(JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang
Vol. 19, No. 2, Desember 2024, e ISSN 2654-3427
DOI: [Link]
HUBUNGAN RIWAYAT PEMBERIAN ASI, MP-ASI, DAN ASUPAN ENERGI,
ZAT GIZI MAKRO DENGAN KEJADIAN STUNTING BAYI USIA 6 -24 BULAN
THE RELATIONSHIP BETWEEN BREASTFEEDING HISTORY, MP-ASI, AND
INTAKE OF ENERGY, MACRONUTRIENTS WITH THE INCIDENCE OF
STUNTING IN INFANTS AGED 6-24 MONTHS
Info Artikel Diterima:21 Oktober 2024 Direvisi:18 November 2024 Disetujui: 26 Desember 2024
Khoirunnisa Devinta Hapsari*1, Sa’diah Multi Karina2
1,2
Poltekkes Kemenkes Jakarta II, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta, Indonesia
(E-mail penulis korespodensi: khoir.08devinta@[Link])
ABSTRAK
Latar Belakang: MP-ASI merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi bayi/balita, MP-
ASI pada dasarnya merupakan makanan seperti orang dewasa yang dilumatkan agar bisa dicerna dengan
baik oleh bayi. Faktor yang mempengaruhi tindakan ibu dalam pemberian MP-ASI yaitu pengetahuan,
usia, pendidikan dan paritas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan riwayat pemberian
ASI, MP-ASI dan asupan energi, zat gizi makro dengan kejadian stunting bayi usia 6 – 24 bulan di
kelurahan Jatimakmur kota Bekasi.
Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Sampel pada
penelitian ini yaitu 40 orang ibu yang memiliki bayi usia 6 – 24 bulan di kelurhan Jatimakmur kota
Bekasi. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square.
Hasil: Hasil penelitian menunjukan tidak ada hubungan pengetahuan ibu dengan pemberian ASI dan
MP-ASI (p=0,521) (p=1,0), tidak ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI dan MP-ASI
(p=0,499) (p=1,0), tidak ada hubungan antatra pendidikan ibu dengan pemberian ASI dan MP-ASI
(p=0,171) (p=1,0), tidak ada hubungan antara paritas ibu dengan pemberian ASI dan MP-ASI (p=0,332)
(p=1,0), tidak ada hubungan antara asupan energi dan zat gizi makro dengan kejadian stunting, energi
(p=1,0), protein (p=1,0), lemak (p=0,514) dan karbohidrat (p=1,0).
Kata Kunci : MP-ASI, Karakteristik Ibu, Asupan Zat Gizi Makro
ABSTRACT
Background: Complementary feeding is one of the factors that affect the nutritional status of
infants/toddlers, complementary feeding is basically adult-like food that is pulverized so that it can be
digested properly by babies. Factors that influence mothers' actions in providing complementary foods
are knowledge, age, education and parity. This study aims to determine the relationship between
breastfeeding history, complementary feeding and energy intake, macronutrients with the incidence of
stunting in infants aged 6-24 months in Jatimakmur urban village, Bekasi city.
Method: This type of research is descriptive analytic with a Cross Sectional approach. The sample in
this study were 40 mothers who had babies aged 6-24 months in Jatimakmur village, Bekasi city. Data
analysis was performed with the Chi-Square test.
Result: The results showed no relationship between maternal knowledge and breastfeeding and
complementary feeding (p=0.521) (p=1.0), no relationship between maternal age and breastfeeding
and complementary feeding (p=0.499) (p=1.0), no relationship between maternal education and
breastfeeding and complementary feeding (p=0, 171) (p=1.0), there is no relationship between
maternal parity with breastfeeding and complementary feeding (p=0.332) (p=1.0), there is no
relationship between energy intake and macronutrients with the incidence of stunting, energy (p=1.0),
protein (p=1.0), fat (p=0.514) and carbohydrates (p=1.0).
