BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Kepuasan Pasien
1. Pengertian
Kepuasan pasien hanya dapat terbentuk apabila pasien merasa puas
atas pelayanan yang di terima mereka. Kepuasan pasien inilah yang
menjadi dasar menuju terwujudnya pasien yang loyal atau setia.
Beberapa pengertian kepuasan pasien (customer satisfied) dan
loyalitas pasien (customer loyalty) dapat dilihat pada bagian berikut.
Tjiptono (2000) mengutip beberapa definisi kepuasan pasien diantaranya:
a. Menurut Tse dan Wilton bahwa kepuasan atau ketidakpuasan pasien
adalah merupakan respon pasien terhadap ketidaksesuaian/
diskonfirmasi yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja
aktual yang dirasakan pemakaiannya.
b. Menurut Wilkie kepuasan pasien merupakan suatu tanggapan
emosional pada evaluasi terhadap pengalaman konsumsi suatu produk
atau jasa.
c. Menurut Engel, kepuasan pasien merupakan evaluasi purnabeli
dimana alternatif yang dipilih sekurang-kurangnya sama atau
melampaui harapan pasien, sedangkan ketidakpuasan pasien timbul
apabila hasil (outcome) tidak memenuhi harapan.
Jadi kepuasan konsumen (pelanggan/ pasien) pada dasarnya
6
7
mencakup perbedaan antara harapan dan kinerja atau hasil yang dirasakan
oleh konsumen. Kepuasan pasien ini sangat penting diperhatikan oleh
perusahaan/ rumah sakit sebab berkaitan langsung dengan keberhasilan
pemasaran dan penjualan produk perusahaan/ rumah sakit.
Hal ini seiring dengan pernyataan Supranto (1997) bahwa pasien
memang harus dipuaskan, sebab kalau mereka tidak puas akan
meninggalkan rumah sakit dan menjadi pesaing, ini akan menyebabkan
penurunan penjualan dan pada gilirannya akan menurunkan laba dan
bahkan kerugian. Dengan demikian kunci keberhasilan rumah sakit
sebenarnya sangat tergantung kepada suksesnya rumah sakit dalam
memuaskan kebutuhan pasiennya.
Quality assurance (QA) atau kepuasan pasien dalam rumah sakit
merupakan salah satu faktor penting dan fundamental khususnya bagi
manajemen rumah sakit itu sendiri dan para stakeholdernya, pasalnya
dampak dari quality assurance menentukan hidup matinya sebuah rumah
sakit. Bagi rumah sakit, adanya quality assurance yang baik tentu saja
membuat rumah sakit mampu untuk bersaing dan tetap eksis di
masyarakat. Bagi pasien, quality assurance dapat dijadikan sebagai faktor
untuk memilih rumah sakit yang bermutu dan baik. Bagi praktisi medis,
selain terikat dengan standar profesinya, dengan adanya quality assurance
para praktisi medis dituntut untuk semakin teliti, telaten, dan hati-hati
dalam menjaga mutu pelayanannya. Bagi pemerintah sendiri, adanya
quality assurance dapat menjadikan standar dalam memutuskan salah
8
benarnya suatu kasus yang terjadi di rumah sakit.
Dalam konsep quality assurance penilaian baik buruknya sebuah
rumah sakit dapat dilihat dari empat komponen yang mempengaruhinya
yaitu:
a. Aspek klinis, yaitu komponen yang menyangkut pelayanan dokter,
perawat dan terkait dengan teknis medis.
b. Efisiensi dan efektifitas, yaitu pelayanan yang murah, tepat guna, tidak
ada diagnosa dan terapi yang berlebihan.
c. Keselamatan pasien, yaitu upaya perlindungan pasien dari hal-hal
yang dapat membahayakan keselamatan pasien seperti jatuh,
kebakaran, dan lain-lain.
d. Kepuasan Pasien, yaitu yang berhubungan dengan kenyamanan,
keramahan, dan kecepatan pelayanan.
