0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan11 halaman

Analisis Wacana Kritis Sara Mills

Penelitian ini menganalisis wacana kritis Sara Mills dalam film 'Imperfect: Karir, Cinta, dan Timbangan', yang menggambarkan tekanan pada perempuan untuk memenuhi standar kecantikan. Metode kualitatif digunakan untuk mengeksplorasi representasi perempuan dalam film dan ideologi yang melatarbelakanginya. Hasil penelitian menunjukkan bagaimana media membentuk persepsi gender dan meningkatkan kesadaran kritis audiens terhadap konstruksi sosial dalam budaya populer.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan11 halaman

Analisis Wacana Kritis Sara Mills

Penelitian ini menganalisis wacana kritis Sara Mills dalam film 'Imperfect: Karir, Cinta, dan Timbangan', yang menggambarkan tekanan pada perempuan untuk memenuhi standar kecantikan. Metode kualitatif digunakan untuk mengeksplorasi representasi perempuan dalam film dan ideologi yang melatarbelakanginya. Hasil penelitian menunjukkan bagaimana media membentuk persepsi gender dan meningkatkan kesadaran kritis audiens terhadap konstruksi sosial dalam budaya populer.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

DIKBASTRA: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra

2024, Vol 7, No. 2, 21-31


E-ISSN: 2621-1424
[Link]
[Link]

Analisis wacana kritis Sara Mills dalam film Imperfect: Karir, Cinta, dan Timbangan

Tesalonika Situmorang
SMAN 8 Kota Jambi
Corresponding author: tesalonika2904@[Link]
Abstrak
Imperfect menjadi film menarik karena mengisahkan tentang perempuan yang dituntut cantik ARTICLE HISTORY
dan sempurna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui wacana Sara Mills dalam Received: 06 September 2024
kecantikan perempuan yang terwakilkan melalui film Imperfect, termasuk substansinya yang Revised: 29 S e p t e m b e r 2024
berkaitan dengan karier, cinta, sertra kecantikan yang diukur melalui fisik pada perempuan. Accepted: 30 September 2024
Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini maka metode penelitian yang akan
digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model KEYWORDS
Sara Mills. Pendekatan ini menitikberatkan pada konstruksi representasi dan posisi subjek
dalam wacana, khususnya dalam narasi. Data utama dalam penelitian ini adalah film Critical discourse analysis, sara
mills, film imperfect ; Analisis
Imperfect: Karir, Cinta, dan Timbangan beserta skrip dialognya. Data sekunder meliputi wacana kritis, sara mills, film
ulasan film, artikel dan literatur terkait yang membahas representasi perempuan dalam media. imperfect
Teknik pengumpulan menggunakan observasi teks dan visual, dokumentasi dan studi
pustaka. Teknik analisis data yang dilakukan melalui tahapan indentifikasi representasi, posisi SUBJECTS
subjek dan pembaca, serta hubungan wacana dan ideologi. Keabsahan data dalam penelitian Discourse analysis
bertujuan untuk meningkatkan validitas, dengan menggunakan triangulasi sumber
(membandingkan data dari film, wawancara, dan literatur) serta triangulasi teori
(menggunakan konsep dari Sara Mills dan perspektif lain dalam AWK).

Kata kunci : Analisis wacana kritis, sara mills, film imperfect

Abstract
Imperfect is an interesting film because it tells the story of a woman who is required to be beautiful and perfect.
The aim of this research is to find out Sara Mills' discourse on women's beauty as represented through the film
Imperfect, including its substance related to career, love, and beauty as measured through women's physical
appearance. Based on the objectives to be achieved in this research, the research method that will be used is a
qualitative method with the Sara Mills model of Critical Discourse Analysis (AWK) approach. This approach
focuses on the construction of representation and subject position in discourse, especially in narrative. The
main data in this research is the film Imperfect: Karir, Cinta, dan Timbangan and its dialogue script. Secondary
data includes film reviews, articles and related literature that discuss the representation of women in the media.
Collection techniques use text and visual observation, documentation and literature study. The data analysis
technique is carried out through the stages of identification of representation, subject and reader position, as
well as the relationship between discourse and ideology. The validity of the data in research aims to increase
validity, by using source triangulation (comparing data from films, interviews and literature) and theory
triangulation (using concepts from Sara Mills and other perspectives in AWK).

