0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan6 halaman

Pengalaman Aktif di Komunitas Pendidikan

Diunggah oleh

Radiannur
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan6 halaman

Pengalaman Aktif di Komunitas Pendidikan

Diunggah oleh

Radiannur
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.1.

Ceritakan satu pengalaman Anda ketika mengambil peran aktif dalam komunitas atau lingkungan sekitar sebagai bagian dari proses pembelajaran yang
bermakna
Sebagai calon guru, saya menyadari pentingnya berinteraksi dengan masyarakat agar dapat memahami karakter dam kebutuhan peserta didik secara lebih luas.
Salah satu pengalaman bermakna saya adalah ketika aktif di Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD). Saat itu, kami banyak melihat ibu-ibu
dilingkungan kami yang masih kurang pemahaman tentang Keluarga Berencana (KB). Sebagai anggota PPKBD, saya dipercaya untuk memimpin kegiatan
sosialisasi dan penyuluhan tentang Keluarga Berencana (KB) di desa. Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman kepada ibu-ibu mengenai Keluarga
Berencana(KB) dan alat konstrasepsi yang aman untuk digunakan. Tidak hanya itu, kita juga bisa mengetahui fungsi dari alat kontrasepsi tersebut, jenis-
jenisnya, fungsinya, dan juga kelemahan dan kelebihan dari alat kontrasepsi yang kita gunakan.. Kegiatan ini kami lakukan rutin setiap bulannya dengan
mendatangi kegiatan posyandu balita yang ada di desa kami.
A.2. Apa yang mendorong Anda untuk terlibat?
Motivasi utama saya adalah keinginan untuk berkontribusi bagi masyarakat sekaligus belajar menjadi pendidik yang peka terhadap lingkungan sosial. Saya
percaya bahwa guru tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga berperan sebagai agen perubahan ditengah masyarakat. Melalui kegiatan PPKBD, saya ingin
mengasah kemampuan komunikasi yang baik dengan saling bertanya jawab, kepemimpinan, dan empati nilai-nilai penting bagi calon guru. Selain itu, saya
terdorong oleh keprihatinan pribadi melihat anak-anak yang masih kecil kekurangan kasih sayang dari orang tuannya, kekurangan perhatian, dan juga ada
anak yang jadi tidak terurus karena orang tua memiliki anak yang lebih dari dua dengan jarak umur yang berdekatan. Mereka susah membagi waktu untuk
anak yang satu dan anak yang lainnya.
A.3. Langkah reflektif apa yang Anda lakukan agar keterlibatan tersebut memberi dampak bagi komunitas dan bagi pengembangan diri Anda sendiri?
Bagaimana hasilnya?
Saya dan rekan PPKBD mengumpulkan buku-buku dan brosur terkait Keluarga Berencana (KB) dari PLKB Kecamatan untuk dipelajari. Setelah itu kami
memberikan penyuluhan dan sosialisasi kepada ibu-ibu di posyandu balita tentang Keluarga Berencana (KB), alat kontrasepsi yang ingin digunakan, dan
jenis-jenis alat kontrasepsi serta kelebihan dan kelemahan masing-masing alat.. Kami juga memberikan kuis seperti tanya jawab, tidak lupa juga ada bingkisan
kecil dari kami. Saya berperan sebagai fasilitator, mengarahkan ibu-ibu untuk memahami inti dari penyuluhan yang kami berikan dengan cara ramah dan
menyenangkan. Setiap minggu, saya melakukan refleksi pribadi dengan mencatat hal-hal yang berjalan baik dan yang perlu diperbaiki, misalnya cara
mengelola kelompok agar ibu-ibu lebih fokus, atau bagaimana menyesuaikan gaya berbicara agar lebih dipahami. Melalui refleksi ini, saya belajar tentang
pentingnya menciptakan suasana bersosialisasi yang partisipatif dan beretika baik dengan ramah tamah terhadap sesama.

