0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan15 halaman

Literasi Dasar Anak Usia Dini: Pentingnya

Diunggah oleh

cc5264807
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan15 halaman

Literasi Dasar Anak Usia Dini: Pentingnya

Diunggah oleh

cc5264807
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

LITERASI DASAR PADA

ANAK

Disusun Oleh:

Keyla Sabrina 24021150008


Suci Julians Putri Adis 24021150013
Gina Putri Renata 24021150016

Dosen Pengampu:

Indah Dwi Sartika, [Link]

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG

TAHUN 2025
PEMBAHASAN

1. Pengertian Literasi

Pengembangan literasi yaitu suatu usaha yang dilakukan untuk


mengembangkan kemampuan literasi seseorang dengan pelatihan, serta
pendidikan. Pengembangan literasi tersebut bertujuan dalam mengembangkan
kemampuan untuk memahami suatu bacaan dan mengolah kemampuan
komunikasi secara kreatif dengan membaca. Mengembangkan literasi pada anak
sejak dini sangat penting. Bercerita adalah salah satu metode untuk meningkatkan
literasi dasar karena dengan bercerita mampu melatih daya tangkap, melatih daya
piker, melatih daya konsentrasi, dan mengembangkan daya imajinasi anak,
sehingga anak termotivasi untuk membaca.

Literasi merupakan suatu kemampuan untuk melakukan kegiatan yang


berkaitam dengan baca-tulis. Literasi adalah kemampuan seseorang dalam
mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis.
Secara etimoligis istilah literasi sendiri berasal dari bahasa1

latin yaitu literatus yang artinya adalah orang yang belajar. Ungkapan literasi
memiliki banyak variasi seperti: literasi media, literasi computer, literasi sekolah,
literasi sains dan lain sebagainya.

Hakikat ber-literasi secara kritis dalam masyarakat demokratis diringkas


dalam lima verba yaitu: memahami. melibatkan, menggunakan, menganalisis, dan
mentransformasi teks. Literasi dengan bahasa Indonesia merupakan bekal wajib
berbangsa. Semuanya merujuk kepada kompetensi dan kemampuan yang lebih
dari sekedar kemampuan membaca dan menulis. Literasi dasar merupakan salah
satu dari beberapa jenis literasi yang berarti adalah kemampuan dasar dalam
menulis, membaca. mendengarkan dan berhitung. Tujuan literasi dasar
yaitu untuk

1
Aang Andi Kuswandi et al., “Pengembangan Literasi Dasar Untuk Menumbuhkan Minat Baca
Anak Usia Dini Melalui Metode Cerita Di RA Miftahul Jannah Bagolo,” Wahana Dedikasi : Jurnal
PkM Ilmu Kependidikan 5, no. 1 (2022): 115, [Link]

1
mengoptimalkan kemampuan seseorang dalam menulis, membaca, mendengarkan
dan berhitung.

2. Jenis-Jenis Literasi

Seperti yang dikutip dari Buku Panduan Gerakan Literasi Nasional


Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, berikut beberapa jenis
literasi yang berkembang di masyarkat.

1. Literasi baca dan tulis

Literasi baca dan tulis adalah pengetahuan dan kecakapan untuk membaca,
menulis, mencari, menelusuri, mengolah, dan memahami informasi.

Hal ini diperlukan untuk menganalisis, menanggapi, dan menggunakan


teks tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi,
serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial.

2. Literasi numerasi

Literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk memperoleh,


menginterpretasikan, menggunakan, dan mengomunikasikan berbagai macam
angka dan simbol matematika untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai
macam konteks kehidupan sehari-hari.

Literasi numerasi juga berupa kemampuan untuk menganalisis informasi


yang ditampilkan dalam berbagai bentuk seperti grafik, tabel, bagan, dan
sebagainya untuk mengambil keputusan.

3. Literasi sains

Literasi sains adalah pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu


mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan
fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasarkan fakta.

