INFORMASI UMUM
A. Identitas Modul
Nama Penyusun Rachmawati Lestyaningsih, [Link]
Satuan Pendidikan SD Terpadu Ma’arif Gunungpring
Tahun Ajaran 2025/2026
Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS)
Kelas/Fase V/C
Bab 1 (Satu)
Topik Melihat karena Cahaya, Mendengar karena Bunyi
Alokasi Waktu 27 JP (disesuaikan dari buku panduan)
B. Identifikasi Murid
Kategori Deskripsi
Pengetahuan Peserta didik telah memiliki pemahaman dasar tentang pancaindra dari kelas
Awal sebelumnya. Mereka mengetahui bahwa mata digunakan untuk melihat dan
telinga untuk mendengar, serta telah mengenal konsep dasar energi. Namun,
pemahaman mereka mengenai sifat-sifat fisik cahaya dan bunyi sebagai
gelombang, serta mekanisme rinci bagaimana proses melihat dan mendengar
terjadi, masih perlu dibangun dan diperdalam.
Minat Minat belajar peserta didik beragam. Sebagian besar tertarik pada kegiatan
praktis, eksperimen sederhana, dan permainan yang berhubungan dengan
fenomena sehari-hari. Mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi tentang
"bagaimana sesuatu bekerja", seperti mengapa bayangan terbentuk atau
bagaimana suara bisa terdengar dari jauh.
Kebutuhan Peserta didik membutuhkan pembelajaran yang konkret dan berbasis
Belajar pengalaman (experiential learning). Mereka perlu terlibat langsung dalam
aktivitas yang menantang rasa ingin tahu dan nalar kritis, seperti melakukan
percobaan, membuat model sederhana, dan berdiskusi. Pendekatan yang
mengaitkan konsep sains dengan pengalaman nyata (meaningful learning) sangat
penting untuk membangun pemahaman yang mendalam dan bertahan lama.
C. Materi Pelajaran
1. Sifat-sifat Cahaya: Cahaya merambat lurus, dapat dipantulkan, dapat menembus benda bening,
dapat dibiaskan, dan dapat diuraikan.
2. Proses Melihat: Keterkaitan antara cahaya, benda, dan fungsi organ mata (kornea, pupil, lensa,
retina) hingga informasi diolah oleh otak.
3. Sifat-sifat Bunyi: Bunyi berasal dari benda yang bergetar, merambat melalui medium (padat,
cair, gas), dan dapat dipantulkan (gema dan gaung).
4. Proses Mendengar: Keterkaitan antara sumber bunyi, getaran, dan fungsi organ telinga (daun
telinga, gendang telinga, tulang pendengaran, rumah siput) hingga informasi diolah oleh otak.
5. Kesehatan Indra: Pentingnya menjaga kesehatan mata dan telinga serta cara-cara perawatannya.
D. Dimensi Profil Lulusan
Dimensi Elemen yang Dikembangkan
Beriman, Bertakwa Mensyukuri anugerah Tuhan berupa indra penglihatan dan pendengaran
kepada Tuhan YME, yang sempurna. Kesadaran ini diwujudkan melalui elemen akhlak
& Berakhlak Mulia kepada alam dengan merancang proyek kampanye menjaga kesehatan
indra.
Gotong Royong Berkolaborasi secara efektif dalam kelompok saat melakukan percobaan
sifat cahaya dan bunyi, serta saat mengerjakan proyek belajar. Peserta
didik belajar berbagi peran, mendengarkan pendapat, dan bekerja sama
mencapai tujuan.
Bernalar Kritis Menganalisis hasil percobaan untuk menyimpulkan sifat-sifat cahaya
dan bunyi. Peserta didik mengidentifikasi hubungan sebab-akibat
(misal: "Mengapa sendok terlihat bengkok di dalam air?") dan
mengevaluasi informasi untuk membuat skema proses melihat dan
mendengar.
Kreatif Menghasilkan gagasan orisinal saat merancang percobaan sederhana
dan mendesain media edukasi (proyek belajar) yang informatif dan
menarik bagi audiens (adik kelas).
E. Desain Pembelajaran
Komponen Deskripsi
Capaian Peserta didik dapat melakukan simulasi menggunakan
Pembelajaran (CP) gambar/bagan/alat/media sederhana tentang sistem organ tubuh manusia
Elemen (sistem pernapasan, pencernaan, dan peredaran darah) yang dikaitkan
Pemahaman IPAS dengan cara menjaga kesehatan organ tubuhnya dengan benar.
Berdasarkan pemahamannya terhadap konsep gelombang (bunyi dan
cahaya), peserta didik mendemonstrasikan bagaimana penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari.
Lintas Disiplin Bahasa Indonesia: Menuliskan laporan dan langkah-langkah percobaan
Ilmu dengan kalimat yang runtut dan jelas. Mengkomunikasikan gagasan
melalui presentasi dan media kampanye.
Seni Musik: Mengaitkan konsep karakteristik bunyi (tinggi-rendah, kuat-
lemah) dengan nada dan intensitas dalam musik.
PJOK: Mengaitkan pentingnya kesehatan indra dengan aktivitas fisik dan
keamanan diri.
Tujuan 1. Menjelaskan sifat-sifat bunyi dan cahaya melalui percobaan sederhana.
Pembelajaran Bab 2. Mendemonstrasikan bagaimana sistem pendengaran dan penglihatan
1 manusia bekerja melalui pembuatan skema atau model sederhana.
Praktik Pedagogis Model Pembelajaran: Inquiry-Based Learning dan Project-Based
(Pendekatan Deep Learning (PjBL).
Learning) Metode:
1. Meaningful Learning: Mengaitkan sifat cahaya dengan fenomena
pelangi atau bayangan, dan sifat bunyi dengan gema di goa.
Menghubungkan proses melihat dan mendengar dengan aktivitas sehari-
hari.
2. Joyful Learning: Memulai pembelajaran dengan permainan interaktif
(pesan berantai, tebak benda mata tertutup) dan percobaan langsung yang
menarik rasa ingin tahu.
3. Mindful Learning: Melatih fokus dan kesadaran melalui kegiatan
pengamatan yang teliti (misalnya, mengamati perubahan pupil mata,
merasakan getaran pada benang telepon) dan melakukan refleksi di setiap
akhir sesi untuk menyadari proses belajar yang telah terjadi.
Aktivitas: Eksperimen/percobaan, diskusi kelompok, pembuatan
model/skema, studi kasus sederhana, dan proyek kampanye.
Pemanfaatan Pemanfaatan proyektor untuk menampilkan video fenomena optik
Teknologi Digital (pelangi, fatamorgana) atau video cara kerja telinga bagian dalam.
Peserta didik juga dapat menggunakan perangkat digital untuk
merancang poster kampanye pada proyek belajar (opsional).
PENGALAMAN BELAJAR (RINCIAN PER PERTEMUAN)
BLOK 1: Pengenalan dan Eksplorasi Cahaya (7 JP)
Pertemuan 1-2: Pengenalan Indra dan Rencana Belajar (2 JP)
● Kegiatan Awal (Joyful & Mindful Learning):
1. Guru mengajak peserta didik bermain "Pesan Berantai" menggunakan telepon benang
sederhana (kaleng/gelas plastik dan benang).
2. Selama permainan, guru meminta peserta didik untuk menyentuh benang dan merasakan
getarannya saat teman berbicara. Ini untuk melatih kesadaran (mindfulness) dan
menghubungkan bunyi dengan getaran.
3. Dilanjutkan permainan "Tebak Benda Misterius", di mana peserta didik dengan mata tertutup
meraba dan menebak benda di dalam kotak.
● Kegiatan Inti (Meaningful Learning):
1. Guru memantik diskusi: "Indra apa yang tadi kalian gunakan? Indra apa yang tidak bisa
digunakan saat mata ditutup? Mengapa demikian?"
2. Diskusi diarahkan pada kesimpulan awal bahwa melihat membutuhkan cahaya dan
mendengar membutuhkan bunyi.
3. Guru mengajukan pertanyaan esensial dari buku: "Informasi apa yang kalian dapatkan dari
melihat? Informasi apa yang kalian dapatkan dari mendengar?"
4. Peserta didik diajak bertukar pikiran tentang apa saja yang ingin mereka ketahui tentang
cahaya, bunyi, mata, dan telinga. Guru mencatat pertanyaan-pertanyaan mereka di papan
tulis.
● Kegiatan Penutup:
1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran bab ini, mengaitkannya dengan rasa ingin tahu
yang sudah diungkapkan peserta didik.
2. Peserta didik bersama-sama membuat rencana belajar sederhana untuk bab ini.
Pertemuan 3-5: Misteri Sifat-sifat Cahaya (5 JP)
● Kegiatan Awal:
1. Guru menampilkan gambar pemandangan dengan pelangi atau bayangan pohon.
2. Pertanyaan pemantik: "Bagaimana pelangi bisa terbentuk? Mengapa ada bayangan?"
● Kegiatan Inti (Inquiry & Joyful Learning):
1. Peserta didik dibagi menjadi 5 kelompok. Setiap kelompok mendapat satu undian "sifat
cahaya" yang harus mereka buktikan melalui percobaan (Cahaya merambat lurus, dapat
dipantulkan, dapat menembus benda bening, dapat dibiaskan, dapat diuraikan).
2. Setiap kelompok diberikan waktu untuk merancang percobaan sederhana berdasarkan sifat
cahaya yang didapat. Guru menyediakan beberapa referensi percobaan sederhana (tanpa
merujuk ke lampiran, tetapi menjelaskan idenya, misal: "Untuk membuktikan cahaya
merambat lurus, kalian bisa menggunakan karton berlubang dan senter").
3. Langkah Percobaan Rinci (Contoh untuk "Cahaya Merambat Lurus"):
■ Siapkan 3 buah karton tebal dan sebuah senter.
■ Lubangi bagian tengah ketiga karton tersebut pada posisi yang sama persis.
■ Tegakkan ketiga karton di atas meja dengan bantuan penyangga (seperti plastisin)
sehingga posisinya sejajar.
■ Pastikan lubang pada ketiga karton berada dalam satu garis lurus.
■ Nyalakan senter dan arahkan cahayanya tepat ke lubang karton pertama.
■ Amati dari belakang karton ketiga. Apakah cahaya senter terlihat?
■ Sekarang, geser salah satu karton sehingga lubangnya tidak sejajar. Amati kembali.
Apakah cahaya masih terlihat?
■ Catat hasil pengamatanmu dan diskusikan mengapa hal itu terjadi.
4. Kelompok-kelompok melakukan percobaan masing-masing secara bersamaan (atau
bergantian jika alat terbatas). Guru berperan sebagai fasilitator.
● Kegiatan Penutup (Mindful & Meaningful Learning):
1. Setiap kelompok mendemonstrasikan hasil percobaannya di depan kelas. Kelompok lain
menebak sifat cahaya yang sedang dibuktikan.
2. Refleksi bersama: "Apa saja sifat cahaya yang kita temukan hari ini? Di mana kita bisa
melihat sifat-sifat itu dalam kehidupan sehari-hari?"
BLOK 2: Bagaimana Kita Melihat dan Mendengar (10 JP)
Pertemuan 6-7: Melihat karena Cahaya (5 JP)
● Kegiatan Awal (Mindful Learning):
1. Guru meminta peserta didik mengamati mata temannya atau mata sendiri di cermin.
2. "Perhatikan bagian hitam di tengah mata. Sekarang, coba tutup mata sebentar lalu buka di
tempat yang terang. Amati apa yang terjadi pada bagian hitam itu." (Demonstrasi perubahan
pupil).
● Kegiatan Inti (Meaningful Learning):
1. Diskusi tentang bagian-bagian mata yang terlihat (kornea, iris, pupil) dan fungsinya secara
sederhana.
2. Guru menampilkan gambar/infografis besar tentang anatomi mata dan menjelaskan alur
proses melihat: Cahaya -> dipantulkan benda -> masuk ke kornea -> dibiaskan -> melalui
pupil -> difokuskan lensa -> ditangkap retina -> sinyal ke otak.
3. Secara individu, peserta didik diminta membuat skema/bagan sederhana alur proses melihat
versi mereka sendiri di buku catatan, lengkap dengan gambar dan panah.
4. Peserta didik berbagi skema buatannya dengan teman sebangku, saling memberi masukan.
● Kegiatan Penutup:
1. Diskusi kelas tentang cara menjaga kesehatan mata (jarak membaca, penerangan cukup,
istirahat dari layar gawai).
2. Refleksi: "Apa hubungan antara sifat cahaya yang kita pelajari sebelumnya dengan cara kita
melihat?"
Pertemuan 8-9: Mendengar karena Bunyi (5 JP)
● Kegiatan Awal (Joyful Learning):
1. Guru mengajak peserta didik membuat berbagai macam bunyi menggunakan benda di sekitar
(tepuk tangan, mengetuk meja, menggesekkan buku).
2. Pertanyaan pemantik: "Dari mana bunyi-bunyi ini berasal?" Guru membimbing hingga
kesimpulan bahwa bunyi berasal dari getaran.
● Kegiatan Inti (Inquiry & Mindful Learning):
1. Simulasi Gendang Telinga:
■ Setiap kelompok menyiapkan toples/gelas, selembar balon/plastik tipis, karet gelang,
dan sedikit garam/gula pasir.
■ Tutup mulut toples dengan balon/plastik hingga kencang, lalu ikat dengan karet.
■ Taburkan sedikit garam di atas permukaan balon.
■ Salah satu anggota kelompok mendekatkan mulut ke toples (tanpa menyentuh) dan
berteriak "HAA!".
■ Peserta didik lain dengan saksama (mindful) mengamati apa yang terjadi pada butiran
garam.
2. Diskusi kelompok: "Mengapa garam bisa 'menari'? Apa hubungannya dengan cara kita
mendengar?"
3. Guru menjelaskan alur proses mendengar dengan analogi percobaan tadi (getaran suara ->
menggetarkan gendang telinga (balon) -> diteruskan ke bagian dalam telinga -> sinyal ke
otak).
4. Peserta didik kembali membuat skema sederhana proses mendengar di buku catatannya.
● Kegiatan Penutup:
1. Diskusi tentang bahaya suara yang terlalu keras dan cara menjaga kesehatan telinga.
2. Refleksi: "Apa persamaan dan perbedaan antara cara kita melihat dan cara kita mendengar?"
BLOK 3: Proyek Belajar dan Asesmen (10 JP)
Pertemuan 10-13: Proyek "Jaga Indra Kita!" (8 JP)
● Kegiatan Awal:
1. Guru mengingatkan kembali tentang pentingnya menjaga kesehatan mata dan telinga.
2. "Bagaimana cara kita memberitahu adik-adik kelas tentang hal penting ini agar mereka
paham dan mau melakukannya?"
● Kegiatan Inti (Project-Based Learning):
1. Perencanaan: Peserta didik secara berkelompok (3-4 orang) merencanakan pembuatan
sebuah media edukasi (bisa berupa poster, komik strip, lagu sederhana, atau drama singkat)
yang ditujukan untuk siswa kelas 3 atau 4.
2. Pencarian Informasi: Kelompok mencari informasi lebih detail tentang cara merawat mata
dan telinga. Sumber bisa dari Buku Siswa, bertanya pada guru UKS, atau sumber lain yang
disediakan guru.
3. Pembuatan Media: Kelompok bekerja sama membuat media edukasi yang telah mereka
rencanakan. Guru memfasilitasi dan memberikan bimbingan.
4. Latihan: Kelompok berlatih untuk mempresentasikan/menyampaikan hasil karyanya.
● Kegiatan Penutup:
1. Presentasi kemajuan proyek setiap kelompok dan sesi umpan balik dari teman dan guru.
Pertemuan 14: Pameran Karya dan Uji Pemahaman (2 JP)
● Kegiatan Inti:
1. Pameran Karya: Setiap kelompok menampilkan media edukasinya. Jika memungkinkan,
perwakilan kelas 3 atau 4 diundang untuk melihat dan memberikan tanggapan.
2. Uji Pemahaman: Peserta didik mengerjakan soal-soal Uji Pemahaman dari buku secara
individu untuk mengukur pemahaman konsep secara keseluruhan.
● Kegiatan Penutup:
1. Refleksi akhir bab.
ASESMEN
Jenis Asesmen Teknik dan Instrumen
Diskusi kelas terarah dan tanya jawab pada pertemuan pertama untuk
Asesmen Awal
memetakan pengetahuan awal peserta didik tentang indra, cahaya, dan
(Diagnostik)
bunyi.
- Observasi: Guru mengamati keaktifan peserta didik dalam diskusi,
kolaborasi dalam kelompok saat eksperimen, dan kemampuan mengikuti
instruksi menggunakan catatan anekdotal.
Asesmen Formatif - Penilaian Kinerja: Mengecek hasil rancangan dan pelaksanaan percobaan
(Proses) sifat cahaya dan bunyi. Menilai skema proses melihat dan mendengar yang
dibuat peserta didik.
- Penilaian Lisan: Tanya jawab selama proses pembelajaran untuk
memeriksa pemahaman konsep.
- Proyek: Penilaian media edukasi "Jaga Indra Kita!" menggunakan rubrik
yang mencakup aspek: kesesuaian konten, kreativitas, kejelasan pesan, dan
Asesmen Sumatif
kerja sama tim.
(Akhir Bab)
- Tes Tertulis: Penilaian hasil Uji Pemahaman untuk mengukur
penguasaan konsep individual.
