ANALISA PENCAPAIAN KEY PERFORMANCE
INDICATOR (KPI) PADA KONTRAKTOR
BERDASARKAN CONTRACTOR SAFETY
MANAGEMENT (CSMS) DI PT. SURYA
TUGAS K3
Oleh :
Nama : Wenky Saputra
NIM : 161440042
Program Studi : Teknik Instrumentasi Kilang
Jurusan : Instrumentasi
Diploma : IV
Tingkat : III (Tiga)
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
POLITEKNIK ENERGI DAN MINERAL
PEM AKAMIGAS
DAFTAR ISI
JUDUL
DAFTAR ISI
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Maksud dan Tujuan
II. DASAR TEORI
2.1 KPI (Key Performance Indicator)
2.1.1 KPI K3 segi komunikasi dan manajemen kepemimpinan
2.1.2 KPI K3 segi efek kerugian akibat Kecelakaan Kerja.
2.1.3 KPI K3 segi penyebab dasar kecelakaan kerja
2.1.4 KPI K3 segi pendanaan untuk Sistem Manajemen K3
III. PEMBAHASAN
3.1 Analisis Pelaksanaan Contractor Safety Management System (CSMS)
3.2.1 Tahap Administrasi..................3.2.1 Tahap Pelaksanaan Pekerjaan
3.2 Analisis Pencapaian HSE Performance Indicator.
3.3 Analisis Hasil Observasi
IV. PENUTUP
5.1 Simpulan
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Perusahaan besar saat ini sudah banyak yang menunjuk perusahaan kontraktor
sebagai pelaksana pekerjaan. Pada dasarnya, tingkat risiko pekerjaan kontraktor
dibedakan menjadi risiko rendah, risiko sedang, dan risiko tinggi. Oleh karena itu,
kontraktor dituntut melaksanakan pekerjaannya secara aman dari segi K3. 1 Namun,
pekerja kontraktor kurang disiplin dalam menerapkan K3. Selain itu, pemahaman
pekerja kontraktor mengenai peraturan K3 juga masih rendah. Oleh karena itu,
disamping adanya implementasi SMK3 oleh perusahaan user, perlu adanya upaya
K3 guna menjamin K3 kontraktor dalam bekerja.2
Upaya K3 dalam menjamin keselamatan kontraktor dilaksanakan melalui
Contractor Safety Manajemen System (CSMS). CSMS sering disebut juga dengan
SMK3 Kontraktor. CSMS merupakan sistem pengelolaan aspek K3 untuk kontraktor
dalam pelaksanaan pekerjaannya. Penerapan CSMS yang tidak baik akan
menimbulkan rendahnya kesadaran akan pentingnya penerapan K3 di lingkungan
kerja. Apabila hal tersebut terus berlanjut, maka dapat menimbulkan terjadinya
kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja (PAK), pencemaran lingkungan dan kerugian
lain seperti kerusakan alat, menurunnya proses produksi, dan citra perusahaan.
Tingkat penerapan CSMS dapat dilihat melalui persentase pencapaian Health Safety
Environment (HSE) Performance Indicator. HSE Performance Indicator dapat
berfungsi untuk memonitor kinerja keselamatan dengan melihat indikator lagging
dan leading.3 Lagging indicator merupakan indikator yang digunakan untuk
mengukur keberhasilan penerapan aspek HSE selama proses pelaksanaan pekerjaan.
Sedangkan leading indicator adalah indikator yang digunakan untuk menunjukkan
pencapaian program- program HSE selama proses pelaksanaan kegiatan.4
PT. Indo merupakan salah satu perusahaan yang mendistribusikan gas.
Perusahaan ini mendistribusikan gas untuk daerah jawa barat dan Banten. PT. Indo
menunjuk beberapa kontraktor untuk membantu melakukan pekerjaannya.