Keywords: Critical discourse analysis, sara mills, film imperfect

Copyright@2023, This is an open access article under the CC–BY-3.0 license


21
Pendahuluan
Memasuki era modern teknologi telah berkembang begitu pesat, sehingga mempengaruhi
berbagai bidang termasuk salah satunya dalam sektor dunia perfilman. Secara harfiah film
didefinisikan sebagai media massa yang kerap ditonton oleh banyak orang karena
kepopulerannya. Kehadiran film saat ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan
sehari-hari. Secara realitas, film terdiri dari audio dan visual yang direkam serta ditayangkan di
tengah lingkungan masyarakat kemudian menyuguhkannya ke layar lebar.
Pada masa kini perempuan sering dituntut dalam berbagai hal, salah satunya menjadi cantik
sesuai dengan standar kecantikan. Oleh karena itu, banyak perempuan ingin menjadi cantik
agar terlihat menarik dan rela mengeluarkan begitu banyak uang demi mengubah bentuk wajah
ataupun tubuhnya dengan melakukan operasi plastik. Kecantikan sebagai sifat feminin telah
berdiri dalam sistem sosial yang luas dan terprogram secara budaya. Setiap hari, perempuan
dihadapkan dengan mitos-mitos kecantikan yang semakin menjerumuskan ke dalam obsesi
terhadap keindahan fisik (Luthfiyyahningtyas,. et al., 2024).
Analisis wacana adalah sebuah penggambaran secara rasional mengenai hubungan
runtutan yang berada dalam kesatuan yang teratur, sehingga nampak jelas hubungan unsur-
unsur di dalamnya, hubungan antar unsur di luar kesatuan tersebut maupun koherensinya
(Puspitasari,. et al., 2021).
Analisis wacana memiliki tiga pandangan dari segi bahasaPandangan pertama diwakili oleh
kaum positivism-empiris. Oleh penganut aliran ini, melihat bahasa sebagai jembatan antara
manusia dengan objek diluar dirinya. Pengalaman-pengalaman manusia dapat diekspresikan
secara langsung melalui penggunaan bahasa tanpa ada kendala atau distorsi. Salah satu cirinya
adalah pemisah antara pemikiran dan realitas. Pandangan ini terfokus pada kebenaran tata
bahasa secara sintaksis. Pandangan kedua yaitu konstruktivisme, pandangan ini menolak
pemikiran positivism-empiris yang memisahkan subjek sebagai kontrol terhadap maksud-
maksud tertentu dalam setiap wacana (Adriani, A.Y. et al., 2020).
Film dapat dikatakan sebagai salah satu karya inventif yang dapat dimanfaatkan oleh
publik. Film juga merupakan jenis artikulasi imajinatif sebagai alat bagi para spesialis dan
produser film dalam memanfaatkan pemikiran cerita. Pada dasarnya, film dapat dipandang
sebagai media yang memiliki kekuatan dan membawa manfaat bagi masyarakat (Wibowo &
Sathotho, 2021). Film dapat memengaruhi kerumunan melalui kualitas yang mengandung
banyak filosofi dari produsernya, hal ini menunjukkan pandangan bahwa film dapat digunakan
sebagai alat publisitas yang bertujuan massal (Tazkiyyah & Wulan, 2017).
Gambaran perempuan melalui beberapa film dan riset terdahulu secara sederhana,
memberikan pemaknaan bahwa media dipandang mampu memberikan kemasan realitas
melihat keberadaan perempuan secara sosial. Tidak jarang bahwa media hanya menampilkan
satu sisi tentang kemasan perempuan yang penuh kisah drama, problematika rumah tangga,
sampai pada kedudukan yang tidak memiliki banyak “suara”. Selain itu, berbagai konten media
juga tidak terlepas dari bias gender yang cenderung memberikan stereotip seksis bagi
perempuan (Lavenia,2021).
Permasalahan yang terkait dengan tubuh perempuan yang dijadikan objek dan komoditas
berhubungan erat dengan isu feminisme. Feminisme dilihat sebagai gerakan-gerakan
perempuan yang berupaya untuk membebaskan diri dari tindakan-tindakan penindasan dan
kontrol terhadap tubuh mereka. Sejauh ini, citra perempuan yang di konstruksi oleh media
disesuaikan dengan kebutuhan para pelaku bisnis dan industri yang berada di belakang layar

