0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan20 halaman

Epidemiologi dan Penularan DBD

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus yang disebabkan oleh virus dengue, ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, dengan gejala demam tinggi dan perdarahan. Epidemiologi DBD menunjukkan peningkatan kasus secara global, terutama di Asia Tenggara, dengan laporan kasus pertama di Indonesia pada tahun 1968. Penularan DBD terjadi melalui nyamuk betina yang menghisap darah manusia, dan memiliki siklus hidup yang melibatkan tahap telur, jentik, pupa, dan nyamuk dewasa.

Diunggah oleh

Safitri fitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan20 halaman

Epidemiologi dan Penularan DBD

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus yang disebabkan oleh virus dengue, ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, dengan gejala demam tinggi dan perdarahan. Epidemiologi DBD menunjukkan peningkatan kasus secara global, terutama di Asia Tenggara, dengan laporan kasus pertama di Indonesia pada tahun 1968. Penularan DBD terjadi melalui nyamuk betina yang menghisap darah manusia, dan memiliki siklus hidup yang melibatkan tahap telur, jentik, pupa, dan nyamuk dewasa.

Diunggah oleh

Safitri fitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Demam Berdarah Dengue


Penyakit Demam Berdarah Dengue/DBD (secara medis disebut Dengue
Hemorrabagic Fever/DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue
yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Virus ini akan mengganggu kinerja darah kapiler dan sistem pembekuan darah,
sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan (Dwi Sunar Prasetyono,2012).
Demam Berdarah Dengue atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) adalah
penyakit yang disebabkan oleh virus berbahaya karena dapat menyebabkan
penderita meninggal dalam waktu yang sangat singkat. Gejala klinis DBD berupa
demam tinggi yang berlangsung terus-menerus selama 2-7 hari. Tanda dan gejala
perdarahan yang biasanya didahului dengan terlihatnya tanda khas berupa bintik-
bintik merah (petechia) pada badan penderita bahkan penderita dapat mengalami
syok dan meninggal (Sutanto, 2015).
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus akut yang
disebabkan oleh virus dengue yang ditandai demam 2 – 7 hari disertai dengan
manifestasi perdarahan, penurunan trombosit (trombositopenia), adanya
hemokonsentrasi yang ditandai kebocoran plasma (peningkatan hematokrit, asites,
efusi pleura, hipoalbuminemia). Dapat disertai gejala-gejala tidak khas seperti
nyeri kepala, nyeri otot & tulang, ruam kulit atau nyeri belakang bola mata.
(Kemenkes RI,2017).
Demam Berdarah Dengue (Dengue Hemorrhagic Fever/DHF) klasik adalah
penyakit yang terutama pada anak/remaja atau orang dewasa dengan tanda-tanda
klinis demam,nyeri otot dan sendi, yang biasanya memburuk setelah dua hari
pertama.(H. J. Mukono,2018).
2.2.3 Epidemiologi
Epidemiologi berasal dari kata Epi, demos dan logos. Epi berarti atas,
demos berarti masyarakat, logos berarti ilmu, sehingga epidemiologi
dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang distribusi
penyakit di masyarakat dan faktor-faktor yang mempengaruhinya
(determinan).
Epidemiologi Infeksi Dengue adalah ilmu yang mempelajari tentang
kejadian dan distribusi frekuensi Infeksi Dengue (Demam Dengue/DD,
Demam Berdarah Dengue/DBD dan Expanded Dengue
