0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan17 halaman

Manajemen Pengetahuan dalam Ekonomi Berbasis Pengetahuan

ringkasan kuliah

Diunggah oleh

cus
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan17 halaman

Manajemen Pengetahuan dalam Ekonomi Berbasis Pengetahuan

ringkasan kuliah

Diunggah oleh

cus
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

Pendahuluan
1.1 Dari Knowledge Society ke Knowledge Management (Munshi & Ermine,
2011)

1. Konsep Knowledge Society (KS):


o Memberikan visi baru bahwa pengetahuan adalah sumber daya utama bagi
perkembangan sosial-ekonomi.
o Revolusi Information Society pada 1990-an hanya menghasilkan solusi teknis,
bukan lingkungan yang mendukung penciptaan kekayaan intelektual untuk
pembangunan berkelanjutan.
2. Era Knowledge Society:
o Muncul kebutuhan akan Knowledge Economy (KE), yaitu ekonomi berbasis
pengetahuan.
o Pengetahuan dianggap sebagai aset tidak berwujud yang fundamental dalam
organisasi.
o Proses akumulasi, eksploitasi, dan diseminasi pengetahuan menciptakan added
value bagi organisasi.
3. Implikasi Knowledge Economy:
o Memerlukan perspektif manajerial dalam organisasi.
o Knowledge Management (KM) berfungsi untuk:
1. Memformalkan dan mentransfer pengetahuan serta know-how dalam
organisasi.
2. Mengkapitalisasi dan mengoperasikan pengetahuan untuk meningkatkan
kinerja organisasi.
4. Tantangan dalam KM:
o Struktur organisasi terbaik untuk KM.
o Cara mengelola communities of practice.
o Cara menstimulasi inovasi melalui KM.
o Strategi terbaik untuk KM.
o Cara menjaga Knowledge Capital organisasi.

1.2 Knowledge Value Chain (Ermine, 2013a)

1. Konsep Dasar:
o Pengetahuan tidak mudah didefinisikan secara operasional, yang penting adalah
knowledge in action (pengetahuan yang menghasilkan nilai tambah).
o Knowledge Value Chain (KVC) adalah rangkaian blok bangunan yang
mengorganisasi aktivitas kognitif pekerja pengetahuan.
o KVC menjelaskan hubungan antara data, informasi, pengetahuan, kompetensi,
dan kapasitas.
2. Model DIKW (Data → Information → Knowledge → Wisdom):
o Dalam KVC, “wisdom” dipandang sebagai konsep operasional organisasi.
o Proses ini adalah transformasi bertahap dari data menjadi kapasitas yang
memberikan nilai tambah bagi organisasi.
3. Definisi Tiap Lapisan (Knowledge Pyramid):

[Link]: Fakta mentah yang diperoleh dari realitas melalui observasi.


[Link]: Data yang telah terstruktur dan dipahami oleh profesional bidang
terkait.
3. Pengetahuan: Sekumpulan informasi yang dihubungkan oleh model kognitif
(dapat bersifat tacit atau eksplisit).
4. Kompetensi: Pengalaman dan penerapan pengetahuan secara efektif untuk
mencapai tujuan.
5. Kapasitas: Integrasi kompetensi individu menjadi kemampuan kolektif untuk
mencapai sasaran strategis organisasi.
4. Rantai Transformasi dalam KVC:

o Realitas → Data: Observasi melalui filter persepsi.


o Data → Informasi: Pengkodean data melalui filter konseptual.
o Informasi → Pengetahuan: Pembentukan model melalui proses belajar.
o Pengetahuan → Kompetensi: Implementasi praktik melalui pengalaman.
o Kompetensi → Kapasitas: Penyusunan strategi melalui visi dan penyelarasan
strategis.
5. Nilai Tambah (Added Value):
o Terjadi di setiap tahapan transformasi (data → informasi → pengetahuan →
kompetensi → kapasitas).
o Nilai tambah dihitung berdasarkan hasil dari transformasi di setiap lapisan.