PENGAYAAN DAN REMEDIAL
● Pengayaan: Bagi peserta didik yang sudah memahami konsep dengan cepat, mereka dapat diberi
tantangan untuk:
○ Menyelidiki tentang ilusi optik dan menjelaskan prinsip cahaya yang mendasarinya.
○ Mencari tahu tentang teknologi yang terinspirasi dari sifat cahaya (misal: periskop) atau
bunyi (misal: sonar pada kapal selam) dan membuat presentasi singkat.
○ Mempelajari bagaimana hewan seperti kelelawar menggunakan ekolokasi.
● Remedial: Bagi peserta didik yang masih kesulitan memahami konsep dasar, guru dapat:
○ Melakukan bimbingan ulang secara individual atau dalam kelompok kecil.
○ Mengulang kembali percobaan-percobaan inti (sifat cahaya/bunyi) dengan bimbingan
langkah demi langkah yang lebih intensif.
○ Menggunakan video animasi sederhana untuk memvisualisasikan kembali proses melihat dan
mendengar.
REFLEKSI DIRI
Refleksi Peserta Didik
(Disampaikan secara lisan atau ditulis di akhir bab)
1. Hal baru apa yang paling menarik yang aku pelajari di bab ini?
2. Bagian mana dari topik cahaya dan bunyi yang masih membuatku bingung?
3. Setelah belajar bab ini, apa yang akan aku lakukan untuk menjaga kesehatan mata dan telingaku?
4. Kegiatan apa yang paling aku sukai selama belajar bab ini? Mengapa?
Refleksi Pendidik
1. Kegiatan pembelajaran mana yang paling berhasil melibatkan peserta didik? Apa buktinya?
2. Kesulitan apa yang paling banyak dihadapi oleh peserta didik selama mempelajari bab ini?
3. Apakah pendekatan Deep Learning (Meaningful, Joyful, Mindful) sudah terlihat dalam aktivitas
kelas? Bagian mana yang perlu ditingkatkan?
4. Apa yang akan saya ubah atau perbaiki untuk pembelajaran topik serupa di masa mendatang?
Muntilan, 12 Juli 2025
Mengetahui,
Kepala SD Terpadu Ma’arif Gunungpring Guru Kelas V D
Fitri Haryanti, [Link] Rachmawati Lestyaningsih, [Link]
INFORMASI UMUM
A. Identitas Modul
Nama Penyusun Rachmawati Lestyaningsih, [Link]
Satuan Pendidikan SD Terpadu Ma’arif Gunungpring
Tahun Ajaran 2025/2026
Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS)
Kelas/Fase V/C
Bab 2 (Dua)
Topik Harmoni dalam Ekosistem
Alokasi Waktu 27 JP (disesuaikan dari buku panduan)
B. Identifikasi Murid
Kategori Deskripsi
Pengetahuan Peserta didik telah mengenal konsep ekosistem, komponen biotik dan abiotik,
Awal serta pengelompokan hewan berdasarkan makanannya (herbivora, karnivora,
omnivora) dari kelas sebelumnya. Namun, pemahaman mereka tentang
hubungan saling ketergantungan dalam bentuk jaring-jaring makanan, alur
transfer energi, dan konsep keseimbangan ekosistem masih perlu diperdalam.
Minat Sebagian besar peserta didik memiliki minat alami terhadap dunia hewan dan
tumbuhan. Mereka tertarik pada cerita dan visual tentang alam liar, serta
permainan-permainan yang melibatkan peran. Rasa ingin tahu mereka tinggi
terhadap interaksi "makan dan dimakan" di alam.
Kebutuhan Peserta didik membutuhkan pembelajaran yang aktif dan visual. Mereka perlu
Belajar terlibat dalam simulasi, permainan peran, dan kegiatan menggambar untuk
memetakan hubungan yang kompleks. Pendekatan berbasis proyek, seperti
membuat komposter, akan membantu mereka memahami peran dekomposer
secara nyata dan membangun koneksi antara teori dengan aksi nyata peduli
lingkungan.
C. Materi Pelajaran
1. Rantai Makanan: Konsep alur makan dan dimakan serta perpindahan energi dalam satu jalur
lurus.
2. Peran Makhluk Hidup: Identifikasi peran sebagai produsen, konsumen (tingkat I, II, III), dan
dekomposer dalam suatu ekosistem.
3. Jaring-jaring Makanan: Konsep kumpulan beberapa rantai makanan yang saling berhubungan
dalam ekosistem yang lebih kompleks.
4. Transfer Energi dan Piramida Makanan: Pemahaman bahwa energi berpindah dari satu
makhluk hidup ke makhluk hidup lainnya dan jumlahnya semakin berkurang pada tingkat trofik
yang lebih tinggi, yang digambarkan dalam piramida makanan.
5. Keseimbangan Ekosistem: Analisis dampak perubahan (misalnya, punahnya satu spesies)
terhadap kestabilan jaring-jaring makanan dan ekosistem secara keseluruhan.
D. Dimensi Profil Lulusan
Dimensi Elemen yang Dikembangkan
Beriman, Bertakwa Memahami dan mensyukuri harmoni ciptaan Tuhan dalam ekosistem.
kepada Tuhan Kesadaran ini diwujudkan melalui elemen akhlak kepada alam dengan
YME, & Berakhlak bertanggung jawab mengelola sampah organik melalui proyek
Mulia pembuatan komposter.
Gotong Royong Berkolaborasi secara efektif dalam permainan peran "Jaring-jaring
Makanan", diskusi studi kasus, dan pengerjaan proyek komposter.
Peserta didik belajar untuk saling bergantung dan bekerja sama layaknya
komponen dalam ekosistem.
Bernalar Kritis Menganalisis hubungan sebab-akibat dalam jaring-jaring makanan ("Apa
yang terjadi jika populasi ular menurun?"). Peserta didik mengevaluasi
data dari simulasi transfer energi untuk menyimpulkan konsep piramida
makanan dan mengidentifikasi akar masalah ketidakseimbangan
ekosistem.
Kreatif Menghasilkan representasi visual jaring-jaring makanan yang kompleks
dan merancang solusi untuk menjaga keseimbangan ekosistem dalam
studi kasus. Peserta didik juga merancang dan membuat komposter
sederhana sebagai produk nyata.
E. Desain Pembelajaran
Komponen Deskripsi
Capaian Peserta didik menyelidiki bagaimana hubungan saling ketergantungan
Pembelajaran (CP) antarkomponen biotik-abiotik dapat memengaruhi kestabilan suatu
Elemen Pemahaman ekosistem di lingkungan sekitarnya.
IPAS
Lintas Disiplin Ilmu Bahasa Indonesia: Menuliskan analisis studi kasus, mempresentasikan
hasil diskusi kelompok, dan membuat laporan pengamatan proyek
komposter.
Matematika: Menghitung persentase energi yang ditransfer pada setiap
tingkatan trofik dalam simulasi piramida makanan.
PKN: Melakukan musyawarah dan pembagian tanggung jawab saat
mengerjakan proyek belajar.
Tujuan Pembelajaran 1. Menganalisis hubungan antarmakhluk hidup pada suatu ekosistem
Bab 2 dalam bentuk jaring-jaring makanan.
2. Mendeskripsikan proses transfer energi antarmakhluk hidup dalam
suatu ekosistem.
3. Menjelaskan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem melalui
analisis jaring-jaring makanan.
Praktik Pedagogis Model Pembelajaran: Inquiry-Based Learning, Game-Based Learning,
(Pendekatan Deep dan Project-Based Learning (PjBL).
Learning) Metode:
1. Meaningful Learning: Mengaitkan konsep rantai makanan dengan
makanan yang mereka konsumsi sehari-hari. Proyek komposter
menghubungkan peran dekomposer dengan masalah sampah organik
di sekolah atau rumah.
2. Joyful Learning: Menggunakan permainan peran "Jaring-jaring
Kehidupan" dengan benang untuk memvisualisasikan hubungan dalam
ekosistem secara interaktif dan menyenangkan.
3. Mindful Learning: Melakukan pengamatan yang cermat terhadap
detail interaksi dalam permainan peran. Melakukan refleksi tentang
bagaimana setiap tindakan (putusnya satu benang) berdampak pada
keseluruhan sistem, melatih kesadaran akan keterhubungan.
Aktivitas: Permainan peran, simulasi, analisis studi kasus, membuat
diagram/peta konsep, dan proyek pembuatan komposter.
Pemanfaatan Penggunaan video dokumenter (misalnya tentang sabana di Afrika
Teknologi Digital atau ekosistem terumbu karang) untuk menunjukkan jaring-jaring
makanan di dunia nyata. Penggunaan aplikasi sederhana untuk
membuat infografis piramida makanan (opsional).
PENGALAMAN BELAJAR (RINCIAN PER PERTEMUAN)
BLOK 1: Membangun Rantai dan Jaring-jaring Makanan (10 JP)
Pertemuan 1-2: Dari Meja Makan ke Rantai Makanan (2 JP)
● Kegiatan Awal (Meaningful Learning):
1. Guru memulai dengan pertanyaan: "Siapa yang bisa ceritakan makan malamnya kemarin?"
2. Guru memilih satu jawaban (misal: "ayam goreng dan nasi"). Lalu bertanya lanjut:
"Ayamnya makan apa? Nasinya berasal dari mana?" Diskusi ditelusuri hingga sampai pada
produsen (padi, jagung) dan sumber energi utamanya (Matahari).
● Kegiatan Inti (Inquiry & Joyful Learning):
1. Peserta didik diminta menggambarkan alur "makan dan dimakan" dari menu makan
malamnya masing-masing.
2. Guru memperkenalkan istilah Produsen dan Konsumen. Peserta didik melabeli gambar
mereka dengan istilah tersebut.
3. Bermain Peran Rantai Makanan: Guru membagi peran sederhana (Padi, Tikus, Ular,
Elang). Peserta didik yang berperan berdiri di depan dan dihubungkan dengan seutas tali
untuk menunjukkan alur energi.
● Kegiatan Penutup:
1. Refleksi: "Apa itu rantai makanan? Apa peran setiap makhluk hidup di dalamnya?"
2. Guru memperkenalkan peran Dekomposer (jamur, bakteri) sebagai "pendaur ulang" yang
mengembalikan nutrisi ke tanah. Siklus digambarkan di papan tulis.
Pertemuan 3-5: Jaring-jaring Kehidupan (8 JP)
● Kegiatan Awal:
1. Guru bertanya: "Apakah seekor ular hanya makan tikus? Apakah seekor elang hanya makan
ular?" Diskusi diarahkan pada pemahaman bahwa hewan bisa memiliki lebih dari satu jenis
makanan.
● Kegiatan Inti (Game-Based & Joyful Learning):
1. Permainan "Jaring-jaring Kehidupan":
■ Setiap peserta didik diberi satu kartu peran makhluk hidup dalam sebuah ekosistem
(misal: ekosistem sawah: padi, belalang, tikus, katak, ular, elang, jamur).
■ Peserta didik berdiri membentuk lingkaran.
■ Dimulai dari produsen (padi), peserta didik yang memegang peran "Padi" memegang
ujung gulungan benang dan melemparkan gulungan benang ke salah satu pemangsanya
(misal, "Belalang").
■ "Belalang" menangkap gulungan benang, menahan benangnya, lalu melemparkannya ke
pemangsanya (misal, "Katak"), dan seterusnya.
■ Proses ini terus berlanjut hingga semua hubungan makan-dimakan terhubung,
menciptakan visualisasi jaring benang yang kusut.
2. Setelah jaring terbentuk, guru memberikan studi kasus: "Terjadi perburuan liar sehingga
semua katak di sawah ini hilang." Peserta didik yang berperan sebagai "Katak" diminta
melepaskan semua benang yang ia pegang.
3. Diskusi dan Analisis: "Apa yang terjadi pada jaring-jaring kita? Siapa yang kehilangan
makanan? Populasi siapa yang akan meledak karena tidak ada pemangsa?"
● Kegiatan Penutup (Meaningful Learning):
1. Secara berkelompok, peserta didik menggambar jaring-jaring makanan dari ekosistem yang
tadi diperankan di atas kertas karton.
2. Setiap kelompok memajang karyanya (Gallery Walk) dan saling mengamati jaring-jaring
makanan kelompok lain.
BLOK 2: Aliran Energi dan Keseimbangan (9 JP)
Pertemuan 6-8: Piramida Energi (6 JP)
● Kegiatan Awal:
1. Guru bertanya, "Ketika seekor elang makan ular, apakah seluruh energi dari tubuh ular
pindah ke elang?"
● Kegiatan Inti (Inquiry & Meaningful Learning):
1. Simulasi Transfer Energi:
■ Setiap kelompok diberi 100 buah batu/kancing sebagai representasi 100% energi pada
produsen (Padi). Batu diletakkan di wadah berlabel "Produsen".
■ Guru menjelaskan bahwa 90% energi digunakan untuk hidup, hanya 10% yang
tersimpan. Kelompok mengambil 90 batu dari wadah "Produsen". Sisa 10 batu.
■ "Konsumen I" (Tikus) memakan produsen. 10 batu sisa dipindahkan ke wadah
"Konsumen I".
■ Proses berulang, 90% dari 10 batu (9 batu) diambil untuk kebutuhan hidup tikus. Sisa 1
batu.
■ "Konsumen II" (Ular) memakan tikus. 1 batu sisa dipindahkan ke wadah "Konsumen II".
2. Diskusi: "Siapakah yang memiliki energi paling banyak? Siapakah yang paling sedikit?
Menurut kalian, populasi manakah yang seharusnya paling banyak di alam? Mengapa?"
3. Guru memperkenalkan Piramida Makanan sebagai cara menggambarkan hubungan jumlah
energi dan populasi di setiap tingkatan.
● Kegiatan Penutup:
1. Peserta didik menggambar piramida makanan berdasarkan jaring-jaring makanan yang telah
mereka buat sebelumnya.
Pertemuan 9-11: Menjaga Harmoni (5 JP)
● Kegiatan Awal:
1. Guru menyajikan sebuah berita singkat (studi kasus) tentang ledakan hama wereng di suatu
daerah pertanian.
● Kegiatan Inti (Problem-Based Learning):
1. Secara berkelompok, peserta didik menganalisis masalah tersebut. "Menggunakan konsep
jaring-jaring makanan, coba jelaskan mengapa hama wereng bisa meledak populasinya? Apa
yang mungkin terjadi pada predator alaminya?"
2. Kelompok diminta untuk merumuskan solusi ekologis (bukan pestisida kimia) untuk
mengembalikan keseimbangan ekosistem di sawah tersebut (contoh: melepaskan predator
alami seperti laba-laba atau capung).
3. Setiap kelompok mempresentasikan analisis dan solusinya.
● Kegiatan Penutup:
1. Refleksi: "Apa peran manusia dalam menjaga keseimbangan ekosistem?"
BLOK 3: Proyek Belajar dan Asesmen (8 JP)
Pertemuan 12-14: Proyek "Dapur Kompos Sekolah" (6 JP)
● Kegiatan Awal:
1. Guru mengangkat isu sampah sisa makanan di kantin sekolah. "Ke mana perginya sisa
makanan ini? Siapa yang seharusnya 'memakan' sisa makanan ini di alam?" (Mengarahkan ke
peran dekomposer).
● Kegiatan Inti (Project-Based Learning):
1. Perencanaan: Guru memperkenalkan proyek membuat komposter sederhana di sekolah
untuk mengolah sampah organik.
2. Pembagian Tugas: Kelas dibagi menjadi tim-tim: Tim Desain & Pembuatan Wadah, Tim
Pengumpul Sampah Organik (dari kantin/daun kering), Tim Pencatat & Pengamat, Tim
Edukasi (membuat poster cara memilah sampah).
3. Pelaksanaan: Selama beberapa minggu (melintasi pertemuan), peserta didik menjalankan
perannya masing-masing. Tim pengamat secara berkala memeriksa dan mengaduk kompos.
● Kegiatan Penutup (sesi ini):
1. Perwakilan setiap tim melaporkan kemajuan dan rencana kerja untuk minggu berikutnya.
Pertemuan 15: Panen Kompos dan Uji Pemahaman (2 JP)
● Kegiatan Inti:
1. Panen dan Aplikasi: Jika kompos sudah jadi, peserta didik "memanen" dan
menggunakannya untuk memupuk tanaman di taman sekolah. Ini secara nyata menunjukkan
siklus nutrisi kembali ke produsen.
2. Uji Pemahaman: Peserta didik mengerjakan soal-soal Uji Pemahaman Bab 2 secara
individu.
● Kegiatan Penutup:
1. Refleksi akhir bab tentang siklus kehidupan dan peran mereka di dalamnya.
ASESMEN
Jenis Asesmen Teknik dan Instrumen
Asesmen Awal Gambar dan diskusi awal tentang "alur makanan" dari menu makan
(Diagnostik) malam untuk melihat pemahaman awal konsep rantai makanan.
Asesmen Formatif - Observasi: Rubrik pengamatan partisipasi aktif dalam permainan
(Proses) "Jaring-jaring Kehidupan" dan diskusi studi kasus.
- Penilaian Kinerja: Menilai keakuratan diagram jaring-jaring makanan
dan piramida makanan yang dibuat kelompok.
- Penilaian Lisan: Tanya jawab selama simulasi transfer energi untuk
mengecek pemahaman konsep.
