Tulisan tangan di sana samar, seakan ditulis dengan tinta yang takut untuk ada.
“Jika kau masih mencintaiku… jangan ingat aku.”
Hanya itu. Tak ada nama. Tak ada tanggal. Tapi ketika membaca kalimat itu, sesuatu
dalam dirinya retak. Rasa sakit yang tidak ia kenal tiba-tiba mencuat dari relung paling
dalam. Matanya panas, tenggorokannya tercekat, dan jantungnya berdetak terlalu cepat
seperti baru saja bertemu hantu.
Lara mengusap keringat dingin dari pelipisnya dan mencoba berpikir rasional. Ini pasti
kesalahan sistem. Atau mungkin seseorang bermain-main. Tapi dalam hatinya, ia
tahu… ini bukan sekadar kesalahan.
Ada suara dalam benaknya—halus, nyaris tak terdengar, namun nyata. Nama itu
muncul tanpa dipanggil, seolah-olah ingatan yang terkunci sedang berusaha lolos dari
penjara.
Sivan.
Siapa Sivan?
Ia berdiri, berjalan bolak-balik di dalam kamar, mencoba mengusir rasa aneh itu.
Namun bayangan samar seorang pria muncul di ujung pikirannya. Tersenyum padanya
di bawah langit sore, memegang tangannya erat-erat di tepi danau, memanggil
namanya dengan suara serak penuh cinta.
Tapi Lara yakin… ia belum pernah bertemu pria itu. Tidak dalam hidup yang ia ingat.
Ia mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Jika kapsul memorinya
benar-benar terbuka, maka ada pelanggaran besar. Pemerintah melarang keras
siapapun menyentuh kapsul memori pribadi. Setiap pelanggar bisa dihukum dengan
penghapusan kesadaran—kehilangan jiwanya secara perlahan hingga hanya menjadi
tubuh tanpa identitas.
Lara menatap kapsul itu lama. Ia harus melaporkannya. Itu langkah paling aman. Tapi
sesuatu menahannya. Rasa penasaran? Mungkin. Tapi lebih dari itu, ada kerinduan
yang menyakitkan, seperti memeluk hampa yang seharusnya pernah diisi oleh
seseorang.
Ia duduk kembali di tempat tidur dan menyambungkan chip dari kapsul ke perangkat
portabelnya. Layar holografik mu
“File memori terkunci sebagian. Risiko akses: tinggi. Lanjutkan?”
Lara menatap layar itu. Jari telunjuknya melayang-layang di atas tombol “YA”. Ia ragu,
tapi perasaan di dalam dirinya menjerit lebih keras dari logika.
Ia menekan tombol itu.
Layar menyala.
Gambaran pertama yang muncul adalah senyum. Senyum milik seorang pria muda
dengan rambut cokelat gelap dan mata yang tajam tapi lembut. Ia sedang memeluk
seseorang—Lara. Mereka duduk di bawah pohon berbunga, tertawa, tangan mereka
saling bertaut. Detilnya kabur, tapi perasaan yang mengalir dari gambar itu begitu
nyata. Hangat. Dalam. Penuh cinta.
Lara menahan napas. Ia menyentuh gambar itu seakan bisa menyentuh masa lalu yang
telah dilarang. Dalam dirinya, sebuah pintu terbuka sedikit demi sedikit. Kilasan demi
kilasan melintas—suara musik, aroma hujan pertama, dan bisikan di malam hari.
Semuanya berasal dari kenangan yang ia tidak ingat, tapi hatinya tidak asing.
Dan di tengah semua itu, Sivan selalu ada.
Lara tak tahu harus bahagia atau takut. Di satu sisi, hatinya berdebar karena rasa yang
tak bisa dijelaskan. Di sisi lain, akalnya menjerit: ini salah. Ini melanggar hukum. Ini
akan menghancurkan hidupnya.
Ia mematikan perangkat itu. Gambar Sivan menghilang, tapi wajahnya sudah
menempel dalam ingatan Lara.
Ia berdiri dan melihat dirinya di cermin. Matanya tampak berbeda sekarang—ada
sesuatu yang telah kembali. Sebuah cahaya, atau luka, atau keduanya. Ia belum tahu.
Tapi satu hal yang pasti: hidupnya sudah berubah sejak kapsul itu terbuka.
Dan tidak akan pernah bisa kembali seperti semula.