0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan16 halaman

Panduan Lengkap SDLC dalam Rekayasa Perangkat Lunak

Dokumen ini menjelaskan tentang Software Development Life Cycle (SDLC), yang merupakan kerangka kerja untuk pengembangan perangkat lunak melalui tahapan analisis, perancangan, pembangunan, pengujian, implementasi, dan pemeliharaan. SDLC berfungsi untuk memastikan komunikasi yang efektif antara tim pengembang dan pemangku kepentingan, serta memberikan struktur yang jelas dalam pengembangan perangkat lunak. Selain itu, dokumen ini juga membahas model-model pengembangan perangkat lunak seperti Waterfall dan Prototype, beserta kelebihan dan kekurangan masing-masing model.

Diunggah oleh

Ludfi Effendy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan16 halaman

Panduan Lengkap SDLC dalam Rekayasa Perangkat Lunak

Dokumen ini menjelaskan tentang Software Development Life Cycle (SDLC), yang merupakan kerangka kerja untuk pengembangan perangkat lunak melalui tahapan analisis, perancangan, pembangunan, pengujian, implementasi, dan pemeliharaan. SDLC berfungsi untuk memastikan komunikasi yang efektif antara tim pengembang dan pemangku kepentingan, serta memberikan struktur yang jelas dalam pengembangan perangkat lunak. Selain itu, dokumen ini juga membahas model-model pengembangan perangkat lunak seperti Waterfall dan Prototype, beserta kelebihan dan kekurangan masing-masing model.

Diunggah oleh

Ludfi Effendy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tugas Rekayasa Perangkat Lunak

Kelompok 2.
186710651057 - Muhammad Indra Rivaldy
186710651058 - Muhammad Ludfi Effendi
186710651007 - Bayin Sopandi

1. Pengertian Software Development Life Cycle (SDLC)

SDLC merupakan singkatan dari Software Development Life Cycle adalah siklus yang
digunakan dalam pembuatan atau pengembangan sistem informasi yang bertujuan untuk
menyelesaikan masalah secara efektif.
Dalam pengertian lain, SDLC adalah tahapan kerja yang bertujuan untuk menghasilkan sistem
berkualitas tinggi yang sesuai dengan keinginan pelanggan atau tujuan dibuatnya sistem
tersebut.
SDLC menjadi kerangka yang berisi langkah-langkah yang harus dilakukan untuk
memproses pengembangan suatu perangkat lunak. Sistem ini berisi rencana lengkap untuk
mengembangkan, memelihara, dan menggantikan perangkat lunak tertentu.
Fungsi SDLC
Sangat sulit untuk membuat sebuah perangkat lunak tanpa perancangan yang
maksimal. Beberapa teknik dalam mengembangkan perangkat lunak terus dikembangkan
hingga kini.
Masih banyak perdebatan mengenai metode yang paling baik dan paling sesuai untuk segala
tipe perangkat lunak. Meski demikian, ada perencanaan lebih baik daripada tidak ada
perencanaan sama sekali.
Dilihat dari berbagai sisi, SDLC memiliki banyak fungsi, antara lain sebagai sarana
komunikasi antara tim pengembang dengan pemegang kepentingan. SDLC juga berfungsi
membagi peranan dan tanggung jawab yang jelas antara pengembang, desainer, analis bisnis,
dan manajer proyek.
Fungsi lain dari SDLC ialah dapat memberikan gambaran input dan output yang jelas dari satu
tahap menuju tahap selanjutnya.