22
serta seringkali membuat perempuan menjadi objek untuk mencapai keuntungan. Media-
media yang dibuat khusus untuk perempuan pada akhirnya dirasakan sebagai sebuah cara yang
efektif dalam mengatasi penindasan dan melindungi perempuan sebagai objek yang dijadikan
sebagai komoditas (Lancia, . et al., 2023).
Kuantitas penggambaran perempuan di dalam media cenderung minim atau kurang. Hal
ini di dukung oleh riset Global Media Monitoring Project pada Tahun 2015 yang menyatakan
bahwa perempuan hanya memiliki 24% penggambaran dari seluruh total pemberitaan di media
dan di indonesia hanya 11%. Penggambaran perempuan di media dinilai kurang berkualitas.
Dari hasil representasi perempuan hanya sebatas identitas feminin tradisional, khususnya
dengan stereotip yang bersifat domestifikasi dan nonprofesional (Team, 2015).
Perempuan dalam berbagai citra dan penggambaran yang diangkat, juga mengarah pada
sosok yang bersifat halus. Perempuan memiliki suatu pandangan ataupun perbedaan, sehingga
ketika menghadiri suatu pertemuan perempuan akan menggunakan kostum terbaik, jadi akan
telihat berbagai pakaian mewah yang dikenakannya.
Berdasarkan studi yang dipimpin dengan menggunakan pemeriksaan gender dan
kebetulan, banyak ditemukan pengkhianatan sebagai berikut: Pertama minimisasi (pemiskinan
moneter) perempuan. Kedua perempuan korban dalam keluarga, masyarakat dan negara.
Banyak pengaturan percaya bahwa perempuan tidak penting, karena dianggap memiliki mien
yang “bergairah” dan tidak mampu menjadi pelopor. Ketiga penandaan negatif dari orientasi
seksual tertentu. Keempat kebrutalan terhadap jenis kelamin tertentu yang menuju pada
perempuan. Kelima karena pekerjaan seks wanita adalah menangani keluarga, wanita memikul
lebih banyak tanggung jawab di dalam negeri dibandingkan dari pria (Fakih, 2020).
Penelitian terdahulu telah meneliti tentang perempuan dengan menggunakan analisis
wacana kritis Sara Mills. Wacana yang diteliti adalah berita koran terkait kejadian yang
melibatkan perempuan, wacana lirik lagu, dan film serial. Sementara penelitian ini menganalisis
wacana yang berbentuk cerita pendek tentang posisi perempuan di dalam keluarga dalam
pandangan ibu dan suaminya. Pada penelitian terdahulu hal yang belum diungkapkan adalah
bagaimana perempuan memandang dirinya sendiri sehingga dapat membangun pandangan
pembaca terhadap objek yang diceritakan yaitu tokoh perempuan. Penelitian pertama ditulis
oleh Ermayanti et al. (2020) yang berjudul kajian wacana Sara Mills bahasa perempuan pada
rubrik viral koran radar Sorong edisi bulan Februari s.d. April 2020. Posisi pembaca dalam
penulisan berita sebagai pihak yang merasakan kondisi dan dialami oleh objek di dalam
pemberitaan. Posisi pembaca laki-laki dan perempuan memiliki pendapat yang berbeda serta
juga wawasan yang luas.
Perempuan ideal adalah perempuan yang muncul dalam diskursus ratu rumah tangga,
yakni: 1) citra pigura (perhatian perempuan terhadap kesehatan dan kecantikan); 2) citra pilar
(perempuan dapat mengelola rumah tangga); 3) citra peraduan (perempuan dan seksualitas
dalam perkawinan); 4) citra pinggan (keharusan perempuan memasak); dan 5) citra pergaulan
(keahlian perempuan dalam bergaul) (Tomagola, 1990). Dalam tataran ini, pandangan tentang
perempuan sempurna dalam konteks rumah tangga dan sosial masyarakat merujuk pada
kalangan kelas menengah ke atas (Santoso, 2011). Menurut analisis feminis, ketidakadilan
gender muncul karena adanya kesalahpahaman terdahap konsep gender yang di samakan
dengan konteks seks. Sekalipun kata gender dan seks secara bahasa memang mempunyai
makna yang sama, yaitu jenis kelamin.
Film “Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan” merupakan film karya Meira Anastasia, yang

23
disutradarai oleh Ernest Prakasa dan diproduseri oleh Chand Parwez Servia. Film ini diangkat
melalui novel berjudul “Imperfect: A Journey to Self- Acceptance”. Film ini dirilis pada tanggal
19 Desember 2019 dan berhasil memperoleh piala dalam ajang bergengsi, seperti Piala Maya,
Festival Film Bandung, Festival Film Indonesi, dan PARFI Awards. Film ini dibintangi secara
utama oleh aktris Jessica Mila dan aktor Reza Rahadian (Winursita, n.d.).
Film ini mengangkat isu yang sering dihadapi banyak perempuan pada zaman sekarang,
yang menilai seorang wanita ditentukan dari penampilan fisiknya. Film ini mengisahkan
tentang seorang perempuan bernama Rara (diperankan oleh Jessica Mila) yang bekerja di
sebuah perusahaan kosmetik. Di tempat kerjanya, ia seringkali menjadi bahan lelucon karena
tubuhnya yang dideskripsikan sebagai memiliki kelebihan berat badan. Film “Imperfect:
Karier, Cinta dan Timbangan” menarik perhatian karena bukan hanya dapat menginspirasi
wanita atas ketidaknyamanan dengan tubuhnya, tapi juga mampu memberikan dukungan dan
semangat untuk membantu meningkatkan rasa percaya diri mereka. Film ini juga mengingatkan
pentingnya mensyukuri segala berkah yang Tuhan limpahkan kepada kita.
Pemilihan alat analisis pisau yang dipilih oleh Sara Mills dalam penelitiannya difokuskan
pada tendensi dari konsep Sara Mills yang mengupayakan untuk melihat sudut pandang yang
berbeda. Dalam tulisan tersebut Sara Mills menyuguhkan penemuan tentang posisi subjek dan
membahas objek yang terdapat dalam teks, kemudian menjelaskannya dalam hubungannya
dengan posisi yang relevan. Penulis dan pembaca diajak untuk melihat cerita dari sudut
pandang yang sama. Oleh karena itu, teks tidak hanya dimengerti, tidak hanya terpisah dengan
audiens, tetapi saling terhubung satu sama lain. Antara makna dan interpretasi yang dipahami
oleh pembuat pesan (komunikator) dan dari sudut pandang penerima (komunikan).
Oleh Karena Itu Penting diadakan Penelitian mengenai Analisis Wacana Kritis Sara Mills
dalam Film Imperfect: Karir, Cinta, dan Timbangan untuk merepresentasikan wacana tentang
standar kecantikan dan peran perempuan dalam masyarakat. Dengan menggunakan Analisis
Wacana Kritis Sara Mills, penelitian ini mengungkap bagaimana perempuan diposisikan dalam
narasi film serta ideologi yang melatarbelakanginya. Hasil penelitian ini dapat memberikan
wawasan tentang bagaimana media membentuk persepsi gender dan berkontribusi pada
kesadaran kritis audiens terhadap konstruksi sosial dalam budaya populer.

