LAPORAN SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Menyelesaikan Program
Strata Satu (S1) pada Program Studi Sistem Informasi
PENERAPAN METODE K-MEANS CLUSTERING PADA
PEMETAAN SEBARAN KECANDUAN GADGET REMAJA DI
KECAMATAN SOBANG BERBASIS WEB
Disusun Oleh :
Nama : Taufik Hidayat
NIM : 511220015
Program Studi : Sistem Informasi
Jenjang : Strata Satu (S1)
FAKULTAS TEKNOLOGI DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MATHLA’UL ANWAR BANTEN
2025
I. JUDUL PROPOSAL
PENERAPAN METODE K-MEANS CLUSTERING PADA
PEMETAAN SEBARAN KECANDUAN GADGET REMAJA DI
KECAMATAN SOBANG BERBASIS WEB
II. LATAR BELAKANG
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era digital
telah membawa perubahan fundamental dalam setiap aspek kehidupan
manusia, ditandai dengan kemunculan berbagai perangkat canggih seperti
gadget (gawai). Gawai, khususnya telepon pintar (smartphone), telah
menjadi perangkat multifungsi yang tidak hanya digunakan untuk
komunikasi, tetapi juga sebagai sarana hiburan, akses informasi, dan media
sosial. Fenomena ini menyebabkan meningkatnya penggunaan internet dan
penggunaan gawai yang masif di seluruh lapisan masyarakat. Di Indonesia
sendiri, pertumbuhan pengguna internet menunjukkan tren yang signifikan
dari tahun ke tahun, di mana remaja merupakan salah satu kelompok
pengguna terbesar. Kemudahan akses dan fitur yang beragam menjadikan
gawai sebagai bagian tak terpisahkan dari gaya hidup generasi muda saat
ini.
Secara khusus, fenomena peningkatan penggunaan gawai sangat
terasa di kalangan remaja pada rentang usia 13-18 tahun. Pada fase ini,
remaja sedang dalam tahap pencarian identitas diri, memiliki rasa ingin tahu
yang tinggi, dan sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan sosialnya.
Gawai menjadi alat utama bagi mereka untuk terhubung dengan teman
sebaya, mengekspresikan diri, dan mengakses tren terbaru. Namun,
kemudahan akses ini seringkali tidak diimbangi dengan kontrol diri yang
memadai, sehingga memunculkan pola penggunaan yang berlebihan.
Kondisi ini menjadi perhatian khusus di wilayah seperti Kecamatan Sobang,
di mana penetrasi teknologi terjadi dengan cepat namun belum tentu diiringi
dengan literasi digital yang cukup. Ketersediaan infrastruktur seperti
menara telekomunikasi dan titik akses internet menjadi faktor pendorong
utama yang meningkatkan intensitas penggunaan gawai di kalangan remaja
setempat.
Penggunaan gawai yang berlebihan dan tidak terkontrol dapat
menimbulkan masalah serius yang dikenal sebagai kecanduan gadget.
Dampak negatif dari kecanduan ini mencakup aspek fisik, psikologis, dan
sosial. Seperti yang diungkapkan oleh (Rini Kusuma Mentari & Huriah
Titih, 2020), kecanduan gawai dapat menyebabkan berbagai masalah
kesehatan seperti obesitas akibat kurangnya aktivitas fisik, gangguan pola
tidur, serta masalah psikologis seperti depresi, kecemasan, dan menarik diri
dari lingkungan sosial. Dampaknya remaja menjadi apatis terhadap
lingkungan sekitar dan mengalami penurunan kualitas interaksi tatap muka
dengan keluarga dan teman. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat
menghambat perkembangan akademik dan sosial remaja, serta mengurangi
produktivitas generasi muda di suatu wilayah.
