0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan36 halaman

PBL untuk Keterampilan Fiqih Siswa 21

Dokumen ini adalah proposal tesis yang membahas penerapan model pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) untuk mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi fiqih di MA Salafiyah Karangtengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penerapan PBL, dampaknya, serta faktor pendukung dan penghambat dalam proses pembelajaran. PBL diharapkan dapat membantu siswa menghubungkan konsep fiqih dengan kehidupan nyata, meningkatkan keterampilan berpikir kritis, dan memecahkan masalah.

Diunggah oleh

alfaruqnoer
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan36 halaman

PBL untuk Keterampilan Fiqih Siswa 21

Dokumen ini adalah proposal tesis yang membahas penerapan model pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) untuk mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi fiqih di MA Salafiyah Karangtengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penerapan PBL, dampaknya, serta faktor pendukung dan penghambat dalam proses pembelajaran. PBL diharapkan dapat membantu siswa menghubungkan konsep fiqih dengan kehidupan nyata, meningkatkan keterampilan berpikir kritis, dan memecahkan masalah.

Diunggah oleh

alfaruqnoer
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENERAPAN PEMBELAJARAN

BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK


MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN SISWA ABAD 21
PADA MATERI FIQIH
(Studi Kasus MA Salafiyah Karangtengah Kec. Warungpring Kab. Pemalang)

PROPOSAL TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat


Untuk Memperoleh Gelar Magister Pendidikan (M. Pd)
Pada Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)

Oleh :
NURHAFIDZ ALFARUQ
NIM. 2486080084

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SIBER SYEKH NURJATI


CIREBON (UINSSC)
PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
TAHUN 2025
A. Latar Belakang Masalah

Strategi dalam proses belajar mengajar sangatlah penting. Strategi

memiliki bagian penting dengan perspektif bagaimana pendidikan akan

dilakukan dan dijalankan, terutama pada proses belajar mengajar pendidikan

agama yang lebih khusus lagi pada materi fiqih. Upaya menanamkan dan

menerapkan nilai-nilai ajaran agama Islam yang ada pada materi fiqih kemudian

bisa diserap, dikhayati serta diamalkan oleh siswa merupakan bagian dari

strategi pembelajaran pada sebuah pendidikan. Tantangan pembelajaran agama

Islam pada materi fiqih adalah terkait bagaiaman implementasinya, bukan

sekedar mengajarkan siswa tentang agama tetapi juga memotivasi siswa untuk

mempunyai keimanan dan ketaqwaan kuat sebagai pengembangan kepribadian

dan akhlak mulia.1

Pemikiran kritis, efektifitas dalam komunikasi, kerjasama, ketrampilan

digital, pemecahan amsalah dan kemandirian merupakan wujud pengembangan

keterampilan abad 21. Implementasi pembelajaran efektif diwajibkan

menstimulus pengembangan tersebut. Pembelajaran tidak hanya tentang

penguasaan konsep-konsep akademik, tetapi juga tentang penerapan konsep-

konsep tersebut dalam situasi nyata dan pengembangan keterampilan abad ke-

21. Keterlibatan aktif siswa pada pembelajaran yang efektif harus disertai

pertimbangan minat, kebutuhan, dan gaya belajar siswa. Keterlibatan siswa

secara aktif pada proses pembelajaran dan memiliki otonomi dalam mengatur

dan memonitor kemajuan mereka. Dengan mempertimbangkan kepentingan

1
Soetomo, Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar, (Surabaya: Usaha Nasioonal, 1993) hlm. 145
siswa dan memberi mereka peran aktif dalam pembelajaran, motivasi dan

keterlibatan siswa dapat ditingkatkan.

Fiqih adalah ilmu yang berkaitan dengan penerapan hukum-hukum Islam

dalam kehidupan sehari-hari. Namun, seringkali siswa sulit menghubungkan

konsep-konsep fiqih dengan konteks kehidupan mereka yang nyata. Dengan

menggunakan metode PBL, siswa akan diberikan masalah-masalah nyata yang

relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini akan membantu siswa

memahami konsep-konsep fiqih dengan lebih baik dan melihat kegunaannya

dalam situasi konkret.

Mata pelajaran fiqih memiliki peran penting dalam membentuk

pemahaman siswa tentang ajaran-ajaran agama dan norma-norma yang berlaku

dalam kehidupan sehari-hari. Dalam prakteknya dilembaga Islam utamanya di

pondok pesantren telah diajarkan sejak level dasar sampai dengan level paling

tinggi. Lebih-lebih pada pondok pesantren atau lembaga yang memiliki visi

untuk membentuk SDM yang tafaquh fiddin.2

Guru merupakan salah satu faktor keberhasilan. Oleh karena itu maka

seorang guru perlu memiliki pengetahuan dan sarana dalam menjalankan

tugasnya. Keberhasilan pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan

secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta

didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberi ruang yang cukup prakarsa.

2
Abdul Muiz, Peran Pesantren dalam Pembinaan Akhlak di Era Globalisasi. Fenomena,
Vol. 14 No. 2 Oktober 2015
Kreatifitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, serta psikologis peserta

didik.3

Tantangan dalam proses pembelajaran fiqih sering muncul, terutama

dalam hal mengembangkan pemahaman yang mendalam. Fiqih merupakan ilmu

pengetahuan dasar yang berkaitan dengan ketentuan, mekanisme, dan prinsip-

prinsip kehidupan. Praktisnya, pembelajaran ini terintegrasi dalam mata

pelajaran pendidikan Agama Islam yang diajarkan di sebuah lembaga

pendidikan.4

Salah satu model pembelajaran yang memungkinkan dikembangkannya

keterampilan berpikir peserta didik (penalaran, komunikasi, dan koneksi) adalah

pembelajaran berbasis masalah (PBM) atau dalam bahasa lain Problem Based

Learning (PBL). “Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning)

merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang memberi kondisi

belajar aktif kepada peserta didik dalam kondisi nyata. Karena dalam proses

belajar mengajar tersebut keaktifan siswa sangat ditekankan sedangkan guru

menjadi fasilator yang mengarahkan siswa dalam proses pembelajaran

Model pembelajaran sebagaimana dikemukakan oleh Joyce dan Weil

yang dikutip adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk

membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang

bahan-bahan pembelajaran dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang

