DINAS PENATAAN RUANG
PEMERINTAH KOTA MAKASSAR
SOSIALISASI KEBIJAKAAN PENATAAN RUANG
KECAMATAN RAPPOCINI DAN KECAMATAN TAMALATE
KEBIJAKAN TATA RUANG KOTA MAKASSAR PADA KAWASAN PERUMAHAN
KEPADATAN TINGGI DAN PUSAT PERDAGANGAN BARU
PERATURAN DAERAH KOTA MAKASSAR NOMOR 7 TAHUN 2024 TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA MAKASSAR TAHUN 2024 - 2043
Ichsan Caesar Pratama, S.T., M.P.W.K
2025
HIRARKI PERENCANAAN
Terdapat berbagai dokumen legal
perencanaan ruang di level pusat
dan daerah, yang dapat berpotensi
Peraturan Pemerintah
tumpang tindih dan membuat
Nomor 13 Tahun 2017*
kompleks perencanaan dan
Peraturan Presiden pemanfaatan ruang.
Nomor 88 Tahun 2011*
Permen ATR/BPN No. 11/2021
Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi [Link] keseragaman Substansi muatan RTRW, dan
Selatan Nomor 3 Tahun 2022
RDTR diseluruh Indonesia
[Link] tsb mengatur tata cara penyusunan
RTRW Provinsi, Kabupaten, Kota, dan RDTR
[Link] peninjauan kembali dan revisi Rencana
Peraturan Presiden Tata Ruang
Nomor 55 Tahun 2011* [Link] Penertiban Persetujuan Substansi
Peraturan Daerah Kota
Makassar No. 7 Tahun 2023
Proses Penyusunan dan
Penyempurnaan
APLIKASI TATA RUANG
Pemerintah wajib menyediakan RTR dalam bentuk digital yang
sesuai standar dan dapat diakses dengan mudah oleh
masyarakat untuk mendapat informasi terkait rencanaLokasi Melalui platform digital
kegiatan dan/atau usahanya. ini,masyarakat dapat memberikan
aspirasinya untuk pengembangan
wilayah di sekitarnya, yang bertujuan
untukmeningkatkan inklusifitas
masyarakat dalam penataan ruang.
Melalui platform digital
Platform digital yang terhubung dengan Online Single
Submission (OSS), di mana masyarakat dapat mengakses ini,masyarakat dapat mengetahui
informasi terkait rencana lokasi kegiatan/usahanya apakah informasi dan memonitor kemajuan
telah sesuai dengan RDTR dan RTRW. penyediaan RTR diwilayahnya.
KAWASAN STARETGIS
Sosial Ekonomi - Kawasan Kota Baru Metro Makassar
di Kecamatan Tamalate dikembangkan dengan
tujuan pengembangan kawasan untuk
pengembangan pusat pelayanan permukiman yang
terintegrasi dengan wilayah kabupaten sekitarnya,
Lingkungan Hidup - Kawasan Danau Tanjung Bunga
di Kecamatan Tamalate dikembangkan dengan
tujuan pengembangan kawasan untuk berperan
dalam pengurangan rawan bencana di Kota Makassar
KETENTUAN KHUSUS
Terdapat Ketentuan Tambahan yakni Ketentuan Khusus pada Pasal 89
Ketentuan khusus adalah ketentuan yang mengatur pemanfaatan kawasan yang memiliki fungsi khusus
dan memiliki aturan tambahan seperti adanya kawasan yang bertampalan dengan kawasan peruntukan
utama, yang disebut sebagai kawasan pertampalan/tumpang susun (overlay), meliputi:
[Link] Keselamatan Operasi Penerbangan;
[Link] Rawan Bencana;
[Link] Cagar Budaya;
[Link] Resapan Air;
[Link] Sempadan;
[Link] Pertahanan dan Keamanan; dan
[Link] Dalam Bumi.
METHODOLOGY
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur
adipiscing elit. Etiam dui nisl, ultrices at est at,
pretium pretium justo. Suspendisse eu
scelerisque neque, sodales consectetur diam.
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
Etiam dui nisl, ultrices at est at, pretium pretium justo.
Suspendisse eu scelerisque neque, sodales consectetur diam.
Pellentesque id sagittis nunc. In lacinia mollis justo et tincidunt.
Vivamus faucibus eget magna eu ultricies.
