Literasi Dasar Anak Usia Dini: Pentingnya
Literasi Dasar Anak Usia Dini: Pentingnya
ANAK
Disusun Oleh:
Dosen Pengampu:
TAHUN 2025
PEMBAHASAN
1. Pengertian Literasi
latin yaitu literatus yang artinya adalah orang yang belajar. Ungkapan literasi
memiliki banyak variasi seperti: literasi media, literasi computer, literasi sekolah,
literasi sains dan lain sebagainya.
1
Aang Andi Kuswandi et al., “Pengembangan Literasi Dasar Untuk Menumbuhkan Minat Baca
Anak Usia Dini Melalui Metode Cerita Di RA Miftahul Jannah Bagolo,” Wahana Dedikasi : Jurnal
PkM Ilmu Kependidikan 5, no. 1 (2022): 115, [Link]
1
mengoptimalkan kemampuan seseorang dalam menulis, membaca, mendengarkan
dan berhitung.
2. Jenis-Jenis Literasi
Literasi baca dan tulis adalah pengetahuan dan kecakapan untuk membaca,
menulis, mencari, menelusuri, mengolah, dan memahami informasi.
2. Literasi numerasi
3. Literasi sains
2
alam, intelektual dan budaya, serta meningkatkan kemauan untuk terlibat dan
peduli dalam isu-isu yang terkait sains.
4. Literasi digital
Pemanfaatan ini harus dilakukan secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat,
dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam
kehidupan sehari-hari.
5. Literasi finansial
A. Tahap Pembiasaan
2
Bagus Nurul Iman, “Budaya Literasi Dalam Dunia Pendidikan,” Conference of Elementary Studies,
2022, 23–41, [Link]
3
2) Kegiatan 15 menit membaca telah berjalan selama minimal 1 semester.
7) Ada bahan kaya teks yang terpampang di tiap kelas. Lingkungan yang bersih,
sehat dan kaya teks. Terdapat poster-poster tentang pembiasaan hidup bersih,
sehat, dan indah.
B. Tahap Pengembangan
• Membacakan nyaring, yang dilakukan setiap hari (di awal, tengah, atau
menjelang akhir pelajaran).
3
Shelty Sumual et al., “Kegiatan Literasi Dasar Dan Minat Baca Siswa SD Kelas Rendah,” Jurnal
Ilmiah Wahana Pendidikan 9, no. 8 (2023): 806–12.
4
4) Guru menjadi model dalam kegiatan 15 menit membaca dengan ikut membaca
selama kegiatan berlangsung.
7) Perpustakaan, sudut baca di tiap kelas, dan area baca yang nyaman dengan
koleksi buku non-pelajaran dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan literasi.
10) Ada kegiatan akademik yang mendukung budaya literasi sekolah, misalnya:
wisata ke perpustakaan atau kunjungan perpustakaan keliling ke sekolah.
12) Ada Tim Literasi Sekolah yang dibentuk oleh kepala sekolah dan terdiri atas
guru bahasa, guru mata pelajaran lain, dan tenaga kependidikan.
Menurut Wiedarti & Laksono tahapan dalam budaya literasi adalah sebagai
berikut:
dilakukan untuk menumbuhkan minat baca terhadap bacaan dan geiatan membaca.
5
mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, melalui kegiatan bacaan pengayaan
agar dapat berpikir
tahap pertama pembiasaan yang dilakukan agar siswa terbiasa melakukan kegiatan
literasi (membaca) dengan mengajak siswa untuk membaca selama 15 menit
sebelum pelajaran dimulai.
Dalam proses tahapan yang dilakukan dalam penerapan budaya literasi, tentunya
aka nada hambatan-hambatan yang bisa saja terjadi. Hambatan-hambatan tersebut
diantaranya, sebagai berikut:
6
Berdasarkan pemaparan hambatan-hambatan yang bisa saja terjadi saat penerapan
budaya literasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa seharusnya budaya literasi
juga diterapkan di dalam ligkungan keluarga tidak hanya di sekolah saja. Karena
lingkungan eksternal dari sekolah juga mempunyai pengaruh terhadap minat baca
pada siswa.
1. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa, berdasarkan data
hasil observasi dan wawancara didapatkan beberapa faktor internal yang
menyebabkan rendahnya. kemampuan literasi baca-tulis siswa kelas 3 di SDN
Sapit. Faktor penyebab rendahnya kemampuan literasi baca-tulis siswa kelas 3 di
SDN Sapit yang pertama adalah rendahnya kemampuan intelegensi siswa..