Dalam memprediksi kepuasan pasien, umumnya indikator yang
sering dapat digunakan sebagai objektif adalah jumlah keluhan pasien atau
keluarga, kritik dalam kolom surat pembaca, pengaduan mal praktek,
laporan dari staf medik dan perawatan dan sebagainya. Bagaimana bentuk
kongret untuk mengukur kepuasan pasien rumah sakit, dalam seminar
survei kepuasan pasien di rumah sakit, ada empat aspek yang dapat diukur
yaitu:
a. Kenyamanan, aspek ini dijabarkan dalam pertanyaan tentang lokasi
rumah sakit, kebersihan, kenyamanan ruangan, makanan dan
minuman, peralatan ruangan, tata letak, penerangan, kebersihan WC,
9
pembuangan sampah, kesegaran ruangan.
b. Hubungan pasien dengan petugas rumah sakit, dapat dijabarkan
dengan pertanyaan yang menyangkut keramahan, informasi yang
diberikan, sejauh mana tingkat komunikasi, responsi, support,
seberapa tanggap dokter/ perawat di ruangan IGD, rawat jalan, rawat
inap, farmasi, kemudahan dokter/ perawat dihubungi, keteraturan
pemberian meal, obat, pengukuran suhu dan sebagainya.
c. Kompetensi teknis petugas, dapat dijabarkan dalam pertanyaan
kecepatan pelayanan pendaftaran, ketrampilan dalam penggunaan
teknologi, pengalaman petugas medis, gelar medis yang dimiliki,
terkenal, keberanian mengambil tindakan, dan sebagainya.
d. Biaya, dapat dijabarkan dalam pertanyaan kewajaran biaya, kejelasan
komponen biaya, biaya pelayanan, perbandingan dengan rumah sakit
yang sejenis lainnya, tingkat masyarat yang berobat, ada tidaknya
keringanan bagi masyarakat miskin. dan sebagainya.
Tentu saja faktor diatas bisa dikembangkan dan disesuaikan
dengan kondisi rumah sakit sepanjang itu dapat didefinisikan dan diukur.
Kepuasan pasien memang merupakan nilai subjektif terhadap kualitas
pelayanan yang diberikan, oleh karenanya subjektifitas pasien
diperngaruhi oleh pengalaman pasien dimasa lalu, pendidikan, situasi
psikis saat itu, dan pengaruh lingkungan.
Dengan adanya informasi kepuasan pasien, bagi manajemen
rumah sakit akan memberikan gambaran seberapa bermutu pelayanan
10
yang diberikan kepada pasien, selain itu dari sisi marketing pasien yang
puas dapat menjadi tool marketing yang ampuh dengan mouth to mouth,
dan terakhir manajemen dapat memberikan prioritas untuk peningkatan
pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien.
2. Ukuran Kepuasan Pasien
Telah banyak dilakukan riset untuk menentukan kepuasan pasien,
walaupun ini bukanlah suatu pekerjaan mudah, namun rumah sakit harus
melaksanakannya agar pasien selalu merasa puas atas pasien yang
diberikan.
Menurut Mc Carthy & Perreault (1993) upaya untuk mengukur
kepuasan pasien merupakan yang sukar, karena bergantung pada tingkat
aspirasi dan harapan yang ada. Pasien yang kurang beruntung akan
mengharap lebih banyak dari suatu perekonomian pada saat mereka
melihat orang lain dengan standar hidup lebih baik. Selain tingkat aspirasi
juga cenderung menaik dengan berulangnya keberhasilan dan menurun
karena tidak berhasil.
Garvin, Peppard, dan Rowland yang dikutip oleh Tjiptono (2000)
menyatakan faktor yang sering digunakan dalam mengevaluasi kepuasan
terhadap suatu produk diantaranya:
a. Kinerja (performance): karakteristik operasi pokok dari produk inti
(core product) yang dibeli.
b. Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (features): yaitu karakteristik
sekunder atau pelengkap.