Syndrome/EDS) menurut variabel epidemiologi (orang, tempat dan
waktu) dan berupaya menentukan faktor resiko (determinan) kejadian
tersebut pada suatu kelompok populasi. Distribusi yang dimaksud
diatas adalah distribusi berdasarkan unsur orang, tempat dan waktu;
sedangkan frekwensi dalam hal ini adalah angka kesakitan, angka
kematian dll. Determinan faktor risiko berarti faktor yang
mempengaruhi atau faktor yang memberi risiko atas kejadian penyakit
Demam Dengue, Demam Berdarah Dengue dan Expanded Dengue
Syndrome.
1. Situasi Global
KLB Dengue pertama kali terjadi tahun 1653 di Frech West
Indies (Kepulauan Karibia), meskipun penyakitnya sendiri sudah
telah 40 dilaporkan di Cina pada permulaan tahun 992 SM. Di
Australia serangan penyakit Dengue pertama kali dilaporkan pada
tahun 1897, serta di Italia dan Taiwan pada tahun 1931. KLB di
Filipina terjadi pada tahun 1953-1954, sejak saat itu serangan
penyakit ini disertai tingkat kematian yang tinggi melanda
beberapa negara di wilayah Asia Tenggara termasuk India,
Indonesia, Kepulauan Maladewa, Myanmar, Srilangka, Thailand,
Singapura, Kamboja, Malaysia, New Caledonia, Filipina, Tahiti
dan Vietnam. Selama dua puluh tahun kemudian, terjadi
peningkatan kasus dan wilayah penyebaran yang luar biasa
hebatnya, dan saat ini KLB muncul setiap tahunnya di beberapa
negara di Asia Tenggara. Berbagai serotipe virus Dengue endemis
di beberapa negara tropis. Di Asia, penyakit infeksi Dengue
endemis di China Selatan, Hainan, Vietnam, Laos, Kamboja,
Thailand, Myanmar, India, Pakistan, Sri Langka, Indonesia,
Filipina, Malaysia dan Singapura. Negara dengan endemisitas
rendah di Papua New Guinea, Bangladesh, Nepal, Taiwan dan
sebagian besar negara Pasi fik. Kasus Infeksi Dengue sejak tahun
1981 ditemukan di Queensland, Australia Utara. Serotipe Virus
Dengue 1,2,3, dan 4 endemis di Afrika. Di pantai Timur Afrika
mulai dari Mozambik sampai ke Etiopia dan di kepulauan lepas
pantai seperti Seychelles dan Komoro. Saudi Arabia pernah mel
aporkan kasus yang diduga DBD. Di Amerika, ke-4 serotipe virus
dengue menyebar di Karibia, Amerika Tengah dan Amerika
Selatan hingga Texas (1977- 1997). Tahun 1990 terjadi KLB di
Meksiko, Karibia, Amerika Tengah, Kolombia, Bolivia, Ekuador,
Peru, Venezuela, Guyana, Suriname, Brazil, Paraguay dan
Argentina.
2. Situasi Nasional
Penyakit Dengue pertama kali dilaporkan pada tahun 1968 di
Jakarta dan Surabaya. Pada tahun 2010 penyakit dengue telah
tersebar di 33 provinsi, 440 Kab./Kota. Sejak ditemukan pertama
kali kasus DBD cenderung meningkat terus bahkan sejak tahun
2004 kasus meningkat sangat tajam.
Pada tahun 2017 jumlah kasus DBD yang dilaporkan sebanyak
68.407 kasus, dengan jumlah kasus meninggal sebanyak 493 orang
dan IR 26,12 per 100.000 penduduk dibandingkan tahun 2016
dengan kasus sebanyak 2014.171 serta IR 78,85 per 100.000
penduduk, terjadi penurunan kasus pada tahun 2017. Dari grafik di
bawah selama kurun waktu 10 tahun terakhir mulai tahun 2008
cenderung tinggi sampai tahun 2010 kemudian mengalami
penurunan drastik di tahun 2011 sebesar 27,67 per 100.000
penduduk yang dilanjutkan dengan tren kecendrungan meningkat
sampai tahun 2016 sebesar 78,85 per 100.000 penduduk namun
kembali pada tahun 2017 dengan angka kesakitan atau Incidence
Rate 26,12 per 100.000 penduduk.
Gambar 2.1 Inciden Rate (IR) DBD per 100.000 penduduk di Indonesia
2006-2017

