PROGRAM
GERAKAN LITERASI SEKOLAH
SMK INDUSTRI TEKNOLOGI NASIONAL (ITENAS)
TAHUN PELAJARAN 2022/2023
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
SMK INDUSTRI TEKNOLOGI NASIONAL (ITENAS)
Jl. Pedes Sungaibuntu. Desa Payungsari [Link]
[Link] (41353)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gerakan Literasi Sekolah merupakan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang
bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala
sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, Komite Sekolah, orang tua/wali
murid peserta didik), akademisi, penerbit, media massa, masyarakat (tokoh
masyarakat yang dapat merepresentasikan keteladanan, dunia usaha, dll.), dan
pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar
dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Gerakan Literasi Sekolah adalah gerakan sosial dengan dukungan kolaboratif
berbagai elemen. Upaya yang ditempuh untuk mewujudkannya berupa pembiasaan
membaca peserta didik. Pembiasaan ini dilakukan dengan kegiatan 15 menit
membaca (guru membacakan buku dan warga sekolah membaca dalam hati, yang
disesuaikan dengan konteks atau target sekolah). Ketika pembiasaan membaca
terbentuk, selanjutnya akan diarahkan ke tahap pengembangan, dan pembelajaran
(disertai tagihan berdasarkan Kurikulum 2013). Variasi kegiatan dapat berupa
perpaduan pengembangan keterampilan reseptif maupun produktif.
Dalam pelaksanaannya, pada periode tertentu yang terjadwal, dilakukan asesmen
agar dampak keberadaan Gerakan Literasi Sekolah dapat diketahui dan terus-
menerus dikembangkan. Gerakan Literasi Sekolah diharapkan mampu
menggerakkan warga sekolah, pemangku kepentingan, dan masyarakat untuk
bersama-sama memiliki, melaksanakan, dan menjadikan gerakan ini sebagai bagian
penting dalam kehidupan.
B. Tujuan Gerakan Literasi Sekolah
1. Tujuan Umum Gerakan Literasi Sekolah
Menumbuhkembangkan insan serta ekosistem Pendidikan agar menjadi pembelajar
sepanjang hayat melalui gerakan literasi sekolah
2. Tujuan Khusus Gerakan Literasi Sekolah
a. Menumbuhkembangkan budi pekerti
b. Membangun ekosistem literasi sekolah
c. Menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar (learning organization)
(Senge,’90).
d. Mempraktikkan kegiatan pengelolaan pengetahuan (knowledge management)
e. Menjaga keberlanjutan budaya literasi
C. Sasaran
Sasaran Gerakan Literasi Sekolah adalah seluruh warga sekolah (peserta didik,
pendidik dan tenaga kependidikan) terutama peserta didik.
D. Dasar Hukum Literasi
Dasar hukum dalam pembinaan pendidikan karakter antara lain:
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
2. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 Tentang Perubahan Kedua Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan
3. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan
Penyelenggaraan Pendidikan
4. Permendiknas RI Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan.
5. Permendiknas RI Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Standar Kompetensi Lulusan
6. Permendiknas RI Nomor 21 Tahun 2016 Tentang Standar Isi
7. Program kerja SMK ITENAS tahun pelajaran 2022/2023
BAB II
PELAKSANAAN GERAKAN LITERASI DI SEKOLAH
A. Konsep Literasi Sekolah
Literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan
berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual,
digital, dan auditori. Di abad 21 ini, kemampuan ini disebut sebagai literasi informasi.
Ferguson menjabarkan kom- ponen literasi informasi sebagai berikut:
1. Literasi Dasar (Basic Literacy), yaitu kemampuan untuk mendengarkan, berbicara,
membaca, menulis, dan menghitung. Dalam literasi dasar, kemampuan untuk
mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan
dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan
informasi (perceiving), mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi
(drawing) berdasar pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.