Keywords: MP-ASI, Maternal Characteristics, Macronutrient Intake
220
(JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang
Vol. 19, No. 2, Desember 2024, e ISSN 2654-3427
DOI: [Link]
PENDAHULUAN menunjukkan hasil dimana usia balita ketika
pertama kali mendapat MP-ASI memiliki
Masalah gizi pada dasarnya adalah hubungan signifikan dengan status stunting
masalah kesehatan masyarakat, di Indonesia saat balita di daerah kerja Puskesmas Maron. Dalam
ini memiliki tiga masalah gizi atau triple burden hal ini tidak hanya pemberian ASI dan MP-ASI
yaitu stunting, wasting, dan obesitas yang saja yang mempengaruhi kejadian stunting
memerlukan penanganan yang serius. namun kondisi ibu seperti usia, tingkat
Berdasarkan survei status gizi Indonesia (SSGI) pendidikan, paritas, dan pengetahun ibu juga
pada tahun 2022 didapatkan bahwa kejadian dapat mempengaruhi kejadian stunting pada
stunting ada sebesar 21,6%, wasting 7,7% dan anak. Hal ini sudah sejalan dengan penelitian
overweight 3,5% (1). Permasalahan ini masih yang dilakukan oleh Husnaniyah Dedeh dkk,
juga terdapat di wilayah yang dekat dengan 2020 dengan hasil analisis dengan menggunakan
Ibukota negara seperti di wilayah Kota Bekasi chi- square diperoleh nilai p value = 0,005 < 0,05
dengan prevalensi status gizi menurut Survei maka dapat di simpulkan bahwa ada hubungan
Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 di anatara pendidikan ibu dengan kejadian stunting
peroleh hasil, ada 6% stunting, wasting 5,6%, (4). Tidak hanya pengetahuan ibu saja yang
dan overweight 4,9% (1). Dengan melihat data memiliki hubungan yang signifikan,
status gizi kota Bekasi, maka perlu untuk berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
dilakukan edukasi terhadap pola asuh anak Fitriani dkk, 2021 menyatkan bahwa paritas ibu
seperti pemberian ASI Eksklusif dan Makanan memiliki hubungan yang signifikan dengan
Pendamping ASI (MP-ASI) yang baik, sehingga kejadian stunting pada anak dari 67 ibu
bisa meningkatkan status gizi anak di Kota didapatkan hasil 0,002 < 0,05 yang mana
Bekasi. Hal utama pemenuhan asupan gizi pada menyatakan memang ada hubungan yang
bayi/balita sebelum pemberian MP-ASI yaitu signifikan (5).
dengan pemberian ASI Eksklusif, dimana
pemberian ASI Eksklusif bisa menurunkan
METODE PENELITIAN
resiko terkena alergi pada bayi dan
meningkatkan aktivitas sel untuk melawan Penelitian ini dilakukan di wilayah
infeksi. Namun pada kenyataannya cakupan Puskesmas dengan pengambilan data
pemberian ASI Eksklusif di kota Bekasi hanya dilakukan di 4 Posyandu dengan pertimbangan
sebesar 47%. Berdasarkan profil kota Bekasi terdapat anak dengan status gizi pendek usia 6-
tahun 2020 dan didapatkan cakupan pemberian 24 bulan. Penelitian dilakukan ada bulan Mei
ASI Eksklusif ter-rendah pada Puskesmas 2024 dengan jumlah responden yaitu 40 orang
Jatimakmur sebesar 16,1% (2). Hal ini dengan metode pengambilan menggunakan
menunjukan bahwa masyarakat belum aktif purposive sampling. Jenis penelitian ini yaitu
dalam praktik pemberian ASI Eksklusif pada deskriptif analitik dengan design cross
bayi. Selain pemberian ASI Eksklusif sectional. Penelitian dimulai dari dilakukannya
terpenuhinya asupan gizi yang optimal bagi perizinan penelitian, pelaksanaan penelitian
bayi/balita akan lebih baik didapatkan dari yang dimulai dari penjelasan penelitian kepada
pemberian Makanan Tambahan Pendamping responden, pengisian informed consent,
ASI (MP-ASI). MP-ASI merupakan salah satu pengambilan data primer dan sekunder,
faktor yang mempengaruhi status gizi pengolahan data, analisa dan pembahasan.
bayi/balita, MP- ASI pada dasarnya merupakan
makanan seperti orang dewasa yang dilumatkan
agar bisa dicerna dengan baik oleh Bayi. MP-
ASI yang diberikan terlambat dapat
mengakibatkan bayi mengalami kekurangan
gizi, karena tidak menerima cukup zat gizi (3)
MP-ASI sendiri merupakan makanan dan
minuman selain dari ASI yang mengandung zat
gizi. Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Hadibah Hanum pada tahun
2019 yang menyatakan bahwa pemberian MP-
ASI dengan peristiwa stunting pada balita
221
(JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang
Vol. 19, No. 2, Desember 2024, e ISSN 2654-3427
DOI: [Link]
HASIL Tabel 2. menunjukan bahwa hasil
persentase responden dengan kategori
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik pengetahuan baik yaitu 65,0% dan persentase
Responden (n = 40) responden dengan kategori pengetahuan cukup
yaitu 35,0%. Hal ini menunjukan bahwa
Karakteristik N %
Usia
pengetahuan responden terkait MP-ASI bayi 6
Beresiko (>20 atau <39 tahun) 2 5,00 – 24 bulan sebagian besar baik. Tanpa adanya
Tidak Berisiko (21 – 39 tahun) 38 95,00 pengetahun ibu yang baik terkait MP-ASI, ibu
Pendidikan tidak dapat memberikan pengasuhan yang
Pendidikan Dasar (SD – SMP) 13 32,50 tepat pada anak yang dapat menyebabkan anak
Pendidikan Menengah (SMA/SMK) 23 57,50
Pendidikan Tinggi 4 10,00 berisiko mengalami masalah gizi dikarenakan
Paritas kurangnya asupan gizi pada anak (6).