Tahapan SDLC

SDLC berisi tahapan-tahapan yang dikembangkan untuk tujuan tertentu. Berikut ini tujuh
tahapan yang harus dilewati.
1. Tahapan Analisis Sistem
Tahapan pertama, yaitu analisis sistem. Pada tahap ini, sistem akan dianalisis
bagaimana akan dijalankan nantinya. Hasil analisis berupa kelebihan dan kekurangan sistem,
fungsi sistem, hingga pembaharuan yang dapat diterapkan.
Bagian ini termasuk dalam bagian perencanaan. Bagian lain yang termasuk dalam
perencanaan ialah alokasi sumber daya, perencanaan kapasitas, penjadwalan proyek, estimasi
biaya, dan penetapan.
Dengan demikian, hasil dari tahap perencanaan ialah rencana proyek, jadwal, estimasi
biaya, dan ketentuan. Idealnya manajer proyek dan pengembang dapat bekerja maksimal pada
tahap ini.

2. Tahapan Perancangan Sistem


Setelah persyaratan dipahami, perancang dan pengembang dapat mulai
mendesain software. Tahapan ini akan menghasilkan prototype dan beberapa output lain
meliputi dokumen berisi desain, pola, dan komponen yang diperlukan untuk mewujudkan
proyek tersebut.
Setelah spesifikasi, kemudian dilakukan perancangan sistem sebagai tahapan
kelanjutannya. Tahap ini ialah tahap di mana seluruh hasil analisis dan pembahasan tentang
spesifikasi sistem diterapkan menjadi rancangan atau cetak biru sebuah sistem.
Tahap ini disebut sebagai cetak biru, di mana sistem sudah siap untuk dikembangkan
mulai dari implementasi, analisis sistem, hingga tenaga pendukung sistem yang akan
dikembangkan.

3. Tahap Pembangunan Sistem


Pengembangan sistem ialah tahap di mana rancangan mulai dikerjakan, dibuat, atau
diimplementasikan menjadi sistem yang utuh dan dapat digunakan. Jika diibaratkan bangunan,
tahap ini merupakan tahap membangun.
Tahap ini memakan waktu cukup lama karena akan muncul kendala-kendala baru yang
mungkin dapat menghambat jalannya pengembangan sistem. Pada tahapan ini, perancangan
bisa saja berubah karena satu atau banyak hal.
Tahap selanjutnya ialah memproduksi perangkat lunak di bawah proses
pengembangan. Menurut metodologi yang sudah digunakan, tahap ini dapat dilakukan dengan
cepat. Output yang dihasilkan pada tahap ini ialah perangkat lunak yang telah berfungsi dan
siap diuji.

4. Tahap Pengujian Sistem


Sesudah sistem selesai dikembangkan, sistem harus melalui pengujian sebelum
digunakan atau dikomersialisasikan. Tahap pengujian sistem harus dijalankan untuk mencoba
apakah sistem yang dikembangkan dapat bekerja optimal atau tidak.

Pada tahap ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti kemudahan penggunaan
sampai pencapaian tujuan dari sistem yang sudah disusun sejak perancangan sistem
dilakukan. Jika ada kesalahan, tahap pertama hingga keempat harus diperbarui, diulangi, atau
pun dirombak total.
Tahap tes SDLC ialah bagian paling penting dalam rangkaian pembuatan sebuah
perangkat lunak. Karena sangat tidak mungkin mempublikasikan sebuah software tanpa melalui
pengujian terlebih dahulu.
Beberapa pengujian yang harus dilewati, antara lain kualitas kode, tes fungsional, tes integrasi,
tes performa, dan tes keamanan.
Untuk memastikan pengujian berjalan teratur dan tidak ada bagian yang terlewati, tes
dapat dilakukan menggunakan perangkat Continuous Integration seperti Codeship.
Dari tahap ini, akan dihasilkan perangkat lunak yang telah dites dan siap untuk disebarkan ke
dalam proses produksi.