3
Redja mudyahardjo, pengantar pendidikan, (Bandung: PT. Rajagrafindo Persada, 1998)
hlm.67
4
Fauzi, A. Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam PAI Untuk Menanggulangi Kenakalan
Remaja pada Sekolah Umum (Studi Multi Situs di SMP Negeri dan SMP SwastaKartika IV-8
Malang). Jurnal Al-Wijdan: Journal of Islamic Education [Link]. 2 No. 2 (2017) hlm.97
lain. Maksud dari model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang

melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasi pengalaman belajar

untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman/acuan

bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan

aktivitas belajar mengajar.5

Salah satu model yang saat ini sedang menjadi perhatian kalangan

pendidik adalah model Problem Based Learning (PBL) yaitu model

pembelajaran yang di dalamnya melibatkan sasaran didik untuk berusaha

memecahkan masalah dengan beberapa tahap metode ilmiah sehingga siswa

diharapkan mampu untuk mempelajari pengetahuan yang berkaitan dengan

masalah tersebut dan sekaligus siswa diharapkan mampu memiliki keterampilan

dalam memecahkan masalah. PBL akan menjadi sebuah pendekatan

pembelajaran yang berusaha menerapkan masalah yang terjadi dalam dunia

nyata, sebagai sebuah konteks bagi peserta didik untuk berlatih bagaimana cara

berpikir kritis dan mendapatkan keterampilan untuk memecahkan masalah.6

Model pembelajaran berbasis masalah saat ini dipandang relevan untuk

menghadirkan suasana nyata di dalam pembelajaran, termasuk di lembaga

pendidikan Islam seperti madrasah dan pesantren. Secara kontekstual, model

pembelajaran berbasis masalah yang diselenggarakan di madrasah sangat terkait

dengan kehidupan nyata, yang menyangkut persoalan-persoalan di masyarakat.

Model pembelajaran berbasis masalah ini diharapkan mampu menyiapkan

5
Trianto, Model Pembelajaran Terpadu, Konsep, Strategi dan. Implementasinya dalam
KTSP. Jakarta: Bumi Aksara, 2010) hlm. 15
6
Ibid, hlm. 15
peserta didik atau santri agar mampu menyelesaikan persoalan dan

permasalahan yang muncul di tengah-tengah masyarakat.7

Berdasarkan pada uraian tersebut, Maka seorang guru harus mempunyai

perencanaan, persiapan, pelaksanan dan evaluasi pada setiap proses belajar

mengajar dalam suatu pendidikan, seorang guru harus memiliki karakter yang

teliti dalam mempertimbangkan berbagai aspek dalam pembelajaran termasuk

mengenai pendekatan dan strategi belajar yang diterapkan Oleh sebab itu,

peneliti mengambil judul Tesis “Penerapan Pembelajaran Berbasis Problem

Based Learning (PBL) Untuk Mengembangkan Keterampilan Siswa Abad

21 Pada Materi Fiqih (Studi Kasus MA Salafiyah Karangtengah)

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana penerapan pembelajaran berbasis Problem Based Learning

(PBL) untuk mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi Fiqih

(Studi Kasus MA Salafiyah Karangtengah)?

2. Bagaiaman dampak penerapan pembelajaran berbasis Problem Based

Learning (PBL) untuk mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada

materi Fiqih (Studi Kasus MA Salafiyah Karangtengah)?

3. Bagaiamana factor pendukung dan penghambat dalam penerapan

pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) untuk

7
Lukman Hakim, “Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah Pada Lembaga
Pendidikan Islam di Madrasah”, Jurnal Pendidkan Agama Islam-Ta’lim Vol. 13, No. 1 (2015)
hlm.40
mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi Fiqih (Studi

Kasus MA Salafiyah Karangtengah)?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka tujuan yang hendak

dicapai dalam penelitian ini adalah;

a. Untuk mengidentifikasi, mendeskripsikan, dan memahami penerapan

pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) untuk

mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi Fiqih (Studi

Kasus MA Salafiyah Karangtengah)

b. Untuk mendeskripsikan secara mendalam dampak penerapan

pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) untuk

mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi Fiqih (Studi

Kasus MA Salafiyah Karangtengah)

c. Untuk menggambarkan factor pendukung dan penghambat dalam

penerapan pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) untuk

mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi Fiqih (Studi

Kasus MA Salafiyah Karangtengah).

2. Keguanaan Penelitian

Penelitian yang akan dilaksanakan ini diharapkan memberi kegunaan bagi:

a. Bagi Penulis : Dapat mengetahui Peran Guru sebagai pelaksana dari

penerapan pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) untuk

mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi Fiqih


b. Bagi penyelengara pendidikan khususnya MA Salafiyah Karangtengah

sebagai bahan masukan dalam proses belajar mengajar khususnya materi

fiqih pada penerapan pembelajaran berbasis Problem Based Learning

(PBL) untuk mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi

Fiqih.

c. Bagi Siswa MA Salafiyah Karangtengah: Dapat memberikan

sumbangan informasi dan pengetahuan terhadap model pembelajaran

yang bisa memberikan semangat dan keluasan dalam memanfaatkan

teknologi yang sedang berkembang sekarang ini.

D. Kerangka Teori

Dalam penelitian ini, peneliti perlu menguraikan berbagai terori-teori yang

relevan dengan masalah yang akan diteliti sebagai pedoman dalam penelitian.

1. Problem Based Learning (PBL)

Problem Based Learning merupakan satu model pembelajaran yang

dilakukan diawal proses kegiatan belajar mengajar dengan menyajikan suatu

permasalahan nyata yang dikaitkan dengan sebuah materi dalam

pembelajaran. Problem Based Learning merupakan model pembelajaran

yang melibatkan siswa untuk ikut memecahkan masalah nyata melalui

tahapan metode ilmiah sehingga siswa bisa mempelajari pengetahuan yang

terkait dengan masalah tersebut sekaligus mempunyai keterampilan dalam

pemecahan masalahnya.8

8
Agus Suprijono, cooperative learning teori dan aplikasi PAIKEM (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2017) hlm.. 2
Joyce menuturkan bahwa model pembelajaran adalah rencana atau