Baik ≤ 2 kali 24 60,00 Sedangakan persentase kategori pemberian
Kurang Baik ≥ 3 kali 16 40,00 ASI Eksklusif yaitu 57,5% dan persentase
responden dengan kategori Tidak ASI
Hasil menunjukan bahwa mayoritas Eksklusif yaitu 42,5%. Hal ini menunjukan
responden merupakan kelompok usia 21 – 39 bahwa pemberian ASI eksklusif dan Tidak ASI
tahun, yaitu 95,00%. Untuk tingkat pendidikan Eksklusif tidak berbeda jauh persentasenya ini
responden, mayoritas didapatkan tingkat dikarenakan ibu merasa ASI belum cukup
pendidikan menegah 57,50%. dan untuk memenuhi asupan anak sehingga ibu
paritas ibu, didapat bahwa sebagian besar mencampur dengan pemberian sufor dan mulai
merupakan paritas baik yaitu 60,00% dan memberikan makanan lumat di usia anak 5
sisanya yaitu dengan paritas kurang baik bulan. Dan persentase responden dengan
sebanyak 40,00%. Menurut Dumilah (2019) jika kategori pemberian MP-ASI tepat yaitu 2,5%
seorang ingin hamil di usia kurang dari 20 tahun dan persentase responden dengan kategori
hal tersebut dapat menimbulkan resiko bagi ibu pemberian MP-ASI tidak tepat yaitu 97,5%.
yakni reproduksi yang dimiliki belum cukup Pada kenyataannya tindakan pemberian MP-
matang sehingga belum dapat bekerja dengan ASI tidak tepat karena tindaknan pemberian
baik. Pendidikan ibu adalah jenjang pendidikan MP-ASI tidak sesuai dengan yang ditetapkan
formal terakhir yang dilakukan oleh ibu, pada penelitian yakni harus tepat usia, tekstur,
pendidikan yang tinggi dapat meningkatkan jumlah dan frekuensi. Sehingga pada
kemampuan dalam menerima informasi, pengaplikasiannya hanya didapatkan satu
meningkatkan keterampilan, serta dapat orang responden yang sudah tepat secara
memberikan pengasuhan yang positif pada anak keseluruhan. Selanjutnya persentase responden
(6). dengan kategori pola asuh baik yaitu 2,5%,
persensate responden dengan kategori cukup
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan, baik yaitu 55,0% dan persentase responden
Pemberian ASI, Tindakan Pemberian MP-ASI,
Tindakan Pola Asuh dengan kategori tidak baik yaitu 42,5%. Hal ini
menunjukan bahwa masyarakat wilayah
Karekteristik N % tersebut masih memerlukan intervensi kembali
Pengetahaun terkait pola asuh yang baik yakni pemberian
Baik 26 65,0 ASI Eksklusif dan MP-ASI yang tepat agar
Cukup 14 35,0
Pemberian ASI Eksklusif
terciptanya generasi emas yang akan datang.