5. Implementasi
Implementasi dan pemeliharaan merupakan tahap akhir dalam pembuatan SDLC. Di
tahap ini sistem sudah dibuat, diuji coba, dan dipastikan dapat bekerja optimal.
Setelah tahap pembuatan selesai, dilakukan implementasi dan pemeliharaan oleh
pengguna. Pemeliharaan sangat penting untuk memastikan sistem bekerja dengan optimal
setiap [Link] implementasi, langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut.
 Melakukan survei dan penilaian terhadap kelayakan sistem yang sudah dikembangkan.
 Menganalisis dan mempelajari sistem yang sudah ada dan sedang berjalan.
 Melakukan pemecahan masalah dalam pengembangan sistem.
 Menentukan penggunaan hardware dan software yang tepat.
 Merancang dan mengembangkan sistem baru.
 Memelihara dan meningkatkan sistem yang baru jika diperlukan.
Fase ini disebut juga sebagai tahap penyebaran. Pada tahap ini, software disebarkan setelah
melewati proses yang melibatkan beberapa persetujuan manual. Tahap ini dilakukan sebelum
menurunkan software ke produksi.
Proses penyebaran dapat dilakukan menggunakan Application Release Automation (ARA)
sebelum masuk ke proses produksi. Output yang didapat dari tahap ini ialah perangkat lunak
yang siap untuk diproduksi secara massal.

6. Pemeliharaan Sistem
Pemeliharaan sistem yang sudah dibuat sangat penting untuk referensi di kemudian
hari. Pemeliharaan ialah tahap akhir yang menjadi permulaan fase yang baru yaitu
penggunaan.
SDLC belum berakhir di tahap ini. Software yang dihasilkan harus terus dipantau untuk
memastikan ia berjalan sempurna.
Celah dan kerusakan yang ditemukan pada proses produksi harus dilaporkan dan
diselesaikan. Jika ditemukan sebelum diproduksi massal, ini akan lebih baik daripada
menyelesaikan dengan merombak semuanya dari awal ke akhir.

a. Model Software Development Life Cycle (SDLC)

1. Model Sekuensial Linier atau Waterfall Development Model


Model Sekuensial Linier atau sering disebut Model Waterfall, merupakan paradigma model
pengembangan perangkat lunak paling tua, dan paling banyak dipakai. Model ini mengusulkan
sebuah pendekatan perkembangan perangkat lunak yang sistematik dan sekunsial yang
dimulai pada tingkat dan kemajuan sistem pada seluruh tahapan analisis, desain , kode,
pengujian, dan pemeliharaan.

Berikut Merupakan Tahapan – tahapan Pengembangan Model Sekuensial Linear / Waterfall


Development Model :
 Rekayasa dan pemodelan sistem/informasi
Langkah pertama dimulai dengan membangun keseluruhan elemen sistem dan memilah
bagian-bagian mana yang akan dijadikan bahan pengembangan perangkat lunak, dengan
memperhatikan hubungannya dengan Hardware, User, dan Database.
 Analisis kebutuhan perangkat lunak
Pada proses ini, dilakukan penganalisaan dan pengumpulan kebutuhan sistem yang meliputi
Domain informasi, fungsi yang dibutuhkan unjuk kerja/performansi dan antarmuka. Hasil
penganalisaan dan pengumpulan tersebut didokumentasikan dan diperlihatkan kembali kepada
pelanggan.
 Desain
Pada proses Desain, dilakukan penerjemahan syarat kebutuhan sebuah perancangan
perangkat lunak yang dapat diperkirakan sebelum dibuatnya proses pengkodean (coding).
Proses ini berfokus pada struktur data, arsitektur perangkat lunak, representasi interface, dan
detail algoritma prosedural.
 Pengkodean
Pengkodean merupakan proses menterjemahkan perancangan desain ke bentuk yang dapat
dimengerti oleh mesin, dengan menggunakan bahasa pemrograman.
 Pengujian
Setelah Proses Pengkodean selesai, dilanjutkan dengan proses pengujian pada program
perangkat lunak, baik Pengujian logika internal, maupun Pengujian eksternal fungsional untuk
memeriksa segala kemungkinan terjadinya kesalahan dan memeriksa apakah hasil dari
pengembangan tersebut sesuai dengan hasil yang diinginkan.
 Pemeliharaan
Proses Pemeliharaan erupakan bagian paling akhir dari siklus pengembangan dan dilakukan
setelah perangkat lunak dipergunakan. Kegiatan yang dilakukan pada proses pemeliharaan
antara lain :
 Corrective Maintenance : yaitu mengoreksi apabila terdapat kesalahan pada perangkat
lunak, yang baru terdeteksi pada saat perangkat lunak dipergunakan.
 Adaptive Maintenance : yaitu dilakukannya penyesuaian/perubahan sesuai dengan
lingkungan yang baru, misalnya hardware, periperal, sistem operasi baru, atau sebagai
tuntutan atas perkembangan sistem komputer, misalnya penambahan driver, dll.
 Perfektive Maintenance : Bila perangkat lunak sukses dipergunakan oleh pemakai.
Pemeliharaan ditujukan untuk menambah kemampuannya seperti memberikan fungsi-
fungsi tambahan, peningkatan kinerja dan sebagainya.

