuk menolak, menjaga
jarak. Tapi jujur saja, dia butuh bicara dengan seseorang
yang mengerti perasaan rumit tentang cinta dan karier dan
pilihan-pilihan yang menentukan hidup.
"Landon akhirnya dapat kesempatan ke Eropa,"
katanya. "Tur tiga bulan, mulai bulan pernikahan kita."
"Dan dia mau menunda?"
"Atau seret gue buat nonton dia kerja selama tiga
bulan."
Gio mengangguk dengan pengertian. "Pola yang
familiar."
"Iya. Persis pilihan yang sama kayak lo buat enam tahun
lalu."
"And if he chooses the tour over the wedding, what will
you do?"
Bulan mempertimbangkan pertanyaan ini. Sepuluh
tahun lalu ketika Gio pergi, dia hancur tapi pada akhirnya
pasif. Dia membiarkan dia pergi tanpa melawan, menerima
keputusan yang tidak dia ikut buat.
"Kali ini gue nggak akan nunggu," katanya dengan
keyakinan. "Gue nggak akan tahan hidup gue buat
seseorang yang nganggap gue sebagai rencana
cadangan."
"Bagus," kata Gio sederhana. "Lo layak dapat yang lebih
baik dari itu."
"Beneran? Soalnya kadang gue mikir mungkin gue
yang nggak masuk akal. Maybe supporting your partner's
dreams means being exible about timing—"
"Bulan, stop." Gio berbalik untuk menghadapnya
sepenuhnya. "Mimpi itu penting, tapi hubungan butuh
fl
pengorbanan dari dua orang. It takes two to tango. Kalau
cuma satu orang yang terus berkorban sementara yang lain
terus kejar kesempatan, itu bukan partnership. Itu satu
orang yang memungkinkan keegoisan orang lain."
Kata-kata yang kasar tapi benar.
"Gimana kalau gue salah tentang timing pernikahan?
Gimana kalau ini beneran kesempatan sekali seumur hidup
buat Landon?"
"Kalau begitu dia akan dapat kesempatan lain kalau dia
berbakat dan pekerja keras. Kesempatan bagus nggak
hilang permanen kalau lo punya skill yang beneran."
"Tapi gimana kalau—"
"Bul, berhenti buat alasan buat dia. Berhenti coba
yakinkan diri sendiri kalau pilihan-pilihannya masuk akal
padahal terus-terusan nyakitin lo."
Gio benar, dan Bulan tahu itu. Tapi ada bagian dari
dirinya yang masih cinta Landon, yang masih berharap
mereka bisa menyelesaikan masalah ini.
"Lo akan ngapain? Dalam situasi ini?"
Gio mempertimbangkan pertanyaan itu dengan serius.
"Jujur? Enam tahun lalu, gue pilih karier daripada cinta dan
nyesel bertahun-tahun. Tapi kalau gue harus pilih lagi
sekarang, dengan semua yang gue pelajari... gue akan pilih
cinta. Soalnya karier datang dan pergi, tapi cinta yang
beneran—cinta yang sehat dan mutual dan supportive—itu
langka."
"Dan kalau cintanya nggak sehat dan mutual dan
supportive?"
"Berarti itu bukan cinta yang beneran. Itu
ketergantungan atau kebiasaan atau takut sendirian."
Kebenaran pahit yang perlu Bulan dengar.
Ponselnya bergetar dengan pesan dari Landon.

Landon Harditama
where are you?
we need to talk
this can't wait anymore
Bukan "orang-orang nanyain lo" atau "selesaikan pesta
ini." Untuk pertama kali dalam beberapa minggu, Landon
mengutamakan percakapan mereka daripada menjaga
penampilan.
"Gue harus balik," kata Bulan, menunjukkan pesan ke
Gio.
"Dia kedengarannya beda kali ini."
"Iya. Lebih... mendesak."
"Semoga beruntung," kata Gio dengan tulus. "Ingat
yang gue bilang—pilih apa yang beneran lo mau."
Bulan kembali ke ballroom dan menemukan Landon
menunggu di area yang lebih privat, jauh dari keramaian
tamu. Ekspresinya serius dan ada tekad yang tidak dia lihat
selama beberapa minggu.
"Bul, aku udah ngomong sama Bima," katanya langsung
tanpa basa-basi. "Aku tolak tur Eropa."