1.3 Knowledge Processes (Carlucci et al., 2004)


1. Konsep Dasar:
o Membangun Knowledge Society memerlukan proses operasional yang terstruktur.
o Knowledge Process Wheel adalah taksonomi proses KM yang memperhitungkan
sifat dinamis pengetahuan serta memberikan panduan untuk mengelola
Knowledge Capital organisasi.
2. Enam Jenis Proses dalam Knowledge Process Wheel:

1. Knowledge Creation (Penciptaan Pengetahuan):


 Proses paling penting karena berfungsi untuk mengakumulasi Knowledge
Capital, yang menjadi inti dari organisasi berbasis pengetahuan.
2. Knowledge Identification (Identifikasi Pengetahuan):
 Berhubungan dengan analisis dan penataan.
 Pertanyaan kunci:
 Pengetahuan apa yang relevan untuk menciptakan Knowledge
Society?
 Apa saja kebutuhan dasar pengetahuan?
3. Knowledge Codification (Kodifikasi Pengetahuan):
Menangkap tacit knowledge (pengetahuan implisit) yang tersimpan di
dalam otak pemegang pengetahuan, sering kali tanpa disadari oleh
mereka.
 Proses ini kompleks karena membutuhkan teknik untuk mengungkapkan
pengetahuan yang sulit diartikulasikan.
4. Knowledge Sharing (Berbagi Pengetahuan):
 Setelah pengetahuan diidentifikasi dan disimpan dalam repositori, perlu
usaha besar untuk membagikannya dalam komunitas.
 Meliputi pembangunan komunitas dan penyediaan infrastruktur untuk
akses pengetahuan.
5. Knowledge Dissemination (Diseminasi Pengetahuan):
 Menyebarkan pengetahuan kepada pihak yang membutuhkan dengan
filosofi “informasi yang tepat, untuk pengguna yang tepat, pada waktu
yang tepat.”
 Membutuhkan dukungan infrastruktur teknologi informasi (TI) dan desain
proses yang baik.
6. Knowledge Evaluation (Evaluasi Pengetahuan):
 Mengukur dan menilai pengetahuan yang dibagikan dengan menggunakan
berbagai alat evaluasi (evaluation grids).
 Proses ini memastikan kualitas dan relevansi pengetahuan.

1.4 The Virtuous KM Cycle (Ermine, 2018)


1. Konsep Dasar:
o Model ini menerapkan pendekatan berbasis pengetahuan melalui empat langkah
utama:
1. Assessment of Knowledge Capital (Penilaian Knowledge Capital):
 Melakukan analisis mendalam terhadap Knowledge Capital
organisasi.
 Mengidentifikasi peluang dan ancaman pada berbagai domain
pengetahuan.
2. Organization of Knowledge Resources (Pengorganisasian Sumber
Daya Pengetahuan):
 Mengatur sumber daya, metode, dan alat yang akan digunakan
untuk mengembangkan peluang atau mengurangi ancaman.
3. Implementation of Knowledge Processes (Implementasi Proses
Pengetahuan):
 Merancang dan menerapkan cara untuk mengelola pengetahuan.
 Menyediakan metode dan alat yang konsisten untuk menangani
peluang dan ancaman.
4. Enrichment of Knowledge Capital (Pengayaan Knowledge Capital):
 Tujuan akhir dari proses KM.
 Meminimalkan risiko, menjaga, serta memperkaya Knowledge
Capital organisasi.
2. Hubungan dengan KVC:
o Virtuous KM Cycle menciptakan nilai dari Knowledge Capital organisasi sesuai
dengan rantai nilai pengetahuan (Knowledge Value Chain).
o Menggunakan Knowledge Process Wheel sebagai kerangka proses yang saling
terhubung.

1.4.1 Langkah 1: Penilaian Strategis Knowledge Capital dan


Penyusunan Rencana KM
1. Konsep Dasar:
o Knowledge Capital merupakan aset strategis paling penting dalam organisasi,
terutama tacit knowledge yang rentan hilang jika pemegangnya keluar dari
organisasi.
o Oleh karena itu, pelestarian dan transfer Knowledge Capital harus direncanakan
secara strategis dan terintegrasi dengan proses organisasi.
2. Pertanyaan Strategis yang Harus Dijawab:
o Apakah domain pengetahuan benar-benar berisiko hilang?
o Apakah domain pengetahuan tersebut benar-benar strategis?
o Siapa yang memegang pengetahuan ini?
o Tindakan apa yang perlu dilakukan untuk melestarikan pengetahuan ini?
o Bagaimana mengintegrasikan rencana tindakan dengan tujuan strategis
organisasi?
3. Langkah Implementasi:
o Melakukan audit sumber daya pengetahuan untuk mengetahui posisi dan kondisi
Knowledge Capital.
o Menyusun rencana aksi untuk:
 Pelestarian
 Berbagi
 Transfer
 Evolusi pengetahuan sesuai strategi organisasi
o Mengidentifikasi domain pengetahuan kritis dan tindakan yang tepat untuk
mengurangi tingkat kritikalitasnya.
o Menentukan proses KM yang dibutuhkan untuk setiap domain pengetahuan.

