POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN RI PADANG
ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN KESEIMBANGAN CAIRAN
PADA PASIEN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD)
DI RUANG INTERNE PRIA RSUD PADANG PANJANG
TAHUN 2020
KARYA TULIS ILMIAH
TIKA
ARDESERINIM :
173110271
JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI D-III KEPERAWATAN PADANG
TAHUN 2020
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN RI PADANG
ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN KESEIMBANGAN
CAIRAN PADA PASIEN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD)
DI RUANG INTERNE PRIA RSUD PADANG PANJANG
TAHUN 2020
KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya
Keperawatan di Pendidikan Diploma D-III Politeknik
Kesehatan Kementrian Kesehatan RI Padang
ITKA
ARDESERINIM :
173110255
JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI D-III KEPERAWATAN PADANG
TAHUN 2020
ii Poltekkes KemenkesPadang
KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
dan rahmat-Nya, peneliti dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan
judul “Asuhan Keperawatan Gangguan Keseimbangan Cairan pada Pasien
Chronic Kidney Disease (CKD) di Ruang Interne Pria RSUD Padang Panjang
Tahun 2020”. Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini dilakukan dalam rangka
memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Diploma III pada Program
Studi DIII Keperawatan Padang Poltekkes KemenkesPadang.
Peneliti menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari
masa perkuliahan sampai pada penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, sangatlah sulit
bagi peneliti untuk menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini, oleh karena itu peneliti
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu [Link] [Link] selaku pembimbing I, yang
telah menyediayakan waktu, tenaga dan pikiran untuk mengarahkan
peneliti dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
2. Bapak [Link],[Link] selaku pembimbing II, yang telah
menyediayakan waktu, tenaga dan pikiran untuk mengarahkan peneliti
dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiahini.
3. Bapak Dr. Burhan Muslim, SKM, [Link] selaku Direktur Poltekkes
KemenkesPadang.
4. Ibu [Link] Dewi Anggreni,[Link] selaku Ketua Jurusan
Keperawatan Poltekkes KemenkesPadang.
5. Ibu Heppi Sasmita,[Link] selaku KaProdi DIII Keperawatan
Poltekkes KemenkesPadang.
6. [Link] selaku Pimpinan RSUD Padang Panjang yang telah banyak
membantu dalam usaha memperoleh data yang penelitiperlukan.
iii Poltekkes KemenkesPadang
7. Bapak [Link],[Link] Dosen PembimbingAkademik.
8. Bapak dan Ibu Dosen beserta Civitas Akademika Jurusan Keperawatan
Poltekkes KemenkesPadang.
9. Teristimewa kepada orang tua dan keluarga tercinta yang telah
memberikan kasih sayang, bimbingan dan motivasi sehingga peneliti
dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiahini.
10. Kekasih tercinta Fadheel Nabiih Marwa,S.T yang selalu memberikan
semangat dan motivasi sehingga peneliti dapat menyelesaikan Karya
Tulis Ilmiahini.
11. Teman-teman Jurusan Keperawatan angkatan Tahun 2017 terutama
teman-teman NGENES’C yang telah membantu dalam proses
perkuliahan dan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini yang tidak dapat
peneliti sebutkan satupersatu.
Akhir kata, peneliti berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas
segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga KTI ini
membawa manfaat bagi pengembangan ilmu keperawatan.
Padang, Maret 2020
Peneliti
iv Poltekkes KemenkesPadang
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : TikaArdeseri
NIM 173110271
Tempat,TanggalLahir : Padang Panjang, 06 Desember 1998
JenisKelamin :Perempuan
Agama :Islam
StatusPerkawinan : BelumKawin
Alamat : Jorong Kayu Tanduak, Kenagarian Aie Angek,
Kecamatan X Koto, Kabupaten TanahDatar
Nama Orang Tua
Ayah :Zuheri
Ibu :Armanidar
Riwayat Pendidikan
No Jenis Pendidikan Tempat Pendidikan Tahun
1 TK TK Islam Jihad Padang 2004 – 2005
Panjang
2 SD SDN 30 Kayu Tanduak 2005 – 2011
3 SMP SMP Negeri 1 Kota Padang 2011 - 2014
Panjang
4 SMA SMA Negeri 1 X Koto 2014 - 2017
5 D-III Keperawatan Poltekkes Kemenkes Padang 2017 - 2020
v
Poltekkes Kemenkes Padang
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG
PROGRAM STUDI D III KEPERAWARAWATAN PADANG
Karya Tulis Ilmiah, 10 Maret 2020
Tika Ardeseri
Asuhan Keperawatan Gangguan Keseimbangan Cairan pada Pasien Chronic
Kidney Disease (CKD) di Ruang Interne Pria RSUD Padang Panjang Tahun
2020.
Isi : xiii + 46 halaman, 1 tabel, 14 lampiran
ABSTRAK
Gangguan keseimbangan cairan merupakan masalah utama pada pasien Chronic
Kidney Disease (CKD). Menurut Riskesdas 2018 prevalensi CKD di Indonesia
sebesar 0.38%, di Sumatera Barat prevalensi CKD sebesar 0,4%. Jumlah
penderita CKD di RSUD Padang Panjang berdasarkan pencatatan dan pelaporan
rekam medis tahun 2019 sebanyak 181 [Link] awal pada 30 Desember
2019 di ruang Interne RSUD Padang Panjang didapatkan 2 dari 4 orang pasien
dengan CKD mengalami edema pada tungkainya akibat sulit membatasi intake
cairan pada pasien [Link] peneltian ini adalah untuk mendeskripsikan
asuhan keperawatan gangguan keseimbangan cairan pada pasienCKD.
Jenis penelitian kualitatif dengan desain studi kasus dengan 1 oran sampel.
Penelitian dilakukan di ruang interne dengan waktu studi kasus pada tanggal 06-
10 Februari 2020. Populasi berjumlah 4 orang pasien CKD yang mengalami
gangguan keseimbangan cairan. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan
cara purposive sample yang memenuhi kriteria inkslusi dan ekslusi. Instrumen
pengumpulan data berupa format tahapan proses keperawatan mulai dari
pengkajian sampai evaluasikeperawatan.
Hasil pengkajian didapatkan dari partisipan yaitu bengkak pada tangan, kaki, dan
wajah, mengalami asites, BAK tidak keluar. Diagnosa yang diangkat adalah
Hipervolemia berhubungan dengan kelebihan asupan cairan. Implementasi yang
dilakukan adalah manajemen cairan yaitu menilai status hidrasi, membatasi
asupan cairan, mencatat intake-output, dan menghitung balans cairan selama 24
jam. Evaluasi keperawatan dari tindakan yang dilakukan sampai hari kelima
menunjukkan masalah teratasi sebagian ditandai dengan tidak ada edema pada
ekstremitas atas, adanya penurunan berat badan dan tekanan darah dalam batas
normal.
Diharapkan perawat di ruang interne pria agar pemantauan dan pencatatan intake
dan output semua pasien tetap dilakukan sehingga balans cairan pasien seimbang.
Kata Kunci (Key Word) : Asuhan Keperawatan, Cairan, Chronic Kidney
Disease(CKD)
DaftarPustaka : 32(2009-2019)
vi Poltekkes KemenkesPadag
DAFTAR ISI
HALAMANJUDUL ................................................................................................ i
HALAMANPENGESAHAN ................................................................................. ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
LEMBARORISINALITAS ................................................................................... v
LEMBARPERSETUJUAN .................................................................................. vi
DAFTARRIWAYATHIDUP .............................................................................. vii
ABSTRAK ........................................................................................................... viii
DAFTARISI ........................................................................................................... x
DAFTARTABEL.................................................................................................xii
DAFTARLAMPIRAN ....................................................................................... xiii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................................... 1
B. PerumusanMasalah ............................................................................................. 5
C. TujuanPenelitian ................................................................................................. 6
D. ManfaatPenelitian................................................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Gangguan Cairan PadaCKD
1. PengertianCaitan ................................................................................................. 8
2. FisiologiCairan .................................................................................................... 8
3. FungsiCairanTubuh ............................................................................................. 8
4. Faktor yang MempengaruhiKeseimbangan Cairan ............................................. 9
5. Volume dan DistribusiCairan Tubuh ................................................................ 10
6. KomposisiCairanTubuh .................................................................................... 11
7. Keseimbangan CairanDalamTubuh .................................................................. 11
8. GangguanKebutuhanCairan .............................................................................. 14
9. Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Cairan Pada PasienCKD
1. DefinisiCKD ..................................................................................................... 16
2. EtiologiCKD ..................................................................................................... 17
3. PatofisiologiCKD .............................................................................................. 17
4. ManifestasiKlinis CKD ..................................................................................... 18
B. Konsep Asuhan Keperawatan Teoritis Pada KetidakseimbanganCairan
1. Pengkajian ......................................................................................................... 20
2. DiagnosaKeperawatan.......................................................................................25
3. IntervensiKeperawatan..................................................................................... 26
4. ImplementasiKeperawatan ............................................................................... 27
vii Poltekkes KemenkesPadang
5. EvaluasiKeperawatan ....................................................................................... 28
BAB III METODE PENELITIAN
A. DesainPenelitian .............................................................................................. 29
B. Tempat danWaktu penelitian ........................................................................... 29
C. Populasidan Sampel..........................................................................................29
D. Jenis-jenisData ................................................................................................. 30
E. Cara PengumpulanData .................................................................................... 30
F. Alat/ InstrumentPengumpulanData .................................................................. 31
G. Analisis ............................................................................................................ 31
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. DeskripsiKasus................................................................................................32
B. PembahasanKasus .......................................................................................... 38
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................................... 44
B. Saran...............................................................................................................45
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
viii Poltekkes KemenkesPadang
DAFTAR TABEL
Tabel2.1 Intervensi Keperawatan .................................................................... 26
ix Poltekkes KemenkesPadang
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Jadwal Karya Tulis Ilmiah (GANCHART)
Lampiran 2 : Surat Izin Pengambilan Data dari Poltekkes Kemenkes Padang
Lampiran 3 : Surat Izin Pengambilan Data Awal RSUD Padang Panjang
Lampiran 4 : Surat Izin Penelitian dari Poltekkes Kemenkes Padang
Lampiran 5 : Surat Izin Penelitian dari Kantor Dinas Penanaman Modal & PTSP
Lampiran 6 : Surat Izin Penelitian dari Rumah Sakit Umum Padang Panjang
Lampiran 7 : Surat Telah Selesai Penelitian dari RSUD Padang Panjang
Lampiran 8 : Lembar Konsultasi Proposal Karya Tulis Ilmiah Pembimbing I
Lampiran 9 : Lembar Konsultasi Proposal Karya Tulis Ilmiah Pembimbing II
Lampiran 10 : Lembar Konsultasi Karya Tulis Ilmiah PembimbingI
Lampiran 11 : Lembar Konsultasi Karya Tulis Ilmiah Pembimbing II
Lampiran 12 : Lembar Persetujuan (Informed Consent)
Lampiran 13 : Asuhan Keperawatan Tn.M
Lampiran 14 : Daftar Hadir Penelitian di Ruang Interne RSUD Padang Panjang
x
Poltekkes Kemenkes Padang
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh manusia
dalam mempertahankan keseimbangan fisiologis maupun psikologis, yang
bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dan [Link] hakikatnya
setiap manusia mempunyai kebutuhan dasar yang sama, kebutuhan dasar tersebut
bersifat manusiawi dan menjadi syarat untuk keberlangsungan hidup manusia,
siapapun orangnya pasti memerlukan pemenuhan kebutuhan dasar bahkan dalam
keadaan sakitpun kebutuhan dasar harus terpenuhi. Abraham Maslow dalam teori
hierarki menyatakan bahwa setiap manusia memiliki lima kebutuhan dasar yaitu
kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta dan kasih sayang, harga diri, dan
aktualisasi diri (Haswita dan Sulistyowati, 2017).
Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan primer yang menjadi syarat dari
kelangsungan hidup manusia guna memelihara homeostasis tubuh. Kebutuhan
fisiologis ini wajib terpenuhi, jika tidak akan berdampak pada kebutuhan
lainnya. Salah satu kebutuhan fisiologis yang perlu dipenuhi adalah
kebutuhan terhadap cairan, tubuh terdiri atas sekitar 60% air terbesar di dalam sel
maupun diluar sel. Namun demikian, besarnya kandungan air tergantung usia,
jenis kelamin, dan kandungan lemak dalam tubuh (Tarwoto dan Wartonah,2011).
Cairan sebagai kebutuhan dasar manusia, berfungsi sebagai tranportasi dalam
tubuh, pengaturan suhu tubuh, pembentukan struktur tubuh, dan memfasilitasi
reaksi kimia dalam tubuh. Kekurangan cairan dalam tubuh dapat menyebabkan
penurunan tekanan darah, penurunan frekuensi nadi, penurunan turgor kulit,
penurunan haluaran urine, penurunan berat badan dan peningkatan denyut
jantung. Kelebihan cairan dalam tubuh dapat menyebabkan sesak napas,
peningkatan tekanan darah, nadi kuat, edema, dan peningkatan berat badan
(Lemone et al, 2016)
Penyakit kronis seperti kanker, penyakit kardiovaskular dan penyakit ginjal
merupakan penyakit yang dapat menyebabkan
1 gangguan keseimbangan cairan.
Keseimbangan cairan ditentukan oleh intake atau masukan cairan dan output atau
pengeluaran cairan. Pemasukan cairan berasal dari minuman dan makanan, dan
pengeluaran cairan melalui ginjal dalam bentuk urine (Tarwoto dan Wartonah,
2011).
Ginjal adalah organ utama sistem kemih atau uriner yang berfungsi menyaring
dan membuang cairan sampah metabolisme dalam tubuh. Fungsi ginjal secara
umum sebagai ultrafiltrasi yaitu proses ginjal dalam menghasilkan urine untuk
keseimbangan cairan, elektrolit dan pemeliharaan keseimbangan asam basa.
Penyakit ginjal merupakan penyakit yang dapat menyebabkan gangguan
keseimbangan cairan karena adanya retensi abnormal cairan, diruang
ekstraseluler (Potter & Perry,2010). Ginjal dapat mengalami penurunan fungsi
oleh berbagai sebab. Penurunan fungsi ginjal terjadi secara berangsur-angsur dan
irreversible yang akan berkembang terus menjadi gagal ginjal terminal.
Kerusakan ginjal tersebut dapat dilihat dari kelainan dalam darah, urine,
pencitraan, atau biopsi ginjal. Penurunan fungsi ginjal sering dikenal dengan
Chronik Kidney Disease (CKD) (Brunner & Suddart,2013).
CKD atau penyakit gagal ginjal kronik didefinisikan sebagai kerusakan ginjal
untuk sedikitnya selama 3 bulan dengan atau tanpa penurunan Glomerulus
Filtration Rate (GFR) (Nahas & Levin,2010). Sedangkan menurut Terry &
Aurora (2013) CKD merupakan suatu perubahan fungsi ginjal yang progresif dan
irreversible. Pada CKD, ginjal tidak mampu mempertahankan keseimbangan
cairan sisa metabolisme sehingga menyebabkan penyakit gagal ginjal stadium
akhir. Salah satu masalah yang harus diperhatikan pada pasien CKD adalah
kebutuhan cairan. Asupan cairan diatur seimbang antara masukan dan
pengeluaran urine serta Insersible Water Loss (IWL).
Asupan cairan pada pasien CKD membutuhkan regulasi yang sangat hati-hati
dalam gagal ginjal lanjut. Pentingnya pencegahan kelebihan cairan karena jika
asupan terlalu bebas dapat menyebabkan kelebihan beban sirkulasi, edema, dan
intoksikasi cairan. CKD dapat menimbulkan kondisi overload cairan yang
merupakan faktor pemicu terjadinya gangguan kardiovaskular bahkan kematian
pada pasien dengan penyakit ginjal (Anggraini dan Farosyah Putri, 2016).
Kekurangan cairan juga dapat menyebabkan dehidrasi hipotensi dan
memburuknya fungsi ginjal (Haryanti, 2015)
Angka kejadian CKD di dunia menurut Fresenius Medical Care AG & Co (2013)
terus mengalami peningkatan, dimana pada tahun 2011 sebanyak 2.786.000
orang, tahun 2012 sebanyak 3.018.860 orang dan tahun 2013 sebanyak 3.200.000
orang. Hasil sistematic review dan metaanalysis yang dilakukan oleh Hill, et al
(2016) mendapatkan 6.908.440 orang CKD dengan prevalensi global CKD
sebesar 13,4%. Angka tersebut menunjukkan bahwa penyakit CKD menduduki
peringkat ke-2 tetinggi penyebab angka kematian di dunia (WHO, 2018).
Prevalensi CKD di Indonesia tahun 2013 sebesar 0,2% mengalami peningkatan
pada tahun 2018 menjadi 0,38% (Riskesdas, 2018). Berdasarkan data yang
didapatkan, CKD meningkat seiring denganbertambahnya umur, meningkat
tajam pada umur 45-54 tahun (31,05%),diikuti umur 55-64 tahun (28,05%).
Data hemodilisis di Indonesia menunjukkan perubahan yang signifikan terhadap
penderita CKD dari tahun 2014 sampai 2016, dimana pada tahun 2014 sebanyak
38.358 orang dengan hemodialisis, tahun 2015 menjadi 60.604 orang dan tahun
2016 meningkat menjadi 78.281 orang dengan hemodialisis (Kemenkes, 2018).
Angka kejadian CKD Sumatera Barat didapatkan 0,2%. Prevalensi tertinggi di
daerah Tanah Datar dan Kota Solok masing-masing 0,4%, diikuti Pesisir Selatan,
Sijunjung dan Kota Padang masing-masing 0,3%, Kepulauan Mentawai,
Kabupaten Solok, Padang Pariaman, Lima Puluh Kota, Pasaman, Pasaman Barat,
Dharmasraya, Sawah Lunto dan Pariaman sebesar 0,2%, Agam, Solok Selatan,
Padang Panjang, dan Payakumbuh sebesar 0,1% dan Bukittinggi prevalensi
terendah 0,0% yang mencakup pasien dengan pengobatan, terapi pengganti
ginjal, dialysis peritoneal, dan hemodialisa pada tahun 2013 (Riskesdas,
2013). Kejadian CKD di Sumatera Barat meningkat pesat pada tahun 2018
menjadi 0,4% (Riskesdas, 2018)
Dampak yang ditimbulkan karena gangguan keseimbangan cairan yaitu bisa
terjadinya hipervolemia dan hipovolemia. Hipervolemia yaitu terjadinya
penambahan atau kelebihan volume cairan ekstraseluler dan dapat terjadi pada
saat stimulasi kronis ginjal untuk menahan air, fungsi ginjal abnormal dengan
penurunan eksresi air, kelebihan masukan cairan , dan perpindahan intertisial ke
plasma. Hipovolemia adalah kondisi akibat kekurangan volume ekstraseluler dan
dapat terjadi akibat kehilangan cairan aktif melalui kulit, ginjal, gastrointestinal,
perdarahan yang dapat menyebabkan syok hipovolemia. Dampak lain gangguan
keseimbangan cairan pada pasien CKD adalah gangguan kardiovaskular dan
kematian (Tarwoto dan Wartonah,2011).
Perawat sebagai tenaga kesehatan profesional memiliki peran yang penting dalam
memberikan asuhan keperawatan pasien dengan gangguan keseimbangan cairan
pada CKD berupa optimalisasi keseimbangan cairan, pengaturan cairan yang
masuk, pembatasan cairan untuk mencegah edema dan komplikasi
kardiovaskular, monitor tekanan darah, dan pemantauan berat badan yang
mengacu pada lima tahapan asuhan keperawatan dimulai dari pengkajian,
diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan asuahan keperawatan sampai
dengan evaluasi keperawatan (Potter & Perry, 2012).
Penelitian Anggraini dan Farosyah Putri (2016) mengatakan bahwa upaya untuk
menciptakan program pembatasan cairan yang efektif dan efisien pada pasien
CKD, salah satunya dapat dilakukan melalui pemantauan intake output cairan
pasien. Pemantauan dilakukan dengan cara mencatat jumlah cairan yang
diminum, jumlah obat yang masuk melalui parenteral dan jumlah urine yang
keluar dalam 24 jam.
Data pencatatan dan pelaporan Medikal Record RSUD Padang Panjang diketahui
jumlah pasien CKD selama tahun 2017 sebanyak 144 orang, dan tahun 2018
sebanyak 172 orang, meningkat menjadi 181 orang pada tahun 2019, yang
mencakup pasien dengan pengobatan di ruang rawat dan pasien yang menjalani
hemodialisa. Hasil penelitian Safitri (2018) di RSUD Padang Panjang, diketahui
bahwa dari 50 pasien dengan CKD, sebanyak 29 pasien (58%) patuh terhadap
asupan cairan yang seharusnya dijalani pada pasien CKD. Kemudian sebanyak
21 pasien (42%) tidak patuh terhadap asupan cairan yang seharusnya dijalani
pada pasien CKD. Dan sebanyak 27 pasien (54%) mengalami peningkatan berat
badan antara waktu hemodialisa karena ketidakpatuhan pasien terhadap asupan
cairan.
Berdasarkan survey awal yang dilakukan pada tanggal 30 Desember 2019 di
ruang interne RSUD Padang Panjang didapatkan jumlah pasien pada hari itu 3
orang laki-laki di ruang interne pria dan 1 orang wanita di ruang interne wanita
dengan CKD. 2 orang diantaranya mengalami edema pada tungkainya akibat
kelebihan volume cairan. Wawancara yang penulis lakukan terhadap pasien yang
mengalami edema, didapatkan bahwa pembatasan intake cairan sulit dilakukan
karena mudah haus, pasien mengatakan bingung dengan anjuran perawat yang
menganjurkan minum sedikit, namun perawat tidak menjelaskan berapa jumlah
air yang boleh diminum dalam sehari bagi penderita CKD agar tidak kehausan.
Wawancara yang dilakukan dengan perawat ruangan mengatakan pemantauan
intake dan output hanya dilakukan pada pasien CKD yang belum menjalani
hemodialisa. Sedangkan pada pasien CKD dengan hemodialisa pemantauan
intake dan output tidak dilakukan lagi.
Berdasarkan data dan fenomena yang penulis uraikan di atas, maka penulis ingin
melakukan penelitian dengan judul “Asuhan Keperawatan Gangguan
Keseimbangan Cairan Pada Pasien CKD di Ruang Interne Pria RSUD Padang
Panjang Tahun 2020”
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Asuhan Keperawatan
Gangguan Keseimbangan Cairan Pada Pasien CKD di Ruang Interne Pria RSUD
Padang Panjang?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum peneltian adalah mendeskripsikan Asuhan Keperawatan Gangguan
Keseimbangan Cairan Pada Pasien CKD di Ruang Interne Pria RSUD Padang
Panjang.
2. Tujuan Khusus
a) Mendiskripsikan pengkajian keperawatan pada pasien Gangguan
Keseimbangan Cairan Pada Pasien CKD di Ruang Interne Pria RSUD
Padang Panjang tahun 2020.
b) Mendiskripsikan diagnosa keperawatan pada pasien Gangguan
Keseimbangan Cairan Pada Pasien CKD di Ruang Interne Pria RSUD
Padang Panjang tahun 2020.
c) Mendiskripsikan rencana keperawatan pada pasien Gangguan Keseimbangan
Cairan Pada Pasien CKD di Ruang Interne Pria RSUD Padang Panjang tahun
2020.
d) Mendiskripsikan tindakan keperawatan pada pasien Gangguan
Keseimbangan Cairan Pada Pasien CKD di Ruang Interne Pria RSUD
Padang Panjang tahun 2020.
e) Mendiskripsikan evaluasi keperawatan pada pasien Gangguan Keseimbangan
Cairan Pada Pasien CKD di Ruang Interne Pria RSUD Padang Panjang tahun
2020.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Kegiatan penelitian diharapkan dapat menambah wawasan dan pengalaman
peneliti dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien gangguan
keseimbangan cairan dengan CKD.