Bulan berhenti di tempatnya, benar-benar terkejut.
"Apa?"
"Aku bilang enggak. Tur dibatalkan buat aku."
"Lan, tunggu—"
"Enggak, kamu yang tunggu. Dengerin aku dulu."
Landon mengambil kedua tangannya. "Habis tiga hari
nggak ngomong sama kamu, ngeliat kamu pergi dari pesta
pre-wedding, ngeliat betapa menderitanya kita berdua...
aku sadar sesuatu."
"Apa?"
"Kesuksesan karier nggak ada artinya kalau aku nggak
punya kamu buat berbagi. Dan pernikahan kita bukan
tentang nemuin timing yang tepat buat ambisi aku. Ini
tentang milih satu sama lain, setiap hari, nggak peduli
kesempatan apa yang datang."
Bulan merasakan air mata mulai mengalir. "Tapi tur itu—"
"Akan terjadi lagi kalau aku cukup berbakat. Mas Iyo
bilang begitu. Tapi kamu? Cinta yang beneran kayak ini?
Sekali seumur hidup, Bul. Dan aku udah hampir kehilangan
kamu sekali karena kebodohan aku."
"Kamu yakin? Ini bukan keputusan yang kamu buat
karena rasa bersalah atau tekanan?"
"Aku yakin. Aku habis tiga hari terakhir mikirin apa yang
paling penting buat aku. Dan jawabannya selalu balik ke
kamu. Ke kita. Ke hidup yang kita bangun bersama."
Bulan tidak bisa menahan air mata lagi. "Lan..."
"Dan ada lagi," lanjut Landon. "Kita akan hadapi Mama
bersama-sama tentang perencanaan pernikahan. Buat
batasan, ambil alih kontrol. Ini pernikahan kita, hidup kita.
Saatnya kita yang tentukan sendiri gimana kita mau jalani."
"Beneran?"
"Beneran. Nggak ada lagi biarin orang lain buat
keputusan buat kita. Nggak ada lagi mengutamakan
ekspektasi orang lain daripada kebahagiaan kita."
Bulan memeluk Landon erat, merasakan beban
terangkat dari pundaknya. "I love you," dia berbisik.
"I love you too. Dan aku janji, mulai sekarang, kita tim.
Keputusan kita setara."
Mereka berpelukan di sudut privat ballroom, akhirnya
merasa satu pemikiran untuk pertama kali dalam berbulan-
bulan.
"Jadi," kata Bulan ketika mereka berpisah, "apa yang
kita bilang ke mama lo tentang rencana pernikahan yang
mewah itu?"
Landon tersenyum. "Kita bilang persis apa yang kita
mau. Dan kalau dia nggak suka, dia bisa rencanain upacara
pembaruan janji sendiri."
Keesokan harinya, Bulan dan Landon duduk
berhadapan dengan Cory di rumah keluarga Harditama,
berbekal materi cetakan tentang pernikahan villa intimate
yang benar-benar mereka inginkan. Cory memandang
mereka berdua dengan ekspresi bingung.
"Sayang, Four Seasons udah fully booked untuk
September. Semuanya udah diatur dengan sempurna—"
"Ma," Landon menyela dengan lembut tapi tegas, "kita
nggak mau Four Seasons."
"Tapi venue-nya spectacular—"
"Buat orang lain, mungkin. Tapi nggak buat kita." Bulan
menunjukkan foto-foto COMO Shambala Estate di Bali. "Ini
yang kita mau. Intimate, personal, meaningful."
Cory mempelajari foto-foto dengan ekspresi skeptis.
"Ini... kecil."
"Exactly," kata Landon. "Kita mau selebrasi sama orang-
orang yang beneran penting buat kita. Bukan networking
event yang merangkap jadi wedding."
"Tapi business associates? Media coverage? Ini penting
buat karier Kamu Landon—"
"Ma," Landon mengambil tangan Cory. "Karier aku akan
baik-baik aja tanpa pernikahan jadi promotional event. Dan
jujur, intimate wedding mungkin akan generate lebih
banyak positive press daripada typical extravagant
celebration."
"Ditambah," tambah Bulan, "small wedding berarti foto
berkualitas lebih baik, coverage yang lebih personal, lebih
genuine dan buat media yang tertarik."