2.2 Mekanisme Penularan


2.2.3 Penyebab Penyakit
Penyebab penyakit Dengue adalah Arthrophod borne virus, famili
Flaviviridae, genus fl[Link] berukuran kecil (50 nm) ini
memiliki single standard RNA. Virion-nya terdiri dari nucleocapsid
dengan bentuk kubus simetris dan terbungkus dalam amplop
[Link] (rangkaian kromosom) virus Dengue berukuran
panjang sekitar 11.000 dan terbentuk dari tiga gen protein struktural
yaitu nucleocapsid atau protein core (C), membrane-associated protein
(M) dan suatu protein envelope (E) serta gen protein non struktural
(NS).
Terdapat empat serotipe virus yang dikenal yakni DEN-1, DEN-2,
DEN3 dan DEN-4. Ke empat serotipe virus ini telah ditemukan di
berbagai wilayah Indonesia. Hasil penelitian di Indonesia
menunjukkan bahwa Dengue-3 sangat berkaitan dengan kasus DBD
berat dan merupakan serotipe yang paling luas distribusinya disusul
oleh Dengue-2, Dengue-1 dan Dengue -4.
Terinfeksinya seseorang dengan salah satu serotipe tersebut diatas,
akan menyebabkan kekebalan seumur hidup terhadap serotipe virus
yang bersangkutan. Meskipun keempat serotipe virus tersebut
mempunyai daya antigenisitas yang sama namun mereka berbeda
dalam menimbulkan proteksi silang meski baru beberapa bulan terjadi
infeksi dengan salah satu dari mereka.
Gambar 2.2 Virus Dengue

3.2.3 Vektor Penular Penyakit


Virus Dengue ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk.
Aedes aegypti merupakan vektor epidemi yang paling utama, namun
spesies lain seperti Ades albopictus, Ades polynesiensis, Ades
scutelaris dan Aedes niveus juga dianggap sebagai vektor sekunder.
Kecuali Ades aegypti semuanya mempunyai daerah distribusi geografis
sendiri-sendiri yang terbatas. Meskipun mereka merupakan host yang
sangat baik untuk virus dengue, biasanya mereka merupakan vektor
epidemi yang kurang efisien dibanding Aedes aegypti.

Gambar 2.3 Nyamuk Aedes Aegepty


Nyamuk penular dengue ini terdapat hampir di seluruh pelosok
Indonesia, kecuali di tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1000
meter di atas permukaan laut.
Pengertian Vektor DBD adalah nyamuk yang dapat menularkan,
memindahkan dan/atau menjadi sumber penular DBD. Di Indonesia
teridentifikasi ada 3 jenis nyamuk yang bisa menularkan virus dengue
yaitu : Aedes aegypti, Aedes albopictus dan Aedes scutellaris.
Sebenarnya yang dikenal sebagai Vektor DBD adalah nyamuk Aedes
betina. Perbedaan morfologi antara nyamuk aedes aegypti yang betina
dengan yang jantan terletak pada perbedaan morfologi antenanya,
Aedes aegypti jantan memiliki antena berbulu lebat sedangkan yang
betina berbulu agak jarang/ tidak lebat. Seseorang yang di dalam
darahnya mengandung virus Dengue merupakan sumber penular
Demam Berdarah Dengue (DBD). Virus Dengue berada dalam darah
selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam. Berikut ini uraian
tentang morfologi, siklus hidup, dan siklus hidup lingkungan hidup,
tempat perkembangbiakan, perilaku, penyebaran, variasi musiman,
ukuran kepadatan dan cara melakukan survei jentik.
1. Morfologi
Morfologi tahapan Aedes aegypti sebagai berikut:
a. Telur
Telur berwarna hitam dengan ukuran ± 0,80 mm, berbentuk
oval yang mengapung satu persatu pada permukaan air yang
jernih, atau menempel pada dinding tempat penampung
[Link] dapat bertahan sampai ± 6 bulan di tempat kering.

2.3 Telur Aedes Aegepty


b. Jentik (larva)
Ada 4 tingkat (instar) jentik/larva sesuai dengan pertumbuhan
larva tersebut, yaitu: 1) Instar I : berukuran paling kecil, yaitu
1-2 mm 2) Instar II : 2,5-3,8 mm 3) Instar III : lebih besar
sedikit dari larva instar II 4) Instar IV : berukuran paling besar
5m
2.4 Larva Aedes Aegepty

c. Pupa
Pupa berbentuk seperti ’koma’. Bentuknya lebih besar namun
lebih ramping dibanding larva (jentik)nya. Pupa Aedes aegypti
berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata pupa
nyamuk lain.