2. Literasi Perpustakaan (Library Literacy), yaitu kemampuan lanjutan untuk bisa
mengoptimalkan Literasi Perpustakaan yang ada. Maksudnya, pemahaman tentang
keberadaan perpustakaan sebagai salah satu akses mendapatkan informasi. Pada
dasarnya literasi perpustakaan, antara lain, memberikan pemahaman cara
membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan
periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang
memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog
dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika
sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi
masalah.
3. Literasi Media (Media Literacy), yaitu kemampuan untuk mengetahui berbagai
bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio,
media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan
penggunaannya. Secara gamblang saat ini bisa dilihat di masyarakat kita bahwa
media lebih sebagai hiburan semata. Kita belum terlalu jauh memanfaatkan media
sebagai alat untuk pemenuhan informasi tentang pengetahuan dan memberikan
persepsi positif dalam menambah pengetahuan.
4. Literasi Teknologi (Technology Literacy), yaitu kemampuan memahami kelengkapan
yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software),
serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, dapat memahami
teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Dalam
praktiknya, juga pemahaman menggunakan komputer (Computer Literacy) yang di
dalamnya mencakup menghidupkan dan mematikan komputer, menyim- pan dan
mengelola data, serta menjalankan program perangkat lunak. Sejalan dengan
membanjirnya informasi karena perkembangan teknologi saat ini, diperlukan
pemahaman yang baik dalam mengelola informasi yang dibutuhkan masyarakat.
5. Literasi Visual (Visual Literacy), adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi
media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan
belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audio-visual secara kritis dan
bermartabat. Tafsir terhadap materi visual yang setiap hari membanjiri kita, baik
dalam bentuk tercetak, di televisi maupun internet, haruslah terkelola dengan baik.
Bagaimanapun di dalamnya banyak manipulasi dan hiburan yang benar-benar perlu
disaring berdasarkan etika dan kepatutan.
6. Literasi yang komprehensif dan saling terkait ini memampukan seseorang untuk
berkontribusi kepada masyarakatnya sesuai dengan kompetensi dan perannya
sebagai warga negara global (global citizen).Dalam konteks Indonesia, kelima
keterampilan tersebut perlu diawali dengan literasi usia dini yang mencakup fonetik,
alfabet, kosakata, sadar dan memaknai materi cetak (print awareness), dan
kemampuan menggambarkan dan menceritakan kembali (narrative skills).
Pemahaman literasi dini sangat penting dipahami oleh masyarakat karena
menjamurnya lembaga bimbingan belajar baca-tulis-hitung bagi batita dan balita
dengan cara yang kurang sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak. Oleh
karena itu, perlu diberi perhatian terhadap keberlangsungan pendidikan literasi usia
dini berlanjut ke literasi dasar.
7. Dalam pendidikan formal, peran aktif para pemangku kepentingan, yaitu kepala
sekolah, guru, tenaga pendidik, dan pustakawan sangat berpengaruh untuk
memfasilitasi pengem- bangan komponen literasi peserta didik. Selain itu, diperlukan
juga pendekatan cara belajar-mengajar yang keberpihakannya jelas tertuju kepada
komponen-komponen literasi ini. Kesempatan peserta didik terpajan dengan kelima
komponen literasi akan menentukan kesiapan peserta didik berinteraksi dengan
literasi visual. Sebagai langkah awal, dapat disimpulkan bahwa diperlukan
perubahan paradigma semua pemangku kepentingan untuk terciptanya lingkungan
literasi ini.
B. Prinsip-prinsip pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah
Menurut Beers (2009), praktik-praktik yang baik dalam gerakan literasi sekolah
menekankan prinsip-prinsip sebagai berikut.
1. Perkembangan literasi berjalan sesuai tahap perkembangan yang bisa diprediksi.
2. Program literasi yang baik bersifat berimbangSekolah yang menerapkan program
literasi berimbang menyadari bahwa tiap peserta didik memiliki kebutuhan yang
berbeda satu sama lain. Dengan demikian, diperlukan berbagai strategi membaca
dan jenis teks yang bervariasi pula.