template yang dipergunakan sebagai pegangan/acuan dalam membuat

rencanarencana pembelajaran di kelas sehingga dapat ditentukan perangkat

pembelajarannya yang meliputi berbagai macam buku, komputer, kurikulum

dan lain sebagainya.9

Reza & Astuti mendefiniiskan Model pembelajaran Problem Based

Learning (PBL) bahwa model tersebut menunjukan pada pelaksanaanya

menghadapkan siswa pada suatu masalah untuk penekanan pada

pembelajaran yang kolabotarif dan sebagai salah satu pendekatan

pembelajaran yang inovatif dengan memberikan dan mengkondisikan proses

belajar mengajar yang aktif.10

Definisi PBL menurut Musyadad, dkk, adalah bahawa pembelajaran

yang didasarkan pada proses awal dengan masalah dalam kehidupan nyata

yang kemudian dari masalah tersebut siswa dirangsang untuk mempelajari,

memahami jawaban atas masalah tersebut berdasarkan pada pengetahuan dan

pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge) sehinngga

akkan terbntuk pengtahuan dan pengalaman baru.11

Ball dan Knobloch yang dikutip sutirman menyatakan bahwa

“Evidence suggests problem based learning can help promote critical

9
Husniyatus Salamah Zainiyati, Model Dan Strategi Pembelajaran Aktif (Teori Dan
Praktek Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam) (Jakarta: CV. Putra Media Nusantara,
2010) hlm. 5-6
10
Reza Yuafian dan Astuti Suhandi, Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Menggunakan
Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) vol. 3 No. 1 tahun 2020, hlm.. 17-24
11
Musyadad, dkk, Penerapan model pembelajaran problem based learning dalam
meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran IPA pada konsep perubahan lingkungan fisik dan
pengaruhnya terhadap daratan, jurnal Tahsinia, 2019, hlm..13
thinking skills”. Studies investigating problem-solving, a component of

critical thinking, have found that students exposed to problem based learning

consistently display growth in problem-solving skills. Selain itu,

“pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang

berangkat dari pemahaman siswa tentang suatu masalah, menemukan

alternatif solusi atas masalah, kemudian memilih solusi yang tepat untuk

digunakan dalam memecahkan masalah tersebut.12

PBL atau problem based learning merupakan model pembelajaran yang

berusahan meningkatkan memotivasi rasa ingin tahu siswa. Model problem

based learning juga menjadi wadah bagi siswa untuk dapat mengembangkan

cara berpikir kritis dan keterampilan berpikir yang lebih tinggi bagi siswa.13

Problem Based Learning jika merujuk pada pendapat Herminarto,

maka dalam pengembangan pembelajaran tujuannya adalah untuk memnuhi

3 ranah pendidikan, yaitu ranah kognitif, Psikomotorik dan ranah afektif,

yaitu:14

a. Ranah Kognitif (Knowledges)

Mendorong siswa untuk secara langsung memecahkan masalah yang nyata

dan autentik dengan menerapkan ilmu dasar yang mereka miliki.

b. Ranah Psikomotorik (Keterampilan/Skills)

12
Sutirman, Media dan Model-Model Pembelajaran Inovatif (Yogyakarta: Graha Ilmu,
2013) hlm.. 39
13
Gunantara, dkk, Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk
Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matermatika Siswa Kelas V. Jurnal Mimbar
PGSD Universitas Pendididkan Ganesha, 2019. hlm.. 2
14
Herminarto Sofyan, Problem Based Learning Kurikulum 2013 ( Yogyakarta: UNY Press,
2017) hlm.. 57-58
Ranah ini bertujuan dan berusaha untuk melatih siswa dalam memecahkan

masalah, berpikir kritis, belajar mandiri dan belajar seumur hidup.

c. Ranah Afektif (Attitude)

Tujuan dari ranah ini dalam Problem Based Learning adalah berusaha

melatih siswa dalam mengembangkan karakter diri, mengembangkan

hubungan antar manusia dan pengembangan diri pada aspek psikologis.

Tiga ciri utama model pembelajaran Problem Based Learning menurut

Sanjaya adalah:15

1) PBL merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam

implementasi PBL ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa.

PBL tidak mengharapkan siswa hanya sekedar mendengarkan, mencatat,

kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui PBL siswa aktif

berpikir, komunikasi, mencari dan mengolah data dan ahirnya

menyimpulkan,

2) Aktivitas pembelajaran ditunjukkan untuk menyelesaikan masalah PBL

menetapkan masalah sebagai kata kunci dalam pembelajaran, artinya tanpa

masalah tidak mungkin ada proses pembelajaran,

3) pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakanpendekatan berpikir

secara ilmiah.

15
Sanjaya, W. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.(Jakarta:
Kencana, 2010) hlm 50.
3. Keterampilan Abad 21

Pendidikan Nasional pada abad 21 memiliki tujuan mewujudkan cita-

cita bangsa dengan mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia dan

berkedudukan terhormat, dan setara dengan bangsa lain dalam dunia global,

dengan membentuk sumber daya manusia yang berkualitas, berkepribadian,

mandiri, memiliki kemauan dan kemampuan dalam mewujudkan cita-cita

bangsa.16 Pemerintah Indonesia melalui Kemendikbud setidaknya

mengadaptasi tiga konsep pendidikan agab 21, yaitu 21 century skills,

Scientific approach, dan authentic learning assessment guna mewujudkan

cita-cita tersebut. 17

Keterampilan atau skill adalah sebuah pengetahuan prosedural,

dengan kata lain adalah pengetahuan mengenai suatu urutan mental atau

tindakan fisik yang mendorong ke arah suatu hasil. Keterampilan

merupakan sebuah prosedur yang sederhana sedangkan kemampuan atau

ability adalah prosedur yang kompleks.18

Meteriti Group dan North Central Regional Educational aboratory

berpendapat bahwa keterampilan abad 21 diklasifikasikan dalam empat

cluster atau kategori, seperti:19

16
Daryanto, Syaiful Karim, Pembelajaran Abad 21 (Yogyakarta: Gavamedia, 2017)
hlm..12
17
Ibid, hlm..12
18
Adun Rusyna. Keterampilan Berpikir. (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2014)hlm. 137.
19
Tantri Mayasari,dkk, “Apakah Model Pembelajaran problem Based Learning dan Project
Based Learningmampu Melatihkan Keterampilan Abad 21?”, jurnal pendidikan fakultas keguruan
(JFPK) (Maret, 2016) hlm. 48
1) Literasi Era Digital (digital-age literacy)

2) Pemikiran Inventif (inventive thinking),

3) komunikasi efektif (effective communication), dan

4) produktivitas tinggi (high productivity).

Griffin & Care, mengelompokkan keterampilan abad 21 berdasarkan

empat kategori, yaitu:

(1) Cara berpikir: meliputi metakognisi, mengetahui bagaimana cara

membuat keputusan, terlibat dalam berpikir kritis, menjadi inovatif, dan

mengetahui bagaimana cara memecahkan masalah.

(2) Kemampuan berkomunikasi yang baik dan mampu bekerjasama dalam

sebuah tim.