Iya 26 57,5
Tidak 14 42,5
Tindakan N
Iya 23 57,5
Tidak 17 42,5
Tindakan Pola Asuh
Baik 1 2,5
Cukup Baik 22 55,0
Tidak Baik 17 42,5
222
(JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang
Vol. 19, No. 2, Desember 2024, e ISSN 2654-3427
DOI: [Link]
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Asupan Zat Gizi persentase responden dengan kategori energi
(n=40) kurang yaitu 57,5%, persentase responden
Asupan Zat Gizi N % dengan energi cukup yaitu 22,5% dan
Energi persentase responden dengan energi lebih yaitu
Kurang < 80 % 23 57,5 20,0%. Persentase responden dengan kategori
Cukup 80 – 110 % 9 22,5 protein kurang yaitu 90,0% dan persentase
Lebih > 110 % 8 20,0 responden dengan kategori protein cukup yaitu
Protein
Kurang < 80 % 36 10,0%. persentase responden dengan kategori
90,0 lemak kurang yaitu 50,0%, persentase
Cukup 80 – 110 % 4 responden dengan lemak cukup yaitu 20,0%
10,0 dan persentase responden dengan lemak lebih
Lemak yaitu 30,0%. persentase responden dengan
Kurang < 80 % 20 50,0
Cukup 80 – 110 % 8 20,0 kategori karbohidrat kurang yaitu 60,0%,
Lebih > 110 % 12 30,0 persentase responden dengan karbohidrat
Karbohidrat cukup yaitu 17,5% dan persentase responden
Kurang < 80 % 24 60,0 dengan karbohidarat lebih yaitu 22,5%.
Cukup 80 – 110 % 7 17,5
Lebih > 110 % 9 22,5
Tabel 3. menunjukan bahwa hasil
PEMBAHASAN Berdasarkan penelitian terdahulu yang
dilakukan oleh Isti Khomah dkk (2022) yang
Berdasarkan hasil didapatkan persentase menyatakan bahwa pengetahuan ibu dan
pengetahuan ibu yang baik dengan pemberian pemberian MP-ASI memiliki hubungan yang
MP-ASI yang tidak tepat ada sebesar (64,1%) signifikan (9). Pengetahuan ibu yang baik
atau 26 responden dan untuk persentase belum tentu akan memberikan MP-ASI yang
pengetahuan ibu cukup dengan tindakan tepat hal ini bisa dikarenakan pengaruh sosial
pemberian MP-ASI tidak tepat ada sebesar dan ekonomi ibu yang mana ibu sudah
(35,9%) atau 14 responden. Berdasarkan hasil memiliki pengetahuan yang baik terkait MP-
uji Fisher Exact di dapatkan p -value sebesar ASI dari informasi yang dijelaskan oleh ahli
1,0 (p > 0,05). Maka, dapat disimpulkan bahwa gizi saat ke posyandu namun pada
Pengetahuan ibu terkait MP-ASI dengan pelaksanaan pemberian MP-ASI ibu hanya
pemberian MP-ASI tidak ada hubungan yang dapat memberikan seadanya saja.
signifikan.
Berdasarkan hasil didapatkan persentase sehingga membuktikan membuktikan bahwa
umur ibu berisiko dengan pemberian ASI 6 adanya hubungan antara umur ibu dengan
bulan hanya (8,7%) atau 2 responden dan untuk pemberian ASI eksklusif namun pada
persentase umur ibu tidak berisiko dengan kenyataanya pada saat penelitian ini belum
tindakan pemberian ASI 6 bulan ada sebesar tentu ibu yang memiliki umur tidak berisiko
(91,3%) atau 21 responden. Berdasarkan hasil dapat memberikan ASI Eksklusif secara tepat
uji Fisher Exact di dapatkan p-value sebesar pada balita (10).
0,499 (p > 0,05). Maka, dapat disimpulkan Berdasarkan hasil didapatkan persentase
bahwa umur ibu dengan pemberian ASI tidak pendidikan ibu menengah dan tinggi dengan
ada hubungan yang signifikan. pemberian ASI 6 bulan ada sebesar (78,3%) dan
Berdasarkan penelitian terdahulu yang untuk pemberian ASI tidak tepat paling banyak
dilakukan oleh atika kuria dkk (2022) yang ada di pendidikan ibu menengah dan tinggi
mana menyatakan bahwa adanya hubungan sebanyak 9 responden (52,9%). Berdasarkan
yang signifikan antara umur ibu dengan hasil uji Fisher Exact di dapatkan p -value
pemberian ASI eksklusif. Berdasarkan teori hal sebesar 0,171 (p > 0,05). Maka, dapat
ini bisa disebabkan karena usia yang tepat disimpulkan bahwa pendidikan ibu tidak
sangat mendukung pemberian ASI eksklusif, mempengaruhi pemberian ASI pada baduta.
