Prinsip dan Efektivitas Pembelajaran
Prinsip dan Efektivitas Pembelajaran
KAJIAN PUSTAKA
6
seseorang membentuk diri secara positif dalam kondisi tertentu (Miarso, 2004).
Dengan demikian, inti dari pembelajaran adalah segala upaya yang dilakukan
oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri peserta didik. Untuk membantu
proses belajar peserta didik, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang,
disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses
belajar peserta didik yang bersifat internal (Gagne dan Briggs, 1979). Dengan
demikian, pembelajaran merupakan segala upaya untuk menciptakan kondisi
dengan sengaja agar tujuan pembelajaran dapat dipermudah (facilitated)
pencapaiannya.
Ada lima prinsip yang menjadi landasan pengertian pembelajaran yaitu
sebagai berikut:
7
adanya kebutuhan yang mendorong dan ada sesuatu yang ingin dicapai.
Belajar tidak akan efektif tanpa adanya dorongan atau motivasi dan tujuan.
e. Pembelajaran merupakan bentuk pengalaman. Pengalaman pada
dasarnya adalah kehidupan melalui situasi yang nyata dengan tujuan
tertentu, pembelajaran merupakan bentuk interaksi individu dengan
lingkungannya, sehingga banyak memberikan pengalaman dari situasi
nyata.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan pembelajaran
perlu dipilih strategi yang tepat agar tujuan dapat dicapai. Strategi pembelajaran
adalah suatu cara atau metode yang dilakukan oleh pendidik (guru) terhadap
peserta didik dalam upaya terjadinya perubahan pada aspek kognitif, afektif dan
motorik secara berkesinambungan.
8
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Efektivitas pembelajaran dapat dilihat dari
aktivitas siswa selama pembe-lajaran berlangsung, respon siswa terhadap
pembelajaran dan penguasaan konsep siswa. Untuk mencapai suatu konsep
pembela- jaran yang efektif dan efisien perlu adanya hubungan timbal balik
antara siswa dan guru untuk mencapai suatu tujuan secara bersama, selain itu juga
harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekolah, sarana dan prasarana, serta
media pembelajaran yang dibutuhkan untuk membantu tercapainya seluruh aspek
perkembangan siswa
John Carroll (Supardi, 2013) yang termasyhur dalam bidang pendidikan
psikologi, dan dalam bukunya yang berjudul “A Model of School Learning”,
menyatakan bahwa Instructional Effectiveness tergantung pada lima faktor: 1)
Attitude; 2) Ability to Understand Instruction; 3) Perseverance; 4) Opputunity; 5)
Quality of Instruction. Dengan mengetahui beberapa indikator tersebut
menunjukkan bahwa suatu pembelajaran dapat berjalan efektif apabila terdapat
sikap dan kemauan dalam diri anak untuk belajar, kesiapan diri anak dan guru
dalam kegiatan pembelajaran, serta mutu dari materi yang disampaikan. Apabila
kelima indikator tersebut tidak ada maka kegiatan belajar mengajar anak tidak
akan berjalan dengan baik. Kegiatan pembelajaran yang efektif sangat dibutuhkan
anak untuk membantu mengembangkan daya pikir anak tanpa mengesampingkan
tingkat pemahaman anak sesuai dengan usia perkembangannya. Efektifitas
pembelajaran merupakan suatu ukuran keberhasilan dari proses interaksi dalam
situasi edukatif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dilihat dari aktivitas selama
pembelajaran, respon dan penguasaan konsep.
