0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan11 halaman

Penangkapan dan Penyiksaan di 1998

Cerita ini menggambarkan pengalaman seorang narator yang diculik dan disiksa oleh sekelompok orang tak dikenal. Dalam keadaan terikat dan terluka, narator berusaha mengingat kembali peristiwa sebelum penculikan dan berjuang untuk bertahan hidup. Ketegangan meningkat saat narator diinterogasi mengenai teman-temannya dan organisasi yang mereka dirikan, sementara rasa sakit dan ketidakpastian mengancam harapannya.

Diunggah oleh

mimehfatim31
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan11 halaman

Penangkapan dan Penyiksaan di 1998

Cerita ini menggambarkan pengalaman seorang narator yang diculik dan disiksa oleh sekelompok orang tak dikenal. Dalam keadaan terikat dan terluka, narator berusaha mengingat kembali peristiwa sebelum penculikan dan berjuang untuk bertahan hidup. Ketegangan meningkat saat narator diinterogasi mengenai teman-temannya dan organisasi yang mereka dirikan, sementara rasa sakit dan ketidakpastian mengancam harapannya.

Diunggah oleh

mimehfatim31
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Di Sebuah Tempat, di Dalam

Gelap, 1998
AKU tak bisa menggerakkan leherku. Penglihatanku
gelap.
Mulutku terasa asin darah kering. Hanya beberapa
detik, aku baru menyadari apa Yang terjadi. Aku ingin
membuka mataku, tapi Sukar sekali. Bukan saja karena
bengkak dan sakit, tapi perlahan-lahan aku teringat Salah
satu dari mereka menginjak kepalaku dengan sepatu
bergerigi.
Rasanya baru beberapa jam Yang lalu, atau mungkin
kemarin. Aku tak tahu.
Tulang-tulangku terasa retak karena semalaman
tubuhku digebuk, diinjak, dan ditonjok beberapa orang
sekaligus. Di manakah aku? Begitu gelap.
Kucoba menggerakkan kepalaku, masih juga sulit.
Akhirnya aku menyerah dan membiarkan diriku
telungkup beberapa lama sebelum bangsat-bangsat itu
datang lagi menghantamku.
Yang aku ingat, beberapa jam lalu, atau mungkin
kemarin ketika mereka meringkusku adalah tanggal 13
Maret 1998, persis bertepatan dengan ulang tahun Asmara.
Aku ingat betapa aku ingin sekali meneleponnya untuk
mengucapkan selamat ulang tahun dan menjanjikan buku
apa saja yang disukainya, tapi mustahil. Di masa buron
seperti ini segala medium komunikasi dengan keluarga
harus diminimalisir. Karena itu aku ha-nya mengucapkan
selamat ulang tahun dalam hati belaka.
Aku masih ingat, rasanya sehabis magrib aku tiba di
rumah susun Klender, tempat Daniel, Alex, dan aku menetap
selama beberapa bulan terakhir. Aku baru saja pulang dari
kampus UI di Depok untuk rapat mahasiswa yang membuat
hati pegal karena berkepanjangan. Daniel berjanji akan tiba
satu jam lagi membawakan makanan, sementara Alex
sudah memberi pesan akan tiba tengah malam. Sejak kami
buron dua tahun lalu, Daniel menjadi lebih dewasa dan
memperlakukan kami sebagaimana dia memperhatikan
adik lelakinya, Hans. Dalam keadaan buron, Daniel pula
yang selalu mengingatkan agar kami selalu
mengomunikasikan posisi kami sekerap mungkin. Apalagi
sejak menghilangnya Sunu dua pekan lalu.
Malam itu terasa semakin malam. Tiba-tiba saja aku
merasa seluruh isi Jakarta tak bergerak. Aku ingat betul
begitu tiba di rumah susun, aku merasa agak gerah, maka
kuputuskan untuk langsung mandi. Begitu keluar dari kamar
mandi, aku baru menyadari bahwa lampu padam. Ini
memang bukan sesuatu yang ganjil di rumah susun yang
sering mengalami pemadaman listrik. Sambil meraba-raba
mencari senter, aku segera bisa melihat dari jendela bahwa
bagian lain rumah susun ini terang benderang. Aku berganti
kaos dan menjerang air untuk membuat kopi. Karena aku
sudah mulai lapar dan tak sabar menunggu makanan yang
akan dibawa Daniel, maka aku mengoprek lemari dapur,
barangkali saja masih ada sisa mi instan. Tiba-tiba
terdengar suara ketukan pada pintu- Suara ketukan yang
