MANTRA TERAKHIR
Di dunia bernama Elaria, sihir bukanlah hak semua orang. Dari jutaan manusia, hanya segelintir
yang terlahir dengan inti mana sebuah pusat energi di tubuh yang memungkinkan seseorang
mengakses sihir tingkat 1 dan 2. Mayoritas penyihir hanya bisa menguasai dua tingkat dasar
itu: membuat api kecil, mempercepat tumbuhnya tanaman, atau memperbaiki benda patah.
Sihir tingkat 3 hingga 5 menjadi batas kekuatan bagi kebanyakan penyihir elit. Mereka adalah
penjaga kerajaan, pengendali elemen, penyembuh perang, dan pemimpin sekte sihir.
Namun di atas itu, terdapat legenda…
Sihir tingkat 6 dan 7—mantra-mantra yang bisa menghancurkan kota, membalik waktu, atau
menembus dimensi.
Dua abad terakhir, hanya tiga orang yang pernah tercatat menggunakan sihir tingkat 6.
Dan belum ada satu pun yang diketahui berhasil mencapai tingkat 7.
Di desa terpencil bernama Valmere, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Kael.
Saat pengujian bakat sihir pada usia 7 tahun, tangannya diletakkan di atas kristal penilai mana.
Biasanya, kristal akan menyala hijau (tingkat 1), biru (tingkat 2), atau ungu (tingkat 3 ke atas).
Namun, saat giliran Kael, kristal itu tidak menyala sama sekali.
"Kosong," kata penilai dengan suara datar.
"Tidak memiliki inti mana. Tidak layak untuk pelatihan sihir."
Anak-anak lain menertawakannya. Ibunya menggenggam tangannya erat. Tapi Kael hanya diam.
Dalam dirinya, bukan kesedihan yang tumbuh—melainkan rasa penasaran yang dalam.
“Jika aku tidak memiliki inti mana…
Maka dari mana perasaan ini berasal?
Perasaan… seolah ada sesuatu yang tersembunyi di dalam diriku, menunggu untuk
dibuka.”
Tujuh tahun kemudian.
Di saat teman-teman seangkatannya telah menjadi penyihir kelas dua, atau penjaga istana tingkat
tiga, Kael bekerja sebagai penjaga perpustakaan sihir tua di Valmere. Tak ada yang tahu bahwa
setiap malam, ia diam-diam membaca kitab-kitab terlarang yang tak pernah disentuh siapa pun—
kitab peninggalan era penyihir tingkat 6.
Dan malam itu, Kael membuka satu gulungan kuno…
Mantra Pemanggilan Asal.
Dicap sebagai sihir tingkat 6, hanya dapat dilakukan oleh penyihir dengan kendali absolut atas
mana luar.
Namun Kael nekat mencoba.
Tangannya gemetar. Tidak ada tanda-tanda sihir. Tidak ada lingkaran sihir yang muncul. Tapi
saat ia selesai mengucapkan mantra itu…
Lantai di bawahnya retak.
Udara mengalir berputar. Simbol-simbol kuno bersinar di kulit tangannya.
Kael terjatuh, nafasnya sesak. Tapi matanya membelalak.
Simbol-simbol di lantai menghilang satu per satu, seiring dengan cahaya samar yang
menyelimuti tubuh Kael meredup perlahan. Tidak ada ledakan. Tidak ada suara menggelegar.
Hanya keheningan—dan detak jantung yang semakin keras di telinganya.
Kael duduk perlahan di lantai yang retak, nafasnya tersengal. Ia tidak tahu apa yang baru saja
terjadi. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu.
Bukan kekuatan luar biasa. Bukan lonjakan mana.
Tapi denyut kecil. Getaran.
Seperti bara yang menyala pelan dalam abu dingin yang selama ini ia anggap mati.
"Apa itu tadi?"
"Kenapa aku… bisa merasakan sesuatu?"
Ia menatap tangannya. Tidak ada cahaya. Tidak ada bekas sihir. Tapi dalam dirinya, ada percikan
hangat—lemah, namun nyata.
Kael bangkit dengan lutut gemetar. Ia tidak tersenyum. Tidak menangis.
Ia hanya berkata pelan:
“Mungkin… aku belum selesai.”
Hari-hari setelah itu terasa berbeda. Kael tetap bekerja seperti biasa, membawa air,
membersihkan rak buku, menyapu halaman. Namun, setiap malam ia kembali ke perpustakaan
bukan untuk mencoba mantra baru, tapi untuk merenung dan mendalami apa yang terjadi.
Ia mulai mencatat:
Titik-titik tubuhnya yang terasa hangat saat membaca mantra.
Waktu yang dibutuhkan hingga getaran itu muncul lagi.
Respon tubuhnya terhadap simbol sihir tertentu.
Ia memperlakukan dirinya seperti percobaan hidup.
Dan hasilnya jelas—getaran itu bisa dipancing. Masih lemah, kadang hilang, tapi selalu
kembali… dan semakin stabil.
Satu bulan kemudian, Kael berhasil melakukan hal yang tidak pernah bisa ia lakukan
sebelumnya:
Menyalakan api kecil dengan mantra dasar tingkat 1 “Ignis Spark”—tanpa tongkat, tanpa alat
bantu.
Butuh waktu beberapa detik, dan dia pingsan setelahnya. Tapi api itu nyata. Tidak seperti dulu.
Kael sadar satu hal:
Ia tidak bisa mengakses sihir seperti penyihir biasa…
Tapi ada jalur lain—pelan, menyakitkan, tidak diketahui siapa pun…
Dan jalur itu sedang ia tapaki sendirian.
Dunia tidak melihatnya.
Dunia menganggapnya gagal.
Dan itu baik-baik saja.
Karena Kael tahu:
“Kekuatan sejati bukan datang tiba-tiba—tapi dibangun, inci demi inci, dengan tangan sendiri”
Kael tahu: hanya bisa menyalakan api tingkat 1 bukanlah pencapaian besar. Tapi bagi seseorang
tanpa inti mana, itu adalah keajaiban kecil yang nyata. Dan dari situlah dia mulai membangun.
Setiap hari, Kael menyusun metode latihannya sendiri—bukan berdasarkan teori akademik
penyihir biasa, tapi dari pengamatan, rasa, dan pengalaman tubuhnya sendiri.
Ia menyebut metodenya: Latihan Resonansi.
Metode Latihan Resonansi Kael:
Meditasi Kosong (3 jam/hari) : Untuk merasakan getaran halus di dalam tubuhnya,
yang ia sebut aliran eksternal. Tidak ada mantra. Hanya duduk diam dan mendengarkan
tubuhnya sendiri.
Simulasi Tulisan Mantra : Ia menyalin ribuan simbol sihir ke pasir, tanah, dan batu, lalu
menghapusnya dan menulis ulang—tanpa menyentuh mana. Ia percaya otaknya harus
terlebih dahulu mengenali sihir sebelum tubuhnya bisa memprosesnya.
Pengendalian Nafas Energi : Ia menciptakan teknik pernapasan sendiri untuk
mendorong denyut energi yang kecil itu menyebar ke seluruh tubuh.
Uji Ketahanan : Ia membiarkan tubuhnya mendekati batas kelelahan lalu mencoba
memancing resonansi. Ia menemukan bahwa semakin lelah tubuhnya, semakin kuat ia
bisa merasakan denyutan energi itu—meski berbahaya, ia mulai menguasainya perlahan.
Kael memiliki satu tujuan yang ia tulis dengan darah di selembar kain tua di kamarnya:
“Menjadi penyihir elit, dan menaklukkan lantai dungeon tertinggi”
Dungeon itu—Labirin Ragaleth—adalah keajaiban sekaligus kutukan dunia. Sebuah ruang
dimensi raksasa yang muncul 300 tahun lalu, penuh monster dan artefak sihir purba.
Setiap 5 lantai, kekuatan sihir yang dibutuhkan meningkat drastis. Lantai 30 ke atas hanya bisa
dijangkau oleh mereka yang mampu menggunakan sihir tingkat 5 ke atas.
Hanya satu orang sejauh ini yang pernah mencapai lantai 35:
Seorang wanita muda bernama Sylia An’Rae, penyihir jenius berusia 27 tahun, yang dikenal
sebagai "Tombak Manusia" karena mampu menggunakan atau hamper menguasai semua skill
tombak hingga tingkat 6.
Hanya dengan 1 tahun dia sampai ke lantai 35.
Tetapi dia tidak melanjutkannya setelah sampai di lantai 35 yang belum pernah dijamah yang
lain.
Kael mengagumi Sylia. Tapi ia tidak menginginkannya sebagai idola.
Ia ingin berdiri sejajar. Bahkan… melampaui.
Namun ia sadar satu hal:
“Tak ada jalan cepat untuk orang sepertiku. Tapi aku akan jalan lebih lama, lebih dalam,
dan lebih menyakitkan—asal sampai juga ke sana.”
Bertahun-tahun kemudian, orang-orang akan bercerita tentang "penyihir tanpa inti", yang
mendaki dungeon tanpa pernah diundang ke Akademi Sihir, tanpa pernah menerima pengakuan
resmi, dan tanpa pernah sekalipun menyerah.
Tapi hari ini, Kael masih di tepi kota.
Bertarung dengan tubuhnya sendiri.
Membakar waktunya satu jam demi satu denyutan energi kecil.
Dan di balik senyum tipisnya saat menulis ulang mantra untuk keseribu kalinya, tersimpan
kobaran api kecil—
Yang pelan-pelan berubah menjadi nyala abadi.
Di saat anak-anak seusianya berlatih di tempat pelatihan keluarganya tau bermain main tetapi
tidak untuknya Kael mengunci dirinya dalam rutinitas tanpa ampun—hari-hari tanpa istirahat,
malam-malam tanpa tidur, dan tubuh yang semakin kurus namun penuh luka bekas pembakaran
mana.
🕯️Pelatihan Ekstreme 3 Tahun
Kael memakai sebuah gubuk tua di luar desa Valmere yang sudah terbengkalai. Tidak ada sihir
proteksi, tidak ada makanan enak. Hanya dinding rapuh, buku-buku peninggalan yang bahkan
tidak tau siapa yang punya, dan tanah lapang tempat ia menggambar simbol sihir.
Tiga tahun Kael melatih sendiri di daerah kosong dengan gubuk tua yang dia pakai. Hingga
akhirnya dia menyadari sihir bukan hanya alat, tapi senjata. Dan senjata butuh medan uji.
Ia mulai mencari dungeon liar tingkat rendah di luar pengawasan kerajaan.
Kael bertarung sendirian, hanya bermodalkan sihir dasar, pisau tumpul, dan taktik gerilya. Ia
belajar:
Membaca pola gerak monster
Menggunakan lingkungan untuk menghemat mana
Melawan ketakutan dan rasa nyaris mati
Di salah satu pertempuran, ia hampir kehilangan lengan karena terkena racun monster ular hitam.
Tapi dengan gigih ia kembali—dan menciptakan mantra penyembuhan dengan api yang dimiliki.
Kael berdiri di tengah hutan, tubuh penuh luka, tangan menggenggam tongkat kayu buatan
sendiri.
Ia menarik napas dalam-dalam.
Mata tertutup.
Sihir tingkat 5 : Blueflare Heal
Api biru menyelimuti dirinya dan menyembuhkan semua luka yang ada di tubuhnya.
Ia tertawa pelan, menutup mata dengan tangan kanannya sambal tertidur melihat ke langit malam
dan berteriak sambal tertawa.
“Tiga tahun. Tiga tahun akhirnya aku bisa seperti mereka yang ada disana.. aku akan
menysulmu”
Keesokannya, langit di atas desa Valmere berubah menjadi kelabu.
Awan hitam menumpuk cepat. Angin membawa bau amis logam.
Dan yang paling mengerikan: alarm sihir berdentang untuk pertama kalinya dalam 12
tahun.
Penduduk desa panik. Pasukan kecil penjaga lokal bersenjata sihir tingkat 1 mulai berbaris.
Mereka menduga serangan dari goblin dungeon lantai 1–2 seperti biasanya.
Tapi mereka salah.
Monster yang muncul kali ini bukan goblin biasa.
Mereka lebih tinggi. Kulit lebih gelap. Otot lebih besar.
Dengan mata menyala merah dan senjata kasar buatan sendiri.
Hobgoblin.
Monster tingkat 3–5.
Hanya bisa dilawan oleh penyihir elit.
Dan tak satu pun dari mereka ada di desa kecil ini.
Di tengah kekacauan itu, seseorang melihat dari kejauhan.
Di balik bayangan pepohonan dekat danau tempat ia berlatih, Kael menatap asap dari Valmere
naik ke langit.
Tangannya mengepal.
“Mereka bilang aku tidak punya inti mana…”
“Tapi kalau aku bisa menggerakkan tubuhku—maka aku bisa melawan.”
Kael mengenakan jubah hitam tipis yang ia jahit sendiri.
Lalu, dari dalam peti kayu, ia mengambil topeng putih polos, dengan hanya satu goresan hitam
melintang di pipi kanan—lambang semangatnya: “Berjuang dalam diam.”
Ia tak mengucapkan satu mantra pun.
Ia hanya berjalan menuju Valmere.
🛡️Pertempuran Valmere
Penduduk mulai mengungsi. Hobgoblin menyerbu ladang dan membakar rumah.
Dua penjaga tewas, satu lainnya terluka parah.
Di saat itulah, seorang pria bertopeng melompat dari atap rumah dan melemparkan simbol sihir
bola api yang memantul di tanah—bentuk teknik baru yang tidak dikenali siapa pun.
BOOM!
Lidah api menyambar tiga hobgoblin sekaligus.
Satu monster besar menyerang, tapi pria bertopeng itu berbalik dan menghantamkan Fire Arrow
—sihir tingkat 2, tapi dengan kekuatan nyaris seperti tingkat 4.
Monster terpental.
Semua orang membeku.
“Siapa dia?”
“Penyihir dari ibukota?”
“Kenapa tidak ada simbol sihir terlihat di tubuhnya?”
“Dia... tidak punya aura?”
Beberapa menyebutnya "Roh Pembela."
Yang lain menyebutnya "Hantu Topeng Putih."
Tapi tidak ada yang tahu…
Itu adalah Kael.
Malam sunyi menyelimuti hutan gelap di luar desa Valmere.
Di bawah akar pohon raksasa, Kael berdiri sendirian, menatap retakan samar di udara—
sebuah celah dimensi berdenyut lemah, menghembuskan hawa dingin dan tekanan mana yang
menusuk tulang.
Monster-monster dari dungeon lantai 3–5 keluar dari sini.
Dan dialah satu-satunya yang tahu.
“Aku akan tutup celah ini… atau mati di sini.”
🧪 Percobaan Pertama
Ia membentuk lingkaran sihir di tanah,
Lalu ia merapal:
“Pintu tak diundang, kembali pada sunyi…”
Retakan mulai bergetar…
Simbol sihir menyala…
Tapi tiba-tiba—meledak!
Kael terpental. Dadanya terbakar. Matanya berdarah.
Ia batuk darah dan tergeletak, sesak napas.
“...tidak cukup”
Kael pun langsung menggunakan “Blueflame Heal” untuk menyembuhkan dirinya tetapi mana
dia berkurang drastis
🧪 Percobaan Kedua
Setelah 30 menit beristirahat,
Meski mana belum pulih, Kael memaksa bangkit.
Tangannya gemetar, tapi ia memperbaiki formasi mantra.
Ia menambahkan penguat resonansi, dan mencoba lagi.
“Gelombang liar, terjerat dalam garis, kembali tertutup…”
Untuk sesaat… retakan mulai mengecil.
Namun tiba-tiba—retakan itu berontak, meledak dengan tekanan balik.
Gelombang mana liar menghantam Kael.
Ia nyaris kehilangan kesadaran.
“Jika gagal sekali lagi… mungkin aku tidak bisa bangkit lagi.”
💀 Retakan Menari, Waktu Menipis
Celah itu kini semakin tidak stabil. Udara berdenyut aneh, dan pecahan kecil sihir mulai jatuh
seperti kepingan kaca mengambang.
Kael tahu, monster yang lebih kuat bisa menyusul kapan saja.
Ia duduk lemas, memandangi telapak tangannya yang bergetar.
“Ini bukan tentang siapa yang punya inti mana lagi…
Tapi siapa yang mau membayar harga untuk melindungi dunia ini.”
🩸 Percobaan Ketiga – Taruhan Nyawa
Kael menggigit jarinya sendiri, dan dengan darahnya, ia menggambar simbol sihir terakhir.
Ia mengganti formula inti. Kali ini bukan sihir penutupan… tapi sihir penyerapan dan
pengorbanan.
Artinya: ia sendiri akan menjadi segel.
“Retakan yang tak diundang… biarlah aku menjadi pintumu,
dan tubuhku menjadi kuncinya…”
Mantra aktif.
Udara hening.
Retakan mulai menciut perlahan.
Perlahan…
Perlahan…
Lalu—menutup.
Suara "kring" seperti kaca retak terdengar…
Dan celah itu menghilang seperti asap.
🎭 Tubuh Kael ambruk seketika.
Nafasnya berhenti selama beberapa detik.
Simbol di tanah menghilang.
Di sekitarnya, pecahan-pecahan kecil sihir melayang seperti serpihan kaca, sebelum lenyap ke
udara.
Kael telah menang. Tapi ia tak sadar telah selamat.
🌌 Dua Hari Kemudian
Ia terbangun di gubuk latihannya.
Tak tahu bagaimana ia kembali.
Tubuhnya penuh luka, tapi retakan itu tak pernah terbuka lagi.
Monster dari dungeon berhenti muncul.
Dan saat ia kembali ke tempat itu… tak ada bekas sihir tersisa.
Semua orang lupa insiden itu seperti badai yang cepat berlalu.
Tapi desas-desus mulai menyebar…
💬 Desas-Desus Petualang
“Katanya monster berhenti keluar sendiri?”
“Gak mungkin. Ada yang menutup retakan itu. Tapi siapa?”
“Orang bilang ada pria bertopeng yang melawan hobgoblin…”
“Ada sihir tak dikenal… bukan dari akademi manapun.”
“Apa itu… semacam penyihir liar?”
Kael hanya diam di gubuknya.
Menatap langit.
Tubuh masih sakit.
Tapi dalam dirinya…
Percikan kekuatan itu kini menjadi bara yang nyala perlahan.
“Tiga kali. Dua gagal.
Tapi sekali cukup.
Aku bisa… dan aku akan terus maju.”
Bab: Jejak dari Luar Sistem
Langit pagi di atas ibu kota Arvalis berwarna biru pucat. Awan tipis melayang diam, seperti
enggan mengganggu menara putih menjulang yang berdiri di pusat kota.
Di puncak menara, sebuah ruangan bulat penuh peta sihir berkilauan dan artefak kuno.
Di tengahnya, berdiri seorang wanita dengan rambut perak panjang, mata tajam, dan mantel
kabut menggantung di bahunya. Matanya menatap cahaya samar pada bola observasi yang baru
saja menyala.
Dialah: Nona Sylia An’Rae
Penyihir tingkat enam.
Petualang tunggal pertama yang menembus lantai 35 dungeon Ragaleth.
🔍 Laporan Aneh dari Desa Pinggiran
Seorang asisten masuk terburu-buru, membawa gulungan sihir yang masih hangat.
"Nona Sylia. Kami mendeteksi aktivitas sihir tak biasa di desa Valmere."
tit menoleh sekilas. “Valmere? Desa pertanian?”
"Benar. Laporan menyebutkan serangan hobgoblin. Tapi sihir tingkat tiga digunakan… tanpa
terdeteksi aura penyihir mana pun."
Sylia mengangkat alis.
“Tak mungkin. Tidak ada penyihir yang bisa menggunakan sihir tingkat tiga tanpa mengaktifkan
aura.”
"Kami pikir begitu juga, Nona. Tapi... ini yang tersisa."
Sang asisten menyerahkan sepotong kain hangus, bekas mantra yang membekas samar.
Sylia mendekat, mengamati dengan serius.
Simbolnya… tidak sempurna. Tidak stabil. Tapi jelas bukan buatan amatir.
“Simbol ini… dibuat tangan. Tidak tercetak. Dan ada struktur… meskipun kacau.”
Ia mendekat ke bola sihir pengamat. Menyentuh titik bercahaya samar di peta: Valmere.
“Apa ada laporan petualang?”
"Ya. Terdapat saksi mata tentang seseorang bertopeng putih, bertarung tanpa menyebut mantra,
dan menggunakan sihir elemen serta perisai. Beberapa menyebutnya: 'Bayangan Valmere',
atau 'Topeng Putih'.”
⚠️Rasa Penasaran yang Tak Bisa Diredam
Sylia menyipitkan mata.
“Seseorang menggunakan sihir tingkat tiga… tanpa aura?
Mengubah simbol sendiri?
Itu artinya dia bukan dari akademi.
Bukan bangsawan.
Dan bukan kriminal pencuri sihir.”
Ia menggenggam kain bekas mantra itu.
Kain itu panas—bukan karena sihir, tapi karena ketidaklengkapan yang mendidih di dalamnya.
“Kau… penyihir tanpa nama.
Aku tidak tahu dari mana kau datang.
Tapi jika kau bisa menutup celah dungeon tanpa sistem resmi...
Kau bukan hanya penyihir.
Kau adalah… ancaman. Atau harapan.”
🧭 Perjalanan Dimulai
Sylia mengambil tongkatnya.
Langkahnya ringan, tapi matanya tajam seperti pisau yang siap mengiris dunia.
“Siapkan perjalanan. Aku akan turun sendiri ke Valmere.”
"Sendiri, Nona?"
“Jika dia seperti yang kulihat… terlalu banyak mata hanya akan membuatnya bersembunyi.”
🎭 Sementara Itu: Kael
Di balik danau tenang dekat hutan, Kael duduk memulihkan diri.
Tangannya memegang salinan kasar dari simbol segel retakan yang ia buat malam itu.
“Jika aku bisa menutup celah dengan kekuatanku sendiri…
mungkin aku juga bisa masuk ke dalamnya. Ke dungeon.
Dan melihat dunia yang mereka semua lindungi—yang mereka pikir tak layak untuk orang
sepertiku.”
Ia menatap langit pagi.
Tak tahu bahwa di saat yang sama… seorang penyihir elit tengah menuju ke desanya,
mencari jejaknya.
📌 Akhir Bab – Dua Kutub, Satu Jalur
Mereka belum bertemu.
Belum saling tahu.
Tapi takdir mereka mulai bergerak dalam garis yang makin mendekat.
Tidak sebagai musuh.
Tidak sebagai teman.
Tapi sebagai dua dunia yang tak seharusnya bersatu—dan tak bisa diabaikan.
Bab: Dua Langkah dalam Bayangan
📍 Lokasi: Valmere (Pagi)
Angin pagi mengusap desa Valmere dengan lembut. Rumah-rumah hangus sudah mulai
diperbaiki. Warga mencoba melanjutkan hidup, seolah invasi monster hobgoblin hanyalah badai
singkat.
Tapi bagi sebagian orang, luka yang tersisa tak terlihat.
Di antara pepohonan di pinggiran desa, seorang wanita berdiri mengamati dalam diam. Rambut
peraknya tersembunyi di balik kerudung abu-abu. Ia mengenakan jubah biasa, menyamar sebagai
pengelana.
Nona Sylia.
Ia melihat reruntuhan bekas medan pertempuran.
Tanah masih menyimpan jejak mana samar.
Terlalu bersih untuk sihir tingkat 3... tapi terlalu kasar untuk sihir akademi.
“Ini bukan teknik resmi…
Tapi siapa pun yang membuatnya tahu apa yang dia lakukan.”
Ia berjongkok, menyentuh tanah.
Simbol sihir yang hampir pudar terasa seperti bernapas sendiri.
“Tak pakai inti mana. Tak pakai mantra lisan.
Tapi bisa menutup celah dimensi…”
Ia menatap hutan di barat laut desa.
“Kalau aku jadi dia… aku akan menjauh sekarang.
Atau menyusup ke dungeon, sebelum terlalu banyak mata mencarinya.”
📍 Lokasi: Luar Dungeon Ragaleth (Beberapa jam kemudian)
Di sisi lain, tersembunyi dalam kabut pegunungan yang jarang dijaga, sebuah celah tersembunyi
terbuka lebar—bukan celah dimensi liar, tapi jalur akses bawah tanah untuk para pembersih
dan peneliti yang bekerja di dungeon.
Biasanya dijaga. Tapi tidak hari ini.
Seorang pria muda mengenakan jubah hitam gelap dan topeng putih menyelinap di antara
bayangan.
Langkahnya tenang. Tapi napasnya berat.
Kael.
Tangannya gemetar saat menyentuh tembok batu sihir di pintu masuk lantai pertama.
“Ini dia. Lantai satu. Dunia yang katanya bukan untuk orang sepertiku.”
Ia mengatur napas.
Bahu kiri masih nyeri sejak menutup retakan. Tapi tekadnya jauh lebih besar dari rasa sakit.
Ia membuka gulungan kecil berisi simbol sihir pelindung darurat—hasil eksperimen sendiri.
“Kalau aku gagal… tidak ada yang akan tahu aku pernah ada di sini.”
Ia melangkah masuk.
📍 Kembali ke Valmere – Malam Hari
Sylia duduk di beranda rumah petani tua yang menawarkannya tempat menginap.
Ia mencatat laporan:
Sihir liar tingkat 3 terdeteksi
Struktur simbol tidak dikenal
Monster berhenti muncul secara tiba-tiba
Satu orang saksi mengatakan melihat “mata biru di balik topeng putih”
“Mata biru…” bisik Sylia.
“Seperti milik orang dari utara… atau lebih tepatnya… anak desa ini sendiri?”
Ia mendekatkan buku catatannya.
Matanya menyipit.
“Siapapun dia, dia tidak akan diam.
Dia akan mencoba lebih.”
📍 Dungeon Ragaleth – Lantai Pertama
Kael bersembunyi di balik batu raksasa.
Dua goblin mengendus udara di kejauhan.
Ia memejamkan mata dan menyusun sihir diam-diam:
“Pola api searah. Fokus panas. Ledakan kecil.”
Ledakan kecil menyambar goblin tanpa suara.
Mereka berubah menjadi pecahan kaca sihir—berkilau dan hancur perlahan.
Kael merangkak ke depan.
“Tidak secepat Sylia. Tidak sekuat penyihir elit.
Tapi aku bisa bertahan.”
“Dan aku akan terus naik.”
🔚 Penutup Bab – Langkah Tanpa Jejak
Di Valmere, Sylia bersiap meninggalkan desa.
“Dia tidak akan kembali ke sini.
Tapi aku tahu… kita akan bertemu.
Di tempat yang tidak bisa disembunyikan: dungeon.”
Di dungeon, Kael menatap langit palsu lantai pertama—cahaya sihir buatan yang menyinari
lorong-lorong sepi.
“Aku tidak tahu siapa yang akan kutemui nanti.
Tapi aku harus kuat sebelum mereka tahu aku ada.”
Tidak sebagai musuh.
Tidak sebagai teman.
Tapi sebagai dua dunia yang tak seharusnya bersatu—dan tak bisa diabaikan.
Bab: Jejak Tanpa Aura
📍 Dungeon Ragaleth – Lantai 1
Langkah sepatu sihir menyentuh lantai batu dengan bunyi lembut.
Di belakangnya, dua penjaga sihir membawa kristal pelacak dan gulungan catatan. Tapi mereka
tetap menjaga jarak—karena wanita yang mereka iringi bukan siapa-siapa.
Dia adalah Nona Sylia An’Rae.
Dan hari ini, ia turun ke dungeon bukan untuk menaklukkan… tapi untuk mencari.
📜 Investigasi Dimulai
Sejak laporan dari Valmere muncul, semua petunjuk mengarah ke satu hal:
Ada seseorang yang bisa masuk ke dungeon… tanpa izin.
Dan menggunakan sihir tingkat tiga tanpa aura.
Bahkan para pengamat sihir tidak bisa melacaknya.
Sylia berdiri di depan area pertarungan pertama lantai satu.
Dindingnya sudah bersih, seperti biasa.
Tapi dengan bola sihir pengurai di tangannya, ia menggesek lantai, mencari fragmen simbol
sihir yang tertinggal.
“Hmph. Terhapus dengan sangat bersih.”
“Terlalu bersih.”
Ia menyentuh dinding—dan samar, muncul jejak lingkaran sihir kecil.
“Penghalang elemen sederhana.
Tapi… disusun ulang.
Ini bukan formasi akademi.”
Asisten di belakangnya mencoba berbicara, tapi Sylia mengangkat tangan.
“Diam. Jejak seperti ini hanya bertahan beberapa hari.
Dan ini… baru.”
🧠 Analisis Sylia
Sylia membuka gulungan sihir pengurai miliknya sendiri dan menyalin ulang simbol itu.
Ia membandingkan dengan simbol dari insiden Valmere.
“Struktur mirip. Tapi kali ini… dia perbaiki polanya.
Dia belajar. Dari kesalahannya sendiri.”
Ia berdiri perlahan. Matanya menyipit.
“Kau naik ke lantai satu. Diam-diam.
Dan kau menyempurnakan sihirmu setelah melawan monster…”
“Kau bukan penyihir amatiran. Kau bukan eksperimen gagal.
Kau… adaptif. Itu yang paling berbahaya.”
🪓 Serangan Dadakan
Tiba-tiba, suara gemuruh datang dari lorong lain.
Sekelompok petualang tingkat rendah berlari keluar dengan panik.
“Ada monster tipe liar! Goblin elite! Bukan dari pola biasa!”
“Sihir kami tak bisa tembus perisainya!”
Sylia langsung bergerak.
Ia tidak merapal mantra. Ia hanya menunjuk ke arah suara.
“Beku.”
Dalam satu bisikan, udara di sekitar goblin elite membeku menjadi jeruji kabut es, dan monster
itu hancur menjadi kaca.
Semua orang terdiam.
"Lantai satu… tak seharusnya punya mutan goblin.
Kecuali…"
“…ada penyusup yang mengguncang ekosistem dungeon.”
🔎 Penemuan Terakhir
Setelah membersihkan lokasi, Sylia menemukan potongan kecil pecahan sihir yang bentuknya
aneh—tidak seperti serpihan biasa.
“Ini bukan dari goblin.
Ini pecahan sihir… dari penghalang campuran.
Teknik eksperimental.”
Ia menggenggam pecahan itu.
Mata birunya memantulkan cahaya redup dari kristal dungeon.
“Kau masih di sini… atau mungkin sudah naik.”
📌 Penutup Bab – Pemburu dan Bayangan
Di tempat lain, Kael berada di lantai 3.
Tubuhnya kelelahan, tapi ia berhasil menghindari patrol sihir.
Ia duduk di pojok gua batu, menyusun ulang catatan sihirnya.
“Aku harus lebih rapi. Lebih cepat.
Meninggalkan jejak… hanya akan mengundang orang.”
Ia menggambar ulang simbol penghalang—sekarang lebih efisien dari versi pertamanya.
Sementara itu, Sylia kembali berdiri di tengah lantai pertama, menatap ke atas.
“Kita akan bertemu, ‘Topeng Putih’.
Aku tahu itu.”
“Dan saat itu tiba… aku ingin tahu apakah kau teman… atau racun.”
Tidak sebagai musuh.
Tidak sebagai teman.
Tapi sebagai dua dunia yang tak seharusnya bersatu—dan tak bisa diabaikan.
Bab: Batas dan Jalan Pulang
📍 Dungeon Ragaleth – Lantai 5
Udara lantai lima panas, lengket, dan penuh desisan lembut dari makhluk-makhluk yang
mengintai di balik kabut sihir.
Di sinilah para penyihir resmi biasanya mulai bergerak dalam tim. Tapi Kael berjalan sendiri.
Dan hari ini, ia hampir membayar harga itu dengan nyawanya.
⚔️Pertarungan Nyaris Mati
“Jangan bergerak… jangan bernapas…”
Kael bersembunyi di balik reruntuhan batu, tangan kirinya terluka parah—terbakar oleh ledakan
sihirnya sendiri.
Di hadapannya tadi berdiri seekor Rakk’nal, monster jenis Lurker Toksik, musuh penghuni
lantai lima yang dikenal karena serangan gelombang racun tak kasat mata dan regenerasi cepat.
Sihir pelindung miliknya—yang ia rancang sendiri—gagal aktif.
“Mantraku tidak sinkron… simbolnya terlalu lambat…”
“Bodoh…”
Kael nyaris tewas.
Dalam kepanikan, ia menciptakan campuran sihir udara-tinggi dan api-terpusat, meledakkan
udara dari dalam tubuh monster itu.
Rakk’nal meraung sebelum akhirnya pecah menjadi kristal kaca sihir.
Kael terpental. Kepalanya terbentur keras. Dunia berputar.
“Aku menang… tapi ini bukan kemenangan. Ini… keberuntungan.”
🧠 Kesadaran Diri
Bersandar di dinding batu lembap, Kael membuka gulungan catatan sihirnya yang sudah basah
oleh darah dan peluh.
Simbol pertahanannya dicoret besar-besaran:
“TIDAK STABIL. LAMBAT. MATI.”
“Kalau terus seperti ini… lantai 6 akan jadi kuburanku.”
🔎 Penemuan Ruang Rahasia
Ia menyeret tubuhnya menyusuri lorong dan menemukan celah kecil di dinding yang terasa...
bergetar.
Ia menyentuhnya, dan dinding itu perlahan bergeser, membuka jalan ke sebuah ruang
tersembunyi.
Ruang itu gelap. Hening.
Namun di tengahnya terdapat ukiran simbol tua berlapis kristal pudar. Di sekelilingnya, kata-
kata dalam bahasa kuno:
“Jalur ini hanya terbuka bagi mereka yang menyatu dengan bentuk.”
“Naik atau turun. Pilihmu adalah kehendak.”
Kael terdiam. Ia mendekat, menyentuh simbol itu dengan tangan gemetar.
“Teleportasi… kuno. Ini bukan bagian dari sistem akademi.”
“Mungkin… jalur yang digunakan generasi awal penyihir sebelum dungeon dikendalikan
sistem.”
🌀 Aktivasi Teleportasi
Kael menyusun ulang simbol dengan jarinya—mencampur antara struktur lama dan alur sihir
hasil eksperimennya.
“Aku bisa turun… lima lantai… keluar… dan hidup.”
Ia menutup matanya. Merasakan aliran mana menari.
Simbol menyala.
Cahaya biru mengelilinginya, dan sekejap kemudian…
📍 Pegunungan Barat – Reruntuhan Penjaga Lama (Zona Tak Tercatat)
Cahaya pudar meletup lembut di antara bebatuan pegunungan.
Tubuh Kael muncul lalu jatuh lemas ke tanah. Napasnya terputus-putus.
“Berhasil…”
Ia berada di luar dungeon.
Di tempat sunyi, tanpa pengawas, tanpa sistem.
Hanya reruntuhan sihir tua, angin pegunungan, dan tubuhnya yang nyaris hancur.
📚 Latihan dan Refleksi
Selama beberapa minggu berikutnya, Kael membangun tempat latihan sederhana.
Ia:
Menyempurnakan simbol pelindung agar responsif dan hemat mana
Menciptakan mantra hybrid untuk pertahanan tanpa suara
Menguji pola sihir otomatis yang bisa ditanam seperti jebakan
Ia belajar… bukan untuk menjadi kuat dalam sehari. Tapi untuk bertahan hidup di dunia yang
tak pernah memberinya tempat.
“Aku tidak akan naik lagi…
sampai aku bisa berdiri di lantai 6… dan tidak lagi berdoa untuk keajaiban.”
⚠️Sementara Itu: Di Dalam Dungeon…
Sylia menatap puing lantai dua dengan wajah penuh pertimbangan.
“Pecahan kaca monster ini tidak biasa.”
“Dia tak berhenti di lantai satu.”
“Dia terus naik…”
Di sisi lain, pengamat sihir melaporkan gangguan aura tak dikenal di lantai 5—tapi
menghilang sebelum bisa dilacak.
“Seolah-olah… dia menghilang.
Tapi tidak dengan sihir resmi.”
Sylia menyipitkan mata.
“Kau memutar sistem.
Kau bersembunyi di celah.”
“Kau tahu… dunia ini tak menginginkanmu.
Tapi kau tetap memaksa naik.”
Di pegunungan, Kael menggenggam ulang gulungan sihir barunya.
Di dungeon, Sylia menatap simbol yang samar di reruntuhan.
Dua jalur. Dua cara. Satu arah.
Tidak sebagai musuh.
Tidak sebagai teman.
Tapi sebagai dua dunia yang tak seharusnya bersatu—dan tak bisa diabaikan.
Bab: Jejak yang Terputus
📍 Dungeon Ragaleth – Antara Lantai 4 hingga Lantai 6
"Monster-nya... berbeda."
Itulah kalimat yang pertama kali keluar dari mulut Sylia saat memasuki lantai empat.
Biasanya, monster-monster di sini hanya varian dasar dari makhluk buas — goblin elite, crawler
sihir, dan undead rendah.
Namun kali ini, struktur mananya tidak stabil.
"Mereka bermutasi... tapi bukan karena alam."
Sylia berdiri di tengah puing-puing pertarungan, napasnya berat.
Tubuh monster yang ia kalahkan tidak berubah menjadi pecahan kaca biasa, melainkan
mengeluarkan residu mana liar yang merusak struktur dungeon di sekitarnya.
“Seseorang memodifikasi sihir di tempat ini…”
“…atau keberadaan seseorang sudah cukup untuk mengganggu ekosistem dungeon.”
⚔️Lantai 5 — Pertempuran yang Tak Bisa Diabaikan
Saat memasuki lantai lima, Sylia harus menghadapi Rakk’nal bersayap, varian monster yang
tidak tercatat dalam sistem akademi.
Ia harus mengeluarkan dua mantra tingkat empat berturut-turut—sesuatu yang bahkan
penyihir elit jarang lakukan sendiri.
"Pecahkan gravitasi."
"Lipat api di belakang jantung sihirnya."
Monster itu meledak jadi semburan pecahan kaca berwarna merah darah.
Sylia jatuh berlutut. Bahunya terluka.
“Dia… membuat monster ini bermutasi hanya dengan keberadaannya.”
“Siapa pun dia, dia bukan penyihir biasa. Bahkan jika dia masih di bawah level 3.”
Bab: Jejak yang Terputus (Revisi)
📍 Dungeon Ragaleth – Antara Lantai 4 hingga 6
"Monster-nya... berbeda."
Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Sylia saat ia memasuki lantai empat.
Biasanya, monster di sini hanyalah goblin elite atau crawler sihir rendah. Tapi kini, struktur
mananya tidak stabil, dan mutasi sihir muncul dari makhluk yang semestinya biasa saja.
“Ini bukan evolusi alami.
Ini... distorsi buatan.”
⚔️Di Lantai 5 — Ujian yang Tidak Diharapkan
Di lantai lima, Sylia menghadapi sesuatu yang bahkan tidak ada dalam catatan akademi sihir:
Rakk’nal bersayap.
Makhluk hasil mutasi, mampu menyerap dan memantulkan sihir tingkat rendah.
Dua mantra tingkat empat ia lepaskan, berturut-turut.
Tindakan berbahaya, bahkan untuk penyihir elit sepertinya.
Akhirnya, tubuh monster itu meledak menjadi pecahan kaca merah pekat—bukan transparan,
bukan alami.
“Distorsi sihirnya… terlalu padat.
Ada campur tangan luar.
Bukan dari sistem dungeon.”
🧠 Mencari Jejak — dan Tidak Menemukannya
Setelah pemulihan singkat, Sylia melanjutkan ke lantai enam.
Ia berjalan perlahan, menyapu setiap lorong dengan mantra pelacak aura.
Kosong.
Tak ada bekas pertarungan.
Tak ada simbol sisa mantra.
Tak ada aura sisa sihir — seolah tidak ada yang pernah lewat.
"Tidak mungkin… Jejaknya jelas dari lantai 1 sampai 5."
"Tapi sekarang… lenyap?"
"Dia tidak mati.
Tapi dia juga tidak naik.
Dan tidak keluar dari jalur utama dungeon..."
💢 Frustrasi yang Menyelinap
Bahu Sylia masih berdarah ringan dari pertarungan tadi.
Tangannya mengepal. Matanya menyapu langit-langit tiruan dungeon.
“Kalau dia bisa menghilang di lantai lima, maka dia tahu jalur yang tidak kami ketahui.”
“Jalur yang bahkan para pengamat sihir tidak tahu.”
“Apa sebenarnya kau…?"
💭 Monolog Dalam Diri
“Sistem sihir. Pengawasan kristal. Peta dungeon.
Semua diciptakan untuk memastikan tidak ada yang bisa menyusup.”
“Tapi dia bisa.”
“Dan aku... bahkan tidak bisa mengikuti bayangannya.”
Sylia berdiri di tengah lantai enam yang sunyi.
Tangannya memegang gulungan laporan kosong—karena tidak ada bukti yang bisa dibawa
kembali.
“Dia tidak hanya kuat. Dia cerdas. Dan sabar.”
“Dan yang paling berbahaya dari semua itu… dia tahu kapan harus mundur.”
Tidak sebagai musuh.
Tidak sebagai teman.
Tapi sebagai dua dunia yang tak seharusnya bersatu—dan tak bisa diabaikan.
Hening di Ujung Lorong
📍 Pegunungan Lorvane – Reruntuhan Tempat Latihan Kael
Angin dingin menampar wajah Kael saat ia duduk di atas batu besar.
Tubuhnya penuh bekas luka lama—tanda dari semua lantai dungeon yang ia lalui sendirian.
Di depannya, gulungan-gulungan catatan sihir terbuka.
Simbol-simbol berkilau samar di bawah cahaya rembulan.
"Aku berhasil… tapi aku tidak tahu berapa kali hampir mati."
📉 Kemenangan yang Sepi
Kael menatap tangannya.
Mana di dalam tubuhnya kini lebih stabil—lebih terkendali.
Tapi ia tahu: itu bukan hasil dari berkah, melainkan perjuangan, dan penderitaan yang dia
pilih sendiri.
"Lantai lima... cukup untuk sekarang."
"Kalau aku terus memaksakan diri, aku akan benar-benar terkubur di dalam sana."
🧩 Menyusun Ulang Tujuan
Semua mantra dan teknik yang ia kembangkan kini tidak lagi cukup diuji di tempat ini.
"Aku butuh lebih banyak teori.
Lebih banyak struktur sihir...
Dan lebih banyak... pemahaman tentang dunia ini."
"Sistem yang menolakku...
sekarang akan memberiku ruang untuk belajar."
🧥 Melepaskan Diri dari Bayangan
Kael membuka tas kecilnya.
Di dalamnya, topeng putih—yang selama ini ia pakai untuk menyembunyikan identitasnya saat
melawan monster-monster dungeon.
Ia menatapnya sebentar...
Lalu meletakkannya di atas batu, membiarkannya tertinggal di sana.
“Kau yang melindungiku.”
“Tapi aku harus belajar berjalan dengan wajahku sendiri.”
📍 Di Dalam Dungeon – Beberapa Hari Sebelumnya
Sylia berdiri di lantai enam, napasnya berat, luka di bahunya belum sepenuhnya sembuh.
Di sekelilingnya, dungeon sunyi. Tidak ada aura. Tidak ada jejak.
Hanya diam.
“Kau sudah pergi.”
“Ke mana pun kau melangkah… aku harap kau masih hidup.”
Ia mengambil satu pecahan kaca dari monster terakhir.
Pecahan itu berkilau dengan struktur mana tak dikenal—seperti pesan sunyi dari seseorang yang
tak ingin ditemukan.
“Sudah cukup.”
“Aku akan berhenti mencarimu.”
🧭 Jalan yang Berbeda
Sylia naik kembali ke permukaan.
Kael mempersiapkan dirinya menuju dunia baru.
Mereka berjalan di jalan berbeda.
Tapi di kedalaman hati masing-masing, satu hal tetap terjaga:
“Jika takdir mempertemukan kita kembali,
semoga itu bukan di antara sihir dan pedang.”
🕯️Penutup Bab – Transisi
Kael berdiri di tebing, menatap cakrawala.
Di kejauhan, kota akademi mulai terlihat—jauh, terang, dan penuh dunia yang dulu tidak ia
miliki.
Ia mengenakan jubah biasa.
Membawa nama baru.
Dan satu keyakinan:
“Aku tidak lagi berlari.”
“Sekarang aku melangkah masuk ke dalam dunia mereka.”
NEW ARC
Kota Dataran Renastra, ibu kota sihir terbesar di utara, menyambut musim penerimaan siswa
baru dengan sorak dan simbol terbang.
Bendera akademi dikibarkan di setiap tiang kota, menampilkan lambang lingkaran sihir tujuh
lapis—tanda tertinggi dari struktur sihir resmi.
Di antara keramaian, seorang pemuda berjalan sendirian.
Jubahnya lusuh, sepatu botnya berdebu, dan wajahnya… sulit diingat.
Biasa saja.
Namun di matanya—ada luka yang belum sembuh dan ambisi yang tak bisa dipadamkan.
Kaien Vallis.
Nama itu baru tercipta tiga bulan lalu.
Nama yang tidak pernah tercatat dalam registrasi mana nasional, tidak ada afiliasi keluarga, tidak
ada catatan pelatihan resmi.
Tapi hari ini, nama itu akan terdaftar secara sah sebagai murid Akademi Sihir Renastra.
🏛️Ruang Seleksi
“Selanjutnya! Kaien Vallis!”
Suara staf administrasi menggema di aula penerimaan. Kaien melangkah maju, mengangguk
sedikit.
“Asal?”
“Desa kecil di luar Valmere,” jawabnya pendek.
“Sponsor?”
“Tidak ada.”
“Ujian teori… sempurna.”
“Ujian praktik… cukup stabil.”
Staf itu mengerutkan dahi sejenak, lalu memberikan stempel kristal berwarna biru muda.
“Kelas Reguler. Asrama Utara. Selamat bergabung.”
Kaien menerima lambang itu, membungkuk kecil, lalu melangkah pergi tanpa sepatah kata.
🧍 Pertemuan dengan Toren
Di lorong menuju asrama, suara riang menyapa.
“Hei! Kamu juga murid Reguler?”
“Aku Toren! Toren Grell!”
Kaien menoleh. Seorang pemuda dengan rambut cokelat berantakan dan mata penuh semangat
berdiri dengan tas besar di punggungnya.
“Kita kayaknya satu kamar! Asrama Utara kan?”
Kaien mengangguk.
“Kaien.”
“Dari desa juga?”
“Ya.”
“Haha! Serius! Akhirnya ada yang bukan bangsawan juga di sini!”
Toren tertawa keras, lalu merangkul Kaien seolah mereka sudah kenal lama.
🏠 Asrama Utara – Malam Pertama
Kaien duduk di tempat tidurnya, membaca ulang daftar pelajaran.
Toren sudah tertidur, mendengkur pelan.
Di luar, simbol-simbol sihir bersinar di langit akademi.
Ini adalah inti dari dunia yang dulu menolaknya—dan sekarang menjadi ladang perburuannya.
Ia membuka tas kecil. Di dalamnya:
Gulungan mantra yang ditulis dengan tangannya sendiri
Catatan tentang struktur sihir tingkat 3 hingga 5
Simbol kuno yang tidak dikenali siapa pun di sini
“Mereka berpikir aku datang untuk belajar dari mereka…”
“Tapi aku datang untuk mengambil semua yang mereka sembunyikan.”
📜 Penutup Bab: Bayangan yang Duduk di Antara Mereka
Di ruang kelas esok pagi, Kaien duduk di pojok paling belakang.
Diam, tidak menonjol.
Tapi siapa pun yang peka… mungkin akan merasa sesuatu aneh tentang anak ini.
Bukan karena auranya.
Tapi karena dia tidak meninggalkan jejak mana sama sekali.
Dan itu… adalah sesuatu yang mustahil bagi penyihir pemula.
Bab 2: Pelajaran Pertama
🏛️Aula Utama Akademi Renastra – Kelas Reguler Tahun Pertama
Ruang aula dibangun seperti arena gladiator: dinding batu putih, kursi tribun mengelilingi arena
sihir berlapis pelindung transparan.
Di tengahnya, lingkaran sihir tingkat satu terpahat di atas lantai, memancarkan sinar biru
samar.
Di seberang ruangan, lebih dari lima puluh murid tahun pertama duduk rapi—semuanya
memakai jubah identik biru tua.
Termasuk Kaien dan Toren, duduk berdampingan di pojok tribun barat.
🧑🏫 Masuknya Instruktur
Seorang pria bertubuh tinggi dengan jubah sihir perunggu masuk ke tengah arena. Suaranya
lantang, jelas, dan menusuk.
“Selamat datang, murid baru Akademi Sihir Renastra.”
“Saya Instruktur Dareth, penguji kendali sihir dasar kalian.”
“Pelajaran pertama hari ini adalah Manifestasi Mana Stabil — kemampuan menyalurkan mana
ke luar tubuh dan membentuk pola sihir tingkat satu dengan aman.”
Ruangan menjadi tegang.
🔍 Aturan Ujian
Instruktur mengangkat tangan, dan simbol sihir muncul di udara.
“Ujian ini sederhana.
Satu per satu kalian akan turun ke arena dan memanifestasikan simbol ini—Kreis-1: Nyala
Dasar.
Tidak harus sempurna. Tapi harus stabil.
Jika kalian gagal… kalian akan dicatat sebagai kandidat remedial.”
Beberapa murid mulai gelisah.
Kaien? Ia hanya mengamati—diam, netral, bahkan sedikit menahan napas.
👥 Murid Mulai Ujian
Satu per satu murid turun. Beberapa bisa mengeluarkan api kecil. Beberapa hanya memercikkan
asap.
Beberapa lainnya gagal total—simbolnya pecah, atau mana-nya melonjak liar.
Toren dipanggil.
Ia mengepalkan tangan, menarik napas, lalu menyalurkan mana ke tangannya.
Simbol lingkaran api muncul—tidak sempurna, tapi cukup stabil. Api kecil menyala.
“Toren Grell. Stabil. Lulus.”
Toren naik lagi dengan wajah lega.
🧊 Saat Kaien Dipanggil
“Kaien Vallis.”
Kaien berdiri pelan, menuruni tangga batu. Semua mata menoleh.
Wajahnya datar. Tidak takut. Tidak sombong.
Ia berdiri di tengah arena.
Mengangkat tangan kanannya.
Dan mulai membentuk simbol itu.
⚠️Perjuangan yang Diatur
Di dalam pikirannya:
“Kreis-1... aku bisa membuat ulang pola ini dalam tidur. Tapi terlalu sempurna malah curiga.”
“Cukup setengah. Biar mereka pikir aku punya potensi, tapi belum stabil.”
Kaien mengontrol aliran mana di tubuhnya—menurunkannya dengan paksa, menahan tekanan
seperti orang awam.
Simbol api muncul—gemetar sedikit, tidak stabil sepenuhnya, tapi menyala dan tidak pecah.
“Kaien Vallis. Stabil… nyaris mentah. Tapi lulus.”
Beberapa murid terlihat lega. Satu-dua instruktur mengangguk, mencatat.
Kaien kembali duduk. Toren menyambutnya dengan tos kecil.
“Kita berdua lulus di hari pertama, teman!”
Kaien mengangguk pelan.
Tapi di dalam pikirannya…
“Kalau aku benar-benar mengeluarkan kekuatanku, api ini bisa menembus dinding arena.”
📜 Penutup Bab: Ujian Pertama, Kebohongan Pertama
Hari pertama selesai.
Kaien lulus—sebagai murid biasa.
Toren tersenyum—bangga sebagai sesama “anak desa”.
Instruktur mencatat—tak satupun menyadari… ada naga yang sedang menyamar sebagai
anak ayam.
Bab 3: Kelas yang Terlambat Mengajarkan Segalanya
🏫 Ruang Kelas Reguler – Hari Kedua
Matahari pagi menembus jendela kaca berbentuk kristal. Meja-meja batu sihir tertata rapi. Setiap
murid memiliki kit belajar sihir dasar: pena berbahan serat manawood, kertas simbolik, dan
batu ukir kecil sebagai pemicu visual.
Kaien duduk di bangku belakang, diam.
Toren di sebelahnya sudah bersemangat.
“Kita bakal belajar pengenalan simbol sihir! Akhirnya!” katanya.
Kaien hanya mengangguk.
📘 Pelajaran Pertama – Teori Struktur Mana Lapisan 1
Guru yang mengajar hari itu adalah wanita tua bernama Madam Hestel—dikenal sebagai salah
satu penulis buku "Sihir untuk Dunia yang Tak Paham Sihir."
Ia menulis simbol di udara dengan tongkat kristalnya:
“Anak-anak. Semua sihir tingkat satu berasal dari pemahaman dasar: bahwa mana adalah bentuk
resonansi, bukan ledakan.
Kalian bukan mencoba memaksa alam, kalian sedang mengajaknya bicara.”
Beberapa murid mencatat.
Toren? Menatap kosong.
Kaien? Mencatat cepat—bukan karena butuh, tapi agar terlihat wajar.
“Simbol ini sudah kupelajari tiga tahun lalu, dari dinding reruntuhan yang hampir runtuh. Tapi
tak ada salahnya mencatat.”
🧪 Praktik Visualisasi
Madam Hestel meletakkan batu kecil di atas meja.
“Tugas kalian: aktifkan batu ini dengan simbol nyala ringan. Jangan pakai emosi. Jangan pakai
kekuatan. Pakai struktur.”
Kaien memperhatikan semua murid.
Ada yang mencoba berkonsentrasi keras hingga wajahnya merah.
Ada yang terlalu banyak memberi mana hingga batu pecah.
Toren hanya bisa membuatnya bergetar sedikit.
Kaien menyentuh batunya, dan hanya sedikit mengalirkan mana.
Batu itu menyala hangat selama tiga detik—cukup, tidak lebih.
“Menahan diri… ternyata jauh lebih melelahkan daripada melepaskan semuanya.”
📚 Pelajaran Lanjutan – Etika & Hukum Sihir
Setelah istirahat, pelajaran berpindah ke ruang aula kecil. Guru berikutnya adalah pria botak
berjubah merah marun bernama Dosen Ralver, sangat ketat dan berbicara cepat.
Ia mengetuk tongkatnya dan berkata:
“Sihir tidak bebas.
Setiap penggunaan di luar akademi—terutama di area publik—bisa dikategorikan sebagai
pelanggaran kelas-C.
Bahkan mantra sederhana seperti Kreis-1: Nyala Dasar bisa diproses hukum jika menyebabkan
kerusakan.”
Beberapa murid mulai gelisah. Ada yang bertanya:
“Bagaimana dengan pertahanan diri, pak?”
“Jika kalian belum bersertifikat, kalian dianggap membahayakan.
Kecuali dalam kondisi darurat ekstrem—yang akan kami tentukan, bukan kalian.”
Kaien mencatat semuanya dengan hati-hati.
“Jadi… bahkan penyihir pun harus bermain dalam sistem.”
“Dan sistem ini bisa dibengkokkan… kalau kau tahu celahnya.”
🕰️Penutup Hari
Hari berakhir dengan tugas membaca 20 halaman tentang Peleburan Struktur Simbolik, dan
menggambar ulang tiga pola dasar.
Toren tertidur saat membaca halaman ketiga.
Kaien menggambar ulang pola itu… dalam versi yang disempurnakan, lalu menyembunyikan
kertas aslinya dan menyerahkan yang biasa.
*“Jika mereka tahu aku bisa menggambar pola tingkat dua tanpa pemicu…”
“...aku akan kehilangan waktu yang kubutuhkan di sini.”
📜 Penutup Bab: Menyembunyikan Kepintaran
Akademi ini mengajar banyak hal.
Tapi bagi Kaien, pelajaran sejati bukan tentang bagaimana menguasai sihir…
melainkan bagaimana menguasai dunia yang dibangun di atas sihir—tanpa menjadi
bagiannya.
Bab 4: Langkah Pertama ke Kedalaman
🪨 Aula Pengantar Dungeon – Akademi Renastra
Pagi itu, semua murid Reguler dikumpulkan di aula bawah tanah. Cahaya sihir menerangi
dindingnya, dan sebuah gerbang teleportasi memancarkan sinar biru redup di tengah ruangan.
Instruktur Dareth berdiri di depan.
“Hari ini kalian akan turun ke Dungeon Lantai 1.”
“Tujuannya bukan membunuh, tapi mengamati dan melaporkan pola pergerakan mana liar
di zona aman.”
“Kelompok akan dibagi per 4 orang. Kalian akan diawasi dari ruang observasi.
Jika terjadi bahaya, teleportasi darurat akan menarik kalian keluar.”
Murid-murid mulai bergumam, gugup dan penasaran.
🔀 Pembagian Tim
Kaien awalnya tidak bereaksi—sampai nama-nama diumumkan.
“Tim Tiga:
Kaien Vallis
Toren Grell
Rylven Arcthelis
Elara Virellia.”
“…Tentu saja.” Kaien berpikir sambil menarik napas dalam.
Toren tampak girang.
Rylven—yang duduk di barisan depan—langsung mendengus.
“Serius? Aku satu tim dengan… anak lumpur dan anak hantu?”
Ia menatap Kaien dengan sinis.
“Pastikan kau tidak meledakkan dirimu sendiri, Vallis. Atau jangan-jangan… kau belum bisa
sihir beneran?”
Kaien tidak menjawab.
Tapi Elara yang berdiri di belakang Rylven, menatap Kaien diam-diam.
Pandangan matanya tajam, mengamati, bukan menilai.
“Kita turun sekarang,” kata Dareth. “Waktu kalian di dalam: 30 menit.”
🌀 Dungeon Lantai 1 – Zona Aman
Kelompok mereka muncul di koridor batu dengan cahaya samar dari kristal dinding.
Toren langsung memegang tongkat sihir pendeknya.
“Ini pertama kalinya aku benar-benar masuk dungeon… Rasanya beda, ya?”
“Seperti… tempat yang sudah lama tidur.”
Rylven bersikap seenaknya, membakar sarang kelelawar kecil hanya karena kesal.
“Lemah. Kotor. Dunia macam apa ini.”
Kaien menyusuri dinding. Ia menyentuh reretakan, mengamati pola sihir alami yang mengalir
di baliknya.
Ia bahkan mencium sisa mana tua—mungkin dari struktur dungeon yang lebih dalam.
Elara berdiri tidak jauh darinya.
“Kau tahu apa yang kau sentuh?” tanyanya pelan.
Kaien menoleh singkat.
“Cuma celah biasa.”
“Itu bukan celah biasa,” Elara menimpali. “Mana di sini punya pola tiga lapis.
