0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan8 halaman

Proses Manajemen Pengetahuan Model Daisy

riingkasan kuliah

Diunggah oleh

cus
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan8 halaman

Proses Manajemen Pengetahuan Model Daisy

riingkasan kuliah

Diunggah oleh

cus
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Title: Proses-Proses Utama Knowledge Management: Model Daisy

1. Introduction

Model Daisy menggambarkan bagaimana manajemen pengetahuan (Knowledge


Management/KM) berfungsi sebagai proses yang saling berhubungan untuk menciptakan,
membagikan, dan memanfaatkan pengetahuan di dalam organisasi. Model ini menekankan
pentingnya aliran pengetahuan yang terus-menerus – mulai dari konversi pengetahuan individu
hingga interaksi dengan lingkungan eksternal – agar organisasi tetap adaptif, inovatif, dan
kompetitif.

2. The Capitalization and Sharing Process

Proses ini menekankan bagaimana pengetahuan yang ada di dalam organisasi dapat ditangkap,
disimpan, dibagikan, dan digunakan kembali.

 Tujuan: Mengubah pengetahuan individu (tacit) menjadi pengetahuan kolektif (explicit)


yang dapat diakses oleh semua anggota organisasi.
 Hasil: Meningkatkan pembelajaran organisasi dan menghindari hilangnya pengetahuan
ketika individu meninggalkan organisasi.

2.1 The Cycle of Knowledge Conversion

Konversi pengetahuan mengikuti Siklus SECI (Socialization, Externalization, Combination,


Internalization) yang menggambarkan bagaimana pengetahuan bergerak dari tacit ↔ explicit.

2.1.1 Water Cycle Metaphor

Siklus konversi pengetahuan dapat diibaratkan seperti siklus air:

 Evaporasi: Pengetahuan tacit muncul ke permukaan (sharing pengalaman).


 Kondensasi: Pengetahuan ditangkap dalam bentuk eksplisit (dokumen, SOP).
 Presipitasi: Pengetahuan kembali digunakan oleh individu, menjadi tacit lagi melalui
pengalaman baru.
 Infiltrasi: Pengetahuan meresap dalam budaya organisasi, menjadi praktik standar.

Metafora ini menunjukkan proses yang dinamis, berulang, dan berkesinambungan.


3. The Process of Interaction with the Environment

Organisasi tidak berdiri sendiri. Interaksi dengan lingkungan eksternal sangat penting untuk tetap
relevan dan inovatif.

3.1 The Knowledge Capital, a Key Support for Interaction with the Environment

Modal pengetahuan (knowledge capital) adalah fondasi utama untuk menghadapi perubahan.
Modal ini mencakup:

 Human capital: Kompetensi, keterampilan, pengalaman karyawan.


 Structural capital: Proses, sistem, dan basis data organisasi.
 Relational capital: Hubungan dengan pelanggan, pemasok, mitra, dan stakeholder
lainnya.

Modal pengetahuan yang kuat memudahkan organisasi untuk menyerap peluang dan mengatasi
ancaman dari lingkungan.

3.2 Description of the Process of Interaction with the Environment

Proses interaksi dengan lingkungan dilakukan secara sistematis untuk mengumpulkan,


menganalisis, dan menciptakan pengetahuan baru yang mendukung pengambilan keputusan.

3.2.1 Projection (Elaboration of the Information Retrieval)

Langkah awal di mana organisasi menentukan kebutuhan informasi dan merancang cara
pengumpulan data dari lingkungan (misalnya market research, benchmarking, competitive
intelligence).

3.2.2 Distortion (Weak Signals Discovery)

Mendeteksi sinyal lemah – indikasi awal perubahan yang mungkin belum jelas atau belum
diakui secara luas. Contoh: tren konsumen yang baru muncul, teknologi disruptif.
3.2.3 Identification (Analysis of Weak Signals)

Sinyal lemah dianalisis untuk melihat apakah ada pola, peluang, atau ancaman yang signifikan.
Analisis ini membantu organisasi mempersiapkan strategi lebih awal.