RENCANA POLA RUANG
Kecamatan Tamalate Kecamatan Rappocini
RENCANA POLA RUANG
KAWASAN PERUMAHAN
KETENTUAN UMUM ZONASI
kegiatan Pemanfaatan Ruang yang diperbolehkan, meliputi:
kegiatan pembangunan perumahan dan/atau hunian vertikal;
penyediaan prasarana dan sarana, utilitas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
penyediaan RTNH dan RTH sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
pemanfaatan Ruang untuk fasilitas umum dan fasilitas sosial; dan
jalur dan tempat evakuasi bencana.
kegiatan Pemanfaatan Ruang yang diperbolehkan dengan syarat, meliputi:
kegiatan Pemanfaatan Ruang perumahan yang berbatasan dengan kawasan/kegiatan tanaman pangan dengan intensitas
kepadatan sedang dan kepadatan rendah;
kegiatan Pemanfaatan Ruang perumahan yang berbatasan langsung dengan kawasan industri dengan syarat memiliki jalur hijau
sebagai zona penyangga;
kegiatan perkantoran serta perdagangan dan jasa;
kegiatan industri mikro dan kecil sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
kegiatan yang mendukung logistik pertahanan dan keamanan pada saat kondisi darurat perang;
pembangunan untuk kepentingan umum lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
bangunan gedung bertingkat yang memiliki basement dalam kondisi kontinjensi/darurat digunakan untuk mendukung pertahanan.
kegiatan pemanfaatan Ruang yang tidak diperbolehkan berupa semua Pemanfaatan Ruang yang bertentangan dengan peruntukan
perumahan dan mengganggu fungsi perumahan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
ARAHAN INTENSITAS
KAWASAN PERUMAHAN
KDB KLB KDH
Maksimal 80 % Maksimal 8.0 Maksimal 10 %
KAWASAN PERDAGANGAN DAN JASA
KETENTUAN UMUM ZONASI
kegiatan Pemanfaatan Ruang yang diperbolehkan, meliputi:
kegiatan pembangunan perdagangan dan jasa serta perkantoran;
kegiatan pembangunan sarana dan prasarana umum pendukung kegiatan perdagangan dan jasa;
pengembangan sarana transportasi;
kegiatan wisata; dan
penyediaan RTH dan RTNH.
kegiatan Pemanfaatan Ruang yang diperbolehkan dengan syarat, meliputi:
kegiatan pergudangan;
kegiatan hunian vertikal atau apartemen;
kegiatan industri kecil dan menengah;
pembangunan dan pengembangan fasilitas umum dan fasilitas sosial;
pembangunan pembangkit listrik tenaga surya;
penyediaaan menara telekomunikasi;
perlindungan bangunan cagar budaya; dan
kegiatan yang mendukung logistik pertahanan dan keamanan pada saat kondisi darurat perang.
kegiatan pemanfaatan Ruang yang tidak diperbolehkan berupa:
kegiatan industri besar; dan
kegiatan yang mengganggu fungsi utama kawasan perdagangan dan jasa.
ARAHAN INTENSITAS
KAWASAN PERDAGANGAN DAN JASA
KDB KLB KDH
Maksimal 80 % Maksimal 32.0 Maksimal 10 %
KAWASAN FASILITAS UMUM DAN FASILITAS SOSIAL
KETENTUAN UMUM ZONASI
kegiatan Pemanfaatan Ruang yang diperbolehkan, meliputi:
kegiatan pemanfaatan Ruang untuk fasilitas umum dan fasilitas sosial;
penyediaan prasarana dan sarana, utilitas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
penyediaan RTNH dan RTH sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
jalur dan tempat evakuasi bencana.
kegiatan Pemanfaatan Ruang yang diperbolehkan dengan syarat, meliputi:
Pemanfaatan Ruang untuk kegiatan perdagangan dan jasa, serta bangunan hunian yang mendukung kegiatan dalam kawasan
fasilitas umum dan fasilitas sosial; dan
kegiatan yang mendukung logistik pertahanan dan keamanan pada saat kondisi darurat perang.
kegiatan pemanfaatan Ruang yang tidak diperbolehkan berupa: kegiatan yang dapat mengganggu fungsi fasilitas umum dan fasilitas
sosial sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
ARAHAN INTENSITAS
KAWASAN FASILITAS UMUM DAN
FASILITAS SOSIAL
KDB KLB KDH
Maksimal 60 % Maksimal 12.0 Maksimal 30 %
KAWASAN PERKANTORAN
KETENTUAN UMUM ZONASI
kegiatan Pemanfaatan Ruang yang diperbolehkan, meliputi:
pemanfaatan Ruang untuk kegiatan pembangunan perkantoran;
penyediaan fasilitas umum dan fasilitas sosial;
kegiatan pembangunan sarana dan prasarana umum pendukung kegiatan perkantoran;
pembangunan pembangkit listrik tenaga surya; dan
kegiatan penyediaan RTH dan RTNH.