Gambar 2.5 Pupa Aedes Aegepty


d. Nyamuk dewasa
Nyamuk dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan
dengan rata-rata nyamuk lain dan mempunyai warna dasar
hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian badan dan kaki.

Gambar 2.6 Antena Nyamuk [Link] Jantan dan Betina

2. Siklus Hidup Aedes aegypti


Nyamuk Aedes aegypti seperti juga jenis nyamuk lainnya
mengalami metamorfosis sempurna, yaitu: telur – jentik (larva) –
pupa - nyamuk. Stadium telur, jentikdan pupa hidup di dalam air.
Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik/larva dalam
waktu ± 2 hari setelah telur terendam air. Stadium jentik/larva
biasanya berlangsung 6-8 hari, dan stadium kepompong (Pupa)
berlangsung antara 2–4 hari. Pertumbuhan dari telur menjadi
nyamuk dewasa selama 9-10 hari. Umur nyamuk betina dapat
mencapai 2-3 bulan.

Gambar 2.7 Siklus hidup nyamuk Aedes Aegepty

3. Habitat
Perkembang biakan Habitat Aedes Aegepty ialah tempat-
tempat yang dapat menampung air di dalam, di luar atau sekitar
rumah serta tempat-tempat umum. Habitat perkembangbiakan
nyamuk Aedes aegypti dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1) Tempat penampungan air (TPA) untuk keperluan sehari-hari
seperti: drum, tangki reservoir, tempayan, bak mandi/wc, dan
ember.
2) Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari
seperti: tempat minum burung, vas bunga, perangkap semut,
bak kontrol pembuangan air, tempat pembuangan air kulkas/
dispenser, talang air yang tersumbat, barang-barang bekas
(contoh : ban, kaleng, botol, plastik, dll).
3) Tempat penampungan air alamiah seperti: lubang pohon,
lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah pisang
dan potongan bambu dan tempurung coklat/karet, dll.

4. Perilaku
Nyamuk Dewasa Setelah keluar dari pupa, nyamuk istirahat di
permukaan air untuk sementara waktu. Beberapa saat setelah itu,
sayap meregang menjadi kaku, sehingga nyamuk mampu terbang
mencari makanan. Nyamuk Aedes aegypti jantan mengisap cairan
tumbuhan atau sari bunga untuk keperluan hidupnya sedangkan
yang betina mengisap darah. Nyamuk betina ini lebih menyukai
darah manusia daripada hewan (bersifat antropofilik). Darah
diperlukan untuk pematangan sel telur, agar dapat menetas. Waktu
yang diperlukan untuk menyelesaikan perkembangan telur mulai
dari nyamuk mengisap darah sampai telur dikeluarkan, waktunya
bervariasi antara 3-4 hari. Jangka waktu tersebut disebut dengan
siklus gonotropik. Aktivitas menggigit nyamuk Aedes aegypti
biasanya mulai pagi dan petang hari, dengan 2 puncak aktifitas
antara pukul 09.00 -10.00 dan 16.00 -17.00. Aedes aegypti
mempunyai kebiasaan mengisap darah berulang kali dalam satu
siklus gonotropik, untuk memenuhi lambungnya dengan darah.
Dengan demikian nyamuk ini sangat efektif sebagai penular
penyakit. Setelah mengisap darah, nyamuk akan beristirahat pada
tempat yang gelap dan lembab di dalam atau di luar rumah,
berdekatan dengan habitat perkembangbiakannya. Pada tempat
tersebut nyamuk menunggu proses pematangan telurnya. Setelah
beristirahat dan proses pematangan telur selesai, nyamuk betina
akan meletakkan telurnya di atas permukaan air, kemudian telur
menepi dan melekat pada dinding-dinding habitat
perkembangbiakannya. Pada umumnya telur akan menetas menjadi
jentik/larva dalam waktu ±2 hari. Setiap kali bertelur nyamuk
betina dapat menghasilkan telur sebanyak ±100 butir. Telur itu di
tempat yang kering (tanpa air) dapat bertahan ±6 bulan, jika
tempat-tempat tersebut kemudian tergenang air atau
kelembabannya tinggi maka telur dapat menetas lebih cepat.
5. Jangkauan Terbang Nyamuk
Kemampuan terbang nyamuk Aedes sp. betina rata-rata 40
meter, namun secara pasif misalnya karena angin atau terbawa
kendaraan dapat berpindah lebih jauh. Aedes aegypti tersebar luas
di daerah tropis dan sub-tropis, di Indonesia nyamuk ini tersebar
luas baik di rumah maupun di tempat umum. Nyamuk Aedes
aegypti dapat hidup dan berkembang biak sampai ketinggian
daerah ± 1.000 m dpl. Pada ketinggian diatas ± 1.000 m dpl, suhu
udara terlalu rendah, sehingga tidak memungkinkan nyamuk
berkembangbiak.

