Jurnal Teknik dan Teknologi Indonesia
Vol. 1 No. 3 Desember 2023
e-ISSN: 2988-7305
p-ISSN: 2988-7291
Analisis Karya Arsitektur Gedung London Sumatera Melalui
Pendekatan Periode Sejarah, Gaya, Arsitektur, dan Karakteristik
Bangunan Menggunakan Kode Semiotika
Angga Wiguna1, Dara Wisdianti2
1,2Universitas Pembangunan Panca Budi, anggawiguna672@[Link]
*Korespondensi email: anggawiguna672@[Link]
Abstract: The city of Medan is famous for its many historical buildings scattered throughout
the city. The building has a magnificent colonial architectural design. The building's
character and unique architectural details make this building different from the others. But
it is a shame that these buildings cannot enjoy their beauty at night. Lack of artificial lighting
received by the building. This research aims to obtain an overview of people's visual comfort,
especially at night. The method used is a qualitative method to understand phenomena
experienced by research subjects such as perception and by means of descriptions in the form
of words and language, in a special natural context. Perceptions regarding the quality of a
building's lighting are largely determined by the impression a person has when they see it,
either directly or indirectly (using image media or a computer screen). To facilitate the visual
description of building lighting at night, modeling was carried out using Enscape software.
The results of this research are that the London Sumatra (Lonsum) building has a Dutch
colonial architectural style. Some of the characteristics of Dutch colonial architecture found
in Lonsum buildings include: verandas that protrude into the street corners, stained glass
with geometric motifs on the verandas, marble ceiling and floor tiles, cast iron balustrades
on balconies and stairs, art ornaments deco in the interior, such as geometric hanging lamps
and beautiful doors. Lonsum is a plantation company founded in 1906 by Harrisons &
Crosfield Plc, a general trading and plantation management services company from London,
England.
Keywords: London Sumatra, Semiotics, Architecture, Urban Heritage
Abstrak: Kota Medan terkenal dengan banyaknya bangunan bersejarah yang tersebar di
seluruh penjuru kota. Bangunan itu memiliki desain arsitektur kolonial yang megah. Karakter
bangunan dan detail arsitektural yang unik menjadikan bangunan ini berbeda dari yang lain.
Tapi sangat disayangkan bangunan-bangunan tersebut tidak dapat dinikmati keindahannya
pada saat malam hari. Kurangnya pencahayaan buatan yang diterima oleh bangunan tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran kenyamanan visual masyarakat
khususnya pada saat malam hari. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif untuk
dapat memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian seperti persepsi dan dengan
cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah.
Persepsi mengenai kualitas pencahayaan bangunan sangat ditentukan oleh kesan yang keluar
pada diri seseorang pada saat melihatnya, baik secara langsung maupun tidak langsung
(menggunakan media gambar atau layar komputer). Memudahkan deskripsi visual
pencahayaan bangunan pada malam hari, maka dilakukan pemodelan dengan software
Enscape. Hasil dari penelitian ini Bangunan London Sumatra (Lonsum) memiliki gaya
arsitektur kolonial Belanda. Beberapa ciri khas arsitektur kolonial Belanda yang terdapat
Jurnal Teknik dan Teknologi Indonesia, Vol. 1 No. 3 Desember 2023
pada bangunan Lonsum, di antaranya: Veranda yang menonjol ke sudut jalan, Kaca patri
dengan motif geometris pada veranda, Plafon dan ubin lantai dari marmer, Balustrade
dari besi cor pada balkon dan tangga, Ornamen-ornamen art deco pada interior, seperti lampu
gantung berbentuk geometris dan pintu-pintu yang indah. Lonsum adalah perusahaan
perkebunan yang didirikan pada tahun 1906 oleh Harrisons & Crosfield Plc, sebuah
perusahaan perdagangan umum dan jasa manajemen perkebunan dari London, Inggris.
Kata kunci: London Sumatra, Semiotika, Arsitektur, Warisan Kota
________________________________________________________________________________
PENDAHULUAN
Setiap bangunan tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal atau ruang publik,
tetapi juga menyimpan nilai-nilai sosial, politik, dan identitas budaya yang kompleks.