2. Bagi Perawat
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran dan menjadi
bahan masukan yang bermanfaat bagi perawat yang berada di RSUD Padang
Panjang, terutama dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien gangguan
keseimbangan cairan dengan CKD.
3. Bagi Mahasiswa Keperawatan Politeknik Kesehatan Padang
Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai bahan dalam pembelajaran Prodi D-III
Keperawatan Padang, terutama dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien
gangguan keseimbangan cairan dengan CKD.
4. Bagi Penelitian Selanjutnya
Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi penelitian
selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Gangguan Cairan Pada CKD
1. Pengertian Cairan
Cairan tubuh merupakan larutan yang terdiri dari air (pelarut) dan zat
tertentu (zat terlarut). Cairan merupakan komponen tubuh yang berperan
dalam memelihara fungsi tubuh dan homeostasis. Tubuh kita terdiri atas
60% air yang tersebar didalam sel dan diluar sel. Namun demikian, besarnya
kadungan tergantung dari usia, kelamin, dan kandungan lemak (Tarwoto dan
Wartonah, 2011).
2. Fisiologi Cairan
Cairan masuk kedalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan
intravena (IV) dan distribusikan kebagian seluruh tubuh. Keseimbangan
cairan berarti adanya distribusi air tubuh total kedalam seluruh bagian tubuh
(Potter & Perry,2012). Cairan tubuh terdiri atas dua komponen utama yang
dipisahkan oleh membrane semi permiabel, kedua tersebut adalah
kompartemen ekstraseluler (Hidayat, 2009)
3. Fungsi Cairan dalam Tubuh
Menurut Haswita dan Sulistyowati (2017) beberapa fungsi cairan :
a. Mempertahankan panas tubuh dan pengaturan temperatur tubuh.
b. Transport nutrisi ke sel.
c. Transport hasil sisa metabolisme.
d. Transport hormon.
e. Pelumas antar organ.
f. Mempertahankan tekanan hidrostatik dalam sistem kardiovaskular.
8
4. Faktor yang Mempengaruhi Keseimbangan Cairan
Rahayu dan Harnanto (2016) mengatakan bahwa beberapa faktor yang
mempengaruhi keseimbangan cairan antara lain :
a. Usia
1) Bayi
Proporsi air dalam tubuh bayi lebih besar daripada proporsi air
dalam tubuh anak usia sekolah, remaja, atau dewasa. Namun, bayi
memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kekurangan cairan
atau hiperosmolar karena per kilogram berat tubuhnya akan
kehilangan air yang lebih besar secara proporsional.
2) Anak-anak
Respons anak terhadap penyakit adalah demam yang dapat
meningkatkan kecepatan kehilangan air.
3) Remaja
Perubahan keseimbangan cairan remaja perempuan lebih besar
karena adanya perubahan hormonal yang berhubungan dengan
siklus menstruasi.
4) Lansia
Risiko lansia untuk mengalami ketidakseimbangan cairan mungkin
berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal dan ketidakmampuan
untuk mengkonsentrasi urine. Selain itu jumlah total air tubuh
menurun seiring dengan peningkatan usia, penggunaan diuretik atau
laksatif.
b. Ukuran Tubuh
Lemak tidak mengandung air, karena itu orang gemuk memiliki
proporsi air tubuhlebih sedikit. Wanita memiliki lebih banyak cadangan
lemak di dalam payudara dan paha, sehingga jumlah total air tubuh
wanita lebih kecil.
c. Temperatur Lingkungan
Lingkungan yang panas menyebabkan berkeringat, akibatnya tubuh
kehilangancairan.
d. Gaya Hidup
1) Diit
Diit cairan, garam, karbohidrat, lemak, dan protein, membantu
tubuh mempertahankan status cairan. Intake nutrisi tidak adekuat
menyebabkan serum albumin menurun sehingga cairan interstitiil
tidak ke pembuluh darah, yang disebut edema.
2) Stres
Stresmeningkatkan kadar aldosteron dan glukokortikoid,sehingga
menyebabkan retensi natrium dan garam. Selainitu,peningkatan
sekresi ADH akan menurunkan haluaran urine, hal ini biasa terjadi
pada pasien dengan penyakit ginjal, sehingga meningkatkan volume
cairan dalam tubuh.
3) Olah raga
Olah raga menyebabkan peningkatan kehilangan air melalui
keringat, dan mekanisme rasa haus membantu mempertahankan
keseimbangan cairan dengan meningkatkan asupan cairan.
5. Volume dan Distribusi Cairan Tubuh
a. Volume cairan tubuh
Total jumlah cairan tubuh (total body water-TBW), kira-kira 60% dari
berat badan pria dan 50% dari berat badan wanita. Jumlah volume ini
bergantung pada kandungan lemak badan dan usia. Lemak jaringan
sangat sedikit menyimpan cairan, dimana lemak pada wanita lebih
banyak dibanding pada pria sehingga jumlah volume cairan lebih rendah
dari pria. Usia juga berpengaruh terhadap TBW dimana semakin tua
usia semakin sedikit kandungan airnya (Tarwoto dan Wartonah, 2011).
b. Distribusi cairan
Cairan tubuh didistribusikan diantara dua kompartemen, yaitu pada
intrakseluler dan ekstrakseluler, cairan intraseluler (CIS) terdiri dari 2/3
atau sekitar 40% dari berat badan, sedangkan cairan ekstraseluler (CES)
terdiri dari 20% dari berat badan, cairan ini terdiri atas plasma (cairan
intravaskular) 5%, cairan interstisial (cairan serebrospinal,, sinovial, cairan
dalam peritonium, cairan dalam rongga mata dan lain-lain) 1-3% (Tarwoto
dan Wartonah, 2011)
6. Komposisi Cairan Tubuh
Tarwoto dan Wartonah (2011) mengatakan cairan tubuh mengandung :
a. Oksigen yang berasal dari paru-paru.
b. Nutrisi yang berasal dari saluran pencernaan.
c. Produk metabolisme seperti karbondioksida.
d. Ion-ion yang merupakan bagian dari senyawa atau molekul atau disebut
juga elektrolit, seperti misalnya sodium klorida dipecah menjadi satu ion
natrium atau sodium (Na+) dan satu ion chlorida (Cl-). Ion yang
bermuatan positif disebut kation, sedangkan yang bermuatan negatif
disebut anion.
7. Keseimbangan Cairan dalam Tubuh
Menurut Saputra (2013) keseimbangan cairan tubuh tercapai ketika jumlah
cairan yang masuk dan keluar sama.
a. Asupan dan pengeluaran cairan
Asupan (intake) cairan pada individu dewasa dalam kondisi normal
berkisar antara 1.500-3.500 mL/hari. Asupan ini dapat berasal dari
minuman atau makanan. Pengeluaran (output) cairan pada individu
dewasa dalam kondisi normal adalah sekitar 2.300 mL/hari dapat keluar
melaui urine, feces dan keringat.
b. Organ yang berperan dalam pengeluaran cairan
Pengeluaran cairan dapat melalui beberapa organ, misalnya ginjal, kulit,
paru-paru dan organ-organ saluran pencernaan (gastrointestinal).
1) Ginjal
Ginjal merupakan organ pengekresi cairan utama didalam tubuh
dan mempunyai peran yang cukup besar dalam mengatur
keseimbangan cairan. Dalam sehari, ginjal menerima 170 liter
darah untuk kemudian disaring menjadi urine. Secara umum, urine
dproduksi sebanyak 1,5 L/hari. Produksi urine dapat berubah
karena beberapa faktor, antara lain asupan cairan, suhu, ADH, dan
aldosteron.
2) Kulit
Kulit berperan dalam pengeluaran cairan karena mengandung
kelenjar keringat. Hal ini juga terkait dengan proses pengeluaran
panas. Pada kondisi normal, pengeluaran cairan melalui kulit 350-
400 mL/hari.
3) Paru
Peningkatan jumlah cairan yang keluar melalui paru merupakan
bentuk respon terhadap perubahan kecepatan dan kedalam nafas
karena pergerakan atau kondisi demam. Jumlah cairan yang
dikeluarkan melalui paru adalah sekitar 400mL/hari.
4) Organ saluran pencerrnaan
Organ saluran pencernaan berperan dalam pengeluaran cairan
melalui proses penyerapan dan pengeluaran air. Air tersebut
dikeluarkan bersama dengan feces. Dalam kondisi normal, cairan
yang hilang dengan cara ini adalah sekitar 100-200 mL/hari.
c. Pengaturan keseimbangan cairan
Pengaturan keseimbangan cairan dapat dilakukan melalui sistem
endokrin (ADH, aldosteron dan glukokortikoid), prostaglandin, dan
mekanisme rasa haus.
1) Hormon antidiuretik (ADH)
ADH berperan dalam meningkatkan reabsorbsi air dalam tahap
pembentukan urine. Dengan demikian, hormon ini mengendalikan
keseimbangan air dalam tubuh. ADH dibentuk di hipotalamus dan
dimpan dalam neurohipofisis postior. Salah satu stimulus untuk
sekresi ADH adalah peningkatan osmolaritas dan penurunan cairan
ekstrasel. Ketika jumlah cairan ekstrasel berkurang, hipotalamus
akan memerintahkan hipofisis poterior untuk melepaskan ADH.
ADH kemudian meningkatkan reabsorbsi air pada duktus
pengumpulan sehingga dapat menelan air. Akibatnya, volume
cairan ekstrasel dapat dipertahankan. Sekresi ADH dapat juga
terjadi pada kondisi stress, trauma, pembedahan, nyeri, dan pada
penggunaan beberapa jenis anestetik dan obat-obat.
2) Aldosteron
Aldosteron merupakan hormon yang disekresikan oleh kelanjar
adrenal. Hormon bekerja di tubulus ginjal dan meningkatkan
absorpsi natrium. Retensi natrium mengakibatkan retensi air.
Bararti, secara tidak langsung, aldosteron berperan dalam
pengaturan keseimbangan cairan.
3) Glukortikoid
Hormon yang disekresikan oleh korteks adrenal, berfungsi untuk
meningkatkan reabsorbsi natrium dan air sehingga volume darah
meningkat dan menyebabkan retensi natrium. Perubahan kadar
glukortikoid menyebabkan perubahan pada keseimbangan darah.
4) Prostaglandin
Prostaglandin merupakan asam lemak alami yang terdapat di ginjal
dan berperan dalam merespon radang, mengendalikan tekanan
darah dan kontraksi uterus serta pergerakan (motilitas)
gastrointestinal. Prostaglandin berperan mengatur sirkulasi ginjal,
respons natrium dan efek ginjal pada ADH.
5) Rasa haus
Pusat rasa haus berada pada hipotalamus dan diaktifkan oleh
peningkatan osmolaritas cairan ekstrasel. Rasa haus dapat
disebabkan karena hipotensi, poliuri, atau penurunan volume
cairan. Rasa haus merupakan manifestasi klinik dari
ketidakseimbangan cairan, sehingga meransang individu untuk
minum.
8. Gangguan Kebutuhan Cairan
Gangguan ketidakseimbangan cairan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
kekurangan volume cairan dan kelebihan volume cairan.
1) Hipovolumia
Kondisi ketidakseimbangan cairan yang ditandai defisiensi cairan
dan elektrolit di ruang ekstrasel (CES), tetapi proporsi antara cairan
dan elektrolit mendekati normal. Hipovolume dapat terjadi karena
kehilangan melaui kulit, ginjal, gastrointestinal, pendarahan sehinggga
menimbulkan syok hipovolemia. Kekuarangan volume cairan dapat
menyebabkan dehisrasi (Vaughans, 2013)
Hipovolemia yang berlangsung lama dapat menimbulkan gagal ginjal
akut atau Chronic Kidney Disease (CKD). Gejala yang timbul pusing,
lemah, letih, mual, muntah, anoreksia, denhut jantung meningkat, mukosa
mulut kering, peningkatan tekanan darah, dan turgor kulit jelek. Tanda-
tanda yang timbul penurunan berat badan akut, mata cekung dan
pengosongan vena jugularis. Pada pasien yang mengalami syok akan
tampak pucat, denyut jantung cepat dan halus, hipotensi, dan oliguri
(Tarwoto dan Wartonah, 2011).