11
c. Kehandalan (reliability): yaitu kemungkinan kecil akan mengalami
kerusakan atau gagal pakai.
d. Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specification): yaitu
sejauh mana karakteristik desain operasi memenuhi standar-standar
yang telah ditetapkan sebelumnya.
e. Daya tahan (durability), berkaitan dengan berapa lama produk tersebut
dapat terus digunakan.
f. Serviceability: meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah
direperasi, serta penanganan keluhan yang memuaskan.
g. Estetika: yaitu daya tarik produk terhadap panca indera.
h. Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality): yaitu citra rasa dan
reputasi produk serta tanggung jawab perusahaan terhadapnya”.
Selanjutnya dapat dilihat pula pernyataan Pasuraman seperti
dikutip Tjiptono (2000) bahwa dalam mengevaluasi jasa umumnya
pelanggan menggunakan beberapa atribut faktor berikut:
a. Bukti langsung (tangibles) meliputi fasilitas fisik, perlengkapan,
pegawai, dan sarana komunikasi.
b. Keandalan (reliability) yakni kemampuan memberikan pelayanan
yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan.
c. Daya tanggap (responsibility) yaitu keinginan para staff dan karyawan
untuk membantu pelanggan dan memberikan pelayanan dengan
tanggap.
d. Jaminan (assurances) mencakup pengetahuan, kemampuan,
12
kesopanan, kemampuan dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para
staff, bebas dari bahaya, resiko atau keragu-raguan.
e. Empati (emphaty): meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan,
komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan
para pelanggan.
Adapun mengenai kepuasan ini Cravens (1996) lebih
mengemukakan pemuasan pasien harus disertai dengan pemantauan
terhadap kebutuhan dan keinginan mereka. Mengidentifikasikan atribut
produk dan dukungan pelayanan yang dianggap penting oleh para pembeli
pada saat mereka membeli dan menggunakan produk tersebut merupakan
tujuan manajemen. Kepuasan pasien akan dipengaruhi oleh sistem
pengiriman produk, performa produk atau jasa, citra rumah sakit/ produk/
merek, nilai harga yang dihubungkan dengan nilai yang diterima pasien,
prestasi para karyawan, keunggulan dan kelemahan para pesaing.
Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Kottler (1993) yang
menyatakan kunci untuk mempertahankan pasien adalah kepuasan pasien.
Seorang pasien yang puas akan :
a. Membeli jasa lagi
b. Mengatakan hal yang baik tentang rumah sakit kepada orang lain
c. Kurang memperhatikan merek dan iklan produk pesaing
d. Membeli produk lain dari rumah sakit yang sama.
Dengan adanya kepuasan yang diperoleh pasien, maka pasien akan
bersikap loyal kepada rumah sakit dan produk yang dihasilkannya.
13
Artinya pasien akan terus bersikap setia walaupun terdapat produk sejenis
dari rumah sakit lain. Untuk mewujudkan kepuasan pelanggan
dikembangkan suatu model pengembangan dan penggunaan kuesioner
kepuasan pasien seperti dikatakan Supranto (1997) adalah:
a. Menentukan kebutuhan pasien
Pengetahuan tentang kebutuhan pasien sangat penting, ditinjau dari
dua alasan berikut :
Pertama: Pengetahuan ini akan memberikan suatu pemahaman
yang lebih baik mengenai cara pasien mengartikan mutu barang atau
jasa yang dijual. Apabila rumah sakit mampu memahami kebutuhan
pasien, rumah sakit akan berada dalam posisi yang lebih baik untuk
mengetahui bagaimana seharusnya memuaskan pasien.
Kedua: Pengetahuan ini akan memudahkan pengembangan
kuesioner kepuasan pasien. Pertanyaan-pertanyaan harus dapat
menunjukkan kepuasan pasien yang mana tergantung setiap dimensi
mutu tertentu. Menurut Zeithaml, Pasuraman dan Berry seperti dikutip
Supranto (1997) ada lima dimensi mutu pelayanan/ kebutuhan pasien:
1) Dapat diraba (tangibles)
2) Andal (reliability)
3) Ketanggapan (responsiveness)
4) Jaminan (assurances)
5) Empati (empathy)
Dengan kelima dimensi diatas menjadi indikator apa yang
14
diharapkan oleh pasien dalam pelayanan yang diberikan rumah sakit.