Salah satu contoh yang menarik untuk dianalisis adalah gedung London Sumatera
Indonesia, atau yang lebih dikenal dengan nama “Gedung Lonsum” yaitu akronim dari
London Sumatera. Bangunan bersejarah yang tersebar hampir di seluruh kota yang ada
di negara Indonesia, tidak lepas dari adanya pengaruh kolonialisme yang terjadi pada
masa lalu (Rachman, 2017). Bangunan bersejarah ini dibangun pada masa penjajahan
kolonial dengan fungsi yang berbeda, yaitu fungsi perumahan, perkantoran, rumah
sakit, stasiun dan lain sebagainya (Keling, 2016). Setelah kemerdekaan, bangunan
tersebut diambil alih oleh negara Indonesia dan difungsinya sesuai kebutuhannya.
Sekarang bangunan–bangunan bersejarah ini menjadi sebuah warisan kebudayaan
yang sudah diatur dalam (Undang-Undang RI No.11, 2010) tentang Cagar Budaya
bahwa bahwa pemerintah, pemerintah daerah dan setiap orang dapat memanfaatkan
cagar budaya untuk kepentingan agama, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan,
teknologi, kebudayaan dan pariwisata.
Kota Medan sebagai kota terbesar ke-3 di Indonesia memiliki banyak bangunan
bersejarah peninggalan kolonial Belanda. Hal ini tidak lepas dari sejarah panjang kota
Medan sebagai pengasil tembakau yang dikenal komoditas ekspor terbaik di dunia
yaitu Tembakau Deli. Gedung Lonsum terletak di jalan Jendral Ahmad Yani No.2 Medan
Kesawan, berdekatan dengan kawasan lapangan Merdeka Medan, yang termasuk juga
ke dalam situs kawasan bersejarah dimana di sekitar kawasan ini terdapat beberapa
bangunan bersejarah lainnya yaitu stasiun kereta api medan, rumah Tjong afi, Bank
Indonesia, kantor pos utama Medan. Keberadaan bangunan- bangunan bersejarah pada
kawasan ini pada akhirnya akan memperkuat karakter kawasan lapangan Merdeka
sebagai pusat bangunan bersejarah yang ada di kota medan (Hidayat et al., 2019).
Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan yang lebih
mendalam tentang Gedung Lonsum, serta kontribusinya terhadap pemahaman kita
tentang arsitektur sebagai representasi identitas budaya, interaksi sosial, dan proses
sejarah di kota Medan. Melalui pendekatan periode sejarah, gaya arsitektur, dan
karakteristik bangunan melalui kode semiotika, diharapkan dapat terungkap
kompleksitas yang ada dalam karya arsitektur ini serta relevansinya dalam konteks
budaya dan sejarah yang lebih luas.
TINJAUAN LITERATUR
Menurut Wibowo, H. (2021) masyarakat dan pengguna kawasan tidak bisa
menikmati keindahan bangunan bersejarah ini apabila malam hari, disebabkan tidak
maksimalnya pencahayaan buatan yang ada. Dengan dilakukannya simulasi
pencahayaan buatan pada objek penelitian tersebut maka kualitas visual bangunan
pada malam hari menjadi lebih baik, dan dengan kualitas visual bangunan yang baik
maka akan meningkatkan berbagai aktifitas masyarakat disekitarnya dan pada
30
Jurnal Teknik dan Teknologi Indonesia, Vol. 1 No. 3 Desember 2023
akhirnya akan menjadikan bangunan bersejarah tersebut menjadi spot kawasan pada
malam hari.
Surapati, S. (2014). Dalam pemanfaatannya sangat disayangkan karena eksistensi
keberadaan bangunan bersejarah tersebut luput dari pengetahuan masyarakat dan
peserta didik tentang Benda Cagar Budaya yang ada diwilayahnya serta
ketidakberdayaan dan lambannya Pemerintah Kota Medan menjawab arus kemajuan
pembangunan yang pesat tanpa disadari sudah merenggut beberapa bangunan
bersejarah dari wujud aslinya. Dalam hal ini pemerintah Kota Medan harus memiliki
landasan hukum yang kuat dan menindak tegas serta diberikannya sanksi hukum bagi
siapa saja yang berniat ingin menggadaikan bagunan bersejarah tersebut untuk
dirubuhkan demi kepentingan ekonomi semata.