3.2.4 Relevant Feedback

Memberikan umpan balik kepada pemangku kepentingan internal agar hasil analisis dapat
diintegrasikan ke dalam proses perencanaan, inovasi produk, atau pengambilan keputusan.

3.2.5 Representation

Informasi yang telah diproses disajikan dalam bentuk yang mudah dipahami dan dapat
ditindaklanjuti, seperti laporan, dashboard, atau knowledge map.

3.2.6 Knowledge Creation

Menggunakan wawasan yang diperoleh dari interaksi lingkungan untuk menciptakan


pengetahuan baru yang bisa meningkatkan inovasi, efisiensi, atau keunggulan kompetitif.

3.3 Knowledge Management Issues in Interaction Process

Beberapa tantangan yang sering dihadapi organisasi dalam proses interaksi ini antara lain:

 Overload informasi: Sulit memilah informasi yang relevan dari data yang terlalu
banyak.
 Kurangnya deteksi sinyal lemah: Organisasi sering terlambat menyadari perubahan.
 Kurangnya kolaborasi: Informasi dari lingkungan tidak selalu dibagikan lintas
departemen.
 Ketidakmampuan mengintegrasikan hasil analisis: Pengetahuan baru tidak
dimanfaatkan dalam strategi organisasi.

Mengelola tantangan ini penting agar proses interaksi benar-benar memberikan nilai tambah.

4. The Knowledge Creation Process


Proses penciptaan pengetahuan adalah inti dari manajemen pengetahuan. Ini melibatkan
transformasi pengalaman, ide, dan data menjadi wawasan baru yang memberi nilai tambah bagi
organisasi.

4.1 Knowledge Creation as a Process of Evolution of the Knowledge Capital

Penciptaan pengetahuan merupakan proses evolusi dari modal pengetahuan organisasi. Modal
pengetahuan terus bertumbuh seiring waktu melalui:

 Akumulasi: Pengetahuan lama disimpan dan dimanfaatkan kembali.


 Penyempurnaan: Pengetahuan lama diperbarui sesuai konteks terbaru.
 Transformasi: Pengetahuan lama digabungkan dengan pengetahuan baru sehingga
menghasilkan pemahaman yang lebih kaya.

Proses ini memastikan bahwa modal pengetahuan organisasi tetap hidup, dinamis, dan relevan.

4.2 Knowledge Based Innovation Process

Inovasi berbasis pengetahuan terjadi ketika organisasi menggunakan modal pengetahuannya


untuk menciptakan produk, layanan, atau proses baru yang memiliki nilai lebih tinggi.

4.2.1 The Creativity Process

Proses kreativitas fokus pada generasi ide baru.

 Menggabungkan perspektif yang berbeda.


 Mendorong brainstorming tanpa batasan.
 Menciptakan lingkungan yang mendukung eksplorasi ide.

4.2.2 The Inventiveness Process

Inventivitas adalah langkah implementasi ide menjadi solusi nyata.

 Mengubah ide kreatif menjadi prototipe, desain, atau konsep yang bisa diuji.
 Memvalidasi ide terhadap kebutuhan pasar atau organisasi.
 Menyempurnakan hingga siap diterapkan.
5. The Learning Process

5.1 Introduction

Pembelajaran adalah pendorong utama pertumbuhan pengetahuan. Organisasi belajar dari


pengalaman, kegagalan, dan keberhasilan untuk meningkatkan efektivitas di masa depan.

5.2 Individual Learning

Pembelajaran individu adalah proses di mana setiap karyawan meningkatkan keterampilan,


wawasan, dan kompetensi mereka.

 Mengandalkan refleksi pribadi, pengalaman kerja, pelatihan formal.


 Menjadi fondasi bagi pembelajaran kolektif.