Untuk itu perusahaan harus mampu mewujudkan kelima dimensi di
atas.
b. Mengembangkan dan mengevaluasi kuesioner
Dalam proses mengembangkan kuesioner bertujuan untuk
mengembangkan kuesioner yang memungkinkan untuk memulai
informasi khusus tentang persepsi pasien. Mengukur tingkat kepuasan
pasien sangat perlu dan alat yang digunakan untuk mengukur tingkat
kepuasan ialah daftar pertanyaan (quesioner). Data yang diperoleh
berupa jawaban para pasien terhadap pertanyaan yang diajukan. Untuk
mengukur kepuasan pasien yang dilakukan melalui kuesioner dapat
dilakukan langkah-langkah seperti pernyataan Supranto (1997)
berikut:
1) Menentukan pertanyaan (butir) yang akan dipergunakan dalam
daftar pertanyaan.
2) Memilih bentuk jawaban.
3) Menulis introduksi/ pengenalan pada daftar pertanyaan.
4) Menentukan isi akhir (final) daftar pertanyaan (memilih beberapa
butir pokok diantara sekian banyak butir kepuasan yang dijadikan
ukuran tingkat kepuasan.
Didalam penelitian ini kuesioner yang dikembangkan dikutip
dari “Sepuluh Inti Dalam Loyalitas Pelanggan” yang diajukan oleh
Bhote seperti dikutip Siat (1997):
15
1. Kemitraan yang didasarkan kepada etika dan integritas tertinggi
2. Nilai tambah dalam hubungan kemitraan costumer-supplier
3. Mutual trust, keyakinan mendalam akan potensi dan kredibilitas
4. Policy yang transparan dengan mensharing teknologi, strategi dan
data
5. Kerja sama yang mutual antara perusahaan, perusahaan supllier,
dan pelanggan dalam menghasilkan kualitas yang diharapkan
6. Tanggap terhadap antusiasme pelanggan tentang apa yang
dianggap penting.
7. Memfokuskan diri terhadap hal kecil yang memberi kepuasan
pelanggan.
8. Kedekatan perusahaan dengan pelanggan.
9. Memberikan perhatian sungguh-sungguh kepada pelanggan
setelah sales terjadi.
10. Mengantisipasi kebutuhan dan harapan pelanggan dimasa
mendatang.
c. Menggunakan kuesioner
Setelah kuesioner disusun maka kuesioner disebar kepada para
responden untuk mengetahui bagaimana tingkat kepuasan pasien
sebenarnya. Dengan model pengembangan loyalitas/ kepuasan pasien
diatas, maka dapat diambil suatu keputusan yang bermanfaat bagi
manajemen pemasaran rumah sakit.
3. Faktor-Faktor Kepuasan Pasien.
16
Kepuasan pasien merupakan suatu situasi dimana pasien dan
keluarga pasien mengganggap bahwa biaya yang dikeluarkan sesuai
dengan kualitas pelayanan yang diterima dan tingkat kemajuan kondisi
kesehatan yang dialaminya. Mereka merasa pelayanan yang diberikan
merupakan penghargaan terhadap diri dan kehormatan yang dimilikinya.
Selain itu mereka merasakan manfaat lain setelah dirawat yaitu
pengetahuan tentang penyakit dan dirinya menjadi bertambah. Namun
sebaliknya, pasien jarang untuk mencoba mempertimbangkan apakah
pelayanan keperawatan yang diberikan itu merupakan upaya yang efektif
dan efisien dilihat dari segi waktu, tenaga, dan sumber daya yang
digunakan (Wensley, 1992).
Ada 10 indikator kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit yaitu
: (1) angka infeksi nosokomial, (2) angka kejadian klien jatuh/ kecelakaan,
(3) tingkat kepuasan klien terhadap pelayanan kesehatan, (4) tingkat
kepuasan klien terhadap pengelolaan nyeri dan kenyamanan, (5) tingkat
kepuasan klien terhadap informasi/pendidikan kesehatan, (6) tingkat
kepuasan klien terhadap asuhan keperawatan, (7) upaya mempertahankan
integritas kulit, (8) tingkat kepasan perawat, (9) kombinasi kerja anatara
perawat profesional dan non profesional, (10) total jam asuhan
keperawatan per klien per hari (Marquis & Huston, 1998).