2) Hipervolumia
Kondisi ketidakseimbangan yang ditandai dengan kelebihan cairan
dan natrium di ruang ekstraseluler. Hipervolume dapat terjadi pada
saat stimulasi kronis ginjal untuk menahan natrium dan air, kelebihan
pemberian cairan (Hidayat, 2009).
Kelebihan cairan dalam tubuh dapat menyebabkan edema. Edema
merupakan kelebihan cairan dalam ruang intesstisial yang
terlokalisasi. Edema terjadi karena meningkatnya tekanan hidrostatik
kapiler akibat penambahan volume darah, peningkatan permeabilitas
kapiler seperti pada luka bakar dan infeksi, penurunan tekanan plasma
onkotik karena kadar protein plasma rendah, bendungan aliran limfa
mengakibatkan aliran darah terhambat sehingga cairan masuk kembali ke
kompartemen vaskular, dan gagal ginjal dimana pembuangan air yang
tidak adekuat menimbulkan penumpukan cairan dan reabsorbsi natrium.
9. Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Cairan pada Pasien CKD
1. Definisi CKD
Definisi CKD menurut beberapa sumber adalah sebagai berikut :
a. CKD merupakan ketidakmampuan kedua ginjal untuk
mempertahankan lingkungan dalam yang cocok untuk bertahan hidup
dan kerusakan ini bersifat irreversible (Baradero, Dyrit, dan
Siswandi, 2009)
b. Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan suatu kegagalan fungsi
ginjal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan
serta elektrolit akibat destruksi struktur ginjal yang progresif ditandai
dengan penumpukan sisa metabolisme (toksik uremik) di dalam
tubuh (Muttaqin dan Sari, 2011)
c. CKD merupakan keadaan dimana terjadi kerusakan ginjal progresif
yang berakibat fatal dan ditandai dengan uremia dan limbah nitrogen
lainnya yang beredar dalam darah, serta komplikasinya jika tidak
dilakukan dialisis atau transplantasi ginjal (Nursalam, 2011)
d. CKD merupakan akibat terminal destruksi jaringan dan kehilangan
fungsi ginjal yang berlansung secra berangsur-angsur yang ditandai
dengan fungsi filtrasi glomerulus yang tersisa kurang dari 25%
(Kowalak, Weish, dan Mayer, 2011)
Berdasarkan beberapa sumber diatas dapat disimpulkan bahwa CKD
merupakan kerusakan fungsi ginjal untuk mempertahankan metabolisme
dan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh akibat dari
kerusakan struktur ginjal yang progresif dan irreversible ditandai dengan
penumpukan toksik uremik dan fungsi filtrasi glomerulus kurang dari
25%.
2. Etiologi CKD
CKD merupakan kegagalan fungsi ginjal untuk mempertahankan
metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit akibat destruksi
struktur ginjal yang progresif dengan manifestasi penumpukan sisa
metabolit (toksik uremik) didalam tubuh, sehingga fungsi ginjal
semakin memburuk sampai ginjal kehilangan fungsinya. Faktor resiko
penyakit CKD yaitu pada pasien dengan diabetes melitus, hipertensi,
obesitas, perokok, berumur lebih 50 tahun dan individu dengan riwayat
penyakit diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit ginjal dalam
keluarga (Margareth, 2012).
CKD disebakan oleh beberapa penyakit diantaranya adalah penyakit
diabetic nephropathy, hipertensi, congenital disorder, nephropathy
obstruksi, pilonefritis kronis, polycytic kidney, asam urat, penyebab lain
yang belum diketatahui. Faktor terbanyak penyebab CKD adalah
penyakit diabetic nephropathy dengan prevalensi mencapai 52% dan
hipertensi dengan prevalensi 24% (Kemenkes, 2018).
3. Patofisiologi CKD
Gangguan kebutuhan cairan pada pasien CKD terjadi ketika ginjal
kehilangan fungsinya sehingga tidak mampu memekatkan urine dan
kehilangan cairan yang berlebihan. Sampai fungsi ginjal turun kurang
dari 25% normal, manifestasi klinis CKD mungkin minimal karena
nefron-nefron sisa yang sehat mengambil alih fungsi nefron yang rusak
(Hidayat, 2009). Nefron yang tersisa meningkatkan kecepatan filtrasi,
reabsorbsi dan sekresinya, serta mengalami hipertrofi. Jika jumlah
nefron yang tidak berfungsi meningkat, maka ginjal tidak mampu
menyaing urine. Pada tahap ini glomerulus menjadi kaku dan plasma
tidak dapat difilter dengan mudah melalui tubulus, maka akan terjadi
kelebihan volume cairan dengan retensi air dan natrium (Muttaqin,
2011).
Upaya ginjal dapat meneruskan fungsi ginjal untuk mensekresi bahan
buangan sepeti urea dan kreatinin, sehingga bahan tersebut meningkat
dalam plasma darah hanya setelah Laju Filtrasi Glomerulus (LFG)
menurun pada tahap 50% dari yang normal. Kadar kreatinin plasma
akan mengganda pada penurunan LFG 50%. Walaupun kadar
normalnya adalah 0,6 mg/dL menjadi 1,2 mg/dL, menunjukkan
penurunan fungsi nefron telah menurun sebnayak 50% (Haryono,
2013).
Penurunan LFG juga berpengaruh pada retensi cairan dan natrium.
Retensi cairan dan natrium tidak terkontrol dikarenakan ginjal tidak
mampu untuk mengonsentrasikan atau mengencerkan urine secara
normal pada penyakit gagal ginjal tahap akhir, respon ginjal yang sesuai
terhadap perubahan masukan cairan dan elektrolit sehari-hari tidak
terjadi. Natrium dan cairan sering tertahan dalam tubuh yang
meningkatkan resiko terjadinya edema, gagal jantung kongestif, dan
hipertensi.
4. Manifestasi Klinis CKD
Manifestasi klinis yang dapat muncul di berbagai sistem tubuh akibat
CKD menurut Price dan Wilson (2013) adalah sebagai berikut :
a. Sistem Hematopoietik
Muncul sebagai akibat ekimosis, anemia yang menyebabkan cepat lelah,
trombositopenia, kecenderungan pendarahan dan hemolisis.
b. Sistem Kardiovaskular
Manifestasi klinis yang dapat muncul pada kardiovaskular antara lain
hipertensi, disritmia, perikarditis, edema, hipervolemia, takikardi, dan
gagal jantung kongestif.
c. Sistem Respirasi
Pernafasan kusmaul, dispnea, suhu tubuh meningkat, takipnea, batuk
disertai nyeri, dan edema paru.
d. Sistem Gastroinstinal
Manifestasi klinik yang dapat muncul pada sistem gastrointestinal
adalah distensi abdomen, mual, muntah, dan anoreksia yang dapat
menyebabkan penurunan berat badan, nafas bau amoniak, mulut kering,
stomatitis, gastritis, enteritis, diare, dan konstipasi.
e. Sistem Neurologi
Tanda yang dapat muncul dari terganggunya distribusi metabolik akibat
CKD antara lain penurunan ketajaman mental, perubahan tingkat
kesadaran, letargis/gelisah, tidur terganggu/insomnia, dan kejang.
f. Sistem Muskuloskletal
Nyeri sendi, perubahan motorik-foot drop yang berlanjut menjadi
paraplegia, osteodistrofi ginjal, pertumbuhan lambat pada anak dan
rikets ginjal.
g. Sistem dermatologi
Tanda yang dapat muncul terganggunya distribusi metabolik akibat
CKD antara lain ekimosis, pucat, pruritus, perubahan rambut dan kuku,
dan kulit kering.
h. Sistem Urologi
Manifestasi klinik pada sistem urologi dapat muncul seperti haluaran
urine berkurang, azotemia, proteinuria, hipermagnesemia,
ketidakseimbangan natrium, dan kalium.
i. Sistem Reproduksi
Manifestasi klinis yang dapat muncul pada sistem reproduksi adalah
libido menurun, disfungsi ereksi, infertilitas, dan mengalami
keterlambatan pubertas.
B. Konsep Asuhan Keperawatan Teoritis Pada Gangguan Keseimbangan
Cairan.
1. Pengkajian
a. Pengumpulan Data Awal
1) Identitas Pasien : Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat,
pendidikan, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam
masuk rumah sakit, nomor register dan diagnosa medis.
2) Identitas Penanggung Jawab : Meliputi nama, umur, pendidikan,
pekeerjaan, alamat dan hubungan dengan pasien.
b. Riwayat Kesehatan
Keluhan utama merupakan hal-hal yang dirasakan oleh pasien sebelum
masuk rumah sakit. Biasanya keluhan utama yang dirasakan pasien
dengan gangguan keseimbangan cairan bervariasi, mulai dari urine yang
keluar sedikit sampai tidak dapat BAK, gelisah sampai penurunan
kesadaran, tidak selera makan, mual, muntah, mulut kering, lelah, badan
terasa bengkak dan perubahan berat badan.
c. Riwayat Kesehatan Sekarang
Biaasanya pasien mengalami penurunan frekuensi urine, penurunan
kesadaran, perubahan pola nafas, kelemahan fisik, adanya perubahan
kulit, rasa sakit di kepala, dan edema.
d. Riwayat Kesehatan Dahulu
Biasanya pasien dengan gangguan keseimbangan cairan mempunyai
riwayat penyakit gagal ginjal akut, infeksi saluran kemih yang berulang,
payah jantung, penggunaan obat-abat nefrotoksik, penyakit batu saluran
kemih, penyakit diabetes melitus, dan hipertensi.
e. Riwayat Kesehatan Keluarga
Riwayat penyakit kardiovaskular dan hipertensi, penyakit metabolik,
riwayat menderita penyakit gagal ginjal kronik.
f. Pola aktivitas Sehari-hari.
1) Pola aktivitas dan Istirahat
Menurut Haryono (2013) pasien gangguan keseimbangan cairan
sering mengalami kelelahan ekstrim. Kelemahan malaise, gangguan
tidur, (Insomnia, gelisah atau samnolen) dan penurunan rentang
gerak.
2) Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pasien gangguan keseimbangan cairan biasanya mengalami mual,
muntah, anoreksia, intake cairan inadekuat, peningkatan berat
badan (edema), penurunan berat badan dalam kurun waktu 6 bulan
(Haryono, 2013).
3) Pola Eliminasi
Pasien gangguan keseimbangan ciaran biasanya terjadi penurunan
frekuensi urine, oliguria, anuria (gagal tahap lanjut), abdomen
kembung, diare, konstipasi, dan perubahan warna urine ( Haryono,
2013).
4) Persepsi diri dan konsep diri
Perasaan tidak berdaya, tidak ada harapan, todak ada kekuatan,
menolak, ansietas, takut, mudah marah, dan tidak mampu bekerja.
5) Data sosial
Biasanya pasien mengalami hambatan dalam pergaulan, keluarga,
dan pekerjaan.
g. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum dan tanda-tanda vital
Keadaan umum pasien lemah dan terlihat sakit berat. Pada hasil
pemeriksaan vital sign, sering didapatkan adanya perubahan
pernafasan yang meningkat, suhu tubuh meningkat serta terjadi
perubahan tekanan darah dari hipertensi ringan menjadi berat
(Muttaqin dan Sari, 2011).
2) Pengukuran antropometri
Penurunan berat badan karena kekurangan nutrisi, atau terjadi
peningkatan berat badan karena kelebihan cairan.
3) Kepala
Pada kasus gangguan keseimbangan cairan biasanya ditemukan
keluhan :
a) Mata : Pandangan mata kabur, dan edema pada
kantong mata.
b) Rambut : Rambut rontok, tipis, dan kasar.
c) Hidung : Pernapasan cuping hidung.
d) Mulut : Biasanya mengalami perdarahan, bibir kering
dan peradangan gusi.
4) Telinga : Biasanya tidak ada keluhan.
5) Leher : Biasanya terjadi perbesaran vena
jugularis.
6) Paru : Penggunaan otot bantu pernapasan,
pernapasan dangkal dan kusmaul, pada
auskultasi terdengar suara roncki.