Rendahnya. kemampuan intelegensi siswa ini dapat diketahui melalui kemampuan
belajar siswa. Misalnya siswa yang membutuhkan waktu yang lumayan lama
untuk dapat memahami pembelajaran. Hal tersebut berdasarkan hasil observasi,
ditemukan bahwa ada 4 orang siswa kelas 3 yang membutuhkan waktu yang agak
lama untuk memahami suatu bacaan, ada juga siswa yang harus mengulang-ulang
materi pelajaran agar dapat dipahami. Hal tersebut. didukung oleh pernyataan
yang disampaikan olch 4 orang siswa kelas 3, wali kelas kelas 3 dan kepala
sekolah SDN Sapit. Dari pernyataan sumber data tersebut dapat ditarik
kesimpulan bahwa rendahnya kemampuan intelegensi siswa dapat menyebabkan
rendahnya kemampuan literasi baca-tulis siswa. Selanjutnya didapatkan data
bahwa rendahnya minat belajar siswa juga dapat menyebabkan rendahnya
kemampuan literasi baca- tulis siswa. Hal tersebut berdasarkan hasil observasi
ditemukan bahwa siswa kelas 3 di SDN Sapit memiliki minat belajar literasi yang
rendah, selama observasi ditemukan bahwa siswa kelas 3 jarang ada yang
berinisiatif sendiri untuk membaca buku, baik itu buku pelajaran, maupun buku
non pelajaran. Selain itu ketika proses pembelajaran. berlangsung ada beberapa
siswa yang yang sibuk bermain, ada siswa yang mengganggu temannya, ada siswa
yang keluar masuk kelas dan lain sebagainya. Hal tersebut juga didukung oleh
pernyataan 4 orang siswa kelas 3, wali
7
kelas dan kepala sekolah yang berpendapat bahwa minat belajar siswa masih
kurang. dimana minat belajar siswa ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal
seperti penyampaian materi pelajaran yang kurang menarik sehingga membuat
siswa cepat bosan, sarana dan prasarana yang kurang menarik dan memadai dan
lain sebagainya. Selain itu didapatkan data bahwa selain kemampuan intelegensi
dan minat belajar faktor selanjutnya. adalah rendahnya motivasi belajar siswa..
Rendahnya motivasi belajar siswa dapat dikatakan merupakan salah satu
penyebab rendahnya kemampuan literasi baca-tulis siswa karena berdasarkan
hasil observasi ditemukan bahwa ada beberapa siswa dengan motivasi belajar
rendah merupakan siswa yang termasuk dalam kategori siswa dengan
kemampuan. literasi baca-tulis rendah. Motivasi belajar dapat dipengaruhi oleh
beberapa hal diantaranya. adalah tempat belajar atau sekolah yang sepi. kualitas
sekolah, fasilitas belajar rendah dan lain sebagainya. Berdasarkan hal tersebut
sesuai dengan temuan selama observasi lingkungan sekolah, lokasi sekolah dasar
yang terletak di tengah persawahan dan jauh dari pemukiman warga membuat
sekolah sangat sepi, selain itu akses ke sekolah juga masih tidak aman karena
jalan yang terjal dan licin. Hal tersebut membuat motivasi belajar siswa kurang
sehingga membuat siswa malas ke sekolah.4
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa, seperti lingkungan
keluarga. lingkungan masyarakat dan lingkungan. sekolah. Berdasarkan data hasil
observasi dan wawancara didapatkan beberapa faktor internal yang menyebabkan
rendahnya kemampuan literasi baca-tulis siswa kelas 3 di SDN Sapit. Berdasarkan
data hasil wawancara, penyebab rendahnya kemampuan literasi baca-tulis adalah
kurangnya perhatian dari orang tua. Orang tua siswa sebagian besar berprofesi
sebagai TKI. ada juga orang tua siswa yang sudah meninggal sehingga siswa
harus tinggal dengan nenek atau kakeknya. Hal ini menjadi salah satu masalah
karena
4
Zul Hijjayati, Muhammad Makki, and Itsna Oktaviyanti, “Analisis Faktor Penyebab Rendahnya
Kemampuan Literasi Baca-Tulis Siswa Kelas 3 Di SDN Sapit,” Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan 7, no.