Biasanya hanya dua. Dan kau menyentuhnya langsung tanpa alat ukur.”
“Kebetulan saja,” Kaien menanggapi singkat, lalu menjauh.
"Dia tahu terlalu banyak," pikirnya.
⚠️Gangguan Tak Terduga
Dari ujung lorong, muncul seekor monster goblin—harusnya sudah dijinakkan. Tapi yang ini...
tampak gelap, agresif, dan menolak simbol peredam.
Toren panik.
Rylven menyerang asal dengan api tapi meleset dan malah membakar sisi dinding.
Kaien menghela napas.
Ia melangkah maju dan… berpura-pura salah membaca mantra.
Simbol di udara bergoyang, lalu meledak kecil—cukup untuk membuat goblin jatuh terkejut,
bukan mati.
Toren segera mengikatnya dengan simbol pembatas.
Rylven mengumpat.
“Kalau bukan karena aku, kita semua habis!”
Elara menatap Kaien lekat-lekat.
“Tadi itu… bukan gagal, kan?”
Kaien tak menjawab.
🕰️Penutup Bab – Cahaya dan Bayangan
Tim keluar dengan selamat.
Laporan dikumpulkan. Semua dianggap “berhasil”.
Tapi di ruang observasi, dua pengawas berbisik:
“Anak bernama Vallis… dia gagal dengan pola aneh. Seperti membelokkan struktur.”
“Atau menahannya…”
Di kelas, Toren gembira karena bisa mencatat sesuatu untuk pertama kalinya.
Rylven menuduh Kaien sebagai beban.
Elara? Ia tidak berkata apa-apa. Tapi mulai mencatat sesuatu dalam jurnalnya sendiri.
“Orang ini… bukan seperti yang terlihat.”
Api yang Membakar Sendiri
🧑🏫 Kelas Berlanjut – Pelajaran “Pembacaan Ulang Struktur Sihir”
Beberapa hari setelah kunjungan dungeon, suasana kelas mulai kembali normal—untuk sebagian
besar murid.
Tapi tidak bagi Rylven Arcthelis.
Sejak insiden dungeon, harga dirinya seperti tercabik. Ia tidak terima—terutama karena Elara,
bangsawan terpandang, terlihat terus-menerus memperhatikan anak desa seperti Kaien.
😠 Tuduhan Terbuka
Suatu sore, setelah pelajaran selesai, Rylven berdiri di tengah kelas dan berkata lantang:
“Kaien Vallis.”
Semua murid menoleh. Termasuk Toren dan Elara.
“Kau pikir kau bisa sembunyi terus pakai wajah dinginmu itu?”
“Kau melakukan sesuatu aneh di dungeon. Aku yakin kau sengaja mengacaukan simbolku.
Api sihirku meleset karena kamu.”
Kaien menoleh pelan.
“Kau ingin alasan untuk kekalahanmu, Rylven?”
“Bukan alasan. Aku ingin kejelasan.
Dan seperti yang diajarkan di akademi ini… kita selesaikan dengan duel sihir.”
Kelas menjadi sunyi.
⚖️Sistem Duel Akademi
Di Akademi Renastra, duel sihir diperbolehkan secara resmi, asalkan:
1. Kedua pihak setuju secara sukarela
2. Salah satu anggota OSIS atau instruktur bertindak sebagai wasit dan pelindung
3. Duel berlangsung dalam batas aman, tidak bertujuan membunuh atau melukai parah
“Aku akan minta persetujuan OSIS,” kata Rylven penuh percaya diri.
“Kita duel sore ini. Arena Terbuka 2.”
Kaien diam sejenak, lalu mengangguk.
“Baik. Aku setuju.”
🧑🎓 Munculnya Wasit OSIS
Sore itu, di Arena Terbuka 2, lebih dari dua puluh murid berkumpul menonton.
Yang datang sebagai wasit adalah Narel Tyun, anggota OSIS bidang kedisiplinan. Murid tahun
ketiga, dingin dan sangat profesional.
“Duel ini disahkan.
Kaien Vallis dan Rylven Arcthelis.
Tujuan: duel kendali sihir. Tidak boleh mengeluarkan sihir tingkat dua ke atas. Tidak boleh
menyerang area vital.”
“Duel selesai jika satu pihak menyerah atau tidak bisa melanjutkan.”
Kaien dan Rylven berdiri berhadapan.
Elara berdiri di sisi tribun, tidak bersorak. Tapi menatap dalam.
Toren cemas, tapi Kaien hanya menarik napas pelan.
⚔️Duel Dimulai
“Mulai!”
Rylven langsung meluncurkan simbol api dasar ke arah Kaien—cepat dan penuh tekanan.
Kaien menghindar satu langkah, lalu membentuk simbol defensif paling sederhana.
Namun… ia membuatnya sedikit goyah. Tidak terlalu kuat.
Membiarkan sedikit semburan menyentuh lengannya.
“Lihat?” kata Rylven. “Dia lemah. Anak dusun ini cuma numpang lewat!”
Sorak-sorai muncul. Beberapa murid tertawa kecil.
Rylven meluncurkan serangan kedua—lebih besar.
Kaien menaikkan pertahanan sedikit lebih kuat, lalu melangkah maju, tetap diam.
“Kau tidak menyerang balik?”
“Belum,” jawab Kaien tenang.
🧠 Permainan Psikologis
Kaien terus menahan diri, menilai pola sihir Rylven:
Terlalu fokus pada api
Tidak punya variasi elemen
Emosinya mengganggu kontrol mana
“Kalau aku serang sekarang… dia akan jatuh di satu pukulan.”
“Tapi aku akan jadi target semua pengawas. Belum saatnya.”
Kaien memanipulasi aliran sihirnya, membuat efek visual seperti lemah, tapi sebenarnya
mengarahkan tekanan ke arah Rylven.
Rylven mulai goyah—simbolnya membesar tak terkendali.
“Apa yang… terjadi…?!”
Tepat saat Rylven mencoba melepaskan satu serangan terakhir, Kaien mengaktifkan simbol
miliknya—api kecil, presisi, dan tepat ke arah simbol Rylven.
Boom—!
Sihir Rylven pecah.
Kaien melangkah maju dan menaruh simbol api di depan leher Rylven—diam, cukup untuk
membuktikan dominasi.
🧍 Penutup Duel
“Kaien Vallis menang. Duel selesai.”
Suasana sunyi.
Rylven jatuh terduduk, wajahnya merah dan mata menyala dengan rasa malu. Tapi tak bisa
berkata apa-apa.
Kaien membalik badan, berjalan pergi.
Toren bersorak kecil.
Elara? Ia masih menatap Kaien.
“Itu… bukan sihir tingkat satu. Itu teknik kontrol tingkat dua… dibungkus dengan simbol
biasa.”
“Siapa sebenarnya kamu, Kaien Vallis?”
📜 Penutup Bab – Bakar Nama, Bakar Dendam
Hari itu, nama Kaien mulai beredar di kelas—sebagai anak desa yang mengalahkan
bangsawan.
Bagi sebagian, itu membuatnya menarik.
Bagi yang lain… itu membuatnya berbahaya.
Dan bagi Elara,
itu hanya membuat satu hal semakin jelas:
“Orang ini bukan bagian dari sistem…
Tapi dia sedang mempelajari cara menghancurkannya dari dalam.”
Bab 6: Di Meja yang Sama
📚 Ruang Belajar Umum – Satu Minggu Setelah Duel
Akademi Renastra punya banyak fasilitas. Tapi salah satu tempat yang paling sering dikunjungi
murid serius adalah Ruang Belajar Umum, sebuah aula besar dengan lampu kristal, rak buku
melayang, dan meja belajar panjang berbentuk tapal kuda.
Kaien duduk di pojok ruangan, membuka buku Teori Resonansi Mana Kuno.
Di sebelahnya, Toren dengan semangat mencoba menyalin ulang simbol dari papan referensi.
Tapi hasilnya… menyedihkan.
“Kenapa simbolku selalu bengkok, ya?”
“Karena kau menulis dengan emosi, bukan struktur,” jawab Kaien tanpa menoleh.
“Lho, bukannya sihir itu butuh perasaan juga?”
“Perasaan itu bahan bakar. Struktur adalah jalannya.”
“Ah…”
Toren terlihat makin bingung.
👀 Kedatangan Elara
Langkah ringan terdengar dari belakang mereka.
“Apa aku boleh bergabung?”
Kaien menoleh.
Elara Virellia berdiri di sana, membawa dua buku besar dan satu gulungan simbol.
Toren langsung canggung.
“Oh—tentu! Silakan!”
Elara duduk di samping Kaien, tak langsung bicara.
Ia membuka bukunya, membaca cepat, lalu berkata pelan:
“Simbol yang kau gunakan saat duel… kau menahannya untuk memperlemah arah lawan, ya?”
Kaien menjawab singkat.
“Kau memperhatikan terlalu banyak.”
“Kau menyembunyikan terlalu banyak,” balas Elara.
Toren melihat keduanya seperti menonton dua binatang langka berbicara dalam bahasa alien.
🧠 Latihan Bersama
Beberapa hari berikutnya, mereka mulai sering belajar bersama—bukan karena kesepakatan,
tapi karena kebiasaan yang tumbuh.
Kaien mengoreksi simbol Toren secara diam-diam
Elara mulai berdiskusi teori tingkat dua, kadang menyelipkan pertanyaan menjebak ke
Kaien
Toren—walau kadang tidak paham sepenuhnya—menjadi jembatan suasana agar tidak
terlalu serius
“Elara, kenapa simbolmu lebih halus dari Kaien?”
“Karena aku belajar dari metode akademik.”
“Lalu Kaien?”
“Entah. Dari neraka, mungkin.”
Kaien hanya mendengus kecil.
🔍 Rasa Ingin Tahu yang Tumbuh
Elara kadang memperhatikan Kaien saat dia tidak sadar.
Ia mencatat:
Cara Kaien menyentuh buku seperti sudah membacanya sebelum dibuka
Cara ia memutar pena di jari—bukan seperti murid, tapi pengajar
Cara ia bisa mematahkan argumen dosen tanpa terkesan membantah
“Orang ini bukan jenius biasa.”
🪶 Suatu Malam di Perpustakaan
Malam itu, hanya mereka bertiga yang masih belajar.
Toren tertidur di atas meja.
Elara duduk berhadapan dengan Kaien.
“Apa kau percaya… kalau dunia ini sebenarnya salah membentuk sistem sihir?”
Kaien mengangkat alis.
“Itu topik yang berbahaya.”
“Aku sedang bicara secara teori.”
“Teori itu bisa jadi peluru,” jawab Kaien pelan.
Elara tersenyum tipis.
“Kau tahu banyak tentang struktur sihir non-akademik, bukan?”
Kaien menatapnya, diam.
“Kau bukan orang biasa, Kaien.”
“Aku juga bukan.”
Untuk pertama kalinya, Kaien menatap Elara dengan mata terbuka. Ada rasa saling memahami
yang tumbuh.
📜 Penutup Bab: Meja Tiga Arah
Dari luar, mereka terlihat seperti trio biasa:
Anak desa bodoh (Toren)
Anak jenius pendiam (Kaien)
Bangsawan perempuan cerdas (Elara)
Tapi dari dalam…
Tiga orang yang mungkin akan mengguncang fondasi Akademi Renastra.
Dan semuanya… dimulai dari satu meja kecil di ruang belajar.
Bab 7: Cermin yang Menghadap Langit
🏫 Ruang Kelas Sihir Lanjut – Akademi Renastra
Langit sore menggantung di balik kaca sihir di langit-langit aula lantai tiga. Cahaya keemasan
menyorot meja-meja batu dengan ukiran mana yang rumit. Murid-murid reguler duduk tegang,
memegang pena kristal dan buku tebal berjudul “Struktur Sihir Lapis Dua: Konteks dan
Koreksi.”
Instruktur hari itu adalah Master Halderis—tua, berjanggut, dengan wajah keras namun tidak
galak. Ia dikenal tidak menyukai kegagalan, dan lebih benci pada murid yang terlalu percaya
diri.
“Kalian sudah menguasai simbol dasar. Sekarang saatnya mengerti apa yang sebenarnya kalian
bangun,” katanya, menuliskan simbol besar di udara.
Simbol itu melayang. Dua lapisan melingkar, satu pusat, dan satu jalur yang terus berubah arah.
“Simbol ini bukan gambar. Ini sistem.”
“Jika satu titik salah… maka seluruh sihir kalian akan memakan diri sendiri.”
Beberapa murid terlihat tegang.
Toren menelan ludah.
Kaien diam, matanya tajam mengikuti arah jalur sihir itu, bukan sekadar menghafal bentuk…
tapi memahami logikanya.
✍️Latihan: Menggambar Struktur Lapis Dua
“Kita mulai dengan Kreis-2. Empat bagian: pusat, rotasi, gema, dan refleksi.
Waktu: 5 menit.”
Para murid mulai menggambar di udara dengan pena sihir. Lambat, gugup, banyak yang goyah.
Toren frustrasi.
“Aduh… garis gema-ku miring lagi!”
“Kau menekan terlalu cepat,” bisik Kaien. “Tarik pelan, dari siku, bukan pergelangan.”
Toren mencoba lagi… sedikit lebih stabil.
Sementara itu, Elara—yang duduk di sisi lain Kaien—menggambar dengan anggun dan rapi.
Tapi saat ia melihat ke simbol Kaien, ekspresinya berubah.
Simbol Kaien nyaris sempurna. Bukan hanya bentuk, tapi alur mana-nya mengalir halus.
Terlalu halus.
Elara berbisik tanpa menoleh.
“Kau membuat simbol itu terlalu cepat untuk ukuran murid baru.”
Kaien menjawab tanpa ekspresi.
“Mungkin aku beruntung.”
“Atau mungkin kau bukan seperti yang kau katakan.”
👁️Sorotan Instruktur
Master Halderis berjalan perlahan mengelilingi kelas. Ia berhenti di beberapa meja,
memperbaiki, menegur, memberi catatan.
Lalu sampai ke meja Kaien.
Ia menatap simbol itu cukup lama, lalu berkata pelan:
“Menarik.
Simbolmu terlalu rapi untuk seseorang yang baru mempelajari teori resonansi.”
Kaien tetap tenang.
“Saya belajar dari buku lama yang saya temukan di desa.
Mungkin pendekatannya berbeda.”
Halderis tidak menjawab langsung. Tapi ia mencatat sesuatu di lempeng memorinya.
“Nama: Kaien Vallis. Perlu observasi lanjut.”
📓 Elara dan Catatannya
Setelah kelas selesai, Elara tidak langsung pergi. Ia membuka jurnal pribadinya dan menulis:
Struktur Kaien → seperti murid tahun kedua
Tidak pernah gagal dalam pelajaran inti
Simbol defensifnya waktu duel → tidak seperti sihir akademi
Lalu, satu catatan yang tidak dia beri suara, hanya ditulis kecil:
“Jika bukan murid biasa… maka siapa dia sebenarnya?”
🕯️Penutup Bab – Cermin yang Menghadap Langit
Kaien berjalan sendirian melewati lorong kaca menuju asrama.
Angin malam bertiup pelan, dan bayangannya terpantul di dinding sihir yang bening.
Wajah baru, nama baru, hidup baru…
Tapi bayangan itu masih menyimpan bentuk lama.
“Aku tidak ingin jadi pahlawan,” gumamnya.
“Tapi aku akan pastikan… tidak ada yang hancur lagi.”
Di balik pantulan itu, seorang instruktur berdiri diam di ujung lorong.
Mengamati.
Bab 8: Gema dari Kedalaman
🧭 Misi Dungeon Lantai 2–3
Tiga hari setelah pelajaran tingkat dua, sebuah pengumuman ditempel di papan utama asrama.
“Tugas Lapangan Kelas Reguler: Eksplorasi dan Stabilisasi Dungeon Lantai 2–3.”
Tim yang ditugaskan kali ini adalah:
Kaien Vallis
Elara Virellia
Toren Grell
Tujuan mereka:
Memetakan ulang jalur mana liar yang muncul pasca pergeseran dungeon
Memasang segel sihir akademi di titik-titik tidak stabil
Menganalisis apakah ada aktivitas non-monster di balik pergeseran mana
Pengawas: Instruktur Arven – mantan penyihir tempur, kini bertugas di akademi.
🔮 Masuk ke Lantai Dua
Begitu masuk lantai dua, Kaien segera merasakan sesuatu yang janggal.
"Struktur aliran mana... berubah," gumamnya.
“Berubah gimana?” tanya Toren.
“Bukan cuma liar. Tapi... seperti dialihkan.”
Elara mencatat cepat. Ia sendiri merasakan sedikit delay saat mencoba melepaskan sihir cahaya
kecil. Ada sesuatu yang menekan aliran.
“Kalau sumbernya bergerak... kita tidak bisa pakai peta lama,” katanya serius.
🪨 Titik Pertama – Ruang Gema
Mereka tiba di sebuah ruangan bundar. Biasanya digunakan untuk pelepasan tekanan mana
alami.
Namun simbol segel yang harusnya terukir di lantai... tergores.
"Ini bukan rusak karena waktu," ujar Kaien. "Ini dihancurkan. Dari dalam."
“Apa ada monster yang bisa hancurkan segel?” tanya Toren gugup.
“Bukan monster biasa,” jawab Elara, suaranya rendah.
Kaien berlutut, menyentuh tepi simbol, lalu perlahan mengukir ulang segel akademi dari ingatan.
Instruktur Arven memperhatikan dari jauh, mencatat setiap gerakan Kaien.
⚔️Serangan Mendadak – Lantai 3
Di jalur menuju lantai tiga, mereka diserang oleh dua makhluk Karthuk, bentuk mirip serigala
tapi memiliki kristal sihir di punggungnya.
Karthuk seharusnya tidak muncul di lantai bawah—ini ancaman serius.
“Pecah jalur! Jangan bergerombol!” teriak Kaien.
Toren hampir diserang dari samping, tapi Elara melepaskan sihir petir kecil, mengalihkan
perhatian musuh.
Kaien membentuk simbol Kreis-2: Nyala Bergema, tapi memutarnya 37 derajat—perubahan
kecil yang membuat api sihirnya melengkung seperti cambuk panas, menghantam bagian
punggung Karthuk langsung ke kristal sihirnya.
Boom!
Makhluk itu meledak dalam percikan cahaya, tubuhnya berubah menjadi pecahan kaca.
🧠 Reaksi Instruktur Arven
Setelah pertarungan, instruktur Arven mendekati Kaien.
“Di mana kau belajar memodifikasi sudut resonansi seperti itu?”
“Aku... mencobanya sendiri,” jawab Kaien pelan.
Arven mengangguk perlahan.
“Simbol itu bukan milik akademi.
Tapi kau menggunakannya lebih baik dari murid tahun kedua.”
Kaien menunduk sedikit, tidak menjawab.
📓 Malam Setelah Misi – Catatan Elara
Elara duduk di ruang baca asrama, menulis di jurnalnya.
Respon sihir Kaien tidak memiliki jeda antara niat dan pelepasan
Ia bereaksi lebih cepat dari instruktur
Simbol yang ia ubah… tidak mungkin dilakukan tanpa eksperimen bertahun-tahun
Ia berhenti sejenak, lalu menulis satu kalimat:
“Kaien Vallis bukan siapa yang ia katakan.
Tapi aku belum tahu apakah itu hal baik… atau buruk.”
📜 Penutup Bab – Gema dari Kedalaman
Instruktur Arven melapor ke staf akademi:
“Tugas selesai. Tapi ada hal yang harus dicatat:
Sumber mana liar bukan karena faktor alam.”
“Dan… satu murid menggunakan struktur sihir non-akademik dengan efektivitas berbahaya.”
“Nama: Kaien Vallis.”
Di tempat lain…
Lucien Drosmere membaca laporan itu sambil berdiri di balkon menara OSIS.
Ia menatap langit malam yang mendung, lalu tersenyum tipis.
“Akhirnya mulai terlihat."
Bab 9 – Pangkal Riuh di Balik Kedamaian
☀️Kembali dari Dungeon
Suasana aula utama Akademi Renastra pagi itu dipenuhi cahaya hangat dan suara ramai.
Para murid baru saja kembali dari tugas lapangan—beberapa kelelahan, beberapa penuh
semangat bercerita tentang kemenangan kecil mereka melawan monster.
Namun Kaien justru diam. Duduk di tepi lapangan sihir, ia menatap langit yang tampak terlalu
tenang.
“Kau kelihatan... kosong,” ujar Elara, sambil menyodorkan sebotol air.
“Tidak. Hanya... menyusun ulang sesuatu di kepalaku,” jawab Kaien sambil menerima.
“Itu artinya kau mikirin sesuatu yang penting, atau menyembunyikan sesuatu,” sela Toren,
datang dari belakang. “Atau dua-duanya.”
Kaien hanya tersenyum kecil.
🧑🏫 Kelas Ditiadakan Sementara
Pengumuman datang dari pengeras suara sihir:
“Perhatian untuk seluruh murid reguler. Hari ini seluruh kelas teori ditiadakan.
Harap hadir di aula utama pukul 10.00 untuk pengumuman penting dari dewan akademik.”
Suasana berubah.
Toren mengernyit. “Biasanya mereka gak buat pengumuman besar kayak gini kecuali… ada
masalah?”
“Atau... evaluasi dadakan,” kata Elara sambil menutup bukunya.
👑 Lucien Drosmere – Sang Ketua OSIS
Tepat pukul 10.00, aula utama penuh. Semua murid duduk dalam barisan, dibagi berdasarkan
tahun.
Lalu, langkah tenang terdengar dari atas panggung utama.
Seorang pemuda tinggi, mengenakan seragam OSIS hitam gelap dengan lambang mata emas di
dada, berjalan perlahan ke podium.
Rambutnya perak gelap, kulit pucat, mata tajam seperti melihat lebih dalam dari kulit dan tulang.
“Nama saya Lucien Drosmere. Ketua OSIS Akademi Renastra.”
Suara tenangnya membuat aula seketika sunyi.
“Mungkin sebagian dari kalian bertanya-tanya, kenapa seseorang seperti saya perlu berbicara di
hadapan murid reguler…”
Ia tersenyum kecil.
“Jawabannya sederhana. Karena kali ini, kami akan menantang kalian.”
📜 Pengumuman Turnamen
“Demi memperkuat sistem evaluasi bakat—dan menyaring siapa yang layak bertahan,
maka kami mengumumkan pembukaan resmi Turnamen Evaluasi Akademik Semester I.”
Murmur dan bisik-bisik mulai terdengar.
“Turnamen ini terbuka untuk semua murid dari tiga tahun akademik.
Penyisihan dilakukan per angkatan. Dua terbaik dari tiap angkatan akan mewakili tahun
mereka…
dalam pertarungan final antar angkatan di akhir semester.”
Elara menatap Kaien sejenak.
Toren terlihat antara gugup dan penasaran.
Lucien menurunkan pandangannya. Matanya berhenti… tepat di tempat Kaien duduk.
“Turnamen ini bukan permainan.
Ini adalah medan ujian. Bagi bakat... dan bagi mereka yang terlalu lama bersembunyi.”
Kaien merasakan tekanan sihir samar, seperti mata yang menembus dari luar dunia.
Ia tidak menunjukkan reaksi apa pun.
🕯️Setelah Pengumuman
Sore harinya, Kaien duduk di perpustakaan, sendirian.
“Turnamen ini... akan jadi pancingan,” gumamnya.
“Tapi... untuk siapa?”
Ia membuka buku latihan struktur sihir. Di baliknya, terselip catatan lama miliknya:
"Jangan bersinar. Tapi jangan hilang. Tetap berada di antara bayangan dan cahaya."
Namun, ia tahu. Dengan Lucien mengawasi... bayangan pun bisa disinari paksa.
🎭 Penutup Bab – Panggung Telah Dibuka
Lucien kembali ke ruang OSIS.
Ia membuka daftar peserta potensial.
Satu nama belum muncul.
“Kaien Vallis…” katanya pelan.
“Kau tak akan bisa terus sembunyi selamanya.
Bahkan jika kau bisa… kami akan memastikan dunia melihatmu.”
Bab 11 – Pecahnya Kedok Pertama
🎟️Hari Turnamen – Penyisihan Tahun 1
Aula utama Akademi Renastra telah diubah menjadi arena duel berpenghalang sihir penuh.
Dikelilingi sihir pelindung, arena itu menjadi pusat perhatian seluruh murid dan beberapa
instruktur.
Suasana menegang saat duel-duel pertama dimulai.
Nama-nama dari papan pendaftaran mulai dipanggil satu per satu.
Elara tampil gemilang di duel pertamanya — menyingkirkan lawannya hanya dalam 45 detik
dengan manipulasi petir yang elegan.
“Seperti biasa,” gumam Kaien sambil menyaksikan dari tribun, duduk di samping Toren.
💬 Percakapan Kaien, Elara, Toren
Setelah duel Elara selesai, ia turun dari arena dan duduk di sebelah Kaien dan Toren.
“Toren. Daftar sekarang.”
Toren tersedak. “A-apa?! Aku? Tapi—”
“Kau butuh pengalaman. Dan… satu-satunya yang tidak meremehkanmu adalah dirimu sendiri,”
kata Elara, menatap serius.
Kaien menimpali, sedikit tenang, “Kalah bukan masalah. Tapi menyerah sebelum mencoba… itu
menyedihkan.”
Toren menatap mereka berdua.
Lalu, perlahan bangkit dan menuju meja pendaftaran tambahan.
🆚 Duel: Toren Grell vs Rylven Esten
Saat nama mereka dipanggil, arena langsung jadi ramai.
“Itu anak desa yang ikut-ikutan?”
“Lawan Rylven? Selesai sudah.”
Toren masuk ke arena dengan langkah gugup, tangan gemetar.
Rylven berdiri di ujung lain, senyum sinisnya terpampang jelas.
“Kau? Melawanku? Ini bukan ladang kentang, Grell.”
Toren menggertakkan gigi.
Wasit memberi tanda.
Duel dimulai.
⚔️Duel yang Berakhir Cepat
Toren mencoba membentuk pelindung batu kecil — lambat, rapuh.
Sementara Rylven langsung mengaktifkan sihir bayangannya, membentuk dua bilah gelap yang
bergerak seperti ular.
Satu menyerang dari depan, satu dari bawah.
Braak!
Toren terpental, terhempas ke tanah dengan keras, tapi masih sadar.
“Lawan yang menyedihkan,” ejek Rylven.
“Aku bahkan tak perlu memanaskan badan untuk ini.”
“Kau... cukup?” tanya wasit.
Toren mencoba berdiri, tapi tak bisa. Ia hanya menunduk.
“Toren Grell tidak bisa melanjutkan. Pemenang: Rylven Esten.”
💥 Kata-Kata yang Menyulut
Saat Toren dibopong ke sisi arena, Rylven masih bicara — keras, dengan nada memancing.
“Murid seperti dia seharusnya tidak ada di akademi.
Dia hanya beban. Bahkan sahabatnya pun malu berteman dengannya, bukan begitu… Kaien
Vallis?”
Mata Kaien perlahan naik.
Semua mata kini menatapnya.
“Atau... mungkin kau sama lemah dan menyedihkannya seperti dia.”
Kaien perlahan berdiri.
Wajahnya datar. Tapi udara di sekitarnya... menegang.
Suhu turun beberapa derajat.
Bagi murid biasa, itu mungkin hanya angin dingin.
Tapi bagi yang peka terhadap sihir — ada aura tak dikenal yang samar keluar.
Tidak cukup untuk memicu alarm, tapi cukup membuat kulit merinding.
Elara menatapnya — waspada.
Lucien, dari balkon atas, mengangkat alis. Ia mencatat dalam benaknya:
“Ada… sesuatu. Tapi belum muncul sepenuhnya.”
Kaien melangkah turun satu anak tangga tribun…
Namun tidak melanjutkan.
Ia hanya menatap lurus ke arah Rylven dan berkata pelan:
“Kau akan menyesal.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan keras.
Tapi cukup untuk membuat arena hening.
Rylven, untuk sesaat, kehilangan senyumnya. Tapi lalu tertawa kecil dan membalik badan.
“Kita lihat saja, Vallis.”
🧊 Reaksi Teman dan Pengawas
Elara mencengkeram bangku di sebelahnya.
“Itu... bukan sihir biasa, bukan?”
Kaien hanya menggeleng.
“Bukan apa-apa. Aku hanya marah.”
Toren duduk di sisi lain, meski kesakitan masih terlihat di wajahnya.
Ia tersenyum kecil.
“Terima kasih… karena tidak ikut menginjakku.”
Kaien tidak menjawab, hanya duduk kembali di bangkunya, wajahnya kembali tenang. Tapi di
dalam, pikirannya bergetar.
🎭 Penutup Bab – Panggung Sudah Diatur
Di ruang OSIS, Lucien menutup bukunya pelan.
“Dia tahu cara menyembunyikan diri. Tapi emosi adalah pintu yang lemah.”
Ia lalu membuka daftar pertandingan.
Lucien menatap daftar duel yang baru saja diperbarui oleh sistem sihir internal akademi.
Satu nama muncul — bukan atas permintaan pribadi, tapi dengan “izin tertulis khusus”.
Kaien Vallis – Terdaftar.
Lucien tersenyum tipis.
“Entah dia yang berubah pikiran...
Atau seseorang telah memberinya dorongan kecil.”
Ia menutup bukunya, lalu berkata,
“Besok... kita lihat apa yang benar-benar ia sembunyikan.”
Bab 12 – Langkah Pertama di Arena (Revisi Final)
📢 Pengumuman yang Disengaja
“Duel keempat: Kaien Vallis melawan Seren Avallion.
Harap kedua peserta bersiap di sisi arena.”
Suasana tribun bergemuruh.
Di pojok ruang penonton, Elara dan Toren menoleh cepat ke arah Kaien.
“Kaien?”
“Kau daftar?!”
Kaien tetap duduk, menutup bukunya perlahan. Tidak tampak terkejut.
Ia hanya mendesah pelan.
“Sepertinya… ada yang sangat ingin aku naik ke arena.”
💡 Dalam Hati Kaien
Kaien berjalan perlahan menyusuri lorong menuju arena, pikirannya tenang tapi tajam:
“Lucien… atau mungkin seseorang dari staf akademi.
Mereka ingin memaksaku bergerak.
Tapi jika mereka ingin melihatku... maka aku akan memperlihatkan — hanya sejauh yang
kubiarkan.”
📜 Peraturan yang Mengikat
Instruktur Arven lalu berbiacara di depan arena.
““Hari kedua turnamen penyisihan Tahun Pertama dimulai.
Sebelum duel pertama dimulai, izinkan saya mengulang peraturan utama turnamen ini.”
Instruktur arven mengucapkan berbagai peraturan utama turnamen ini dan mengucapkan
peraturan terakhir.
“Dan yang paling penting — setiap nama yang telah diumumkan oleh sistem turnamen
wajib bertanding.
Pengunduran diri tidak diperkenankan, kecuali disertai bukti medis yang sah dari staf
penyembuh.”
“Aturan ini berlaku untuk semua peserta.
Jangan membuat kesalahan yang akan dicatat seumur hidupmu sebagai murid Akademi Renastra.
Kaien terdiam dan disaat yang sama dia pun mengerti bahwa ada yang benar-benar ingin melihat
kekuatan dia “sepertinya salah satu petinggi mulai mencurigaiku dan ingin mengetahui
tentangku”
🆚 Kaien vs Seren Avallion
Seren Avallion adalah pengguna sihir angin dan ilusi.
Ia berasal dari wilayah utara, dan cukup percaya diri.
“Kau murid dari desa mana, Vallis?” tanya Seren, saat mereka berhadapan di tengah arena.
“Desa kecil yang tidak dikenal,” jawab Kaien singkat.
“Yah… aku harap kau setidaknya bisa bikin aku berkeringat.”
Kaien tidak menggubris perkataan seren..
Ia hanya menatap lurus, membaca gerakan dan hawa mana Seren.
“Peserta siap?”
“Siap.”
“Duel dimulai.”
⚔️Duel Dimulai
Seren langsung mengaktifkan sihir angin — bergerak cepat, membentuk dua ilusi kembar dirinya
di sisi kiri dan kanan.
Kaien tetap diam.
Ia tidak bergerak, tidak membuka pertahanan besar — hanya mengangkat satu tangan dan
menarik simbol tipis di udara.
Simbol itu bukan sihir ofensif. Hanya pengalihan arah angin.
Ilusi Seren mulai kabur.
Satu gerakan simbol lagi — pergeseran tekanan udara.
Seren, yang bergerak terlalu cepat, kehilangan arah sesaat.
Kaien melangkah ke sisi kanan, menarik simbol berbentuk simpul kecil — lalu menjatuhkannya
ke tanah.
Drap!
Sihir Seren terputus, tubuhnya terperangkap dalam tekanan angin berbentuk spiral — tidak
melukai, tapi cukup menahan semua gerakan.
🧊 Kemenangan Bersih
“Seren Avallion tidak dapat bergerak.
Pemenang: Kaien Vallis.”
Penonton terdiam sesaat… lalu mulai berbisik.
“Apa tadi itu?”
“Sihir angin? Tapi bukan dari formula umum…”
🤐 Pikiran Kaien
Kaien menunduk sedikit saat keluar arena, menahan senyum tipis.
“Kalian memaksaku bermain. Maka aku akan bermain dengan aturan… versiku.”
👁️Reaksi Orang-Orang
Elara menggigit bibir bawahnya.
“Itu... bukan teknik biasa. Tapi dia... terlalu tenang.”
Lucien, dari atas tribun, menutup buku catatannya pelan.
“Simbol manipulasi arah. Bukan kekuatan besar, tapi... presisi tinggi.
Ini bukan bocah biasa.”
✍️Penutup Bab – Bidak Pertama Bergerak
Malam itu, Kaien duduk di balkon kamarnya, memandangi langit.
Toren datang membawa dua gelas teh.
“Kau menang… tapi tidak terlihat senang.”
Kaien menerima gelas itu, menyesap sedikit, lalu berkata:
“Karena ini bukan tentang menang. Tapi tentang permainan yang sedang dijalankan.”
“Dan aku baru saja masuk ke dalamnya.”
Bab 13 Bayangan yang Tertunduk
🌥️Sebelum Duel
Sore menjelang, langit arena sihir mulai berubah jingga.
Tribun penonton padat — semua menanti duel berikutnya yang telah diumumkan sejak pagi.
“Pertandingan berikutnya: Rylven Esten melawan Kaien Vallis.”
Di sisi arena, Rylven berdiri dengan ekspresi penuh kemenangan.
Jubahnya disampirkan setengah bahu, simbol status bangsawan kecilnya terpampang jelas.
“Akhirnya. Bocah dari desa itu berani naik.”
Di sisi lain, Kaien berjalan tenang, tak terburu-buru.
Toren, yang duduk di antara penonton, mengepalkan tangan.
Elara hanya diam, matanya menajam.
“Kau yakin tidak akan lepas kendali?” bisik Elara pada dirinya sendiri.
🧱 Arena – Dua Dunia Bertemu
Rylven tersenyum, memutar tongkat sihirnya.
“Terima kasih, Vallis. Sudah membuat semuanya mudah.
Setelah ini, semua orang akan tahu siapa yang layak di atas.”
Kaien tidak menjawab.
Matanya hanya menatap lantai batu arena. Ia menarik napas dalam, menutup mata sebentar.
Bibirnya bergerak sangat kecil — membaca ulang pola sihir di dalam kepalanya.
Ini bukan tentang dia.
Ini tentang orang-orang yang mengamatiku.
🌀 Duel Dimulai
“Mulai!” seru wasit.
Rylven langsung membuka duel dengan dua simbol bayangan yang menyerang dari kanan dan
kiri — gerakan cepat, gaya khasnya.
Kaien tidak bergerak. Ia hanya mengangkat tangan dan menarik simbol udara berbentuk cincin
— seperti membentuk pusaran tipis di sekelilingnya.
Zzzt!
Bayangan Rylven terpental mundur seolah menabrak dinding tak terlihat.
Penonton bersorak kecil — tak percaya duel diblokir tanpa ledakan sihir.
Rylven menyipitkan mata.
“Jangan cuma bertahan. Hadapi aku!”
Ia melompat ke belakang, menggambar simbol bayangan lanjutan yang menyatu dengan tanah
— jebakan sihir lapis dua.
Kaien melangkah satu kali ke kiri.
Simbol jebakan gagal aktif.
“Apa?” Rylven mulai panik.
Kaien menarik dua simbol sederhana — tidak menyerang, hanya menekan udara di sisi kanan
arena.
Rylven yang bergerak ke arah itu — tergelincir sedikit.
Itu cukup.
Kaien meluncur ke depan, menekan tanah dengan sihir ringan, dan muncul di sisi Rylven dalam
sekejap mata.
Ia mengangkat telapak tangan — bukan untuk menyerang, tapi untuk menahan titik pusat sihir
Rylven.
Snap!
Satu tekanan mana ringan menonaktifkan aliran di tongkat Rylven.
🧊 Akhir yang Tenang, Tapi Menghancurkan Ego
Rylven terhuyung.
Kaien tidak menyakiti. Hanya memutus aliran sihirnya — teknik tingkat tinggi, tapi dibuat
seolah hanya teknik dasar.
Wasit diam sebentar — bahkan ia butuh waktu untuk mencerna apa yang terjadi.
“Rylven Esten... tidak mampu melanjutkan.
Pemenang: Kaien Vallis.”
🤐 Reaksi Penonton dan OSIS
Penonton diam. Tidak ada sorak. Tidak ada teriakan.
Hanya... bisikan.
“Apa yang barusan terjadi?”
“Dia... bahkan tidak menyerang.”
Elara menunduk pelan, menahan senyum yang sulit dijelaskan.
Toren mendesah lega.
“Itu... lebih dari cukup.”
👁️Di Balik Tirai – Lucien Mengamati
Lucien berdiri di balkon atas.
Wajahnya masih tenang, tapi matanya tajam.
“Dia tidak memukul.”
“Dia tidak mencederai.”
“Tapi dia menang telak.”
Ia menutup bukunya pelan.
“Kau sedang memberi pesan, Vallis... atau siapa pun kau sebenarnya.”
🧩 Penutup Bab – Gemetar Tanpa Luka
Rylven keluar dari arena, wajahnya kaku.
Tidak ada luka. Tidak ada darah. Tapi harga dirinya remuk.
Kaien berjalan kembali ke tribun, tidak menoleh ke siapa pun. Tapi dari sorot matanya...
Dia tahu dunia kini sedang menatap.
Dan ia belum selesai.
Bab 14 – Cahaya di Ujung Sembunyi
🌃 Sore Hari di Asrama
Turnamen hari kedua telah selesai.
Murid-murid kembali ke asrama, membawa kegaduhan dan bisikan tentang duel Kaien yang
membuat Rylven tak berkutik tanpa satu pun serangan keras.
Di balkon lantai dua, Toren duduk menyeduh teh sambil mengamati langit yang memerah.
“Kau bikin seisi akademi ketakutan, tahu nggak?” gumamnya saat Kaien datang dan duduk di
samping.
Kaien tidak menjawab. Ia hanya menatap langit, tampak lebih lelah dari biasanya.
🍵 Obrolan Ringan, Tapi Bermakna
“Aku serius. Bahkan senior-senior mulai bisik-bisik soal kamu.
Katanya... kau menyembunyikan kelas sihirmu yang sebenarnya.”
Kaien mengangkat alis tipis.
“Kalau mereka takut karena aku tidak bertarung seperti yang mereka harapkan… itu bukan
salahku.”
“Kau yakin itu cukup?” tanya Toren, menatapnya lurus.
“Berjalan di antara mereka sambil terus bersembunyi?”
Kaien menatap teh di tangannya. Uapnya naik pelan.
“Aku tidak bersembunyi... aku hanya belum siap untuk dilihat.”
🌙 Kedatangan Elara
Suara langkah ringan terdengar.
Elara muncul di ambang pintu balkon, membawa tiga roti isi hangat di tangan.
“Aku tidak tahu kalian suka teh. Tapi aku bawa ini,” katanya pelan.
Toren langsung meraih satu.
“Kau penyelamat, Elara.”
Elara duduk di samping Kaien, memberinya satu roti.
“Jadi… bagaimana rasanya mengalahkan bangsawan sombong tanpa menggerakkan jari?”
Kaien menggigit pelan, lalu menoleh setengah ke arahnya.
“Tidak buruk.”
Elara tertawa kecil.
“Kau sadar ‘kan kalau mulai sekarang, semua orang akan melihatmu dengan cara berbeda?”
Kaien hanya menatap langit.
“Biarkan mereka menebak.”
💬 Sedikit Kedekatan
Hening sejenak.
Angin malam mulai turun, membawa hawa lembut dari danau kecil di samping akademi.
Elara menggenggam lututnya, lalu menatap Kaien dengan lembut.
“Apa tujuanmu datang ke akademi ini, Kaien?”
Kaien tidak langsung menjawab.
“...Sama seperti kalian.
Naik ke lantai yang belum pernah dijamah siapa pun sebelumnya.”
Toren tersenyum.
“Setidaknya kita bertiga ada di jalur yang sama.”
🧩 Penutup Bab – Tiga Bayangan di Satu Jalan
Di balkon asrama itu, di bawah langit malam dan cahaya lentera sihir,
tiga anak muda dari latar berbeda duduk berdampingan — diam, tapi mengerti.
Kaien, yang menyembunyikan dunia.
Elara, yang menatap dunia dengan hati terbuka.
Toren, yang mencoba mengejar dunia meski tertinggal jauh.
Langkah mereka mungkin berbeda.
Tapi arah pandangnya… untuk pertama kalinya, sama.
Bab 15 – Api yang Menari Tenang
🌞 Pagi Terakhir Turnamen
Hari ketiga.
Turnamen penyisihan tahun pertama mencapai puncaknya — hanya tersisa empat peserta.
“Pertandingan semifinal berikut: Elara Windmere melawan Marek Thorne.”
Marek adalah murid dari wilayah selatan, pengguna sihir tanah dan batu. Tubuhnya besar,
pendekatan sihirnya mengandalkan kekuatan dan daya tahan.
Kaien, duduk di kursi tribun atas, menatap pelan dari balik buku.
Toren, di sampingnya, berkomentar,
“Kau pikir Elara bisa menang?”
Kaien tidak menjawab. Tapi matanya mengamati dengan tenang.
🧱 Duel Dimulai – Benturan Gaya
Marek membuka dengan simbol pelindung dan menara batu kecil — gaya bertahan klasik.
“Kau sebaiknya menyerah, nona bangsawan.
Aku tidak ingin melukai gadis seperti—”
Blaam!
Satu simbol sihir angin dari Elara melesat — bukan ke tubuh Marek, tapi ke pinggir kaki yang
menopang keseimbangan sihir tanahnya.
Marek limbung setengah langkah. Itu cukup.
Elara melompat ke samping, menarik simbol angin spiral ganda, lalu menjatuhkannya tepat
di belakang pertahanan Marek.
CRASH!
Batu pelindung Marek pecah dari belakang, bukan dari depan.
Penonton terperangah.
🎯 Serangan Cerdas, Bukan Kuat
Marek mencoba memulihkan struktur sihir tanahnya, tapi Elara telah berpindah —
menggunakan simbol tekanan udara untuk mengganggu aliran mana yang dibutuhkan Marek.
Batu Marek runtuh satu per satu.
Bukan karena hancur… tapi karena tidak mendapat bahan bakar.
📢 Wasit Mengangkat Tangan
“Marek Thorne tidak dapat membentuk pertahanan atau menyerang.
Pemenang: Elara Windmere.”
Sorakan meledak.
Beberapa guru dan OSIS yang sebelumnya tak memperhatikan… kini mencatat nama Elara.
Kaien menurunkan bukunya.
“Dia tidak hanya kuat… tapi tahu kapan harus menyerang.”
Toren mengangguk.
“Dia pintar. Tapi lebih dari itu… dia punya kendali.”
👁️Lucien dan Peringatan dalam Diam
Di tribun atas, Lucien mencoret nama Marek dari daftar.
Kemudian menulis di bawah:
“Elara Windmere – Kontrol elemen presisi tinggi.
Cocok untuk sihir dukungan dan strategi.”
Ia mengetuk penanya sekali.
“Final-nya tidak akan semudah yang dipikirkan siapa pun.”
🧩 Penutup Bab – Langkah yang Setara
Di balik panggung, Elara duduk di ruang istirahat peserta.
Ia menatap tangannya, lalu melihat papan skor yang menunjukkan:
“Final: Kaien Vallis vs Elara Windmere”
Ia tersenyum kecil.
“Apa pun yang kau sembunyikan, Kaien...
…aku tidak akan membiarkanmu berdiri sendirian di tempat itu.”
📖 Bab 16 – Langkah yang Tak Bisa Dihentikan
🎙️Pengumuman Final
“Final Turnamen Tahun Pertama: Kaien Vallis melawan Elara Windmere.
Duel dimulai dalam tiga menit.”
Sinar matahari sore menciptakan bayangan panjang di arena batu.
Di tribun, para siswa dari berbagai kelas mulai bersorak.
Tapi di tengah sorakan itu, dua orang berdiri dalam diam.
Bukan sebagai musuh… tapi sebagai dua sosok yang mengerti beban satu sama lain.
⚔️Duel Dimulai
“Mulai!”
Elara bergerak cepat — tiga simbol angin melingkar membentuk penghalang sekaligus jebakan.
Kaien membalas dengan teknik penyerapan arah — menyerap tekanan lalu memutarnya balik.
Angin melawan kehampaan.
Duel berlangsung dengan gaya presisi dan teknik, bukan ledakan.
Penonton terdiam.
💢 Elara Mendorong
“Kenapa kau menahan diri?” Elara berseru, napasnya mulai berat.
“Kau tahu aku bukan musuhmu.”
Kaien diam.
“Aku ingin tahu siapa kau sebenarnya, Kaien. Bukan bayangan yang kau tunjukkan.”
Elara menarik napas dan membuka simbol sihir tingkat 3:
Empat Penari Angin — bayangan angin mengurung Kaien dari empat arah, bergerak dalam
pola tak tertebak.
Kaien menarik napas panjang.
Matanya berubah sedikit — tenang, tapi fokus.
Ia mengangkat tangan —
tiga simbol muncul serentak: satu membelokkan arah, satu memperlambat tekanan, satu
membalikkan aliran udara di lantai.
Empat penari angin… pecah di tengah.
🌪️Puncak Duel
Elara melompat ke belakang. Ia tersenyum samar.
“Akhirnya... itu yang aku tunggu.”
Ia menarik simbol terakhir — angin spiral pemutus medan.
Kaien melihatnya, dan untuk pertama kalinya… ia bergerak cepat.
Simbolnya tidak meledak.
Tapi menciptakan vakum kecil di udara —
menarik pusat tekanan Elara ke bawah… dan menonaktifkan sihirnya.
🧊 Akhir yang Lembut
Elara terjatuh ke satu lutut. Napasnya berat. Tapi matanya bersinar.
Kaien mendekat perlahan.
“Sudah cukup,” katanya.
Elara tersenyum.
“Kau menang.”
📢 Pengumuman
“Pemenang Final Turnamen Tahun Pertama: Kaien Vallis.”
Tepuk tangan meledak, sebagian karena kemenangan, sebagian karena…
apa yang mereka baru saja lihat bukan duel antar siswa biasa.
💬 Setelah Duel
Kaien mengulurkan tangan pada Elara.
“Kau memaksaku jujur. Setidaknya… sedikit.”
Elara menggenggamnya.
“Dan aku melihatnya. Bukan kekuatanmu… tapi hatimu.”
Mereka berdiri berdampingan.
Dua orang yang tak ingin menang… tapi memilih untuk tidak mundur.
👁️Lucien, Mencatat Dalam Diam
Di balkon atas, Lucien menutup buku catatannya.
“Vallis bukan sekadar petarung. Dia pembaca medan… pembaca manusia.”
Ia menatap langit yang mulai gelap.
“Panggung selanjutnya akan lebih besar dari ini.
Dan dia sudah siap.”
🎓 Penutup Bab – Awal yang Sesungguhnya
Kaien menatap tribun tempat Toren berdiri, memberi anggukan senang.
Sementara Elara, berdiri di sisinya, tidak merasa kalah.
Karena dalam duel itu… keduanya menang atas diri mereka sendiri.
Dan dunia pun tahu:
Turnamen telah berakhir.
Tapi perjalanan baru saja dimulai.
Bab 17 – Suara dari Menara Tinggi
🧍♂️🧍♀️🧍 Kembali Bersama
Senja menyelimuti langit di atas Akademi Renastra.
Turnamen selesai, tetapi efeknya masih terasa di seluruh akademi.
Kaien keluar dari ruang ganti dengan langkah tenang. Di luar, Elara sudah menunggu, duduk di
tangga batu, rambutnya sedikit berantakan oleh angin sore.
“Kau tidak lari setelah menang,” katanya sambil menatap langit.
“Itu hal pertama yang kupikirkan.”
Kaien duduk di sampingnya.
“Aku tidak suka sorotan. Tapi… lari dari kalian berdua rasanya lebih melelahkan.”
Langkah berat mendekat. Toren muncul, memeluk kedua lengan dan berdiri di hadapan mereka
dengan ekspresi cemberut.
“Tahu nggak rasanya jadi satu-satunya orang normal di antara dua orang monster?”
Elara tertawa pelan.
“Toren. Kau yang paling keras kepala di antara kita.”
“Dan paling setia,” tambah Kaien.
“Hmph. Jangan manis-manis gitu. Tapi... terima kasih sudah bikin aku bangga jadi bagian dari
tim kalian.”
Untuk sesaat, tidak ada yang bicara.
Hanya langit ungu yang terus berubah, dan suara murid-murid lain yang perlahan menghilang di
kejauhan.
🏛️Menara Akademi – Malam Hari
Di ruang pusat administrasi akademi, para petinggi berkumpul di bawah cahaya kristal sihir.
Lucien berdiri di depan podium kecil, membuka daftar hasil turnamen.
“Turnamen penyisihan tahun pertama telah selesai.
Dua peserta teratas akan menerima akses terbatas ke ruang pelatihan sihir tingkat lanjut, dan—”
Ia menatap ke arah Direktur Akademi, lalu melanjutkan.
“—mewakili angkatan mereka dalam Turnamen Antar-Tahun yang akan diselenggarakan dalam
dua bulan.”
Bisik-bisik langsung terdengar dari jajaran pengawas.
“Kita benar-benar memasukkan tahun pertama kali ini?”
Lucien hanya tersenyum tipis.
“Ya. Karena salah satu dari mereka… adalah anomali yang tak boleh kita abaikan.”
📜 Daftar Pemenang
Lucien menggantungkan daftar di papan besar:
Tahun Pertama:
1st: Kaien Vallis
2nd: Elara Windmere
Tahun Kedua: (masih berlangsung)
Tahun Ketiga: (akan dimulai minggu depan)
🧝♀️Di Tempat yang Jauh – Kembali ke Sylia
Sementara itu… di salah satu ruang observasi menara sihir tingkat tinggi, seorang wanita berdiri
di depan jendela lebar yang memandangi cahaya kota.
Sylia.
Ia memegang sebuah laporan cetak yang baru tiba.
“Turnamen Renastra... tahun pertama?”
Ia membaca cepat, lalu matanya membeku ketika satu nama muncul.
“Kaien… Vallis?”
Mata ungunya menyipit.
“Tiga tahun tanpa jejak. Dan sekarang… muncul di akademi?”
Ia melipat laporan itu, lalu berbalik.
“Renastra… sepertinya aku akan datang.
Aku ingin tahu, apakah itu benar-benar kau… atau hanya bayangan baru.”
Langkahnya mulai menjauh, jubah hitamnya melambai ringan oleh angin sihir.
🎓 Penutup Bab – Ketika Langit Membuka Panggung Baru
Di Akademi Renastra, tahun ajaran baru telah dimulai.
Tapi bayangan masa lalu mulai mendekat dari luar menara.
Kaien mungkin telah menang…
Tapi seseorang yang mengenal siapa dia sebenarnya,
telah membuka matanya kembali.
Dan jika keduanya bertemu…
Dunia tidak akan bisa menutupnya lagi.
📖 Bab 18 – Api di Balik Bayangan
🏛️Arena Akademi – Hari Final Tahun Kedua
Sinar matahari sore menyorot arena pelatihan luar ruangan yang kini diperluas secara khusus.
Dinding pelindung sihir berdengung, menandakan duel yang akan berlangsung berbahaya.
“Final Turnamen Tahun Kedua: Ravyn Cyrill melawan Ilen Saro.”
Murid-murid dari tahun pertama dan ketiga ikut hadir sebagai penonton.
Di sudut tribun, Kaien duduk diam, sementara Elara dan Toren di sampingnya.
“Katanya, salah satu dari mereka... sudah mencapai sihir tingkat 4,” bisik Elara.
Kaien tak menjawab. Tapi matanya tak berkedip.
⚔️Duel Dimulai – Kekuatan Sejati
Duel dibuka cepat — Ilen menyerang dengan gaya pertahanan medan magnet sihir, menutup
gerakan Ravyn.
Ravyn tersenyum tipis.
Rambut peraknya berkibar, dan simbol-simbol sihir mulai mengitari tubuhnya seperti cincin
melayang.
Zzhhhzztt...
Suara tak biasa terdengar — bukan ledakan atau angin, tapi retakan dimensi kecil.
“Tingkat empat?” gumam Kaien.
🔥 Ravyn Cyrill – Pewaris Api Dalam
Ravyn menjatuhkan satu simbol besar ke tanah.
“Ignis: Lembah Api yang Terbelah.”
Medan Ilen pecah — bukan karena kekuatan langsung, tapi karena elemen api Ravyn
membakar struktur internal medan sihirnya.
Ilen mencoba membalas, tapi api Ravyn tidak menyebar seperti biasa.
Api itu menyerang jalur aliran mana, memutus kontrol lawan.
📢 Kemenangan Tegas
Ilen berlutut, napas berat. Punggungnya terbakar ringan, tapi dikendalikan.
Ravyn berdiri tenang, tanpa goresan sedikit pun.
“Pemenang: Ravyn Cyrill.”
👁️Reaksi Penonton
Elara menatap Kaien.
“Dia... sangat berbeda dengan kita.”
Kaien tetap menatap arena.
“Dia tidak mempermainkan kekuatan itu.
Dia sudah hidup bersama sihir tingkat 4… cukup lama.”
📜 Lucien & Catatan Rahasia
Dari ruang pengawas, Lucien berdiri.
Ia menulis dengan cepat:
“Ravyn Cyrill – Sihir Tingkat 4 Aktif.
Struktur: manipulasi elemen internal, penghancuran jalur mana.
Potensi: Top 3 turnamen antar-angkatan.”
Ia diam sejenak, lalu menambahkan satu baris:
“Target: Kaien Vallis – kemungkinan bentrok tinggi.”
🧝♀️Di Jauh – Sylia Menutup Buku
Di atas menara observasi, Sylia menerima laporan ringkas dari turnamen.
“Ravyn Cyrill…”
Ia menatap nama itu, lalu melirik ke bawah.
“Dan Kaien yang menang di tahun pertama…”
Ia menutup dokumen.
“Akhirnya, pertempuran nyata akan dimulai.”
🧩 Penutup Bab – Api Tak Bisa Sembunyi
Kaien berdiri dari tempat duduknya.
Turnamen antar-angkatan tinggal beberapa minggu lagi.
“Sihir tingkat 4...”
Elara dan Toren menatapnya, khawatir.
“Kau takut?” tanya Toren.
Kaien menggeleng.
“Tidak.
Aku hanya bertanya-tanya...
…apa yang akan kulakukan… kalau aku harus menghadapinya sepenuhnya.”
Bab 19 – Pecahan dalam Cermin Tenang
1. Pertemuan Pertama – Dua Juara, Dua Wajah
Di lorong menuju ruang pelatihan terbatas, Kaien berjalan pelan.
Langkahnya nyaris tak bersuara… hingga suara lain menghentikannya.
“Kaien Vallis.”
Kaien berhenti. Ia menoleh.
Di ujung lorong berdiri sosok dengan jubah setengah terbuka dan rambut perak yang terikat
rendah.
Ravyn Cyrill.
Matanya tajam, tapi suaranya halus.
“Kita akhirnya bertemu.”
Kaien hanya menjawab dengan anggukan.
“Kau melihat duelku?” tanya Ravyn.
“Ya.”
Ravyn melangkah maju.
“Aku juga melihatmu. Dan aku tahu satu hal…”
“Kau tidak ingin menunjukkan semua yang kau punya.”
Kaien menatapnya tenang.
“Apakah itu salah?”
Ravyn tersenyum miring.
“Tidak.
Tapi dalam dunia yang kita pijak sekarang… yang kau sembunyikan bisa menjadi alasan orang
lain terbakar hidup-hidup.”
Hening sesaat.
“Kita akan bertarung pada waktunya,” tambah Ravyn.
“Dan ketika itu terjadi… aku ingin melihat apa yang ada di balik matamu.”
Kaien hanya menjawab:
“Kalau waktunya tiba… jangan kecewa kalau yang kau lihat bukan yang kau harapkan.”
Ravyn tertawa kecil, lalu pergi.
☀️2. Sore Hari – Lapangan Pelatihan Pribadi
Elara duduk di atas batu besar, menggambar pola sihir di udara.
Saat Kaien datang, ia menoleh dan tersenyum.
“Kau telat.”
“Aku dipanggil… oleh seseorang.”
“Ravyn?”
Kaien mengangguk.
“Dia tajam.”
Elara berdiri.
“Dan berbahaya.”
“Aku tahu.”
Mereka berdua berdiri di tengah pelatihan kecil yang dikelilingi pagar sihir penghalang.
“Kita mulai?” tanya Elara.
“Kau yang mengajak.”
🌀 3. Latihan Dimulai – Bukan Hanya Sihir, Tapi Pemahaman
Elara memulai dengan simbol angin ringan —
bukan menyerang, tapi mengganggu ritme langkah Kaien.
Kaien membalas dengan simbol tekanan horizontal — mencoba menggeser arah Elara.
Keduanya tidak mengeluarkan sihir tingkat tinggi,
tapi fokus pada irama, respon, dan konsistensi.
“Kenapa kau tidak langsung menyerang, Kaien?”
“Karena aku ingin tahu...
Bagaimana kau membaca situasi. Bukan hanya teknikmu.”
Elara tersenyum.
“Jadi ini seperti dansa, ya?”
Kaien tidak menjawab. Tapi langkahnya mengiringi Elara dalam pola spiral pelan.
💬 Obrolan Setelah Latihan
Setelah hampir satu jam, keduanya duduk di tanah rumput. Peluh membasahi wajah mereka.