17
B. Ketrampilan Tindakan Keperawatan
Pelayanan kesehatan di rumah sakit merupakan bentuk pelayanan yang
diberikan kepada klien oleh suatu tim multi disiplin termasuk tim
keperawatan. Tim keperawatan merupakan anggota tim kesehatan garda depan
yang menghadapi masalah kesehatan klien selama 24 jam secara terus
menerus.
Tim pelayanan keperawatan memberikan pelayanan kepada klien
sesuai dengan keyakinan profesi dan standar yang ditetapkan. Hal ini
ditujukan agar pelayanan keperawatan yang diberikan senantiasa merupakan
pelayanan yang aman serta dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pasien.
Pelayanan kesehatan pada masa kini sudah merupakan industri jasa
kesehatan utama dimana setiap rumah sakit bertanggung gugat terhadap
penerima jasa pelayanan kesehatan. Keberadaan dan kualitas pelayanan
kesehatan yang diberikan ditentukan oleh nilai-nilai dan harapan dari
penerima jasa pelayanan tersebut. Disamping itu, penekanan pelayanan
kepada kualitas yang tinggi tersebut harus dapat dicapai dengan biaya yang
dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan demikian, semua pemberi pelayanan ditekan untuk
menurunkan biaya pelayanan namun kualitas pelayanan dan kepuasan pasien
sebagai konsumen masih tetap menjadi tolak ukur (“benchmark”) utama
keberhasilan pelayanan kesehatan yang diberikan (Miloney, 2001).
Para penerima jasa pelayanan kesehatan saat ini telah menyadari hak-
haknya sehingga keluhan, harapan, laporan, dan tuntutan ke pengadilan sudah
18
menjadi suatu bagian dari upaya mempertahankan hak mereka sebagai
penerima jasa tersebut. Oleh karena itu industri jasa kesehatan menjadi
semakin merasakan bahwa kualitas pelayanan merupakan upaya kompetentif
dalam rangka mempertahankan eksistensi pelayanan tersebut. Selayaknya
industri jasa pelayanan menaruh perhatian besar dan menyadari bahwa
kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan ditentukan pula oleh kualitas
berbagai komponen pelayanan termasuk keperawatan dan sumber daya
manusianya.
Kegiatan pelayanan keperawatan berkualitas telah dimulai sejak
seorang perawat Muslim pertama yaitu Siti Rufaida pada jaman Nabi
Muhammad S.A.W selalu berusahan memberikan pelayanan terbaiknya bagi
yang membutuhkan tanpa membedakan apakah kliennya kaya atau miskin.
Demikian pula Florence Nightingale pada tahun 1858, telah berupaya
memperbaiki kondisi pelayanan keperawatan yang diberikan kepada serdadu
pada perang Krimen. Dengan terjadinya perubahan diberbagai aspek
kehidupan keperawatan pada saat ini telah berkembang menjadi suatu profesi
yang memiliki keilmuan unik yang menghasilkan peningkatan minat dan
perhatian diantara anggotanya dalam meningkatkan pelayanannya.
1. Konsep Tentang Ketrampilan Tindakan Keperawatan
Tenaga keperawatan yang berkualitas mempunyai sikap
profesional dan dapat menunjang pembangunan kesehatan, hal tersebut
memberi dampak langsung pada mutu pelayanan di rumah sakit sehingga
pelayanan yang diberikan akan berkualitas dan dapat memberikan
19
kepuasan pada pasien sebagai penerima pelayanan maupun perawat
sebagai pemberi pelayanan. Pemberdayaan sumber daya manusia mulai
dari proses rekruitmen, seleksi dan penempatan, pembinaan serta
pengembangan karir harus dikelola dengan baik, agar dapat
memaksimalkan pendayagunaan tenaga perawat dan memberikan
kepuasan kerja bagi perawat.
