Di Kebun Teh Wonosari, desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, sebuah
penelitian menemukan bahwa 30 % dari 200 pemetik daun teh melaporkan kesemutan dan nyeri pada
pergelangan tangan setelah ≥ 5 tahun bekerja, sehingga banyak yang kesulitan mengangkat keranjang
panen dan sering absen karena nyeri kronis
3 Potensi Sumber Data Yang Dapat Anda Gunakan
1. Rekam Medis Dari Fasilitas Kesehatan Setempat dapat menjadi sumber data kunci. Rekam
medis menyediakan informasi klinis langsung terkait diagnosis, frekuensi kunjungan, dan
tingkat keparahan keluhan seperti kesemutan atau nyeri pergelangan tangan. Data ini
memungkinkan peneliti memvalidasi temuan awal bahwa 30% pekerja mengalami gejala
muskuloskeletal setelah bekerja ≥5 tahun. Selain itu, jika rekam medis mencantumkan
riwayat pekerjaan pasien, analisis korelasi antara durasi kerja dan munculnya gangguan
kesehatan bisa dilakukan. Akses ke data ini relatif realistis melalui kolaborasi dengan
puskesmas atau rumah sakit yang melayani wilayah tersebut, sehingga memudahkan
identifikasi pola penyakit yang terkait dengan aktivitas kerja.
2. Laporan Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3) dari perkebunan memberikan wawasan
tentang kondisi lingkungan kerja. Dokumen ini biasanya mencakup hasil penilaian risiko
ergonomis, seperti gerakan repetitif saat memetik teh, beban keranjang panen, atau postur
tubuh yang tidak ideal selama bekerja. Dengan menganalisis laporan K3, peneliti dapat
mengidentifikasi faktor-faktor penyebab cedera, seperti kurangnya alat bantu angkat atau
durasi istirahat yang tidak memadai. Data absensi karyawan yang tercatat dalam laporan ini
juga dapat mengungkap kaitan antara nyeri kronis dan ketidakhadiran kerja. Riwayat
intervensi K3 (misalnya pelatihan teknik mengangkat) dalam dokumen tersebut membantu
mengevaluasi efektivitas upaya pencegahan yang telah dilakukan sebelumnya.
3. Data Riset atau Studi Akademis Terkait yang telah dilakukan di sektor perkebunan,
pertanian, atau bidang ergonomi dapat menjadi sumber data tambahan. Misalnya, penelitian
tentang gangguan muskuloskeletal pada pekerja perkebunan di wilayah lain atau analisis
faktor risiko ergonomis di industri serupa. Data ini membantu membandingkan temuan di
Kebun Teh Wonosari dengan literatur global/lokal, mengidentifikasi determinan umum
(misalnya gerakan repetitif, beban berlebih), serta merujuk rekomendasi intervensi yang telah
terbukti efektif di konteks serupa.
1. Faktor Risiko
Definisi dan Contoh
Faktor Biologis: Merupakan kondisi tubuh atau karakteristik fisik individu yang tidak mudah diubah.
Contoh:
Usia: Pekerja berusia > 40 tahun mengalami penurunan elastisitas jaringan, meningkatkan
risiko CTS.
Jenis kelamin: Wanita lebih berisiko karena ukuran kanal karpal umumnya lebih sempit.
Riwayat cedera atau penyakit: Misalnya riwayat CTS sebelumnya, obesitas, atau kondisi
seperti diabetes yang dapat memengaruhi saraf.
Faktor Perilaku: Merujuk pada kebiasaan atau aktivitas yang dilakukan individu dalam kesehariannya.
Contoh:
Cara memetik daun teh secara manual dengan gerakan yang berulang dan cepat.
Tidak melakukan peregangan atau pemanasan sebelum bekerja.
Tidak menggunakan alat bantu ergonomis.
Faktor Lingkungan: Merupakan faktor yang berasal dari tempat kerja atau kondisi fisik sekitar.
Contoh:
Jenis pekerjaan yang repetitif dan monoton, seperti memetik daun teh sepanjang hari.
Peralatan kerja tidak ergonomis, misalnya keranjang atau alat petik yang berat dan harus
digantung di lengan.
Kondisi kerja di lapangan terbuka tanpa perlindungan dari cuaca dingin yang dapat
memperburuk gejala CTS.
Faktor Sosial: Berkaitan dengan status sosial, ekonomi, atau budaya yang memengaruhi kesehatan.
Contoh:
Tingkat pendidikan rendah sehingga pemahaman tentang risiko kerja dan pencegahan CTS
juga rendah.
Akses terbatas terhadap layanan kesehatan atau pemeriksaan medis rutin.