“Ravyn akan jadi tantangan besar,” kata Elara.
“Kau merasa gugup?”
“Tidak… aku ingin tahu apakah kita bisa berdiri di panggung yang sama dengannya.”
Kaien menatap langit.
“Kita akan lihat. Tapi kita harus mulai melangkah…
bukan untuk mengejarnya, tapi untuk tahu seberapa jauh kita bisa pergi.”
🧩 Penutup Bab – Bayangan yang Mendekat
Sementara itu…
Di ruangan observasi sihir akademi, Lucien membaca ulang hasil pelatihan.
“Dua anomali dari tahun pertama.
Dan satu api yang sudah menyala dari tahun kedua.”
Ia menatap jendela kristal.
“Panggungnya belum siap. Tapi para aktornya… sudah mulai bergerak.”
Bab 20 – Batas yang Ditembus, Panggung yang Dibuka
🌙 Malam Sebelum Turnamen – Pelatihan Rahasia
Pelatihan pribadi Kaien dan Elara di ruang terbuka yang diproteksi lapisan sihir anti-gemuruh.
Malam terasa berat.
Bukan karena hawa, tapi karena tekanan yang mereka ciptakan sendiri.
Elara berdiri di tengah, napas teratur tapi penuh fokus. Di sekelilingnya, tiga simbol tingkat 3
sudah melayang.
“Aku akan mencobanya,” katanya.
Kaien diam, hanya mengangguk dan memperkuat lapisan pelindung.
Elara menarik napas…
menggabungkan tiga simbol utama angin dengan simbol pendorong eksternal milik Kaien
yang ia pelajari secara tak langsung dari duel mereka.
Ssst... craaack!
Udara terdistorsi sejenak.
“Spiral Fission…”
“Burst Gale – Form Empat!”
Ledakan tekanan angin berbentuk spiral menembus tanah, meledak ke udara seperti pusaran
kecil.
Kaien langsung melompat dan menetralisir sisa efeknya agar tidak merusak area.
Saat ia menoleh—
Elara sudah jatuh berlutut.
Tubuhnya gemetar.
“Kau berhasil,” gumam Kaien, berjongkok.
“Tapi kau memaksa inti manamu terlalu jauh.”
Elara tersenyum lemah.
“Sekali saja cukup. Aku hanya ingin tahu… kalau aku bisa berdiri… di tempat itu bersamamu.”
Kemudian, ia pingsan.
Kaien menangkapnya sebelum tubuh itu menyentuh tanah.
“Kau akan baik-baik saja.”
⏳ Tiga Minggu Kemudian – Hari Turnamen Antar-Angkatan
Tepat tengah hari. Langit cerah, suara gemuruh penonton dari segala penjuru tribun.
Arena utama akademi kini terbuka untuk seluruh tiga tahun.
Turnamen Antar-Angkatan resmi dimulai.
Di tengah arena berdiri Lucien, kali ini sebagai pembawa acara.
“Selamat datang.
Tahun ini, demi melihat potensi tertinggi generasi muda… kita menyatukan tiga angkatan dalam
satu turnamen tunggal.”
“Pengundian dilakukan secara acak, kecuali dua peringkat tertinggi dari Tahun Kedua dan
Ketiga yang langsung menuju semifinal.”
Hasil Undian Baru
1. Kaien Vallis (Juara 1 Tahun Pertama)
vs
Ilen Saro (Juara 2 Tahun Kedua)
2. Elara Windmere (Juara 2 Tahun Pertama)
vs
Sarell Avenhart (Juara 2 Tahun Ketiga)
Langsung ke semifinal:
Ravyn Cyrill (Juara 1 Tahun Kedua)
Lucien Drosmere (Juara 1 Tahun Ketiga)
🧠 Perkenalan Singkat Lucien (sekarang sebagai petarung juga)
“Lucien Drosmere, pengguna sihir struktural taktis,” bisik salah satu siswa.
“Dia bisa membaca simbol lawan bahkan sebelum dilemparkan, dan membalik arah sihir dengan
menciptakan resonansi saling mengunci.”
“Dan katanya… dia menyimpan satu bentuk sihir pribadi yang belum pernah dipakai di depan
umum.”
Toren menatap Kaien dari tribun.
“Kau harus lewat Ravyn dulu… tapi setelah itu—
Lucien bukan orang biasa.”
Bab 21 – Di Balik Gerak Tak Terlihat
🏛️Arena Pertandingan Hari Pertama
Langit tertutup sihir pelindung transparan.
Suara penonton menggema dari segala arah, tapi di tengah arena — semuanya terasa sunyi.
Kaien berdiri di satu sisi. Seragamnya bersih, rambut sedikit terangkat oleh angin sihir.
Di seberangnya, Ilen Saro—berdiri tenang, penuh tekanan.
“Kau dari tahun pertama?” Ilen membuka suara.
“Jangan buat aku terlihat jahat karena menghancurkanmu di depan semua orang.”
Kaien menatapnya sejenak.
“Jangan bicara seperti kau sudah menang.”
Tiba-tiba, suara instruktur utama menggema di seluruh area melalui sihir pengumuman:
“Pertandingan selanjutnya: Kaien Vallis dari Tahun Pertama melawan Ilen Saro dari Tahun
Kedua.”
“Pertarungan akan diawasi langsung oleh penyihir elit akademi, satu-satunya yang pernah
mencapai lantai 35 dungeon—Sylia Argentein.”
Reaksi penonton langsung berubah. Sorak-sorai membuncah. Bahkan siswa tingkat tiga terlihat
menegakkan postur mereka. Nama Sylia Argentein bukan hanya legenda—itu simbol batas yang
tak tertembus… kecuali oleh satu orang.
Kaien tak bereaksi. Tapi matanya sedikit mengarah ke sisi kanan arena, tempat sosok berjubah
hitam melangkah perlahan.
Sylia menaiki panggung tanpa berkata sepatah kata pun. Rambut peraknya terikat tinggi.
Tatapannya tajam seperti tombak sihir yang belum dilepaskan.
“Turnamen antar angkatan ini tidak membatasi tingkat sihir. Namun, keselamatan tetap mutlak.
Jika kau kehilangan kendali atau menyerang dengan kekuatan mematikan, pertarungan akan
dihentikan olehku.”
“Menyerah sah jika dinyatakan secara lisan, atau jika tak sadarkan diri selama lima detik.”
Ia menatap keduanya, lalu mengangkat tangan.
“Mulai.”
⚙️Langkah Pertama
Ilen bergerak lebih dulu. Langkahnya pelan namun berat, dan setiap gerakan menciptakan
resonansi di tanah.
“Zone Grav. Sigma.”
Tanah di sekitar Kaien mulai menariknya ke bawah. Berat. Langkah menjadi lambat, tubuh
seperti dicekik medan tak terlihat.
Kaien tidak melawan langsung. Ia hanya memiringkan tubuh, menarik napas perlahan, dan
menyusun ulang posisi kakinya.
“Apa kau akan menyerah tanpa perlawanan?” Ilen mengejek, sambil mengangkat tangan
kanannya.
Satu logam kecil melesat dari sabuk sihirnya, berputar seperti peluru sihir. Satu. Dua. Tiga.
Kaien tidak mengangkat tangan untuk bertahan. Ia melangkah mundur—tepat saat gravitasi
berubah arah.
Logam-logam itu melengkung, kehilangan jalur, dan justru kembali ke medan tarik milik Ilen
sendiri.
Blaam!
Ledakan kecil menyebar di kaki Ilen, membuatnya terdorong dan kehilangan keseimbangan
sesaat.
🧠 Langkah Balasan
Kaien mulai maju. Gerakannya bukan frontal—ia hanya menekan titik di lantai arena, tepat di
simpul sihir yang dilepaskan Ilen sebelumnya.
“Dorongan lateral… aktif.”
Suatu tekanan horizontal meledak mendatar, mendorong Ilen dari bawah ke samping dengan
arah terbalik dari tarikannya sendiri.
Ilen kehilangan pijakan—dan saat ia mencoba membentuk mantra lain, Kaien sudah berada di
sisi kirinya, menyalurkan tekanan kecil namun tepat ke pelindung sihirnya.
Thud!
Tubuh Ilen terlempar dan mendarat keras. Ia tidak bangkit lagi.
🏁 Pengumuman Pemenang
Sylia melangkah ke tengah, mengangkat tangan.
“Pertarungan dihentikan. Pemenangnya: Kaien Vallis.”
Tepuk tangan merambat di tribun. Namun Sylia tidak bergerak dari tempatnya. Ia menatap Kaien
yang membungkuk sebentar lalu berjalan keluar arena.
“Cara dia membaca medan... terlalu rapi. Tidak seperti siswa biasa.”
“Dan simbol tekanan itu... sinkronisasi energinya tidak mungkin didapat dari pelatihan
akademi.”
👁️Reaksi di Tribun
Elara dan Toren saling berpandangan.
“Aku tahu Ilen kuat. Tapi Kaien... dia seperti tahu tiap inci arena itu.” ucap Elara.
“Kau pikir dia belajar di mana selama tiga tahun sebelum masuk akademi?” balas Toren dengan
nada serius.
🧩 Di Balik Nama yang Disamarkan
Dari balkon tertutup, Sylia berdiri diam. Tangannya menggenggam catatan duel, tapi matanya
hanya tertuju pada satu nama.
Kaien Vallis.
“Bukan nama yang kukenal. Tapi caramu bertarung...
...itu milik seseorang yang pernah melihat kegelapan lantai dungeon.”
🔔 Update Turnamen
Sistem sihir mengeluarkan pengumuman:
“SEMIFINAL: Kaien Vallis vs Ravyn Cyrill.”
Sylia menunduk pelan.
Pertunjukan ini belum selesai.
Dan sang bayangan…
telah membuat satu langkah terlalu nyata di tengah cahaya.
Selesai.
Bab 22 – Di Bawah Cahaya, Dalam Batas Tubuh
Arena kembali sunyi. Tapi bukan karena kekosongan—melainkan karena ekspektasi.
Pertandingan sebelumnya, antara Kaien dan Ilen, masih membekas. Dan kini, yang naik ke
panggung adalah dua sosok yang diam-diam punya cerita masing-masing.
“Pertandingan berikutnya: Elara Windmere, juara pertama tahun pertama, melawan Sarell
Avenhart, juara kedua tahun ketiga.”
Sarell Avenhart adalah nama yang tidak asing bagi para penyihir muda. Putra dari keluarga
Avenhart yang terkenal dengan penguasaan sihir api defensif. Ia selalu bertarung dengan elegan,
tapi penuh dominasi.
Namun hari ini, ia berdiri dengan senyum percaya diri, menghadapi gadis yang jauh lebih muda
darinya.
🔥 Lawan yang Tidak Dianggap
“Aku heran,” ujar Sarell sambil membentuk lingkaran sihir di telapak tangannya.
“Apa akademi benar-benar sudah kehabisan penyihir sampai harus menurunkan tahun pertama
ke arena ini?”
Elara tidak menjawab. Ia hanya berdiri tegak, wajah tenang, tangan di sisi tubuh.
Tapi di balik ketenangan itu, jantungnya berdetak cepat.
💥 Sihir yang Terbakar
Sarell menyerang lebih dulu. Pilar-pilar api menyembur dari tanah, membentuk labirin panas
yang menyapu arena.
“Blaze Maze.”
Sihir tingkat tiga, modifikasi. Klasik dari Avenhart.
Elara bergerak cepat, menyatu dengan angin. Ia tidak melawan api secara langsung, tapi
menguraikannya. Sihir angin tipisnya seperti memotong lapisan demi lapisan panas.
“Wind Thread... level dua.”
Dua serangan. Tiga. Empat. Sarell mulai menunjukkan frustrasi. Elara masih berdiri, belum
sekali pun membentuk serangan ofensif.
“Menarik,” gumam Elara, akhirnya berbicara.
“Tapi sekarang giliranku.”
⚡ Tindakan yang Tak Terduga
Elara mengangkat tangan, dan untuk sesaat, angin di arena berhenti. Udara membeku.
“...Pecahlah.”
Mantra panjang mengalir, lambat tapi pasti.
Simbol demi simbol terbentuk dalam udara.
“Storm Crescent – Rank Four.”
Bersamaan dengan itu, cahaya biru keperakan menyapu arena dari atas. Bukan hanya angin—
tapi sihir petir angin, termodifikasi.
Sarell tak sempat mengaktifkan perisainya sepenuhnya.
Benturan sihir melengkung menyapu dan menghempaskan tubuhnya ke sisi arena.
Boom—!
🏁 Pemenang yang Terlalu Diam
Sylia mengangkat tangan.
“Pemenang: Elara Windmere.”
Sorak-sorai menggema. Bahkan sebagian siswa tingkat dua dan tiga terdiam, lalu ikut bertepuk
tangan. Itu sihir tingkat empat. Dari seorang gadis tahun pertama.
Elara tersenyum tipis dan melangkah turun. Tapi... langkahnya sedikit goyah.
🕊️Di Balik Kemenangan
Toren sudah menunggunya di luar arena, bersama Kaien.
“Kau luar biasa.”
“Kau... terlihat biasa-biasa saja di arena tadi, tapi sekarang...”
Elara berhenti dan menarik napas panjang.
“Aku baik-baik saja... hanya sedikit lelah.”
“Sedikit banyak... kekuatanku habis.”
Kaien menatap Elara sebentar. Ia tahu. Ia bisa melihat bagaimana Elara menggandakan sihir
tubuhnya demi menjaga kestabilan saat menggunakan sihir tingkat empat. Tidak ada yang biasa
dari itu.
“Kau... terlalu memaksakan dirimu,” ujar Kaien akhirnya.
“Tapi kau menang.”
Elara tersenyum, lalu bersandar sejenak di bahu Kaien.
🔔 Pengumuman Semifinal
Layar sihir besar di ujung arena menampilkan hasil pengundian ulang:
SEMIFINAL:
Kaien Vallis vs Ravyn Cyrill
Elara Windmere vs Lucien Caldor
Sylia melihat ke arah layar. Tangannya menyentuh dagu, matanya memperhatikan dua nama di
atas.
“Empat nama... dan tiga di antaranya bukan seperti yang terlihat.”
🧩 Di Balik Panggung
Di ruang tertutup, Sylia memutar ulang visual sihir pertarungan Elara.
Gerakan. Fokus. Struktur mantra.
“Bakat. Tapi bukan itu saja...
Dia diajari oleh seseorang.”
“Dan aku ingin tahu siapa.”
📖 Bab 23 – Bara yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan
Pagi hari berikutnya, langit di atas arena tampak lebih redup dari biasanya. Tapi bukan karena
cuaca—melainkan tekanan sihir yang sudah terasa bahkan sebelum pertandingan dimulai.
“Pertandingan pertama semifinal: Kaien Vallis dari Tahun Pertama melawan Ravyn Cyrill,
juara pertama Tahun Kedua.”
Kedua nama itu kini menggema tak hanya di arena, tapi juga di seluruh akademi.
Kaien, penyihir misterius dari desa terpencil, yang terus menang tanpa menunjukkan batasnya.
Ravyn, murid kebanggaan instruktur utama sihir pertahanan, dikenal karena gaya bertarung
brutal namun jenius.
⚔️Ketegangan Sebelum Ledakan
Kaien dan Ravyn berdiri saling berhadapan.
Ravyn tersenyum tipis, penuh percaya diri.
“Tak buruk, bocah desa. Tapi hari ini… kau akan tahu kenapa aku disebut benteng sihir tahun
kedua.”
Kaien tidak menjawab. Ia hanya menatap Ravyn dengan ekspresi kosong. Tapi di baliknya—
fokusnya sempurna.
Di sisi arena, Sylia Argentein kembali menjadi wasit.
Kali ini, ia terlihat lebih siaga. Sebuah lapisan sihir perlindungan tambahan dipasang di sekitar
tribun, tanpa diumumkan.
“Pertarungan bebas. Gunakan seluruh kemampuan kalian. Aku akan menghentikannya jika
terlalu membahayakan.”
🌪️Denting yang Membuka Pertarungan
Ravyn melesat lebih dulu. Tangan kirinya membentuk Perisai Kristal, sedangkan tangan kanan
menyulap Tombak Aether—sihir padat berbentuk senjata.
Kaien membalas dengan melompat mundur dan menebar ranjau tekanan angin di lantai.
Boom! Boom!
Keduanya saling membaca gerakan, saling menghindar dan menukar sihir.
Tak ada mantra sembarangan. Semua diarahkan untuk menekan titik buta satu sama lain.
🔥 Titik Ledak – Sihir Tingkat Empat
Ravyn mengangkat kedua tangannya tinggi.
“Aether Bombard – Rank Four!”
Empat pilar energi membentuk senjata berat yang meluncur dari atas, mencoba menghantam
Kaien dari semua arah.
Kaien tidak menghindar. Ia berdiri diam… dan kemudian berkata pelan:
“Counterfold. Rank Four.”
Udara terlipat. Literal. Gelombang-gelombang ruang runtuh dalam sekejap, mengubah arah
serangan Ravyn dan meledakkannya ke samping.
Suara ledakan mengguncang arena. Debu mengepul. Beberapa bagian dinding sihir arena
tergores, bahkan lapisan sihir tribun bergetar.
Sylia memperkuat pelindung dengan cepat—namun ekspresinya berubah serius.
“Ini… bukan lagi level siswa biasa...”
💥 Momen Penentu
Ravyn, dengan tubuh terluka, tertawa.
“Kau kuat. Tapi aku belum selesai!”
Ia menyalakan inti sihir di tangannya—terlalu cepat, terlalu padat. Bahkan Sylia sempat
bergerak sedikit.
Tapi Kaien sudah lebih dulu berada di depannya.
Dalam satu gerakan lembut, ia membalik arus sihir di tubuh Ravyn, membuat mantranya
runtuh sebelum dilepaskan.
“Maaf.”
“Kau terlalu terbuka.”
Kaien menyentuh dada Ravyn dengan telapak tangan. Bukan menyerang, tapi melepaskan
tekanan yang membuat tubuh Ravyn langsung tak sadarkan diri.
🏁 Pengumuman Pemenang
“Pertarungan dihentikan. Pemenang: Kaien Vallis.”
Tapi sebelum penonton bisa bersorak, arena retak.
Ledakan sihir yang tertahan di medan pertempuran tadi tak sepenuhnya stabil.
Craaaaack—
Bagian lantai arena meledak ke atas. Dinding sihir pelindung juga rusak sebagian.
Sylia mengangkat tangannya dan memanggil sistem akademi:
“Pertarungan selesai. Arena dalam status kerusakan. Diperlukan waktu dua hari untuk perbaikan
penuh.”
🕊️Setelah Pertarungan
Kaien berjalan keluar tanpa ekspresi. Tapi langkahnya sedikit berat.
Di pinggir arena, Elara berdiri menunggunya.
“Kau menang…”
“Tapi kau... nyaris tak berhenti.”
Kaien tidak menjawab. Ia hanya menatap arena yang rusak, lalu berkata lirih:
“Kurasa... aku sudah terlalu lama menyimpan semuanya.”
Toren mendekat dan menyenggol pundaknya.
“Baguslah. Tapi ingat, satu ledakan lagi, dan kita semua jadi cerita peringatan bagi murid baru.”
Mereka bertiga tertawa kecil.
Namun jauh di balkon atas, Sylia tidak tertawa.
“Kaien Vallis… aku harus tahu siapa kau sebenarnya.”
🔔 Catatan Akademi
Duel Elara vs Lucien ditunda 2 hari karena kerusakan arena.
Seluruh semifinalis diberi waktu untuk pemulihan dan latihan terbatas.
a Bab 24 – Mata yang Tak Bisa Dibuang
Ruang perawatan akademi tak pernah setenang ini.
Sinar matahari hanya menembus sedikit lewat jendela kaca besar, menciptakan bayangan garis-
garis samar di dinding. Suara-suara dari luar stadion hanya terdengar sebagai gema pelan—dunia
sedang berhenti sejenak.
Di atas salah satu ranjang, Kaien duduk diam, perban tipis melilit sisi lengan kirinya. Bukan
karena luka serius, melainkan karena efek pantulan tekanan sihir dari duel sebelumnya.
Di dekatnya, Toren sedang duduk di kursi, sementara Elara bersandar di dinding.
“Kau meledakkan arena,” gumam Toren setengah kagum.
“Kupikir kita masuk akademi untuk belajar, bukan jadi bahan perbaikan bangunan tiap bulan.”
Kaien hanya tersenyum lelah.
Elara memandangi mereka, kemudian melirik jam dinding.
“Kami keluar dulu. Staf penyembuh ingin memeriksa lukaku juga,” katanya.
“...istirahatlah, Kaien. Dua hari bukan waktu lama.”
Kaien mengangguk.
Toren mengedipkan mata sebelum keluar bersama Elara, meninggalkan ruangan dalam
keheningan.
🚪 Pintu yang Membawa Sorot Tajam
Beberapa menit setelah mereka keluar, pintu terbuka perlahan.
Langkah tenang terdengar, dan masuklah Sylia Argentein. Tanpa jubah wasit. Tanpa simbol
formal. Hanya dirinya—dan matanya yang tak bisa dibohongi.
Kaien segera menegakkan tubuhnya.
“Instruktur...”
“Tak perlu formalitas.” Sylia berjalan ke sisi ranjang, tidak duduk.
“Aku hanya ingin melihat... apakah tubuhmu sekuat yang kau tampilkan.”
Hening.
Kaien tidak menjawab.
“Aku tahu apa yang kulihat di arena,” lanjut Sylia, menatap lurus.
“Itu bukan sihir tahun pertama. Bukan latihan akademi. Bahkan bukan teknik guru biasa.”
Ia berjalan perlahan mengelilingi ranjang.
“Kau bukan bocah biasa dari desa yang belajar demi mimpi kekuatan.
Kau... menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih dalam.”
Kaien tidak bereaksi. Tapi tangannya mengepal di bawah selimut.
“Dan aku takkan langsung memaksamu untuk mengaku,” ucap Sylia kemudian.
“Tapi dengar ini baik-baik, Kaien Vallis... atau siapapun kau sebenarnya.”
🌌 Rencana yang Belum Pernah Diumumkan
Sylia akhirnya duduk di kursi tempat Toren tadi berada.
“Setelah turnamen ini selesai, aku akan memimpin ekspedisi ke lantai 50 dungeon.”
“Sesuatu... telah berubah di bawah sana. Energi yang tak biasa, pergerakan monster yang tak
wajar.”
Kaien mengangkat wajah, untuk pertama kalinya sejak Sylia masuk.
“Lantai 50...? Itu belum pernah disentuh siapapun.”
Sylia mengangguk pelan.
“Benar. Dan itulah alasannya... kenapa ekspedisi ini bukan untuk semua orang.”
“Aku akan membawa pemenang turnamen antar angkatan bersamaku.
Aku ingin tahu siapa yang layak berdiri di sisiku menghadapi kegelapan di bawah sana.”
Ia berdiri lagi, menatap Kaien dari atas.
“Jadi, dua hari dari sekarang... tunjukkan padaku siapa dirimu sebenarnya.”
“Karena jika kau berpikir bisa bersembunyi selamanya, maka kau tak pernah benar-benar siap
masuk ke lantai 50.”
🔚 Saat Hening Kembali Turun
Sylia berjalan pergi tanpa menunggu jawaban.
Pintu tertutup pelan.
Kaien kembali bersandar di ranjang. Matanya menatap langit-langit.
“Lantai 50…”
“Aku belum siap. Tapi… aku juga tidak bisa mundur sekarang.”
“Kalau aku menang... aku akan berdiri di sana, bersamanya. Di tempat di mana dunia ini
benar-benar menyingkapkan rahasianya.”
Bab 25 – Kata yang Tak Sempat Diteriakkan
Dua hari telah berlalu sejak duel Kaien dan Ravyn mengguncang arena hingga nyaris runtuh.
Akademi berbenah dengan cepat. Siaran pertandingan diulang berkali-kali. Nama "Kaien Vallis"
kini terdengar di setiap sudut kantin, koridor, dan ruang diskusi.
Tapi hari ini, semua mata beralih pada satu nama lainnya.
Elara Windmere.
🌅 Menjelang Duel
Pagi itu, suasana di ruang bersiap terasa lebih sunyi dari biasanya.
Langkah Elara menggema di lorong panjang sebelum memasuki ruang tunggu arena. Di
dalamnya, hanya ada satu orang menunggunya.
Kaien duduk di bangku pojok, mengenakan seragam gelap sederhana, wajahnya teduh namun
serius.
“Kau datang lebih cepat,” ucap Elara sambil tersenyum kecil.
Kaien menoleh perlahan.
“Aku tahu kau juga akan datang lebih cepat dari jadwal.”
Diam. Beberapa detik berlalu tanpa kata.
“Duelmu akan dimulai dalam dua puluh menit,” kata Kaien kemudian.
“Dan kau... belum sepenuhnya pulih, bukan?”
💬 Kata yang Perlu Diucapkan
Elara menyandarkan punggung ke dinding, menatap lurus ke depan.
“Tubuhku baik-baik saja.”
“Sihirku, mungkin tidak sepenuhnya pulih. Tapi... cukup.”
Kaien mengangguk, tapi tak terlihat lega. Justru, sorot matanya mengeras.
“Jangan melewati batas.”
Elara mengerutkan alis.
“Maksudmu?”
“Kau tahu apa yang kulihat saat duelmu melawan Sarell.
Kau memakai sihir tingkat empat dengan sangat bersih... tapi aku tahu biaya yang kau bayar.”
“Tubuhmu tidak dirancang untuk itu—belum sekarang.”
Elara menunduk sejenak.
“Aku tahu. Tapi ini... bukan hanya soal menang atau kalah.”
“Lucien bukan lawan biasa. Jika aku menahan diri, aku akan kalah.”
“Dan jika kau tidak menahan diri... kau akan hancur.”
Kaien mendekat satu langkah.
“Dan aku tak ingin melihat itu terjadi.”
🔄 Ketegangan yang Pelan Mencair
Elara menatap Kaien. Sorot matanya melembut.
“Kau terdengar seperti seseorang yang... peduli.”
Kaien menahan napas sejenak.
Lalu mengalihkan pandangan, menatap jendela sempit di atas ruangan.
“Aku tahu bagaimana rasanya memaksakan diri terlalu jauh.”
“Aku hanya tidak ingin kau mengulang kesalahan yang pernah kulakukan.”
Elara tersenyum. Kali ini, bukan senyum kemenangan—tapi pemahaman.
“Kalau begitu... aku akan bertarung. Tapi aku akan ingat peringatanmu.”
Kaien mengangguk.
“Tunjukkan siapa dirimu, tapi jangan rusak dirimu demi membuktikannya.”
🚪 Waktu Bergerak Lagi
Ketukan di pintu. Seorang staf akademi masuk dan mengangguk.
“Elara Windmere, saatnya menuju arena.”
Elara berdiri, menarik napas panjang.
Kaien mengulurkan tangan—dan Elara menyambutnya dalam genggaman singkat.
“Kalau aku menang... kita bertemu di final.”
“Dan kau harus siap menahanku.”
Kaien tersenyum tipis.
“Kalau itu terjadi... aku takkan menahan apapun lagi.”
Bab 26 – Dua Cahaya di Ambang Batas (Revisi)
Langkah Elara menggema dalam kesunyian lorong menuju arena. Walau napasnya teratur, setiap
sel dalam tubuhnya terasa menegang.
Di seberangnya, berdiri Lucien Caldor, tenang dan angkuh seperti biasanya. Ia bukan hanya
juara Tahun Ketiga — ia adalah simbol kekuatan sistemik akademi: penyihir yang tumbuh dari
silsilah besar, dibimbing sejak kecil, dan didorong untuk menjadi pemimpin.
Tapi hari ini, Elara datang bukan untuk tunduk. Ia datang untuk mencoba menembus batasnya
sendiri.
🔥 Pembukaan Pertarungan
“Pertandingan semifinal kedua.
Elara Windmere melawan Lucien Caldor,” ucap Sylia sebagai wasit.
Tanpa menunggu, Lucien mengangkat tangannya.
“Umbra Fang.”
Bayangan meruncing dari tanah, menyerang Elara dalam satu hentakan.
Elara melompat mundur, memutar tubuh dan melepaskan Wind Dagger untuk memecah formasi
bayangan.
Pertarungan segera berubah menjadi duel jarak menengah—tepat, cepat, dan mematikan.
⚡️Siapakah yang Akan Mundur Duluan?
Lucien tersenyum dingin.
“Kau cukup terampil. Tapi sihir tingkat empat itu... kau belum bisa menggunakannya dua kali,
bukan?”
Elara tak menjawab. Ia hanya menajamkan fokusnya, lalu mengangkat kedua tangannya.
“Tempest Eye – Rank Four!”
Pusaran angin muncul dari belakang tubuhnya, menghantam dan mengganggu bayangan yang
terus bergerak.
Lucien, tanpa ragu, membalas.
“Veil of Eclipse – Rank Four.”
Langit arena menjadi gelap. Cahaya direduksi, membuat pergerakan sihir bayangan semakin sulit
dilacak.
Sylia mengerutkan alis. Ini bukan hanya duel kekuatan, tapi duel kontrol—dan Lucien sedang
perlahan menang.
💥 Titik Balik
Elara mulai kehabisan napas. Tangannya bergetar.
“Jangan melewati batas…” bisik suara Kaien dari dalam kepalanya.
Tapi dia ingin menang. Sekali lagi, ia mencoba:
“Storm Blossom – Rank Four!”
Ledakan angin mekar di sekitar tubuhnya, menabrak semua arah. Tapi… efeknya tak sekuat
sebelumnya. Sihirnya tak sepenuhnya terbentuk sempurna.
Lucien menyerang balik. Dari balik bayangan, ia munculkan Umbra Chain – Rank Four,
melilit tubuh Elara dan menghempaskannya ke lantai arena.
Tubuh Elara terbanting keras. Debu naik. Arena sunyi.
🏁 Akhir yang Terlalu Cepat
Sylia segera bergerak maju. Elara berusaha bangkit, tapi lututnya gemetar, dan ia jatuh berlutut
kembali.
“Pertarungan dihentikan.
Pemenang: Lucien Caldor.”
💔 Setelah Duel
Lucien berdiri tenang, hanya sedikit kelelahan. Ia berjalan melewati Elara tanpa mengucapkan
sepatah kata pun.
Kaien yang menyaksikan dari tribun tak berkata apa-apa. Tapi sorot matanya menajam.
Beberapa staf medis masuk, membantu Elara berdiri. Sebelum dibawa pergi, Elara menatap ke
arah Kaien—dan tersenyum samar.
“Maaf… aku tak bisa menahan janji itu sampai akhir...”
Kaien mengangguk pelan.
“Kau sudah melampaui cukup jauh.”
📢 Pengumuman Final
Final Turnamen Antar Angkatan:
Kaien Vallis (Juara Tahun Pertama)
vs
Lucien Caldor (Juara Tahun Ketiga)
Dijadwalkan: 3 hari lagi
Arena akan diperkuat dan dibuka secara publik.
Undangan khusus dari para penyihir tinggi dan pengamat dari luar akademi akan hadir.
Final ini akan menentukan siapa yang layak ikut Ekspedisi ke Lantai 50.
Bab 27 – Api yang Tak Boleh Padam
Tiga hari menuju final.
Akademi tidak pernah seramai ini. Semua jadwal kelas diliburkan. Pelatihan umum dihentikan.
Satu-satunya hal yang dibicarakan oleh para siswa dan instruktur adalah:
“Kaien Vallis melawan Lucien Caldor.”
🔧 Arena Dalam Perbaikan
Arena utama masih dalam proses pemulihan. Jejak pertarungan Kaien vs Ravyn dan Elara vs
Lucien meninggalkan keretakan struktural, bahkan sebagian bagian pengendali sihir internal
harus dirombak ulang.
Namun, arena cadangan telah dipersiapkan sementara—dan di sinilah Kaien sekarang berdiri.
Bukan untuk berduel, tapi untuk berlatih sendiri.
Dia berdiri diam di tengah lapangan kosong. Di tangannya, sihir samar menyala—bergerak
lembut tapi dalam.
“Lucien...”
“Pengguna bayangan. Tekniknya terlalu bersih. Kontrolnya seperti veteran.”
Kaien memejamkan mata, memanggil kembali serpihan dari pertarungan terakhirnya—dan
menyesuaikan ritme sihirnya.
💬 Pertemuan dengan Elara
Sore itu, di ujung tempat pelatihan, Elara duduk bersandar di bangku batu, mengenakan
pakaian medis ringan. Luka-lukanya belum sepenuhnya sembuh, tapi dia sudah bisa berjalan
dengan normal.
Kaien menghampirinya tanpa suara.
“Kau latihan sendiri?” tanya Elara lebih dulu.
“Ya. Sekalian menenangkan pikiran.”
Elara tertawa pelan.
“Jangan sampai terlalu tenang. Lawanmu cukup… menakutkan.”
Kaien duduk di sampingnya, tapi tak langsung menjawab.
“Lucien itu... bukan hanya kuat. Dia terbiasa menang.
Dia akan menganggap semua lawan hanya tangga.
Kalau kau ragu, dia akan menginjakmu seperti anak tangga lainnya.”
Kaien menatap tanah.
“Aku tahu.”
“Tapi…” Elara memalingkan wajah padanya.
“Kau berbeda. Dia tidak tahu siapa yang sedang dia hadapi.”
“Itulah masalahnya,” jawab Kaien pelan.
“Aku juga tidak tahu... berapa dari diriku yang boleh kutunjukkan tanpa kehilangan semuanya.”
🌘 Bayangan yang Terus Menyempit
Malam itu, di balkon pengawas akademi, Sylia berdiri seorang diri, memandang arena dari
kejauhan.
Di tangannya, lembaran laporan sihir pertarungan Kaien vs Ravyn, dan Elara vs Lucien. Diagram
kekuatan. Pola tekanan sihir. Catatan teknis.
Tapi semuanya… tidak menjelaskan apa yang dia rasakan.
“Dia menyembunyikan sesuatu.”
“Kaien Vallis.”
“Bukan dari keluarga bangsawan, tidak ada catatan pelatihan, namun bisa berdiri melawan
penyihir bayangan tahun ketiga.”
Wajah Sylia tak menunjukkan emosi, tapi jemarinya mengepal ringan.
“Jika aku membawa pemenang turnamen ke lantai 50… dan orang itu adalah dia…”
“…maka aku harus tahu siapa sebenarnya yang akan turun bersamaku.”
🕯️Penutup Hari
Kembali di kamarnya, Kaien duduk sendiri. Di depannya, buku catatan sihir lama terbuka.
Halaman penuh dengan rumus dan coretan latihan pribadi. Metode yang ia kembangkan sendiri
selama tiga tahun dalam bayangan dunia.
Ia menutup mata.
“Tiga hari lagi.”
“Aku tidak bisa mundur.”
“Bukan karena gelar. Bukan karena pengakuan.”
“Tapi karena aku tahu… di balik turnamen ini, ada sesuatu yang lebih besar yang menanti.”
Matanya terbuka. Api sihir biru muda menari di ujung jarinya.
“…dan aku harus siap.”
Bab 28 – Percakapan Sebelum Petir
Pagi hari, dua jam sebelum final dimulai.
Sinar mentari menyusup melewati jendela kaca tinggi di puncak menara timur Akademi Sihir
Renastra. Di balik meja panjang berlapis kain biru, duduk seorang pria tua dengan rambut perak
keputihan, janggut rapi, dan mata tajam berlapis lensa kristal.
Rektor Emeritus Elvarin Tarlough, Kepala Akademi yang jarang terlihat oleh para siswa. Ia
lebih banyak menghabiskan waktu meneliti artefak dan teori sihir tinggi — kecuali di saat-saat
penting seperti ini.
Di depannya berdiri Sylia Caerwyn, lurus, tegak, dengan wajah yang tak pernah menunjukkan
keraguan.
🧩 Percakapan Dua Kekuatan
“Kau terlihat lebih serius dari biasanya, Sylia,” ucap Elvarin sembari menuangkan teh dari kendi
batu sihir.
“Apakah final turnamen membuatmu gugup?”
Sylia tidak menjawab langsung. Ia tetap berdiri, menatap keluar jendela—arah arena utama.
“Bukan turnamennya,” katanya akhirnya.
“Tapi seseorang yang ikut di dalamnya.”
“Kaien Vallis?”
Kepala akademi memang tidak perlu diberi tahu dua kali. Informasi sudah mengalir kepadanya
sejak awal turnamen.
“Sihirnya belum sepenuhnya terklasifikasi,” lanjut Elvarin sambil mengaduk tehnya pelan.
“Catatan akademi menunjukkan potensi tingkat tiga… tapi duel melawan Ravyn menunjukkan
pola tekanan sihir yang melampaui batas itu.”
“Bukan hanya tekanannya,” balas Sylia.
“Tapi kontrolnya. Keputusannya. Cara dia menyembunyikan potensi tanpa benar-benar
menipiskan pengaruhnya.”
Elvarin menatapnya lebih dalam.
“Kau ingin membawanya?”
“Ya.”
🌌 Tujuan dari Ekspedisi
Elvarin menyandarkan tubuhnya.
“Ekspedisi ke lantai 50 bukan perjalanan biasa, Sylia. Kau tahu itu.
Kita sudah kehilangan dua regu elit dalam lima tahun terakhir. Bahkan sihir tingkat lima pun
mulai... tak stabil di kedalaman itu.”
“Justru karena itu,” jawab Sylia.
“Aku tidak butuh regu penuh. Aku butuh... variabel. Seseorang yang tidak dibentuk oleh sistem.
Yang tidak tumbuh dari pola pelatihan biasa. Kaien adalah itu.”
Diam.
“Dan jika dia berbahaya?” tanya Elvarin.
“Jika dia bukan ‘harapan baru’, tapi justru... ketidakseimbangan yang mempercepat
keruntuhan?”
“Maka lebih baik aku mengetahuinya saat dia bersamaku. Bukan saat dia sudah tidak bisa
dikendalikan oleh siapa pun.”
🕰️Detik Menuju Pertemuan
Sylia memalingkan pandangannya dari jendela.
“Aku akan jadi wasit final. Dan setelah duel itu berakhir, aku akan umumkan ekspedisi lantai 50
secara terbuka.”
“Dan jika Kaien menang?”
Sylia menghela napas tipis.
“Maka dia akan menjadi bagian dari timku.”
Elvarin mengangguk pelan.
“Semoga dia tidak mengecewakanmu… atau mengguncang dunia yang telah kita bangun selama
ini.”
🏟️Arena Final
Di luar, suara sorakan mulai terdengar. Arena utama telah siap.
Para siswa dari seluruh angkatan memenuhi tribun. Guru-guru sihir, pengawas, bahkan para
undangan dari luar akademi mulai berdatangan. Beberapa membawa lencana keluarga sihir
besar, yang lain hanya duduk diam sambil mencatat.
Tapi semua mata… akan tertuju pada dua nama:
Kaien Vallis
Lucien Caldor
a 📖 Bab 29 – Di Antara Dua Cahaya
“Keduanya pengguna sihir tingkat empat…”
“…dan keduanya belum menunjukkan batas sejatinya.”
Suara desas-desus memenuhi tribun saat dua sosok berdiri di tengah arena utama yang telah
diperkuat dengan lebih dari sepuluh lapisan sihir perlindungan.
Langit sedikit mendung, menambah aura ketegangan yang menggantung. Tapi tidak ada hujan.
Tidak ada angin. Seakan seluruh dunia menahan napas untuk pertarungan ini.
Kaien Vallis, berdiri tegak, wajah tenang, tak banyak bicara. Jubah pelatihannya sederhana,
tidak menunjukkan kebangsawanan ataupun keanggunan. Tapi tekanan sihir di sekelilingnya
terasa hidup… seperti hembusan dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Lucien Caldor, dengan lambang keluarga Caldor di dada, tampak percaya diri seperti biasa.
Namun matanya menajam. Ia tidak memandang rendah lawannya hari ini. Tidak setelah
mendengar apa yang dilakukan Kaien terhadap Ravyn dan Ilen Saro.
🎙️Pengumuman Final
Di sisi arena, Sylia berdiri sebagai wasit.
“Ini adalah duel final turnamen antar angkatan.”
“Dilarang membunuh. Namun tidak ada batasan tingkatan sihir yang digunakan.”
“Jika peserta tidak sanggup melanjutkan atau menyerah, pertarungan dihentikan.”
“Sistem perlindungan arena akan mencegah kematian, tapi tidak menjamin keamanan penuh jika
kontrol sihir tidak dijaga.”
“Kaien Vallis.”
“Lucien Caldor.”
“Tunjukkan batas dunia kalian.”
⚔️Babak Awal
Lucien bergerak lebih dulu. Seperti biasa.
“Shadow Bloom – Rank Four!”
Bayangan di bawah tanah mekar seperti bunga mawar berduri. Bilah-bilah hitam menebas udara,
menyerbu Kaien dari segala arah.
Tapi Kaien hanya melangkah ringan. Dengan satu gerakan tangan, angin padat berputar di
sekeliling tubuhnya.
“Air Spiral – Rank Four.”
Tekanan angin dan bayangan saling bertabrakan, menciptakan dentuman yang terdengar sampai
ke tribun atas.
💨 Duel Terbuka
Lucien tidak menahan diri.
“Umbra Mirage – Rank Four.”
Bayangan membentuk ilusi tubuhnya, menciptakan empat tiruan yang bergerak bersamaan,
menyerbu dari berbagai arah.
Kaien memejamkan mata sejenak—lalu membuka telapak tangannya.
“Pulse Flare – Rank Four.”
Cahaya biru meledak dalam lingkaran konsentris, mengusir semua tiruan dan mengejutkan
Lucien yang nyata, mendorongnya mundur beberapa langkah.
⚡️Ketika Tingkat Empat Tidak Cukup
Lucien menyipitkan mata. Ia tahu… itu tadi bukan hanya sihir biasa.
“Aku takkan membiarkanmu menyentuh lantai 50 hanya dengan sihir eleganmu itu.”
Tangannya merapat.
“Dark Collapse – Rank Five.”
Suara tribun terdiam.
Gumpalan sihir bayangan sebesar batu besar runtuh dari atas arena, menghantam langsung ke
arah Kaien dengan kekuatan meremukkan.
Kaien mundur beberapa langkah, lalu menyatukan tangan.
“Tempest Spiral – Rank Five.”
Ledakan angin vertikal mengangkat tubuhnya dan menghancurkan bayangan raksasa sebelum
menyentuh tanah. Asap mengepul. Suara pelindung arena berdengung.
🩸 Luka Pertama
Lucien bergerak cepat. Dari balik asap, dia melesat dan menyerang dari samping.
Kaien berhasil menahan, tapi goresan muncul di bahunya. Darah merah mengalir.
Penonton terdiam.
💥 Ledakan Terbuka
“Shatter Edge – Rank Five!”
“Gale Vein – Rank Five!”
Sihir demi sihir tingkat lima mulai diluncurkan. Tapi yang mengerikan bukan hanya kekuatannya
— melainkan ketepatan waktu, rotasi elemen, dan cara mereka saling membaca pola
gerakan satu sama lain.
Boom!
Crack!
Fwhoosh!
Arena bergetar. Lapisan pelindung retak. Sylia mengaktifkan pengaman tambahan.
🕒 Waktu Terus Berjalan
Lima belas menit berlalu.
Dua puluh.
Tiga puluh.
Kaien mulai bernapas berat. Lucien pun terlihat mulai kehilangan ritme.
Namun tidak ada yang mundur. Tidak ada yang goyah.
Sorot mata keduanya masih membara.
Pertarungan ini… belum selesai.
Mantra Terakhir – Arc 2: Akademi Tanpa Nama
📖 Bab 30 – Tatapan Dunia
“Kenapa mereka belum selesai?”
“Sihir tingkat lima… dan belum ada tanda menyerah?”
“Dua orang itu—mereka bukan hanya bertarung. Mereka menguji batas dunia.”
🏟️Di Tribun Akademi
Suasana tribun telah berubah dari sorak sorai menjadi sunyi yang padat tekanan. Detik demi
detik berganti dengan nafas tertahan, dan tak seorang pun memalingkan pandangan dari arena.
Elara, duduk di sisi pengawas medis, tangannya menggenggam erat sandaran kursi. Wajahnya
pucat, bukan karena luka lama, tapi karena beban emosi.
“Dia… tidak menahan diri kali ini,” gumamnya pelan.
Toren yang berdiri di sebelahnya tampak tegang, meski tetap mencoba tersenyum.
“Kurasa mereka akan menghancurkan seluruh sistem akademi sebelum salah satu menyerah.”
“Bukan sistemnya yang akan hancur,” Elara membalas cepat.
“Tapi batas manusia itu sendiri.”
🎓 Di Barisan Instruktur
Instruktur sihir tinggi duduk dalam barisan khusus, menyaksikan jalannya pertarungan lewat
panel proyeksi sihir yang merekam detail tekanan sihir, pola pelepasan, dan ritme casting dari
kedua peserta.
Salah satu instruktur muda berbisik, terperangah:
“Aku… belum pernah melihat bentuk casting sihir tingkat lima seperti itu. Si Vallis—
gerakannya seakan menentang formula sihir dasar…”
Instruktur yang lebih senior hanya mengangguk pelan.
“Itu bukan teknik sekolah. Itu bukan teknik keluarga. Itu teknik yang dilatih dari ketakutan dan
tekad.”
Rektor Elvarin yang hadir langsung di tribun atas hanya menggumam pelan, cukup hanya untuk
dirinya sendiri:
“Ini… bukan duel biasa.”
—
🧭 Di Aula Kota – Ibukota Renavar
Sementara itu, jauh dari akademi, di pusat kota Renavar, layar sihir raksasa memproyeksikan
jalannya pertandingan langsung ke Aula Kota. Ratusan warga, bangsawan, bahkan pengamat
sihir dari luar negeri berkumpul untuk menyaksikan.
“Lucien dari keluarga Caldor melawan… siapa? Vallis? Anak desa?”
“Dia bukan anak desa. Itu… bukan sihir orang biasa.”
“Kalau dia menang, dia akan menjadi orang termuda yang mengalahkan penyihir tingkat akhir
tanpa latar belakang apa pun…”
Para perwakilan dari keluarga bangsawan saling bertukar pandang. Wajah mereka serius—tidak
semua senang melihat anak tak dikenal merebut panggung para pewaris sah.
“Dia ancaman,” bisik salah satu dari keluarga Arvenhart.
“Kita harus mulai menelusuri asal usulnya.”
Namun, beberapa yang lain… hanya terdiam, terpukau.
🎤 Di Tempat Kontrol Wasit
Sylia berdiri dengan tangan menyilang, tidak berkata apa-apa sejak duel dimulai. Dua lapis
pelindung arena sudah retak, dan sistem utama perlu penguatan terus-menerus dari staf sihir
teknis.
“Haruskah kita hentikan jika terjadi pelepasan tingkat enam?” bisik salah satu staf.
“Jika salah satu dari mereka menunjukkan kemampuan itu, aku sendiri yang akan turun ke
arena,” jawab Sylia dingin.
“Tapi belum sekarang. Biarkan dunia melihat.”
Layar sihir di hadapannya bergetar pelan, menampilkan statistik tekanan sihir dari kedua peserta.
Data tak lagi terbaca stabil. Sistem pengukur tampaknya mulai kesulitan menyesuaikan dengan
dua individu di bawahnya.
“Dunia sedang berubah,” ucap Sylia dalam hati.
“Dan mereka berdua adalah ujung tombaknya.”
—
🌪️Kembali ke Arena
Dua sosok di tengah medan masih berdiri—terengah, tapi tidak menyerah. Luka mulai terlihat.
Debu dan sihir mengisi udara.
Suara gemuruh di kejauhan bukan hanya efek dari sihir, tapi dari resonansi jiwa yang beradu di
hadapan dunia.
Bab 31 – Hari Di Mana Langit Retak
🌪️Arena yang Mulai Retak
Detik terus bergulir.
Kaien dan Lucien masih berdiri… tapi hanya tinggal itu yang bisa mereka lakukan. Nafas berat,
luka menganga, pakaian robek, dan sisa sihir yang menetes dari ujung jari.
“Sudah cukup…”
“…tapi dia belum menyerah.”
Keduanya berpikir hal yang sama. Tapi tidak satu pun mengucapkan kata itu.
⚡️Pelepasan Pertama
Lucien maju lebih dulu. Kedua tangannya membentuk segel tiga lapis, dan bayangan di bawah
tanah melonjak naik seperti pilar hitam.
“Oblivion Dagger — Rank Five!”
Ratusan pisau bayangan menghujani Kaien dari atas dan samping. Sihir itu berputar, saling
bertabrakan, menciptakan pusaran kekacauan.
Kaien menggertakkan gigi. Nafasnya nyaris habis.
Lalu dia membisikkan sesuatu.
“Aku tidak bisa kalah. Aku tidak akan kalah.”
Tangannya bergerak perlahan ke dada—ke pusat sihirnya. Seperti membuka segel yang ia tutup
rapat selama ini.
“...Forma Verum: Resonare.”
(Bentuk Sejati: Bergema)
Cahaya biru putih menyala dari tubuh Kaien. Bukan seperti sihir biasa. Tapi resonansi.
Atmosfer di arena berubah. Udara menebal. Tanah di bawahnya retak sebelum ia mengucapkan
satu kata lagi—
“Arcflare – Rank Six.”
💥 Dunia yang Retak
Ledakan cahaya.
Udara terbelah.
Langit seakan berguncang.
Lapisan pelindung arena yang sudah disiapkan runtuh seketika, seolah tak ada gunanya. Getaran
sihir merambat keluar seperti gelombang kejut yang menghancurkan batas arena.
Sepuluh instruktur utama langsung berdiri dan mengangkat tangan ke langit.
“Defensio Absolutus!”
“Anti-Flux Shielding!”
“Stasis Dome – Sektor Barat!”
Barisan sihir pertahanan aktif serentak, menciptakan lapisan perlindungan darurat yang nyaris
gagal terbentuk.
Di tribun, para siswa panik, tapi sebagian besar terlindungi berkat sistem sihir akademi yang
segera aktif.
“Itu… sihir tingkat enam…”
“Siapa… siapa dia sebenarnya?!”
🛡️Lucien Bertahan… Tapi Gagal
Di dalam pusat ledakan, Lucien tidak tinggal diam. Meski tubuhnya gemetar dan sihirnya kacau,
ia berteriak:
“Shadow Fortress – Rank Five!”
Lapisan bayangan melindungi tubuhnya seperti perisai berlapis-lapis, namun tak cukup. Tidak
untuk sihir sekelas Arcflare.
Satu lapisan. Dua. Tiga. Hancur semua.
Tubuh Lucien terpental ke dinding arena dan terhempas keras.
🔕 Keheningan
Ledakan berhenti.
Cahaya memudar.
Asap dan debu menutupi seluruh arena.
Tak ada suara. Tak ada gerakan.
Semua hanya melihat ke pusat arena… dan tidak ada yang tahu apa yang terjadi.
Beberapa menit berlalu. Debu perlahan hilang, tersapu angin dari sihir penetralisir.
Dan di tengah-tengah kawah yang terbentuk…
Kaien dan Lucien terbaring tak sadarkan diri.
Tubuh mereka tak bergerak, tapi denyut sihir masih samar terasa.
👁️Tatapan Terakhir
Sylia, yang berdiri sebagai wasit, melangkah masuk ke arena.
Semua mata tertuju padanya.
Ia berdiri di antara dua sosok yang tak sadarkan diri itu, memandang keduanya… lalu
mengangkat suara.
“Mereka berdua bukan sekadar pemenang.”
“Mereka adalah perwakilan dari dua sisi dunia yang akan berubah.”
“Dan aku… akan membawa mereka untuk menghadapi sisi tergelap dunia ini.”
Penonton terdiam.
“Mulai hari ini, Kaien Vallis dan Lucien Caldor menjadi bagian dari ekspedisi resmi
menuju lantai 50.”
🕯️Penutup Bab
Di ruang medis, tubuh Kaien masih belum bergerak. Tapi dalam tidurnya, sebuah kilasan
melintas—bukan mimpi, tapi kenangan.
Tentang tanah yang tandus. Tentang mantra pertama yang ia ucapkan sendirian.
Tentang alasan mengapa dia tidak boleh kalah.
Sementara itu, Sylia berdiri di luar ruangan itu, menatap langit yang kini tenang. Tapi pikirannya
jauh.
“Dua kunci telah ditemukan.”
“Tinggal apakah mereka cukup kuat… untuk membuka pintu ke neraka.”
Bab 32 – Setelah Petir dan Debu
“Kadang, setelah badai besar… yang paling terasa bukan guncangan, tapi sunyinya.”
🛏️Ruang Perawatan Akademi
Cahaya pagi yang lembut masuk melalui jendela. Udara masih segar, meski menyimpan aroma
obat-obatan dan herbal sihir.
Kaien membuka mata perlahan. Kepalanya terasa ringan, tubuhnya berat. Tapi kesadarannya
mulai kembali utuh.
Di sebelah tempat tidurnya, duduk Toren — tertidur dengan kepala bersandar di sisi ranjang,
dengan Elara di sampingnya, tengah membolak-balik buku sihir kecil sambil sesekali menatap
Kaien.
Begitu matanya terbuka penuh, Elara tersenyum pelan.
“Akhirnya bangun juga, pahlawan.”
Kaien hanya menghela napas, mencoba duduk—namun rasa nyeri menjalar dari bahunya hingga
dada.
“Rasanya… seperti ditabrak lima monster dungeon sekaligus.”
Toren terbangun karena suara itu, dan langsung berseru:
“Kau gila! Kenapa pakai sihir itu?! Aku hampir kena serangan jantung!”
Kaien tersenyum kecil.
“Aku juga hampir mati. Jadi kita impas.”
Mereka bertiga tertawa kecil. Tidak seperti biasanya—tertawa itu tidak dipenuhi ketegangan.
Untuk sekali ini, dunia terasa ringan.
🏫 Suasana Akademi
Dua hari telah berlalu sejak turnamen berakhir, tapi cerita tentang duel Kaien vs Lucien belum
mereda.
“Kau lihat waktu arena meledak? Itu jelas sihir tingkat enam!”
“Siapa sih anak itu sebenarnya? Nggak mungkin cuma dari desa biasa!”
“Lucien Caldor pun sampai pingsan!”
Di ruang guru, instruktur sibuk membahas rekaman duel yang sulit dianalisis.
Di perpustakaan, siswa-siswa mencoba mencari nama Kaien Vallis di arsip keluarga bangsawan,
tapi hasilnya nihil.
Di pelatihan tempur, nama Kaien mulai disebut dengan respek… dan ketakutan.
🧠 Lucien
Sementara itu, Lucien masih dirawat di ruang pemulihan khusus. Tidak terluka fatal, tapi terlalu
banyak menyerap benturan sihir tingkat tinggi. Saat ia sadar, ia tidak terlihat marah—hanya…
terdiam.
“Dia bukan musuh biasa,” gumamnya.
“Dia bukan siapa-siapa… tapi dia mengalahkanku.”
Dan entah kenapa, dari wajah Lucien… ada sedikit senyum. Seolah dia tidak kecewa. Tapi
tertantang.
🕊️Sore Hari di Taman Akademi
Kaien duduk di bawah pohon besar di sisi taman belakang, menikmati angin dan ketenangan.
Elara duduk di sebelahnya.
Toren duduk tidak jauh, memakan apel besar dengan lahap.
“Kau tahu, Kaien,” kata Elara tiba-tiba.
“Saat kau melawan Lucien… aku berpikir…”
“Apa?” tanya Kaien pelan.
“Aku tidak ingin kamu bertarung sendirian lagi.”
Kaien menatapnya. Tak ada kata yang keluar.
“Kita bertiga… kalau ekspedisi itu nyata, kita harus masuk bersama. Bukan karena kamu kuat,
atau aku bisa sihir tingkat empat, atau Toren bisa tahan pukulan. Tapi karena… aku tidak ingin
melihatmu jatuh sendirian lagi.”
Toren mengangkat apel.
“Setuju. Tapi aku tetap di belakang, ya?”
Kaien tersenyum tipis.
“Aku tak pernah berniat berjalan sendiri. Tapi… terima kasih sudah menyusulku.”
🔔 Pengumuman yang Menggetarkan
Sore itu juga, lonceng akademi berdentang tiga kali—tanda adanya pengumuman besar dari
dewan pengajar.
Sylia berdiri di balkon aula utama.
“Mulai minggu depan, akademi akan mengadakan ekspedisi resmi menuju dungeon lantai 50.
Ini adalah ekspedisi uji kemampuan dan pencapaian tertinggi dalam sejarah akademi.”
“Peserta ekspedisi ini akan dipilih langsung berdasarkan hasil turnamen.”
“Dan aku sendiri yang akan memimpin.”
Seluruh akademi terdiam.
Beberapa bersorak. Beberapa menelan ludah.
Di antara kerumunan, Kaien, Elara, dan Toren saling pandang.
Mereka tahu, mulai saat ini… permainan sudah berbeda.
Bab 33 – Undangan ke Dunia yang Tak Kembali
“Beberapa siswa lulus karena waktu. Beberapa karena prestasi. Tapi ada pula yang lulus…
karena tak ada lagi yang bisa diajarkan pada mereka.”
🏛️Aula Tinggi – Rapat Tertutup Akademi
Ruangan itu sunyi. Dindingnya dipenuhi simbol-simbol sihir kuno, dan hanya ada empat orang
di dalamnya.
Kepala Akademi Elvarin, dengan jubah formal berwarna ungu tua.
Sylia Varnhild, berdiri tenang di sisi kanan.
Lucien Caldor, masih dengan luka samar di pipinya.
Dan Kaien Vallis, duduk tegak, tanpa raut emosi yang terbaca.
Di hadapan mereka, segel sihir diaktifkan—membentuk lingkaran cahaya di tengah ruangan. Itu
adalah ruang penilaian akhir—biasanya digunakan untuk siswa tahun ketiga yang akan diuji
kelulusan.
Tapi kali ini, tidak ada ujian. Hanya keputusan.
📜 Pengakuan Resmi
Elvarin membuka pertemuan dengan suara berat namun tenang.
“Duel kalian berdua telah melampaui standar evaluasi akademi. Tidak hanya karena kekuatan
yang ditampilkan, tapi karena kendali, determinasi, dan… dampaknya terhadap sistem pelatihan
kita.”
Ia menatap Kaien dan Lucien bergantian.
“Oleh karena itu, mulai hari ini, kalian berdua ditetapkan sebagai lulusan akademi dengan
predikat kehormatan tertinggi. Kalian tidak perlu lagi mengikuti kelas lanjutan.”