METODE PENELITIAN
Metode panelitian ini menggunakan pendekatan deskriftif kualitatif menggunakan
literatur maupun suvey lokasi untuk mengamati object yang akan di teliti sesuai ruan
lingkup penelitian.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi
objek alamiah, dimana peneliti merupakan instrumen kunci (Sugiyono, 2005).
Perbedaannya dengan penelitian kuantitatif adalah penelitian ini berangkat dari data,
memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas dan berakhir dengan sebuah
teori.
Gambar 1. Kerangka Berfikir
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kekhasan karakteristik yang dimiliki bangunan-bangunan bersejarah akan
membentuk suatu image yang tidak dimiliki oleh bangunan atau kesawan lainnya.
31
Jurnal Teknik dan Teknologi Indonesia, Vol. 1 No. 3 Desember 2023
Gambar 2. Gedung London Sumatra Berdiri Tahun 1906 dan Sebagai Kantor
Perkebunan Harrison & Crossf
Keindahan visual serta karateristik desain yang melekat pada bangunan bersejarah
hanya bisa kita nikmati pada siang hari (pagi-sore) ketika sinar matahari masih
bersinar. Elemen - elemen arsitektur serta detail ornamen pada setiap kolom yang
menghiasinya masih dapat dilihat dan dinikmati bersama secara utuh. Sedangkan pada
malam hari, ketika sinar matahari sudah tidak ada maka penerangan buatan menjadi
satu-satunya alternatif untuk memberikan visual bangunan bagi orang yang ingin
melihatnya. Tanpa ada penerangan yang baik maka bangunan bersejarah menjadi lebih
suram dan menyeramkan dari bangunan modren lainnya (Manurung, 2015).
Adanya pencahayaan buatan maka tidak hanya cahaya yang akan dihasilkan tetapi
juga terdapat bayangan yang memiliki peran dalam menggambarkan nilai estetika
bangunan melalui desain pencahayaan dan seni cahaya (Zakaria & Bahauddin, 2015).
Perpaduan antara pencahayaan terhadap bangunan dan bayangan yang dihasilkan dari
pencahaan tersebut akan membentuk visual yang dramatis pada bangunan sejarah.
1. Menganalisa Gedung London Sumatera Menggunakan Pendekatan Periode
Sejarah, Gaya Arsitektur dan Karakteristik Bangunan
Gedung London Sumatera ini selesai dibangun tahun 1906 bersamaan dengan
lahirnya Ratu Juliana, Royal Dutch family. Gedung ini dibangun oleh David Harrison,
pemilik perkebunan karet Harrison & Crossfield company (H&C) yang berpusat kota
London. Pendiridari perusahaan Harrisons & Crosfield (H&C) sendiri adalah Daniel
Harrison, Smith Harrisonand Joseph Crosfield pada tahun 1844 di Liverpool dan
bergelut di bidang importir teh dan kopi.
Gedung London Sumatera (Lonsum) Tercatat sebagi gedung pertama di medan
yang menggunakan teknologi lift yang menjangkau lima lantai. Bentuk lift seperti
sangkar besi bermotif bunga dengan dekorasi art deco. Lift digunakan sejak tahun 1910
ini masih berfungsi dengan baik. Untuk perawatannya dilakukan setiap hari sabtu,
bahkan setiap tahun di datangi teknisi khusus dari Inggris.
Pada masa itu gedung Lonsum berfungsi sebagai kantor perdagangan dan
perkebunan. Segera setelah Indonesia merdeka, kepemilikan Harrison & Crossfield
company beralih ketangan Indonesia. Saat ini gedung London Sumatera masih
digunakan sebagi gedung perkantoran Lonsum dan berganti nama menjadi PT. PP
London Sumatera.
32
Jurnal Teknik dan Teknologi Indonesia, Vol. 1 No. 3 Desember 2023
Gambar 3. Model Arsitektur Gedung London Sumatra
Model arsitekturnya dipengaruhi gaya Eropa seperti yang terlihat pada bentuk
jendela di sisi kiri dan sisi kanan. Sementara gaya arsitektur kolonial Belanda terlihat
dari bentuk jendela panjang dan lebar plus tiang-tiang tangga besar di depan pintu
masuk menunjukkan kekhasangaya arsitektur kolonial Belanda yang sangat mencolok
namun indah.
Meskipun sering disalah artikan dengan Art Deco, Art Nouveau memiliki gaya
visual dan landasan filosofis yang khas, berfokus pada naturalisme dan kerajinan
tangan, tidak seperti estetika Art Deco yang geometris dan ramping.