9
kurun waktu tertentu kepada anggota kelompok sosial tertentu (Roger, 2003). Jadi
pengertian inovasi dalam pendidikan ialah suatu ide/gagasan, strategi/metode,
atau barang, yang dirasakan dan diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang
atau sekelompok orang dan akan digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan
atau untuk memecahkan masalah pendidikan. Cepat atau lambatnya penerimaan
inovasi oleh masyarakat luas dipengaruhi oleh karakteristik inovasi itu sendiri
serta ketepatan mendifusikannya. Roger mengemukakan beberapa ciri atau
karakteristik inovasi:
a. Keuntungan relatif, yaitu sejauh mana inovasi dianggap menguntungkan
bagi penerimanya. Makin menguntungkan bagi penerima, makin cepat
tersebarnya inovasi
b. Kompatibel (Compatibility), ialah tingkat kesesuaian inovasi dengan nilai
(values), pengalaman lalu, dan kebutuhan dari penerima. Inovasi yang
tidak sesuai dengan nilai atau norma yang diyakini oleh penerima tidak
akan diterima secepat inovasi yang sesuai dengan norma yang ada.
c. Kompleksitas (Complexity), ialah tingkat kesukaran untuk memahami dan
menggunakan inovasi bagi penerima. Suatu inovasi yang mudah
dimengerti dan mudah digunakan oleh penerima akan cepat tersebar,
sedangkan inovasi yang sukar dimengerti atau sukar digunakan oleh
penerima akan lambat proses penyebarannya.
d. Trialabilitas (Trialability), ialah dapat dicoba atau tidaknya suatu inovasi
oleh penerima. Suatu inovasi yang dapat dicoba akan cepat diterima oleh
masyarakat daripada inovasi yang tidak dapat dicoba lebih dulu.
e. Dapat diamati (Observability), ialah mudah tidaknya diamati suatu hasil
inovasi. Suatu inovasi yang hasilnya mudah diamati akan makin cepat
diterima oleh masyarakat, dan sebaliknya inovasi yang sukar diamati
hasilnya, akan lama diterima oleh masyarakat.
Selanjutnya, Rogers menyebutkan proses keputusan inovasi terdiri dari
lima tahap, yaitu:
1. Tahap pengetahuan (knowledge)
Proses keputusan inovasi dimulai dengan tahap pengetahuan, yaitu tahap
dimana seseorang menyadari adanya suatu inovasi dan ingin tahu
10
bagaimana fungsi inovasi tersebut. Pengertian menyadari dalam hal ini
adalah membuka diri untuk mengetahui informasi.
2. Tahap persuasi (persuasion)
Pada tahap persuasi dalam proses pengambilan keputusan inovasi,
seseorang membentuk sikap menyenangi atau tidak menyenangi inovasi
yang telah dikenal dalam tahap pengetahuan. Jika pada tahap pengetahuan
proses kegiatan mental yang utama bidang kognitif maka pada tahap
persuasi yang berperan utama adalah bidang afektif atau perasaan.
Seseorang tidak dapat menyenangi inovasi setelah ia terlebih memiliki
pengetahuan tentang inovasi itu dan kemudian yakin bahwa inovasi itu
berguna baginya.
3. Tahap keputusan (decision)
Tahap keputusan dalam proses pengambilan keputusan inovasi
berlangsung jika seseorang melakukan pilihan untuk menerima atau
menolak inovasi. Menerima inovasi berarti sepenuhnya akan menerapkan
inovasi. Menolak inovasi berarti tidak menerapkan inovasi itu.
4. Tahap implementasi (implementation)
Tahap implementasi dalam proses pengambilan keputusan inovasi terjadi
apabila seseorang menerima dan menerapkan inovasi. Dalam tahap
implementasi ini berlangsung keaktifan baik mental maupun perbuatan.
Keputusan penerimaan gagasan inovasi terlihat secara nyata dalam
prakteknya
5. Tahap konfirmasi (confirmation)
Dalam tahap konfirmasi ini, seseorang mencari penguatan terhadap
keputusan yang telah diambilnya. Dalam tahap ini ia membuktikan apakah
keputusan untuk menerima dan menggunakan inovasi bermanfaat bagi
dirinya. Apabila ternyata inivasi itu sesuai dengan harapannya maka ia
akan meneruskan menggunakan inovasi itu sehingga menjadi suatu
kebiasaan. Akan tetapi, apabila inovasi itu tidak sesuai dengan
harapannya, ia akan menghentikan menerima dan menggunakan inovasi
tersebut.