Lucien mengangkat alis sedikit, seolah tidak terkejut… tapi tetap menyimpan tanya.
Kaien hanya mengangguk pelan.
“Kalian juga akan… diundang secara langsung ke dalam ekspedisi dungeon lantai 50,” lanjut
Elvarin.
“Bukan sebagai siswa. Tapi sebagai penyihir yang telah membuktikan kapasitasnya.”
🧭 Interaksi Tertutup
Setelah pengumuman, Elvarin meninggalkan ruangan, menyisakan Sylia, Kaien, dan Lucien.
Lucien menyandarkan punggung ke dinding, melipat tangan.
“Kau menahan kekuatanmu di awal turnamen, kan?” tanyanya pada Kaien, nada suaranya
tenang… tapi bukan tanpa ketajaman.
Kaien tak menjawab. Matanya hanya menatap Sylia.
Sylia balas menatap, lalu angkat bicara.
“Aku tahu siapa kau, Vallis. Atau lebih tepatnya—aku tahu siapa yang mencoba kau hindari.”
“Tapi mulai saat ini, tak ada lagi tempat untuk bersembunyi.”
Kaien masih diam.
Lucien menyela, nada suaranya lebih tajam sekarang.
“Aku tidak peduli siapa kau. Tapi kalau kita akan satu tim di ekspedisi, aku ingin tahu apakah
kau akan jadi beban, atau…”
“…ancaman?”
Sylia mengangkat satu tangan, menahan tensi.
“Kalian berdua adalah alasan ekspedisi ini bisa terjadi. Tapi lantai 50 bukan tempat untuk adu
ego.”
Ia berjalan mendekat, lalu menatap mereka berdua tajam.
“Mulai hari ini, kalian bukan lagi siswa. Kalian penyihir elite. Dan kalian akan menghadapi
sesuatu… yang bahkan aku sendiri belum bisa pastikan bisa dikendalikan.”
🌌 Penutup
Di luar ruangan, langit malam terbentang luas.
Kaien berdiri sendirian sejenak, memandangi bintang-bintang. Di belakangnya, langkah kaki
mendekat.
Lucien berhenti di sampingnya.
“Kalau kau mengulang serangan itu di dalam dungeon… pastikan kau tak mengenai aku.”
Kaien menoleh sedikit.
“Kau juga.”
Mereka berdiri bersebelahan, tak sebagai musuh… tapi juga belum sebagai teman.
Di kejauhan, Sylia mengamati mereka dari jendela atas, wajahnya sulit ditebak.
“Dua kartu terkuat… tapi apakah itu cukup?”
Bab 34 – Janji di Persimpangan
“Kita tidak memilih jalan yang sama. Tapi kita berjanji… akan sampai di titik yang sama.”
🌄 Senja di Atap Akademi
Langit terbakar warna jingga. Matahari menyentuh garis cakrawala, mengubur bayangan panjang
menara akademi dalam cahaya lembut.
Di atas atap timur, tiga siluet duduk berdampingan.
Kaien, Elara, dan Toren.
Sudah lama mereka tidak berada di tempat ini. Tidak sejak hari-hari awal, saat mereka belum
tahu seberapa berat dunia ini… atau seberapa jauh mereka akan melangkah.
“Jadi…” kata Toren sambil menyilangkan tangan di belakang kepala, “Ini terakhir kalinya kita
duduk di sini bersama sebagai siswa?”
Elara tersenyum kecil. “Mungkin bukan sebagai siswa. Tapi bukan terakhir kalinya kita
bersama.”
Kaien menatap cakrawala tanpa berkata.
🌿 Tiga Jalan
Angin sore berhembus perlahan.
Elara menarik napas dalam dan berkata:
“Aku akan pulang. Keluargaku punya fasilitas pelatihan sihir dukungan tingkat tinggi. Setelah
dapat izin lulus dari akademi, aku bisa mulai latihan penuh… mungkin juga menyempurnakan
tingkat empatku.”
Toren mengangguk.
“Aku tetap di sini. Masih banyak yang harus kulatih—pertahanan, kontrol sihir. Aku ingin bisa
berdiri di samping kalian… bukan di belakang.”
Keduanya lalu memandang Kaien.
“Dan kau, tentu saja…” kata Elara.
“…akan masuk ke gerbang yang bahkan guru-guru kita pun belum sanggup menjelajahinya.”
Kaien hanya mengangguk pelan.
“Aku tidak tahu apa yang akan kuhadapi. Tapi satu hal pasti: aku akan kembali.”
💠 Janji di Tengah Beda
Elara mengeluarkan tiga kristal kecil—masing-masing memancarkan cahaya berbeda: biru,
hijau, dan merah.
“Tiga kristal ini… dari dungeon lantai dua. Kita simpan satu-satu, sebagai penanda.”
Ia memberikan satu ke Kaien, satu ke Toren, dan menyimpan sisanya.
“Tiga jalur. Tapi satu titik temu.”
Toren mengangkat kristalnya.
“Kalau tiga tahun dari sekarang kita masih hidup—dan dunia belum meledak—kita akan
bertemu kembali. Di dungeon. Bukan sebagai siswa. Tapi sebagai penyihir sejati.”
Kaien menggenggam kristalnya.
“Dan kalau salah satu dari kita tertinggal…”
“…yang lain akan datang menjemput.”
🌌 Malam di Ambang Dunia Baru
Mereka bertiga duduk dalam diam saat malam mulai menutup langit.
Tak ada janji muluk.
Tak ada sumpah darah.
Hanya keyakinan… bahwa apa pun yang terjadi, persahabatan ini tidak akan hilang—hanya
berubah bentuk, seperti sihir yang tumbuh perlahan… tapi tak pernah padam.
Penutup Bab
Di ujung hari itu, ketika semua telah berpisah, Kaien berdiri sendiri di depan gerbang akademi.
Tangannya menggenggam kristal kecil, matanya menatap langit malam.
"Dunia ini… belum selesai. Tapi aku akan menjemput akhir itu. Dengan tangan sendiri."
Komposisi Tim Ekspedisi
Elvarin mengangkat tangannya, lalu tampilan sihir ilusi menampilkan struktur tim:
🔹 Total Anggota: 20 orang
3 dari Akademi Renastra
17 dari lembaga sihir independen & pasukan garis depan
Mayoritas telah mencapai atau menstabilkan sihir Tingkat 5
🔸 Pembagian Tim:
1. Kelompok Inti
o Sylia Varnhild (Pemimpin, Tingkat 6)
o Kaien Vallis (Lulusan Khusus, Klasifikasi Tidak Terdaftar)
o Lucien Caldor (Lulusan Terbaik, Tingkat 5 Stabil)
2. Kelompok Taktis A
o Fokus pada pertahanan, penyembuhan, dan evakuasi
3. Kelompok Taktis B
o Spesialisasi serangan terkoordinasi & pemecahan formasi monster
4. Kelompok Pendukung & Logistik
o Bertugas pada sihir pelacak, peralatan sihir, pemulihan, dan pencatatan
🧭 Tujuan Misi
“Misi ini bersifat terbatas dan tertutup. Fokus utama: mengidentifikasi kondisi struktur
dungeon di lantai 50, mengukur aktivitas sihir anomali, serta mengamankan artefak atau
bukti pergeseran sistem sihir yang tidak terdeteksi sebelumnya.”
“Segala data akan dicatat dan diserahkan ke Dewan Sihir untuk penelitian lebih lanjut.”
😶 Reaksi Akademi
Tepuk tangan bergemuruh… diselingi bisik-bisik dan kekaguman.
“Dua siswa… langsung masuk tim elite?”
“Mereka satu kelompok dengan Sylia?”
“Artinya mereka dianggap selevel?”
“Atau… lebih dari itu?”
Kaien berdiri dengan wajah dingin, meski hatinya berdegup cepat.
Lucien di sampingnya, tetap tenang tapi menatap jauh ke depan.
🌇 Perpisahan Ringan
Sore harinya, di halaman belakang, Elara dan Toren mendatangi Kaien sebelum keberangkatan.
“Jadi kelompok utama, ya?” Toren menyengir pahit.
“Jangan sampai jadi mayat di laporan, oke?”
Elara tidak berkata apa-apa, hanya mengulurkan kristal kecil dari janji mereka.
“Jalani takdirmu, Kaien. Dan jangan terbunuh… sebelum kami menyusulmu.”
Kaien mengambil kristal itu, menggenggamnya, lalu mengangguk dalam.
“Sampai kita bertiga berdiri di titik yang sama… dan menaklukkan kedalaman bersama.”
🌌 Penutupan Arc Akademi
Saat malam turun, tiga bayangan melangkah keluar dari gerbang akademi.
Kaien. Lucien. Sylia.
Di belakang mereka, dunia sihir lama.
Di depan mereka, dunia yang tak pernah dicapai siapa pun.
Bab 36 – Sebelum Langkah Pertama
"Sebelum menembus kegelapan, seseorang harus berdamai dengan bayangan dalam dirinya
sendiri."
🌫️Malam Sebelum Keberangkatan
Angin malam menyusup pelan ke dalam ruang asrama yang kini terasa terlalu besar untuk satu
orang. Barang-barang sudah dirapikan. Surat keterangan kelulusan tergulung rapi. Hanya satu hal
yang belum Kaien kemas: dirinya sendiri.
Ia duduk di atas ranjang, memandangi mantel akademi yang dulu begitu diinginkan. Kini,
pakaian itu hanya menjadi kenangan dari peran yang tak lagi cocok.
Kaien perlahan melepas mantel itu, lalu menggantinya dengan jubah hitam sederhana yang ia
buat sendiri—tanpa lambang akademi, tanpa nama.
"Kaien Vallis..."
Nama itu. Sebuah bayangan dari masa lalu yang baru.
Tapi juga bukan identitas sejatinya.
🕯️Sebuah Surat
Di meja kecil, terdapat secarik kertas dilipat rapi. Dari Elara.
"Kalau kau membaca ini... berarti aku tidak sempat mengucapkannya secara langsung. Hati-
hati, Kaien. Dunia di luar bukan seperti di akademi. Di sana, tidak ada duel bersih. Tidak ada
wasit. Dan tidak ada 'batas aman'."
"Tapi... aku percaya padamu. Meski kadang aku tak mengerti bagaimana kau berpikir, aku tahu
kau selalu punya tujuan. Jadi… tolong pulang. Karena aku ingin ada orang yang menertawakan
ramuan gagal buatanku nanti."
—E
Kaien tersenyum kecil. Gurat kelelahan tetap ada, tapi dalam diam… ia merasa tidak
sepenuhnya sendiri.
🔥 Kilasan Masa Lalu
Malam semakin larut. Di balik mata terpejam, ingatan lama kembali.
Suara ibunya.
Hutan tempat ia pertama kali membaca mantra pemanggilan.
Rasa sakit ketika gagal menutup celah dungeon.
Dan wajah-wajah yang tak akan pernah kembali.
"Aku akan pergi lebih jauh dari mereka yang gagal kembali..."
🌌 Di Bawah Langit Dingin
Kaien keluar dari bangunan asrama, berjalan pelan menuju taman belakang akademi.
Di sana, ia menatap bintang-bintang yang jauh di atas.
"Lantai 50..."
"Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan?"
"Dan mengapa aku merasa... aku harus ke sana bukan hanya karena ekspedisi ini, tapi karena
sesuatu yang lebih dalam?"
🔔 Bunyi Pertama Fajar
Ketika suara lonceng pagi pertama berbunyi—tanda dimulainya hari keberangkatan—Kaien
kembali berdiri.
Ia tidak membawa banyak. Tidak butuh banyak.
Hanya satu hal yang ia bawa sepenuh hati: tekad.
Penutup Bab
Dan begitulah, sebelum segala sihir dilepaskan, sebelum jurang terbuka, dan sebelum langit retak
lagi…
Seorang penyihir berdiri sendirian, menatap langkah pertamanya.
Bukan sebagai siswa.
Bukan sebagai pengembara.
Tapi sebagai seseorang yang menantang batas dunia.
Bab 37 – Pelatihan Sebelum Neraka
"Monster bukan satu-satunya hal yang harus dikalahkan. Ketakutan, ego, dan ketidaksiapan
adalah musuh yang lebih diam… dan lebih mematikan."
🏞️Lokasi Pelatihan – Zona Tertutup Aeturna Selatan
Sebelum memasuki dungeon lantai 50, tim ekspedisi tidak langsung terjun ke dalam kegelapan.
Selama tiga hari, mereka menjalani pelatihan keras di zona tertutup militer Aeturna Selatan—
area latihan medan sihir yang hanya digunakan oleh pasukan elite.
Langit dikelilingi pelindung sihir. Area ini disesuaikan dengan medan dungeon: gelap, penuh
kabut, dan berbahaya.
🧭 Formasi Tim: Uji Kekuatan & Sinkronisasi
Sylia, sebagai pemimpin tim, membagi sesi latihan menjadi beberapa tahap:
Hari Pertama – Uji Mental dan Respons
Seluruh anggota diuji secara individu melawan ilusi monster tingkat 5. Bagi banyak anggota
non-akademi, ini menjadi medan pertama mereka berhadapan dengan sihir non-standar dari
Kaien dan Lucien.
Beberapa veteran sempat goyah saat menghadapi simulasi sihir tingkat 6 (hanya
bayangan Kaien).
Lucien menunjukkan kontrol taktis yang mengagumkan, bahkan saat dilawan dengan
tekanan ilusi.
“Kontrol emosional kalian menentukan siapa yang mati lebih dulu,” kata Sylia dingin.
“Dan aku tidak berniat membawa mayat ke lantai lima puluh.”
Hari Kedua – Simulasi Dungeon & Formasi Serangan
Simulasi dungeon digunakan untuk membentuk sinkronisasi gerakan antar kelompok.
Kelompok Utama (Sylia, Kaien, Lucien) tidak hanya diuji kekuatan—mereka juga diuji apakah
bisa memimpin, memecah konsentrasi musuh, dan meng-cover kelompok lain secara real-
time.
Kaien menunjukkan pendekatan yang tenang dan nyaris terlalu efisien.
“Kau membaca gerakan musuh seperti kau membaca buku,” komentar salah satu instruktur.
Lucien, meski lebih frontal, menunjukkan kemampuan membuka jalur dan membalikkan
formasi dalam waktu singkat.
Sylia mencatat semua dalam diam.
Hari Ketiga – Latihan Kombinasi Sihir
Latihan terakhir: uji kombinasi antar anggota, termasuk simulasi kombinasi sihir bertingkat,
seperti:
🔁 Penggunaan sihir waktu-nyata dari dua arah
🌀 Kombinasi sihir serangan & pertahanan simultan
🔥 Percobaan penggabungan dua sihir tingkat 4 untuk menciptakan efek nyaris tingkat 5
Kaien dan Lucien, meski gaya mereka bertolak belakang, berhasil menciptakan serangan
sinkron yang mengejutkan semua orang.
“Kau pikir mereka pernah latihan bersama?”
“Tidak, mereka hanya… memahami perang dengan cara yang sama.”
🧊 Percakapan Singkat – Kaien dan Sylia
Malam hari, sebelum sesi penutupan, Sylia memanggil Kaien secara pribadi.
“Kau tahan diri di hampir semua latihan. Mengapa?”
“Karena ini bukan tempat untuk kekuatan itu.”
“Tapi kau tahu, di bawah sana… mungkin kita akan butuh kekuatan itu.”
“Kalau sampai saat itu tiba, aku tidak akan ragu.”
Sylia menatapnya lama, lalu menatap langit.
“Aneh ya. Aku seperti melihat diriku… yang lebih muda. Tapi jauh lebih bahaya.”
Penutup Bab
Tiga hari telah berlalu.
Dua puluh orang berdiri di depan gerbang dungeon.
Setiap napas mengandung ragu. Setiap langkah akan mengukir sejarah.
Tapi tidak satu pun dari mereka—terutama tiga orang di garis depan—melihat ke belakang.
Bab 38 – Api yang Membakar di Dalam (Sudut Pandang: Lucien)
“Aku bukan yang terkuat. Tapi aku adalah yang tak akan berhenti… bahkan ketika dunia
memaksaku untuk tunduk.”
🔥 Bayangan di Balik Sorotan
Lucien Caldor tidak asing dengan sorotan.
Namanya sering diucap dengan kekaguman—lulusan terbaik, pengguna sihir tingkat 5, taktik
sempurna, dan pengendalian mana yang nyaris tanpa cela.
Tapi Lucien tahu… semua itu bukanlah puncak.
Ia hanya seseorang yang naik terlalu cepat, lalu melihat sesuatu yang lebih tinggi—dan kini
tidak bisa berhenti menatapnya.
🧊 Kaien Vallis
Pertama kali ia melihat duel Kaien di turnamen antar angkatan, ada satu hal yang ia sadari:
"Dia menahan diri."
Tidak karena sombong, atau ingin pamer.
Tapi seperti menjaga sesuatu di dalam dirinya — sesuatu yang lebih gelap, lebih dalam, dan
lebih berbahaya daripada sekadar kekuatan sihir.
“Kau bukan dari dunia yang sama seperti kami… tapi entah kenapa, aku ingin berdiri di tempat
yang sama.”
Lucien tidak pernah iri. Tapi ia benci perasaan tertinggal.
💢 Luka yang Disembunyikan
Di malam terakhir pelatihan, Lucien berdiri sendiri di pinggir medan sihir, memandangi bekas
ledakan uji coba mereka.
Tangannya masih gemetar sedikit.
Ia tahu: ia belum pernah menghadapi sesuatu seperti itu sebelumnya.
"Sylia... dan Kaien."
"Keduanya seperti tembok."
Namun ia tidak merasa kecil. Ia hanya merasa... tertantang.
⚔️Bukan Kompetitor, Tapi Rekan
Lucien tahu ekspedisi ini bukan turnamen.
Ia tidak datang untuk menang. Ia datang untuk melampaui batas dirinya.
“Kalau aku mati di bawah sana… ya sudah. Tapi aku tidak akan jadi beban.”
“Dan kalau Kaien jatuh—aku tidak akan membiarkannya jatuh sendirian.”
🌌 Malam Sebelum Langkah Pertama
Lucien duduk di atas batu besar, memandangi langit malam.
Bintang-bintang bersinar, tapi semuanya tampak jauh.
Jauh seperti tujuan yang belum bisa ia jangkau.
Ia mengepalkan tangannya.
"Besok..."
"Kalau kau benar-benar lebih kuat dariku, Kaien…"
"Maka kau harus membuktikannya."
"Karena aku tidak akan berhenti. Bahkan jika aku harus bakar habis sihirku sendiri untuk
mencapaimu."
Penutup Bab
Dalam diamnya, Lucien menatap cakrawala.
Bukan sebagai rival Kaien.
Tapi sebagai penyihir yang tak bisa menerima jalan setengah-setengah.
Dan ketika fajar menyingsing, hanya satu kata yang tertinggal dalam pikirannya:
"Majulah… atau dilindas."
📖 Bab 39 – Pemimpin di Ujung Dunia (Sudut Pandang: Sylia)
"Ada dua jenis pemimpin: yang memerintah dari depan... dan yang maju karena tak ada pilihan
lain."
🕊️Pagi Hari, Zona Pelatihan Aeturna Selatan
Angin pagi membawa hawa debu sihir yang belum sepenuhnya hilang dari latihan kemarin.
Sylia berdiri di puncak tebing kecil yang menghadap ke titik pertemuan utama tim ekspedisi.
Matanya yang tajam memantau semua gerakan: cara orang mengatur perlengkapan, berbicara,
menyiapkan sihir.
Tapi pikirannya tidak pada mereka.
🧠 Analisis Dingin
“Tiga belas penyihir tingkat lima. Dua penyihir muda, satu di antaranya tidak bisa
dikategorikan. Sisanya campuran.”
“Tingkat mana mereka tinggi. Tapi pengalaman menghadapi tekanan lantai dalam? Nol.”
Namun masalah terbesar bukan pada mereka.
Masalahnya adalah Kaien Vallis.
🔥 Kekuatan yang Tak Tercatat
Ia menyaksikan duel final di turnamen antar angkatan.
Ia menyaksikan bagaimana Arcflare milik Kaien menghancurkan pelindung arena yang
diperkuat oleh enam instruktur sekaligus.
Itu bukan hanya kekuatan. Itu adalah bahaya.
“Dia bukan pembunuh… tapi sihirnya memotong dunia seperti orang yang sudah pernah
membunuh.”
Ia memutar kembali semua pengamatan. Semua pertempuran. Semua keheningan.
Kaien tidak pernah meluapkan emosi — tapi Sylia bisa merasakannya.
“Dia menutup sesuatu… bukan karena takut.”
“Tapi karena dia tahu jika terbuka, dunia tidak akan sama lagi.”
💭 Tentang Lucien
Lucien berbeda. Ambisius. Terbuka. Terbakar dengan semangat.
Tapi masih bisa diprediksi. Masih bisa dikendalikan.
Ia penyihir hebat, tetapi masih berjalan di jalur dunia ini.
“Kaien…”
“…dia mungkin bukan dari jalur dunia ini.”
🗝️Percakapan Tertunda
Sylia mengingat percakapannya dengan Kepala Akademi Elvarin.
“Mengapa mereka harus ikut?”
“Karena dunia yang akan mereka masuki… butuh seseorang yang belum pernah melihatnya
dari kaca mata kita.”
“Dan kalau mereka tak ikut?”
“Maka tak akan ada yang kembali.”
Itulah alasannya.
Bukan karena Kaien dan Lucien kuat.
Tapi karena ekspedisi ini butuh sesuatu yang tidak bisa diajarkan: kegilaan yang
dikendalikan.
🧭 Penegasan
“Mulai hari ini, aku bukan hanya komandan mereka.”
“Aku adalah penjaga pintu dunia ini… dan jika mereka ingin menghancurkannya, aku harus
menjadi orang pertama yang menahan mereka.”
Ia memandang langit. Perlahan, kabut mulai menggulung.
“Sudah waktunya.”
Penutup Bab
Di tebing batu itu, seorang penyihir berdiri seperti bayangan sejarah yang bergerak sendiri.
Seorang legenda hidup, yang kini kembali memasuki tempat di mana legenda seringkali dikubur
bersama tubuh mereka.
Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Sylia merasa gugup.
Bab 40 – Gerbang Baru, Bahaya Lama (Revisi: Tanpa Korban)
“Dunia di bawah ini... tak akan memberi hadiah bagi yang terburu-buru.”
🏛️Titik Masuk – Gerbang Lantai 36, Renastra Dalam
Gerbang masuk menuju lantai 36 tersembunyi jauh di bawah fasilitas akademi, hanya bisa
diakses oleh penyihir berizin tinggi.
Pagi itu, di depan pintu bercahaya ungu keabu-abuan, 20 anggota ekspedisi telah berkumpul.
“Mulai dari sini,” ujar Sylia, “kita melangkah ke wilayah tak bernama. Tempat yang tidak
pernah dicatat, tidak pernah dicoba. Tempat yang mungkin tidak ingin kita temukan.”
🧭 Formasi & Pembagian Regu
Empat regu terbentuk:
Tim Inti: Sylia, Kaien, Lucien, dan dua penyihir sihir tingkat 5 dari luar akademi.
Tim Navigasi
Tim Pendukung & Logistik
Tim Medis
Mereka bergerak dalam formasi silang lebar, meminimalkan risiko disergap dari satu arah dan
memungkinkan rotasi cepat bila situasi berubah.
Kaien menyesuaikan jubah sihirnya.
Lucien menghela napas pendek. “Aroma tempat ini beda. Bikin merinding.”
Sylia hanya menatap pintu batu yang bersinar pelan, tak berkata apa-apa.
🌀 Aktivasi Gerbang & Transisi
Mantra teleportasi aktif.
Segel sihir terbuka, dan dalam satu ledakan cahaya pelan, tubuh mereka dibawa menembus
ruang, menuju lantai 36.
🌫️Lantai 36 – Dataran Kabut Abadi
Begitu tiba, mereka disambut dataran luas berselimut kabut keperakan.
Udara jauh lebih padat, hampir lembap, dan tekanan sihir terasa menyelimuti tubuh dari segala
arah. Tidak berat—tapi asing. Seperti sedang berada di dunia lain.
“Aneh… tak ada aliran mana alami,” ujar salah satu penyihir navigasi.
“Kompas sihir juga tidak berfungsi,” sambung penyihir lainnya.
“Sinyal sihir mental kita tersendat,” lapor tim medis. “Bukan hilang, tapi bergeser.”
Sylia mengangkat tangannya. “Perhatikan jarak antar anggota. Maksimal 10 langkah. Kita tetap
dalam garis pandang.”
📍 Titik Anomali Pertama
Tiga jam setelah eksplorasi, mereka menemukan struktur pertama.
Sebuah obelisk sihir menjulang di tengah dataran, dipenuhi ukiran tua tak dikenal. Energinya
tidak memancar, justru menyerap mana dari sekitar.
Kaien mendekat. Matanya sempat menyipit saat melihat simbol tertentu.
“Ini... bukan dari sistem sihir modern,” gumamnya.
Lucien menyahut, “Kau mengenali ini?”
“Tidak,” jawab Kaien, “tapi aku bisa merasakan... ini seperti penjaga. Penutup. Segel?”
🛡️Sistem Alarm Siaga
Tiba-tiba, salah satu penyihir dari tim pendukung mengangkat tangan.
“Aku merasa... diawasi.”
Semua sihir proteksi segera diaktifkan. Namun tidak ada serangan. Tidak ada monster. Hanya
rasa tidak nyaman seperti napas yang menguntit dari balik kabut.
Sylia segera memberi perintah:
“Jaga formasi. Tetap diam. Jangan keluarkan sihir berlebihan. Kita bukan satu-satunya yang
hidup di sini.”
🏕️Penetapan Kamp
Setelah delapan jam eksplorasi, tim mulai menetapkan titik kamp.
Zona datar dengan sedikit tekanan sihir menjadi pilihan. Beberapa kristal penerangan sihir
ditanam, dan segel proteksi dibuat secara bergantian.
Tidak ada yang tidur nyenyak malam itu.
Penutup Bab
Lantai 36 tidak menyerang. Tidak menggertak. Tapi hadir seperti entitas yang menunggu.
Tidak ada yang terluka. Tidak ada yang hilang.
Tapi seluruh anggota ekspedisi tahu, dalam diam yang menggantung itu…
sesuatu sedang memerhatikan mereka.
Bab 41 – Dunia Tanpa Peta
"Tanpa cahaya, tanpa arah, tanpa batas. Di sinilah peta tak berguna dan naluri menjadi satu-
satunya panduan."
🕯️Hari Kedua – Dini Hari di Kamp Sementara
Kabut tidak pernah surut.
Kristal sihir penerangan yang ditanam mulai menunjukkan penurunan intensitas. Bahkan
beberapa sihir proteksi menjadi lambat aktif. Satu-satunya yang tetap stabil adalah segel
perlindungan tingkat tinggi milik Sylia.
“Tempat ini bukan hanya menyerap mana… tapi juga melambatkan siklus sihir.”
Suara Sylia terdengar lirih tapi tegas.
Kaien duduk bersandar di salah satu batu datar, sementara Lucien masih mengamati obelisk dari
kejauhan.
Tak ada yang tidur nyenyak. Tapi tak satu pun dari mereka menyuarakan lelah.
🗺️Navigasi Manual
Tim Navigasi menggunakan kombinasi kompas mekanik dan penanda fisik berupa benang
sihir yang dikaitkan setiap 50 meter. Setiap kelompok yang keluar untuk survei dipasangkan
dengan pelacak suara dan sinyal asap jika komunikasi sihir gagal.
“Sejauh ini, kami sudah memetakan radius 600 meter,” lapor salah satu penyihir navigasi.
“Tapi sebagian besar struktur terulang. Kabut membuat jarak terdistorsi.”
“Beberapa titik yang kami kira sudah ditandai… ternyata kembali kosong.”
“Dungeon ini bergerak,” gumam Lucien.
Kaien tidak membantah.
🧪 Sinyal Pertama dari “Sesuatu”
Saat patroli ketiga, Kaien dan Lucien yang turun bersama kelompok kecil menemukan struktur
berbentuk kubah setengah terkubur.
Ketika mereka mencoba mendekat, lantai di sekitar kubah tiba-tiba bergetar pelan. Tapi tidak
menyerang.
Kaien menghentikan langkah. “Jangan masuk. Bukan jebakan... ini reaktif.”
Lucien mendekat. “Kau yakin?”
“Tempat ini belum menyerang karena kita belum melewati sesuatu.”
“Sesuatu?”
“Batas.”
Mereka meninggalkan lokasi itu dengan penanda sihir dan pelacak. Kaien menggambar ulang
simbol yang ia lihat di dinding luar kubah — simbol yang sama dengan yang pernah muncul
dalam mantra pemanggilan asalnya.
🧠 Efek Psikis Muncul
Beberapa anggota mulai mengeluh kelelahan mental. Tidak ada yang parah, tapi:
Beberapa mengalami mimpi aneh, semua tentang tempat dengan langit terbalik dan
tanah terbakar.
Beberapa lagi mulai merasa waktu terasa tidak normal.
Lucien sendiri mengaku kehilangan 10 menit memorinya saat meditasi.
Sylia memanggil semua pemimpin regu.
“Kita perlu mempercepat misi. Jika gangguan ini meningkat, kita tidak akan bisa tinggal lebih
dari satu minggu di lantai ini.”
🔄 Rencana Ekspedisi Bertahap
Setelah menyusun data dari hari pertama dan kedua, ditetapkan strategi:
1. Malam ini akan jadi malam terakhir di lantai 36.
2. Keesokan harinya: lanjut ke lantai 37, jika tidak ada anomali besar.
3. Eksplorasi akan dilakukan maksimal 3 lantai per pekan, tergantung kondisi.
“Kita tak perlu menaklukkan lantai ini.” ujar Sylia. “Kita hanya perlu mengetahui… siapa yang
tinggal di dalamnya.”
Penutup Bab
Peta tidak membantu. Kompas tak lagi menunjuk utara.
Tapi di tengah keanehan dan absurditas lantai 36, satu hal menjadi jelas:
Dunia ini sedang berubah.
Dan Kaien — dengan energi sihir yang terus bergolak dalam dirinya — tahu bahwa dunia ini
tidak berubah dengan sendirinya.
Ada sesuatu yang menunggu… dan sesuatu yang membimbing.
Bab 42 – Malam Tanpa Cahaya
"Ada malam yang hanya gelap. Tapi ada pula malam… yang menatap balik."
🌒 Waktu: Malam Hari Kedua, Lantai 36
Kamp didirikan. Api sihir menyala pelan, dikelilingi lapisan pelindung multi-elemen. Tak ada
monster. Tak ada gangguan.
Justru karena itulah, para penyihir tidak bisa benar-benar tenang.
“Biasanya, lantai seperti ini mengirimkan scouting creature, pengintai, jebakan…”
“Tapi ini? Sunyi. Seolah dungeon sedang… menyimak kita.”
Lucien duduk sendirian, matanya menatap langit-langit dungeon yang tak terlihat. Di dekatnya,
Kaien duduk bersila, menyusun ulang pola sihir untuk pelindung pribadi yang ia modifikasi
sendiri.
“Kau belum tidur?” tanya Lucien.
“Tidak bisa.”
“Kau merasa juga, kan?”
“Ya. Dunia ini… terlalu sadar.”
🧠 Interaksi Sylia – Kaien
Tak lama setelah itu, Sylia menghampiri Kaien. Ia tak berkata apa-apa selama beberapa saat,
hanya duduk di sebelahnya.
“Kau memodifikasi pola pertahanan?”
“Akan kugunakan jika terjadi intervensi spasial.”
“Kau sudah menebak sejauh itu?”
“Tempat ini tidak mencoba membunuh kita. Tapi mengamati… dan mungkin, memilih.”
Sylia diam. Lalu, untuk pertama kalinya, ia bicara lebih lembut.
“Kaien. Aku ingin kau tahu—aku tidak membawamu ke sini untuk memaksa. Jika kau ingin
mundur setelah lantai ini, katakan saja.”
“Tidak,” jawab Kaien cepat. “Aku… ingin melihat ini sampai akhir.”
“Alasannya?”
“…karena aku merasa tempat ini punya jawabanku. Jawaban tentang sihir. Tentang kenapa aku
begini.”
Sylia memandangi Kaien lama. Kemudian berdiri.
“Kalau begitu, jangan mati sebelum mendapat jawabannya.”
🕳️Gangguan Sihir Minor
Tengah malam, alarm mental dari regu siaga aktif.
Namun saat diperiksa, tidak ada serangan. Hanya… satu titik sihir pelindung menghilang. Tidak
rusak. Tidak terpecah. Tapi lenyap — seolah tidak pernah ditaruh di sana.
“Sihir... dihapus dari eksistensi?”
“Atau… dialihkan ke tempat lain?”
Kaien mendekati lokasi itu.
Dia menutup mata.
Ada sesuatu di balik dinding ini, pikirnya. Tapi bukan monster. Bukan makhluk.
Sesuatu yang… pernah mengalir di sihir manusia. Tapi sekarang terkubur.
🌑 Penutup Malam
Regu tetap siaga. Tidak ada serangan lanjutan. Tapi sebagian besar penyihir sepakat:
Malam ini... bukan hanya sunyi.
Tapi juga sengaja diciptakan untuk mereka tetap terjaga.
Kaien tidak tidur malam itu.
Lucien pun hanya berpura-pura memejamkan mata.
Sylia… berdiri di atas batu, menatap kabut yang semakin tebal di kejauhan.
Di kejauhan, untuk sepersekian detik, sebuah mata biru menyala di balik kabut.
Lalu lenyap… seperti tidak pernah ada.
Bab 43 – Di Balik Kulit yang Retak
"Makhluk itu dulunya goblin. Tapi sekarang? Bahkan matanya pun tak mengenali dirinya
sendiri."
🌘 Hari Ketiga – Lantai 37
Perjalanan ke lantai 37 dilakukan tepat setelah fajar—bukan karena waktu, tapi karena suhu
sihir di lantai 36 mulai meningkat, seolah tak ingin mereka berlama-lama.
Transisi ke lantai 37 terasa lebih kasar. Ruangannya lebih sempit, dindingnya lebih hangus, dan
tanahnya mengandung bekas luka sihir tingkat tinggi yang tidak diketahui asalnya.
🧟 Penemuan Pertama: Makhluk yang Salah
Tiga jam perjalanan, regu depan menemukan tanda-tanda biologis.
“Ada jejak kaki,” ujar penyihir pelacak. “Tapi ini aneh. Ukurannya goblin, tapi jumlah jari hanya
tiga… dan terbalik.”
Tidak lama, suara muncul.
Bukan geraman. Bukan raungan. Tapi seperti… suara retakan tulang dan logam beradu.
Regu bersiap. Sylia memberi isyarat siaga penuh. Dan saat itu, makhluk itu muncul:
Seekor goblin hibrida — kulit hijau kusamnya kini retak seperti keramik, matanya tak bersinar,
dan tangannya bukan lagi cakar… melainkan ujung tajam dari logam gelap seperti obsidian.
⚔️Pertarungan Pertama
Makhluk itu melesat lebih cepat dari goblin biasa. Regu terdepan hampir tertembus, namun
Lucien segera bertindak:
“⟪Ignis Spiral⟫!”
Sihir api tingkat 4 menghantam langsung.
Namun makhluk itu hanya meleleh separuh… lalu membentuk ulang tubuhnya sendiri dalam
waktu dua detik.
“Itu regenerasi… bukan! Itu rekonstruksi! Mana-nya menyusun ulang struktur tubuhnya!”
Sylia langsung mengaktifkan sihir penyegel area.
“Semua unit! Hancurkan sumber mananya. Jangan beri waktu berpikir!”
Kaien, yang dari awal hanya mengamati, melangkah maju. Ia menyatu ke medan, dan saat
makhluk itu bergerak ke arahnya:
“⟪Burst Hex: Fracture Binding⟫.”
Satu mantra ringkas. Suara sihir tak terdengar oleh siapa pun… tapi tiba-tiba, makhluk itu
membatu dan retak seperti kaca, sebelum akhirnya lenyap menjadi debu perak.
🧬 Analisis Cepat
Setelah pertempuran, tim analisis langsung mengamati residu sihir:
Komposisi mananya tidak stabil.
Ada jejak sihir asal, seperti mantra pemanggilan yang gagal separuh jalan.
Bahkan struktur tubuhnya menyatu dengan fragmen sihir dari sistem kuno.
“Bisa jadi ini bukan monster asli… tapi hasil dari percobaan sihir yang gagal,” kata salah satu
penyihir pendukung.
“Atau… dari sesuatu yang belajar untuk menciptakan.” tambah Sylia pelan.
🧩 Kegelisahan Kaien
Kaien tidak mengatakan apa-apa sejak pertarungan.
Tapi malamnya, saat sedang menyendiri di luar tenda, dia menggambar pola sihir di udara. Pola
itu sama dengan pola yang muncul dalam pemanggilan asalnya tiga tahun lalu.
“Sistem sihir lama… apa yang sedang kalian lakukan di sini?” bisiknya pelan.
Penutup Bab
Lantai 37 memperkenalkan satu hal baru:
Musuh kini bisa berubah.
Dan jika satu goblin bisa berevolusi seperti itu…
Apa yang menanti mereka di lantai-lantai berikutnya?
Bab 44 – Jalur Rahasia dan Retakan Kedua
"Dungeon adalah tempat yang dibangun untuk menguji. Tapi apa yang terjadi saat ruang uji itu
sendiri pecah dari dalam?"
📍 Lantai 38 – Zona Hening
Begitu mereka melewati gerbang ke lantai 38, perubahan atmosfer langsung terasa.
Tidak ada kabut.
Tidak ada tekanan sihir.
Tidak ada makhluk.
Tapi juga… tidak ada gema suara.
“Suara kita... tidak memantul,” gumam salah satu anggota tim medis.
“Sihir komunikasi mental juga statis,” lapor penyihir logistik.
“Tempat ini terlalu sempurna. Seperti… ruangan latihan yang dibersihkan total.”
🪨 Penemuan Celah Dinding
Saat menyusuri sisi barat dinding dungeon, regu Kaien—Lucien—Sylia menemukan retakan
panjang vertikal sepanjang 3 meter.
Retakan itu berdenyut pelan. Bukan dari panas, tapi seperti… jaringan hidup yang bernapas.
Kaien mendekat.
“Ini bukan keretakan biasa.”
“Kau merasakan sihir di baliknya?” tanya Lucien.
“Tidak. Justru karena itu… ini lebih berbahaya.”
Sylia meletakkan tangannya di permukaan.
“Retakan ini mengarah ke… ruang lain. Tapi bukan bagian dari dungeon ini.”
🧪 Analisis Cepat
Tim pendukung datang membawa alat pembaca resonansi sihir.
Hasilnya:
Tidak ada respon dari sistem dungeon.
Tidak ada batas sihir atau pelindung ruang.
Energi di balik celah… memiliki tanda gelombang sihir manusia.
Tetapi polanya sangat tua—tidak dikenal oleh akademi mana pun.
“Tempat ini… bisa jadi ‘akses luar sistem’.”
“Sama seperti… bekas pemanggilan sihir kuno.”
Kaien diam.
Dia menyentuh celah itu perlahan. Di balik permukaannya, dia melihat bayangan singkat:
Sebuah aula kuno.
Pilar-pilar hitam retak.
Dan sesosok manusia berdiri di tengah… dengan mata penuh sihir seperti laut yang tak
berujung.
🌀 Reaksi Sihir Kaien
Seketika, sihir dalam tubuh Kaien bergetar liar.
Matanya berubah sedikit lebih terang, nadinya berdenyut cepat. Dia mundur satu langkah.
“Kau lihat sesuatu?” tanya Sylia tajam.
“…tidak.” jawab Kaien. “Belum.”
Sylia menatapnya lama, tapi tidak mendesak.
🛡️Keputusan: Jangan Dibuka
Karena struktur celah tidak stabil, Sylia memutuskan tidak membuka retakan itu dulu. Tim
menandai lokasi dan meninggalkan segel pelindung agar tidak terakses sembarangan.
“Kita belum cukup tahu,” kata Sylia. “Dan tempat ini belum menunjukkan niatnya.”
Tapi Kaien tahu… celah itu bukan hanya retakan.
Itu pintu.
Dan sesuatu di balik sana menunggunya.
Penutup Bab
Lantai 38 sepi. Tidak berbahaya. Tidak mematikan.
Tapi justru karena itulah… ia lebih mengerikan.
Bukan karena monster.
Tapi karena celah—yang tak seharusnya ada—
kini terbuka perlahan.
Bab 45 – Suara dari Dalam
“Ada suara yang tak perlu telinga untuk didengar. Hanya jiwa—yang bersedia retak—yang bisa
memahaminya.”
🌌 Malam Kedua di Lantai 38
Kaien duduk sendiri di tepi kamp, agak jauh dari yang lain. Udara tenang, tapi mananya tidak.
Gelombang tipis sihir terus bergema dari kejauhan—tidak cukup kuat untuk membahayakan, tapi
juga tidak cukup lemah untuk diabaikan.
Drrrh.
Sebuah resonansi terdengar—tidak di telinga, tapi langsung di dadanya.
Bukan bunyi. Lebih seperti rasa yang berbentuk suara.
🌀 Visinya Dimulai Lagi
Tanpa menyentuh retakan… Kaien terhubung.
Dunia bergeser. Matanya terbuka, tapi bukan di dunianya.
Ia melihat sebuah tempat yang runtuh dalam diam—ruangan besar penuh pilar, reruntuhan yang
seolah pernah berdiri di dasar sihir dunia.
Di tengah ruangan itu berdiri sesosok figura tak bernama—bukan monster, bukan manusia,
bukan roh.
Wajahnya tertutup jubah gelap. Tangannya seperti asap yang memegang simbol sihir kuno… dan
berbicara langsung ke Kaien.
🗝️Pesan yang Tak Terucap
Suara itu tidak dalam bahasa manusia.
Namun Kaien mengerti.
"Kau adalah kunci yang retak… bukan karena kau salah, tapi karena dunia ini tidak tahu
lubang mana yang harus dikunci."
"Lanjutkan. Turunlah. Semakin dalam. Maka kau akan tahu bahwa sihir bukan untuk
digunakan… tapi untuk diingat."
Lalu semuanya hancur. Retakan pecah. Dan Kaien terbangun dengan napas terengah.
😱 Kaien Pingsan Singkat
Lucien, yang sedang berjaga, menemukan Kaien terjatuh.
“Kaien! Hei!”
Ia segera memanggil penyihir medis. Tapi tak ada luka. Tak ada cedera.
Hanya denyut mana yang terlalu liar, seolah tubuh Kaien baru saja dijadikan saluran sihir kuno
dalam volume besar.
Setelah dua jam, Kaien sadar… tapi matanya tampak lebih redup. Lebih dalam.
“Aku melihatnya,” bisiknya. “Bukan monster. Bukan manusia. Tapi… makhluk yang melahirkan
sihir itu sendiri.”
🧩 Percakapan Rahasia
Sylia diberi tahu tentang kejadian itu oleh Lucien.
Ia hanya menjawab:
“Retakan itu bukan hanya mengamati… tapi memilih.”
“Dan Kaien mungkin… sudah ditunjuk sejak sebelum dia lahir.”
Penutup Bab
Kaien tidak bisa menjelaskan penglihatan itu.
Tapi ia tahu satu hal pasti:
“Aku bukan sedang mengejar kekuatan lagi… aku sedang masuk ke dalam asal-muasalnya.”
Bab 46 – Tangga Tanpa Dasar
"Dungeon seharusnya terstruktur. Tapi apa jadinya saat setiap lantai tak lagi mengikuti
aturan?"
🪨 Hari Keempat – Turun ke Lantai 39
Perjalanan dari lantai 38 ke 39 terasa berbeda. Tangga turun yang biasa mereka temui kini
berubah menjadi jalur miring memutar, seperti spiral raksasa, dengan dinding batu yang
berdenyut samar seolah bernapas.
“Tempat ini... tidak dibangun, tapi tumbuh,” ujar salah satu penyihir dari tim pendukung,
wajahnya pucat.
“Ini bukan struktur dungeon biasa,” tambah Lucien. “Ini organik.”
🧭 Gangguan Navigasi
Kompas sihir tidak berfungsi.
Kristal pemandu kehilangan arah.
Bahkan peta mental dungeon—yang digunakan Sylia untuk memandu jalur—tidak bisa
membaca medan.
“Seolah-olah lantai ini berubah bentuk setiap kali kita tidak melihatnya,” kata Sylia.
“Atau… bentuk aslinya bukan untuk manusia lihat.”
🧟 Serangan yang Tidak Terlihat
Saat mereka mencapai area yang tampak seperti aula terbuka dengan tiang-tiang retak, monster
pertama muncul. Tapi bukan dalam bentuk fisik.
Salah satu anggota regu belakang terjatuh. Tidak berdarah. Tidak diserang.
Tapi seluruh tubuhnya menjadi abu dalam satu detik, seperti semacam penghapusan
eksistensi.
“Itu bukan sihir ofensif…” ujar Kaien, suara berat. “Itu… penolakan realitas.”
Makhluk itu muncul perlahan.
Siluetnya mirip manusia. Tapi tanpa wajah, tanpa suara, tanpa sihir yang bisa dideteksi.
Dan ia bergerak melewati segala jenis sihir pelindung, seolah pelindung itu tidak pernah
dibuat.
⚔️Pertarungan: Keheningan Melawan Segalanya
Sylia bergerak pertama, mengaktifkan ⟪Absolute Barrier⟫, lalu menyerang menggunakan sihir
tingkat 5 berbasis waktu.
“⟪Temporal Severance⟫!”
Namun makhluk itu tidak terluka—hanya melambat sesaat, lalu terus melaju.
Lucien dan Kaien bergerak bersama.
Kaien menggunakan pola sihir yang tidak dikenal tim lainnya—sebuah rangkaian resonansi
mantra spiral yang membuat udara bergetar.
“⟪Axis Reversal: Veil Break⟫.”
Makhluk itu terhenti. Seketika, retakan muncul di tubuhnya.
Lalu meledak seperti kaca pecah, meninggalkan kabut ungu tipis.
📚 Analisis Usai Pertarungan
“Ini bukan makhluk dungeon,” ujar Sylia tegas. “Ini entitas dari luar sistem.”
“Dan hanya sihir seperti milik Kaien yang bisa menanganinya.”
Lucien menatap Kaien, matanya tak lagi menyembunyikan rasa penasaran.
“Apa sebenarnya sihir yang kau pakai itu?”
Kaien hanya menatap tangannya.
“...aku juga belum tahu.”
🧭 Penemuan Jalur Rahasia
Setelah pertarungan, mereka menemukan jalan buntu yang terlihat seperti dinding… tapi Kaien
merasa resonansi dari baliknya.
Dengan izin Sylia, ia membuka celah kecil.
Di baliknya…
Tangga.
Menuju ke bawah.
Tapi tidak terlihat ujungnya.
Penutup Bab
Lantai 39 memperkenalkan entitas yang bukan monster.
Mereka tidak datang untuk bertarung.
Mereka datang… karena mereka sudah menunggu.
Dan tangga itu—
Tangga yang tidak punya ujung,
Bukan menuju lantai berikutnya…
Tapi ke sesuatu yang tidak pernah tercatat di peta dungeon mana pun.
Bab 47 – Jatuh ke Dalam (Revisi)
"Retakan tidak selalu terlihat. Kadang ia terasa… seperti ruang yang salah urat."
📍 Masuk ke Jalur Anomali di Lantai 39
Setelah menemukan celah aneh yang menyerupai tangga menurun di sisi barat lantai 39, tim
utama (Sylia, Kaien, Lucien + 2 penyihir senior) memutuskan untuk menelusuri jalur pendek
sejauh mungkin.
“Kita tidak masuk terlalu dalam. Hanya observasi cepat,” kata Sylia.
“Kalau ini bagian dari struktur tersembunyi dungeon, kita akan tahu.”
“Kalau bukan… kita tinggalkan dan segel.”
🌀 Jalur Pendek yang Tidak Sesuai
Mereka menuruni jalur sekitar 15 menit—tapi tidak ada lantai baru. Tidak ada tanda makhluk.
Hanya tembok batu aneh yang tidak sepenuhnya statis. Kadang dinding terasa seperti urat
hidup. Kadang terdengar suara aliran air—tapi tidak ada sungai.
Lucien mencoba sihir penanda ruangan.
“⟪Scrying Mark⟫—”
Tapi sihir tidak merespon. Kristal sihir juga tetap diam.
“Tempat ini menolak dibaca,” gumam Kaien.
🔍 Penemuan Ruang Kecil
Di akhir lorong, mereka tiba-tiba menemukan ruang berbentuk oval.
Isinya kosong. Tidak ada ornamen. Tapi di tengahnya terdapat fragmen kristal kecil melayang
setinggi dada—retak dan menyala pelan.
Kaien mendekat.
“Itu... serpihan memori sihir?” tanya Lucien.
“Tidak seperti yang pernah kita pelajari,” jawab Sylia.
Kaien meraih tangannya sedikit ke arah fragmen.
Saat jari-jarinya hampir menyentuh—
Kristal itu retak sendiri dan menghilang dalam debu cahaya.
Satu kata melintas di pikiran Kaien, tak tahu dari mana:
“Kembali.”
🚪 Mereka Kembali Naik
Tak ada efek lanjutan. Tapi saat mereka kembali ke lantai 39, tangga yang mereka lewati
sudah menghilang.
Tertutup kembali oleh dinding seolah tak pernah ada.
Sylia memerintahkan:
“Catat lokasi, beri segel sihir. Jangan izinkan siapa pun mendekat.”
“Dan ini tidak dilaporkan ke pusat. Belum sekarang.”
Penutup Bab
Bukan lantai baru.
Bukan perang.
Bukan makhluk.
Tapi sebuah ruang kecil, dengan jejak sihir yang tidak dikenal—dan kata yang membekas:
“Kembali.”
Kaien tahu… itu bukan perintah.
Tapi permintaan.
Bab 48 – Gerbang Batu, Napas Pertama
“Mereka bilang, hanya di lantai boss-lah sihir benar-benar diuji. Tapi tidak ada yang bilang
bahwa ujian pertama… adalah napasmu sendiri.”
🧱 Pintu Boss
Lorong terakhir di lantai 39 mengarah ke tembok batu raksasa setinggi tiga puluh meter,
tertutup dengan simbol-simbol sihir yang tidak dikenali oleh sebagian besar penyihir.
Di tengahnya terdapat gerbang batu hitam yang sedikit terbuka—cukup untuk membuat hawa
dari dalam terasa.
Dan hawa itu... bukan panas. Bukan dingin. Tapi kosong.
“Udara di sini…” bisik salah satu anggota tim pendukung. “...menolak untuk dihirup.”
🔍 Penyesuaian Formasi
Sylia mengangkat tangan, memberi aba-aba.
“Kita mulai formasi pertahanan saat kita masuk. Jangan ada yang bergerak sendiri.”
“Ini lantai 40. Ujian pertama. Jangan anggap ini seperti lantai-lantai sebelumnya.”
Tim dibagi empat formasi:
1. Kelompok Inti – Sylia, Kaien, Lucien
2. Kelompok Penekan – Dua tim penyerang, dipimpin penyihir tingkat 3
3. Kelompok Support – Penopang sihir & pemulihan
4. Kelompok Navigasi & Pertahanan Belakang – Bertugas membuka jalan mundur jika
perlu
😨 Ketegangan Psikologis
Begitu semua melewati gerbang... suasana langsung berubah.
Suara langkah tidak bergema.
Mana terasa lambat mengalir.
Bahkan cahaya dari kristal sihir tampak redup.
“Aku merasa... seperti tubuhku diikat,” ujar salah satu penyihir muda.
“Napas... berat. Seperti ada tekanan dari atas kepala.”
“Itu bukan tekanan biasa,” gumam Lucien. “Tempat ini punya... kesadaran.”
🔮 Ruangan Utama
Ruangan boss sangat besar—diameternya mencapai 200 meter, langit-langitnya tak terlihat
karena tertutup kabut pekat berwarna merah pudar.
Di tengahnya, ada struktur batu berbentuk seperti panggung.
Dan di atasnya berdiri tiga sosok.
Tiga monster humanoid bertopeng, tinggi dua kali manusia biasa, masing-masing memegang
senjata dan cermin retak di punggungnya.
Mata mereka kosong. Tapi tekanan yang muncul dari ketiganya seperti berisik dalam kesunyian.
🧠 Reaksi Tim
Beberapa anggota langsung terduduk.
Salah satu penyihir penopang muntah darah—bukan karena luka, tapi karena mana-nya
tertekan balik ke dalam tubuhnya.
Bahkan salah satu veteran sihir tingkat 3 gemetar memegang tongkatnya.
“Ini... ini tekanan tingkat 5 ke atas,” katanya dengan suara serak.
“Bagaimana bisa... dari tiga sekaligus?”
🧊 Tapi Tidak Semua Goyah
Sylia berdiri tanpa bergerak.
Kaien memejamkan mata, lalu menarik napas perlahan.
“Tenang,” katanya. Suaranya dalam dan mantap.
“Jangan lihat bentuknya. Rasakan ritmenya.”
Lucien menoleh padanya, sedikit tercengang.
Kaien tetap tak bergerak, tapi tangannya mulai membentuk pola.
📍 Serangan Pertama
Salah satu monster bergerak duluan—melompat tanpa suara sejauh 30 meter menuju tim
depan.
Kecepatannya seperti sihir pergerakan tingkat tinggi, tapi tidak ada aktivasi sihir sama sekali.
“Shield up!” teriak tim pertahanan.
Tapi monster itu menembus perisai sihir seperti asap menembus udara, dan menghantam dua
anggota hingga terlempar ke dinding.
“⟪Gravity Lock⟫!” Lucien berusaha menahan.
Tapi efeknya terlambat—monster itu tidak terpengaruh gravitasi sama sekali.
Penutup Bab
Sylia menghunus tombaknya.
Kaien membuka mata.
Lucien mulai mengisi mantra berikutnya.
Pertarungan belum dimulai.
Tapi keruntuhan sudah terasa.
Dan lantai 40 baru menghirup napas pertamanya.
Bab 49 – Tiga Cermin, Tiga Ujian
“Kau tak hanya melawan monster. Kau melawan pantulan dari apa yang pernah kau takutkan.”
🔁 Tiga Sosok, Tiga Aura Berbeda
Meski serupa dalam bentuk, ketiga boss itu memancarkan aura yang sangat berbeda.
1. Sosok Kiri — membawa pedang besar dengan aura membara. Tekanannya langsung ke
tubuh, memperlemah gerak lawan.
2. Sosok Tengah — memegang tongkat dan cermin utuh. Ia menyerap sihir yang
ditembakkan dan memantulkannya.
3. Sosok Kanan — kosong, tapi aura mentalnya membuat beberapa penyihir mengalami
halusinasi sesaat dan kehilangan fokus.
🔄 Efek Cermin Retak
Lucien mencoba menahan monster kiri dengan ⟪Arc Lightning⟫, berharap memperlambatnya.
Tapi petir itu diserap oleh monster tengah yang diam di belakang, dan kemudian dipantulkan
kembali ke tim [Link] mengenai sasaran — tapi cermin retaknya bersinar, dan
kilatan petir itu dipantulkan kembali dengan arah melengkung yang hampir mustahil dihindari.
Dua penyihir support langsung terlempar ke belakang, terkena serangan mereka sendiri.
“Itu bukan refleksi biasa!” teriak Kaien.
“Cerminnya… bukan sekadar sihir. Tapi ingatan sihir.”
🔥 Serangan Balasan
Sylia bergerak lebih dulu. Ia langsung menargetkan sosok kiri yang menggunakan kekuatan
tubuh. Duel jarak dekat pecah — dan setiap ayunan tombaknya dihadang dengan kekuatan
brutal.
“Yang ini... petarung.”
“Biarkan aku tangani.”
Sementara itu, Kaien fokus pada sosok kanan. Aura ilusi mulai masuk ke pikirannya. Tapi dia
tak terguncang.
Suara dari dalam kepalanya muncul:
“Kau belum cukup kuat. Kau hanya ilusi dari harapan kosong.”
Tapi Kaien diam. Lalu melepaskan satu pola mantra cepat.
⟪Mana Suppress – Vector Lock⟫
Mantra yang dia rancang sendiri.
Sementara tidak membunuh monster itu, mantra ini membuat aura mentalnya terpotong
sebagian.
🧠 Mental Tim Mulai Runtuh
Tim penyerang dari kelompok kedua mulai terpecah.
Dua orang sudah kehilangan kesadaran.
Salah satu penyihir tingkat 3 tak bisa mengaktifkan sihir karena seluruh mantra yang ia
bentuk dibalik oleh pantulan cermin.
Lucien mulai mengatur posisi ulang formasi:
“Semua yang tak bisa bertarung — keluar ke zona 2!
Tim ketiga bantu tarik yang terluka!”
“Kaien! Bisa tahan yang kanan?”
“Masih bisa. Tapi tidak lama!”
🩸 Luka Pertama di Tim
Salah satu penyihir penahan dari tim pendukung tertembus langsung oleh serangan pedang
monster kiri. Sylia baru sempat memukul balik sesaat kemudian.
Darah tercecer ke lantai batu.
Tapi tidak sempat mengalir… karena langsung menguap menjadi partikel sihir.
Salah satu anggota mulai panik.
“Mayatnya… menghilang!”
“Tidak... Ini seperti mekanisme sistem dungeon. Tubuh yang mati akan berubah jadi sihir
mentah!”
😤 Kaien Menekan Kembali
Aura ilusi monster kanan mulai merembet ke sisi kiri arena. Kaien tahu dia harus menyelesaikan
satu.
⟪Thread Pulse – Absolute⟫
Dia merapal satu mantra pelan:
Serangkaian benang mana muncul dari jarinya — langsung menargetkan mata monster ilusi.
Monster itu menghilang seketika dari pandangan... lalu muncul kembali — tapi goyah.
Matanya mulai retak. Aura mentalnya turun tajam.
“Satu nyaris runtuh!” teriak Kaien.
“Aku butuh satu dorongan lagi!”
Penutup Bab
Sementara Kaien, Sylia, dan Lucien masih bertahan,
Tiga tim lainnya mulai melihat bayangan kematian di mata mereka.
Lantai 40… bukan tempat untuk bertarung.
Tapi untuk bertahan dari cermin diri sendiri
Bab 50 – Cermin yang Retak Tak Pernah Diam
“Cermin tak sekadar memantulkan. Ia menyimpan. Mengamati. Lalu memutar balik semuanya
ke arahmu.”
