0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
136 tayangan1 halaman

Kejujuran dalam Ujian Terakhir Raka

Diunggah oleh

ayuretno527
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
136 tayangan1 halaman

Kejujuran dalam Ujian Terakhir Raka

Diunggah oleh

ayuretno527
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

Contoh Cerpen berjudul Ujian Terakhir dan Secarik


Kertas

Raka, siswa paling cerdas di SMA Bintang, selalu menduduki peringkat pertama.
Namun, ia tidak pernah benar-benar merasa puas; tekanan untuk selalu sempurna
membuatnya gelisah. Ujian Akhir Semester (UAS) kali ini adalah penentu apakah ia
bisa mendapatkan beasiswa impiannya. Aula ujian terasa dingin, hening, hanya ada
suara gesekan pensil.

Soal matematika kali ini sangat sulit, bahkan untuk Raka. Dua soal terakhir
membuatnya buntu. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Saat ia menghela
napas, matanya tak sengaja menangkap gerakan dari bangku depan. Dinda, teman
sebangkunya yang dikenal sering mendapat nilai pas-pasan, dengan cepat
menyembunyikan secarik kertas kecil di bawah lengannya. Raka tahu itu adalah
contekan.

Saat pengawas ujian, Bu Ratna, berbalik ke papan tulis, Dinda secara tak seng sengaja
menjatuhkan kertas itu ke lantai. Kertas itu meluncur, tepat berhenti di bawah sepatu
Raka. Ini adalah kesempatan emas. Dalam kertas itu mungkin ada jawaban untuk dua
soal yang memusingkannya. Jantung Raka berdetak kencang. Jika ia menggunakan ini,
ia pasti mendapat nilai sempurna dan beasiswa aman. Namun, ia akan mengkhianati
prinsip kejujuran yang selalu ia junjung.

Raka menunduk, tangannya menyentuh kertas itu. Tepat saat jari-jarinya akan meraih,
ia teringat kata-kata ayahnya: “Nilai sempurna yang didapat dengan kecurangan tidak
akan pernah memberimu kedamaian sejati, Nak.” Raka menarik tangannya. Ia melihat
Dinda melirik cemas ke arahnya. Alih-alih mengambilnya, Raka dengan gerakan cepat
menendang pelan kertas itu hingga terdorong jauh ke bawah meja pengawas.

Dinda terkejut dan sedikit pucat, tapi ia mengerti. Raka kembali ke soalnya,
memutuskan untuk menyerahkan lembar jawabannya apa adanya. Ia meninggalkan
dua soal itu kosong, menerima kenyataan bahwa nilainya mungkin tidak sempurna.

Dua minggu kemudian, hasil UAS diumumkan. Raka mendapat nilai 95, ia kehilangan 5
poin dari dua soal yang kosong. Ia masih menduduki peringkat pertama, tetapi
selisihnya sangat tipis. Bu Ratna memanggilnya ke depan.

“Raka, kamu tahu kamu bisa menjawab dua soal itu, bukan?” tanya Bu Ratna lembut.
Raka mengangguk. Bu Ratna lalu tersenyum. “Saat ujian, saya melihat ada kertas
jatuh. Saya perhatikan kamu tidak mengambilnya, melainkan mendorongnya jauh dari
jangkauanmu. Kejujuranmu, Nak, jauh lebih berharga daripada nilai 100.”

Raka akhirnya mendapatkan beasiswa itu. Bukan karena nilainya yang nyaris
sempurna, tetapi karena rekomendasi khusus dari Bu Ratna yang menyoroti integritas
dan kejujurannya yang teguh. Raka belajar, bahwa nilai sejati dari pendidikan adalah
karakter, bukan sekadar angka.

Anda mungkin juga menyukai