1.4.2 Langkah 2: Pengorganisasian Sumber Daya


Pengetahuan
1. Identifikasi dan Klasifikasi Sumber Daya Pengetahuan:
o Sumber daya terkodekan: basis data, dokumen, perangkat lunak, sumber daya
web.
o Sumber daya tidak terkodekan: tacit knowledge dari para ahli, komunitas
pengetahuan (communities of practice), jaringan profesional.
2. Tantangan yang Umum Terjadi:
o Pengetahuan sering tersebar di banyak lokasi.
o Hubungan antar potongan pengetahuan tidak jelas.
o Tacit knowledge belum cukup diungkapkan.
o Tidak ada pandangan menyeluruh terhadap pengetahuan yang ada di tiap domain.
3. Kegiatan yang Diperlukan:
o Pemetaan sumber daya pengetahuan.
o Merancang repositori pengetahuan yang koheren untuk mempermudah akses.
o Menambahkan sumber daya atau artefak baru bila diperlukan.
o Memastikan pemeliharaan dan ketersediaan repositori.

1.4.3 Langkah 3: Implementasi Proses KM


1. Tujuan:
o Mengintegrasikan pemanfaatan sumber daya pengetahuan ke dalam rutinitas
sehari-hari pekerja pengetahuan.
o Memfasilitasi berbagi, transfer, dan akuisisi pengetahuan untuk mendukung tugas
operasional dan pengambilan keputusan.
2. Kegiatan:
o Menghubungkan proses KM dengan proses bisnis.
o Mengimplementasikan Knowledge Process Wheel sesuai kebutuhan yang telah
diidentifikasi dalam rencana KM.

1.4.4 Langkah 4: Evolusi Knowledge Capital


1. Tujuan Akhir KM:
o Menciptakan organisasi yang inovatif dan kreatif.
o Meningkatkan kapabilitas organisasi agar pengetahuan terus berkembang secara
strategis.
2. Kegiatan:
o Memanfaatkan semua sumber daya dari langkah-langkah sebelumnya untuk
mendorong evolusi pengetahuan.
o Melakukan survei, tindak lanjut, dan evaluasi untuk mengukur manfaat
pengetahuan terhadap organisasi.
o Menjaga relevansi proses KM seiring perubahan bisnis dan proses organisasi.
3. Siklus Berkelanjutan:
o Setelah satu siklus selesai, Knowledge Capital siap diorganisasi, dipelihara,
diseminasi, dan diperbarui kembali.
o Siklus ini mengikuti prinsip PDCA (Plan – Do – Check – Act / Deming Wheel)
untuk memastikan perbaikan berkelanjutan.
1.5 The KM Virtuous Cycle with the MASK Method
1. Pengertian MASK:
o MASK (Method for Analyzing and Structuring Knowledge) adalah metodologi
global yang membantu membangun solusi operasional berbasis strategi
organisasi, hingga menghasilkan peta jalan KM (KM Road Map) yang koheren.
o MASK mencakup proses lengkap mulai dari perumusan strategi hingga sistem
informasi, sehingga implementasinya memerlukan upaya besar dari organisasi.
o MASK dapat diterapkan secara penuh (end-to-end) atau hanya sebagian sesuai
dengan permasalahan yang dihadapi.
2. Sejarah dan Pengembangan MASK:
o Dikembangkan pertama kali pada awal 1990-an di Université de Bordeaux,
Prancis.
o Diterapkan secara luas antara 1993–2000 di Commissariat à l'Énergie Atomique
(French Atomic Energy Commission) pada proyek besar seperti:
 Pengayaan uranium
 Senjata nuklir
 Keselamatan nuklir
o Versi lanjutan dikembangkan bersama institusi riset seperti:
 Université de Technologie de Troyes
 Institut Mines-Télécom (Business School, Université Paris-Saclay)
o Divalidasi secara ilmiah dan operasional melalui dua organisasi nirlaba:

[Link] Gestion des Connaissances (French KM Association) –


mengumpulkan perusahaan-perusahaan frankofon dari berbagai sektor
(sejak 1999).
2. AGeCSO (Association for Knowledge Management in Society and
Organizations) – komunitas akademik yang melibatkan banyak
laboratorium riset (sejak 2008).
3. Cakupan Implementasi MASK:
o Didukung oleh proyek penelitian dan industri, baik di sektor publik maupun
swasta.
o Telah diterapkan di berbagai negara: Prancis, Aljazair, Kanada, Amerika Serikat,
Brasil, Asia, serta di PBB.
4. Modul-Modul MASK:
o MASK I: Kodifikasi tacit knowledge menggunakan teknik knowledge modeling
(Knowledge Books).
o MASK II: Analisis strategis Knowledge Capital dan penyusunan rencana KM.
o MASK III: Transfer pengetahuan.
o MASK IV: Inovasi.
o Keempat modul ini menyediakan kerangka kerja, proses, dan alat untuk
mewujudkan Sistem KM yang sesuai standar KM terbaru.

2.4 Rangkuman dan Penyusunan Rencana Aksi


Langkah ini bertujuan untuk membandingkan visi strategis dan operasional, sehingga dapat
dibuat rekomendasi yang relevan mengenai tindakan KM atau perangkat yang perlu
diimplementasikan.

2.4.1 Identifikasi Strategic Dissonances


Perbedaan antara strategi dan praktik bisnis dianalisis untuk menemukan:

1. Bias kognitif dalam representasi strategi oleh pekerja strategi dan pekerja pengetahuan.
2. Bias kognitif dalam representasi strategi oleh aktor terkait, khususnya mengenai dampak
objektif terhadap pengetahuan profesional dalam proses operasional.

2.4.2 Matriks Pengaruh (Influence Matrix)

 Menghubungkan domain pengetahuan dan kapasitas strategis.


 Memberikan skor rata-rata berbobot untuk menentukan pentingnya elemen.
 Hasil analisis dapat mengubah status suatu kapasitas/pengetahuan menjadi sangat kritis
jika ternyata berhubungan dengan sebagian besar tujuan strategis.

2.4.3 Penyusunan Rencana Aksi KM


Berdasarkan data yang dikumpulkan, rekomendasi tindakan KM dirumuskan dan diprioritaskan.

2.4.4 Jenis-Jenis Rekomendasi KM


Rekomendasi dapat berbentuk:

1. Akuisisi Pengetahuan
o Proses HR: rekrutmen, jalur karier profesional, jalur pakar
o Proses pembelajaran: pelatihan, mentoring, corporate university
2. Pencarian Pengetahuan
o Pencarian informasi, intelligence, dan scientific watch
3. Penciptaan Pengetahuan
o Proses kreatif, R&D, inovasi, foresight
4. Berbagi Pengetahuan
o Kolaborasi, kelompok kerja, CoP (communities of practice), alat berbagi
5. Kodifikasi Pengetahuan
o Kodifikasi tacit knowledge, lessons learned, dokumen pengetahuan
6. Struktur Repositori Pengetahuan
o Desain basis data, knowledge server, search engine, definisi struktur repository

3. Implementasi Rencana Aksi KM


Tahap ini adalah realisasi dari rekomendasi yang telah dihasilkan pada tahap perencanaan.
Implementasi perlu dilakukan secara bertahap, terukur, dan berkelanjutan.

3.1 Persiapan Implementasi

1. Penetapan Prioritas
o Mengurutkan rekomendasi berdasarkan tingkat kritikalitas domain pengetahuan
& kapasitas strategis.
o Mengidentifikasi “quick wins” (aksi dengan dampak tinggi, biaya rendah,
implementasi cepat).
2. Penyusunan Roadmap
o Membuat peta jalan implementasi jangka pendek, menengah, dan panjang.
o Menentukan milestone & deliverables untuk tiap fase.
3. Penentuan Tim Implementasi
o Pembentukan tim lintas fungsi (KM team) yang melibatkan manajemen, HR, IT,
dan perwakilan unit bisnis.
o Menunjuk knowledge champions di tiap departemen.
4. Pengelolaan Perubahan (Change Management)
o Komunikasi internal untuk menjelaskan manfaat KM.
o Penyediaan pelatihan dan coaching agar seluruh karyawan terlibat.