🔁 Retakan Pertama Pecah
Mantra ⟪Thread Pulse – Absolute⟫ menyerang langsung ke pusat tekanan aura ilusi.
Benang-benang sihir Kaien akhirnya menemukan celah di struktur mental monster kanan.
Monster kanan mulai bergetar. Retakan pertama muncul di cerminnya — lalu merambat cepat.
Dalam sekejap, seluruh tubuhnya pecah menjadi kristal, lalu meledak menjadi partikel biru di
udara.
“Satu tumbang,” gumam Kaien.
“Tapi tekanan... justru meningkat?”
🔺 Mode Kedua: Aktif
Cermin di dua monster tersisa kini berubah warna — dari hitam ke merah retak.
Aura yang mereka pancarkan tidak lagi pasif.
Sekarang mereka menyerang balik secara aktif, dengan mencuri pola sihir yang telah
digunakan oleh tim ekspedisi.
Lucien hendak melepaskan ⟪Arc Lightning⟫ lagi — tapi sebelum sempat mantranya selesai,
monster tengah justru menyalakan cerminnya dan melempar sihir yang sama ke arah Lucien.
“Apa?! Dia menyalin?”
“Bukan menyalin,” sahut Kaien cepat.
“Mereka merekam. Lalu mengulang—dengan output lebih besar.”
Ledakan petir itu nyaris mengenai Lucien. Dua penyihir pertahanan di belakangnya langsung
tumbang karena tekanan kejut.
🔥 Sylia Mengunci Monster Kiri
Pertarungan jarak dekat terus berlanjut antara Sylia dan monster kiri, yang kini terlihat jauh
lebih liar.
Monster itu tidak hanya menebas — ia mulai mengikuti ritme gerakan Sylia. Setiap tusukan,
setiap putaran tombaknya, kini justru dipantulkan dengan gerakan meniru dari makhluk itu.
“Dia belajar gaya bertarungku...”
“...seperti bayangan retak dari masa lalu.”
Tapi Sylia mengubah strategi.
Ia mulai bergerak acak, tak menggunakan pola. Langkahnya seperti tarian brutal yang tidak
beraturan. Ini membuat monster kiri kesulitan membaca gerakannya.
CLANG!
Tombaknya menembus sisi bahu makhluk itu. Retakan kecil muncul di cerminnya.
“Masih belum cukup.”
🧠 Kekacauan Total
Sementara tim utama bertahan, kelompok dua dan tiga kacau balau.
Beberapa tak bisa lagi menggunakan sihir. Cermin monster tengah memantulkan aura
gangguan ke segala arah — membuat sihir tingkat 2 ke bawah terputus sebelum sempat aktif.
Salah satu penyihir tingkat 3 bahkan mengalami mental backlash saat mencoba memanggil
pelindung api — mantranya berbalik, membakar pelindungnya sendiri.
“Tim ketiga, mundur sekarang juga!!” seru Lucien.
“Bawa yang terluka ke zona aman! Kelompok empat, siapkan perimeter baru!”
💡 Strategi Umpan
Kaien melangkah ke depan, menatap monster tengah yang menjadi pusat pantulan.
Ia tak mencoba menyerang langsung.
Sebaliknya, ia membentuk pola mantra tak lengkap. Mantra tingkat 4 yang hanya setengah
dibuka, lalu dihentikan tiba-tiba.
Monster tengah menyerapnya.
Tapi karena mantranya tak utuh, energi mentah justru menyebabkan gangguan internal.
Cermin monster itu mulai menyala — lalu meledak ke dalam dirinya sendiri.
BRAK!
Fragmen kristal meluncur ke segala arah. Dua penyihir di belakangnya sempat berlindung tepat
waktu. Monster tengah tumbang.
🔻 Satu Tinggal
Hanya monster kiri tersisa.
Namun setelah menyerap pecahan dari dua cermin lainnya, aura tubuhnya berubah drastis.
Cahayanya tak lagi merah, tapi ungu gelap. Seolah dua energi monster sebelumnya kini
berkumpul padanya.
Ia menatap Sylia. Dan kemudian—
Berbicara.
“Satu. Dua. Tiga…”
“Kau… adalah pantulan dari dunia yang pecah.”
Suara itu menggema di kepala semua orang.
Tim cadangan yang tersisa terguncang. Beberapa penyihir mulai menangis tanpa sebab. Satu di
antaranya mulai meracau dan melepaskan semua mantranya ke dinding, berteriak seolah
bertarung dengan dirinya sendiri.
Hanya Sylia, Kaien, dan Lucien yang masih berdiri tegak.
“Yang ini… bukan hanya makhluk.”
“Dia… entitas reflektif,” bisik Kaien.
“Cerminnya menyimpan memori. Dan sekarang, dia memakai ingatan kita untuk melawan kita
sendiri.”
Sylia menunduk sedikit. Menyiapkan tombaknya.
“Kalau begitu… kita tunjukkan siapa yang tak pantas hidup di dunia ini.”
.
Penutup Bab 50
Tiga cermin.
Dua telah pecah.
Satu berubah menjadi sesuatu yang tak seharusnya lahir di dunia ini.
Pertarungan belum selesai.
Dan lantai 40… belum mau melepaskan siapa pun dengan mudah.
Bab 51 – Kelahiran dari Retakan
"Jika cermin itu benar-benar menyimpan memori, maka ia tak hanya mengingat sihir... tapi juga
rasa takut."
💥 Transformasi Tak Terduga
Cermin besar di punggung monster kiri menyala dengan warna ungu gelap. Tidak seperti
retakan biasa, pola-pola sihir terbentuk seperti urat nadi yang menjalar dari permukaan kristal
ke seluruh tubuhnya.
Tubuhnya mulai berubah.
Otot-ototnya membesar.
Tangan kirinya, yang sebelumnya menggenggam pedang, kini berubah menjadi bilah
sihir cair yang berdenyut.
Topengnya retak—tapi tidak pecah. Retakan itu membentuk garis menyerupai mata
ketiga.
Aura yang muncul bukan hanya kekuatan fisik.
Tapi tekanan... seolah seluruh lantai dungeon ingin memuntahkan ingatannya.
🧠 Pantulan Terakhir
Makhluk itu tidak langsung menyerang.
Sebaliknya, ia menatap Lucien. Dan seketika, suara dari masa lalu menggema.
"Kau ingin menjadi pahlawan... tapi tak bisa menyelamatkan siapa pun, kan?"
Lucien terdiam. Matanya melebar.
Kaien melirik. “Jangan dengarkan! Itu bukan milikmu—itu yang pernah kau takutkan!”
Tapi suara itu menyusup dalam pikirannya, memutar ulang kenangan kegagalan yang ingin ia
kubur. Sekejap saja, Lucien terdorong mundur, tubuhnya gemetar.
Monster itu melompat.
🛡 Sylia Menahan Serangan
Tombak sihir Sylia terangkat tepat waktu. Benturan terjadi.
BAGH!!
Ledakan gelombang tekanan menyapu area sekitar.
Batu-batu beterbangan. Anggota tim di belakang terlempar mundur. Beberapa harus diangkat ke
zona aman secara paksa oleh penyihir dukungan.
Tapi Sylia tetap berdiri. Darah menetes di pelipisnya. Ia menatap tajam.
“Kau belajar dari kami…”
“…tapi kau bukan kami.”
Dengan gerakan cepat, ia membuka formasi tempur unik — bukan sihir, tapi teknik murni.
Kaien bergabung, berdiri sejajar dengannya.
“Kita habisi ini bersama.”
🎯 Rencana Dua Poros
Lucien mengatur ulang pikirannya. Ia mundur ke barisan belakang, membentuk sirkuit sihir
pasif, menjaga perimeter dan menyuplai energi ke Sylia dan Kaien.
“Aku jadi tiang belakang. Habisi dia!” serunya.
Sylia bergerak dari kanan. Kaien dari kiri.
Monster itu menahan keduanya dengan refleks sempurna.
Tapi itu justru jadi celah.
Kaien memancing serangan ilusi dengan ⟪Pulse Delay⟫—sihir tingkat 3 dengan pola acak—
sementara Sylia membentuk perisai tombak dan menyerang bagian bawah cermin.
CRAK!
Retakan baru muncul.
Monster itu meraung. Tapi bukan karena sakit. Melainkan karena kehilangan kontrol.
Aura ungu di tubuhnya berbalik, menyerap sihir dari udara di sekitarnya, membuat lantai 40
menjadi vakum sihir—hampir semua sihir tingkat rendah mati seketika.
🧨 Ledakan Energi Tidak Stabil
"Dia mulai bocor!" Lucien berteriak.
"Struktur sihirnya tidak stabil!"
Kaien memahami. “Jika kita tunggu lebih lama, dia akan meledak bersama cerminnya. Dan
menghapus seluruh lantai ini.”
“Kita harus memecah cerminnya sebelum ia menyerap lebih banyak!”
🔥 Akhir Bab – Langkah Terakhir Dimulai
Kaien merapal mantra tingkat 4, tapi mengganti akhirannya dengan pola unik miliknya.
Sylia mengisi tombaknya dengan mana terkompresi, hingga ujungnya menyala seperti matahari
kecil.
Lucien membuka jalur sihir terakhir yang tersisa.
“Kita hanya punya satu tembakan!”
Tiga penyihir — tiga arah — satu tujuan:
Menghancurkan cermin yang tak pernah berhenti merekam dunia.
Bab 52 – Serangan Tiga Poros
“Jika cermin ini menyimpan ingatan dunia, maka biarlah kita ukirkan akhir yang baru.”
✨ Tiga Arah, Satu Target
Formasi tiga arah yang dibentuk Sylia, Kaien, dan Lucien bukan hasil latihan panjang—
melainkan hasil dari insting bertarung yang telah diasah oleh waktu, kehilangan, dan tekad.
Mereka tidak berteriak. Tidak berjanji.
Mereka hanya bergerak.
⟪Graviton Break – Phase Shift⟫, sihir manipulasi tekanan yang menggandakan beban
Kaien meluncur dari kiri, membentuk mantra khusus:
Lucien tetap di belakang, mengalirkan ⟪Mana Relay – Synchronize⟫, mantra tingkat 3
pada satu titik.
yang menghubungkan energi keduanya agar tetap stabil.
Sylia mengambil poros kanan, tombaknya menyala dengan cahaya keemasan. Aura
tingkat 5 meledak, membentuk aliran sihir berbentuk spiral di sekitar senjatanya.
Monster itu menjerit.
Cermin punggungnya memancarkan aura seperti matahari patah — berusaha memantulkan
serangan sebelum datang.
🌀 Pertahanan Terakhir Monster
Aura ungu di tubuhnya kini memutar balik semua arah serangan. Bahkan tekanan angin
ditolak. Debu tidak bisa mendekat. Sebuah medan sihir defensif melingkupi tubuhnya.
Namun itulah kelemahannya.
“Kita buat dia menolak terlalu banyak hal,” kata Kaien.
Ia menembakkan ⟪Phase Shift⟫ lebih dulu — tidak langsung ke monster, tapi ke sisi kanan
monster, memaksa medan sihir itu melebar.
Lucien menyesuaikan mana sinkronisasi agar tidak kehilangan keseimbangan.
Sylia paham maksudnya.
Ia menggulung energi tombaknya dan—menerobos dari celah kiri.
ZRAAASHHH!
Tombak itu menembus medan sihir.
Cermin mulai retak. Tapi belum pecah.
⚡ Ledakan Kedua – Penetrasi Kaien
⟪Thread Pulse – Vector Reverse⟫
Kaien tak berhenti. Ia muncul di sisi belakang, memanggil sihir:
Mantra miliknya—yang bukan hanya mengikat—tapi juga memutar arah struktur sihir.
Cermin itu… bergetar.
Retakan mulai menjalar ke tengah.
Monster itu meraung. Tapi bukan dalam ancaman.
Melainkan munculnya bentuk baru.
Dari balik tubuhnya, dua sayap ilusi muncul—bukan sayap terbang, tapi refleksi dari dirinya
yang lama.
🌪 Serangan Gabungan Terakhir
Lucien menarik semua mana cadangan tim belakang dan mengunci satu mantra akhir:
⟪Arc Compression: Δ Singularity⟫
Petir memusat pada satu titik, lalu ditembakkan lurus—menuju pusat retakan di cermin.
Di saat yang sama, Sylia melompat dan mengayunkan tombaknya sekali lagi, mengarahkan
pukulan ke bagian leher monster.
Kaien melompat ke atas, lalu melepaskan pukulan terakhir langsung ke tengah cermin dengan
sihir campuran tingkat 4 miliknya.
CRRAAAK!!!
Cermin itu—
PECAH.
💥 Akhir dari Monster Cermin
Tubuh monster itu mengeluarkan cahaya menyilaukan.
Aura hitam-ungu meledak ke segala arah, tetapi langsung diserap oleh sisa mekanisme dungeon.
Monster itu terdiam… lalu hancur menjadi kristal.
Ketiga penyihir itu jatuh ke tanah, napas terengah-engah.
Suara dinding sihir mereda. Aura berat menghilang.
Lantai 40… telah dibersihkan.
💤 Diam Setelah Badai
Sylia berdiri lebih dulu. Menatap ke sekeliling.
Semua pasukan lain sudah duduk atau terbaring—luka, kelelahan, bahkan pingsan.
Tapi tidak ada korban jiwa di akhir. Hanya luka dan mental yang koyak.
“Kita perlu… istirahat,” kata Sylia pelan.
Kaien dan Lucien mengangguk. Tanpa protes.
Mereka tahu…
Lantai 40 bukan tentang kemenangan.
Tapi tentang siapa yang bisa tetap berdiri setelah melihat sisi tergelap dari dirinya sendiri.
Bab 53 – Setelah Cermin Pecah
“Yang tersisa setelah kemenangan bukanlah kejayaan—melainkan beban.”
🌌 Seminggu di Perbatasan Kewarasan
Setelah membersihkan lantai 40, seluruh tim ekspedisi menetap di ruang transisi antar lantai,
zona netral yang biasanya hanya dilewati sebentar. Tapi kali ini, atas perintah Sylia, mereka
beristirahat selama tujuh hari penuh.
Ruangannya besar, diterangi cahaya biru alami dari kristal sihir.
Beberapa tenda darurat didirikan.
Peralatan pemulihan, mantra pelindung, dan zona meditasi dibangun seadanya.
Namun luka yang mereka bawa… bukan hanya fisik.
🛏 Mental yang Runtuh Diam-Diam
Beberapa anggota tim sihir mulai menunjukkan gejala trauma:
Salah satu penyihir cadangan terus menggambar pola cermin di lantai saat tidur.
Seorang lagi tak bisa membentuk lingkar sihir sederhana tanpa tangannya gemetar.
Seorang petarung terbangun tiap malam, berteriak karena melihat “pantulan dirinya
menyerangnya”.
Lucien, walaupun tak terluka secara fisik, hampir tak berbicara selama dua hari.
Kaien memerhatikan dari jauh, tapi tidak ikut campur. Ia tahu luka batin tidak bisa dipaksa
sembuh.
💬 Percakapan Kaien dan Sylia
Hari keempat, Sylia memanggil Kaien ke sisi luar kamp.
Di tengah ruang kosong yang remang-remang, mereka berdiri tanpa bicara cukup lama.
“Kau tahu ini akan terjadi,” kata Sylia akhirnya.
“Lantai 40 adalah batas pertama. Dan banyak dari mereka tidak siap.”
Kaien menunduk. “Tapi mereka tetap berdiri.”
Sylia menatapnya, lalu melanjutkan:
“Kau dan Lucien... kalian membawa tim ini ke titik yang bahkan aku tak pernah capai.”
Ia menoleh perlahan.
“Tapi di titik ini... aku harus tahu. Kaien Vallis—bukan sebagai anggota timku—tapi sebagai
penyihir... sampai sejauh mana kau akan melangkah?”
Kaien menjawab tanpa ekspresi:
“Sampai dunia ini tidak lagi terancam oleh kegelapan yang bahkan tidak dikenali oleh sistem.”
Sylia hanya tersenyum samar. Tak berkata apa-apa lagi.
🧪 Perbaikan Formasi dan Perencanaan Ulang
Hari keenam, Sylia mengumpulkan semua anggota tim.
Beberapa sudah mulai pulih. Yang masih trauma diberi opsi untuk mundur di lantai 40 dan
kembali ke permukaan menggunakan jalur sihir mundur.
Dari total 20 orang:
3 mundur secara resmi.
2 ditugaskan sebagai penghubung komunikasi permanen di lantai 40.
15 melanjutkan.
Formasi tim diubah menjadi 3 unit:
1. Unit Depan (Kaien, Lucien, Sylia + 2 petarung senior)
2. Unit Sihir Pendukung (5 penyihir)
3. Unit Cadangan dan Medis (5 orang)
📖 Catatan Harian yang Tak Terbaca
Kaien duduk sendirian malam itu, membuka sebuah buku kecil yang ia bawa sejak akademi. Ia
ingin menulis sesuatu—tentang lantai 40.
Tapi… tak satu pun kata muncul.
“Jika aku menuliskannya… artinya itu benar-benar terjadi.”
Ia menutup bukunya.
Lalu menatap ke arah dalam dungeon yang masih gelap.
“Lantai 41 menunggu.”
Bab 54 – Bayangan yang Tertinggal
“Terkadang, yang kita hancurkan… bukan akhir. Tapi segel dari sesuatu yang lebih tua.”
🌫 Aura Baru di Lantai 41
Hari kedelapan.
Tim ekspedisi bersiap. Energi sudah pulih, tapi tidak semangatnya.
Begitu mereka menembus ke lantai 41, atmosfer berubah drastis.
Tidak seperti lantai-lantai sebelumnya yang penuh reruntuhan atau lorong batu—
Lantai 41 dipenuhi kabut abu-abu yang menyerap cahaya dari kristal dinding.
Struktur bangunan seperti kuil runtuh, namun dinding-dindingnya penuh ukiran tidak
dikenal. Bukan bahasa kuno… tapi gambar. Simbol. Mata. Siluet manusia yang
membungkuk.
Lucien berhenti di tengah jalur pertama.
Kaien menoleh. “Kenapa?”
“Aura sihir di sini... tidak mengalir seperti biasanya.”
“Ini bukan tempat yang dibuat oleh sistem dungeon biasa.”
🔍 Penemuan: Jejak Tanpa Tubuh
Tim pendukung menemukan sesuatu aneh di salah satu lorong kecil:
Jejak kaki manusia yang sangat dalam — seperti bekas diinjak oleh seseorang dengan
beban besar.
Tapi tidak ada tubuh. Tidak ada sisa monster.
Hanya cairan kristal bening menggenang di ujung jejak, mengeras seperti es.
Salah satu penyihir mencoba menyentuh cairan itu.
“JANGAN!” Kaien langsung menarik tangannya.
Lucien mendekat. Melihat dari dekat.
“...Ini bukan sihir. Ini… residu dari mental yang dipaksa keluar dari tubuh.”
Semua diam.
“Kita sedang diawasi.”
🧠 Retakan Dalam Diri Lucien
Malamnya, Lucien duduk sendirian.
Ia tidak bisa tidur.
Bayangan dari lantai 40 masih mengganggunya. Tapi sekarang ada tambahan—bisikan yang
tidak berhenti, bahkan saat ia menutup telinga.
"Mereka akan mati. Kau akan gagal. Seperti sebelumnya."
Kaien mendekat, duduk di sebelahnya tanpa bicara.
Lucien menatapnya.
“Aku tidak tahu apakah aku benar-benar menang kemarin.”
Kaien hanya menjawab:
“Tidak ada yang menang. Kita hanya masih hidup.”
🌌 Catatan Sylia
Di dalam tenda utamanya, Sylia menulis laporan untuk dikirim ke permukaan.
“Lantai 41 menunjukkan tanda-tanda keterlibatan sistem sihir tingkat tinggi yang belum
dikenali. Kemungkinan, apa yang kami hancurkan di lantai 40 adalah penjaga dari sesuatu
yang lebih besar.”
“Kaien Vallis dan Lucien Drosmere masih stabil. Namun jika aura ini berlanjut, aku perlu
mempertimbangkan membagi tim lebih dalam. Satu untuk eksplorasi. Satu untuk bertahan.”
Lalu ia menambahkan catatan pribadi:
“...Entah sejak kapan, tapi aku merasa kami bukan satu-satunya yang berjalan di dungeon ini.”
📘 Akhir Bab
Malam itu, dari kejauhan lantai 41,
Seseorang—atau sesuatu—membuka matanya.
Tidak terganggu oleh sihir.
Tidak bergerak oleh suara.
Hanya... mengamati.
Bab 55 – Lantai Tanpa Suara
“Di dunia tanpa gema, hanya pikiranmu sendiri yang menjawabmu kembali.”
🌀 Masuk ke Zona Diam
Hari kesepuluh ekspedisi.
Tim utama melangkah lebih dalam ke lantai 41.
Kabut abu-abu pekat menyelimuti lorong batuan purba. Tak seperti kabut sebelumnya, yang
satu ini… menyedot suara.
Langkah kaki tak bergema.
Suara mantra tak memantul.
Bahkan desiran napas pun terdengar seolah berasal dari dalam kepala sendiri.
Salah satu penyihir medis mencoba berbicara—namun suaranya hilang di udara, seolah
tertelan.
Kaien mengerutkan dahi.
“Ini bukan kabut biasa. Ini… isolasi dimensi akustik.”
Lucien Drosmere mengaktifkan rune komunikasi sihir di pergelangan tangannya. Tidak menyala.
Sylia menatap kabut lekat-lekat.
“Kita tak hanya buta. Kita dibungkam.”
📡 Komunikasi Terputus
Formasi dibagi seperti biasa—tiga tim dengan jarak tak lebih dari 40 meter.
Namun, beberapa menit kemudian, Tim Cadangan yang dipimpin penyihir senior tidak
membalas sinyal mantranya. Mantra pencari arah juga terganggu.
“Posisi mereka terakhir hanya satu lorong di belakang,” kata Sylia tenang. Tapi ekspresinya
mulai tegang.
Lucien mengangkat tangan. Mengukir mantra pencari posisi.
⟪Trace Pulse: Silhouette⟫
— Mantra untuk mendeteksi bayangan kehidupan.
Namun hasilnya…
“...Ada sesuatu yang mendistorsi pantulan jiwa mereka.”
“Mereka masih hidup?” tanya Kaien.
Lucien hanya mengangguk. “Tapi seperti... dikunci dalam dimensi berbeda.”
🧠 Perang Sunyi
Sementara Sylia dan Kaien menyisir lorong utama, satu suara terdengar—bukan dari luar, tapi
dari dalam kepala.
“Kenapa kau terus masuk ke dalam?”
“Apa yang kau cari di tempat yang bahkan dunia pun menolak?”
Kaien berhenti. Nafasnya teratur, tapi pikirannya mulai goyah.
Dia melihat bayangan dirinya sendiri—versi dirinya yang lebih muda, ketakutan, memeluk buku
sihir tua.
“Kau pikir bisa menyelamatkan dunia? Kau bahkan tak bisa menyelamatkan siapa pun saat
itu.”
Namun sebelum bayangan itu merasuk lebih dalam...
BRAK!
Dinding kabut di sisi kanan pecah. Sylia menendangnya dari belakang.
“Jangan diam terlalu lama, Vallis.”
Kaien mengangguk pelan, sadar.
“Dia hampir membuatku percaya.”
🪬 Simbol yang Tidak Harus Ada
Di akhir lorong, tim utama menemukan dinding dengan ukiran raksasa:
Bentuknya seperti mata tertutup, dikelilingi oleh lingkaran sihir dengan tulisan asing.
Ukiran ini berdenyut perlahan, seolah memiliki detak jantung.
Lucien melangkah mendekat.
“Ini bukan bahasa dunia kita. Ini... berasal dari sistem yang bahkan belum dikenali akademi.”
Sylia mengangkat alis.
“Sesuatu membangun ini sebelum kita paham konsep sihir.”
Dan saat Lucien menyentuh salah satu pola di dinding—
⟪Flash–!!!⟫
Gelombang cahaya menyebar cepat.
Mantra komunikasi kembali aktif. Teriakan dari penyihir medis terdengar.
“—KAAMI DITARIK KE DINDING! ADA CAHAYA DARI LANTAI—”
Suara terputus.
Kaien mengepalkan tangannya.
“Kita tak bisa biarkan ini. Mereka harus diambil… sekarang.”
🛑 Akhir Bab
Di lantai tanpa gema,
tidak ada yang bisa menjerit minta tolong.
Dan mereka yang tertinggal… mungkin sudah melihat sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Bab 56 – Tim yang Terkoyak
“Kadang, pertempuran yang paling sulit bukan melawan musuh… tapi melawan kenyataan
bahwa kau mungkin sudah terlambat.”
⚔️Rencana Penyelamatan
Setelah mantra komunikasi kembali aktif sejenak, sinyal dari Tim Cadangan menghilang
total. Tidak seperti sebelumnya yang terdistorsi—sekarang benar-benar hilang.
Di ruang utama, Sylia, Kaien, dan Lucien menyusun ulang formasi.
Tim utama tetap di lorong 1 untuk menjaga akses keluar.
Kaien dan Lucien akan memimpin tim kecil—4 orang total—untuk menyusup ke lorong
2, arah terakhir yang dituju tim cadangan.
Dua penyihir pendukung akan berjaga di tengah sebagai relay komunikasi.
Sebelum berangkat, Sylia menatap mereka dalam-dalam.
“Jangan cari kemenangan. Cari mereka—dan keluar hidup-hidup.”
☁️Penelusuran: Lorong Tanpa Akhir
Lorong 2 ternyata lebih rumit dari yang dipetakan sebelumnya.
Kabut menyerap cahaya sihir.
Mantra deteksi malah memantulkan posisi mereka sendiri—membuat mereka seperti
terus mengejar bayangan sendiri.
Salah satu anggota hampir menebas Lucien karena ilusi gerak.
Kaien tetap tenang. Ia mengaktifkan pola sihir buatan sendiri:
⟪Mana String – Linear Phase⟫
— Mantra untuk mengikat jalur fisik sebagai “benang jalan kembali”.
Lucien mengangguk.
“Kalau kita bertemu sesuatu... kita tidak melawan. Kita tarik mundur mereka, lalu keluar.”
Kaien menjawab singkat.
“Kecuali sesuatu itu tak membiarkan kita pergi.”
👁️Pertemuan Pertama
Di balik lorong keempat, mereka menemukannya.
Bukan anggota tim. Bukan monster.
Tapi sesosok makhluk bertudung, berdiri membelakangi mereka. Tak bergerak.
Di bawahnya—tanda ukiran aneh, seperti simbol yang sama di dinding ukiran mata.
Salah satu penyihir langsung panik dan menyiapkan mantra.
“JANGAN!” Kaien menahan.
Namun… terlambat.
⟪Fire Lance⟫ melesat ke arah makhluk itu.
Dan saat sihir menyentuh tubuhnya—makhluk itu hancur menjadi bayangan kabut, lalu
menyebar seperti tinta.
Dan suara jeritan terdengar dari atas lorong.
“TOLONG—! JANGAN LAGI—!!”
Suara itu… suara penyihir dari Tim Cadangan.
Kaien langsung melompat, melesat ke arah asal suara.
🧠 Sisa-Sisa Jiwa
Di dalam ruang reruntuhan kecil, mereka menemukannya:
Dua anggota tim cadangan, duduk membungkuk, tangan menutupi wajah mereka—tubuh
mereka utuh, tapi mata mereka terbuka lebar, kosong.
Lucien menggigil. “Mereka…”
Kaien memeriksa cepat: tubuh masih hidup. Tapi sihir dalam diri mereka berputar liar seperti
pusaran.
“Mereka… diseret ke dalam mimpi ilusi sistem dungeon. Tubuhnya tertinggal, tapi mentalnya
terkunci dalam ruang sihir.”
Lucien mengangkat dua kristal pelindung jiwa.
“Kalau aku tidak memutuskan koneksi sihir mereka sekarang… mereka bisa terjebak
selamanya.”
Kaien menatap ke bawah.
“Lakukan.”
🔚 Penutup Bab
Kristal menyala.
Dua tubuh mulai tenang. Tapi masih tak sadarkan diri.
Lucien terdiam.
Kaien menatap ke dalam kegelapan, lalu membisik:
“Apa pun yang tinggal di lantai ini… bukan lagi hanya bagian dari dungeon.”
“Tapi sesuatu yang… menolak untuk dilupakan.”
Bab 57 – Dunia yang Tak Pernah Dicatat
“Tidak semua yang terkubur ingin dilupakan. Beberapa menunggu… untuk ditemukan kembali.”
📜 Simbol Tanpa Asal
Setelah penyelamatan dua anggota Tim Cadangan, Kaien dan Lucien kembali ke formasi utama.
Sylia memeriksa mereka langsung.
“Fisik utuh. Tapi mental… tak bisa diukur.”
Lucien mengangguk pelan.
“Ada simbol… dan sosok bertudung yang bukan monster. Seolah bagian dari sistem, tapi bukan
bagian dari dunia.”
Kaien menyelipkan sesuatu dari sakunya: potongan kecil dinding yang ia ambil saat kembali.
Tertulis di situ:
“⟪Nexis⟫ — Dalam bahasa tua, berarti pengikat batas.”
Sylia menatap tajam.
“Bahasa itu… seharusnya hanya ditemukan di reruntuhan Benua Hilang. Ini… seharusnya tidak
ada di dungeon buatan sistem dunia kita.”
🔍 Dunia yang Terlupakan?
Kaien, yang sejak awal punya kecenderungan memahami sisa sihir kuno, mendekat ke potongan
simbol.
Ia menempelkan telapak tangan… dan sekilas penglihatan muncul:
Sebuah menara besar—dikelilingi kabut, dengan mata di langit-langitnya.
Di sekelilingnya, sosok-sosok bertudung duduk dalam lingkaran.
Lalu… retakan di langit — seperti yang pernah muncul saat duel turnamen.
Kaien langsung menarik tangannya. Nafasnya memburu.
Lucien melihat wajahnya.
“Kau melihat sesuatu, bukan?”
Kaien mengangguk pelan.
“Lantai 41… bukan bagian dari dungeon biasa. Tapi jendela ke masa lalu yang disegel.”
🧭 Keputusan Sulit
Rapat darurat kecil digelar. Sylia berdiri di depan peta hologram dungeon.
“Lantai 41 bukan tempat tinggal. Bukan tempat uji kekuatan. Tapi peringatan—untuk sesuatu
yang sedang tidur.”
Beberapa anggota tim mengusulkan untuk mundur sementara.
Tapi Sylia menatap dua nama:
Kaien Vallis, satu-satunya yang mampu membaca simbol.
Lucien Drosmere, si penyusun formasi pertahanan dan penyelamat mental tim.
“Jika kita berhenti sekarang… lantai 42 ke atas bisa berubah, dan kita akan kembali ke awal.”
Kaien berbicara untuk pertama kali.
“Aku tetap maju. Apa pun ini, tidak seharusnya dibiarkan menunggu terlalu lama.”
🛑 Penutup Bab
Malam itu, tak ada yang bisa tidur dengan tenang.
Beberapa mulai bermimpi tentang mata di langit, dan suara-suara yang tak bisa dijelaskan.
Namun satu hal pasti:
Lantai 41 bukan hanya ruang dalam dungeon. Tapi pintu… ke dunia yang tak pernah
dicatat dalam sejarah.
Bab 58 – Langkah ke Dimensi Pecah
“Ketika arah tak lagi bisa dipercaya, dan tanah berpijak tak lagi menjanjikan kenyataan —
dunia mulai mengupas wajah aslinya.”
⬇️Masuk ke Lantai 42
Esok harinya, ekspedisi kembali dilanjutkan.
Setelah evaluasi cepat dan rotasi stamina, tim utama turun ke lantai 42 melalui jalur sihir
vertikal.
Namun begitu mereka menyentuh lantai…
Sesuatu terasa salah.
Gravitasi sedikit miring ke kanan.
Kompas sihir berputar sendiri tanpa arah.
Dan mantra pencarian tidak menunjukkan ruang dalam... tapi ruang luar.
Lucien mengerutkan dahi.
“Orientasi lantai ini… tidak statis. Strukturnya seperti... dilipat dari luar ke dalam.”
Kaien menjawab tanpa menoleh.
“Seperti kita masuk ke dimensi saku. Tapi tidak stabil.”
🔁 Efek Dimensi Rusak
Beberapa anomali segera muncul:
Seorang penyihir mencoba menyalakan sihir penerangan ⟪Lumina⟫, tapi cahayanya
justru menyinari dari belakang tubuhnya.
Panah sihir yang ditembakkan ke depan, melengkung dan mengenai tembok kiri.
Bahkan langkah kaki pun menghasilkan gema terbalik, seolah mereka berjalan menjauh
dari diri sendiri.
Salah satu anggota tim berlutut, pusing berat.
“Aku… kehilangan keseimbangan mental...”
Sylia segera memerintahkan aktivasi Rune Penstabil — segel perlindungan yang dirancang
untuk lantai dengan tekanan sihir abnormal.
Namun hasilnya mengejutkan:
Rune yang ditanam secara kolektif mulai bergerak sendiri, membentuk pola spiral aneh di
tanah.
Lucien menggertakkan gigi.
“Seseorang... atau sesuatu… sedang mengamati dari dalam lapisan ini.”
🔎 Perangkap Tanpa Bentuk
Saat menyusuri jalur utama, tim menemukan bekas markah sihir yang sangat familiar bagi
Kaien.
“Tunggu… ini pola milikku.”
Lucien menoleh. “Milikmu?”
Kaien menyentuh pola itu dan mengingat — ini adalah mantra pengikat yang ia buat dulu,
hanya digunakan saat ia… nyaris kehilangan kendali.
“Ini… dari saat duel melawan Ravyn.”
Sylia langsung tajam menatapnya.
“Kenapa bisa ada di sini?”
“Aku tidak tahu… tapi ini bukan hanya rekaman. Ini… pencurian memori sihir.”
🧠 Pencurian Ingatan Tempur
Dari sudut lain lorong, suara ledakan kecil terdengar. "Salah satu anggota tim pendukung
berteriak dari lorong kanan. Mereka melihat pantulan sihir mereka sendiri…"
“Lantai ini… mereplikasi semua sihir dan formasi yang kita pernah pakai,” ujar Lucien.
“Ini... mekanisme pertahanan adaptif.”
Dan tepat saat itu, sosok semi-transparan muncul di dinding—memperlihatkan siluet Sylia,
Kaien, dan Lucien.
Namun versi mereka yang memancarkan aura berbeda — lebih buas, lebih haus akan kekuatan.
Kaien mengepalkan tinjunya.
“Kalau kita harus melawan versi ilusi diri kita sendiri… maka hanya kita yang bisa
menghentikannya.”
📘 Penutup Bab
Di lantai 42, tidak ada ‘atas’ atau ‘bawah’.
Tidak ada ‘kiri’ atau ‘kanan’.
Hanya ada salah atau benar dalam mengenali diri sendiri.
Dan di balik dimensi yang retak…
seseorang menonton.
Bab 59 – Bayangan yang Menggandakan
“Kita mengalahkan monster. Tapi bisakah kita mengalahkan versi terburuk dari diri kita
sendiri?”
🪞 Refleksi yang Bergerak
Lorong-lorong lantai 42 memantulkan lebih dari sekadar cahaya.
Pantulan mantra, gerakan, dan aura menjadi hidup.
Di lorong kanan, salah satu anggota tim pendukung melaporkan lewat kristal komunikasi:
“Kami... melihat Sylia di depan. Tapi—Tuan Sylia bersama kalian, bukan?”
Sylia menjawab, “Jangan dekati.”
Namun terlambat. Sosok yang menyerupai dirinya menoleh… dan mata tiruan itu memancarkan
aura kematian.
Pertarungan pecah.
🔥 Duel dengan Bayangan
Di sisi lain, Kaien dan Lucien juga menghadapi masalah.
Sosok mereka berdua muncul dari dinding kabut seperti muncul dari cermin air:
Bayangan Lucien: ekspresi lebih kejam, memakai mantra listrik eksplosif tanpa kendali.
Bayangan Kaien: versi yang tidak pernah menahan kekuatan, memancarkan sihir yang
kasar dan brutal, bahkan terlihat meretakkan tanah.
Lucien bergumam:
“Ini… bukan sekadar bayangan. Ini adalah… kemungkinan.”
Kaien menjawab pelan:
“Kemungkinan... jika kita memilih jalan yang salah.”
Mereka menyiapkan formasi pertahanan.
🧠 Ilusi vs Realitas
Mantra diluncurkan dari kedua sisi. Tapi efeknya membingungkan:
⟪Arc Lightning⟫ yang diluncurkan oleh Lucien menyambar ke arah dirinya sendiri,
Kaien mencoba ⟪Vector Lock⟫ pada versi dirinya sendiri… tapi bayangan itu
karena bayangannya mengubah titik gravitasi.
mengaktifkan mantra yang sama lebih cepat, membuat Kaien nyaris terpental.
Lucien berseru:
“Mereka membaca pola kita… karena mereka adalah kita.”
Kaien menutup matanya sejenak. Lalu membuka dengan napas berat.
“Bukan mereka yang harus kita lawan. Tapi ego kita.”
✨ Jalan untuk Menang
Kaien mundur beberapa langkah, lalu menghentikan semua sihirnya. Aura tubuhnya menghilang
perlahan.
Lucien melihatnya. “Apa yang kau lakukan?!”
“Versi terburukku… lahir karena ketakutanku sendiri. Selama aku bertarung untuk menang… dia
akan terus tumbuh.”
Dengan mantra kecil, Kaien mengalihkan vektor mana di sekitar tubuhnya.
Mantra tidak menyerang — tapi membungkam.
Bayangan Kaien pun ikut berhenti.
Lucien mengikuti. Ia mengubah mantranya dari ⟪Arc Lightning⟫ ke ⟪Grounding Pulse⟫ —
teknik pembumian sihir.
Dalam waktu 10 detik… semua bayangan runtuh menjadi kabut.
🔚 Penutup Bab
Tim lain yang sebelumnya hampir panik melihat perubahan ini. Mereka mulai meniru.
Tapi tak semua berhasil. Dua penyihir tingkat 3 masih terperangkap dalam ilusi ego mereka
sendiri.
Sylia memanggil:
“Tarik mundur mereka. Kita tak bisa menyelamatkan yang belum siap menghadapi dirinya
sendiri.”
Dan lantai 42 pun menjadi tempat pertama…
di mana kemenangan bukan ditentukan oleh kekuatan, tapi oleh keheningan.
Bab 60 – Jejak Sihir yang Tak Tercatat
“Bukan semua sihir bisa diajarkan. Sebagian… hanya bisa diwariskan oleh waktu.”
🌌 Sisa yang Tertinggal
Setelah bayangan-bayangan hilang, lorong-lorong lantai 42 tampak lebih tenang.
Namun ketenangan itu membawa tanda lain: jejak-jejak sihir kuno di dinding dan lantai.
Lucien memeriksa salah satu ukiran yang samar bercahaya.
“Bentuknya… seperti glyph. Tapi bukan dari sistem modern.”
Kaien menyentuhnya, dan simbol itu memendar lebih terang. Dalam sekejap, ia mendapatkan
kilasan ingatan:
Mantra yang ditenagai tanpa vektor arah.
Siaran suara tanpa suara.
Pola aliran mana yang melawan gravitasi.
Kaien menarik napas dalam-dalam.
“Ini… bukan sihir dari dunia kita. Bahkan bukan dari akademi atau buku mana pun.”
🔍 Sihir yang Menolak Dicatat
Sylia memanggil tim ke depan, menyatukan mereka di sebuah ruangan yang lebih besar di ujung
lorong.
Tengah ruangan itu terdapat lingkaran sihir besar, hampir sepuluh meter diameter, tapi retak di
beberapa bagian.
Lucien membungkuk dan mencoba mendekripsi pola.
“Setiap percobaan menyalinnya… gagal. Tulisan ini menolak dicatat oleh pena sihir.”
Salah satu penyihir mencoba menggambarnya di udara dengan ⟪Sketch Trace⟫ — gagal total.
Kaien hanya memandang.
“Sihir ini… hidup. Ia memilih siapa yang boleh melihatnya.”
💭 Momen Bersama
Di sela pemeriksaan, mereka mendirikan tenda untuk beristirahat semalam.
Dalam keheningan yang langka, Kaien dan Lucien duduk di luar tenda, memandangi langit semu
yang diproyeksikan dungeon.
“Lucien… menurutmu, kenapa lantai ini menyimpan semua ini?”
Lucien menjawab:
“Karena dunia menolak sesuatu, bukan berarti itu salah. Bisa jadi… kita belum siap.”
Kaien mengangguk pelan.
“Atau… mungkin karena sesuatu di dunia ini pernah salah. Dan ini… warisannya.”
🕳️Menuju Lantai 43
Pagi berikutnya, saat semua siap, Sylia berdiri di depan lingkaran sihir besar.
Ia menaruh tangannya di atas pusatnya.
Tak ada tombol. Tak ada pintu. Tapi tiba-tiba, tanah di tengah lingkaran terbuka… dan portal
menuju lantai berikutnya muncul.
Sebelum turun, Sylia berpesan:
“Jangan lupakan lantai ini. Dunia mencoba menyembunyikannya… karena takut pada apa yang
bisa kalian pelajari.”
🧩 Penutup Bab
Untuk pertama kalinya, tim ekspedisi menemukan sihir yang tidak bisa diajarkan, hanya bisa
disadari.
Dan di balik pintu lantai 43, mereka mulai sadar:
Mereka tidak hanya menantang dungeon.
Tapi menantang batas sejarah dunia mereka sendiri.
Bab 61 – Langit Terbalik dan Darah Dataran
“Apa yang ada di atas bukan langit. Dan yang di bawah bukan tanah. Tapi dunia lain yang
menunggu untuk dibuka.”
🌀 Dataran yang Miring
Setelah melangkah ke lantai 43, tim ekspedisi mendapati diri mereka berdiri di tengah padang
luas, tidak seperti lantai-lantai sebelumnya yang penuh lorong dan kegelapan.
Tapi yang paling mengganggu…
Langit ada di bawah.
Dan tanah menggantung di atas kepala, seperti langit malam yang dibalik.
Awan merah bergumpal dari dasar tanah yang terbalik, memantulkan cahaya yang tak pernah
terlihat di dunia permukaan.
Seorang penyihir berkata pelan:
“Ini… bukan ilusi. Ini nyata.”
Kaien menyentuh tanah di bawahnya—rumput, hangat, sedikit berdenyut. Seolah lantai ini
bernafas.
Lucien bergumam, “Dungeon ini bukan sekadar tempat. Ini makhluk hidup.”
🛡️Formasi Ulang Tim
Melihat area terbuka lebar, Sylia segera memerintahkan formasi defensif:
Kaien dan Lucien di posisi tengah sebagai penopang utama dan pembaca sihir.
Tiga regu lainnya menyebar membentuk lingkaran rotasi.
Komunikasi dijaga dalam jarak 200 meter antar unit, karena medan terlalu luas untuk
formasi rapat.
Sylia berkata:
“Kita tidak tahu apa yang menunggu. Tapi angin di sini membawa aroma darah.”
🩸 Serangan Tak Terduga
Tak lama, dari balik retakan “langit” di atas, makhluk-makhluk tinggi bertudung hitam turun
perlahan.
Mereka tidak mengeluarkan suara. Tubuh mereka panjang, seolah terbuat dari bayangan.
Namun ketika satu makhluk membuka jubahnya…
Ia adalah manusia.
Atau, lebih tepatnya — mantan manusia. Tubuhnya dipenuhi coretan sihir seperti ukiran
kutukan, matanya kosong, dan bibirnya membisikkan mantra dalam bahasa yang tak dikenal.
“⟪Te’haal Nythrim⟫…”
Dan seketika, tanah di bawah Kaien terbakar merah.
“Serang balik!” teriak Sylia.
Lucien mengangkat tongkatnya, melepaskan ⟪Arc Lightning: Net⟫ — jaring petir menyambar
dua makhluk.
Tapi mereka tak menghindar.
Mereka menerima… dan terbelah dua sambil tersenyum.
Darah mereka… bukan darah. Tapi kabut hitam yang naik ke langit terbalik.
😨 Ketakutan Mulai Menyebar
Seorang anggota tim berteriak:
“Mereka... menghapus sihirku!”
Ternyata, setiap makhluk yang disentuh sihir, menyerap sebagian besar rune dari penyihir itu—
merusak jaringan mana internalnya.
Sylia berteriak:
“Serang pakai gabungan fisik dan sihir! Jangan pakai mantra tinggi jika belum diukur efeknya!”
Kaien langsung maju ke depan, menciptakan ⟪Mana Pulse: Scatter⟫ — riak sihir mentah tak
terarah yang tidak dapat diserap langsung. Dua makhluk terdorong ke belakang.
Tapi dari atas, muncul lebih banyak lagi.
Lucien berseru:
“Mereka bukan monster dungeon. Ini seperti... korban dari kegagalan sihir masa lalu!”
📘 Penutup Bab
Di langit terbalik lantai 43,
darah tidak menetes ke tanah.
Tapi naik, kembali ke langit yang rusak.
Dan ketika malam tiba — mereka masih diikuti.
Oleh makhluk yang dulunya penyihir.
Makhluk yang pernah mencoba... menembus tingkat tujuh.
Bab 62 – Kutukan Mereka yang Gagal
“Sihir yang terlalu tinggi bukan hanya sulit dicapai—tapi juga menuntut pembayaran.”
☠️Mereka yang Masih Hidup… dalam Kegagalan
Malam di lantai 43 tidak benar-benar gelap.
Langit terbalik di bawah sana—dengan awan merah pekat—terus menyala seperti bara.
Sementara di kejauhan, makhluk-makhluk bertudung itu tetap berdiri. Tidak mendekat. Tidak
mundur.
Mereka hanya... mengawasi.
Kaien duduk bersama Lucien dan Sylia, di luar tenda komando, memandangi kejauhan.
Lucien berbicara lebih dulu.
“Aku baru menyadari. Simbol di tubuh mereka. Itu... bukan kutukan. Tapi rangkaian rune tingkat
tujuh.”
Sylia menyipitkan mata.
“Mereka mencoba... menembus batas dunia.”
Kaien diam, lalu berkata pelan:
“Dan gagal.”
📖 Catatan Tersembunyi
Pagi harinya, salah satu penyihir pendukung melaporkan penemuan baru:
Sebuah batu rune besar setengah terkubur di bawah rerumputan.
Di atasnya tergambar simbol bercahaya, dan tertulis dalam bahasa sihir kuno:
"Kami mencoba menggapai langit ketujuh. Tapi dunia menolak. Maka kami tidak mati — kami
dibentuk ulang."
Sylia memejamkan mata. “Mereka bukan korban dungeon.”
Lucien melanjutkan:
“Mereka korban... dari kesombongan manusia.”
🧠 Efek Psikis Mendalam
Beberapa anggota tim mulai mengalami gangguan tidur.
Mimpi yang sama:
Mereka berdiri di tengah ritual kuno, tubuh mereka dipenuhi rune menyala, dan di akhir mimpi
—mereka berubah menjadi salah satu makhluk bertudung.
Seorang penyihir pendukung bangun sambil berteriak:
“Tolong... jangan tuliskan mantra itu di tubuhku!”
Kaien langsung memeriksa, dan menemukan jejak sihir asing di sekitar tubuhnya.
Bukan mantra aktif—tapi ingatan sihir yang tertinggal.
🗣️Sylia Membuat Keputusan
Di depan seluruh tim, Sylia akhirnya mengumumkan:
“Kita tidak akan bertarung dengan mereka. Tidak saat ini.”
“Kita akan jalani jalur pinggir barat, menghindari konflik langsung.”
Lucien menambahkan:
“Mereka tidak agresif… jika kita tidak memaksakan sihir tingkat tinggi.”
Kaien, diam-diam, mencatat satu hal dalam buku pribadinya:
"Bukan hanya monster yang hidup di dungeon."
"Tapi kegagalan masa lalu pun tidak mati."
🪨 Penutup Bab
Di lantai 43, para penyihir elite mulai memahami:
Dunia tidak hanya menyimpan kekuatan.
Tapi juga kutukan dari mereka yang mencoba terlalu jauh.
Dan di kejauhan… satu makhluk bertudung menoleh ke arah Kaien.
Matanya menyala sebentar—warna biru keperakan.
Kaien mengerutkan alis.
Karena itu bukan warna dari kegilaan…
Tapi warna dari sihir tingkat enam.
Bab 63 – Cahaya Perak yang Memanggil
“Jika kegagalan bisa bicara, mungkinkah ia meminta kesempatan kedua?”
🌌 Tatapan dari Ujung Padang
Kaien masih menatap makhluk bertudung yang berdiri di kejauhan.
Sementara yang lain telah kembali ke tenda masing-masing, ia tetap di tempat, tidak bergeming.
Matanya mengunci pada sinar biru keperakan yang sesekali muncul dari balik tudung sosok itu.
“Kenapa kau… berbeda dari yang lain?” gumam Kaien.
Makhluk itu tidak bergerak. Tidak menyerang.
Hanya berdiri diam—tapi dalam keheningan itu, Kaien bisa merasakan… sebuah panggilan.
Bukan ancaman.
Bukan sihir.
Tapi kesadaran.
🧭 Arah yang Menuntun
Keesokan paginya, saat tim mulai bersiap untuk bergerak ke bagian barat dataran, Kaien
mendekati Sylia dan Lucien.
“Ada sesuatu yang harus kulihat. Di ujung utara padang ini. Tapi aku akan tetap dalam jarak
pengawasan.”
Lucien menatap tajam. “Sendiri?”
Sylia memejamkan mata sesaat, lalu menjawab:
“Kau punya waktu dua jam. Jika tidak kembali, aku akan kirim tim pencari.”
Kaien mengangguk.
“Kalau aku tidak kembali dalam dua jam, berarti… dia memang menginginkan aku di sana.”
🪞 Percakapan Tanpa Suara
Kaien melangkah hati-hati di antara kabut dan rumput berduri.
Sosok bertudung masih berdiri di tempat yang sama.
Dan begitu Kaien cukup dekat — sekitar sepuluh meter — makhluk itu menjatuhkan
tudungnya.
Bukan monster.
Seorang pria.
Mata biru keperakan, rambut memutih sebagian, dan kulitnya masih mengandung rune. Tapi…
tidak seperti yang lain.
“Kaien…” suara itu seperti gema, tanpa gerakan mulut.
“Kau… bisa bicara?” Kaien melangkah maju.
Pria itu mengangguk.
“Aku tidak mati… tapi juga bukan lagi manusia seutuhnya.”
“Namaku… Arven. Dan aku—pernah menjadi siswa Akademi Renastra… tiga puluh tahun lalu.”
📚 Pengakuan dari Masa Lalu
Arven menjelaskan dengan suara yang seperti dipinjam dari dinding:
Ia dan beberapa penyihir elite mencoba menciptakan sihir tingkat tujuh — jauh sebelum
waktunya.
Mereka menembus lantai 50 tanpa izin resmi, dan membuka altar terlarang.
Satu per satu, tubuh mereka runtuh… tapi pikiran mereka tertahan di antara batas dunia.
Rune di tubuh mereka bukan kutukan — tapi segmen sihir eksperimental yang gagal
dilepas.
“Tapi satu dari kami… berhasil mempertahankan ingatan. Dan itu aku.”
Arven menatap Kaien dalam-dalam.
“Kau adalah kunci. Karena sihirmu bukan sekadar kekuatan — tapi jalan baru. Seperti kami
dulu… sebelum kami salah langkah.”
🧠 Warisan atau Peringatan?
Kaien mengeratkan tangannya.
“Kenapa aku?”
Arven tersenyum samar.
“Karena kau menatap batas… tapi belum melangkah.
Dan mungkin—kau bisa membawa pulang sesuatu yang tak bisa kami bawa dulu.”
📘 Penutup Bab
Sebelum Kaien pergi, Arven menyerahkan sebuah serpihan cermin kecil yang masih utuh—
berisi fragmen sihir tingkat tujuh.
“Ini bukan kekuatan. Tapi memori.”
“Simpan… dan pilih jalanmu dengan hati-hati.”
Kaien pun kembali ke tim, tidak mengatakan apa pun.
Tapi di tangannya, kini ada jejak dunia yang gagal.
Dan matanya… melihat langit terbalik itu dengan cara yang berbeda.
Bab 64 – Mantra dari Cermin Retak
“Cermin bukan hanya memantulkan. Ia mengingat. Dan terkadang... ia menirukan masa
depan.”
🔮 Fragmen dari Dunia yang Gagal
Malam setelah pertemuannya dengan Arven, Kaien duduk sendirian di luar tenda, jauh dari api
unggun, sambil memandangi fragmen cermin yang diberikan.
Cermin itu retak, namun tetap memantulkan cahaya — bukan cahaya dari api, tapi pantulan
dari masa yang tak terjadi.
Saat Kaien memegangnya lebih erat, suara-suara samar masuk ke pikirannya. Bukan bisikan
asing... tapi gema mantra.
“⟪Velare Primun, Sigrah.⟫”
“⟪Refrainia Solveth.⟫”
Mantra-mantra yang tidak pernah dia dengar — bukan dari buku, bukan dari pengajar.
Tapi... mantra tingkat tujuh.
🧠 Refleksi Ingatan dan Bahaya
Kaien tahu satu hal:
Fragmen cermin ini bukan hanya menyimpan ingatan Arven, tapi juga jejak sihir yang ditolak
dunia.
Ia membuka jurnalnya, mencoba menulis ulang bagian-bagian mantra yang sempat terdengar.
Namun, saat dia menuliskannya…
Tinta di bukunya bergerak sendiri.
Kata-kata yang ditulis seolah mencoba mengatur ulang, menyusun kembali pola.
Bukan dalam bentuk manusia… tapi dalam runik murni.
Kaien mundur sejenak.
“Kalau aku teruskan... ini bukan lagi riset. Ini eksperimen.”
👥 Percakapan dengan Lucien
Esok harinya, saat menyiapkan perjalanan menuju lantai 44, Kaien duduk di sisi Lucien yang
sedang mengasah tongkat sihirnya dengan pola kristal.
Lucien menoleh. “Kau berubah. Ada sesuatu di matamu.”
Kaien menjawab pendek.
“Aku melihat sesuatu semalam. Sisa dari dunia yang... hancur sebelum sempat hidup.”
Lucien tidak bertanya lebih jauh, tapi hanya menjawab:
“Kalau kau pikir itu penting, simpan dulu. Jangan dibagi… sampai waktunya tepat.”
❄️Pertanda di Langit Palsu
Saat tim bersiap meninggalkan lantai 43, satu fenomena terjadi:
Langit terbalik di bawah mereka berubah warna.
Dari merah… menjadi biru pucat.
Sylia menghentikan seluruh tim.
“Itu bukan sihir alami.”
Kaien melihat pantulan wajahnya di langit bawah itu. Tapi bayangannya tidak mengikuti
gerakannya.
Bayangan itu... tersenyum.
Lalu menghilang.
📘 Penutup Bab
Di tangannya, Kaien kini membawa fragmen dari masa lalu—dan kemungkinan masa depan.
Tapi di hatinya, ada pertanyaan yang tak bisa dia jawab:
Jika mantra tingkat tujuh adalah kunci... lalu pintu apa yang akan terbuka?
Bab 65 – Lantai 44: Jejak Mereka yang Menyerah
“Bukan semua yang mati kehilangan tubuh. Ada yang menghilang perlahan… bersama harapan
mereka.”
🏚️Kota yang Terkubur
Lantai 44 terbuka seperti reruntuhan kota tua.
Bangunan setengah rubuh menjulang ke langit dungeon, jembatan batu runtuh berserakan, dan
jalanan dipenuhi retakan serta sisa-sisa struktur sihir.
Lucien melangkah lebih dulu, menyentuh dinding rumah yang sudah hancur.
“Ini... arsitektur dari era sebelum penyatuan kerajaan. Ini bukan hanya dungeon — ini
peninggalan.”
Sylia memperhatikan udara di sekitarnya — hening.
Tak ada suara monster. Tak ada jejak makhluk bertudung.
“Terlalu sunyi untuk ukuran lantai 44. Sesuatu menahan makhluk-makhluk di sini... atau mereka
sudah dihapus.”
📘 Sisa-Sisa Eksperimen
Di pusat kota yang sudah mati, mereka menemukan bangunan yang masih utuh.
Pintu berukir simbol lingkaran sihir rusak, dan di dalamnya… ada laboratorium tua.
Kaien, Lucien, dan Sylia masuk lebih dulu.
Meja-meja batu, alat-alat pengukir rune, dan gulungan yang sudah membatu memenuhi ruangan.
Tapi yang membuat mereka semua berhenti adalah satu hal:
Di tengah ruangan tergantung tubuh seseorang — tubuh kristal.
Terperangkap dalam sihir pembekuan waktu.
Sylia mendekat, matanya melebar.
“Ini... eksperimen sihir penahanan abadi. Ia tidak mati, tapi tak bisa bergerak. Terjebak
selamanya.”
Kaien membaca catatan yang tertempel di dinding:
“Tingkat tujuh bukan akhir. Tapi permulaan kesalahan.”
—Veritas, Divisi Eksperimental
🧠 Reaksi Tim
Beberapa anggota tim mulai panik saat melihat dinding-dinding yang penuh tulisan sihir.
Satu tulisan bahkan menyala merah saat disentuh:
“Jika kau membaca ini, maka kami telah gagal.”
Lucien mencabut tongkatnya. “Keluar. Sekarang. Semua.”
Kaien masih diam di tempat. Di hadapannya, sebuah cermin utuh berdiri tegak di sudut
ruangan.
Dan di dalamnya…
Kaien melihat dirinya sendiri.
Tapi sosok itu mengucapkan mantra dengan rune yang belum pernah ia pelajari.
🕯️Keputusan untuk Mundur
Setelah keluar dari ruangan, Sylia memanggil semua tim.
“Tidak ada pertarungan hari ini. Kita bertahan di pinggiran reruntuhan dan jaga perimeter.”
“Bangunan ini… bukan untuk dilawan. Tapi untuk dikenang sebagai peringatan.”
Lucien mendekati Kaien saat malam turun.
“Apa yang kau lihat di cermin itu?”
Kaien menatap langit dungeon yang kini kembali merah.
“Aku... melihat pilihan.”
📘 Penutup Bab
Lantai 44 bukan pertarungan. Tapi penemuan.
Bahwa tidak semua kekuatan harus dimenangkan.
Karena sebagian... adalah milik masa lalu yang memilih untuk tidak pernah keluar dari
dungeon.