Untuk dapat mewujudkan tercapainya pelayanan yang berkualitas
diperlukan adanya tenaga keperawatan yang profesional, memiliki
kemampuan intelektual, tehnikal dan interpersonal, bekerja berdasarkan
standar praktek, memperhatikan kaidah etik dan moral (Hamid, 2000).
Pada kenyataannya saat ini tenaga perawat yang ada dilapangan masih
belum memenuhi standar. Pelayanan keperawatan yang berkualitas sangat
dipengaruhi oleh faktor balas jasa yang adil dan layak, penempatan yang
tepat sesuai dengan keahliannya, berat ringannya pekerjaan dan sifat
pekerjaan yang monoton, suasana dan lingkungan pekerjaan, peralatan
yang menunjang, serta sikap pimpinan atau supervisor dalam memberikan
bimbingan dan pembinaan.
Pengembangan karir perawat merupakan suatu perencanaan dan
penerapan rencana karir dapat digunakan untuk penempatan perawat pada
jenjang yang sesuai dengan keahliannya, serta menyediakan kesempatan
yang lebih baik sesuai dengan kemampuan dan potensi perawat. Hal ini
akan meningkatkan kualitas kerja perawat, ia akan berusaha mengontrol
karirnya dan memilih karir yang lebih baik sehingga ia terus berprestasi
20
dan memperoleh kepuasan kerja (Marquis &Huston, 2000). Sehubungan
dengan hal tersebut manajemen rumah sakit harus berusaha mencitakan
kepuasan kerja sebaik-baiknya supaya moral kerja, dedikasi, kecintaan
dan disiplin perawat meningkat serta mendukung terwujudnya rumah sakit
(Hasibuan, 2003).
2. Keterampilan Keperawatan
Keterampilan yang diperlukan oleh perawat perawat agar dapat bekerja
sama dengan keluarga klien harus mempunyai :
1) Wawasan yang tinggi tentang kesehatan.
2) Kesadaran diri.
3) Empati.
4) Ketrampilan komunikasi terapeutik.
5) Pengetahuan tentang keluarga.
Wawasan yang tinggi adalah menguasai perkembangan ilmu
pengetahuan tentang kesehatan secara umum, sehingga dapat memadukan
kedua unsur dan menerapkan kepada klien dan keluarga serta lingkungan
masyarakatnya. Kesadaran diri adalah dasar pertimbangan untuk mengerti
perilaku orang lain. Seseorang harus mampu mengidentifikasi pikiran
perasaan dan nilai-nilai yang dianutnya sebelum mengerti perasaan dan
perilaku orang lain. Perawat harus bisa menyadari dinamika keluarga
sendiri, peran dan nilai keluarganya sehingga tidak bingung
membandingkan atau mencampurkannya ketika berhadapan dengan
keluarga lain.
21
Empati adalah perasaan ikut dalam situasi yang dirasakan oleh
keluarga; misalnya salah satu keluarga merasa sangat sulit menghadapi
tingkah laku klien yang kurang wajar, perasaan keluarga dapat dirasakan
oleh seorang perawat sehingga dapat membantu memecahkan masalah
dengan sepenuhnya.
Ketrampilan komunikasi terapeutik sangat penting dikuasai
seorang perawat yang bekerja dengan keluarga. Perawat harus bisa
menjadi panutan dalam berkomunikasi dengan cara bicara yang jelas,
terbuka, langsung, jujur dan sesuai dengan situasi. Ketrampilan lain yang
harus dimiliki perawat adalah kolaborasi (kerjasama dengan tim kesehatan
lain) untuk mencapai tujuan; perawat berusaha melakukan asuhan
keperawatan dengan memanfaatkan perkembangan disiplin ilmu lain.
Perkembangan pola pertahanan (coping) perawat juga penting untuk
menjadi kekuatan perawat dalam kerjasama dengan keluarga. Perawat
harus memiliki istirahat yang cukup, hobi yang memadai untuk
meningkatkan kemampuan relaksasi dan mendapat dukungan dan teman-
teman atau dan keluarganya agar memiliki coping yang kuat dan
konstsuktif.