Cory mempertimbangkan sudut pandang ini. Selalu
berpikir tentang citra di luar.
"Dan guest list?" tanya Cory hati-hati.
"Lima puluh orang maksimal," kata Bulan dengan tegas.
“Keluarga dekat, teman-teman yang dekat. Orang-orang
yang beneran peduli sama kebahagiaan kita, bukan orang
yang hadir karena obligation atau networking."
"Lima puluh orang?" Cory terlihat benar-benar terpukul.
"Tapi list mama udah ada 200 nama—"
"Yang mostly strangers buat kita," potong Landon. "Ma,
this is our wedding. Kita appreciate semuanya yang udah
Mama rencanain, tapi kita perlu lakuin ini dengan cara
kita."
"Bagaimana dengan deposit? Kontrak yang udah
ditandatangani?"
"Kita akan handle cancellation fees," kata Bulan. "Ini
cukup penting buat kita sampai mau ambil nancial hit."
Cory diam untuk waktu yang lama, jelas memproses
perubahan besar dalam rencana yang sudah dia orkestrasi.
fi
"Kalian berdua yakin tentang ini?" tanya Cory akhirnya.
"Small wedding, limited guests, venue yang nggak ada
prestige factor?"
"Kita yakin," jawab Landon dan Bulan bersamaan.
"Okay," kata Cory dengan menghela napas. "Kalau ini
yang bikin kalian bahagia, Mama akan dukung. Tapi Mama
boleh tetap bantu dengan planning, kan? Dalam
parameter yang kalian tentukan?"
"Tentu saja," kata Bulan dengan lega. "Kita mau bantuan
tante. Cuma dalam arah yang kita pilih."
"Deal." Cory tiba-tiba bersemangat dengan energi
baru. "Intimate villa wedding bisa jadi sangat chic.
Exclusive, personal, very European. Mama tau persis
gimana bikin ini elegant."
Bulan dan Landon saling bertukar pandangan geli. Cory
akan selalu jadi Cory—perencana yang antusias dengan
bakat dramatis. Tapi setidaknya sekarang mereka
merencanakan pernikahan yang benar-benar mereka
inginkan.

***

Dua minggu kemudian, Bulan, Landon, dan Gio terbang


ke Bali untuk nal venue walkthrough dan sesi foto
engagement yang proper. Como Shambhala Estate yang
mereka pilih bahkan lebih indah secara langsung—
dikelilingi hutan tropis yang rimbun, menghadap ke
lembah hijau, dengan perpaduan sempurna antara
intimacy dan elegance.
fi
"Tempat ini sempurna," kata Landon, menjelajahi area
upacara outdoor. "Persis seperti yang kita bayangkan."
"Pilihan yang bagus," setuju Gio, sudah membayangkan
peluang foto. "Pencahayaan alami di sini akan luar biasa
buat upacara."
"Dan area resepsi?" tanya Bulan.
"Tepat di sini di terrace. Lampu-lampu digantung di
antara pohon, setup meja panjang, sangat romantis." Gio
menunjukkan berbagai sudut. "Intimate tapi sophisticated."
Mereka menghabiskan sore hari merencanakan logistik
—di mana upacara akan berlangsung, lokasi foto, setup
resepsi. Untuk pertama kali dalam berbulan-bulan,
perencanaan pernikahan terasa menyenangkan bukan
stressful.
"Oke," kata Gio ketika mereka selesai walkthrough,
"sekarang kita lakuin engagement session yang proper.
Tunjukkan dinamika kalian yang asli, bukan pose yang
dipaksakan."
Kali ini, sesi fotogra benar-benar berbeda. Bulan dan
Landon santai, benar-benar bahagia, excited tentang masa
depan bersama. Gio menangkap momen-momen natural—
mereka tertawa bersama, percakapan yang tenang, kasih
sayang yang genuine.
"Jauh lebih baik," kata Gio setelah sesi. "Foto-foto ini
benar-benar menunjukkan pasangan yang sedang jatuh
cinta."
"Karena kita benar-benar menyelesaikan masalah kita,"
kata Bulan dengan senyum.
"Dan kita merencanakan pernikahan yang mewakili diri
kita," tambah Landon.
fi
Malam itu, mereka makan malam di restoran tepi pantai,
membahas detail terakhir untuk pernikahan yang sekarang
hanya enam minggu lagi.