Bab 66 – Hari yang Tidak Pernah Terbit
“Ingatan bukan hanya pantulan. Ia bisa menjadi benih.”
🪞 Pantulan yang Menyimpang
Malam itu, Kaien duduk sendirian di pinggir kota mati, menjauh dari api unggun dan tenda
pasukan. Di tangannya, fragmen cermin yang diberikan oleh Arven bersinar lembut—lebih
terang dari biasanya.
Ia mencoba satu eksperimen:
Mengalirkan sedikit mana ke dalam fragmen itu. Hanya sepercik.
Dan tiba-tiba… ia melihat dirinya sendiri — tapi bukan dirinya yang sekarang.
Sosok di dalam cermin berdiri di medan kosong, dengan jubah yang belum pernah Kaien
kenakan, dan tongkat sihir panjang yang tampak menyatu dengan lengannya.
Matanya dingin.
Tidak ada Elara, tidak ada Toren.
Hanya… kekuatan dan kehampaan.
🌀 Mantra yang Tidak Diajarakan
Sosok itu mengangkat tangannya.
Rune-rune yang Kaien tidak pernah kenali melayang di sekelilingnya.
Dan suara itu bergema:
“⟪Vareth Sona Elutra⟫.”
Tanpa sadar, Kaien menirukannya.
Tapi saat suku kata terakhir terucap, tanah di sekitarnya bergetar ringan — dan cermin pecah
sebagian.
Dari retakan itu, muncul serpihan cahaya... lalu menghilang ke udara.
Kaien terduduk. Nafasnya berat. Matanya melebar.
“Itu... bukan hanya ingatan. Itu jalur kemungkinan.”
💬 Percakapan dengan Sylia
Pagi harinya, saat tim mulai bersiap untuk menjelajahi sisi timur reruntuhan, Sylia menghampiri
Kaien. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam seperti biasa.
“Kau menguji sesuatu tadi malam.”
Kaien tidak menyangkal. “Sedikit.”
“Dungeon ini bukan tempat untuk sedikit.”
Sylia menunduk sejenak, lalu berkata:
“Kaien, jangan lupakan mengapa kau di sini.
Bukan untuk membuktikan siapa kau… tapi untuk menentukan jalan ke mana kau ingin pergi.”
Kaien tidak menjawab, tapi untuk pertama kalinya—dia merasa seseorang melihatnya
sepenuhnya, bukan hanya sebagai penyihir, tapi sebagai sosok yang sedang memilih antara dua
bayangan: kekuatan dan kemanusiaan.
📘 Penutup Bab
Cermin itu kini retak.
Tapi bukan rusak.
Ia telah membuka kemungkinan —
Tentang siapa Kaien bisa jadi,
atau apa yang harus dia lawan… jika itu benar-benar terjadi.
🌫️Kabut di Lantai 45
Begitu mereka sampai di dasar—lantai 45 bukan ruang terbuka, bukan reruntuhan, bukan hutan,
bukan api, bukan batu.
Hanya kabut.
Kabut tipis, tapi menyesatkan.
Bahkan formasi sihir jarak pendek tidak bisa menembus lebih dari lima meter.
“Kumpul! Jangan pisah!” suara Sylia tegas.
Mereka bergerak perlahan ke tengah, menyusun formasi bertahan.
Namun sebelum formasi lengkap…
Sesuatu muncul.
🧟♂️Munculnya Satu Monster
Dari dalam kabut, langkah berat terdengar.
Gemuruh.
Seperti logam yang ditarik di atas batu.
Dan dari bayangan itu—satu sosok muncul.
Tingginya hampir empat meter.
Tubuhnya tidak sepenuhnya padat, seolah dibuat dari retakan sihir dan kepingan kaca hitam.
Di dadanya—sebuah lingkaran kaca besar, seperti mata cermin.
Saat sosok itu mengangkat lengannya, semua penyihir merasakan guncangan mental serempak.
Beberapa mulai berteriak.
Satu orang dari tim kedua pingsan di tempat.
“Siap bertarung!!”
“Itu boss-nya!! Hanya satu... tapi cukup untuk memusnahkan semua orang!”
🧠 Serangan Pertama — Mental Break
Monster itu tidak menyerang dengan sihir atau senjata—
Melainkan dengan pantulan ingatan.
Tiba-tiba, semua penyihir merasakan “sesuatu” ditarik dari pikiran mereka:
Ketakutan terbesarnya.
Rasa bersalah terdalamnya.
Mimpi buruk yang paling mereka hindari.
Satu penyihir dari tim ketiga langsung panik dan melempar sihir ke kawan sendiri.
“Kita semua akan mati! KITA SEMUA AKAN MATI!!”
Kaien bergegas membungkusnya dengan medan sihir pengurung.
⚔️Sylia dan Kaien Menyerang
Sylia tak menunggu lebih lama.
Tombaknya menyala dan langsung dilempar ke arah kepala monster itu.
⟪Impact Fang⟫ — mantra tekanan fisik tingkat tinggi.
Namun begitu tombaknya menyentuh kabut di sekitar monster—
Tombaknya melengkung arah dan berbalik nyaris mengenai dirinya sendiri.
⟪Vector Lock – Manual Override⟫
Kaien langsung bereaksi:
Mantra penarik gaya vektor buatannya sendiri berhasil menetralkan efek pantulan.
Tombak itu jatuh dan tertancap di tanah.
“Efeknya bukan sihir! Tapi seperti... realitas cermin!” ujar Kaien.
“Dia bisa membelokkan hukum sihir dasar!”
🩸 Luka Pertama dan Retaknya Formasi
Dari sisi kiri, monster itu mengayunkan lengannya seperti cambuk kaca.
Tim ketiga mencoba bertahan, tapi satu orang terkena langsung.
Tubuhnya menghantam tanah—dan menghilang menjadi serpihan cahaya.
“Mayatnya... menghilang!?”
Lucien, yang melindungi sisi belakang, terdiam sejenak.
“Tidak. Itu bukan hilang. Itu ‘dikembalikan’. Monster ini... memecah eksistensi sihir.”
📘 Penutup Bab
Lantai 45 bukan sekadar ujian kekuatan.
Tapi ujian kesadaran, ketahanan, dan keutuhan jiwa.
Dan musuh mereka kali ini… bukan hanya monster.
Tapi diri mereka sendiri, yang dipantulkan kembali dengan niat membunuh.
Bab 68 – Pantulan yang Tidak Punya Bayangan
"Bayanganmu selalu mengikutimu... kecuali ketika cermin berdiri di antara kalian."
⚔️Strategi Serangan Terkoordinasi
Setelah kegagalan tombak Sylia dan satu korban dari tim ketiga, formasi retak — tapi belum
hancur. Lucien langsung bergerak:
“Kita tarik ke tengah!
Tim kedua dan ketiga, tarik mundur ke titik aman tiga puluh langkah ke belakang!
Tim utama — ambil posisi segitiga!”
Kaien, Sylia, dan Lucien membentuk pola segitiga sihir untuk menekan monster dari tiga arah.
Kaien mengaktifkan pola sihir pengurung:
⟪Mana Suppress – Layered Grid⟫
Jaring-jaring mana berbentuk kubus mulai menyelimuti monster.
Lucien langsung mengarahkannya dengan sihir pembatas:
⟪Chain Breaker – Phase Lock⟫
Tapi begitu sihir keduanya aktif—lingkaran di dada monster bersinar.
🪞 Serangan Terpantul
Semua mantra berhenti.
Grid Kaien melengkung, dan Chain Breaker Lucien justru mengarah kembali padanya.
Lucien berhasil menahan pantulan itu — tapi satu penyihir dari tim kedua yang mencoba
membantu, terserang langsung dan jatuh dengan luka bakar sihir.
“DIA MEMUTAR MANTRA KITA!”
“Bukan cermin… ini seperti pelengkung realitas!”
Sylia menggeram, tombaknya ditarik kembali.
“Kalau sihir tak bisa menembus, kita paksa secara fisik!”
💢 Pertarungan Jarak Dekat
Sylia bergerak cepat, menembus kabut dan menghantam monster itu dari samping.
Tombaknya menyentuh tubuh lawan — dan untuk pertama kalinya, darah hitam memercik dari
tubuh monster.
Monster itu melenguh dan mundur setapak. Tapi tak lama.
Tiba-tiba, dari punggungnya, keluar semacam tangan ketiga, yang memukul balik Sylia dan
melemparkannya ke dinding batu.
“Kapten!!”
Lucien dan Kaien langsung mengejar.
🧠 Guncangan Mental
Di saat bersamaan, monster membuka mata kedua — bukan di wajah, tapi di dada.
Dan saat terbuka… semua penyihir yang melihatnya langsung membeku.
Gambaran mengerikan mulai membanjiri pikiran mereka:
Rasa gagal.
Kematian rekan.
Dosa lama yang tak terucapkan.
Salah satu penyihir tim kedua mulai menangis sambil memanggil nama kakaknya — meski ia
sendiri adalah anak tunggal.
Kaien menutup matanya, dan menarik napas panjang.
“Sihir ini bukan ilusi. Ini... pemaksa kenangan.”
Dia mengganti sihirnya.
Bukan untuk menyerang — tapi untuk melindungi:
⟪Mind Lock – Pattern Shell⟫
Satu mantra mental hasil pengembangannya sendiri.
Aura ilusi mulai melemah di sekitar tim utama.
🩸 Kehancuran Tim Kedua dan Ketiga
Namun itu tidak cukup cepat.
Salah satu dari tim ketiga terkena serangan fisik — tertusuk tangan ketiga monster.
Yang lain kehilangan kendali dan berlari ke dalam kabut — tak pernah terlihat lagi.
Lucien menggertakkan gigi.
“Jika kita lanjut seperti ini… semua orang akan mati.”
Sylia, yang bangkit dengan luka di bahu, berteriak:
“Kaien! Lucien! Fokus kita hanya satu: buka titik serang!
Serahkan yang lainnya padaku.”
📘 Penutup Bab
Lantai 45 sudah bukan arena pelatihan.
Bukan tempat untuk naik level.
Ini adalah tempat penyaringan.
Dan yang tidak cukup kuat — baik fisik, maupun jiwa — tidak akan keluar dari sini hidup-hidup.
Bab 69 – Luka yang Tak Bisa Diobati
“Tidak semua luka berdarah. Tapi semua luka meninggalkan bekas.”
💥 Serangan Terkoordinasi Terakhir
Dengan tekanan dari tiga sisi, Sylia, Kaien, dan Lucien mulai memahami pola pergerakan
monster.
"Tiap kali monster membuka mata keduanya, dia tak bisa bergerak selama tiga detik," ujar Kaien
cepat.
"Saat itu, tubuhnya lebih rapuh!"
Lucien mengangguk, mengaktifkan formasi pertahanan ganda agar tim utama tidak terkena
pantulan serangan seperti sebelumnya.
Sylia mundur selangkah, lalu menancapkan tombaknya ke tanah.
“Kita hentikan dia sekarang.”
Ketiganya menyerang serentak.
Sylia menerjang dengan ⟪Lance Drive – Spiral Fang⟫, menghantam bagian kaki monster
agar kehilangan keseimbangan.
Lucien menciptakan pusaran sihir bertipe distorsi untuk mengunci bagian dada monster.
Kaien melepaskan mantra baru:
⟪Mana Thread – Cross Divider⟫
Benang-benang sihir menembus kabut dan mengikat bagian leher monster.
Monster itu mengaum untuk pertama kalinya—bukan dari mulut, tapi dari seluruh tubuhnya.
⚠️Efek Mental Terakhir
Tepat ketika monster jatuh berlutut, mata di dadanya terbuka lebar, dan seluruh lantai bergetar.
“Itu... bentuk akhir sihir mentalnya!” teriak salah satu penyihir dari tim ketiga yang masih sadar.
Aura hitam menjalar ke segala arah —
Dan satu per satu, penyihir dari tim kedua dan ketiga berteriak dan tumbang.
Beberapa mulai kehilangan kesadaran.
Yang lain… menyerang rekan sendiri.
"Salah satu dari tim ketiga masih terguncang saat melihat rekannya yang gugur lebih awal —
tubuh yang menghilang menjadi serpihan cahaya itu terus terbayang di mata mereka.".
💔 Keputusan Berat
Sylia, dengan suara gemetar, berteriak:
"Semua penyihir dari tim dua dan tiga — segera tarik diri ke sisi barat!
Siapa pun yang masih bisa berjalan, bantu yang terluka!
Kaien, Lucien — lindungi penarikan mereka!"
Kaien menggertakkan gigi. Dia melihat salah satu rekan yang baru dikenalnya — seorang
penyihir support dari tim tiga — terkena serangan ilusi dan mulai memukul kepala sendiri hingga
berdarah.
Lucien menyambar tubuh penyihir itu dengan sihir pelindung dan menyeretnya ke arah lorong.
Sylia melindungi jalur mundur dengan ⟪Aegis Guard – Zone Burst⟫
Satu ledakan sihir area menyapu bagian belakang monster — cukup untuk membuka jalur sempit
di antara puing-puing.
⚔️Duel Terakhir
Monster itu kehilangan separuh tubuh kanannya, tapi masih hidup.
Kaien dan Sylia berdiri di depan.
"Kita habisi dia sebelum dia mengaktifkan ulang kemampuan mentalnya," bisik Sylia.
Kaien mengangguk.
Dan untuk terakhir kalinya, dia menarik napas, lalu merapal mantra:
⟪Vector Pulse – Gravity Lockdown⟫
⟪Mana Sync – Spear Injection⟫ (Sylia)
Kombinasi sihir mereka menghantam titik lemah monster dari dua arah.
Retakan muncul di lingkaran kaca di dada.
Dan dalam suara pecahan kristal terakhir…
Monster itu runtuh.
📘 Penutup Bab
Lantai 45 telah ditaklukkan.
Tapi dengan harga yang sangat mahal.
1 penyihir gugur. Tubuhnya berubah menjadi serpihan cahaya.
5 penyihir terluka parah dan tak bisa bertarung lagi.
4 lainnya mengalami kerusakan sihir atau mental — dan harus dikirim kembali ke
permukaan.
Tim kedua dan ketiga resmi dinyatakan mundur dari ekspedisi.
Sisa ekspedisi hanya tim utama, lima orang akan melanjutkan.
Dan jalur ke lantai 46… kini terbuka.
Bab 70 – Batas yang Tidak Terucap
“Kami akan lanjut. Kalian jaga titik ini. Jika kami tidak kembali dalam dua minggu... kalian
tahu harus apa.”
Langkah-langkah berat bergema dalam lorong batu menuju pusat lantai 45. Aroma darah dan
sihir yang belum sepenuhnya menghilang masih menggantung di udara. Tim utama — Sylia,
Kaien, Lucien, dan dua penyihir elit lainnya — berdiri dalam lingkaran rapat, dikelilingi oleh
sisa-sisa tim 2 dan 3 yang kini hanya bisa menatap dengan mata lesu.
Di depan mereka, pintu menuju lantai 46 telah terbuka.
Namun, belum ada yang melangkah masuk.
📜 Keputusan Sylia
Sylia berdiri tegap, wajahnya menahan beban banyak keputusan.
“Mulai dari lantai 46, kita tak tahu apa yang menunggu. Tapi kalian semua...” — ia menatap para
penyihir yang terluka — “sudah membawa kami sejauh ini.”
Suasana hening.
“Tim dua dan tiga akan tetap di lantai ini. Fokus pemulihan.
Siapkan formasi perlindungan, barikade, dan titik teleportasi darurat.
Jika kami... tidak kembali dalam dua minggu, kirimkan informasi ke permukaan: bahwa tim
utama telah gugur.”
Nada suaranya dingin, tapi semua yang mendengar tahu — itu bukan rasa putus asa.
Itu adalah kewaspadaan seorang pemimpin.
Lucien membuka mulut, tapi tak jadi bicara. Bahkan dia bisa merasakan... ada sesuatu yang
berbeda dari tekanan di balik pintu lantai 46.
🔒 Sebuah Dunia yang Tertutup Waktu
Kaien berdiri paling belakang, menatap celah di dinding yang perlahan menyerap cahaya.
“Ada sesuatu...”, bisik batinnya.
“Tapi kenapa aku merasa waktu di balik pintu itu... membeku?”
Namun ia hanya diam. Dia tahu, terlalu banyak pertanyaan sekarang hanya akan melemahkan
semangat tim.
Satu hal yang tidak mereka ketahui — dan tidak bisa mereka sadari — adalah bahwa:
Waktu di lantai 46 hingga 50 tidak berjalan seperti di dunia nyata.
Di dalam sana, satu hari berarti satu bulan di luar.
Tapi tidak ada tanda. Tidak ada peringatan. Hanya keheningan... dan kegelapan yang menunggu.
🔚 Penutup Bab
Kaien memandang ke belakang untuk terakhir kalinya.
Tim dua dan tiga berdiri dalam formasi, menatap mereka seolah-olah ingin menyampaikan doa
terakhir.
Sylia menatap ke depan, lalu angkat tangan.
“Kita mulai.”
Dan dengan itu, tim utama melangkah ke lantai 46 —
Tanpa tahu bahwa langkah itu akan membawa mereka pada dimensi waktu yang berbeda,
dan mungkin... dunia yang sama sekali asing.
Bab 71 – Waktu yang Terkunci
“Dua hari bagi mereka. Dua bulan bagi dunia.”
Komposisi Tim Utama
Setelah keputusan Sylia untuk hanya membawa penyihir yang masih utuh secara fisik dan
mental, terbentuklah formasi final tim utama:
Sylia Astrelia — pemimpin ekspedisi, pengguna sihir tingkat 6 aktif.
Kaien Vallis — penyihir muda penuh misteri yang sudah menunjukkan sihir tingkat 6.
Lucien Drosmere — penyihir jenius yang menguasai banyak elemen tingkat 5.
Selene Virgard — penyihir elit spesialis sihir cahaya dan perlindungan. Ia mampu
memanggil sihir tingkat 6 sekali pakai sebelum jatuh pingsan.
Dravon Mier — penyihir tempur dengan elemen bumi dan gelap. Satu dari sedikit orang
yang bisa mengerahkan sihir tingkat 6 meskipun hanya sekali seperti selena.
Lima orang.
Lima kekuatan dengan tujuan yang sama: menembus lantai 50.
🔁 Dimensi yang Terbalik
Begitu mereka melangkah ke lantai 46, perubahan langsung terasa.
Udara terasa padat, namun tanpa tekanan. Setiap langkah terdengar lambat — bukan karena
tubuh mereka lamban, tetapi karena dunia di sekitar seolah menolak gerakan cepat.
“Ruang... terasa lebih dalam,” ujar Selene dengan suara nyaris berbisik.
“Dan waktu... mengalir aneh,” tambah Dravon sambil menajamkan indera sihirnya.
Namun tidak ada peringatan. Tidak ada anomali visual mencolok. Tidak ada suara peringatan
dari sistem sihir dungeon.
Hanya hening.
🧭 Jalur yang Kosong
Lantai 46 membentang dalam bentuk koridor spiral alami — tebing batu menjulang, tanaman
fosil bercahaya, dan suara tetesan air yang seolah membeku di udara.
Mereka tidak bertemu satu pun makhluk.
Namun, formasi tetap rapi:
Sylia dan Dravon di depan.
Kaien dan Selene di tengah.
Lucien sebagai pengatur penghalang dan pelacak di belakang.
Setiap langkah penuh kesadaran.
Setiap jam seperti satu hari.
Mereka tak tahu bahwa waktu di luar telah berjalan lebih dari 24 kali lebih cepat.
🕯️Malam Pertama
Mereka membangun kemah kecil di celah dinding batu yang memancarkan panas samar — titik-
titik sihir yang stabil seperti oase dalam kekosongan lantai 46.
perimeter dengan ⟪Mana Sense⟫.
Selene menggunakan sihir tingkat 4 untuk membentangkan pelindung, sementara Kaien menjaga
Lucien menggambar sketsa rune waktu yang membingungkan.
“Jam internal tubuh kita masih normal. Tapi jam dunia ini... tidak sinkron.”
“Lantai ini... bisa memutarbalikkan persepsi waktu tanpa memutar waktu itu sendiri.”
🏞️Hari Kedua — Pintu Lantai 47
Di akhir hari kedua, mereka menemukan gerbang batu dengan empat lingkar rune yang
bercahaya perlahan.
Lucien mencoba membaca strukturnya.
“Ini semacam gerbang pembuktian. Bukan rintangan. Tapi semacam verifikasi eksistensi.”
Kaien memejamkan mata, mencoba menyelaraskan dirinya dengan energi dungeon. Begitu
seluruh tim menyeimbangkan mana mereka, rune berbunyi klik, dan pintu perlahan terbuka.
Mereka melangkah ke lantai 47.
📌 Penutup Bab
Dua hari mereka habiskan di lantai 46.
Tanpa musuh. Tanpa jebakan. Tanpa konflik.
Namun di dunia luar, dua bulan telah [Link]
Dan tanpa mereka sadari, waktu… bukan lagi milik mereka.
Bab 73 – Di Ambang Harapan
“Menunggu terlalu lama, bisa membunuh lebih dari sekadar tubuh.”
🔹 Dua Minggu yang Tak Bergerak
Waktu berlalu seperti batu yang tak pernah bergeser.
Di lantai 45, tidak ada serangan susulan. Tidak ada suara monster. Tidak ada panggilan dari
bawah. Hanya keheningan, dan detak jantung orang-orang yang menunggu.
Tim Kedua dan Ketiga, yang dulu terbentuk untuk mendukung ekspedisi besar ini, sekarang
seperti dua pasukan yang kehilangan tujuan.
Beberapa masih menjalani pemulihan total dari luka mental dan fisik yang dalam. Sisanya
menghabiskan waktu dengan patroli, perbaikan sihir pelindung, atau memeriksa jalur komunikasi
ke lantai atas.
Mereka semua menunggu.
Tapi tak satu pun tanda dari Sylia dan tim utama.
🔹 Rendra dan Velmira
Di tenda utama, dua pemimpin cadangan — Rendra Alvis (penyihir pertahanan dari Tim Kedua)
dan Velmira Soen (pengatur formasi sihir dari Tim Ketiga) — duduk berhadap-hadapan di
depan peta sihir lantai.
“Sudah lewat dua minggu. Kita harus putuskan,” kata Velmira, nadanya berat.
“Sylia pasti tahu apa yang dia lakukan. Tapi... kalau ini diam terus, kita tak bisa abaikan
protokol,” timpal Rendra.
Velmira menggenggam penanda sihir.
“Kau pikir mereka masih hidup?”
Rendra diam lama. Lalu menjawab:
“Aku pikir... kalau masih hidup, mereka sedang terjebak. Tapi kita tidak bisa menunggu lebih
lama. Jika mereka tidak kembali ke lantai ini dalam 2 minggu—kita wajib memberi kabar ke
permukaan.”
“Jadi kita akan tinggalkan lantai ini?” tanya Velmira, sedikit ragu.
“Bukan meninggalkan. Kita hanya... menyerahkan pada dunia. Agar mereka tahu apa yang
terjadi di sini.”
🔹 Suara-Suara dari Bawah
Malam itu, sebagian anggota tim berkumpul dalam api unggun terakhir mereka sebelum kembali.
“Kaien... pasti masih hidup. Kau lihat sendiri, dia bahkan bisa menahan serangan mental si
monster itu.”
“Lucien juga. Dan Sylia... dia tak mungkin kalah semudah itu.”
“Tapi waktu... sudah habis. Kita bahkan tak tahu apakah waktu berjalan normal di bawah sana.”
Mereka semua terdiam mendengar kalimat terakhir itu.
Ada ketakutan diam-diam — bahwa lantai 46 hingga 50 mungkin punya hukum sendiri. Bahwa
yang turun... tak bisa naik kembali.
🔹 Keputusan
Pagi hari keempat belas.
Rendra, Velmira, dan para penyihir pendukung berdiri di depan jalur keluar.
“Mulai saat ini, ekspedisi resmi dianggap gagal.
Satu orang telah gugur.
lima orang lainnya terluka dan telah naik lebih dulu.
Sembilan dari kita akan keluar… untuk menyampaikan bahwa tidak ada kabar dari tim utama
setelah dua minggu.”
Mereka tak mengucapkan kata "gugur" secara langsung.
Tapi maknanya telah mengendap di hati semua yang hadir.
“Kita tidak menyerah,” tambah Rendra.
“Kita hanya mengakui… bahwa kita tak bisa melanjutkan.”
🔹 Penutup Bab
Saat rombongan mulai bergerak menaiki jalur sihir menuju permukaan,
di koridor gelap yang mengarah ke lantai 46,
angin pelan berhembus… seolah mengantar mereka pergi.
Dan jauh di bawah sana,
waktu mulai berputar dengan aturan yang berbeda.
Bab 74 – Hasil yang Tak Bisa Disembunyikan
“Kita membawa kabar buruk. Tapi kejujuran… adalah satu-satunya jalan agar harapan tak
sepenuhnya padam.”
🔹 Kembali ke Permukaan
Begitu portal lantai 45 terbuka dan Tim 2 dan 3 muncul di pos sihir terluar, suasana langsung
berubah tegang. Puluhan petugas medis, analis sihir, dan penjaga keamanan segera mengelilingi
mereka.
Sorotan pertama bukan pada luka…
Tapi pada wajah kosong para penyihir yang pulang tanpa Sylia, Kaien, atau Lucien.
Rendra melangkah ke depan.
Tubuhnya masih kaku, tapi sorot matanya mantap.
“Kami butuh akses langsung ke dewan.”
🔹 Rapat Khusus Dewan Sihir
Satu hari kemudian, di ruang utama Menara Velmorne, tempat berkumpulnya dewan penyihir
tinggi dan perwakilan akademi, rapat darurat diselenggarakan. Suasana mencekam. Tidak ada
tawa. Tidak ada basa-basi.
Velmira memulai laporan teknis:
Kondisi pertempuran di lantai 45.
Kemunculan boss tunggal yang tak terdeteksi.
Serangan mental skala besar.
Gugurnya satu penyihir.
Luka berat pada lima orang.
Hilangnya kontak total dengan tim utama.
Lalu Rendra melanjutkan:
“Setelah dua minggu tanpa sinyal atau tanda apa pun, sesuai protokol dan instruksi langsung dari
Kapten Sylia sebelum turun ke lantai 46, kami… menyimpulkan bahwa tim utama tidak dapat
kembali.”
“Kami tidak memiliki cukup sumber daya atau kekuatan untuk menyusul. Maka... kami kembali
untuk melapor.”
Salah satu penyihir senior, Arcanas Greve, mengetukkan tongkatnya ke lantai.
“Dan kalian yakin, tidak ada jejak apa pun?”
“Tidak ada. Bukan hanya sihir mereka… bahkan pantulan energinya pun tidak terdeteksi.”
“Jika demikian…”
🔹 Sebuah Keputusan Berat
Rapat berlangsung berjam-jam. Beberapa menyarankan untuk menutup berita sementara
penyelidikan lebih lanjut dilakukan. Yang lain mendorong agar kebenaran segera diumumkan,
demi menghormati mereka yang telah turun.
Akhirnya, suara pemimpin akademi — Rektor Ardenth — memecah keheningan.
“Kita tidak sedang membicarakan kematian biasa. Ini adalah ekspedisi resmi… dipimpin oleh
salah satu penyihir paling berbakat dalam sejarah.”
“Menunda berita hanya akan menambah spekulasi.”
“Kita umumkan... dengan hormat. Tapi jangan mengubur harapan. Katakan yang sebenarnya —
bahwa mereka hilang kontak. Bukan gugur.”
🔹 Pengumuman Dunia
Sore itu, seluruh kota sihir, benteng pelindung, dan bahkan lembaga-lembaga sihir di negeri lain
menerima siaran resmi:
“Ekspedisi resmi Dungeon menuju lantai 50… dinyatakan dalam status hilang kontak.”
“Tim utama yang terdiri dari lima penyihir — termasuk Sylia Astrelia, Lucien Drosmere, dan
Kaien Vallis — telah memasuki lantai 46 dan tidak kembali dalam dua minggu. Lokasi mereka
tidak dapat dipastikan, dan hingga kini belum ada sinyal sihir atau komunikasi dari bawah.”
Penyihir yang membacakan berita itu menatap siaran magis yang tersebar ke seluruh dunia:
“Kami mohon semua pihak tetap tenang. Penyelidikan akan dilakukan. Namun untuk sementara,
ekspedisi ini kami nyatakan hilang. Tidak gugur. Tidak ditemukan. Tapi… belum kembali.”
🔹 Penutup Bab
Di sebuah fasilitas pelatihan terpencil, jauh dari pusat kota sihir, Elara sedang duduk di halaman
belakang rumah keluarganya.
Goresan luka lama masih ada di lengannya, tapi matanya penuh cahaya.
Di tangan kanannya, sebuah gulungan sihir berpijar perlahan — peninggalan dari duel terakhir di
turnamen.
Ia menatap langit — langit yang sama yang pernah ia pandangi bersama Kaien dan Toren.
“Kalau kau masih hidup… aku akan menyusulmu.”
“Aku janji.”
Di tempat berbeda, Toren memandangi jendela kamar asramanya di akademi.
Tangannya masih menggenggam buku strategi pertahanan, terbuka di tengah.
“Kau pasti belum menyerah, kan?”
“Kalau begitu… aku juga tidak akan berhenti.”
Dan di suatu tempat di dunia sihir—
dalam hati yang belum padam,
harapan masih menyala.
Bab 75 – Mata Waktu yang Membisu
“Hari ketiga… atau baru jam ketiga?”
“Tidak ada waktu di sini. Hanya niat yang terus mendorong kami maju.”
🔹 Waktu yang Melambat
Sejak mereka menapakkan kaki di lantai 46, ada satu hal yang tak bisa diabaikan — waktu
terasa salah.
Langit dungeon tampak sama. Kabut tipis melayang pelan di udara. Suasana sepi, nyaris tak ada
monster.
Tapi ketika Kaien menyalakan jam sihir pribadinya—
detik terasa seperti menit.
Dan setelah dua "hari" mereka berjalan, baru belasan jam berlalu di waktu tubuh mereka.
“Jam internalku belum bergeser,” bisik salah satu penyihir elit, Seren Elyra, si pengguna sihir
tingkat 6.
“Tapi... tanaman di sini tidak bergerak sama sekali.”
“Jam pasir juga tidak turun…” tambah Kaien, matanya fokus pada serpihan pasir sihir yang
beku di udara.
Tak seorang pun dari mereka menyadari —
satu hari di sini adalah satu bulan di dunia luar.
🔹 Jalur Sunyi, Langkah Terbatas
Lantai 47 bukan hanya sepi, tapi juga membuat mereka waspada secara berlebihan. Tanpa
adanya monster atau jebakan klasik, justru tekanan sihir dari setiap sudut membuat mereka lelah
secara mental.
Lucien Drosmere, yang biasa mengamati medan sihir, menatap peta yang digambarkan ulang
oleh mantranya.
“Struktur tempat ini... berubah setiap beberapa jam.”
“Tapi tak ada yang bergerak.”
“Ini seperti ilusi yang menyusun ulang ruangan berdasarkan siapa yang memasukinya.”
Sylia, yang selama dua hari terus menuntun mereka dengan ketat, akhirnya memberi isyarat
istirahat penuh di zona netral — area reruntuhan berbentuk kuil tua.
🔹 Percakapan di Tengah Perjalanan
Saat mereka beristirahat di dalam struktur setengah runtuh itu, Kaien duduk bersandar sambil
memutar ulang pelatihan mental yang biasa ia lakukan—mantra bisu untuk menstabilkan
kesadarannya.
Di dekatnya, Lucien duduk sambil membaca ulang naskah mantra pertahanan, tapi tatapannya
sesekali beralih pada Kaien.
“Kau tahu?” katanya pelan.
“Aku kadang berpikir kita bukan lagi manusia kalau bisa bertahan sejauh ini.”
“Atau kita... hanya bertahan karena tidak tahu kapan harus mundur.”
Kaien tersenyum kecil.
“Aku hanya tahu satu hal. Aku belum menyelesaikan apa yang perlu kuselesaikan.”
“Jadi… aku belum bisa jatuh.”
🔹 Sylia Mengamati
Dari tempat lebih tinggi, Sylia mengamati keduanya — Kaien dan Lucien. Lalu memandang
reruntuhan kuil yang mereka tinggali malam ini.
Pikirannya tidak tenang.
Dia tahu sesuatu di lantai 48 dan 49… lebih besar dari yang bisa mereka bayangkan.
Dan lebih dari itu — dia tahu mereka sudah tak punya pilihan untuk mundur.
🔹 Penutup Bab
Di bawah langit kelabu lantai 47, lima sosok terus bergerak diam-diam.
Tak satu pun dari mereka tahu bahwa di dunia atas, dua minggu bahkan dua bulan telah
berlalu.
Dan bahwa nama mereka… sudah diucapkan sebagai nama-nama yang hilang.
Bab 76 – Pantulan Tak Bernama
“Semakin dalam kita melangkah, semakin kita merasa dilihat. Tapi tidak ada yang menjawab
panggilan kita.”
🔹 Tangga Menuju Bayangan
Ruang sempit di antara lantai 47 dan 48 lebih seperti koridor dalam labirin daripada tangga
dungeon biasa. Dindingnya tidak terbuat dari batu, melainkan cermin-cermin buram yang
memantulkan bayangan samar para penyihir.
Kaien adalah yang pertama menyadarinya.
“Pantulan ini… tidak bergerak seperti kita.”
“Lihat, dia... mengangkat tangan kanan, padahal aku baru saja—”
“Berhenti,” potong Sylia, matanya menajam.
“Ini ruang pengganda mental. Cermin ini memantulkan konsep, bukan bentuk.”
“Hati-hati. Kalau terlalu lama menatap, kalian bisa kehilangan arah mana realitas.”
Mereka berjalan dengan pelan.
Dan setiap langkah ke depan seperti membuat identitas mereka ditanya ulang oleh ruang itu.
🔹 Suara dari Dalam
Lucien yang biasanya tenang, kini mulai menggigit bibir. Mantra pendeteksinya gagal.
Seren Elyra menggenggam liontin penyeimbang mana-nya erat-erat.
Tiba-tiba suara muncul.
“Apa kau benar kau?”
“Apa tujuanmu nyata, atau hanya cermin dari ketakutanmu?”
Suara itu bukan datang dari luar, tapi dari dalam dada mereka — seperti gema dari bagian
yang paling ragu dari diri mereka.
Kaien menahan napas.
Lalu berkata pelan:
“Kita lanjut. Jangan dengarkan suara itu. Itu bukan milik kita.”
🔹 Ruang yang Tidak Berujung
Setelah berjalan hampir dua jam, mereka akhirnya keluar dari koridor—dan tiba di ruang terbuka
gelap, datar, dengan satu cermin raksasa di tengah ruangan.
Namun, saat mereka mencoba mendekat, cermin itu menolak cahaya.
Sinar sihir yang diarahkan ke arahnya… diserap sepenuhnya. Lalu dikembalikan dalam bentuk
pantulan energi acak, membuat mantra nyaris tak bisa dikontrol.
Lucien menganalisis:
“Ini bukan cermin biasa.”
“Ini meniru sihir kita, lalu melepaskannya kembali tanpa pola.”
“Jadi… semakin kuat kita menyerang, semakin tak terkendali balasannya.”
🔹 Kaien Melangkah Sendiri
Kaien akhirnya maju satu langkah ke depan.
Ia tahu ruangan ini bukan tempat pertempuran fisik — tapi konfrontasi konsep.
Ia mulai merapal mantra yang sangat lambat. Bukan mantra serangan, tapi mantra stabilisasi
medan.
⟪Core Trace: Satu Asal⟫
⟪Thread Silence – Zona 0⟫
Dengan satu gerakan tangan, ia mengikatkan benang sihir ke dasar ruangan.
Cermin bergetar. Dan… perlahan memudar, memperlihatkan jalan tersembunyi di baliknya.
🔹 Jalan Menuju Lantai 48
“Bagus, Vall—”
Sylia menghentikan ucapannya, lalu memperbaiki:
“Bagus, Kaien. Kau tahu cara membuka kuncinya.”
Kaien hanya mengangguk.
Lucien menoleh padanya, menatap lama — seolah ingin bertanya,
“Berapa banyak yang sudah kau sembunyikan dariku?”
Tapi dia tidak bertanya.
Belum sekarang.
Mereka semua melewati cermin itu.
Dan untuk sesaat — bayangan mereka tak mengikuti dari belakang.
🔚 Penutup Bab
Lantai 48 menyambut dengan sunyi yang tidak biasa.
Bukan sunyi karena kosong…
Tapi sunyi seperti napas yang tertahan.
Mereka tak tahu… langkah berikutnya akan mengubah bentuk dari ekspedisi ini
selamanya.
Bab 77 – Dunia yang Tak Pernah Ada
“Ini bukan hanya lantai berikutnya. Ini dunia yang tidak dicatat dalam sejarah dungeon mana
pun.”
“Langitnya tidak ada. Waktunya tidak berjalan. Tapi kita ada di sini.”
🔹 Di Balik Cermin
Begitu melewati cermin besar lantai 47, lima anggota tim utama ekspedisi melangkah ke dalam
sebuah ruang yang sepenuhnya asing.
Tidak ada dinding. Tidak ada langit.
Yang ada hanya hamparan datar seperti danau kaca yang memantulkan langkah mereka,
tetapi… tidak memantulkan wajah.
Mereka berjalan di atas dunia tanpa bayangan.
“Apa ini ilusi?” bisik Seren Elyra, napasnya nyaris tertelan keheningan.
“Bukan. Ini nyata… tapi terputus dari sistem utama dungeon,” jawab Lucien Drosmere, serius.
“Tidak ada resonansi sihir. Tidak ada batasan. Ini bukan sekadar lantai 48.”
🔹 Fragmen Dunia Lama
Di kejauhan, potongan-potongan aneh mulai tampak.
Sebuah menara rusak menggantung di udara.
Ladang bunga yang mengambang dalam kubus transparan.
Reruntuhan kota… yang terbalik, menempel di ‘langit’ bawah.
Semua ini terasa salah. Tidak seperti dungeon.
Lebih seperti pantulan dari dunia lain yang pernah ada—dan kini dibuang ke dalam
kekosongan.
Kaien berhenti di tempat, tubuhnya menegang.
“Tempat ini... mengenali kita,” gumamnya.
Lucien memusatkan sihir analisis, namun mantranya hanya mengembalikan satu kata dalam
bahasa kuno:
⟪"Involuntarium"⟫
Dunia yang Tak Diinginkan.
🔹 Langkah Terpecah
Saat mereka melanjutkan perjalanan, tanah di bawah mereka bergetar perlahan.
Namun bukan karena serangan.
Melainkan karena dunia ini menyesuaikan wujudnya berdasarkan siapa yang berjalan di
atasnya.
Kaien melihat bagian tanahnya berubah menjadi reruntuhan desa kecil—mirip sekali dengan
desa tempat ia dibesarkan. Tapi kosong.
Lucien melangkah di atas panggung istana retak, dikelilingi bayangan kursi kosong.
Sylia berjalan dalam medan perang sunyi, di mana tombak-tombak membeku di udara.
Mereka saling menoleh, dan sadar…
“Kita tidak berjalan di tempat yang sama lagi…”
“Dunia ini memisahkan kita berdasarkan… trauma.”
🔹 Ujian yang Tak Terucap
Satu suara muncul di kepala masing-masing—bukan bisikan, bukan gema. Tapi lebih seperti
kenangan yang dibisikkan kembali oleh dunia itu sendiri.
“Apa yang kau sembunyikan?”
“Apa yang kau korbankan untuk sampai ke sini?”
“Apa yang akan kau lakukan jika pintunya tidak pernah terbuka kembali?”
Sylia menggenggam tombaknya lebih erat.
Lucien menutup matanya, lalu merapal mantra pengikat kesadaran.
Kaien hanya berdiri diam.
Dia tahu. Dunia ini sedang menguji fondasi dari pilihan mereka.
🔹 Penutup Bab
Di lantai 48, bukan monster yang menunggu.
Bukan jebakan. Bukan perang.
Tapi cermin dari diri sendiri — yang lebih tajam daripada pedang, lebih berat dari sihir, dan
lebih sunyi dari kematian.
Dan mereka harus bertahan melewatinya...
...jika ingin melihat lantai 49.
Bab 78 – Gaung dari Pilihan yang Hilang
(Fokus: Dua penyihir elit—Seren Elyra dan Vex Harsal)
🔹 Seren Elyra – Bayangan dari Jalan yang Ditinggalkan
Seren Elyra melangkah dalam keheningan.
Tapi di matanya, dunia mulai berubah menjadi sebuah taman raksasa.
Pohon-pohon berbunga merah, dengan jembatan kristal yang melengkung ke langit.
Ia mengenali tempat ini.
Fasilitas sihir tertinggi di utara. Tempat dia lulus lebih cepat dari generasi sebelumnya. Tempat
dia… memilih untuk meninggalkan keluarga demi kekuatan.
Tapi taman ini kosong. Tak ada penyihir. Tak ada mentor.
Hanya satu sosok berdiri di tengah.
Ibunya.
“Kau tidak pernah kembali, Seren.”
“Kekuatan itu memang memberimu kecepatan… tapi tidak arah.”
“Apa tujuanmu? Apa kau tahu ke mana kau berjalan?”
Seren gemetar. Ia tahu ini bukan nyata. Tapi emosinya nyata.
⟪Mental Seal – Clarity Bind⟫
Tangannya merapal mantra.
Tapi mantranya… terpental. Dunia ini menolak solusi sihir.
Seren terduduk.
Untuk pertama kalinya, dia harus melawan bukan dengan mantra, tapi dengan diri sendiri.
🔹 Vex Harsal – Harga dari Kesempatan Kedua
Berbeda dengan Seren, Vex Harsal memasuki dunia yang lebih kelam.
Lorong-lorong gelap penuh bekas ledakan sihir.
Suara jeritan. Asap dan api.
Arena pertempuran yang dia tinggalkan. Misi yang gagal. Timnya—musnah.
Lalu, satu demi satu… muncul wajah-wajah rekan lama.
“Kau kabur, Vex.”
“Kau diberi kesempatan kedua—dan kau gunakan untuk menyembunyikan diri.”
“Bergabung dengan ekspedisi ini… bukan penebusan. Tapi pelarian.”
Vex menghunus sihir tingkat 5.
⟪Pyre Crest – Flame Banisher⟫
Ledakan terjadi. Tapi wajah-wajah itu tidak pergi.
Karena mereka bukan musuh.
Mereka adalah ingatan yang tidak selesai.
Vex berlutut.
“Aku tahu…” bisiknya.
“Tapi kali ini… aku akan bertahan sampai akhir.”
🔚 Penutup Bab
Dua penyihir elit. Dua kekuatan berbeda.
Tapi di dunia lantai 48, semua kekuatan tak ada artinya jika tak bisa berdamai dengan
bayangan sendiri.
Di kejauhan, Kaien, Lucien, dan Sylia masih terus melangkah dalam dunia mereka masing-
masing.
Dan lantai 49… masih sangat jauh.
Bab 79 – Pilar Tanpa Bayangan
(Fokus: Lucien Drosmere – Lantai 48)
🔹 Ruang Tanpa Langit
Lucien membuka matanya.
Langkah terakhirnya seolah membawanya keluar dari dunia — dan kini ia berdiri di sebuah
ruang bundar tanpa batas.
Tidak ada lantai. Tidak ada atap.
Hanya tiang-tiang batu menjulang, masing-masing membawa simbol sihir dari tujuh
tingkatan.
Ia berdiri di tengah.
“Jadi ini ujianku.”
“Sebuah altar. Dan aku… satu-satunya juri.”
“Tentu saja. Karena aku selalu seperti itu, bukan?”
Suaranya sendiri terdengar kosong di ruang itu.
🔹 Sosok yang Sama, Mata yang Berbeda
Satu suara mulai terdengar, melingkar dari tiang ke tiang.
“Lucien Drosmere… putra dari garis darah bangsawan rendah, anak yang seharusnya tidak
pernah menantang takdir sihir tingkat tinggi.”
“Kau menaiki dunia ini sendirian. Tapi bukan karena keteguhanmu… tapi karena keenggananmu
untuk percaya.”
Satu sosok muncul dari sisi ruangan — wajahnya identik.
Bahkan nada bicaranya tak berbeda.
Lucien, yang lain.
Tapi dengan jubah putih, bukan hitam.
Matanya lebih tenang… atau lebih kosong?
“Berapa banyak orang yang kau tolak bantuannya?”
“Berapa banyak teman yang menjauh karena kau terlalu… sempurna?”
Lucien menggertakkan gigi.
“Aku tidak butuh bantuan untuk menjadi kuat.”
“Aku menjadi seperti ini karena tidak ada orang yang bisa aku percayai.”
“Sungguh? Atau karena kau tidak pernah mencoba mempercayai siapa pun?”
🔹 Pilar Berguguran
Tiang sihir pertama — dengan simbol sihir tingkat 1 — mulai retak.
“Kau tinggalkan dasar demi ambisi.”
Retakan menyebar ke simbol tingkat 2.
“Kau menolak kerja sama demi dominasi.”
Tiang ketiga hancur.
“Kau menyebut diri elit, tapi tak pernah membuka hati.”
Satu demi satu, pilar sihir runtuh.
Bukan karena kelemahan sihir… tapi karena kekosongan di balik kekuatannya.
Lucien jatuh berlutut.
“Lalu… untuk apa semua ini?”
“Jika aku bukan siapa-siapa tanpa sihirku, apa yang tersisa?”
🔹 Bayangan Menawarkan Tangan
Sosok dirinya yang lain… justru mengulurkan tangan.
“Yang tersisa… adalah kesempatan.”
“Bukan untuk berubah menjadi orang lain.”
“Tapi untuk mengakui bahwa dunia ini bukan tempat untuk satu pilar berdiri sendiri.”
Lucien menatapnya, mata dingin itu mulai bergetar.
“Aku tidak akan meminta maaf karena menjadi kuat.”
“Tapi mungkin… aku bisa mulai berjalan berdampingan.”
Tangannya terulur. Dua sosok itu menyatu.
Dan saat itu — satu tiang baru muncul.
Satu simbol yang tak dikenalnya.
Simbol gabungan antara kekuatan dan koneksi.
🔚 Penutup Bab
Lucien berdiri lagi.
Langkahnya kini ringan, tapi tidak kehilangan kekuatan.
Pintu di sisi altar terbuka.
Dan dari kejauhan, ia mulai mendengar langkah lain…
Langkah Kaien.
Dua ujian hampir selesai.
Tapi lantai 48… belum selesai.
Dunia ini belum selesai.
Bab 80 – Kaien dan Dinding yang Tidak Terlihat
(Fokus: Kaien Vallis – lantai 48)
🕯️Kesendirian yang Bukan Pilihan
Langkah Kaien berhenti ketika cahaya biru di sekitarnya meredup.
Lantai batu di bawahnya menghilang — digantikan oleh tanah merah tua.
Udara menjadi berat. Tapi bukan karena tekanan sihir.
Melainkan karena suasana rumah.
Desa itu.
Tanah tempat semuanya dimulai.
Tempat yang seharusnya sudah ia tinggalkan…
Tapi kini, ia berdiri di tengahnya lagi.
Seorang diri. Tak ada suara, tak ada sihir.
Hanya cermin besar yang berdiri di depannya.
Cermin itu tidak memantulkan wujud Kaien.
Melainkan Kael Anvaris.
🪞 Kael, yang Dibuang
Di balik cermin, Kael terlihat lelah.
Tubuhnya kurus. Matanya seperti belum tidur bertahun-tahun.
Tangan-tangannya berdarah — bukan karena luka fisik, tapi karena terus menahan kenyataan
yang ingin dilupakan.
“Jadi ini… aku yang dulu?” gumam Kaien.
“Kau yang dibuang. Kau yang kubunuh agar aku bisa melangkah ke depan.”
Tapi Kael di balik cermin menggeleng.
“Kau tidak membunuhku, Kaien. Kau hanya menyembunyikanku.”
“Tapi apa kau benar-benar kuat… jika kekuatanmu dibangun dari pelarian?”
Kaien diam. Tangannya mengepal.
🌑 Dinding Tanpa Wujud
Cermin itu retak. Tapi tidak pecah.
Justru, perlahan… berubah menjadi tembok tinggi.
Dinding kelabu yang tidak bisa ditembus. Tak bisa dilompati.
Sama seperti dulu.
Dinding itu… bukan berasal dari dunia luar. Tapi dari dalam dirinya sendiri.
Kaien menyentuhnya — dingin.
Dan dari balik dinding itu, terdengar suara.
“Kaien…”
“Jika kau terus berjalan tanpa menerima aku… dinding ini akan selalu ada.”
“Kau akan kuat. Tapi tidak utuh.”
🔥 Mantra yang Tidak Sempurna
Kaien merapal satu pola sihir:
⟪Thread Pulse – Reflection Dive⟫
(Sihir untuk menembus ilusi, melihat lapisan realitas terdalam.)
Benang-benang sihir muncul. Tapi begitu menyentuh dinding… mereka rontok.
Tidak bisa masuk. Tidak bisa memecah.
“Karena ini… bukan dinding dari sihir.”
“Ini dinding dari hati yang tak pernah sembuh.”
Kaien memejamkan mata.
🗣️Sebuah Dialog, Bukan Duel
Ia tidak menyerang lagi.
Tidak memaksa menembus.
Tapi… duduk.
Dan akhirnya berkata,
“Kael… jika aku bertahan sejauh ini, itu karena kita berdua.”
“Aku menggunakanku sebagai topeng… tapi aku tidak menyesal menjadi Kaien.”
“Namun jika kau masih di sini… maka mungkin, saatnya kita berhenti saling menyangkal.”
💥 Retakan dan Cahaya
Dinding itu tidak hancur karena kekuatan.
Melainkan karena penerimaan.
Retakan muncul. Lalu melebar.
Dan dari sana, Kael melangkah keluar.
Tapi bukan sebagai dua orang berbeda.
Kaien dan Kael… menjadi satu.
🔚 Penutup Bab
Langit ilusi berganti. Cahaya dari pintu keluar menyala di ujung.
Kaien berdiri — kali ini, benar-benar berdiri sebagai dirinya sendiri.
Tidak lagi menanggung bayang-bayang. Tidak lagi melangkah dengan beban semu.
Lantai 48 telah selesai.
Tapi waktu belum.
Karena lantai 49… menunggu mereka semua untuk memilih apakah akan bertahan, atau pecah.
BAB 81 DIANTARA HARAPAN DAN KENANGAN
(Fokus: Sylia – Lantai 48)
🏞️Ruang Kosong Tanpa Waktu
Sylia membuka mata.
Ia berdiri di tengah hamparan padang ilusi — namun tak ada angin, tak ada langit.
Hanya… rumput biru, dan sebuah kursi kosong di depannya.
Lalu, sebuah suara terdengar.
Bukan dari luar… tapi dari masa lalu.
“Kau tidak bisa menyelamatkan semuanya, Sylia.”
“Kau kuat… tapi kekuatanmu selalu datang terlambat.”
🧒 Bayangan Anak Kecil
Sosok itu muncul — anak perempuan kecil berambut perak, duduk di kursi itu.
Wajahnya polos… tapi matanya gelap.
“Kau ingat aku?”
“Aku… adalah kau. Sebelum segalanya terbakar.”
Sylia menatap gadis itu.
Tubuhnya menegang. Tapi tidak karena takut.
Melainkan… karena penyesalan.
💔 Masa Lalu yang Tidak Bisa Diperbaiki
“Aku tidak bisa kembali. Semua itu sudah lewat.”
“Desaku. Orang-orangku. Ayah… ibu…”
“Mereka sudah lama jadi abu.”
“Tapi kenapa aku masih di sini?” tanya gadis itu.
“Kenapa kau tidak bisa melupakan?”
Sylia menutup mata.
“Karena aku menjadikan luka itu alasan untuk tetap berdiri.”
“Kalau aku lupakan… maka aku bukan siapa-siapa.”
🔥 Simulasi Pertarungan
Tiba-tiba ilusi berubah — menjadi momen kematian seluruh tim pertamanya.
Satu demi satu mereka terbunuh.
Sylia, berdiri sendiri, dikelilingi tubuh teman-temannya.
Suara gadis itu terdengar lagi:
“Jika kau gagal lagi… bagaimana?”
“Kalau Lucien… Kaien… mereka mati karena kau tidak cukup cepat…?”
Sylia gemetar. Tangannya mengepal.
“Tidak akan.”
“Aku mungkin gagal di masa lalu, tapi kali ini…”
“Kali ini aku akan menebus semuanya — bahkan jika itu mengorbankan diriku sendiri.”
✨ Penerimaan Diri
Gadis kecil itu berdiri.
Langkahnya ringan.
Ia memeluk Sylia.
Dan tubuhnya menghilang perlahan, menjadi partikel cahaya.
“Kalau begitu… ayo selamatkan mereka.”
“Tapi jangan lupa — kau tidak sendiri.
Cahaya putih membelah langit.
Sylia kembali berdiri, napasnya stabil.
Tombak di punggungnya terasa lebih ringan — bukan karena kekuatan berkurang, tapi karena
beban hati perlahan terangkat.
Langkahnya melanjutkan ke arah cahaya.
Di sisi lain, Lucien Drosmere, Kaien Vallis, Seren Elyra, dan Vex Harsal pun mulai keluar
dari tantangan ilusi masing-masing.
Luka batin belum sembuh… tapi tekad mereka lebih tajam dari sebelumnya.
Kelima anggota tim utama — Sylia, Kaien, Lucien, Seren, dan Vex — melangkah bersama
keluar dari lantai 48.
Lantai 48 telah selesai.
Bukan karena pertarungan. Tapi karena mereka semua berhasil melampaui batas diri sendiri.
Bab 81 – Tiga Langkah dari Realita
📍Lantai 49 – Lorong Tanpa Bentuk
Tak ada gemuruh.
Tak ada sambutan sihir.
Hanya keheningan yang mengalir seperti kabut halus di sepanjang lorong batu.
Kaien melangkah paling depan, diapit oleh Lucien dan Seren.
Vex berada di belakang mereka, sesekali memeriksa tanda sihir.
Sylia? Masih diam, tapi pandangannya menyapu setiap sudut dengan mata seorang jenderal yang
terlalu banyak kehilangan.
“Lantai ini... tidak terasa seperti lantai,” gumam Seren lirih.
“Tidak ada formasi dungeon. Tidak ada aliran mana. Tapi... kita tetap di dalam.”
“Seolah kita di antara realita dan tidak.”
⏳ Waktu yang Tak Bergerak
Mereka sudah berjalan selama berjam-jam. Tapi jam sihir milik Vex — yang disinkronkan
dengan waktu dunia nyata — tak berubah.
Lucien mencatat dengan wajah datar.
“Kita masuk zona anomali waktu.”
“Seharusnya kita sudah dua jam di sini, tapi jam dunia luar baru bergerak satu menit.”
“Ini... berbahaya.”
Sylia angkat bicara, untuk pertama kalinya sejak lantai 48.
“Berbahaya, ya. Tapi juga... peluang.”
“Jika kita bisa mengatur waktu kita di sini, kita bisa melatih teknik dan sihir tanpa membuang
waktu di dunia luar.”
Kaien memandang sekeliling.
Batu-batu di sekitar mereka terasa... tak nyata.
Seperti menembus kabut mimpi yang tak berujung.
“Tapi dengan harga: kita benar-benar terputus dari luar.”
“Kalau ada yang terjadi di sini, tidak akan ada yang tahu.”
🌌 Sebuah Pintu di Ujung Sunyi
Setelah hampir setengah hari berjalan — mereka menemukan sebuah pintu lengkung besar,
berdiri di tengah kehampaan.
Tidak terhubung dengan dinding mana pun.
Tidak bertuliskan apa pun.
Tapi di baliknya… terasa ada denyut kehidupan yang tak dikenal.
Seren maju. Tapi ketika tangannya menyentuh gagang pintu — sihirnya mendadak tertekan.
“Ini... semacam segel dimensi.”
“Aku rasa... ini bukan lantai biasa.”
Sylia menatap pintu itu sejenak.
“Lantai 50…” katanya pelan.
“Tapi kita belum sampai. Ini hanya awal dari ujungnya.”
📖 Penutup Bab
Mereka mendirikan kamp sementara di dekat pintu itu.
Tidak ada suara. Tidak ada ancaman. Tapi justru itu membuat semua orang tegang.
Dunia terlalu sunyi untuk sebuah dungeon.
Kaien duduk di sisi luar, memandang ruang hampa yang mengelilingi mereka.
Di kejauhan, dia melihat sesuatu… bayangan samar dari dirinya sendiri, berdiri diam.
“Apa yang sedang menunggu kita di seberang pintu itu?”
“Dan... apa yang sudah kita tinggalkan di belakang?”
🧭 Catatan Akhir
Tim utama sudah memasuki lantai 49 yang berada dalam anomali waktu.
Mereka sadar bahwa ini bukan sekadar ruang fisik, tapi batas antara realita dan sesuatu
yang lebih tua dari sistem dungeon.
Lantai 50 masih belum terlihat, tapi sinyalnya mulai terasa… dari balik pintu sunyi yang
tidak berakar pada dunia ini.
Bab 82 – Kebenaran dari Jarum Waktu
⏳ Waktu yang Tak Sama
Vex duduk bersila di sisi kamp, jam sihir di tangannya berkedip-kedip aneh.
Di sekelilingnya, keheningan masih membungkus lantai 49 seperti kabut bisu.
Ia menghela napas panjang. Sejak kemarin, ada sesuatu yang mengganjal.
“Jam ini... bukan macet.”
“Tapi... dibohongi.”
Tangannya bergerak cepat, membongkar lapisan pelindung jam sihir.
Di balik kristal mananya, ada sistem penyesuaian otomatis—biasanya akan mengkalibrasi waktu
sesuai aliran sihir lokal.
Tapi ada satu masalah:
Kalibrasinya meleset.
💡 Pencerahan
“Vex?”
Lucien menghampiri, melihat Vex yang tengah menatap kristal jam dengan wajah pucat.
“Jam ini bilang kita sudah di sini empat hari,” gumam Vex pelan.
“Tapi sistem internal jam… membaca waktu luar sebagai 92 hari.”
Lucien menegang.
“Kau yakin?”
“Sangat yakin. Lantai ini… memperlambat persepsi waktu kita. Tapi tidak menghentikan waktu
luar.”
“Dengan kata lain… satu hari di sini = 30 hari di luar.”
😶 23 Hari di Dunia Ini = Hampir 2 Tahun di Dunia Luar
Semua orang dikumpulkan.
Kaien, Seren, Sylia—semua mendengarkan penjelasan Vex dengan diam panjang.