Kemampuan yang dibutuhkan perawat dalam melaksanakan
pertemuan dan penyuluhan keluarga adalah kemampuan mengkoordinir
suatu kegiatan, mulai dan persiapan sampai dengan evaluasi, kemanpuan
berbicara di depan umum, membuat laporan dan membuat dokumentasi
hasil kegiatan.
22
3. Bentuk - bentuk tindakan keperawatan yang wajib dimiliki oleh seorang
perawat.
Ada banyak bentuk tindakan keperawatan yang ada dalam
pelayanan keperawatan terhadap pasien, namun secara mendasar diketahui
ada beberapa bentuk tindakan keperawatan yang harus sudah dikuasai oleh
masing-masing perawat semenjak ia masih di bangku pendidikan salah
satunya adalah ganti balut (pembalutan) (Kusyati, 2005), merupakan
tindakan keperawatan menutup luka, menekan maupun mengikat anggota
atau bagian tubuh dengan menggunakan pembalut/ perban. Pemasangan
balutan yang tepat dapat menurunkan nyeri, meningkatkan penyembuhan
luka, dan memperbaiki hasil kosmetik. Pengkajian eksudat yang diabsorpsi
oleh balutan memberi informasi diagnostik yang bernanfaat.
Balutan memiliki banyak fungsi, termasuk pemeliharaan
lingkungan lembap, perlindungan dan kontaminan luar, perlindungan dan
cedera lebih lanjut pencegahan penyebaran mikroorganisme, peningkatan
kenyamanan klien, dan pengendalian perdarahan. Balutan yang ideal harus
mudah digunakan, dapat mengikuti kontur tubuh, tahan lama tetapi
fleksibel, efektif-biaya, dapat mengabsorpsi atau menampung eksudat,
mudah dilepaskan tanpa merusak permukaan yang sedang proses
penyembuhan, dan dapat diterima dalam hal penampilan (Potter,
2006:405).
23
Macam-macam pembalutan :
1) Pembalutan penutup
a) Untuk menutup sebagian badan agar terhindar dari kotoran
luar maupun tidak tersinggung oleh anggota badan yang lain.
b) Untuk menghindarkan diri dari cahaya matahari atau udara
c) Sebelum luka dibungkus terlebih dahulu diberi desinfektan
d) Untuk menahan perdarahan
e) Meletakkan obat (zalf, serbuk, kompres)
2) Pembalutan penahan
a) Mengistirahatkan anggota badan yang luka atau sakit
b) Mengurangi gerakan yang dapat menambah beratnya sakit
c) Mengurangi rasa sakit.
3) Pembalutan penekan
a) Menekan luka
b) Menekan perdarahan
Macam-macam pembalut
1) Pembalut segitiga (mitela)
Merupakan pembalut yang berbentuk segitiga sama kaki dengan
berbagai ukuran.
Fungsinya digunakan pada bagian tubuh yang berbentuk bulat atau
untuk menahan bagian tubuh yang cidera. Selain itu juga untuk
cidera didaerah kepala, bahu, dada, siku, telapak tangan, pinggul,
telapak kaki dan untuk menggantung tangan.
24
2) Pembalut kassa
Pada kassa steril : kassa dipotong dengan berbagai ukuran untuk
menutup luka yang sudah diberi obat desinfektan. Setelah luka
ditutup baru dilakukan balutan.
3) Pembalut gulung berbentuk pita
Terbuat dari kain kassa, flanel, katun atau bahan-bahan lain.
Adapun macam-macam ukurannya : lebar 2,5 cm: untuk jari jari,
lebar 5 cm: untuk leher dan pergelangan tangan, lebar 7,5 cm
untuk kepala, lengan atas, lengan bawah betis dan kaki, lebar 10
cm: untuk paha dan sendi pinggul, lebar 15 cm: untuk dada, perut
dan punggung.
4) Pembalut berperekat (plester)
Fungsinya untuk merekatkan penutup luka, fiksasi pada sendi
yang terkilir dan fiksasi patah tulang costa.