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis
(AWK) model Sara Mills. Moleong (2014) mengungkapkan bahwa penelitian kualitatif adalah
penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena yang dialami oleh subyek penelitian,
misalnya persepsi, perilaku, maupun tindakan secara holistik dengan cara deskripsi yang
berbentuk kata – kata dan bahasa. Menurut Moleong (2014) dalam konteks ini, data dalam
penelitian kualitatif mayoritas berupa kata-kata, gambar, atau kronik. Sama halnya, tujuan dari
pengujian subjektif adalah untuk menggambarkan dengan lebih jelas keunggulan dari suatu
produk dalam menjelajahi berbagai informasi (Kriyantono, 2006). Berfokus pada metode
kualitatif ini memberikan berbagai contoh yang dicari dalam investigasi terjadi sebagai kaidah
umum yang [Link] di tengah keramaian (Bungin, 2006).
Pendekatan ini menitikberatkan pada konstruksi representasi dan posisi subjek dalam
wacana, khususnya dalam narasi film Imperfect: Karir, Cinta, dan Timbangan. Data utama
dalam penelitian ini adalah film Imperfect: Karir, Cinta, dan Timbangan beserta skrip
dialognya. Data sekunder meliputi ulasan film, artikel dan literatur terkait yang membahas

24
representasi perempuan dalam media.
Teknik pengumpulan menggunakan observasi teks dan visual, dokumentasi dan studi
pustaka. Observasi dilakukan dengan menganalisis adegan, dialog, dan representasi karakter
dalam film. Dokumentasi melalui pengumpulan transkrip dialog, deskripsi visual, serta artikel
pendukung yang membahas film ini. Studi pustaka melalui menelaah penelitian terdahulu
terkait representasi perempuan dan standar kecantikan dalam film.
Teknik analisis data yang dilakukan melalui tahapan indentifikasi representasi, posisi subjek
dan pembaca, serta hubungan wacana dan ideologi. Teknik analisis data pertama melalui
identifikasi representasi yakni mengidentifikasi tokoh utama (Rara) dan karakter lainnya
direpresentasikan dalam film, baik dari segi visual maupun naratif. Menelaah konstruksi
identitas perempuan dalam kaitannya dengan standar kecantikan dan norma sosial yang
ditampilkan. Teknik analisis data kedua melalui posisi subjek dan pembaca menganalisis posisi
subjek dalam film yang ditentukan melalui pusat cerita, sudut pandang dikonstruksi, dan suara
yang mendominan dalam narasi. Meneliti film memosisikan penonton dalam memahami atau
menyetujui representasi yang diberikan. Teknik analisis ketiga adalah hubungan wacana dan
ideologi yang mendasari representasi perempuan dalam film. Mengkaji film dalam
mereproduksi atau menantang wacana sosial tentang kecantikan, karier, dan cinta.
Keabsahan data dalam penelitian bertujuan untuk meningkatkan validitas, dengan
menggunakan triangulasi sumber (membandingkan data dari film, wawancara, dan literatur)
serta triangulasi teori (menggunakan konsep dari Sara Mills dan perspektif lain dalam AWK).