A.4. Bagaimana hasilnya?


Kegiatan PPKBD mendapat sambutan positif dari masyarakat terutama dari kaum ibu-ibu yang masih usia subur. Ibu-ibu yang sebelumnya pemalu dan tidak
mau mengikuti penyuluhan mulai tertarik dan mau mengikuti penyuluhan setiap bulannya. Dari penyuluhan yang disampaikan ibu-ibu juga sudah memahami
apa itu Keluarga Berencana (KB) dan apa alat konstrasepsi yang cocok untuk digunakan.
Bagi saya pribadi, pengalaman ini memperkuat pemahaman bahwa bersosialisasi terjadi dimana saja, bukan hanya di rumah atau ruangan tertentu. Saya
belajar menerapkan nilai saling menghargai, empati dengan memberikan ruang kepada seseorang agar bisa menyampaikan apa yang ingin disampaikannya,
dan refleksi diri dalam setiap kegiatan. Keterlibatan ini membantu saya tumbuh menjadi calon guru yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi dan
memberdayakan lingkungan sekitar.

B.1. Ceritakan pengalaman Anda keluar dari zona nyaman untuk meningkatkan performa
Selama kuliah, saya termasuk orang yang cenderung pasif dan lebih suka menulis ketimbang berbicara. Misal saat ada diskusi saya lebih memilih menjadi
penulis dari pada menjelaskan. Namun, ketika saya mengajar les disebuah Sekolah Dasar, saya menyadari bahwa menjadi guru tidak bisa hanya
mengandalkan kemampuan akademik. Saya harus mampu berkomunikasi dengan siswa, berkolaborasi dengan guru lain, dan beradaptasi dengan berbagai
karakter peserta didik.
Pada awalnya, saya merasa gugup dan terbata-bata ketika harus mengajar didepan kelas karena belum terbiasa menghadapi banyak anak. Tetapi saya bertekad
untuk tidak terus berada di zona nyaman. Keluar dari zona nyaman membuat saya menyadari bahwa kemampuan mengajar tidah hanya soal menyampaikan
materi, tetapi juga bagaimana membangun suasana belajar yang menyenangkan. Pengalaman itu menjadi titik awal bagi saya untuk terus berani mencoba hal
baru dan memperbaiki performa dalam dunia pendidikan. Intinya, peningkatan performa saya terjadi ketika saya dipaksa dan dilatih untuk melakukan sesuatu
diluar kebiasaan saya. Meskipun pada awalnya terasa sulit, hasil akhirnya selalu memberikan peningkatan kemampuan dan kepercayaan diri yang signifikan.

B.2. Bagaimana Anda secara reflektif mengidentifikasi area yang perlu dikembangkan
Setelah beberapa kali praktik mengajar, saya mulai melakukan refleksi diri setiap selesai kegiatan. Saya mencatat bagian mana yang berjalan baik dan bagian
mana yang masih perlu diperbaiki. Misalnya, saya menyadari bahwa kemampuan saya dalam mengelola kelas dan memanfaatkan media pembelajaran masih
terbatas.
Dari situ saya mulai mencari masukan dari guru lain dan teman sejawat. Mereka memberi saran agar saya lebih kreatif dalam membuat alat peraga sederhana
dan menggunakan pendekatan yang bervariasi sesuai karakter siswa. Selain itu, saya juga menyadari bahwa saya perlu meningkatkan kemampuan berpikir
kritis dan reflektif dalam menilai proses pembelajaran. Saya mulai membaca buku tentang tata cara mengajar yang baik dan menyenangkan bagi anak SD
untuk menambah wawasan tentang strategi pembelajaran aktif. Proses refleksi ini membantu saya memahami bahwa menjadi guru profesional memerlukan
kesediaan untuk terus belajar dan menilai diri sendiri secara jujur, bukan hanya menunggu penilaian dari orang lain. Dan juga saya belajar memahami bahwa
pengembangan diri tidak bisa hanya didorong oleh keinginan pribadi, tetapi juga harus didasari oleh kesadaran akan kebutuhan dan masukan dari lingkungan
sekitar.