Gedung London mengikuti Arsitektur Eropa modern tampak tidak berbeda jauh
dengan gaya minimalis. Bentuk-bentuk tegas menjadi salah satu ciri khas dari
arsitektur ini. Akan tetapi ada beberapa [Link] satunya adalah penerapan
ornamen. Pada gaya minimalis, ornamen sangat dilarang. Tapi pada arsitektur gaya
Eropa, ornamen masih dimaklumi. Gaya arsitektur Eropa sendiri mengacu pada
arsitektur Yunani. Akan tetapi kini gaya tersebut berkembang. Variasinya menjadi lebih
banyak seperti arsitektur gaya Renaissance, gaya Gotik, gaya Barok dan Rococo. Pada
gaya Renaissance, tiang-tiang bergaya klasikmenjadi ciri khas utamanya. Tiang-
tiangnya penuh dengan ornamen dan tampak [Link] umumnya gaya ini lebih
sering diterapkan pada bangunan-bangunan pemerintahan. Arsitektur ini juga dapat
disulap menjadi arsitektur Eropa modern yang lebih minimalis.
2. Menguraikan kode dan tanda pada bangunan menggunkanmetode
semiotika
Semiotika merupakan sebuah disiplin ilmu yang berkembang sejalan dengan
perkembangan budaya serta pemikiran manusia pada era pos modern. Ide dasarnya,
semiotika merajuk pada penolakan terhadap konsep sistem pemaknaan tunggal yang
dicetuskan oleh pemikiran modernisme. Menurut sejarahnya, semiotika dikembangkan
dalam lingkup kajian terhadap ilmu lingustik atau bahasa. Semiotika mulai digunakan
dalam ranah keilmuan arsitektur ketika mulai dibentuk suatu konsep pemikiran bahwa
arsitektur juga merupakan wujud rangkaian tanda dan bahasa. Pemahaman mengenai
pemanfaatan Semiotika dalam Arsitektur dimulai pada akhir tahun 1950’an di Italia.
Pada masa itu, terjadi krisis makna di Eropa, sehingga muncul suatu bentuk kontradiksi
terhadap keabsahan pemikiran.
Arsitektur Modern yang hendak menyatukan semua nilai sehingga seakan-akan tidak
memberi kesempatan bagi berkembangnya potensi lokal. Pada tahap awal itu, para
perintis mulai menganalogikan elemen yang membentuk arsitektur dengan elemen-
elemen yang membentuk bahasa. Dengan kata lain, analogi tersebut dapat dijabarkan
sebagai elemen-elemen arsitektur (jendela, pintu, atap) yang dianalogikan dengan kata;
jika gabungan beberapa kata yang memiliki arti menjadi kalimat, maka gabungan
elemen arsitektur yang bisa memberi arti membentuk ruang, bentuk, struktur atau citra
33
Jurnal Teknik dan Teknologi Indonesia, Vol. 1 No. 3 Desember 2023
(tampilan), demikian seterusnya: ruang dianalogikan dengan kalimat, bangunan
dengan paragraf, serta kompleks lingkungan binaan dengan sebuah wacana. Analogi
membuka cakrawala baru tentang sistem komunikasi sebuah karya arsitektur.
Kode hermeneutik pada bangunan Gedung Lonsum dapat diartikan sebagai
interpretasi elemen-elemen arsitektur, dekorasi, dan tata ruang bangunan tersebut
yang menyiratkan makna-makna kultural, historis, dan simbolis tertentu. Berikut
adalah analisisnya:
• Konsep Arsitektur Multikultural
Makna Hermeneutik: Gedung Lonsum mencerminkan perpaduan antara gaya
arsitektur Eropa dan American. Ini mencerminkan identitas multikultural Medan pada
masa kolonial.
Contoh:
• Gaya Eropa: Tiang-tiang besar dan panjang, interior bangunan.