Literasi sains juga merupakan kemampuan memahami karakteristik sains,


membangun kesadaran bagaimana sains dan teknologi membentuk lingkungan

2
alam, intelektual dan budaya, serta meningkatkan kemauan untuk terlibat dan
peduli dalam isu-isu yang terkait sains.

4. Literasi digital

Literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan


media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan,
mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya.

Pemanfaatan ini harus dilakukan secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat,
dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam
kehidupan sehari-hari.

5. Literasi finansial

Literasi finansial adalah pengetahuan dan kecakapan untuk


mengaplikasikan pemahaman tentang konsep, risiko, keterampilan, motivasi, dan
pemahaman agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial.

Tujuan pemahaman ini untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik


individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam linkungan masyarakat.

6. Literasi budaya dan kewargaan

Literasi budaya adalah pengetahuan dan kecakapan dalam memahami dan


bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa.

Sementara literasi kewargaan adalah pengetahuan dan kecakapan dalam


memahami hak dan kewajiban sebagai warga masyarakat.2

3. Tahapan Literasi Dasar Pada Anak

A. Tahap Pembiasaan

1) Ada kegiatan 15 menit membaca (membaca dalam hati, membacakan nyaring)


yang dilakukan setiap hari (di awal, tengah, atau menjelang akhir pelajaran).

2
Bagus Nurul Iman, “Budaya Literasi Dalam Dunia Pendidikan,” Conference of Elementary Studies,
2022, 23–41, [Link]

3
2) Kegiatan 15 menit membaca telah berjalan selama minimal 1 semester.

3) Peserta didik memiliki jurnal membaca harian.

4) Guru, kepala sekolah, dan/atau tenaga kependidikan menjadi model dalam


kegiatan 15 menit membaca dengan ikut membaca selama kegiatan berlangsung.
5) Ada perpustakaan, sudut baca di tiap kelas, dan area baca yang nyaman dengan
koleksi buku nonpelajaran.

6) Ada poster-poster kampanye membaca di kelas, koridor, dan/atau area lain di


sekolah.

7) Ada bahan kaya teks yang terpampang di tiap kelas. Lingkungan yang bersih,
sehat dan kaya teks. Terdapat poster-poster tentang pembiasaan hidup bersih,
sehat, dan indah.

9) Sekolah berupaya melibatkan publik (orang tua, alumni, dan elemen


masyarakat) untuk mengembangkan kegiatan literasi sekolah.

10) Kepala sekolah dan jajarannya berkomitmen melaksanakan dan mendukung


gerakan literasi sekolah.3

B. Tahap Pengembangan

1) Ada kegiatan 15 menit membaca:

• Membaca dalam hati dan/ atau

• Membacakan nyaring, yang dilakukan setiap hari (di awal, tengah, atau
menjelang akhir pelajaran).

2) Ada berbagai kegiatan tindak lanjut dalam bentuk menghasilkan tanggapan


secara lisan maupun tulisan.

3) Peserta didik memiliki portofolio yang berisi kumpulan jurnal tanggapan


membaca.

3
Shelty Sumual et al., “Kegiatan Literasi Dasar Dan Minat Baca Siswa SD Kelas Rendah,” Jurnal
Ilmiah Wahana Pendidikan 9, no. 8 (2023): 806–12.

4
4) Guru menjadi model dalam kegiatan 15 menit membaca dengan ikut membaca
selama kegiatan berlangsung.

5) Tagihan lisan dan tulisan digunakan sebagai penilaian nonakademik.

6) Jurnal tanggapan membaca peserta didik dipajang di kelas dan/atau koridor


sekolah.

7) Perpustakaan, sudut baca di tiap kelas, dan area baca yang nyaman dengan
koleksi buku non-pelajaran dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan literasi.

8) Ada penghargaan terhadap pencapaian peserta didik dalam kegiatan literasi


secara berkala.

9) Ada poster-poster kampanye membaca.

10) Ada kegiatan akademik yang mendukung budaya literasi sekolah, misalnya:
wisata ke perpustakaan atau kunjungan perpustakaan keliling ke sekolah.

11) Ada kegiatan perayaan hari-hari tertentu yang bertemakan literasi.