3.2 Eksekusi Program KM

Implementasi dilakukan sesuai kategori rekomendasi yang sudah ditentukan sebelumnya:

1. Akuisisi Pengetahuan
o Rekrutmen tenaga ahli.
o Pengembangan jalur karier profesional dan jalur pakar.
o Program onboarding berbasis pengetahuan.
2. Pencarian & Akses Pengetahuan
o Penguatan infrastruktur IT (search engine, knowledge portal).
o Pengembangan sistem tagging & metadata untuk memudahkan pencarian.
3. Penciptaan & Inovasi
o Fasilitasi R&D, hackathon, dan brainstorming lintas departemen.
o Mengintegrasikan inovasi dalam KPI organisasi.
4. Berbagi Pengetahuan
o Membentuk komunitas praktik (CoP), forum diskusi, knowledge café.
o Menggunakan platform kolaborasi (wiki, intranet, chat enterprise).
o Menyusun program mentoring & peer learning.
5. Kodifikasi Pengetahuan
o Dokumentasi best practices dan lessons learned.
o Pengembangan template standar untuk laporan proyek.
6. Repositori & Teknologi KM
o Mendesain knowledge repository terstruktur.
o Mengimplementasikan sistem manajemen dokumen & knowledge base.

3.3 Manajemen Risiko

 Risiko Resistensi → tangani dengan komunikasi & pelibatan awal.


 Risiko Teknologi → mitigasi dengan pilot project sebelum deployment skala penuh.
 Risiko Hilangnya Pengetahuan → jadwalkan sesi transfer pengetahuan (knowledge
harvesting) sebelum karyawan kunci pensiun atau pindah.

4. Pemantauan & Evaluasi Siklus KM


Tahap ini memastikan bahwa implementasi menghasilkan nilai tambah bagi organisasi.

4.1 Indikator Kinerja (KPI) KM

1. Kuantitatif
o Jumlah dokumen best practice yang ditulis.
o Jumlah sesi berbagi pengetahuan per bulan.
o Tingkat penggunaan portal KM.
o Jumlah inovasi yang berhasil diimplementasikan.
2. Kualitatif
o Kepuasan pengguna terhadap akses pengetahuan.
o Persepsi karyawan terhadap budaya berbagi.
o Dampak terhadap inovasi, efisiensi, dan pengambilan keputusan.

4.2 Mekanisme Evaluasi

 Review Berkala: triwulanan/semesteran untuk mengevaluasi capaian roadmap.


 Continuous Feedback: mengumpulkan masukan dari pengguna repository, CoP, dan
manajer.
 Benchmarking: membandingkan hasil dengan organisasi sejenis atau standar industri
(misalnya ISO 30401 Knowledge Management Systems).

4.3 Penyempurnaan Berkelanjutan

 Melakukan iterasi siklus Plan-Do-Check-Act (PDCA).


 Memperbarui knowledge map, strategy map, dan influence matrix sesuai perubahan
lingkungan bisnis.
 Menambahkan modul baru ke sistem KM jika diperlukan (misalnya integrasi AI untuk
pencarian pengetahuan).

3. Creating New Knowledge Resources from Tacit


Knowledge
Tahapan ini adalah kelanjutan dari audit pengetahuan (MASK II). Fokusnya adalah mengubah
pengetahuan tacit menjadi pengetahuan eksplisit yang terdokumentasi, agar tidak hilang
ketika para pemegang pengetahuan (critical knowledge holders) keluar dari organisasi.
Transformasi ini disebut kapitalisasi atau kodifikasi, dan sejalan dengan konsep
externalization dari Nonaka (1995), di mana pengetahuan tacit diubah menjadi eksplisit melalui
metafora, analogi, model, atau konsep.

Hasil dari proses ini adalah Knowledge Books, yaitu korpus pengetahuan yang menjadi sumber
utama bagi proses transfer pengetahuan dan pembangunan sistem KM yang berkelanjutan.

3.1 Knowledge Modeling

Knowledge modeling merupakan inti dari MASK I. Pendekatan ini mengadopsi dan
mengembangkan teknik dari Knowledge Engineering dan pendekatan CommonKADS
(Schreiber et al., 1999).

MASK I mengacu pada teori bahwa Knowledge (K) = Information + Sense + Context (K =
I+S+C).
Masing-masing komponen memiliki 3 sudut pandang (structure, function, evolution), sehingga
total ada 9 perspektif pemodelan.