B.3. Apa langkah-langkah yang Anda lakukan dan bagaimana Anda mengaplikasikan hal tersebut dalam praktik
Langkah pertama yang saya lakukan adalah menyusun rencana pengembangan diri. Saya membuat daftar keterampilan yang ingin saya tingkatkan, seperti
kemampuan komunikasi, penggunaan media digital, dan manajemen kelas. Saya menetapkan target kecil yang bisa saya capai setiap minggunya, misalnya
membuat satu media pembelajaran interaktif menggunakan powerpoint, lalu mengujinya dalam simulasi mengajar.
Saya juga aktif melihat postingan tentang calon guru di media sosial. Dari sana, saya mendapatkan inspirasi dan kesempatan untuk berbagi pengalaman.
Dalam praktiknya, saya menerapkan hasil belajar saya saat mengajar anak-anak di lingkungan sekitar rumah. Saya mencoba pendekatan belajar yang lebih
menyenangkan dengan permainan edukatif dan aktivitas kelompok. Melalui pengalaman tersebut, saya belajar bagaimana mengelola waktu, memperhatikan
dinamika kelas, serta membangun interaksi positif dengan siswa. Kita juga harus bisa memahami keinginan anak, terkadang mereka ingin belajar sambil
bermain. Dalam penerapannya, saya selalu berusaha mengaitkan setiap pembaruan dengan praktik nyata di lapangan, agar hasil belajar tidak berhenti pada
teori, tetapi benar-benar berdampak pada kemampuan profesional saya sebagai calon guru.

B.4. Bagaimana proses belajar itu berdampak pada perkembangan diri dan cara Anda berkontribusi di lingkungan kerja atau pembelajaran?
Proses belajar keluar dari zona nyaman memberi dampak besar bagi saya. Yang awalnya saya terpaku dengan buku saat mengajar, hari demi hari saya bisa
menjadi lebih santai saat mengajar, saya menjadi lebih percaya diri, menjadi lebih aktif untuk berbicara,terbuka terhadap kritik, dan berani mencoba metode
pembelajaran yang berbeda. Dulu saya mudah cemas ketika menghadapi hal baru, tetapi kini saya melihat setiap tantangan sebagai kesempatan untuk tumbuh.
Saya juga belajar bahwa refleksi dan evaluasi diri adalah kunci untuk menjadi pendidik yang lebih baik.
Dalam lingkungan kerja maupun pembelajaran, saya berusaha menjadi pribadi yang adaptif dan kolaboratif. Ketika ada teman yang kesulitan membuat
perangkat ajar, saya siap membantu dengan apa yang saya ketahui. Saya juga berupaya menularkan semangat belajar berkelanjutan kepada rekan-rekan
dengan mengajak mereka mengikuti pelatihan daring bersama. Saya percaya bahwa perubahan kecil yang konsisten dapat menciptakan dampak besar bagi
kemajuan pendidikan.

C.1. Ceritakan salah satu situasi tersulit yang pernah Anda hadapi dan bagaimana Anda mengelola pikiran dan perasaan untuk mengatasi situasi tersebut.
Salah satu situasi tersulit yang pernah saya alami adalah ketika menjalani praktik mengajar les di Sekolah Dasar. Pada saat itu, saya mengajar siswa kelas satu
dan kelas dua yang berjumlah belasan orang dengan latar belakang kemampuan belajar yang beragam.
Beberapa siswa sangat aktif dan cepat memahami pelajaran, sementara sebagian lainnya tampak pasif dan sulit fokus. Ada yang pemalu, ada yang asik sendiri,
ada yang susah berbicara, dan ada juga yang suka melukis dibagian manapun, hingga di lantai. Kondisi tersebut membuat saya kewalahan diawal. Saya
sempat merasa cemas, tidak percaya diri, bahkan khawatir tidak mampu menjalankan peran saya dengan baik sebagai calon guru.
Untuk mengelola pikiran dan perasaan yang masih ragu, saya mencoba menenangkan diri dan berpikir rasional. Saya menyadari bahwa perasaan panik dan
khawatir tidak akan membantu. Saya mulai mengubah pola pikir bahwa setiap kesulitan adalah kesempatan untuk belajar.
Saya menulis jurnal harian reflektif untuk mencatat apa yang berhasil dan apa yang belum berjalan dengan baik setiap kali saya mengajar. Melalui cara itu,
saya dapat melihat perkembangan diri saya dari hari ke hari dan lebih fokus mencari solusi dari pada berlarut dalam kekhawatiran.