Pekerjaan yang dilakukan tersebut memiliki potensi bahaya tinggi, sedang, dan
rendah yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja tersebut
dapat mengganggu proses kerja dan menurunkan produktivitas kerja. Menurut
survey awal yang dilakukan, PT. Indo memiliki panduan CSMS yang harus
dipatuhi dan dilaksanakan oleh para kontraktor. Tingkat penerapan CSMS dapat
diketahui dengan melihat pencapaian HSE Performance Indicator. Penilaian
tersebut berfungsi untuk melihat performa K3 kontraktor selama melaksanakan
pekerjaan. Namun sayangnya, meskipun telah ada panduan CSMS, belum
dilakukan penilaian pencapaian HSE Performance Indicator.
BAB II. DASAR TEORI
2.1 KPI (Key Performance Indicator)
Key Performance Indicators atau biasa disebut KPI memiliki peran penting
bagi kemajuan sebuah perusahaan atau organisasi. Sebab, perusahaan akhirnya
dintuntut memiliki visi dan misi yang jelas serta langkah praktis untuk
merealisasikan tujuannya. Dan tidak sekedar itu saja, dengan KPI perusahaan bisa
mengukur pencapaian performa kinerjanya. Apakah sudah sesuai ataukah belum
sama sekali.
Pada umumnya KPI digunakan untuk mengukur parameter kualitatif yang
cenderung sulit pengukurannya. Misalnya kualitas kepemimpinan dan kepuasan
pelanggan. Kali ini ISO Center akan membahas tentang penggunaan KPI dalam
Sistem Manajemen K3. KPI untuk Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) merupakan alat penting yang digunakan oleh perusahaan untuk
mengukur efektivitas program mereka dalam mengurangi peluang dan risiko K3. KPI
K3 juga menyediakan informasi bagi organisasi untuk:
Mengevaluasi sistem manajemen K3
Mengidentifikasi peluang perbaikan
Mengadaptasi tujuan, sasaran dan strategi
Meningkatkan kesadaran di kalangan pembuat keputusan dan semua orang
dalam suatu perusahaan tentang manfaat program K3
Mengambil tindakan pencegahan pada waktu yang tepat
Mengkomunikasikan gagasan, pemikiran dan nilai-nilai.
KPI K3 harus spesifik, mudah untuk dicapai, konsisten dari waktu ke
waktu, akurat dan transparan sehingga bisa digunakan sebagai alat dalam
meningkatkan kinerja K3 bagi perusahaan. Tiap perusahaan mungkin bisa memiliki
KPI K3 yang berbeda jika dibandingkan dengan perusahaan yang lain, hal ini
dikarenakan tidak ada indikator kinerja mutlak yang benar-benar 100% sesuai
digunakan untuk semua perusahaan. Namun, kali ini ISO Center akan menyampaikan
sejumlah KPI K3 berdasarkan Sistem Manajemen K3 OHSAS 18001:2007.
2.1.1 KPI K3 pada segi komunikasi dan manajemen kepemimpinan:
Persentase jumlah kunjungan manajemen tempat kerja yang direncanakan
pada jangka waktu tertentu.
Tingkat komitmen manajemen, diukur melalui survei di tempat kerja.
Persentase ulasan resmi (formal review) yang direncanakan terhadap program
sistem manajemen K3 pada jangka waktu tertentu
Persentase jumlah kegiatan pelatihan yang sudah dilakukan VS pelatihan
yang direncanakan.
Persentase jumlah kegiatan investigasi kecelakaan / insiden / ketidaksesuaian
yang sudah dilakukan VS investigasi kecelakaan / insiden / ketidaksesuaian
yang diperlukan.
2.1.2 KPI K3 pada segi pengukuran efek kerugian akibat Kecelakaan Kerja:
Jumlah kecelakaan kerja.
Jumlah hari hilang karena
Jumlah hari hilang akibat kecelakaan.
Persentase pekerja dengan penyakit akibat kerja.
2.1.3 KPI K3 pada segi penyebab dasar kecelakaan kerja:
Persentase kecelakaan yang disebabkan oleh terjebak
Persentase kecelakaan yang disebabkan oleh hantaman material
Persentase kecelakaan yang disebabkan oleh luka.
Persentase kecelakaan yang disebabkan oleh jatuh.