Komponen Structure Function Evolution

Information Data structures Data processing Dating & versioning

Sense Concept networks Cognitive tasks Lineages

Context Phenomena Activities Historical context

Berikut model-model utama dalam MASK I:

3.1.1 Phenomena Model

 Tujuan: Mendokumentasikan fenomena-fenomena mendasar yang terjadi di domain


pengetahuan.
 Isi: Peristiwa yang harus dikontrol, dicegah, dioptimalkan, atau dimoderasi.
 Contoh:
o Model fenomena untuk penyimpanan bahan bakar nuklir di kolam pendingin
(cooling pool).
o Mengidentifikasi potensi insiden seperti kebocoran, kesalahan alignment, atau
kegagalan elemen konstruksi.
 Manfaat:
o Memberikan peta risiko dan parameter yang perlu dipantau.
o Menjadi dasar bagi analisis keselamatan dan pembuatan prosedur mitigasi.
3.1.2 Activity Model

 Tujuan: Menganalisis aktivitas sistem yang menggunakan atau menghasilkan


pengetahuan.
 Isi: Diagram alir yang menunjukkan fase utama (sub-aktivitas), data flow, material flow,
dan energy flow.
 Manfaat:
o Memetakan proses operasional secara jelas.
o Mengidentifikasi titik kritis di mana pengetahuan harus tersedia.

3.1.3 Concept Model

 Tujuan: Merepresentasikan struktur konseptual (semantic network) yang digunakan


pakar dalam domain tersebut.
 Isi:
o Klasifikasi konsep atau objek.
o Hubungan antar konsep (hierarki, asosiasi).
 Contoh:
o Model konsep IRSN tentang fenomena fisika yang memengaruhi dispersi
radionuklida di atmosfer.
 Manfaat:
o Mempermudah pemahaman bagi audiens non-spesialis.
o Menjadi dasar untuk kurikulum pelatihan atau dokumentasi teknis.

3.1.4 Task Model

 Tujuan: Mendeskripsikan metode pemecahan masalah yang digunakan dalam konteks


tertentu.
 Isi: Model kognitif yang menggambarkan langkah-langkah penyelesaian masalah.
 Manfaat:
o Mendokumentasikan cara berpikir pakar.
o Menjadi panduan untuk pelatihan atau pengambilan keputusan.

3.1.5 History Model

 Tujuan: Menggambarkan evolusi pengetahuan dalam konteks tertentu.


 Isi: Diagram yang memuat peristiwa penting, perubahan kebijakan, perkembangan
teknologi, dan dampaknya pada pengetahuan.
 Contoh:
o Evolusi analisis keselamatan kolam bahan bakar bekas, dipengaruhi oleh kejadian
global dan kemajuan teknologi pembangkit.
 Manfaat:
o Membantu memahami mengapa pengetahuan berkembang seperti sekarang.
o Menjadi referensi untuk pembelajaran organisasi.

3.1.6 Evolution Model

 Tujuan: Menjelaskan perkembangan ide, konsep, atau solusi teknis.


 Isi: Representasi pohon genealogis yang menunjukkan hubungan sebab-akibat antar
inovasi atau perubahan.
 Manfaat:
o Mendukung inovasi dengan memahami asal-usul solusi yang ada.
o Memudahkan pengembangan teknologi atau prosedur baru yang lebih efektif.

3.2 Proses Pembuatan Knowledge Book


Proses pembuatan Knowledge Book adalah langkah penting dalam capitalization
(codification), yaitu mengubah tacit knowledge (pengetahuan di kepala para ahli) menjadi
explicit knowledge (pengetahuan terdokumentasi) agar bisa ditransfer, digunakan, dan
dikembangkan oleh organisasi.

Terdapat empat langkah utama:

Step 1: Scoping (Penentuan Lingkup)

Tujuan:

 Menentukan batasan domain pengetahuan yang akan dibangun.


 Mengidentifikasi fase modeling yang relevan untuk mencapai tujuan.
 Memvalidasi kelayakan proyek.
 Membuat rencana kerja.

Hasil:

 Domain pengetahuan terdefinisi jelas.


 Roadmap atau plan proyek siap dijalankan.