Asesmen Sumatif - Proyek: Penilaian proyek "Dapur Kompos Sekolah" melalui rubrik yang
(Akhir Bab) menilai proses (kolaborasi, tanggung jawab) dan produk (fungsi
komposter, poster edukasi).
- Tes Tertulis: Penilaian hasil Uji Pemahaman untuk mengukur
penguasaan konsep individual.
PENGAYAAN DAN REMEDIAL
● Pengayaan:
○ Peserta didik yang cepat paham dapat melakukan riset kecil tentang satu hewan endemik
Indonesia (misal: Komodo atau Cendrawasih), lalu menjelaskan posisinya dalam jaring-
jaring makanan di habitat aslinya dan ancaman yang dihadapinya.
○ Menganalisis dampak masuknya spesies invasif (contoh: ikan sapu-sapu di sungai) terhadap
ekosistem lokal.
● Remedial:
○ Bagi peserta didik yang masih bingung, guru dapat memberikan kartu-kartu gambar
hewan/tumbuhan dan meminta mereka untuk menyusun rantai makanan sederhana secara
fisik.
○ Mengulang simulasi transfer energi dengan bimbingan yang lebih intensif dalam kelompok
kecil.
○ Menonton video animasi tentang rantai makanan dan piramida energi.
REFLEKSI DIRI
Refleksi Peserta Didik
1. Apa hubungan antara aku, ayam goreng yang aku makan, dan Matahari?
2. Menurutmu, mengapa menjaga satu jenis hewan saja (misal: elang) penting untuk seluruh
ekosistem sawah?
3. Setelah membuat kompos, apa yang aku pahami tentang peran 'makhluk hidup kecil' yang tidak
terlihat di tanah?
4. Apa satu hal kecil yang bisa aku lakukan setiap hari untuk membantu menjaga harmoni dalam
ekosistem di sekitarku?
Refleksi Pendidik
1. Apakah permainan "Jaring-jaring Kehidupan" berhasil membuat konsep yang abstrak menjadi
konkret dan mudah dipahami oleh peserta didik?
2. Bagaimana tingkat kolaborasi peserta didik dalam proyek komposter? Adakah kelompok yang
membutuhkan lebih banyak bimbingan dalam manajemen tugas?
3. Apakah peserta didik mampu mengaitkan konsep teoritis (dekomposer) dengan aksi nyata
(membuat kompos)?
4. Untuk pembelajaran berikutnya, bagaimana saya bisa lebih mengintegrasikan pengamatan
ekosistem nyata di lingkungan sekolah?
Muntilan, 12 Juli 2025
Mengetahui,
Kepala SD Terpadu Ma’arif Gunungpring Guru Kelas V D
Fitri Haryanti, [Link] Rachmawati Lestyaningsih, [Link]
INFORMASI UMUM
A. Identitas Modul
Nama Penyusun Rachmawati Lestyaningsih, [Link]
Satuan Pendidikan SD Terpadu Ma’arif Gunungpring
Tahun Ajaran 2025/2026
Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS)
Kelas/Fase V/C
Bab 3 (Tiga)
Topik Magnet, Listrik, dan Teknologi untuk Kehidupan
Alokasi Waktu 27 JP (disesuaikan dari buku panduan)
B. Identifikasi Murid
Kategori Deskripsi
Pengetahuan Peserta didik telah mengenal konsep energi dan perubahannya dari kelas 4.
Awal Mereka mungkin pernah bermain dengan magnet (misalnya magnet kulkas) dan
akrab dengan penggunaan listrik dalam kehidupan sehari-hari (menyalakan
lampu, TV). Namun, pemahaman mereka tentang konsep gaya magnet, medan
magnet, rangkaian listrik, dan bagaimana keduanya menjadi dasar dari banyak
teknologi masih sangat terbatas dan perlu dibangun secara konseptual.
Minat Peserta didik sangat tertarik dengan kegiatan "ajaib" seperti benda yang bergerak
tanpa disentuh (magnet) dan lampu yang bisa menyala. Minat mereka tinggi
pada aktivitas bongkar-pasang dan percobaan yang menghasilkan efek nyata.
Mereka juga ingin tahu "isi" dari peralatan elektronik dan cara kerjanya.
Kebutuhan Peserta didik membutuhkan pembelajaran berbasis eksperimen (hands-on).
Belajar Mereka perlu kesempatan untuk "bermain" dengan magnet dan komponen listrik
secara aman untuk menemukan sendiri sifat-sifatnya. Menghubungkan konsep
abstrak (arus listrik, medan magnet) dengan benda-benda teknologi yang mereka
kenal (bel listrik, kipas angin) sangat penting untuk membangun pembelajaran
yang bermakna.
C. Materi Pelajaran
1. Sifat-sifat Magnet: Magnet memiliki dua kutub (Utara dan Selatan), dapat menarik benda-benda
feromagnetik, gaya tarik terkuat ada di kutubnya, dan kutub senama tolak-menolak sedangkan
kutub tak senama tarik-menarik.
2. Medan Magnet: Konsep area di sekitar magnet yang masih dipengaruhi oleh gaya magnet.
3. Membuat Magnet: Cara membuat magnet sederhana melalui induksi, gosokan, dan aliran listrik
(elektromagnet).
4. Energi Listrik dan Rangkaian Sederhana: Konsep sumber energi listrik (baterai), konduktor
dan isolator, serta komponen rangkaian listrik sederhana (sumber, kabel, saklar, beban/lampu).
Rangkaian seri dan paralel.
5. Teknologi dan Perubahan Energi: Identifikasi peralatan sehari-hari yang memanfaatkan energi
listrik dan magnet, serta perubahan energi yang terjadi (listrik ke cahaya, listrik ke gerak, listrik
ke bunyi).
D. Dimensi Profil Lulusan
Dimensi Elemen yang Dikembangkan
Beriman, Bertakwa Mensyukuri akal dan kemampuan manusia yang diberi oleh Tuhan untuk
kepada Tuhan menemukan dan memanfaatkan fenomena alam (magnetisme, listrik)
YME, & Berakhlak menjadi teknologi yang mempermudah kehidupan, dengan kesadaran
Mulia untuk menggunakannya secara bijak dan aman.
Gotong Royong Berkolaborasi dalam kelompok untuk merancang dan membangun
rangkaian listrik sederhana. Saling membantu saat menghadapi kesulitan
teknis dan berbagi tugas dalam proyek pembuatan elektromagnet.
Bernalar Kritis Menganalisis hasil percobaan untuk menyimpulkan sifat-sifat magnet
dan syarat menyalanya lampu dalam sebuah rangkaian. Mengidentifikasi
hubungan sebab-akibat ("Mengapa lampu tidak menyala jika kabel
terputus?") dan memecahkan masalah (troubleshooting) pada rangkaian
yang gagal.
Kreatif Menghasilkan ide-ide untuk membuat elektromagnet yang lebih kuat
dengan memodifikasi jumlah lilitan atau baterai. Merancang sebuah alat
sederhana yang berfungsi menggunakan prinsip elektromagnet (misalnya
bel listrik sederhana) sebagai proyek akhir.
E. Desain Pembelajaran
Komponen Deskripsi
Capaian Berdasarkan pemahamannya terhadap konsep gelombang (bunyi dan
Pembelajaran (CP) cahaya), peserta didik mendemonstrasikan bagaimana penerapannya
Elemen Pemahaman dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik mendeskripsikan adanya
IPAS ancaman krisis energi yang dapat terjadi serta mengusulkan upaya-upaya
individu maupun kolektif yang dapat dilakukan untuk menghemat
penggunaan energi. (Modul ini fokus pada pemahaman dasar listrik dan
magnet sebagai fondasi konsep energi).
Lintas Disiplin Ilmu Bahasa Indonesia: Menulis laporan percobaan dengan struktur yang
benar (tujuan, alat & bahan, langkah kerja, hasil, kesimpulan).
Matematika: Menggunakan logika untuk merancang rangkaian seri dan
paralel.
Seni Budaya dan Prakarya (SBdP): Merancang dan membuat produk
teknologi sederhana (bel listrik) dengan memperhatikan aspek fungsi dan
estetika.
Tujuan 1. Memanfaatkan gaya magnet untuk menjelaskan cara kerja teknologi
Pembelajaran Bab 3 sederhana.
2. Merancang dan membuat rangkaian listrik sederhana untuk
menyalakan lampu.
3. Mengidentifikasi perubahan energi yang terjadi pada perangkat
teknologi yang memanfaatkan listrik dan magnet.
Praktik Pedagogis Model Pembelajaran: Inquiry-Based Learning dan Project-Based
(Pendekatan Deep Learning (PjBL).
Learning) Metode:
1. Meaningful Learning: Mengaitkan sifat magnet dengan cara kerja
kompas atau pintu kulkas. Menghubungkan rangkaian listrik dengan
instalasi lampu di rumah.
2. Joyful Learning: Pembelajaran didominasi oleh eksperimen dan
"permainan" eksplorasi sifat magnet dan listrik. Membuat proyek yang
"bekerja" (lampu menyala, bel berbunyi) memberikan kepuasan dan
kebahagiaan belajar.
3. Mindful Learning: Melatih fokus dan pengamatan yang teliti saat
melakukan percobaan, misalnya mengamati pola serbuk besi di sekitar
magnet atau mencari titik masalah pada rangkaian yang tidak berfungsi.
Refleksi tentang "kegagalan" dalam percobaan sebagai bagian dari
proses belajar.
Aktivitas: Eksperimen, perancangan dan pembuatan rangkaian,
troubleshooting, dan proyek pembuatan alat sederhana.
Pemanfaatan Penggunaan video simulasi untuk menunjukkan medan magnet (yang tak
Teknologi Digital kasat mata) dan aliran elektron dalam kabel. Bisa juga untuk
menunjukkan cara kerja motor listrik secara sederhana.
PENGALAMAN BELAJAR (RINCIAN PER PERTEMUAN)
BLOK 1: Keajaiban Magnet (8 JP)
Pertemuan 1-3: Menjelajahi Sifat Magnet (6 JP)
● Kegiatan Awal (Joyful Learning):
1. Guru memberikan setiap kelompok sebuah magnet batang dan sekumpulan benda (paku, klip
kertas, penghapus, pensil, koin, potongan kertas).
2. Tantangan: "Pisahkan benda-benda yang bisa ditarik magnet dan yang tidak!"
● Kegiatan Inti (Inquiry-Based Learning):
1. Eksperimen 1 (Kutub Magnet): Peserta didik mencoba mendekatkan dua magnet dengan
berbagai posisi (U-U, S-S, U-S). Mereka mencatat dan menyimpulkan apa yang terjadi.
2. Eksperimen 2 (Medan Magnet): Letakkan magnet batang di bawah selembar kertas HVS.
Taburkan serbuk besi secara merata di atas kertas. Ketuk kertas perlahan. Peserta didik
mengamati dan menggambar pola yang terbentuk. Guru memperkenalkan konsep Medan
Magnet.
3. Eksperimen 3 (Membuat Magnet): Secara berkelompok, peserta didik mencoba membuat
paku menjadi magnet sementara dengan tiga cara: menggosok satu arah dengan magnet,
menempelkan (induksi), dan melilitkan kabel yang terhubung ke baterai (elektromagnet).
Mereka menguji "kekuatan" paku magnet mereka dengan mencoba mengangkat klip kertas.
● Kegiatan Penutup:
1. Diskusi kelas untuk menyimpulkan semua sifat magnet yang telah ditemukan.
2. Refleksi: "Di benda apa saja di sekitar kita yang menggunakan magnet?" (Pintu kulkas,
kompas, tas, tempat pensil).
Pertemuan 4: Proyek Kompas Sederhana (2 JP)
● Kegiatan Awal: Guru menunjukkan kompas sungguhan. "Mengapa jarumnya selalu menunjuk ke
arah yang sama?"
● Kegiatan Inti (Project-Based Learning):
1. Peserta didik ditantang membuat kompas sederhana menggunakan jarum/silet,
gabus/sterofoam kecil, dan semangkuk air.
2. Langkah-langkah: Jadikan jarum sebagai magnet (dengan cara digosok), letakkan jarum di
atas gabus, apungkan di atas air. Amati arah yang ditunjuk jarum.
adalah magnet raksasa).
BLOK 2: Menyalakan Dunia dengan Listrik (11 JP)
Pertemuan 5-7: Merakit Rangkaian Listrik (7 JP)
● Kegiatan Awal (Meaningful Learning): "Bagaimana lampu di kelas ini bisa menyala? Apa saja
yang dibutuhkan?"
● Kegiatan Inti (Inquiry & Joyful Learning):
1. Guru memperkenalkan komponen: baterai (sumber), kabel (penghantar), lampu kecil
(beban), dan saklar (pemutus/penyambung).
2. Tantangan Pertama (Rangkaian Terbuka vs Tertutup): Setiap kelompok diberi 1 baterai,
1 lampu, dan 2 kabel. Tugas mereka adalah mencari cara agar lampu menyala.
3. Diskusi: "Mengapa lampu menyala pada susunan tertentu dan tidak pada susunan lain?" Guru
memperkenalkan konsep rangkaian tertutup dan rangkaian terbuka.
4. Tantangan Kedua (Konduktor vs Isolator): Kelompok mencoba menyisipkan berbagai
benda (klip kertas, penghapus, kayu, sendok logam) untuk memutus rangkaian. Mereka
mengelompokkan benda yang tetap membuat lampu menyala (konduktor) dan yang tidak
(isolator).
5. Tantangan Ketiga (Seri vs Paralel): Guru memberikan 1 baterai dan 2 lampu. Kelompok
ditantang untuk menyusun rangkaian di mana jika satu lampu dilepas, lampu lain ikut padam
(seri). Kemudian, mereka ditantang menyusun rangkaian di mana jika satu lampu dilepas,
lampu lain tetap menyala (paralel).
● Kegiatan Penutup:
1. Setiap kelompok menggambar skema rangkaian seri dan paralel yang berhasil mereka buat.
2. Refleksi: "Di rumah kita, rangkaian listriknya lebih mirip seri atau paralel? Mengapa?"
Pertemuan 8-9: Proyek Bel Listrik Sederhana (4 JP)
● Kegiatan Awal: Guru memperlihatkan gambar atau video cara kerja bel listrik.
● Kegiatan Inti (Project-Based Learning):
1. Peserta didik menggabungkan pengetahuan tentang elektromagnet dan rangkaian listrik.
2. Tantangan: Membuat sebuah alat yang dapat menghasilkan bunyi "klik" ketika saklar
ditekan, menggunakan paku yang dililit kawat (elektromagnet), baterai, saklar, dan sebuah
lempengan logam kecil.
3. Guru membimbing proses perancangan dan pembuatan. Fokusnya adalah pada proses
troubleshooting dan pemecahan masalah.
● Kegiatan Penutup:
1. Demonstrasi bel listrik sederhana buatan setiap kelompok.
2. Diskusi tentang perubahan energi yang terjadi (listrik -> magnet -> gerak -> bunyi).
BLOK 3: Teknologi di Sekitar Kita dan Asesmen (8 JP)
Pertemuan 10-12: Berburu Teknologi (6 JP)
● Kegiatan Awal: "Selain bel, alat apa lagi yang menggunakan listrik dan menghasilkan gerak atau
bunyi?"
● Kegiatan Inti (Inquiry-Based Learning):
1. Peserta didik melakukan "Perburuan Teknologi" di lingkungan sekolah.
2. Mereka membuat daftar peralatan elektronik yang mereka temukan (kipas angin, speaker,
proyektor, dll).
3. Secara berkelompok, mereka memilih satu alat dan menganalisisnya: Apa sumber energinya?
Apa perubahan energi yang terjadi? Apa kira-kira komponen utama di dalamnya (motor,
pemanas, dll)?
4. Kelompok membuat poster sederhana tentang alat yang mereka pilih.
● Kegiatan Penutup:
1. Setiap kelompok mempresentasikan hasil analisisnya dalam sesi "Pameran Teknologi".
Pertemuan 13-14: Refleksi dan Uji Pemahaman (2 JP)
● Kegiatan Inti:
1. Uji Pemahaman: Peserta didik mengerjakan soal-soal dari buku secara individu.
● Kegiatan Penutup:
1. Refleksi akhir bab: "Bagaimana magnet dan listrik telah mengubah cara hidup manusia?"
ASESMEN
Jenis Asesmen Teknik dan Instrumen
Asesmen Awal Tanya jawab awal tentang pengalaman bermain magnet dan penggunaan
(Diagnostik) alat listrik untuk mengetahui pemahaman awal.
- Penilaian Kinerja: Rubrik penilaian saat merakit rangkaian listrik
(kemampuan troubleshooting, kolaborasi, keberhasilan menyalakan
lampu seri & paralel).
Asesmen Formatif
- Catatan Anekdotal: Mengamati proses percobaan membuat magnet dan
(Proses)
mencatat pemahaman konsep yang diungkapkan peserta didik.
- Produk: Menilai gambar skema rangkaian dan poster "Perburuan
Teknologi".
- Proyek: Penilaian proyek "Bel Listrik Sederhana" menggunakan rubrik
yang menilai fungsi alat, pemahaman konsep elektromagnet, dan
Asesmen Sumatif
kreativitas.
(Akhir Bab)
- Tes Tertulis: Penilaian hasil Uji Pemahaman untuk mengukur
penguasaan konsep individual.
PENGAYAAN DAN REMEDIAL
● Pengayaan:
○ Mencoba membuat motor listrik sederhana menggunakan baterai, magnet, dan kawat email.