sendangkan usia < 20 tahun dianggap masih Selaras dengan penelitian sebelumnya
belum mampu secara fisik, mental dan yang dilakukan oleh Pitaloka dkk (2018) hal ini
psikologi dalam menghadapi mempunyai anak menunjukan bahwa Pendidikan ibu tidak
223
(JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang
Vol. 19, No. 2, Desember 2024, e ISSN 2654-3427
DOI: [Link]
berhubungam dengan pemberian ASI eksklusif sangat berpengaruh terhadap penerimaan
pada baduta 6 – 24 bulan denngan nilai p = seseorang terhadap pengetahuan, semakin
0,233 (p > 0,05). Seharusnya semakin tinggi banyak pengalaman seorang ibu maka
pendidikan ibu maka semakin mudah ibu penerimaan akan pengetahuan akan semakin
mengakses informasi sehingga semakin tinggi mudah. Dimana sesuatau yang dialami
juga pengetahuan ibu (7). seseorang akan menambah pengetahuan yang
Berdasarkan hasil di dapatkan hasil didapat namun pada penelitian ini jumlah ibu
dengan pemberian MP-ASI tepat memiliki yang memiliki paritas baik dan kurang baik
proporsi lebih besar pada Pendidikan ibu memiliki persentase yang hampir sama
menengah dan tinggi (100,0%) atau 1 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak selalu
responden, dan untuk pemberian MP-ASI pengalaman ibu dapat mengubah perilaku ibu
kurang tepat memiliki proporsi lebih besar pada (13).
pendidikan ibu menengah dan tinggi (66,7%) Berdasarkan hasil didapatkan persentase
atau 26 responden. Berdasarkan hasil uji chi- paritas ibu baik dengan pemberian MP-ASI
square di dapatkan p -value sebesar 1,0 (p > tidak tepat hanya (59,0%) atau 23 responden
0,05). Maka, dapat disimpulkan bahwa dan untuk persentase paritas ibu kurang baik
Pendidikan ibu tidak mempengaruhi pemberian dengan proporsi lebih tinggi pada tidak tepat
MP-ASI pada baduta. pemberian MP-ASI hanya (41,0%) atau 16
Tidak selaras dengan penelitian responden. Berdasarkan hasil uji Fisher Exact
sebelumnya yang dilakukan oleh Dewi di dapatkan p -value sebesar 1,0 (p > 0,05).
Marfuah dkk (2017) hal ini menunnjukan Maka, dapat disimpulkan bahwa paritas ibu
bahwa adanya hubunngan antara Pendidikan tidak mempengaruhi pemberian MP-ASI pada
ibu dengan pemberian MP-ASI pada anak baduta, sehingga Ho diterima dan Ha ditolak.
dengan nilai p = 0,007 (p > 0,05) (12). Berdasarkan penelitian terdahulu yang
Pendidikan membantu seseorang untuk dilakukan oleh rosy (2017) yang menyatakan
mendapatkan informasi tentang pertumbuhan bahwa terdapat hubungan antara paritas ibu
dan perkembangan bayi, contohnya pemberian dengan pemberian MP-ASI pada baduta dengan
MP-ASI diusia bayi 6 – 24 bulan proses nilai p = 0,02 (p > 0,05) menyatakan bahwa Ho
pencarian dan penerimaan informasi akan lebih ditolak dan Ha diterima sehingga dapat
cepat jika ibu ber pendidikan tinggi. Namun, disimpulkan adaya hubungan. Menurut peneliti
belum tentu ibu denngan pendidikan rendah tidak signifikannya hubungan antara paritas
tidak memberikan MP-ASI tepat waktu kepada dengan pemberian MP-ASI karena belum tentu
bayinya karena meskipun pendidikan ibu pengalaman ibu dapat mengubah perilaku ibu
rendah, jika ibu tersebut rajin mendengarkan dalam pemberian MP-ASI pada anak (14).
atau melihat informasi mengenai MP-ASI, Berdasarkan hasil diatas, menunjukan
tidak mustahil pengetahun mereka akan lebih bahwa asupan energi kurang memiliki proporsi
baik. lebih besar dengann kejadian stunting yakni
Berdasarkan hasil didapatkan persentase sebesar (60,0%) atau sebanyak 9 responden dan
paritas ibu baik dengan pemberian ASI iya 6 asupan energi kurang juga memiliki proporsi
bulan hanya (52,2%) atau 12 responden dan lebih besar pada status gizi normal yakni
untuk persentase paritas ibu kurang baik (56,0%) atau sebanyak 14 responden.
dengan proporsi lebih tinggi pada iya Berdasarkan hasil uji chi-square di dapatkan p-
pemberian 6 bulan ASI hanya (47,8%) atau 11 value sebesar 1,0 (p > 0,05). Maka, dapat
responden. Berdasarkan hasil uji Fisher Exact disimpulkan bahwa asupan energi tidak
di dapatkan p -value sebesar 0,332 (p > 0,05). mempengaruhi kejadian stunting pada balita.