3b (2022): 1435–43, [Link]
8
siswa menjadi kurang semangat dan merasa belajar itu kurang penting untuk
dilakukan karena orang tua siswa ataupun keluarga kurang perhatian terhadap
siswa sehingga menyebabkan kemampuan literasi baca-tulis siswa rendah. Selain
itu pengaruh TV dan HP juga dapat menyebabkan rendahnya. kemampuan literasi
baca-tulis siswa, hal ini berdasarkan hasil wawancara Bersama 4 orang siswa
bahwa selama di rumah, siswa menghabiskan waktu dengan cara bermain HP dan
menonton TV. Faktor selanjutnya adalah pengaruh teman bermain. Teman
bermain sangat berpengaruh bagi siswa, teman bermain yang baik pasti akan
mengajak melakukan hal positif, akan tetapi sebaliknya teman yang nakal akan
mengajak melakukan hal negatif. Sebagai contoh siswa dengan inisial DH sedang
belajar di kelas, akan tetapi teman sebangkunya mengajak untuk bermain di luar
kelas. Hal tersebut merupakan contoh pengaruh teman bermain. Faktor
selanjutnya adalah kemampuan guru. Ada banyak sekali kemampuan yang harus
dikuasai oleh guru contohnya kemampuan mengelola kelas, kemampuan
mendesain pembelajaran, menyiapkan pembelajaran yang menarik, kemampuan
menyampaikan materi dan lain sebagainya. Kemampuan guru menjadi salah satu
faktor penyebab rendahnya. kemampuan literasi baca-tulis siwa karena guru
merupakan fasilitator bagi siswa. Ketika kemampuan guru sudah baik maka
kualitas pembelajaran juga akan bagus. Sama halnya dengan rendahnya
kemampuan literasi baca-tulis siwa, tidak menutup kemungkinan bahwa
kemampuan guru menyampaikan pelajaran, kemampuan guru memilih strategi
dan metode pembelajaran membuat minat, motivasi dan semangat belajar siswa
menjadi rendah. sehingga menyebabkan kemampuan literasi baca- tulis rendah,
hal tersebut sejalan dengan yang disampaikan oleh wali kelas 3 bahwa beliau
sering kali menggunakan metode ceramah dan penugasan selama proses
pembelajaran berlangsung. Selain itu menurut kepala sekolah kemampuan guru
merupakan komponen penting dalam proses pembelajaran. Karena guru
merupakan pendidik yang akan mendidik dan membina siswa. Jika kemampuan
guru kurang baik, maka hasil belajar siswa juga akan kurang baik. Selain itu
Berdasarkan data. hasil observasi dapat diketahui bahwa sarana dan prasarana
yang berada di sekolah masih kurang. Sarana dan prasarana yang tersedia hanya
ada 5 ruang kelas, media pembelajaran sederhana seperti poster, buku cerita,
dan buku-buku pelajaran
9
lainnya. Kondisi sekolah yang masih kurang membuat proses pembelajaran.
kurang maksimal sehingga membuat kemampuan literasi baca-tulis siswa. Sarana
dan prasarana yang mendukung dan memadai akan membuat kualitas belajar
siswa semakin baik begitu juga sebaliknya, jika sarana dan prasarana kurang
memadai maka kualitas pembelajaran juga akan sedikit terganggu.
Tidak dapat dipungkiri saat ini banyak ahli PAUD yang memandang pentingnya
pengenalan literasi (membaca dan menulis) pada anak usia dini. Suyadi menge-
mukakan bahwa kemampuan litreasi dapat diperkenalkan atau diajarkan kepada
anak usia dini sejak anak berada dalam kandungan. Berikut adalah uraian
stimulasi perkembangan literasi pada anak usia dini:
a. Anak usia 0-1 tahun; sejak dalam kandungan idealnya anak mampu distimulasi
atau diperkenanlkan berbagai aktivitas yang mendorong anak untuk
mengembangkan kemampuan literasi. Kegiatan membaca dan menulis pada anak
usia dini merupakan bukan kegiatan yang dalam artian orang dewasa. Abidin
(2015) pembelajaran literai pada anak usia bayi menyebutkan bahwa
perkembangan literasi berisi dua periode waktu, secara rinci dimulai dari lahir
sampai usia lima tahun dan dari usia lima tahun sampai dengan menjadi pembaca
yang mandiri (konvensional). Pengenalan literasi bisa dilakukan pada saat ia
berbaring, tengkurang atau duduk. Bahkan di atas tempat tidur anak di taruhkan
buku-buku berwarna (full colour) atau orang tua membacakan cerita.5
h. Anak usia 2-3 tahun; pada dasarnya toldders sangat gemar akrab dengan buku.