terdengar keras dan tak sabar. Aku tak langsung
membukanya. Jantungku mulai berdebar-debar. Perlahan
aku melangkah ke dalam kamar dan melongok ke arah luar
jendela. Karena kamar kami berada di lantai dua rumah
susun, aku bisa mengintip ke bawah. Kulihat ada beberapa
lelaki berbadan kekar mengenakan seibo, penutup wajah
wol.
Tiba-tiba saja aku teringat Sunu. Mungkin orang-
orang ini adalah kelompok yang sama yang telah menculik
sahabatku itu. Gedoran pada pintu semakin keras dan
terdengar mereka berhasil menggebrak. Aku tak bisa Iagi
berlari atau melompat keluar jendela. Empat orang
langsung masuk dan segera merangsek ke kamar dan
mengepungku.
"Mau mencari siapa?" aku bertanya berlagak tenang,
seolah adalah hal yang biasa menghadapi empat orang
tak dikenal yang begitu saja masuk ke rumah dan
mengelilingiku.
"Tak usah tanya-tanya, ikut saja!" bentak salah
seorang yang bertubuh besar dan tinggi seperti pohon
beringin. Jika aku sok rewel pasti dia mudah sekali
mencabut nyawaku. Jadi dengan dua lelaki kekar yang
langsung menggiringku, satu seperti pohon dan satunya
Iagi seperti raksasa, aku berusaha menggeliat
memberontak. Tapi salah seorang dari mereka
menodongkan sebuah benda dingin ke punggungku.
Seluruh tubuhku terasa kaku karena aku tahu itu adalah
moncong pistol. Salah satu dari mereka, katakanlah
namanya si Pengacau, mengaduk-aduk ranselku yang
tergeletak di atas kursi. Sial, mengapa aku lupa
menyembunyikannya. Di situ ada foto Anjani. Semoga dia
tak menemukannya. Si Pengacau malah menemukan
sebuah kartu. Astaga, kartu penduduk asliku dengan nama
asli pula. Mengapa justru pada hari ini aku memutuskan
menggunakan ransel Yang berisi lengkap?
"Benar. Dia Biru Laut. Sekjen Winatra!"
Salah seorang dari mereka lagi maju perlahan. Gaya
melangkahnya seperti koboi Yang merasa bisa
menaklukkan semua musuh hanya dengan Satu tembakan.
Dia sama sekali tak mengenakan seibo, tidak terlalu tinggi,
bertubuh gempal hingga aku bisa melihat Ototnya Yang
menyembul dari kemeja dan rambut cepak seperti tentara.
Dia menatapku tajam dengan bola matanya Yang besar
dan agak merah. Napasnya Yang berbau rokok
menghambur ke wajahku. Sementara kedua lelaki kekar
setinggi pohon tadi memegang kiri kananku seolah aku
seorang atlet Yang mampu melarikan diri secepat angin.
"Biru Laut...aku selalu bertanya-tanya, apakah ini
nama Samaran belaka seperti Amir Zein, Jayakusuma, Rizal
Amuba. Ternyata Biru Laut memang nama Yang diberikan
orangtuamu….”
Dia tersenyum kecil. Hebat sekali si Mata Merah ini.
Hanya dia Yang tak mengenakan Seibo sehingga dia tahu
risikonya bahwa Suatu hari aku akan bisa mengingatnya.
Dia tahu semua nama samaranku. Hampir semua. Dia pasti
bukan pembaca koran, apalagi halaman sastra, jadi dia tak
tahu nama Mirah Mahardika. Dan si Mata Merah pastilah
pemimpin ketiga lelaki bertubuh raksasa Yang kelihatan
seperti robot Yang siap sedia melaksanakan perintah
tuannya.
Si Mata Merah memberi kode kepada si Manusia
Pohon dan si Raksasa untuk membawaku. Si Pengacau
hanya membuntuti kami sambil bersiul-siul dengan nada
Yang tak jelas. Ketika kami tiba di luar pintu, angin malam
berdesir. Tiba-tiba Saja aku merasa gentar. Bukan karena
aku tak siap digempur atau dihajar, tetapi karena aku tak
tahu siapa Yang tengah kuhadapi. Tiba di pekarangan
rusun, aku berharap ada tetangga yang melihat kami dan
barangkali Saja sudi melaporkan pada keamanan
kampung atau paling tidak berteriak minta pertolongan.
Ternyata senja itu sungguh sepi, mungkin para tetangga
tengah salat atau bercengkerama dengan keluarga.
Barangkali sore itu tak menarik untuk duduk di teras
memperhatikan langit senja. Siapa yang sudi berpretensi
seromantis itu, di rumah Susun Yang terasnya selalu penuh
sesak dengan rentengan gantungan cucian yang malang
melintang? Tidak. Aku sudah pasti sendirian tanpa bantuan
