Nama : Yulisa Putri Syahidah
Nama Tribu : Psychiatry
PARASOMNIA
Parasomnia adalah sekelompok gangguan tidur yang ditandai dengan peristiwa
verbal, motorik, atau perilaku abnormal tidak menyenangkan, yang terjadi selama
tidur atau transisi dari bangun ke tidur. Parasomnia lebih sering terjadi pada anak-
anak daripada pada populasi dewasa. Istilah ‘parasomnia’ pertama kali dicetuskan
oleh peneliti Prancis bernama Henri Roger pada tahun 1932. Penamaan ini awalnya
berasal dari kata Yunani ‘para’ yang berarti di samping atau di sepanjang sisi dan
istilah Latin ‘somnus’ yang berarti tidur.
Parasomnia mencakup beberapa kondisi, seperti sleepwalking, night terrors, REM
sleep behavior disorder, hingga bruxism (menggertakkan gigi saat tidur). Gejalanya
bervariasi mulai dari gerakan tak sadar, berbicara, berteriak, mimpi buruk yang
intens, hingga bangun dalam kondisi bingung. Lumbantoruan et al. (2025)
mencatat bahwa pada kasus REM sleep behavior disorder, penderita dapat
melakukan gerakan fisik yang merepresentasikan mimpinya, seperti menendang
atau memukul, yang berisiko melukai diri sendiri atau orang lain. Kondisi ini sering
ditemukan pada lansia, tetapi juga dapat terjadi pada orang dewasa muda.
Studi menunjukkan bahwa kurang tidur dan stres menjadi faktor utama yang memicu
parasomnia. Mareta et al. (2022) menemukan hubungan signifikan antara kualitas
tidur yang buruk dengan kejadian sleep paralysis, salah satu bentuk parasomnia di
mana seseorang terbangun namun tidak dapat bergerak dan sering disertai
halusinasi. Pada remaja, insomnia dapat memperburuk risiko gangguan tidur
termasuk parasomnia. Penelitian Hasana et al. (2025) mengungkapkan bahwa
insomnia berkorelasi dengan penurunan konsentrasi belajar, dan aktivitas seperti
penggunaan gawai sebelum tidur berkontribusi signifikan terhadap terganggunya
pola tidur. Tidak hanya itu, Aspek budaya juga memengaruhi kejadian parasomnia.
Studi lintas budaya menemukan bahwa praktik co-sleeping atau tidur bersama orang
tua lebih sering memunculkan gejala parasomnia pada anak di wilayah Asia Timur,
sedangkan anak di negara Barat lebih sering mengalami resistensi waktu tidur.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa kebiasaan tidur yang dipengaruhi norma sosial
dapat berdampak pada jenis dan frekuensi gangguan tidur. Parasomnia bukan
sekadar gangguan ringan. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan
fisik, mental, dan kualitas hidup. Gangguan tidur kronis meningkatkan risiko
penurunan fungsi kognitif, depresi, gangguan memori, bahkan kecelakaan akibat
kantuk di siang hari.
Mengetahui banyaknya dampak negatif yang disebabkan parasomnia, maka
diadakannya pendekatan penanganan parasomnia yang meliputi :
Nama : Yulisa Putri Syahidah
Nama Tribu : Psychiatry
a. Perbaikan kebiasaan tidur dimana pasien mengatur waktu tidur dan bangun
pada jam yang sama setiap hari, menghindari konsumsi kafein atau alkohol
sebelum tidur.
b. Pengelolaan stress dengan melakukan latihan relaksasi, meditasi, atau
konseling psikologis.
c. Pengaturan lingkungan tidur dengan memastikan ruangan nyaman, redup,
dan minim gangguan suara.
d. Pemeriksaan medis dengan diagnosis dini menggunakan metode
seperti Polysomnography atau memanfaatkan sistem pakar berbasis
teknologi seperti yang dikembangkan oleh Lumbantoruan et al. (2025)
untuk deteksi awal berbagai gangguan tidur.
Daftar Pustaka
Hasana et al. (2025). Hubungan Tingkat Insomnia dengan Konsentrasi Belajar pada
Siswa di SMA Kalam Kudus Pekanbaru. Indonesian Journal of Science, 2(1),
92–96.
Jannah et al. (2024). Analisis Faktor Penyebab dari Gangguan Tidur: Kajian
Psikologi Lintas Budaya. Psyche 165 Journal, 17(3), 164–171.
Lumbantoruan et al. (2025). Rancang Bangun Sistem Pakar Berbasis Website
Menggunakan Metode Certainty Factor untuk Mendiagnosa Gangguan Tidur.
JEKIN, 5(2).
Mareta,et al. (2022). Pengaruh Kualitas Tidur terhadap Sleep Paralysis pada
Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Ebers
Papyrus, 28(2).