 Kelebihan Model Sekuensial Linear / Waterfall Development Model :


 Tahapan proses pengembangannya tetap (pasti), mudah diaplikasikan, dan prosesnya
teratur.
 Cocok digunakan untuk produk software/program yang sudah jelas kebutuhannya di
awal, sehingga minim kesalahannya.
 Software yang dikembangkan dengan metode ini biasanya menghasilkan kualitas yang
baik.
 Documen pengembangan sistem sangat terorganisir, karena setiap fase harus
terselesaikan dengan lengkap sebelum melangkah ke fase berikutnya.
 Kekurangan Model Sekuensial Linear / Waterfall Development Model :
 Proyek yang sebenarnya jarang mengikuti alur sekuensial seperti diusulkan, sehingga
perubahan yang terjadi dapat menyebabkan hasil yang sudah didapatkan tim
pengembang harus diubah kembali/iterasi sering menyebabkan masalah baru.
 Terjadinya pembagian proyek menjadi tahap-tahap yang tidak fleksibel, karena
komitmen harus dilakukan pada tahap awal proses.
 Sulit untuk mengalami perubahan kebutuhan yang diinginkan oleh
customer/pelanggan.
 Pelanggan harus sabar untuk menanti produk selesai, karena dikerjakan tahap per
tahap, dan proses pengerjaanya akan berlanjut ke setiap tahapan bila tahap
sebelumnya sudah benar-benar selesai.
 Perubahan ditengah-tengah pengerjaan produk akan membuat bingung tim
pengembang yang sedang membuat produk.
 Adanya waktu kosong (menganggur) bagi pengembang, karena harus menunggu
anggota tim proyek lainnya menuntaskan pekerjaannya.

Contoh dari penerapan model Waterfall


Adalah pembuatan program pendaftaran online ke suatu Instansi Pendidikan. Program ini akan
sangat membantu dalam proses pendaftaran, karena dapat meng-efektifkan waktu serta
pendaftar tidak perlu repot-repot langsung mendatangi Instansi Pendidikan. Teknisnya adalah
sebagai berikut :
 Sistem program untuk pendaftaran dibuat menggunakan bahasa pemrograman PHP,
dengan Sistem Database yang dibuat menggunakan MySQL, dan diterapkan
(diaplikasikan) pada PC (personal computer) dengan sistem operasi berbasis Microsoft
Windows, Linux, dan sebagainya.
 Setelah program selesai dibuat dan kemudian dipergunakan oleh user, programmer akan
memelihara serta menambah atau menyesuaikan program dengan kebutuhan serta kondisi
user.

