0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan7 halaman

Gerakan Literasi Sekolah di MTsN Muaro Jambi

Dokumen ini menjelaskan tentang Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di MTsN Muaro Jambi yang bertujuan untuk menumbuhkan budaya literasi di kalangan siswa dan guru melalui berbagai kegiatan membaca. GLS diharapkan dapat meningkatkan kemampuan literasi dan budi pekerti peserta didik, serta menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan. Pelaksanaan program ini melibatkan berbagai tahapan dan kegiatan yang dirancang untuk membiasakan dan meningkatkan minat baca di kalangan siswa.

Diunggah oleh

tameriaja0709
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan7 halaman

Gerakan Literasi Sekolah di MTsN Muaro Jambi

Dokumen ini menjelaskan tentang Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di MTsN Muaro Jambi yang bertujuan untuk menumbuhkan budaya literasi di kalangan siswa dan guru melalui berbagai kegiatan membaca. GLS diharapkan dapat meningkatkan kemampuan literasi dan budi pekerti peserta didik, serta menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan. Pelaksanaan program ini melibatkan berbagai tahapan dan kegiatan yang dirancang untuk membiasakan dan meningkatkan minat baca di kalangan siswa.

Diunggah oleh

tameriaja0709
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROGRAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH

MTsN ….. MUARO JAMBI

A. Pendahuluan

Literasi tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana


siswa dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang
didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan
siswa, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya untuk menumbuhkan
budi pekerti mulia. Literasi pada awalnya dimaknai 'keberaksaraan' dan
selanjutnya dimaknai 'melek' atau 'keterpahaman'. Pada langkah awal,
“melek baca dan tulis" ditekankan karena kedua keterampilan berbahasa
ini merupakan dasar bagi pengembangan melek dalam berbagai hal.
Kepekaan atau literasi pada seseorang tentu tidak muncul begitu saja.
Tidak ada manusia yang sudah literat sejak lahir. Menciptakan generasi
literat membutuhkan proses panjang dan sarana yang kondusif. Proses ini
dimulai dari kecil dan dari lingkungan keluarga, lalu didukung atau
dikembangkan di sekolah, lingkungan pergaulan, dan lingkungan pekerjaan.
Budaya literasi juga sangat terkait dengan pola pemelajaran di sekolah dan
ketersediaan bahan bacaan di perpustakaan. Tapi kita juga menyadari bahwa
literasi tidak harus diperoleh dari bangku sekolah atau pendidikan yang
tinggi. Kemampuan akademis yang tinggi tidak menjamin seseorang akan
literat. Pada dasarnya kepekaan dan daya kritis akan lingkungan sekitar
lebih diutamakan sebagai jembatan menuju generasi literat, yakni generasi
yang memiliki ketrampilan berpikir kritis terhadap segala informasi
untuk mencegah reaksi yang bersifat emosional.
Saat ini kegiatan di sekolah ditengarai belum optimal
mengembangkan kemampuan literasi warga sekolah khususnya guru dan
siswa. Hal ini disebabkan antara lain oleh minimnya pemahaman warga
sekolah terhadap pentingnya kemampuan literasi dalam kehidupan mereka
serta minimnya penggunaan buku-buku di sekolah selain buku-teks
pelajaran. Kegiatan membaca di sekolah masih terbatas pada pembacaan
buku teks pelajaran dan belum melibatkan jenis bacaan lain.
Rendahnya literasi membaca tersebut akan berpengaruh pada saing
bangsa dalam persaingan global. Hal ini memberi penguatan bahwa
pembiasaan wajib baca sangat penting diterapkan dalam pendidikan di
Indonesia termasuk siswa-siswi MTsN …… Muaro Jambi karena wajib baca
mempunyai dampak yang sangat postif bagi kesuksesan siswa pada masa
yang akan datang.
B. Tujuan Gerakan Literasi Sekolah
Gerakan Literasi Sekolah menurut Kemendikbud (2016) adalah sebagai
berikut: (1) tujuan umum, GLS secara umum bertujuan untuk
menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan
ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah
agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat; (2) tujuan khusus, GLS
bertujuan: (a) menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah, (b)
meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat, (c)
menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah
anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan, (d) menjaga
keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan
mewadahi berbagai strategi membaca.
C. Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah di MTsN ….. Muaro Jambi
Tahapan dalam pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah adalah sebagai
berikut:
1. Tahap ke-1, pembiasaan kegiatan membaca yang menyenangkan di bacaan
