0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan21 halaman

Analisis KPI K3 pada Kontraktor CSMS

Dokumen ini membahas analisis pencapaian Key Performance Indicator (KPI) pada kontraktor di PT. Surya berdasarkan Contractor Safety Management System (CSMS). Penelitian menunjukkan bahwa penerapan CSMS belum optimal, dengan kurangnya disiplin dan pemahaman pekerja kontraktor mengenai K3, yang berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja. Hasil analisis menunjukkan perlunya evaluasi dan peningkatan dalam pelaksanaan program K3 untuk meningkatkan keselamatan kerja di lingkungan kontraktor.

Diunggah oleh

lorixue
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan21 halaman

Analisis KPI K3 pada Kontraktor CSMS

Dokumen ini membahas analisis pencapaian Key Performance Indicator (KPI) pada kontraktor di PT. Surya berdasarkan Contractor Safety Management System (CSMS). Penelitian menunjukkan bahwa penerapan CSMS belum optimal, dengan kurangnya disiplin dan pemahaman pekerja kontraktor mengenai K3, yang berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja. Hasil analisis menunjukkan perlunya evaluasi dan peningkatan dalam pelaksanaan program K3 untuk meningkatkan keselamatan kerja di lingkungan kontraktor.

Diunggah oleh

lorixue
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISA PENCAPAIAN KEY PERFORMANCE

INDICATOR (KPI) PADA KONTRAKTOR


BERDASARKAN CONTRACTOR SAFETY
MANAGEMENT (CSMS) DI PT. SURYA

TUGAS K3

Oleh :

Nama : Wenky Saputra


NIM : 161440042
Program Studi : Teknik Instrumentasi Kilang
Jurusan : Instrumentasi
Diploma : IV
Tingkat : III (Tiga)

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL


BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
POLITEKNIK ENERGI DAN MINERAL

PEM AKAMIGAS
DAFTAR ISI

JUDUL
DAFTAR ISI
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Maksud dan Tujuan
II. DASAR TEORI
2.1 KPI (Key Performance Indicator)
2.1.1 KPI K3 segi komunikasi dan manajemen kepemimpinan
2.1.2 KPI K3 segi efek kerugian akibat Kecelakaan Kerja.
2.1.3 KPI K3 segi penyebab dasar kecelakaan kerja
2.1.4 KPI K3 segi pendanaan untuk Sistem Manajemen K3
III. PEMBAHASAN
3.1 Analisis Pelaksanaan Contractor Safety Management System (CSMS)
3.2.1 Tahap Administrasi..................3.2.1 Tahap Pelaksanaan Pekerjaan
3.2 Analisis Pencapaian HSE Performance Indicator.
3.3 Analisis Hasil Observasi

IV. PENUTUP
5.1 Simpulan
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Perusahaan besar saat ini sudah banyak yang menunjuk perusahaan kontraktor

sebagai pelaksana pekerjaan. Pada dasarnya, tingkat risiko pekerjaan kontraktor

dibedakan menjadi risiko rendah, risiko sedang, dan risiko tinggi. Oleh karena itu,

kontraktor dituntut melaksanakan pekerjaannya secara aman dari segi K3. 1 Namun,

pekerja kontraktor kurang disiplin dalam menerapkan K3. Selain itu, pemahaman

pekerja kontraktor mengenai peraturan K3 juga masih rendah. Oleh karena itu,
disamping adanya implementasi SMK3 oleh perusahaan user, perlu adanya upaya

K3 guna menjamin K3 kontraktor dalam bekerja.2

Upaya K3 dalam menjamin keselamatan kontraktor dilaksanakan melalui

Contractor Safety Manajemen System (CSMS). CSMS sering disebut juga dengan

SMK3 Kontraktor. CSMS merupakan sistem pengelolaan aspek K3 untuk kontraktor

dalam pelaksanaan pekerjaannya. Penerapan CSMS yang tidak baik akan

menimbulkan rendahnya kesadaran akan pentingnya penerapan K3 di lingkungan

kerja. Apabila hal tersebut terus berlanjut, maka dapat menimbulkan terjadinya

kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja (PAK), pencemaran lingkungan dan kerugian

lain seperti kerusakan alat, menurunnya proses produksi, dan citra perusahaan.