2.1.4 KPI K3 pada segi pendanaan untuk Sistem Manajemen K3:
Presentase Tingkat pendanaan yang tersedia untuk program K3 dibandingkan
dengan total dana operasional perusahaan.
Persentase pemesanan pembelian yang sesuai dengan persyaratan khusus
Sistem Manajemen K3.
Anggaran K3 yang disetujui VS dengan anggaran yang sebenarnya di
Penentuan KPI K3 tentunya harus didasarkan pada pemikiran bahwa setiap
perusahaan berbeda dan masing-masing harus mengambil waktu yang diperlukan
untuk menentukan KPI K3 yang akan berfungsi sebagai alat dalam meningkatkan
sistem manajemen K3 perusahaan; sehingga diharapkan KPI K3 tersebut mampu
membantu manajemen membuat keputusan untuk mempertahankan, meningkatkan
dan mengembangkan proses implementasi sistem manajemen K3 dan menjaga
pekerja dan semua orang yang terlibat dalam kegiatan operasional perusahaan secara
aman.
BAB III. PEMBAHASAN
3.1 Analisis Pelaksanaan Contractor Safety Management System (CSMS)
Contractor Safety Management System (CSMS) merupakan sistem
pengelolaan aspek K3 untuk kontraktor dalam pelaksanaan pekerjaannya.
Penanggungjawab CSMS PT. Surya adalah bagian Pengadaan Barang dan Jasa dan
juga pengawas K3. Bagian Pengadaan Barang dan Jasa bertanggung jawab pada
tahap prakualifikasi, seleksi, dan pra pelaksanaan pekerjaan, sedangkan pengawas
K3 bertanggung jawab pada tahap penilaian risiko dan pelaksanaan pekerjaan.
Dengan demikian, maka dapat diketahui bahwa pengawas K3 tidak dilibatkan dalam
seluruh tahapan CSMS. PT. Surya tidak memiliki satu bagian khusus yang
bertanggungjawab terhadap implementasi CSMS dari tahap awal hingga akhir.
Pelaksanaan CSMS tersebut belum sepenuhnya terintegrasi dengan sistem
manajemen perusahaan.
Berikut adalah tahapan dalam pelaksanaan pekerjaan di PT. Surya:
3.1.1 Tahap Administrasi
a. Penilaian Risiko
Penilaian risiko bertujuan untuk mengkaji seberapa besar dampak negatif
pekerjaan terhadap aspek K3. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan
utama dan informan triangulasi, maka dapat disimpulkan bahwa pekerjaan yang
akan dilakukan oleh kontraktor telah dilakukan penilaian risiko. Namun kontraktor
tidak diberi duplikat hasil penilaian risiko tersebut. Hal tersebut akan dapat
menimbulkan kesulitan bagi kontraktor untuk melakukan pengendalian risiko.6
b. Prakualifikasi
Proses prakualifikasi dilakukan untuk menyeleksi kontraktor yang sudah
memiliki kesadaran, kemampuan, dan kepedulian aspek K3. Indikator yang
digunakan untuk membuat checklist, antara lain:7
1) Pemahaman terhadap peraturan perundangan dan kebijakan dan prosedur K3.
2) Komitmen K3.
3) Kinerja dan pengalaman kontraktor terkait aspek K3.
4) Organisasi K3.
5) Manual K3.
6) Kuantitas dan kualitas peralatan serta prosedur untuk pencegahan dan
penanganan dampak negatif aspek K3.
7) Kemampuan sistem pembinaan serta pelatihan SDM terkait aspek K3.
8) Catatan/record terkait K3.