dan terhadap kegiatan membaca dalam diri warga [Link]
minat baca merupakan hal fundamental bagi pengembangan kemampuan
literasi siswa. Tahap pembiasaan ini dilakukan dengan cara:
a) Membaca lima belas menit sehari. Kegiatan ini dilakukan dengan cara:
(1) guru memandu peserta didik untuk membaca lima belas menit, (2)
guru dan peserta didik membaca selama lima belas menit, (3) guru
memotivasi peserta didik untuk gemar membaca.
b) Mengelola sudut baca. Sudut baca ini merupakan upaya mendekatkan
peserta didik pada buku. Alternatif yang dapat dilakukan untuk
mengelola sudut baca adalah: (1) guru memandu peserta didik untuk
membuat sudut baca, (2) setiap peserta didik menyumbang satu buku
untuk sudut baca, (3) ada peserta didik yang bertugas mengelola
administrasi peminjaman buku, (4) peserta didik wajib meminjam buku
untuk dibaca.
c) Satu peserta didik satu buku satu tahun sekali. Program ini bertujuan
untuk menambah jumlah koleksi buku di perpustakaan sekolah.
Langkah kegiatan ini sebagai berikut: (1) peserta didik diminta
membawa satu buku, (2) peserta didik membaca buku yang dimiliki, (3)
setelah dibaca, buku itu disumbangkan pada perpustakaan sekolah, (4)
peserta didik dapat meminjam buku yang lain di sekolah, (5) sekolah
memiliki koleksi buku lebih banyak.
d) Wajib kunjung perpustakaan sekolah. Kegiatan ini bertujuan
memanfaatkan perpustakaan untuk menumbuhkan kegemaran
membaca. Pengelola perpustakaan memberikan jadwal kunjung ke
perpustakaan kepada setiap guru mata pelajaran dan sesuai jadwal
setiap guru mata pelajaran membawa peserta didik satu kelas untuk
berkunjung ke perpustakaan.
e) Membacakan cerita. Program ini bertujuan memotivasi peserta didik
membaca lebih banyak lagi. Langkah-langkah kegiatan ini adalah: (1)
guru memilih buku/cerita yang bermanfaat dan menarik untuk
dibacakan di depan peserta didik, (2) guru membacakan cerita dengan
ekspresi dan penghayatan yang tepat, (3) Tanya jawab peserta didik
tentang cerita yang telah dibacakan, (4) pada tahap berikutnya, peserta
didik secara bergiliran diminta membaca cerita menarik lain di hadapan
teman sekelas, (5) diadakan lomba membaca cerita bagi peserta didik
setiap tahun.
2. Tahap ke-2, pengembangan minat baca untuk meningkatkan kemampuan
literasi Kegiatan literasi pada tahap ini bertujuan mengembangkan
kemampuan memahami bacaan dan mengaitkannya dengan pengalaman
pribadi, berpikir kritis, dan mengolah kemampuan komunikasi secara
kreatif melalui kegiatan menanggapi bacaan. Yang dilakukan pada tahap
pengembangan ini adalah:
a) Mengelola sudut baca. Beberapa alternative yang dapat dilakukan untuk
mengelola sudut baca dalam tahap pengembangan, yaitu: (1) guru kelas
memandu peserta didik untuk membuat sudut baca, (2) setiap peserta
didik menyumbang satu buku untuk sudut baca, (3) ketua
kelas/pengurus kelas lainnya bertugas mengelola administrasi
peminjaman buku, (4) peserta didik wajib meminjam buku untuk
dibaca, (5) peserta didik membuat resume hasil bacaan, (6) peserta
didik mengumpulkan hasil resume di meja guru, (7) wali kelas atau
guru lain memeriksa resume, (8) peserta didik membuat perayaan hasil
membaca, misalnya menceritakan hasil bacaan di kelas.
b) Satu jam wajib baca seminggu sekali. Kegiatan ini membiasakan
peserta didik gemar membaca buku yang disukai, membuat resume,
mengisi jurnal membaca dan menceritaka isi buku.
c) Kuis membaca pagi. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: (1)
tiap peserta didik diminta untuk mencari teks (tidak lebih dari satu
halaman) yang kemudian ditempel di kertas karton. Teks tersebut
dilengkapi dengan soal yang dibuat oleh peserta didik, (2) tiap peserta
didik diberi kode untuk menandai teks tersebut. Seluruh teks dari
peserta didik ditempatkan dikotak yang telah disiapkan di kelas, (3)
siapkan juga kartu pantau yang berisi tentang nomor urut, tanggal
mengerjakan, identitas peserta didik, kode teks dan soal yang
dikerjakan, (4) sepakati hari untuk melaksanakan program ini, (5) pada
hari yang telah disepakati, seluruh peserta didik memilih kartu soal dan
teks sesuai urutan daftar hadir kelas. Kegiatan dilaksanakan pagi hari
sebelum jam pelajaran dimulai. Peserta didik bisa mengambil lebih dari
satu teks dan soal untuk dikerjakan bila waktunya masih mungkin, (6)
selesai membaca teks dan mengerjakan soal, peserta didik mengisi
kartu pantau.
d) Duta literasi. Duta literasi merupakan peserta didik terpilih yang
bertugas untuk mengembangkan program literasi di sekolah. Langkah-
langkahnya sebagai berikut: (1) wali kelas mengadakan seleksi duta
literasi, (2) wali kelas memilih tiga duta literasi, (3) duta literasi dilatih
dan dibekali keterampilan membaca dan menulis, (4) duta literasi wajib