Hasil dan Pembahasan


Posisi Subjek-Objek
Sara Mills ingin menentukan subjek dan objek dalam film imperfect. Ia
menggambarkan dua posisi pengarang sebagai sudut pandang utama tokoh perempuan
ketiga dan utama dalam novel. Kehadiran penulis sebagai narator menjadi pertimbangan
keberadaannya dalam film sehingga memegang kontrol atas perkembangan cerita. Oleh
karena itu, representasi perempuan terbentuk dalam film ini sangat dipengaruhi oleh
penulis yang menceritakan rangkaian peristiwa dalam film dengan kerangka ideologi yang
diwakilinya, maka tokoh perempuan menempati posisi objek yang terpengaruh. Film ini
menggambarkan adanya ketidakadilan dalam masyarakat dan ketidakadilan yang ia terima
dalam hidupnya.
Posisi subjek merupakan pihak pencerita atau yang mempunyai keleluasaan untuk
menceritakan peristiwa dan menafsirkan berbagai tindakan yang membangun peristiwa
tersebut, kemudian hasil penafsiran digunakan untuk membangun pemaknaan yang
disampaikan khalayak. Posisi subjek dapat dianalisis melalui adegan-
adegan dalam film, adegan yang dianalisis nanti akan menunjukkan bagaimana
peristiwa dilihat, dari kacamata siapa peristiwa itu dilihat dan siapakah aktor yang menjadi
subjek dalam cerita tersebut.
Posisi objek ini merupakan hasil definisi dari subjek yang menggambarkan
perspektif atau sudut pandangnya sendiri. Untuk mengetahui siapa saja yang menjadi
subjek-objek dalam film Imperfect, maka dapat dilihat melalui dialog yang terjadi antar
tokoh dan adegan yang ditampilkan. Berikut adalah potongan adegan dan dialog yang telah
peneliti rangkum dan menampilkan situasi subjekobjek dalam film Imperfect.

25
Posisi Subjek

Gambar 1. Adegan Rara diolok-olok rekan kerjanya


Wiwid : “wihh, bubur lagi?”
Irene : “Ra ingat lemak, tapi gapapa deh nutrisi buat ibu hamil”
Gambar dan kutipan tersebut menjelaskan bahwa rekan kerja rara secara terang-terangan
mengejek penampilan dan fisik Rara saat membawa dua kotak bubur ke tempat kerja. Bahkan
teman kerjanya juga mengejek rara seperti ibu hamil. Dalam adegan ini, Wiwid dan Irene di
jadikan sebagai subjek yang mengolok-olok Rara, mengejek tubuhnya, kebiasaan makannya,
penampilan fisiknya dan secara terang-terangan merendahkannya. Rekan kerjanya mengambil
posisi sebagai pihak penguasa yang berhak menilai dan mengomentari tubuh Rara. Sebagai
subjek, mereka mencerminkan masyarakat yang memperkuat standar kecantikan ideal serta
menormalisasikan body shaming sebagai bentuk interaksi sehari-hari. Namun, Rara mencoba
untuk bersikap tidak peduli dengan yang di katakan rekan kerjanya dan mempertahankan
sikap profesionalismenya sebagai seorang karyawan. Ia juga tetap berperan aktif dengan
tetap bekerja meski dihapkan pada lingkungan yang toxic.
Posisi Objek
Dalam adegan ini, Rara di posisikan sebagai objek pandangan sosial yang di nilai hanya
berdasarkan standar kecantikan yang tidak masuk akal oleh masyarakat, tanpa mempertimbangkan
kemampuan serta kualitas yang ia miliki. Tubuhnya menjadi pusat perhatian dan menjadi bahan
ejekan orang-orang. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan sering di nilai kurang hanya dari segi
penampilan. Dari kutipan tersebut terjadilah ketidakadilan terhadap sesama perempuan, karena
tidak semua perempuan mempunyai fisik yang bagus, kulit yang putih dan rambut yang lurus.
Posisi Pembaca atau Penonton
Pada adegan ini, penonton atau pembaca di tempatkan sebagai saksi ketidakadilan yang di
alami Rara. Bukan hanya sebagai saksi ketidakadilan yang di rasakan Rara, tetapi penonton juga di
ajak untuk merenungkan apakah mereka pernah menyaksikan kejadian yang serupa dengan yang
di alami oleh Rara atau bahkan pernah melakukannya di dunia nyata.
Sebagai saksi, mereka juga di ajak untuk membuka hati dan merasakan empati yang mendalam
terhadap perjuangan Rara, meski terjebak dalam penderitaan tetapi berusaha bertahan. Penonton
juga di ajak untuk memahami dan berbagi beban yang di pikul oleh Rara dan berupaya untuk
menemukan keadilan serta pengakuan atas martabatnya yang di jadikan bahan cemohan oleh
lingkungan di sekitarnya.
Posisi Subjek