kegiatan Pemanfaatan Ruang yang diperbolehkan dengan syarat, meliputi:
pengembangan hunian untuk penunjang kegiatan perkantoran;
pengembangan pendidikan dan pelatihan;
penyediaan menara telekomunikasi; dan
pengembangan perdagangan dan jasa.
kegiatan pemanfaatan Ruang yang tidak diperbolehkan berupa: kegiatan industri dan kegiatan lainnya yang mengakibatkan
terganggunya fungsi Kawasan Perkantoran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
ARAHAN INTENSITAS
KAWASAN PERKANTORAN
KDB KLB KDH
Maksimal 80 % Maksimal 12.0 Maksimal 10 %
KAWASAN TANAMAN PANGAN
KETENTUAN UMUM ZONASI
kegiatan Pemanfaatan Ruang yang diperbolehkan, meliputi:
Pemanfaatan Ruang untuk lahan pertanian tanaman pangan, kegiatan penyiapan produksi, dan pengolahan pasca panen;
pengembangan bangunan penunjang kegiatan budi daya pertanian berupa jaringan irigasi dan bangunan kelengkapannya;
kegiatan budi daya tanaman hortikultura; dan
kegiatan penelitian yang dapat dilakukan pada usaha perbenihan, usaha budi daya, usaha panen dan pasca panen, usaha
pengolahan, dan usaha distribusi, perdagangan dan pemasaran.
kegiatan Pemanfaatan Ruang yang diperbolehkan dengan syarat, meliputi:
kegiatan wisata alam berupa agrowisata tanpa merusak fungsi kawasan pertanian tanaman pangan;
kegiatan perdagangan dan jasa, serta kegiatan fasilitas sosial dan fasilitas umum dengan syarat tidak berada di kawasan pertanian
pangan berkelanjutan dan/atau lahan sawah dilindungi;
kegiatan Pemanfaatan Ruang hunian eksisting dan pengembangan perumahan dengan intensitas kepadatan sedang dan
kepadatan rendah dengan syarat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
kegiatan Pemanfaatan Ruang perumahan yang berbatasan dengan kawasan/kegiatan tanaman pangan dengan intensitas
kepadatan sedang dan kepadatan rendah;
kegiatan Pemanfaatan Ruang selain untuk kegiatan tanaman pangan yang berada di lahan sawah dilindungi mengikuti syarat
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
kegiatan Pemanfaatan Ruang non hunian dengan syarat menunjang pengembangan pertanian dan tidak mengganggu fungsi
utama kawasan;
pembangunan untuk kepentingan umum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
kegiatan yang mendukung logistik pertahanan dan keamanan pada saat kondisi darurat perang.
kegiatan pemanfaatan Ruang yang tidak diperbolehkan berupa: kegiatan industri menengah dan industri besar serta kegiatan yang
dapat menimbulkan pencemaran terhadap kawasan tanaman pangan;
ARAHAN INTENSITAS
KAWASAN TANAMAN PANGAN
KDB KLB KDH
Maksimal 40% Maksimal 0.4 Maksimal 50%
KKOP
KETENTUAN KHUSUS
Kawasan di bawah permukaan
horizontal-luar sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf e dengan
memperhatikan batas-batas ketinggian
ditentukan 150 (seratus lima puluh)
meter di atas ketinggian ambang landas
pacu.
KAWASAN RAWAN BENCANA
KETENTUAN KHUSUS
Ketentuan khusus rawan bencana banjir tingkat tinggi sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf a, diatur dengan ketentuan:
kawasan budi daya terbangun yang berada pada kawasan rawan bencana
banjir tingkat tinggi dengan ketentuan KDB lebih rendah 10% (sepuluh
persen) dari KDB yang telah ditetapkan pada setiap kawasan, minimal KDH
30% (tiga puluh persen) dan dilengkapi dengan sumur resapan atau biopori
serta memiliki rencana mitigasi banjir;
ketentuan intensitas lantai bangunan baru harus lebih tinggi dari
permukaan tanah atau minimal 2 (dua) lantai;
pengembangan sarana dan prasarana yang beradaptasi dengan kawasan
rawan banjir
KAWASAN RESAPAN AIR
KETENTUAN KHUSUS
KAWASAN SEMPADAN
KETENTUAN KHUSUS
TERIMA
KASIH