○ Melakukan riset tentang sumber energi listrik alternatif (panel surya, kincir angin) dan
membuat model sederhananya.
○ Menyelidiki cara kerja kereta maglev.
● Remedial:
○ Mengulang kembali tantangan merakit rangkaian listrik tertutup dengan bimbingan guru yang
lebih intensif.
○ Menggunakan aplikasi simulasi rangkaian listrik (seperti PhET) untuk membantu
memvisualisasikan aliran listrik.
○ Fokus pada satu cara membuat magnet (misalnya menggosok) hingga benar-benar paham
sebelum mencoba cara lain.
REFLEKSI DIRI
Refleksi Peserta Didik
1. Apa hal paling mengejutkan yang aku temukan tentang magnet?
2. Saat rangkaian listrikku tidak menyala, langkah apa yang aku lakukan untuk memperbaikinya?
3. Menurutku, teknologi apa yang paling penting yang menggunakan listrik? Mengapa?
4. Apa yang akan terjadi jika tiba-tiba tidak ada listrik selama satu hari di rumahku?
Refleksi Pendidik
1. Apakah semua kelompok berhasil menyelesaikan tantangan rangkaian seri dan paralel? Di bagian
mana mereka paling banyak mengalami kesulitan?
2. Seberapa besar peran guru sebagai fasilitator dibutuhkan dalam proyek "Bel Listrik"? Apakah
instruksi sudah cukup jelas?
3. Apakah kegiatan "Berburu Teknologi" efektif untuk membuat peserta didik mengaitkan konsep di
kelas dengan dunia nyata?
4. Bagaimana saya bisa mengelola logistik (pembagian alat dan bahan) secara lebih efektif pada
pembelajaran berikutnya?
Muntilan, 12 Juli 2025
Mengetahui,
Kepala SD Terpadu Ma’arif Gunungpring Guru Kelas V D
Fitri Haryanti, [Link] Rachmawati Lestyaningsih, [Link]
INFORMASI UMUM
A. Identitas Modul
Nama Penyusun Rachmawati Lestyaningsih, [Link]
Satuan Pendidikan SD Terpadu Ma’arif Gunungpring
Tahun Ajaran 2025/2026
Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS)
Kelas/Fase V/C
Bab 4 (Empat)
Topik Ayo Berkenalan dengan Bumi Kita
Alokasi Waktu 24 JP (disesuaikan dari buku panduan)
B. Identifikasi Murid
Kategori Deskripsi
Pengetahuan Peserta didik memiliki pengetahuan umum tentang kenampakan alam di
Awal sekitarnya (gunung, sungai, laut) dari pengalaman sehari-hari dan pelajaran kelas
sebelumnya. Mereka mungkin pernah mendengar tentang gempa bumi atau
gunung meletus dari berita. Namun, pemahaman mereka tentang struktur internal
Bumi, konsep lempeng tektonik sebagai penyebab perubahan, dan proses siklus
air secara ilmiah masih sangat dasar.
Minat Minat peserta didik tinggi terhadap fenomena alam yang dahsyat dan dramatis
(gunung meletus, tsunami). Mereka juga tertarik pada kegiatan membuat model
tiga dimensi dan menggambar peta. Rasa ingin tahu mereka dapat dipantik
dengan pertanyaan "Mengapa bentuk Bumi tidak rata?" atau "Dari mana
datangnya air hujan?".
Kebutuhan Peserta didik membutuhkan visualisasi dan simulasi untuk memahami konsep-
Belajar konsep yang abstrak dan berskala besar (seperti pergerakan lempeng).
Pembelajaran harus dikontekstualisasikan dengan lingkungan sekitar mereka
(misalnya, mengidentifikasi bentuk lahan di sekitar sekolah). Kegiatan
wawancara dengan generasi yang lebih tua dapat menjadi jembatan untuk
memahami konsep perubahan lingkungan dari waktu ke waktu.
C. Materi Pelajaran
1. Struktur dan Relief Permukaan Bumi: Konsep litosfer (daratan), hidrosfer (perairan), dan
atmosfer. Pengenalan bentuk-bentuk relief daratan (gunung, bukit, lembah, dataran) dan perairan
(sungai, danau, laut).
2. Perubahan Permukaan Bumi: Pemahaman bahwa permukaan Bumi dinamis dan selalu
berubah, baik karena faktor alam maupun aktivitas manusia.
3. Siklus Air: Proses evaporasi, kondensasi, dan presipitasi sebagai sebuah siklus yang
berkesinambungan.
4. Lempeng Tektonik dan Fenomena Alam: Pengenalan konsep lempeng Bumi yang bergerak.
Keterkaitan antara pergerakan lempeng dengan terjadinya gempa bumi dan gunung meletus.
D. Dimensi Profil Lulusan
Dimensi Elemen yang Dikembangkan
Beriman, Bertakwa Mensyukuri keindahan dan kekayaan bentang alam Indonesia sebagai
kepada Tuhan YME, ciptaan Tuhan. Kesadaran ini diwujudkan melalui elemen akhlak
& Berakhlak Mulia kepada alam, yaitu memahami dampak aktivitas manusia terhadap
perubahan lingkungan dan pentingnya menjaga kelestarian Bumi.
Gotong Royong Berkolaborasi secara efektif dalam kelompok saat membuat maket tiga
dimensi, melakukan simulasi pergerakan lempeng, dan saat melakukan
presentasi galeri berjalan (walking gallery).
Bernalar Kritis Menganalisis hasil wawancara untuk menyimpulkan perubahan
lingkungan yang terjadi di daerahnya. Menghubungkan sebab-akibat
antara pergerakan lempeng (simulasi) dengan fenomena gempa bumi.
Mengevaluasi dampak perubahan lingkungan terhadap kehidupan.
Kreatif Menghasilkan produk visual berupa peta lingkungan sekitar dan maket
tiga dimensi yang merepresentasikan pemahaman mereka tentang relief
Bumi. Merancang simulasi sederhana untuk menjelaskan konsep yang
kompleks.
E. Desain Pembelajaran
Komponen Deskripsi
Capaian Peserta didik merefleksikan bagaimana perubahan kondisi alam di
Pembelajaran (CP) permukaan Bumi terjadi akibat faktor alam maupun perbuatan manusia,
Elemen Pemahaman mengidentifikasi pola hidup yang menyebabkan terjadinya
IPAS permasalahan lingkungan serta memprediksi dampaknya terhadap
kondisi sosial kemasyarakatan dan ekonomi.
Lintas Disiplin Ilmu Bahasa Indonesia: Melakukan wawancara dengan narasumber,
menyusun pertanyaan, dan menuliskan laporan hasil wawancara.
Mempresentasikan hasil karya.
Seni Budaya dan Prakarya (SBdP): Merancang dan membuat maket tiga
dimensi bentang alam dengan memperhatikan estetika dan detail.
Geografi/IPS: Menggunakan konsep pemetaan dasar dan
mengidentifikasi kenampakan alam.
Tujuan 1. Mengidentifikasi struktur lapisan Bumi (litosfer, hidrosfer, atmosfer)
Pembelajaran Bab 4 dan kenampakan alam yang ada.
2. Menjelaskan terjadinya siklus air dan perubahan di permukaan Bumi
karena faktor alam dan manusia.
3. Mendemonstrasikan proses pergerakan lempeng Bumi sebagai
penyebab gempa dan erupsi gunung.
Praktik Pedagogis Model Pembelajaran: Inquiry-Based Learning, Experiential Learning,
(Pendekatan Deep dan Project-Based Learning (PjBL).
Learning) Metode:
1. Meaningful Learning: Memulai pembelajaran dengan mengobservasi
dan memetakan lingkungan nyata di sekitar sekolah. Wawancara
dengan warga sekolah/keluarga membuat konsep "perubahan" menjadi
personal dan bermakna.
2. Joyful Learning: Belajar melalui pembuatan model dan maket yang
kreatif (plastisin, bubur kertas). Melakukan simulasi "gempa bumi"
sederhana yang interaktif.
3. Mindful Learning: Melatih kepekaan dan kesadaran terhadap
lingkungan melalui kegiatan observasi di luar kelas. Melakukan refleksi
tentang perubahan yang terjadi, baik yang terlihat maupun tidak, dan
bagaimana perasaan mereka terhadap perubahan tersebut.
Aktivitas: Observasi lingkungan, pemetaan, wawancara, simulasi,
pembuatan model dan maket.
Pemanfaatan Menggunakan Google Earth atau video drone untuk menunjukkan
Teknologi Digital berbagai macam relief permukaan Bumi dari sudut pandang yang
berbeda. Menampilkan video animasi tentang pergerakan lempeng
tektonik dan siklus air.
PENGALAMAN BELAJAR (RINCIAN PER PERTEMUAN)
BLOK 1: Mengenal Wajah Bumi Kita (5 JP)
Pertemuan 1-2: Peta Lingkunganku (3 JP)
● Kegiatan Awal (Joyful & Mindful Learning):
1. Guru mengajak peserta didik ke luar kelas (halaman sekolah). "Coba pejamkan mata dan
rasakan. Apakah tanah yang kalian pijak datar sempurna? Lihat ke sekeliling, adakah daerah
yang lebih tinggi atau lebih rendah dari tempat kita berdiri sekarang?"
2. Diskusi awal tentang bentuk permukaan Bumi yang tidak rata.
● Kegiatan Inti (Inquiry & Meaningful Learning):
1. Guru memperkenalkan istilah litosfer (daratan) dan hidrosfer (perairan) serta contoh
reliefnya (gunung, sungai, dll).
2. Secara berkelompok, peserta didik diberi tugas untuk membuat peta lingkungan sekitar
sekolah.
3. Mereka berjalan mengobservasi area yang telah ditentukan untuk kelompoknya, lalu
menggambar denah sekolah dan menambahkan simbol-simbol untuk kenampakan alam yang
mereka temukan (misal: selokan sebagai sungai kecil, taman sebagai dataran, gundukan
tanah sebagai bukit).
4. Setiap kelompok mempresentasikan petanya dan menjelaskan kenampakan litosfer dan
hidrosfer yang mereka temukan.
● Kegiatan Penutup:
1. Guru memperkenalkan istilah atmosfer sebagai lapisan udara yang menyelimuti Bumi.
2. Refleksi: "Ternyata, di lingkungan sekecil sekolah pun, kita bisa menemukan bentuk-bentuk
'wajah' Bumi."
Pertemuan 3: Bumi yang Terus Berubah (2 JP)
● Kegiatan Awal: Guru menunjukkan foto lama sekolah atau lingkungan sekitar (jika ada).
"Menurut kalian, apakah sekolah kita 20 tahun yang lalu sama seperti sekarang?"
● Kegiatan Inti (Meaningful Learning):
1. Wawancara Sejarah Lingkungan: Peserta didik diberi tugas untuk mewawancarai
narasumber (guru senior, penjaga sekolah, atau orang tua di rumah) tentang perubahan
lingkungan yang terjadi di sekitar sekolah/rumah dalam 10-20 tahun terakhir.
2. Pertanyaan kunci: "Dulu di sini ada apa saja? Bangunan apa yang baru? Apakah dulu ada
sawah/kebun? Mengapa berubah?"
3. Di kelas, peserta didik berbagi hasil wawancaranya. Guru membantu menyimpulkan bahwa
lingkungan selalu berubah karena aktivitas manusia (pembangunan).
● Kegiatan Penutup:
1. Diskusi: "Selain karena manusia, adakah cara lain Bumi bisa berubah?" (Mengarahkan ke
faktor alam).
BLOK 2: Kekuatan dari Dalam Bumi (11 JP)
Pertemuan 4-6: Simulasi Gempa Bumi (6 JP)
● Kegiatan Awal: Guru menunjukkan gambar atau video singkat tentang dampak gempa bumi.
"Mengapa tanah bisa bergetar hebat seperti ini?"
● Kegiatan Inti (Inquiry & Joyful Learning):
1. Guru memperkenalkan konsep lempeng tektonik secara sederhana: "Bayangkan kerak Bumi
itu seperti kepingan puzzle raksasa yang mengapung dan terus bergerak."
2. Simulasi Pergerakan Lempeng:
■ Setiap kelompok menyiapkan wadah (kardus), dua lembar kain, dan tanah/pasir.
■ Letakkan dua kain berdampingan di dasar wadah, dengan ujungnya menjulur keluar.
■ Tutupi kain dengan lapisan tanah yang cukup tebal.
■ Letakkan beberapa "rumah" dari kertas di atas permukaan tanah.
■ Satu anggota menarik kedua ujung kain secara perlahan dengan arah berlawanan. Amati
apa yang terjadi pada tanah dan rumah-rumahan.
■ Ulangi dengan gerakan kain yang saling mendekat (tabrakan) dan saling bergeser.
3. Diskusi kelompok: "Gerakan kain mana yang paling merusak? Apa yang terjadi pada tanah
saat kain bertabrakan (membentuk 'gunung')? Apa hubungan simulasi ini dengan gempa
bumi nyata?"
● Kegiatan Penutup:
1. Setiap kelompok menyimpulkan bahwa pergerakan lempeng dapat menyebabkan gempa
bumi dan mengubah bentuk permukaan tanah.
2. Refleksi: "Bagaimana perasaan kalian jika mengalami gempa sungguhan? Apa yang harus
dilakukan?"
Pertemuan 7-8: Dari Mana Datangnya Hujan? (5 JP)
● Kegiatan Awal: Guru bertanya, "Setelah hujan, terkadang kita melihat genangan air. Ke mana
perginya air itu setelah beberapa saat? Lalu dari mana lagi datangnya hujan?"
● Kegiatan Inti (Inquiry-Based Learning):
1. Demonstrasi Siklus Air Sederhana:
■ Guru memanaskan semangkuk air (di atas kompor/pemanas spiritus yang aman).
■ Tutup mangkuk dengan piring kaca/bening yang di atasnya sudah diletakkan beberapa es
batu.
■ Peserta didik mengamati uap air yang naik (evaporasi), kemudian menempel di bagian
bawah piring yang dingin dan membentuk titik-titik air (kondensasi).
■ Ketika titik-titik air sudah cukup banyak dan berat, mereka akan jatuh kembali ke dalam
mangkuk seperti hujan (presipitasi).
2. Peserta didik menggambar skema siklus air berdasarkan demonstrasi dan penjelasan guru,
menambahkan komponen seperti Matahari, awan, gunung, dan laut.
● Kegiatan Penutup:
1. Diskusi: "Mengapa siklus air penting bagi kehidupan di Bumi?"
BLOK 3: Proyek Maket dan Asesmen (8 JP)
Pertemuan 9-13: Proyek "Bentang Alam Daerahku" (6 JP)
● Kegiatan Awal: Guru menampilkan kembali peta Indonesia. "Setiap daerah di Indonesia punya
bentang alam yang unik. Bagaimana kita bisa menunjukkannya kepada teman dari daerah lain?"
● Kegiatan Inti (Project-Based Learning):
1. Perencanaan: Peserta didik secara berkelompok merencanakan pembuatan maket tiga
dimensi dari sebuah bentang alam yang ada di daerah mereka (atau daerah lain di Indonesia
yang mereka pilih).
2. Pembuatan Maket: Menggunakan bahan seperti kardus bekas, plastisin, atau bubur kertas,
peserta didik mulai membentuk relief daratan dan perairan sesuai rencana. Mereka harus
menunjukkan minimal 2-3 bentuk relief (misal: gunung, lembah, dan sungai).
3. Guru berperan sebagai fasilitator, membantu mengatasi kesulitan teknis dan memastikan
detail bentang alam dibuat dengan benar.
● Kegiatan Penutup (sesi ini):
1. Kelompok menunjukkan progres maket mereka dan menjelaskan tantangan yang dihadapi.
Pertemuan 14: Pameran Bentang Alam dan Uji Pemahaman (2 JP)
● Kegiatan Inti:
1. Pameran Maket: Setiap kelompok memamerkan maketnya. Dengan metode gallery walk,
peserta didik berkeliling untuk melihat karya kelompok lain. Penjaga stan menjelaskan
tentang bentang alam yang mereka buat.
2. Uji Pemahaman: Peserta didik mengerjakan soal-soal Uji Pemahaman Bab 4 secara
individu.
● Kegiatan Penutup:
1. Refleksi akhir bab: "Apa hal paling menakjubkan yang aku pelajari tentang planet Bumi
kita?"
ASESMEN
Jenis Asesmen Teknik dan Instrumen
Asesmen Awal Diskusi awal dan pemetaan konsep tentang "Bumi" untuk mengetahui
(Diagnostik) pengetahuan awal peserta didik tentang bentuk lahan dan fenomena alam.
Asesmen Formatif - Penilaian Kinerja: Rubrik penilaian saat melakukan simulasi gempa
(Proses) (kemampuan mengikuti instruksi, analisis hasil) dan saat menggambar
skema siklus air.
- Produk: Menilai peta lingkungan sekolah yang dibuat kelompok.
- Penilaian Lisan: Tanya jawab saat diskusi hasil wawancara dan
demonstrasi siklus air.
Asesmen Sumatif - Proyek: Penilaian Maket "Bentang Alam Daerahku" menggunakan
(Akhir Bab) rubrik yang menilai relevansi bentuk relief, detail dan kreativitas, serta
kemampuan presentasi.
- Tes Tertulis: Penilaian hasil Uji Pemahaman untuk mengukur
penguasaan konsep individual.