7) Jantung : Biasanya ada ketidaksimetrisan pada dada, iktus
kordis terlihat, dan kuat angkat. Pada auskultasi
didapatkan bunyi jantung irregular dan cepat,
adanya bunyi jantung S3 dan S4
8) Abdomen : Inspeksi biasanya ditemukan distensi pada
abdomen. Perkusi biasanya pekak karena adanya
asites
9) Eksremitas : Biasanya terdapat edema.
10) Genitalia : Dilihat adanya infeksi atau tidak.
h. Pemeriksaan Penunjang
1) Urine
a) Volume, biasanya kurang dari 400 ml/24 jam (oliguria) atau
urine tidak ada.
b) Warna, secara abnormal urine keruh mungkin disebabkan oleh
pus, bakteri, lemak, partikel koloid, fosfat dan urat.
c) Berat jenis urine, kurang dari 1,015 (menetap pada 1,010
menunjukkan kerusakan ginjal berat)
d) Klirens kreatinin, mungkin meurun.
e) Natrium, lebih besar dari 50 meq/L karena ginjal tidak mampu
mereabsorsi natrium.
f) Protein, derajat tinggi proteinuria (3-4) secara kuat menunjukan
kerusakan glomerulus.
2) Darah
a) Hitung darah lengkap, Hb menurun menunjukkan adanya
anemia, Hb biasanya kurang dari 7-8 gr.
b) Sel darah merah, menurun pada defisiensi ertropoetin seperti
azotemia.
c) GDA, ph menurun, asidosis metabolic (Kurang dari 7,2) terjadi
karena kehilangan kemampuan ginjal untuk mengenkresikan
hydrogen dan amonia atau hasil akhir katabolisme protein,
bikarbonat menurun, PaCO2 menurun.
d) Kalium, peningkatan sehubungan dengan retensi sesuai
perpindahan cairan, penurunan pemasukkan atau sintesa karena
kurang asam amino esensial.
e) Magnesium fospat meningkat.
f) Kalsium menurun.
g) Protein (khusus albumin), kadar serum menurun dapat
menunjukkan kehilangan protein melalui urine, perpindahan
cairan, penurunan pemasukkan atau sintesa karena kurang asam
amino esensial.
3) Pemeriksaan radiologic
a) Foto ginjal, ureter dan kandung kemih (kidney, ureter dan
bladder/KUB) : menunjukkan ukuran ginjal, ureter, kandung
kemih dan adanya obstruksi (batu)
b) Pielogram ginjal : mengkaji sirkulasi ginjal dan
mengidentifikasi ektravaskular massa.
c) Sistouretrogam berkemih : menunjunkan ukuran kandung
kemih, refluks kedalam ureter dan retensi.
d) Ultrasonografi ginjal : menentukan ukuran ginjal dan adanya
masa, kista, obstruksi pada saluran perkemihan bagian atas.
e) Biopsy ginjal : merupakan salah satu pemeriksaan diagnostik
yang terpenting yang telah berkembang beberapa abad terakhir
dan telah berkembang beberapa abad terakhir dan dan telah
menghasilkan kemajuan yang sangat pesat dalam pengetahuan
riwayat gunjal. Indikasi utama biopsy ginjal adalah untuk
mendiagnosa penyakit ginjal difusi dan mengikuti
perkembangan lebih lanjut, dilakukan secara endoskopi, untuk
menentukan sel jaringan untuk diagnostik histologis.
f) Endoskopi ginjal dan nefroskopi, dilakukan untuk menentukan
pelvis ginjal (keluar batu, hematuria dan pengangkatan tumor
selektif).
g) Elektrokardiomegali/EKG : mungkin abnormal menunjukkan
ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa.
h) Fotokaki, tengkorak, kolumna spinal dan tangan, dapat
menunjukkan demineralisasi, klasifikasi.
i) Pielogram intravena (IVP), menunjukkan keberadaan dan posisi
ginjal, ukuran dan bentuk ginjal.
2. Diagnosa Keperawatan
Kemungkinan diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien gangguan
keseimbangan cairan dengan CKD adalah (Standar Diagnosis Keperawatan
Indonesia-SDKI 2017) :
a. Hipervolemia berhubungan dengan kelebihan asupan cairan.
3. Intervensi Keperawatan
Tabel 2.1
Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa Tujuan Intervensi
1. Hipervolemia b/d Keseimbangan cairan 1. Manajemen cairan
gangguan
mekanisme Setelah dilakukan a) Monitor status
regulator intervensi keperawatan hidrasi (frekuensi
selama 24 jam maka nadi, akral,
Definisi : keseimbangan cairan pengisian kapiler,
Peningkatan volume membaik, dengan kriteria kelembapan
intravaskular hasil : mukosa, turgor kulit,
intertisiel, atau dan tekanan darah)
a) Asupan cairan b) Monitor berat badan
intraseluler. seimbang, Intake harian
(oral) normal 1500- c) Monitor berat badan
Gejala dan tanda 2500 cc/24 jam, sebelum dan
mayor : Intake (oral) pada sesudah dyalisis
pasien CKD 1000- d) Catat intake-output
a) Ortopnea 1200 cc/24 jam dan hitung balans
b) Dispnea b) Haluaran urin cairan 24 jam.
c) Edema meningkat, Urine e) Berikan asupan
anasarka dan normal 1400-1500 cairan sesuai
edema perifer cc/24 jam kebutuhan
d) Berat badan c) Edema berkurang, f) Berikan cairan
meningkat pemeriksaan piting intravena, jika perlu
dalam waktu edema pada kulit < 2 g) Kolaborasi
yang singkat detik. pemberian diuretik,
e) Peningkatan d) Tekanan darah jika perlu
JVP dan CVP membaik, TD
normal kurang dari
Gejala dan tanda 140/90 mmHg.
minor : e) Membran mukosa 2. Pemantauan cairan
membaik, bibir
a) Distensi vena lembab dan a) Monitor frekuensi
jugularis berwarna merah dan kekuatan nadi
b) Tedengar suara muda b) Monitor frekuensi
napas tambahan f) Turgor kulit napas
c) Kadar Hb membaik c) Monitor tekanan
menurun g) Berat badan darah
d) Oliguria membaik, tidak d) Monitor berat badan
e) Balans cairan terjadi peningkatan e) Monitor waktu
positif berat badan. pengisian kapiler
f) Monitor turgor kulit
Status cairan g) Monitor jumlah,
warna urine
Setelah dilakukan h) Monitor intake dan
intervensi keperawatan output cairan
selama 24 jam maka i) Identifikasi tanda-
status cairan membaik, tanda hipervolemia
dengan kriteria hasil : j) Identifikasi faktor
resiko
a) Turgor kulit ketidakseimbangan
meningkat cairan
b) Output urine k) Atur intervar
meningkat, normal pemantauan sesuai
haluaran urine 1400- kondisi pasien
1500 cc/24 jam l) Dokumentasikan
c) Edema perifer hasil pemantauan
menurun, penilaian
piting edema
hasilnya < 2 detik.
d) Berat badan normal,
tidak terjadi
peningkatan berat
badan karena
kelebihan cairan
e) Tekana darah
membaik, TD
normal kurang dari
140/90 mmHg
f) Tekanan nadi
membaik, normalnya
60-100x/i
g) Oliguria membaik
h) Kadar Hb membaik,
Pria : 13-15, wanita :
12-14
Sumber : SDKI (2017), SLKI & SIKI (2018)
4. Implementasi Keperawatan
Tahap implementasi berpusat pada pelaksanaan intervensi yang diidentifikasi
dalam rencana asuhan keperawatan dan pemantauan reaksi pasien terhadap
intervensi tersebut. Tahap ini harus mendukung pendapat medis dan pendapat
professional kesehatan lainnya, misalnya terapis okupasional atau ahli gizi.
Aspek intervensi keperawatan ini untuk mencapai tujuan dan hasil yang
disetujui untuk menyembuhkan penyakit dan meningkatkan kesehatan, dan
jika mungkin, mengoptimalkan kemandirian.
Peran perawat selama tahap ini adalah bertindak sebagai pendidik dan mengajari
pasien bagaimana mempelajari cara baru untuk mencapai kebersihan setelah
mengalami penyakit atau trauma dan jugamenjelaskan bagaimana aspek
mempertahankan kebersihan menjadi penting untuk kesehatan pasien sacara
keseluruhan. Misalnya, status nutrisi yang buruk dengan kelambatan
penyembuhan penyakit.
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan digambarkan sebagai bagian akhir proses keperawatan,
evaluasi keefektifan tahap implementasi (dan intervensi keperawatan)
memungkinkan perawatdan pasien untuk memantau dan menilai tujuan dan hasil
yang telah tercapai. Akan tetapi, pendekatan sistematik merupakan proses yang
berkelanjutan dan evaluasi adalah aspek yang konstan pada asuhan
keperawatan, tergantung kepada situasi perawatan dan status kesehatan pasien,
beberapa intervensi keperawatan harus dievaluasi per-jam, dan terkadang per-
hari,per-minggu atau bahkan per-bulan. Pasien yang dirawat dibangsal atau
diunit perawatan intensif mungkin memerlukan pemantauan kondisi per-
jam, sementara pasien yang tinggal dipanti werda membutuhkan beberapa aspek
perawatan, misalnya pengendalian nyeri, pemantauan yang terus menerus, dan
perawatan kebersihan mulut yang dipantau perminggu atau per bulan.
Metode evaluasi yang digunakan sama dan dengan menggunakan instrument
yang sama seperti pengkajian awal. Pengumpulan data memungkinkan perawat
untuk mengidentifikasi apakah terdapat perubahan pada kondisi pasien dan
menentukan apakah asuhan keperawatan telah efektif atau belum efektif. Tujuan
yang tidak tercapai dapat terjadi karena berbagai pengaruh kondisi pasien
secara keseluruhan yang memburuk.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah teknik penelitian deskriptif dalam
bentuk study kasus yaitu desain penelitian yang menggambarkan fenomena yang
diteliti dan juga gambaran besarnya masalah yang diteliti (Swarjana, 2015).
Penelitian yang dilakukan berfokus untuk mendeskripsikan bagaimana asuhan
keperawatan gangguan keseimbangan cairan pada pasien CKD.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di ruang Interne Pria RSUD Padang Panjang. Waktu
penelitian dilakukan dimulai dari bulan Desember 2019 sampai Mei 2020.
Pelaksanaan asuhan keperawatan dilakukan pada tanggal 06-10 Februari 2020.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini yaitu semua pasien yang didiagnosa CKD yang
mengalami gangguan keseimbangan cairan di ruang Interne Pria RSUD
Padang Panjang. Jumlah pasien CKD dengan gangguan keseimbangan cairan
di RSUD Padang Panjang berjumlah 4 orang, terdiri dari 1 orang di ruang
interne wanita, 3 orang di interne pria.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini yaitu 1 orang yang didiagnosa CKD dengan
gangguan keseimbangan cairan di ruang Interne Pria. Cara pengambilan
sampel yaitu memilih pasien yang memenuhi kriteria inklusi.
Kriteria dalam pemelihan responden yaitu :
a. Kriteria inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari suatu
populasi target yang terjangkau dan akan diteliti (Nursalam, 2011).
1. Pasien CKD yang mengalami gangguan keseimbangan cairan.
2. Pasien bersedia berpartisipasi dengan penelitian.
3. Kooperatif.
b. Kriteria eklusi
Pasien CKD dengan gangguan keseimbangan cairan yang mengalami
29
penurunan kesadaran.
Jumlah pasien yang memenuhi kriteria inkslusi 1 orang, 2 orang pasien dengan
penurunan kesadaran, 1 orang pasien tidak kooperatif.
D. Jenis-Jenis Data
1. Data Primer
Data primer adalah data yang bersumber langsung dari pasien seperti
pengkajian kepada pasien, meliputi : riwayat kesehatan pasien, pola aktivitas
sehari-hari di rumah, dan pemeriksaan fisik terhadap pasien.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari rekam medis, serta
dokumentasi di ruang Interne Pria RSUD Padang Panjang. Data sekunder
umumnya berupa bukti, data penunjang (pemeriksaan laboratorium dan
pemeriksaan diagnostik), catatan atau historis yang telah tersusun dalam
arsip.