menjadi teladan membaca dan menulis, (5) duta literasi bertugas
memotivasi peserta didik lainnya agar gemar membaca, (6) duta literasi
bertugas mengelola sudut baca, (7) duta literasi bertugas mengelola
mading kelas dan kartu mandiri. Kartu mandiri berguna memonitor
target bacaan peserta didik, (8) kartu mandiri berisi catatan buku yang
sudah dibaca peserta didik, (9) peserta didik bersama guru menentukan
target minimal buku.
e) Klub pecinta buku. Kegiatan ini bertujuan untuk membiasakan peserta
didik membaca buku baru dan membagi hasil bacaan pada teman.
Kegiatan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti membaca
buku, membuat ringkasan (resensi buku), menceritakan isi buku dan
mendiskusikan isi buku.
f) Penghargaan membaca. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan
motivasi membaca peserta didik. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan
cara memilih pembaca buku terbanyak dan memberikan penghargaan
atau hadiah buku pada waktu upacara di sekolah.
g) Pos baca. Cara yang ditempuh yaitu: (1) guru dan peserta didik
membuat pos baca di sekolah, (2) guru memberikan tugas kepada setiap
kelas untuk secara bergiliran menyediakan dan mengganti bahan-bahan
bacaan pada pos baca secara rutin, (3) pada tahap awal perlu
dikondisikan oleh guru atau kepala sekolah untuk membaca dan
memberikan laporan hasil bacaan pad abos baca, (4) peserta didik
diminta membaca buku di pos baca dan memajang karyanya di pos
baca.
3. Tahap ke-3, pembelajaran berbasis literasi Kegiatan literasi pada tahap
pembelajaran bertujuan mengembangkan kemampuan memahami teks dan
mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan
mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan
menanggapi teks buku bacaan pengayaan dan buku [Link]
tahap ini ada tagihan yang sifatnya akademis (terkait dengan mata
pelajaran). Kegiatan dapat berupa:
a) Membaca buku cerita. Kegiatan ini ditempuh dengan berbagai macam
cara, yaitu: (1) membaca buku cerita, (2) membuat ringkasan isi cerita,
(3) membuat bahan presentasi, (4) menceritakan kembali pada teman.
b) Madding kelas. Kegiatan ini untuk membiasakan peserta didik menulis,
mempublikasikan dan membaca karya secara berkala. Kegiatannya
adalah membuat madding kelas, menulis berita, menulis pusi dan
mempublikasinya di madding.
c) Diaroma cerita. Kegiatan ini bertujuan membiasakan peserta didik
membaca sastra. Kegiatannya antara lain: (1) peserta didik dibagi dalam
beberapa kelompok, (2) membaca buku cerita, (3) mendiskusikannya
dalam kelompok, (4) membuat diaroma cerita, (5) peserta didik
bercerita di depan kelas dengan bantuan diaroma cerita.
d) Piramida cerita. Kegiatannya dapat dilakukan dengan cara: (1) peserta
didik dibagi menjadi beberapa kelompok, (2) membaca buku cerita
bersama, (3) diskusi menentukan bagian-bagian penting cerita, (4)
menggambar piramida di kelas, (5) menulis bagian awal, inti dan akhir
cerita di tiga sisi piramida, (6) peserta didik bercerita di depan kelas
dengan bantuan piramida.
e) Wajib kunjung perpustakaan sekolah. Langkah-langkahnya: (1)
pengelola perpustakaan memberikan jadwal kunjung ke perpustakaan
kepada setiap guru mata pelajaran, (2) sesuai dengan jadwal, setiap guru
mata pelajaran membawa peserta didik satu kelas untuk berkunjung ke
perpustakaan, (3) guru memberikan tugas untuk membaca buku yang
berkaitan topic pembelajaran, membuat resume dan berdiskusi.
f) Klub literasi. Peserta didik yang tergabung dalam klub ini melakukan
berbagai aktivitas literasi diantaranya bedah buku, pelatihan menulis,
pameran buku, kontes membaca, seminar literasi, lokalatih literasi dan
lain-lain.
D. Penutup
GLS adalah sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh dan
berkelanjutan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang
warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan public. Hal yang paling
mendasar dalam praktik literasi adalah kegiatan membaca. Keterampilan
membaca merupakan fondasi untuk mempelajari berbagai hal lainnya.
Kemampuan ini penting bagi pertumbuhan intelektual peserta didik. Melalui
membaca peserta didik dapat menyerap pengetahuan dan mengeksplorasi dunia
yang bermanfaat bagi kehidupannya. Membaca memberikan pengaruh budaya
yang amat kuat terhadap perkembangan literasi peserta didik. Keberhasilan
program ini tergantung dari kommitmen seluruh warga besar MTsN …. Muaro
Jambi dan pihak terkait secara kolaboratif.
Oleh karenanya diharapkan semua pihak terkait dapat ikut serta secara
proaktif berperan dalam kegiatan ini sesuai dengan tupoksi masing-masing.

Muaro Jambi,

Penanggung Jawab Program Literasi

___________________________

Anda mungkin juga menyukai