12) Ada Tim Literasi Sekolah yang dibentuk oleh kepala sekolah dan terdiri atas
guru bahasa, guru mata pelajaran lain, dan tenaga kependidikan.

Menurut Wiedarti & Laksono tahapan dalam budaya literasi adalah sebagai
berikut:

a. Tahap ke-1: Pembiasaan

Melaksanakan kegiatan membaca yang menyenangkan dalam lingkungan sekolah.


Pembiasaan ini

dilakukan untuk menumbuhkan minat baca terhadap bacaan dan geiatan membaca.

b. Tahap ke-2: Pengembangan

Tahap pengembangan dilaksanakan untuk lebih memahami tentang bacaan yang


sudah dibaca dan

5
mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, melalui kegiatan bacaan pengayaan
agar dapat berpikir

kritis dan mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif.

c. Tahap ke-3: Pelaksaan pembelajaran berbasis literasi Melaksanakan kegiatan


pelajaran dengan menerapkan literasi ketika pembelajaran sedang berlangsung.

Berdasarkan tahapan di atas, maka dapat dikatakan bahwa penerapan budaya


literasi mempunyai tiga

tahapan yang harus dilalui. Ketiga tahapan itu adalah

tahap pertama pembiasaan yang dilakukan agar siswa terbiasa melakukan kegiatan
literasi (membaca) dengan mengajak siswa untuk membaca selama 15 menit
sebelum pelajaran dimulai.

Tahapan kedua pengembangan yang dilakukan agar siswa lebih memahami


tentang apa yang sudah dibaca.

Tahapan ketiga, yaitu pelaksanaan pembelajaran berbasis literasi yang bisa


dilakukan dengan mengajak meminta salah satu siswa untuk membaca materi
pelajaran, kemudian siswa yang lainnya menyimak.

Dalam proses tahapan yang dilakukan dalam penerapan budaya literasi, tentunya
aka nada hambatan-hambatan yang bisa saja terjadi. Hambatan-hambatan tersebut
diantaranya, sebagai berikut:

a. Kegiatan literasi dalam lingkungan keluarga belum menjadi prioritas utama,


bahkan terkadang

kegiatan membaca harus di mulai dengan paksaan.

b. Minimnya fasilitas untuk membaca, atau kurangnya sumber bacaan.

c. Lingkungan sekitar yang kurang mendukung pelaksanaan budaya literasi.

d. Kurangnya konsentrasi pada anak, sehingga berpengaruh pada tingkat


pemahaman pembaca.

6
Berdasarkan pemaparan hambatan-hambatan yang bisa saja terjadi saat penerapan
budaya literasi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa seharusnya budaya literasi
juga diterapkan di dalam ligkungan keluarga tidak hanya di sekolah saja. Karena
lingkungan eksternal dari sekolah juga mempunyai pengaruh terhadap minat baca
pada siswa.

4. Faktor-Faktor Literasi Pada Anak

1. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa, berdasarkan data
hasil observasi dan wawancara didapatkan beberapa faktor internal yang
menyebabkan rendahnya. kemampuan literasi baca-tulis siswa kelas 3 di SDN
Sapit. Faktor penyebab rendahnya kemampuan literasi baca-tulis siswa kelas 3 di
SDN Sapit yang pertama adalah rendahnya kemampuan intelegensi siswa..
Rendahnya. kemampuan intelegensi siswa ini dapat diketahui melalui kemampuan
belajar siswa. Misalnya siswa yang membutuhkan waktu yang lumayan lama
untuk dapat memahami pembelajaran. Hal tersebut berdasarkan hasil observasi,
ditemukan bahwa ada 4 orang siswa kelas 3 yang membutuhkan waktu yang agak
lama untuk memahami suatu bacaan, ada juga siswa yang harus mengulang-ulang
materi pelajaran agar dapat dipahami. Hal tersebut. didukung oleh pernyataan
yang disampaikan olch 4 orang siswa kelas 3, wali kelas kelas 3 dan kepala
sekolah SDN Sapit. Dari pernyataan sumber data tersebut dapat ditarik
kesimpulan bahwa rendahnya kemampuan intelegensi siswa dapat menyebabkan
rendahnya kemampuan literasi baca-tulis siswa. Selanjutnya didapatkan data
bahwa rendahnya minat belajar siswa juga dapat menyebabkan rendahnya
kemampuan literasi baca- tulis siswa. Hal tersebut berdasarkan hasil observasi
ditemukan bahwa siswa kelas 3 di SDN Sapit memiliki minat belajar literasi yang
rendah, selama observasi ditemukan bahwa siswa kelas 3 jarang ada yang
berinisiatif sendiri untuk membaca buku, baik itu buku pelajaran, maupun buku
non pelajaran. Selain itu ketika proses pembelajaran. berlangsung ada beberapa
siswa yang yang sibuk bermain, ada siswa yang mengganggu temannya, ada siswa
yang keluar masuk kelas dan lain sebagainya. Hal tersebut juga didukung oleh
pernyataan 4 orang siswa kelas 3, wali