"Ada penyesalan tentang tur Eropa?" tanya Bulan hati-
hati.
"Sama sekali nggak," jawab Landon dengan tegas.
"Label paham dan mereka udah diskusi tentang
kesempatan masa depan yang nggak akan bentrok sama
rencana kita. Lagian, bulan madu di Eropa akan lebih
bagus daripada tur kerja anyway."
"Kamu yakin?"
"Bul, berhenti pertanyain ini. Aku udah buat pilihan. Aku
pilih kita. Aku pilih hidup yang kita bangun ini." Landon
meraih tangannya di atas meja. "Nggak ada penyesalan."
"Good," kata Bulan dengan kepuasan. "Soalnya aku
beneran excited buat nikah sama kamu."
"Really?"
"Really. For rst time dalam months, wedding planning
actually feel like celebration instead of obligation."
"Same. And you know whati?"
"What?"
"Aku beneran excited tentang bulan madu. Bulan madu
yang beneran, dimana kita berdua fokus satu sama lain."
""Where are we going again?"
"Greece. Two weeks di islands, no schedule, no
obligations. Just us."
"Perfect."
Gio, yang sudah diam-diam mendengarkan sambil edit
foto di laptopnya, mendongak dengan senyum.
fi
"Kedengarannya kalian udah nemuin solusinya,"
katanya.
"Akhirnya," kata Bulan dengan tawa. "Makasih buat...
semuanya. Buat sabar sama drama kita, buat nangkep
momen yang real, buat jadi teman yang baik selama semua
kekacauan ini."
"Makasih udah berjuang buat apa yang kalian mau,"
balas Gio. "Cerita yang jauh lebih bagus buat
didokumentasikan."
Saat malam berakhir, Bulan merasakan perasaan
mendalam bahwa pilihan yang mereka buat sudah tepat.
Pernikahan kecil yang mewakili cinta mereka, pasangan
yang memilih komitmen daripada kesempatan, keluarga
yang mendukung keputusan mereka meski tidak
sepenuhnya mengerti.
Inilah yang seharusnya dirasakan summer love—hangat,
cerah, tidak rumit oleh tekanan eksternal atau prioritas
yang bersaing.
Enam minggu lagi sampai pernikahan, dan untuk
pertama kali dalam seluruh hubungan mereka, Bulan
benar-benar yakin bahwa mereka memilih jalan yang benar
bersama-sama.
Summer Love

Pagi pernikahan Bulan dan Landon di COMO


Shambhala Estate, Ubud dimulai dengan matahari terbit
yang spektakuler menyapu hutan tropis Bali. Estate
legendaris ini tampak seperti surga tersembunyi dari dunia
luar. Bulan bangun dengan perasaan yang benar-benar
berbeda—antusias, tenang, dan yakin dengan pilihan
mereka.
Dekorasi dirancang oleh Stupa Caspea yang terkenal
dengan pendekatan organic luxury. Anggrek putih dan
kamboja mengalir dari pohon-pohon tua, struktur bambu
menyatu dengan lingkungan, pencahayaan halus
menonjolkan keindahan alami venue.
"Mbak, lo Udah siap?" tanya Nadindra sambil masuk ke
Villa yang jadi bridal suite.
"Perfect. Actually perfect." Bulan duduk di depan vanity
dengan view hutan tropis. Vinna Gracia, makeup artist yang
juga handle banyak aktris, memoles wajah Bulan dengan
apik.
"Five more minutes," kata Vinna. "You look luminous."
Felixia masuk dengan dress dari Biyan— owing silk
dengan hand-embroidered botanical details. Elegant,
perfect untuk tropical setting.
fl
Ketika Bulan akhirnya melihat dirinya di cermin,
gelombang kepuasan memenuhi hatinya. Ini persis seperti
yang dia bayangkan—berseri, nyaman, cantik secara
autentik.
Di area upacara dengan pemandangan melebar ke
lembah hutan hujan, lima puluh tamu mulai mengambil
tempat duduk. Cory mengenakan gaun sutra champagne,
untuk sekali ini tidak mengatur detail. Hanya hadir,
merasakan momen.