Tingkat penerapan CSMS dapat dilihat melalui persentase pencapaian Health Safety

Environment (HSE) Performance Indicator. HSE Performance Indicator dapat

berfungsi untuk memonitor kinerja keselamatan dengan melihat indikator lagging

dan leading.3 Lagging indicator merupakan indikator yang digunakan untuk

mengukur keberhasilan penerapan aspek HSE selama proses pelaksanaan pekerjaan.

Sedangkan leading indicator adalah indikator yang digunakan untuk menunjukkan

pencapaian program- program HSE selama proses pelaksanaan kegiatan.4

PT. Indo merupakan salah satu perusahaan yang mendistribusikan gas.

Perusahaan ini mendistribusikan gas untuk daerah jawa barat dan Banten. PT. Indo

menunjuk beberapa kontraktor untuk membantu melakukan pekerjaannya.

Pekerjaan yang dilakukan tersebut memiliki potensi bahaya tinggi, sedang, dan

rendah yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja tersebut

dapat mengganggu proses kerja dan menurunkan produktivitas kerja. Menurut


survey awal yang dilakukan, PT. Indo memiliki panduan CSMS yang harus

dipatuhi dan dilaksanakan oleh para kontraktor. Tingkat penerapan CSMS dapat

diketahui dengan melihat pencapaian HSE Performance Indicator. Penilaian

tersebut berfungsi untuk melihat performa K3 kontraktor selama melaksanakan

pekerjaan. Namun sayangnya, meskipun telah ada panduan CSMS, belum

dilakukan penilaian pencapaian HSE Performance Indicator.

BAB II. DASAR TEORI


2.1 KPI (Key Performance Indicator)

Key Performance Indicators atau biasa disebut KPI memiliki peran penting

bagi kemajuan sebuah perusahaan atau organisasi. Sebab, perusahaan akhirnya

dintuntut memiliki visi dan misi yang jelas serta langkah praktis untuk

merealisasikan tujuannya. Dan tidak sekedar itu saja, dengan KPI perusahaan bisa

mengukur pencapaian performa kinerjanya. Apakah sudah sesuai ataukah belum

sama sekali.

Pada umumnya KPI digunakan untuk mengukur parameter kualitatif yang

cenderung sulit pengukurannya. Misalnya kualitas kepemimpinan dan kepuasan

pelanggan. Kali ini ISO Center akan membahas tentang penggunaan KPI dalam

Sistem Manajemen K3. KPI untuk Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan

Kerja (K3) merupakan alat penting yang digunakan oleh perusahaan untuk

mengukur efektivitas program mereka dalam mengurangi peluang dan risiko K3. KPI

K3 juga menyediakan informasi bagi organisasi untuk:

 Mengevaluasi sistem manajemen K3

 Mengidentifikasi peluang perbaikan

 Mengadaptasi tujuan, sasaran dan strategi

 Meningkatkan kesadaran di kalangan pembuat keputusan dan semua orang

dalam suatu perusahaan tentang manfaat program K3

 Mengambil tindakan pencegahan pada waktu yang tepat

 Mengkomunikasikan gagasan, pemikiran dan nilai-nilai.


KPI K3 harus spesifik, mudah untuk dicapai, konsisten dari waktu ke

waktu, akurat dan transparan sehingga bisa digunakan sebagai alat dalam

meningkatkan kinerja K3 bagi perusahaan. Tiap perusahaan mungkin bisa memiliki

KPI K3 yang berbeda jika dibandingkan dengan perusahaan yang lain, hal ini

dikarenakan tidak ada indikator kinerja mutlak yang benar-benar 100% sesuai

digunakan untuk semua perusahaan. Namun, kali ini ISO Center akan menyampaikan

sejumlah KPI K3 berdasarkan Sistem Manajemen K3 OHSAS 18001:2007.

2.1.1 KPI K3 pada segi komunikasi dan manajemen kepemimpinan:

 Persentase jumlah kunjungan manajemen tempat kerja yang direncanakan

pada jangka waktu tertentu.

 Tingkat komitmen manajemen, diukur melalui survei di tempat kerja.

 Persentase ulasan resmi (formal review) yang direncanakan terhadap program

sistem manajemen K3 pada jangka waktu tertentu

 Persentase jumlah kegiatan pelatihan yang sudah dilakukan VS pelatihan

yang direncanakan.