Budaya kerja yang tidak mendorong pelaporan keluhan kesehatan (takut dianggap lemah atau
kehilangan pekerjaan).
Pentingnya Mengidentifikasi Faktor Risiko untuk Pencegahan
Mengidentifikasi faktor risiko sangat penting karena memungkinkan tenaga kesehatan kerja atau
fisioterapis untuk:
1. Mendeteksi lebih awal individu atau kelompok berisiko tinggi, sehingga dapat dilakukan
tindakan pencegahan sebelum kondisi memburuk.
2. Merancang program intervensi yang tepat, seperti rotasi kerja, peregangan otot, edukasi
ergonomi, dan penyediaan alat bantu.
3. Menurunkan angka kejadian CTS, sehingga produktivitas kerja tetap terjaga dan pekerja
tidak mengalami gangguan jangka panjang.
4. Menghemat biaya pengobatan, karena pencegahan lebih murah dan efektif dibanding
pengobatan setelah terjadi kerusakan jaringan.
5. Meningkatkan kesejahteraan dan keselamatan kerja, terutama di sektor informal seperti
pertanian, di mana perhatian terhadap kesehatan kerja masih terbatas.
2. Skrining
Definisi dan Tujuan Skrining
Definisi:
Skrining adalah proses sistematis untuk mendeteksi secara dini adanya penyakit, gangguan, atau
kondisi berisiko pada individu yang belum menunjukkan gejala klinis yang jelas. Skrining dilakukan
sebelum diagnosis pasti, untuk mengidentifikasi orang-orang yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Tujuan:
Dalam konteks CTS pada pemetik daun teh, tujuan skrining adalah:
Mendeteksi dini pekerja yang menunjukkan tanda-tanda awal CTS (meskipun belum parah),
Mengurangi risiko progresivitas, misalnya dengan intervensi dini seperti latihan ergonomi
atau rotasi kerja,
Meningkatkan produktivitas kerja dengan menjaga fungsi tangan dan pergelangan tetap
optimal,
Mencegah kecacatan jangka panjang akibat kerusakan saraf medianus yang tidak
tertangani tepat waktu.
Prinsip Skrining yang Baik
Skrining yang efektif harus memenuhi prinsip-prinsip berikut:
1. Validitas: Alat atau metode skrining harus mampu mengukur kondisi yang dimaksud
secara akurat.
2. Reliabilitas: Hasil skrining harus konsisten bila dilakukan berulang oleh pemeriksa yang
sama maupun berbeda.
3. Etis: Skrining harus tidak membahayakan peserta dan dilakukan dengan persetujuan dan
hasilnya digunakan untuk membantu peserta, bukan menghukum atau mengurangi hak
mereka bekerja.
4. Efektif: Skrining harus memberikan manfaat nyata bagi pekerja dan organisasi dan harus
diikuti oleh tindakan intervensi atau tindak lanjut yang dapat mencegah kerusakan lebih
lanjut.
Contoh Skrining yang Dapat Dilakukan Fisioterapis
1. Tes Phalen
Tes Phalen merupakan metode skrining sederhana dan efektif untuk mendeteksi kemungkinan
kompresi saraf medianus di terowongan karpal. Dalam pelaksanaannya, pekerja diminta untuk
menekuk kedua pergelangan tangan (fleksi maksimal) dan menekankan bagian punggung tangan satu
sama lain di depan dada, seperti posisi doa terbalik. Posisi ini dipertahankan selama 30 hingga 60
detik. Tes dikatakan positif jika selama atau setelah tes muncul keluhan kesemutan, baal, atau nyeri
pada ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah. Sensasi ini menandakan adanya iritasi atau tekanan pada
saraf medianus. Tes ini dapat dilakukan secara cepat di lapangan dan tidak membutuhkan alat khusus,
sehingga sangat sesuai digunakan dalam skrining massal di lokasi kerja seperti kebun teh.
2. Tes Tinel
Tes Tinel digunakan untuk memeriksa iritasi saraf medianus secara langsung melalui rangsangan
mekanis. Fisioterapis akan mengetuk secara perlahan bagian atas pergelangan tangan (di atas jalur
saraf medianus) dengan jari atau palu refleks. Jika pekerja merasakan sensasi kesemutan yang
menjalar ke ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah, maka tes dianggap positif. Sensasi ini menunjukkan
adanya gangguan pada fungsi saraf akibat kompresi. Tes Tinel bersifat cepat, tidak menimbulkan
nyeri, dan sangat berguna untuk mendeteksi CTS pada tahap awal, terutama jika dikombinasikan
dengan tes Phalen untuk meningkatkan akurasi hasil.