PENGAYAAN DAN REMEDIAL
● Pengayaan:
○ Melakukan riset tentang salah satu gunung berapi aktif di Indonesia (misal: Merapi,
Sinabung) dan membuat laporan singkat tentang sejarah letusannya dan dampaknya.
○ Membuat model tiga dimensi lapisan-lapisan internal Bumi (kerak, mantel, inti)
menggunakan plastisin dengan warna berbeda.
○ Menyelidiki tentang berbagai jenis awan dan apa yang ditandakannya terkait cuaca.
● Remedial:
○ Mengulang simulasi gempa bumi dengan bimbingan langkah demi langkah yang lebih
sederhana dan fokus pada satu jenis pergerakan lempeng saja.
○ Menonton video animasi sederhana yang menjelaskan siklus air berulang kali, lalu mencoba
menggambarkannya dengan bimbingan guru.
○ Menggunakan peta timbul (jika ada) atau gambar-gambar bentang alam untuk membantu
mengidentifikasi berbagai macam relief.
REFLEKSI DIRI
Refleksi Peserta Didik
1. Bentang alam apa yang ada di dekat rumahku? Apakah aku sudah pernah mengunjunginya?
2. Jika aku merasakan gempa, apa tiga hal pertama yang akan aku lakukan?
3. Menurutku, mengapa kita perlu belajar tentang Bumi dan perubahannya?
4. Dari semua kegiatan di bab ini, kegiatan membuat apa yang paling aku sukai?
Refleksi Pendidik
1. Apakah simulasi pergerakan lempeng berhasil membantu peserta didik memahami penyebab
gempa? Apakah ada miskonsepsi yang muncul?
2. Bagaimana keterlibatan peserta didik dalam proyek pembuatan maket? Apakah bahan dan waktu
yang disediakan sudah memadai?
3. Apakah kegiatan wawancara efektif dalam membangun pemahaman tentang konsep "perubahan
lingkungan"?
4. Strategi apa yang akan saya gunakan di masa depan untuk menjelaskan konsep abstrak seperti
struktur internal Bumi agar lebih mudah dipahami?
Muntilan, 12 Juli 2025
Mengetahui,
Kepala SD Terpadu Ma’arif Gunungpring Guru Kelas V D
Fitri Haryanti, [Link] Rachmawati Lestyaningsih, [Link]
INFORMASI UMUM
A. Identitas Modul
Nama Penyusun Rachmawati Lestyaningsih, [Link]
Satuan Pendidikan SD Terpadu Ma’arif Gunungpring
Tahun Ajaran 2025/2026
Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS)
Kelas/Fase V/C
Bab 5 (Lima)
Topik Bagaimana Kita Hidup dan Bertumbuh
Alokasi Waktu 24 JP (disesuaikan dari buku panduan)
B. Identifikasi Murid
Kategori Deskripsi
Pengetahuan Peserta didik tahu bahwa mereka perlu bernapas, makan, dan minum untuk
Awal hidup. Mereka mungkin dapat menyebutkan beberapa organ utama seperti paru-
paru dan lambung. Namun, pemahaman mereka tentang mekanisme sistem
pernapasan dan pencernaan, konsep nutrisi, serta tahapan pertumbuhan manusia
(terutama pubertas) masih bersifat permukaan dan perlu dijelaskan secara lebih
rinci dan hati-hati.
Minat Peserta didik secara alami ingin tahu tentang tubuh mereka sendiri. Mereka
tertarik pada aktivitas fisik yang dapat mengukur kemampuan tubuh (menahan
napas, menghitung denyut nadi). Topik tentang pertumbuhan dan perubahan
tubuh (pubertas) dapat menimbulkan rasa penasaran sekaligus rasa canggung
atau malu.
Kebutuhan Peserta didik membutuhkan pembelajaran yang bersifat personal dan relevan
Belajar dengan tubuh mereka. Eksperimen sederhana dan pembuatan model sangat
membantu untuk memvisualisasikan sistem organ. Untuk topik sensitif seperti
pubertas, dibutuhkan pendekatan yang bijaksana, menciptakan lingkungan
belajar yang aman dan nyaman, serta memisahkan sesi berdasarkan jenis kelamin
jika diperlukan untuk mendorong keterbukaan.
C. Materi Pelajaran
1. Sistem Pernapasan: Organ-organ pernapasan (hidung, trakea, paru-paru) dan mekanisme
pernapasan (inspirasi dan ekspirasi). Hubungan antara aktivitas fisik dan frekuensi pernapasan.
2. Sistem Pencernaan: Organ-organ pencernaan (mulut, kerongkongan, lambung, usus) dan alur
perjalanan makanan. Pentingnya makanan sebagai sumber energi dan nutrisi.
3. Pola Hidup Sehat: Konsep makanan bergizi seimbang dan pentingnya menjaga kesehatan organ
pernapasan dan pencernaan.
4. Pertumbuhan Manusia dan Pubertas: Tahapan pertumbuhan manusia. Pengenalan ciri-ciri
perubahan fisik primer dan sekunder pada masa pubertas untuk laki-laki dan perempuan. Cara
bijak menyikapi masa pubertas.
D. Dimensi Profil Lulusan
Dimensi Elemen yang Dikembangkan
Beriman, Bertakwa Mensyukuri karunia Tuhan berupa tubuh yang sehat dan sempurna.
kepada Tuhan Kesadaran ini diwujudkan melalui elemen merawat diri secara fisik,
YME, & Berakhlak mental, dan spiritual dengan menjaga kesehatan organ tubuh dan
Mulia menyikapi masa pubertas secara positif.
Gotong Royong Berkolaborasi dalam kelompok saat membuat model sistem
pernapasan/pencernaan dan saat melakukan investigasi proyek. Belajar
untuk saling mendukung dan menghargai perbedaan kondisi fisik dan
tahapan pertumbuhan masing-masing.
Bernalar Kritis Menganalisis data hasil percobaan (pengaruh olahraga terhadap
frekuensi napas) untuk menarik kesimpulan. Mengidentifikasi hubungan
sebab-akibat antara pola makan dengan kesehatan organ pencernaan.
Mandiri Menunjukkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan diri.
Bertanggung jawab dalam menjalankan investigasi proyek pribadi
tentang pola makan dan olahraga, serta berani bertanya tentang
perubahan yang terjadi pada dirinya saat pubertas dalam lingkungan
yang aman.
E. Desain Pembelajaran
Komponen Deskripsi
Capaian Peserta didik dapat melakukan simulasi menggunakan
Pembelajaran (CP) gambar/bagan/alat/media sederhana tentang sistem organ tubuh
Elemen Pemahaman manusia (sistem pernapasan, pencernaan) yang dikaitkan dengan cara
IPAS menjaga kesehatan organ tubuhnya dengan benar.
Lintas Disiplin Ilmu PJOK: Mengaitkan langsung mekanisme pernapasan dengan aktivitas
olahraga. Membahas pentingnya nutrisi untuk pertumbuhan dan energi
saat berolahraga.
Bahasa Indonesia: Menuliskan laporan investigasi dan menyajikan data.
Bimbingan Konseling (BK): Berkolaborasi dengan guru BK atau UKS
untuk sesi khusus tentang pubertas guna memastikan penyampaian
yang tepat dan penanganan yang bijaksana.
Tujuan 1. Mengidentifikasi bagaimana bernapas membantu manusia
Pembelajaran Bab 5 melakukan aktivitas sehari-hari.
2. Menjelaskan peran makanan dan organ pencernaan untuk
kelangsungan hidup.
3. Mendeskripsikan tahapan pertumbuhan manusia dan perubahan yang
terjadi pada masa pubertas.
Praktik Pedagogis Model Pembelajaran: Inquiry-Based Learning, Experiential Learning,
(Pendekatan Deep dan Project-Based Learning (PjBL).
Learning) Metode:
1. Meaningful Learning: Mengukur perubahan pada tubuh sendiri
(frekuensi napas setelah berlari) membuat konsep menjadi sangat
personal dan bermakna. Investigasi pola makan pribadi dalam proyek
belajar menghubungkan langsung teori nutrisi dengan kehidupan nyata.
2. Joyful Learning: Belajar melalui aktivitas fisik dan permainan
(lomba menahan napas, lari). Membuat model organ tubuh dari bahan-
bahan bekas yang kreatif.
3. Mindful Learning: Melatih kesadaran akan tubuh (mindfulness of
body) dengan merasakan proses menarik dan menghembuskan napas.
Melakukan refleksi pribadi secara tertutup tentang perubahan diri pada
masa pubertas, menciptakan ruang aman untuk menerima diri sendiri.
Aktivitas: Eksperimen pada diri sendiri, pembuatan model, studi kasus,
diskusi terpisah (laki-laki/perempuan), dan proyek investigasi pribadi.
Pemanfaatan Penggunaan video animasi 3D untuk menunjukkan perjalanan udara di
Teknologi Digital sistem pernapasan dan perjalanan makanan di sistem pencernaan.
PENGALAMAN BELAJAR (RINCIAN PER PERTEMUAN)
BLOK 1: Udara dan Energi untuk Hidup (10 JP)
Pertemuan 1-3: Bernapas untuk Beraktivitas (5 JP)
● Kegiatan Awal (Joyful & Mindful Learning):
1. Peserta didik diajak menahan napas selama beberapa detik (sesuai kemampuan).
2. Refleksi: "Apa yang kalian rasakan saat menahan napas? Seberapa penting bernapas bagi
kita?"
3. Selanjutnya, semua peserta didik diajak berdiri dan menghitung frekuensi napasnya dalam 1
menit saat diam. Kemudian, mereka diminta lari di tempat selama 1 menit dan menghitung
kembali frekuensi napasnya.
● Kegiatan Inti (Inquiry-Based Learning):
1. Diskusi: "Mengapa napas kita menjadi lebih cepat setelah berolahraga?" Guru membimbing
ke arah kesimpulan bahwa aktivitas butuh lebih banyak energi, dan energi butuh lebih
banyak oksigen.
2. Membuat Model Paru-paru Sederhana: Secara berkelompok, peserta didik membuat
model paru-paru menggunakan botol bekas, balon, dan sedotan. Mereka mendemonstrasikan
bagaimana "diafragma" (balon bawah) yang ditarik menyebabkan "paru-paru" (balon dalam)
mengembang.
3. Guru menjelaskan alur pernapasan dan organ-organ utamanya menggunakan model yang
telah dibuat peserta didik.
● Kegiatan Penutup:
1. Diskusi tentang cara menjaga kesehatan paru-paru (tidak merokok, memakai masker di
tempat berpolusi, olahraga teratur).
2. Refleksi: "Apa hubungan antara bernapas, energi, dan aktivitas kita sehari-hari?"
Pertemuan 4-6: Perjalanan Makanan dalam Tubuh (5 JP)
● Kegiatan Awal: Guru menunjukkan gambar berbagai jenis makanan. "Mengapa kita perlu
makan? Apa yang terjadi pada makanan setelah kita telan?"
● Kegiatan Inti (Inquiry & Meaningful Learning):
1. Simulasi Gerak Peristaltik: Peserta didik memasukkan potongan roti kecil ke dalam balon
panjang yang tipis, lalu meremas-remas balon dari atas ke bawah untuk mendorong roti
bergerak. Ini untuk mensimulasikan gerakan otot di kerongkongan.
2. Guru menjelaskan alur pencernaan secara lengkap (mulut -> kerongkongan -> lambung ->
usus halus -> usus besar -> anus) menggunakan gambar/video.
3. Secara berkelompok, peserta didik membuat peta perjalanan makanan di atas selembar
karton besar, menggambarkan setiap organ dan menuliskan fungsi utamanya.
● Kegiatan Penutup:
1. Diskusi tentang gangguan pencernaan yang umum (sakit maag, diare) dan penyebabnya (pola
makan tidak teratur, makanan tidak higienis).
2. Refleksi: "Seberapa penting memilih makanan yang sehat untuk tubuh kita?"
BLOK 2: Aku Tumbuh Besar (6 JP)
Pertemuan 7-9: Misteri Pertumbuhan dan Pubertas (6 JP)
● Kegiatan Awal (Meaningful Learning):
1. Peserta didik diminta mengingat kembali atau melihat foto saat mereka masih balita. "Apa
saja perbedaan antara tubuhmu saat balita dengan sekarang?"
● Kegiatan Inti (Mindful & Safe-Space Learning):
1. Guru menjelaskan tahapan pertumbuhan manusia secara umum.
2. Guru memperkenalkan topik pubertas sebagai masa transisi dari anak-anak menjadi remaja.
Guru menekankan bahwa ini adalah proses alami yang akan dialami semua orang, namun
waktunya bisa berbeda-beda.
3. Sesi Terpisah (jika memungkinkan dan disetujui): Kelas dibagi dua, laki-laki dan
perempuan. Guru laki-laki memfasilitasi kelompok laki-laki, guru perempuan memfasilitasi
kelompok perempuan (atau bekerja sama dengan guru BK/UKS).
4. Dalam sesi terpisah, guru menjelaskan ciri-ciri perubahan fisik primer dan sekunder sesuai
jenis kelamin (misal: tumbuh jakun, mimpi basah untuk laki-laki; menstruasi, payudara
membesar untuk perempuan).
5. Peserta didik diberi lembar refleksi pribadi tertutup (tidak untuk dikumpulkan/dinilai) untuk
mencentang perubahan mana yang sudah/sedang mereka alami. Tujuannya adalah untuk
pengenalan diri.
6. Diskusi terarah tentang cara menjaga kebersihan diri selama pubertas dan bagaimana
menyikapi perubahan emosi yang mungkin terjadi.
● Kegiatan Penutup:
1. Guru (di kelas gabungan atau terpisah) memberikan penguatan bahwa semua perubahan ini
normal dan merupakan anugerah Tuhan. Mendorong peserta didik untuk terbuka dan
bertanya pada orang tua atau guru yang mereka percaya jika ada kebingungan.
2. Refleksi: "Bagaimana sikapku seharusnya dalam menghadapi masa pubertas?"
BLOK 3: Proyek Hidup Sehat dan Asesmen (8 JP)
Pertemuan 10-13: Proyek Investigasi "Tubuhku, Tanggung Jawabku" (7 JP)
● Kegiatan Awal: "Kita sudah tahu pentingnya bernapas dan makan. Bagaimana kita bisa tahu
apakah pola hidup kita sudah sehat?"
● Kegiatan Inti (Project-Based Learning):
1. Peserta didik melakukan investigasi pribadi selama satu minggu.
2. Setiap hari, mereka mencatat dalam jurnal: (a) Makanan yang mereka konsumsi, (b)
Aktivitas olahraga yang dilakukan, (c) Mengukur berat badan setiap beberapa hari sekali
(jika memungkinkan).
3. Setelah satu minggu, mereka mengolah datanya. Mereka mencoba mencari hubungan:
"Apakah ada pengaruh antara makanan yang aku makan dan olahragaku dengan berat
badanku atau perasaanku (lebih berenergi/lemas)?"
4. Peserta didik menyajikan hasil investigasinya dalam bentuk laporan sederhana atau
infografis.
● Kegiatan Penutup (sesi ini):
1. Peserta didik (secara sukarela) berbagi kesimpulan dari investigasi pribadinya. Bukan tentang
data angkanya, melainkan tentang kesadaran pola hidupnya.
Pertemuan 14: Presentasi dan Uji Pemahaman (1 JP)
● Kegiatan Inti:
1. Peserta didik memajang laporan/infografis proyeknya.
2. Uji Pemahaman: Peserta didik mengerjakan soal-soal Uji Pemahaman Bab 5.
● Kegiatan Penutup:
1. Refleksi akhir bab: "Apa satu kebiasaan sehat baru yang akan aku mulai setelah mempelajari
bab ini?"
ASESMEN
Jenis Asesmen Teknik dan Instrumen
Asesmen Awal Tanya jawab awal: "Mengapa kita harus bernapas dan makan?" untuk
(Diagnostik) memetakan pemahaman dasar.
Asesmen Formatif - Penilaian Kinerja: Rubrik penilaian model paru-paru dan peta perjalanan
(Proses) makanan (kelengkapan organ, kebenaran fungsi).
- Observasi: Mengamati partisipasi dan sikap peserta didik saat diskusi
tentang pubertas (menghargai, tidak menertawakan).
- Jurnal Proyek: Mengecek kelengkapan pencatatan data dalam proyek
investigasi.
Asesmen Sumatif - Proyek: Penilaian Laporan Investigasi "Tubuhku, Tanggung Jawabku"
(Akhir Bab) menggunakan rubrik yang menilai kelengkapan data, analisis hubungan
sebab-akibat, dan refleksi diri.
- Tes Tertulis: Penilaian hasil Uji Pemahaman untuk mengukur
penguasaan konsep individual.
PENGAYAAN DAN REMEDIAL
● Pengayaan:
○ Melakukan riset tentang kandungan nutrisi (vitamin, mineral) pada makanan favorit mereka
dan manfaatnya bagi tubuh.
○ Mencari tahu tentang kapasitas paru-paru atlet dibandingkan orang biasa dan mengapa bisa
berbeda.
○ Merancang menu makanan sehat seimbang untuk keluarga selama satu hari.
● Remedial:
○ Mengulang pembuatan model sistem pernapasan/pencernaan dengan bimbingan lebih
intensif.
○ Menonton video animasi tentang perjalanan makanan langkah demi langkah.
○ Melakukan sesi tanya jawab pribadi dengan guru (atau guru BK/UKS) bagi yang masih
memiliki banyak pertanyaan atau kecemasan tentang pubertas.