Beberapa penelitian sebelumnya telah memanfaatkan teknologi data
mining dan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk melakukan pemetaan
dan pengelompokan wilayah berdasarkan karakteristik tertentu. Misalnya,
(Pormes & Manongga, 2020) menggunakan algoritma K-Means untuk
mengelompokkan daerah-daerah penyuplai mahasiswa guna menentukan
strategi promosi yang efektif. Penelitian lain oleh (Sudianto & Sadali, 2018)
serta (Koko Mukti Wibowo, 2015) menunjukkan keberhasilan penerapan
SIG berbasis web untuk memetakan potensi kerajinan lokal dan lokasi
pertambangan, yang membantu dalam penyebaran informasi dan
pengambilan keputusan. Penelitian-penelitian tersebut membuktikan bahwa
metode K-Means efektif dalam melakukan clustering data wilayah, dan SIG
menjadi alat yang andal untuk memvisualisasikan data spasial secara
informatif dan interaktif.
Meskipun penelitian sebelumnya telah berhasil menerapkan K-Means dan
SIG untuk berbagai studi kasus, terdapat celah penelitian (research gap)
3
yang belum terisi, yaitu penggunaan metode ini untuk menganalisis potensi
risiko sosial berbasis karakteristik fasilitas wilayah. Penelitian yang ada
cenderung berfokus pada pemetaan potensi ekonomi atau demografis.
Penelitian ini mengajukan sebuah kebaruan dengan mengukur potensi
kecanduan gadget tidak melalui survei individu yang subjektif, melainkan
melalui analisis objektif terhadap ketersediaan infrastruktur digital sebagai
faktor pendorong dan fasilitas kegiatan alternatif (seperti sarana olahraga
dan ruang publik) sebagai faktor penghambat di setiap desa. Oleh karena
itu, penelitian ini bertujuan untuk menerapkan metode K-Means Clustering
untuk mengelompokkan desa-desa berdasarkan variabel fasilitas tersebut
dan membangun sebuah sistem berbasis web untuk menyajikan hasilnya
dalam bentuk peta sebaran. Dengan demikian, judul penelitian ini adalah
"Penerapan Metode K-Means Clustering pada Pemetaan Sebaran
Potensi Kecanduan Gadget Remaja di Kecamatan Sobang Berbasis
Web".
III. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan permasalahan
yang ada, diantaranya :
1. Bagaimana mengidentifikasi dan mengukur variabel fasilitas desa yang
dapat mempengaruhi potensi kecanduan gadget remaja di Kecamatan
Sobang?
2. Bagaimana menerapkan metode K-Means Clustering untuk
mengelompokkan desa-desa di Kecamatan Sobang ke dalam cluster
potensi tinggi, sedang, dan rendah berdasarkan fasilitas yang ada?
3. Bagaimana membangun sistem informasi geografis berbasis web untuk
memvisualisasikan hasil pemetaan sebaran potensi kecanduan gadget
remaja di Kecamatan Sobang secara informatif dan interaktif?
IV. TUJUAN SKRIPSI
1. Mengidentifikasi dan mengumpulkan data fasilitas desa yang menjadi
indikator pendorong dan penghambat potensi kecanduan gadget.
2. Menerapkan metode K-Means untuk menghasilkan 3 (tiga) cluster,
yaitu cluster potensi tinggi, sedang, dan rendah, pada desa-desa di
Kecamatan Sobang.
3. Membangun sebuah aplikasi berbasis web yang mampu menampilkan
peta sebaran hasil clustering untuk mempermudah pemantauan dan
analisis.
V. PEMBATASAN MASALAH
Untuk memudahkan pemecahan masalah perlu dilakukan pembatasan
masalah sehingga permasalahan menjadi lebih sederhana. Pembatasan
masalah tersebut meliputi :
1. Wilayah Penelitian: Penelitian ini hanya mencakup wilayah
administrasi desa-desa yang berada di Kecamatan Sobang.
2. Metode: Metode clustering yang digunakan untuk pengelompokan data
adalah algoritma K-Means.
3. Data: Data yang digunakan adalah data sekunder yang berkaitan dengan
fasilitas fisik desa dan infrastruktur, tidak menggunakan data primer
berupa survei atau kuesioner kepada individu remaja.