Landon berdiri di altar dalam setelan tuksedo putih,
Emillio di sampingnya sebagai best man. Gio bergerak
dengan diskret profesional, mendokumentasikan dengan
mata artistik.
"You nervous?" tanya Emillio.
"The best kind," jawab Landon. "Can't-wait-to-start-our-
life nervous."
Musik dimulai, aransemen akustik dari komposer
Indonesia. Nadindra berjalan menyusuri lorong dulu, lalu
Felixia. Dan kemudian Bulan muncul.
Waktu seolah berhenti. Bertelanjang kaki di rumput,
mahkota bunga menangkap sinar matahari, dia tampak
seperti seorang dewi. Ekspresi Landon takjub.
"You're breathtaking," dia berbisik ketika Bula sampai di
sebelahnya.
"So are you," Bulan ikut berbisik.
Of ciant mulai dengan kata-kata tentang harmoni dan
memilih untuk tumbuh bersama.
"Landon, please share your promises."
"Bul," Landon begin dengan suara yang jelas, "I thought
marriage meant nding someone that would t into my life.
fi
fi
fi
Now I understand it means creating new life together. I
promise to never prioritize anything over our partnership, to
choose you every day, every challenge. Thank you for
teaching me real partnership."
"Bulan?"
"Lan, I used to think love meant adapting to t
someone's vision. Now I know love means two people
choosing to grow toward each other. I promise honest
communication, to support your dreams while nurturing
my own growth, to be your partner in adventure and your
comfort in storms."
Sepasang cincin platinum daur ulang dengan sentuhan
tekstur alami disematkan secara khidmat—kilau anggun
yang mengikat janji dalam balutan kemewahan yang
tenang.
"I pronounce you married partners in life. You may seal
your commitment."
Landon mencium Bulan dengan tulus, penuh cinta. Para
tamu berdiri, memberi tepuk tangan yang bergema hingga
ke lembah sekitarnya.
Resepsi mengalir anggun ke arah paviliun terbuka,
tempat meja panjang tertata rapi dihiasi bunga-bunga
lokal yang segar dan elegan. Di dapur, executive chef
COMO menghadirkan menu fusion yang dikurasi khusus,
menggabungkan rasa lokal dengan sentuhan internasional.
Cahaya sore bertransisi pelan dari warna keemasan senja
menuju kilauan ilusi, pencahayaan magis yang membalut
malam dalam nuansa kehangatan dan kemewahan.
"To choosing growth, choosing each other," Emillio
bersulang
fi
"To ghting for real love," tambah Nadindra.
Perayaan terasa sempurna tanpa usaha—penuh
percakapan yang bermakna, tarian spontan, tanpa interaksi
yang dipaksakan.
Cory mendekati pasangan itu, wajahnya lebih lembut
dari biasanya. "Mama mau minta maaf. Selama ini Mama
rancang pernikahan ini untuk mengesankan orang lain,
bukan untuk merayakan kebahagiaan kalian. Tapi hari ini,
Mama belajar sesuatu yang penting."
Menjelang malam usai, lingkaran kecil orang-orang
terdekat berkumpul di sekitar api unggun. Di antara suara
kayu yang berderak dan langit Bali yang bertabur bintang,
Gio memperlihatkan foto-foto preview—gambar sekelas
galeri seni, menangkap keintiman dan kemegahan
momen-momen hari itu dengan sempurna.
"These are incredible," kata Landon. "You captured how
today felt."
"Thank you for trusting me with your most important
day," balas Gio.
Akhirnya sendiri, Bulan dan Landon duduk berdua di
teras privat mereka, dikelilingi oleh suara malam Bali—
gemericik angin, nyanyian serangga, dan desir ombak
yang jauh tapi terasa dekat.
"Any regrets about intimate celebration?" tanya Landon.
"Zero regrets. Today felt like us. Our values, our love, our
vision."
"That's what real summer love should feel like," kata
Bulan. "Natural, nourishing, aligned with who we actually
are."
"To summer love then. All year, every year."
fi
"To summer love."
Landon menggenggam tangan Bulan, membawanya ke
dada.
"We're here. After everything."
Bulan mengangguk pelan, matanya menatap ke langit
yang luas, kemudian kembali pada pria di sebelahnya.
"We're home."

Anda mungkin juga menyukai