E. Cara Pengumpulan Data
1. Observasi, pemeriksaan fisik dan wawancara
Dalam observasi ini, peneliti mengobservasi atau melihat kondisi dari
pasien, seperti keadaan umum pasien dan keadaan pasien, selain itu
mengobservasi tindakan apa saja yang telah dilakukan pada pasien,
melakukan pemeriksaan fisik dan wawancara, dilakukan tentang identitas
pasien, riwayat kesehatan pasien (keluhan masuk rumah sakit, riwayat
kesehatan sekarang, riwayat penyakit yang diderita sebelumnya dan riwayat
kesehatan keluarga, kondisi lingkungan pasien), dan Activity Daily (ADL)
seperti makan, minum, BAB, BAK, istirahat dan tidur.
2. Pengukuran
Peneliti melakukan pengukuran dengan alat ukur pemeriksaan fisik, seperti
pengukuran berat badan, pengukuran tekanan darah, nadi, suhu, dan pernafasan,
derajat edema, intake, output dan balance cairan.
F. Alat atau Instrumen Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dan mempelajari dokumen-
dokumen tertulis seperti rekam medis. Untuk memperoleh kelengkapan data awal
pada pasien digunakan alat yaitu tensimeter, stetoskop, penlight, alat ukur BB
dan TB, stopwatch, gelas ukur. Instrumen pengumpulan data dari penelitian ini
adalah format pengkajian keperawatan mulai dari pengkajian, diagnosa,
intervensi, implementasi dan juga evaluasi.
G. Analisis
Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menganalisis semua temuan
pada tahapan proses keperawatan dengan menggunakan konsep dan teori
keperawatan pada pasien CKD dengan gangguan keseimbangan cairan. Data
yang telah didapat dari hasil melakukan asuahan keperawatan mulai dari
pengkajian, penegakan diagnosa, merencanakan tindakan, melakukan
implementasi samapai hasil dari tindakan keperawatan akan dirahasiakan dan
dibandingkan dengan teori asuhan keperawatan gangguan keseimbangan cairan
pada pasien CKD. Analisis yang dilakukan untuk menentukan apakah ada
kesesuaian antara teori yang ada dengan kondisi pasien.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Kasus
Rumah Sakit Umum Daerah Padang Panjang merupakan rumah sakit pemerintah
diJln. Tabek Gadang Bukik Kanduang, Gantiang Kota Padang Panjang, Provinsi
Sumatera Barat, Indonesia. RSUD Padang Panjang didirikan padatahun 1970
yang merupakan rumah sakit tipe C . Pembahasan kasus dilakukan di Ruang
Perawatan Interne PriaRSUD Padang Panjang dengan waktu pengambilan data
yang dimulai dari Desember 2019 - Mei 2020. Pelaksanaan askep dilakukan pada
tanggal 06-10 Februari 2020.
Bab ini berisi pembahasan asuhan keperawatan pada Tn.M sebagai partisipan,
yang dilakukan asuhan keperawatan pada tanggal 06-10 Februari 2020 di Ruang
Interne Pria RSUD Padang Panjang. Pembahasan ini di buat dengan
memperhatikan teori proses keperawatan yang terdiri dari tahap pengkajian
keperawatan, merumuskan diagnosa keperawatan, perencanan tindakan
keperawatan dan melakukan evaluasi keperawatan terhadap masalah yang
muncul.
1. Pengkajian
Pengkajian yang dilakukan di Ruang Interne Pria pada tanggal 6 Februari 2020,
dilakukan dengan metode Anamnesa, pemeriksaan fisik, dan studi
dokumentasi yang meliputi pengkajian riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik,
pengkajian pola kesehatan, dan pengkajian psikososial-spiritual. Pengkajian
yang dilakukan ditunjang dengan pemeriksaan diagnostic dan pemeriksaan
labor serta terapi pengobatan yang diberikan dokter.
Hasil pengkajian pada partisipan didapatkan data sebagai berikut : Tn. M
laki-laki berusia 50 tahun. Lahir di Padang Panjang, 05 November 1969
beragama Islam. Partisipan tamatan SMA, yang berprofesi sebagai Pekerja
buruh. Klien telah menikah dan memiliki 2 orang anak, tinggal di RT 12
Tanah Bato Kota Padang Panjang. MR [Link] Selama dirawat yang
bertangguang jawab pada klien adalah Ny.F, dia merupakan istri klien yang
bekerja sebagai ibu rumah tangga.
32
Klien masuk ke RSUD Padang Panjang pada hari Kamis, 6 Februari 2020,
pukul 10.26 WIB dibawa oleh istrinya melalui IGD. Dengan keluhan sesak
napas dan perut terasa penuh dan begah. Pada saat pengkajian tanggal 6
Februari 2020, pukul 12.00 WIB. Tn.M hari rawatan pertama, Tn.M
mengeluh sesak napas saat beraktivitas. Tn.M juga mengatakan bengkak
pada perut masih ada, bengkak pada tangan, kaki dan wajah. Mengeluh sakit
pada telapak kaki kanan yang mengalami pembengkakan. Semua aktivitas
Tn.M dibantu oleh istri dan perawat. Tekanan darah 169/100 mmHg, nadi
80 x/menit, pernafasan 24x/menit, suhu 37˚C. Terpasang injekpum ditangan
sebelah kanan, terpasang oksigen 3 l/menit.
Tn.M sudah menderita CKD sejak 5 tahun yang lalu, Tn.M juga mengatakan
memiliki riwayat DM tipe 2 yang tidak terkontrol yang baru diketahuinya
ketika dirinya didiagnosa CKD. Tn.M mengatakan tidak mengikuti HD sejak
3 minggu yang lalu, karena dirinya bersama keluarga baru pindah ke Padang
Panjang dari Jakarta, dan belum memiliki surat travel HD.
Untuk pola asupan nutrisi dan cairan, Tn.M mengatakan pada saat sehat
makan 3 kali sehari dengan porsi sedang, dengan komposisi nasi, lauk, sayur
kadang-kadang, buah jika ada, dan makanan habis. Dan minum air putih 5-6
gelas sehari (±1500cc/ hari). Pada saat dirawat di RS, klien mendapatkan diit
MB RG on HD 1700 Kkal, makanan selalu habis. Sedangkan untuk asupan
cairan saat dirawat di RS klien minum 3-5 gelas sehari (±1000cc/ hari).
Dan pola eliminasi, keluarga mengatakan semasa sehat Tn.M BAB teratur
dalam sehari BAB 1 x sehari, dengan konsistensi lunak, warna kuning tua,
dan berbau khas, dan BAK Tn.M sedikit ±150-200 cc/24 jam, bau khas,
warna kuning. Saat dirawat di RS Tn.M BAB 1 x sehari, dengan konsistensi
lunak, warna kuning, dan BAK belum ada sejak 4 hari yang lalu.
Pola istirahat dan tidur Di rumah, Tn.M mengatakan tidur ± 7 jam / 24 jam.
Tidur malam dengan nyenyak dari pukul 23.00-05.00 WIB, ditambah dengan
tidur siang ± 1 jam setelah sholat zuhur. Di rumah sakit, Tn.M mengatakan
tidur ± 9 jam / 24 jam. Tidur malam dari pukul [Link]-05.00 WIB,
tidur tidak nyenyak karena sering terbangun, ditambah dengan tidur siang ±
1 jam setelah sholat zuhur dan ± 1 jam setelah shlat ashar.
Untuk aktifitas dan latihan ketika sehat Tn.M mengatakan mampu
melakukan aktifitas seperti mandi, makan dan minum secara mandiri. Ketika
sakit Tn.M mengatakan tidak bisa melakukan aktifiitas secara mandiri, ketika
sakit semua aktifitas seperti mandi, makan, dam minum dibantu oleh istrinya.
Pada saat pemeriksaan fisik, keadaan umum pasien sedang, tingkat
kesadaran compos mentis cooperatif, GCS 15 ( E4M5V6),Tekanan Darah
168/100 mmHg, suhu36,4 ˚C, nadi 80 x/ menit, pernafasan 24 x/ menit,
tinggi / berat badan 158 cm / 69 kg. Untuk pemeriksaan bagian kepala dan
leher yaitu untuk wajah klien berbentuk oval, terlihat simetris, tampak cukup
bersih, edama pada wajah, tidak tampak lesi ataupun luka. Kulit kepala
bersih tidak ada ketombe, rambut klien tampak hitam ada uban, rambut tidak
mudah dicabut. Mata klien Simetris, edema pada kelopak mata konjuctiva
tidak anemis, sklera tidak ikterik, refleks pupil isokor, dengan diameter pupil
2 mm / 2 mm. Telinga simetris kiri dan kanan, cukup bersih, fungsi
pendengaran baik, tidak ada lesi ataupun luka dan tidak ada keluhan lainnya.
Hidung terpasang O2 nasal kanul 3 L/i dengan keadaan bersih, simetris kiri
dan kanan, pernafasan cuping hidung. Leher klien tidak ada pembengkakan
kelenjar getah bening, dan tidak ada pembengkakan kelenjer tiroid. Mukosa
bibir lembab, tidak ada perdarahan di bawah bibir.
Pada pemeriksaan dada, paru saat di inspeksi tampak simetris kiri dan
kanan, tidak ada tarikan dinding dada saat bernapas, di palpasi Fremitus kiri
dan kanan, di perkusi terdengar bunyi sonor di keseluruh lapang paru, dan di
aukultasi terdengar bronkovesikuler. Abdomen saat inspeksi tampak asites,
tampak buncit dan tegang, warna kulit merata, tidak ada lesi. Di palpasi
tidak ada nyeri tekan, di perkusi terdengar bunyi timpani, dan saat auskultasi
terdengar bissing usus 8x/i.
Pada pemeriksaan kulit terlihat cukup bersih, kulit sedikit kering dan kusam.
Hasil pemeriksaan ekstremitas atas di bagian kanan akral teraba hangat,
CRT < 3 dtk, ada edema dari siku sampai jari tangan, kulit tampak sedikit
kering dan kusam, turgor kulit baik, terpasang injekpum. dan eksremitas atas
bagian kiri akral hangat, CRT < 3 dtk, edema pada siku sampai jari tangan.
Lalu pada ekremitas bawah bagian kanan akral teraba hangat, CRT < 3 dtk,
kulit tampak sedikit kering dan kusam, edema pada pergelangan kaki,
punggung kaki, edema berwarna kemerahan pada telapak kaki dan ekremitas
bawah bagian kir,i akral teraba hangat, CRT < 3 dtk, kulit tampak sedikit
kering dan kusam, edema pada pergelangan kaki sampai punggung kaki.
Dengan kekuatan otot :
555 555
555 555
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yaitu Pemeriksaan Diagnostik yaitu
EKG : irama sinus, qrs rate 100 x/menit. Dan pemeriksaan laboratorium
hasil pemeriksaan labor pada tanggal 6-02-2020 hasil labor (Hematologi)
menunjukkan kadar Hemoglobin 9,7 g/dl ( normalnya 13,0 – 16,0 g/dl ),
Leukosit 88,90 satuannya 10^3 / mm^3 ( normalnya 5,0 – 10,0 10^3 / mm^3
), Hematokrit 29% ( normalnya 40,0 – 48,9 %), Trombosit 249 satuanya
10^3 / mm^3 ( normal 150 – 400 10^3 / mm^3). Hasil labor (Kimia Klinik)
menunjukkan kadar Gula Darah Sewaktu 179 mg/dl ( normalnya <200
mg/dl).
Terapi obat yang didapatkan lasix 2 x 1 ampul (injeksi iv), Bicnat 2 x 1 tablet
(PO), Asam folat 2 x 1 tablet (PO), Osteocal 1 x 1 tablet (PO), Amlodipine 1
x 1 tablet (PO).