4. Populasi Target: Analisis potensi ditujukan pada kelompok remaja
dengan rentang usia 13-18 tahun.
5. Luaran Sistem: Produk akhir dari penelitian ini adalah sebuah sistem
informasi geografis (SIG) berbasis web, dan tidak dikembangkan untuk
platform lain seperti aplikasi mobile.
VI. MANFAAT SKRIPSI
1. Penelitian ini memberikan kontribusi metodologis dengan menerapkan
algoritma K-Means untuk analisis risiko sosial berdasarkan data fasilitas
kewilayahan, yang mana mengisi celah penelitian yang diidentifikasi di
5
latar belakang. Hasilnya dapat menjadi referensi akademis bagi
penelitian sejenis di bidang data mining dan analisis sosial-spasial.
2. Penelitian ini menghasilkan sistem pemetaan berbasis web yang
berfungsi sebagai alat bantu pengambilan keputusan (Decision Support
System). Peta sebaran potensi ini dapat digunakan untuk merumuskan
kebijakan yang lebih terarah, seperti memprioritaskan pembangunan
fasilitas olahraga atau program literasi digital di desa-desa yang
teridentifikasi dalam cluster potensi tinggi.
3. Memberikan informasi berbasis data yang objektif mengenai kondisi
lingkungan fasilitas di setiap desa. Informasi ini dapat meningkatkan
kesadaran publik dan menjadi dasar bagi orang tua, pendidik, serta
tokoh masyarakat untuk merancang dan mengadvokasi kegiatan
alternatif non-digital yang seimbang bagi remaja, sebagai solusi
preventif terhadap masalah yang diangkat.
VII. LANDASAN TEORI
Untuk mendukung pembuatan proposal ini, maka perlu
dikemukakan teori- teori yang berkaitan dengan permasalahan dan ruang
lingkup pembahasan sebagai landasan dalam pembuatan proposal. Penulis
membuat landasan teori menurut para ahli yang melatarbelakangi
penyusunan proposal ini.
A. Konsep Dasar Sistem
1. Pengertian Sistem
Sistem mengandung arti kumpulan-kumpulan dari komponen-
komponen yang dimiliki unsur keterkaitan antara satu dengan lainnya.
(Jeperson Hutahaean, 2015)
sistem diartikan sebagai sekumpulan objek yang bekerja bersama-
sama untuk menghasilkan kesatuan metode, prosedur atau teknik yang
digabungkan dan diatur sedemikian rupa sehingga menjadi satu
kesatuan yang berfungsi untuk mencapai tujuan. (Cookson & Stirk,
2019)
Dari berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa sistem
adalah sekumpulan komponen atau elemen yang saling terhubung,
berinteraksi, dan bekerja sama dalam satu kesatuan untuk memproses
masukan (input) menjadi keluaran (output) guna mencapai suatu tujuan
tertentu.
2. Karakteristik sistem
Suatu sistem mempunyai ciri-ciri karakteristik yang terdapat pada
sekumpulan elemen yang harus dipahami dalam mengidentifikasi
pembuatan sistem. Adapun karakteristik sistem menurut (Jeperson
Hutahaean, 2015) adalah sebagai berikut :
1) Konponen sistem (Components)
Komponen sistem Sistem terdiri dari sejumlah komponen yang
saling berinteraksi dan bekerja sama untuk membentuk satu kesatuan.
Komponen-komponen sistem tersebut dapat berupa subsistem
atau bagian-bagian dari sistem yang menjalankan suatu fungsi tertentu
dan mempengaruhi proses sistem secara keseluruhan.
7
2) Batasan Sistem (Boundary)
Daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem
lainnya atau dengan lingkungan luar dinamakan dengan batasan sistem.