2. Model Prototype
Metode Prototype merupakan suatu paradigma baru dalam metode pengembangan
perangkat lunak dimana metode ini tidak hanya sekedar evolusi dalam dunia pengembangan
perangkat lunak, tetapi juga merevolusi metode pengembangan perangkat lunak yang lama
yaitu sistem sekuensial yang biasa dikenal dengan nama SDLC atau waterfall development
model. Prototype ini merupakan salah satu metode pengembangan perangkat lunak yang
banyak digunakan, dengan metode ini pengembang dan pelanggang dapat saling berinteraksi
selama proses pembuatan system.
Dalam Model Prototype, prototype dari perangkat lunak yang dihasilkan kemudian
dipresentasikan kepada pelanggan, dan pelanggan tersebut diberikan kesempatan untuk
memberikan masukan sehingga perangkat lunak yang dihasilkan nantinya betul-betul sesuai
dengan keinginan dan kebutuhan pelanggan. Perubahan dan presentasi prototype dapat
dilakukan berkali-kali sampai dicapai kesepakatan bentuk dari perangkat lunak yang akan
dikembangkan.

Teknik – teknik Prototyping Meliputi :


 Perancangan Model
 Perancangan Dialog
 Simulasi

Berikut adalah 4 langkah yang menjadi karakteristik dalam proses pengembangan pada metode
prototype, yaitu :
 Pemilihan fungsi
 Penyusunan Sistem Informasi
 Evaluasi
 Penggunaan Selanjutnya

Metode ini menyajikan gambaran yang lengkap dari suatu sistem perangkat lunak, terdiri atas
model kertas, model kerja dan program. Pihak pengembang akan melakukan identifikasi
kebutuhan pemakai, menganalisa sistem dan melakukan studi kelayakan serta studi terhadap
kebutuhan pemakai, meliputi model interface, teknik prosedural dan teknologi yang akan
dimanfaatkan.
Berikut adalah Tahapan – tahapan Proses Pengembangan dalam Model Prototype, yaitu :
 Pengumpulan kebutuhan
Pelanggan dan pengembang bersama-sama mendefinisikan format seluruh perangkat lunak,
mengidentifikasikan semua kebutuhan, dan garis besar sistem yang akan dibuat.
 Membangun prototyping
Membangun prototyping dengan membuat perancangan sementara yang berfokus pada
penyajian kepada pelanggan (misalnya dengan membuat input dan format output).
 Evaluasi protoptyping
Evaluasi ini dilakukan oleh pelanggan, apakah prototyping yang sudah dibangun sudah sesuai
dengan keinginan pelanggan atau belum. Jika sudah sesuai, maka langkah selanjutnya akan
diambil. Namun jika tidak, prototyping direvisi dengan mengulang langkah-langkah sebelumnya.
 Mengkodekan sistem
Dalam tahap ini prototyping yang sudah di sepakati diterjemahkan ke dalam bahasa
pemrograman yang sesuai.
 Menguji sistem
Setelah sistem sudah menjadi suatu perangkat lunak yang siap pakai, kemudian dilakukan
proses Pengujian. Pengujian ini dilakukan dengan White Box, Black Box, Basis Path, pengujian
arsitektur, dll.
 Evaluasi Sistem
Pelanggan mengevaluasi apakah perangkat lunak yang sudah jadi sudah sesuai dengan yang
diharapkan . Jika ya, maka proses akan dilanjutkan ke tahap selanjutnya, namun jika perangkat
lunak yang sudah jadi tidak/belum sesuai dengan apa yang diharapkan, maka tahapan
sebelumnya akan diulang.
 Menggunakan sistem
Perangkat lunak yang telah diuji dan diterima pelanggan siap untuk digunakan.
Model Prototyping ini sangat sesuai diterapkan untuk kondisi yang beresiko tinggi di mana
masalah-masalah tidak terstruktur dengan baik, terdapat fluktuasi kebutuhan pemakai yang
berubah dari waktu ke waktu atau yang tidak terduga, bila interaksi dengan pemakai menjadi
syarat mutlak dan waktu yang tersedia sangat terbatas sehingga butuh penyelesaian yang
segera. Model ini juga dapat berjalan dengan maksimal pada situasi di mana sistem yang
diharapkan adalah yang inovatif dan mutakhir sementara tahap penggunaan sistemnya relatif
singkat.
Berikut merupakan Jenis – jenis dari Prototyping :
 Feasibility prototyping, digunakan untuk menguji kelayakan dari teknologi yang akan
digunakan untuk system informasi yang akan disusun.
 Requirement prototyping, digunakan untuk mengetahui kebutuhan aktivitas bisnis user.
 Desain Prototypingdigunakan untuk mendorong perancangan sistem informasi yang
akan digunakan.
 Implementation prototyping, merupakan lanjutan dari rancangan prototype, prototype ini
langsung disusun sebagai suatu sistem informasi yang akan digunakan.