3. Program literasi berlangsung di semua area kurikulum
Pembiasaan dan pembelajaran literasi di sekolah adalah tanggung jawab semua
guru di semua mata pelajaran. Pembelajaran di mata pelajaran apapun
membutuhkan bahasa, terutama membaca dan menulis. Dengan demikian,
pengembangan profesional guru dalam hal literasi perlu diberikan kepada guru
semua mata pelajaran.
4. Tidak ada istilah terlalu banyak untuk membaca dan menulis yang bermakna
Kegiatan membaca dan menulis di kelas perlu dilakukan kapan pun kondisi di kelas
memungkinkan. Untuk itu, perlu ditekankan bentuk kegiatan yang bermakna dan
kontekstual. Misalnya, ‘menulis surat untuk wali kota’ atau ‘membaca untuk ibu’
adalah contoh-contoh kegiatan yang bermakna dan memberikan kesan kuat kepada
peserta didik.
5. Diskusi dan strategi bahasa lisan sangat penting
Kelas berbasis literasi yang kuat akan melakukan berbagai kegiatan lisan berupa
diskusi tentang buku selama pembelajaran di kelas. Kegiatan diskusi ini juga harus
membuka kemungkinan untuk perbedaan pendapat agar kemampuan berpikir kritis
dapat diasah. Peserta didik perlu belajar untuk menyampaikan perasaan dan
pendapatnya, saling mendengarkan, dan menghormati perbedaan pandangan satu
sama lain.
6. Keberagaman perlu dirayakan di kelas dan sekolah
Penting bagi pendidik untuk tidak hanya menerima perbedaan, namun juga
merayakannya melalui agenda literasi di sekolah. Buku-buku yang disediakan untuk
bahan bacaan peserta didik perlu merefleksikan kekayaan budaya Indonesia agar
peserta didik dapat terpajan pada pengalaman multikultural sebanyak mungkin.
C. Strategi Membangun Budaya Literasi Sekolah
Agar sekolah mampu menjadi garis depan dalam pengembangan budaya literasi,
Beers, dkk. (2009) dalam buku A Principal’s Guide to Literacy Instruction,
menyampaikan beberapa strategi untuk menciptakan budaya literasi yang positif di
sekolah.
1. Lingkungan fisik ramah literasi
Lingkungan fisik adalah hal pertama yang dilihat pengunjung. Pada dasarnya,
lingkungan fisik haruslah ramah dan kondusif untuk pembelajaran. Sekolah yang
mendukung pengembangan budaya literasi memiliki beberapa kondisi, antara lain
karya peserta didik dipajang di seluruh penjuru sekolah, termasuk koridor dan kantor
kepala sekolah dan guru. Selain itu, karya-karya peserta didik diganti secara rutin
untuk memberikan kesempatan kepada semua kelas untuk menjadi perhatian.
Selain itu, buku dan bahan bacaan lain dapat didapat dengan mudah di pojok baca
di semua kelas, kantor, dan ruang lain di sekolah. Kantor kepala sekolah idealnya
juga memajang karya peserta didik dan buku-buku bacaan anak. Ruang pimpinan
dengan pajangan karya peserta didik akan memberikan kesan positif tentang
komitmen sekolah terhadap pengembangan budaya literat.
2. Lingkungan sosial dan afektif
Sekolah dibangun melalui model komunikasi dan interaksi seluruh komponen
sekolah. Ini dapat dibentuk dengan cara pemberian pengakuan atas pencapaian
peserta didik sepanjang tahun. Pemberian penghargaan dapat dilakukan saat
upacara bendera setiap minggu untuk menghargai kemajuan peserta didik di semua
aspek. Sesuai dengan semangat literasi, prestasi yang dihargai tidak hanya
akademik, namun juga sikap dan upaya peserta didik. Dengan demikian, setiap
peserta didik mempunyai kesempatan untuk memperoleh penghargaan sekolah.