siapa pun. Aku hanya melihat dua buah kendaraan Kijang
berwarna gelap Yang menanti kami dengan mesin mobil
menyala. Si Pengacau menendang punggungku hingga aku
jatuh tersungkur di depan mobil. Ah! Taik.
Dalam keadaan berlutut si Pengacau mendekatiku
dan menutup mataku dengan kain hitam. Erat- Hitam.
Setelah yakin aku hanya bisa melihat gelap, si
Pengacau mendorongku masuk ke dalam mobil.
Dengan mata tertutup kain hitam aku sama sekali tak
bisa menebak rute Yang dipilih pengemudi. Tapi aku bisa
menebak bahwa yang duduk di depan adalah si Mata
Merah karena aku bisa mencium aroma kretek, Yang
mengemudi pasti si Pengacau, sedangkan kedua Manusia
Pohon yang pasti jarang mandi menjepit di kiri dan kananku.
Di mobil, mereka semua bungkam. Kaca tertutup
rapat. Salah seorang dari mereka memasang kaset house
music. Ah aku tak tahan dengan musik yang repetitif seperti
ini. Tapi apa Yang bisa kuharap dari empat manusia berotot
ini? Kami seperti diguncang oleh selera musik Yang buruk.
Mobil itu melesat kencang. Aku mencoba tidur, tapi Sial
sekali. Musik jelek itu mengganggu telingaku dan aku masih
terlalu cemas menebaknebak tujuan kami. Mungkin kira-
kira sejam kernudian akhirnya mobil berhenti. Belum lagi
aku menebak lokasi kami, tiba-tiba saja aku mendengar
suara handy talkie mencericit dari arah kursi depan.
"Elang. Elang!"
Mungkin itu semacam kode mereka. Terdengar suara
derit dan bunyi Pintu pagar seret Yang dibuka. Mobil
meluncur, hanya beberapa detik kemudian mobil berhenti,
dan kedua manusia pohon di kiri kananku langsung keluar.
Aku ditarik keluar dari mobil. Dengan mata masih tertutup
rapat, mereka menggiringku masuk ke sebuah ruangan.
Udara dingin menghambur ke wajah Alat pendingin pasti
dipasang hingga maksimal. Terdengar suara orang-orang
Yang berseliweran, berbincang dan tertawa. Aku sungguh
tak bisa menebak posisiku Saat ini. Aku hanya merasa
ruangan itu luas dan mungkin ada lebih dari sepuluh orang
di sana. Salah seorang dari mereka memegang bahuku dan
memaksaku duduk di kursi. Tiba-tiba saja perutku dihantam
satu kepalan tinju Yang luar biasa keras. Begitu kerasnya
hingga kursi lipat itu terjatuh dan terdengar patah. Aku
menggelundung. Belum sempat aku bangun, tiba-tiba saja
tubuhku diinjak dan ditendang, mungkin Oleh dua atau tiga
orang. Bertubi-tubi hingga telingaku berdenging, kepalaku
terasa terbelah, dan wajahku sembap penuh darah. Asin
dan asin darah. Kain hitam penutup mataku sudah koyak
dan aku tetap tak bisa melihat karena mataku sembap.
Mereka meninggalkan aku dalam keadaan tengkurap
hingga beberapa Saat lalu.
Meski aku sudah mulai ingat bahwa kini aku berada di
sebuah ruangan Yang sangat dingin, aku belum bisa
bergerak. Leherku luar biasa sakit, mereka menginjaknya
berkali-kali.
Apakah aku akan mati?
Pada Saat itu, antara rasa asin darah dan mata Yang
bengkak dan sembap, bayang-bayang Maut berkelebat di
hadapanku. Dia tersenyum dan memberi pesan bahwa dia
hanya sekadar numpang lewat dan belum bermaksud
mencabut nyawaku.
"BANGUN lu!!"
Seember air es disiramkan ke sekujur tubuhku. Gila!
Aku terbangun begitu saja. Bukan karena merasa seluruh
tulang sudah membaik atau tubuhku Segar tapi karena
luka-luka di seluruh badan dikejutkan oleh air dingin dan
pecahan es batu. Bangsat! Dengan segera sepasang
tangan mengikat kain hitam penutup mataku dengan erat.
Aku dipaksa berdiri. Lantas sepasang tangan menggiringku
ke sebuah tempat tidur atau velbed, aku merasa tak jelas
sampai akhirnya mereka memaksaku untuk berbaring.
Tangan kiriku diborgol ke Sisi velbed sedangkan kakiku diikat
kabel.
Tidak lama kemudian aku mendengar seseorang
menyeret kursi dan duduk di pinggir velbed Yang agak
rendah. Dari napas dan bunyi langkahnya, aku yakin si Mata
Merah ada di sampingku. Benar saja. Suaranya Yang dalam
dan menekan menanyakan di manakah Gala Pranaya dan