6. Variasi Musiman
Pada musim hujan populasi Aedes aegypti akan meningkat
karena telur-telur yang tadinya belum sempat menetas akan
menetas ketika habitat perkembangbiakannya (TPA bukan
keperluan sehari-hari dan alamiah) mulai terisi air hujan. Kondisi
tersebut akan meningkatkan populasi nyamuk sehingga dapat
menyebabkan peningkatan penularan penyakit Dengue.

2.2.3 Pejamu (Host)


Virus dengue menginfeksi manusia dan beberapa spesies dari
primata rendah. Tubuh manusia adalah reservoir utama bagi virus
tersebut, meskipun studi yang dilakukan di Malaysia dan Afrika
menunjukkan bahwa monyet dapat terinfeksi oleh virus dengue
sehingga dapat berfungsi sebagai host reservoir. Semua orang rentan
terhadap penyakit ini, pada anak-anak biasanya menunjukkan gejala
lebih ringan dibandingkan dengan orang dewasa. Penderita yang
sembuh dari infeksi dengan satu jenis serotipe akan memberikan
imunitas homolog seumur hidup tetapi tidak memberikan perlindungan
terhadap terhadap infeksi serotipe lain dan dapat terjadi infeksi lagi
oleh serotipe lainnya.
2.2.4. Faktor Resiko Lingkungan
Beberapa faktor yang berisiko terjadinya penularan dan semakin
berkembangnya penyakit DBD adalah pertumbuhan jumlah penduduk
yang tidak memiliki pola tertentu, faktor urbanisasi yang tidak
berencana dan terkontrol dengan baik, semakin majunya sistem
transportasi sehingga mobilisasi penduduk sangat mudah, sistem
pengelolaan limbah dan penyediaan air bersih yang tidak memadai,
berkembangnya penyebaran dan kepadatan nyamuk, kurangnya sistem
pengendalian nyamuk yang efektif, serta melemahnya struktur
kesehatan masyarakat. Selain faktorfaktor lingkungan tersebut diatas
status imunologi seseorang, strain virus/serotipe virus yang
menginfeksi, usia dan riwayat genetik juga berpengaruh terhadap
penularan penyakit. Perubahan iklim (climate change) global yang
menyebabkan kenaikan rata-rata temperatur, perubahan pola musim
hujan dan kemarau juga disinyalir menyebabkan risiko terhadap
penularan DBD bahkan berisiko
terhadap munculnya KLB DBD. Sebagai contoh adanya kenaikan
Index Curah Hujan (ICH) di beberapa provinsi yaitu NTT, DKI dan
Kalimantan Timur selalu diikuti dengan kenaikan kasus DBD.
2.2.5. Siklus Penularan
Nyamuk Aedes betina biasanya terinfeksi virus dengue pada saat
dia menghisap darah dari seseorang yang sedang dalam fase demam
akut (viraemia) yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah
demam timbul. Nyamuk menjadi infektif 8-12 hari sesudah mengisap
darah penderita yang sedang viremia (periode inkubasi ekstrinsik) dan
tetap infektif selama hidupnya Setelah melalui periode inkubasi
ekstrinsik tersebut, kelenjar ludah nyamuk bersangkutan akan
terinfeksi dan virusnya akan ditularkan ketika nyamuk tersebut
menggigit dan mengeluarkan cairan ludahnya ke dalam luka gigitan ke
tubuh orang lain. Setelah masa inkubasi di tubuh manusia selama 3 –
14 hari (rata-rata selama 4-7 hari) timbul gejala awal penyakit secara
mendadak, yang ditandai demam, pusing, myalgia (nyeri otot),
hilangnya nafsu makan dan berbagai tanda atau gejala lainnya. Viremia
biasanya muncul pada saat atau sebelum gejala awal penyakit tampak
dan berlangsung selama kurang lebih lima hari. Saat-saat tersebut
penderita dalam masa sangat infektif untuk vektor nyamuk yang
berperan dalam siklus penularan, jika penderita tidak terlindung
terhadap kemungkinan digigit nyamuk. Hal tersebut merupakan bukti
pola penularan virus secara vertikal dari nyamuk-nyamuk betina yang
terinfeksi ke generasi berikut nya.