26
Gambar 2. Adengan ibu memberikan nasihat kepda Rara
Mama :“Mama nyuruh kamu jaga makan, rawat badan, itu semua buat kamu bukan buat mama. Ini
buktinya kan sebetulnya secara kemampuan kamu yang paling layak tapi jadi kalah bersaing.
Lagian emang kamu gak mau lebih di sayang sama si Dika, ya meskipun dia bilang di suka sama
kamu apa adanya tapi ya kalo penampilan kamu lebih baik masak sih dia gak senang iya kan
lu?”
Dalam adegan ini, subjeknya adalah ibu Rara yang memberikan nasihat kepada putrinya
tentang pentingnya menjaga penampilan, pola makan, dan perawatan diri. Sebagai subjek, ibu Rara
merepsentasikan konstruksi sosial yang memperkuat standar kecantikan dalam budaya patriarki.
Ia memanfaatkan posisinya sebagai orang tua untuk menegaskan bahwa menjaga penampilan
adalah sebuah keharusan bagi perempuan agar dapat diterima dalam masyarakat, termasuk
meningkatkan peluang untuk disukai oleh pasangan, seperti halnya dengan Dika.
Posisi Objek
Rara sebagai objek mejadi sasaran nasihat ibunya. Nasihat ini berfokus pada anggapan bahwa
penampilannya tidak memenuhi standar kecantikan yang berlaku sehingga membuatnya merasa
kalah bersaing meskipun ia memiliki kapasitas atau kemampuan yang baik. Penampilan dan
tubuhnya dianggap sebagai penghalang untuk meraih kesuksesan, meski sebenarnya ia memiliki
potensi dan kemampuan yang luar biasa. Rara diposisikan sebagai individu yang diharapkan
melakukan perubahan demi mendapatkan peneriman sosial. Hal ini menunjukkan betapa besar
tekanan yang harus dihadapi perempuan untuk memenuhi standar kecantikan tertentu.
Posisi Penonton
Penonton di jadikan pihak untuk memahami dilema yang dialami Rara. Disatu sisi ia
ingin menerima dirinya apa adanya, namun disisi lain menghadapi tekanan dari orang -
orang terdekatnya termasuk juga ibunya. Selain itu, penonton diajak untuk merenungkan
bahwa wacana sering terjadi dalam kehidupan nyata melalui standar kecantikan yang
ditegakkan bukan hanya oleh masyarakat luas, tetapi juga dilingkungan keluarga.
Posisi Subjek

Gambar 3. Perubahan Rara dan naik jabatan


Sejak di nasehati oleh ibunya, Rara mulai mengubah penampilannya agar sesuai dengan
ekpetasi sosial dan profesional orang-orang di sekitarnya dengan mengikuti diet ketat, olahraga
secara teratur, dan memperhatikan riasannya. Ia percaya dan yakin bahwa penampilan yang
lebih menarik akan memberikan lebih banyak peluang karir dan membuat dirinya lebih di
terima di kalangan sosial.
Dalam adegan ini, Rara menjadi subjek yang aktif melakukan tindankan untuk
mengubah dirinya. Meskipun pada awalnya ia di pengaruhi oleh kendala eksternal seperti
tuntunan dari lilngkungan sosial dan profesionalnya, ia masih mempunyai kesempatan
untuk memutuskan untuk mengalami perubahan tersebut.
Meskipun banyak faktor eksternal yang mendorongnya untuk berubah, pada akhirnya
ia memiliki kendali penuh atas keputusan dan upaya yang di ambinya. Tidak hanya
mengikuti trend dan ekspetasi orang lain, ia juga memilih mencari cara yang lebih sehat

27
dan cerdas dalam menjaga kesehatan fisik dan mentalnya.
Posisi Objek
Dalam transformasi ini, tubuh Rara menjadi objek yang dipoles dan disesuaikan
dengan standar kecantikan masyarakat. Perubahan fisik di pandang oleh orang-orang di
sekitarnya sebagai bentuk kemajuan dalam memenuhi harapan masyarakat. Namun, dalam
kondisi seperti ini tubuhnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri da n menjadi instrumen
untuk di nilai berdasarkan standar eksternal, yang seringkali tidak manusiawi.
Orang-orang di sekitarnya mengaguminya tanpa mempertanyakan tekanan dan
pengorbanan yang dilakukan oleh Rara untuk mencapai impiannya. Hal ini menjadikannya
sebagai simbol pasif dari harapan kolektif yang lebih besar. Proses ini tidak hanya
membentuk kembali tubuhnya, tetapi juga menciptakan kisah nilai dan identitas yang
sepenuhnya terlepas dari kepribadian dan ambisinya sebagai individu. Hasilnya, tubuh
Rara bukan hanya miliknya sendiri, melainkan menjadi barang pameran yang di lihat dan
nikmati banyak orang.
Posisi Penonton atau Pembaca
Dalam adegan ini, penonton maupun pembaca diajak untuk merasakan bagaimana
dilemanya Rara. Penonton juga diarahkan untuk memahami tekanan yang yang dialami
Rara, baik dari lingkungan kerja maupun keluarga. Melalui transformasi yang dialami Rara,
penonton diajak untuk melihat standar kecantikan yang tidak masuk akal dengan memaksa
seseorang untuk berubah demi norma yang tidak adil. Penonton ditempatkan untuk
melihat kecantikan tidak hanya terletak pada fisik, tetapi juga terletak pada karakter,
kepribadian, dan kemampuan seseorang.
Posisi Subjek

Gambar 4. Adegan Dika memberikan pujian terhadap Rara.