Step 2: Realization (Penyusunan Knowledge Book)


Aktivitas Utama:

1. Co-construction
o Bekerja sama dengan para knowledge holders (ahli, praktisi) melalui wawancara,
dokumen, dan referensi.
o Menggunakan knowledge models (phenomena model, activity model, concept
model, task model, history model, evolution model).
2. Membentuk Knowledge Chunks
o Mengelompokkan hasil modeling menjadi potongan pengetahuan yang bermakna.
3. Membangun Konsensus
o Diskusi dengan kontributor untuk memastikan akurasi dan kesepahaman.
4. Desain & Produksi
o Menyusun arsitektur Knowledge Book, layout, dan presentasi agar mudah
dipahami.
5. Legitimasi & Approval
o Isi Knowledge Book divalidasi oleh peer review committee (panel ahli
internal/eksternal).
o Disetujui oleh manajemen agar dapat digunakan secara resmi.

Step 3: Share (Distribusi & Pemanfaatan)

Tujuan:

 Memastikan pengetahuan tersedia dan diterapkan dalam praktik bisnis.


 Menjadi dasar untuk pelatihan, pengambilan keputusan, dan knowledge transfer
lintas generasi.

Step 4: Evolution (Pemeliharaan & Pembaruan)

Mengapa penting:

 Pengetahuan terus berkembang, sehingga Knowledge Book tidak boleh statis.

Aktivitas:

 Mengidentifikasi pengetahuan baru yang muncul.


 Memvalidasi pengetahuan baru sebelum integrasi.
 Memodifikasi Knowledge Book agar tetap relevan.
 Menyetujui dan mendokumentasikan perubahan (mirip version control).

4. Knowledge Transfer (Transfer Pengetahuan)


Setelah pengetahuan berhasil dikapitalisasi ke dalam Knowledge Book (atau dokumen sejenis)
yang sudah konsisten, terstruktur, dan bernilai tinggi, langkah berikutnya adalah memastikan
pengetahuan itu benar-benar ditransfer kepada orang yang membutuhkannya di organisasi.

4.1 The Transfer Process (Proses Transfer)

📌 Karakteristik Transfer Pengetahuan:

 Target: Siapa yang akan menerima pengetahuan (populasi sasaran).


 Source (Sumber): Siapa yang memberikan pengetahuan (knowledge holder).
 Content: Isi pengetahuan yang akan ditransfer.
 Context: Lingkungan transfer (teknis, sosial, budaya, organisasi).
 Activities: Aktivitas transfer (oleh knowledge holder) & aktivitas belajar (oleh target).

📌 Tujuan:

 Memastikan knowledge tidak hanya disimpan tetapi benar-benar digunakan.


 Memberikan model acuan untuk melaksanakan transfer dengan efektif dan efisien.

4.2 The Transfer Devices (Perangkat Transfer Pengetahuan)

Transfer pengetahuan membutuhkan dua elemen kunci:

1. Metode – mentoring, tutoring, pelatihan, community of practice, pembelajaran.


2. Teknologi – CMS, blog, e-learning platform, portal pengetahuan, knowledge server.

Knowledge Book berfungsi sebagai korporasi pengetahuan utama dalam proses ini.

4.2.1 Transfer Process Based on Socialization (Berbasis Sosialisasi)

Ada dua cara sosialisasi Knowledge Book:

1. Expert–Novice Co-Modeling
o Seorang expert bekerja bersama novice dengan fasilitator knowledge engineer.
o Proses ini memungkinkan novice belajar langsung dari expert sambil
berkontribusi membangun pemodelan.
2. Direct Transfer of Knowledge Book
o Knowledge Book disampaikan langsung ke audiens.
o Dilakukan oleh expert atau bahkan knowledge engineer (yang menyusun
Knowledge Book).
o Dapat berupa training session di organisasi.
o Setelah disosialisasikan ke komunitas pengguna, Knowledge Book dianggap fully
socialized.

4.2.2 Transfer Process Based on Knowledge Server/Portal

 Knowledge Server/Portal adalah situs web yang menyediakan akses komunitas terhadap
knowledge corpus.
 Menyediakan link, dokumen, database, software, collaborative spaces, sehingga
transfer pengetahuan terjadi secara berkelanjutan.

4.2.3 Transfer Process Based on Learning System

 Knowledge Book bisa menjadi bahan ajar untuk sistem pembelajaran formal.
 Peran pedagogical engineer penting untuk mengubah isi Knowledge Book menjadi:
o Learning tracks sesuai level peserta.
o Bahan ajar: kuis, tes level, asesmen.
o Tools e-learning: modul interaktif, media pembelajaran digital.

