0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan3 halaman

"Kerajaan Tertukar: Konflik dan Humor"

Naskah 'Kerajaan Tertukar – Bagian Keduo' menggambarkan konflik antara Sultan Mahmud dan musuh lama, Tuan Dendam, yang berusaha menghancurkan kerajaan. Pangeran Umar, yang sebenarnya hilang, berjuang untuk mengungkap jati dirinya dan melindungi kerajaan, sementara Putri Salima mendukungnya. Dengan humor dan situasi konyol, cerita berakhir dengan kemenangan rakyat dan pengakuan Sultan terhadap ketulusan Pangeran Umar.

Diunggah oleh

lbm.gameplayer17
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan3 halaman

"Kerajaan Tertukar: Konflik dan Humor"

Naskah 'Kerajaan Tertukar – Bagian Keduo' menggambarkan konflik antara Sultan Mahmud dan musuh lama, Tuan Dendam, yang berusaha menghancurkan kerajaan. Pangeran Umar, yang sebenarnya hilang, berjuang untuk mengungkap jati dirinya dan melindungi kerajaan, sementara Putri Salima mendukungnya. Dengan humor dan situasi konyol, cerita berakhir dengan kemenangan rakyat dan pengakuan Sultan terhadap ketulusan Pangeran Umar.

Diunggah oleh

lbm.gameplayer17
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Berikut ini lanjutan naskah Dulmuluk (versi 2) yang lebih panjang dan penuh konflik serta humor:

Judul: “Kerajaan Tertukar – Bagian Keduo”

Daftar Tokoh (lanjutan):

 Sultan Mahmud

 Putri Salima

 Pangeran Umar

 Pak Dul

 Mak Muluk

 Datuk Jaya

 Si Kucung

 Tuan Dendam – musuh lama kerajaan

 Mbak Lela – penjahit istana

 Bujang Leman – tukang lapor, tukang comel

Adegan 1: Rapat Rahasia di Istana

(Datuk Jaya sedang membacokan surat, Sultan memperhatikan. Pak Dul sibuk ngelap pedang tapi
terbalik.)

Datuk Jaya:
Sultan, ado surat dari Kerajaan Gunung Putih. Mereka mengira Pangeran Umar hilang. Mereka kirim
utusan.

Sultan Mahmud:
Bahayo ini. Kalau mereka tahu pangeran tu ado di sini dak ngaku, bisa jadi perang!

Pak Dul:
Iyo, Sultan. Jadi dak usah kita kasih tahu. Kita bilangi bae Umar ni tukang servis kipas angin istano.

Sultan Mahmud (mendelik):


Pak Dul, jadi pengawal bae susah, apolagi jadi pejabat!

Adegan 2: Belakang Istana – Pangeran dan Si Kucung Curhat

(Pangeran Umar sedang nulis surat. Si Kucung datang bawa buah duku.)

Si Kucung:
Pangeran, makan dulu. Kalo dak makan, nanti lupo, hati lupo, pikiran melayang.
Pangeran Umar:
Aku galau, Kucung. Orang-tuaku nyari aku. Tapi aku belum sampaikan niat pada Sultan. Aku datang
bukan untuk singgasana, tapi karena Putri Salima.

Si Kucung (nyengir):
Kalau cinta dak jadi, kau jadi pangeran duku jugo boleh. Jadi rajo duku. Banyak biji, kurang daging.

Adegan 3: Kedatangan Utusan Musuh

(Tuan Dendam masuk dengan baju hitam, gayanya sombong. Bujang Leman ikut-ikut di belakang
bawa kipas.)

Tuan Dendam:
Sultan Mahmud, aku datang nak pamit... pamit nak hancurkan kerajaan ini!

Sultan Mahmud:
Tuan Dendam! Waktu dulu aku nolak kawinkan Putri Salima denganmu, dak berarti aku penghina.
Kau memang teu cocok!

Tuan Dendam (mengamuk):


Kau bakal nyesal! Aku bawak sihir dari Gunung Hitam.

Pak Dul (bisik ke Mak Muluk):


Sihir...? Kirain cuma sihiran ikan.

Adegan 4: Pertemuan Rahasia di Ruangan Anyar

(Putri Salima dan Pangeran Umar bertemu saat pelarian Tuan Dendam muncul lagi.)

Putri Salima:
Pangeran, kerajaan ini dalam bahayo. Kau harus ngaku jati diri kau. Karena Tuan Dendam dak akan
mundur.

Pangeran Umar:
Kalau itu jalan terbaik... aku siap. Tapi aku takut ditolak.

Putri Salima:
Jang takut. Cinta yang jujur bakal ketemu takdirnyo. Yang penting kau dak sombong dan dak pamer
gelar.

Adegan 5: Puncak Konflik di Alun-Alun Istana

(Semua rakyat berkumpul. Tuan Dendam mau mukul Sultan dengan tongkat sakti. Pangeran Umar
maju dengan sigap.)

Pangeran Umar:
Berhenti! Aku Pangeran Umar. Aku di sini bukan nak rebut kekuasaan. Aku datang nak bantu dan
lindungi negeri ini.
Tuan Dendam:
Oh jadi kau di sini! Kerajaan Gunung Putih pasti kacau! Mau ku buat kalian semua jadi patung!

Si Kucung (dari belakang lempar sendok):


Kagek jadi patung... disiram hujan besok berkarat jugo!

(Tuan Dendam terpeleset sendok, tongkat sihirnya pecah. Semua tertawa. Tuan Dendam kabur
ditertawakan rakyat.)

Adegan 6: Penutup

Sultan Mahmud:
Pangeran Umar, sekarang aku tahu ketulusanmu. Negeri ini butuh pemimpin yang rendah hati.

Mak Muluk:
Iyo Sultan, jangan pulek jago, bakal banyak penggoda.

Pak Dul (melompat):


Ado pesta dak? Aku dak sabar nak tari palakico!

Sultan:
Ada! Tapi Pak Dul, kau jago nari apo jago makan?

Pak Dul:
Lah... dua-duanyo!

(Semua ketawa, musik tradisional menyalo. Tirai turun.)

Kalau mau versi ketiga atau ingin naskah lebih panjang, lucu, romantis, atau ada lagu, tinggal bilang
ya!

Anda mungkin juga menyukai