11
Dari penjelasan diatas disimpulkan bahwa inovasi pembelajaran
didefinisikan sebagai upaya pembaharuan yang sengaja dan terencana dalam
komponen-komponen pembelajaran untuk meningkatkan kualitas, efisiensi, dan
efektivitas proses belajar mengajar. Ini bukan sekadar perubahan, melainkan
memperkenalkan ide, metode, atau alat baru yang membawa nilai tambah
signifikan dan memecahkan masalah pendidikan yang ada. Tujuan utama dari
inovasi pembelajaran antara lain :
1. Meningkatkan Kualitas dan Hasil Belajar: Memastikan siswa mencapai
hasil belajar yang lebih baik dan lebih optimal.
2. Meningkatkan Efisiensi dan Relevansi: Membuat proses belajar lebih
efisien dan relevan dengan tuntutan zaman, baik untuk siswa, masyarakat,
maupun pembangunan.
3. Mengatasi Permasalahan Pendidikan: Mencari solusi untuk masalah
seperti rendahnya motivasi siswa, ketidaksesuaian kurikulum, atau
kurangnya sarana prasarana.
4. Mengembangkan Potensi Siswa: Mendorong siswa untuk lebih aktif,
kreatif, kritis, dan mampu memecahkan masalah.
Beberapa faktor yang mendorong munculnya inovasi pembelajaran
meliputi:
a. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi: Munculnya teknologi
baru membuka peluang untuk metode dan alat pembelajaran yang belum
pernah ada sebelumnya.
b. Tuntutan Masyarakat dan Industri: Kebutuhan akan lulusan yang memiliki
keterampilan abad ke-21 (seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan
kreativitas) mendorong perubahan dalam praktik pendidikan.
c. Masalah Pendidikan yang Kompleks: Permasalahan seperti
ketidakmerataan pendidikan, kualitas guru, atau keterbatasan akses
mendorong pencarian solusi inovatif.
d. Peran Guru sebagai Agen Perubahan: Guru menjadi ujung tombak inovasi.
Kreativitas dan kemauan guru untuk mencoba metode baru sangat
menentukan keberhasilan inovasi.
12
Inovasi pembelajaran dapat mencakup berbagai aspek, tidak hanya
terbatas pada teknologi. Diantaranya adalah pada model pembelajaran. Salah satu
model pembelajaran yang saat ini menjadi tren inovasi dalam pembelajaran
adalam pembelajaran berbasis proyek atau yang lebih dikenal dengan sebutan
project based learning (PjBL).
13
dan keterampilan melalui proses penyelidikan terhadap masalahmasalah nyata dan
pembuatan berbagai karya yang dirancang secara hati-hati. Sedangkan menurut
Ridwan Abdullah Sani (2014) merupakan belajar mengajar yang melibatkan siswa
untuk mengerjakan sebuah proyek yang bermanfaat untuk menyelesaikan
permasalahan masyarakat atau lingkungan.
Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi yang besar untuk
memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi siswa
adalah keterangan Gear (M. Hosnan, 2014). Sedangkan ciri pembelajaran berbasis
proyek menurut Center for Youth Development and Education Boston (M.
Hosnan, 2014) yaitu:
1. Siswa mengambil keputusan sendiri dalam kerangka kerja yang telah
ditentukan bersama sebelumnya.
2. Siswa berusaha memecahan sebuah masalah atau tantangan yang tidak
memiliki satu jawaban pasti.
3. Siwa didorong untuk berfikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi,
serta mencoba berbagai bentuk komunikasi.
4. Siswa bertanggung jawab mencari dan mengelola sendiri informasi yang
mereka kumpulkan.