2.2.6. Tanda dan Gejala DBD


Masa inkubasi penyakit DBD adalah 3-15 hari sejak saat
seseorang terserang virus dengue. Selanjutnya, penderita akan
menampakkan berbagai tanda dan gejala demam berdarah, seperti
berikut :
1. Demam tinggi secara mendadak selama 2-7 hari (38-40oC).
2. Pada pemeriksaan Uji Torniquet, tampak adanya jentik (puspura)
perdarahan.
3. Adanya bentuk perdarahan di kelopak mata bagian dalam
(konjungtiva), mimisan (epitaksis), buang air besar dengan kotoran
berupa lendir bercampur darah (melena), dan lain-lainnya.
4. Terjadi pembesaran hati (hepatomegali).
5. Tekanan darah menurun, sehingga menyebabkan shock.
6. Pada pemeeriksaan laboratorium (darah), hari ke 3-7 menjadi
penurunan trombosit dibawah 100.000/mm3 (trombositopent) dan
terjadi peningkatan nilai hematokrit di atas 20% dari nilai normal
(hemokonsentrasi).
7. Timbulnya beberapa gejala klinis yang menyertai, seperti mual,
muntah, penurunan nafsu makan (anoreksia), sakit perut, diare,
menggigil, kejang, dan sakit kepala.
8. Mengalami perdarahan pada hidung (mimisan) dan gusi.
9. Demam yang dirasakan penderita menyebabkan keluhan
pegal/sakit pada persendian.
10. Munculnya bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya
pembuluh darah.
Demam berdarah dengue diklasifikasikan berdasarkan beratnya
penyakit menjadi 4 derajat, sebagai berikut :
a. Derajat I : Demam dengan gejala tidak jelas, manifetasi
perdarahan hanya dalam bentuk torniquet positif dan atau
mudah memar.
b. Derajat II : Manifetasi derajat I ditambah perdarahan
spontan, biasanya berupa perdarahan kulit atau perdarahan pada
jaringan lainnya.
c. Derajat III : Kegagalan sirkulasi berupa nadi tekanan
sempit dan lemah, atau hipotensi, dengan gejala kulit dingin
dan lembab, dan penderita gelisah.
d. Derajat IV : Terjadi gejala awal syok berupa tekanan darah
rendah dan nadi tidak dapat diukur.

2.2.7. Gambaran Klinis


Masa inkubasi di mulai sejak nyamuk menggigit sampai
menimbulkan gejala, kurang lebih 13-15 hari. Maka dapat diketahui
maka terdapat tiga fase perjalanan penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD), yaitu sebagai berikut :
1. Fase Demam
Pada fase ini, diperlukan pengobatan sistomatik atau
pengobatan yang dilakukan untuk menghilangkan gejala saja,
seperti menurunkan demam atau meningkatkan perbaikan kondisi
penderita Demam Berdarah Bengue (DBD). Tindakan yang
dilakukan pada tahap awal ini penting supaya penderita tidak
memasuki kondisi yang lebih buruk. Hal-hal yang harus
diperhatikan pada perawatan pasien demam berdarah yang sedang
mengalami fase ini adalah suhu tubuh penderita, rasa mual dan
muntah, serta terjadinya kejang, mimisan, dan pendarahan. Pada
saat fase demam ini terjadi, pemberian cairan yang memadai sangat
diperlukan untuk mencegah terjadinya kekurangan cairan pada
tubuh penderita.
Pada fase ini juga diperlukan pemeriksaan laboratorium darah,
yang meliputi milai trombosit dan nilai hematokrit, untuk
mengontrol keadaan kesehatan penderita. Jika sudah minum obat
tetapi suhu tubuh tetap tidak menurun atau didapatkan tanda
pendarahan yang lain, perlu segera dilakukan pengontrolan oleh
dokter untuk ditangani lebih lanjut.