Pemenuhan indikator tersebut nantinya dilakukan penilaian skor. Total skor
(TS) yang harus dicapai kontraktor, yaitu:7
1) Risiko tinggi : TS>55
2) Risiko menengah : 40<TS<55
3) Risiko rendah : 25<TS<40
4) Tidak lulus : TS<25
Berdasarkan hasil wawancara, persyaratan yang harus dipenuhi kontraktor
hanya meliputi:
1) Pemahaman kebijakan K3
2) Komitmen K3
3) Kinerja dan pengalaman kontraktor terkait aspek K3
4) Kuantitas dan kualitas peralatan serta prosedur untuk pencegahan dan
penanganan dampak negatif aspek K3
5) Catatan/record terkait aspek K3
Pada tahap prakualifikasi kontraktor tidak diwajibkan memiliki organisasi
K3, manual K3, dan pembinaan aspek K3 selama pelaksanaan pekerjaan. Hal
tersebut dapat mengakibatkan kurang tertibnya pengawasan K3 saat pelaksanaan
pekerjaan, kontraktor kurang disiplin dalam menerapkan K3. Pembinaan mengenai
aspek K3 juga sangat penting agar kontraktor menyadari pentingnya penerapan
aspek K3 tidak hanya pada awal kontrak, tetapi selama pelaksanaan pekerjaan.6
Hal tersebut terjadi karena pengawas K3 tidak dilibatkan dalam penyusunan RKS.
Menurut hasil wawancara, manual K3 dan organisasi K3 hanya dimiliki oleh PT.
Surya . Kontraktor PT. Indo hanya memiliki SOP pekerjaan yang akan dilakukan.
Pekerja kontraktor hanya diberi pengarahan cara pelaksanaan pekerjaan pada awal
kontrak. Selama pekerjaan berlangsung tidak dilakukan pelatihan-pelatihan terkait
aspek K3. Kontraktor hanya melakukan diskusi kecil atau simulasi kecil apabila
terdapat permasalahan atau temuan dalam pelaksanaan pekerjaan.
Dalam melakukan penyeleksian kontraktor, PT. Surya tidak melakukan
penilaian skor terkait persyaratan yang harus dipenuhi oleh kontraktor. Dengan
demikian akan dapat meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja.7
Selain harus memenuhi RKS, kontraktor juga diminta untuk mematuhi dan
melaksanakan isi pakta K3. Isi dari pakta K3 antara lain:
1) Menaati dan melaksanakan UU No 1 tahun 1970, UU No. 13 tahun 2003, UU No.
30 tahun 2009.
2) Melakukan pekerjaan setelah mendapat Surat Perintah Kerja (SPK).
3) Melakukan koordinasi dengan pengawas K3 sebelum dan sesudah
pelaksanaan pekerjaan.
4) Menerima sanksi atas kelalaian dan kesalahan yang disengaja atau tidak disengaja
selama pekerjaan berlangsung.
Namun, kontraktor tidak dipastikan memahami, menaati, dan melaksanakan isi
pakta K3 sebelum penandatanganan kontrak.
c. Seleksi
Pada tahap seleksi, kontraktor diharuskan memenuhi persyaratan mengenai
aspek K3 yang nantinya diatur dalam RKS serta menjadi bagian evaluasi sebagai
pemenang lelang.2 Pelaksanaan tahap seleksi kontraktor melalui pengevaluasian
dokumen yang telah disyaratkan sesuai dengan RKS yang disepakati pada saat
diskusi penjelasan RKS.2 Proses seleksi ini selalu dilakukan berulang setelah masa
kontrak para kontraktor habis.
2. Tahap Pelaksanaan Pekerjaan
Tahap pelaksanaan pekerjaan meliputi tahap pra pelaksanaan pekerjaan,
tahap pelaksanaan pekerjaan, dan tahap evaluasi akhir. 7 Namun, penelitian ini
hanya dibatasi sampai tahap pelaksanaan pekerjaan karena penelitian ini terbatas
hanya satu bulan sedangkan masa kerja kontraktor belum berakhir sehingga tidak
dapat mengevaluasi tahap evaluasi pekerjaan.