5. Knowledge-Based Innovation (KBI)


KBI adalah keterkaitan antara kreativitas dan sumber daya pengetahuan dalam organisasi. KBI
mengikuti proses yang digambarkan pada Gambar 4.17 dan memiliki dua fase utama:

5.1 Knowledge Drilling (atau Knowledge Archeology) – Mendukung Kreativitas

Definisi:
Knowledge drilling adalah analisis mendalam terhadap sejarah ide-ide dan inovasi masa lalu —
baik yang berhasil maupun yang ditolak — untuk mengidentifikasi peluang inovasi di masa
depan.

Langkah-langkah:

1. Analisis Sejarah Ide:


o Menggali knowledge trajectories dari pilihan, keputusan, penemuan, dan lessons
learned.
o Menelusuri inovasi yang menghasilkan perubahan signifikan pada organisasi.
2. Ekstrapolasi & Identifikasi Peluang:
o Menggunakan hasil analisis untuk memprediksi ide-ide yang berpotensi inovatif.
3. Metode Kreativitas:
o Menggunakan teknik seperti brainstorming, yang terdiri dari:
 Divergent thinking: Menjauh dari masalah, menggunakan imajinasi dan
analogi.
 Convergent thinking: Mengubah ide menjadi solusi logis dan relevan.
o Brainstorming biasanya bukan metode KBI murni, karena tidak selalu didasarkan
pada knowledge drilling.
4. Perlu Proses Tambahan:
o Kreativitas saja tidak cukup untuk mewujudkan ide.
o Perlu proses tambahan berupa Inventiveness untuk merancang pengetahuan
inovatif (misalnya paten).

5.2 Creation of Innovative Knowledge – Mendukung Inventiveness

Definisi:
Inventiveness adalah proses mengubah ide kreatif menjadi pengetahuan yang dapat digunakan
untuk merancang produk, layanan baru, atau perbaikan sistem.

Peran dalam KM:

 Melibatkan R&D (research & development).


 Menghasilkan pengetahuan baru berupa dokumen, studi, atau paten.
 Menjadi fase terakhir dari Virtuous KM Cycle (MASK IV).

5.2.1 Step 1: Analisis Tangible Intellectual Capital (Cognitive Stimulus


Elaboration)

 Dimulai dari knowledge drilling.


 Mencari inventive tracks dari Knowledge Capital eksplisit seperti:
o Paten
o Artikel, laporan, white papers
o Materi pelatihan, presentasi
o Wawancara ahli
 Hasilnya dikaitkan dengan domain pengetahuan spesifik dan disusun dalam:
o Peta pengetahuan (knowledge maps)
o Diagram garis waktu (historical charts)
o Pohon genealogis (genealogical trees) dari ide-ide inovasi.

5.2.2 Step 2: Stimulasi Kreativitas Ahli

 Mengadakan sesi kreatif dengan para ahli.


 Dimulai dengan presentasi mengenai inventive tracks.
 Para ahli melakukan analisis, ekstrapolasi, dan menghasilkan visi prospektif (future
vision) dari domain tersebut.
 Visi ini diringkas dan digunakan untuk langkah berikutnya.

5.2.3 Step 3: Collective Co-Construction Prospective Elements

 Prospektif yang dihasilkan dipresentasikan kepada:


1. Peers → Memberi masukan teknis terhadap materi yang diusulkan.
2. Field Experts → Memberikan perspektif dari sudut pandang pelanggan.
3. Technical Strategy Actors → Menentukan kebijakan teknis organisasi.
4. Strategy Actors (Marketing/Product Policy) → Menentukan arah pasar dan
produk.
 Dilakukan dalam seminar strategis (biasanya 1 hari) untuk:

o Menentukan focal points (tantangan utama masa depan).


o Menetapkan action plan berbasis kondisi saat ini dan tren masa depan.

5.2.4 Step 4: Dissemination

 Menyebarkan synthetic prospective vision kepada:


o Komunitas teknis
o Manajemen dan pemimpin inovasi
 Tujuannya:
o Menghasilkan usulan teknis, komersial, dan strategis.
o Menggerakkan ide prospektif menjadi pengetahuan operasional.
o Memimpin proses inovasi hingga tahap akhir (produk/layanan inovatif).

Anda mungkin juga menyukai