7
kelas dan kepala sekolah yang berpendapat bahwa minat belajar siswa masih
kurang. dimana minat belajar siswa ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal
seperti penyampaian materi pelajaran yang kurang menarik sehingga membuat
siswa cepat bosan, sarana dan prasarana yang kurang menarik dan memadai dan
lain sebagainya. Selain itu didapatkan data bahwa selain kemampuan intelegensi
dan minat belajar faktor selanjutnya. adalah rendahnya motivasi belajar siswa..
Rendahnya motivasi belajar siswa dapat dikatakan merupakan salah satu
penyebab rendahnya kemampuan literasi baca-tulis siswa karena berdasarkan
hasil observasi ditemukan bahwa ada beberapa siswa dengan motivasi belajar
rendah merupakan siswa yang termasuk dalam kategori siswa dengan
kemampuan. literasi baca-tulis rendah. Motivasi belajar dapat dipengaruhi oleh
beberapa hal diantaranya. adalah tempat belajar atau sekolah yang sepi. kualitas
sekolah, fasilitas belajar rendah dan lain sebagainya. Berdasarkan hal tersebut
sesuai dengan temuan selama observasi lingkungan sekolah, lokasi sekolah dasar
yang terletak di tengah persawahan dan jauh dari pemukiman warga membuat
sekolah sangat sepi, selain itu akses ke sekolah juga masih tidak aman karena
jalan yang terjal dan licin. Hal tersebut membuat motivasi belajar siswa kurang
sehingga membuat siswa malas ke sekolah.4

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa, seperti lingkungan
keluarga. lingkungan masyarakat dan lingkungan. sekolah. Berdasarkan data hasil
observasi dan wawancara didapatkan beberapa faktor internal yang menyebabkan
rendahnya kemampuan literasi baca-tulis siswa kelas 3 di SDN Sapit. Berdasarkan
data hasil wawancara, penyebab rendahnya kemampuan literasi baca-tulis adalah
kurangnya perhatian dari orang tua. Orang tua siswa sebagian besar berprofesi
sebagai TKI. ada juga orang tua siswa yang sudah meninggal sehingga siswa
harus tinggal dengan nenek atau kakeknya. Hal ini menjadi salah satu masalah
karena

4
Zul Hijjayati, Muhammad Makki, and Itsna Oktaviyanti, “Analisis Faktor Penyebab Rendahnya
Kemampuan Literasi Baca-Tulis Siswa Kelas 3 Di SDN Sapit,” Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan 7, no.
3b (2022): 1435–43, [Link]