a. Pra Pelaksanaan Pekerjaan
Setelah adanya kontrak, pihak kontraktor diminta untuk membuat HSE Plan
yang dibuat melalui Kick of Meeting. Hal tersebut bertujuan untuk melihat gap
antara HSE Plan kontraktor dan HSE Plan PT. Surya.7
Berdasarkan hasil wawancara, sebelum pelaksanaan pekerjaan dilakukan
pembahasan RKS yang nantinya akan digunakan sebagai pedoman dalam
pelaksanaan pekerjaan kontraktor. Diskusi tersebut bertujuan agar kontraktor
memenuhi aspek K3 PT. Surya. Namun, di dalam RKS tersebut tidak tercantum
program K3. Hal tersebut akan dapat menyebabkan kurangnya peran serta kontraktor
terkait SMK3.6
Pada tahap pra pelaksanaan pekerjaan kontraktor perlu dibekali JSA
pekerjaan, prosedur tanggap darurat, dan nomor darurat. Hal bertujuan untuk
membantu kontraktor untuk dapat bekerja secara aman.
b. Pelaksanaan Pekerjaan
Program K3 yang harus dilaksanakan oleh kontraktor antara lain rapat
koordinasi, inspeksi APD, inspeksi kesesuaian pelaksanaan pekerjaan dengan SOP,
briefing kerja atau COC, dan laporan program K3.
3.2 Analisis Pencapaian HSE Performance Indicator
Pencapaian HSE Performance Indicator dipengaruhi oleh indikator
lagging dan indikator leading. Indikator lagging merupakan indikator yang
menunjukkan pencapaian aspek K3 kontraktor dilihat melalui kasus kecelakaan
kerja yang dialami kontraktor. Pada indikator lagging tidak dilakukan penilaian
skor karena dari pihak PT. Surya tidak memperbolehkan terjadinya kecelakaan
(target pencapaiannya nol).
Indikator leading merupakan pencapaian program-program K3 yang
dijalankan oleh kontraktor. Untuk pekerjaan berisiko rendah tidak melaksanakan
program inspeksi APD karena dalam pelaksanaan pekerjaannya tidak ada
kewajiban untuk menggunakan APD tertentu.
Tabel 1. Penilaian Pencapaian KPI HSE PT. INDO
BOBOT BOBOT
NO ITEM SATUAN TARGET ACTUAL INDIKATOR
% %
LAGGING INDICATOR
1 NOA/Kecelakaan Fatal Kali Nihil 10 Nihil 10 Laporan Kecelakaan
2 TRIR/Kecelakaan sedang (>P3K) % Jumlah orang Nihil 10 Nihil 10 Laporan Kecelakaan
3 First Aid % Jumlah orang Nihil 10 Nihil 10 Laporan Kecelakaan
LEADING INDICATOR
4 Safety Talk/Tool Box Meeting Kali 12 10 5 4,1667 Laporan Safety Talk
5 HSE Meeting Kali 12 10 6 5 Laporan HSE Meeting
6 HSE Inspection Kali 12 5 6 2,5 Laporan Inspection HSE
7 APD Inspection kali 12 15 6 7,5 Laporan Inspection APD
8 inspeksi SOP kali 12 20 5 8,3333 Laporan SOP Inspection
TOTAL 100 27,5
Berdasarkan tabel tesebut, maka dapat diketahui bahwa percapaian HSE
Performance Indicator kontraktor sebesar 27,5%, .Pencapaian ini masih belum
maksimal (100%) disebabkan karena terdapat program yang belum dilaksanakan
secara maksimal dan juga terdapat program yang belum terlaksana sama sekali.