Contoh Penerapan Metode Prototype.


Sebuah rumah sakit ingin membuat aplikasi sistem database untuk pendataan pasiennya.
Seorang atau sekelompok programmer akan melakukan identifikasi mengenai apa saja yang
dibutuhkan oleh pelanggan, dan bagaimana model kerja program tersebut. Kemudian dilakukan
rancangan program yang diujikan kepada pelanggan. Hasil/penilaian dari pelanggan dievaluasi,
dan analisis kebutuhan pemakai kembali di lakukan.
“apakakah perlu menggunakan prototype? Jawabannya adalah “YA”. Prototype perlu
digunakan untuk pembuatan suatu proyek, karena sering terjadinya seorang pelangganyang
hanya mendefinisikan secara umum apa yang dikehendakinya tanpa menyebutkan secara detal
output apa saja yang dibutuhkan, pemrosesan dan data-data apa saja yang dibutuhkan.
Sebaliknya disisi pengembang kurang memperhatikan efesiensi algoritma, kemampuan sistem
operasi dan interface yang menghubungkan manusia dan komputer. Untuk dapat mengatasi
ketidakserasian antara pelanggan dan pengembang itu , maka harus dibutuhakan suatu
prototype untuk menimbulkan kerjasama yang baik diantara keduanya, sehingga pengembang
akan mengetahui dengan benar apa yang diinginkan pelanggan dengan tidak
mengesampingkan segi-segi teknis dan pelanggan akan mengetahui proses-proses dalm
menyelasaikan system yang diinginkan. Dengan demikian akan menghasilkan sistem sesuai
dengan jadwal waktu penyelesaian yang telah ditentukan.
3. Model Rapid Application Development (RAD)
Rapid Aplication Development (RAD) adalah sebuah model proses perkembangan perangkat
lunak sekuensial linier yang menekankan siklus perkembangan yang sangat pendek (kira-kira
60 sampai 90 hari). Model RAD ini merupakan sebuah adaptasi “kecepatan tinggi” dari model
sekuensial linier dimana perkembangan cepat dicapai dengan menggunakan pendekatan
konstruksi berbasis komponen. Rapid application development (RAD) atau rapid prototyping
juga bisa disebutkan sebagai model proses pembangunan perangkat lunak yang tergolong
dalam teknik incremental (bertingkat). RAD menekankan pada siklus pembangunan pendek,
singkat, dan cepat. Waktu yang singkat adalah batasan yang penting untuk model ini. Rapid
application development menggunakan metode iteratif (berulang) dalam mengembangkan
sistem dimana working model (model kerja) sistem dikonstruksikan di awal tahap
pengembangan dengan tujuan menetapkan kebutuhan (requirement) pengguna. Model kerja
digunakan hanya sesekali saja sebagai basis desain dan implementasi sistem akhir.

Berikut adalah Tahapan – tahapan Proses Pengembangan dalam Model Rapid Application
Development (RAD), yaitu :

 Bussiness Modeling
Fase ini untuk mencari aliran informasi yang dapat menjawab pertanyaan berikut:
 Informasi apa yang menegndalikan proses bisnis?
 Informasi apa yang dimunculkan?
 Di mana informasi digunakan ?
 Siapa yang memprosenya ?
 Data Modeling
Aliran informasi yang didefinisikan sebagai bagian dari fase bussiness modeling disaring ke
dalam serangkaian objek data yang dibutuhkan untuk menopang bisnis tersebut. Karakteristik
(atribut) masing-masing objek diidentifikasi dan hubungan antar objek-objek tersebut
didefinisikan.