8
siswa menjadi kurang semangat dan merasa belajar itu kurang penting untuk
dilakukan karena orang tua siswa ataupun keluarga kurang perhatian terhadap
siswa sehingga menyebabkan kemampuan literasi baca-tulis siswa rendah. Selain
itu pengaruh TV dan HP juga dapat menyebabkan rendahnya. kemampuan literasi
baca-tulis siswa, hal ini berdasarkan hasil wawancara Bersama 4 orang siswa
bahwa selama di rumah, siswa menghabiskan waktu dengan cara bermain HP dan
menonton TV. Faktor selanjutnya adalah pengaruh teman bermain. Teman
bermain sangat berpengaruh bagi siswa, teman bermain yang baik pasti akan
mengajak melakukan hal positif, akan tetapi sebaliknya teman yang nakal akan
mengajak melakukan hal negatif. Sebagai contoh siswa dengan inisial DH sedang
belajar di kelas, akan tetapi teman sebangkunya mengajak untuk bermain di luar
kelas. Hal tersebut merupakan contoh pengaruh teman bermain. Faktor
selanjutnya adalah kemampuan guru. Ada banyak sekali kemampuan yang harus
dikuasai oleh guru contohnya kemampuan mengelola kelas, kemampuan
mendesain pembelajaran, menyiapkan pembelajaran yang menarik, kemampuan
menyampaikan materi dan lain sebagainya. Kemampuan guru menjadi salah satu
faktor penyebab rendahnya. kemampuan literasi baca-tulis siwa karena guru
merupakan fasilitator bagi siswa. Ketika kemampuan guru sudah baik maka
kualitas pembelajaran juga akan bagus. Sama halnya dengan rendahnya
kemampuan literasi baca-tulis siwa, tidak menutup kemungkinan bahwa
kemampuan guru menyampaikan pelajaran, kemampuan guru memilih strategi
dan metode pembelajaran membuat minat, motivasi dan semangat belajar siswa
menjadi rendah. sehingga menyebabkan kemampuan literasi baca- tulis rendah,
hal tersebut sejalan dengan yang disampaikan oleh wali kelas 3 bahwa beliau
sering kali menggunakan metode ceramah dan penugasan selama proses
pembelajaran berlangsung. Selain itu menurut kepala sekolah kemampuan guru
merupakan komponen penting dalam proses pembelajaran. Karena guru
merupakan pendidik yang akan mendidik dan membina siswa. Jika kemampuan
guru kurang baik, maka hasil belajar siswa juga akan kurang baik. Selain itu
Berdasarkan data. hasil observasi dapat diketahui bahwa sarana dan prasarana
yang berada di sekolah masih kurang. Sarana dan prasarana yang tersedia hanya
ada 5 ruang kelas, media pembelajaran sederhana seperti poster, buku cerita,
dan buku-buku pelajaran

9
lainnya. Kondisi sekolah yang masih kurang membuat proses pembelajaran.
kurang maksimal sehingga membuat kemampuan literasi baca-tulis siswa. Sarana
dan prasarana yang mendukung dan memadai akan membuat kualitas belajar
siswa semakin baik begitu juga sebaliknya, jika sarana dan prasarana kurang
memadai maka kualitas pembelajaran juga akan sedikit terganggu.

5. Stimulasi Literasi Pada Anak

Tidak dapat dipungkiri saat ini banyak ahli PAUD yang memandang pentingnya
pengenalan literasi (membaca dan menulis) pada anak usia dini. Suyadi menge-
mukakan bahwa kemampuan litreasi dapat diperkenalkan atau diajarkan kepada
anak usia dini sejak anak berada dalam kandungan. Berikut adalah uraian
stimulasi perkembangan literasi pada anak usia dini:

a. Anak usia 0-1 tahun; sejak dalam kandungan idealnya anak mampu distimulasi
atau diperkenanlkan berbagai aktivitas yang mendorong anak untuk
mengembangkan kemampuan literasi. Kegiatan membaca dan menulis pada anak
usia dini merupakan bukan kegiatan yang dalam artian orang dewasa. Abidin
(2015) pembelajaran literai pada anak usia bayi menyebutkan bahwa
perkembangan literasi berisi dua periode waktu, secara rinci dimulai dari lahir
sampai usia lima tahun dan dari usia lima tahun sampai dengan menjadi pembaca
yang mandiri (konvensional). Pengenalan literasi bisa dilakukan pada saat ia
berbaring, tengkurang atau duduk. Bahkan di atas tempat tidur anak di taruhkan
buku-buku berwarna (full colour) atau orang tua membacakan cerita.5

h. Anak usia 2-3 tahun; pada dasarnya toldders sangat gemar akrab dengan buku.
Jika stimulasi di atas berhasil anak-anak akan mempunyai kecenderungan untuk
menyukai buku. Beberapa penelitian menunjukan bahwa anak yang sejak dini
akrab dengan dunia buku kelak dimasa dewasa ia kan mempunyai minat baca
yang tinggi Suyadi (2010). Umumnya pada masa ini anak-anak mulai membaca,
gemar memberikan nama pada objek-objek yang ada dalam buku tersebut.
Seiring