Berdasarkan table tersebut, perbedaan pencapaian HSE Performance
Indicator pada kontraktor PT. Indo disebabkan karena perbedaan frekuensi
pelaksanaan program. Faktor lain yang dapat mempengaruhi pencapaian HSE
Performance Indicator antara lain:
1. Peran pengawas K3 dalam implementasi tahapan CSMS
2. Kepemilikan manual K3 yang didalamnya mencakup hal-hal berikut ini:
a. Peraturan perundang-undangan di bidang K3 dan standar K3
b. Identifikasi, penilaian dan pengendalian risiko kecelakaan dan penyakit
akibat kerja
c. JSA Pekerjaan
d. Pemantauan kinerja K3 kontraktor
e. Pengkajian kecelakaan kerja dan tindak lanjut
f. Prosedur tanggap darurat dan nomor darurat
g. HSE Plan yang memuat salah program-program K3
3. Kepemilikan organisasi K3
4. Penilaian skor pada tahap prakualifikasi
5. Pembinaan aspek K3 selama pelaksanaan pekerjaan
6. Pemahaman isi pakta K3 sebelum melakukan penandatanganan pakta K3
3.3 Analisis Hasil Observasi
Peneliti melakukan observasi terhadap dokumen-dokumen antara lain : form
penilaian risiko pekerjaan, ceklis dokumen yang dibutuhkan tahap prakualifikasi,
bukti komitmen K3, kebijakan K3, struktur organisasi K3, SOP pekerjaan, JSA
pekerjaan, prosedur tanggap darurat, daftar APD wajib, prosedur pengelolaan
limbah, cek kesehatan obat terlarang dan alkohol, laporan temuan K3, pelaporan
kejadian, prosedur audit K3 internal, HSE Plan, dan RKS. Berdasarkan hasil
observasi dapat diketahui bahwa kontraktor tidak memiliki kebijakan K3,
organisasi K3, JSA, prosedur tanggap darurat, prosedur pengelolaan limbah, tidak
melakukan pengecekan obat terlarang dan alkohol, laporan temuan K3, laporan
kejadian, prosedur audit internal, dan HSE Plan. Hal tersebut disebabkan dalam
membuat RKS tidak melibatkan pengawas K3. Oleh karena itu, persyaratan terkait
aspek K3 di dalam RKS masih belum diperhatikan.
BAB IV. PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
1. Pelaksanaan CSMS di PT. Surya terdiri dari tahap administrasi dan tahap
pelaksanaan pekerjaan.
2. Pencapaian HSE Performance Indicator kontraktor yaitu 27,5%.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian HSE Performance Indicator
antara lain:
a. PT. Surya tidak memiliki suatu bagian khusus yang bertanggung jawab
mengenai implementasi CSMS dari tahap awal hingga tahap akhir.
b. Target frekuensi pelaksanaan program K3 masing-masing 12 kali,
sementara itu tidak ada kontraktor yang melaksanakan program K3 sesuai
rencana.
c. Kontraktor PT. Indo tidak memiliki manual K3 meskipun PT. Surya
memiliki manual K3.
d. PT. Surya memiliki organisasi P2K3 namun Kontraktor PT. Indo tidak
memiliki organisasi P2K3.
e. PT. Surya belum melakukan penilaian skor pada tahap prakualifikasi.
f. Pembinaan mengenai aspek K3 hanya merupakan paparan awal dan tidak
dilakukan secara rutin serta tidak dilakukan tindak lanjut.
4. Sebelum penandatanganan pakta K3 kontraktor PT. Indo tidak dipastikan
telah memahami isi pakta K3.
DAFTAR PUSTAKA
1. Purnama, Rosdja, Studi Evaluasi Tingkat Pemenuhan Sistem Manajemen
Keselamatan Kesehatan Kerja (SMK3) Kontraktor Di China National Offshore
Oil Corp.(CNOOC) Tahun 2000-2002, Depok, 2003.
2. Ramli, Suhatman, Contractor Safety Management System, Jakarta, 2008.
3. Health and Safety Executive, Developing Process Safety Indicator- A Step by
Step Guide HSG254. UK, HSE Book, On line :
[Link]/leadership/keyindicat [Link] [Dikutip pada Tanggal 28 Februari
2015]
4. Purnama, Rosdja, Studi Evaluasi Tingkat Pemenuhan Sistem Manajemen
Keselamatan Kesehatan Kerja (SMK3) Kontraktor Di China National Offshore
Oil Corp.(CNOOC) Tahun 2000-2002, Depok, 2003.
5. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan
R&D, Bandung, Alfabeta, 2010.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012, Penerapan Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), Jakarta, Presiden republik Indonesia,
2012.
7. Falenshina, Nizhenifa, Implementasi Contractor Safety Management System
(CSMS) Terhadap Kontraktor Project TA Unit CD III PT. Pertamina RU III
Palembang, Depok, FKM UI, 2012.