Maka, dapat disimpulkan bahwa paritas ibu Berdasarkan penelitian terdahulu yang
tidak mempengaruhi pemberian ASI pada dilakukan oleh Dini dkk (2020), yang
baduta. menyatakan bahwa ada hubungan yang
Berdasarkan penelitian terdahulu yang signifikan antara pemberian energi yang kurang
dilakukan oleh Riza dkk (2023) yang mana dengan angka kejadian stunting di jawa tengah
menyatakan bahwa ada hubungan antara paritas dengan nilai p = 0,030 (p > 0,05) menyatakan
ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada bahwa Ho ditolak dan Ha diterima sehingga
baduta dengan nilai p = 0,035 (p > 0,05). Paritas dapat disimpulkan adaya hubungan antara
224
(JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang
Vol. 19, No. 2, Desember 2024, e ISSN 2654-3427
DOI: [Link]
pemberian energi yang kurang dengan kejadian Berdasarkan hasil uji fisher exact di dapatkan p
stunting (15). -value sebesar 1,0 (p > 0,05). Maka, dapat
Energi menjadi salah satu faktor dalam disimpulkan bahwa asupan protein tidak
pertumbuhan, jika balita kekurangan energi mempengaruhi kejadian stunting pada balita.
dalam jangka waktu yang lama maka akan Berdasarkan penelitian terdahulu yang
mengakibatkan terjadinya (KEK) kerurangan dilakukan oleh Yesi dkk (2019), yang
energi kronik sehingga mengakibatkan menyatakan bahwa ada hubungan yang
terjadinya pertumbuhan liner tergangu yang signifikan antara pemberian protein yang
mengakibatkan stunting. Menurut peneliti hal kurang dengan angka kejadian stunting di desa
yang menyebabkan penelitian ini tidak mataran kabupaten lampung dengan nilai p =
signifikan yakni dikarenakan asupan energi 0,00 (p > 0,05) menyatakan bahwa Ho ditolak
yang kurang disebabkan anak sudah mengenal dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan
makanan yang mengandung rasa yang enak adaya hubungan antara pemberian protein yang
sehingga untuk konsumsi seperti sayur atau kurang dengan kejadian stunting (16).
ayam nafsu makan anak menurun. Protein berfungsi untuk membentuk
Berdasarkan hasil menunjukan bahwa jaringan baru pada masa pertumbuhan dan
asupan protein kurang memiliki proporsi lebih perkembangan tubuh, memperbaiki dan
besar dengann kejadian stunting yakni sebesar mengganti jaringan yang rusak. Anak yang
(93,3%) atau sebanyak 14 responden dan kekurangan protein dalam jangka waktu yang
asupan protein kurang juga memiliki proporsi lama meskipun asupan energinya tercukupi
lebih besar pada status gizi normal yakni namun pertumbuhan tinggi badannya akan
(88,0%) atau sebanyak 22 responden. tetap terhambat (16).
Berdasarkan hasil menunjukan bahwa makanan yang mengandung rasa yang enak
anak stunting memiliki proporsi lebih besar sehingga untuk konsumsi seperti sayur atau
pada asupan lemak cukup dan lebih (60,0%) ayam nafsu makan anak menurun.
dan anak normal memiliki proporsi lebih besar Berdasarkan hasil menunjukan bahwa
pada asupan protein kurang (56,0%). anak stunting memiliki proporsi lebih besar
Berdasarkan hasil uji chi-square di dapatkan p- pada asupan karbohidrat kurang (60,0%) atau
value sebesar 0,514 (p > 0,05). Maka, dapat sebanayk 9 responden dan anak normal
disimpulkan bahwa asupan lemak tidak memiliki proporsi lebih besar pada asupan
mempengaruhi kejadian stunting pada balita. karbohidrat kurang (60,0%) atau sebanyak 15
Berdasarkan penelitian terdahulu yang responden. Berdasarkan hasil uji chi-square di
dilakukan oleh Adriana dkk (2022), yang dapatkan p -value sebesar 1,0 (p > 0,05). Maka,
menyatakan bahwa ada hubungan yang dapat disimpulkan bahwa asupan karbohidrat
signifikan antara pemberian lemak yang kurang tidak mempengaruhi kejadian stunting pada
dengan angka kejadian stunting di wilayah balita.