 Proses Modeling
Aliran informasi yang didefinisikan di dalam fase data modeling ditransformasikan untuk
mencapai aliran informasi yang perlu bagi implementasi sebuah fungsi bisnis. Gambaran
pemrosesan diciptakan untuk menambah, memodifikasi, menghapus, atau mendapatkan
kembali sebuah objek data.
 Aplication Generation
Selain menggunakan bahasa pemrograman generasi ketiga, RAD juga memakai komponen
program yang telah ada atau menciptakan komponen yang bisa dipakai lagi. Ala-alat bantu bisa
dipakai untuk memfasilitasi konstruksi perangkat lunak.
 Testing dan Turnover
Karena proses RAD menekankan pada pemakaian kembali, banyak komponen program telah
diuji. Hal ini mengurangi keseluruhan waktu pengujian. Tetapi komponen baru harus diuji dan
semua interface harus dilatih secara penuh.

Contoh penerapan model RAD

RAD sangat tepat diterapkan untuk sistem yang telah jelas dan lengkap kebutuhannya, di mana
terdapat komponen-komponen yang dapat dipakai kembali dalam proyek yang berskala kecil
dengan waktu pengembangan perangkat lunak yang singkat.

4. Model Iteratif

Mcrupakan model pengembangan sistem yang bersifat dinamis dalam artian setiap tahapan
proses pengembangan sistem dapat diulang jika terdapat kekurangan atau kesalahan. Setiap
tahapan pengembangan system dapat dikerjakan berupa ringkasan dan tidak lengkap, namun
pada akhir pengembangan akan didapatkan sistem yang lengkap pada pengembangan system.
Iterative Development berarti menciptakan versi yang Icbih fungsional dari sebuah system
dalam siklus pembangunan pendek. Setiap versi ditinjau dengan klicn untuk mcnghasilkan
persyaratan untuk membuat versi berikutnya. Proses ini diulang sampai semua fungsionalitas
telah dikembangkan. Panjang ideal iterasi adalah antara satu hari (yang Icbih dekat dengan
Metodologi Agile) dan tiga minggu.

 Customer communication
Aktivitas yang dibutuhkan untuk membangun komunikasi yang efektif antara developer
dengan user / customer terutama mengenai kebutuhan dari customer.
 Planning
Aktivitas pereneanaan ini dibutuhkan untuk mcnentukan sumberdaya, perkiraan vvaktu
pengeijaan, dan informasi lainnya yang dibutuhkan untuk pengembangan software.
 Analysis risk
Aktivitas analisis resiko ini dijalankan untuk menganalisis baik resiko seeara teknikal
maupun seeara manajerial. Tahap inilah yang mungkin tidak ada pada model proses
yangjuga menggunakan metode iterasi, tetapi hanya dilakukan pada spiral model.
 Construction & Release
Aktivitas yang dibutuhkan untuk develop software, testing, instalasi dan penyediaan
user/ costumer support seperti training penggunaan software serta dokumentasi seperti
buku manual penggunaan software.
 Customereva Iution
Aktivitas yang dibutuhkan untuk mendapatkan feedback dari user/ customer
berdasarkan evaluasi mereka selama representasi software pada tahap engineering
maupun pada implementasi selama instalasi software pada tahap construction and
release.
5. Model Spiral

Model spiral (spiral model) adalah model pengembangan software dimana proses
digambarkan sebagai spiral. Setiap loop akan mewakili satu fase dari proses
pembuatan/perancangan software. Loop paling dalam berfokus pada kelayakan dari sistem,
loop selanjutnya tentang definisi dari kebutuhan, loop berikutnya berkaitan dengan desain
sistem dan seterusnya, seperti gambar berikut:

Tahap-tahap model ini dapat dijelaskan secara ringkas sebagai berikut :


 Tahap Liason:pada tahap ini dibangun komunikasi yang baik dengan calon
pengguna/pemakai.
 Tahap Planning (perencanaan):pada tahap ini ditentukan sumber-sumber informasi,
batas waktu dan informasi-informasi yang dapat menjelaskan proyek.
 Tahap Analisis Resiko:mendefinisikan resiko, menentukan apa saja yang menjadi
resiko baik teknis maupun manajemen.
 Tahap Rekayasa (engineering):pembuatan prototipe.
 Tahap Konstruksi dan Pelepasan (release):pada tahap ini dilakukan pembangunan
perangkat lunak yang dimaksud, diuji, diinstal dan diberikan sokongan-sokongan
tambahan untuk keberhasilan proyek.
 Tahap Evaluasi:Pelanggan/pemakai/pengguna biasanya memberikan masukan
berdasarkan hasil yang didapat dari tahap engineering dan instalasi.
Contoh Studi Kasus :
Sidik jari (bahasa Inggris: fingerprint) adalah hasil reproduksi tapak jari baik yang sengaja
diambil, dicapkan dengan tinta, maupun bekas yang ditinggalkan pada benda karena pernah
tersentuh kulit telapak tangan atau kaki. Kulit telapak adalah kulit pada bagian telapak tangan
mulai dari pangkal pergelangan sampai kesemua ujung jari, dan kulit bagian dari telapak kaki
mulai dari tumit sampai ke ujung jari yang mana pada daerah tersebut terdapat garis halus
menonjol yang keluar satu sama lain yang dipisahkan oleh celah atau alur yang membentuk
struktur tertentu. Identifikasi sidik jari, dikenal dengan daktiloskopi adalah ilmu yang
mempelajari sidik jari untuk keperluan pengenalan kembali identitas orang dengan cara
mengamati garis yang terdapat pada guratan garis jari tangan dan telapak kaki. Daktiloskopi
berasal dari bahasa Yunani yaitu dact ylos yang berarti jari jemari atau garis jari, dan scopein
yang artinya mengamati atau meneliti. Kemudian dari pengertian itu timbul istilah dalam bahasa
Inggris, dactyloscopy yang kita kenal menjadi ilmu sidik jari. Fleksibilitas dari gelombang pada
kulit berarti tidak ada dua sidik jari atau telapak tangan yang sama persis pada setiap detailnya.
Pengenalan sidik jari melibatkan seorang pakar, atau sebuah sistem pakar komputer, yang
menentukan apakah dua sidik jari berasal dari jari.
Identifikasi berdasarkan sidik jari adalah daerah aktif penelitian di biometrik menerapkan
berbagai umum dan teknik kode domain-spesifik optimasi untuk secara efisien melaksanakan
tahap pendaftaran, yang mengambil sebagai masukan serangkaian gambar sidik jari dan
menghasilkan diadaptasi packet pohon dan template wavelet domain yang terkait. Itu kode
untuk identifikasi sebenarnya kemudian dihasilkan automati-Cally dari deskripsi matematika.
Algoritma identifikasi sidik jari kembali quires perhitungan matematika yang berat, sehinggasatu
al-gorithm bisa memiliki runtimes berbeda tergantung pada Implementasi algoritma. Algoritma
ini terdiri dari 2 tahap, tahap pelatihan dan tahap verifikasi. Namun penting untuk memiliki
efisien pelaksanaan tahap pelatihan untuk memungkinkan pengembang algoritma untuk
dengan cepat menjalankan dan menguji uji beda kasus. Tahap verifikasi dilakukan secara on-
line sehingga itu perlu secepat mungkin. Kualitas sidik jari sistemidentifikasi tidak hanya
tergantung pada keakuratan.

Anda mungkin juga menyukai