C.2. Langkah konkrit apa yang Anda lakukan untuk menyelesaikan situasi tersebut? Siapa saja yang terlibat?
Langkah pertama yang saya lakukan adalah meminta masukan dari guru lain yang sudah senior. Saya berdiskusi tentang strategi pengelolaan kelas dan
pendekatan diferensiasi agar semua siswa dapat terlibat aktif. Dari hasil diskusi tersebut, saya mulai mencoba metode pembelajaran yang lebih variatif ,
seperti permainan edukatif, kerja kelompok kecil, dan penggunaan media visual sederhana. Untuk beberapa siswa yang memang perlu perhatian khusus, saya
berusaha mendekatkan diri dengan cara membujuk, mengajak, memberikan perhatian lebih, dan umpan balik yang positif, agar siswa tersebut mau ikut belajar
bersama yang lain dengan bersemangat. Selain itu, diselingan pembelajaran saya mengajak siswa untuk menyanyikan lagu anak bersama-sama sambil
bertepuk tangan dengan senyum lebar, agar siswa merasa senang dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran.
Guru lain yang memang sudah senior dari pada saya sangat berperan penting dalam memberikan bimbingan, arahan, masukan, dan evaluasi. Sedangkan teman
sejawat membantu saya dalam observasi kelas, memberikan semangat, dan dukungan. Melalui kolaborasi ini, suasana belajar di kelas menjadi lebih kondusif,
dan hasil belajar siswa pun meningkat.

C.3. Pembelajaran apa yang Anda peroleh dari proses tersebut bagi penguatan diri maupun hubungan dengan orang lain?
Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa menghadapi tantangan bukan berarti harus sendirian. Kolaborasi, komunikasi terbuka, dan kemauan untuk
belajar dari orang lain sangat membantu dalam menyelesaikan masalah. Saya juga belajar mengelola emosi agar tetap tenang dan berpikir jernih saat
menghadapi tekanan. Semua itu perlu proses, dengan berjalannya waktu yang awalnya saya merasa khawatir tidak bisa menjadi bisa. Yang penting mau
belajar, berusaha, dan pantang menyerah.
Secara pribadi, saya menjadi lebih sabar, penyayang, tangguh, dan mampu beradaptasi dengan perubahan. Pengalaman ini memperkuat keyakinan saya bahwa
setiap tantangan adalah bagian dari proses tumbuh sebagai calon guru profesional.
Dalam hubungan dengan orang lain, saya semakin memahami pentingnya empati dan kerja sama. Saya percaya, dengan membangun hubungan yang baik,
setiap permasalahan dapat diselesaikan dengan lebih efektif.