2. Diagnosa Keperawatan
Setelah dilakukan pengkajian, dengan pengelompokan data, memvalidasi
data, dan menganalisa data berdasarkan data subjektif dan objektif, ditemukan
diagnosa keperawatan yang terindentifikasi. Dengan 1 diagnosa utama, yang
berkaitan dengan gangguan keseimbangan cairan adalah sebagai berikut :
Hipervolemia berhubungan dengan kelebihan asupan cairan. Diagnosa
ini dapat diangkat berdasarkan temuan dan analisa dengan data subjektif,
Tn.M mengatakan minum air putih 4-6 gelas atau sekitar 1000-1500
cc/24jam, Tn.M mengatakan tidak ada BAK yang keluar, Tn.M mengatakan
bengkak pada tangan dari siku sampai jari tangan, Tn.M mengatakan
bengkak pada pergelangan kaki sampai telapak kaki, [Link] mengatakan
perut terasa penuh dan begah. Data objektifnya wajah Tn.M tampak
bengkak, tampak bengkak pada kedua kelopak mata Tn.M, tekanan darah
168/100 mmHg, frekuensi nadi 80 x/i, frekuensi napas 24 x/i, balans cairan
+400. Maka diangkat diagnosa keperawatan tersebut dengan gejala mayor
edema pada ekstremitas, dan peningkatan berat badan dalam waktu yang
singkat.
3. Rencana Keperawatan
Perencanaan diawali dengan menentukan tujuan, kritaria hasil, dan rencana
tindakan yang akan dilakukan. Perencanaan ini diharapkan dapat mengatasi
masalah yang telah dan akan muncul pada pasien selama dirawat. Rencana
tindakan yang akan dilakukan kepada pasien dengan mengunakan SLKI dan
SIKI. Berikut penjabaran intervensi yang diterapkan kepada pasien pada
diagnosa yang diangkat.
Diagnosa utama, Hipervolemia berhubungan dengan kelebihan asupan
cairan, yang memiliki kriteria hasil/pencapaian yang diharapkan meliputi
asupan cairan seimbang (intake normal pasien CKD 600-700 cc/24 jam),
haluaran urine meningkat, edema berkurang dengan pemriksaan pitting
edema pada kulit ˂ 2 detik, tekanan darah normal kurang dari 140/90 mmHg,
membran mukosa bibir lembab, turgor kulit membaik, dan tidak terjadi
peningktan berat badan.
Rencana tindakan yang akan dilakukan sesuai batasan dalam SIKI, yaitu
Manajemen cairan (observasi) yaitu monitor status hidrasi (misalnya :
frekuensi nadi, akral, pengisian kapiler, kelembapan mukosa, turgor kulit,
dan tekanan darah), monitor berat badan harian, monitor berat badan
sebelum dan sesudah dialisis. (Terapeutik) yaitu catat intake dan output
serta hitung balans cairan 24 jam, berikan asupan cairan sesuai kebutuhan,
berikan cairan cairan intravena jika perlu. (Kolaborasi) kolaborasi
pemberian diuretik jika perlu.
4. Implementasi Keperawatan
Implementasi yang dilakukan, sesuai dengan rencana yang telah disusun
dalam tahap perancanaan keperawatan. Intervensi yang akan diberikan pada
pasien yang selanjutnya di lakukan tahapan implementasi sesuai dengan
kebutuha pasein. Implementasi bertujuan melakukan tindakan keperawatan,
sesuai dengan intervensi agar kriteria hasil dapat tercapai. Tindakan
keperawatan diberikan dalam 5 hari rawatan pada pasein pada tanggal 6
Februari – 10 Februari 2020.
Pada pertemuan pertama, kamis 06 Februari 2020. Dilakukan pengkajian
meliputi batas kemampuan dan pemeriksaan fisik pada klien. Yang menjadi
patokan terhadap tindakan yang akan diberikan dan sejauh mana tingkat
kebutuhan dari pasien itu sendiri. Hasil pemeriksan fisik klien ditemukan
keadaan klien tampak lemah, mengalami edema pada wajah, kaki dan tangan,
frekuensi napas meningkat 24 x/i, mengalami asites, perut terasa penuh dan
begah.
Pada hari kedua, setelah melakukan pengkajian pada hari sebelumnya.
Dilakukan implementasi keperawtan yang sebelumnya telah dirumuskan
dalam rencana keperawatan.
Unutk diagnosa keperawatan utama, Hipervolemia berhubungan dengan
kelebihan asupan cairan, implementasi yang dilakukan berupa : mengukur
tekanan darah, mengukur frekuensi nadi, mengukur berat badan, mencatat
intake-output dan menghitung balans cairan, menganjurkan sedikit minum air
putih (500-600 cc/24 jam), memonitor tanda dan gejala edema, serta
memberikan injeksi obat lasix 2 x 1 ampul.
5. Evaluasi Keperawatan
Setelah dilakukan tindakan/implementasi keperawatan, dilakukan evaluasi
sebagai bentuk monitor tingkat keberhasilan dari asuhan yang diberikan
dengan kriteria hasil yang harus dicapai. Metode eavaluasi menggunakan
SOAP, dengan hasil yang diperoleh pada hari ke lima, Senin, 10 Februari
2020 yaitu :
Untuk diagnosa utama hipervolemia berhubungan dengan kelebihan asupan
cairan, setelah diberikan asuhan keperawatan selama 5 hari, masalah teratasi
sebagian dengan intervensi dihentikan. Sesuai kriteri hasil yang telah tercapai
: frekuensi nadai normal 90 x/i, berat badan turun menjadi 65,1 Kg, tidak ada
edema pada wajah dan tangan, dan edema pada kaki grade 1.
B. Pembahasan Kasus
1. Pengkajian
Hasil pengkajian yang didapatkan penelitian melalui observasi, wawancara
dan studi dokumentsi yang dilakukan pada Tn.M berumur 50 tahun, berjenis
kelamin laki-laki. Hal ini sesuai dengan catatan Riset Kesehatan Dasar tahun
2013, bahwa angka kejadian CKD pada laki-laki (0,3%) lebih tinggi
dibandingkan dengan perempuan (0,2%). Kemenkes (2018) mengatakan
prevalensi penyakit CKD meningkat seiring bertambahnya umur, meningkat
tajam pada umur 45-54 tahun dengan prevalensi (31,05%).Menurut analisa
peneliti terdapat kesesuaian antara teori dengan kasus yang ditemukan pada Tn.M,
selain itu pertambahan usia mempengaruhi kerja dan aktivitas organ, misalnya
ginjal, paru-paru, dan hati dapat mempengaruhi jumlah kebutuhancairan.
Sebelum dibawa ke rumah sakit Tn.M mengeluh sesak napas sejak 2 hari
yang lalu, meningkat ketika berjalan dan beraktivitas, Tn.M mengatakan
perut bengkak sejak 2 minggu yang lalu, Tn.M mengatakan perut terasa
penuh dan begah, Tn.M mengatakan bengkak pada tangan dan kaki. Keluhan
tersebut sesuai dengan teori Prabowo (2014) bahwa pada pasien dengan
CKD biasanya didapatkan keluhan diantaranya sesak napas, penumpukan
cairan, edema paru, edema perifer, dan kelebihan toksik uremik.
Berdasarkan penelitian Hasdrianti (2018) didapatkan keluhan yang sama
pada pasien CKD yaitu sesak napas, badan terasa lelah, bengkak pada tangan
dan kaki, dan urin yang keluar [Link] analisa peneliti terdapat
kesesuaian antara teori dengan kasus yang ditemukan padaTn.M.
Saat dilakukan pengkajian Tn.M mengatakan perut masih terasa penuh dan
begah, hal ini sesuai dengan teori Harmilah (2019) bahwa pasien dengan
CKD terjadi distensi abdomen, asites atau penumpukan cairan dalam rongga
abdomen. Tn.M juga mengatakan bengkak pada tangan di bagian siku
sampai jari-jari tangan, bengkak pada kaki di bagian punggung kaki sampai
telapak kaki, bengkak pada wajah, dan bengkak pada kelopak mata. Hal ini
sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Nahas & Levin (2010) dimana
pada pasien CKD kondisi bengkak bisa terjadi pada bagian pergelangan kaki
sampai telapak kaki, tangan, wajah, dan betis. Kondisi ini disebabkan ketika
tubuh tidak bisa mengeluarkan semua cairan yang menumpuk dalam tubuh.
Berdasarkan penelitian Hasdrianti (2018) didapatkan keluhan yang sama
pada pasien CKD yaitu bengkak pada ekstremitas atas dan bawah.
Tn.M juga mengatakan nyeri seperti kesemutan pada telapak kaki kanan
yang mengalami pembengkakan, dan nyeri seperti ditusuk jarum ketika kaki
kanan tersentuh. Hal ini sesuai dengan teori yang disampikan oleh Nahas &
Levin (2010) pada pasien CKD terjadi gangguan muskuloskeletal yaitu
Resiles leg syndrom (Pegal pada kaki) dan Burning feet syndrom (Rasa
kesemutan dan terbakar terutama pada telapak kaki).
Pada riwayat kesehatan dahulu, Tn.M mengatakan memiliki riwayat penyakit
diabetes melitus yang baru diketahuinya ketika dirinya didiagnosis CKD.
Tn.M mengatakan penyakit diabetes melitusnya tidak terkontrol, ini sesuai
dengan teori Price dan Wilson (2012) bahwa salah satu factor penyebab
penyakit ginjal kronik yaitu yang mempunyai penyakit sistemik seperti
diabetes melitus dan hipertensi, teori ini juga didukung oleh Kemenkes
(2018) Faktor terbanyak penyebab CKD adalah penyakit diabetic
nephropathy dengan prevalensi mencapai 52% dan hipertensi dengan
prevalensi 24%. Berdasarkan penelitian Hasdrianti (2018) didapatkan hal
yang sama dengan riwayat penyakit dahulu pada pasien CKD yaitu memiliki
riwayat penyakit diabetes melitus.
Perubahan pola eliminasi juga dirasakan oleh Tn.M, dimana tidak ada urin
yang keluar sejak 4 hari yang lalu sampai sekarang, hal ini sesuai dengan
teori Diyono & Mulyati (2019) biasanya terjadi penurunan frekuensi urine,
sampai anuria, dan distensi abdomen yang disertai perubahan warna urine
menjadi kuning pekat, merah kecoklatan dan [Link]
penelitian Hsdrianti (2018) didapatkan keluhan BAK keluar sedikit pada
pasienCKD.
Berdassarkan hasil pengkajian yang ditemukan peneliti dalam melakukan
pengkajian sudah sesuai dengan teori, sehingga tidak terjadi kesenjangan
antara teori dengan praktik di lapangan.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosis keperawatan adalah pernyataan yang jelas mengenai status
kesehatan atau masalah aktual atau resiko dalam rangka mengidentifikasi
dan menentukan intervensi keperawatan untuk mengurangi, menghilangkan
atau mencegah masalah kesehatan klien yang ada pada tanggung jawabnya
(Tarwoto & Wartonah, 2011).
Setelah dilakukan pengkajian kemudian mengelompokan data, memvalidasi
data, dan menganalisa data, didapatkan hasil pengkajian yang dilakukan
pada Tn.M ditemukan masalah prioritas adalah Hipervolemia berhubungan
dengan kelebihan asupan cairan, hal ini sesuai dengan diagnosis yang
mungkin muncul pada pasien CKD menurut Persatuan Perawat Nasional
Indonesia (PPNI) tahun 2017. Berdasarkan diagnosis yang muncul pada
kasus ini, sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hasdrianti (2018)
ditemukan diagnosis prioritas Kelebihan volume cairan berhubungan dengan
gangguan mekanisme regulasi pada pasien CKD.
Berdasarkan diagnosis yang ada di teori, peneliti tidak menemukan
kesenjangan antara teori dengan kenyataan di lapangan, dimana diagnosis
yang ada dalam teori muncul dalam kasus penelitian yang dialami oleh
Tn.M.
3. Rencana Asuhan Keperawatan
Berdasarkan masalah keperawatan yang ditemukan pada klien, maka
diperlukan rencana keperawatan yang didalamnya terdapat tujuan dan
kriteria hasil yang diharapkan dapat mengatasi masalah keperawatan.
Perencanaan keperawatan disusun berdasarkan diagnosis keperwatan yang
ditemukan pada kasus. Intervensi keperawatan tersebut terdiri dari Standar
Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) dan Standar Intervensi Keperawatan
Indonesia (SIKI).