(3) Menggunakan alat yang tepat dan memiliki pengetahuan yang cukup

untuk bekerja, serta memiliki literasi teknologi informasi.

(4) Menjadi warga negara yang baik dengan berpartisipasi dalam

pemerintahan, menunjukkan tanggung jawab sosial.

Trilling & Fadel, berpendapat terkait keterampilan abad 21 yang

mengkategorikan kedalam beberapa elemen. Elemen – elemen keterampilan

abad 21 tersebut yaitu:20

a) Life and carreer skills

Life and Career skill adalah keterampilan individu untuk hidup dan

berkarir, meliputi fleksibilitas dan adaptabilitas, inisiatif dan mengatur

20
Ibid
diri sendiri, interaksi sosial dan budaya, produtivitas dan akuntabilitas,

kepemimpinan dan tangggung jawab.

b) Learning and innovation skills

Learning and innovation skills (keterampilan belajar dan

berinovasi) meliputi:

1) Keterampilan berpikir kritis (critical thinking),

2) Keterampilan komunikasi (Communication Skill),

3) Keterampilan kolaboratif (Collaborative Skill) dan

4) Keterampilan berpikir kreatif (Creative Thinking Skill).

c) Information, media and technologi skills

Information Media and Technologi Skill adalah keterampilan

media dan teknologi, meliputi literasi informasi, literasi media dan

literasi.

E. Kajian Kepustakaan

Tinjauan pustaka ini untuk mendapatkan gambaran tentang hubungan

topik penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya sehingga tidak terjadi

pengulangan yang tidak diperlukan.21 Untuk mengetahui secara luas tema yang

dibahas, peneliti berusaha mengumpulkan karya-karya, baik berupa tesis,

skripsi maupun jurnal. Dalam hal ini ada beberapa karya ilmiah yang membahas

tentang Problem Based Learning yang dianggap terkait dengan penelitian ini,

adalah sebagai berikut:

21
Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), hlm.125.
1. Abdul Mutholib, 2014 (Jurnal) penelitian yang berjudul Implementasi

model pembelajaran Problem Based Learning untuk Meningkatkan

Prestasi Belajar PAI. Hasil penelitian ini adalah

Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas sebanyak dua

putaran. Dari hasil analisis data hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa

penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan

prestasi belajar siswa kelas VI. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan nilai

rata-rata tes hasil belajar dalam setiap siklus. Yaitu dari pra siklus (60,4)

siklus I (67,02) dan siklus II (76,82) serta ketuntasan belajar siswa

meningkat mulai dari pra siklus (24,3%) siklus I (40%) dan siklus II

(86,48%).

2. Wicaksanti, 2023 (Jurnal) penelitian ini berjudul “Penerapan Model

Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir

Kritis Siswa Kelas IV SD Kanisius Totoga”

Penelitian ini merupakan tindakan kelas, dari penelitian ini didapati

hasil penelitian bahwa diperoleh data pada pra siklus ketuntasan belajar

siswa hanya 14,8% dengan nilai rata-rata 57,4. Kemudian pada pelaksanaan

siklus 1 ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi 44,4% dengan nilai

ratarata 71,9. Selanjutnya pada pelaksanaan siklus 2 persentase ketuntasan

belajar siswa meningkat menjadi 66,7% dengan nilai rata-rata 82,9. Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran

Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan kemampuan berpikir

kritis siswa kelas IV SD Kanisius [Link]: sama-sama meneliti


dan membahas PBL dan berpikir kritis. Perbedaan: penelitiannya hanya

menggunakan teknik analisis data kuantitatif, sedangkan penelitian saya

menggunakan teknik analisis data kuantitatif dan kualitatif.

3. Sufinatin Aisida1 2017 (Jurnal) judul penelitian “Aplikasi Model

Problem Based Learning Sebagai Motivasi dalam Pembelajaran Fiqih”

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan

bahwa penerapan model Problem Based Learning mempunyai peranan yang

cukup besar dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini disebabkan

konsep model pembelajaran, fungsi dan peranannya dalam proses

pendidikan amatlah penting untuk menentukan dan menyampaikan cara

dalam mengajar, mentransfer informasi, pikiran, pengetahuan, dan

pengalaman untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam memahami

konsep mata pelajaran, khususnya mata pelajaran Fiqih.22

4. Marhamah Saleh, 2013 (Jurnal) “Strategi Pembelajaran Fiqh dengan

Problem Based Learning”.

Hasil kajian menunjukkan bahwa metode Problem Based Learning

cocok untuk diaplikasikan dalam pembelajaran bidang fiqh, dan dapat

dikombinasikan dengan metode konvensional lainnya untuk mencapai hasil

pembelajaran secara maksimal. Disamping itu, Problem Based Learning

cukup efektif dalam memudahkan pemahaman mahasiswa dan

menghubungkan pengetahuan mereka dengan realitas permasalahan yang

22
Sufinatin Aisida, Aplikasi Model Problem Based Learning Sebagai Motivasi dalam
Pembelajaran Fiqih, Jurnal An-Nuha Vol. 4, No. 1, Juli 2017 hlm. 207
ada dalam masyarakat. Problem Based Learning (PBL) atau Pembelajaran

Berbasis Masalah (PBM) adalah metode belajar yang membelajarkan

peserta didik untuk memecahkan masalah dan merefleksikannya dengan

pengalaman mereka, sehingga memungkinkan dikembangkannya

keterampilan berpikir (penalaran, komunikasi dan koneksi) dalam

memecahkan masalah yang bermakna, relevan dan kontekstual. PBL

merupakan salah satu metode dalam model pembelajaran kontekstual

(Contextual Teaching and Learning) yang didasarkan pada teori belajar

konstruktivisme.23

5. Siti Rusmayani, 2017 (Jurnal) judul penelitian “Pengaruh Model

Pembelajaran Problem Based Learning dan Motivasi Terhadap Hasil

Belajar Fiqh Siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri Stabat”

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tujuan penelitian ini

untuk (1) Mengetahui perbedaan hasil belajar Fiqh siswa yang diajar dengan

menggunakan problem based learning dan menggunakan KTSP. (2)

Mengetahui perbedaan hasil belajar Fiqh siswa yang memiliki motivasi

tinggi dengan siswa yang bermotivasi rendah. (3) Mengetahui interaksi

antara model problem based learning dan motivasi terhadap hasil belajar

siswa dalam mata pelajaran Fiqh. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di

sekolah MTsN Negeri Stabat Kabupaten Langkat. Penelitian ini

menggunakan pendekatan kuantitatif dalam bentuk eksperimen. Hasil

23
Marhamah Saleh, Strategi Pembelajaran Fiqh dengan Problem Based Learning, Jurnal
Ilmiah DIDAKTIKA Agustus 2013 VOL. XIV NO. 1 hlm. 190-220
penelitian berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan yaitu