kerja puskesmas radamata dengan nilai p = 0,00 Selaras dengan penelitian sebelumnya
(p > 0,05) menyatakan bahwa Ho ditolak dan yang dilakukan oleh Hasanah dkk (2022), yang
Ha diterima sehingga dapat disimpulkan adaya menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang
hubungan antara pemberian lemak yang kurang signifikan antara pemberian karbohidrat yang
dengan kejadian stunting (17). kurang dengan angka kejadian stunting di kota
Asupan lemak yang berasal dari surabaya dengan nilai p = 0,150 (p > 0,05)
makanan apabila kurang maka akan berdampak menyatakan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak
pada kurangnya asupan kalori atau energi untuk sehingga dapat disimpulkan tidak adaya
proses metabolisme tubuh, asupan lemak yang hubungan antara pemberian karbohidrat yang
rendah diikuti dengan berkurangnya energi di kurang dengan kejadian stunting (18).
dalam tubuh akan menyebabkan perubahan Kekurangan karbohidrat pada tubuh dapat
pada masa dan jaringan tubuh serta gangguan menyebabkan kekurangan energi dan gangguan
penyerapan vitamin yang larut dalam lemak. konsentrasi. Ketika tubuh tidak mendapatkan
Menurut peneliti hal yang menyebabkan cukup karbohidrat yang merupakan sumber
penelitian ini tidak signifikan yakni utama energi, maka proses metabolisme dalam
dikarenakan kurangnya komsumsi makan anak tubuh akan terganggu akibatnya tubuh tidak
yang disebabkan anak sudah mengenal dapat berfungsi dengan optimal sehingga ini
225
(JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang
Vol. 19, No. 2, Desember 2024, e ISSN 2654-3427
DOI: [Link]
dapat mempengaruhi kesehatan secara DAFTAR PUSTAKA
keseluruhan.
1. PMK RI No 28 Tahun 2019.
KESIMPULAN DAN SARAN 2. Profil Kesehatan Kota Bekasi 2020.
3. Hadibah Hanum N. Hubungan Tinggi
Berdasarkan hasil penelitian yang Badan Ibu dan Riwayat Pemberian MP-
dilakukan di wilayah kerja puskesmas ASI dengan Kejadian Stunting pada
Jatimakur Kota Bekasi tentang hubungan Balita Usia 24-59 Bulan. 2019;78–84.
riwayat pemberian ASI, MP-ASI, dan asupan 4. Husnaniyah D, Yulyanti D, STIKes
energi, zat gizi makro dengan Kejadian Indramayu R, Wirapati Sindang -
Stunting Bayi Usia 6 – 24 Bulan di Kelurahan Indramayu J, Indramayu K, Barat J.
Jatimakmur Kota Bekasi, dari 40 ibu baduta Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu
yang menjadi responden sebagian besar 95,0% dengan Kejadian Stunting. Vol. 12, The
berusia 21 – 39 tahun, sebesar 57,5% ibu Indonesian Journal of Health Science.
memiliki Pendidikan menengah SMA/SMK, 2020.
sebesar 60,0% ibu memiliki paritas baik, 5. Fitriani L, Ofan H. Umur dan Paritas
sebesar 65,0% ibu memiliki pengetahuan baik, Berhubungan dengan Stunting pada
sebesar 57,5% ibu tepat dalam pemberian ASI Anak 0-59 Bulan. Jurnal Kesehatan
eksklusif, sebesar 97,5% ibu kurang tepat Masyarkat. 2021;07:148–52.
dalam Tindakan pemberian MP-ASI, sebesar
6. Amirah AN, Rifqi MA. Karakteristik,
55,0% ibu cukup baik dalam Tindakan pola
Pengetahuan Gizi Ibu dan Status Gizi
asuh yang meliputi pemberian ASI eksklusif
Balita (BB/TB) Usia 6-59 Bulan. Amerta
dan MP-ASI, sebesar 72,5% ibu tepat dalam
Nutrition. 2019;189–93.
pemberian MP-ASI pertama kali, sebesar
7. Ayu Pitaloka D, Abrory R, Deni Pramita
90,0% ibu kurang tepat dalam frekuensi
A. Hubungan antara Pengetahuan dan
pemberian MP-ASI, sebesar 60,0% ibu kurang
Pendidikan Ibu dengan Pemberian ASI
tepat dalam jumlah pemberian MP-ASI,
Eksklusif di Desa Kedungrejo
sebesar 70,0% ibu sudah tepat dalam tekstur
Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo.
pemberian MP-ASI, sebesar 57,5% asupan
2018;27–35.
energi pada anak kurang, sebesar 90,0%
asupan protein pada anak kurang, sebesar 8. Hasanah WR, Husada D, Yunitasari E.