• Penafsiran: Integrasi budaya ini mencerminkan harmoni lintas budaya yang
melambangkan pada masa penjajahan belanda.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Gedung London Sumatera Indonesia, atau yang lebih dikenal dengan nama
“Gedung Lonsum” yaitu akronim dari London Sumatera. Bangunan bersejarah yang
tersebar hampir di seluruh kota yang ada di negara Indonesia, tidak lepas dari adanya
pengaruh kolonialisme yang terjadi pada masa lalu. Bangunan London Sumatra
(Lonsum) memiliki gaya arsitektur kolonial Belanda. Beberapa ciri khas arsitektur
kolonial Belanda yang terdapat pada bangunan Lonsum, di antaranya:
• Veranda yang menonjol ke sudut jalan
• Kaca patri dengan motif geometris pada veranda
• Plafon dan ubin lantai dari marmer
• Balustrade dari besi cor pada balkon dan tangga
• Ornamen-ornamen art deco pada interior, seperti lampu gantung berbentuk
geometris dan pintu-pintu yang indah
Pada masa itu gedung Lonsum berfungsi sebagai kantor perdagangan dan
perkebunan. Segera setelah Indonesia merdeka, kepemilikan Harrison & Crossfield
company beralih ketangan Indonesia. Saat ini gedung London Sumatera masih
digunakan sebagi gedung perkantoran Lonsum dan berganti nama menjadi PT. PP
London Sumatera.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terimakasih kepada segala pihak yang membantu dalam penulisan jurnal ini.
Jurnal ini di buat untuk menambah wawasan tentang arsitektur bangunan bersejarah
dan menjadi kan referansi untuk penelitian selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Budihardjo, Eko. (1997). Arsitektur dan Kota di Indonesia. Bandung: Alumni.
dissertation, UNIMED).
Kusuma, Bambang Trisno. (2012). Estetika Arsitektur: Pemahaman Unsur, Gaya, dan
Makna Simbolik. Surabaya: ITATS Press.
Nas, Peter J.M. (2003). Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
34
Jurnal Teknik dan Teknologi Indonesia, Vol. 1 No. 3 Desember 2023
Pranoto, Y. (2021). “Analisis Gaya Arsitektur Kolonial pada Bangunan Cagar Budaya di
Medan.” Jurnal Arsitektur Lansekap, Vol. 5, No. 2, hal. 88–96.
Prastiwi, R. E., Saraswati, U., & Witasari, N. (2019). Sejarah Perkembangan Arsitektur
Bangunan Indis di Purworejo Tahun 1913-1942. Journal of Indonesian History,
8(1), 88-95.
Purnama, Yudha. (2016). “Makna Simbolik dalam Arsitektur Kolonial di Kota Lama
Semarang.” Jurnal Arsitektur DANAR, Vol. 7, No. 1, hal. 15–26.
Rahmawati, A., & Putra, A. W. (2019). “Pendekatan Semiotika dalam Kajian Arsitektur:
Studi Kasus Bangunan Kolonial.” Jurnal Arsitektur NALARs, Vol. 18, No. 2, hal.
109–120.
Rapoport, Amos. (2005). Arsitektur Sebagai Cerminan Budaya. (Terjemahan).
Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Santosa, I Made. (2010). Semiotika Visual: Konsep dan Aplikasi dalam Desain
Komunikasi Visual. Surakarta: UNS Press.
Siregar, Johan Silalahi. (2009). Jejak Kolonial di Tanah Deli: Arsitektur dan Sejarah
Bangunan-Bangunan Warisan Belanda di Medan. Medan: Pusat Dokumentasi
Arsitektur Sumatera Utara.
Sugiyanto, D. (2014). “Kajian Tipologi dan Karakteristik Bangunan Kolonial Belanda di
Kawasan Kota Tua Jakarta.” Jurnal Arsitektur Komposisi, Vol. 12, No. 1, hal. 45–
56.
Surapati, S. (2014). SEJARAH BANGUNAN-BANGUNAN BERSEJARAHSEBAGAI SUMBER
PEMBELAJARAN SEJARAH DI KOTA MEDAN (Doctoral
Wibowo, H. (2021). Meningkatkan Karakter Bangunan Bersejarah & Kenyamanan
Visual dengan Pencahayaan Buatan Studi Kasus: Gedung London Sumatra
Indonesia di Kota Medan. Jurnal Indonesia Sosial Teknologi, 2(03), 377-388.
Zahra, F. (2017). Perpaduan Gaya Arsitektur Eropa dan Timur Tengah pada Bangunan
Masjid Istiqlal Jakarta. In Proseding Seminar Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan
Indonesia (IPLBI) (Vol. 1, pp. 219-226).
35