Dika :“hebat banget sih kamu pacarnya Dika”
Subjek dalam adegan ini adalah Dika, yang dengan tulus memberikan pujian kepada
Rara. Melalui dialognya, Dika mengekspresikan apresiasi dan pengakuan terhadap
perubahan positif dalam diri Rara. Sebagai subjek, Dika mewakili sosok yang memb erikan
dukungan dan validasi positif kepada Rara. Pujian yang dia berikan menunjukkan bahwa
ia melihat Rara secara menyeluruh, tidak hanya dari segi fisik, tetapi juga dari aspek nilai
dan kepribadian yang dimilikinya. Sikap Dika menggaris bawahi pentingny a menghargai
kepribadian seseorang jauh di luar standar kecantikan yang sempit.
Posisi Objek
Rara berperan sebagai objek yang mendapatkan pujian dan apresiasi dari Dika. Dalam
konteks ini, posisi Rara sebagai objek bukanlah bentuk merendahkan, melainkan
mendapatkan penghargaan yang tulus. Meski demikian, dinamika sosial tetap berperan,
karena Rara juga dipandang dalam konteks hubungannya dengan Dika sebagai
pasangannya. Rara dianggap "beruntung" karena memiliki Dika di sisinya. Sebuah refleksi
dari pandangan masyarakat yang sering mengukur nilai seseorang melalui hubungan dan

28
penerimaan dari orang lain. Namun, pujian yang disampaikan Dika tetap menonjolkan
nilai positif terhadap Rara, memposisikan dia sebagai individu yang istimewa.
Posisi Penonton
Penonton diarahkan untuk melihat hubungan antara Dika dan Rara sebagai contoh
dari sebuah ikatan yang saling mendukung. Pujian Dika memberikan penegasan bahwa
seseorang dapat dihargai bukan hanya berdasarkan penampilan fisik, tetapi juga berkat
kualitas diri yang lebih dalam. Penonton diundang untuk merenungkan bahwa
penghormatan terhadap seseorang seharusnya melampaui penilaian visual, seperti yang
diperlihatkan Dika kepada Rara. Di sisi lain, mereka juga diajak untuk mempertanyakan
narasi sosial yang sering mengukur keberhasilan individu berdasarkan hubungan simbolis
dan penerimaan dari pasangan.
Posisi Subjek

Gambar 5. Rara yang menerima diri sendiri


Rara :“ternyata cantik itu belum tentu bahagia tante”
Dalam adegan ini, Rara muncul sebagai subjek utama yang mengambil keputusan untuk
menerima dirinya apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Ia tidak lagi
tertekan oleh standar kecantikan yang tidak masuk akal. Sebagai subjek yang aktif, Rara memegang
kendali atas hidupnya dan menolak tekanan sosial yang menuntutnya untuk berpura-pura demi
diterima oleh orang lain. Dengan langkah ini, Rara mencerminkan perjuangan individu dalam
melawan norma yang membatasi, sekaligus menemukan makna sejati dari penerimaan diri.
Posisi Objek
Standar kecantikan dan norma sosial menjadi objek yang dikritik melalui keputusan Rara. Rara
menolak standar kecantikan hegemonik yang menjadi ukuran penilaian diri dan kebahagiaannya.
Ia menyadari bahwa penampilan fisik tidak boleh menjadi satu-satunya pengukur nilai. Dengan
menerima dirinya Rara mengubah definisi "cantik" menjadi lebih inklusif dan personal tidak hanya
berkisar pada aspek fisik saja.
Posisi Penonton
Penonton diajak untuk merasakan momen transformasi emosional dan spiritual yang
dialami Rara. Adegan ini bertujuan menginspirasi penonton untuk belajar menghargai diri
mereka sendiri, meskipun dihadapkan oleh tekanan sosial yang ada. Melalui perjalanan
Rara, penonton diajak untuk merasakan empati terhadap perjuangannya dan berbagi dalam
kelegaan serta kebahagiaan yang ia temukan saat menerima dirinya. Selain itu, mereka juga
diajak untuk kritis terhadap standar kecantikan yang sering kali menciptakan rasa kurang
percaya diri, terutama di kalangan perempuan. Penonton didorong untuk merefleksikan
pentingnya penerimaan diri sebagai langkah menuju kebahagiaan sejati.

