“SINUSITIS”
Disusun oleh:
Novia Saskia (102124083)
Pembimbing:
dr. Vera M. Yohan, MMRS, Sp. THT-BKL, FICS
KSM ILMU PENYAKIT THT-BKL
RSUD PROVINSI RAJA AHMA TABIB
FAKULTAS KEDOKTERAN BATAM
2025
SINUSITIS
Anatomi Sinus
Definisi Sinus
Etiologi dan Faktor Resiko
Patofisiologi
Manifestasi Klinis
Penegakkan Diagnosis
Tatalaksana
Komplikasi dan Prognosis
ANATOMI SINUS
Sinus paranasal adalah rongga-rongga yang
terdapat didalam os maxilla, os frontale, os
sphenoidale, dan os ethmoidale.
Sinus-sinus ini dilapisi oleh mucoperiosterum
dan terisi udara, berhubungan dengan
cavum nasi melalui apertura yang relatif kecil.
TEMPAT LETAK SINUS PARANASAL
Frontal
Sinus frontal terletak pada tulang frontal dan mulai terbentuk sejak usia janin sekitar empat bulan, berasal dari sel
resesus frontal atau infundibulum etmoid.
Ethmoidalis
Sinus etmoid terletak di depan bawah (etmoid anterior) atau belakang atas (etmoid posterior) dari pelekatan
konka media. Sinus ini mengisi setengah superior dari rongga nasal, berbatasan dengan orbita, dibatasi oleh
lamina papyracea. Etmoid anterior terhubung ke infundibulum di meatus media, sedangkan etmoid posterior
terhubung ke matus superior.
TEMPAT LETAK SINUS PARANASAL
Maxillaris
Sinus maxilaris berbentuk piramid dan terletak di dalam corpusmaxillaris di belakang pipi. Sinus ini
dibatasi oleh tulang maksilla di anterior, fossa pterigopalatina di posterior, dasar orbita di superior,
dinding lateral rongga nasal di medial, dan prosesus alveolar os maksila serta palatumdurum di dasar
rongga.
TEMPAT LETAK SINUS PARANASAL
Ethmoid
Sinus etmoid terletak di depan bawah (etmoid anterior) atau belakang atas (etmoid posterior) dari pelekatan
konka media. Sinus ini mengisi setengah superior dari rongga nasal, berbatasan dengan orbita, dibatasi oleh
lamina papyracea.
Etmoid anterior terhubung ke infundibulum di meatus media, sedangkan etmoid posterior terhubung ke matus
superior.
TEMPAT LETAK SINUS PARANASAL
Sphenoidalis
Sinus sphenoidalis berada di posterior dari rongga nasal dan superior dari nasofaring.
Sinus terhubung dengan resesus sfenoetmoidalis di meatus superior melalui ostium sfenoid berukuran 0,5-4
mm dan terletak 10-20 mm di atas dasar sinus.
Posterior dari sinus terdapat lapisan tulang yang membatasinya dengan rongga kranial, arteri basilar, dan
pons. Superior sinus terdapat kelenjar pituitari dan saraf optikus. Superior dan fisura optikus terdapat arteri
karotis dan beberapa saraf kranial.
TEMPAT MUARA SINUS
DEFINISI
Didefinisikan sebagai peradangan pada mukosa sinus paranasal dan
biasanya terjadi bersamaan dengan rinitis,
→
Sinus paling sering terkena: etmoid & maksila (maksila dekat akar gigi
sinusitis dentogenik).
Penyebab:
[Link]→ rinitis, polip, septum deviasi
[Link] → infeksi gigi atas (Bakteri penyebabnya adalah
Streptococcus pneumoniae, Hemophilus influenza, Steptococcusviridans,
Staphylococcus aerus, Branchamella catarhatis. )
ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO
PATOFISIOLOGI
MANIFESTASI KLINIS
Gejala utama rinosinusitis akut:
[Link] tersumbat,
[Link] atau rasa tertekan pada wajah
[Link] sekret purulen, yang sering mengalir ke belakang tenggorok (post-nasal drip).
Dapat disertai keluhan
[Link]: demam dan rasa lelah.