5. Evaluasi dilakukan secara terus-menerus selama proyek berlangsung.
6. Siswa secara reguler merefleksikan dan merenungi apa yang telah mereka
lakukan, baik proses maupun hasilnya
Kerja proyek dalam pembelajaran berbasis proyek dilihat pada proses,
kreativitas dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran sehingga akan
berdampak pada meningkatnya hasil belajar siswa. Menurut Sudjana (dalam Jihad
dan Haris, 2013) “hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah
menerima pengalaman belajar”. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup
aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui
kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang
menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran yang inovatif dengan menggunakan model Projeck Based
Learning memiliki banyak keunggulan. Keunggulan model pembelajaran projek
adalah sebagai berikut : (1) membawa siswa termotivasi utuk belajar dalam
14
pembuatan proyek, (2) membuat para siswa kreatif dan inovatif dalam
pembelajaran dan pemecahan masalah, (3) meningkatkan koloborasi antar siswa,
(4) menumbuhkan sikap ilmiah seperti jujur, teliti, tanggung jawab dan kreatif,
Hartono dan Aisyah dalam jurnal (Yani & Taufik, 2020). Project Based Learning
merupakan model pembelajaran yang sangat di sukai siswa dalam upaya
meningkatkan kualitas proses pembelajaran serta memberikan pengalaman yang
berharga kepada para siswa dalam memperoleh pengetahuan, (Farida F & Lusniati
Saputri, 2018)
Model project based learning memiliki banyak keunggulan yaitu mampu
memberikan pengalaman langsung kepada para siswa dalam melaksanakan
pembelajaran praktek dan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Keunggulan
model pembelajaran project based learning merupakan model yang cocok dalam
mengembangkan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh para siswa seperti
kemampuan mengambil keputusan, kemampuan berpikir, kemampuan
memcahkan masalah dan kemampuan berkreativitas, hal ini dapat
mengembangkan rasa kepercayaan diri pada siswa, (Arizona dkk., 2020).
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran
Berbasis Proyek (project-based learning) adalah suatu model yang menekankan
pada siswa untuk dapat belajar secara mandiri dengan memecahkan masalah yang
dihadapi serta siswa juga dapat menghasilkan suatu proyek atau karya nyata.
15
1. Menurut Juran (1992)
Joseph M. Juran, seorang tokoh manajemen kualitas, mendefinisikan
kualitas sebagai "kecocokan untuk digunakan" (fitness for use). Dalam konteks
pembelajaran, ini berarti mutu pembelajaran ditentukan oleh seberapa baik proses
dan hasil pendidikan memenuhi kebutuhan serta harapan dari para "pengguna"
atau stakeholder, seperti siswa, orang tua, dan masyarakat.
2. Menurut Deming (2000)
Edwards Deming, seorang ahli statistik dan konsultan manajemen,
menekankan bahwa mutu harus dilihat dari perspektif sistem. Mutu pembelajaran
bukanlah hasil dari satu faktor tunggal, melainkan dari interaksi semua elemen
dalam sistem pendidikan, termasuk kurikulum, guru, metode pengajaran, dan
lingkungan. Peningkatan mutu memerlukan perbaikan berkelanjutan pada seluruh
sistem, bukan hanya pada satu bagian.
3. Menurut Spady dan Marshall (1991)
William G. Spady dan Robert A. Marshall mengaitkan mutu
pembelajaran dengan hasil belajar yang jelas dan terukur. Mereka berpendapat
bahwa mutu pendidikan dapat dinilai dari sejauh mana siswa mencapai hasil
belajar yang telah ditetapkan. Definisi ini menekankan pentingnya pembelajaran
berbasis hasil (outcome-based education), di mana fokus utama adalah pada apa
yang siswa ketahui dan mampu lakukan setelah proses pembelajaran.
16
b. Perspektif Relevansi: Mutu pembelajaran dinilai dari seberapa relevan materi
yang diajarkan dengan kebutuhan siswa, masyarakat, dan pasar kerja.
Kurikulum yang berkualitas harus memastikan lulusan memiliki keterampilan
dan pengetahuan yang relevan
c. Perspektif Keadilan (Equity): Mutu pembelajaran juga dilihat dari seberapa adil
kesempatan belajar diberikan kepada semua siswa, tanpa memandang latar
belakang sosial, ekonomi, atau geografis mereka.
d. Perspektif Akuntabilitas: Ini berkaitan dengan seberapa efektif sekolah atau
institusi pendidikan mempertanggungjawabkan hasil belajar siswa kepada
masyarakat.