Simpulan
Penelitian ini menganalisis representasi perempuan dalam film Imperfect: Karir, Cinta,
dan Timbangan menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) Sara Mills. Hasil
analisis menunjukkan bahwa film ini merepresentasikan perempuan dalam kerangka

29
wacana dominan yang mengonstruksi standar kecantikan sebagai aspek krusial dalam
kehidupan perempuan, sekaligus menawarkan kontra-wacana yang menantang standar
tersebut. Dari perspektif posisi subjek, karakter utama dalam film ini ditempatkan sebagai
pusat narasi yang mengalami perjalanan transformasi, baik secara fisik maupun psikologis.
Namun, wacana yang dibangun tetap menunjukkan adanya dominasi nilai -nilai patriarkal
yang menempatkan perempuan dalam tekanan sosial terkait penampilan fisik. Sementara
itu, dari sisi posisi audiens, film ini mengundang penonton untuk mengidentifikasi diri
dengan pengalaman karakter utama, sehingga mendorong refleksi kritis terhadap
konstruksi sosial yang ada.
Dengan demikian, film Imperfect tidak hanya mereproduksi wacana domina n tentang
kecantikan tetapi juga menawarkan ruang negosiasi bagi perempuan untuk mendefinisikan
kembali makna kecantikan dan penerimaan diri. Hasil penelitian ini mengindikasikan
bahwa representasi perempuan dalam media populer masih berada dalam tarik-menarik
antara reproduksi dan perlawanan terhadap norma sosial yang berlaku.
Bagi pembuat film, disarankan untuk mengeksplorasi kontribusi film dalam
mempengaruhi pemikiran, opini, dan gerakan sosial terkait isu-isu perempuan. Semoga
terus memberikan pesan moral yang mengedukasi dan menginspirasi para penggemar film.
Disarankan kepada para penikmat film untuk menjadi penonton yang cerdas dan selektif
dalam memilih film yang ditonton. Pilihlah film-film yang mengandung pesan moral dan
makna yang positif, serta mampu menilai makna yang ada dalam film sebagai perempuan
harus memiliki tujuan dan tekad yang kuat untuk mencapai sesuatu, dan tidak hanya
melihat film sebagai media hiburan saja.

Referensi
Adriani, A. Y., Muttalib, A., & Irmayani, N. (2020). Analisis Film Perempuan Berkalung
Sorban Karya
Hanung Bramantyo melalui Model Sara Mills. Pepatudzu, 16(1), 61-71.
Bungin, B. (2006). Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi
Komunikasi di
Masyarakat. Jakarta: Kencana
Ermayanti, E., Putra, T. Y., & Hafid, A. (2020). Kajian Wacana Kritis Sara Mills Bahasa
Perempuan
pada Rubrik Viral Koran Radar Sorong Edisi Bulan Februari-April 2020. Jurnal Frasa:
Jurnal Keilmuan
Bahasa,1(2),1725[Link]
Fakih, M. (2020). Analisis Gender dan Transformasi Sosial (Edisi Klas). Yogyakarta:
Insist
Press.
Kriyantono, R. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
Lancia, F., liliyana., & Azis, A. 2023. K-Beauty dan Standar Kecantikan di Indonesia(Analisis
Wacana
Sara Mills pada Kanal YouTubePriscilla Lee), 2 (1), 56-68.
Lavenia, A. (2021). Representasi Perempuan di Media: Bukan Token Konten Semata.
Retrieved
from [Link]
bukan-token-konten-semata.
Luthfiyyahningtyas, S., Khairani, S.P., & Camelia.I. 2024. Standar Kecantikan Dalam Film

30
“200 Pounds
Beauty”: Kajian Feminisme Sara Mills. 5 (2), 1991-1995
Moleong, L. (2014). Metodologi Penelitian Kualitatif (P. R. Rosdakarya, Ed.). Bandung.
Puspitasari, A., Wiyanti, E., & Nutriputra, I. 2021. Analisis Wacana Kritis Pada Berita Sosial
Surat Kabar
Harian Kompas Dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia, 1 (2), 1-11.
Santoso, W. M. (2011). Sosiologi Feminisme: Konstruksi Perempuan dalam Industri Media.
Yogyakarta:
LKiS.
Tazkiyyah, Z., & Wulan, R.R. 2017. Representasi Pers Dalamfilmspotlight(Analisis Semiotika
John Fiske
Dalam Film Spotlight Dengan Penerapan 9 Elemen Jurnalistik Kovach & Rosenstiel). 4
(3), 3295-3303.
Team, G. W. (2015). Global Media Monitoring Project. London and Toronto.
Tomagola, T. A. (1990). Indonesian Women’s Magazine as an Ideological Medium.
Universitas
Indonesia.
Wibowo, P.N.H & Sathotho, S.F. 2021. The Imaginarylacan Sebagai Inspirasi Penciptaan
Skenario Film
Pendek Sekuel Kedua Film Koper Gendis Mencari Jawab Menakar Tanya. 18 (1), 1-
7.
Winursita, S. (n.d.). Sinopsis Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan. Retrieved from
https:/

31

Anda mungkin juga menyukai