Kaien mencatat cepat di buku kecilnya, wajahnya muram.
“Kita... sudah di sini 23 hari.”
“Berarti di luar… sudah lebih dari 22 bulan berlalu.”
Sylia menutup matanya.
Seluruh tubuhnya tegang, tapi nada bicaranya tetap dingin.
“Itu berarti... dunia luar mengira kita sudah... tidak kembali.”
Seren menghela napas.
“Akademi… teman-teman… Elara, Toren…”
“Apa mereka sudah menyerah menunggu?”
🔒 Terjebak atau Diuji?
Kaien melirik kembali ke arah pintu melengkung yang mereka temukan.
Sejak awal, pintu itu tidak terlihat seperti mekanisme dungeon biasa.
“Mungkin ini disengaja.”
“Siapa pun yang membangun dungeon ini... ingin mengisolasi siapa pun yang mendekati lantai
50.”
Lucien menambahkan:
“Dan... bukan hanya untuk membunuh. Tapi mungkin untuk menghapus mereka dari catatan
dunia.”
🛑 Tidak Ada Jalan Mundur
Sylia berdiri, menatap api unggun kecil yang menyala di tengah kamp.
“Kita bisa mundur ke lantai 48 dan kembali ke atas…”
“Tapi jika kita melewati pintu itu, mungkin tak akan ada jalan kembali.”
Ia menatap kelima anggota dengan tajam.
“Mulai sekarang, kita tidak hanya bertarung demi eksplorasi.”
“Tapi demi menemukan kebenaran dari tempat yang bahkan waktu pun tak bisa
menjangkaunya.”
📖 Penutup Bab
Di tengah ruang sunyi dan waktu yang salah,
Lima penyihir berdiri dalam diam.
Dunia mungkin sudah menganggap mereka hilang.
Tapi mereka masih di sini — berdiri di ambang pintu yang tak dikenal.
Kaien menatap langit ilusi yang tak berubah.
“Jika dunia luar sudah melupakan kita…
Maka kita akan membuat dunia ini mengingat.”
Bab 84 – Di Ruang Tanpa Nama
Langkah kelima melewati ambang pintu itu terasa biasa saja.
Langkah keenam... tidak.
Suara lantai batu menghilang, digantikan oleh kehampaan. Udara menjadi berat, seperti cairan.
Dan cahaya obor dari belakang tidak menembus lebih jauh dari beberapa langkah.
Lantai 50 tak seperti lantai-lantai sebelumnya.
Tidak ada batu. Tidak ada langit. Tidak ada kabut.
Mereka berdiri di atas bidang datar — bukan tanah, bukan logam, bukan energi — tapi
permukaan transparan yang seolah-olah mengambang di ruang kosong.
Di bawahnya, seperti awan bergerak perlahan… ada arsitektur reruntuhan: menara patah,
pilar-pilar berputar tanpa gravitasi, dan pecahan-pecahan bangunan yang menyala samar, seperti
fosil waktu yang telah ditelan.
Langit di atas mereka tidak bergerak.
Gelap, tapi tidak hitam.
Kosong, tapi terasa seperti sedang menatap balik.
"Di mana ini?" gumam Seren, pelan.
"Bukan dunia biasa," jawab Lucien, wajahnya tegang. "Bukan bahkan bagian dari dungeon
seperti yang kita kenal."
Kaien melangkah maju, kakinya tak menimbulkan suara. Ia mengaktifkan pelacak sihir, mencoba
memindai ruangan.
Tidak ada dinding. Tidak ada batas.
Tapi ada satu pusat — satu titik terang di kejauhan, lingkaran seperti altar, dan satu sosok
berdiri di sana.
🔍 Sosok Tak Bernama
Jubah putih yang berkilau samar.
Rambut panjang, tapi wajahnya seperti kabur, seperti ditutupi oleh kabut sihir.
Ia berdiri diam, tidak bergerak. Tapi aura yang dilepaskan…
Bukan hanya kuat — tapi asing.
"Itu... bukan makhluk dungeon biasa," kata Vex, merapat ke Sylia.
"Kita belum tahu. Tapi sebaiknya jangan menunggu ia bergerak lebih dulu," balas Sylia, tenang.
🌌 Reaksi Ruang
Begitu mereka melangkah lebih dekat…
Gravitasi menghilang.
Kaien nyaris terpeleset, tapi sihirnya otomatis menstabilkan tubuhnya. Lucien mengaktifkan
mantra pelindung, dan Seren mulai membentuk lapisan pertahanan mental.
Namun satu hal langsung jelas bagi mereka semua:
Di tempat ini, semua hukum sihir... goyah.
"Mana... bergetar. Pola sihir tidak stabil," keluh Seren.
"Seolah-olah... dunia ini menolak dirasuki oleh sihir kita."
"Atau menyaringnya," gumam Kaien.
"Tempat ini seperti ruang cermin... tapi bukan cermin visual—cermin eksistensi."
Sylia mendekat ke tengah.
Aura musuh semakin kuat. Dan kemudian...
Sosok itu membuka mata.
👁 Mata Tanpa Dunia
Tidak ada pupil. Tidak ada warna.
Mata itu seperti... lubang menuju ruang dimensi lain.
Dan saat itu, semua mereka langsung merasa sesuatu menyelusup ke dalam pikiran masing-
masing.
Kenangan, rasa takut, harapan… semuanya bergolak.
Ujian telah dimulai.
“Formasi siap tempur!”
Suara Sylia terdengar lantang.
Kaien menarik napas.
Lucien bersiap.
Seren dan Vex bergerak ke posisi yang ditentukan.
Namun langkah pertama mereka—
Langit runtuh.
Bukan kiasan. Tapi literal.
Langit yang tadi gelap kini pecah seperti kaca, dan dari baliknya, pecahan dimensi
beterbangan, menebas ruang seperti peluru tak kasat mata.
Salah satu potongan hampir mengenai kepala Lucien, tapi Vex menahannya dengan ⟪Mana
Spike⟫ miliknya.
“Kita tidak akan menang jika menunggu!”
Kaien berkata keras. “Kita mulai duluan!”
Sylia tidak menjawab.
Tapi ia bergerak.
Dan dalam satu ayunan tombaknya, pertempuran dimulai.
Bab 85 – Tertawanya Kegelapan
Tombak Sylia meluncur lebih cepat dari suara—menebas ruang, membelah aura, dan
menghantam tepat ke arah sosok berjubah putih itu.
Tapi...
Tak ada bunyi tumbukan.
Tombak itu melewati tubuhnya, seolah ia hanyalah proyeksi cahaya.
“Ilusi...?” gumam Seren.
“Tidak. Ini lebih buruk,” jawab Kaien.
Sosok itu tersenyum. Bukan senyum manusiawi, bukan juga senyum makhluk hidup.
Itu… keretakan kecil pada wajah yang menyerupai wajah.
Dan dari sana, terdengar suara—tidak keluar dari mulut, tapi dari ruang itu sendiri.
"Sudah berapa lama... sejak ada yang mencoba menyentuh ‘inti’ dari dunia ini?"
🌀 Ruang Berubah Bentuk
Lingkungan mereka bergoyang.
Permukaan di bawah kaki berubah menjadi simbiosis antara daging dan logam, denyutnya
seperti jantung yang hidup.
Langit yang tadi pecah menyatu kembali—tapi sekarang berbentuk mata raksasa yang menatap
mereka dari segala arah.
Lucien menahan rasa mualnya.
Kaien mencengkeram dada.
Mana dalam tubuhnya bergerak liar.
“Tempat ini... hidup.”
“Dungeon ini... sadar.”
🔥 Serangan Balasan Dimulai
Tanpa aba-aba, ruang di sekeliling mereka terbakar.
Bukan api biasa, tapi api perusak eksistensi — sihir tingkat 6 yang muncul tanpa mantra, tanpa
pengaktifan, tanpa asal.
Seren berteriak:
“⟪Ether Shell – Double Layer⟫!”
Lapisan pelindung muncul. Tapi serpihan api itu menembusnya, dan menghantam bahu kiri
Seren.
Jeritan kesakitan keluar — tubuhnya tak terbakar, tapi berubah menjadi transparan sebagian.
Seolah dirinya mulai... hilang dari dunia ini.
“Ini bukan sihir biasa!”
“Ini sihir... sistem!”
Lucien mencoba menarik Seren mundur, tapi saat ia mengangkat tangannya untuk ⟪Reflect
Barricade⟫, serpihan hitam melesat — dan menembus perisainya.
Darah keluar dari bibirnya. Tapi ia tetap berdiri.
💥 Strategi Awal – Gagal
Tim utama terpukul.
Vex, yang mencoba membaca ritme sihir musuh, dihantam gelombang sihir mental.
Ia ambruk ke tanah dengan tubuh kejang, berusaha menstabilkan pikirannya.
“Tidak bisa pakai formasi biasa,” kata Kaien cepat.
“Ini bukan musuh yang bisa dilawan dengan posisi standar!”
Sylia mengangguk cepat, dan mengaktifkan Formasi Agresi Tunggal, yang menempatkan
dirinya sebagai pusat perhatian.
Aura tingkat 6 menggelegar dari tubuhnya.
“Kaien. Lindungi Lucien dan Seren.”
“Aku akan membuka celah.”
🧩 Sosok Sejati Terungkap
Sosok putih itu mulai berubah bentuk.
Jubahnya terurai, dan tubuhnya membesar — tapi bukan dalam ukuran, melainkan dalam
kerumitan.
Tubuhnya menjadi tumpukan geometri hidup — bentuk yang tak seharusnya dilihat manusia.
Setiap bagian tubuhnya adalah simbol sihir yang bergerak.
Matanya menjadi pola segel kuno.
“Kalian menantang inti.”
“Selamat datang... di batas dunia.”
Penutup Bab
Pertempuran belum benar-benar dimulai.
Tapi satu hal sudah jelas: ini bukan hanya bos dungeon.
Ini adalah entitas penjaga sistem itu sendiri.
Dan siapa pun yang menang… akan melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat.
Bab 86 – Formasi Pemecah Dimensi
Ledakan pertama membuat lantai berguncang.
Bukan karena kekuatan serangan, tapi karena realita itu sendiri retak untuk sesaat—seolah
aturan fisika dan sihir bergantian memudar dan menyala kembali. Serpihan dimensi beterbangan
seperti kaca.
Kaien berdiri di sisi kanan arena, mata menatap lekat ke arah Sylia yang kini berdiri paling
depan.
Aura tingkat 6 mengelilinginya, berkedip seperti riak air tak stabil.
“Formasi… aktif,” ucap Sylia lirih.
Tubuhnya menyatu dengan jaring mantra ruang-waktu yang dia bangun.
🧱 Perlindungan Terakhir
Di belakangnya, Lucien mendekap Seren yang setengah tubuhnya sudah mulai transparan.
Vex tergeletak, tapi masih sadar. Nafasnya berat, mulutnya berdarah.
“Jangan biarkan dia melepas lebih dari satu sihir lagi,” bisik Lucien.
Kaien mengangguk.
Ia menatap ke depan—ke arah entitas yang bahkan tidak lagi berbentuk makhluk hidup.
Tubuhnya kini seperti formasi rumit dari lapisan mantra hidup.
Satu mata berubah menjadi jam, satu menjadi skrip mantra kuno.
⚔️Serangan Awal
Sylia melesat maju. Tombaknya menyala dengan formasi mantra ganda:
⟪Vector Edge⟫ + ⟪Temporal Pierce⟫
Serangan menusuk udara — dan mengenai salah satu titik inti dari tubuh lawan.
BOOM.
Ledakan besar meledak ke segala arah. Gelombang tekanan sihir menyapu tempat mereka
berdiri.
Kaien harus membuat pelindung cepat:
⟪Ether Barrier⟫
Tapi bahkan dengan sihir tingkat 4 miliknya, ia hanya bisa menahan separuh dampak.
🔄 Musuh Menyesuaikan
Makhluk itu diam. Tapi tubuhnya mulai berubah warna.
Simbol-simbol di tubuhnya mulai berputar ke arah yang berbeda.
Dan saat Sylia hendak menyerang lagi…
“Adaptasi. Tersimpan. Terlindungi.”
BOOM.
Kali ini, Sylia sendiri terpental ke belakang. Tombaknya hancur sebagian.
Kaien bergerak cepat — bukan untuk menyerang, tapi untuk menganalisis.
“Dia menyimpan struktur sihir Sylia.”
“Dan menyusunnya kembali dalam pertahanan…”
🧠 Strategi Baru
Kaien membuka gulungan mantra darurat—yang ia buat hanya untuk situasi ekstrem.
Tangannya gemetar saat ia mengaktifkan serangkaian pola mantra:
⟪Thread Pulse: Fragment Binding⟫
⟪Memory Break – Level 2⟫
⟪Mana Lock: Unstable Spiral⟫
Tiga mantra aktif dalam waktu bersamaan.
Hasilnya: satu serangan arah tinggi, berisi sihir tak stabil yang belum pernah dipakai dalam
pelatihan.
Makhluk itu menoleh. Untuk pertama kalinya… ia bergerak mundur.
💥 Tebusan
Kaien tahu ini akan memantul.
Dan benar saja—setelah mengenai dinding energi monster itu, serangan kembali padanya dalam
bentuk distorsi dimensi.
Seketika tubuh Kaien terdorong ke belakang dan…
“AAARGHH—!”
Bahunya retak, sebagian kulit di lengan kanannya terbakar. Tapi dia tetap berdiri.
🌪️Penutup Bab
Di tengah pusaran sihir dan ruang yang terdistorsi,
Kelima penyihir masih hidup.
Tapi hanya dua yang masih mampu berdiri: Kaien, dan Sylia.
Makhluk itu mulai mendekat, dan dari tubuhnya—muncul satu bentuk baru.
Sebuah cermin transparan… yang memantulkan bukan tubuh—tapi masa lalu.
Dan entah kenapa… di pantulan itu,
Kaien melihat dirinya yang tidak pernah memilih jalan ini.
“Satu keputusan. Satu langkah.”
“Apa kau yakin… ingin terus maju?”
Bab 87 – Refleksi yang Tak Pernah Ada
Cermin itu berdiri diam, tapi auranya bergelombang.
Kaien terpaku — bukan oleh sihir. Tapi oleh sosok yang dia lihat dalam pantulan.
Bukan dirinya yang sekarang. Bukan dirinya yang bertarung, berdarah, atau membawa luka.
Tapi seorang pemuda biasa… yang hidup tenang di desanya.
Tak mengenal sihir. Tak mengenal duka. Tak pernah membaca mantra asal itu di malam dingin
bertahun lalu.
"Jika kau tidak memilih, tidak ada yang perlu dikorbankan."
Suara itu bukan berasal dari luar. Tapi dari dalam dirinya sendiri.
🧠 Interupsi Realita
“Kaien!”
Teriakan Sylia menghempaskan pantulan itu.
Kaien tersadar — cermin itu adalah bagian dari boss dungeon ini.
⟪Mind Echo – Temporal Fragment⟫
Salah satu teknik ilusi tingkat tinggi:
Monster ini bukan hanya kuat dalam sihir dan adaptasi, tapi juga menciptakan jebakan emosi
dari kemungkinan-kemungkinan yang tak pernah terjadi.
"Jika kau menyesal... maka serangan ini akan memantul kembali padamu,"
pikir Kaien, mengingat prinsip dasar sihir cermin refleksi diri.
🧭 Kompas Keyakinan
Kaien mengatur napas.
Darah menetes dari bahunya. Tapi langkahnya stabil.
Satu mantra mulai dibentuk — bukan mantra ofensif, bukan pelindung, tapi…
⟪Anchor Thought – Core Focus⟫
Satu mantra yang menancapkan keyakinan pribadi sebagai jangkar sihir.
Biasanya digunakan untuk bertahan dari serangan mental — tapi Kaien memodifikasinya.
“Cermin ini tak bisa dipatahkan.”
“Tapi bisa diabaikan… jika kau tahu siapa dirimu.”
💥 Serangan Bersamaan
Sylia sudah kembali berdiri di sampingnya.
Wajahnya penuh luka, tapi tatapannya tajam.
“Kaien. Aku akan membuka jalurnya.”
“Satu seranganmu. Jangan ragu.”
Kaien mengangguk.
Jari-jarinya bergetar saat membentuk pola rumit…
⟪Thread Pulse – Reverse Vector – Scale 2⟫
⟪Mana Converge – Target Bind⟫
Sementara itu, Sylia membelah udara.
Tombaknya menusuk lapisan sihir cermin dan mengunci gerakan monster itu selama beberapa
detik.
“Sekarang!”
Kaien melepaskan satu serangan lurus — bukan ke tubuh monster itu, tapi ke dasar
refleksi.
Serangan itu tidak meledak. Tidak menimbulkan kilatan.
Tapi…
CRACK.
Cermin itu mulai retak perlahan, dari tengah —
Retakan kecil… yang menyebar…
Lalu pecah tanpa suara.
📉 Efek Retakan
Begitu cermin hancur, tubuh monster itu bergetar liar.
Semua bentuk sihir di sekelilingnya — dari jam, mantra, hingga cahaya — mulai berdenyut tak
beraturan.
Makhluk itu kehilangan keseimbangan. Ia masih hidup, tapi…
“Pertahanannya terbuka…”
“Tapi hanya sebentar,” ujar Sylia.
🌌 Penutup Bab
Kaien terengah. Pandangannya mulai kabur. Tapi hatinya tenang.
Ia sudah menolak dunia yang tak pernah terjadi.
Dan memilih jalan penuh luka… yang membuatnya tetap berdiri di sini.
Langkah terakhir tinggal satu:
Mengakhiri makhluk ini — sebelum realita benar-benar pecah.
Bab 88 – Di Ujung Satu Serangan (Revisi)
Monster itu masih berdiri, tapi tubuhnya berguncang.
Pola sihir yang menyusunnya bergerak tidak sinkron. Aura dominannya kini goyah—seolah-olah
struktur eksistensinya mulai pecah dari dalam.
Namun bahaya belum usai.
“Kaien, sekarang atau tidak sama sekali!”
seru Sylia, napasnya berat, darah menetes dari pelipisnya.
💥 Satu Mantra, Satu Tujuan
Kaien menggenggam udara. Jemarinya membentuk pola mantra dengan teliti—gerakan lambat
tapi mantap.
⟪Thread Pulse – Chain Layer⟫
⟪Mana Compression – Direct Form⟫
⟪Core Disrupt – Scale 1⟫
Bukan mantra yang pernah ia uji secara penuh. Tapi ia percaya instingnya.
“Jika aku gagal… kami semua akan mati di sini.”
Tapi ini bukan saatnya ragu.
“Jangan ragu. Ini keputusanmu sendiri.”
kata Sylia, tak berteriak, hanya menyampaikan dengan yakin.
Kaien menarik napas, menahan gemetar, lalu melompat ke depan.
Benang sihir membentuk pola seperti sayap retak di punggungnya. Cahaya yang menyala tidak
membakar, tapi mengunci.
⚔️Serangan Terakhir
Mantranya dilepaskan dalam satu hentakan.
⟪Disrupt Convergence⟫
⟪Target Lock⟫
⟪Chain Burst⟫
Titik tengah monster itu membeku.
Sihir seperti tertarik ke satu poros, lalu—
Ledakan tanpa suara.
Partikel cahaya melingkar, meledak dari dalam tanpa percikan api.
Tubuh monster itu runtuh dalam diam.
🌪️Runtuhnya Bentuk
Satu demi satu, bagian tubuhnya menghilang.
Tangan mencair. Kaki berubah menjadi debu sihir.
Matanya, sebelum hancur, masih menatap Kaien—bukan dengan kebencian, tapi…
Dengan pengakuan.
“Kau… adalah anomali…”
Lalu… hilang.
🛡️Setelah Pertarungan
Keheningan turun.
Lucien masih bersandar pada batu, wajahnya pucat, luka panjang di sisi tubuhnya belum berhenti
mengalir.
Seren dan Vex… terbaring tak sadarkan diri. Napas mereka lemah. Vex tampak kehilangan
banyak darah, dan denyut mana Seren tidak stabil.
Mereka masih hidup. Tapi tidak akan bertahan lama jika tidak segera ditangani.
Kaien menyeret tubuhnya ke arah mereka.
🧪 Mantra Darurat
Ia meletakkan tangan ke dada Vex.
Lalu ke Seren.
⟪Healing Pulse – Basic Conduit⟫
⟪Pain Cut – Local Area⟫
Sihirnya bukan penyembuhan penuh. Hanya pereda nyeri.
Memperlambat kerusakan jaringan. Membantu mereka bertahan… sedikit lebih lama.
“Tahan… Aku tidak bisa menyembuhkan. Tapi rasa sakitnya akan berkurang,” bisik Kaien.
Sylia mengamati dari jauh. Ia tidak ikut mendekat.
Tubuhnya sendiri sudah terlalu letih. Tapi dia tahu: pertarungan ini sudah selesai.
Penutup Bab
“Kita hidup…”
bisik Kaien, menatap langit-langit dungeon yang perlahan berubah menjadi cahaya emas.
Lantai 50 telah dikalahkan.
Tapi tim hanya tersisa bayangan kekuatan mereka yang dulu.
Dan tidak ada jalan kembali… kecuali melalui waktu.
Bab 89 – Dunia yang Telah Berubah
Keheningan memenuhi lantai 50.
Tidak ada suara monster. Tidak ada getaran sihir. Hanya napas berat dan detak jantung yang
bergema di antara reruntuhan arena.
Kaien duduk bersandar pada dinding batu yang retak. Ujung jubahnya hangus, telapak tangannya
masih gemetar dari mantra terakhir.
Lucien terbaring tidak jauh darinya, matanya menatap langit-langit batu, penuh lelah... tapi sadar.
Sementara itu, Sylia berdiri di tengah puing, diam.
Tatapannya tidak tertuju pada mayat monster yang telah hilang menjadi debu sihir—melainkan
pada dua tubuh yang tak bergerak: Seren Elyra dan Vex Harsal.
🔁 Keheningan yang Berbicara
“Bagaimana mereka?” tanya Sylia, akhirnya memecah sunyi.
Kaien menoleh pelan, menggeleng.
“Stabil… untuk sekarang. Tapi tidak bisa bertahan lama. Penyembuhanku… hanya menunda
rasa sakit.”
Sylia mendekat. Ia berlutut di samping Vex, menempelkan telapak tangan ke dadanya.
Tak ada mantra. Hanya aura sihir tipis yang ia rasakan.
“Jantungnya melemah. Mana-nya tidak bisa mengalir sempurna lagi.”
Lalu ke Seren. Napas gadis itu dangkal—nyaris tidak terdengar.
“Dan dia… tubuhnya menolak pemulihan.”
Lucien ikut bicara pelan, “Kalau kita terlambat sedikit saja, mereka takkan kembali.”
🧭 Kesadaran yang Menyesakkan
Sylia bangkit.
Pandangan tajamnya kini menatap ke langit-langit lantai 50 yang mulai berubah—muncul
cahaya samar dari tengah ruangan, pertanda jalur keluar telah aktif.
“Kita tak bisa menunggu lebih lama.”
Kaien berdiri, masih goyah. “Apa kita benar-benar harus kembali?”
Sylia menatapnya. Matanya tajam, tapi suara lembut.
“Ini bukan soal pilihan, Kaien.
Kalau mereka tetap di sini… mereka mati.”
🎯 Keputusan Komandan
Sylia menarik napas dalam.
“Kita bawa mereka kembali ke lantai 45. Gunakan jalur naik tercepat dari sana—5 lantai per
segel.”
Ia menoleh pada Lucien.
“Kau bisa jalan?”
Lucien mengangguk pelan. “Belum mati. Masih bisa mengikuti.”
Sylia memandang Kaien satu kali lagi, lalu berkata:
“Kaien, bantu aku kawal jalur belakang.
Jika kita bertemu ancaman lagi… kita pastikan tidak ada yang tertinggal.”
Kaien menunduk sedikit. “Dimengerti.”
🛡️Penutup Bab
Tim utama mulai bergerak perlahan. Vex dibopong oleh Lucien dan Kaien secara bergantian.
Seren ditangani langsung oleh Sylia.
Saat langkah mereka melewati portal keluar lantai 50, cahaya keemasan menyelimuti tubuh
mereka.
Tapi di balik cahaya itu, satu kenyataan mulai terasa:
Dunia di luar… mungkin tak lagi sama.
Bab 90 – 23 Hari di Bawah, Dua Tahun di Atas
Langkah kaki menggema di sepanjang koridor batu yang mengarah dari lantai 50 ke lantai 45.
Tak ada monster. Tak ada suara aneh. Hanya keheningan… dan rasa berat yang membebani
punggung mereka.
Tiga sosok berjalan dengan napas berat.
Kaien dan Lucien menopang Vex Harsal yang masih tak sadarkan diri. Di sisi lain, Sylia
menggendong Seren Elyra dengan mantelnya sebagai alas, menjaga setiap gerakan agar tak
mengguncang luka dalam yang belum sembuh.
Mereka baru berjalan selama dua hari—tapi saat portal keluar dari lantai 46 terbuka, sesuatu
terasa aneh.
🕰️Perbedaan Waktu
Vex bergumam pelan dalam kesadarannya yang separuh kabur.
“Bintang… kenapa berubah...?”
Lucien menghentikan langkah. Menatap langit semu dari lantai transisi antara dungeon dan
permukaan.
“Cahaya langit ini… tidak sama. Ini bukan ilusi sihir biasa.”
Kaien menatap jam sihir pribadinya — sebuah perangkat temporal sederhana yang biasa
digunakan penyihir untuk menghitung waktu dalam dungeon.
Waktunya masih menunjukkan Hari ke-23 sejak mereka memasuki lantai 46.
Namun, saat mereka mencapai lantai 45… mereka melihat sesuatu yang membuat dunia mereka
goyah.
📜 Pengumuman Dunia
Dinding sihir lantai 45 kini memiliki ukiran yang belum ada sebelumnya — sebuah proyeksi
pengumuman.
[Ekspedisi Tim Utama – Status: Hilang Kontak]
[Waktu sejak kontak terakhir: 2 Tahun, 1 Bulan, 9 Hari]
Mereka semua membeku.
Kaien menatap Sylia. Lucien menatap ke langit-langit batu.
Vex bahkan berusaha bangun, meski tubuhnya belum kuat.
“Dua… tahun?”
Sylia berjalan perlahan ke dinding, menyentuh permukaan proyeksi itu dengan sihirnya sendiri.
“Perbedaan waktu… tiga puluh kali lipat,” gumamnya.
🧠 Pemahaman Baru
Kaien bergumam, “Itu berarti… satu hari di lantai 46–50, sama dengan satu bulan dunia luar.”
Lucien menambahkan, “Mereka… dunia… pasti mengira kita sudah mati.”
Sylia mengangguk.
“Tim dua dan tiga sudah kembali ke permukaan.”
“Mereka pasti… mengumumkan kehilangan kita.”
Kaien menunduk. “Toren. Elara. Semua orang…”
🛑 Keputusan
Sylia menarik napas dalam.
“Kita tidak bisa langsung kembali ke permukaan.”
Lucien mengangkat alis. “Kenapa?”
“Kita butuh rencana. Kalau kita muncul begitu saja… akan memicu guncangan politik dan
kepercayaan dunia terhadap sistem ekspedisi.”
“Lebih baik kita pulihkan kondisi dulu. Kembali dengan langkah yang terukur.”
Kaien setuju. Tapi ia menatap langit dinding lantai 45 — dengan raut yang menyimpan satu
tekad.
“Aku harus bertemu mereka lagi.”
Penutup Bab
Tim utama, yang selama ini dianggap hilang—
telah kembali.
Tapi dunia yang mereka kenal...
mungkin tidak lagi sama.
Dan nama Kaien Vallis yang dulu hanya desas-desus di antara para petualang—akan segera
kembali menjadi pusat perhatian dunia.
Bab 91 – Cahaya di Balik Debu
Portal dari lantai 45 menuju permukaan berpendar dalam warna keemasan yang menyilaukan.
Kaien berdiri di depan gerbang sihir itu, menatap cahayanya dengan perasaan campur aduk.
Di belakangnya, Lucien menyesuaikan jubahnya—yang sudah penuh robekan, meski telah
diperbaiki sementara.
Sementara itu, Sylia memeriksa kondisi Vex dan Seren untuk terakhir kalinya sebelum naik ke
atas.
“Stabil?” tanya Kaien, lirih.
Sylia mengangguk. “Untuk sekarang. Tapi kita harus segera ke pusat medis utama di Archem.”
“Kalau mereka tidak langsung ditangani... luka dalamnya bisa menetap.”
Kaien mengepalkan tangan. “Kalau waktu benar-benar berlalu dua tahun... siapa yang masih ada
di atas sana?”
🏰 Ibukota Archem – Dua Tahun Kemudian
Udara ibukota terasa berbeda.
Lebih berat, lebih diam, dan lebih waspada.
Sejak hilangnya tim utama ekspedisi—yang dipimpin oleh penyihir legendaris Sylia Marzen—
kepercayaan publik terhadap keamanan dungeon telah diguncang.
Kejadian itu menjadi luka nasional.
Masyarakat mengingatnya sebagai tragedi.
Sekolah-sekolah sihir menjadi lebih hati-hati.
Dan bahkan Dewan Penyihir Agung mengubah protokol ekspedisi.
Tak ada yang menyangka bahwa suatu hari—
Portal di ruang transisi utama ibukota kembali menyala.
🚨 Kembali dari Kematian
Petugas penjaga awalnya mengira itu hanya resonansi sihir.
Tapi saat lima siluet muncul dari cahaya keemasan itu—
suara alarm langsung terdengar di seluruh fasilitas.
“Dari… lantai 45?! Itu jalur portal darurat!”
“Hentikan semua sihir defensif! Panggil tim medis!!”
Pintu sihir terbuka.
Sylia melangkah keluar lebih dulu, membawa Seren di punggungnya. Di belakangnya, Lucien
menopang Vex yang sudah mulai sadar, tapi lemah.
Kaien berjalan paling terakhir. Matanya menyapu sekeliling—mengenali keheningan yang tidak
biasa.
Semua orang menatap.
Dunia berhenti sejenak.
📣 Pengumuman yang Mengguncang Dunia
Hari itu, lonceng besar di Menara Siaran Sihir berdentang lima kali — sinyal darurat skala
global.
Layar-layar sihir di kota-kota besar menyala serentak.
Warga yang semula beraktivitas biasa mulai berkumpul di pusat informasi.
Lalu, sebuah suara wanita mengudara, jernih dan tenang:
“Kepada seluruh rakyat di bawah naungan Federasi Archem…
Kami mengumumkan bahwa tim utama ekspedisi dungeon lantai 50, yang sebelumnya
dinyatakan hilang… telah kembali.”
Keheningan menyapu seluruh ruang siaran.
Mata warga membelalak, mulut terbuka, tangan gemetar.
“Penyihir Elit Sylia Eclaire, bersama dua penyihir muda Kaien Vallis dan Lucien Drosmere,
telah keluar dari dungeon dalam keadaan hidup.”
🏘️Di Kota-Kota Besar
Di ibukota Archem, tepuk tangan spontan terdengar di jalan-jalan.
Para penjual menurunkan keranjang dagangan mereka, ikut bersorak.
Siswa akademi saling menepuk punggung, sebagian bahkan menitikkan air mata.
“Jadi… mereka tidak gugur?”
“Kaien… aku ingat nama itu! Dia dari angkatan spesial!”
“Lucien juga… dia juara turnamen tahun lalu!”
🏞️Di Desa-Desa Kecil
Di pinggiran desa tempat Kaien dulu dilahirkan, seorang tua menatap langit.
“Anak itu… akhirnya kembali.”
Anak-anak berlarian membawa berita, menggambar sihir api kecil-kecilan di udara sambil
berseru:
“Kaien sang Penakluk Dungeon!”
“Sylia si Nona Cahaya!”
🧑🏫 Di Akademi dan Fasilitas Pelatihan
Di fasilitas sihir keluarga Elara, beberapa penyihir elit tengah berlatih saat siaran berlangsung.
Elara — yang baru saja menyelesaikan satu sesi — berhenti seketika saat mendengar nama itu.
Tangannya mengepal.
Matanya bergetar.
“Jadi kau benar-benar bertahan… Kaien.”
🏛️Di Aula Dewan Penyihir
Para anggota dewan sihir saling berpandangan.
“Jika mereka selamat… artinya lantai 50 berhasil ditembus.”
“Apakah… kita harus mulai mempertimbangkan ekspedisi lanjutan?”
Satu suara tua bergema:
“Belum. Biarkan mereka bicara lebih dulu. Dunia baru saja melihat secercah harapan.
Tapi apa yang ada di balik itu… kita belum tahu.”
✨ Penutup Bab
Dari desa hingga kota, dari ruang latihan hingga ruang kekuasaan,
semua mata kini tertuju pada tiga nama:
Sylia. Kaien. Lucien.
Dunia mungkin mengira mereka telah gugur.
Tapi ternyata, mereka kembali.
Membawa kabar… dan pertanyaan.
🧩 Penutup Bab
Di ruang perawatan utama Archem, Sylia duduk di samping tempat tidur Vex dan Seren.
Lucien sedang diperiksa, dan Kaien berdiri di jendela—menatap langit malam yang tak lagi sama
seperti yang dia ingat.
“Dua tahun hilang. Tapi hanya dua puluh tiga hari bagi kami...”
Dunia mulai berputar kembali.
Tapi bisikan tentang apa yang mereka hadapi di lantai 50—dan mengapa mereka bisa kembali—
belum akan reda.
Dan satu pertanyaan mulai menyebar di kalangan para penyihir elit:
“Apa sebenarnya yang menunggu di lantai 51 ke atas?”
Bab 92 – Pantulan Dunia Lama
Udara sore di ibukota Archem terasa asing bagi Kaien.
Meski jalan-jalan tetap sama, atmosfernya berubah.
Namun, langkahnya tak ragu.
Hari ini... dia akan menepati janji.
🏛️Di Pelataran Akademi Sihir Archem
Sinar keemasan senja menyapu pelataran utama akademi.
Di tengah kerumunan murid dan penyihir muda—dua sosok menunggu.
Yang pertama, seorang wanita muda dengan rambut perak keunguan, berdiri tegap dalam mantel
hitam keperakan. Lambang keluarga terpampang jelas di bahunya.
Yang kedua, pria bertubuh kekar dengan jubah pelindung sihir, wajahnya penuh harap dan
gugup.
Elara.
Toren.
Begitu Kaien muncul di kejauhan, waktu seolah melambat.
“Kaien...” bisik Elara, nyaris seperti doa yang tertahan.
Tanpa menunggu lebih lama, Elara langsung berlari. Langkah-langkahnya ringan, tapi penuh
emosi.
Dan begitu jarak cukup dekat—
—ia memeluk Kaien erat.
Kaien terkejut sesaat.
Tapi lalu tangannya perlahan membalas pelukan itu.
Lengan Elara bergetar. Dan di bahunya, Kaien bisa merasakan satu, dua tetes air mata jatuh.
“Dasar bodoh... kau bilang cuma sebentar...”
“Kau bahkan tak memberi kabar...”
Kaien tak bicara. Tapi genggamannya cukup kuat untuk mengatakan: “Maaf. Aku kembali.”
⚔️Toren, Sahabat yang Tak Pernah Jauh
Toren mendekat beberapa langkah, tangan di pinggang.
“Kalau kau peluk dia lebih lama, aku bisa merasa tersisih,” canda Toren.
Kaien tertawa kecil. “Kau juga berubah banyak, Toren.”
Toren mengangkat perisainya.
“Sudah jadi penyihir pertahanan tingkat lima. Dan siap berdiri paling depan kalau ada yang coba
menyentuh kalian.”
🌟 Elara, Penyihir yang Menyusul Cahaya
Elara akhirnya melepaskan pelukannya, meski enggan. Matanya masih memerah.
“Aku menyusulmu, Kaien. Dengan jalanku sendiri.”
Ia mengangkat tangan.
Pola sihir muncul—halus, kompleks, dan bercahaya.
⟪Ignis Pulse – Arc Spiral⟫
Sihir tingkat lima yang hanya bisa dicapai oleh penyihir elit.
“Bukan hanya untuk mengejarmu... tapi untuk berdiri di sampingmu.”
Kaien menatapnya lama—dan untuk sesaat, dunia terasa sunyi.
🤝 Janji yang Kini Dipegang Erat
Mereka berdiri berhadapan.
Tiga orang yang dulu hanya murid biasa.
“Lantai 50 bukan akhir,” ujar Kaien.
“Masih ada kedalaman yang menunggu.”
“Kau akan turun lagi?” tanya Elara, suara pelan, tapi matanya tak goyah.
Kaien mengangguk.
“Tapi kali ini, aku takkan pergi sendiri.”
Toren menepuk bahunya. Elara tersenyum dengan pipi sedikit memerah—tapi penuh keyakinan.
“Tiga jalan. Satu tujuan.
Kita sudah berjanji.”
📘 Penutup Bab
Di pelataran yang dulu penuh dengan kenangan,
tiga sahabat kini berdiri sebagai penyihir elit.
Tak lagi bayangan masa lalu—tapi cahaya masa depan.
Dan romansa yang dulu samar…
Kini mulai menemukan tempatnya.
Bab 93 – Jejak yang Tertinggal
🌅 Senja di Atas Ibukota
Sore itu, langit Archem berwarna jingga kemerahan.
Dari atas balkon sebuah kedai kecil, tiga orang duduk bersama.
Bukan sebagai murid.
Bukan sebagai penyihir.
Tapi sebagai sahabat lama yang akhirnya berkumpul kembali.
“Kau tahu…”
Toren menyeruput minumannya, “Aku sempat taruhan dengan instruktur bahwa Kaien sudah jadi
tulang sihir di lantai 40.”
“Aku lebih parah,” timpal Elara. “Aku sampai ikut mimpi buruk Kaien tiap malam selama
sebulan.”
Kaien hanya tersenyum sambil menatap cakrawala.
“Maaf… tapi aku tidak menyesal.”
“Tidak menyesal karena bertahan… atau karena membuat kami cemas?”
Elara menatapnya, setengah protes.
“Dua-duanya,” jawab Kaien.
Tawa pelan pun mengisi udara. Bukan tawa keras, tapi tawa yang datang dari rasa lega yang
dalam.
☕ Meja Kayu, Cerita dan Candaan
Toren memukul meja ringan.
“Dengar. Mulai hari ini, aku bakal daftar jadi pelindung tim-mu kalau kau ekspedisi lagi.”
“Kalau kau pikir bisa kabur diam-diam kayak dulu, aku pasang rune pelacak di sepatumu.”
“Dan aku,” Elara menimpali sambil menyilangkan tangan, “akan melaporkan langsung ke kepala
akademi kalau kau tidak pamit sebelum pergi.”
Kaien menatap mereka berdua, lalu menunduk sedikit.
“Kalian masih sama seperti dulu.”
“Dan kau juga,” kata Elara pelan, “Masih suka menyimpan semuanya sendiri.”
💬 Percakapan yang Tak Lagi Butuh Kata
Beberapa menit berlalu dalam diam.
Tapi bukan diam yang canggung.
Melainkan diam yang tenang — seolah tak perlu kata-kata untuk menjelaskan kebahagiaan bisa
duduk di tempat yang sama.
Di antara mereka, ada luka yang tak akan sembuh.
Tapi juga ada harapan yang belum pernah padam.
✨ Penutup Bab
Sebelum matahari benar-benar tenggelam,
Kaien menatap mereka berdua—dan berkata:
“Terima kasih… karena tetap percaya padaku.”
“Setelah semua ini… aku tidak ingin berjalan sendiri lagi.”
Elara tersenyum. Toren mengangguk mantap.
“Maka, jangan pernah coba-coba kabur lagi.”
“Kau bukan penyihir bayangan, Kaien. Kau punya cahaya.”
Bab 95 – Sidang Dewan dan Kabar dari Kedalaman
🏛️Aula Tertinggi, Dewan Federasi Archem
Ruang itu tak pernah dipakai kecuali untuk keadaan darurat skala dunia.
Dinding batu yang dilapisi glyph pelindung bergema pelan oleh bisik-bisik para anggota.
Mereka adalah penyihir-penyihir tertinggi, petinggi militer, perwakilan akademi, dan pemimpin
daerah.
Di tengah aula, kursi kehormatan Sylia masih kosong.
📜 Laporan Langsung
“Lantai 50 telah ditaklukkan,” ucap salah satu penyihir intelijen, berdiri sambil membaca kristal
rekaman sihir.
“Namun kondisi tim sangat memprihatinkan. Dua penyihir elit, Vex Harsal dan Seren Elyra,
mengalami luka berat. Satu nyaris kehilangan kesadaran sepenuhnya.”
“Tiga lainnya—Kaien Vallis, Lucien Drosmere, dan Sylia Eclaire—berhasil keluar dengan luka
ringan.”
“Durasi ekspedisi mereka: 23 hari di dalam… yang berarti hampir dua tahun waktu dunia nyata.”
Suara riuh mulai terdengar. Beberapa bangkit dari tempat duduknya.
“Dua… tahun?”
“Jadi spekulasi tentang distorsi waktu di bawah lantai 45 itu benar?!”
🌀 Pembahasan: Distorsi Waktu & Bahaya Eksistensial
Seorang penyihir berambut perak, anggota dewan riset sihir purba, berdiri.
“Distorsi waktu 30:1 bukan hanya anomali—ini ancaman.
Dunia bisa berubah sepenuhnya, sementara penyihir kita baru bergerak satu langkah.”
“Jika lantai berikutnya memiliki rasio yang lebih tinggi…”
“Atau jika makhluk dari sana keluar ke permukaan tanpa distorsi—”
“—maka mereka akan bergerak 30 kali lebih cepat dari kita.”
Hening.
🧭 Keputusan Strategis
Seorang jenderal mengetuk tongkatnya.
“Saya usulkan agar lantai 50 ditutup untuk sementara.”
“Penyelidikan harus diprioritaskan. Dan tidak boleh ada ekspedisi baru sampai data lengkap
tersedia.”
Perwakilan Akademi Sihir Renastra angkat bicara.
“Tapi menutupnya berarti kehilangan momentum. Ini adalah titik balik. Dunia tahu… kita
akhirnya menyentuh lantai 50.”
“Kita harus memberi harapan.
Bahkan jika hanya setitik cahaya di tengah kegelapan itu.”
🚪 Pintu Terbuka, Sang Saksi Hadir
Pintu aula terbuka pelan.
Langkah-langkah ringan namun tegas terdengar.
Sylia Eclaire melangkah masuk, mengenakan jubah resmi berwarna abu terang dengan emblem
ekspedisi di dada kirinya.
Semua mata tertuju padanya.
“Maaf atas keterlambatan.”
“Tapi jika kalian bicara tentang lantai 50, izinkan aku—yang melihatnya langsung—untuk bicara
lebih dulu.”
✨ Penutup Bab
Dewan terdiam.
Penyihir yang selama ini dianggap ‘mitos hidup’ kini berdiri di hadapan mereka.
Bukan sebagai pahlawan. Tapi sebagai saksi… dan peringatan.
“Lantai 50 bukan hanya ujian kekuatan,” ujar Sylia.
“Itu adalah pesan.
Dunia ini… sedang dinilai.”
Bab 96 – Kesaksian Sylia dan Kebenaran Lantai 50
🌫️Sorotan Semua Mata
Suara di aula menghilang seperti kabut yang tersibak angin.
Tak satu pun berani memotong ucapan Sylia, wanita yang baru kembali dari kedalaman yang tak
pernah dijamah siapa pun.
Ia menatap seluruh anggota dewan satu per satu.
“Aku tidak datang untuk menerima penghargaan.
Aku datang untuk memperingatkan kalian—bahwa dunia ini… sudah berada di ambang.”
🩸 Luka yang Tak Terlihat
Sylia melangkah maju ke tengah panggung sihir yang menyala.
Sebuah proyeksi terbentuk — memperlihatkan fragmen ingatan visual dari lantai 50.
Dalam fragmen itu:
Vex terhuyung dan hampir jatuh ke jurang sebelum Kaien menariknya.
Seren berteriak melawan ilusi mental, darah menetes dari matanya.
Lucien menahan dinding pelindung yang hampir runtuh.
Satu sosok bersinar—Sylia, mengangkat tombaknya dan memecahkan segel sihir kuno.
“Kami bukan menang. Kami selamat,” ujarnya.
“Dan itu—dengan harga yang nyaris tak tertanggung.”
⌛ Distorsi Waktu dan Bahaya yang Tertinggal
“Waktu... tidak berjalan normal di sana.”
“Kami kehilangan dua tahun dalam dua puluh tiga hari.”
“Bayangkan... jika makhluk di dalam itu berhasil menemukan jalan keluar.
Mereka bisa menghancurkan kota—sebelum kita sempat membentuk pertahanan.”
Salah satu anggota dewan menelan ludah.
“Apakah Anda menemukan… sesuatu di balik lantai 50?”
Sylia diam sejenak.
“Ada sesuatu yang menunggu.”
“Bukan hanya kekuatan. Tapi… kehendak.”
🛡️Usulan Sylia
“Aku tidak meminta ekspedisi lanjutan.”
“Aku meminta perlindungan.”
“Seluruh dunia harus bersiap.
Dan aku akan mulai dari sini—dengan membentuk pasukan sihir elit, bukan hanya dari akademi,
tapi dari setiap kerajaan yang siap mengirimkan anak-anak terbaiknya.”
“Karena pertarungan berikutnya... bukan tentang seberapa kuat sihirmu,
tapi seberapa dalam kau mengenal batas dirimu sendiri.”
✍️Keputusan Awal Dewan
Setelah hening yang panjang, kepala dewan akhirnya bersuara.
“Kami akan mempertimbangkan pembentukan pasukan sihir gabungan.”
“Namun, semua kegiatan ekspedisi ke bawah lantai 50… ditangguhkan. Untuk saat ini.”
Sylia tidak membantah.
Ia hanya membungkuk ringan — lalu berbalik.
“Jika kalian tidak datang ke sana…” katanya pelan sambil melangkah keluar,
“…maka cepat atau lambat—mereka yang ada di sana akan datang ke kalian.”
🌌 Penutup Bab
Di luar ruang dewan, langit masih tampak utuh.
Tapi bagi Sylia, Kaien, dan mereka yang turun ke kedalaman…
Mereka tahu: langit itu sudah retak. Hanya belum runtuh.
Bab 97 – Suara dari Dasar Dunia
🕳️Senyap yang Bukan Ketiadaan
Jauh di bawah permukaan dunia…
Melewati lapisan batu, sihir, dan dimensi yang retak…
Ada satu ruang.
Satu lantai.
Satu kedalaman.
Lantai 100.
Tempat yang tak pernah disentuh manusia.
Tempat yang bahkan tidak lagi menyimpan monster.
Karena semua monster… telah dipanggil.
🩸 Suara Tanpa Wujud
Gelap. Tanpa cahaya. Tanpa batas.
Lalu, suara itu datang. Tidak dari udara, tidak dari suara fisik—tapi dari kesadaran.
“Retakan itu makin dekat…”
“Mereka sudah mencapai lantai lima puluh…”
“…satu dari mereka… menyentuh jantung dunia.”
Dari kegelapan, cahaya samar mulai menyala. Bukan cahaya sihir, tapi sinyal.
Sinyal untuk bangkit.
🧠 Entitas yang Tidak Sendiri
Sosok itu berdiri—jika bisa disebut berdiri—karena wujudnya bukan fisik.
Tubuhnya berubah bentuk, bergelombang seperti asap yang padat,
dengan mata—bukan satu—tapi lusinan, yang terbuka perlahan, satu demi satu.
“Satu pengguna tingkat enam… satu keturunan dari sihir lama… satu yang belum terbangun…”
“...dan satu yang menolak takdirnya.”
“Cukup sudah.”
“Kita tidak bisa menunggu.”
🛠️Protokol Aktif: Zona Penjaga
Di bawah lantai 50, ada zona terlarang.
Sistem lama menyebutnya: Zona Penjaga, dari lantai 51 hingga 60.
Entitas itu menengadahkan tangannya—dan seperti komando yang sudah ditulis dalam hukum
sihir purba,
Gerbang pada lantai 51 pun aktif.
⚔️Pasukan Kegelapan Dikerahkan
Retakan dimensi terbuka.
Dari berbagai sisi, makhluk-makhluk muncul:
Monster berselubung logam, tanpa wajah, hanya cakar dan perintah.
Wujud-wujud kabut yang bisa menyusup ke dalam sihir musuh.
Entitas tingkat tinggi yang pernah disebut dalam mitos kuno—Apostle-class.
Mereka semua mengalir ke lantai 51 hingga 60.
“Bersiaplah.”
“Bangun barisan. Bangun pertahanan. Bangun penjagamu.”
“Karena dunia atas telah menatap kita—dan kita akan menatap kembali.”
🧩 Lantai 61–100: Kosong, tapi Bukan Mati
Lantai-lantai terdalam kini sepi.
Kosong dari monster.
Kosong dari pergerakan.
Tapi bukan karena tak ada yang bisa tinggal di sana.
Melainkan karena semua kekuatan… telah dikonsentrasikan di satu tempat.
“Biarkan mereka berpikir mereka menang.”
“Biarkan mereka naik.”
“Dan saat mereka datang kembali…”
“…akan ada keheningan. Keheningan terakhir.”
🕯️Penutup Bab
Di permukaan, matahari masih bersinar.
Di akademi, para penyihir belajar sihir dan berpikir dunia masih bisa diselamatkan.
Tapi jauh di dasar dunia,
Satu entitas baru saja membuka perang—bukan sekadar pertempuran.
Dan detaknya kini… menuju ke atas.
🧭 Proposal Sylia
"Aku ingin ekspedisi lanjutan menuju lantai 60.
Tapi bukan sekarang.
Bukan dengan cara lama.
Aku minta waktu dua tahun."
Para anggota dewan kembali berbisik.
"Aku ingin menyusun timku sendiri.
Tanpa campur tangan pihak lain.
Tanpa titipan.
Tanpa pengawasan di luar komando langsungku."
“Hanya satu tim?”
“Ya. Tapi cukup untuk menembus yang belum pernah ditembus.”
Sylia meletakkan satu gulungan kristal sihir ke meja. Di dalamnya — rekaman waktu berbeda,
pembuktian waktu yang terdistorsi, dan energi yang tidak dikenali oleh sistem sihir saat
ini.
“Ini bukan soal menjelajah.”
“Tapi soal menjaga dunia kita tetap utuh.”
🕯️Hasil Rapat
Setelah satu jam pembahasan intens…
Setelah perdebatan antara akademisi dan petarung sihir…
Dewan mengambil keputusan.
“Proposal diterima.”
“Ekspedisi lanjutan ke lantai 60 akan dilakukan… dua tahun dari sekarang.”
“Tim ekspedisi akan dikomandoi langsung oleh Sylia Rael.”
“Dan—hingga saat itu, seluruh akses menuju dungeon ditutup. Lantai 1 hingga 50... dikunci.”
🌌 Setelah Rapat
Di luar ruang sidang, Sylia berjalan seorang diri.
Langit sore menyambutnya dengan warna emas tembaga.
Pikirannya kembali pada satu nama—Kaien Vallis.
“Kau belum selesai, kan?”
“Karena aku pun… belum.”
Ia memandang ke arah Menara Utama Akademi.
Dari kejauhan, ia bisa melihat siluet seseorang di balkon lantai atas. Sosok yang diam-diam
memperhatikannya juga.
Tapi belum saatnya untuk kembali bicara.
Belum saatnya untuk memanggil.
Dua tahun.
Waktu yang cukup… untuk menyiapkan perang yang sebenarnya.
Lapangan Utama Ibukota — 3 Hari Setelah Rapat Dewan
Ribuan orang berkumpul di alun-alun utama ibu kota. Para penyihir, bangsawan, pedagang,
bahkan rakyat biasa, semua berdiri dalam kerumunan yang padat.
Layar sihir raksasa memantulkan bayangan dari Menara Sihir Agung.
Di sana, tampak seorang penyihir resmi dari Dewan Sihir berdiri di atas podium kristal
transparan.
Suara sihir diperbesar dan diperjelas oleh menara pantulan suara.
📜 Pengumuman Resmi
“Hari ini, Dewan Sihir mengumumkan keputusan penting bagi masa depan umat manusia.”
Kerumunan mendadak hening.
“Mulai hari ini, seluruh akses ke dalam dungeon ditutup. Dari lantai 1 hingga 50 — semua
titik masuk akan dikunci dengan segel sihir tingkat tinggi.”
Desahan mengejutkan terdengar dari penonton. Sebagian besar petualang dan penyihir muda
langsung bereaksi.
“Langkah ini diambil berdasarkan anomali waktu yang ditemukan di lantai bawah, yang
membahayakan keselamatan siapa pun yang masuk tanpa persiapan.”
“Namun... harapan belum padam.”
Layar berganti, menampilkan siluet Sylia Rael berdiri di depan dungeon bersama lima penyihir
ekspedisi.
“Dua tahun dari sekarang — Ekspedisi Lanjutan ke Lantai 60 akan dimulai.”
“Dipimpin langsung oleh Sylia Rael — pemimpin dari ekspedisi penyihir yang berhasil kembali
dari lantai 50”
“Ekspedisi ini akan membawa dunia ke era baru.”
🌪️Reaksi Dunia
Di berbagai tempat, suara riuh langsung meledak:
Di akademi sihir Renastra, para murid menatap layar dengan campuran kekaguman dan
ketakutan.
Di kota pelabuhan, para petualang mengumpat karena tidak bisa lagi mengambil misi
dungeon.
Di desa-desa, para orang tua mulai khawatir… dan mulai berdoa.
Di aula pelatihan milik keluarga Elara, sang pewaris muda hanya mengepalkan tangan.
“Dua tahun… bukan waktu yang lama.”
Di tengah kerumunan yang masih bergemuruh, seseorang berdiri di atap salah satu menara tua.
Kaien menatap langit yang mulai gelap.
“Dua tahun, ya…”
“Dunia akan berubah lagi.”
Dan ia tahu — dirinya tak bisa sekadar menunggu.
🌙 Bab 99 – Dalam Diam, Tertanam Janji
Lokasi: Balkon Timur – Menara Tempat Tinggal Sementara Sylia
Udara malam terasa sejuk, langit dipenuhi bintang. Di balkon luas itu, hanya ada tiga orang
berdiri dalam diam.
Sylia Rael, dengan jubah panjang dan rambut tergerai, menatap dua anak muda yang telah
menembus batas dunia bersamanya.
Kaien Vallis dan Lucien Drosmere, kini berdiri sejajar, wajah mereka tidak lagi membawa
kebingungan remaja—melainkan keyakinan seorang penyihir sejati.
🗨️Sylia: Wejangan Sang Komandan
Sylia memandang keduanya, lalu bersuara dengan nada tegas tapi penuh makna.
“Dua tahun dari sekarang... kita akan kembali.”
“Namun bukan hanya sebagai penyintas, bukan hanya sebagai pengamat.”
“Kita akan menyerang balik ke jantungnya.”
Lucien mengangguk pelan.
Kaien diam… tapi sorot matanya menyala.
Sylia melanjutkan:
“Kalian berdua akan jadi fondasi tim itu. Tapi aku tidak ingin kalian sekadar bertahan…”
Ia menatap Kaien dalam.
“Kaien, kau punya kekuatan yang bahkan belum kau sadari seutuhnya. Tapi ingat, kekuatan
tanpa kendali… bukanlah kekuatan, melainkan kutukan.”
Ia lalu memutar pandang ke Lucien.
“Lucien, insting dan analisismu menyelamatkan nyawa lebih banyak daripada seranganmu.
Pertahankan itu. Dan asah lebih jauh.”
Ia mengambil napas dalam, lalu mendekat. Tangan kanan Sylia terulur, menepuk bahu mereka
berdua.
“Dua tahun ini bukan waktu untuk istirahat. Tapi waktu untuk membangun ulang.”
“Lantai 50 hanyalah gerbang. Di balik itu... ada sesuatu yang lebih dalam, lebih besar, dan
mungkin… lebih kejam dari apa pun yang telah kita lawan.”
🔚 Penutup Bab
Malam terus berlalu, namun percakapan mereka tetap hidup di udara.
Sebelum berbalik, Sylia sempat berucap sekali lagi, nyaris seperti gumaman:
“Kita tidak akan mati di bawah sana. Tidak lagi.”
Langkahnya perlahan menghilang di balik bayangan pintu.
Meninggalkan Kaien dan Lucien berdiri bersama, memandangi dunia yang sedang menanti
perubahan.
🌱 Bab 100 – Tiga Jalan, Satu Tujuan
Lokasi: Fasilitas Latihan Keluarga Elara – Distrik Selatan, Wilayah Pegunungan Rendah
Angin berhembus kencang di dataran tinggi. Suasana sunyi pecah oleh dentuman sihir yang
saling beradu di antara tiga sosok yang tengah bertarung dalam simulasi intensif.
Di tengah lapangan latihan yang dikelilingi formasi pelindung sihir, berdiri:
Kaien Vallis – kini lebih tenang, lebih presisi, dan lebih berbahaya dari sebelumnya.
Elara Valcielle – rambut peraknya berkibar, sihir tingkat 5-nya mulai menunjukkan
stabilitas yang belum pernah dimiliki sebelumnya.
Toren Avelhart – berdiri kokoh seperti dinding baja, tubuhnya memancarkan sihir
pertahanan yang berlapis-lapis, meski tekanan dari Kaien meningkat.
⚔️Latihan Bertiga
"Kita mulai dari awal," ucap Kaien, berdiri di depan mereka dengan mata tajam.
"Bukan untuk menguasai satu mantra besar… tapi untuk menyatukan niat, bentuk, dan
reaksi."
Elara mengangguk, dan Toren mengepalkan tinjunya. Mereka tahu — latihan ini bukan sekadar
fisik. Ini tentang menerobos batas, seperti yang telah Kaien lakukan.
💥 Simulasi Latihan: Penetrasi Pertahanan Toren
Elara meluncurkan ⟪Crystalline Arrow⟫ dari sisi kiri.
Kaien menekuk tangan dan melempar ⟪Pulse Arc⟫ rendah ke arah tanah, membuat ledakan
kecil.
Toren menahan keduanya — tapi keringatnya mulai menetes. Dia tidak sekadar menahan sihir…
dia menghitung, menganalisis, membaca ritme serangan dua pengguna sihir tingkat tinggi.
“Kalian... terlalu keras,” gerutunya — tapi senyum tipis muncul di wajahnya.
🔁 Hari Berganti Hari
Elara mulai memperdalam penguasaan sihir tipe "Fusion", mencoba menyatukan dua
jenis elemen dalam satu mantra.
