Berikut ini lanjutan naskah Dulmuluk – Bagian 5 (Epilog), sebagai penutup cerita.
Di bagian ini,
suasana akan ditampilkan sebagai kehidupan setelah pernikahan, penuh humor, pesan moral, dan
kejutan baru yang menggelitik — khas Dulmuluk Palembang.
Judul: “Kerajaan Tertukar – Epilog: Terbuka Tabir Bahagia”
Daftar Tokoh (lanjutan & cameo):
Sultan Mahmud
Sultan Ali
Putri Salima
Pangeran Umar
Pak Dul
Mak Muluk
Si Kucung
Raja Bawang
Tuan Dendam
Mak Petir
Rakyat
Adegan 1: Istana Pasca Nikah – Suasana Damai
(Istana terlihat lebih ramai, rakyat bebas masuk. Pak Dul jadi bagian pelayanan istana tapi tetap
banyak tingkah.)
Pak Dul (ngomel sambil ngasih minum):
Rajo-rakjo ini pasangan muda banyak betul peminatnya. Aku yang jadi pelayan, tapi aku juga pengen
masuk daftar penerima sumbangan jodoh.
Mak Muluk:
Pak Dul, jangan banyak ngeluh. Kau tu sekarang jadi ikon istana. Orang-orang datang untuk selfie
sama kau.
Pak Dul (menghadap penonton):
Oh... jadi aku seleb... makan gratis yo?
Adegan 2: Para Rakyat Menghadap Sultan
(Beberapa rakyat maju ke depan. Ada yang bawa hadiah, ada yang cuma mau curhat.)
Rakyat 1:
Sultan... terimo kasih ado pesta. Kami makan pempek sampe dak bisa bangun.
Sultan Mahmud:
Alhamdulillah. Kerajaan ini bukan hanya milik rajo, tapi milik rakyat jugo.
Si Kucung (bisik ke Pak Dul):
Tapi kalo habis pesta, nanti pasti ada utang di warung sebelah...
Adegan 3: Raja Bawang Kasih Bonus Terakhir
(Raja Bawang kembali, sekarang bawa alat musik & satu bawang besar.)
Raja Bawang:
Kabar gembira! Aku bawak bawang raksaso... bukan tuk mahakato, tapi tuk masak cuko. Cuko sedap,
hati senang.
Putri Salima:
Raja Bawang, bawang kau bukan hanya bumbu, tapi pemersatu rasa di negeri ini.
Si Kucung:
Cuko bawang iso marihkan keluarga ribut... terutama rebutan terakhir.
Adegan 4: Pesan Moral – Ditutup dengan Nyanyian
(Semua tokoh berkumpul. Musik gambus dan rebana mulai terdengar.)
Pangeran Umar (berdiri):
Di negeri ini, bukan rajo dan rakyat yang membedakan, tapi niat baik dan cinta.
Putri Salima:
Siapo pun ado di bumi ini, kalau saling menghargai... dunia akan damai.
Tuan Dendam (menangis):
Aku dulu dendam... kini aku jadi fans tiktok dulmuluk ini. 😭
Mak Petir:
Dan aku... sekarang jadi konsultan listrik PLN.
Adegan 5: Penutup – Lagu Bersama
(Semua pemain menyanyi bersama dengan riang, lirik sederhana ala pantun Dulmuluk):
Pantun 1:
Kain pelangi di atas kayu,
Jatuh bersulam dengan benang.
Mulai dari dendam jadi bersatu,
Cinto di hati jangan dibuang.
Pantun 2:
Malam minggu bakar jagung,
Pagi hari makan pempek.
Kalau hidup dengan senyum,
Semua beban terasa enteng.
Pak Dul (paling depan):
Kalau pentas ini kelar sudah…
Jangan lupa kasih tepuk tangan…
Kalau mau ulang, panggil lagi...
Nanti aku siap jadi peran utama!
(Semua tertawa, tirai tertutup pelan, musik naik, lampu perlahan gelap.)
Tamat. 🎭
Kalau kamu mau, aku bisa gabungkan seluruh bagian 1–5 ke dalam satu naskah lengkap, format siap
cetak atau tampil panggung. Tinggal bilang saja!