[Link] kepala
[Link] / anosmia (penurunan / hilangnya penciuman)
[Link] (bau mulut)
[Link] akibat post-nasal drip
[Link] napas, terutama pada anak-anak
MANIFESTASI KLINIS
Sesuai lokasi sinus yang terlibat:
Sinus maksila: nyeri pada pipi, dapat menjalar ke gigi & telinga
Sinus etmoid: nyeri di antara atau belakang kedua mata
Sinus frontal: nyeri di dahi atau seluruh kepala
Sinus sfenoid: nyeri di puncak kepala, belakang mata, oksipital, atau mastoid
→ Dapat terjadi nyeri alih (referred pain)
PENEGAKKAN DIAGNOSIS
PENEGAKKAN DIAGNOSIS
PENEGAKKAN DIAGNOSIS
Pemeriksaan fisik:
Inspeksi: ada tidaknya pembengkakan pada muka, pipi sampai kelopak
mata atas/bawah yang kemerahan.
Palpasi pada sinus paranasal: nyeri tekan dan tenderness daerah pipi,
dahi.
Pemeriksaan rinoskopi anterior: mukosa hidung udem dan hiperemi,
tampak sekret mukopurulen kental warna kuning kehijauan pada cavum
nasi dan meatus media.
Orofaring: tampak post nasal drip (sekret mengalir ke orofaring).
Mencari faktor predisposisi dari hidung dan nasofaring menggunakan
lampu kepala, spekulum hidung, spatel lidah, kaca laring.
Diafanoskopi (transiluminasi) : sinus yang sakit tampak suram/gelap
total, apabila hanya sebagian dinyatakan tidak spesifik.
PENEGAKKAN DIAGNOSIS
Pemeriksaan penunjang:
Nasoendoskop: Mikrobiologi
Dilakukan dengan mengambil sekret dari meatus medius, mungkin di
temukan bermacam-macam bakteri yang merupakan flora normal atau
kuman patogen, seperti:
Pneumokokus
Streptokokus
Stafilokokus
Haemofilus influenza
selain itu mungkin ditemukan juga virus atau jamur.
Dapat menilai secara jelas ada tidaknya
sekret purulen di meatus media, mukosa
udem dan hiperemi, obstruksi meatus media.
Juga dapat menilai kelainan anatomi
sepertiseptum deviasi, ada tidaknya polip.
PENEGAKKAN DIAGNOSIS
Pemeriksaan penunjang:
Radiologi:
Foto polos posisi waters, PA, dan lateral: Hanya mampu melihat sinus Merupakan gold standart karena pemeriksaan ini sangat jelas
besarseperti maksila dan frontal dengan gambaran perselubungan melihat komplek ostiomeatal (struktur tulang).
dan batas udara-air (air fluid level) serta penebalan mukosa pada
sinus yang sakit
DIAGNOSIS BANDING
TATALAKSANA
Cuci hidung dengan larutan salin dan steroid intranasal diberikan selama 6-12 minggu sebagai tatalaksana
awal.
TATALAKSANA
Tatalaksana pembedahan
Terapi pembedahan tidak menjadi pilihan pada kasus rinosinusitis akut yang disebabkan oleh virus
maupun bakteri, sedangkan pada rinosinusitis kronik yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa
dapat dilakukan Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF) atau Functional Endoscopic Sinus Surgery
(FESS) bertujuan untuk Mengembalikan ventilasi dan drainase sinus dengan cara minimal invasif tanpa
merusak struktur anatomi normal.
Indikasi utama:
1. Sinusitis kronik refrakter terhadap terapi medikamentosa
2. Perubahan mukosa irreversibel
3. Polip hidung luas
4. Infeksi jamur pada sinus
5. Komplikasi akibat sinusitis (orbital atau intrakranial)
KOMPLIKASI
1. Komplikasi Orbital:
Disebabkan oleh kedekatan sinus dengan rongga mata (terutama sinus etmoid, frontal, maksila).
Penyebaran: tromboflebitis atau perluasan langsung.
Manifestasi:
⟶ Edema kelopak mata
⟶ Selulitis orbita
⟶ Abses subperiosteal
⟶ Abses orbita
⟶ Trombosis sinus kavernosus
[Link]: meningitis, abses subdural/epidural, abses otak
3. Kronik: osteomielitis (frontal/maksila), fistula oroantral, abses subperiosteal
4. Saluran napas bawah: sinobronchitis → memperburuk asma
PROGNOSIS
Rhinosinusitis akut
Ad vitam: bonam
ad functionam: bonam Rhinosinusitis kronis
Ad sanactionam: bonam
Ad vitam: bonam
ad functionam: bonam
Ad sanactionam: dubia ad bonam