Selain itu, literasi mewarnai semua perayaan penting di sepanjang tahun pelajaran.
Ini bisa direalisasikan dalam bentuk festival buku, lomba poster, mendongeng,
karnaval tokoh buku cerita, dan sebagainya. Pimpinan sekolah harus mengambil
peran aktif dalam menggerakkan literasi. Yang bisa dilakukan, antara lain
membangun budaya kolaboratif antarguru dan staf sekolah. Dengan demikian,
setiap orang dapat terlibat sesuai kepakaran masing-masing. Peran orang tua
sebagai sukarelawan dalam gerakan literasi akan semakin memperkuat komitmen
sekolah dalam pengembangan budaya literat.
3. Lingkungan akademik
Lingkungan fisik dan sosial akan dapat dibangun bila lingkungan akademik
tercipta. Ini dapat dilihat dari perencanaan dan pelaksanaan gerakan literasi di
sekolah. Pimpinan sekolah dapat membentuk tim literasi. Tim ini bertugas untuk
membuat perencanaan dan asesmen program. Adanya Tim Literasi Sekolah bisa
memastikan terciptanya suasana akademik yang kondusif, yang mampu membuat
seluruh anggota komunitas sekolah antusias untuk belajar. Sekolah harus
memberikan alokasi waktu yang cukup banyak untuk pembelajaran literasi. Salah
satunya dengan menjalankan kegiatan membaca dalam hati dan membacakan buku
dengan nyaring selama 15--30 menit sebelum pelajaran berlangsung, minimal 3 kali
seminggu. Waktu untuk kegiatan berliterasi ini sedapat mungkin tidak dikorbankan
untuk kegiatan lain yang tidak perlu. Untuk menunjang kemampuan guru dan staf,
mereka perlu diberikan kesempatan mengikuti program pelatihan tenaga
kependidikan untuk peningkatan kapasitas literasi.
D. Pelaksanaan Literasi di SMK ITENAS
Program Gerakan Literasi SMK ITEMAS dilaksanakan secara bertahap dengan
mempertimbangkan kesiapan sekolah. Kesiapan ini mencakup kesiapan kapasitas
sekolah (ketersediaan fasilitas, bahan bacaan, sarana, prasarana literasi), kesiapan
warga sekolah, dan kesiapan sistem pendukung lainnya (partisipasi publik,
dukungan kelembagaan, dan perangkat kebijakan yang relevan).
Adapun ketiga tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tahap ke-1: Pembiasaan
Pembiasaan kegiatan membaca yang menyenangkan di ekosistem sekolah
Pembiasaan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat terhadap bacaan dan terhadap
kegiatan membaca dalam diri warga sekolah. Penumbuhan minat baca merupakan
hal fundamental bagi pengembangan kemampuan literasi peserta didik.
2. Tahap ke-2: Pengembangan
Pengembangan minat baca untuk meningkatkan kemampuan literasi Kegiatan
literasi pada tahap ini bertujuan mengembangkan kemampuan memahami bacaan
dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan mengolah
kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi bacaan
pengayaan (Anderson & Krathwol, 2001).
3. Tahap ke-3: Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran berbasis literasi Kegiatan literasi pada tahap
pembelajaran bertujuan mengembangkan kemampuan memahami teks dan
mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan mengolah
kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi teks buku
bacaan pengayaan dan buku pelajaran (cf. Anderson & Krathwol, 2001). Dalam
tahap ini ada tagihan yang sifatnya akademis (terkait dengan mata pelajaran).
E. Monitoring dan Evaluasi Literasi
Monitoring dan Evaluasi bertujuan mengembangkan dan meningkatkan kualitas
program Gerakan Literasi Sekolah sesuai dengan perencanaan yang telah
ditetapkan, tujuan monitoring dan evaluasi gerakan literasi adalah sebagai berikut:
1. Melakukan pengamatan dan pembimbingan secara langsung keterlaksanaan
program gerakan literasi di sekolah.