Batasan sistem ini memungkinkan suatu sistem dipandang sebagai satu
kesatuan dan juga menunjukkan ruang lingkup (scope) dari sistem
tersebut
3) Lingkungan luar sistem (Environment)
Apapun yang berada di luar batas dari sistem dan mempengaruhi
sistem tersebut dinamakan dengan lingkungan luar sistem. Lingkungan
luar yang bersifat menguntungkan wajib dipelihara dan yang merugikan
harus dikendalikan agar tidak mengganggu kelangsungan sistem.
4) Penghubung sistem (Interface)
Media penghubung diperlukan untuk mengalirkan sumber-
sumber daya dari sub sistem ke sub sistem lainnya dinamakan dengan
penghubung sistem
5) Masukan sistem (Input)
Masukan sistem adalah energi yang dimasukkan ke dalam sistem
dinamakan dengan masukan sistem (input) dapat berupa perawatan dan
masukan sinyal. Perawatan ini berfungsi agar sistem dapat beroperasi
dan masukan sinyal adalah energi yang diproses untuk menghasilkan
keluaran (output).
6) Keluaran sistem (Output)
Hasil dari energi yang telah diolah dan diklasifikasikan menjadi
keluaran yang berguna dinamakan dengan keluaran sistem (output)
7) Pengolah sistem (Proses)
Untuk mengolah masukan menjadi keluaran diperlukan suatu
pengolah yang dinamakan dengan pengolah sistem.
8) Sasaran sistem (Objective)
Suatu sistem memiliki tujuan dan sasaran yang pasti. Hal ini
karena sasaran sangat berguna untuk menentukan masukan yang
dibutuhkan sistem dan keluran yang akan dihasilkan. Suatu sistem
berhasil bila mengenai sasaram atau tujuannya.
B. Kosep Dasar Data Dan Informasi
1. Pengertian Data
Data merupakan fondasi dasar dari informasi. Secara
konseptual, data adalah representasi fakta, kejadian, atau objek
mentah yang berasal dari observasi dunia nyata. Menurut Gordon B.
Davis (dalam Jeperson Hutahaean, 2015), data adalah bahan mentah
bagi informasi, yang dirumuskan sebagai kelompok lambang-
lambang tidak acak yang menunjukkan jumlah, tindakan, atau hal
lainnya. Pendit (dalam Ati et al., 2014), mendefinisikannya sebagai
hasil observasi langsung terhadap suatu kejadian, yang merupakan
perlambangan yang mewakili objek atau konsep dalam dunia nyata
dan dilengkapi dengan nilai tertentu. Definisi serupa juga
9
dikemukakan oleh Ralston dan Reilly (dalam Ati et al., 2014) yang
menyebut data sebagai fakta hasil observasi fenomena alam.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa data adalah
fakta-fakta mentah atau hasil observasi yang belum diolah, dapat
berupa angka, teks, simbol, atau gambar, dan belum memiliki makna
yang utuh bagi penerimanya.
2. Definisi Informasi
1) Pengertian Informasi
Informasi adalah hasil pengolahan data yang sudah memiliki
makna, nilai, dan kegunaan bagi penerimanya. (Jeperson
Hutahaean, 2015) menyatakan bahwa informasi adalah data
yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti
bagi penerimanya. Ia juga mengutip Gordon B. Davis yang
mendefinisikan informasi sebagai data yang telah diolah
menjadi suatu bentuk yang penting bagi si penerima dan
mempunyai nilai nyata atau yang dapat dirasakan dalam
keputusan-keputusan sekarang atau yang akan datang. Definisi
Gordon B. Davis ini juga dikutip oleh (Ati et al., 2014)
Oleh karena itu, informasi merupakan hasil dari pengolahan,
pengorganisasian, atau penstrukturan data yang memberikan
arti, nilai tambah, dan kegunaan bagi penerimanya, khususnya
untuk mendukung pemahaman atau pengambilan keputusan.
2) Kualitas Informasi
Kualitas suatu informasi tergantung dari tiga hal, yaitu
informasi harus akurat, tepat waktu, dan relevan.