Jika stimulasi di atas berhasil anak-anak akan mempunyai kecenderungan untuk
menyukai buku. Beberapa penelitian menunjukan bahwa anak yang sejak dini
akrab dengan dunia buku kelak dimasa dewasa ia kan mempunyai minat baca
yang tinggi Suyadi (2010). Umumnya pada masa ini anak-anak mulai membaca,
gemar memberikan nama pada objek-objek yang ada dalam buku tersebut.
Seiring
5
Yunindyah Wulan, “Pentingnya Pendidikan Literasi Untuk Anak Usia Dini Di Era Society 5.0,”
Transformasi Pendidikan Di Era Society 5.0, 2022, 1–11.
10
berjalannya waktu dan bertambahnya kosa kata atau tanda yang dikenali, mulailah
memperkenalkan anak untuk membaca tetapi bukan untuk menghafal. Awal mula
kita sendiri yang membacanya dengan suara nyaring terhadap isi buku tersebut.
suara nyaring dan intonasi yang tepat merupakan langkah yang paling strategis
menstimulai pendengraan anak.
c. Anak usia 3-6 tahun; Pada tahap ini Suyadi (2010) mengemukakan, kesenangan
anak terhadap buku cerita mulai meningkat tajam. Walaupun demikian pada tahap
ini anak masih menyukai buku-buku cerita yang masih banyak ilustrasi gambar-
gambar, dan warnah-warna cerah. Karena pada hakikatnya menurut Kaderavek
(2002) mengatakan bahwa periode literasi anak mulai dari lahir sampai dengan
usia enam tahun. Dengan demikian pemberian literasi yang paling bagik bagi anak
pada tahap ini adalah membacakan cerita, kisah membacakan dongeng. Cara lain
adalah meminta anak menceriatakan ulang dongeng atau cerita tersebut walaupun
tidak selengkap cerita aslihnya. Selain membacakan dongeng langkah selanjutnya
membelajarkan literasi adalah dengan menyusun kata-kata bersajak.
(1) peran orang tua dalam upaya meningkatkan literasi membaca yaitu orang tua
sebagai pembimbing dan mendidik anak, orangtua sebagai guru dan teladan bagi
anak, orangtua sebagai fasilitator, orangtua sebagai motivator, orangtua sebagai
sahabat dan dapat berkomunikasi dengan anak secara efektif dan peran orangtua
sebagai pemberi reward dan punishment;6
(2) Pola pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dalam meningkatkan literasi
membaca peserta didik yaitu otoriter, demokrasi, dan permisif; dan
(3) Hambatan yang dialami oleh orangtua seperti terlalu banyak tugas sekolah0
yang diberikan pada anak sehingga anak merasa kesulitan dan malas belajar di
rumah, belum adanya kesadaran akan pentingnya membaca dan belajar pada diri
anak sehingga sebagian besar anak perlu diperintah dulu untuk belajar atau
6
Indah Rachma Cahyani, “Peran Orang Tua Dan Guru Dalam Mengembangkan Literasi Dini (Early
Literacy) Di Kabupaten Sidoarjo,” Krisis, no. 2 (2018): 68–70.
11
membaca serta kesibukan orangtua bekerja juga membuat orangtua kurang
optimal dalam memperhatikan, membimbing dan mendidik anaknya untuk belajar
dan membaca.
e. Anak akan lebih siap saat memasuki taman kanak-kanak atau sekolah
dasar
12
KESIMPULAN
13
DAFTAR ISI
Cahyani, Indah Rachma. “Peran Orang Tua Dan Guru Dalam Mengembangkan
Literasi Dini (Early Literacy) Di Kabupaten Sidoarjo.” Krisis, no. 2 (2018):
68–70.
Kuswandi, Aang Andi, Adah Adah, Jenal Abidin, Imas Masitoh, Yayat Hidayat,
Prima Oktora, Ipah Karomah, and Etin Safitri. “Pengembangan Literasi
Dasar Untuk Menumbuhkan Minat Baca Anak Usia Dini Melalui Metode
Cerita Di RA Miftahul Jannah Bagolo.” Wahana Dedikasi : Jurnal PkM Ilmu
Kependidikan 5, no. 1 (2022): 115.
[Link]
Sumual, Shelty, Paulus Tuerah, Yudi Londa, Marlina Terok, and Marlina
Manimbage. “Kegiatan Literasi Dasar Dan Minat Baca Siswa SD Kelas
Rendah.” Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan 9, no. 8 (2023): 806–12.
14