Analisis Varian dan Uji Tuckey maka didapati perbedaan yang signifikan

antara hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran Problem Based

Learning dengan model pembelajaran KTSP bahwa kelompok siswa yang

diajar dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning

didapat hasil belajar yang lebih tinggi daripada siswa yang diajar

menggunakan pembelajaran KTSP pada materi fiqh di Madarash Tsnawiyah

Negeri [Link] perbedaan signifikan hasil belajar siswa yang

memiliki motivasi tinggi dengan motivasi rendah. Kelompok siswa yang

memiliki motivasi tinggi memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi

daripada siswa yang diajar menggunakan pembelajaran KTSP pada materi

fiqh di Madarash Tsnawiyah Negeri Stabat. Terdapat interaksi antara

model pembelajaran dan motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar pada

materi fiqh di Madarasah Tsnawiyah Negeri Stabat.24

Berdasarkan kajian hasil penelitian terdahulu, penelitian pada tesis ini

berbeda dengan apa yang menjadi kajian penelitian yang sudah ada, dari segi

kesimpulan yang diambil oleh peneliti sudah jelas berbeda dan, memiliki subjek

kajian yang berbeda pula. Sedangkan penelitian yang di lakukan penulis menitik

beratkan pada Penerapan Pembelajaran Berbasis Problem Based Learning

(PBL) Untuk Mengembangkan Keterampilan Siswa Abad 21 Pada Materi Fiqih

(Studi Kasus MA Salafiyah Karangtengah)

24
Siti Rusmayani, Al- Rasyidin, Salminawati , Pengaruh Model Pembelajaran Problem
Based Learning dan Motivasi Terhadap Hasil Belajar Fiqh Siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri
Stabat, EDU RILIGIA: Vol. 1 No. 1 Januari-Maret 2017 hlm. 312
F. Metode Penelitian

1. Rancangan Penelitian

Dalam resit ini terkait Penerapan Pembelajaran Berbasis Problem

Based Learning (PBL) Untuk Mengembangkan Keterampilan Siswa Abad 21

Pada Materi Fiqih (Studi Kasus MA Salafiyah Karangtengah). Pendekatan

penelitian yang akan digunakan adalah pendekatan kualitatif. Lexy J. Moelong

mengutip pendapat Bogdan dan Taylor menjelaskan bahwa pendekatan

kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa

kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.25

Dalam penelitian kualitatif metode yang biasanya digunakan adalah metode

interview atau wawancara, metode observasi dan dokumentasi.

Jenis penelitian yang disusun dalam penelitian ini adalah penelitian

lapangan (field research) penelitian yang langsung dilakukan pada tempat

kejadian atau terjadinya gejala yang sedang diteliti dengan tujuan mempelajari

secara intensip terkait unit social tertentu yang meliputi, individu, kelompok,

lembaga atau masyarakat.26 Langkah-langkah yang akan ditempuh dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Melakukan pengumpulan data pertama, yaitu MA Salafiyah

Karangtengah. Penelitian ini dilakukan sampai pada tingkat kejenuhan

data,

25
Lexy, J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2018) hlm. 4.
26
Suharsimi Arikunto, Managemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995) hlm. 5.
2. Melakukan pengumpulan data kedua, yaitu MA Salafiyah Karangtengah.

Penelitian ini dilakukan sampai pada tingkat kejenuhan data.

2. Kehadiran Peneliti

Kehadiran peneliti menjadi suatu keharusan. Kehadiran peneliti bukan

hanya dilakukan dalam waktu yang singkat dan cepat, akan tetapi peneliti ikut

dalam perpanjangan latar penelitian. Jika hal itu dilakukan maka akan

membatasi: 1) Membatasi gangguan dari dampak penelitian pada konteks, 2)

Membatasi kekeliruan peneliti, 3) Mengkonpensasikan pengaruh dari kejadian-

kejadian yang tidak biasa atau pengaruh sesaat.27

3. Lokasi Penelitian

Peneliti akan mengambil setting lokasi di MA Salafiyah Karangtengah

Kec. Warungpring Kab. Pemalang. Adapun alasannya adalah sebagaimana

berikut:

a. MA Salafiyah Karangtengah Kec. Warungpring Kab. Pemalang

merupakan sekolah ber-akreditasi A di wilayah Kabupaten Pemalang yang

sangat diminati oleh masyarakat, dan mempunyai fasilitas penunjang

pembelajaran yang yang sangat memadai.

b. MA Salafiyah Karangtengah Kec. Warungpring Kab. Pemalang dalam

proses pembelajaran sudah menerapkan Problem Based Learning (PBL).

4. Sumber Data

Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini, ialah:

27
Lexy, J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2018) hlm.327
a. Data Primer

data primer merupakan sumber data yang berkenaan langsung28

diperoleh dari sumber utama, dengan pembahasan masalah Penerapan

Pembelajaran Berbasis Problem Based Learning (PBL) Untuk

Mengembangkan Keterampilan Siswa Abad 21 Pada Materi Fiqih (Studi

Kasus MA Salafiyah Karangtengah). Data primer di dapat dari sumber

informan yaitu individu atau perseorangan seperti hasil pengamatan dan

wawancara yang dilakukan oleh peneliti. Sumber data primer dalam

penelitian ini dibagai menjadi tiga bagian yaitu: tempat (plece), pelaku

(actor), dan aktivitas (activities).

1) Komponen Tempat

Merupakan informasi yang dikumpulkan langsung dari sumber

di lapangan yakni peneliti terjun kelapangan MA Salafiyah

Karangtengah Kec. Warungpring Kab. Pemalang. .

2) Komponen Pelaku

Pada komponen pelaku peneliti akan mewawancari secara

mendalam kepada : Kepala sekolah, Wakasek Kurikulum, Guru PAI,

Peserta Didik.

3) Komponen Aktivitas

Pada komponen aktivitas peneliti terjun langsung ke lapangan

yang menjadi obyek penelitian dengan cara observasi lapangan,

28
Sanapiah Faisal, Formal-formal Penelitia Sosial, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
1995) hlm. 32.
mencatat semua kegiatan dan merekam semua kejadian yang dilihat

oleh mata.

b. Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah sumber data yang secara tidak

langsung berkaitan dengan penelitian ini tetapi sebagai penunjang data

primer. Data sekunder diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang

melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada. Sumber data

sekunder dalam penelitian ini adalah informasi yang telah dikumpulkan

dari orangtua siswa, masyarakat dan telaah yang berupa karya tulis ilmiah,

buku-buku, artikel jurnal, dokumen-dokumen & tulisan-tulisan yang

relevan dengan penelitian ini.

5. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunkan teknik pengumpulan data berupa observasi

partisipan, wawancara mendalam, studi dokumentasi, dan gabungan antar

ketiganya atau triangulasi data.29

a. Observasi Partisipan (Participan Observation)

Menurut Suharsimi Arikunto bahwa observasi disebut juga dengan

pengamatan menggunakan seluruh panca indra.30Observasi yaitu

melakukan pengamatan secara langsung pada objek penelitian untuk

melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan.31 Observasi atau pengamatan

29
Andi Parstowo, Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Persepektif Rancangan Penelitian,
(Yogjakarta:Ar-Ruzz Media, 2012) hlm. 207.
30
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, (Jakarta: Bima
Aksara, 1989) hlm.. 80
31
Ridwan, Skala Pengukuran Variable-variable Penelitian, (Bandung; Alfabeta, 2011)
hlm.30.
adalah metode pengumpulan data di mana penelitian atau kolaboratornya

mencatat informasi sebagaimana yang mereka saksikan selama penelitian.32

Penelitian ini menggunakan metode observasi, dimana pengamatan

dan pencatatan segala fenomena yang diselidiki dan diteliti dengan seksama

oelh panca indera..33 Dengan demikian observasi merupakan pengamatan

langsung terhadap fenomena yang dikaji. Metode ini digunakan untuk

mengumpulkan data tentang gambaran umum Penerapan Pembelajaran

Berbasis Problem Based Learning (PBL) Untuk Mengembangkan

Keterampilan Siswa Abad 21 Pada Materi Fiqih di MA Salafiyah

Karangtengah Kec. Warungpring Kab. Pemalang.

Peneliti melakukan observasi partisipan dengan cara mengamati

bahkan terlibat secara langsung dalam berbagai aktivitas pendidikan guna

mencermati gejala-gejala yang ada dan memiliki informan yang sesuai

dengan data yang dibutuhkan peneliti pada penelitian MA Salafiyah

Karangtengah Kec. Warungpring Kab. Pemalang. .

b. Wawancara Mendalam (Indepeth Interview)

Salah satu teknik pengumpulan data yang menjadi ciri penelitian

kualitatif adalah dengan wawancara yang mendalam.34 Teknik wawancara

digunakan untuk menangkap makna secara mendasar dalam interaksi yang

spesifik. Teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara tidak

32
[Link], Metode Penelitian, (Jakarta: PT. Grasindo, 2007) hlm. 116.
33
Sutrisno Hadi, Metodelogi Research III, (Yogyakarta: Andi Offset, 2000) hlm. 36.
34
Madyo Ekosusilo, Hasil Nilai Kualitatif Sekolah Unggulan Berbasis Nilai, (Sukoharjo,
Univet Bantara Press. 2003) hlm. 63.
terstandar (unstandarized interview) yang dilakukan tanpa menyusun suatu

daftar pertanyaan yang ketat.

Metode wawancara mendalam digunakan peneliti untuk

mendapatkan informasi yang mendalam dan dapat dipertanggung jawabkan

kebenarannya yang berupa informasi terkait dalam Penerapan Pembelajaran

Berbasis Problem Based Learning (PBL) Untuk Mengembangkan

Keterampilan Siswa Abad 21 Pada Materi Fiqih di MA Salafiyah

Karangtengah Kec. Warungpring Kab. Pemalang dan informasi lain terkait

permasalahan yang diteleiti.

c. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan cara dalam pengumpulan informasi yang

didapatkan dari dokumen seperti peninggalan tertulis arsip-arsip yang

memiliki keterkaitan dengan masalah diteliti.35 Dokumen adalah catatan

tertulis tentang berbagai kegiatan atau peristiwa pada waktu yang lalu.36

d. Studi Dokumen

Menurut Guba dan Lincoln dalam Moleong37 menjelaskan istilah

dokumen dibedakan dengan record. Definisi record adalah setiap

pernyataan tertulis yang disusun oleh seseorang atau lembaga untuk

keperluan pengujian suatu peristiwa atau menyajikan akunting.

35
Rusdin Pohan, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Yogjakarta, Ar-Rijal Institut dan
Lanarka Publisher, 2007) hlm. 75.
36
[Link], Metode Penelitian, (Jakarta: PT. Grasindo, 2007) hlm.123.
37
Lexy, J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2018), hlm. 216.
Sedang dokumen adalah setiap bahan tertulis ataupun film, lain dari

record, yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan seorang

penyidik. Dalam artian jika seorang peneliti menemukan record, tentu saja

perlu dimanfaatkan.

Creswell menjelaskan bahwa seorang peneliti harus membawa

dokumen-dokumen kualitatif seperti dokumen publik dan dokumen

pribadi38. Dokumen publik berupa makalah atau koran dan dokumen

pribadi seperti jurnal, diari (buku harian), atau surat.

6. Teknik Analisis Data

Teknik Analisis data diawali dengan memahami dan menela’ah semua

data yang sudah terkumpul dari berbagai teknik yang sudah dilakukan oleh

peneliti, yaitu teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi yang sudah

dicatat oleh peneliti selama pengamatan dMA Salafiyah Karangtengah Kec.

Warungpring Kab. Pemalang. .

1) Pengumpulan Data

Peneliti mengumpulkan data untuk menemukan sebuah data yang

sesuai di lapangan, selanjutnya peneliti melakukan pengumpulan data di

lapangan dengan mencatat, mengamati, merekam dan lainnya sebagainya.

2) Reduksi Data

Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada

penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul

38
John W. Creswell, Research Design (pendekatan metode, kualitatif, kuantitatif, dan
campuran), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2017), hlm. 256.
dari catatan-catatan tertulis di lapangan.39 Penelitian menelaah kembali

seluruh catatan yang diperoleh di lapangan melalui teknik observasi,

wawancara, dokumen-dokumen.

3) Penyajian Data

Setelah data direduksi, maka selanjutnya adalah mendisplay data

yakni merangkum hal-hal pokok dan kemudian disusun dalam bentuk

deskripsi yang naratif dan sistematis sehingga dapat memudahkan untuk

mencari tema sentral sesuai dengan fokus atau rumusan-unsur dan

mempermudahkan untuk memberikan makna.