Beberapa ahli telah mencoba mengkategorikan dimensi-dimensi mutu
pembelajaran. Salah satu model yang sering dikutip adalah model 'input-process-
output'.
Input: Merujuk pada sumber daya yang tersedia, seperti kualifikasi guru, fasilitas
sekolah, dan kurikulum.
Process: Meliputi interaksi di kelas, metode pengajaran, dan kegiatan siswa.
Output: Mengacu pada hasil yang dicapai, seperti prestasi akademik siswa,
keterampilan non-akademik, dan kepuasan siswa.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mutu Pembelajaran
Kajian literatur menunjukkan bahwa mutu pembelajaran dipengaruhi oleh
beberapa faktor kunci:
1. Kualitas Guru
Kualitas guru adalah faktor yang paling krusial. Guru yang berkualitas
memiliki pemahaman mendalam tentang materi pelajaran, menguasai berbagai
metode pengajaran, dan memiliki kemampuan untuk memotivasi siswa. Selain itu,
pengembangan profesional guru yang berkelanjutan sangat penting untuk
meningkatkan mutu pengajaran mereka.
2. Kurikulum
Kurikulum yang efektif harus relevan, terstruktur dengan baik, dan dapat
disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Kurikulum yang baik tidak hanya fokus
17
pada pengetahuan faktual, tetapi juga pada pengembangan keterampilan abad ke-
21 seperti keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kolaborasi.
3. Lingkungan Belajar
Lingkungan belajar yang positif dan mendukung sangat penting. Ini
mencakup fasilitas fisik yang memadai (perpustakaan, laboratorium, ruang kelas
yang nyaman), serta iklim psikologis yang aman dan inklusif. Siswa harus merasa
nyaman untuk bertanya, berinteraksi, dan bereksperimen.
4. Keterlibatan Siswa
Siswa yang terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran cenderung
mencapai hasil yang lebih baik. Pembelajaran yang berpusat pada siswa, seperti
pembelajaran berbasis proyek atau diskusi kelompok, dapat meningkatkan
keterlibatan mereka.
5. Assesmen
Sistem penilaian yang valid dan reliabel sangat penting untuk mengukur
kemajuan siswa dan efektivitas pengajaran. Penilaian harus mencerminkan tujuan
pembelajaran dan memberikan umpan balik yang konstruktif bagi siswa dan guru.
Penilaian yang hanya berfokus pada tes tertulis seringkali tidak cukup untuk
mengukur pemahaman yang mendalam.
Kerangka Peningkatan Mutu Pembelajaran
Peningkatan mutu pembelajaran memerlukan pendekatan yang holistik dan
berkelanjutan. Beberapa kerangka kerja yang sering digunakan meliputi:
1. Continuous Quality Improvement (CQI): Ini adalah pendekatan yang berfokus
pada perbaikan yang terus-menerus, di mana data digunakan untuk
mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan dan merancang intervensi yang
tepat.
2. Balanced Scorecard: Kerangka ini mengukur mutu pembelajaran dari berbagai
perspektif, seperti finansial, kepuasan pelanggan (siswa dan orang tua), proses
internal, dan inovasi.
3. Standar Mutu: Banyak negara dan lembaga pendidikan menggunakan standar
mutu yang ditetapkan oleh badan akreditasi untuk memastikan bahwa institusi
pendidikan memenuhi kriteria tertentu.
18
Kajian literatur menunjukkan bahwa mutu pembelajaran adalah konsep
yang dinamis dan kompleks yang mencakup input, proses, dan output. Untuk
mencapai mutu yang tinggi, institusi pendidikan harus fokus pada pengembangan
profesional guru, perbaikan kurikulum, penciptaan lingkungan belajar yang
mendukung, dan penerapan sistem penilaian yang efektif. Perbaikan mutu
bukanlah sebuah tujuan akhir, tetapi sebuah perjalanan yang berkelanjutan yang
memerlukan komitmen dari semua pihak, termasuk guru, siswa, orang tua, dan
pembuat kebijakan.