Penjelasan tentang kualitas informasi tersebut dipaparkan di
bawah ini :
a. Akurat (Accurate) sebuah informasi dapat dikatakan akurat jika
informasi terebut tidak biasa atau menyesatkan, bebas dari
kesalahan – kesalahan dan harus jelas mencerminkan
maksudnya.
b. Tepat Waktu (Timelines) informasi yang terlambat tidak akan
mempunyai nilai yang baik, sehingga kalau digunakan sebagai
dasar dalam pengambilan keputusan dapat menimbulkan
kesalahan dalam tindakkan yang akan diambil kebutuhan akan
tepat waktunya sebuah informasi itulah yang pada akhirnya
akan menyebabkan mahalnya nilai suatu informasi.
c. Relevan (Relevance) relevan informasi bagi tiap – tiap orang
satu dengan yang lainnya berbeda. Misalnya hasil pengarsipan
surat diserahkan kepada wakil kepala sekolah bagian
kurikulum,tetapi akan sangat releven jika disampaikan pada staf
tata usaha bagian administrasi umum.
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan di atas dapat
ditarik kesimpulan bahwa kualitas informasi adalah suatu relevansi
11
dan kesediaan informasi yang sesuai dengan kebutuhan, waktu dan
ketersediaan
3) Nilai Informasi
Nilai informasi ditentukan dari 2 (dua) hal yaitu manfaat dan
biaya untuk mendapatkannya. Pengukuran nilai informasi biasanya
dihubungkan dengan analisis cost effectivess atau cost benefit.
Nilai informasi ini didasarkan atas 10 (sepuluh) sifat, yaitu :
1) Mudah diperoleh
Informasi mempunyai nilai yang lebih sempurna
apabila dapat diperoleh secara mudah. Informasi yang
penting dan sangat dibutuhkan menjadi tidak bernilai jika
sulit diperoleh. Informasi dapat diperoleh dengan mudah jika
memiliki suatu sistem.
2) Luas dan lengkap
Informasi mempunyai nilai yang lebih sempurna
apabila mempunyai lingkup atau cakupan yang luas dan
lengkap. Informasi sepotong dan tidak lengkap menjadi tidak
bernilai, Karena tidak dapat digunakan secara baik.
3) Ketelitian
Informasi akan lebih sempurna apabila mempunyai
ketelitian yang tinggi atau akurat. Informasi yang tidak
akurat akan mengakibatkan kesalahan pengambilan
keputusan.
4) Kecocokan
Informasi harus sesuai dengan kebutuhan informasi
pengguna, sehingga informasi itu memiliki nilai karena
bermanfaat.
5) Ketepatan waktu
Sifat ini berhubungan dengan waktu yang dilalui lebih
pendek dari pada siklus untuk mendapatkan informasi.
Informasi penting dan bernilai menjadi tidak bernilai apabila
terlambat diterima, karena tidak dapat dimanfaatkan dalam
proses pengambilan keputusan.
6) Kejelasan
Informasi yang jelas akan meningkatkan
kesempurnaan nilai informasi, kejelasan informasi
dipengharui oleh bentuk dan format informasi.
7) Keluwesan
Berkaitan dengan kegunaan informasi untuk berbagai
pengambilan keputusan. Makin banyak keputusan yang
diambil dari suatu informasi makin luwes informasi tersebut.
8) Dapat dibuktikan
Berkaitan dengan tepat tidaknya informasi itu diuji
kebenarannya oleh beberapa orang sehingga dapat
memperoleh kesimpulan yang sama. Kebenaran informasi
bergantung pada validitas data sumber yang diolah.
13
9) Tidak ada prasangka
Informasi semakin bernilai jika didalamnya tidak
dimasukkan unsur opini, sebab dengan memasukkan unsur
opini maka informasi bersifat bias.
10) Dapat diukur
Pengukuran informasi umumnya dimaksudkan untuk
mengukur dan melacak kembali validitas sumber data yang
digunakan.
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan di atas dapat ditarik
kesimpulan bahwa nilai informasi adalah sebuah informasi yang
mudah di peroleh, informassi jelas dan dapat dibuktikan
C. Data Mining