5
Yunindyah Wulan, “Pentingnya Pendidikan Literasi Untuk Anak Usia Dini Di Era Society 5.0,”
Transformasi Pendidikan Di Era Society 5.0, 2022, 1–11.

10
berjalannya waktu dan bertambahnya kosa kata atau tanda yang dikenali, mulailah
memperkenalkan anak untuk membaca tetapi bukan untuk menghafal. Awal mula
kita sendiri yang membacanya dengan suara nyaring terhadap isi buku tersebut.
suara nyaring dan intonasi yang tepat merupakan langkah yang paling strategis
menstimulai pendengraan anak.

c. Anak usia 3-6 tahun; Pada tahap ini Suyadi (2010) mengemukakan, kesenangan
anak terhadap buku cerita mulai meningkat tajam. Walaupun demikian pada tahap
ini anak masih menyukai buku-buku cerita yang masih banyak ilustrasi gambar-
gambar, dan warnah-warna cerah. Karena pada hakikatnya menurut Kaderavek
(2002) mengatakan bahwa periode literasi anak mulai dari lahir sampai dengan
usia enam tahun. Dengan demikian pemberian literasi yang paling bagik bagi anak
pada tahap ini adalah membacakan cerita, kisah membacakan dongeng. Cara lain
adalah meminta anak menceriatakan ulang dongeng atau cerita tersebut walaupun
tidak selengkap cerita aslihnya. Selain membacakan dongeng langkah selanjutnya
membelajarkan literasi adalah dengan menyusun kata-kata bersajak.

6. Peran Orang Tua Dalam Mendukung Literasi Dasar Anak

(1) peran orang tua dalam upaya meningkatkan literasi membaca yaitu orang tua
sebagai pembimbing dan mendidik anak, orangtua sebagai guru dan teladan bagi
anak, orangtua sebagai fasilitator, orangtua sebagai motivator, orangtua sebagai
sahabat dan dapat berkomunikasi dengan anak secara efektif dan peran orangtua
sebagai pemberi reward dan punishment;6

(2) Pola pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dalam meningkatkan literasi
membaca peserta didik yaitu otoriter, demokrasi, dan permisif; dan

(3) Hambatan yang dialami oleh orangtua seperti terlalu banyak tugas sekolah0
yang diberikan pada anak sehingga anak merasa kesulitan dan malas belajar di
rumah, belum adanya kesadaran akan pentingnya membaca dan belajar pada diri
anak sehingga sebagian besar anak perlu diperintah dulu untuk belajar atau

6
Indah Rachma Cahyani, “Peran Orang Tua Dan Guru Dalam Mengembangkan Literasi Dini (Early
Literacy) Di Kabupaten Sidoarjo,” Krisis, no. 2 (2018): 68–70.

11
membaca serta kesibukan orangtua bekerja juga membuat orangtua kurang
optimal dalam memperhatikan, membimbing dan mendidik anaknya untuk belajar
dan membaca.

7. Tujuan dan pentingnya literasi pada anak usia dini

Pengajaran literasi sejak dini berupaya untuk menghasilkan pembaca dan


penulis yang mahir dalam kedua bahasa tersebut. Tetapi juga cerdas dalam hal
intelek, emosi, dan spiritualitas. Seorang anak yang terbiasa menulis dan
membaca akan mengembangkan kreativitasnya, berpikir kritis dan logis, serta
mampu menemukan solusi dari setiap masalah yang dihadapinya. Pemerintah
menggunakan berbagai strategi untuk meningkatkan tingkat literasi anak. Karena
ini bukan hanya tanggung jawab sekolah dan pengajar ke rumah. Tetapi
pemerintah juga harus melakukan peran ini. Pemerintah masih bekerja untuk
meningkatkan standar literasi dan menulis anak usia dini. Dengan membangun
perpustakaan di berbagai daerah terpencil adalah salah satunya.