REFLEKSI DIRI
Refleksi Peserta Didik
1. Apa yang terjadi di dalam tubuhku setiap kali aku menarik napas?
2. Bagaimana caraku berterima kasih pada tubuhku yang sudah bekerja keras mencerna makanan
setiap hari?
3. Apakah aku merasa khawatir dengan perubahan tubuhku saat ini? Kepada siapa aku bisa
bercerita?
4. Setelah melakukan investigasi, kebiasaan makanku mana yang perlu aku perbaiki?
Refleksi Pendidik
1. Bagaimana suasana kelas saat membahas topik pubertas? Apakah saya sudah berhasil
menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman?
2. Strategi apa yang paling efektif untuk memvisualisasikan sistem organ yang tidak terlihat?
3. Apakah proyek investigasi pribadi berhasil meningkatkan kesadaran peserta didik akan pola
hidupnya?
4. Kerja sama dengan guru mata pelajaran lain (PJOK, BK) apa yang bisa ditingkatkan untuk topik
ini di masa depan?
Muntilan, 12 Juli 2025
Mengetahui,
Kepala SD Terpadu Ma’arif Gunungpring Guru Kelas V D
Fitri Haryanti, [Link] Rachmawati Lestyaningsih, [Link]
INFORMASI UMUM
A. Identitas Modul
Nama Penyusun Rachmawati Lestyaningsih, [Link]
Satuan Pendidikan SD Terpadu Ma’arif Gunungpring
Tahun Ajaran 2025/2026
Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS)
Kelas/Fase V/C
Bab 6 (Enam)
Topik Indonesiaku Kaya Raya
Alokasi Waktu 27 JP (disesuaikan dari buku panduan)
B. Identifikasi Murid
Kategori Deskripsi
Pengetahuan Peserta didik telah mengenal beberapa kenampakan alam (gunung, laut) dan
Awal mungkin telah melihat peta Indonesia secara umum. Mereka memiliki
pemahaman dasar bahwa Indonesia adalah negara yang luas dan terdiri dari
banyak pulau. Namun, pemahaman mereka tentang konsep letak geografis,
negara maritim dan agraris, serta klasifikasi sumber daya alam (hayati/nonhayati,
dapat diperbarui/tidak) masih perlu dibangun secara sistematis.
Minat Minat peserta didik tinggi terhadap kekayaan alam yang konkret dan visual,
seperti hewan dan tumbuhan unik, serta hasil tambang yang menarik (emas,
intan). Mereka tertarik untuk 'berpetualang' melalui peta, menjelajahi berbagai
daerah di Indonesia, dan menemukan keunikan masing-masing.
Kebutuhan Peserta didik membutuhkan pembelajaran yang mampu menghubungkan konsep
Belajar abstrak (kondisi geografis) dengan realitas yang dapat mereka bayangkan
(kekayaan alam). Aktivitas berbasis peta, eksplorasi gambar/video, dan diskusi
kelompok sangat diperlukan. Proyek yang memungkinkan mereka untuk
'mempromosikan' kekayaan daerahnya akan menumbuhkan rasa kepemilikan dan
kebanggaan.
C. Materi Pelajaran
1. Kondisi Geografis Indonesia: Membaca dan menginterpretasi peta Indonesia, memahami
komponen peta, serta letak geografis Indonesia di antara dua benua dan dua samudra.
2. Indonesia sebagai Negara Maritim dan Agraris: Menganalisis potensi, tantangan, dan
karakteristik Indonesia sebagai negara dengan wilayah laut yang luas dan daratan yang subur.
3. Keanekaragaman Hayati: Mengenal konsep keanekaragaman hayati (gen, jenis, ekosistem)
serta persebaran flora dan fauna khas Indonesia (tipe Asiatis, Peralihan, Australis).
4. Sumber Daya Alam (SDA): Mengklasifikasikan SDA hayati dan nonhayati, serta SDA yang
dapat diperbarui dan tidak dapat diperbarui. Menganalisis potensi dan pentingnya pemanfaatan
SDA secara bijaksana.
D. Dimensi Profil Lulusan
Dimensi Elemen yang Dikembangkan
Beriman, Bertakwa Mensyukuri karunia Tuhan berupa kekayaan alam dan
kepada Tuhan YME, & keanekaragaman hayati Indonesia yang melimpah. Diwujudkan
Berakhlak Mulia melalui elemen akhlak kepada alam dengan menumbuhkan
kesadaran untuk memanfaatkan SDA secara bijaksana dan tidak
merusak.
Berkebinekaan Global Mengenal dan menghargai kekayaan serta potensi beragam daerah di
seluruh Indonesia, menumbuhkan rasa bangga sebagai warga negara
Indonesia, dan memahami posisi strategis Indonesia dalam konteks
global.
Gotong Royong Berkolaborasi secara efektif dalam kelompok untuk menganalisis
peta, mendiskusikan potensi daerah, dan mengerjakan proyek
"Konferensi Kekayaan Daerah" secara bersama-sama.
Bernalar Kritis Menganalisis informasi dari peta untuk menyimpulkan kondisi
geografis Indonesia. Mengidentifikasi hubungan sebab-akibat antara
kondisi geografis dengan status negara maritim/agraris dan
persebaran kekayaan alamnya. Mengevaluasi pentingnya
pengelolaan SDA berkelanjutan.
Kreatif Menghasilkan gagasan-gagasan untuk mempromosikan potensi
daerahnya dalam bentuk media presentasi yang menarik dan
informatif pada proyek belajar.
E. Desain Pembelajaran
Komponen Deskripsi
Capaian Di akhir fase ini, peserta didik menggunakan peta untuk mengetahui
Pembelajaran (CP) wilayah di sekitarnya. Peserta didik menerapkan konsep nilai (barang,
Elemen jasa, waktu) dalam kehidupan sehari-hari. Dengan penuh kesadaran,
Pemahaman IPAS peserta didik melakukan suatu tindakan atau mengambil suatu keputusan
yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari berdasarkan
pemahamannya terhadap kekayaan kearifan lokal yang berlaku di
wilayahnya.
Lintas Disiplin Ilmu Geografi/IPS: Penggunaan dan interpretasi peta secara mendalam,
konsep negara maritim dan agraris.
Bahasa Indonesia: Melakukan wawancara, membaca teks informasional,
dan membuat media presentasi yang persuasif.
Matematika: Memahami konsep skala pada peta (pengenalan dasar).
PKN: Memahami hak dan kewajiban warga negara dalam menikmati dan
menjaga kekayaan alam.
Tujuan 1. Menelaah kondisi geografis wilayah Indonesia sebagai negara
Pembelajaran Bab 6 kepulauan/maritim dan agraris serta mengidentifikasi kekayaan alam.
2. Mengidentifikasi dan menunjukkan kekayaan alam yang ada di
sekitarnya dan merefleksikannya terhadap kekayaan Indonesia secara
keseluruhan.
Praktik Pedagogis Model Pembelajaran: Discovery Learning dan Project-Based Learning
(Pendekatan Deep (PjBL).
Learning) Metode:
1. Meaningful Learning: Mengaitkan materi dengan produk-produk hasil
alam yang mereka gunakan atau konsumsi sehari-hari. Proyek
"Konferensi Kekayaan Daerah" membuat mereka merasa menjadi duta
bagi daerahnya sendiri.
2. Joyful Learning: Belajar melalui permainan "Jelajah Peta", kuis tebak
flora-fauna khas, dan kegiatan pameran yang interaktif.
3. Mindful Learning: Melatih fokus dan ketelitian saat mengamati detail
pada peta. Melakukan refleksi tentang rasa syukur dan bangga setelah
mengetahui betapa kaya negerinya, menumbuhkan kesadaran sebagai
bagian dari bangsa yang besar.
Aktivitas: Analisis peta, studi literatur/gambar, wawancara, diskusi
kelompok, dan proyek pembuatan media promosi daerah.
Pemanfaatan Penggunaan Google Earth untuk "terbang" di atas kepulauan Indonesia.
Teknologi Digital Menampilkan video dokumenter tentang kekayaan laut (misalnya Raja
Ampat) atau kekayaan hutan (misalnya di Kalimantan/Sumatra) untuk
memberikan gambaran yang nyata.
PENGALAMAN BELAJAR (RINCIAN PER PERTEMUAN)
BLOK 1: Membaca Indonesia Melalui Peta (8 JP)
Pertemuan 1-2: Indonesiaku di Atas Peta (4 JP)
● Kegiatan Awal (Joyful Learning):
1. Guru membentangkan peta Indonesia yang besar. "Ayo kita main 'Tunjuk Pulau'! Siapa bisa
menemukan pulau tempat kita tinggal sekarang? Siapa tahu nama pulau di sebelah
timurnya?"
● Kegiatan Inti (Discovery Learning):
1. Guru memperkenalkan komponen-komponen peta (judul, legenda/simbol, skala, mata angin).
2. Peserta didik secara berkelompok diberi satu peta provinsi (atau peta Indonesia) dan lembar
panduan.
3. Tugas mereka adalah "berburu informasi": Temukan ibu kota provinsi, nama gunung
tertinggi, sungai terpanjang, dan batas-batas wilayahnya menggunakan legenda dan simbol
peta.
4. Setiap kelompok melaporkan hasil perburuannya.
● Kegiatan Penutup (Meaningful Learning):
1. Diskusi: "Mengapa peta penting? Informasi apa saja yang bisa kita dapatkan hanya dengan
melihat peta?"
Pertemuan 3-4: Negara Maritim dan Agraris (4 JP)
● Kegiatan Awal:
1. Melihat kembali peta Indonesia. Pertanyaan pemantik: "Warna apa yang paling dominan di
peta Indonesia, biru atau hijau/cokelat? Apa artinya itu?"
● Kegiatan Inti (Inquiry-Based Learning):
1. Diskusi diarahkan pada kesimpulan bahwa wilayah lautan Indonesia sangat luas. Guru
memperkenalkan istilah negara maritim.
2. Diskusi dilanjutkan tentang wilayah daratan yang subur. Guru memperkenalkan istilah
negara agraris.
3. Kelas dibagi dua kelompok besar: Tim Maritim dan Tim Agraris.
4. Tugas Tim Maritim: Mendiskusikan apa saja potensi/kekayaan yang dimiliki negara maritim
(ikan, terumbu karang, pariwisata bahari, jalur perdagangan).
5. Tugas Tim Agraris: Mendiskusikan potensi negara agraris (hasil pertanian, perkebunan,
peternakan, kehutanan).
6. Perwakilan setiap tim mempresentasikan hasilnya di papan tulis.
● Kegiatan Penutup:
1. Refleksi: "Apakah daerah tempat tinggalku lebih menunjukkan ciri maritim atau agraris? Apa
buktinya?"
BLOK 2: Kekayaan Hayati dan Alam Indonesia (11 JP)
Pertemuan 5-7: Flora dan Fauna Khas Indonesia (7 JP)
● Kegiatan Awal (Joyful Learning):
1. Kuis tebak gambar: Guru menampilkan gambar hewan-hewan khas Indonesia (Komodo,
Cendrawasih, Orang Utan, Badak) dan tumbuhan (Rafflesia, Anggrek Bulan). Peserta didik
menebak nama dan asalnya.
● Kegiatan Inti (Discovery Learning):
1. Guru menjelaskan tentang keanekaragaman hayati dan tiga garis persebaran fauna
(Wallace, Weber, dan Lydekker) menggunakan peta.
2. Peserta didik secara berkelompok mendapatkan "paket misteri" berisi gambar-gambar flora
dan fauna. Tugas mereka adalah mengelompokkan gambar-gambar tersebut ke dalam tiga
wilayah: Asiatis, Peralihan, dan Australis, berdasarkan ciri-ciri yang dijelaskan guru.
3. Kelompok kemudian melakukan wawancara kepada guru atau staf sekolah yang berasal dari
daerah berbeda untuk menanyakan flora/fauna khas daerah asal mereka, untuk memperkaya
pemahaman.
● Kegiatan Penutup:
1. Setiap kelompok membuat poster sederhana tentang satu wilayah persebaran
(Asiatis/Peralihan/Australis) lengkap dengan contoh hewannya. Poster dipajang untuk
gallery walk.
Pertemuan 8-9: Harta Karun dari Dalam Bumi (4 JP)
● Kegiatan Awal: Guru menunjukkan benda-benda: perhiasan (emas/perak), pensil (grafit/arang),
dan botol air minum (plastik dari minyak bumi). "Tahukah kalian benda-benda ini berasal dari
mana?"
● Kegiatan Inti (Inquiry-Based Learning):
1. Guru memperkenalkan konsep Sumber Daya Alam (SDA) dan membaginya menjadi dua:
hayati (dari makhluk hidup) dan nonhayati (bukan dari makhluk hidup, contoh: barang
tambang).
2. Peserta didik kembali mengamati produk-produk di sekitar kelas (meja kayu, jendela kaca,
tiang bendera besi) dan mengklasifikasikannya ke dalam SDA hayati atau nonhayati.
3. Guru memperkenalkan klasifikasi kedua: dapat diperbarui (bisa dihasilkan kembali dalam
waktu singkat, misal: tumbuhan) dan tidak dapat diperbarui (butuh jutaan tahun untuk
terbentuk, misal: minyak bumi, emas).
4. Diskusi kritis: "Apa yang akan terjadi jika kita terus-menerus menggunakan SDA yang tidak
dapat diperbarui? Apa solusi yang bisa kita lakukan?"
● Kegiatan Penutup:
1. Refleksi: "Sebutkan satu contoh SDA dapat diperbarui dan satu contoh SDA tidak dapat
diperbarui yang aku gunakan hari ini."
BLOK 3: Proyek "Konferensi Kekayaan Daerah" dan Asesmen (8 JP)
Pertemuan 10-13: Persiapan Konferensi (6 JP)
● Kegiatan Awal:
1. Guru mengumumkan: "Kelas kita akan mengadakan 'Konferensi Kekayaan Daerah se-
Indonesia'. Setiap kelompok akan menjadi perwakilan (duta) dari satu provinsi di Indonesia!"
● Kegiatan Inti (Project-Based Learning):
1. Pemilihan & Riset: Setiap kelompok memilih (atau diundi) satu provinsi untuk diwakili.
2. Tugas mereka adalah melakukan riset untuk menemukan:
■ Satu produk unggulan dari SDA hayati (misal: kopi Gayo dari Aceh).
■ Satu produk unggulan dari SDA nonhayati (misal: timah dari Bangka Belitung).
■ Satu warisan budaya atau tempat wisata andalan.
3. Pembuatan Media: Berdasarkan hasil riset, kelompok membuat media presentasi (bisa
poster besar, slide sederhana, atau maket mini) untuk dipamerkan dalam konferensi.
4. Latihan Presentasi: Kelompok berlatih untuk mempresentasikan keunggulan provinsinya
secara singkat dan persuasif.
● Kegiatan Penutup (sesi ini):
1. Setiap kelompok memberikan teaser atau bocoran singkat tentang provinsi yang akan mereka
pamerkan untuk menimbulkan rasa penasaran.
Pertemuan 14: Pelaksanaan Konferensi dan Uji Pemahaman (2 JP)
● Kegiatan Inti:
1. Konferensi Kekayaan Daerah: Kelas ditata seperti ruang pameran. Setiap kelompok berdiri
di stan (meja) masing-masing. Separuh anggota kelompok menjadi presenter, separuh lagi
berkeliling mengunjungi stan lain untuk belajar tentang provinsi lain. Kemudian bergantian
peran.
2. Uji Pemahaman: Peserta didik mengerjakan soal-soal Uji Pemahaman Bab 6 secara
individu.
● Kegiatan Penutup:
1. Refleksi akhir bab: "Setelah mengenal kekayaan provinsi lain, apa yang membuatmu paling
bangga menjadi anak Indonesia?"
ASESMEN
Jenis Asesmen Teknik dan Instrumen
Asesmen Awal Permainan "Tunjuk Pulau" dan diskusi awal untuk memetakan
(Diagnostik) pengetahuan peserta didik tentang geografi Indonesia.
Asesmen - Penilaian Kinerja: Rubrik penilaian saat kerja kelompok menganalisis
Formatif (Proses) peta (kemampuan menemukan informasi, kerja sama).
- Penilaian Lisan: Tanya jawab saat diskusi tentang negara maritim/agraris
dan klasifikasi SDA.
- Produk: Menilai poster klasifikasi flora/fauna yang dibuat kelompok.
Asesmen Sumatif - Proyek: Penilaian media presentasi dan penampilan saat "Konferensi
(Akhir Bab) Kekayaan Daerah" menggunakan rubrik yang menilai kelengkapan
informasi, kreativitas media, dan kemampuan presentasi.
- Tes Tertulis: Penilaian hasil Uji Pemahaman untuk mengukur penguasaan
konsep individual.
PENGAYAAN DAN REMEDIAL
● Pengayaan:
○ Peserta didik yang cepat paham dapat diberi tantangan untuk membuat "Peta Tematik"
sederhana daerahnya, misalnya peta persebaran hasil pertanian atau peta lokasi industri kecil.
○ Melakukan riset lebih dalam tentang satu komoditas ekspor unggulan Indonesia dan alur
perdagangannya ke luar negeri.
● Remedial:
○ Bagi peserta didik yang kesulitan membaca peta, guru dapat memberikan peta yang lebih
sederhana (misal: denah sekolah) dan melatihnya menemukan lokasi menggunakan legenda
dan arah mata angin.