2. Memperoleh gambaran mutu gerakan literasi di sekolah secara umum.
3. Melihat kendala-kendala yang terjadi
4. Mengumpulkan dan menganalisis data yang ditemukan di lapangan untuk menyusun
rekomendasi terkait perbaikan pelaksanaan program gerakan literasi sekolah ke
depan
5. Mengetahui tingkat keberhasilan implementasi program gerakan literasi di sekolah.
F. Tindak Lanjut Literasi
Hasil monitoring dan evaluasi dari implementasi program gerakan literasi sekolah
digunakan sebagai acuan untuk menyempurnakan program, mencakup
penyempurnaan rancangan, mekanisme pelaksanaan, dukungan fasilitas, sumber
daya manusia, dan manajemen sekolah yang terkait dengan implementasi program.
BAB III
RANCANGAN PROGRAM KEGIATAN GERAKAN LITERASI SMK ITENAS
No Kegiatan TUJUAN SASARAN SKENARIO KEGIATAN Pelaksana
A. PEMBIASAAN
1. Membaca dalam membangun kebiasaan Kelas X s/d 1) Peserta didik membaca diam dengan memilih buku sesuai minat
hati membaca, misalnya Kelas XII dan keinginannya.
berkonsentrasi, 2) Guru memberikan contoh dengan bersama-sama membaca dalam
meningkatkan hati pada saat yang sama.
kemampuan serta 3) Peserta didik memilih satu buku, majalah, atau surat kabar selama
kelancaran membaca waktu yang ditetapkan (15-30 menit).
Guru Kelas
melalui kegiatan 4) Jam beker dipasang sebagai pengingat waktu mulai dan
membaca untuk berakhirnya kegiatan membaca.
kesenangan. 5) Tidak ada tugas atau catatan akademik yang perlu
dilaporkan/diserahkan.
6) Seluruh komponen sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah,
tenaga kependidikan, pustakawan) berpartisipasi.
2. Membaca membangkitkan minat Kelas XII 1) Materi bacaan yang dipilih sesuai dengan atau sedikit di atas
nyaring baca peserta didik; s/d Kelas tingkat membaca mandiri.
meningkatkan XII 2) Guru membaca materi bacaan dulu.
pengetahuan pada anak- 3) Mengidentifikasi proses dan strategi yang akan digunakan
anak; memperkenalkan 4) Guru perlu mengantisipasi di bagian mana dalam bacaan
banyak kosakata baru “pengetahuan dasar” perlu dibangun.
kepada anak-anak; 5) Pada tahap sebelum membaca, guru memilih buku/cerita yang
mendorong anak-anak bermanfaat dan menarik untuk dibacakan karena kandungan nilai
untuk berpartisipasi aktif moral, sastra, keindahan, relevansi dengan kondisi anak, dll.
dalam proses 6) Pada tahap membaca, guru sebaiknya tidak membaca terlau Guru Kelas
pembelajaran; kapasitas cepat. Apabila memungkinkan gunakan suara yang berbeda untuk
memori atau daya ingat pelaku yang berbeda. Jeda diperlukan untuk membuat peserta
anak dapat ditingkatkan didik yang sedang menyimak lebih terlibat.
dengan cara meminta 7) Untuk kegiatan pembiasaan budaya membaca, peserta didik dapat
anak untuk mengingat diarahkan untuk membaca cerita menarik lain di hadapan teman
cerita yang telah sekelas ataupun diadakan kompetisi/lomba membaca cerita bagi
dibacakan atau sampai peserta didik.
sejauh mana cerita telah
disampaikan.
No Kegiatan TUJUAN SASARAN SKENARIO KEGIATAN Pelaksana
B. PENGEMBANGAN
1. Berbincang/menga Meningkatkan Kelas X 1) Peserta didik memilih satu buku, majalah, atau surat kabar
nalisis elemen- kemampuan siswa untuk s/d Kelas selama waktu yang ditetapkan (15-30 menit).
elemen cerita menganalisis elemen XII 2) Jam beker dipasang sebagai pengingat waktu mulai dan
cerita berakhirnya kegiatan membaca. Guru Kelas
3) Memberi tagihan analisis elemen cerita
4) Seluruh komponen sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah,
tenaga kependidikan, pustakawan) berpartisipasi.