2. Fase Kritis
Ketika fase ini terjadi, penderita tidak memungkinkan untuk
dirawat di rumah, tetapi harus dirawat di rumah sakit karena
membutuhkan penanganan yang intensif. Fase ini pada umumnya
dimulai pada hari ketiga sampai sampai hari kelima sejak diketahui
adanya panas atau demam yang pertama kali. Fase kritis ini
berlangsung selama kurang lebih 24-48 jam. Fase kritis merupakan
fase yang sangat menentukan, karena apabila penderita berhasil
melewati fase ini akan memasuki fase penyembuhan. Tetapi, jika
fase kritis ini tidak mampu diatasi (terjadi keterlambatan dalam
penanganannya), maka penderita akan mengalami keadaan yang
fatal. Pada keadaan ini biasanya penderita mengalami mual-
muntah, tidak nafsu makan, dan mengalami pendarahan, oleh
karena itu harus dilakukan pemantauan yang lebih intensif.
Pemantauan terhadap keadaan penderita, seperti pemeriksaan
suhu tubuh, denyut nadi, pernapasan, dan tekanan darah, harus
selalu dilakukan secara periodik atau berkala oleh perawat. Jika
penderita mengalami shock yang disebut dengan shock
syndrome,penderita harus segera mendapatkan terapi oksegen seta
infus untuk mengganti kekurangan cairan yang disebabkan oleh
kebocoran plasma. Adanya kebocoran plasma ini sangatlah
bernahaya dapat mengakibatkan gangguan peredaran darah yang
berfungsi membawa oksigen dan makanan ke seluruh tubuh.
Biasanya pada keadaan seperti ini juga terjadi penurunan kadar
trombosit yang memungkinkan penderita mengalami pendarahan
baik malalui mulut, hidung maupun perdarahan pada saluran
pencernaan. Pada saat kondidi ini terjadi, seringkali penderita
memerlukan transfusi darah sehingga perlu disiapkan donor darah.
Apabila pemantauan nilai hematokrit telah menunjukkan hasil yang
normal atau sudah stabil, maka penderita sudah memasuki fase
penyembuhan atau telah berhasil melewati fase kritis.
3. Fase Penyembuhan
Umumnya penderita DBD yang telah berhasil melewati fase
kritis akan sembuh tanpa komplikasi dalam waktu kurang lebih 24-
48 jam setelah ahock. Keadaan ini ditandai dengan kondisi umum
penderita yang mulai membaik, nafsu makan mulai meningkat, dan
tanda-tanda vital yang stabil (suhu tubuh,denyut nadi, pernapasan,
dan tekanan darah). Pada fase ini, pemberian cairan infus mulai
dihentikan, diganti dengan pemberian nutrisi lewat mulut secara
optimal. Asupan makanan yang mengandung nilai gizi yang tinggi
sangat diperlukan untuk memperbaiki daya tahan tubuh. Bila
keadaan penderita terus membaik dan yidak ditemukan adanya
komplokasi penderita biasanya diperbolehkan pulang.

2.2.8. Pencegahan DBD


Pencegahan dilakukan dengan cara menghindarai gigitan nyamuk
diwaktu pagi dan sore, karena nyamu Aedes aktif di siang hari (bukan
malam hari). Hindari pula lokasi yang banyak nyamuknya di siang
hari, terutama di daerah yang ada penderita DBD-nya. Berikut
beberapa tata cara paling efektif dalam mencegah penyakit DBD :
a. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui pengelolaan
sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil
samping kegiatan manusia, dan perbaikan desai rumah.

Gambar 2.8 Data PSN


b. Pemeliharaan ikan pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang) di
tempat air kolam.
c. Pengasapan (fogging) dengan menggunakan malathion dan
fenthion.
d. Memberikan bubuk abate (themopbos) pada tempat –tempat
penampungan air, seperti gentong air, vas bunga, kolam dan lain-
lain.