Kasih Kinanti? Siapa saja Yang mendirikan Winatra dan
Wirasena? Siapa Yang membiayai kegiatan kami? Aku
merekat bibirku. Ada sedikit kelegaan bahwa kedua
sahabatku masih belum tertangkap. Aku merapatkan bibir,
pura-pura tuli. Kali ini lelaki lain, mungkin para Manusia
Pohon, berteriak di telingaku. Mana Kasih Kinanti, mana Gala
Pranaya. Aku tetap diam dan bahkan mencoba tersenyum
mengejek. Mungkin mereka jengkel, mungkin mereka marah
dengan reaksiku. Terdengar krasak-krusuk tangantangan
yang berbenah dan tiba-tiba Saja sebuah tongkat yang
mengeluarkan lecutan listrik menghajar kepalaku. Aku
menjerit ke ujung langit. Seluruh tulangku terasa rontok.
Aku berteriak-teriak menyebut nama Tuhan. Tapi
suaraku sulit keluar. Setrum listrik itu seperti menahan
segalanya di tenggorokanku.
Begitu aku mencoba membuka mulut lagi, sebuah
sepatu bergerigi menginjak mulutku.
Terdengar Suara si Mata Merah menyuruh anak
buahnya yang bangsat itu untuk menghentikan tingkahnya.
"Ada beberapa rapat dengan tokoh-tokoh ini...," suara
Mata Merah menyebut nama-nama besar politikus yang
kini dianggap sebagai musuh besar pemerintah. Putri
proklamator yang posisinya sebagai ketua partai digusur
oleh 'kongres tandingant Beberapa nama tokoh yang
selama ini kritis terhadap Presiden Soeharto. Jika Saja aku
tidak kesakitan luar biasa setelah disetrum, aku ingin sekali
tertawa terbahak-bahak. Kami menentang Orde Baru, itu
jelas. ltu adalah rezim keji. Tapi sampai rapat dengan
nama-nama besar itu? para lalat ini pasti pemalas hingga
gemar sekali mengarang-ngarang cerita. Aku hanya
mengenal namanama itu dari media, bagaimana mungkin
aku bertemu dengan mereka.
Entah karena aku diam Saja atau mungkin tak sengaja
menyeringai, mereka membentak-bentak dengan suara
nyaring. Aku mendengar suara meja mesin setrum Yang
diseret lebih dekat pada posisi kami. Kali ini salah satu
penyiksa itu menempelkan dua buah logam pipih ke
pahaku, sakitnya menyerang hingga ke dada. Aku megap-
megap mencari udara. Sesekali napasku terputus.
Tersengal-sengal. Sekali lagi aku melihat Maut berkelebat di
hadapanku. Aku tak paham bagaimana aku bisa melihat
bayang-bayang pencabut nyawa bolak-balik padahal
mataku tertutup dan aku hanya bisa melihat gelap. Mungkin
Tuhan mengizinkan aku melihat utusanNya. ..atau mungkin
aku tengah berilusi. Sayup-sayup aku mendengar suara si
Mata Merah yang dalam dan berat itu menegur hamba-
hambanya agar jangan menyetrum wilayah dada.
Aku tak tahu apa Yang selanjutnya terjadi. Tiba-tiba
Saja segalanya gelap. Aku tak sadar diri.
ENTAH pukul berapa, tiba-tiba Saja aku disentakkan suara
alarm yang nyaring. Aku sulit bergerak karena rasanya
seluruh tulang Yang menopang tubuhku tak berfungsi. Tiba-
tiba Saja aku mendengar suara yang sangat kukenal.
Daniel! Dia menjerit dan meraung-raung. Aku tak tahu
apakah aku lega mendengar suara yang kukenal atau
malah khawatir karena Daniel kurang tahan dengan
ketidaknyamanan. Apalagi siksaan. Ah dengarlah dia
berteriak begitu kencangnya memanggil ibunya,
memanggil namaku, memanggil Yesus. Aku juga bisa
mendengar suara setruman Yang meletik. pasti terkena
syarafnya hingga lolongan Daniel memenuhi ruangan. Taik
mereka sernua!
Aku mencoba memberontak dari ikatan tangan dan
kakiku, meski aku tahu tak mungkin aku bisa terlepas begitu
saja. Tibatiba sebuah tinju melayang menabok kepalaku.
Aku berhenti memberontak. Suara Daniel makin meninggi.
Dan tiba-tiba kudengar pula suara Alex yang mengerang-
ngerang. Terdengar suara gebukan dan tendangan. Para
penyiksa terdengar seperti berpesta seraya menghajar Alex.
Rupanya kedua sahabatku itu diambil tak lama setelah
mereka menculikku.
Kali ini di dalam gelap, aku tak hanya melihat Maut
berkelebat secepat cahaya, tetapi juga bayang-bayang
Sang Penyair. Tersenyum dengan matanya yang sedih.

Anda mungkin juga menyukai