D.1. Ceritakan pengalaman saat Anda bekerja sama dengan orang lain yang memiliki beragam perbedaan, seperti budaya, cara pandang, latar belakang,
pendidikan, cara berpikir, dll Ceritakan secara spesifik situasinya? Apa tujuan dari kerjasama yang terjadi? Keberagaman seperti apa yang Anda hadapi?
Saya pernah memiliki pengalaman bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki beragam perbedaan, baik dari latar belakang, agama, pendidikan, cara
pandang, dan pekerjaan. Dari latar belakang, ada yang dari universitas, organisasi, maupun masyarakat. Salah satunya terjadi saat saya mengikuti kegiatan dari
Badan Pusat Statistik yang melibatkan rekan-rekan kerja dari berbagai budaya dan daerah.
Kami memiliki perbedaan cara pandang dan pola berpikir dalam menghadapi masalah, bahkan dalam kegiatan pekerjaan. Beberapa rekan memiliki
pendekatan yang berbeda terhadap tanggung jawab dan cara bekerja. Selain itu, ketika dalam menjalankan pekerjaan bersama, saya juga berinteraksi dengan
anggota tim lain yang memiliki latar belakang pendidikan dan cara berpikir yang sangat beragam.
Tujuan utama dari kerja sama tersebut adalah menyelesaikan pekerjaan dengan baik, mengembangkan potensi diri, serta menciptakan hasil kerja yang benar
sesuai dengan kondisi di lapangan. Ada banyak jenis keberagaman perbedaan yang saya hadapi terkait pekerjaan saya di BPS. Salah satunya perbedaan
pendidikan. Dengan keberagaman yang saya hadapi justru membuat proses kerja menjadi lebih dinamis dan penuh pembelajaran.

D.2. Langkah-langkah apa yang Anda lakukan untuk mencapai tujuan kerja sama? Bagaimana Anda memastikan langkah-langkah tesebut sudah sesuai
dengan kebutuhan semua pihak?
Untuk mencapai tujuan kerja sama tersebut, saya memulai dengan membuat rancangan kerangka kegiatan, mempelajari buku-buku tentang pekerjaan,
mengikuti arahan dari video yang telah diberikan. Langkah ini membantu kami memahami tanggung jawab masing-masing dan menghindari tumpang tindih
pekerjaan.
Selama pelaksanaan, saya melakukan refleksi dan cek ulang terhadap progres kerja, memastikan setiap langkah sudah sesuai dengan kesepakatan. Kami juga
mengadakan pertemuan untuk membahas progres kerja secara bersama-sama dan saling bertukar pendapat. Setelah kegiatan selesai, kami melakukan evaluasi
bersama untuk menilai hasil yang telah dicapai, sekaligus memperbaiki hal-hal yang yang dianggap masih kurang. Dalam setiap tahapan, saya selalu
mendengar dan mengikuti arahan dari rekan kerja terkait pekerjaan saya. Dn juga dalam mengambil keputusan kami selalu mempertimbangkan kebutuhan
serta pendapat semua pihak agar kerja sama berjalan dengan seimbang dan inklusif.

D.3. Apa hasil yang Anda capai saat itu? Adakah komentar atau respon lingkungan (mis. rekan sejawat ataupun pihak lain) terhadap tindakan Anda?
Bagaimana dampaknya terhadap kerja sama tersebut?
Hasil dari kerja sama tersebut sangat positif. Kami berhasil menyelesaikan kegiatan sesuai rencana dan tepat waktu, dan juga membangun bentuk kerja sama
yang baik antar rekan kerja. Banyak rekan memberikan tanggapan positif karena suasana tim terasa hangat, lebih terbuka, dan saling menghargai.
Dari pengalaman ini, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga, seperti memperluas wawasan, menambah relasi baru, menambah ilmu, serta
mengembangkan kompetensi diri dan orang lain, dan yang lebih penting saling menghargai antar sesama. Saya juga belajar untuk menjadi lebih sabar, rendah
hati, serta saling menghargai untuk setiap perbedaan yang ada. Dengan pekerjaan ini saya jadi lebih mengenal orang-orang baru dikehidupan saya, yang
awalnya tidak kenal menjadi kenal. Pengalaman ini mengajarkan bahwa keberagaman bukan penghalang, melainkan kekuatan yang dapat memperkaya cara
berpikir dan memperkuat kolaborasi demi mencapai tujuan bersama.

Anda mungkin juga menyukai