 Persentase jumlah kegiatan investigasi kecelakaan / insiden / ketidaksesuaian

yang sudah dilakukan VS investigasi kecelakaan / insiden / ketidaksesuaian

yang diperlukan.

2.1.2 KPI K3 pada segi pengukuran efek kerugian akibat Kecelakaan Kerja:

 Jumlah kecelakaan kerja.

 Jumlah hari hilang karena


 Jumlah hari hilang akibat kecelakaan.

 Persentase pekerja dengan penyakit akibat kerja.

2.1.3 KPI K3 pada segi penyebab dasar kecelakaan kerja:

 Persentase kecelakaan yang disebabkan oleh terjebak

 Persentase kecelakaan yang disebabkan oleh hantaman material

 Persentase kecelakaan yang disebabkan oleh luka.

 Persentase kecelakaan yang disebabkan oleh jatuh.

2.1.4 KPI K3 pada segi pendanaan untuk Sistem Manajemen K3:

 Presentase Tingkat pendanaan yang tersedia untuk program K3 dibandingkan

dengan total dana operasional perusahaan.

 Persentase pemesanan pembelian yang sesuai dengan persyaratan khusus

Sistem Manajemen K3.

 Anggaran K3 yang disetujui VS dengan anggaran yang sebenarnya di

Penentuan KPI K3 tentunya harus didasarkan pada pemikiran bahwa setiap

perusahaan berbeda dan masing-masing harus mengambil waktu yang diperlukan

untuk menentukan KPI K3 yang akan berfungsi sebagai alat dalam meningkatkan

sistem manajemen K3 perusahaan; sehingga diharapkan KPI K3 tersebut mampu

membantu manajemen membuat keputusan untuk mempertahankan, meningkatkan

dan mengembangkan proses implementasi sistem manajemen K3 dan menjaga

pekerja dan semua orang yang terlibat dalam kegiatan operasional perusahaan secara

aman.
BAB III. PEMBAHASAN

3.1 Analisis Pelaksanaan Contractor Safety Management System (CSMS)

Contractor Safety Management System (CSMS) merupakan sistem

pengelolaan aspek K3 untuk kontraktor dalam pelaksanaan pekerjaannya.

Penanggungjawab CSMS PT. Surya adalah bagian Pengadaan Barang dan Jasa dan

juga pengawas K3. Bagian Pengadaan Barang dan Jasa bertanggung jawab pada

tahap prakualifikasi, seleksi, dan pra pelaksanaan pekerjaan, sedangkan pengawas

K3 bertanggung jawab pada tahap penilaian risiko dan pelaksanaan pekerjaan.

Dengan demikian, maka dapat diketahui bahwa pengawas K3 tidak dilibatkan dalam

seluruh tahapan CSMS. PT. Surya tidak memiliki satu bagian khusus yang

bertanggungjawab terhadap implementasi CSMS dari tahap awal hingga akhir.

Pelaksanaan CSMS tersebut belum sepenuhnya terintegrasi dengan sistem

manajemen perusahaan.

Berikut adalah tahapan dalam pelaksanaan pekerjaan di PT. Surya:

3.1.1 Tahap Administrasi

a. Penilaian Risiko

Penilaian risiko bertujuan untuk mengkaji seberapa besar dampak negatif

pekerjaan terhadap aspek K3. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan

utama dan informan triangulasi, maka dapat disimpulkan bahwa pekerjaan yang

akan dilakukan oleh kontraktor telah dilakukan penilaian risiko. Namun kontraktor

tidak diberi duplikat hasil penilaian risiko tersebut. Hal tersebut akan dapat

menimbulkan kesulitan bagi kontraktor untuk melakukan pengendalian risiko.6


b. Prakualifikasi

Proses prakualifikasi dilakukan untuk menyeleksi kontraktor yang sudah

memiliki kesadaran, kemampuan, dan kepedulian aspek K3. Indikator yang

digunakan untuk membuat checklist, antara lain:7

1) Pemahaman terhadap peraturan perundangan dan kebijakan dan prosedur K3.

2) Komitmen K3.

3) Kinerja dan pengalaman kontraktor terkait aspek K3.

4) Organisasi K3.

5) Manual K3.

6) Kuantitas dan kualitas peralatan serta prosedur untuk pencegahan dan

penanganan dampak negatif aspek K3.

