PDE.
rev
Audit risk adalah risiko bahwa auditor memberikan opini yang tidak tepat terhadap
laporan keuangan yang sebenarnya mengandung salah saji material. Risiko ini muncul karena
adanya kemungkinan kesalahan yang tidak terdeteksi selama proses audit. Audit risk terdiri
dari tiga komponen, yaitu inherent risk, control risk, dan detection risk. Inherent risk
adalah risiko bawaan yang melekat pada suatu akun sebelum ada pengendalian, control risk
adalah risiko bahwa pengendalian internal gagal mencegah atau mendeteksi kesalahan,
sedangkan detection risk adalah risiko bahwa prosedur audit gagal menemukan kesalahan
yang ada. Auditor harus mengelola ketiga komponen ini agar risiko audit berada pada tingkat
yang rendah dan dapat diterima.
Akuntansi adalah proses pencatatan, pengikhtisaran, dan pelaporan transaksi
keuangan untuk menghasilkan informasi yang berguna bagi pengambilan keputusan.
Pengauditan adalah pemeriksaan secara independen terhadap laporan keuangan untuk
menilai kewajarannya sesuai standar akuntansi yang berlaku.
Perbedaannya, akuntansi berfokus pada penyusunan laporan keuangan, sedangkan
pengauditan berfokus pada pemeriksaan dan pemberian opini atas laporan keuangan
tersebut.
Subsequent receipt test adalah prosedur audit yang dilakukan untuk memverifikasi
keberadaan dan keterpulihan piutang dengan cara memeriksa penerimaan kas dari pelanggan
setelah tanggal neraca. Jika konfirmasi piutang tidak dibalas, auditor harus melakukan
prosedur alternatif, seperti memeriksa bukti dasar transaksi atau bukti penerimaan kas.
Apabila ditemukan perbedaan antara catatan perusahaan dan hasil konfirmasi, maka dibuat
jurnal koreksi untuk menyesuaikan saldo piutang agar sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya.
a. Risiko Inheren (Inherent Risk)
Risiko yang muncul karena sifat transaksi dan kondisi perusahaan, sebelum
mempertimbangkan sistem pengendalian.
Risiko inheren signifikan pada PT UFO:
Piutang usaha meningkat signifikan (>30%), sementara penjualan hanya naik 10%
→ risiko piutang tidak tertagih atau fiktif.
Perputaran piutang menurun drastis → risiko kebijakan kredit longgar dan
keterlambatan pembayaran.
Kelemahan pada praktik penjualan kredit → risiko pengakuan pendapatan
sebelum waktu (premature revenue recognition).
➡️Kesimpulan: risiko inheren tinggi karena potensi salah saji pada akun piutang usaha dan
pendapatan.
b. Risiko Pengendalian (Control Risk)
Risiko bahwa pengendalian internal gagal mencegah atau mendeteksi salah saji
material.
Risiko pengendalian signifikan di PT UFO:
Tidak ada pemisahan tugas yang memadai → satu staf (Ibu Siska) menangani
penerimaan kas, pencatatan, dan penyesuaian → risiko penyelewengan kas atau
manipulasi piutang.
Kebijakan kredit longgar dan tidak ada evaluasi umur piutang → risiko piutang
tidak tertagih meningkat.
Temuan audit sebelumnya tidak diperbaiki → risiko pengendalian lemah
berkelanjutan.
➡️Kesimpulan: control risk juga tinggi, karena sistem pengendalian tidak efektif mencegah
kecurangan atau salah saji.
Prosedur Audit Substantif
Asersi 1: Keberadaan (Existence)
Untuk memastikan piutang yang tercatat benar-benar ada.
Lakukan konfirmasi positif kepada pelanggan besar dan berisiko tinggi.
Jika tidak ada jawaban, lakukan subsequent receipt test (periksa bukti pembayaran
setelah tanggal neraca).
Telusuri dari buku besar piutang ke faktur penjualan, surat jalan, dan bukti
penerimaan kas.
Asersi 2: Penilaian & Alokasi (Valuation & Allocation)
Untuk memastikan nilai piutang disajikan dengan jumlah yang dapat direalisasikan.
Tinjau umur piutang (aging schedule) → identifikasi piutang lama (>90 hari).
Evaluasi cadangan kerugian piutang (allowance for doubtful accounts)
dibandingkan dengan pengalaman historis dan tren gagal bayar.
Periksa kebijakan kredit perusahaan dan bandingkan dengan praktik aktual.
Uji jurnal koreksi atau penyesuaian cadangan yang dilakukan akhir tahun.
Asersi 3: Kelengkapan Penjualan (Completeness)
Untuk memastikan seluruh penjualan yang sah sudah dicatat.
Telusuri dari surat jalan / faktur penjualan ke jurnal penjualan.
Lakukan cut-off test di sekitar tanggal neraca → pastikan penjualan Desember tidak
dimasukkan ke Januari, atau sebaliknya.
Periksa nomor urut dokumen penjualan dan surat jalan agar tidak ada transaksi
yang hilang.
Kesimpulan & Rekomendasi
Kesimpulan Audit Sementara:
Risiko inheren dan risiko pengendalian pada siklus penjualan & piutang tinggi.
Ditemukan kelemahan pengendalian (pemisahan tugas, kebijakan kredit longgar,
tindak lanjut audit sebelumnya tidak efektif).
Auditor perlu memperluas prosedur substantif, terutama pada piutang besar dan
piutang lama.
Rekomendasi:
1. Lakukan pemisahan tugas antara penerimaan kas, pencatatan, dan otorisasi
penyesuaian.
2. Terapkan kebijakan kredit lebih ketat dan pantau umur piutang secara rutin.
3. Buat prosedur rekonsiliasi kas dan piutang bulanan.
4. Tindak lanjut temuan audit sebelumnya dan dokumentasikan hasil perbaikan.
Dokumen & Jenis Konfirmasi
Dokumen yang Diperiksa:
Daftar saldo piutang per pelanggan (aging schedule)
Faktur penjualan dan surat jalan
Bukti penerimaan kas / slip setoran bank
Jurnal penyesuaian piutang dan cadangan kerugian
Notulen kebijakan kredit dan laporan kolektor
Jenis Konfirmasi yang Dikirim:
Gunakan Konfirmasi Positif, karena:
o Risiko salah saji tinggi
o Jumlah saldo material
o Terdapat kelemahan pengendalian internal
o Perbedaan data sebelumnya signifikan