○ Menggunakan kartu-kartu gambar (SDA, produk, hewan, tumbuhan) untuk dimainkan dalam
permainan klasifikasi (hayati/nonhayati, dapat diperbarui/tidak) secara terbimbing.
REFLEKSI DIRI
Refleksi Peserta Didik
1. Apa informasi paling mengejutkan yang aku temukan di peta tentang Indonesia?
2. Jika aku bisa berkunjung ke satu provinsi yang dipresentasikan temanku, provinsi mana yang
akan aku pilih? Mengapa?
3. Menurutku, SDA apa di daerahku yang paling berharga dan harus dijaga?
4. Apa yang bisa aku lakukan, sebagai seorang siswa, untuk ikut menjaga kekayaan alam Indonesia?
Refleksi Pendidik
1. Apakah kegiatan berbasis peta berhasil meningkatkan minat dan pemahaman peserta didik?
2. Bagaimana tingkat antusiasme dan kreativitas peserta didik dalam proyek "Konferensi Kekayaan
Daerah"?
3. Apakah semua peserta didik mampu membedakan konsep SDA hayati/nonhayati dan dapat
diperbarui/tidak? Bagian mana yang paling sulit bagi mereka?
4. Untuk pembelajaran selanjutnya, bagaimana saya bisa lebih banyak memanfaatkan sumber daya
lokal (membawa contoh hasil bumi, mengundang narasumber pengrajin lokal) ke dalam kelas?
Muntilan, 12 Juli 2025
Mengetahui,
Kepala SD Terpadu Ma’arif Gunungpring Guru Kelas V D
Fitri Haryanti, [Link] Rachmawati Lestyaningsih, [Link]
INFORMASI UMUM
A. Identitas Modul
Nama Penyusun Rachmawati Lestyaningsih, [Link]
Satuan Pendidikan SD Terpadu Ma’arif Gunungpring
Tahun Ajaran 2025/2026
Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS)
Kelas/Fase V/C
Bab 7 (Tujuh)
Topik Daerahku Kebanggaanku
Alokasi Waktu 27 JP (disesuaikan dari buku panduan)
B. Identifikasi Murid
Kategori Deskripsi
Pengetahuan Peserta didik telah mengenal kekayaan alam daerahnya dari bab sebelumnya.
Awal Mereka mungkin mengetahui beberapa makanan khas atau tempat terkenal di
daerahnya dari pengalaman pribadi. Namun, pemahaman mereka tentang konsep
warisan budaya (benda dan takbenda), akulturasi, aktivitas ekonomi, dan produk
unggulan secara sistematis masih perlu dikembangkan.
Minat Peserta didik memiliki minat yang besar terhadap hal-hal yang dekat dengan
identitas mereka, seperti makanan, kesenian, dan cerita-cerita lokal. Mereka
termotivasi ketika diminta untuk berbagi tentang keunikan daerahnya dan merasa
bangga jika daerahnya memiliki sesuatu yang "hebat".
Kebutuhan Peserta didik membutuhkan pembelajaran yang mengangkat konteks lokal secara
Belajar mendalam. Aktivitas yang melibatkan interaksi dengan komunitas (wawancara
dengan keluarga, pengrajin, atau pelaku usaha lokal) sangat efektif. Mereka perlu
diberi kesempatan untuk "menjadi ahli" tentang daerahnya sendiri dan
mempromosikannya, karena hal ini dapat meningkatkan kepercayaan diri dan
rasa memiliki.
C. Materi Pelajaran
1. Warisan Budaya Daerah: Membedakan warisan budaya benda (bangunan, alat musik, makanan)
dan takbenda (tarian, adat istiadat, keahlian). Menggali sejarah di balik warisan budaya.
2. Akulturasi Budaya: Memahami konsep percampuran budaya yang menghasilkan budaya baru
tanpa menghilangkan unsur asli, melalui contoh-contoh warisan budaya di daerahnya.
3. Kondisi Perekonomian Daerah: Mengidentifikasi berbagai jenis aktivitas ekonomi (pertanian,
industri, jasa, perdagangan) yang ada di lingkungan sekitar. Menganalisis hubungan antara
aktivitas ekonomi dengan kondisi geografis dan SDA.
4. Produk Unggulan Daerah: Mengidentifikasi produk (barang atau jasa) yang menjadi ciri khas
dan keunggulan daerah. Menganalisis faktor pendukungnya dan merancang cara promosi
sederhana.
D. Dimensi Profil Lulusan
Dimensi Elemen yang Dikembangkan
Beriman, Bertakwa Menghargai dan mensyukuri warisan budaya para leluhur sebagai
kepada Tuhan YME, & bagian dari karunia Tuhan. Diwujudkan dengan memiliki sikap
Berakhlak Mulia positif terhadap budaya lokal dan keinginan untuk
melestarikannya.
Berkebinekaan Global Mengenal secara mendalam budaya dan potensi daerah sendiri
sebagai fondasi untuk memahami dan menghargai keberagaman
budaya di tingkat nasional dan global.
Gotong Royong Berkolaborasi dalam kelompok untuk menelusuri sejarah budaya,
menganalisis kondisi ekonomi, dan merancang promosi daerah.
Saling berbagi informasi dan temuan untuk membangun
pemahaman bersama.
Bernalar Kritis Menganalisis hubungan antara sejarah, akulturasi, dan bentuk
warisan budaya saat ini. Mengidentifikasi faktor-faktor pendukung
yang membuat suatu produk menjadi unggulan. Mengevaluasi
cara promosi yang efektif.
Kreatif Menghasilkan ide-ide orisinal untuk mempromosikan produk atau
wisata daerah dalam bentuk brosur, poster, atau media lain.
Mampu menceritakan kembali sejarah lokal dengan cara yang
menarik.
E. Desain Pembelajaran
Komponen Deskripsi
Capaian Peserta didik mengenal budaya, sejarah, baik tokoh maupun
Pembelajaran (CP) periodisasinya di Indonesia serta menghubungkan dengan konteks
Elemen Pemahaman kehidupan saat ini. Peserta didik menggunakan peta untuk mengetahui
IPAS wilayah di sekitarnya. Peserta didik menerapkan konsep nilai (barang,
jasa, waktu) dalam kehidupan sehari-hari.
Lintas Disiplin Ilmu Sejarah/IPS: Menggali sejarah lokal, memahami konsep akulturasi dan
jalur perdagangan masa lalu.
Ekonomi: Pengenalan dasar tentang aktivitas ekonomi, produksi, dan
promosi.
Bahasa Indonesia: Melakukan wawancara, menulis laporan naratif, dan
membuat teks persuasif untuk brosur.
Seni Budaya dan Prakarya (SBdP): Merancang media promosi (brosur)
dengan memperhatikan komposisi visual dan estetika.
Tujuan 1. Mengenal warisan budaya dan menelusuri sejarahnya untuk dikaitkan
Pembelajaran Bab 7 dengan kehidupan saat ini.
2. Menelaah kondisi dan aktivitas ekonomi yang terjadi di daerah
sekitar tempat tinggal.
3. Mengidentifikasi keunggulan daerah dan merancang cara untuk
mempromosikannya.
Praktik Pedagogis Model Pembelajaran: Inquiry-Based Learning dan Problem-Based
(Pendekatan Deep Learning (PBL).
Learning) Metode:
1. Meaningful Learning: Fokus pembelajaran adalah pada "daerahku",
membuat semua materi menjadi relevan dan personal. Peserta didik
belajar dengan menggali cerita dari keluarga dan lingkungannya sendiri.
2. Joyful Learning: Belajar melalui permainan peran sebagai "pelaku
ekonomi", membuat "tur virtual" untuk wisata lokal, dan kegiatan
merancang brosur yang kreatif.
3. Mindful Learning: Melatih kepekaan terhadap lingkungan sekitar,
mengamati detail aktivitas ekonomi yang seringkali terlewatkan.
Melakukan refleksi mendalam tentang rasa bangga dan identitas
kedaerahan.
Aktivitas: Wawancara, studi literatur lokal, analisis produk, pemetaan
pikiran (mind mapping), dan perancangan media promosi.
Pemanfaatan Menggunakan Google Maps/Street View untuk "berjalan-jalan" secara
Teknologi Digital virtual mengidentifikasi tempat bersejarah atau pusat kegiatan ekonomi.
Mencari referensi desain brosur dan video promosi daerah dari internet.
PENGALAMAN BELAJAR (RINCIAN PER PERTEMUAN)
BLOK 1: Menelusuri Jejak Budaya (9 JP)
Pertemuan 1-3: Warisan Leluhur di Daerahku (5 JP)
● Kegiatan Awal (Meaningful Learning):
1. Guru memulai dengan pertanyaan personal: "Apa suku bangsa keluargamu? Bahasa daerah
apa yang biasa digunakan di rumah?"
2. Diskusi tentang keberagaman asal-usul peserta didik meskipun tinggal di kota yang sama,
mengarah ke konsep pergerakan manusia dan percampuran budaya.
● Kegiatan Inti (Inquiry-Based Learning):
1. Guru memperkenalkan konsep Warisan Budaya Benda (Candi, rumah adat, senjata
tradisional) dan Takbenda (tarian, lagu, resep masakan, adat istiadat).
2. Tugas Penelusuran: Peserta didik diberi tugas untuk mewawancarai orang tua/kakek-nenek
di rumah tentang satu warisan budaya (benda atau takbenda) yang mereka ketahui di
daerahnya.
3. Di kelas, peserta didik berbagi hasil wawancaranya. Guru membantu membuat daftar warisan
budaya yang ditemukan di papan tulis.
4. Secara berkelompok, peserta didik memilih satu warisan budaya dari daftar tersebut untuk
ditelusuri lebih dalam sejarahnya melalui sumber yang disediakan guru (artikel, buku lokal).
● Kegiatan Penutup:
1. Diskusi tentang pentingnya mengetahui sejarah: "Mengapa kita perlu tahu cerita di balik
sebuah tarian atau bangunan tua?"
Pertemuan 4-5: Ketika Budaya Bertemu (4 JP)
● Kegiatan Awal: Guru menunjukkan gambar yang merepresentasikan akulturasi, misalnya masjid
dengan atap tumpang (pengaruh Hindu-Jawa) atau batik dengan motif naga (pengaruh Tionghoa).
"Apa yang aneh atau unik dari gambar ini?"
● Kegiatan Inti (Inquiry-Based Learning):
1. Guru memperkenalkan konsep akulturasi.
2. Peserta didik kembali melihat daftar warisan budaya daerahnya. Mereka ditantang untuk
menganalisis: "Adakah warisan budaya di daerah kita yang sepertinya merupakan hasil
percampuran dari budaya lain?"
3. Diskusi kelompok untuk mencari contoh akulturasi di daerahnya, baik dalam arsitektur,
makanan, bahasa, maupun kesenian.
● Kegiatan Penutup:
1. Refleksi: "Apa dampak positif dari pertemuan berbagai budaya di daerah kita?"
BLOK 2: Roda Perekonomian Daerahku (9 JP)
Pertemuan 6-8: Mengamati Aktivitas Ekonomi (5 JP)
● Kegiatan Awal: "Setiap pagi, orang tuamu pergi bekerja. Apa saja jenis pekerjaan yang ada di
sekitar kita?"
● Kegiatan Inti (Discovery Learning):
1. Guru memperkenalkan 8 bidang usaha ekonomi (Pertanian, Peternakan, Perikanan,
Perdagangan, dll).
2. Observasi Lingkungan: Peserta didik (secara berkelompok) melakukan pengamatan di
lingkungan sekitar sekolah (atau berdasarkan pengalaman mereka) dan memberi tanda
centang pada jenis-jenis aktivitas ekonomi yang mereka temukan.
3. Setiap kelompok membuat peta pikiran (mind map) tentang satu bidang usaha yang paling
banyak ditemukan, mencabangkan jenis pekerjaan dan produk yang dihasilkan.
● Kegiatan Penutup:
1. Diskusi kelas: "Aktivitas ekonomi apa yang paling menonjol di daerah kita? Mengapa
demikian?" (Menghubungkan dengan kondisi geografis dan SDA).
Pertemuan 9-10: Produk Unggulan Daerah (4 JP)
● Kegiatan Awal: Guru membawa contoh produk khas daerah (jika ada) atau gambarnya. "Apa
yang membuat makanan/kerajinan ini istimewa dan berbeda dari daerah lain?"
● Kegiatan Inti (Problem-Based Learning):
1. Peserta didik secara berkelompok memilih satu produk unggulan dari daerahnya.
2. Tugas mereka adalah menganalisis:
■ Mengapa produk ini bisa menjadi unggulan? (Faktor SDA, keahlian SDM, sejarah, dll).
■ Siapa saja yang terlibat dalam pembuatannya? (Pelaku ekonomi).
■ Bagaimana cara produk ini bisa lebih dikenal oleh orang di luar daerah?
● Kegiatan Penutup:
1. Setiap kelompok mempresentasikan hasil analisis singkatnya.
BLOK 3: Proyek "Promosi Daerahku" dan Asesmen (9 JP)
Pertemuan 11-14: Proyek Membuat Brosur dan Uji Pemahaman (9 JP)
● Kegiatan Awal: "Kita sudah tahu banyak keunggulan daerah kita. Sekarang, bagaimana cara kita
meyakinkan orang lain untuk datang atau membeli produk kita?"
● Kegiatan Inti (Project-Based Learning):
1. Perancangan: Berdasarkan analisis produk unggulan sebelumnya, setiap kelompok
ditugaskan untuk membuat brosur promosi (bisa untuk produk, tempat wisata, atau acara
budaya).
2. Guru memberikan contoh-contoh brosur dan mendiskusikan elemen pentingnya (gambar
menarik, judul persuasif, informasi singkat & jelas, kontak).
3. Pembuatan Brosur: Peserta didik merancang dan membuat brosur di atas kertas HVS,
menggunakan kreativitas dalam tata letak, gambar, dan pemilihan kata-kata.
4. Pameran Brosur: Hasil karya setiap kelompok dipajang dalam pameran "Tourism Fair"
mini di kelas. Peserta didik saling mengunjungi karya temannya dan memberikan stiker
bintang sebagai bentuk apresiasi.
5. Uji Pemahaman: Peserta didik mengerjakan soal-soal Uji Pemahaman Bab 7 secara
individu.
● Kegiatan Penutup:
1. Refleksi akhir bab: "Setelah mempelajari bab ini, apa yang membuatmu paling bangga
dengan daerahmu?"
ASESMEN
Jenis Asesmen Teknik dan Instrumen
Asesmen Awal Tanya jawab awal tentang suku, bahasa, dan makanan khas untuk
(Diagnostik) memetakan pengetahuan awal peserta didik tentang identitas lokal.
Asesmen Formatif - Penilaian Kinerja: Menilai peta pikiran (mind map) tentang aktivitas
(Proses) ekonomi.
- Penilaian Lisan: Keaktifan dan kualitas argumen saat diskusi tentang
akulturasi dan produk unggulan.
- Catatan Anekdotal: Mengamati proses wawancara dan penelusuran
informasi yang dilakukan peserta didik.
Asesmen Sumatif - Proyek: Penilaian Brosur Promosi menggunakan rubrik yang menilai
(Akhir Bab) konten informasi, desain visual, kreativitas, dan daya persuasif.
- Tes Tertulis: Penilaian hasil Uji Pemahaman untuk mengukur
penguasaan konsep individual.
PENGAYAAN DAN REMEDIAL
● Pengayaan:
○ Peserta didik yang cepat paham dapat diberi tantangan untuk membuat skenario "tur virtual"
satu hari di daerahnya, lengkap dengan jadwal, destinasi, dan deskripsi yang menarik.
○ Melakukan riset tentang tokoh pahlawan atau tokoh inspiratif yang berasal dari daerahnya
dan membuat biografi singkat.
● Remedial:
○ Bagi peserta didik yang kesulitan mengidentifikasi aktivitas ekonomi, guru dapat
memberikan kartu-kartu gambar profesi (petani, dokter, pedagang) dan meminta mereka
mengelompokkannya.
○ Memberikan templat brosur yang lebih terstruktur untuk membantu peserta didik yang
kesulitan dalam merancang tata letak.
○ Melakukan bimbingan kelompok kecil untuk menelusuri sejarah satu warisan budaya secara
bersama-sama.
REFLEKSI DIRI
Refleksi Peserta Didik
1. Warisan budaya apa dari daerahku yang ceritanya paling menarik menurutku?
2. Jika ada teman dari kota lain datang, tiga hal apa yang akan aku tunjukkan atau ceritakan tentang
daerahku?
3. Pekerjaan apa yang paling banyak dilakukan orang-orang di sekitar tempat tinggalku?
4. Jika aku sudah besar nanti, apa yang ingin aku lakukan untuk membuat daerahku lebih maju dan
dikenal?
Refleksi Pendidik
1. Apakah kegiatan wawancara berhasil membuat peserta didik terhubung dengan sejarah lokal?
Apa kendala yang mereka hadapi saat wawancara?
2. Seberapa efektif metode "peta pikiran" untuk membantu peserta didik mengorganisir informasi
tentang aktivitas ekonomi?
3. Apakah peserta didik menunjukkan rasa bangga dan antusiasme yang tulus saat mengerjakan
proyek promosi daerah?
4. Bagaimana saya bisa lebih banyak melibatkan komunitas lokal (orang tua, pengrajin, pelaku
usaha) dalam pembelajaran topik seperti ini di masa depan?