2.3. Pengetahuan
2.3.1. Pengertian
Pengetahuan menrupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah
orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.
Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga
(Notoatmodjo, 2012).

Pengetahuan secara garis besar dibagi dalam 6 tingkat dan


tingkatan tingkatan pengetahuan dalam domain kognitif yaitu
(Notoatmodjo, 2012) :

1) Tahu (Know)
Mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu merupakan
tingkatan yng paling rendah.
2) Memahami (comprehension)
Suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang
objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi
tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau
materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh,
menyimpulkan, meramalkan terhadap objek yang dipelajari.
3) Aplikasi (Aplication)
Suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi
diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud
dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui
tersebut pada situasi yang lain. Misalnya siswa yang telah paham
membuang sampah dengan benar maka ia melakukan membuang
sampah di tempatnya sesuai kriteria.
4) Analisis (analysis)
Kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke
dalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur
organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5) Sintesis (synthesis)
Kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-
bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Sintesis
merupakan kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi yang ada.
6) Evaluasi (evaluation)
Kemampuan untuk melakukan justufikasi atau penilaian
terhadap suatu materi atau objek.

2.3.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan


Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut
(Notoatmodjo, 2007b) adalah:
1) Faktor internal
a) Umur
Umur merupakan variabel yang selalu diperhatikan
dalam penelitian-penelitian epidemiologi yang merupakan
salah satu hal yang mempengaruhi pengetahuan. Umur
adalah lamanya hidup seseorang dalam tahun yang dihitung
sejak dilahirkan. Semakin tinggi umur seseorang, maka
semakin bertambah pula ilmu atau pengetahuan yang
dimiliki karena pengetahuan seseorang diperoleh dari
pengalaman sendiri maupun pengalaman yang diperoleh
dari orang lain.

b) Pendidikan
Pendidikan merupakan proses menumbuh kembangkan
seluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui
pengetahuan, sehingga dalam pendidikan perlu
dipertimbangkan umur (proses perkembangan klien) dan
hubungan dengan proses belajar. Tingkat pendidikan juga
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi
seseorang atau lebih mudah menerima ide-ide dan
teknologi. Pendidikan meliputi peranan penting dalam
menentukan kualitas manusia dianggap akan memperoleh
pengetahuan implikasinya. Semakin tinggi pendidikan,
hidup manusia akan membuahkan pengetahuan yang baik
yang menjadikan hidup yang berkualitas.
c) Pekerjaan
Bekerja pada umumnya merupakan kegiatan yang
menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai
pengaruh terhadap kehidupan keluarga.

d) Faktor Eksternal
a) Faktor lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di
sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis,
maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap
proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang
berada dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena
adanya interaksi timbal balik ataupun tidak yang akan
direspon sebagai pengetahuan oleh setiap individu.
b) Sosial Budaya
Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat
dapat mempengaruhi dari sikap dalam menerima
informasi.
c) Masa media / informasi
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan
formal maupun non formal dapat memberikan pengaruh
jangka pendek (immediate impact) sehingga
menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan.
Majunya teknologi akan tersedia bermacam-macam
media massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan
masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai sarana
komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti
televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain
mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan
opini dan kepercayan orang. Dalam penyampaian
informasi sebagai tugas pokoknya, media massa
membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang
dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi
baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan
kognitif baru bagi terbentuknya pengetahuan terhadap
hal tersebut.
A. Kerangka Teori
Sebagai bahan acuan dalam penelitian ini, kerangka teori kinerja yang digunakan
adalah Teori Simamora (1995) dalam mangkunegara (2005) dan Teori Gomes dan
Larsen dalam Torang, S (2012) yang dapat digambarkan sebagai berikut :

Bagan 2.2
Kerangka Teori

Faktor Individu :

 Pengetahuan
 Kemampuan dan
Keahlian
 Latar Belakang
 Demografi

Faktor Psikologi :

 Persepsi
 Attitude KINERJA
 Personality
 Pembelajaran
 Motivasi

Faktor Organisasi :

 Sumber Daya
 Kepemimpinan
 Penghargaan
 Struktur
 Job Design

Anda mungkin juga menyukai