Pendidikan keaksaraan dini sekarang sangat penting. terutama di saat ada


begitu banyak persaingan. Tanpa instruksi membaca yang memadai, anak-anak
kecil akan jauh tertinggal dari teman sebayanya. Kecerdasannya yang luar biasa
membuatnya sulit beradaptasi dengan situasi baru. Pengajaran literasi dini akan
bermanfaat bagi anak-anak dalam berbagai cara, termasuk yang berikut:

a. Menjadikan anak usia dini lebih pandai menulis

b. Membuat anak lebih pandai membaca

c. Membuat anak pandai berhitung

d. Anak lebih pintar memecahkan masalahnya sendiri

e. Anak akan lebih siap saat memasuki taman kanak-kanak atau sekolah
dasar

12
KESIMPULAN

Literasi dasar merupakan kemampuan fundamental yang menjadi landasan


bagi anak dalam proses belajar sepanjang hayat. Literasi tidak hanya mencakup
kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, berpikir
kritis, serta berkomunikasi secara efektif. Pengembangan literasi dasar sejak usia
dini sangat penting karena menjadi dasar bagi anak untuk memahami berbagai
konsep akademik dan sosial di kemudian hari.

Perkembangan literasi anak dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain


lingkungan keluarga, peran guru di sekolah, serta ketersediaan sumber bacaan
yang menarik dan bermakna. Oleh karena itu, kolaborasi antara orang tua, guru,
dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam menumbuhkan budaya literasi.

Upaya peningkatan literasi dasar dapat dilakukan melalui kegiatan


membaca bersama, mendongeng, penyediaan pojok baca, serta integrasi literasi
dalam seluruh kegiatan pembelajaran. Dengan dukungan lingkungan yang positif,
anak akan tumbuh menjadi individu yang gemar membaca, berpikir kritis, dan
siap menghadapi tantangan masa depan.

13
DAFTAR ISI

Cahyani, Indah Rachma. “Peran Orang Tua Dan Guru Dalam Mengembangkan
Literasi Dini (Early Literacy) Di Kabupaten Sidoarjo.” Krisis, no. 2 (2018):
68–70.

Hijjayati, Zul, Muhammad Makki, and Itsna Oktaviyanti. “Analisis Faktor


Penyebab Rendahnya Kemampuan Literasi Baca-Tulis Siswa Kelas 3 Di
SDN Sapit.” Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan 7, no. 3b (2022): 1435–43.
[Link]

Iman, Bagus Nurul. “Budaya Literasi Dalam Dunia Pendidikan.” Conference of


Elementary Studies, 2022, 23–41. [Link]
[Link]/[Link]/Pro/article/view/14908.

Kuswandi, Aang Andi, Adah Adah, Jenal Abidin, Imas Masitoh, Yayat Hidayat,
Prima Oktora, Ipah Karomah, and Etin Safitri. “Pengembangan Literasi
Dasar Untuk Menumbuhkan Minat Baca Anak Usia Dini Melalui Metode
Cerita Di RA Miftahul Jannah Bagolo.” Wahana Dedikasi : Jurnal PkM Ilmu
Kependidikan 5, no. 1 (2022): 115.
[Link]

Sumual, Shelty, Paulus Tuerah, Yudi Londa, Marlina Terok, and Marlina
Manimbage. “Kegiatan Literasi Dasar Dan Minat Baca Siswa SD Kelas
Rendah.” Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan 9, no. 8 (2023): 806–12.

Wulan, Yunindyah. “Pentingnya Pendidikan Literasi Untuk Anak Usia Dini Di


Era Society 5.0.” Transformasi Pendidikan Di Era Society 5.0, 2022, 1–11.

14

Anda mungkin juga menyukai