Muntilan, 12 Juli 2025
Mengetahui,
Kepala SD Terpadu Ma’arif Gunungpring Guru Kelas V D
Fitri Haryanti, [Link] Rachmawati Lestyaningsih, [Link]
INFORMASI UMUM
A. Identitas Modul
Nama Penyusun Rachmawati Lestyaningsih, [Link]
Satuan Pendidikan SD Terpadu Ma’arif Gunungpring
Tahun Ajaran 2025/2026
Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS)
Kelas/Fase V/C
Bab 8 (Delapan)
Topik Bumiku Sayang, Bumiku Malang
Alokasi Waktu 27 JP (disesuaikan dari buku panduan)
B. Identifikasi Murid
Kategori Deskripsi
Pengetahuan Peserta didik telah belajar tentang perubahan permukaan Bumi akibat faktor
Awal alam (gempa, gunung meletus) di Bab 4. Mereka juga mengetahui secara umum
tentang masalah sampah dari pengamatan sehari-hari. Namun, pemahaman
mereka tentang hubungan sistematis antara aktivitas manusia (konsumsi,
industri) dengan permasalahan lingkungan yang lebih luas (pencemaran,
perubahan iklim) dan dampaknya secara sosial-ekonomi masih perlu dibangun.
Minat Minat peserta didik dapat dipantik melalui isu-isu lingkungan yang relevan dan
emosional, seperti gambar hewan yang terjerat sampah plastik atau video tentang
banjir. Mereka tertarik pada kegiatan investigasi nyata di lingkungan mereka
sendiri dan merasa tertantang untuk mencari solusi atas masalah yang mereka
temukan.
Kebutuhan Peserta didik membutuhkan pembelajaran yang tidak hanya menyajikan masalah,
Belajar tetapi juga memberdayakan mereka untuk menjadi bagian dari solusi.
Pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) dan proyek
kampanye sangat cocok untuk bab ini. Mereka perlu melihat koneksi langsung
antara tindakan sehari-hari mereka (misalnya, menggunakan sedotan plastik)
dengan dampak lingkungan yang lebih besar.
C. Materi Pelajaran
1. Perubahan Lingkungan karena Faktor Alam: Mengulang dan memperdalam dampak bencana
alam (gempa, tsunami, erupsi) terhadap kehidupan manusia dan lingkungan.
2. Perubahan Lingkungan karena Aktivitas Manusia: Identifikasi berbagai aktivitas manusia
(penebangan hutan, polusi industri, penggunaan plastik berlebih, limbah rumah tangga) sebagai
penyebab kerusakan lingkungan.
3. Permasalahan Lingkungan Lokal dan Global: Memahami isu-isu seperti pencemaran air dan
udara, penumpukan sampah (terutama plastik), dan dampaknya pada ekosistem dan kesehatan.
4. Dampak Permasalahan Lingkungan: Menganalisis dampak kerusakan lingkungan terhadap
aspek sosial (konflik sumber daya, pengungsian), kemasyarakatan (kesehatan, sanitasi), dan
ekonomi (kerugian petani/nelayan, biaya pemulihan).
5. Upaya Pelestarian Lingkungan: Mengenal dan merancang aksi nyata untuk menjaga
lingkungan, mulai dari skala individu (3R: Reduce, Reuse, Recycle) hingga skala komunitas.
D. Dimensi Profil Pelajar Pancasila
Dimensi Elemen yang Dikembangkan
Beriman, Bertakwa Memahami bahwa menjaga Bumi adalah wujud syukur dan tanggung
kepada Tuhan YME, jawab sebagai khalifah di Bumi. Diwujudkan melalui elemen akhlak
& Berakhlak Mulia kepada alam dengan berinisiatif melakukan tindakan nyata untuk
mengurangi kerusakan lingkungan.
Gotong Royong Berkolaborasi dalam kelompok untuk melakukan investigasi masalah
sampah, menganalisis studi kasus, dan merancang proyek kampanye
lingkungan. Menyadari bahwa masalah lingkungan adalah masalah
bersama yang membutuhkan solusi bersama.
Bernalar Kritis Menganalisis secara kritis hubungan sebab-akibat antara pola hidup
manusia dengan permasalahan lingkungan. Mengevaluasi berbagai
sumber informasi untuk memahami kompleksitas isu lingkungan dan
memprediksi dampaknya dalam jangka panjang.
Kreatif Menghasilkan gagasan dan solusi inovatif untuk mengatasi masalah
lingkungan di sekolah. Mendesain poster kampanye yang kuat,
persuasif, dan orisinal untuk mengajak orang lain peduli lingkungan.
E. Desain Pembelajaran
Komponen Deskripsi
Capaian Peserta didik merefleksikan bagaimana perubahan kondisi alam di
Pembelajaran (CP) permukaan Bumi terjadi akibat faktor alam maupun perbuatan manusia,
Elemen Pemahaman mengidentifikasi pola hidup yang menyebabkan terjadinya
IPAS permasalahan lingkungan serta memprediksi dampaknya terhadap
kondisi sosial kemasyarakatan, dan ekonomi.
Lintas Disiplin Ilmu Bahasa Indonesia: Menulis teks argumentatif dan persuasif untuk
kampanye, mempresentasikan data hasil investigasi.
Matematika: Mengumpulkan, menyajikan (dalam bentuk grafik/tabel),
dan menganalisis data kuantitatif tentang jenis dan jumlah sampah.
PKN: Memahami peran dan tanggung jawab warga negara dalam
menjaga lingkungan hidup.
Tujuan 1. Menganalisis hubungan antara faktor alam dan perbuatan manusia
Pembelajaran Bab 8 dengan perubahan kondisi lingkungan.
2. Mengidentifikasi pola hidup yang menyebabkan terjadinya
permasalahan lingkungan.
3. Memprediksi dampak permasalahan lingkungan terhadap kondisi
sosial, kemasyarakatan, dan ekonomi.
Praktik Pedagogis Model Pembelajaran: Problem-Based Learning (PBL) dan Project-
(Pendekatan Deep Based Learning (PjBL).
Learning) Metode:
1. Meaningful Learning: Mengangkat masalah nyata yang ada di
lingkungan sekolah (sampah) sebagai titik awal pembelajaran. Proyek
kampanye dirancang untuk memberikan dampak nyata pada komunitas
sekolah.
2. Joyful Learning: Belajar melalui permainan detektif lingkungan,
simulasi "jejak karbon", dan kegiatan kreatif membuat poster atau video
kampanye.
3. Mindful Learning: Melatih kesadaran saat mengamati lingkungan,
menyadari setiap sampah yang terlihat. Melakukan refleksi mendalam
tentang peran dan tanggung jawab pribadi terhadap kondisi Bumi,
menumbuhkan empati terhadap makhluk hidup lain yang terdampak.
Aktivitas: Investigasi lapangan, analisis data, studi kasus, debat, dan
proyek kampanye.
Pemanfaatan Menampilkan video dokumenter yang kuat tentang dampak polusi
Teknologi Digital plastik di lautan atau deforestasi. Menggunakan aplikasi penghitung
jejak karbon sederhana (jika ada). Peserta didik dapat membuat
poster/video kampanye secara digital.
PENGALAMAN BELAJAR (RINCIAN PER PERTEMUAN)
BLOK 1: Bumi yang Berubah dan Rusak (9 JP)
Pertemuan 1-3: Ketika Alam "Marah" (5 JP)
● Kegiatan Awal (Meaningful Learning):
1. Guru memulai dengan berbagi cerita (atau meminta peserta didik berbagi) tentang
pengalaman menghadapi bencana alam, seperti banjir, tanah longsor, atau gempa yang
pernah terjadi di daerah sekitar.
● Kegiatan Inti (Inquiry-Based Learning):
1. Mengulang kembali simulasi gempa dari Bab 4 untuk mengingatkan bahwa Bumi berubah
karena faktor alam.
2. Diskusi kelas: "Selain gempa, bencana alam apa lagi yang disebabkan oleh kekuatan alam
murni?"
3. Studi Kasus Bencana: Secara berkelompok, peserta didik diberi satu studi kasus bencana
alam (misal: Tsunami Aceh 2004, Erupsi Merapi 2010). Tugas mereka adalah mencari
informasi (dari teks yang disediakan guru) tentang: penyebab, kerusakan yang ditimbulkan
(dampak lingkungan), dan bagaimana hal itu memengaruhi kehidupan manusia (dampak
sosial & ekonomi).
● Kegiatan Penutup:
1. Setiap kelompok mempresentasikan hasil analisisnya.
2. Refleksi: "Apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa bencana alam?"
Pertemuan 4-5: Jejak Kerusakan oleh Manusia (4 JP)
● Kegiatan Awal: Guru menampilkan dua gambar kontras: sebuah hutan yang lebat dan asri, dan
sebuah area bekas penebangan yang gundul dan kering. "Menurut kalian, apa yang terjadi di sini?
Apa penyebabnya?"
● Kegiatan Inti (Problem-Based Learning):
1. Diskusi tentang berbagai aktivitas manusia yang dapat merusak lingkungan (membuang
sampah sembarangan, polusi pabrik, penebangan liar).
2. Investigasi "Detektif Sampah": Secara berkelompok, peserta didik melakukan investigasi
di area sekolah (misal: kantin, halaman, selokan). Mereka diberi tugas untuk:
■ Mengumpulkan data: Jenis sampah apa yang paling banyak ditemukan? Di lokasi mana
sampah paling menumpuk?
■ Menganalisis: Mengapa sampah menumpuk di lokasi tersebut? Dari mana sumber
sampah terbanyak?
■ Membuat hipotesis: Apa dampak dari penumpukan sampah ini bagi sekolah kita?
● Kegiatan Penutup:
1. Setiap tim "detektif" melaporkan temuan investigasinya.
2. Refleksi: "Ternyata, masalah sampah di sekolah kita nyata. Apa yang bisa kita lakukan?"
BLOK 2: Menganalisis Dampak dan Mencari Solusi (9 JP)
Pertemuan 6-8: Dampak Berantai Kerusakan Lingkungan (5 JP)
● Kegiatan Awal: Guru memulai dengan satu masalah yang ditemukan dari investigasi
sebelumnya, misal: "Banyak sampah plastik di selokan sekolah."
● Kegiatan Inti (Inquiry-Based Learning):
1. Membuat Peta Dampak: Di papan tulis, guru menulis "Sampah Plastik di Selokan" di
tengah. Lalu guru memantik diskusi untuk membuat peta dampak berantai.
■ "Apa yang terjadi jika sampah menyumbat selokan?" -> "Banjir saat hujan." (Dampak
Lingkungan)
■ "Jika banjir, apa dampaknya bagi siswa dan guru?" -> "Sepatu basah, tidak nyaman
belajar, bisa terpeleset." (Dampak Sosial/Kemasyarakatan)
■ "Jika banjir merusak buku-buku di perpustakaan lantai 1, apa dampaknya?" -> "Sekolah
harus mengeluarkan uang untuk membeli buku baru." (Dampak Ekonomi)
2. Peserta didik secara berkelompok memilih satu masalah lingkungan lain (misal: penebangan
hutan, polusi udara) dan mencoba membuat peta dampak berantainya sendiri.
● Kegiatan Penutup:
1. Setiap kelompok berbagi peta dampaknya. Guru menekankan bagaimana satu masalah
lingkungan bisa berdampak luas ke berbagai aspek kehidupan.
Pertemuan 9-10: Aksi 3R di Kelas (4 JP)
● Kegiatan Awal: "Kita sudah tahu masalah dan dampaknya. Sekarang, apa aksi nyata yang bisa
kita mulai?"
● Kegiatan Inti (Experiential Learning):
1. Guru memperkenalkan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
2. Praktik Langsung:
■ Reduce: Peserta didik diajak berkomitmen untuk mengurangi sampah dengan membawa
botol minum dan tempat makan sendiri dari rumah.
■ Reuse: Mengadakan "Pasar Barter" kecil di kelas, di mana peserta didik bisa menukar
mainan/buku bekas layak pakai yang sudah tidak mereka gunakan.
■ Recycle: Mengumpulkan sampah botol plastik atau kertas dari sekolah untuk disetorkan
ke bank sampah atau dibuat kerajinan tangan sederhana.
● Kegiatan Penutup:
1. Refleksi: "Dari tiga aksi (Reduce, Reuse, Recycle), mana yang paling mudah dilakukan?
Mana yang paling sulit? Mengapa?"
BLOK 3: Proyek Kampanye "Selamatkan Bumi!" dan Asesmen (9 JP)
Pertemuan 11-14: Proyek Poster Kampanye dan Uji Pemahaman (9 JP)
● Kegiatan Awal: Guru menunjukkan beberapa contoh poster kampanye lingkungan yang kuat dan
inspiratif. "Pesan apa yang ingin disampaikan poster ini? Bagaimana cara poster ini membuatmu
ingin bertindak?"
● Kegiatan Inti (Project-Based Learning):
1. Perencanaan: Peserta didik secara individu atau berpasangan merancang sebuah poster
kampanye untuk mengatasi salah satu masalah lingkungan yang telah dibahas (misal: "Stop
Buang Sampah ke Sungai", "Bawa Botol Minum Sendiri", "Hemat Listrik").
2. Rancangan Pesan: Mereka harus merumuskan satu pesan utama yang singkat, jelas, dan
persuasif.
3. Desain Visual: Mereka menggambar poster, memikirkan komposisi warna, gambar, dan teks
agar menarik perhatian dan mudah dipahami.
4. Pameran Kampanye: Poster-poster hasil karya peserta didik dipajang di mading sekolah
atau di area strategis lainnya untuk dilihat oleh seluruh warga sekolah.
5. Uji Pemahaman: Peserta didik mengerjakan soal-soal Uji Pemahaman Bab 8 secara
individu.
● Kegiatan Penutup:
1. Refleksi akhir bab dan akhir semester: "Setelah belajar sepanjang semester ini, apa satu hal
terpenting yang aku pelajari tentang hubunganku dengan alam dan Bumi? Apa janjiku untuk
Bumi?"
ASESMEN
Jenis Asesmen Teknik dan Instrumen
Asesmen Awal Diskusi awal tentang pengalaman bencana alam dan masalah sampah
(Diagnostik) untuk mengetahui kepekaan dan pemahaman awal peserta didik.
Asesmen Formatif - Penilaian Kinerja: Menilai laporan tim "Detektif Sampah" dan peta
(Proses) dampak berantai yang dibuat kelompok.
- Observasi: Mengamati partisipasi peserta didik dalam praktik 3R dan
diskusi kelas.
- Penilaian Lisan: Tanya jawab untuk mengecek pemahaman tentang
dampak sosial-ekonomi dari kerusakan lingkungan.
Asesmen Sumatif - Proyek: Penilaian Poster Kampanye menggunakan rubrik yang menilai
(Akhir Bab) kekuatan pesan, kreativitas desain, orisinalitas, dan daya persuasif.
- Tes Tertulis: Penilaian hasil Uji Pemahaman untuk mengukur
penguasaan konsep individual.
PENGAYAAN DAN REMEDIAL
● Pengayaan:
○ Peserta didik dapat diberi tantangan untuk membuat video kampanye pendek (durasi 1 menit)
tentang isu lingkungan di sekolah.
○ Melakukan riset tentang organisasi-organisasi lingkungan di Indonesia (seperti WALHI,
Greenpeace Indonesia) dan peran yang mereka lakukan.
○ Menghitung "jejak karbon" pribadi secara sederhana menggunakan kalkulator online (dengan
bimbingan).
● Remedial:
○ Bagi peserta didik yang kesulitan memahami dampak berantai, guru dapat menggunakan
metode bercerita dengan alur yang jelas, langkah demi langkah.
○ Menggunakan kartu-kartu masalah dan kartu-kartu dampak, lalu meminta peserta didik untuk
menjodohkannya.
○ Fokus pada satu aksi 3R saja (misal: memilah sampah kertas) dan mempraktikkannya secara
konsisten di kelas dengan bimbingan.
REFLEKSI DIRI
Refleksi Peserta Didik
1. Apa kebiasaan sehari-hariku yang ternyata bisa merusak lingkungan?
2. Dari semua masalah lingkungan yang kita pelajari, mana yang paling membuatku sedih atau
khawatir? Mengapa?
3. Jika aku adalah pemimpin di sekolah ini, apa satu kebijakan yang akan aku buat untuk membuat
sekolah lebih ramah lingkungan?
4. Apakah poster yang aku buat sudah cukup kuat untuk mengajak orang lain berubah?
Refleksi Pendidik
1. Seberapa efektif kegiatan "Detektif Sampah" dalam menyadarkan peserta didik tentang masalah
nyata di sekitar mereka?
2. Apakah peserta didik mampu menghubungkan satu masalah lingkungan dengan dampaknya di
berbagai bidang (sosial, ekonomi)?
3. Bagaimana reaksi warga sekolah lain terhadap pameran poster kampanye peserta didik? Apakah
ada dampak nyata yang terlihat?
4. Untuk ke depannya, bagaimana program pelestarian lingkungan ini bisa menjadi sebuah gerakan
yang berkelanjutan di sekolah, tidak hanya berhenti sebagai proyek kelas?
Muntilan, 12 Juli 2025
Mengetahui,
Kepala SD Terpadu Ma’arif Gunungpring Guru Kelas V D
Fitri Haryanti, [Link] Rachmawati Lestyaningsih, [Link]