Toren berlatih hingga tubuhnya jatuh berkali-kali — tapi bangkit lagi. Ia ingin jadi
perisai terakhir bagi tim mana pun.
Kaien? Ia hanya berkata pelan, "Aku belum puas… Masih banyak hal yang belum aku
pahami dari sihir tingkat 6."
Latihan ini tidak dipimpin oleh instruktur. Tidak ada penonton.
Tapi tiga hati berdetak dengan tujuan yang sama: menjadi cukup kuat untuk tidak tertinggal.
🌄 Penutup Bab
Senja turun, cahaya jingga menyapu langit.
Mereka duduk bertiga di atas batu besar, memandangi ufuk.
“Dua tahun lagi...” gumam Elara.
“Kita akan masuk ke tempat yang tidak bisa dijangkau siapa pun.”
Kaien menatap lurus ke depan.
“Dan kita tidak akan mati di sana.”
Toren hanya menepuk bahu keduanya.
“Selama kita bertiga saling percaya, aku rasa... kita bisa bertahan.”
🕰️Bab 101 – Dunia yang Tak Sama Lagi
⏳ Dua Tahun Berlalu...
Sejak ekspedisi terakhir, dunia telah berubah.
Namun perubahan itu tak datang dari atas — melainkan dari dalam dungeon.
🏰 Pengumuman Resmi dari Dewan Sihir Dunia
“Mulai hari ini, semua lantai dungeon dari 1 hingga 50 dinyatakan berbahaya.”
“Monster dari lantai atas telah berpindah ke lantai bawah dan bertelur kembali. Kami tidak
lagi bisa menjamin keamanan lantai mana pun.”
Setelah bertahun-tahun dungeon dianggap bisa dikendalikan, kini ia berubah menjadi labirin
kematian yang lebih aktif — dan lebih padat dari sebelumnya.
🧭 “Setiap jalur teleportasi internal telah rusak.
Pasukan ekspedisi mendatang harus berangkat dari lantai 1.”
— Dewan Sihir Utama
🐲 Kenyataan Baru Tentang Dungeon
Monster lantai rendah kini jauh lebih kuat.
Tidak ada jeda aman setiap 5 lantai seperti sebelumnya.
Mekanisme waktu anomali masih aktif di lantai 46 ke bawah.
Seolah dungeon menyadari bahwa ia sedang diselami terlalu dalam… dan kini, ia melawan.
🧠 Penelitian dan Ketakutan
Para peneliti menemukan pola:
Monster yang dulu hanya muncul di lantai 40 ke atas — kini muncul sejak lantai 5.
Mereka berkembang, berubah, bahkan berasimilasi dengan elemen baru.
“Ini bukan lagi hanya dungeon.”
“Ini ekosistem sihir... yang tumbuh dan menyesuaikan diri dengan para penantangnya.”
🛡️Dunia Bersiap
Organisasi-organisasi besar memperketat latihan. Akademi sihir melahirkan lebih banyak
penyihir tempur.
Namun tetap — ekspedisi selanjutnya hanya akan dipimpin oleh satu tim.
Tim Sylia.
Dengan kekuatan elit dan strategi independen, mereka akan menjadi harapan terakhir untuk
menembus lantai 100.
🔚 Penutup Bab
Kaien berdiri di depan gerbang besar dungeon.
Bersama Lucien, Elara, dan Toren, mereka menatap gelap yang sama… tapi kali ini dengan
persiapan lebih matang.
“Kita mulai lagi... dari awal.”
“Dari lantai 1.”
Dan di kedalaman tak terlihat, sesuatu bergerak.
Menunggu mereka.
⚔️Bab 102 – Pengumuman Tim Ekspedisi
🏛️Aula Utama Dewan Sihir Dunia – Tiga Bulan Sebelum Ekspedisi
Suasana aula sihir terasa berat, bukan karena jumlah orang yang hadir, tetapi karena nama-nama
yang akan disebutkan.
Dari sudut podium, seorang penyihir tertua berdiri—jubahnya mengalir seperti kabut, suaranya
menggema dengan mantra pengikat.
“Hari ini, kita mengumumkan tim ekspedisi utama yang akan melakukan perjalanan penuh dari
lantai satu menuju lantai seratus.”
“Dipimpin oleh penyihir tingkat enam pertama yang mencapai lantai 50... Sylia Caerwyn.”
Seketika aula hening. Semua tahu—ini bukan hanya ekspedisi. Ini adalah tulang punggung
harapan umat manusia.
📜 Daftar Tim Ekspedisi – Tim Khusus “Ark Spear”
Ketua Ekspedisi
🔹 Sylia Caerwyn — Master Tombak Sihir Tingkat 6
“Satu-satunya penyihir yang telah melihat lantai 50 dan kembali.”
Wakil Ketua
🔸 Kaien Vallis — Penyihir berbakat dengan keahlian tak terklasifikasikan
“Pemegang potensi tersembunyi. Satu-satunya peserta ekspedisi yang tidak kehilangan kendali di
lantai terdalam.”
Wakil Kedua
🔸 Lucien Drosmere — Penyihir Pertahanan & Analisa
“Penyihir Strategis. Tangan kanan Sylia dalam navigasi dan sihir pertahanan.”
👥 Anggota Tim:
🔹 Elara Vareth — Penyihir Elemen, tingkat 5
“Pengguna sihir elemen tinggi. Didikan keluarga bangsawan yang menguasai pertarungan udara
dan elemen gabungan.”
🔹 Toren Ardell — Penyihir Pertahanan, tingkat 5
“Tank utama. Fokus pada sihir perisai dan benteng.”
🔹 Seren Elyra — Penyihir Tempur, tingkat 5 (dapat mengakses tingkat 6 satu kali)
“Salah satu dari dua elit veteran ekspedisi pertama. Pengendali mantra serangan beruntun.”
🔹 Vex Harsal — Penyihir Tempur, tingkat 5 (dapat mengakses tingkat 6 satu kali)
“Partner tempur Seren. Spesialis sihir ledakan dan tekanan area.”
🔹 Ravyn Estrale — Penyihir tingkat 4
“Bakat muda yang menanjak tajam. Dikenal karena akurasi dan konsistensi dalam duel.”
🔹 Sandy Mirell — Penyihir Support tingkat 5
“Spesialis penyembuhan dan augmentasi. Dipilih langsung oleh Dewan karena catatannya yang
nyaris sempurna dalam penanganan sihir medis.”
🎙️Deklarasi Penutup
“Mereka sembilan orang inilah yang akan menantang lantai-lantai yang tak bisa disentuh orang
lain.”
“Mulai dari lantai 1. Menuju lantai 100.”
“Dari sembilan jiwa ini… akan lahir sejarah baru umat manusia.”
📘 Penutup Bab
Di tengah kilatan sihir simbolis dari Dewan, satu demi satu anggota tim berdiri di atas panggung.
Kaien dan Lucien berdiri di sisi Sylia.
Di bawah cahaya yang turun dari kubah sihir... mereka semua tampak seperti bayangan masa
depan.
Satu tujuan.
Satu jalan.
Satu tantangan: menaklukkan dunia di bawah tanah.
⚔️Bab 103 – Hari Persiapan
🕘 Tiga Hari Sebelum Turun ke Dungeon
Ruangan latihan bawah tanah Akademi Sihir Renastra tidak pernah terasa sesunyi ini.
Sembilan orang berdiri dalam satu formasi. Di hadapan mereka, Sylia Caerwyn—sang
pemimpin ekspedisi—mengamati satu per satu wajah yang telah dipilih dengan sangat hati-hati.
Tak ada pidato panjang. Tak ada formalitas.
Hanya satu suara, datar namun tajam.
“Kalian dipilih bukan karena kuat. Tapi karena bertahan.”
📋 Arahan Pertama – Formasi Tim
Sylia melangkah ke tengah arena latihan, lalu menjentikkan jari. Sebuah ilusi tiga dimensi
muncul, memvisualisasikan formasi pertempuran yang rapi dan dinamis.
Barisan Depan (Vanguard):
Toren Ardell (Tank utama)
Kaien Vallis (Penyerang utama, fleksibel)
Barisan Tengah (Core):
Lucien Drosmere (Pertahanan & Analisa)
Elara Vareth (Sihir elemen & pendukung serangan)
Sandy Mirell (Support & pemulihan cepat)
Barisan Belakang (Flank & Reaksi):
Seren Elyra
Vex Harsal
Ravyn Estrale
“Aku akan mengisi posisi netral dan rotasi—tempat paling berbahaya sekaligus yang paling
fleksibel.”
📌 Arahan Kedua – Peraturan Internal
Sylia menurunkan ilusi formasi, lalu menatap mereka dengan pandangan tajam.
“Satu, tak ada yang bertindak sendiri.”
“Dua, saat aku katakan mundur, mundur. Bahkan jika lawan tinggal satu pukulan dari mati.”
“Tiga, jika satu dari kita jatuh, jangan langsung mendekat. Penarikan harus sistematis.”
“Dan terakhir—kalian wajib menyimpan satu mantra penyelamat. Untuk orang lain. Bukan diri
kalian.”
Hening.
Tak satu pun dari mereka menjawab. Tapi semua menyerap setiap kata seperti mantra pengikat
hidup.
🧠 Strategi Khusus – Uji Kesetiaan Formasi
Lucien mengangkat tangan.
“Kita akan menghadapi medan penuh anomali. Aku ingin pengujian ulang terhadap tiga jenis
sihir: resonansi ruang, pelindung anti-distorsi, dan peredam mental.”
“Akan kubantu,” tambah Sandy pelan. “Jika medan tekanan mental seperti lantai 45 terulang,
kita harus punya jalur isolasi.”
Sylia hanya mengangguk.
“Kalian tahu kenapa hanya kalian yang dipilih. Mulai sekarang, tidak ada kata ‘menunggu
siap’. Kalian akan bertarung dengan waktu.”
💬 Jeda Interaksi Ringan
Di sela latihan, Elara menghampiri Kaien yang sedang mengikat ulang sarung tangan sihirnya.
“Dulu, kita hanya berlatih di taman Akademi, ya?”
Kaien tersenyum tipis. “Sekarang, taman kita… seratus lantai di bawah tanah.”
Mereka tertawa kecil—sementara Toren bergabung dengan membawa tiga botol air.
“Tak kusangka kita satu tim lagi. Tapi... kali ini, tidak ada tempat untuk gagal.”
Kaien hanya menatap keduanya, lalu mengangguk. “Kita bertiga akan pulang bersama. Seperti
janji itu.”
🕯️Penutup Bab
Malam itu, ketika semua anggota kembali ke kamar masing-masing, Sylia tetap tinggal di
ruang latihan.
Dia menatap formasi yang masih terpantul di lantai sihir.
“Sembilan dari kami… melawan seluruh kedalaman dunia bawah.”
Dan di balik tatapannya, tersimpan satu hal yang tak dia katakan ke tim.
Lantai 51 bukan hanya permulaan baru. Tapi garis pemisah antara manusia… dan
sesuatu yang lebih tua dari sihir itu sendiri.
⚔️Bab 104 – Penurunan Kedua
🕘 Hari Ke-0 – Penurunan yang Tak Sama
Langit mendung di atas kawah Renastra terasa menindas, seolah mengingatkan bahwa waktu
tidak menyembuhkan segalanya.
Di hadapan mulut dungeon, sembilan sosok berdiri dalam keheningan. Mereka bukan lagi
sekadar tim ekspedisi—mereka adalah pengingat bahwa lantai 50 bukanlah akhir.
“Dulu kita mulai dari lantai 36. Sekarang… dari awal,” bisik Kaien, mata menatap lurus ke
dalam kegelapan.
“Dan kita bukan orang yang sama,” jawab Lucien, mantap.
Tim Ekspedisi Sylia resmi memulai penurunan kedua.
🩸 Lantai 1–5 — Anomali Awal
Mereka hanya butuh langkah pertama untuk tahu… sesuatu telah berubah.
Monster pertama muncul di lantai satu. Tapi ini bukan goblin atau beast biasa. Satu lompatan,
satu aura—dan Ravyn langsung mengangkat perisainya.
“Itu... bukan seharusnya muncul di sini!”
Seekor Gore Hound Rank-B, makhluk yang biasanya muncul di lantai 20 ke atas, menerjang
mereka.
Elara melepaskan sihir tingkat 5 — ⟪Flare Spiral – Crater Bloom⟫.
Boom!
Lantai batu meledak. Darah monster mendidih. Tapi butuh 3 mantra tingkat 5 untuk
membunuhnya.
“Ini bukan penyambutan… ini peringatan,” gumam Sylia.
🔥 Lantai 6–15 — Tekanan Tanpa Henti
Mereka melaju, dan tiap lantai semakin dipenuhi makhluk dengan kekuatan tak wajar.
Setiap monster — bahkan shadow beast, chimera kecil, hingga corrupted sprite — memiliki
resistensi sihir hingga tingkat 4.
Toren berdiri paling depan, menerima serangan demi serangan.
Sandy menjaga formasi dengan penguatan dan perisai sihir.
Kaien dan Elara silih berganti merapal sihir ofensif tingkat 5.
“Tiap lantai terasa seperti ujian boss,” ujar Vex, napas berat.
“Dungeon ini… tak lagi ingin kita turun,” jawab Sylia.
🧠 Lantai 16–25 — Mutasi Sadar
Makhluk-makhluk di sini bukan hanya kuat. Mereka mulai meniru taktik.
Beberapa membentuk formasi sendiri, bahkan menghindari mantra tertentu.
“Mereka belajar…” bisik Lucien.
“Atau diajari,” balas Kaien.
Seren menggunakan mantra tingkat 5 yang langka — ⟪Frozen Tesseract⟫ — untuk
membekukan dua monster peniru sihir. Tapi butuh kombinasi mantra 5 tingkat untuk
memusnahkan mereka.
Di lantai 20, mereka menghadapi Swarm Keeper—makhluk mengendalikan lima monster kecil
sekaligus.
Butuh Gabungan Sihir Tingkat 5 dari Kaien, Elara, dan Lucien untuk menghancurkannya.
🧱 Lantai 26–35 — Pertahanan Alam Bawah
Makhluk-makhluk mulai menguasai bagian dungeon.
Banyak yang bersembunyi di reruntuhan sihir dan menggunakan medan sebagai senjata.
Ravyn hampir terkena jebakan sihir reflektif — jika bukan karena Toren, dia mungkin
kehilangan tangan kirinya.
“Tempat ini berubah jadi medan perang tetap,” ujar Sylia.
Di lantai 30, mereka menghadapi Dread Minotaur—monster dengan resistensi sihir tingkat 5.
Namun Kaien dan Lucien menutupnya dengan sihir gabungan — ⟪Arc Bind: Ruin Split⟫.
Butuh sihir tingkat 6 dari Sylia untuk melukai makhluk itu.
🔻 Penutup – Gerbang Kedua
Di hadapan pintu lantai 36, mereka berdiri, tubuh penuh luka dan sihir terkuras.
“Kalau lantai satu hingga tiga puluh lima begini...”
“...apa yang menunggu di bawah?” bisik Seren.
Sylia menatap langit-langit batu dengan mata dingin.
“Lantai ini… sudah bukan tempat hidup.”
“Mulai dari sini, bahkan waktu bisa memihak monster.”
Perjalanan ke dalam neraka baru saja dimulai.
⚔️Bab 105 – Hari ke-10: Batasan Baru
📍 Waktu: Hari ke-10
📍 Lokasi: Gerbang Lantai 36
Di hadapan mereka berdiri pintu batu hitam dengan ukiran baru yang belum pernah ada dua
tahun lalu. Bukan simbol kuno, melainkan pola-pola seperti urat sihir hidup, berdenyut pelan…
seolah menunggu.
“Kau lihat itu?” gumam Kaien.
“Ukiran hidup…” bisik Lucien. “Dungeon ini—bukan tempat mati lagi. Ia bernafas.”
Sylia berdiri di tengah formasi, menatap ke bawah dengan ragu sesaat.
Dia menoleh ke semua anggota.
🔥 Lantai 36 – Monster Tak Bisa Dihancurkan
Langkah pertama ke lantai 36 langsung dihentikan oleh dua sosok tinggi besar yang berdiri di
tengah lorong.
Golem Batu Abyssal, tubuhnya memantulkan sihir tingkat 5 seperti angin.
Kaien langsung bereaksi:
⟪Breaker Ring – Tier 5⟫
Ledakan sihir menghantam tubuh golem—dan tidak menimbulkan luka sedikit pun.
“Tak berefek…!”
⟪Thunder Spiral – Omega⟫
Lucien memanggil petir berlapis:
—hasilnya? Sama.
“Kita perlu sesuatu yang lebih tinggi…”
“Aku pancing satu,” ucap Sylia, tenang.
Dia mengangkat tombaknya dan merapal dengan napas teratur.
⟪Tomb of Searing Descent⟫ — Sihir Tingkat 6
Langit lorong runtuh. Api langit menyatu dengan titik tubuh golem, dan makhluk itu meledak
menjadi debu.
Satu golem roboh. Tapi yang satunya langsung berubah wujud—menyerap sihir yang tersisa dan
menciptakan armor hitam keras di tubuhnya.
“Evolusi…?”
“Tidak… itu bukan monster biasa,” ucap Seren, dengan wajah pucat.
🧠 Serangan Mental Lanjutan
Aura sihir di lantai ini berbeda.
Seren dan Vex mulai merasakan gangguan mental lagi, seperti saat lantai 45 dulu. Tapi kali ini,
efeknya lebih halus, lebih menyusup.
Elara membantu menyegel efek itu dengan sihir penyembuh dan pelindung aura tingkat 5 —
tapi itu hanya memperlambat.
🕸️Lantai 37 – Perangkap Dimensi
Lantai 37 berubah menjadi lorong labirin berisi perangkap dimensi.
Toren hampir tertarik ke ruang hampa jika Sandy tak menariknya tepat waktu dengan ⟪Mana
Pull – Stability Bond⟫.
Monster di sini menyerang bukan dengan kekuatan… tapi membawa lawan ke dimensi sihir
penguras jiwa.
Lucien melepaskan ⟪Null Pulse – Reality Clamp⟫, mantra Tier 6 yang mampu menstabilkan 1
dimensi lokal.
Baru setelah itu, mereka bisa melawan kembali.
⚔️Lantai 38–40 – Pengulangan Neraka
“Kita pernah di sini… tapi tempat ini bukan yang sama.”
Lantai-lantai ini seperti versi gelap dari ekspedisi dua tahun lalu.
Makhluk-makhluk yang mereka hadapi dulu, kini berevolusi.
Monster boss di lantai 40 dulu—yang butuh 5 bab untuk dikalahkan—kini hanya penjaga
lorong di lantai 39.
Tiap makhluk, tiap serangan, hanya bisa dilawan dengan sihir tingkat 6 atau kombinasi tingkat
5 oleh 3 orang sekaligus.
💀 Lantai 41 – Jalanan Kabut
Dan saat mereka melangkah ke lantai 41, kabut turun kembali.
“Mustahil… kabut ini pernah muncul dua tahun lalu,” ucap Lucien.
“Kalau kabut ini kembali… berarti musuh di dalam sedang mengawasi,” jawab Kaien.
Penutup Bab 105
Hari ke-10 mereka tutup di dalam kabut.
Tubuh luka. Mana menipis. Tapi tekad mereka masih ada.
Dan semua tahu…
“Mulai dari sini… kematian tidak akan memberikan petunjuk.”
“Hanya langkah… dan siapa yang berani menapaknya.”
⚔️Bab 106 – Lantai 41: Bayangan Tanpa Sumber
"Tak ada suara. Tak ada angin. Tapi kabut ini… menekan dari dalam dada."
📍 Lokasi: Lantai 41
📍 Hari ke-11
Tim utama ekspedisi melangkah pelan.
Kabut putih menutup jarak pandang di atas tiga meter. Bahkan cahaya sihir pun hanya
menembus tipis—seolah terserap oleh udara itu sendiri.
Sylia berdiri paling depan, tombaknya tidak diarahkan ke depan, tapi ditahan di samping tubuh,
siaga.
“Jangan serang sembarangan. Apa pun yang kalian lihat di kabut ini, konfirmasi dulu. Bisa jadi
bukan nyata.”
Kaien melirik ke sisi kanan, di mana Elara dan Toren bergerak berpasangan.
“Toren, pasang perisai sihir secara berlapis. Jangan hanya di depan.”
“Sudah kupasang empat. Tapi... tekanan ini bukan fisik,” balas Toren, napasnya berat.
Lucien, yang berada sedikit di belakang mereka, membuka satu mantra pelacak.
⟪Echo Sight – Deep Pulse⟫
Satu denyutan sihir mengalir pelan dari tubuhnya, menggetarkan udara. Tapi—tidak ada respon.
Tak ada bayangan musuh.
Kosong.
“...Sesuatu menelan radar sihirku. Tapi aku yakin ada sesuatu di sini.”
🌫️Serangan Pertama
Tiba-tiba, kabut di sisi kiri Kaien berputar cepat. Bukan angin. Bukan sihir. Tapi seperti...
gravitasi yang terbalik.
Dari pusaran kabut itu—muncul satu sosok hitam.
Tanpa suara. Tanpa aura sihir.
Toren langsung bergerak, mengayunkan tameng perisai tingkat 5:
⟪Aegis Shell – Iron Bloom⟫
Serangan ditahan. Tapi… tidak ada hantaman. Sosok itu tidak menabrak. Tidak menyerang.
Ia hanya menyentuh tameng Toren… dan tangan Toren berdarah.
“Apa?! Serangannya tembus tameng?”
Kaien langsung bergerak. Mantra cepat:
⟪Seal Thread – Phase Lock⟫
Benang sihir menjerat sosok itu—dan seketika makhluk itu menghilang.
🧠 Serangan Kedua: Mental
Detik berikutnya, Elara terduduk. Matanya kosong.
“Elara! Ada apa?”
“...Mereka. Mereka... hidup lagi...”
Suara Elara gemetar.
Sosok-sosok yang muncul di kabut bukan monster, melainkan proyeksi orang-orang dari masa
lalu. Ilusi mental yang sangat tajam.
Sandy, penyihir support terbaik, segera merapal mantra perlindungan aura:
⟪Mind Bind – Sanctuary Shell⟫
Aura itu menutup kepala Elara dan sebagian area, menghentikan serangan ilusi untuk sementara.
🧩 Analisis Sylia
“Makhluk di sini tidak memiliki bentuk tetap. Mereka muncul sebagai kenangan... atau bayangan
kita sendiri.”
Sylia menatap sekeliling.
“Tapi mereka nyata. Dan mereka bisa membunuh.”
Lucien menambahkan:
“Sihir tingkat 6... mungkin tidak mempan pada bentuk mental ini. Kita butuh sinergi.”
☠️Sosok Hitam Muncul Lagi
Kali ini, muncul tiga sosok.
Satu menyerupai Kaien.
Satu menyerupai Sylia.
Satu menyerupai Lucien.
“Mereka... kita sendiri?” gumam Lucien.
Kaien langsung bereaksi:
“Jangan lihat mata mereka. Itu pintu masuknya.”
🔥 Kaien Menghancurkan Ilusi
Kaien merapal sihir baru:
⟪Vector Rejection – Mirror Breaker⟫
Satu lingkaran sihir menyebar, membalikkan arah semua sihir yang bersumber dari dalam
kepala.
—dan sosok hitam itu pecah. Seperti kaca yang dihantam keras.
Semua ilusi… hilang.
🛑 Penutup Bab
Mereka bertahan. Tapi semua menyadari:
“Lantai ini... tak ingin kita lewat.”
“Dan ia tahu cara membuat kita menghancurkan diri sendiri.”
Di ujung lorong kabut, satu bayangan baru mulai terlihat.
Sosok berkerudung… tidak bergerak.
Lantai 42... menunggu.
⚔️Bab 107 – Lantai 42: Ingatan yang Tidak Pernah Ada
"Apa yang lebih menakutkan dari kenangan? Jawabannya: kenangan yang tak pernah ada, tapi
terasa nyata."
📍 Lokasi: Lantai 42
📍 Hari ke-12
Kabut telah hilang. Namun ketenangan yang menyambut mereka terasa… terlalu sunyi.
Koridor panjang dengan dinding batu hitam membentang. Tidak ada percikan cahaya dari kristal.
Sumber pencahayaan hanya berasal dari sihir pencahayaan para penyihir.
Sandy menghela napas, mengatur sihir perlindungan mental.
“Efek kabut sudah turun... tapi aku masih merasa tak nyaman. Ada sesuatu yang... memerhatikan
kita.”
Kaien berjalan paling depan bersama Sylia. Matanya terus memindai setiap sudut.
“Tempat ini tidak memberi tekanan langsung. Tapi membuatmu... ragu dengan setiap langkah.”
👣 Jejak yang Tidak Dikenali
Lucien berhenti di satu titik.
“Lihat ini.”
Di lantai… ada jejak kaki. Banyak. Tapi semuanya berbalik arah.
“Ini... seperti orang-orang yang masuk ke sini dan kemudian memutuskan untuk keluar. Tapi tak
ada satu pun jejak masuk. Hanya jejak mundur.”
Toren menatap jejak itu lama.
“Bahkan langkah kaki pun... takut untuk maju.”
🧠 Ilusi Baru
Tiba-tiba, dinding di sisi kanan bergetar, dan... membuka seperti pintu.
Di dalamnya, bukan ruang batu, melainkan… desa Kaien. Dalam keadaan terbakar.
“...Tidak. Ini tidak nyata,” Kaien bergumam.
Tapi tubuhnya tertarik untuk masuk.
Sylia memanggil:
“Kaien! Jangan masuki apapun yang muncul tanpa konfirmasi!”
Tapi saat Kaien menoleh, suara dari dalam ruangan terdengar:
“Kael… anakku…”
Suara ibunya. Yang sudah lama tiada.
Langkah Kaien terhenti.
💥 Reaksi Cepat
Lucien langsung bereaksi.
⟪Hex Seal – Mind Fracture Lock⟫
Segel sihir dilempar ke arah ilusi tersebut. Ruang itu meledak dalam suara berderak. Dinding
kembali menjadi batu. Desa pun menghilang.
Kaien masih berdiri diam, rahangnya mengeras.
“Bukan sekadar ilusi… itu… memori buatan.”
🕳️Lubang yang Tak Berdasar
Di tengah lantai, mereka menemukan lubang raksasa. Tapi ketika dijatuhkan batu atau sihir
cahaya ke dalamnya, tidak ada gema. Tidak ada pantulan cahaya.
Seperti... bukan lubang, melainkan pembatalan eksistensi.
Sylia menatap tajam.
“Lantai ini... bukan hanya membuat kita melawan ilusi. Tapi menghapus batas antara realita dan
rekayasa.”
Sandy melanjutkan:
“Aku... merasa seperti pernah ke sini. Tapi aku tahu itu tidak mungkin.”
⚠️Kemunculan Musuh
Saat mereka mendekati tangga menuju lantai berikutnya, satu entitas jatuh dari langit-langit.
—seperti bayangan yang mencair.
Tapi saat berdiri... wujudnya berubah-ubah. Sekali terlihat seperti Elara, kemudian Lucien, lalu
Kaien sendiri.
“Ini… bukan monster. Ini… kemungkinan,” bisik Lucien.
Makhluk itu menyerang tanpa suara, dan tanpa aura.
🔥 Kaien Menyegel
Kaien maju:
⟪Thread Core – Reversion Zone⟫
Sihir berbasis manipulasi bentuk: memaksa objek atau makhluk kembali ke bentuk asal terakhir
yang diketahui.
Makhluk itu menggeliat… dan mulai retak.
Wujudnya berpendar… dan kemudian meledak menjadi kabut warna hitam.
🧭 Jalan Terbuka
Tangga menuju lantai berikutnya terbuka.
Tanpa kata-kata, tim melanjutkan langkah.
Tapi satu kalimat muncul di benak semua anggota:
"Jika lantai 42 menampilkan kemungkinan... apa yang akan mereka hadapi di bawahnya?"
Bab ditutup dengan satu core memory yang muncul di sudut pandang Kaien:
Sosok seorang wanita yang tidak pernah ia ingat, tetapi wajahnya terasa familiar…
Dan suara yang berkata:
"Apa yang kau pikirkan selama ini… mungkin bukan milikmu."
Bab 108 – Detak yang Menggema di Kedalaman
POV: ??? — Entitas di Kedalaman
"Ada detak langkah. Ada gema suara.
Ada yang kembali. Maka… waktunya tiba."
🌑 Lokasi: Suatu tempat jauh di bawah lantai 50
Ruang hampa tanpa bentuk. Tanpa warna. Tanpa waktu.
Namun di dalamnya… sesuatu terjaga. Belum bangun sepenuhnya. Tapi mendengar.
🌪️Gema dari Atas
Gema langkah manusia.
Bukan satu. Tapi sembilan.
Bukan para pemula. Tapi… mereka yang membawa napas tingkat keenam. Satu di antaranya
bahkan melewati batas yang tidak diizinkan.
"Dia datang kembali..."
"Yang melukai lantai ini. Yang mencoretkan sihirnya di dinding waktu."
Satu suara lagi terdengar dalam keheningan:
"Apakah waktunya...?"
☠️Perintah Tanpa Suara
Tidak ada kata. Tapi ribuan makhluk di lantai 46 hingga 50 mendadak berhenti bergerak.
Mereka menoleh ke atas — ke arah tangga yang belum terbuka.
Dan seperti dikendalikan oleh suatu kehendak tak terlihat, mereka berbaris.
Menempati lorong. Mengisi ruang kosong. Menjaga jalan.
Yang biasanya hanya menjadi penjaga pasif, kini mereka bangkit.
Tidak untuk menguji.
Tapi untuk menolak semua yang datang.
🔥 Evolusi Instan
Beberapa monster bahkan berubah bentuk.
Menyerap energi sihir dari lantai.
Mengakses kekuatan yang belum pernah muncul di lantai itu sebelumnya.
"Mereka datang bukan hanya untuk menjelajah."
"Mereka ingin menyentuh kebenaran yang disegel."
"Maka, biarkan lantai 46 hingga 50 menjadi pintu terakhir."
🧠 Sistem Dungeon Mengaktifkan Protokol
⟪PROTOKOL: ABSOLUTE GUARDIAN⟫ AKTIF
Target: Penetrasi manusia dengan sihir tingkat 6 terdeteksi
Kondisi: Sistem Waktu Tetap Aktif (30:1)
Status: Lantai 46-50 Dipenuhi. Pergeseran entitas prioritas dimulai...
🔮 Di Kedalaman yang Lebih Gelap…
Sosok yang tak bernama mengangkat satu tangan.
Lalu menunjuk ke atas, ke arah Lantai 50.
"Jika mereka sampai di sini… maka aku akan bangkit."
"Tapi sebelum itu, uji mereka. Hancurkan tekad mereka."
"Dan jika mereka bertahan… maka kita akan bertemu."
🧩 Penutup Bab
Di lantai 50, sebuah lingkaran besar di tengah altar mulai menyala pelan.
Dan di baliknya, mata kuno yang lama tertutup — mulai terbuka sedikit demi sedikit…
💀 Bab 110 – Lantai 45: Sang Penjaga yang Bangkit
🏛️Ruang Boss
Tak seperti lantai sebelumnya, pintu ke ruang boss kali ini terbuka sendiri.
Di tengah ruangan, berdiri satu sosok raksasa:
⟪Guardian of Lost Order⟫
Tinggi 4 meter. Bertubuh manusia tapi seluruh badannya tertutup retakan kristal.
Ia membawa tombak tiga mata — yang setiap ujungnya mengalirkan warna sihir berbeda.
Suaranya bergaung tanpa membuka mulut:
"Kalian bukan yang pertama menyentuh lantai ini."
"Tapi... kalian mungkin yang terakhir."
🔥 Pertarungan Dimulai
Monster itu menyerang dengan variasi sihir tingkat 6:
Tombak kanan → membakar area seperti neraka.
Tombak kiri → membekukan waktu selama 0.3 detik.
Tombak tengah → menyerap sihir dan mempercepat tubuhnya sendiri.
Serangan mendadak itu menghantam Toren, yang nyaris kehilangan pelindungnya.
Vex dan Seren terluka ringan karena efek ledakan awal.
Lucien dan Kaien bergantian mengalihkan perhatian monster, menciptakan celah.
🧠 Kalimat Terakhir
Setelah pertarungan panjang dan melelahkan, Sylia menusukkan tombaknya langsung ke inti
kristal sang penjaga.
Sosok itu goyah, retakan di tubuhnya menyala dan meledak pelan-pelan menjadi serpihan sihir.
Namun sebelum benar-benar lenyap, suara terakhirnya menggema di ruang kosong:
"Dungeon ini… bukan lagi seperti dulu."
"Kalian pikir masih ada aturan lama... tapi dia sudah bangkit."
"Bersiaplah… sebab kebenaran tidak bisa lagi disegel."
"...Lantai di atas... bukan tempat bagi manusia."
Lalu… diam.
Cahaya itu lenyap, dan seisi ruangan tenggelam dalam keheningan.
😶 Reaksi dan Peringatan
Elara gemetar, menggenggam lengan Kaien.
Lucien menatap tanah, seolah mencari jejak pesan itu.
Kaien perlahan berkata, “Dia bicara tentang sesuatu… atau seseorang.”
“Atau ‘sesuatu’ yang seharusnya tidak dibangkitkan,” jawab Lucien pelan.
Sylia akhirnya angkat bicara, matanya tajam menatap ke pintu batu yang mengarah ke lantai 46.
“Mulai lantai berikutnya… kita masuk ke wilayah waktu yang tidak lagi selaras dengan dunia di
atas.”
“Perhitungan sebelumnya menunjukkan rasio waktu 1:30… tapi dari semua anomali yang
muncul, mungkin saja perbedaan waktunya sudah berubah.”
“Setiap hari yang kita lalui di bawah sana… bisa jadi berarti berbulan-bulan di dunia atas.”
Dia berhenti sejenak, lalu menatap mereka satu per satu:
“Jadi aku minta satu hal: siapkan mental kalian. Bukan hanya sihir yang akan diuji... tapi
waktu, ingatan, dan keyakinan kita.”
“Lantai 46… bukan sekadar lantai berikutnya. Tapi awal dari dunia yang berbeda.”
📘 Bab 111 – Lantai 46: Waktu yang Terkunci
Langkah pertama di lantai 46 terasa… berbeda.
Tidak hanya karena udara yang lebih berat, atau langit-langit batu yang terasa lebih rendah. Tapi
karena keheningan—bukan keheningan damai, melainkan yang menekan, seolah seluruh
dungeon menahan napas untuk menyambut mereka.
Dan lalu—suara itu datang.
Bukan raungan.
Bukan langkah.
Melainkan gema dari ratusan makhluk… bergerak bersamaan.
“Tunggu… jumlahnya…”
Sandy menelan ludah, matanya membesar.
“Ini… seperti sepuluh lantai monster digabung jadi satu!”
🔥 Serangan Pertama
Tak butuh waktu lama.
Dari ujung lorong muncul makhluk pertama—disusul dua, lima… lalu puluhan.
Ravyn langsung berseru, “Formasi! Bentuk defensif!”
Toren berdiri paling depan, sihir pertahanannya langsung aktif, menciptakan kubah pelindung
besar.
“Itu ogre kelas berat! Dan di belakangnya—troll sihir?!”
Lucien dan Elara bergerak cepat. Serangan sihir tingkat lima dan enam mulai membelah udara.
Namun sesuatu terasa salah.
Setiap kali satu makhluk terbunuh… dua lagi muncul.
Kaien menatap tajam ke arah kegelapan di depan.
“Ini bukan lantai biasa.
Monster-monster ini bukan cuma penjaga.
Mereka menunda kita. Menyiksa stamina kita.”
Sylia mengangguk pelan, suaranya dingin.
“Ada yang tahu kita akan datang. Dan mereka tidak ingin kita sampai ke atas.”
⚔️Pertempuran Tak Berujung
Dalam dua jam pertama, mereka sudah menghadapi lebih dari tujuh puluh monster dari
berbagai jenis:
Goblin merah dengan sihir tingkat 4.
Troll besar yang menyerap mana di sekitarnya.
Serangga baja yang tak bisa dilukai dengan sihir biasa.
Serangan datang tanpa jeda.
“Ini... seperti dungeon tahu kita lelah!” Elara berteriak, peluh membasahi wajahnya.
Kaien diam. Matanya mengunci pada langit-langit gelap di atas sana, lalu berbisik:
“Bukan dungeon. Tapi sesuatu... atau seseorang... yang mengatur semuanya.”
⏳ Waktu yang Hilang
Sandy, yang menangani waktu, mulai mencatat:
“Kita baru masuk 3 jam...
Tapi… jamku menunjukkan kita sudah lewat beberapa hari di dunia atas.”
“Perbandingannya naik... ini mungkin 1:35 ”
Semuanya terdiam.
Kaien mengepalkan tangan.
Lucien menatap ke depan dengan rahang mengeras.
Sylia akhirnya bicara:
“Tidak ada pilihan lagi.
Kita selesaikan lantai ini dengan cepat.
Dan kita lanjut… sebelum waktu memakan kita dari dalam.”
📘 Bab 112 – Lantai 46: Gerbang Menuju Dunia yang Terkunci
Monster demi monster telah mereka tumbangkan.
Tapi setelah setengah hari berlalu—yang dalam hitungan dunia luar mungkin sudah berbulan-
bulan—kaien mulai menyadari satu hal: lantai ini bukan sekadar tempat transit.
Lantai 46 adalah benteng penjaga.
Dan mereka… baru saja membuka gerbangnya.
🛡️Formasi Bertahan Mulai Retak
“Barisan depan mulai goyah!”
suara Toren terdengar dari dalam kubah sihir pertahanannya. “Aku butuh rotasi!”
Kaien segera melompat ke depan, menggantikan Toren untuk menyerap serangan.
Satu tebasan—dan ogre besar roboh. Tapi kemudian, sihir dari makhluk bersayap menembus ke
arah belakang.
“Sandy!” seru Ravyn, mengaktifkan penghalang tepat waktu.
“Aku bisa tahan, tapi terus-terusan seperti ini... kita kehabisan tenaga sebelum sampai ke pusat!”
🌀 Perangkap Waktu & Ruang
Ketika mereka mencapai lorong utama menuju pusat lantai 46, Elara yang kini bertugas sebagai
pembaca medan sihir langsung menegang.
“Ada fluktuasi waktu… tempat ini menekuk ruang.”
“Jika kita salah langkah, kita bisa masuk ke—”
KRRAAAKK!!
Satu dari anggota tim pendukung—seorang penyihir elit dari luar akademi—melangkah ke zona
gelap, dan tubuhnya langsung terperangkap dalam pusaran sihir.
“Dia… menghilang!”
“Itu bukan teleportasi. Itu semacam ruang penyimpanan dimensional.”
Kaien langsung bergerak. Dengan ⟪Vector Lock⟫, ia menstabilkan jalur sihir untuk sisa tim.
Sylia menambahkan penguatan di atasnya, menciptakan jalur aman menuju pusat lantai.
“Terus bergerak. Jangan bicara. Jangan ragu.”
Mereka berjalan menembus lorong waktu—di mana detak jantung mereka terdengar lebih
lambat, tapi suara sihir di sekeliling malah semakin cepat.
⚔️Hadiah Berdarah di Tengah Pusat
Mereka tiba.
Ruang pusat lantai 46 terbuka seperti aula katedral bawah tanah.
Di tengahnya, berdiri makhluk raksasa dengan tubuh rapuh seperti boneka—tapi matanya
bersinar biru menyala.
“...itu bukan monster biasa,” bisik Vex yang kini sudah mulai pulih.
“Itu... reaktor sihir hidup.”
Sylia langsung mengangkat tombaknya.
Kaien memanggil pola mantra.
Monster itu tidak bergerak. Hanya menatap.
Lalu—suara bergema di benak mereka.
"Kalian bukan bagian dari urutan. Kenapa kalian memasuki rekonstruksi?"
Lucien menegakkan badan, darah menetes dari pelipisnya.
“Karena dunia di atas... tidak akan bertahan jika kami diam saja.”
Monster itu membuka matanya sepenuhnya.
“Maka buktikan… bahwa kalian layak.”
🚨 Penutup Bab
Aura membuncah.
Mantra tingkat enam dipersiapkan.
Lantai 46 baru saja dimulai.
📘 Bab 113 – Reaktor Sihir Hidup
Aura di ruang bawah tanah itu berubah.
Bukan seperti aura monster biasa, melainkan seperti denyut dari mesin tua yang seharusnya
tidak hidup kembali. Ruangan pusat lantai 46 kini seperti inti dari dunia itu sendiri—dan di
tengahnya berdiri sosok aneh: tinggi, tak berbentuk jelas, tubuhnya setengah organik, setengah
kristal, dan sorot matanya… bukan amarah. Tapi penilaian.
“Target… menyimpang dari desain awal.”
“Perintah: Uji Kelayakan Sihir Tingkat Enam.”
⚔️Pertarungan Dimulai
Seketika, cahaya dari tubuh reaktor menyala membentuk segitiga sihir di sekeliling arena.
Anggota tim yang sempat masuk terlalu dekat langsung terpental ke belakang—tanpa sempat
merapal mantra.
“Area sihirnya… memblokir semua sihir tingkat 4 ke bawah,” desah Ravyn.
“Dia memaksa kita bertarung di atas batas.”
“Bagus,” bisik Sylia.
“Akhirnya... ada alasan untuk serius.”
🌀 Tiga Lapisan Pertahanan
Reaktor itu membentangkan tiga lapisan pertahanan sihir:
1. Lapisan Satu: Absorpsi – semua serangan sihir akan diserap dan dikonversi jadi energi.
2. Lapisan Dua: Refleksi Adaptif – jika serangan sihir sama digunakan dua kali, efeknya
akan dibalik ke penyerang.
3. Lapisan Tiga: Gravitasi Distorsi – medan di sekitar tubuhnya menarik semua objek
material secara acak.
“Kita tidak bisa menyerang langsung.”
“Dan kita tidak bisa menyerang dua kali dengan pola yang sama,” gumam Lucien yang sudah
menyiapkan mantra tingkat enam, wajahnya pucat.
💥 Kaien Bergerak
Kaien tak berbicara. Ia langsung melompat ke sisi arena—menyiapkan pola mantra buatan
sendiri:
⟪Thread Pulse: Split Vector⟫
Benang sihir muncul, bergetar, lalu berpencar menyerang dari lima arah berbeda. Tapi saat
mengenai lapisan pertama—semuanya terserap.
“Dia menyesuaikan… bukan hanya menyerap. Dia membaca!”
Elara yang melihat dari luar zona serangan hanya bisa menahan napas.
⚠️Lucien Menembus Lapisan
Lucien memejamkan mata.
“Kalau begitu, jangan beri dia waktu membaca.”
Tangannya menyala, lalu dengan cepat—
⟪Aether Lance – Split Path⟫
Tombak cahaya menembus lapisan satu.
Reaktor terguncang… tapi lapisan dua segera aktif. Cahaya dibalikkan.
“Kanan bawah!”
Kaien melompat, mengaktifkan mantra pertahanan ringan yang ia desain untuk kondisi darurat.
⟪Mana Weave – Intercept Layer⟫
Sihir Lucien yang terpental berhasil dinetralisir.
🩸 Biaya Pertarungan
Sandy dan Ravyn fokus menjaga kestabilan area tempur.
Toren dengan kekuatan tank-nya menahan serangan gravitasi distorsi yang menyeret tubuh-tubuh
mereka dari segala arah.
“Aku nggak bisa tahan lama… tapi cukup buat kalian cari celah!”
teriaknya sambil memasang penghalang sihir dari tanah.
🗡️Sylia Melangkah
Akhirnya, Sylia maju.
“Jika tak ada yang bisa menembus lapisan tiga, maka hanya ada satu jalan.”
⟪Chrono Spear: Phase Breaker⟫
Tombaknya menyala. Cahaya sihir tingkat enam meledak di ujungnya. Dia mengayunkan satu
serangan—dan seluruh ruangan terguncang.
Lapisan satu… retak.
Lapisan dua… hancur.
Tapi saat lapisan tiga terbuka—
Reaktor hidup itu menghilang, lalu muncul tepat di belakangnya.
Satu lengan dari kristal murni mengayun ke arah Sylia.
Tapi seseorang melompat lebih cepat.
“Bukan kali ini,” ujar Kaien.
⟪Vector Lock – Rebound⟫
Serangan ditarik ulang oleh medan vektor—dan mengenai reaktor sendiri.
💡 Celah Terbuka
Reaktor itu mulai berubah bentuk, tubuhnya membengkak. Ada celah yang muncul di dadanya—
seperti inti terbuka.
“Sekarang!” teriak Lucien.
“Gabungkan serangan!” tambah Sylia.
Tiga serangan tingkat enam dilepaskan bersamaan:
⟪Aether Lance – Spiral Core⟫ (Lucien)
⟪Thread Pulse – Absolute Sever⟫ (Kaien)
⟪Chrono Spear – Final Impulse⟫ (Sylia)
Ketiganya menghantam titik yang sama.
Suara reaktor pecah seperti kaca.
Lalu… hening.
💬 Penutup Bab
Reaktor mulai membeku. Cahaya menghilang perlahan.
Tapi sebelum pecah menjadi partikel, ia berbisik…
"Kalian... bukan bagian dari urutan."
"Lantai selanjutnya… tidak akan memberikan pilihan."
Bab 114 – Lantai 47: Gerbang Tak Punya Arah
🕒 Waktu yang Menipu
Setelah pertempuran brutal di lantai 46 berakhir, Sandy membuka kembali alat pengukur waktu
sihir yang dipasangnya di awal lantai itu. Wajahnya mengeras, lalu berubah cemas.
“Tiga belas jam dua puluh empat menit...” gumamnya.
“Itu waktu kita di sini. Tapi... di permukaan, sudah lewat lebih dari sebulan penuh.”
Semua anggota ekspedisi menoleh.
Lucien mengangguk.
“Rasio waktu kita... lebih dari tiga puluh banding satu.”
Sylia menatap ke depan, ke arah jalur berikutnya.
“Kalau setiap lantai berikutnya seperti ini... maka perjalanan lima hari kita bisa berarti setengah
tahun di permukaan.”
Mereka semua terdiam sejenak sebelum bergerak lagi.
🚪 Lorong Tanpa Akhir
Jalur menuju lantai 47 bukan menurun, melainkan datar dan melengkung, seakan membentuk
spiral batu yang berujung pada pintu melengkung besar. Ukirannya tak biasa—bukan pola
sihir, melainkan garis-garis seperti peta bintang kuno.
Ravyn mendekat, tangannya menyentuh sisi lengkungnya.
“Ini bukan sihir… tapi semacam mekanisme sistem.
Seperti... gerbang pengujian.”
Kaien memperhatikan pola di sekitarnya.
“Tidak ada jebakan. Tapi ada tekanan... seperti ruang ini menilai siapa yang layak masuk.”
✅ Keputusan Bersama
Sandy menyarankan untuk mengecek satu per satu, tapi Sylia menolak.
“Kita tetap satu formasi.”
“Jika dungeon ini menyatukan musuh dari sepuluh lantai ke dalam satu, maka memisahkan tim
sekarang adalah kehancuran.”
Lucien mengangguk.
“Setuju. Kita tetap bersama.”
Satu per satu mereka menyentuh sisi gerbang dengan tangan kanan. Gerbang bersinar pelan,
menyerap tanda sihir dari masing-masing anggota tim—seolah mencatat kehadiran mereka
sebagai satu kesatuan.
“Gerbang mengenali kita sebagai tim,” ujar Sylia.
“Kita bisa masuk... bersama.”
🌌 Lantai 47 – Dunia Dalam Dunia
Begitu pintu terbuka, mereka tidak langsung masuk ke pertempuran.
Mereka tiba di sebuah ruang luas menyerupai langit malam, tapi tak ada bintang. Tanah di
bawah mereka halus seperti kaca, dan langit di atas berputar seperti pusaran.
Kaien bergumam,
“Ini... bukan lantai biasa.”
Lucien memindai sekitarnya.
“Ini bukan ruang realitas penuh. Tapi... ruang simulasi bertingkat. Sebuah ilusi nyata untuk
menguji... bukan tubuh, tapi konsistensi sihir dan kehendak.”
Sylia menatap ke depan.
Dari kabut tipis, perlahan muncul siluet-siluet monster—tapi bukan monster sungguhan.
“Bayangan dari masa lalu,” bisik Sandy.
“Mereka mengambil bentuk musuh terkuat yang pernah kita lawan.”
🛡️Bersama
Ketika monster-monster itu mulai terbentuk, formasi langsung disiapkan. Sylia di depan, Toren
sebagai tameng utama, Sandy dan Lucien sebagai pengatur jarak dan dukungan, Kaien dan Elara
di tengah sebagai penjaga dan serangan utama.
“Kita sudah melalui semuanya bersama,” kata Kaien, tenang.
“Ini bukan ilusi—ini ujian. Dan kita akan lewatkan... tanpa satu pun tertinggal.”
📌 Penutup Bab
Gerbang menutup di belakang mereka.
Lantai 47 dimulai.
Tapi untuk pertama kalinya sejak lantai 46…
Mereka tidak merasa seperti sedang masuk neraka.
Tapi… seperti menapaki kenangan yang belum selesai.
Bab 116 – Formasi Tertajam
Suara langkah kaki yang menggema di lorong batu berlumut itu kini tak hanya menggambarkan
pergerakan, tapi juga tekanan. Aura musuh terasa makin pekat, menyelimuti udara dengan rasa
mencekik yang tak kasat mata.
Ketika kilatan sihir menyentuh udara, Sylia segera menghentikan langkah dan mengangkat
tangan sebagai aba-aba.
“Formasi berubah,” ujarnya tenang, namun tegas. “Dua baris! Baris depan: aku, Toren, dan Vex.
Baris tengah: Kaien, Elara, Ravyn. Baris belakang: Lucien, Seren, dan Sandy.”
Tanpa perlu perintah kedua, sembilan anggota tim langsung bergerak, menyesuaikan posisi
dengan efisiensi militer. Ini bukan pertama kalinya mereka melawan musuh dalam jumlah besar,
tapi tekanan di lantai 47 berbeda—lebih tajam, lebih mengintimidasi, seolah dinding dungeon itu
sendiri menjadi musuh.
Dari ujung lorong yang remang, siluet-siluet bergerak.
Bukan hanya satu atau dua. Tapi belasan—mungkin puluhan.
Monster-monster humanoid dengan tubuh tinggi, kulit seperti lempung sihir, dan mata menyala
merah keunguan mulai bermunculan. Beberapa membawa senjata kabur dari mana gelap.
Lainnya berjalan dengan tangan kosong, namun aura di sekitar mereka membuat lantai bergetar.
“Jenis baru lagi…” gumam Seren pelan.
“Bukan ilusi. Ini nyata,” jawab Lucien, merasakan resonansi sihir di udara.
Sandy segera mengaktifkan ⟪Barrier Circle – Vela⟫, membentuk lapisan tipis pelindung di
sekitar barisan belakang. Sementara itu, Toren mengetuk lantai dengan perisainya, memantapkan
pijakan.
“Kontak pertama—siap!” seru Sylia.
Monster-monster itu menyerbu.
Tabrakan pertama terjadi hanya dalam hitungan detik.
Toren menghalangi serangan dari kiri dengan tameng peraknya, memantulkan sihir gelombang
ke dinding. Vex di sisi kanan memutar kapak sihirnya, menghantam langsung ke dada musuh
dan membuat satu makhluk pecah menjadi serpihan mana.
Sylia, di tengah-tengah mereka, meluncurkan ⟪Spear Flash – Divide⟫ yang membelah dua
monster sekaligus dengan tombak bercahaya.
Baris tengah bergerak:
Kaien membentuk pola mantra cepat dan menembakkan ⟪Force Split – Double Bind⟫,
mengunci dua musuh sekaligus agar Elara bisa mengirimkan sihir api tingkat empat secara
akurat. Ravyn mendukung dengan sihir tekanan angin, menjaga kestabilan formasi dari tekanan
musuh yang mendekat.
Di belakang, Lucien dan Seren menyebar sihir pelacak dan penekan. Lucien melemparkan ⟪Arc
Lightning – Cascade⟫ ke dinding untuk menimbulkan efek pantulan, membuat beberapa musuh
tersambar dari arah yang tak terduga.
Sandy menjaga aliran sihir tetap stabil, menyuplai regenerasi mana pada Toren dan Vex yang
berada di garis depan.
“Jaga formasi tetap ketat!” seru Kaien.
Namun tekanan musuh semakin berat. Tak hanya dari depan, kini sisi lorong mulai
memunculkan celah baru, seperti akar pohon menjalar yang menampakkan makhluk-makhluk
aneh dari bayangan.
“Formasi Delta! Kaien, tukar tempat dengan Vex! Ravyn, bantu depan kanan!” perintah Sylia,
cepat membaca situasi.
Pertukaran posisi berlangsung cepat. Kaien maju ke sisi kanan depan, menggantikan Vex yang
kembali ke tengah untuk bernapas sejenak. Mereka mulai bergantian mengambil alih tekanan.
Taktik rotasi itu menyelamatkan banyak energi.
Tiga puluh menit berlalu—dan tak satu pun dari mereka menunjukkan tanda mundur.
“Ini bukan pertarungan biasa,” ujar Lucien lewat sihir komunikasi.
“Ini uji stamina. Mereka ingin kita kelelahan dulu… lalu baru menyerang secara penuh.”
Kaien menatap lorong panjang yang belum menunjukkan akhir.
Di ujung sana, cahaya biru samar terlihat. Tapi apakah itu jalan keluar… atau awal dari bahaya
berikutnya?
Penutup Bab 116
Lantai 47 bukan hanya tentang kekuatan. Tapi tentang koordinasi, ketahanan, dan
kepercayaan pada satu sama lain.
Dan sejauh ini…
Tim ini belum goyah.
Bab 117 – Tekanan yang Mengerat
Waktu telah berjalan lebih dari tiga jam sejak mereka memasuki lantai 47.
Meski secara waktu dunia luar baru berjalan sekitar tujuh menit, setiap detiknya terasa seperti
beban yang terus menekan otot, fokus, dan konsentrasi mereka.
“Mana mereka tidak habis-habis…” gumam Elara sambil menyeka peluh dari pelipisnya.
Rambutnya basah oleh keringat, namun tatapan matanya tetap menyala dengan tekad.
“Formasi musuh terlalu padat,” jawab Kaien, menahan ayunan monster dengan ⟪Shield
Pulse⟫ dari tangannya sendiri.
Boom!
Toren menahan dua monster sekaligus dengan tameng besarnya yang kini sudah mulai retak.
“Toren!” Sandy langsung meluncur ke arah depan, melontarkan ⟪Regen Wave – Vital Stream⟫
ke arah Toren.
Sihir penyembuh itu meredakan nyeri otot dan memperkuat aliran mana tubuh Toren, tapi
bahkan Sandy tahu—itu hanya memperlambat kelelahan, bukan menyembuhkan secara
menyeluruh.
Ketegangan yang Tidak Mereda
Serangan musuh kini datang dalam gelombang.
Setiap kali mereka berhasil membersihkan satu sisi lorong, dinding lain retak dan memunculkan
jalur baru. Seolah lantai ini berubah bentuk saat mereka bergerak.
“Ini seperti... lantai ini hidup,” bisik Seren. Ia melemparkan ⟪Wind Dispel⟫ untuk
membuyarkan kabut tipis yang perlahan muncul di antara reruntuhan.
Lucien mengangguk. “Dan dia menyesuaikan diri dengan kita.”
Kaien memandang ke arah dinding yang mulai memantulkan suara. Detak jantung mereka
terdengar jelas. Bahkan napas Sylia yang teratur kini terdengar berat.
Rotasi Kedua
Sylia memutuskan pergantian posisi. Kini ia mundur ke tengah bersama Lucien dan Ravyn,
memberi jalan bagi Elara dan Vex ke garis depan.
“Formasi: ‘Spear Burst’! Aku di kiri, Vex kanan, Kaien di tengah!” seru Elara.
Kaien menoleh. “Kau yakin?”
Elara menatapnya sambil tersenyum kecil. “Tiga jam bertarung cukup untuk adaptasi.
Sekarang giliran kita menyerang.”
Formasi berubah.
Tiga penyihir menyerbu maju—menggunakan kombinasi sihir tingkat empat dan lima secara
bergantian.
Kaien membelah tanah dengan ⟪Force Ripple – Linear Arc⟫
Elara membakar jalur musuh dengan ⟪Crimson Bind – Searing Chains⟫
Vex menerobos formasi musuh dengan ayunan kapak bermuatan mana.
Boom!
Tiga monster terpental ke belakang sekaligus.
Namun suara aneh terdengar…
Ting… ting…
Dinding mulai bergetar, dan dari baliknya muncul tiga entitas baru—berlapis kristal biru tua,
dengan mata berbentuk retakan cahaya. Mereka berjalan tanpa suara, tapi setiap langkahnya
menggetarkan tanah.
“Tipe baru lagi! Jenis kristal!” seru Lucien.
“Jangan biarkan mereka menyerang langsung! Yang itu bisa meledak!” kata Seren.
Benturan yang Membekas
Kaien mencoba mengunci satu dari mereka dengan mantra pengikat—tapi kristal itu menyerap
sihir dan memantulkannya. Dia melompat mundur, tapi serpihan kristal tajam menggores
lengannya.
“Kh—!”
Darah menetes, tapi ia tetap berdiri.
Elara membantunya mundur, lalu menembakkan ⟪Flame Edge – Spiral Blaze⟫ langsung ke inti
kristal monster itu.
Boom!
Ledakan terjadi, menyambar dua monster lainnya juga.
Suara Itu
Tiba-tiba, sebuah suara muncul di kepala semua orang.
“Mengapa kalian melangkah sejauh ini?”
Suaranya bergema, seperti ilusi… atau sesuatu yang lebih dalam.
Kaien memicingkan mata.
Lucien mengerutkan dahi. “...Bukan ilusi biasa.”
Sylia menggertakkan gigi. “Ini sudah masuk ke medan sihir tingkat tinggi. Hati-hati. Jangan
biarkan suara itu menggoyahkanmu.”
Penutup Bab
Lantai 47 belum menunjukkan akhir.
Tiap jamnya terasa seperti menelusuri labirin yang tak ingin mereka keluar darinya.
Tapi tim ini—meski mulai kelelahan—masih tegak berdiri.
Dan di tengah tekanan, satu hal jadi semakin jelas:
Lantai 47 bukan hanya pertarungan fisik. Tapi ujian akan tekad.