4) Validitas Data

Yakni melakukan pencarian makna dari data yang dikumpulkan

secara lebih dan akurat. Kegiatan ini dilakukan dengan cara mencari pola,

bentuk, tema, hubungan, persamaan dan perbedaan, faktor-faktor yang

mempengaruhi dan sebagainya. Hasil kegiatan ini adalah kesimpulan hasil

evaluasi secara utuh, menyeluruh dan akurat.40

5) Penarikan Kesimpulan

Setelah dilakukan validitas data, maka langkah selanjutnya adalah

menarik kesimpulan atau verifikasi. Analisis yang dilakukan selama

pengumpulan data dan sesudah pengumpulan data digunakan untuk

menarik kesimpulan,

39
Madyo Ekosusilo, Hasil Nilai Kualitatif Sekolah Unggulan Berbasis Nilai, (Sukoharjo,
Univet Bantara Press. 2003), hlm.70
40
Miles, Matthew B. Milles dan A. Michael Huberman, Analisis Data Kualitatif,
[Link] Rohendi Rohidi, (Jakarta: UI Press, 1992), hlm. 16-19.
7. Pengecekan Keabsahan Data

a. Kreadibilitas

Peneliti sebagai instrument utama dalam penelitian kualitatif

sangat berperan dalam menentukan dan memutuskan data, sumber data,

menyimpulkan data, dan hal-hal penting lain yang memungkinkan dalam

pelaksanaan di lapangan terjadi berprasangka atau bias. Untuk menghindari

hal tersebut maka data yang diperoleh perlu diuji kredibilitanya. Uji

kredibilitas data dimaksud untuk membuktikan data yang diamati dan

dikumpulkan sesuai fakta. Pada uji kredibilitas ini peneliti menggunakan:

1) Perpanjangan keikutsertaan

Peneliti dalam penelitian kualitatif adalah instrument itu

sendiri. Keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam pengumpulan

data. Keikutsertan tersebut tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat

akan tetapi harus memperpanjang pengamatan dengan terjun langsung

di lapangan.

2) Ketekunan dalam pengamatan

Peneliti harus meningkatkan ketekunan pengamatan secara

teliti dalam mengumpulkan data. Dengan cara membaca dan memeriksa

kembali dengan cermat tentang data yang ditemukan di lapangan

sehingga peneliti mendapatkan data informasi yang valid demi

menunjang penelitian yang diharapkan sesuai dengan tema.


3) Triangulasi

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang

memanfaatkan sesuatu yang lain.41 Teknik keabsahan data yang

digunakan dalam tesis ini adalah triangulasi yaitu pendekatan multi-

metode yang dilakukan penelitian pada saat mengumpulkan data

menganalisis data.42

a) Triangulasi Sumber

Adalah metode pengujian kredibilitas data dengan cara

membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu

informasi yang di peroleh melalui waktu dan alat yang berbeda

dalam penelitian kualitatif.43

Peneliti memakai trianggulasi sumber untuk mencari data dari

beberapa sumber, yaitu guru Pendidikan Agama Islam, Wakasek

Kurikulum.

b) Triangulasi Metode

Triangulasi metode dilaksanakan dengan cara memanfaatkan

penggunaan beberapa metode yang berbeda untuk mengecek balik

derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh. Dalam

penelitian kualitatif peneliti menggunakan metode wawancara,

41
Lexi J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, (Bandung, PT. Remaja Rosda
Karya. 2018), hlm. 330.
42
Madyo Ekosusilo, Hasil Nilai Kualitatif Sekolah Unggulan Berbasis Nilai, (Sukoharjo,
Univet Bantara Press. 2003),hlm.73.
43
Ibid.... hlm. 331.
observasi, dan survei. Untuk memperoleh data atau infromasi yang

relevan.

4) Auditing

Dalam penelitian ini teknik auditing digunakan oleh peneliti

untuk memeriksa kembali kebergantungan atau kepastian data yang

didapat peneliti pada saat di lapangan sehingga mendapatkan hasil yang

lebih maksimal dalam mengumpulkan informasi dan data.

b. Dependabilitas

Dependabilitas atau kebergantungan untuk menanggulangi

kesalahan-kesalahan dalam hasil penelitian yang dilakukan peneliti, seperti

dalam konseptualisasi rencana penelitian, pengumpulan data, interpretasi

temuan, dan pelaporan hasil penelitian. Untuk menanggulangi hal tersebut

diperlukan adanya berbagi pihak yang lebih akuntabel dalam memeriksa

proses penelitian yang dilakukan oleh peneliti, supaya mendapatkan hasil

yang lebih relevan. Untuk itu diperlukan dependent auditor. Yang menjadi

dependent auditor dalam penelitian ini adalah dosen pembimbing.

c. Konfirmabilitas

Pengujian konfirmabilitas adalah pengecekan kembali data hasil

penelitian secara obyektif.44 Hal ini bergantung pada persetujuan dari

beberapa orang terhadap pandangan, pendapat, dan temuan seseorang. Jika

temuan data yang didapat selama penelitian di sepakati atau disetujui

44
Madyo Ekosusilo, Hasil Nilai Kualitatif Sekolah Unggulan Berbasis Nilai, (Sukoharjo,
Univet Bantara Press. 2003). hlm.74.
banyak orang maka dapat dipastikan bahwa penelitian ini dilaksanakan

secara obyektif. Untuk mengetahui hal tersebut dilakukan dengan cara

mengkonfirmasi data-data yang diperoleh dari lapangan dengan para

informan atau para ahli.

G. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan penelitian tesis ini, penulis sajikan dalam lima bab,

dengan rincian sebagai berikut :

Bab I berisi antara lain pendahuluan, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan

penelitian, kerangka teori, telaah pustaka, Metode penelitian dan

sistematika penulisan

Bab II. Berisi tentang kajian teori yang meliputi, Model pembelajaran Problem

based learning, keterampilan Abad 21 dan penerapan pembelajaran

berbasis problem based learning (PBL) untuk mengembangkan

keterampilan siswa abad 21 pada materi fiqih

Bab III membahas tentang penerapan pembelajaran berbasis problem based

learning (PBL) untuk mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada

materi fiqih dan factor yang terkait penerapan pembelajaran berbasis

problem based learning (PBL) untuk mengembangkan keterampilan

siswa abad 21 pada materi fiqih di MA Salafiyah Karangtengah

Bab IV Akan dibahas mengenai analisis data penerapan pembelajaran berbasis

problem based learning (PBL) untuk mengembangkan keterampilan

siswa abad 21 pada materi fiqih dan factor yang terkait penerapan
pembelajaran berbasis problem based learning (PBL) untuk

mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi fiqih di MA

Salafiyah Karangtengah

Bab V Penutup, berisikan kesimpulan dan saran serta daftar pustaka dan

lampiran-lampiran.
DAFTAR PUSTAKA

Aisida, Sufinatin.2017. Aplikasi Model Problem Based Learning Sebagai Motivasi


dalam Pembelajaran Fiqih, Jurnal An-Nuha Vol. 4, No. 1

Arikunto,Suharsimi.1995. Managemen [Link]: Rineka Cipta.