7) Kemampuan sistem pembinaan serta pelatihan SDM terkait aspek K3.

8) Catatan/record terkait K3.

Pemenuhan indikator tersebut nantinya dilakukan penilaian skor. Total skor

(TS) yang harus dicapai kontraktor, yaitu:7

1) Risiko tinggi : TS>55

2) Risiko menengah : 40<TS<55

3) Risiko rendah : 25<TS<40

4) Tidak lulus : TS<25

Berdasarkan hasil wawancara, persyaratan yang harus dipenuhi kontraktor


hanya meliputi:
1) Pemahaman kebijakan K3

2) Komitmen K3

3) Kinerja dan pengalaman kontraktor terkait aspek K3

4) Kuantitas dan kualitas peralatan serta prosedur untuk pencegahan dan

penanganan dampak negatif aspek K3

5) Catatan/record terkait aspek K3

Pada tahap prakualifikasi kontraktor tidak diwajibkan memiliki organisasi

K3, manual K3, dan pembinaan aspek K3 selama pelaksanaan pekerjaan. Hal

tersebut dapat mengakibatkan kurang tertibnya pengawasan K3 saat pelaksanaan

pekerjaan, kontraktor kurang disiplin dalam menerapkan K3. Pembinaan mengenai

aspek K3 juga sangat penting agar kontraktor menyadari pentingnya penerapan

aspek K3 tidak hanya pada awal kontrak, tetapi selama pelaksanaan pekerjaan.6

Hal tersebut terjadi karena pengawas K3 tidak dilibatkan dalam penyusunan RKS.

Menurut hasil wawancara, manual K3 dan organisasi K3 hanya dimiliki oleh PT.

Surya . Kontraktor PT. Indo hanya memiliki SOP pekerjaan yang akan dilakukan.

Pekerja kontraktor hanya diberi pengarahan cara pelaksanaan pekerjaan pada awal

kontrak. Selama pekerjaan berlangsung tidak dilakukan pelatihan-pelatihan terkait

aspek K3. Kontraktor hanya melakukan diskusi kecil atau simulasi kecil apabila

terdapat permasalahan atau temuan dalam pelaksanaan pekerjaan.

Dalam melakukan penyeleksian kontraktor, PT. Surya tidak melakukan

penilaian skor terkait persyaratan yang harus dipenuhi oleh kontraktor. Dengan

demikian akan dapat meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja.7


Selain harus memenuhi RKS, kontraktor juga diminta untuk mematuhi dan

melaksanakan isi pakta K3. Isi dari pakta K3 antara lain:

1) Menaati dan melaksanakan UU No 1 tahun 1970, UU No. 13 tahun 2003, UU No.

30 tahun 2009.

2) Melakukan pekerjaan setelah mendapat Surat Perintah Kerja (SPK).

3) Melakukan koordinasi dengan pengawas K3 sebelum dan sesudah

pelaksanaan pekerjaan.

4) Menerima sanksi atas kelalaian dan kesalahan yang disengaja atau tidak disengaja

selama pekerjaan berlangsung.

Namun, kontraktor tidak dipastikan memahami, menaati, dan melaksanakan isi

pakta K3 sebelum penandatanganan kontrak.

c. Seleksi

Pada tahap seleksi, kontraktor diharuskan memenuhi persyaratan mengenai

aspek K3 yang nantinya diatur dalam RKS serta menjadi bagian evaluasi sebagai

pemenang lelang.2 Pelaksanaan tahap seleksi kontraktor melalui pengevaluasian

dokumen yang telah disyaratkan sesuai dengan RKS yang disepakati pada saat

diskusi penjelasan RKS.2 Proses seleksi ini selalu dilakukan berulang setelah masa

kontrak para kontraktor habis.