5.3 Collective Learning

Pembelajaran kolektif terjadi ketika organisasi sebagai keseluruhan menginternalisasi


pengalaman dan menggunakannya untuk meningkatkan kinerja.

5.3.1 Single-Loop Learning

Fokus pada memperbaiki kesalahan tanpa mengubah aturan dasar atau asumsi.
Contoh: memperbaiki prosedur kerja yang salah tanpa merombak proses utama.

5.3.2 Double-Loop Learning

Melibatkan pengkajian ulang asumsi dasar dan kebijakan yang mendasari suatu tindakan.
Contoh: mengevaluasi apakah prosedur yang digunakan masih relevan dengan tujuan organisasi.

5.3.3 Reflexive Learning

Pembelajaran reflektif adalah pembelajaran tingkat lanjut yang mempertanyakan cara


organisasi belajar itu sendiri.
 Mengkaji metode pengambilan keputusan.
 Menilai proses berbagi pengetahuan.
 Mengadaptasi cara belajar agar lebih efektif.

5.4 Human Resources Management

5.4.1 Introduction

Manajemen SDM berperan penting dalam memastikan bahwa individu memiliki keterampilan
yang dibutuhkan dan termotivasi untuk berkontribusi pada modal pengetahuan organisasi.

5.4.2 Competence Management

Manajemen kompetensi melibatkan:

 Identifikasi keterampilan kunci yang diperlukan.


 Pemetaan kompetensi individu.
 Mengisi kesenjangan melalui pelatihan, mentoring, atau rekrutmen.

5.5 Training and Recruitment

5.5.1 Training

Pelatihan membantu karyawan mengembangkan keterampilan teknis dan non-teknis.

 On-the-job training → belajar sambil bekerja.


 Formal training → kursus, workshop, sertifikasi.
 Cross-training → mempelajari fungsi di departemen lain.

5.5.2 Recruitment

Rekrutmen berfungsi untuk menarik dan memilih individu dengan kompetensi yang sesuai.

 Fokus pada keterampilan teknis dan kemampuan belajar.


 Proses rekrutmen yang baik memastikan modal pengetahuan organisasi terus
berkembang.

6. The Selection Process

6.1 Introduction

Proses seleksi adalah tahap penting dalam manajemen pengetahuan yang berfokus pada
pemilihan dan penyaringan pengetahuan yang paling relevan, berguna, dan bernilai bagi
organisasi.

 Tidak semua informasi yang tersedia layak untuk disimpan atau digunakan.
 Seleksi memastikan organisasi hanya berinvestasi pada pengetahuan yang mendukung
tujuan strategis dan memberikan nilai tambah.

6.2 Customer Relationship Management

Dalam konteks manajemen pengetahuan, CRM (Customer Relationship Management)


menjadi alat untuk:

 Mengumpulkan dan menyaring informasi pelanggan (preferensi, kebiasaan, umpan


balik).
 Mengidentifikasi peluang bisnis baru berdasarkan data interaksi dengan pelanggan.
 Memilih pengetahuan yang membantu meningkatkan kepuasan pelanggan dan
loyalitas.

Dengan integrasi CRM, proses seleksi pengetahuan menjadi lebih terarah karena fokus pada
kebutuhan pasar dan pelanggan.

6.3 Usage-Centered Selection

Seleksi berbasis penggunaan (usage-centered selection) berarti pengetahuan yang dipilih harus:

 Relevan → sesuai dengan kebutuhan nyata pengguna atau tim.


 Aplikatif → dapat langsung digunakan untuk pengambilan keputusan atau pemecahan
masalah.
 Efisien → tidak membebani sistem penyimpanan dengan informasi yang tidak penting.

Dengan cara ini, organisasi menghindari informasi yang berlebihan dan memastikan bahwa
hanya pengetahuan yang memberikan dampak positif yang dipertahankan.

Anda mungkin juga menyukai