Creswell, John [Link] Design (pendekatan metode, kualitatif,


kuantitatif, dan campuran).Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Daryanto, Syaiful Karim.2017. Pembelajaran Abad [Link]: Gavamedia.

Ekosusilo, Madyo.2003. Hasil Nilai Kualitatif Sekolah Unggulan Berbasis Nilai.


Sukoharjo, Univet Bantara Press.

Faisal, Sanapiah.1995. Formal-formal Penelitia [Link]: PT. Raja Grafindo


Persada.

Fauzi, A. [Link] Nilai-nilai Agama dalam PAI Untuk Menanggulangi


Kenakalan Remaja pada Sekolah Umum (Studi Multi Situs di SMP Negeri
dan SMP SwastaKartika IV-8 Malang). Jurnal Al-Wijdan: Journal of
Islamic Education [Link]. 2 No. 2

Gulo, W.2007. Metode [Link]: PT. Grasindo.

Gunantara, dkk.2019. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning


Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matermatika
Siswa Kelas V. Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendididkan Ganesha

Hadi, Sutrisno.2000. Metodelogi Research [Link]: Andi Offset.

Hakim, Lukman.2015. “Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah Pada


Lembaga Pendidikan Islam di Madrasah”, Jurnal Pendidkan Agama
Islam-Ta’lim Vol. 13, No. 1.

Miles, Matthew B. Milles dan A. Michael Huberman.1992. Analisis Data


Kualitatif, [Link] Rohendi [Link]: UI Press.

Moleong, Lexy, [Link] Penelitian [Link]: PT Remaja


Rosdakarya.

Mudyahardjo, Redja.1998. pengantar pendidikan. Bandung: PT. Rajagrafindo


Persada.
Muiz, Abdul.2015. Peran Pesantren dalam Pembinaan Akhlak di Era Globalisasi.
Fenomena. Vol. 14 No. 2 Oktober

Musyadad, dkk.2013. Penerapan model pembelajaran problem based learning


dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran IPA pada konsep
perubahan lingkungan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan, jurnal
Tahsinia, 2019, hlm..13

Parstowo, Andi.2012. Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Persepektif


Rancangan [Link]:Ar-Ruzz Media.

Pohan, Rusdin.2007. Metodologi Penelitian [Link], Ar-Rijal


Institut dan Lanarka Publisher.

Reza Yuafian dan Astuti Suhandi.2020. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa


Menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) vol.
3 No. 1

Ridwan.2011. Skala Pengukuran Variable-variable Penelitian. Bandung; Alfabeta.

Rusmayani, [Link]. 2017. Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based


Learning dan Motivasi Terhadap Hasil Belajar Fiqh Siswa Madrasah
Tsanawiyah Negeri Stabat, EDU RILIGIA: Vol. 1 No. 1 Januari-Maret

Rusynam [Link] Berpikir. Yogyakarta: Penerbit Ombak

Saleh, Marhamah.2013. Strategi Pembelajaran Fiqh dengan Problem Based


Learning, Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA Agustus 2013 VOL. XIV NO. 1

Sanjaya, W. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses


[Link]:Kencana.

Soetomo.1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar [Link]: Usaha


Nasioonal.

Sofyan, Herminarto.2017. Problem Based Learning Kurikulum 2013. Yogyakarta:


UNY Press.

Suprijono, Agus.2017. cooperative learning teori dan aplikasi PAIKEM


.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sutirman, Media dan Model-Model Pembelajaran Inovatif (Yogyakarta: Graha


Ilmu.
Tantri Mayasari,dkk.2016. “Apakah Model Pembelajaran problem Based Learning
dan Project Based Learningmampu Melatihkan Keterampilan Abad 21?”,
jurnal pendidikan fakultas keguruan (JFPK) (Maret, 2016)

Trianto.2010. Model Pembelajaran Terpadu, Konsep, Strategi dan.


Implementasinya dalam KTSP. Jakarta: Bumi Aksara.

Zainiyati, Husniyatus Salamah.2010. Model Dan Strategi Pembelajaran Aktif


(Teori Dan Praktek Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama
[Link]: CV. Putra Media Nusantara.
OUTLINE

Bab I Pendahuluan
1. Latar belakang Masalah
2. rumusan masalah
3. tujuan dan kegunaan penelitian
4. kerangka teori
5. telaah kepustakaan
6. Metode penelitian
7. sistematika penulisan
Bab II. Kajian Teori
1. Model Pembelajaran Poblem Based Learning
a. Pengertian
b. Langkah-langkah penerapan
c. Hambatan dan keunggulan
2. Keterampilan Abad-21
a) Keterampilan Berpikir Kritis (Critical Thinking Skill)
b) Keterampilan Berpikir Kreatif (Creative
c) Keterampilan Komunikasi (Communication Skill)
d) Keterampilan Kolaborasi (CollaborationSkill)
3. Penerapan pembelajaran berbasis problem based learning (PBL)
untuk mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi fiqih
Bab III penerapan pembelajaran berbasis problem based learning (PBL) di
MA Salafiyah Karangtengah
1. Penerapan pembelajaran berbasis problem based learning (PBL)
untuk mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi
fiqih
2. Factor yang terkait penerapan pembelajaran berbasis problem based
learning (PBL) untuk mengembangkan keterampilan siswa abad 21
pada materi fiqih di MA Salafiyah Karangtengah
Bab IV Analisis penerapan pembelajaran berbasis problem based learning
(PBL) untuk mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada
materi fiqih
1. analisis penerapan pembelajaran berbasis problem based learning
(PBL) untuk mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada
materi fiqih
2. Analisis factor yang terkait penerapan pembelajaran berbasis
problem based learning (PBL) untuk mengembangkan keterampilan
siswa abad 21 pada materi fiqih di MA Salafiyah Karangtengah
Bab V Penutup
1. Kesimpulan
2. Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN.

Anda mungkin juga menyukai