50,0% asupan lemak pada anak kurang, dan Correlation Between Mother’s
sebesar 60,0% asupan karbohidrat pada anak Knowledge and Attitude Towards
kurang. Hasil analisis didapatkan bahwa tidak Exclusive Breastfeeding in Kediri.
ada variabel yang berhubungan yaitu Indonesian Midwifery and Health
pengetahuan ibu dengan pemberian ASI dan Sciences Journal. 2022 Mar 13;6(1):28–
MP-ASI, umur ibu dengan pemberian ASI dan 36.
MP-ASI, Pendidikan ibu dengan pemberian 9. Khomah I, Daris H, Diaz Y, Sandi L,
ASI dan MP-ASI, paritas ibu dengan Keperawatan DI, Pemerintah AK, et al.
pemberian ASI dan MP-ASI, dan asupan zat Hubungan Pengetahuan Ibu yang
gizi makro dengan kejadian stunting. Memiliki Anak Usia 6-24 Bulan Tentang
Bagi responden, belum paham terkait Mpasi dengan Perilaku Pemberian Mpasi
konsep pemberian MP-ASI yang harus tepat (Studi di Desa Purwosari Kecamatan
untuk baduta yakni meliputi sesuai umur, Kwadungan Kabupaten Ngawi).
frekuensi, tekstur dan jumlahnya, dapat dilihat 10. Kurnia Sari A, Fitriani R, Kebidanan An
dari hasil wawancara bahwa ibu masih salah Nur Husada A. Hubungan Usia Ibu
dalam pemberian frekuensi dan jumlah yang Menyusui dengan Pemberian ASI
sesuai berdasarkan umur untuk baduta Eksklusif. MJ (Midwifery Journal).
sehingga perlu ditekankan terkait edukasi 2(4):187–90.
frekuensi dan jumlah yang tepat oleh ahlil gizi 11. Arifin Y, Syofiah P, Hesti N. Hubungan
setempat sehingga ibu tidak keliru lagi dalam Karakteristik Ibu dan Dukungan
pemberiannya. Keluarga dengan Pemberian MP-ASI
Pada Balita. 2020;
226
(JPP) Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang
Vol. 19, No. 2, Desember 2024, e ISSN 2654-3427
DOI: [Link]
12. Marfuah D, Kurniawati IS, Stikes PKU
Muhammadiyah Surakarta Jl Tulang
Bawang Selatan no G, Banjarsari
Surakarta K, Kunci Abstrak K.
Hubungan Pendidikan dan Pekerjaan Ibu
Terhadap Pemberian Mp-Asi Dini Pada
Balita Usia 6-24 Bulan. Vol. 15,
PROFESI (Profesional Islam) Media
PublikasiPenelitian. 2017.
13. Fachmawati R, Harlan J, Mutika WT,
Rochmawati. Hubungan Pengetahuan
dan Paritas Ibu dengan Pemberian ASI
Eksklusif di Posyandu Cempaka Gunung
Putri Bogor. Jurnal Bidan Srikandi. 2023;
14. Kurnia R. Hubungan antara Paritas dan
Umur Ibu dengan Pemberian MP-ASI
Dini pada Bayi Umur < 6 Bulan. 2017;
15. Nugraheni D, Sandi Wijayanti H,
Panunggal B, Syauqy A. ASI Eksklusif
dan Asupan Energi Berhubungan dengan
Kejadian Stunting pada Usia 6 – 24
Bulan di Jawa Tengah. Available from:
[Link]
c/
16. Hubungan Tingkat Kecukupan Protein
dengan Kejadian Stunting pada Balita
Usia 6-59 Bulan di Desa Mataram Ilir
Kec. Seputih Surabaya Kabupaten
Lampung Tengah. 2019.
17. Inna Natara A, Siswati T, Sitasari A, Gizi
Politeknik Kesehatan Kementrian
Kesehatan Yogyakarta J, Unggulan
Inovasi Novakesmas Politeknik
Kesehatan Kementrian Kesehatan
Yogyakarta P. Asupan Zat Gizi Makro
dan Mikro dengan Kejadian Stunting
pada Balita Usia 12-59 Bulan di Wilayah
Kerja Puskesmas Radamata.
2023;12:192–7.
18. Ayuningtyas H, Nadhiroh SR, Milati ZS,
Fadilah AL. Status Ekonomi Keluarga
dan Kecukupan Gizi dengan Kejadian
Stunting pada Anak Usia 6-24 Bulan di
Kota Surabaya. Media Gizi Indonesia.
2022 Dec 15;17(1SP):145–52.
227