19
di kampus; dan (b) ditinjau dari segi mahasiswa: adanya peningkatan motivasi
mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan, cara pandang dan cara berpikir
mahasiswa menjadi lebih kritis dan ilmiah, serta perolehan hasil belajar yang
semakin meningkat pada tiap semester.
2. Siti Rahmawati (2023), Berdasarkan penelitian inovasi pendidikan dalam
meningkatkan strategi mutu pendidikan, dapat disimpulkan bahwa inovasi
pendidikan memiliki peran yang signifikan dalam meningkatkan mutu
pendidikan secara keseluruhan. Inovasi pendidikan memberikan peluang untuk
mengembangkan strategi baru yang efektif dalam pembelajaran, penilaian, dan
pengelolaan [Link] konteks strategi mutu pendidikan, inovasi
pendidikan memiliki dampak positif dalam meningkatkan kualitas
pembelajaran, hasil belajar siswa, keterlibatan siswa, dan persiapan lulusan
untuk masa depan. Melalui penggunaan teknologi, pendekatan pembelajaran
berbasis kompetensi, kolaborasi, dan pembelajaran berkelanjutan, strategi mutu
pendidikan dapat ditingkatkan secara signifikan.
3. Dudun Supriadi (2017), Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi
manajemen inovasi dan kreatifitas guru dalam meningkatkan mutu
pembelajaran di SMP Negeri 7 Ciamis dapat berjalan dengan baik.
Implementasiinovasi disekolah yang dilakukan oleh guru-guru sesuai dengan
harapan penulis karena inovasi yang dikembangkan dapat diterima oleh para
siswanya serta siswanya lebih semangat dan tertarik mempelajari berbagai mata
pelajaran yang diajarkan
4. Suriyah,dkk(2020), Pembahasan mengenai efektivitas inovasi pembelajaran di
MDTA An-Nuur menunjukkan bahwa penggunaan teknologi, metode
pembelajaran aktif, dan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi
memiliki dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan mutu
pendidikan. Meskipun terdapat beberapa tantangan dalam implementasinya,
dengan dukungan yang tepat, inovasi pembelajaran ini dapat menjadi
pendekatan yang efektif dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Penelitian ini
memberikan wawasan yang berharga bagi para pendidik dan pembuat kebijakan
dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif dan inovatif.
20
5. Jeditia, dkk (2024), Berdasarkan hasil evaluasi efektivitas metode pembelajaran
berbasis proyek dalam mengembangkan kreativitas siswa, dapat disimpulkan
bahwa pendekatan ini memiliki potensi yang signifikan dalam memperkaya
pengalaman belajar siswa dan meningkatkan kemampuan kreatif mereka.
Berikut adalah beberapa simpulan yang dapat diambil: 1. peningkatan
kreativitas, 2. keterlibatan aktif, 3. pengaruh lingkungan pembelajaran, 4.
penerapan kreativitas dalam konteks nyata, 5. Peningkatan Keterampilan
Kreatif Jangka Panjang. Dengan demikian, hasil evaluasi efektivitas metode
pembelajaran berbasis proyek dalam mengembangkan kreativitas siswa, dapat
disimpulkan bahwa pendekatan ini merupakan cara yang efektif untuk
merangsang kreativitas siswa dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi
tuntutan masyarakat dan dunia kerja yang semakin kompleks dan berubah-ubah.
6. Arini, dkk (2024), Hasil penelitian menunjukan penerapan model project based
learning berhasil menumbuhkan kreatifitas dan koloborasi siswa, kreativitas
seseorang terkait dengan kemampuan dalam memecahkan suatu masalah
dengan cara yangg unik dan baru, mampu memikirkan solusi yang inovatif
untuk meningkatkat kualitas pembelajaran dan tentunya terkait dengan sikap
seseorang untuk mampu berpikir positif dalam menyelesaikan sesuatu
permasalah dengan ide yang inovatif dan mampu menggunakan berbagai
sumber pengetahuan yang relevan untuk menghasilkan sesuatu yang solutif.
21