Rencana keperawatan yang dilakukan pada Tn.M engan masalah
Hipervolemia berhubungan dengan kelebihan asupan cairan diharapkan
terjadi keseimbangan cairan dalam tubuh Tn.M dengan kriteria hasil asupan
cairan seimbang intake (oral) normal, haluaran urine meningkat, edema pada
ekstremitas berkurang, tekanan darah dalam batas normal, dan tidak terjadi
peningkatan berat badan. Rencana tindakan yang dilakukan adalah
manajemen cairan dengan cara monitor status hidrasi, monitor berat badan
harian, monitor berat badan sebelum dan sesudah dyalisis, cata intake dan
output serta hitung balans cairan selama 24 jam, berikan asupan cairan sesuai
kebutuhan, berikan antipirertik jika perlu sesuai dengan kolaborasi bersama
dokter.
Menurut peneliti dalam penyusunan rencana keperawatan yang dilakukan
pada Tn.M tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus yang ditemukan
dalam penetapan intervensi yang akan dilakukan. Penyusunan perencanaan
yang dibutuhkan oleh pasien dalam upaya pemulihan derajat kesehatan.
4. Implemantasi Keperawatan
Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan tidak semua tindakan
dilaksanakan oleh peneliti, karena peneliti tidak merawat klien selama 24
jam penuh. Namun, sebagai solusi peneliti mendelegasikan rencana tindakan
keperawatan kepada perawat ruangan yang sedang dinas di ruangan tersebut.
Untuk melihat tindakan yang dilakukan perawat ruangan peneliti melihat dan
membaca buku laporan tindakan yang di tulis oleh perawat yang sedang
dinas.
Secara umum rencana keperawatan dengan masalah Hipervolemia dapat
dilakukan, namun masalah tidak dapat teratasi sesuai dengan kriteria yang
telah diharapkan.
Pada masalah Hipervolemia berhubungan dengan kelebihan asupan cairan
implementasi yang dilakukan pada Tn.M yaitu menganjurkan klien
membatasi cairan, menghotung balance cairan dengan menghitung jumlah
makanan yang dikonsumsi pasien, jumlah minum, jumlah terapi cairan yang
masuk dan menguranginya dengan jumlah urine yang keluar dalam 24 jam,
menghitung jumlah jumlah buang air besar, memonitor tanda-tanda vital,
dan memberikan obat lasix yang bertujuan untuk mengurangi cairan yang
berlebih dalam tubuh. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
Anggraini (2016) bahwa pemantauan intake dan output pada pasien CKD
diperlukan untuk mencegah overload cairan.
Penelitian Hasdrianti (2018) di RSUP [Link] Padang, implementasi
yang dilakukan pada pasien CKD dengan masalah kelebihan volume cairan
adalah menganjurkan klien membatasi asupan cairan, menghitung balans
cairan, memonitor tanda-tanda vital, dan memberikan injeksilasix.
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan adalah penilaian akhir keperawatan yang didasarkan
pada tujuan keperawatan yang ditetapkan. Penetapan keberhasilan suatu
asuhan keperawatan didasarkan pada perubahan prilaku dari krteria hasil yang
telah ditetapkan, yaitu terjadinya adaptasi pada individu (Nursalam, 2008).
evaluasi keperawatan dilakukan dalam bentuk pendekatan SOAP.
Pada penelitian ini, peneliti melakukan evaluasi dari tindakan yang dilakukan
selama lima hari. Implementasi dan evaluasi pada Tn.M dilakukan pada
tanggal 06-10 Februari 2020. Dalam melakukan evaluasi, adapun faktor
pendukung adalah kerjasama yang baik antara peneliti dengan perawat
ruangan, peneliti dengan partisipan, peneliti tidak menemukan adanya faktor
penghambat ini dikarenakan adanya kerjasama yang baik antara peneliti
dengan perawat ruangan.
Hasil evaluasi yang didapatkan setelah dilakukan implementasi selama 5 hari
pada Tn.M dengan masalah Hipervolemia b/d kelebihan asupan cairansudah
teratasi sebagian ditandai dengan S : Tn.M mengatakan bengkak pada tangan
dan wajah berkurang pda hari rawat 2 dan berkurang drastis setelah dilakukan
HD, O : Masih terdapat edema dengan grade 1 pada kaki Tn.M, balans cairan
+454 cc/24 jam, A : Masalah kelebihan volume cairan teratasi sebagian,
dengan kriteria hasil edema perifer berkurang, P : Intervensi dihentikan pada
hari kelima.
Jadi pada kasus evaluasi dari tindakan keperawtan yang dilakukan selama 5
hari yaitu dengan evaluasi berdasarkan Standar Luaran Keperawatan Indonesia
(SLKI). Hasil yang diharapkan tercapai pada Tn.M setelah asuhan
keperawatan dilakukan selama 5 hari.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian asuhan keperawatan pada pasien Chronic Kidney
Disease (CKD) di ruang Interne Pria kamar Ikhwan 8 pada Tn.M, peneliti dapat
mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Hasil pengkajian didapatkan data Tn.M mengeluh sesak napas karena
penumpukan cairan di perutnya, edema pada kedua tangan dari siku
sampai jari-jari tangan, edema pada kaki dari pergelangan kaki sampai
telapak kaki, edema pada wajah dan kedua kelopak mata kiri dan kanan.
Tn.M juga mengeluh tidak ada BAK.
2. Diagnosis Keperawatan
Setelah dilakukan pemeriksaan dan pengkajian yang dilakukan pada Tn.M
ditemukan masalah keperawatan prioritas yaitu Hipervolemia berhubungan
dengan kelebihan asupan cairan.
3. Intervensi Keperawatan
Direncanakan dan dibuat berdasarkan diagnosis keperawatan yang ditemukan
pada Tn.M dengan penyakit CKD. Rencana tindakan keperawatan ini
mengacu pada referensi Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)
dan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI). Rencana yang
dilakukan terhadap Tn.M yaitu manajemen cairan .
4. Implementasi keperawatan yang dilakukan merupakan dari rencana
tindakan keperawatan yang telah disusun dengan harapan hasil yang
dicapai sesuai dengan tujuan dan kriteria hasil yang telah ditetapkan.
Secara umum rencana pada masalah keperawatan teratasi sesuai dengan
kriteria yang telah ditetapkan.
5. Evaluasi dilakukan selama 5 hari secara berturut-turut yang dilakukan
secara komprehensif dengan acuan asuhan keperawatan Standar Dianosis
Keperawatan Indonesia (SDKI). Hasil yang didapatka selama 5 hari
kunjungan adalah masalah kelebihan volume cairan teratasi sebagian
dengan kriteria hasil edema pada tangan dan wajah tidak ada, dan edema
pada kaki berkurang menjadi grade 1.
45
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, peneliti memberikan saran sebagai berikut :
1. Bagi Direktur RSUD Pdang Panjang
Melalui pimpinan rumah sakit diharapkan dapat memberikan motivasi dan
bimbingan pada seluruh staf agar dapat memberikan asuhan secara
optimal kepada semua pasien dan lebih meningkatkan mutu pelayanan
rumah sakit.
2. Bagi Perawat Ruangan
Studi kasus yang peneliti lakukan pada kasus gangguan keseimbangan
cairan pada pasien CKD dapat menjadi bahan informasi bagi perawat
ruangan Interne Pria RSUD Padang Panjang dalam melakukan asuhan
keperawatan.
Diharapkan bagi perawat ruangan dalam menghitung intake dan output
sebaiknya dilakukan setiap shif agar balans cairan terkontrol
keseimbangannya dan memberikan promosi kesehatan mengenai CKD
pada pasien dan keluarga agar dampak dari penyakit ini dapat dicegah
lebih lanjut.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Penulisan ini diharapkan dapat menjadi bahan perbandingan bagi
mahasiswa Prodi D-III Keperawatan Padang pada penelitian selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Andi Eka Pranata, Eko Prabowo, [Link]. 2014. Asuhan Keperawatan Sistem
Perkemihan Edisi 1 Buku Ajar. Nuha Medika : Yokyakarta
Anggraini, Fany dan Farosyah Putri, Arcellia. (2016, November). Pemantauan
Intake Output Cairan Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik. :
[Link]
[Link]. Diakses pada 07 Jnuari 2020
Baradero, Dayrit, Siswandi. 2009. Seri Asuhan Keperawatan : Klien Gangguan
Ginjal. Jakarta : EGC
Brunner dan Suddarth. 2013. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol 2.
Jakarta :EGC
Diyono & Sri Mulyanti. (2019). Keperawatan Medikal Bedah : Sistem Urologi.
Yokyakarta : CV. Andi Offset
Fresenius Medical Care AG&CO. (2013). Anual Report 2013 Perspectives :
[Link]
al_General_Meeting/2014/09_AGM_2014_Annual_Report_2013.pdf.
Diakses pada tanggal 22 Desember 2019
Harmilah. (2019). Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem
Perkemihan. Yokyakarta : Pustaka Baru Press
Hasdriyanti, Dian Eka. (2018, Mei). Karya Tulis Ilmiah : Asuhan Keperawatan
Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit pda Pasien Gagal Ginjal Kronik
(GGK) di Ruang Irna Non Bedah RSUP [Link] Padang.
Haswita dan Reni Sulistyowati. 2017. Kebutuhan Dasar Manusia Untuk
Mahasiswa Keperawatan dan Kebidanan. Jakarta : CV Trans Info Media.
Haryono, Rudy. 2013. Keperawatan Medikal Bedah : Sistem Perkemihan.
Yaokyakarta : Rapha Publishing
Hidayat, [Link]. 2009. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia : Aplikasi Konsep
dan Proses Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Hill, et al. (2016, juli). Global Prevalence Of Chronic Kidney Disease - A Sistematic
Review and [Link] CKD Global Prevalence.:
[Link]
Chronic_Kidney_Disease_-_A_Systematic_Review_and_Meta-Analysis.
Diakses pada 10 Januari 2020
Kemenkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) : Penyajian Pokok-
Pokok Hasil Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta : Balitbang Kemenkes RI
Kemenkes RI. 2018. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) : Hasil Utama
Riskesdas 2018. Jakarta : Balitbang Kemenkes RI
Kemenkes RI. 2018. Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) : Air Bagi
Kesehatan : Upaya Peningkatan Promotif Preventif Bagi Kesehatan Ginjal di
Indonesia. Jakarta : Mentri Kesehatan RI
Kowalak JP, Weish W, dan Mayer B. 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Alih bahasa
oleh Andry Hartono. Jakarta : EGC
Lemone, et al. 2016. Keperawatan Medikal Bedah. Alih bahasa oleh Bararah, B
dan Nike, BS. Jakarta : EGC
Muttaqin, A dan Sari, K. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem
Perkemihan. Banjarmasin : Salemba Medika
Nursalam. 2011. Konsep dan dokumentasi Keperawatan, Konsep dan Praktek.
Jakarta : Salemba Medika
Price, S.A, dan Wilson, L.M. 2013. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit Eisi IV. Jakarta : EGC
Potter dan Perry. 2010. Fundamental Of Nursing : Consep, Proses, and Practice.
Edisi 7 Vol 3. Jakarta : EGC
______________. 2012. Fundamental of Nursing. Jakarta : EGC
Prabowo, Eko & Andi, E.P. (2014) Asuhan Keperawatan Sistem Perkemihan.
Yokyakarta : Nuha Medika
Rahayu, Sunarsih dan Mardi Harnanto, Addi. 2016. Kebutuhan Dasar Manusia II.
Jakarta : Pusdik SDM Kesehatan
Rendy, MC dan Margareth TH. 2012. Asuhan Keperawatan Medikal Bedah
Penyakit Dalam. Yokyakarta : Nuha Medika
Safitri, Syerli. (2018, November). Skripsi : Apakah Ada Hubungan Kepatuahn
Diet Pasien dengan Peningkatan Berat Badan Antara Waktu Hemodialisa
Pada Pasien yang Menjalani Terapi di RSUD Padang Panjang.
Saputra, Lyndon. 2013. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : Binarupa
Aksara
Tarwoto dan Wartonah. 2011. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses
Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
Terry,C,L. dan Aurora,W. 2013. Keperawatan Kritis. Yokyakarta:Rapha Puplik
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Disgnosis Keperawatan Indonesia
Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta : Dewan Pengurus PPNI
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
Definisi dan Tindakan Keperawatan. Jakarta : Dewan Pengurus PPNI
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta
: Dewan Pengurus PPNI