5) Pembalut gips
Fungsinya digunakan sebagai spalk patah tulang, mengimobilisasi
daerah patah tulang dengan cara sirkuler.
6) Pembalut spesifik
Snelverban adalah pembalut pita yang sudah ditambah dengan
kassa penutup luka dan steril, dibuka sewaktu akan digunakan dan
sering digunakan pada luka-luka lebar. Sofratul adalah kassa steril
yang sudah direndam dengan obat pembunuh kuman.
25
C. Konsep Keperawatn Luka
1. Faktor – faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka (Perry & Potter
2006) :
a. Nutrisi
Penyembuhan luka secara normal membutuhkan nutrisi yang
tepat. Proses fisiologi penyembuhan luka bergantung pada
tersediaanya protein, vitamin, mineral dan tembaga. Terapi nutrisi
sangat penting untuk klien yang lemah akibat penyakit. Klien yang
telah menjalani operasi dan diberikan nutrisi yang baik masih tetap
membutuhkan sedikitnya 1500 Kkal/hari.
b. Penuaan
Walaupun penyembuhan luka pada lansia terjadi sangat lambat,
aspek fisiologis penyembuhan luka tidak berbeda dengan klien yang
masih muda. Masalah yag terjadi selama proses penyembuhan sulit
ditentukan penyebabnya, karena proses penuaan / penyebab lainnya
seperti nutrisi, lingkungan/ respon individu terhadap stress.
2. Fase Penyembuhan Luka (Perry & Potter 2006)
a. Fase inflamasi, merupakan reaksi tubuh terhadap luka yang dimulai
setelah beberapa menit dan berlangsung selama sekitar 3 hari setelah
cedera.
b. Fase proliferasi, yaitu munculnya pembuluh darah baru sebagai hasil
rekonstruksi, fase ini terjadi dalam waktu 3 – 24 hari. Aktivitas utama
fase ini adalah mengisi luka dengan jaringan penyambung dan
26
menutupi bagian atas luka dengan epitelisasi.
c. Maturasi, merupakan tahap akhir proses penyembuhan luka, dapat
memerlukan waktu lebih dari 1 tahun, bergantung pada kedalaman
luka dan luasnya.
3. Perawatan Luka
Tujuan perawatan luka antara lain meningkatkan homeostasis,
menegah infeksi, mencegah cedera jaringan lebih lanjut, meningkatkan
penyembuhan luka, mempertahankan integritas kulit dan memperoleh rasa
nyaman (Perry & Potter 2006).
C. Kerangka Teori
Kerangka teori dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Ketrampilan perawat Kepuasan pasien
Wawasan yang tinggi tentang Dapat dirasakan langsung
kesehatan (tangibles)
Kesadaran diri Andal (reliability)
Empati Ketanggapan (responsiveness)
Keterampilan komunikasi Jaminan (assurances)
terapeutik Empati (empathy)
Pengetahuan tentang keluarga.
Gambar 2.1. Kerangka Teori
Sumber : Zeithaml, Pasuraman dan Berry seperti dikutip Supranto (1997) dan
Marquis, (2000).
27
D. Kerangka Konsep
Berdasarkan uraian di atas maka kerangka konsep dalam penelitian ini
sebagai berikut :
Variabel Independen Variabel Dipenden
Ketrampilan perawat Kepuasan pasien
Gambar 2. 2. Kerangka Konsep
E. Variabel Penelitian
Pada variabel penelitian yang diteliti adalah ketrampilan perawat yang
mendasar wajib dimiliki oleh setiap perawat dalam melayani kebutuhan
pasien guna memuaskan pelayanan kepada pasien selama menjalani
perawatan di rumah sakit. Adapun variabel independennya adalah ketrampilan
perawat dan variabel dependennya adalah kepuasan pasien.
F. Hipotesis
Terjadi hubungan antara ketrampilan perawat dalam melakukan
tindakan keperawatan (perawatan luka) pada pasien dan kepuasan pasien di
Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Kota Semarang.