2. Tahap Pelaksanaan Pekerjaan

Tahap pelaksanaan pekerjaan meliputi tahap pra pelaksanaan pekerjaan,

tahap pelaksanaan pekerjaan, dan tahap evaluasi akhir. 7 Namun, penelitian ini

hanya dibatasi sampai tahap pelaksanaan pekerjaan karena penelitian ini terbatas

hanya satu bulan sedangkan masa kerja kontraktor belum berakhir sehingga tidak
dapat mengevaluasi tahap evaluasi pekerjaan.

a. Pra Pelaksanaan Pekerjaan

Setelah adanya kontrak, pihak kontraktor diminta untuk membuat HSE Plan

yang dibuat melalui Kick of Meeting. Hal tersebut bertujuan untuk melihat gap

antara HSE Plan kontraktor dan HSE Plan PT. Surya.7

Berdasarkan hasil wawancara, sebelum pelaksanaan pekerjaan dilakukan

pembahasan RKS yang nantinya akan digunakan sebagai pedoman dalam

pelaksanaan pekerjaan kontraktor. Diskusi tersebut bertujuan agar kontraktor

memenuhi aspek K3 PT. Surya. Namun, di dalam RKS tersebut tidak tercantum

program K3. Hal tersebut akan dapat menyebabkan kurangnya peran serta kontraktor

terkait SMK3.6

Pada tahap pra pelaksanaan pekerjaan kontraktor perlu dibekali JSA

pekerjaan, prosedur tanggap darurat, dan nomor darurat. Hal bertujuan untuk

membantu kontraktor untuk dapat bekerja secara aman.

b. Pelaksanaan Pekerjaan

Program K3 yang harus dilaksanakan oleh kontraktor antara lain rapat

koordinasi, inspeksi APD, inspeksi kesesuaian pelaksanaan pekerjaan dengan SOP,

briefing kerja atau COC, dan laporan program K3.

3.2 Analisis Pencapaian HSE Performance Indicator

Pencapaian HSE Performance Indicator dipengaruhi oleh indikator

lagging dan indikator leading. Indikator lagging merupakan indikator yang

menunjukkan pencapaian aspek K3 kontraktor dilihat melalui kasus kecelakaan


kerja yang dialami kontraktor. Pada indikator lagging tidak dilakukan penilaian

skor karena dari pihak PT. Surya tidak memperbolehkan terjadinya kecelakaan

(target pencapaiannya nol).

Indikator leading merupakan pencapaian program-program K3 yang

dijalankan oleh kontraktor. Untuk pekerjaan berisiko rendah tidak melaksanakan

program inspeksi APD karena dalam pelaksanaan pekerjaannya tidak ada

kewajiban untuk menggunakan APD tertentu.

Tabel 1. Penilaian Pencapaian KPI HSE PT. INDO

BOBOT BOBOT
NO ITEM SATUAN TARGET ACTUAL INDIKATOR
% %
LAGGING INDICATOR
1 NOA/Kecelakaan Fatal Kali Nihil 10 Nihil 10 Laporan Kecelakaan
2 TRIR/Kecelakaan sedang (>P3K) % Jumlah orang Nihil 10 Nihil 10 Laporan Kecelakaan
3 First Aid % Jumlah orang Nihil 10 Nihil 10 Laporan Kecelakaan

LEADING INDICATOR
4 Safety Talk/Tool Box Meeting Kali 12 10 5 4,1667 Laporan Safety Talk
5 HSE Meeting Kali 12 10 6 5 Laporan HSE Meeting
6 HSE Inspection Kali 12 5 6 2,5 Laporan Inspection HSE
7 APD Inspection kali 12 15 6 7,5 Laporan Inspection APD
8 inspeksi SOP kali 12 20 5 8,3333 Laporan SOP Inspection

TOTAL 100 27,5

Berdasarkan tabel tesebut, maka dapat diketahui bahwa percapaian HSE

Performance Indicator kontraktor sebesar 27,5%, .Pencapaian ini masih belum

maksimal (100%) disebabkan karena terdapat program yang belum dilaksanakan

secara maksimal dan juga terdapat program yang belum terlaksana sama sekali.

Berdasarkan table tersebut, perbedaan pencapaian HSE Performance

Indicator pada kontraktor PT. Indo disebabkan karena perbedaan frekuensi


pelaksanaan program. Faktor lain yang dapat mempengaruhi pencapaian HSE

Performance Indicator antara lain:

1. Peran pengawas K3 dalam implementasi tahapan CSMS

2. Kepemilikan manual K3 yang didalamnya mencakup hal-hal berikut ini:

a. Peraturan perundang-undangan di bidang K3 dan standar K3

b. Identifikasi, penilaian dan pengendalian risiko kecelakaan dan penyakit

akibat kerja

c. JSA Pekerjaan

d. Pemantauan kinerja K3 kontraktor

e. Pengkajian kecelakaan kerja dan tindak lanjut

f. Prosedur tanggap darurat dan nomor darurat

g. HSE Plan yang memuat salah program-program K3

3. Kepemilikan organisasi K3

4. Penilaian skor pada tahap prakualifikasi

5. Pembinaan aspek K3 selama pelaksanaan pekerjaan

6. Pemahaman isi pakta K3 sebelum melakukan penandatanganan pakta K3

3.3 Analisis Hasil Observasi

Peneliti melakukan observasi terhadap dokumen-dokumen antara lain : form

penilaian risiko pekerjaan, ceklis dokumen yang dibutuhkan tahap prakualifikasi,

bukti komitmen K3, kebijakan K3, struktur organisasi K3, SOP pekerjaan, JSA

pekerjaan, prosedur tanggap darurat, daftar APD wajib, prosedur pengelolaan

limbah, cek kesehatan obat terlarang dan alkohol, laporan temuan K3, pelaporan
kejadian, prosedur audit K3 internal, HSE Plan, dan RKS. Berdasarkan hasil

observasi dapat diketahui bahwa kontraktor tidak memiliki kebijakan K3,

organisasi K3, JSA, prosedur tanggap darurat, prosedur pengelolaan limbah, tidak

melakukan pengecekan obat terlarang dan alkohol, laporan temuan K3, laporan

kejadian, prosedur audit internal, dan HSE Plan. Hal tersebut disebabkan dalam

membuat RKS tidak melibatkan pengawas K3. Oleh karena itu, persyaratan terkait

aspek K3 di dalam RKS masih belum diperhatikan.


BAB IV. PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

1. Pelaksanaan CSMS di PT. Surya terdiri dari tahap administrasi dan tahap
pelaksanaan pekerjaan.
2. Pencapaian HSE Performance Indicator kontraktor yaitu 27,5%.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian HSE Performance Indicator
antara lain:

a. PT. Surya tidak memiliki suatu bagian khusus yang bertanggung jawab
mengenai implementasi CSMS dari tahap awal hingga tahap akhir.
b. Target frekuensi pelaksanaan program K3 masing-masing 12 kali,
sementara itu tidak ada kontraktor yang melaksanakan program K3 sesuai
rencana.
c. Kontraktor PT. Indo tidak memiliki manual K3 meskipun PT. Surya
memiliki manual K3.
d. PT. Surya memiliki organisasi P2K3 namun Kontraktor PT. Indo tidak
memiliki organisasi P2K3.
e. PT. Surya belum melakukan penilaian skor pada tahap prakualifikasi.
f. Pembinaan mengenai aspek K3 hanya merupakan paparan awal dan tidak
dilakukan secara rutin serta tidak dilakukan tindak lanjut.
4. Sebelum penandatanganan pakta K3 kontraktor PT. Indo tidak dipastikan
telah memahami isi pakta K3.
DAFTAR PUSTAKA

1. Purnama, Rosdja, Studi Evaluasi Tingkat Pemenuhan Sistem Manajemen

Keselamatan Kesehatan Kerja (SMK3) Kontraktor Di China National Offshore

Oil Corp.(CNOOC) Tahun 2000-2002, Depok, 2003.

2. Ramli, Suhatman, Contractor Safety Management System, Jakarta, 2008.

3. Health and Safety Executive, Developing Process Safety Indicator- A Step by

Step Guide HSG254. UK, HSE Book, On line :

[Link]/leadership/keyindicat [Link] [Dikutip pada Tanggal 28 Februari

2015]

4. Purnama, Rosdja, Studi Evaluasi Tingkat Pemenuhan Sistem Manajemen

Keselamatan Kesehatan Kerja (SMK3) Kontraktor Di China National Offshore

Oil Corp.(CNOOC) Tahun 2000-2002, Depok, 2003.

5. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan

R&D, Bandung, Alfabeta, 2010.

6. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012, Penerapan Sistem Manajemen

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), Jakarta, Presiden republik Indonesia,

2012.

7. Falenshina, Nizhenifa, Implementasi Contractor Safety Management System

(CSMS) Terhadap Kontraktor Project TA Unit CD III PT. Pertamina RU III

Palembang, Depok, FKM UI, 2012.

Anda mungkin juga menyukai