2. Membuat jurnal Meningkatkan Kelas X s/d 1) Peserta didik memilih satu buku, majalah, atau surat kabar
tanggapan kemampuan siswa untuk Kelas XII selama waktu yang ditetapkan (15-30 menit).
terhadap cerita. memahami isi bacaan 2) Jam beker dipasang sebagai pengingat waktu mulai dan
berakhirnya kegiatan membaca. Guru Kelas
3) Memberi tagihan berupa jurnal tanggapan terhadap siswa
4) Seluruh komponen sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah,
tenaga kependidikan, pustakawan) berpartisipasi.
3. Kegiatan seni Meningkatkan Kelas X 1) Peserta didik memilih satu buku, majalah, atau surat kabar
peran bebasis kemampuan siswa untuk s/d Kelas selama waktu yang ditetapkan (15-30 menit).
tanggapan mengkomunikasikan isi XII 2) Jam beker dipasang sebagai pengingat waktu mulai dan
terhadap cerita cerita/bacaan berakhirnya kegiatan membaca. Guru Kelas
3) Memberi tagihan berupa jurnal tanggapan terhadap siswa
4) Seluruh komponen sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah,
tenaga kependidikan, pustakawan) berpartisipasi.
C. PEMBELAJARAN
1 Pembelajaran menumbuhkan semangat Kelas X s/d 1) Guru mencari referensi pembelajaran yang relevan dan
berbasis literasi rasa ingin tahu dan cinta Kelas XII mengurangi ketergantungan kepada buku teks pelajaran dan
pengetahuan peserta Lembar Kerja Siswa (LKS)
didik 2) Siswa membaca teks yang telah disediakan guru. Guru Kelas
3) Memberi tagihan sesuai dengan LK yang disiapkan guru
4) Siswa mempresentasikan hasil pekerjaannya.
5) Membuat simpulan dan pemajangan
BAB IV
PENUTUP
Program gerakan literasi sekolah merupakan pedoman bagi sekolah dalam upaya
menciptakan ekosistem sekolah yang literat. Ekosistem yang literat adalah lingkungan
sekolah yang:
1. Menyenangkan dan ramah anak, sehingga menumbuhkan semangat warganya dalam
belajar;
2. Semua warganya menunjukkan empati, peduli, dan menghargai sesama
3. Menumbuhkan semangat ingin tahu dan cinta pengetahuan;
4. Memampukan warganya untuk cakap berkomunikasi dan dapat berkontribusi kepada
lingkungan sosialnya; dan
5. Mengakomodasi partisipasi seluruh warga dan lingkungan eksternal sekolah.
Kemampuan literasi ditumbuhkan secara berkesinambungan pada setiap jenjang
pendidikan. Perkembangan teknologi dan media menuntut kemampuan literasi peserta
didik yang terintegrasi, dengan fokus kepada aspek kreativitas, kemampuan komunikasi,
kemampuan berpikir kritis, dan satu hal yang penting adalah kemampuan untuk
menggunakan media secara aman (media safety).
Mengetahui Pedes Juli 2023
Kepala Sekolah Wakasek
Drs. Ita sugiono, MM Saepul Rohman, [Link]
LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. Pembiasaan membaca di dalam kelas sebelum proses pembelajaran
2. Pembiasaan membaca di luar kelas sebelum proses pembelajaran
Guru memberikan dorongan kepada siswa untuk aktif dalam membaca
Siswa menyampaikan hasil bacaan kepada teman-temannya
Siswa sedang membaca buku di luar jam pelajaran di perpustakaan
3. Penyediakan fasilitas untuk memajang hasil karya tulis siswa